PENGGUNAAN SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

PENGGUNAAN SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF

PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

Disusun Oleh:

JON EFENDI

ABSTRAK

Rational Emotif Therapy (RET) dilakukan pada penyandang tunagrahita ringan dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar logika ke dalam praktek RET, terutama silogisme praktis, yang disesuaikan dengn kemampuan penyandang tunagrahita secara optimal.

Prosedur pengembangan secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Selama berlangsung pertemuan, klien membuat timbangan nilai yang membentuk pernyataan verbal yang mendasari emosi dan sikap. 2) Terapis dapat memperbaiki dasar logika suatu emosi dengan upaya merekonstruksi premis-premis silogisme praktis yang muncul, 3) Premis-premis di arahkan kepada pengendalian rasional.

Bentuk RET yang menggunakan dasar logika seperti dikemukakan di atas, perlu memperhatikan bentuk logika baik induktif maupun deduktif. Oleh karena itu, bilamana menggunakan model ini, maka para terapis diharapkan rnemiliki pemahaman yang luas mengenai logika dan ketrampilan menerapkannya dalam RET yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan, sehingga kemandirian anak tunagrahita dapat ditingkatkan. Dengan demikian mereka lebih dapat hidup mandiri di masayarakat.

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merawal dari keinginan untuk lebih meningkatkan kemampuan penyandang tunagrahita ringan yang selama ini lebih banyak tergantung pada keberadaan orang lain. Selain penyandang tunagrahita memiliki permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan inteligensi, pada khirnya mereka kurang mampu menunjukkan aktualisasi diri dengan baik ditengah masyarakat.

Rational Emotif Therapy (RET) dilakukan pada penyandang tunagrahita ringan dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar logika ke dalam praktek RET, terutama silogisme praktis, yang disesuaikan dengn kemampuan penyandang tunagrahita secara optimal.

Penyempurnaan dan penyususnan makalah ini banyak mendapat arahan dari dosen pembimbing selama perkuliahan serta masukan dari berbagai teman. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih, serta memohon kritikan dan saran-saran demi kesempurnaan tulisan ini di masa datang.

Bandung, Januari 2010

Penulis


DAFTAR ISI

ABSTRAK                                                                                                        1

KATA PENGANTAR                                                                                      2

DAFTAR ISI                                                                                                     3

BAB I PENDAHULUAN                                                                                4

  1. Latar Belakang Permasalahan                                                     4
  2. Tujuan Penulisan                                                                           6
  3. Format Penulisan                                                                           6

BAB II SILOGISME DALAM RET PADA TUNAGRAHITA                       7

A. Pendekatan Silogisme                                                                    7

B. Hakekat Penalaran                                                                          7

BAB III PEMBAHASAN                                                                                 11

A. Silogisme Dan Jenisnya                                                                 11

1. Silogisme kategorial                                                             11

2. Silogisme Praktis                                                                  14

B. Terapi Rasional Emotif                                                                    19

1. Pengantar                                                                              19

2. Pokok-pokok Teori                                                                23

C. Tunagrahita Ringan                                                                        33

1. Pengertian Tunagrahita Ringan                                        33

2. Karakteristik Tunagrahita ringan                                        34

D. Pentingnya Layanan Bimbingan Bagi Anak Tunagrahita       40

BAB IV PENERAPAN SILOGISME DALAM RET                                     43

A. Konseling RET dalam setting kelompok                                      43

1. RET sebagai Model Pendidikan                                        43

2. Tujuan Silogisme                                                                  44

3. Rasionel                                                                                 45

4. Peranan dan Fungsi Konselor                                           48

BAB   V USULAN PENELITIAN                                                                   50

IMPLENTASI SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF

(Model Peningkatan Kemandirian Pada Anak Tunagrahita Ringan)

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI                                          50

DAFTAR PUSTAKA                                                                                       53

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sesuai dengan para penganut terapi rasional-emotif (RET), para terapis mempunyai kemungkinan untuk menghilangkan emosi klien yang tidak dikehendaki (misalnya depresi atau kecemasan) dengan memperbaiki dan mengubah keyakinan tak-rasional tertentu sebagai bagian dan sistem keyakinan klien. Sekalipun begitu, penganut teori RET, salah memahami hubungan antara peristiwa, keyakinan, dan emosi.

Meskipun mereka tidak menyangkal peranan peristiwa tindakan (activating events) dapat menimbulkan emosi, mereka meyakini bahwa “sebab utama konsekuensi anda sendiri pada C, adalah karena keyakinan kuat terhadap sesuatu pada B”. Jadi, keyakinan orang merupakan sebab utama dari emosinya, seperti misalnya menggoreskan korek api merupakan sebab utama dari menyalanya korek api. Seperti halnya dengan seseorang tidak dapat menyalakan koerek api tanpa oksigen, maka seseorang tidak dapat memiliki emosi tanpa ada kejadian tindakan.

Brekaitan dengan paham yang dianut oleh teori RET; Kondisi anak-anak yang mengalami kelainan Tunagrahita, mereka hampir rata-rata mengalami ksulitan dalam pemahaman terhadap suatu peristiwa, keyakinannya sulit dan mudah dialihkan, serta emosinya sering tidak stabil. Kondisi tersebut juga sejalan dengan kekurangan dalam kecerdasan, pada akhirnya mereka sulit untuk menentukan keputusan yang dirasakan tepat baginya.

Tunagrahita ringan diartikan sebagai suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat dari lemahnya kemampuan intelektual. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan  AAMD dalam Moh Amin ( 1995 ). Anak yang termasuk dalam tunagrahita ringan meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat namun mereka mempunyai kemampuan berkembang dalam bidang akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.

Meskipun pentingnya keyakinan seseorang dalam menghayati emosi tertentu, sebenarnya pandangan di atas mengenai hubungan antara peristiwa, keyakinan, dan emosi, tidak menjelaskan proses logis timbulnya emosi. Maksud tulisan ini adalah untuk memberikan alternatif menghitung hubungan ini dengan menerapkan konsep fundamental tertentu dari ilmu logika pada umumnya yang disesuaikan dengan kondisi ketunagrahitaan, dan konsep logika silogistik pada khususnya dan untuk menjelaskan bagaimana pemahaman seseorang penyandang tunagrahita ringan bisa. Seorang konselor diharapkan dapat menempatkan terapis RET dalam posisi yang lebih baik untuk membantu klien dalam memperbaiki keyakinan tak rasional, meskipun dalam tahap yang minimal, namun sesuai dengan kemampuan intelektual yang optimal.


B. Tujuan Penulisan

Tulisan ini berusaha mengetengahkan suatu persoalan bagi konselor yang menghadapi para penyandang Tunagrahita baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan memusatkan perhatian pada pendekatan silogisme. Maksud tulisan ini adalah untuk memberikan alternatif dengan menerapkan konsep fundamental tertentu dari ilmu logika pada umumnya. Konsep silogistik pada khususnya untuk menjelaskan pemahaman  yang menempatkan terapis RET dalam posisi yang tepat untuk membantu klien  sehingga mendapakan keyakinan yang rasional sesuai dengan keterbatasannya.

Tujuan lain makalah ini juga sebagai salah satu tugas akhir perkuliahan Filsafat Bimbingan Konseling di SPS UPI Bandung.

C. Format Penulisan

Format penulisan yang digunakan dalam tugas akhir ini mengguakan pendekatan dan kajian teori sesuai dengan penulisan karya ilmiah. Acuan yang digunakan berupa kajian dari berbagai literatur dan sumber-sumber yang mendukung berupa hasil-hasil diskusi dan kritisi dari barbagai nara sumber terkait.

Selanjutnya teori-teori akan diguakan untuk membahas permasalahan yang dikemukakan sebagai pokok permasalahan. Kaitan teori yang digunakan berupa; konsep Silogisme, terapi Rasional Emotif, dan konsep tunagrahita ringan yang dikaitkan dengan prose Bimbingan dan Konseling.

BAB  II

SILOGISME DALAM RET PADA TUNAGRAHITA

A. Pendekatan Silogisme

Silogisme berkaitan erat dengan kemampuan penalaran. Kemamampuan penalaran dari seseorang diperlukan dalam rangka memahami  sesuatu sesuai dengan rasio. Diharapan orang akan mampu mengendalikan diri dalam kaitan perisitwa-peristiwa, hubungan sosial, dan pengendalian emosi. Melalui pendekatan silogisme akan digunakan dalam pelaksanaan proses konseling yang menggunakan terapi rasional emotif.

Para terapis mempunyai kemungkinan untuk menghilangkan kemungkinan-kemungkinan emosi pada anak tunagrahita ringan melalui pendekatan silogisme. Dimana pada klien akan dimunculkan suatu kekuatan dan kemampuan mengenai logika untuk menjelaskan pemahaman baru dengan menenpatkan RET pada klien penyandang tunagrahita.

B. Hakekat Penalaran

Secara singkat dapat dikatakan bahwa terapi rasional-emotif merupakan suatu upaya untuk membetulkan kesalahan dalam penalaran klien sebagai cara untuk menghilangkan emosi-emosi yang tidak dikehendaki. Adapun hakekat penalaran itu sendiri adalah sebagai berikut.

Pertama, ada dua aspek dari setiap bentuk penalaran yaitu premis dan konklusi. Bila setiap proses dikualifikasikan sebagai penalaran, maka kedua unsur tersebut harus ada.  Konklusi adalah keyakinan yang memungkinkan seseorang berusaha untuk membuktikan atau membenarkan. Premis adalah keyakinan yang digunakan seseorang untuk membuktikan atau membenarkan konklusi. Penalaran dapat memiliki lebih dari satu premis, tetapi sekurang-kurangnya harus memiliki satu premis.

Kedua, ada dua macam penalaran yang berbeda tetapi saling berkaitan, yaitu penalaran deduksi dan induksi. Deduksi adalah macam penalaran di mana konklusi dikembangkan dengan mengikuti premis. Dalam hal ini bila premisnya betul tidak mungkin konklusinya salah. Misalnya bila suatu premis mengatakan : “Semua manusia adalah makhluk yang bakal mati”, maka dapat ditank konklusi deduktif antara lain sebagai berikut: “Semua makhluk yang tidak mati adaiah bukan manusia”. Oleh karena itu apabila seseorang menerima suatu premis, akan tetapi tidak membenarkan konklusi , maka orang itu dapat dikatakan berfikir tak-rasional yang berarti juga bertentangan dengan dirinya sendiri.

Induksi adalah macam penalaran di mana konklusi tidak mendasarkan pada premis, tetapi mendasarkan derajat probabilitas, Misalnya dari premis yang mengatakan: “Mobil saya tidak dapat dihidupkan” dan “meteran bensin menunjukkan kosong”, maka konklusi “mobil saya kehabisan bensin” merupakan bentuk induksi. Konklusi dibuat lebih mungkin berdasarkan premis, akan tetapi tidak seperti dalam deduksi, di sini mungkin dapat terjadi premisnya betul tetapi konklusinya salah. Misalnya seperti dalam contoh di atas, bila ternyata bahwa petunjuk meteran bensin tidak berfungsi, maka mungkin saja saluran bensin tersumbat sehingga mesin tidak dapat hidup.

Sebagai bentuk penaralan yang dapat membantu dalam menata standar untuk sebutan rasional dan tak-rasional bagi keyakinan klien, maka konsep di atas masih relevan dengan terapi rasional-emotif.


BAB  III

PEMBAHASAN

A. Silogisme Dan Jenisnya

1. Silogisme kategorial

Satu bentuk penalaran yang relevan dengan RET (terapi rasional-emotif) adalah silogisme. Silogisme adalah suatu bentuk penalaran deduktif yang terdiri atas dua premis dan satu konklusi. Sebenarnya ada tiga macam silogisme yaitu kategorial, hipotesis, dan disjunctive, akan tetapi dalam bahan ini hanya akan dikemukakan mengenai silogisme kategorial saja.

Silogisme kategorial disebut demikian karena terdiri atas proposisi-proposisi kategorial. Proposisi kategorial adalah satu pernyataan kelas inklusi dan eksklusi. Misalnya pernyataan “semua manusia akan mati”, merupakan suatu pernyataan yang menggambarkan suatu kategori yang bisa inklusi atau masuk kategori dan eksklusi atau tidak termasuk dalam kategori. Semua yang bernama manusia akan inklusi dalam pernyataan di atas, tetapi kambing akan eksklusi dalam pernyataan tersebut.

Berikut ini sebuah contoh silogisme kategorial:

lidak ada anjing yang tergolong gajah.

Beberapa mamalia ada/ah anjing.

Jadi, beberapa mamalia bukan gajah.

Premis pertama (“lidak ada anjing yang tergolong gajah”) disebut premis mayor karena mempunyai lingkup mayor (besar) yang dirumuskan sebagai penaksir unsur konklusi, yang dalam contoh ini adalah “gajah”. Premis kedua disebut premis minor karena mempunyai lingkup yang minor (kecil) yang dirumuskan sebagai subyek konklusi, yang dalam contoh ini adalah “mamalia”.

Contoh di atas juga disebut sebagai penalaran (deduktif) yang valid. Dalam hal ini, valid mengandung arti bahwa konklusi yang dibuat berdasarkan premis-premis sebagaimana telah dijelaskan di atas. Biasanya hanya ada sedikit silogisme kategorial yang bersifat valid. Meskipun demikian, ada aturan-aturan yang tepat untuk menguji validitas silogisme itu. Aturan ini dapat dengan mudah dipelajari dan diterapkan.

Silogisme kategorial sering terjadi dalam konteks kehidupan, meskipun jarang dinyatakan secara verbal dalam bentuk yang lengkap. Sering terjadi ada bagian yang hilang dalam silogisme itu, apakah premis atau konklusi. Bila hal ini terjadi, maka penalaran ini disebut entimematik. Misalnya seorang klien yang mempunyai masalah perkawinan, selalu menjaga bahwa meskipun ia dapat mengusulkan sesuatu kepada suaminya, namun ia menganggap bahwa keputusan akhir masalah keluarga ada pada suaminya. Bila ia ditanya mengapa dia merasa seperti itu, ia mengatakan bahwa suaminya adalah orang pertama di rumah. Kepadanya diajukan pertanyaan sebagai berikut : “Jadi, anda pikir bahwa laki-laki di dalam rumah adalah seseorang yang harus membuat keputusan terakhir mengenai masalah-masalah keluarga?”. Jawabannya terhadap pertanyaan itu menggambarkan silogismenya yang prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut.

“Laki-laki di dalam rumah adalah seseorang yang harus membuat keputusan terakhir dalam masalah-masalah keluarga” (premis mayor yang tidak diungkapkan)

“Suami saya adalah seorang laki-laki di rumah” (premis minor).

“Jadi, suami saya adalah seseorang yang harus membuat keputusan terakhir dalam masalah-masalah kelurga” (konklusi).

Langkah selanjutnya kita menanyakan premis mayornya.

Bila ditanyakan mengapa ia meyakini bahwa laki-laki di rumah adalah yang harus membuat keputusan terakhir mengenai masalah keluarga, ia mengatakan bahwa laki-laki lebih baik dari pada wanita dalam membuat keputusan. Hal ini membuat silogisme yang lain yang konklusinya sama dengan premis mayor seperti dia atas. Prosesnya adalah sebagai berikut.

“Hal terbaik dalam membuat keputusan adalah sesorang yang harus membuat pernyataan terakhir dalam masalah-masalah keluarga” (premis mayor yang tidak dikemukakan).

“Laki-laki di rumah adalah yang terbaik dalam membuat keputusan” (premis minor).

“Jadi, orang pertama dalam rumah adalah orang yang harus membuat keputusan terakhir dalam masalah-masalah keluarga” (konklusi).

Melalui garis penemuan seperti digambarkan dia atas, penggunaan mekanisme silogisme kategorial memungkinkan ditemukannya sistem keyakinan klien. Dari contoh di atas, ternyata bahwa klien tidak memiliki landasan premis induktif atau deduktif yang memadai. Dengan melalui pertemuan-pertemuan konseling, sistem keyakinan klien dibantu melalui proses penalaran silogisme yang benar yang dapat mengubah keyakinan tak-rasional menjadi keyakinan yang rasional.

2. SILOGISME PRAKTIS

Filosof Yunani kuno Aristoteles merupakan orang pertama yang melakukan studi secara ilmiah tentang silogisme kategorial. Aristoteles membedakan dua macam silogisme kategorial yaitu: (1) silogisme teoritis, yaitu yang digunakan dalam ilmu pengetahuan alam (misalnya fisika dan geometri), dan (2) silogisme praktis, yaitu yang digunakan dalam disiplin-disiplin ilmu praktis (misalnya etika dan seni). Silogisme praktis seperti digambarkan di bawah ini, mempunyai arti penting bagi terapi rasional-emotif sepanjang memusatkan pada satu penalaran praktis.

Aristoteles meyakini bahwa silogisme praktis bersifat praktis karena tidak menggambarkan kenyataan, tetapi lebih berkenaan dengan tindakan. Hal itu lebih banyak berkenaan dengan pertanyaan “apa yang harus saya perbuat?”, dan bukan pertanyaan “Apakah ini?” Menurut Aristoteles, silogisme praktis terletak pda premis mayornya yang berupa pernyataan universal (pernyataan yang menggunakan “semua” atau “tidak” seperti: “”Semua manusia akan mati” atau “Tidak ada manusia yang akan mati”) yang meminta orang untuk merespon atau bertindak dengan cara tertentu kepada sesuatu yang dapat memuaskan satu deskripsi kelas tertentu. Premis minor merupakan pernyataan fakta penting tertentu yang berkaitan dengan beberapa hal tertentu yang merupakan kekhusussan premis mayor. Bagi Aristoteles, konklusi dari silogisme adalah respon atau tindakan behavioral yang diambil oleh seseorang yang menerima premis mayor dan premis minor. Aristoteles tidak banyak memberikan contoh silogisme praktis. Berikut ini sebuah contoh yang diberikan Aristoteles :

“Semua benda yang manis harus dicicipi” (premis mayor)

“Ini manis” (premis minor)

“Jadi, ini harus dicicipi (respon behavioral dibuat oleh seseorang yang menerima premis mayor dan premis minor).

Premis mayor seperti dikemukakan dalam silogisme di atas adalah satu arahan universal untuk memberikan respon dalam cara tertentu kepada semua benda yang berada dalam deskripsi kategori tertentu (misalnya untuk mencicipi segala sesuatu yang manis). Juga, premis minor adalah pernyataan mengenai kenyataan tertentu yang dinyatakan bahwa “Ini” merupakan deskripsi yang dikhususkan dari premis mayor (misalnya “Ini manis”). Jadi, konklusi yang diambil adalah tindakan nyata untuk mencicipi benda yang manis yang ditunjukkan oleh premis minor.

Karena silogisme praktis seperti ditunjukkan di atas, adalah penalaran praktis yang menghubungkan premis kepada tindakan, maka hal itu dapat digunakan dalam RET (terapi rasional-emotif) untuk memahami hubungan antara premis penalaran klien dengan cara-cara merespon (baik secara emosional ataupun behavioral). Aplikasikan konsep silogisme praktis kepada RET menyarankan para penganut RET untuk melihat emosi klien yang tidak dikehendaki sebagai keterkaitan antara keyakinan dengan kejadian tindakan, sebagai konklusi kepada premis mayor dan premis minor dalam silogisme praktis. Dengan mengikuti gagasan silogisme praktis dari Aristoteles, maka model RET dapat disusun sebagai berikut:

Tilik B : Arahan universal untuk merespon (secara emosional atau behavioral) dalam satu cara R tertentu (positif atau negatif) kepada semua hal yang berada dalam deskripsi kategori/kelas D (premis mayor).

Titik A: Pernyataan mengenai kenyataan tertentu bahwa sebuah benda X berada dalam kategori D (premis minor).

Titik C: Klien merespon dengan cara R kepada X (Konklusi penerimaan klien terhadap premis mayor dan minor di atas).

Model ini dapat diilustrasikan dengan contoh lain dari konseling perkawinan. Seorang klien pria berkeberatan terhadap cara-cara isterinya membelanjakan uang. Menurut dia, isterinya membelanjakan uangnya secara berlebihan, membeli sesuatu yang tidak perlu, dan secara umum “tidak menghargai nilai uang”. Ia menyebutkan bahwa sifat-sifat itu muncul karena isterinya itu berasal dari keluarga yang sejahtera dan berkecukupan. Silogismenya dapat digambarkan sebagai berikut:

‘Titik A: Semua anggota keluarga yang berkecukupan “tidak menghargai nilai uang” (premis mayor).

Titik B: Isteri saya adalah berasal dari keluarga berkecukupan (premis minor).

Titik C: Jadi, isteri saya “tidak menghargai nilai uang” (pernyataan verbal klien mengenai sikap negatif terhadap isterinya dalam keuangan) (Konklusi).

Premis minor (dinyatakan dalam titik A) dalam silogisme di atas dapat dipandang sebagai kejadian tindakan yang disebut sebagai premis dalam silogisme, membuat sikap negatif klien. Tetapi, sebagaimana harus diakui dalam RET, bahwa tidak hanya semata-mata kenyataan bahwa isterinya datang dari keluarga berkecukupan yang mengganggu jalan pikirannya, melainkan juga timbangannya pada titik B, premis mayor yang bila digabungkan dengan titik A, secara logis menghasilkan emosi negatif. Juga timbangan pada titik B adalah bersifat menghukum. Hal ini mengakibatkan suatu arahan universal untuk merespon dengan emosi negatif terhadap seseorang yang dideskripsikan sebagai orang yang berasal dari kerluarga berkecukupan. Seseorang tidak semestinya meyakini bahwa orang lain tidak menghargai nilai uang tanpa mengandung emosi atau sikap negatif mengenai disposisi seseorang memandang keuangan. Dengan demikian penampang utama premis mayor dalam silogisme praktis sebagaimana dalam pandangan Aristoteles, adalah suatu timbangan nilai.

Sekali premis silogisme dinyatakan, penganut RET sebaiknya melokalisasikan keyakinan tak-rasional yang mungkin secara logis menimbulkan terjadinya emosi yang tidak dikehendaki. Misalnya, klien ditanya mengapa berfikir bahwa orang yang berasal dari keluarga berkecukupan tidak menghargai nilai uang. Ia merespon bahwa orang kaya tidak pernah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu. Dari temuan ini, silogisme dapat dikembangkan sebagai berikut:

Titik B : Semua orang yang tidak pernah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu “tidak menghargai nilai uang” (premis mayor).

Titik A: Semua orang yang berasal dari keluarga berkecukupan adalah orang yang tidak pernah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu (premis minor).

Titik C : Jadi semua orang yang berasal dari keluarga berkecukupan “tidak menghargai nilai uang” (Konklusi).

Titik A merupakan sasaran, dan klien ditanya apakah orang tua isterinya telah bekerja keras untuk memperoleh uang. Ia menyatakan bahwa mereka mendapatkan uang dari usaha pertanian dengan bekerja keras untuk mendapatkan uang. Pertemuan selanjutnya, klien menyatakan bahwa ia mungkin cemburu kepada orang kaya telah mempengaruhi sikapnya terhadap orang.

B. Konseling Rational-Emotive Therapy

1. Pengantar

Konseling Rational-emotif Theraphy (RET) dikembangkan oleh Albert Ellis (1913) pada awal Tahun 1955 an, sebagai reaksi terhadap teori Psikoanalisis dari Freud yang mendasarkan pandangan bahwa perilaku manusia didasari atas ketidak sadaran. Ellis dengan RET nya mendasarkan asumsinya bahwa kognisi, emosi dan perbuatan berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat yang timbal balik. Dalam perkembangannya dengan menekankan kepada ketiga modalitas tersebut RET dipraktikkan dengan pendekatan eklektif yang multimodel (Corey, 1997:460). Dengan berlandaskan pada falsafah phenomenologis (tidak ada sesuatu yang menyulitkan seseorang, yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan adalah karena pandangannya sendiri). RET pada awalnya dipraktikkan untuk konseling individual. RET dipandang banyak kesamaannya dengan terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku, dan perbuatan, dalam arti bahwa RET menekankan berpikir, memperkirakan, mengambil keputusan, menganalisis dan berbuat. RET sangat didaktis, sangat direktif, dan memiliki kepedulian yang seimbang antara pikiran dan emosional (Natawidjaja, 1987:142).

RET menjadi suatu aliran psikoterapi yang ditujukan untuk memberi kesempatan kepada klien suatu fasilitas atau kemudahan untuk menyusun ulang gaya falsafah dan perbuatannya. Saling hubungan antara kognisi, emosi, dan perilaku dinyatakan oleh beberapa filsuf kuno baik dari dunia Timur maupun dunia Barat, misalnya filsuf Yunani kuno aliran Stoika, Epictus yang menyatakan: “It’s never the things that happen to you that upset you; its your view of them” (Orang menjadi terganggu bukan oleh benda-benda, melainkan oleh apa yang dipandangnya tentang benda-benda itu). Ellis juga mengakui adanya pengaruh dari aliran Adlerian mengenai reaksi dan gaya hidup yang ada hubungannya dengan keyakinan dasar manusia dan menekankan kepada peranan interes sosial dalam menetapkan kesehatan psikologis, serta pentingnya sasaran, tujuan, nilai, dan makna dari keberadaan manusia, memfokuskan pada pengajaran (didaktik) yang aktif dan mengarahkan (direktif), menggunakan metode kognitif-persuasif, dan pengajaran tentang terapi dengan jalan memberikan peragaan yang hidup di depan peserta terapi (Corey, 1987:460).

RET didasari asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi berpikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Berpikir rasional direfleksikan dalam kecenderungan untuk menjaga kelangsungan keadaan diri, keberadaannya, kebahagiaan, kesempatan memikirkan dan mengungkapkan dengan kata-kata, mencintai, berkomunikasi dengan orang lain, serta pertumbuhan dan katualisasi diri. Sedangkan dorongan irasional diwujudkan dalam dorongan dari dalam dirinya untuk merusak diri-sendiri, menghindar dari memikirkan sesuatu, menunda-nunda, berulang-ulang melakukan kekeliruan, percaya pada takhayul, tidak memiliki tenggang rasa, menjadi perfeksionis dan menyalahkan diri sendiri, dan menghindari adanya aktualisasi potensi pertumbuhan yang dimilikinya (Corey, 1991: 426). Keyakinan irasional itulah yang menyebabkan gangguan emosional, mungkin telah berbaur dengan hal-hal yang berasal dari luar diri manusia akan tetapi manusia tetap bertahan pada sikap yang cenderung mengalahkan diri dengan suatu proses indoktrinasi diri sendiri.Untuk mengatasi indoktrinasi yang membawa hasil berpikir irasional itu, maka para tarapis (konselor) RET bekerja dengan teknik-teknik yang bersifat aktif dan direktif seperti mengajar, memberi saran, membujuk, dan pemberian tugas pekerjaan rumah, dan menantang klien-kliennya untuk mengganti keyakinan yang irasional dengan yang rasional (Natawidjaja, 1987:143).

Dalam praktek RET relasi antara konselor dengan klien bukan merupakan hal yang penting. RET lebih menekankan kepada kemampuan konselor menantang klien untuk mengubah cara-cara berpikir tentang pengalaman-pengalamannya dari cara berpikir irasional menjadi berpikiran yang rasional atau mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif. Beck & Weisher (dalam Glading, 1995: 107) menyatakan bahwa pikiran menentukan perasaan dan tindakan. Berpikir positif mengarahkan perasaan dan tindakan individu sehat dalam arti mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga terhindar dari kecemasan dan perilaku salah suai lainnya. Sebaliknya pikiran yang negatif mengarahkan perasaan dan tindakan individu secara tidak sehat, tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungannya dan berakibat timbulnya perilaku salah suai dan kecemasan.

Konselor dari perspektif RET akan berupaya dengan menggunakan teknik-teknik didaktik (pengajaran), memberi saran, membujuk, memberi pekerjaan rumah, untuk membantu klien mengubah pikiran irasional menjadi rasional, berpikir negatif menjadi berpikir positif atau berpikir tidak logis menjadi berpikir logis. RET yang menggunakan prosedure kelompok sebagai alternatif terhadap prosedure individual. Suasana kelompok dipandang sebagai suatu suasana yang memberi kesempatan kepada klien untuk menantang pemikiran yang nerusak diri dan untuk mempraktekan perilaku yang berbeda dengan perilaku yang lama dan tidak efektif (Natawidjaja,1987:144).

2. Pokok-pokok Teori

2.1 Hakekat Manusia

Sebagaimana telah diuraikan, RET memandang bahwa pada hakekatnya manusia dilahirkan dengan potensi berpikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Dengan anggapan manusia itu tidak sempurna RET berusaha menolong seseorang untuk mau menerima dirinya sebagai makhluk yang akan selalu membuat kesalahan namun pada saat bersamaan juga sebagai yang bisa belajar hidup damai dengan dirinya sendiri. RET menyusun sejumlah asumsi tentang manusia sebagai berikut (Ellis, 1979 dalam Corey, 1995: 462):

a. Orang mengkondisikan diri-sendiri sebagai merasakan adanya suatu gangguan, dan bukan oleh sumber yang berasal dari luar dirinya.

b. Orang memiliki kecenderungan biologis dan budaya untuk berpikir berbelit-belit dan menimbulkan gangguan pada diri sendiri, sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

c. Manusia itu unik untuk menemukan keyakinan yang mengganggu dan membiarkan dirinya terganggu oleh adanya gangguan itu.

d. Orang memiliki kemampuan untuk mengubah proses kognitif, emotif dan perilaku mereka; mereka bisa memilih untuk memberikan reaksi mereka secara berbeda dengan pola yang biasanya mereka anut, bisa menolak untuk membiarkan dirinya menjadi marah, dan bisa melatih diri mereka sendiri sehingga pada akhirnya nanti mereka bisa bertahan mengalami gangguan yang minim selama sisa hidupnya.

Atas dasar asumsi tersebut Ellis menyimpulkan bawa manusia itu berbicara sendiri, mengevaluasi sendiri, dan bertahan sendiri. Manusia mengembangkan kesulitan emosional dan behavioral mana kala mereka mengambil pilihan sederhana (nafsu bercinta, mendapatkan persetujuan, mencapai sukses) dan membuat kesalahan memikirkannya pada saat yang mendesak. Manusia memiliki naluri yang cenderung menuju ke pertumbuhan dan aktualisasi diri, namun pada saat yang bersamaan mereka sering menjegal gerakan mereka menuju pertumbuhan sebagai akibat naluri kecenderungan mereka menuju ke pemikiran yang berbelit-belit dan juga ke pola menggagalkan diri sendiri apa-apa yang telah mereka pelajari.

2.2 Gangguan Emosional

Pada awalnya gangguan emosional dipandang sebagai gangguan yang bersumber pada orang lain yang terjadi berulang-ulang sejak masa anak-anak dan secara irasional diajarkan oleh orang tua secara turun temurun. Oleh karena itu sebagian besar pengulangan yang dibuat sendiri oleh individu terhadap pikiran yang tidak rasional yang diindoktrinasikan dulu, dan bukan pengulangan dari orang tua yang menjadikan sikap disfungsional tetap hidup dan beroperasi pada manusia.

RET menegaskan bahwa menyalahkan merupakan inti dari sebagian besar gangguan emosional. Oleh karena itu untuk menghentikan gangguan neurosis atau gangguan kepribadian, manusia harus berhenti menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, lebih dari itu hal yang penting adalah seseorang mau menerima dirinya-sendiri meskipun ada ketidak sempurnaan dalam dirinya. Ellis mengasumsikan bahwa pada hakekatnya manusia dilahirkan dengan dibekali kemampuan untuk berpikir secara rasional; namun kita juga memiliki kecenderungan kuat untuk meningkatkan hasrat dan preferensi kita menjadi tuntutan dan perintah “apa yang seharusnya”, “apa yang harus”, “apa yang seyogyanya”, yang sifatnya dogmatik dan mutlak. Apabila seseorang tetap dalam preferensi dan keyakinan rasional ia cenderung merasa bahagia, santai atau sekurang-kurangnya tenang dan ia tidak akan menjadi tertekan atau mengalami kecemasan secara proporsional, memusuhi dan menganiaya diri-sendiri. Sebaliknya seseorang yang hidupnya berdasarkan pada tuntutan-tuntutan maka akan muncul gangguan-gangguan atau hambatan-hambatan pada dirinya. Ide-ide yang tidak realistik dan tidak logis menciptakan perasaan terganggu dan perilaku yang tidak berfungsi.

Menurut Ellis (Dalam Corey, 1991:464), karena individu sendiri yang menciptakan pikiran dan perasaan yang terganggu maka individupun juga memiliki kekuatan untuk mengendalikan masa depan emosinya. Ellis menyarankan apabila -seseorang marah hal yang baik adalah melihat ke “tuntutan harus” yang dogmatik serta “tuntutan seharusnya” yang mutlak yang tersembunyi dalam dirinya. Kognisi yang sifatnya mutlak merupakan inti dari penderitaan manusia, oleh karena seringkali keyakinan ini menjadi ganjalan dan menghalangi seseorang dalam usahanya untuk sampai pada sasaran serta maksud yang dituju. Pada dasarnya semua penderitaan manusia dan gejolak emosionalnya yang serius sama sekali tidak perlu ada. Manusia menciptakan baik secara sadar atau tidak sadar, jalan pikiran dan perasaan, dan oleh karenanya manusia melakukannya dalam berbagai situasi. Karenanya manusia memiliki kemampuan untuk sadar akan diri-sendiri, mengamati dan mengevaluasi sasaran serta maksud perbuatannya, serta kemampuan untuk mengubahnya.

Dalam pandangan RET orang tidak harus diterima dan dicintai, meskipun itu merupakan hal yang sangat diinginkan. Terapis RET akan mengajarkan kepada individu bagaimana supaya dirinya tidak merasa tertekan atau memiliki gangguan psikologis ketika dirinya tidak diterima dan dicintai orang lain. RET mendorong orang untuk menghayati kesedihan karena tidak diterima atau tidak dicintai orang lain, tetapi RET juga berupaya membantu orang memperoleh cara untuk mengatasi depresi, keresahan, kepedihan, kehilangan perasaan harga diri, dan perasaan kebencian (Corey, 1995:465)

Beberapa ide irasional yang diinternalisasi manusia yang mengakibatkan kegagalan pada diri manusia adalah seperti berikut (Dryden & Ellis, 1988; Ellis, 1987b, 1988 dalam Corey, 1991:465):

❖ “Saya harus dicintai atau diterima oleh semua orang penting dalam kehidupan saya”

❖ “Saya harus melakukan tugas penting secara kompeten dan sempurna”

❖ “Oleh karena saya sangat menginginkan agar orang memperlakukan saya dengan penuh pengertian dan jujur, maka mereka mutlak harus berbuat seperti aku”

❖ “Apabila saya tidak mendapatkan apa yang sangat inginkan maka itu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan dan saya tidak tahan”

❖ Lebih mudah menghindari kesulitan hidup dan pertanggungan jawab daripada melakukan suatu bentuk disiplin diri yang menjajnjikan keuntungan” Sebagian besar orang memiliki kecenderungan kuat untuk menjadikan dirinya tetap terganggu secara emosional dengan jalan menginternalisasi keyakinan penggagalan diri-sendiri seperti yang ada dalam daftar di atas. Oleh karena itu mereka anggap secara esensial tidak mungkin untuk mendapatkan dan tetap mempertahankan kesehatan mental secara konsisten.

2. 3 Teori A-B-C

Teori A-B-C tentang kepribadian dan gangguan emosional merupakan unsur yang sangat penting dalam praktek dan teori RET. Menurut Ellis (1979 dalam

Natawidjaja, 1987:144), manusia membentuk emosi dan perilakunya sesuai dengan dasar fikiran dan filsafat yang ditemukannya sendiri. Dasar pemikiran itu dibentuk oleh lingkungan sosial menurut individu bersangkutan. Akan tetapi unsur utama yang membentuk kepribadian dan gangguan perasaan bukan kondisi-kondisi sosial itu sendiri, melainkan reaksi individu terhadap kondisi-kondisi sosial di sekitarnya. Teori A-B-C dan Konfrontasi dan menyerang keyakinan rasional tersebut dapat disusun dalam suatu diagram sebagai berikut (Corey, 1995: 466):

A = Activing : peristiwa yang sedang terjadi

B = Belief: keyakinan

C = Consecuense: konsekuensi emosi dan perilaku

D = Dispute, intervensi yang meragukan/membantah

E = Effect: efek/akibat

F = Fresh: perasaan baru

Apabila seseorang mempunyai reaksi emosional pada titik C (Consequence: akibat), sesudah peristiwa yang menggerakkan yang terjadi pada pada titik A (Activing: menggerakkan), dalam hal ini bukan peristiwa itu sendiri (A) yang menyebabkan keadaan kondisi C. Yang menciptakan C itu sesungguhnya adalah sistim keyakinan (B = Belief system:Sistem keyakinan) atau keyakinan yang dimiliki seseorang. Misalnya, apabila seorang individu merasa ditolak dan disakiti (C) karena suatu peristiwa karena tidak dinaikkan pangkat pekerjaan (A), yang menyebabkan perasaan sakit pada individu bersangkutan adalah bukan fakta bahwa yang bersangkutan tidak dinaikkan pangkat, melainkan keyakinan (B) mengenai peristiwa itu. Individu bersangkutan meyakini bahwa dirinya tidak dinaikkan pangkatnya diartikan sebagai kegagalan dan bahwa upayanya yang selama ini dilakukan tidak dihargai. Keyakinan itulah yang membentuk akibat emosional dalam bentuk perasaan ditolak dan disakiti. Jadi, manusia itu bertanggung jawab terhadap gangguan emosi yang diciptakannya sendiri melalui keyakinan-keyakinan yang dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya.

Pendekatan RET berpendapat (Natawidjaja, 1987: 145) bahwa manusia itu mempunyai kapasitas untuk mengubah kognisinya, perilakunya, dan perasan-perasaannya. Apabila manusia itu memaksakan pilihan untuk berpikir dan bertindak lain, maka dia dapat dengan segera mengubah pola menciptakan gangguan itu menjadi cara hidup yang konstruktif. Dia dapat menyelesaikan tugas mencapai tujuan itu dengan menghindarkan keadaan dirinya yang terlena dengan A – yaitu peristiwa – dan dengan mengenal tetapi menolak godaan untuk terus menerus memikirkan akibat emosional pada titik C. Orang dapat memilih jalan untuk menguji, menantang, memodifikasi, dan meruntuhkan B – yaitu keyakinan irasional mengenai A, yang oleh Ellis (1977) berulang-ulang menegaskan bahwa “Anda itu terutama merasakan apa yang anda pikirkan”. Reaksi emosi yang terganggu seperti depresi dan kecemasan dimulai dan dilanggengkan oleh sistem keyakinan menggagalkan diri sendiri yang didasarkan pada ide irasional yang telah ditemukan dan dikembangkan sendiri. Oleh karena itu Ellis menekankan bahwa, karena manusia dapat berpikir, mereka dapat pula melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghilangkan keyakinan yang menghambat dirinya, dengan melatih disiplin diri, dengan mencari bantuan dari orang-orang yang mampu berpikir secara obyektif dan rasional, dengan menjalani terapi individual ataupun kelompok, atau membaca buku-buku, memanfaatkan Audio-Visual-System (AVS) tentang RET, mengikuti pengajaran, pelatihan, bahkan out-bond, dan metode lainnya.

2. 4 Mengkonfrontasikan dan menyerang keyakinan yang irasional

Konseling   dengan   perspektif   RET   mengajarkan   orang-orang   untuk mengkofrontasikan sistem keyakinan yang menciptakan gangguan (Natawidjaja, 1987:146). Tujuan ini akan tercapai dengan menjelaskan bagimana gagasan-gagasan irasional menyebabkan gangguan emosional, dengan menyerang gagasan-gagasan itu secara ilmiah, dengan mengajar klien tentang bagaimana klien harus menantang pemikirannya dan tentang bagaimana mengganti gagasan-gagasan irasional dengan yang rasional.

Proses konseling dimulai dengan mengajarkan teori A-B-C kepada klien. Apabila klien telah melihat bagaimana keyakinan dan nilai-nilai rasional itu berkaitan secara sebab akibat dengan gangguan emosional dan perilaku, dia siap untuk membantah keyakinan dan nilai-nilai pada titik D (Dispute: membantah). D merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menantang filsafat yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan mengalahkan dugaan-dugaan yang irasional dan tidak dapat dibuktikan. Kebanyakan gagasan-gagasan irasional itu dapat dikembalikan kepada tiga bentuk keharusan, yaitu: (i) saya harus mampu, dan saya harus memperoleh persetujuan dari orang-orang yang berarti dalam hidup saya, (2) orang lain harus memperlakukan saya dengan adil dan penuh perhatian; dan (3) hidup saya harus enak dan menyenangkan. Saya harus memilki sesuatu yang benar-benar saya inginkan. Dalam hal yang demikian itu, konselor RET secara cepat dan efisien mencoba menunjukkan kepada klien-kliennya, bahwa mereka mempunyai satu, dua atau ketiga-tiganya dari keyakinan yang irasional itu. Apabila mereka telah meyakini akan adanya ketiga bentuk keharusan itu, maka mereka telah sampai kepada hasil atau akibat bantahannya itu atau pada titik E (Efectakibat), yaitu melepaskan faham merusak diri, perolehan filsafat hidup yang lebih relaistik dan rasional, penerimaan terhadap diri-sendiri, terhadap orang lain, terhadap frustasi-frustasi yang tak dapat terelakan dalam hidupnya.

Ketika seseorang berhasil sampai pada titik E dalam mengatasi masalahnya, dia juga dapat menciptakan titik F (Fresh) atau perangkat perasaan baru suatu perasaan yang terbebas dari kecemasan atau tertekan dan menggantinya dengan perasaan baru yaitu merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasu yang ada. Cara yang paling baik untuk memulai merasa lebih baik adalah mengembangkan falsafah yang efektif dan rasional. Jadi, orang tidak lalu menyalahkan diri-sendiri serta menghukum diri-sendiri berupa depresi karena terjadinya peristiwa “tidak dinaikkan pangkatnya”, melainkan orang akan mencari kongklusi yang rasional dan berdasarkan empiri, misalnya dengan mengatakan: “Ya, sungguh tidak enak bahwa saya tidak dinaikkan pangkat, tetapi hal itu bukan mempakan akhir dari dunia ini. Lain kali mungkin ada kesempatan lain. Di samping itu, tidak dinaikan pangkat tidak berarti bahwa saya adalah orang gagal. Jadi saya tidak perlu terus menerus berbicara tentang segala hal yang tidak perlu”. Yang penting bagi RET, hasil akhir dari konseling adalah hilangnya perasaan tertekan dan perasaan ditolak.

Singkatnya, restrukturisasi filosofis untuk bisa mengubah kepribadian yang disfungsional dapat dialakukan dengan langkah-langkah: (1) mengakui sepenuhnya bahwa diri kita sendirilah yang bertanggung jawab atas terciptanya masalah yang kita alami, (2) mau menerima pendapat bahwa diri kita sendiri memiliki kemampuan untuk secara signifikan mengubah gangguan-gangguan yang dialami, (3) mengakui bahwa masalah emosional banyak berasal dari keyakinan yang irasional, (4) dengan jelas mengamati keyakinan ini, (5) melihat nilai dari sikap meragukan keyakinan yang bodoh itu, dengan menggunakan metode yang tegas, (6) menerima kenyataan bahwa apabila kita mengharapkan adanyha perubahan kita sebaiknya kerja keras dengan cara emotif behavioral untuk mengadakan konfrontasi terhadap keyakinan, peraaan dan perbuatan kita yang disfungsional yang selalu menyertainya, dan (7) mempraktekan metode RET untuk mencabut atau mengubah konsekuensi yang mengganggu dalam kehidupan kita (Ellis, 1979d, 1988 dalam Corey, 1995:468)

C. Tunagrahita Ringan

  1. Pengertian  Tunagrahita Ringan

Tunagrahita ringan diartikan sebagai suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat dari lemahnya kemampuan intelektual. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan  AAMD dalam Moh Amin ( 1995 )

Anak yang termasuk dalam tunagrahita ringan meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat namun mereka mempunyai kemampuan berkembang dalam bidang akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.

Istilah tunagrahita ringan sama dengan mampu didik bila ditinjau dari disiplin ilmu pedagogis. Tarmansyah dkk (1991) mengemukan :

Tunagrahita mampu didik kecerdasannya tergolong rendah namun masih dapat dididik secara khusus dengan program dan metode yang khusus intelegensi antara 50-70. pendidikan yang dicapai maksimal tingkat sekolah dasar IV dan V sedangkan mentalnya berkisar antara 7-12 tahun.

Jadi pada dasarnya anak mampu didik IQnya berada di bawah rata-rata yang hanya mampu mencapai pendidikan maksimal tingkat sekolah dasar IV dan V, apabila dilatih dalam segi keterampilan anak akan mampu mengikutinya dan dapat dijadikan untuk hidup di tengah masyarakat.

  1. Karakteristik  Tunagrahita Ringan

Karakteristik tunagrahita ringan banyak yang menyerupai anak normal, terutama dari segi fisik. Moh Amin (1995) mengemukakan karakteristik tunagrahita ringan sebagai berikut:

Tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang dalam perbendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran dalam berfikir abstrak, Tetapi mereka masih bisa mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun  di sekolah khusus. Sebagaimana tertulis dalam The New American Webster (1956 ) bahwa moron (debil) is a person whose mentality does not develop beyond the 12 years old level. Maksudnya kecerdasan berfikir seorang tunagrahita ringan paling tinggi sama dengan kecerdasan anak normal umur 12 tahun.

Selanjutnya Tarmansyah dkk (1991) mengemukakan tentang karakteristik tunagrahita ringan :

Dalam kehidupan sehari-hari gerakan tidak lincah, sulit dalam menyesuaikan diri, kurang dapat menilai baik dan buruk, emosi tidak stabil, mudah marah bila terbelenggu sedikit saja dan kadang kala keras kepala dan pencemburu.

Kemudian Sumantri (1996) mengemukan karakteristik tunagrahita ringan dapat ditinjau dari berbagai segi,  yaitu :

  1. Perkembangan fisik

Fungsi perkembangan tunagrahita ada yang tertinggal jauh oleh anak normal. Fungsi-fungsi yang menyamai atau hampir menyamai anak normal ialah fungsi perkembangan jasmaniah dan motorik. Perkembangan jasmani dan motorik anak tunagrahita tidak secepat perkembangan anak normal.

  1. Perkembangan kognitif

Tunagrahita yang memiliki usia kalender (CA) yang sama dengan anak normal tidak memiliki keterampilan kognitif yang sama. Anak normal tetap memiliki keterampilan kognitif yang lebih unggul dari pada tunagrahita anak normal memiliki kaidah dan strategi dalam memecahkan masalah sedangkan tunagrahita bersifat trial and error (coba-coba dan salah).

  1. Perkembangan bahasa

Bahasa merupakan prilaku yang mencakup kemampuan untuk mengungkapkan ide-ide, maksud dan perasaan. Tahap perkembangan prilaku sejalan dengan perkembangan bahasa yang meliputi :

1) Inner language

Mentranformasikan pengalaman kedalam simbol bahasa (Inner language) merupakan aspek bahasa yang pertama berkembang, muncul kira-kira pada usia 6 bulan.  Karakteristik prilaku yang muncul pada tahap ini adalah pembentukan konsep–konsep sederhana, seperti anak mendemonstrasikan pengetahuannya tentang hubungan sederhana antara satu objek dengan objek lainnya.

2) Receptive Language

Memahami dan menyerap bahasa yang diterima (Receptive Language) muncul Kira–kira pada umur 8 bulan, anak  mulai mengerti sedikit-sedikit tentang apa yang dikatakan orang lain kepadanya.

3) Expressive Language

Aspek terakhir pada perkembangan bahasa yaitu bahasa ekspresif (Bahasa wajah). Bahasa ekpsresif berkembang setelah pemantapan pemahaman, Bahasa ekspresif  anak muncul pada usia kira-kira 1 tahun.

Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kognitif, keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Perkembangan kognitif  tunagrahita mengalami hambatan, karenanya perkembangan bahasanya juga terhambat.

  1. Emosi, Penyesuaian Sosial dan Kepribadian

Perkembangan emosi berkaitan dengan derajat ketunagrahitaan seseorang. Tunagrahita ringan kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan orang normal, tetapi tidak sekaya orang normal. Tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan kegembiraan, tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman.

Keperibadian dan penyesuaian sosial merupakan proses yang saling berkaitan. Kepribadian seseorang  mencerminkan cara orang tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya pengalaman-pengalaman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian.

Selanjutnya Amin (1995) menjelaskan karakteristik  tunagrahita ringan adalah :

  1. Kecerdasan

Kecerdasan  tunagrahita sangat terbatas terutama untuk hal yang bersifat abstrak, mereka banyak belajar dengan membeo.

  1. Keterbatasan sosial

Pergaulan mereka tidak bisa untuk memelihara dan menempa diri. Selalu memerlukan bimbingan dan pengawasan orang lain.

  1. Keterbatasan fungsi – fungsi mental

Tunagrahita ringan sukar untuk memusatkan perhatian dan mengalami kesukaran mengungkapkan suatu ingatan.

  1. Keterbatasan dalam dorongan emosi

Perkembangan dan dorongan emosi  tunagrahita ringan sesuai dengan ketunagrahitaannya.

Maslow dengan teori kebutuhannya telah mengoperasionalkan teori-teorinya oleh Laster dalam Herr (1984) untuk dilaksanakan bagi mereka yang memiliki kecacatan dan ketidakmampuan dalam suatu bidang kerja, dalam konteks ini Laster menggambarkan kebutuhan-kebutuhan dan aplikasi mereka dalam bekerja dan penyesuaian kerja dalam bagian-bagian kompetitif.

  1. Kebutuhan  psikologis
    1. Kebutuhan untuk belajar dan bekerja di atas kursi roda, menggunakan kamar mandi dan bepergian dalam bekerja.
    2. Kebutuhan untuk belajar dan mempelajari cara-cara baru yang produktif misalnya bekerja sesuai dengan jadwal, menggunakan lembaran-lembaran kerja yang khusus.
    3. Kebutuhan untuk seorang klien dalam tanggung jawab serta perkembangan kepribadian misalnya belajar memelihara diri sendiri, tidak memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang lain.
    4. Kebutuhan rasa aman
      1. Keinginan yang kuat dari seseorang dalam bekerja tanpa gangguan-gangguan di sekitarnya.
      2. Kebutuhan untuk bekerja menurut stabilitas kesehatan dan rencana kerja yang dimiliki.
      3. Kebutuhan untuk memiliki fungsi-fungsi kerja yang sesuai menurut posisinya.
  1. Kebutuhan kasih sayang dan cinta kasih
    1. Kebutuhan untuk menemukan hal-hal yang baru dalam membangun suatu cinta kasih.
    2. Kebutuhan untuk menganalisis potensi-potensi guna membawa kemungkinan untuk dikembangkan menjadi suatu pendukung dalam meningkatkan kinerja dalam bekerja.
    3. Kebutuhan atas penghargaan, kebutuhan untuk merasakan pengalaman baru yang kompeten  dan percaya diri, datang dari keterampilan diri dan kemajuan diri.
    4. Kebutuhan untuk aktualisasi diri
      1. Kebutuhan untuk mampu membina pribadi dan       aktualisasi diri.
      2. Kebutuhan untuk membangun proses dalam diri sendiri.
      3. Percaya diri dan optimis atas kecacatan yang dimiliki.

Pendidikan khusus bagi penyandang cacat, Gysbers dalam Herr (1984) menyarankan bahwa fokus yang terarah dari seseorang konselor seharusnya menolong individu dalam keterampilan khusus yang membantu bagi kesuksesan dalam hidup dan bekerja.


D. Pentingnya Layanan Bimbingan Bagi Anak Tunagrahita Ringan

Pengertian bimbingan menurut Peraturan Pemerintah No 28 tahun 1990 Bab X, Pasal 25, bimbingan  dirumuskan sebagai bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan yang akan dilaluinya.

Bila kita amati pelayanan dan pelaksanaan bimbingan di Sekolah Luar Biasa (SLB), maka kegiatan itu tidak bisa terlepas dari kegiatan rehabilitasi yang merupakan upaya bantuan medik, sosial, dan keterampilan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. Rehabilitasi medik meliputi usaha penyembuhan  kesehatan penyandang kelainan serta pemberian alat pengganti dan/atau alat pembantu tubuh. Rehabilitasi sosial meliputi usaha pemberian bimbingan sosial kepada peserta didik yang mencakup pengarahan pada penyesuaian diri dan pengembangan pribadi secara wajar. Rehabilitasi diberikan oleh ahli terapi fisik, ahli terapi bicara, dokter umum, dokter spesialis, ahli psikologi, ahli pendidikan luar biasa, perawat, dan pekerja sosial.

Keberhasilan dalam mencapai perkembangan yang optimal apabila ia dapat menggunakan sisa kemampuannya secara optimal sesuai dengan derajat ketunaan. Tetapi tidak semua anak dapat berhasil mencapai perkembangan yang optimal, dan bukanlah semata-mata karena ketunaan yang disandang siswa, tetapi ada juga karena ketidak mampuan pelaksana pendidikan untuk mendekati secara individu sehingga dapat mengetahui berbagai hambatan yang mereka hadapi.

Agar anak tunagrahita dapat menjadi pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh, tidak hanya kegiatan-kegiatan administrasi, tetapi juga meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik  secara pribadi mendapat layanan, sehingga perkembangan yang optimal  dapat terwujud.

Surya, (1988:4) menyatakan bahwa guru pembimbing dituntut untuk menguasai keterampilan antara lain: (1) keterampilan intelektual adalah penguasaan sejumlah kaidah-kaidah keilmuan yang menunjang pelaksanaan kehidupan sehari-hari, (2) keterampilan sosial yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar bagi tercapainya interaksi sosial secara efektif meliputi keterampilan memahami dan mengelola diri sendiri, interaktif, dan keterampilan memecahkan masalah, (3) keterampilan sensomotorik adalah penguasaan sejumlah keterampilan untuk mengembangkan syaraf dan otot sensomotorik.

Kebutuhan yang bersifat sosial-psikologis bertujuan untuk  mengurangi rasa ketunaan yang disandang. Untuk itu pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan konseling merupakan salah satu usaha untuk  memenuhi kebutuhan.

BAB  IV

PENERAPAN SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

A. Konseling RET dalam Setting Kelompok

1. RET sebagai Model Pendidikan

Konseling RET menekankan kepada penataan ulang kognisi dan sangat tergantung kepada cara-cara didaktis dalam proses konselingnya. Konseling secara luas dipandang sebagai upaya mendidik kembali emosi dan intelektual. Seperti halnya bentuk-bentuk pengajaran lainnya, RET sering dilakukan dalam suasana kelompok. Konseling kelompok RET banyak memanfaatkan alat AVS, buku-buku bacaan, pelajaran berprograma, pelatihan-pelatihan, out-bond, dan lain sebagainya.

Ellis (1977, dalam Natawidjaja, 1987) bahwa melalui intervensi kelompok RET diharapkan dapat merupakan cara pemecahan masalah yang lebih mendalam, lebih cepat dan lebih halus bandingkan dengan bentuk konseling manapun. Untuk mencapai pemecahan masalahnya, para anggota kelompok harus belajar memisahkan keyakinan yang rasional dengan keyakinan yang irasional dan memahami asal mula gangguan emosionalnya dan juga gangguan perasaan orang lain. Para peserta diajar berbagai cara untuk (1) membebaskan diri dari filsafat hidup yang irasional sehingga mereka dapat berfungsi secara efektif sebagai individu dan sebagai makhluk yang senantiasa berhubungan dengan orang lain, dan (2) belajar tentang cara-cara yang lebih tepat untuk memberikan respon sehingga tidak perlu terganggu oleh berbagai kenyataan dalam hidup. Para anggota kelompok saling membantu dan mendukung dalam upaya belajar itu.

2. Tujuan-tujuan

Tujuan utama konseling RET adalah agar para klien dapat menguji tanpa ketakutan dasar pemikiran filsafat hidupnya, berpikir tentang dasar-dasar pemikiran secara sadar dan bersama-sama memahami bahwa mereka bertindak berdasakan asumsi-asumsi atau kesimpulan yang tidak logis dan tidak konsisten sehingga semuanya itu hilang atau sedikitnya berkurang sampai batas minimum. Ellis berpendapat bahwa konseling kelompok RET dapat dilakukan dalam kelompok besar yang beranggotakan 50, 100 orang atau bahkan lebih dengan bentuk loka karya atau dapat pula dilaksanakan dengan kelompok kecil yang beranggotakan 10 sampai 13 orang. Konseling kelompok RET dengan kelompok kecil itu bertujuan (Natawidjaja, 1987:148):

1) Membantu anggota kelompok untuk memahami akar masalah emosional dan perilakunya untuk digunakan sebagai wawasan untuk mengatasi gejala-gejalanya dan belajar tentang cara-cara yang lebih halus untuk berperilaku

2) Memberi kesempatan kepada anggota untuk mengembangkan pemahaman tentang masalah orang lain, dan belajar bagaimana dirinya dapat memberi bantuan terapeutik kepada teman sekelompoknya.

3) Memberi kesempatan kepada peserta untuk belajar tentang cara-cara untuk memahami keadaan kehidupan dan memberikan reaksi yang rasional kepadanya, sehingga mampu mengurangi gangguan terhadap dirinya sendiri

4) Memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk mencapai perubahan perilaku dan kognisi dasarnya, termasuk mempelajari cara-cara untuk menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan, mengalahkan cara berpikir yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan menggantikannya dengan cara berpikir yang rasional, menghentikan praktek penilaian yang negatif dan belajar memperlakukan dirinya sebagai manusia yang mungkin melakukan kekeliruan.

3. Rasionel

Menurut Ellis (1977: dalam Natawidjaja, 1987) suasana kelompok sangat efektif untuk membantu para peserta dalam mengubah kepribadian dan perilaku secara konstruktif. Beberapa keuntungan dari pelaksaaan RET dalam kelompok antara lain:

a) Para anggota kelompok dapat memperingatkan satu sama lain mengenai kehendak menerima kenyataan dan bekerja sama untuk menghasilkan perubahan yang positif.

b) RET menekankan serangan keras terhadap cara berpikir yang cenderung mengalahkan diri sendiri, maka anggota kelompok yang lain dapat memainkan peranan penting dalam menantang cara berpikir yang berliku-liku.

c) Para anggota kelompok dapat memberikan sumbangan dalam bentuk saran, komentar dan hipotesis, dan menguatkan hal-hal yang dikemukakan oleh konselor.

d) Tugas-tugas pekerjaan tumah yang merupakan unsur penting dalam RET lebih efektif apabila dilakukan dalam suasana kelompok daripada dalam konseling individual.

e) Suasana kelompok memberikan lingkungan yang efektif untuk berbagai prosedure yang aktif-direktif, seperti permainan peranan, latihan bertindak tegas, gladi perilaku, percontohan, dan latihan mengambil resiko.

f) Kelompok berfungsi sebagai laboratorium di mana perilaku dapat diamati secara langsung.

g) Klien seringkali menyelesaikan format laporan pekerjaan rumah yang menuntut penulusuran situasi yang mengganggu dengan prosedure A-B-C dan kemudian belajar cara bagaimana memperbaiki pemikiran dari perbuatan yang salah.

h) Dalam situasi kelompok para anggota menemukan bahwa mereka tidak perlu mengutuk dirinya sendiri karena memiliki masalah.

i) Melalui balikan dari orang lain dalam kelompok para peserta mulai memandang dirinya sendiri sebagaimana orang lain memandang dirinya, dan melihat secara jelas perilaku yang perlu diubahnya.

j) Dengan memperhatikan anggota lain para peserta dapat melihat bahwa perlakuan bantuan dapat menjadi efektif, bahwa manusia dapat berubah, bahwa ada langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk membantu dirinya sendiri, dan bahwa konseling yang berhasil adalah suatu pekerjaan yqang sulit dan memerlukan ketahanan.

k) Dalam kelompok klien mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih luas untuk memecahkan persoalan mereka dari pada dalam konseling individual.

I) Kelompok memberikan kesempatan dan dorongan kepada anggota-anggotanya untuk mengungkapkan diri dan mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi secara intim. Pengungkapan diri secara intim merupakan kegaiatan terapeutik dengan sendirinya, karena dengan pengungkapan diri itu klien telah mengambil keputusan untuk mengambil resiko, bahwa dia mungkin ditertawakan orang, dicemooh orang atau sama sekali dikucilkan dari kelompok.

m) Karena RET itu sangat bersifat kependidikan dan didaktif, maka dalam kegiatan banyak mencakup pemberian informasi dan diskusi untuk menentukan strategi pemecahan masalah. Ditinjau dari sisi praktis dan ekonomis, maka kegiatan semacam itu lebih baik dilaksanakan dalam bentuk kelompok daripada dalam suasana individual. Kelompok juga memberikan suasana untuk mengajar, belajar, diskusi dan praktek, yang mendorongnpara peserta menjadi terlibat secara aktif dalam upaya penyembuhan.

n) Kelompok RET bertemu rata-rata dua setengah jam setiap sesi pertemuan, yaitu pertemuan yang disertai konselor. Waktu itu masih ditambah dengan pertemuan lanjutan tanpa konselor selama labih kurang satu jam. Waktu selama ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk secara efektif saling menantang keyakinan yang cenderung mengalahkan diri sendiri yang telah tertanam dalam diri klien secara kaku

o) Prosedure kelompok secara khusus bermanfaat bagi orang-orang yang terikat secara kaku oleh pola perilaku yang salah fungsi karena suasana kelompok memberikan tantangan yang diperlukan untuk menilai kembali pola-pola yang salah itu dan mengambil pola baru yang lebih sehat dan lebih efektif.

4. Peranan dan fungsi konselor

Tujuan utama terapi perspektif   RET adalah membantu peserta mengusir gagasan-gagasan irasionalnya dan menggantikannya dengan gagasan-gagasan yang rasional. Tujuan akhirnya adalah memungkinkan anggota kelompok menginternalisasikan suatu falsafah hidup yang rasional apabila mereka telah menginternalisasikan keyakinan-keyakinan yang dogmatis dan keliru yang diperolehnya dari lingkungan sosial budayanya (Natawidjaja, 1987:151). Sementara George & Cristina (1981) menyatakan bahwa tujuan terapi adalah membantu anggota agar mereka mengakui perasaan-perasaan dan perilaku mereka yang tidak tepat, mengakui adanya gejala-gejala kesulitan dan kemudian menetapkan sumber filosofi dari gejala tersebut. Glading 1955) mendeskripsi ada empat tujuan yang dicapai dalam kerja RET, yaitu: (1) membelajarkan anggota kelompok tentang cara-cara berpikir rasional dan mengendalikan proses berpikir agar mereka dapat menangani berbagai problem secara selektif, (2) menangani keyakinan yang irasional, (3) memberikan pengetahuan yang memadai hal-hal berkaitan dengan masalah non perkembangan, dan (4) anggota memperoleh pengalaman pribadi tentang proses perubahan.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, konselor RET memiliki fungsi-fungsi dan tugas khusus, yaitu (Natawidjaja, 1987:153): (1) menunjukkan kepada peserta bagaimana mereka menciptakan kesengsaraan sendiri. Tugas ini dilakukan dengan cara mengklasifikasikan hubungan antara gangguan emosional dan perilaku mereka dengan nilai-nilai, keyakinan dan sikap-sikapnya. Dengan bantuan konselor mereka dapat melihat bagaimana mereka secara tidak berfikir-fikir menerima seperangkat keharusan”. Konselor bertindak sebagai orang yang melakukan propaganda yang mengkonfrotasikan para anggota dengan propaganda yang telah diterimanya pada permulaan tanpa memikirkan arti sesungguhnya dari propaganda itu, dan menunjukkan kepada mereka bagaimana sekarang dia melanjutkan indoktrinasinya sendiri dengan asumsi-asumsi yang tidak teruji.

Untuk mambantu klien memerangi gagasan-gagasan tidak logis dan menggantinya dengan yang logis, maka konselor kelompok berusaha keras untuk mengubah pemikirannya. RET berasumsi bahwa keyakinan yang tidak logis seseorang itu tertanamnya demikian mendalam sehingga tidak mudah untuk mengubahnya. Dengan demikian peranan konselor adalah mengajar para anggota tentang bagaimana menantang asumsi-asumsinya dan bagaimana seyogyanya mereka memutus lingkaran setan mengenai proses penilaian diri yang negatif dan tindakan menyalahkan disi sendiri.

Menghilangkan gangguan perilaku dan emosional saja pun belum cukup karena apabila gejala khusus saja yang ditangani maka ketakutan irasional lainnya akan muncul. Dalam hal ini konselor perlu mangajarkan kepada peserta bagaimana menghindarkan diri dari kemungkinan menjadi korban dari keyakinan irasional pada masa mendatang.

BAB   V

USULAN PENELITIAN

IMPLENTASI SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF

(Model Peningkatan Kemandirian Pada Anak Tunagrahita Ringan)

Sesuai dengan karakteristik tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang dalam perbendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran dalam berfikir abstrak, tetapi mereka masih bisa mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun  di sekolah khusus.

Selanjutnya Amin (1995) menjelaskan karakteristik  tunagrahita ringan adalah : a) Kecerdasan; tunagrahita sangat terbatas terutama untuk hal yang bersifat abstrak, mereka banyak belajar dengan membeo, b) Keterbatasan social; Pergaulan mereka tidak bisa untuk memelihara dan menempa diri, c) Keterbatasan fungsi – fungsi mental; Tunagrahita ringan sukar untuk memusatkan perhatian dan mengalami kesukaran mengungkapkan suatu ingatan, d) Keterbatasan dalam dorongan emosi;

Meskipun memiliki keterbatasan, namun mereka masih dapat dididik, dan mampu mengerjakan pelajaran akademik setingkat sekolah dasar. Bekenaan dengan itu, penulis memiliki suatu keinginan untuk mencoba menerapakan silogisme dalam terapi rasional emotif dalam meningkatkan kemandirian pada anak tunagrahita dengan memanfaatkan berbagai aspek terkait dengan lingkungan terdekatnya.


BAB  VI

KESIMPULAN

Maksud tulisan ini adalah untuk menunjukkan bahwa RET dapat ditingkatkan dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar logika ke dalam praktek RET, terutama silogisme praktis.

Prosedur yang harus ditempuh oleh para terapis RET dikembangkan dan pemahaman; secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Selama berlangsung pertemuan, klien membuat timbangan nilai yang membentuk pernyataan verbal yang mendasari emosi dan sikap. Misalnya, timbangan nilai klien bahwa isterinya tidak menghargai nilai uang, membentuk suatu pernyataan verbal yang mendasari sikap negatif terhadap isterinya. Bila emosi ini terhalangi, maka terapis hendaknya berusaha untuk memperbaiki dasar logikanya.

2. Terapis dapat memperbaiki dasar logika suatu emosi dengan upaya merekonstruksi premis-premis silogisme praktis yang muncul, dengan bertanya kepada klien tentang mengapa ia merasa cara-cara yang ia lakukan. Merekonstruksi premis penalaran klien sebaiknya dilakukan berulang-ulang yang memungkinkan terapis mengeksplisitkan penalaran klien yang tidak dinyatakan.

3. Sekali premis-premis dikemukakan, maka harus di arahkan kepada pengendalian rasional. Terapis dapat melakukannya dengan bertanya kepada klien mengenai alasannya mengemukakan premis-premis tertentu

Bentuk RET yang menggunakan dasar logika seperti dikemukakan di atas, perlu memperhatikan bentuk logika baik induktif maupuan deduktif. Oleh karena itu, bilamana menggunakan model ini, maka para terapis diharapkan rnemiliki pemahaman yang luas mengenai logika dan ketrampilan menerapkannya dalam RET.

DAFTAR PUSTAKA

Aileen, Milne. 2003. Teach Yourself: Counseling. Chicago – USA. McGraw-Hill Companies

Axelson, John. A. 2002. Counseling and Development in a Multicultural Society. 3rd edt. Singapore. Brooks/Cole Publishing. Co.

Blocher, Donald, H. 1987. The Professional Counselor. New York-USA. Macmillan Publishing Company

Corey, G. 2008. Theory and Practice of Group Counseling. California. Brooks/Cole Publishing Company.

_. 1991. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy (Edisi

Terjemahan Oleh Mulyarto. 1995). Semarang. IKIP Press

Dedi Supriadi. 2001. Konseling Lintas Budaya: Isu – isu dan relevansinya di Indonesia. Bandung. UPI

Gazda, George, M. 1984. Group Counseling A Development Approach (3rd Edition). Sydney. Allyn and Bacon, Inc

Kartadinata, Sunarya. 2003. Kebijakan, Arah, dan Strategi Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Bandung. Abkin

Mussen, Paul Henry, et al. 1989. Children Development and Personality (Edisi Terjemah oleh : FX. Budiyanto, dkk. 1994). Jakarta. Area,

Naisbitt, John. 1994. Global Paradox: Edisi Terjemahan oleh : Budiyanto. Jakarta Bina Rupa Aksara

Natawidjaja, R. 1987. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok. Bandung. Diponegoro

Natawidjaja, Rohman. 2002. Penyusuanan Instrumen Penelitian. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

Papadopoulos, Linda & Cross, C, Malcolm & Bor, Robert. 2003. Reporting in Counseling and Psychotherapy: A Trainee’s Guide to Preparing Case Studies and Reprts. Hove and New York – USA. Brunner Routledge

Sciarra, Daniel, T. 2004. School Counseling: Foundation and Contemporary Issues. Singapore. Brooks/Cole

Stone, Gerald, L. 1986. Counseling Psychology: Perspectives and Functions. Monterey-California. Brooks/Cole Publishing, Co

Surya, Moh. 2003. Psikologi Konseling. Bandung. Pustaka Bani Quraisy.

Taufiq, A. 2009. Model Supervisi Kinerja Konselor Untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah (Rangkuman Desertasi. Tidak diterbitkan). Bandung. UPI.

Woody, Rober Henley; Hansen, James, C; Rossberg, Robert, H. 1989. Counseling Psychology: Strategies and Services. Pasific Grove, California-USA. Brooks/Cole Publishing Company

Zandat, Van, Zark. And Hayslip Jo. 2001. Developing Your School Counseling Program: Hand Book of Planing System. Singapore. Brooks/Cole

Jurnal

Journal of The Teacher Education: The Journal of Policy, Practice, and Research in Teacher Education. January/February 2002. Volume 53. Number 1. American Association of Colleges for Teacher Education

Psikopedagogia: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. ABKIN – PPB FIP UPI. Vol. 2 Nomor 4, Nopember 2002/2003

The Counseling Psychologist. Vol. 30. No. 5 dan 6. September-November. 2003. Devisison of Counseling Psychology of The American Psychological Assiciation. SAGE Publication

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: