KONSELING EKSISTENSIAL PADA ANAK TUNARUNGU DI SEKOLAH LUAR BIASA

MAKALAH

KONSELING EKSISTENSIAL PADA ANAK TUNARUNGU
DI SEKOLAH LUAR BIASA

Disusun Oleh:
JON EFENDI
ABSTRAK
Penyandang Tunarungu disebut sebagai “Insan Pemata” karena akibat tidak mendengar maka ia kehilangan kemampuan untuk meniru bahasa ucapan orang lain atau apa yang ia dengar. Dengan demikian perolehan bahasanya terhalang diakibatkan tidak mendengar, sehingga lebih mudah curiga terhadap keberadaan orang lain.
Konsep eksistensial khususnya untuk menjelaskan pemahaman yang menempatkan posisi yang sedang dihadapi untuk memfasilitasi anak tunarungu sehingga mendapatkan keyakinan akan eksistensinya yang sesuai dengan keterbatasannya dalam segi pendegaran. Pendekatan Eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model terapi behaviorisme. Konseling eksistensial manusia yang bercorak serba ditentukan (deterministic), serba dikurangi (reductionistic), dan serba mekanis (mechanistic).
Klien harus aktif dalam kegiatan proses konseling, oleh karena selama sesi konseling mereka harus menentukan jenis rasa takut, rasa bersalah, dan kecemasan yang akan mereka eksplorasi. Di samping itu, klien juga berperan dalam mengambil keputusan untuk masuk dalam kegiatan konseling.
Ada 4 teknik yang menjadi asumsi eksistensial, keempat teknik ini menunjukkan perbedaannya dengan pendekatan terapi yang lainnya: 1) Tujuan/maksud yang berlawanan (paradoxical intention), 2) Pemusatan (Focusing), 3) Rekonstruksi/pemulihan Situasi (Situational Recontruction), 4) Memperbaiki Diri Sebagai Kompensasi/Perimbangan (Compensatory Self-Improvement)

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yg telah melimpahkan segala rahmadNya. Suatu keinginan untuk lebih meningkatkan kemampuan penyandang tunarungu yang selama ini lebih banyak tergantung pada keberadaan orang lain. Penyandang tunarungu disebut juga sebagai insan pemata, ia memiliki permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan pendengaran, pada akhirnya mereka kurang mampu menunjukkan aktualisasi diri dengan baik ditengah masyarakat, dan selalu mudah curiga akan keberadaan orang lain.
Konseling Eksistensial dilakukan pada penyandang tunarungu melalui teknik konfrontasi dan orientasi, pengendalian emosi. Pemahaman ini melibatkan keterpaduan konsep dasar eksistensial ke dalam praktek therapy, yang disesuaikan dengan kemampuan penyandang tunarungu secara optimal.
Penyempurnaan dan penyusunan makalah ini banyak mendapat arahan dari dosen pembimbing selama perkuliahan serta masukan dari berbagai teman. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih, serta memohon kritikan dan saran-saran demi kesempurnaan tulisan ini di masa datang.
Bandung, Januari 2010
Penulis

DAFTAR ISI
ABSTRAK 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 4
B. Tujuan Penulisan 5
C. Format Penulisan 6
BAB II KONSELING EKSISTENSIAL PADA ANAK TUNARUNGU
A. Hakekat Konseling Eksistensial 7
B. Tujuan Konseling Eksistensial 8
C. Fungsi dan Peranan Konselor 10
D. Peranan Klien dalam Hubungan Konseling 11
E. Hubungan Konselor dan Klien 12
F. Prinsip-prinsip Konselor 13
BAB III STRATEGI DAN TEKNIK KONSELING EKSISTENSIAL
A. Strategi Konseling dan Terapi 14
B. Teknik Konseling dan Terapi 17
C. Teori dan Prinsip-prinsip Dasar 26
D. Dampak Ketunarunguan 38
BAB IV PENERAPAN KONSELING EKSISTENSIAL PADA TUNARUNGU
A. Peranan Sekolah dalam Kemandirian Anak Tunarungu 41
B. Melibatkan Orang Tua dalam Bimbingan Tunarungu 48
BAB V USULAN PENELITIAN
PENGGUNAAN TERAPI REALITAS (REALITY THERAPY) 51
BAGI ANAK TUNANETRA DALAM PELAKSAAN BIMBINGAN KARIER
BAB VI KESIMPULAN
A. Kesimpulan 53
B. Saran 54
DAFTAR PUSTAKA 55

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak tunarungu merupakan salah satu bagian dari anak luar biasa yang mengalami kecacatan fisik terutama pada pendengaran. Kecacatan pendengaran bagi anak tunarungu otomatis berpengaruh langsung terhadap kemampuan berkomunikasi. Rasionya muncul karena akibat tidak mendengar maka ia kehilangan kemampuan untuk meniru bahasa ucapan orang lain atau apa yang ia dengar. Dengan demikian perolehan bahasanya terhalang diakibatkan tidak mendengar.
Upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk mengatasinya maka pendidik dituntut agar dapat mengetahui dan memahami karakteristik dan membaca situasinya. Sebagaimana kompleknya permasalahan yang dimilikinya tentu semuanya akan berpengaruh kepada kemandirian anak tunarungu. Suatu usaha bimbingan bagi orang tua untuk mengetahui cara pendeteksian secara lebih ini tentang keadaan anaknya sehingga dapat diketahui adanya kelainan yang dimiliki oleh anak. Suatu yang tidak kalah pentingnya bagi orang tua yaitu perlu memahami dan berkemampuan untuk melakukan intervensi yang lebih dini. Intervensi secara dini sa ngat membantu sekali sehingga kelainan anak tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya suatu usaha untuk mengatasi ke-arah pengoptimalan kemandiriannya dikemudian hari. Sehingga mereka tidak hanya tergantung pada belas kasihan orang lain, dan mampu hidup layak seperti manusia lainnya.
Anak tunarungu sepertinya hanya menuruti kata hatinya sendiri, tidak takut akan bahaya yang datang dari arah belakangnya seperti suara motor. Hal ini dikarenakan ia tidak mampu mendengar suara mesin motor sehingga ia acuh ketika ada motor yang mau lewat tanpa ada usaha menghindar. Kebanyakan dari orang tua baru menyadari setelah anaknya besar. Akibat ketidak tahuan ini, maka akhirnya penangan bagi anak juga terlambat dan usaha pengembangannya yang optimal juga mengalami hambatan.
B. Tujuan Penulisan
Tulisan ini mengangkat suatu persoalan bagi konselor yang menghadapi anak Tunarungu (kelainan pendengaran) yangmengalami permasalahan berkaitan dengan eksistensinya sebagai anak tunarungu. Kajian perhatian pendekatan terapis yang akan dilakukan oleh konselor dipusatkan pada konseling eksistensial. Maksud tulisan ini adalah untuk memberikan alternatif dengan menerapkan konsep konseling eksistensial sesuai dengan permasalahan anak yang menyandang tunarungu. Konsep eksistensial khususnya untuk menjelaskan pemahaman yang menempatkan posisi yang sedang dihadapi untuk memfasilitasi anak tunarungu sehingga mendapatkan keyakinan akan eksistensinya yang sesuai dengan keterbatasannya dalam segi pendegaran.
Tujuan lain makalah ini juga sebagai salah satu tugas akhir perkuliahan Bimbingan Konseling kelompok di SPS UPI Bandung.

C. Format Penulisan
Format penulisan yang digunakan dalam tugas akhir ini menggunakan pendekatan dan kajian teori sesuai dengan teknik penulisan karya ilmiah. Acuan yang digunakan berupa kajian dari berbagai literatur dan sumber-sumber yang mendukung berupa hasil-hasil diskusi dan kritisi dari barbagai nara sumber terkait.
Selanjutnya teori-teori akan digunakan untuk membahas permasalahan yang dikemukakan sebagai pokok permasalahan. Kaitan teori yang digunakan berupa; konsep konselig eksistensial, dan konsep tunarungu yang dikaitkan dengan proses Bimbingan dan Konseling dengan memperhatikan kebutuhan dan keterbatasan meraka yang mengalami kalinan dalam pendengaran.

BAB II
KONSELING EKSISTENSIAL PADA TUNARUNGU

A. Hakekat Konseling Eksistensial
Konseling Eksistensial dapat dipandang sebagai suatu pendekatan intelektual pada praktek terapi konseling atau suatu filsafat yang digunakan konselor untuk dasar praktek. Dengan demikian, konseling eksistensial tidak model konseling yang Corey, 1996:170).
Pendekatan Eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model terapi behaviorisme. Konseling eksistensial manusia yang bercorak serba ditentukan (deterministic), serba dikurangi (reductionistic), dan serba mekanis (mechanistic). Hal ini didasari asumsi bahwa manusia (kita) adalah bebas dan oleh karena itu kita bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Kita adalah penulis dan arsitek bagi kehidupan kita, oleh karenanya kita selalu lebih dari hanya sekadar korban keadaan. Di samping itu, konseling eksistensial didasarkan pada model pertumbuhan dan mengkonsepkan kesehatan dan bukan keadaan sakit atau penyakit. Klien tidak dipandang sebagai seorang yang sakit, melainkan sebagai orang yang bosan hidup atau merasa enggan menjalani kehidupan. Keadaan seperti itu oleh Maddi (Steven,1985:201) disebut sebagai orang yang tidak bermakna (meaninglessness) meliputi: perasaan tidak berguna,hampa dan perasaan kepetualangan.
Tujuan utama dari konseling eksistensial adalah menantang klien untuk mengidentifikasi sejumlah alternatif serta memilih di atanra alternatif tersebut (Corey, 1996; Maddi dalam Steven, 1985).
Untuk mencapai tujuan di atas para ahli/konselor eksistensial menggunakan beberapa strategi dan beberapa teknik. Di antara strategi dimaksud adalah: konfrontasi dan orientasi masa kini, lebih menekankan pada emosi dalam interaksi terapi/konselingnya, penekan pada isi. Sedangkan teknik yang digunakan adalah: paradoxical intention, focusing, situational reconstruction dan compensatory self-improvement. (Maddi dalam Steven, 1985:202-214).
Agar para pembaca yang berminat dapat lebih memahi beberapa hal tentang konseling eksisstesial, berikut disajikan beberapa gagasan/tema eksistensial yang memiliki dampak yang signifikan pada praktisi yang berorientasi eksistensial. Di atara tema tersebut adalah: Sejarah perkembangan konseling eksistensial, teori dan konsep dasar konseling eksistensial, yang berisikan: pandangan tentang hakikat manusia, perkembangan kepribadian, konsep sakit menurut eksistensial, serta ciri-ciri konseling eksistensial, dilanjutkan dengan uraian tentang proses konseling eksistensial, strategi dan teknik konseling eksistensial, dan diakhiri dengan kesimpulan dan pembahasan.
B. Tujuan Konseling Eksistensial
Maddi (Steven, 1985:210) mengatakan bahwa dengan teknik pemusatan (focusing) dapat membantu klien untuk tumbuh dalam tiga aspek ketahanan (hardiness), yaitu; 1) merupakan latihan yang baik untuk simbolisasi, imajinasi dan penilaian (judgement), 2) menambah daya kontrol klien terhadap emosi yang tak diinginkan, 3) membantu klien untuk komit (comitment) terhadap problemnya yang menyebabkan problem itu lebih relevan secara pribadi (personal).
Di samping itu, James (Corsini, 1983:360) menyatakan bahwa dengan konseling eksistensial dapat membantu klien dalam mengidentifikasi/menetapkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perubahan keperibadian (personality change). Perubahan tersebut meliputi; 1) perubahan yang menghasilkan keadaan baru (nascent states), 2) perubahan tersebut bersifat permanen dan bisa diterapkan klien kedalam kehidupannya sehari-hari di luar situasi konseling. Selanjutnya Corey (1997:181) mengatakan bahwa terapi eksistensial menolong klien untuk bisa menghadapi kecemasan memilih untuk diri sendiri dan kemudian menerima realitas bahwa mereka itu lebih dari sekedar korban dari kekuatan yang menentukan di luar dirinya. Tujuannya adalah agar klien mampu melakukan tindakan yang berdasarkan tujuan otentik bagi terciptanya eksistensi yang bermutu. Jadi, tujuan terapi eksistensial adalah bukan “menyembuhkan” (cure) klien dalam arti yang konvensional, melainkan membantu klien agar sadar akan apa yang mereka lakukan dan membebaskannya dari peramu sebagai korban. Tugas konselor eksistensial adalah mengajar klien mendengarkan apa yang telah mereka ketahui tentang diri mereka sendiri, meskipun mereka tidak memperhatikan apa yang telah mereka ketahui (Bugental, 1996).
Jadi dapat disimpulkan tujuan akhir dari konseling eksistensial adalah terjadinya perubahan dalam diri klien, yakni berupa kemampuan memilih dan bertanggungjawab atas pilihannya, dengan demikian akan tercapai apa yang disebut dengan makna (meaning) dalam kehidupan.
C. Fungsi dan Peranan Konselor
Hal yang paling dipedulikan konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru (Corey, 1997:181). Lebih lanjut, Corey menjelaskan bahwa konselor yang berorientasi eksistensial biasanya menangani klien yang mengalami apa yang dikatakan keberadaan terbatas (restricted existence). Klien seperti ini memiliki kesadaran yang terbatas tentang dirinya sendiri dan biasanya tidak mampu melihat sifat problema yang dihadapinya secara jelas. Mereka mungkin hanya bisa melihat sedikit saja dari pilihan-pilihan terhadap cara yang terbatas untuk bisa menangani situasi hidup, dan mereka cenderung untuk merasa terjebak dan tak berdaya. Tugas sentral dari terapis adalah langsung mengkonfrontasikan klien ini dengan cara hidup mereka dalam keberadaan terbatas ini dan menolong mereka untuk bisa menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam menciptakan kondisi semacam itu. Dapat dimisalkan bahwa terapis/konselor mengambil cermin agar klien bisa bercermin hingga klien berkonfrontasi dengan dirinya sendiri. Dengan cara demikian klien bisa melihat bagaimana mereka sampai seperti itu, dan mereka bisa melihat cara hidup mereka dengan kaca tersebut. Dengan sadar akan faktor di masa silam yang membelenggu keberadaannya sekarang maka klien mulai mau menerima pertanggungjawaban dalam mengubah masa depannya.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peran konselor dalam interaksi konseling adalah memahami dan mendorong serta menantang klien untuk berubah.
D. Peranan Klien dalam Hubungan Konseling
Dalam konseling eksistensial klien secara jelas dibangkitkan semanganqA untuk secara sungguh-sungguh mengambil pengalaman subyektifnya sendiri dalam dunianya. Mereka ditantang untuk memikul tanggung jawab atas apa dan bagaimana mereka sekarang telah memilih untuk berada di dunia ini. Klien diharapkan keluar kedunia luas dan menentukan bagaimana mereka akan hidup secara berbeda. Dalam hal ini tugas klien adalah harus aktif dalam kegiatan proses konseling, oleh karena selama sesi konseling mereka harus menentukan jenis rasa takut, rasa bersalah, dan kecemasan yang akan mereka eksplorasi. Di samping itu, klien juga berperan dalam mengambil keputusan untuk masuk dalam kegiatan konseling. Pokoknya klien dalam terapi eksistensial bertugas untuk membuka pintu bagi dirinya sendiri setelah itu klien bertugas berkonfrontasi dengan kepedulian jauh di depan dan bukan mengurusi problema-problema yang akan segera datang (Corey, 1997:182-183).
E. Hubungan Konselor dan Klien dalam Konseling
Hal yang paling diutamakan oleh konselor eksistensial adalah hubungannya dengan klien. Hubungan itu sendiri sudah penting, bukan karena bisa meningkatkan transperensi yang disebabkan oleh hubungan itu. Kualitas dari interaksi konselor-klien dalam situasi konseling ini merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif pada diri klien. Konselor dengan orientasi ini yakin bahwa sikap dasar mereka terhadap klien dan karakteristik pribadi mereka sendiri tentang kejujuran, integritas, dan keberanian merupakan hal-hal yang harus mereka tawarkan. (Corey, 1997:183)
Dalam hubungan konseling, terapis dan klien berbagi reaksi, disertai kepedulian dan empati yang tidak dibuat-buat sebagai suatu cara untuk memantapkan hubungan konseling.
May dan Yalom (1989) juga menekankan peranan krusial yang dimainkan oleh kapasitas terapis untuk di sana demi klien selama jam-jam terapi, yaitu; mencakup kehadiran secara penuh dan terlibat secara inten dengan kliennya. Inti dari hubungan konseling adalah respek, yang meliputi kepercayaan akan potensi klien untuk secara otentik menangani kesulitan mereka dan kemampuan mereka untuk menemukan jalan alternatif tentang keberadaan mereka. Konselor menolong klien memahami betapa mereka, sesuai dengan keadaan, telah membatasi kehadirannya. Pada akhirnya klien akan memandang dirinya sebagai yang aktif dan bertanggungg jawab akan kehadirannya, sedangkan sebelum kegiatan konseling kemungkinan yang mereka rasakan adalah sebagai orang yang tak berdaya. Akhirnya klien akan mengembangkan suatu peningkatan kemampuan untuk mau menerima dan berkonfrontasi dengan kebebasan yang mereka miliki.
F. Prinsip-Prinsip yang Menjadi Pegangan Konselor Dalam Konseling
Berdasarkan pendapat Corsini (1981) dan Corey (1997) dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip yang menjadi pegangan konselor dalam konseling adalah:
1. Dalam hubungan terapi, teori tidak begitu diperlukan, tetapi sikap dasar konselor terhadap klien dan karakteristik pribadi konselor tentang kejujuran, integritas dan keberanian merupakan hal-hal yang harus mereka tawarkan.
2. Empati dan keaslian (genuine) selalu diupayakan dan dipertahankan selama hubungan konseling.
3. Focusing bisa diajarkan dan dilatihkan pada klien.
4. Kerjasama klien dan konselor terus diupayakan demi terpeliharanya focusing.
5. Tujuan akhir dari konseling adalah tercapainya suatu hal yang baru (nascent state), bila hal ini tidak tercapai selama konseling, konselor hendaklah menyarankan klien untuk mencoba dengan konselor lain.

BAB III
STRATEGI DAN TEKNIK KONSELING EKSISTENSIAL

A. Strategi Konseling/Terapi
Sebagaimana dijelaskan terdahulu, bahwa sakit menurut eksistensial adalah orang yang merasa dirinya tidak bermakna (meaninglessness) yang muncul dalam tiga tingkat, yaitu; vegetativeness, nihilism, dan advanturousness dengan menampakkan simptom-simptom yang berbeda pada setiap tingkat sakit tersebut, baik dalam bentuk gejala fisik, emosi, dan tindakan. Seperti halnya orang yang sakit fisik yang minta bantuan pada ahli medis, maka orang yang terganggu mentalnya akan mencari pertolongan kepada ahli psikis, dalam hal ini adalah terapis/konselor.
Maddi (Steven, 1985:202-207) mengemukakan tiga strategi yang digunakan terapis/konselor dalam membantu klien yaitu;
1. Konfrontasi dan orientasi masa kini (confrontation and present orientation).
Konfrontasi bagi konselor eksistensial biasanya lebih berorientasi pada kehidupan klien hari ini. Dalam orientasi masa kini {present-orientation) pandangan existential counseling adalah sama dengan person-centered counseling. Bagaimanapun kedua posisi memandang fungsi/perilaku klien saat ini, merupakan refleksi dari apa yang telah dipelajarinya di masa lalu. Mereka tidak memandang relevansi dari masa lalu sebagai suatu yang terlihat dalam konflik-konflik yang tak terselesaikan menyatu dalam kesadaran. Secara konsekuen konselor eksistensial atau person- centered butuh fokus pada hubungan anak-orang tua sebagai suatu hal yang krusial, atau mimpi sebagai sebuah pintu khusus bagi kesadaran. Secara pasti hubungan seseorang dengan orang tua dan isi dari mimpi-mimpi seseorang mungkin baik didiskusikan dalam konseling, sebagai suatu usaha yang berorientasi masa lalu untuk menghindari {avoid) masalah-masalah yang riil saat ini dan mengantisipasi masalah yang akan datang.
2. Emosi dalam interaksi terapeutik (emotion in the terapeutic interaction).
Dapat dipahami, bahwa konselor eksistensial mendorong klien menjauh dari perasaan mengomel (nagging) terhadap masa lalu, dan langsung memusatkan perhatian mereka pada interaksi saat ini dengan lingkungan (Frankl, 1947/1965). Dalam pendekatan seperti ini konselor eksistensial secara simultan berpendapat bahwa masa sekarang dan yang akan datang lebih penting bagi penemuan kembali (recovery) dirinya, danpada masa lalu .
Perasaan; emosi yang muncul dalam interaksi konseling adalah perasaan-perasaan yang riil dan butuh untuk diekspresikan dan diterima. Tugas yang amat besar dari konselor adalah membantu klien untuk autentik. Emosi-emosi negatif yang ditampilkan klien, dipahami sebagai suatu informasi tentang kecemasan, kesedihan dan kemarahan yang berlangsung dalam diri klien, c) Perhatian pada isi (content emphasis).
Para konselor eksistensial secara khusus peka terhadap muatan/isi khusus dari pengalaman yang merefleksikan asumsi-asumsi yang telah mereka buat sehubungan dengan apa yang penting dalam berfungsinya manusia (human functioning). Secara khusus berhubungan erat dengan semua masalah tentang ketidak bermaknaan, yang menjadi jantung dari psikopatologi yakni topik-topik tentang : responsibility, isolasi, dan kematian (Yalom, 1980).
Para terapis eksistensial memberi cara / strategi yang berbeda dalam membantu klien untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri (Frankel, 1947/1965). Misalnya, menuntut klien berkonsultasi pada dunia luar lebih dari emosi-emosinya yang tidak menyenangkan. Brinswanger (1951/1963) menyambut hangat statemen-statemen tentang ketidak mampuan untuk berubah (incapability to change) dengan pertanyaan “Why” secara bertubi-tubi. Apapun tekniknya tujuannya adalah untuk mendorong klien agar sabar (hardiness) agar mereka bisa membuat keputusan yang berorientasi masa depan (future-oriented dicision).
Isolasi adalah suatu gejala eksistensial yang membangkitkan minat karena isolasi berbau busuk (reeks) tentang hal yang tak dapat dielakkan.
Untuk membantu klien agar menerima isolasi eksistensial ketika hal itu masih berlangsung adalah dengan mendorong klien agar berusaha keras untuk menjalin kedekatan hubungan yang mungkin dengan siapapun. Jika hal ini terwujud, dapat dikatakan bahwa konselor/ terapis telah mampu untuk menstimulasi perkembangan hardiness yang meliputi (commitment, control, challenge) kliennya.
Kematian (death) memiliki suatu tempat khusus dalam terapi eksistensial. Kita tidak bisa menjalani kehidupan secara penuh tanpa menerima bahwa kematian ada dibalik kontrol kita, keduanya tidak bisa dielakkan dan diprediksi (Yalom, 1980) Sekali kematian telah benar-benar diyakini, kehidupan ditingkatkan dengan penampilan yang lebih bersemangat dan dihargai.
Terapis eksistensial menghadapi berbagai orientasi tentang kematian dengan cara-cara yang berbeda. Bagaimanpun tujuan mereka adalah sama yaitu membantu klien menjadi cukup sabar untuk menerima kematian yang tak dapat dieleakkan dan diramalkan, dengan memberikan semangat hidup yang lebih besar dan penting. Jika klien kelihatan menolak kematian, mereka diinstruksikan untuk membayangkan bagaiman dan di mana mereka akan mati. Jika klien kelihatan begitu bersemangat untuk hidup baik, terapis boleh menginterpretasi pada mereka bahwa ketakutan tentang kematian, memiliki pengaruh paradoksial .terhadap pemogokan kehidupan yang melumpuhkan.
B. Teknik Konseling/Terapi.
Agar psikoterapi/konseling eksistensial bisa eksis dan berbeda dengan terapi lainnya, psikoterapi itu harus mengembangkan beberap/serangakaian teknik yang konsisten dan terintegrasi untuk melakukan praktek.
Ada 4 teknik yang menjadi asumsi eksistensial, keempat teknik ini menunjukkan perbedaannya dengan pendekatan terapi yang lainnya dalam membangun hardines sebagaimana yang telah dikemukakan Maddi&Kobasa, yang dapat disarikan sebagai berikut (Steven,1985:207-214).
1. Tujuan/maksud yang berlawanan (paradoxical intention).
Sering simptom-simptom yang dramatik memerlukan treatment yang dramatik pula. Kebanyakan treatment dramatik yang digunakan psikoterapis/konselor eksistensial adalah paradoxical intention (Frankl, 1947/1965). Dalam hal ini, simptom-simptom yang disembuhkan (outmaneuvered) ditangani dengan menggunakanu paradoxical intention untuk membesar-besarkan simptom-simptom itu. Bila anda lepas kontrol dan cemas, sesuatu yang dapat anda lakukan untuk mengembalikan kontrol itu adalah mencoba melepaskan kontrol berikutnya. Ini semuanya paradoksikal (bertentangan) tetapi itu harus dilakukan. Paradoxical intention telah digunakan dengan efektif tidak hanya untuk kecemasan (axiety) tetapi juga untuk simptom-simptom yang lebih luas seperti ketidak-berartian (meaninglessness), depresi, dan bahkan halusinasi psikotik. Frankl telah melaporkan kesuksesnnya dalam menangani sebuah kasus seorang profesor yang merasa hampa setelah dua tahun istrinya meninggal. Ketika klien melapororkan kesendirian, kesedihan yang dialaminya, Frankl membangkitkan dengan menanyakan mengapa tidak bunuh diri saja. Ini adalah paradoxical intention yang akan membesarkan simptomatologi depresif klien. Klien yang direspon dengan shock dan kemudian marah ketika melihat saran yang tidak sopan dari terapist. Shock dan marah adalah emosi-emosi yang menggunakan kontrol lebih daripada melakukan apatis dan depresi. Langkah berikutnya adalah menyuruh klien melaporkan bermacam-macam alasan mengapa dia tidak setuju dengan bunuh diri seperti yang disarankan konselornya.. Secara rendah hati, Frankl menetapkan bahwa bunuh diri bukanlah merupakan suatu solusi ketika buku-buku harus ditulis dan anak-anak tumbuh berkembang. Kemudian klien memprotes dan hal itu menjadi bertambah jelas baginya bahwa ia tidak ingin mati, meskipun kehidupannya tidak begitu sukses. Perls (1969) yang dikutip Maddi (Steven, 1997:208), juga menggunakan paradoxical intention, meskipun ia tidak mengulangi (call it) perkataan Frankl itu. Ia berpendapat bahwa jika klien mencoba membesar-besarkan simptom, maka akan bertambah rasa tanggung jawab mereka terhadap kesulitan-kesulitan mereka,
2. Pemusatan (Focusing)
Teknik pemusatan diperkenalkan oleh Gendlin (1973). Teknik ini menggunakan ketegangan penuh (stressfut) sebagai permulaan (misalnya suatu pertengkaran dengan majikan). Tetapi teknik ini digunakan lebih umum sebagai suatu cara dengan anggapan apakah teknik ini cocok dengan perasaan seseorang. Pemusatan digunakan terutama membantu untuk menghindarkan kebiasaan (menurut adat) sehari-hari agar mendapatkan suatu perasaan yang bermakna yang lebih bersifat pribadi. Apresiasi kebermaknaan individu harus ditandai untuk mencapai kebermaknaan yang penuh, tetapi tanda-tanda yang demikian tidak harus menjadi basi (platitudes) jika sesuatu nilai personal yang dalam telah dicapai.
Jika yang mendasari kesukaran (distress) dialami secara langsung, kemudian gunakan kata-kata yang lebih akurat, hargai hakekat individualistik, dan suatu manfaat akan terjadi. Inilah tujuan dari pemusatan (focusing).
Adapun langkah – langkah yang dapat dilalui dalam pelaksanaan focusing adalah: pertama adalah menciptakan kondisi yang secara fisik menyenangkan, menghindari hal-hal yang mengganggu dalam kehidupan sehari-hari, dan kembali ke suasana batin (Gendlin, 1973, 1978). Diam dalam waktu yang singkat membantu memecahkan kebuntuan. Jika anda punya perhatian pada suatu ketegangan, kemudian mencoba untuk mengalami reaksi tubuh (felt sense) anda terhadap ketegangan itu. Jika tidak ada ketegangan pada momen yang sama, tanya diri anda apakah anda merasa senang, puas, tentram. Biasanya, setiap problem yang sedang berlangsung akan hidup (emerge), dan anda akan mengalami reaksi secara jasmaniah disekitar sesuatu yang tampaknya lebih penting. Contoh penerapan teknik Focusing pada kasus seorang eksekutif.
Disini digambarkan seorang eksekutif (pelaksana) yang mengalami kesulitan memproduksi suatu laporan bagaimana meningkatkan efisiensi dalam operasi (pelaksanaan) di departemennya. Batas waktu penyelesaian laporantersebut sudah dekat, tetapi ia tidak menunjukkan adanya kemajuan. Sebagaimana biasa ia kembali menampakkan gejala-gejala problemnya dengan mengatakan: “mereka tidak pernah memberikan cukup waktu untuk melakukan sesuatu ditempat ini”. Dengan mencoba menempatkan streotip ini, ia mulai mengakui bagaimana menyakitkan problemnya itu. Ia mengharapkan problemnya cepat berlalu, label-label verbal mengambang dalam kesadarannya. Ia marah kepada atasannya, kemudian depresi. Sebagaimana reaksi mundur, ia mulai merasakan dadanya menyesak dan tidak enak lambung yang kelihatan seperti takut. Puncak kegelisahannya menampakkan ia heran tentang rasa takutnya yang yang tak jelas.
Mengapa saya begitu takut? la menanyakan kepada dirinya sendiri. Jawaban final datang kembali. ” Saya akan kehilangan pekenaaan saya’ Kemudian sesuatu mulai teringat . Ia ingat waktu yang lalu seperti pelajaran gramar di sekolah, ketika ia enggan melakukannya, rasa takutnya muncul. Ketika itu, ia menemukan kenyamanan hanya karena tidak melakukan pekerjaannya karena tidak dianggap kurang. Hal itu jelas bahwa ia melakukan kegiatan yang sama, yakni tidak mengerjakan laporan. Ketika itu ia mulai menyadari keadaanya sekarang yakni membuat laporan kemajuan karena ia memahami keinginannya yakni mempertahankan pekerjaanya.

3. Rekonstruksi/pemulihan Situasi (Situational Recontruction)
Kobasa dan Maddi akhir-akhir ini mulai menggunakan suatu teknik yang mirip dengan focusing yang di dalamnya melatih tiga aspek ketahanan (harddiness), tetapi lebih menekankan pertimbangan situasional dari pada konsekuensi emosi itu sendiri. Dalam batasan fungsi terapeutik, teknik situational recontruction lebih berguna bila klien sedang mengalai stress > terutama jika ia diganggu oleh stress itu.
Klien diperintahkan untuk menggambarkan tiga cara di mana kejadian telah menjadi buruk dengan cara itu. Klien terutama menolak instruksi ini berdasarkan bahwa kejadian adalah seperti kejadian itu. Klien harus dibimbing keluar dari obsesi ini dengan mendorong untuk mencoba merekonstruksi kejadian dengan pertimbangan apakah perubahan akan terjadi dengan situasi yang dibentuk dan keinginan serta emosi ia sendiri sehingga terjadi keadaan yang lebih buruk dari yang ada. Bila ini telah selesai, klien kemudian diinstruksikan untuk menggambarkan tiga cara di mana kejadian akan menjadi baik, atau stress berkurang dari semula. Sementara hal itu tetap dilakukan dengan pertimbangan perubahan situasional dan personal akan membuat suatu realita yang berbeda. Setelah rekonstruksi situasional ini dipraktekkan pada suatu kejadian stress, hal itu harus diaplikasikan kepada kejadian yang lain, baik pada waktu lalu maupun sekarang.
Satu fungsi dari rekonstruksi situasional adalah untuk memberikan ide tentang perubahan yang mengakibatkan ekspresi dan imaginasi bersemangat gila ide tentang perubahan dalam diri seorang dan suatu interaksi dengan situasi bantuan dalam melatih kedua aspek ketahanan, yakni kontrol dan tantangan, dengan membentuk suatu dasar untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa kehidupan mendatang. Sekali klien memperbesar rasa tanggung jawab memperhatikan masa lalu dan kejadian sekarang, perencanaan untuk masa depan dapat dirumuskan dan dilakukan berdasarkan peningkatkan kemungkinan dari pengalaman yang lebih berarti yang mengurangi stress .
4. Memperbaiki Diri Sebagai Kompensasi/Perimbangan (Compensatory Self-Improvement)
Teknik lain yang digunakan Kobasa dan Maddi di sebut compensatory self-improvement, yang bertujuan untuk meningkatkan pengertian/perasaan klien dari kemungkinan daerah lain dari kehidupan yang tampaknya seketika atau permanen. Agar terapeutik efektif, perbaikan diri harus melibatkan beberapa kekurangan yang penting, meskipun penting, tidak dapat begitu saja berubah sebagai pendapat yang sudah ada. Pembuatan kemajuan kompensasi/perimbangan kadang-kadang merupakan suatu jenis dari keselamatan emosional bagi klien yang melebihi untuk menerima sesuatu yang mengganggu perasaan mereka tentang eksistensi.
Berikut disajikan suatu contoh penerapan teknik memperbaiki diri sebagai kompensasi: Kasus Barbara V.
Barbara, seorang klien, datang untuk terapi karena perkawinannya akan berakhir. Suaminya jatuh cinta kepada wanita lain dan dia menyatakan kepada Barbara bahwa kadang-kadang ia telah merasakan bahwa hubungan mereka akan berakhir. Barbara mereaksi dengan mengadakan pembelaan dan mencoba memperbaiki hubungan. Tetapi hubungan suaminya dengan wanita lain itu tetap berlanjut, dan Barbara merasa tidak mampu, tetapi tetap ia coba apa yang diinginkan suaminya. Suaminya mengklaim apa yang ingin ia lakukan, dan mereka hidup kembali dalam satu apartemen. Barbara kembali depresi dan terobsesi dengan berusaha untuk memperbaiki hubungan. Meskipun Barbara merasa akan marah kepada suaminya, tetapi ia mendiskusikan keinginannya tentang hubungan mereka seawal mungkin sehingga sesuatu harus diselesaikan, dan sebelum memberikan kesempatan kedua, perasaan Barbara kembali sedih dan cemas. Kemarahannya kepada suaminya seperti kemarahannya kepada dirinya sendiri.
Setelah beberapa bulan berlalu, Barbara harus mengakui bahwa ia harus mencoba/melakukan sesuatu, dan sesuatu tampak berbeda dalam hubungansuami istri. Barbara enggan untuk menerima kehilangan suaminya. Sejalan dengan realisasi awal ini, suatu daerah compensatory self-improvement diidentifikasi dan dimulai. Barbara selalu takut untuk belajar ski, menyimpan rahasia ketidak mampuan personalnya ini, dan merencanakan kehidupannya untuk olah raga musim dingin. Tentu ia telah merencanakan mendapatkan sesuatu melalui kehidupan tanpa skiing. Tetapi ia telah dibebani dengan mengomel memikirkan bahwa ketakutan skiing, ia menunjukkan malu-malu di wajahnya, kesulitan, dan sesuatu tantangan. Kemudian, berusaha untuk belajar ski yang menampakkan suatu ekspresi yang bermanfaat sebagai hasil dari compensatory self-improvement. Ia kembali untuk suatu kursus setiap hari Sabtu. Setiap hari Sabtu, ia kelihatan cemas/gugup , marah, ketidak mampuan konsentrasi, dan sering menemukan alasan mengapa tidak mengikuti/masuk kelas kursus. Tetapi, didorong oleh terapis, ia belajar memecahkan masalahnya sendiri. Untuk sementara, kemajuan tidak menentu, tetapi secara gradual perbaikan terjadi. Ketika akan berakhir, ia nyatanya mulai menanti-nanti pelajaran dan membuat rencana yang antusias, menemukan kemampuan baru dalam kehidupan. Sebagai pengganti Barbara duduk dirumah selama musim dingin dan merasakan hawa dingin. Barbara bermaksud melibatkan diri dengan olah raga musim dingin, tidak hanya menambah kegiatan fisik tetapi untuk suatu situasi sosial yang menyenangkan.
Pengembangan perasaan/pengertian ini mungkin mulai kelihatan dalam daerah lain dari kehidupannnya. Barbara merasa cukup energik untuk melakukan semua hal dari sesuau yang telah ia simpan dalam kesedihannya. Perasaan depresif kembali surut. Ia mampu memahami hubungannya dengan suaminya dengan lebih tenang. Hubungan terus diperbaiki meskipun ia masih memandang hubungan itu sebagai diluar kemampuannya. Barbara kelihatan lebih atraktif (menarik) terhadap suaminya meskipun suaminya mempunyai hubungan yang dalam dengan wanita lain. Sampai tulisan ini ditulis , tidak ada resolusi yang telah dicapai dalam hubungannya dengan suaminya, tetapi Barbara telah membuat langkah besar kearah yang lebih bersemangat, pribadi yang mandiri dari pada yang ia lakukan sebelumnya. Secara terapeutik, hal itu semuanya adalah penting bagi Barbara untuk merealisasikan pengarahan diri ke arah perbaikan diri.
C. Teori dan Prinsip Dasar
1. Pandangan tentang Hakekat Manusia (view of human nature)
Corey (1996:172-180) menjelaskan bahwa pandangan eksistensial mengenai hakekat manusia ini sebagian dikontrol oleh pendapat bahwa signifikansi dari keberadaan kita (manusia) ini tak pernah tetap, melainkan kita secara terus menerus mengubah diri sendiri melalui proyek-proyek kita. Manusia adalah makhluk yang selalu dalam keadaan transisi, berkembang, membentuk diri menjadi sesuatu. Menjadi seseorang (being person) berarti pula bahwa kita menemukan sesuatu dan menjadikan keberadaan kita sebagai sesuatu yang «ajv. Sebagai manusia, kita selalu bertanya tentang diri sendui, orang lain, dan dunia.
Manusia dipandang sebagai makhluk yang subyektif, yang hanya dapat dipahami menurut pandangan dan arah pikirannya sendiri. Hakekat ini menuntut hubungan antar manusia yang bersifat empatik, yaitu hubungan dengan menggunakan rujukan bersama, dan tidak dengan rangka rujukan sepihak. Hal ini penting diperhatikan untuk pelaksanaan konseling, di mana konselor dituntut untuk menganggap klien sebagai subyek dan bukan obyek. Di samping itu juga menuntut konselor untuk bukan hanya memikirkan teknik tentang bagaimana mempengaruhi kliennya, melainkan bagaimana konselor dapat memahami klien sebagai seorang pribadi dan kemudian mendekati klien dengan pemahamannya itu (Rochman, 1999:70).
2. Dimensi Manusia
Menurut pandangan eksistensial, dimensi dasar dari kondisi manusia meliputi enam (6) hal, sebagaimana dikemukakan Corey, (1997:172) berikut:
“The basic demention of the human condition, according to the existential approach, include (1) the capacity for self-awareness; (2) freedom andf responsibility; (3) creating one,s identity and establishing meaningful relationships wiih others; (4) the search for meaning, purpose, values and goals; (5) anxiety as a condition ofliving; and (6) awareness of death and nonbeing”.

Adapun penjelasan Corey untuk setiap dimensi di atas, yang telah disahkannya dari tema-tema yang ditulis para terapis eksistensial, berikut secara berturut- turut disajikan ringkasannya:
a. Kapasitas untuk sadar akan diri (The capacity for self-awareness)
Sebagai umat manusia, kita bisa mengenang kembali dan menentukan pilihan karena kita mampu menyadari diri sendiri. Makin tebal kesadaran kita. makin besar kemungkinan kita mendapatkan kebebasan. Oleh karena itu, mengembangkan kesadaran kita adalah meningkatkan kemampuan untuk bisa hidup secara penuh.
Kita menjadi sadar bahwa:
Kita ini serba terbatas, dan waktu yang kita miliki untuk berbuat sesuatu yang diinginkan dalam hidup ini juga terbatas.
Kita mempunyai potensi untuk bertindak atau tidak bertindak, dalam sebuah keputusan.
Saat memilih tindakan, sebenarnya kita menentukan nasib kita.
Makna bukan secara otomatis, tetapi merupakan hasil usaha kita mencari dan menciptakan suatu tujuan yang unik.
Kecemasan eksistensial (existetial anxiety), pada dasarnya adalah suatu kesadaran akan kebebasan kita sendiri, yang esensial, pada saat kita meningkatkan kesadaran.
Perasa kesepian (loneliness), ketidakbermaknaan (meaninglesssness), kekosongan (emptiness), rasa bersalah (guilt), dari rasa terasing (isolation), selalu kita alami.
Pada dasarnya kita ini adalah sendiri, namun kita punya kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain.
b. Kebebasan dan tanggung jawab (Freedom and responsibility)
Tema khas yang selalu ada dalam literatur eksistensial adalah bahwa orang (people) bebas untuk menentukan pilihan di antara alternatif-alternatif yang ada. Oleh karena itu, manusia mengambil peran yang besar dalam menentukan nasibnya sendiri. Meskipun kita dulunya tidak ada pilihan untuk dilahirkan atau tidak, cara kita hidup dan menjadi apa kita ini merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang telah kita tentukan.

c. Usaha untuk mendapatkan identitas dan bisa berhubungan dengan orang lain (Strivingfor identity and relationship to others).
Ini bukanlah suatu proses otomatis, dan diperlukan keberanian. Karena kita ini makhluk rasional, kita juga berusaha untuk bisa terkait dengan orang lain. Kita harus melepaskan diri kita kepada orang lain dan peduli pada mereka. Banyak penulis eksistensial membicarakan kesendirian, hal ini tidak berakar pada sesuatu dan keterasingan, yang bisa dilihat sebagai kegagalan untuk mengembangkan ikatan dengan orang lain dan alam. Masalahnya; bahwa banyak di antara kita yang mencari arah, nilai dan kepercayaan dari orang penting dalam dunia kita.
Dalam hal ini, terdapat 3 (tiga) hal yang harus dilalui individu, yakni;
Keberanian untuk ada, yaitu keberanian untuk menemukan hakekat kita dan untuk belajar hidup dari dalam sangat diperlukan (Tillich, 1952 dalam Corev.1996).
Mengalami kesendirian. Rasa kesendirian itu bisa dirasakan bila kita memahami keterasingan kita. Rasa terasing datang bila kita mengakui bahwa kita tidak bisa tergantung pada orang lain untuk menentukan konfirmasi, yaitu bahwa kita; tanpa bantuan orang lain harus menentukan makna hidup kita dan kita sendiri yang harus menentukan seberapa baiknya kita akan menjalani hidup ini.
Mengalami keterkaitan. Kita ingin bermakna bagi orang lain, dan kita ingin merasa bahwa kehadiran orang lain adalah penting bagi kehidupan kita. Bila kita merasa ada kekurangan dalam diri kita maka kita terpaksa mengharapkan hubungan dengan orang lain yang sifatnya sebagai parasit (menggantungkan diri).
d. Pencarian makna (The searchfor meaning)
Satu ciri khas manusia adalah perjuangan demi rasa signifikan dan adanya tujuan dalam hidup ini. Corey (1997:177) mengatakan bahwa penyebab adanya konflik yang akhirnya mendesak orang untuk mencari bantuan konseling adalah terpusat pada pertanyaan eksistensial.
Sehubungan dengan pencarian makna ini, dalam konseling klien mungkin mengalami tiga hal berikut:
Problema membuang nilai-nilai lama.(the problem of discarding old value). Tugas dari terapis atau konselor adalah membantu klien menciptakan sistim nilai yang didasarkan pada cara hidup yang konsisten dengan cara mereka berada. Selanjutnya, terapis mungkin berusaha menaruh kepercayaan pada kapasitas klien yang pada akhirnya bisa menemukan sistem nilai yang berasal dari dalam diri klien yang benar-benar memberikan kehidupan yang bermakna.
Ketidak bermaknaan (meaninglessness). Ketika klien berpendapat bahwa dunia tempat ia hidup tidak bermakna, maka iapun akan bertanya-tanya apakah masih pantas untuk terus berjuang, bahkan untuk hidup?. Bagi Frankl (1978), perasaan ketidak bermaknaan seperti itu merupakan neurosis eksistensial utama dalam kehidupan modern.
Menciptakan makna baru (crating new meaning). Fungsi terapis bukanlah mengatakan kepada klien harus seperti apa makna hidup itu melainkan menjelaskan bahwa mereka bisa menemukan makna bahkan pada saat menderita (Frankl, 1979). Walaupun keputusan-keputusan dapat secara nyata sangat luas ,dalam hal ini, mereka memiliki suatu bentuk yang tidak berbeda (invariant) meliputi dua bentuk alternatif pilihan: Pilihan terhadap masa depan dan pilihan terhadap masa lalu (the choice of the future or the choice of the past). Masa depan meliputi hal-hal yang belum dialami karena itu tidak diketahui dan secara relatif tidak bisa diprediksi.
Ada beberap faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih keputusan. Maddi (1985:194) mengatakan : The subyect matter of dicision making process is the relationship persans have to others and to social institution, to their biological and physical environments, and to themselves intra psychically (Kobasa and Maddi, 1977). Dapat disimpulkan bahwa dalam proses pengambilan keputusan, orang dipengaruhi oleh aspek-aspek pengalaman berupa: pengalaman sosial, biologi, dan fisik serta pengalaman personal. Karena setiap individu pasti memiliki hubungan-hubungan dengan lingkungan tersebut. Bagaimanapun bentuk hubungan tersebut, yang penting bagi ahli psikologi eksistensial adalah “kualitas dari hubungan itu” (the quality of these relationships).
Untuk mewujudkan pilihan ini, orang dipengaruhi oleh beberapa pengalaman yang diperoleh (givens of expérience) yang tak bisa dielakkan dan berada di luar jangkauan manusia (out side ofpossibility) ( Steven, 1985:195). Di antara given-given tersebut adalah: 1) Biological given, seperti; jenis kelamin, kekeliruan/keanehan kelahiran, dan pengaruh kecelakaan; 2) Social givens, seperti; peraturan-peraturan (laws); 3) Personal givens ;dan 4) Ultimate given is death. Yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap keputusan-keputusan yang dibuat dan kegiatan/aksi yang dilakukan dalam rangka mewujudkan pilihan tersebut.
Bagi para terapis eksistensial, pemberian tentang kematian (death) ini memberikan semangat yang tinggi bagi manusia utuk menata kehidupan setiap saat, oleh karena itu manusia tidak bisa berbuat sesuatu tentang kematian, selain meningkatkan kualitas hidupnya (Maddi dalam Steven, 1985:196).
e. Kecemasan sebagai suatu kondisi dalam hidup (Anxiety as a conditions of living).

Para terapis eksistensial membedakan antara kecemasan normal dan kecemasan neurotik dan mereka anggap kecemasan sebagai sumber pertembuhan yang potensial. Kecemasan normal merupakan tanggapan yang cukup wajar terhadap peristiwa yang sedang dihadapi. Kecemasan ini tidak perlu ditumpas dan ini digunakan sebagai motivasi ke arah perubahan.
Kecemasan neurotik keluar dari proporsi situasi yang ada, biasanya jenis kecemasan ini terjadi di luar kesadaran dan cenderung untuk menjadikan orang tidak memiliki mobilitas. Oleh karena kita tidak bisa bertahan hidup tanpa kecemasan, maka bukan tugas terapis untuk mengurangi kecemasan normal. Orang tidak bisa hidup dan matipun tidak akan bisa dihadapi tanpa hadirnya kecemasan (May dan Yalom, 1995).
Salah satu bentuk kecemasan normal, kecemasan eksistensial yang konstruktif bisa merupakan stimulus untuk pertumbuhan dalam arti bahwa kita mengalami kecemasan itu pada saat kita menjadi makin sadar tentang kebebasan yang kita miliki dan konsekuensi untuk menerima atau menolak kebebasan itu.
3. Perkembangan kepribadian
Para ahli eksistensial mendefinisikan kepribadian sebagai campuran dari pemberian-pemberian (given-given) yang diperoleh dan kemungkinan-kemungkinan. Untuk mengakses kepribadian, seseorang harus tahu, tidak hanya tentang apa yang terjadi sekarang tapi juga tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sartre, menyebut ini dengan istilah “fundamental project”. Fundamental project merupakan semacam abstraksi yang tinggi dan keadaan yang umum yang sering tidak bisa diekspresikan oleh orang-orang yang memerankannya. Dia bisa menjadi fokus kesadaran melalui aktivitas-aktivitas khusus dari kesadaran. Dengan kata lain ,fundamental project tidak berada di luar kesadaran dengan sedikit aksi defensif, tapi lebih bersifat merambat (pervasive). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa fundamental project merupakan campuran masa lalu dan masa depan seseorang dengan keberadaannya saat ini.
Dasar dari kesadaran ini adalah semangat menggunakan kemampuan-kemampuan mental yang meliputi: simbol, imaginasi,dan penilaim (simbollation,imagination,and judgement). Dalam simbolisasi, suatu ciri kognitif dikembangkan yang mewakili pengalaman tanpa secara nyata ada. Imaginasi adalah kombinasi ulang dan cin-ciri mental yang mirip, tanpa interaksi langsung secara normal. Terakhir, penilaian (judgement)adalah membuat suatu sikap penilaian terhadap pengalaman aktual atau imaginasi. Penilaian bisa juga dibuat berhubungan dengan moral (bagus/jelek) atau berupa kecenderungan (disukai dan tidak disukai).
Secara lebih khusus, proses simbolisasi, imaginasi, dan penilaian adalah penting untuk mencapai tingkat kesadaran yang tinggi, di samping itu ketiganya juga sangat dilibatkan dalam; apakah seseorang menjadi sadar tentang fundamental projeknya.
Komitmen merupakan kemampuan untuk melibatkan diri sendiri dengan orang lain (tidak bersedia menyendiri dan perasaan terpisah). Kontrol meliputi keyakinan dan aksi seseorang yang bisa mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi, sedangkan tantangan meliputi harapan-harapan akan perubahan.
Dengan hardiness, orang bertambah kesempatannya untuk membuat berbagai keputusan, yang mungkin bisa mencapai kesuksesan dan kegagalan. Sementara perkembangan akhir secara khusus ditandai dengan belajar dari kegagalan .
Perkembangan keperibadian yang baik mengarah pada autentik yang melalui dua tahap penyela, yaitu; masa aestheticism dan idealism (Kobasa dan Maddi,1977).
Aestheticism adalah reaksi pertama dari remaja untuk independen. Pada pandangan mereka, mereka ingin mencoba segala sesuatu tidak membui komitmen yang terlambat. Pada fase idealism pada dasarnya merupakan suatu reaksi pada prinsip kesenangan, meliputi komitmen yang tidak man dan secan universal memiliki nilai-nilai yang diterapkan. Idealisme mengakui cinta dan membutuhkan nilai-nilai dalam bentuk khusus.
Menurut eksistensialis, terdapat dua cara yang bisa dilakukan seseorang untuk mengurangi kecemasannya, yaitu; 1) transformational coping , Transformational coping adalah kesabaran untuk memilih masa depan dan mentolerir kegagalan secara konsisten, sehingga kejadian-kejadian yang mendatangkan stress tidak mungkin mencapai puncak dalam bentuk sakit yang nyata, karena kegagalan tersebut ditanggulangi dalam rangka mengurangi intensitas dan durasi dari ketegangan yang dihasilkannya. dan 2) regresive coping sebaliknya, orang yang konforrnis memiliki sedikit perlindungan terhadap pengurangan pengaruh dari peristiwa yang mendatangkan stress mereka cenderung regressive.

3.Sakit Menurut Pandangan Eksistensial
Dalam psikologi eksistensial, ketidak bermaknaan (meaninglessness) dikategorikan sebagai sakit eksistensial yang meliputi tiga keadaan, yaitu; (Maddi dalam Steven, 1985:201-202).
Perasaan hidup tak berguna (vegetativeness) merupakan keadaan sakit eksistensial yang sangat parah/berat.
Perasaan kehampaan (nihilism) merupakan sakit eksistensial yang kurang keras dibanding vegeiameness. Sakit ini menampakkan diri pada tiga level, yaitu; pada tingkat kognitif, sakit ini ditandai dengan kekurang percayaan terhadap segala sesuatu yang tampak memiliki makna bagi dirinya.
Kepetualangan (adventurousness) merupakan sakit eksistensial yang paling sedikit tingkat kekerasannya, karena beberapa perasaan tentang kebermaknaan (meaning) masih tersisa. Orang yang sakit ini menampakkan gejalanya pada tiga level: pada level kognitif sakit ini ditandai dengan usaha mencari hal-hal yang luar biasa, mereka menirukan sesuatu yang lain yang berguna.
Selanjutnya Rosyidan (1988:27) mengemukakan beberapa gejala khusus prilaku menyimpang, yaitu;
1) ketidak mampuan berbuat secara praktis, memulai/menyelesaikan sesuatu,
2) variasi respon yang dipergunakan miskin,dan jenis perisrtiwa yang direspon terbatas,
3) pemberlakuan umum sedemikian rupa sehingga semakian banyak peristiwa penyebab kecemasan-dan banyak respon yang terlibat dengan usaha mengatasi kecemasan itu,
4) respon yang dapat diamati secara subyektif menimbulkan konflik, khususnya antara respon afeksi dengan fikiran,
5) fikiran evaluasi diri dan afeksi yang diasosiasikan cenderung kurang positif dan lebih negatif,
6) kemunduran dan penghindaran berfikir menjangkau ke depan, seperti rencana masa depan yang cenderung menjadi respon individu dan waktu ke waktu.
7) tingkah laku menjadi aneh, di aaaaa invidu merespon berbagai peristiwa dengan afeksi, fikiran atau perbuatan yang tidak tepat, dan
8) berfikir konseptual dan abstrak menjadi semakin tidak teliti dihubungkan dengan data kasar pengalaman-pengalaman indra dan persepsi.
5. Ciri-Ciri Konseling Eksistensial
Konseling eksistensial mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Dalam hal ini Arbuchle (Rubin, 1977:753) menulis:
“The basic issue in the discussion of any “kind” of counseling, including existential counsling, has to do with the nature of humanity and the relationship of humans to the culture they have produced. The behavioral and deterministic view sees human as conditioned sets of behaviors, and their life and living can thus be predicted and controled, for good or evil. On the other hand, the world of the existential counselor is subjective rather than objective, and human are streams of consciousness and experiencing, and thus can not be predicted and measured and controled. “

Dapat dikatakan bahwa para konselor eksistensial memandang klien sebagai oknum yang dinamik yang perilakunya tidak dapat diramalkan, yang hanya dapat dipahami apabila kita memasuki dan menghayati dunia subyektifnya. Dengan kata lain, bantuan hanya dapat efektif apabila klien dan konselor dapat berdialog dalam dunia subyektif yang sama.
Di samping itu, Semiawan (Natawidjaja, 1999:76) mengatakan bahwa pelaksanaan penyuluhan dengan pendekatan eksistensial menekankan pada pemahaman masalah oleh klien, dan pemecahannya perlu didasarkan atas pemusatan perhatian pada kehudupan emosional dengan bobot kasih sayang yang tinggi. Langkah-langkah yang menunjukkan betapa proses itu berlangsung secara sukarela dan bebas, menunjukkan diberikannya kesempatan pada seseorang untuk mengaktualisasikan dinnya sesuai dengan terpenuhinya kebutuhan psikologisnya.
Sehubungan dengan ini, Maslow dalam Natawidjaja, 1999:76) manusia memiliki dan mampu unggul dalam dirinya seperti kecerdasan, integritas dan dari beberapa pendapat di eksistensial adalah; 1) pentingnya pengalaman dan nilai-nilai humanistik, 2) bersifat subyektif, 3) lebih menekankan masa kini dan masa depan daripada masa lalu, 4) menjalin hubungan yang otentik dengan klien dan menghindarkan manipulasi serta pengarahan, dan 5) sikap dan nilai konselor lebih penting daripada teknik yang digunakannya.
C. Dampak Ketunarunguan
1. Dampak Bagi Siswa Bersangkutan
Dampak utama yang muncul sebagai akibat ketunarunguuan adalah berupa ketidak mampuan berbicara oral (lisan). Ketidak mampuan ini merupakan akibat ketidakmendengarannya menurut tingkat kecacatannya. Misalnya pada taraf berat atau ringannya ketidak mendengaran. Bila kita mau berbicara dengan anak maka kita harus berhadapan dengan anak. Alasan ini bisa di terima dimana anak akan dapat membaca gerak bibir dan mampu memanfaatkan sisa pendengaran yang masih ada. Jika anak tidak diberikan kesempatan untuk berbuat sendiri maka akibarnya ia akan sering menuntut dan berusaha untuk mengatasi kekurangannya dengan menujukkan bahwa ia juga mampu berbicara walaupun kurang jelas.
Dampak ketunarunguan lainnya adalah masalah sosialisasi anak. Dampak yang sering muncul biasanya anak lebih suka menggunakan isyarat dalam bicara dari pada usaha berbicara. Ketika orang lain tidak mampu memahami pembicaraannya tentu akan muncul kekecewaan bagi dirinya, hal ini dapat menimbulkan gejala kesulitan bersosialisasi bagi anak tunarungu.
2. Dampak Ketunarunguan Bagi Keluarga
Pada awalnya banyak orang tua yang bersikap menolak bahwa anaknya difonis sebagai kurang mendengar atau tunarungu. Biasanya sikap menolak dan tidak mau menerima terhadap kekurangan anaknya. Bahkan kadangkala orang tua atau keluarga saling menyalahkan dan saling tuding sehingga akan menimbulkan kekacauan baru berupa keretakan rumah tangga. Adapun sikap orang tua terhadap anak selanjutnya adalah sikap terlalu melindungi (over protection) dan semua gerak anak selalu diawasi.
Seiring dengan berkembangnya anak, maka kesulitan lainnya yang muncul adalah masalah penciptaan bahasa isyarat bagi anak. Bagi anak akan berbeda bila dihadapkan pada dunia atau kelompok orang-orang yang tidak mengerti bahasa isyaratnya.
Dampak ketunarunguan yang telah tercermin dalam karakteristik, semuanya berpengaruh terhadap kelancaran berjalannya proses pendidikan. Untuk mengatasi tantangan tersebut ada empat prinsip yang perlu diperhatikan sebagai pertimbangan untuk mensukseskan pendidikan anak tunarungu.
Gallauded (1997) dalam Harris dkk (1997) menyampaikan antara lain : (1) anak tunarungu diharapkan mampu mengakses bereneka ragam lingkungan pendidikan secara luas, (2) para siswa tunarungu diharapkan mampu mengakses semua layanan khusus yang diperlukan untuk pertumbuhan pendidikan normal, (3) siswa dan para orang tua diharapkan mampu mengakses secara bebas pilihan program pendidikan, dan (4) tingginya biaya pendidian anak tunarungu tidak semata-mata disebabkan oleh satu atau beberapa faktor melainkan kompleks.

Cohen et.al. dalam Harris dkk (1997) berpendapat bahwa tingkat kemampuan yang rendah anak tunarungu tidak disebabkan karena ketidak mampuan belajar mereka tapi lebih disebabkan adanya problem-problem dalam komunikasi antara guru dan siswa tunarungu. Ini juga disebabkan ketakmampuan mereka mengakses/memahami bahasa dalam setting di kelas. Hal yang paling penting lagi bahwa anak-anak didik secara meinstreming (terintegrasi) harus mampu memahami bahasa yang ada di lingkungan.
Para pendidik diharapkan mampu memberikan bantuan pada anak tunarungu dengan mengarahkan mereka pada lembaga bimbingan sebagai bimbingan tambahan. Seorang konselor/pendidik apabila menemui masalah atau kesulitan dalam hal kebahasaan atau komunikasi dengan anak tunarungu, maka ia dapat menggunakan jasa penterjemah bahasa anak tunarungu.

BAB IV
PENERAPAN KONSELING EKSISTENSIAL PADA TUNARUNGU

A. Peranan Sekolah dalam Kemandirian Anak Tunarungu
Upaya sekolah dalam hal ini bekerja bersama-sama dengan konselor untuk pengembangan kemandirian anak tunarungu dapat pula dilakukan dalam bentuk bimbingan dan pelayanan yakni :
1. Full Inclusion (integrasi penuh) melalui Program mentoring.
Giongreco dalam Gloria at.all (1997), mengemukakan definisi Full Inclusion adalah sebagai suatu keberadaan di mana hanya terdapat satu kesatuan sistem pendidikan formal yang meliputi semua anggota (peserta didik) secara wajar tanpa memandang perbedaan status mereka. Selanjut disebutkan dalam “Individual with Disabilities Education Act (1990)“ mengungkapkan bahwa sekolah harus mencoba mengajar anak-anak yang mengalami gangguan (Anak Luar Biasa) di kelas-kelas umum dengan dukungan dan pelayanan yang sesuai sebelum mereka dipertimbangkan untuk ditempatkan di lingkungan yang lebih terbatas.
Full Inclusion tidak diartikan bahwa semua siswa akan dididik dengan menggunakan metode pengajaran yang sama atau mengerjakan tugas-tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang sama.
Stainback, dalam Berhring at.all (1998). Full Inclusion berarti bahwa semua siswa akan diberikan program pendidikan yang layak yang direfleksikan pada kemampuan dan kebutuhan siswa dengan dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan. Dukungan-dukungan yang penting ini bisa dalam bentuk pengajaran yang khusus, perlengkapan yang disesuaikan dan/atau personal-personal yang khusus. Agar Full inclusion berhasil, perlu adanya kerja sama (kolaborasi) antara guru pendidik umum, staf pendidikan khusus, dan konselor sekolah agar dapat memberikan program yang layak dan berarti bagi semua siswa

Full inclusion harus dipandang sebagai suatu proses, dan proses ini menumbuhkan adanya individualisasi bagi setiap sekolah, siswa dan keluarga. IDEA secara jelas mengidentifikasikan pendidikan khusus sebagai suatu pelayanan bukan sebagai tempat.
Berarti pelayan yang diberikan oleh seorang konselor atau guru diharapkan dapat membangkitkan semangat hidup dalam mengambil sikap serta keputusan dengan penuh kesabaran dengan tidak mudah terpengaruh atau marah di dalam menghadapi lingkungan yang ada. Lingkungan hendaknya dapat memberikan respon-respon yang positif demi untuk pencegahan dari aspek psikologis maupun sosial. Melalui full incklusion merupakan alternatif pemecahan permasalahan dalam diri individu (Anak tunarungu). Full inclusion memandang anak tunarungu sama dengan anak normal lainnya, tidak ada suatu jarak atau pemisahan antara anak normal dengan anak tunarungu.
Tujuan utama dari full inclusion adalah meningkatkan kompetensi anak tunarungu dalam hubungan dengan teman sebayanya. Yang menjadi tuntutan utama adalah keberhasilan penyesuaian sosial. Sedangkan manfaatnya dari integrasi penuh untuk masa depan antara lain:
1. Anak Luar Biasa (anak tunarungu ) memperoleh peranan yang lebih normal
2. Akan memudahkan mengarahkan ALB (anak tunarungu) untuk menunjukkan perilaku-perilaku yang lebih baik
3. Bagi anak norma lainnya akan dapat memahami, sabar, dan meng-hargai perbedaan-perbedaan individual ALB (anak tunarungu) belajar menerima modifikasi aturan-aturan dalam PBM
Pemerolehan peranan yang lebih besar bagi anak tunarungu akan merasa mampu memahami dirinya, menerima dirinya, mencegah dirinya dari permasalahan serta akan bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya. Bila anak tunarungu sanggup mencegah dan mengembangkan potensi yang dimilikinya tersebut maka, secara psikologis aspek sosialnya akan terbentuk dan terbina dengan baik. Sebaiknya seorang konselor dalam memberikan pelayanan diharapkan mengarah kepada apa yang diinginkan dan keputusan yang diambil tidak memaksakan kehendak dari konselor sendiri melainkan mengacu kepada keinginan yang sangat diharapkan individu sendiri.
Merujuk kepada pendapat di atas upaya pengembangan kemandirian anak tunarungu maka, bisa kita terapkan dengan sistem integrasi penuh. Kita menyadari bahwa pelayanan pendidikan bagi anak luar biasa (anak tunarungu khususnya). Bentuk pelaksanaan di Indonesia selama ini masih mempergunakan sistem segregasi. Ini sangat berpengaruh pada prilaku individu sehingga dalam berinteraksi dengan lingkungan di luar dari lingkungannya ia merasa minder dan curiga.
Sebagaimana yang dikemukakan dalam keputusan Mendikbud. No. 002/0/1986, tanggal 4 Januari 1986 tentang pendidikan terpadu;
Bahwa semua anak Indonesia usia sekolah, baik yang tergolong normal maupun luar biasa memperoleh kesempatan pendidikan yang sama di sekolah. Dengan demikian layanan pendidikan perlu diseminasikan di seluruh wilayah Indonesia.

Kecenderungan pelayanan pendidikan anak luar biasa (anak tunarungu) dapat di arahkan kepada jenis layanan melalui sistem pendidikan Full inclusion yang merupakan langkah positif dalam pengembangan kemandirian dari dampak ketunarunguan.
Pelaksanaan layanan dalam pengembangan kemandirian di sekolah bagi guru/konselor dapat melakukan pelayanan bimbingan melalui teman sebaya atau dengan sistem mentoring. Ini akan membantu kita dalam menangani dan memberikan layanan bagi anak tunarungu yang berada di sekolah terpadu. Kegiatan akan efektif karena mentor tinggal memantau bagaimana pelaksanaan bimbingan tersebut.
Mentoring adalah suatu kegiatan hubungan manusia yang melibat-kan pemberian dorongan dan bimbingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi. Seorang mentor bukanlah konselor profesional, orang tua, pekerja sosial, atau teman bermain, tetapi mentor adalah seorang teman dan orang kepercayaan.
Langkah-langkah untuk memulai sebuah program mentoring, Preyer dalam Gloria D. dkk (1997), berpendapat bahwa aspek-aspek untuk memulai suatu program mentoring dapat dilakukan.
1. Libatkan sekolah secara keseluruhan; program mentoring harus melengkapi kegiatan akademik siswa yang reguler. Guru, konselor dan administrator merupakan sumber untuk menentukan siswa yang akan dilibatkan dalam program mentoring. Guru dapat memberikan masukan terhadap jenis program yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Konselor oreantasinya membantu memecahan masalah, dan dapat membantu mentor untuk berkomunikasi baik, sedangkan administrator terlibat dalam dan pemilihan mentor, dan dapat juga dilibatkan dalam kegiatan perencanaan sekolah,
2. Identitas dan pilihan staf program; dari setiap sekolah dapat menunjuk satu orang untuk mengkoordinasikan program ini dan menjadi nara sumber bagi siswa dan mentor.
3. Perbaiki tujuan program, tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pencapaian akademik dan tingkah lakunya serta meningkatkan komunikasi, kehadiran, partisipasi dan keterampilan social.
4. Menentukan target populasi, populasi yang menjadi target harus diidentifikasi dengan jelas sesuai dengan kriteria yang mau dilibatkan. Jumlah siswa tidak terlalu besar sehingga dapat ditangani dengan baik.
5. Mengembangkan kegiatan dan prosedur, membuat petunjuk tentang pertemuan kontak antara mentor dengan siswa. Pertemuan tersebut hendaknya sering, mungkin antara 1 s.d 3 perminggu, dan hubungan antara siswa dengan mentor perlu dievaluasi setelah 6 bulan dan kemudian bila ternyata berhasil hendaknya dilanjutkan.
6. Orentasi mentor dengan siswa, sebelum mentor bekerja dengan siswa, maka harus ada pelatihan bagi mereka. Dan sebelum dimulai siswa harus sadar akan proses mentoring dan paham terhadap peranannya.
7. Monitorlah keberhasilan mentoring, monitoring selama pelaksanaan program supaya jangan terjadi penyimpangan. Diadakan pertemuan secara teratur dengan mentor untuk mengemukakan permasalahan dan keberhasilan yang dicapai. Kemudian diadakan pertemuan dengan siswa guna untuk mengkonfirmasikan manfaat dari kegiatan ini.
8. Pengelolaan proses yang sesuai, mentor harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan empaty terhadap siswa saat mengidentifikasi dan memberikan bantuan.
9. Evaluasi keefektifan program, evaluasinya didasarkan pada informasi yang diperoleh sebelumnya, selama dan sesudahnya, serta akan dapat mengukur keefektivan program mentoring dan memberikan saran untuk perubahan dan perbaikan di masa mendatang.
Beberapa keberatan dan pertimbangan akhir dalam penggunaan mentoring ini menyangkut dengan keterkaitan hukum dan kebijakan sekolah dalam menjelaskan kepada peserta program. Kerja sama dengan guru dan dukungan dari suatu kebijakan merupakan prioritas utama. Kebijakan tersebut antara lain: (1) Orang tua hendaknya diberi tahu tentang program mentoring yang akan melibatkan anaknya, (2) mentor hendaknya tidak memindahkan siswa tanpa izin sekolah dan orang tua.(3) kegiatan di luar sekolah dan di luar jam harus dibawah pengawasan petugas sekolah, (4) di sekolah harus mempunyai informasi yang lengkap tentang mentor,(5) Sekolah harus tetap menjaga kerahasian informasi tentang siswa.
Konsultasi dengan keluarga dimaksudkan konselor harus bekerja sama dan berkomunikasi dengan para orang tua. Konselor dapat membagi imformasi tentang perkembangan anaknya pada saat pelaksanaan pendidikan yang telah dilakukan dengan sistem inclusion. Guru-guru umumnya telah dipersiapkan dengan strategi pengajaran, yang sesuai dalam penempatan untuk memudahkan penyesuian siswa, dan secara terus menerus memonitor kemajuan siswa melalui team yang ada yakni konselor sekolah dan guru khusus.
Guru pembimbing harus ingat bahwa mereka sangat terlibat secara pribadi dalam topik pembicaraan, lebih-lebih bila anak menimbulkan suatu masalah bagi keluarga atau sekolah. Guru bimbingan harus berusaha menciptakan suasana komunikasi yang menyenangkan antara pribadi yang serasi.
B. Libatkan Orang Tua dalam Bimbingan Intervensi Optimalisasi Kemandirian Anak Tunarungu

Bimbingan kepada orang tua bertujuan agar orang tua lebih memahami tentang keadaan dan kebutuhan anaknya yang tunarungu. Orang tua harus dapat menghargai pekerjaan anaknya sekalipun jauh dari yang dianggap baik. Orang tua harus dapat menerima pekerjaan anaknya sekalipun itu tidak sesuai dengan keinginan orang tua dan keluarga. Hal ketidakrelaan ini sering muncul bila melihat anaknya bekerja pada jenis pekerjaan yang kurang membutuhkan keahlian dengan bayaran gaji yang sedikit. Perasaan ini sangat berkaitan dengan keadaan status sosial orang tua di masyarakat.
Pelayanan bimbingan orang tua seharusnya dilaksanakan dengan mengikutsertakan beberapa orang ahli di antaranya; dokter, pekerja sosial, guru, kepala sekolah, dan sebagainya. Secara ideal penyelenggaraan bimbingan dilaksanakan dalam bentuk biro konsultasi, sebab di sini diharapkan orang tua akan berkesempatan mengadakan konsultasi dan membicarakan dengan orang-orang yang terlatih dan telah ahli dalam menangani masalah anak tunarungu. Melalui bimbingan pada orang tua diharapkan bahwa orng tua dapat merubah pandangan yang salah tersebut dan akan menerima keadaan anak dan juga oleh lingkungan masyarakatnya. (Orped:1990).

Upaya menuju dan mempersiapkan pribadi yang baik untuk dapat berinteraksi sosial dengan lingkungannya, maka pendidikan anak tunarungu perlu dilengkapi dengan program bimbingan yang dapat disesuaikan dengan kondisi masa depan. Guru atau konselor harus memiliki pengetahuan khusus guna untuk memahami permasalahan yang dihadapi anak tunarungu. Karenanya guru bimbingan perlu dibekali keterampilan-keterampilan dan sifat-sifat kepribadian yang menunjang kemampuannya dalam mencapai tujuan bimbingan.
Supriadi (1997) mengemukakan bahwa kompetensi yang perlu dimiliki guru pembimbing antara lain: (1) mengetahui dan menerapkan teknik-teknik bimbingan, (2) keterampilan-keterampilan sosial yaitu mampu membina hubungan baik dengan siswa (empati, lemah lembut, hangat, penuh pngertian, dan penghargaan pada siswa). (3) kelincahan dalam mengum-pulkan data dan informasi yang diperlukan, untuk kemudian menafsirkan, (4) kemampuan menafsirkan isyarat yang ditujukan oleh siswa dalam proses bimbingan, (5) rendah hati, tetapi mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, (6) jujur dan murni, tidak berpura-pura terhadap dirinya maupun siswanya dan mempunyai integritas diri. Sifat-sifat dan keterampilan tersebut dapat diperoleh melalui belajar (pendidikan atau pelatihan) dan pengalaman.

Salah satu upaya yang yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak tunarungu adalah dengan adanya pengertian dari orang tua/keluarga akan keberadaan anak tunarungu, dan adanya usaha kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan keluarga. Orang tua merupakan pendidik yang pertama dan penanggung jawab utama terhadap pendidikan anak tunarungu.
Kita sering menemukan reaksi orang tua yang kurang mendukung pendidikan anaknya. Misalnya terlalu memanjakan, mengabaikan, putus asa. Sikap-sikap orang tua yang demikian sangat berpengaruh pada situasi pendidikan anak di sekolah. Oleh karenanya peranan orang tua sangatlah penting dan dibutuhkan sekolah untuk menunjang keberhasilan anaknya.
Beberapa peran orang tua anak tunarungu antara lain:
1. Pengertian orang tua merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pendidikan anaknya.
2. Orang tua memegang peranan penting dalam melaksanakan pendidikan di rumah sejalan dengan yang diberikan di sekolah.
3. Orang tua berperan dalam hubungan kerjasama antara sekolah dan keluarga ataupun dengan masyarakat terutama dalam peningkatan atau pengadaan alat-alat dan kesejahteraan guru.
4. Dengan terbentuknya suatu wadah kerjasama (BP3) akan mempermudah usaha-usaha orang tua akan aspirasi pendidikan anak-anaknya. Wadah ini juga akan dapat sebagai alat untuk memperkenalkan keberadaan anak tunarungu pada masyarakat. (Orped:1990).

Selanjutnya seorang petugas bimbingan ataupun guru, harus memiliki latar belakang pengetahuan mengenai dinamika tingkah laku anak tunarungu. Pengetahuan ini diperlukan untuk dapat memahami kepribadian setiap anak. Seorang guru harus menyadari bahwa efek dari masalah yang sekunder ketunarunguan lebih berat atau sukar ditangani dari pada ketunarunguannya.
Pelaksanaan bimbingan bagi anak tunarungu mengharapkan seorang konselor harus mampu membangkitkan kepercayaan dirinya, berfikir baik dan berinteraksi sosial dengan lingkungan tempat di mana anak tinggal atau hidup, dengan demikian secara bertahap tentu kepribadiannya dapat dikembangkan, dan diharapkan dia mampu mengambil suatu keputusan, sehingga tidak dihinggapi oleh kecemasan yang berlebihan, kecurigaan yang tingi, serta anak tunarungu betul-betul dapat menerima dan mengerti batas-batas kemampuannya tanpa penyesalan atau rasa rendah diri.
Para pendidik diharapkan mampu memberikan bantuan pada anak tunarungu dengan mengarahkan mereka pada lembaga bimbingan sebagai bimbingan tambahan. Seorang konselor/ pendidik apabila menemui masalah-masalah atau kesulitan dalam hal kebahasaan atau komunikasi dengan anak tunarungu, maka ia dapat menggunakan jasa penterjemah bahasa anak tuanarungu.

BAB V
USULAN PENELITIAN
PENGGUNAAN KONSELING EKSISTENSIAL
DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TUNARUNGU
DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN

Berdasarkan hasil kajian dan permasalahan tunarungu yang telah dilakukan, konsep konseling eksistensial. Meskipun mengalami kekurangan dalam hal pendengaran, maka seorang tunarungu juga perlu memiliki pribadi sehat dan dapat mewakili nilai secara utuh. Untuk melengkapi dan menyempurnakan kajian maka penulis ingin melakukan penelitian untuk meneruskan menggali dan meneliti konsep konseling eksistensial yang berfokus pada pemantapan konsep yang dihadapi oleh tunarungu dalam meningkatkan kemandirian dalam kehidupan sosial.
Untuk merealisasikan permasalahan tunarungu berkaitan dengan pelaksanaan konseling dengan mengunakan konseling eksistensial maka penulis berkinginan untuk melalkukan suatu penelitian. Dengan demikian diharapkan seorang tunarungu baik individu maupun secara kelompok dapat memahami eksistensi yang ada sekarang.
Sejalan dengan permasalah dan keinginan penulis maka lebih memfokuskan masalah pada Penggunaan konseling Eksistensial dalam meningkatkan kemandirian anak tunarungu di sekolah.
BAB VI
KESIMPULAN
Menurut pandangan eksistensialis manusia memiliki kesadaran akan dirinya sendiri. Ini merupakan kemampuan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya yang membuat manusia mengenang dan mengambil keputusan. Dengan kesadaran, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan tentang cara hidup, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuatnya. Dapat dikatakan bahwa manusialah yang menentukan nasibnya sendiri, dialah sebagai penulis atau pengkreasi atau sebagai arsitek bagi kehidupannya. Selanjurnya, kesadaran akan kebebasan memilih dan tanggung jawab ini akan melahirkan kecemasan eksistensial yang merupakan ciri khas lain dari manusia. xecemasan ini akan diperparah lagi ketika manusia memikirkan kenyataan bahwa hidup ini tidak kekal. Dengan menghadapi masa depan akan datangnya kematian yang tak bisa dielakkan, memberikan arti pada kehidupan masa kini.
Terapi konseling eksistensial bagi anak tunarungu menempatkan pentingnya nilai hubungan antar pribadi. Terapi ini percaya bahwa terjadinya pertumbuhan pada diri klien melalui pertemuan yang asli (genuine) antara konselor dengan klien dalam hubungan konseling. Menurut terapi ini, bukan teknik yang digunakan konselor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada diri klien, melainkan kualitas hubungan konselor-klienlah yang memberikan kesembuhan. Jadi dapat dikatakan di sini bahwa konselor berperan sebagai cermin pemantul, di mana klien dapat melihat dirinya sendiri dalam proses konseling yang mengakibatkan klien sadar akan kekurangannya, yang selanjutnya klien akan mampu mengidentifikasi

DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dkk. (1991), Psikologi Sosial (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Anastasia Widdjajantin. (1996), Ortopedagogik Tunanetra I. Jakarta: Depdikbud.
Bimo Walgito. (1991), Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Andi Offset.
Berhring, Shari Tarver, dkk. (1998). School Counselors and Full Inclusion For Children With Special Needs, Jurnal Professional School Counseling Volume 1 N0.3.p Februari . ASCA
Collins, Gary R. Christian Counseling. A Comprehensive Guide (Waco, Texas: Word Books, 1980).
_____________ (ed). Counseling in Times of Crisis (Dallas-London-Singapore: Word Books, 1987).
Corey, Gerald. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (terj.) (Bandung: Eresco,1988).
Crabb, Lawrence J. Effective Biblical Counseling (Grand Rapids-Michigan: Zondrvan Pub. House, 1977).
Diktat OrPed. (1990). Kumpulan Materi Kuliah Ortopedagogik, Jurusan PLB, FIP: IKIP, Bandung
Gunarsa, Singgih D. Konseling dan Psikoterapi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992)
Gloria D. dkk. (1997). Using Mentoring to Improve Academic Programming for Afrika Amerika Male Youth Whith Mild Disabilities, Jurnal The School Counselor. Vol. 44
Harris, Leslie K. dkk. (1997). Counselling Needs Students Who Are Deaf and Hard Of Hearing, Jurnal The Scool Counselor, Maret. Vol.44
I Ketut Wesna, (1996-1997), Cahaya Netra. Edisi Kedua. Jakarta: Depdikbud
Kirk, Samuel A dan Gallagher, James J. (1990), Pendidikan Anak Luar Biasa III, (Alih Bahasa: Moh. Amin dan Ina Yusuf Kusumah). Jakarta: DNIKS.
Meier, Paul et.al. Introduction to Psychology & Counseling (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House, 1988).
Moleong, Lexy J. (2000), Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Munawir Yusuf (1996), Pendidikan Tunanetra Dewasa dan Pembinaan Karir. Jakarta : Depdikbud.
Natawidjaja, Rochman. (1988). Peranan Guru Dalam Bimbingan di Sekolah Bandung: Cv. Abardin.
Robert MZ. Lawang. (1994), Teori Sosiologi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Rochman Natawijaya. (1992), Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
S. Nasution. (1994), Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Soerjono Soekanto. (1990), Sosialisasi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
St. Vembriarto. (1993), Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.
Sutjihati Somantri. (1996), Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.
Somad, Permanarian. (1996). Ortopedagogik Anak Tunarungu, Jakarta: Depdikbud.
Suhaeri HN. (1996). Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.
Supriadi, Dedi. (1997). Profesi Konseling dan Keguruan. Bandung: Bidang Studi Bimbingan dan Konseling Program Pascasarjana dan Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP IKIP Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: