Archive for Februari, 2010

ETHICAL AND PROFESSIONAL ISSUES IN GROUP PRACTICE Etika dan Isu -isu Profesional dalam Praktek Kelompok

Februari 12, 2010

ETHICAL AND PROFESSIONAL ISSUES IN GROUP PRACTICE
(Etika dan isu-isu Perofesional dalam Praktek Kelompok)

Mereka para anggota kelompok perlu mencari pemimpin kelompok yang profesional sesuai dengan standar keinginannya yang dapat dijadikan contoh. Diantara isu-isu etis yang berlaku di dalam bab ini merupakan hak-hak dari anggota kelompok termasuk menyetujui dan kerahasiaan yang perlu diberitahukan; Resiko-resiko psikologis dari kelompok-kelompok; antar hubungan pribadi dengan klien-klien; memasyarakatkan hubungan antar para anggota; dampak yang ditimbulkan dari kelompok, nilai-nilai yang dianut pemimpin; bekerja secara sensitif dan secara etis dengan klien-klien yang berbeda; dan penggunaan dan penyalahgunaan dalam teknik kelompok. Bahwa suatu isu pusat dalam kerja kelompok berkaitan dengan kemampuan seorang pimpinan kelompok yang menjadi wewenangnya. Dengan demikian ia perlu memberi perhatian khusus terhadap penentuan wewenangnya, terhadap patokan-patokan pelatihan profesional, dan tambahan yang berarti kepada persiapan akademis dalam menasihati kelompok. Juga isu-isu etis dalam keterlibatanyaya memimipin suatu pelatihan kelompok. Bagian terakhir menguraikan secara singkat tentang isu-isu dan kewajiban hukum malpraktek.
Terhadap respon perilaku kelompok, dalam bab ini kamu ditantang untuk membuat clarifikasi etika perubahan dan diskusi isu-isu propesional. Kamu diwajibkan agar terbiasa mengenalinya, dan terikat dengan kode etik organisasi propesinalmu, sebagai petunjuk umum. Kamu dapat belajar membuat keputusan-keputusan dalam situasi yang praktis. Kode etik sebagai kerangka kerja umum dalam berkerja, tetapi kamu harus menerapkan prinsip-prinsip pada kasus yang nyata. Asosiasi untuk spesialis kerja kelompok (1998) “Best Practice Guidelines” direproduksi di dalam manual bagi siswa untuk memahami buku ini, terutama ketika belajar bab 1 sampai 5.

THE RIGHTS OF GROUP PARTICIPANTS (Hak Dari Partisipan Kelompok)
Pengalamanku mengajarkan bahwa dalam suatu kelompok baik para angotanya ataupun ketua mereka sering tidak acuh pada hak-hak yang mendasar sebagai peserta dan tanggung-jawabnya. Sebagai pemimpin kelompok, anda bertanggung jawab untuk membantu para anggota terhadap prospektif belajar yang menjadi hak mereka. Bagian ini menawarkan suatu yang terperinci tentang daftar hak-hak ini.

A Basic Right: Informed Consent (Sesuatu yang Mendasar: Pemberitahuan Kesepakatan)
Sesuatu yang mendasar di sekitar kelompok ialah mendiskusikan diawal pertemuan, Para anggota dimungkinkan untuk terlibat aktif. Siapa yang menjadi ketua kelompok harus jujur dan tanggap terhadap membantu perkembangan anggota itu dan perlu mempercayai setiap anggota kelompok aktif dan bersifat terbuka. Kepercayaan terhadap seorang pemimpin dapat diperoleh berdasarkan kesepakatan dari semua anggota. Para anggota berhak untuk menerima informasi/penjelasan sebelum bergabung menjadi anggota suatu kelompok, dan berhak mendapatkan informasi selama pelatihan bersama kelompok. Kesepakatan penting dan perlu diberitahukan ketika diperlukan; Dalam proses kelompok kebutuhan-kebutuhan akan kelompok diajukan kepada pimpinan kelompok, jika dianggap perlu.

Pregroup Disclosures (Peyingkapan Sebelum bergabung)
Hal-hal yang dapat dilakukan para calon anggota kelompok sebelum membuat keputusan untuk bergabung dalam suatu kelompok:
Memiliki suatu statemen yang bersih jelas mengenai tujuan dari kelompok
Memahami bentuk kelompok, prosedur-prosedur, dan peraturan mainnya
Melakukan wawancara awal untuk menentukan apakah kelompok tersebut dengan pemimpinnya sesuai dengan kebutuhan mereka
Mencari informasi tentang kelompok, melalui pertanyaan-pertanyaan, dan untuk menjelajah perhatian-perhatian
Diskusikan jalannya proses kelompok, boleh sama atau tidak dengan kepercayaan dan nilai-nilai budaya dari para anggota kelompok yang ingin dimasuki
Menguraikan pernyataan sekitar pendidikan, pelatihan, dan kecakapan-kecakapan dari pemimpin kelompok
Informasi mengenai pembayaran-pembayaran dan biaya yang termasuk pembayaran-pembayaran untuk tindak lanjut suatu sesi, diperlukan; juga, informasi yang berkenaan dengan kelompok, frekuensi dan jangka waktu pertemuan-pertemuan, sasaran yang akan dicapai kelompok, dan teknik-teknik yang berlaku
Mencari informasi tentang resiko psikologis sebagai anggota dalam kelompok
Pengetahuan tentang kerahasiaan karena hukum, etika, atau pertimbangan profesional
Klarifikasikan tentang apa yang didapat dan yang tidak dalam kelompok
Pemimpin kelompok memberi bantuan pada anggota dalam mengembangkan kepribadian
Pemahaman yang jelas tentang tanggung jawab antara pemimpin dan para anggota
Diskusikan tentang hak-hak dan tanggung-jawab dari anggota kelompok

Clients’ Rights During The Group (Hak-hak Klien Sebagai Anggota Kelompok )
 Mendapat bimbingan mengenai apa yang diharapkan.
 Mendapat informasi tentang segala riset yang dilakukan oleh kelompok dan siaran ulang tv dari video audio dari setiap sesi kelompok.
 Mendapat bantuan dari pemimpin dalam menterjemahkan pelajaran kelompok dalam kegiatan sehari-hari.
 Diberi peluang untuk mendiskusikan apa yang sudah dipelajari dalam kelompok diakhir pelajaran
 Berkonsultasi dengan pemimpin kelompok tentang krisis yang muncul, ikut terlibat secara langsung, atau pengalihtanganan pada ahli lain jika pemimpin kelompok tidak mampu.
 Membuat surat catatan kepada pemimpin kelompok untuk memperkecil potensi resiko dalam kelompok; menghormati kebebasan pribadi sebagai anggota.
 Mampu menjaga kerahasiaan sebagai anggota kelompok
 Bebas menganut nilai-nilai yang diyakini ketua kelompok atau orang lain diluar kelompok
 Hak untuk diperlakukan/dihormati sebagai individu yang bermartabat.

Kekritisan menekanan para pemimpin bahwa keikutsertaannya dalam kelompok maupun tentang hak dan tanggung-jawabnya. Tanggung-jawab ini termasuk menghadiri secara teratur pertemuan kelompok, prompt, pengambilan resiko, berkeinginan untuk memperbicangkan dirinya, memberikan umpan balik, pemeliharaan kerahasiaan, dan meminta apa yang diperlukan. Sebagian dari norma-norma kelompok ini boleh dipermasalahkan oleh anggota karena latar belakang budaya yang berbeda. Sangat penting bahwa harapan-harapan para anggota kelompok perlu dijelaskan sejak dari permulaan dan dimana para anggota sudah sependapat. Tentu saja, bagian dari proses kelompok melibatkan keikutsertaan para anggota di dalam mengembangkan norma-norma akan ikut mempengaruhi perilaku mereka dalam situasi kelompok.

ISSUES IN INVOLUNTARY GROUPS (Isu-Isu Tanpa Disengaja dalam Kelompok)
Ketika keikutsertaan dinyatakan sebagai kewajiban, yang terpenting adalah bekerja dengan kelompok secara sukarela. Diperlukan usaha secara penuh dalam memberi tahu para anggota dengan tanpa disengaja terhadap sifat dan sasaran dari kelompok, prosedur-prosedur yang digunakan, hak-hak dan resposibilitas mereka, batas-batas kerahasiaan, dan apa yang berpengaruh terhadap tingkat keikutsertaan mereka dalam kelompok akan memiliki keputusan critikal tentang mereka di luar kelompok itu. Ketika tanpa disengaja oleh kelompok, para anggota harus bekerjasama untuk mendaftarkan diri dengan sukarela. Ini dilakukan searah dengan ketidaksengajaan sebagai bentuk keterikatan “Aku harus bergabung dengan kelompok.” Mereka mempunyai beberapa pilihan apakah mereka akan menghadiri kelompok atau menyetujui konsekuensi-konsekuensi yang dibuat kelompok, mereka perlu disiapkan sehubungan dengan segala konsekuensi, seperti mengusirnya dari sekolah, skorsing dalam kurun waktu tertentu, atau sedang berada dalam pengasingan.
Alternatif lain karena pemimpin kelompok akan menerima anggota kelompok yang tanpa disengaja hanya membatasi selama satu periode awal. Ada yang berkata karena segan dan merasa sekelompok pada akhirnya (berkata, setelah tiga sesi) membiarkan mereka memutuskan, apakah mereka berhasil. Para pemimpin kelompok dapat menginformasikan para anggotanya tentang bagaimana mereka menggunakan waktu di dalam kelompok. Para anggota didorong untuk menjelajah ketakutan-ketakutan dan keseganan/hambatan mereka secara penuh untuk mengambil bagian di dalam kelompok, seperti juga konsekuensinya untuk tidak mengambil bagian di dalam kelompok. Kelihatannya etika praktek memerlukan para pemimpin kelompok yang sungguh-sungguh untuk mempelajari isu-isu ini dengan klien yang dikirim pada mereka.

THE FREEDOM TO LEAVE A GROUP (kebebasan untuk meningkatkan kelompok)
Para pemimpin harus menjelaskan kebijakan yang berkenaan dengan kehadiran, menyatakan kesanggupan dalam suatu kelompok untuk sesuai sesi-sesi yang telah ditentukan, dan meninggalkan sesi jika tidak seperti apa yang diinginkan di dalam kelompok. Jika para anggota menyatakan keluar dari kelompok, maka sangat sulit untuk mengembangkan tingkat pekerjaan atau tetap mempertahankan kohesi kelompok. Topik yang tersisa dalam suatu kelompok itu harus dibahas lebih awal, dan sikap serta kebijakan pemimpin perlu dijelaskan sejak dari permulaan.
Pendapat saya, anggota kelompok mempunyai suatu tanggung jawab kepada pemimpin dan para anggota lain perlu menjelaskan mengapa mereka ingin meninggalkan. Ada sejumlah pertimbangan untuk kebijakan seperti itu. Satu hal, itu dapat mengganggu kepada anggota untuk meninggalkan tanpa mendiskusikan dengan mempertimbangkan ancaman atau hal negatif sesuai pengalaman. Jika hanya meninggalkan ketika mereka menjadi gelisah, mereka adalah nampaknya akan ditinggalkan dengan urusan yang belum selesai, dengan para anggota yang tersisa. Seorang anggota yang mengundurkan diri akan merusak kohesi dan kepercayaan dalam suatu kelompok; anggota yang tersisa akan berpikir bahwa agaknya “disebabkan” keberangkatan. Ini merupakan suatu praktek yang baik untuk mengatakan kepada anggota bahwa jika mereka perlu memikirkan penarikan atas permasalahan yang perlu dieksplorasi dalam suatu sesi. Kritis Itu menggambarkan bahwa para anggota didorong untuk mendiskusikan pengunduran diri mereka, sedikitnya dengan pemimpin kelompok.
Jika suatu kelompok counterproductive (tidak produktif) untuk perorangan, orang tersebut berhak untuk meninggalkan kelompok. Idealnya, antara pemimpin kelompok dan anggota terhadap pekerjaan melakukan kerja sama menentukan derajat tingkat itu sesuai pengalaman kelompok apakah tergolong produktif atau counterproductive. Jika, pada suatu waktu satu sama lain sepakat, para anggota masih memilih bukan untuk mengambil bagian di suatu kelompok, aku percaya bahwa mereka harus diizinkan untuk keluar sebagai anggota tanpa dipaksa oleh pemimpin dan para anggota lain.

FREEDOM FROM COERCION AND UNDUE PRESURE (Kebebasan dari paksaan dan tekanan yang tak pantas)
Para anggota layak mengharapkan untuk dihormati oleh kelompok dan tidak diperlakukan secara paksaan dan tekanan yang tak pantas dari kelompok. Bagaimanapun, beberapa derajat tingkat tekanan dari kelompok tak bisa terelakkan, dan bahkan dalam mengobati banyak kejadian. Orang-orang dalam kelompok ditantang untuk menguji kepercayaan-kepercayaan dan perilaku-perilaku yang merusak diri mereka dan didorong untuk mengenali apakah yang mereka lakukan dan menentukan apakah mereka ingin tinggal jalan yang mereka iginkan. Lebih lanjut, dalam konseling kelompok, ada tekanan bersidang untuk bicara terus terang, untuk membuat penyingkapan-penyingkapan pribadi, untuk mengambil resiko-resiko tertentu, untuk berbagi reaksi-reaksinya kepada kejadian here-and-now di dalam kelompok, dan untuk jujur dengan kelompok. Harapan semua, ini harus dijelaskan kepada anggota kelompok berpotensi selama masa penyaringan dan orientasi. Beberapa individu tidak menginginkan untuk bergabung dengan suatu kelompok jika mereka akan diharapkan untuk mengambil bagian secara pribadi. Itu adalah penting bagi para pemimpin kelompok untuk membedakan antara tekanan yang bersifat merusak dan tekanan mengobati. Orang-orang sering kali memerlukan suatu derajat tingkat tertentu dari tekanan yang menantang mereka untuk mengambil resiko-resiko melibatkan diri secara penuh dalam kelompok.
Perlu di ingat bahwa tujuan dari suatu kelompok untuk membantu pesertanya menemukan jawaban sendiri, bukan untuk memaksa mereka untuk melakukan apa yang kelompok pikirkan berupa latihan yang sesuai. Para anggota mudah diperlakukan kepada ketertarikan yang tidak berguna jika mereka bersifat badgered untuk bertindak dengan cara tertentu. Para anggota boleh juga dipaksa untuk ambil bagian dalam berlatih komunikasi atau bukan latihan lisan atau latihan-latihan nonverbal yang dirancang untuk interaksi mempromosikan diri. Yang penting para pemimpin harus sensitip pada nilai-nilai yang dianut para anggota untuk mengambil bagian di dalam kelompok saat berlatih. Para pemimpin harus membuatnya merasa benar-benar bisa diterima karena para anggota perlu menyangkal dengan menyebutkan opsi ini pada suatu waktu, ketika dianggap sesuai. Lebih lanjut, ini merupakan suatu praktek yang baik untuk para pemimpin kelompok dalam mengajar semua anggota tentang bagaimana caranya membalas tekanan kelompok yang tak pantas.

THE RIGHT TO CONFIDENTIALITY (Hak untuk kerahasiaan)
Kerahasiaan adalah suatu isu etis pusat di dalam konseling kelompok, dan itu adalah satu kondisi penting untuk kerja kelompok yang efektif. Asosiasi Konseling Amerika (2005) ACA membuat statemen Kode Etik mengenai kerahasiaan di dalam kelompok-kelompok: “di dalam kerja kelompok, penasihat-penasihat menjelaskan arti penting dan parameter-parameter kerahasiaan untuk kelompok khusus yang dimasuki”. Sebagai seorang pemimpin, anda diwajibkan untuk memelihara kepercayaan dari anggota kelompok, tetapi anda harus responsif tambah mengesankan oleh anggota, perlu memelihara sifat kerahasiaan apapun juga yang diungkapkan di dalam kelompok. Dalam hal ini menambah penguatan dalam perjalannya, dari awal wawancara penyaringan sampai sesi kelompok berakhir. Jika dasar pemikiran untuk kerahasiaan diperkenalkan dengan jelas kepada masing-masing individu selama wawancara pendahuluan; kembali untuk menggolongkan secara keseluruhan di sesi awal, ada lebih sedikit kesempatan bahwa para anggota akan sungguh-sungguh mempercayainya. Kerahasiaan sering di pikirkan orang ketika menyatakan diri untuk bergabung dalam suatu kelompok, dengan demikian hal tersebut akan berjalan dengan semestinya.
Suatu praktek yang baik untuk mengingatkan peserta-peserta dari waktu ke waktu dari bahayanya akibat tak hati-hati menyatakan kepercayaan. Pengalaman mengajar aku bahwa para anggota jarang menggosip/dengki tentang kelompok mereka. Bagaimanapun, orang-orang cenderung berbicara lebih dari (sekedar) di luar kelompok itu dan tanpa disadari dapat menawarkan informasi tentang para anggota yang tidak mungkin diungkapkan. Jika kerahasiaan terjaga dengan baik sepertinya pokok materi dicussed berjalan secara penuh dalam sesi kelompok.
Di dalam kelompok-kelompok di lembaga/kantor, para agen, dan sekolah-sekolah, di mana para anggota mengetahui dan mempunyai seringnya kontak satu sama lain di luar kelompok, kerahasiaan menjadi teramat penting dan lebih sulit untuk dipelihara. Sama sekali tidak mungkin untuk memastikan bahwa anggota kelompok akan menghormati keyakinan-keyakinan dari orang lain. Sebagai pemimpin kelompok, anda tidak bisa menjamin kerahasiaan di suatu kelompok karena sama sekali tidak mungkin anda dapat mengendalikan anggota menyimpan masalah yang bersifat pribadi. Bagaimanapun, anda dapat mendiskusikannya, tentang pentingnya memelihara kerahasiaan, mempunyai kontrak-kontrak tanda para anggota menyetujuinya, dan diberi sanksi bagi mereka yang melanggar. Jika para anggota merasakan bahwa anda memegang kerahasiaan dengan serius, suatu kemungkinan besar bahwa mereka juga akan memperhatikan kerahasiaan dimaksud. Pada akhirnya, para anggota akan menghormati kerahasiaan dan memeliharanya.
Para anggota mempunyai hak untuk mengetahui setiap perekaman-perekaman siaran ulang tv atau dari video audio yang dibuat dari sesi-sesi kelompok, dan tujuan serta kegunaannya. Ijin ditulis harus dijamin aman sebelum merekam setiap sesi. Jika tape-tape akan digunakan untuk tujuan riset atau akan memberikan kritik bagi seorang penyelia atau para siswa lain di suatu sesi pengawasan kelompok, dan anggota juga mempunyai hak untuk menyangkalnya.

Exceptions to confidentiality (Pengecualian terhadap kerahasiaan)
Aspek lain dari kerahasiaan bahwa menggolongkan para pemimpin perlu menunjuk sejak dari permulaan dari suatu kelompok adalah batas dari kerahasiaan. Sebagai contoh, para pemimpin dapat menjelaskan kepada para anggota ketika mereka menurut hukum diperlukan untuk merinci kerahasiaan. Para pemimpin dapat menambahkan bahwa mereka dapat meyakinkan kerahasiaan di part mereka sendiri tetapi bukan pada pihak para anggota yang lain. Tidak mungkin mendorong para anggota pada hal-hal yang bersinggungan dengan kerahasiaan.
ACA (2005) Kode etik untuk identifikasi pengecualian terhadap kerahasiaan yang perlu dipahami anggota:
Persyaratan umum bahwa konselor wajib menyimpan rahasia untuk melindungi klien-klien, tetapi boleh diungkap bila berkepentingan dengan ketentuan hukum yang menuntut informasi dimana kerahasian harus diungkapkan. Konselor consult dengan para profesional yang lain tidak boleh ragu-ragu menyangkut kebenaran dari suatu perkecualian.
Ini merupakan suatu kebijakan yang baik untuk pekerja kelompok pada statemen tertulis dalam pengaturan masing-masing anggota terhadap batasan-batasan kerahasiaan dan memerinci situasi khusus yang memerlukan pelanggaran kepercayaan. Straightfor-wardness dengan para anggota disampaikan sejak awal untuk menciptakan kepercayaan karena para anggota bisa mengetahui kegunaannya.
Tentu saja, bagi pemimpin kelompok akan mempunyai satu dampak bagi praktek mereka.
(ASGW, 1998). Penasihat menurut hukum diperlukan untuk melaporkan ancaman-ancaman klien-klien yang mungkin merugikan diri mereka atau orang lain. Persyaratan meliputi kasus-kasus dari anak yang melecehkan atau melalaikan, hubungan seks antar saudara, atau penganiayaan anak, pelecehan orang lebih tua, dan pelecehan orang dewasa. mengambil satu kasus yang ekstrim, jika satu anggota kelompokmu mengancam untuk melukai/merugikan orang lain, anda mungkin harus tengok penyeliamu atau para rekan kerja lain, yang diharapkan peringatan dari korban, dan bahkan memberitahu aparat berwajib. Ancaman itu tidak perlu melibatkan yang lain; klien-klien boleh memperlihatkan perilaku bahwa anda perlu bertindak untuk mengevaluasi dan mungkin mereka perlu dingopname.
Sebagai pemimpin kelompok pada suatu lembaga; institusi sistem atau suatu rumah sakit psikiatris, anda diperlukan lebih dari (sekedar) penasihat; sebagai contoh, anda mungkin harus merekam perilaku-perilaku anggota dalam file tertentu. Pada waktu yang sama, tanggung jawab mu kepada klien-klien mu diperlukan untuk menginformasikan pada mereka bahwa anda sedang merekam dan menyampaikan informasi tertentu. Secara umum, anda akan menemukan dan mempunyai suatu kesempatan yang lebih baik tentang perolehan kerjasama anggota kelompok, dengan demikian meletakkan kamu di dalam posisi keyakinan terhadap pelanggaran mereka.

Confidentiality With Minors (Kerahasiaan Dengan pelengkap)
Suatu kelompok anak-anak di suatu pengaturan sekolah, kita perlu peduli untuk memastikan bahwa apa yang terjadi dalam kelompok bukan untuk didiskusikan dalam kelas atau di tempat bermain. Jika anak-anak mulai memperbicangkan tentang anggota lain di luar kelompok, ini akan merusak kemajuan dan kohesi kelompok. Seperti kasus orang dewasa dan anak remaja, anak-anak memerlukan pengetahuan untuk diperlakukan dengan rasa hormat. Para pemimpin kelompok harus hati-hati di dalam memperbicangkan tentang anak-anak kepada guru dan pengurus-pengurus. Mereka perlu mengelompokkan anak-anak dengan menjelaskan sekitar rahasia yang perlu dijaga dan apa yang bisa dibagi dengan personil sekolah.
Kerahasiaan merupakan prasyarat untuk memenuhi tujuan-tujuan, dan bukan melanggar kepercayaan. Kadang-kadang mungkin berguna bagi orang tua yang mau memberi informasi tentang anak mereka tanpa melakukan pelanggaran kepercayaan. Satu praktek akan bermanfaat untuk melindungi keleluasaan pribadi dalam kelompok sebagai umpan balik bagi orang tua dan anak atau kedua-duanya. Dengan demikian anak tidak akan merasa ragu terhadap kelompok, integritas pemimpin dalam rangka memelihara penyingkapan pribadi. Para pemimpin kelompok mempunyai suatu responsibilitas di dalam kelompok-kelompok bahwa melibatkan anak-anak dan remaja agar selalu menjaga kerahasiaan. Konselor penting berkerjasama dengan orang tua dan para pengawal seperti juga memberi kepercayaan pada orang-orang muda. Ini juga berguna sebagai pelengkap, bahwa mereka bisa berbuat serta memahami, sekitar sifat, tujuan-tujuan, dan batasan kerahasiaan. Secara ringkas, para pemimpin kelompok akan berhasil mengingatkan para anggota untuk meningkatkan perhatian mereka tentang kerahasiaan dan bila perlu diskusikan sesuai pikiran mereka.

THE ISSUE OF PSYCHOLOGICAL RISKS IN GROUPS (Issu Resiko Psikologis dalam Kelompok)
Kelompok katalisator-katalisator tangguh dapat merubah pribadi, dan mereka bisa menyikapi resiko-resiko terbatas bagi anggota kelompok. Sifat alami dari resiko dapat menyebabkan gangguan dan hidup berubah, konfrontasi yang bersifat merusak dan bermusuhan, kambing makan bunga, dan sosialisasi yang berbahaya antar anggota dan pemimpin merupakan pokok bagian ini. Tidak realistis bahwa suatu kelompok tidak akan memunculkan resiko-resiko, karena semua pelajaran penuh arti dalam hidup orang dan itu pasti memiliki resiko. Oleh karena itu, kita perlu untuk menjaga hasil-hasil negatif yang berpotensi dalam suatu kelompok. Ini adalah tanggung jawab etis pemimpin kelompok untuk memastikan bahwa anggota kelompok prospektif menyadari potensi negatif dari assosiasi untuk mengambil setiap tindakan pencegahannya dengan berbagai resiko-resiko.
(ACA, 2005) menetapkan “Di suatu penyetelan kelompok, penasihat-penasihat layak hati-hati untuk melindungi klien secara fisik, secara emosional, atau trauma psikologis”. Hal ini termasuk mendiskusikan dampak potensial tentang perubahan hidup dan membantu anggota kelompok menjelajah kesiap-siagaan mereka yang berhubungan dengan perubahan. Suatu harapan minimal adalah menggolongkan para pemimpin mendiskusikan dengan para anggota yang mememungkikan dan tidak memungkinkan dari suatu kelompok, bahwa mereka mempersiapkan para anggota dengan setiap permasalahan bahwa dia akan berkembang karena pengalaman kelompok, dan bahwa mereka waspada terhadap ketakutan-ketakutan dan keengganan para anggota.
Cara mengurangi resiko-resiko ini termasuk mengetahui batas-batas anggota, menghormati permintaan-permintaan, mengembangkan satu gaya invitational sebagai lawan seperti gaya diktator atau yang agresif, menghindari konfrontasi-konfrontasi menguraikan pengikisan perilaku dibanding membuat penilaian-penilaian, dan firasat memperkenalkan cara yang bersifat sementara.

Beberapa permasalahan para pemimpin kelompok dapat memperingatkan para anggota dan meminimalisirnya:
1. Para anggota harus dibuat sadar akan kemungkinan bahwa keterlibatan dalam suatu kelompok (atau usaha terapi manapun) dapat mengganggu kehidupan mereka. Ketika para anggota jadinya di dalam secara mengerut diri sendiri, sadar, mereka boleh mengubah hidup mereka, meski pada akhirnya bersifat membangun, dapat menciptakan huru-hara dalam perjalannya.
2. Adakalanya satu anggota dijadikan sebagai kambing hitam dari kelompok. Pemimpin kelompok harus mengambil langkah-langkah pasti berhubungan dengan kejadian-kejadian seperti itu.
3. Konfrontasi, merupakan alat yang tangguh dan berharga dalam setiap kelompok, dapat disalahgunakan, terutama ketika bila bersifat merusak. Intervensi-intervensi yang mengandung pelajaran, taktik pemimpin yang konfrontatif, dan mendorong anggota pada batas-batas mereka, sering kali menghasilkan hasil-hasil negatif.
Akhirnya kembali pada pemimpin (dan para anggota juga) harus berjaga terhadap perilaku yang dapat menimbulkan suatu resiko psikologis secara serius terhadap peserta-peserta kelompok. Mereka dapat mengajar para anggota bagaimana caranya memperbicangkan tentang diri mereka dan reaksi-reaksi yang muncul pada suatu pola perilaku tertentu seorang anggota.

THE ETHICS OF GROUP LEADERS’ ACTIONS (Etika Tindakan Pimpinan Kelompok)
Menjadi praktisi kelompok menuntut kepekaan sesuai dengan kebutuhan para anggota kelompokmu, nilai-nilai dan teknik-teknikmu dapat mengendalikan mereka. Itu juga menuntut satu kesadaran dari masyarakat terhadap standar-standar praktek, kebijakan-kebijakan dari agen di mana kamu bekerja, dan status hukum dalam mengurus konseling kelompok. Di dalam profesi-profesi kesehatan jiwa secara umum, ada suatu kecenderungan terhadap tanggung-jawab dan praktek yang bertanggung jawab. Lulusan memprogram diri dalam menasihati dan karya sosial terus meningkat dengan memperhatikan etika dan hukum.
Hampir semua dari organisasi-organisasi profesional terus mencatat ketika para anggota menyatakan bahwa mereka harus dianugerahi standars umum tentang dampak penyesuaian terhadap penyimpangan dari standars dalam praktek mereka. Organisasi-organisasi ini menyatakan dengan tegas bahwa para profesional akan menghindari penghisapan hubungan terapi, tidak akan merusak kepercayaan, ini penting bagi suatu hubungan terapi, dan akan menghindari hubungan-hubungan rangkap yang menghalangi tujuan-tujuan primer dar terapi. Pada umumnya, tanggung jawab moral mencoba mengingatkan untuk tidak mencampur hubungan sosial atau hubungan pribadi dengan keprofesionalan mereka dan yang terpenting menekan serta memelihara batasan-batasan yang sesuai.
Penasihat-penasihat kelompok perlu menyadari penyalahgunaan peran dan kewenangan mereka terhadap kebutuhan-kebutuhan pribadi atas biaya klien-klien. Ketika para pemimpin kelompok dihadapkan dengan kebutuhan-kebutuhan pribadi pada kewenangan dan gengsi atas biaya para anggota, mereka telah melakukan pelanggaran etis. Peran dari para pemimpin adalah untuk membantu para anggota untuk menemukan tujuan mereka, bukan menjalin pertemanan dengan klien-klien mereka. Tentu saja, para pemimpin yang mengembangkan hubungan-hubungan seksual dengan anggota kelompok telah bertindak sesuatu yang tak pantas.

SOCIALIZING AMONG GROUP MEMBERS (Memasyarakatkan antar anggota kelompok)
Apakah sosialisasi antar anggota kelompok merintangi atau memudahkan proses kelompok?. Perhatian ini dapat menjadi satu isu etis jika para anggota membentuk persekongkolan-persekongkolan dan gosip tentang orang lain di dalam kelompok atau jika mereka sedang membentuk kelompok dan membicarakan tentang hal-hal terbaik untuk dipelajari dalam pertemuan kelompok. Jika agenda-agenda yang tersembunyi mengembangkan melalui berbagai sub-sub kelompok di dalam kelompok, ada kemungkinan bahwa kemajuan dari kelompok dimasa yang akan datang terhenti. Kecuali jika agenda tersembunyi itu dibawa kepermukaan, dan besar kemungkinan banyak anggota tidak akan mampu menggunakan kelompok therapeutically atau menemukan sasaran pribadi mereka.
Yalom (2005) bahwa memelihara suatu kelompok ilmu pengobatan mengajarkan orang-orang bagaimana caranya membentuk hubungan-hubungan yang menyentuh hati tetapi tidak menghasilkan hubungan-hubungan pribadi. Ia juga menunjuk ke luar bahwa pertemuan para anggota di luar kelompok mempunyai suatu tanggung jawab untuk membawa informasi tentang pertemuan mereka ke dalam kelompok. Setiap jenis dari sosialisasi out-of-group bahwa interveres dengan berfungsi kelompok itu sebagai counterproductive dan harus ditakut-takuti.
Dalam beberapa hal, out-of-group kontak dan sosialisasi dapat menguntungkan. Dari perspektif terapi kelompok pejuang hak wanita, out-of-group sosialisasi tidak dipandang sebagai hal yang berbahaya. Ini benar terutama jika anggota memilih secara hati-hati dan mampu mengatur out-of-group kontak sehingga mampu bekerja sesuai minat mereka sendiri dan memberikan sesuatu yang terbaik untuk kelompok secara keseluruhan. Selama kontak out-of-group, para anggota sering kali mempunyai peluang untuk berhubungan dengan lain dengan cara aman. Jika para anggota mengenali perangkap-perangkap tentang keluar dari sosialisasi kelompok, dan jika mereka mau membawa kelompok untuk mendiskusikan cara mengatasi out-of-group, mereka sungguh telah belajar bagaimana cara yang aman dan produktif dalam mengatur sosialisasi kelompoknya.
Salah satu cara terbaik untuk pemimpin kelompok dalam mencegah hal-hal yang tidak sesuai dan sosialisasi counterproductive antar anggota kelompok perlu mendiskusikan isu ini. Tepat sekali terutama waktu mempelajari dampak negatif tentang pembentukan persekongkolan-persekongkolan, sepertinya kelompok sedang tidak memperoleh hasil atau ketika para anggota tidak mau membicarakan reaksi-reaksi mereka satu sama yang lainnya. Para anggota itu dapat diajar bahwa apa yang mereka tidak katakan di dalam kelompok sebagai kekuatan diri sendiri dan baik sekali untuk mencegah kelompok mereka dari pencapaian setiap tingkat kohesi.

THE IMPACT OF THE LEADER’S VALUES ON THE GROUP (Dampak dari Nilai-Nilai yang Dimiliki Pimpinan Kelompok)
Nilai-nilai pemimpin adalah sebagai sumber dalam memainkan suatu peran. Kesadaran dari mu bagaimana nilai-nilai mu mempengaruhi gaya kepemimpinanmu dengan sendirinya sebagaisumber dari isu etis. Anda bisa di bawah kesan perilaku ideal yang netral dan memelihara nilai-nilai fungsi kepemimpinanmu. Meski itu bukanlah fungsimu yang tepat untuk membujuk klien-klien agar menerima sistem nilai tertentu, yang sesuai dengan nilai-nilai mu sendiri dan bagaimana nilai-nilai mu mempengaruhi intervensi-intervensi yang anda buat di suatu kelompok.
Hargai muatan isu-isu yang sering dibawa suatu kelompok, agama, spritualitas, pengguguran, perceraian, dan perjuangan keluarga, sekedar suatu pandangan. Tujuan kelompok untuk membantu klasrifikasi para anggota terhadap kepercayaan mereka dan menguji opsi yang persis sama dan sebangun dengan sistim nilai mereka sendiri. Konseling kelompok bukan suatu forum di mana para pemimpin memaksakan pemikiran; falsafah mereka bagi para anggota; untuk membantu para anggota dalam mempelajari nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan mereka yang berbudaya.
Ada suatu perbedaan yang riil antara yang mengesankan dan mengunjukkan nilai-nilainya. Sebagai pemimpin kelompok, ketika anda memaksakan nilai-nilaimu, anda sedang mempertunjukkan rasa kurang hormat untuk integritas para anggota. Mengharapkan para anggota untuk mengadopsi nilai-nilai mu memberi mereka pesan bahwa mereka tidak mampu menemukan suatu satuan nilai-nilai yang penuh arti dan bertintak pada mereka dengan sendirinya. Ketika anda mengungkapkan; menyingkapkan nilai-nilai mu, di dalam kontras, para anggota bebas untuk menguji pemikiran mereka sendiri melawan terhadap latar belakang kepercayaan mu, tetapi mereka masih dapat membuat aneka pilihan sendiri tanpa beban rasa bersalah bahwa mereka tidak menemukan harapan-harapan Anda.
Anda perlu menjelaskan tentang nilai-nilai mu sendiri dan sasarannya ketika bekerja dengan nilai-nilai yang berbeda dari milikmu. Mereka harus memonitor countertransference dan mengenali bahayanya meniru-niru individu atas dasar; ras, etnisitas, jenis kelamin, usia, atau identitas seksual.Para anggota dilayani jika mereka belajar untuk mengevaluasi perilaku mereka sendiri untuk menentukan bagaimana mereka bekerja. Jika mereka datang kepada perwujudan bahwa apa yang mereka lakukan, mereka tidak melayani dengan baik, itu artinya anda menantang mereka untuk mengembangkan alternatif bertindak yang memungkinkan mereka menjangkau sasaran. Kelompok adalah tempat ideal para anggota untuk menilai derajat tingkat perilaku mana mereka konsisten dengan nilai-nilai mereka sendiri. Mereka mendapat umpan balik, namun tetap menjadi tanggung jawab mereka untuk membuat keputusan-keputusan mereka sendiri.


ETHICAL ISSUES IN MULTICULTURAL GROUP COUNSELING
Becoming Aware Of Your Cultural Values (Menyadari Nialai-Nilai Budaya Sendiri)
Johnson, Torres, Coleman, and Smith (1995) Menuliskan isu-isu bahwa penasihat-penasihat kelompok mungkin memerlukan mereka untuk mencoba memudahkan konseling yang berbeda secara kultural kelompok. Pengarang-pengarang ini menunjuk bahwa anggota kelompok pada umumnya membawa dengan nilai-nilai mereka, kepercayaan-kepercayaan, dan prasangka-prasangka, dengan cepat menjadi penting di suatu keadaan kelompok. Suatu konseling kelompok multicultural baru pada proide tingkat komunikasi antar para anggota. Ini dapat sebagai penolong dalam membantu para anggota dalam menantang klise mereka dengan menyediakan informasi akurat tentang individu. Tujuan lain suatu kelompok yang berbeda mempromosikan pemahaman, penerimaan, dan kepercayaan antar para anggota berbagai kelompok-kelompok budaya yang berbeda. Karena para pemimpin kelompok memudahkan pengertian dan menyetujui adanya kelompok yang berbeda, adalah penting bahwa mereka perlu menyadari penyimpangan-penyimpangan mereka dan bahwa mereka sudah menantang klise mereka sendiri.

Transcending Cultural Encapsulation (Melebihi Penampungan Budaya)
Penampungan budaya suatu perangkap yang potensial bahwa semua penasihat kelompok lemah. Jika anda menerima gagasan di mana nilai-nilai budaya tertentu dianggap tertinggi, anda perlu membatasi diri anda dengan menolak untuk mempertimbangkan. Jika anda menguasai visi terowongan budaya, anda mungkin salah menafsir pola-pola dari perilaku yang dipertunjukkan oleh anggota kelompok dalam kultural yang berbeda dari anda. Kecuali jika anda memahami nilai-nilai kultur-kultur yang lain, anda mungkin salah paham pada klien-klien ini. Jika anda mampu menghargai perbedaan-perbedaan budaya dan tidak mengaitkan perbedaan-perbedaan seperti itu dengan keunggulan atau dengan sifat rendah diri, anda dapat meningkatkan daya akal secara psikologis.
Penampungan budaya, atau pemikiran kampungan, dapat menyedihkan kedua-duanya anggota kelompok dan pemimpin kelompok. Ketika penasihat-penasihat kelompok, kita harus menghadapi penyimpangan-penyimpangan kita sendiri seperti juga mereka ri para anggota. Kultur khusus tentang pengetahuan suatu latar belakang klien-klien mestinya tidak membawa konselor untuk meniru-niru klien. Para pemimpin kelompok berkompeten budaya mengenali kedua perbedaan antar kelompok-kelompok dan perbedaan-perbedaan dalam kelompok. Ini penting bahwa anda merasa menghindari individu hanya sebagai merasa memiliki suatu kelompok. Sungguh, perbedaan-perbedaan antara individu di dalam suatu kelompok sering lebih besar dari perbedaan-perbedaan di antara berbagai kelompok-kelompok
(Pedersen,2000) Tidak semua Orang Amerika yang asli mempunyai experinces yang sama, atau pun melakukan semua orang Afrika Orang Amerika, orang asia, wanita-wanita, lebih tua orang-orang, atau para penderita cacat. Adalah penting untuk menjelajah perbedaan-perbedaan individu antar anggota kelompok budaya sama dan bukan untuk membuat anggapan umum yang berdasarkan pada kelompok perorangan. Individu di dalam suatu kultur boleh memperlihatkan variasi dari norma-norma yang berbeda.
Nilai-nilai tradisional ini dibagi bersama oleh kelompok-kelompok budaya yang lain. Sebagai contoh, latinos menekankan familismo, yang menekankan saling ketergantungan atas kemerdekaan, keanggotaan atas konfrontasi, dan kooperasi atas kompetisi.

USES AND MISUSES OF GROUP TECHNIQUES (Penyalahgunaan Teknik-teknik Kelompok)
Di dalam memimpin kelompok-kelompok, adalah penting bahwa anda mempunyai suatu dasar pemikiran yang jelas untuk masing-masing teknik yang anda gunakan. Ini adalah satu bidang di mana teori adalah suatu pemandu yang bermanfaat untuk praktek. Ketika Anda akan lihat, 11 teori utama buku ini dengan banyak strategi dan teknik-teknik terapi. Teknik-teknik seperti itu bermakna untuk meningkatkan kesadaran, untuk perubahan-perubahan, atau untuk mempromosikan eksplorasi dan interaksi. Mereka pasti dapat digunakan secara etis dan therapeutically, namun mereka dapat disalahgunakan.

GROUP LEADER COMPETENCE
Determining One’s Own Level of Competence (Menentukan tingkat Kewenangan)
Anda perlu memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti dibawah ini:

• Apakah aku berkwalitas dalam pendidikan dan pelatihan untuk memimpin kelompok khusus ini?
• Apa ukuran-ukuran yang dapat aku tentukan terhadap derajat tingkat wewenangan?
• Bagaimana kemungkinan aku mengenali batasan-batasan dari ke wewenanganku?
• Jika aku bukanlah sama berkompeten sepertinya aku ingin sebagai kelompok pekerja, secara rinci apa kalengkapan aku ?
• Bagaimana mungkin aku melanjutkan untuk meningkatkan mutu pengetahuan, ketrampilan dan kepemimpinan ku?
• Apa teknik-teknik yang dapat secara efektif mempekerjakan aku?
• Dengan klien-klien macam apa Aku bekerja dengan baik?
• Dengan Siapa, Apakah Aku bekerja palingbaik/sedikit baik, dan mengapa?
• Kapan dan bagaimana caranya aku perlu menunjuk klien-klien?
• Kapan aku perlu untuk bicarakan dengan para profesional lain?

Kemampuan/wewenang profesional bukanlah secara tiba-tiba dengan segera dan itu adalah satu proses pengembangan yang berkelanjutan untuk jangka waktu karier. ” Petunjuk Praktek Terbaik ” (ASGW, 1998), yang direproduksi di dalam Student Manual for Theory and Practice of Group Counseling, menyediakan beberapa usul umum untuk meningkatkan kemampuan/wewenang sebagai kelompok pekerja:
• Tingkatkan arus kemampuan-kemampuan pengetahuan dan peningkatan ketrampilan mu melalui aktivitas seperti pendidikan berkesinambungan, pengawasan, dan keikutsertaan di dalam aktivitas pengembangan profesional dan pribadi.
• Menjadi terbuka bagi bantuan profesional untuk konflik-konflik, permasalahan pribadi bahwa boleh merusak penghakiman atau kemampuan profesional mu untuk memudahkan suatu kelompok.
• Gunakan konsultasi dan pengawasan untuk memastikan efektifitas mempraktekkan ketika anda bekerja dalam kelompok di mana anda perlu untuk memperoleh lebih banyak kemampuan-kemampuan pengetahuan dan ketrampilan.

Professional Training Standards for Group Counselors (Standar Pelatihan Profesional untuk Konselor Kelompok)
ASGW (2000) “Professional Standars for The Training of Group Work”:
1. Task and work groups: Suatu fitur tugas dan kelompok kerja mengaplikasi prinsip-prinsip ilmu dinamika kelompok dan proses-proses seperti pemecahan masalah kelompok secara kolaboratif, membentuk regu, dan konsultasi pengembangan program. Pelatihan spesialis ini sedikitnya 30 jam pengalaman dalam memimpin atau co-leading suatu kelompok.
2. Psychoeducational groups: pressentasi dan diskusi membangun informasi faktual dan ketrampilan sesuai dengan rencana dalam berlatih. Pelatihan spesialis kelompok melibatkan kursus bidang yang luas dari psikologi masyarakat, promosi kesehatan, pemasaran, konsultasi, dan desain kurikulum. Spesialis-spesialis memerlukan pengetahuan dalam bidang-bidang (seperti unsur pokok melecehkan pencegahan, tekanan mangement, pelatihan efektivitas orangtua, sindrom AIDS). Kekhususan ini selam 30 jam tambahan pengalaman dalam memimpin atau co-leading suatu bimbingan kelompok.
3. Group counseling: Fokus Konseling kelompok yakni pada komunikasi antar pribadi dan metoda-metoda umpan balik dan dukungan interaktip. Penasihat-penasihat kelompok perlu mengetahui pengembangan manusia dalam bidang-bidang yang lebih luas, masalah indentifikasi, dan perawatan dari permasalahan hubungan antar pribadi dan pribadi normal. Sedikitnya 45 jam pengalaman yang diawasi sebagai pemimpin atau co-leading suatu kelompok konseling.
4. Group Psychotherapy: Eksplorasi psikoterapi Kelompok terhadap perilaku yang ada, menggunakan hubungan antar pribadi dan penilaian intrapersonal, hasil diagnosa, dan penafsiran. Pelatihan spesialis untuk psikoterapi kelompok terdiri dari kursus-kursus dalam area psikologi, psychopathology, dan penilaian diagnostik untuk memastikan kemampuan bekerja. Sedikitnya 45 jam pengalaman sebagai terapi kelompok.

Three Adjuncts to the Traning of Group Counselors (Tiga tambahan dalam pelatihan Konselor kelompok)
1. Personal Counseling for Group Leaders (Konseling Pribadi untuk Pimpinan Kelompok)
Yalom (2005); bahwa eksplorasi diri sendiri yang luas diperlukan jika para magang merasa countertransference, mengenali kelemahan dan penyimpangan-penyimpangan, dan menggunakan atributes pribadi mereka secara efektif dalam kelompok-kelompok. Meski siaran ulang tv dari video, bekerja dengan asisten pimpinan, dan pengawasan semua sumber sempurna sebagai umpan balik, Yalom memelihara beberapa bentuk ilmu pengobatan pribadi adalah penting bagi pemahaman dan koreksi. Bahwa manfaat para magang kelompok sangat berpengalaman daripada menjadi klien. Pemimpin kelompok perlu menunjukkan keberanian dan kesediaan melakukan apa yang mereka harapkan bagi para anggota di dalam kelompok-kelompok.
Meningkatkan kesadaran diri sendiri sebagai alasan utama dalam memimpin suatu kelompok, anda akan menggagalkan banyak kejadian, antar para anggota dan terhadap anda. Tindakan reveral mengacu pada proses ketidak berdayaan pemimpin kelompok, perasaan atau sikap-sikap diluar kemampuan mereka. Kemampuan countertransference anda, sering kali menimbulkan tanggapan-tanggapan emosional secara sadar dan tak sadar terhadap anggota kelompok. Anda mungkin punya permasalahan pribadi yang belum terpecahkan.
2. Self-Exploration Groups for Group Leaders (Kelompok Ekplorasi diri untuk Pimpinan Kelompok)
Menjadi anggota bermacam kelompok dapat membuktikan sesuatu yang sangat dibutuhkan dari pelatihan mu sebagai pemimpin kelompok. Mengalami coutiousness sendiri, pembalasan-pembalasan, ketakutan-ketakutan, dan saat-saat gelisah di suatu kelompok, dan berjuang dengan permasalahan mu di suatu konteks kelompok, anda dapat mengalami apa yang diperlukan untuk membangun suatu kepercayaan dan kekompakan kelompok. Sebagai tambahan untuk membantu anda mengenali dan mempelajari diri sendiri konflik-konflik dan peningkatan pribadi, pemahaman, suatu perkembangan pribadi merupakan suatu alat kekuatan pengajaran. Salah satu cara terbaik untuk belajar membantu anggota kelompok di dalam perjuangan-perjuangan mereka untuk mengambil bagian sebagai seorang anggota suatu kelompok.
Hargraves, and Hundley (1977); Ditemukan dua hasil utama. Pertama-tama, siswa yang mempunyai suatu kelompok secara umum mempunyai reaksi-reaksi positif meskipun melibatkan satu kelompok yang meragukan ketertarikannya. Reaksi-reaksi siswa secara konsisten menunjukkan bahwa mereka menghargai peluang menantang ketakutan-ketakutan hubungan antar pribadi dan bahwa mereka harus mengambil resiko. Ke dua, konflik-konflik antar para anggota dan otoritas umum kelompok-kelompok yang tidak tersusun dipandang sebagai suatu pelajaran positif oleh peserta.
Para magang dapat juga belajar tentang tanggapan mereka terhadap umpan balik, daya saing mereka, kebutuhan persetujuan mereka, perhatian-perhatian yang berkompeten.
3. Ethical Issues in Training Group Counselors (Isu-isu Etik dalam Pelatihan Konselor Kelompok)
Program-program pelatihan berbeda pendapat untuk mengambil bagian di suatu kelompok opsional atau diperlukan. Keikutsertaan diperlukan dalam suatu kelompok sebagai bagian dari program pelatihan, masing-masing dapat menyajikan beberapa permasalahan etis dan praktis. Suatu isu orang gemar memperdebatkan etika di dalam persiapan pekerja kelompok dan mengkombinasikan pengalaman dan didaktis metode pelatihan.
Komponen pengalaman bersifat penting ketika mengajar kursus-kursus konseling kelompok. Ada permasalahan yang tidak bisa dipisahkan di dalam mengajar para siswa sebagaimana fungsi kelompok-kelompok dengan menyertakan mereka dalam percobaan. Pengaturan seperti itu memerlukan kesediaan diri sendiri untuk terlibat dalam penyingkapan, menjadi peserta-peserta aktif dalam laboratorium yang ada hubungan antar pribadi, dan untuk melibatkan diri secara emosional. Para magang mendapat pengalaman yang diperlukan dari tangan pertama untuk menciptakan kepercayaan. Mereka sering kali berkata bahwa mereka sudah memperoleh suatu penghargaan dan pengalaman baru dari suatu perspektif anggota kelompok.
Menilai dan mengevaluasi para siswa di dalam kursus-kursus kelompok, profesionalisme instruktur sangat penting. Praktek etis memerlukan instruktur-instruktur untuk menjelaskan secara rinci ukuran-ukuran penilaian dengan jelas. Ukuran-ukuran itu boleh berupa hasil-hasil dari laporan tertulis, presentasi-presentasi lisan, soal ujian essay, dan sasaran pengujian. Kebanyakan pendidik-pendidik konselor kelompok setuju bahwa kinerja siswa di dalam kelompok experiential tidak harus dinilai, tetapi mereka diharapkan untuk hadir secara teratur dan mengambil bagian masing-masing. Petunjuknya harus jelas sehingga para siswa mengetahui apa yang menjadi hak-hak dan tanggung-jawab mereka di awal kursus kelompok.
Anderson and Price (2001) survei tingkat keterlibatan instruktur dalam percobaan kelompok. Kira-kira 41% siswa menunjukkan bahwa instruktur mereka tidak memimpin kelompok percobaan mereka dan tidak mengamati kelompok tetapi menerima umpan balik sekitar proses kelompok atau keikutsertaan para anggota; 33% menunjukkan bahwa instruktur mereka tidak memimpin kelompok percobaan mereka tetapi kadang-kadang mengamati kelompok; 22% menunjukkan bahwa instruktur tidak memimpin, mengamati, atau menerima umpan balik tentang kelompok mereka; dan 3% menunjukkan bahwa instruktur mereka tidak memimpin kelompok sama sekali. Hasil survey itu menyatakan bahwa mayoritas para siswa (93%) percaya experiential kelompok penting bagi pengembangan-pengembangan mereka dengan para pekerja kelompok. Kebanyakan dari siswa (92%) memberikan keuntungan diri sendiri dalam keterlibatan mereka di suatu kelompok percobaan meskipun mereka merasa gelisah pada suatu waktu. Mereka juga menyatakan bahwa program-program perlu memiliki surat pengantar pada tempatnya., termasuk persetujuan pemberitahuan, persiapan kelompok, dan pelatihan diri sendiri yang dirasa sesuai.
Kottler (2004) daftar cara untuk melindungi para magang dalam satu kelompok percobaan; pemberitahuan persetujuan, sehingga para siswa mengetahui apakah mereka memasuki; atau melewati; dan tidak mengevaluasi para siswa terhadap apa yang mereka katakan dan yang tidak dikatakan. Kottler membuat satu titik yang sempurna di dalam mengajar konseling kelompok bahwa kuncinya bukanlah apa yang kita lakukan hanya bagaimana kita sedang melakukannya.

LIABILITY AND MALPRACTICE (Kewajiban dan Malpraktek)
Beberapa petunjuk bijaksana sebagai standars profesional dan etika praktek:

1. Mau menyediakan waktu yang diperlukan untuk menyaring, memilih, dan mempersiapkan para anggota kelompok.
2. Kembangkanlah secara tertulis dan diberitahukan prosedur-prosedur yang menjadi perhatian utama suatu kelompok. Beri para anggota informasi potensial kelompok yang cukup untuk membuat aneka pilihan tentang keikutsertaannya dalam kelompok.
3. Sediakan satu atmosfer dari rasa hormat atas keaneka ragaman di dalam kelompok.
4. Informasikan para anggota tentang kebijakan-kebijakan ini dan pembatasan-pembatasan hukum (seperti kebebasan kerahasiaan, kewajiban membuat laporan)
5. Tekankan pentingnya memelihara kerahasiaan sebelum kelompok dimulai dan selama kelompok hidup.
6. Batasi praktek mu kepada populasi klien, sebab anda disiapkan berdasarkan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman.
7. Waspadalah atas gejala-gejala dari kelemahan psikologis dalam anggota kelompok, bahwa keikutsertaan mereka harus dihentikan.
8. Jangan menjanjikan para anggota kelompok bila anda tidak bisa. Tolonglah mereka untuk menyadari hasil usaha mereka dan komitmen akan faktor utama dalam menentukan hasil-hasil sesuai pengalaman kelompok.
9. Dalam bekerja harus memperhatikan kelengkapan, mengamankan ijin tertulis dari orang tua mereka, sekali pun ini tidak diperlukan. Selalu bicarakan dengan para rekan kerja atau para penyelia kapan pun ada satu perhatian hukum atau etika. Dokumentasikan setiap konsultasi-konsultasi.
10. Buatlah penilaian kemajuan umum atau suatu kelompok, dan mengajar para anggota bagaimana caranya mengevaluasi kemajuan mereka terhadap tujuan yang dinginkan; menyimpan catatan-catatan klinis sesuai kemajuan.
11. Belajarlah melakukan penilaian dan intervensi jika klien-klien bersikap mengancam kepada diri mereka atau orang lain.
12. Hindarilah mencampur adukkan hubungan profesional dengan sosial. Hindari keterlibatan hubungan seksual dalam bekerja dengan siapapun atau mantan anggota kelompok.
13. Siap siaga dengan reaksi-reaksi pribadi yang akan menghalangi proses kelompok, dan memonitor countertransference mu.
14. Lanjutkan membaca riset, dan penggunaan kelompok intervensi-intervensi dan teknik-teknik yang mendukung riset.
15. Milikilah suatu orientasi teoritis bahwa bertindak sebagai suatu pemandu praktek mu. Harus mampu menguraikan tujuan dari teknik-teknik, yang anda gunakan dalam kelompok-kelompok Anda.

pa PMTH? What’s PMTH NEWS? BERITA PMTH apa? What is PMTH2? Apa PMTH2? What is Postmodern Therapy? Apa postmodern Therapy?

Februari 12, 2010

PMTH is a group of several hundred therapists who engage in ongoing conversation, or at least listen to the conversation. The term PMTH stands for “Postmodern Therapies”. PMTH adalah sekelompok beberapa ratus terapis yang terlibat dalam percakapan yang sedang berlangsung, atau setidaknya mendengarkan percakapan. PMTH Istilah singkatan dari “postmodern Therapies”.

PMTH has existed now for about eight years. My name is Lois Shawver. I am the host of PMTH, which means, among other things, I manage the technical side of our our group, like turning people’s mail off when they go on vacation. But, thank goodness, there is a good group of people here that make it all worth it. Besides, they help me in a million ways, sometimes without even knowing it. PMTH telah ada sekarang selama sekitar delapan tahun. My name is Lois Shawver. I am the host PMTH, yang berarti, antara lain, saya mengelola sisi teknis kami kelompok kami, seperti orang mengubah mail dari saat mereka pergi berlibur. Tapi, syukurlah, ada sekelompok orang baik di sini yang membuat semuanya sia-sia. Selain itu, mereka membantu saya dalam sejuta cara, kadang-kadang tanpa menyadarinya.

PMTH NEWS is a newsletter. You are reading it now. It chronicles some of our conversations, our projects (especially our group projects) and it includes articles, book reports, explanations, announcements and more. BERITA PMTH adalah sebuah newsletter. Anda membaca sekarang. It kronik beberapa percakapan kami, proyek-proyek kami (terutama proyek-proyek kelompok kami) dan itu termasuk artikel-artikel, buku laporan, penjelasan, pengumuman dan banyak lagi.

What is PMTH2? It’s a course some of us are teaching. You will learn more about it in this newsletter. Apa PMTH2? Itu saja sebagian dari kita yang mengajar. Anda akan belajar lebih banyak tentang hal itu dalam newsletter ini.

What are POSTMODERN THERAPIES? That’s more complicated. Truthfully, what postmodern therapies are is still under discussion here on PMTH. Sometimes it means non-traditional therapies, therapies that do not rely on diagnostic labels or therapies that disdain the medical model. But if I had my way, it would refer to philosophies of therapy at least a little influenced by the later philosophy of Ludwig Wittgenstein . That would mean, that the conversation could continue with people having different beliefs and frames – and we would all be interested in understanding each other, and realizing, at the same time, that we often did not. Apa Postmodern Terapi? Itu lebih rumit. Terus terang, apa terapi postmodern masih dalam pembahasan di PMTH. Kadang-kadang ini berarti terapi non-tradisional, terapi yang tidak bergantung pada label diagnostik atau terapi yang meremehkan model medis. Tapi kalau aku punya cara, itu akan mengacu pada filosofi terapi setidaknya sedikit dipengaruhi oleh filsafat kemudian Ludwig Wittgenstein. Itu berarti, bahwa percakapan dapat terus dengan orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda dan bingkai – dan kita semua akan tertarik untuk memahami setiap lain, dan menyadari, pada saat yang sama, bahwa kita sering tidak.

Of course, I don’t always have my way on PMTH. Besides, I sometimes feel that the most important author for people to read if they are serious about postmodernism, is Jean-Francois Lyotard. Lyotard was a philosopher whose little book, The Postmodern Condition , did much to make the the word “postmodern” almost a household word, more, I would argue, than any other author to date. Lyotard, I believe, brings a visionary perspective on how to cope with our divergent views without killing each other in the process. I like that, and I think most of my friends on PMTH are keen for that idea, too, even if they don’t always read and appreciate Lyotard. Tentu saja, saya tidak selalu punya cara di PMTH. Selain itu, kadang-kadang saya merasa bahwa penulis yang paling penting bagi orang untuk membaca jika mereka serius tentang postmodernisme, adalah Jean-François Lyotard. Lyotard adalah seorang filsuf yang buku kecil, The Postmodern Condition, berbuat banyak untuk membuat kata “postmodern” kata hampir satu rumah tangga, lebih, saya berpendapat, daripada penulis lainnya-to-date. Lyotard, saya percaya, membawa perspektif visioner tentang bagaimana mengatasi perbedaan pandangan kami tanpa membunuh satu sama lain dalam proses. Aku suka itu, dan saya pikir sebagian besar teman-temanku di PMTH yang tertarik untuk gagasan itu, juga, bahkan jika mereka tidak selalu membaca dan menghargai Lyotard.

I think that’s about all you need know to make sense of this newsletter. If you go to the blue column left of this one, you can see, near the top, how to read back issues. Saya pikir itu semua anda perlu ketahui untuk memahami newsletter ini. Jika Anda pergi ke kiri kolom biru yang satu ini, Anda dapat melihat, di bagian atas, bagaimana cara membaca kembali masalah.

I share these chronicles with you with great pleasure. The people you read about here, and the rest that don’t get mentioned in this newsletter, are all my cherished friends. And you, our audience, are cherished, too. Thank you for reading PMTH NEWS. Kronik ini saya berbagi dengan Anda dengan senang hati. Orang-orang yang Anda baca di sini, dan sisanya yang tidak bisa disebutkan dalam newsletter ini, adalah teman-teman semua dihargai. Dan kau, penonton kami, dihargai juga. Terima kasih untuk BERITA PMTH membaca.

From PMTH to PMTH2 Dari PMTH ke PMTH2

Lois Shawver Lois Shawver
03/24/06 03/24/06

PMTH2 is nickname some of us have given a course we have been teaching together. Later in this column, you will hear an account of that course. We taught it through the Massey University Graduate Program This program offers a Masters Degree in Discursive Psychology. The online program was designed by Andy Lock and many well known therapists, psychologists and scholars are involved in teaching classes in this program. One of the teachers, for example, Ken Gergen, was the author of a book that is reviewed in this newsletter, as is Harlene Andersen and Tom Strong, people you often hear about in PMTH NEWS. PMTH2 adalah julukan sebagian dari kita telah memberikan kursus kami telah mengajar bersama-sama. Kemudian di kolom ini, Anda akan mendengar penjelasan tentang kursus itu. Kami diajarkan melalui Massey University Program Pascasarjana Program ini menawarkan gelar Master di Psikologi diskursif. The Program online ini dirancang oleh Andy Kunci dan banyak dikenal terapis, psikolog dan ahli yang terlibat dalam mengajar kelas-kelas dalam program ini. Salah satu guru, misalnya, Ken Gergen, adalah penulis buku yang dibahas dalam newsletter ini, sebagai adalah Harlene Andersen dan Tom Strong, orang-orang yang sering mendengar tentang di PMTH BERITA. . .

I think this online masters degree program has a very adventurous feel to it. For one thing, the courses have an international composition. It does not matter who you are and where you live because the courses are all taught online. The classes are small and the conversation tailored to the class and there is quick feedback in discussion of ideas. Saya rasa ini online program gelar master yang sangat petualang merasa untuk itu. Untuk satu hal, perkuliahan memiliki komposisi internasional. Tidak peduli siapa Anda dan di mana Anda tinggal, karena mata kuliah semua diajarkan secara online. Kelas-kelas yang kecil dan percakapan disesuaikan dengan kelas dan ada umpan balik cepat dalam diskusi ide.

This issue of PMTH NEWS includes some reporting on our last PMTH2 class . It was taught by myself, Lynn Hoffman , Val Lewis and Brent Dean Robbins , all from PMTH. You can read about the prior class we taught by clicking here. Edisi ini berisi beberapa PMTH BERITA pelaporan di kelas PMTH2 terakhir kami. Itu yang diajarkan oleh diri sendiri, Lynn Hoffman, Val Lewis dan Brent Dekan Robbins, semua dari PMTH. Anda dapat membaca tentang kelas sebelum kita diajarkan dengan mengklik di sini.

You will read a selection of the students papers that they wrote for online publication, and you will read discussion of these papers by a PMTH participant who was chosen to be interviewed by PMTH2 students, and a discussion by Lynn Hoffman, a well known and talented family therapist and author. Anda akan membaca seleksi mahasiswa kertas yang mereka tulis untuk publikasi online, dan Anda akan membaca diskusi tentang ini PMTH makalah oleh peserta yang terpilih untuk diwawancarai oleh PMTH2 mahasiswa, dan diskusi oleh Lynn Hoffman, seorang yang terkenal dan berbakat terapis keluarga dan penulis.

If you are interested in learning more about our program, and perhaps joining us in our classes, please write Andy Lock for more information. Jika Anda tertarik untuk belajar lebih banyak tentang program kami, dan mungkin bergabung dengan kami di kelas kami, silakan tulis Andy Lock untuk informasi lebih lanjut.

Social Construction: Entering the Dialogue Konstruksi sosial: Memasuki Dialog
a book review ulasan buku

Lois Shawver Lois Shawver
03/24/06 03/24/06

I can still remember the first time I ran across one of Ken Gergen’s publications. I was standing in a library with too many books in my hands, waiting in some kind of line, and reading periodical article, A Xerox I had made and was now balanced awkwardly on the top of a column of books in my arms. Aku masih ingat pertama kali aku berlari melintasi salah satu Gergen Ken publikasi. Aku berdiri di sebuah perpustakaan dengan terlalu banyak buku di tanganku, menunggu di semacam garis, dan membaca artikel berkala, A Xerox aku telah dibuat dan sekarang seimbang canggung di bagian atas kolom buku dalam pelukanku.

I loved Gergen’s clear and daring attack on the scientific model of psychology. Here was somebody willing to challenge the blind faith that I saw all around me, blind faith that one day experimental psychology would prove all its scientific myths and emerge as respectable as physics. Gergen’s writing made the absurdity of that presumption crystal clear to me. After all, what we are studying in psychology are our social constructions and that means any laws we might uncover would be as fickle as a social policy shifting dramatically over time. (Little did I know that my point of view on physics would evolve. See the first article in the righthand column.) Aku mencintai Gergen jelas serta berani menyerang pada model ilmiah psikologi. Berikut adalah seseorang bersedia untuk menantang iman yang buta aku melihat di sekeliling saya, iman buta bahwa suatu hari psikologi eksperimental akan membuktikan semua mitos ilmiah dan muncul sebagai terhormat sebagai fisika. Gergen tulisan membuat absurditas dari kristal praduga jelas bagi saya. Lagi pula, apa yang kita belajar di psikologi adalah konstruksi sosial kita dan itu berarti setiap undang-undang kita mungkin akan menemukan sebagai berubah-ubah sebagai sebuah pergeseran kebijakan sosial secara dramatis dari waktu ke waktu. (Sedikit yang Aku tahu bahwa sudut pandang fisika akan berevolusi. Lihat artikel pertama di kolom sebelah kanan.)

Then, just a few days ago I picked up another of Gergen’s writings, a new little fresh off the press book that he recently co-authored with his articulate wife, Mary Gergen. It was like renewing my reading relationship with old friends. Their graceful attack on what almost everyone thinks they know in experimental psychology still has the swerve I like. Only this time, they have written their work so it can make sense to even the newest beginner in the field of psychology, no advance degree required, just a bit of an open mind.. Kemudian, hanya beberapa hari yang lalu saya mengambil Gergen lain dari tulisan-tulisan, yang baru segar dari buku pers bahwa ia baru-baru ini turut menulis dengan mengartikulasikan istrinya, Mary Gergen. Rasanya seperti membaca saya memperbaharui hubungan dengan teman-teman lama. Mereka anggun serangan terhadap apa yang hampir semua orang berpikir mereka tahu di psikologi eksperimental masih memiliki meliuk aku suka. Hanya saja kali ini, mereka telah menulis karya mereka sehingga dapat masuk akal bahkan untuk pemula terbaru di bidang psikologi, tidak ada tingkat kemajuan yang diperlukan, hanya sedikit pikiran terbuka ..

This is a book that postmodern psychology professors everywhere should add to the assignment list for students still too starry eyed about what they expect from psychology, but also a book that doesn’t leave the students feeling hopeless, that fosters student creativity. The Gergens are visionary. Ini adalah buku yang profesor psikologi postmodern di mana-mana harus menambahkan ke daftar tugas bagi siswa masih terlalu berbintang mata tentang apa yang mereka harapkan dari psikologi, tetapi juga sebuah buku yang tidak meninggalkan siswa merasa putus asa, yang menumbuhkan kreativitas mahasiswa. Gergens adalah Para visioner.

But best of all, from the standpoint of postmodern pedagogy, this little book brims over with good discussion topics. Tapi terbaik dari semua, dari sudut pandang postmodern pedagogi, buku kecil ini dengan brims atas topik diskusi yang baik.

You can order it click here, then page down until you find it. Anda dapat memesan itu klik di sini, kemudian halaman ke bawah sampai Anda menemukannya.

Overview of the PMTH2 Overview of the PMTH2

Class Process Kelas Proses

Lois Shawver Lois Shawver
03/24/06 03/24/06

As I said there were four teachers in last year’s online class, myself, Val Lewis , Brent Dean Robbins , and Lynn Hoffman . And there were two student apprentices, Vicki Douds and Clarke Millar. Seperti yang saya katakan ada empat guru pada tahun lalu kelas online, diriku, Val Lewis, Brent Dean Robbins, dan Lynn Hoffman. Dan ada dua siswa magang, Vicki Douds dan Clarke Millar.

Most of the class consisted of conversation between all of us that was focused around discussion topics that were posted each week. Sebagian besar terdiri dari kelas percakapan antara semua dari kita yang terfokus di sekitar diskusi topik yang sedang diposting setiap minggu. In addition, each student wrote three short papers. Selain itu, setiap siswa menulis tiga surat-surat pendek.

To prepare these papers, the apprentices read the discussions happening on PMTH and they also selected and interviewed a person from the PMTH online community whose postings on PMTH they had read. Untuk mempersiapkan surat-surat tersebut, para murid membaca diskusi yang terjadi di PMTH dan mereka juga dipilih dan mewawancarai seseorang dari komunitas online yang PMTH posting di PMTH mereka baca.

With pleasure I publish Clarke Millar’s report of his interview of PMTH participant, Tony Michael Roberts, followed by Roberts on discussion of the interview. Dengan senang hati saya publikasikan Millar laporan Clarke dari wawancara PMTH peserta, Tony Michael Roberts, diikuti oleh diskusi Roberts pada wawancara.

After Roberts discussion, you will read a short essay by Vicki Douds. Setelah Roberts diskusi, Anda akan membaca esai singkat oleh Vicki Douds. This was her submission for her third assignment. Ini adalah pengajuan dirinya untuk tugas ketiga. It required students to find their own voice (expressing their own beliefs or opinions) through a reasoning process that they documented in their essay, a kind of self-reflective questioning. Ini diperlukan siswa untuk menemukan suara mereka sendiri (mengungkapkan keyakinan mereka sendiri atau opini) melalui proses penalaran yang mereka didokumentasikan dalam esai mereka, semacam reflektif diri bertanya. I think you’ll agree that Douds has done just that. Saya pikir Anda akan setuju bahwa Douds telah melakukan hal itu.

And while the other two teachers, Val Lewis and Brent Dean Robbins, were unable to include essays in this particular issue of PMTH NEWS, I want to thank each of them for their wonderful contributions to the class process. Dan sementara dua yang lainnya guru, Val Lewis dan Brent Dekan Robbins, tidak bisa menyertakan esai dalam edisi khusus ini PMTH NEWS, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masing-masing untuk kontribusi mereka yang indah untuk proses kelas.

In summary, first is the student paper by Clarke Millar describing his interview of Tony Michael Roberts. Secara ringkas, pertama adalah mahasiswa Millar kertas oleh Clarke menggambarkan wawancara Tony Michael Roberts. Then, you will read Roberts account of it. Kemudian, Anda akan membaca kisah Roberts itu. Next will be Vicki Douds written study of her ponderings of an issue, followed by Lynn Hoffman’s account of the class conversation that followed in discussion of Vicki’s paper. Berikutnya akan ditulis Douds Vicki studi ponderings nya dari sebuah isu, diikuti oleh Lynn Hoffman tentang percakapan kelas yang diikuti dalam diskusi Vicki kertas.

Interviewing Roberts Wawancara Roberts

Clark Millar Clark Millar
03/24/06 03/24/06

In May of 2005, a two-hour event occurred on the Postmodern Therapies ‘PMTH2′ online community. Pada bulan Mei 2005, dua jam peristiwa terjadi pada Terapi postmodern ‘PMTH2′ komunitas online. I was one of two students of postmodern conversation who had invited T. Michael Roberts to be a guest for this learning event. Saya adalah salah satu dari dua mahasiswa postmodern percakapan yang telah mengundang Michael T. Roberts menjadi tamu untuk acara belajar ini. Roberts is a regular contributor on the Postmodern Therapies ‘PMTH’ online community. Roberts adalah kontributor tetap pada Terapi postmodern ‘PMTH’ komunitas online. The teaching members of PMTH2 supervised the event. This report is my account of the online interview I had with our guest. Anggota pengajaran diawasi PMTH2 acara. Laporan ini adalah account saya dari wawancara online yang saya lakukan dengan tamu kami.

As background for the students conducting such an interview, the students received conversational emails from PMTH on therapy related topics. Sebagai latar belakang bagi para siswa melakukan wawancara seperti itu, para siswa diterima percakapan email dari terapi PMTH pada topik terkait. I read these emails as a silent observer and student of postmodern conversation. All of the questions I posed to Roberts during the interview were inspired by his emails to PMTH. During this period, too, I witnessed a “PMTH event.” In that event, a special guest visited PMTH for a few hours in a kind of ‘virtual’ forum. During that event PMTH members posed questions to the guest, who then responded in ‘real time’ with responsive emails. This provided the PMTH2 class I was taking with a model for interviewing our own chosen guest. Saya membaca email ini sebagai pengamat dan mahasiswa diam postmodern percakapan. Semua pertanyaan yang diajukan untuk Roberts selama wawancara itu terinspirasi oleh email ke PMTH. Selama periode ini, juga, aku menyaksikan “peristiwa PMTH.” Dalam acara itu , seorang tamu khusus mengunjungi PMTH selama beberapa jam dalam semacam ‘virtual’ forum. Selama acara PMTH anggota mengajukan pertanyaan kepada tamu, yang kemudian menjawab dalam ‘real time’ dengan responsif email. PMTH2 ini menyediakan kelas aku sedang dengan model untuk dipilih wawancara tamu kita sendiri.

For my first interview question, I noted that Roberts frequently spoke about personal issues on PMTH. Untuk pertanyaan wawancara saya yang pertama, saya mencatat bahwa Roberts sering berbicara tentang isu PMTH pribadi. As an observer, I had been reading emails that were not originally intended for me, so I was curious if Roberts considered his unintended audience when posting his messages. Sebagai seorang pengamat, saya telah membaca email yang tidak awalnya ditujukan untuk saya, jadi saya ingin tahu apakah Roberts menganggap penonton yang tidak diinginkan saat mem-posting pesan-pesannya.

Roberts said that he spoke directly to the PMTH “regulars”, and yet he had an awareness of a “wider audience”. Roberts mengatakan bahwa ia berbicara langsung kepada PMTH “pelanggan tetap”, namun ia memiliki kesadaran akan “khalayak yang lebih luas”. He expressed the opinion “that there are too many secrets in this world and that, even though one must always have some secrets, the fewer one has the better”. Roberts spoke of his love for literature, which informed his position on having a “truthful” approach to writing on PMTH. Dia mengemukakan pendapat “bahwa terdapat terlalu banyak rahasia di dunia ini dan bahwa, walaupun seseorang harus selalu memiliki beberapa rahasia, semakin sedikit seorang pun yang lebih baik”. Roberts berbicara tentang cintanya kepada sastra, yang memberitahu posisinya di memiliki ” jujur “pendekatan untuk menulis di PMTH.

I sought further clarification, and asked Roberts if he believed that the written word made it possible for people to be more honest with themselves or others. Saya mencari klarifikasi lebih lanjut, dan bertanya Roberts apakah ia percaya bahwa kata-kata tertulis memungkinkan orang untuk menjadi lebih jujur dengan diri sendiri atau orang lain. Roberts replied – “As a question about me, the answer is yes.” He illustrated his preference for writing over face-to-face contact with a metaphor: some bands prefer the recording studio to performing live. Roberts menjawab – “Sebagai pertanyaan tentang saya, jawabannya adalah ya.” Dia digambarkan ia lebih suka untuk menulis di atas muka-muka kontak dengan sebuah metafora: beberapa band lebih memilih studio rekaman untuk pertunjukan hidup.

My next question came from a part of his reply to the previous question; I had been interested in Roberts’ expressed view that his writing style had changed recently. Pertanyaan saya berikutnya berasal dari sebuah bagian dari jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, aku sudah tertarik pada Roberts ‘mengungkapkan pandangan bahwa gaya penulisan telah berubah baru-baru ini. I asked him if this change had been specific only to PMTH. I was also keen to know if there were things about PMTH that supported his change of writing style, which Roberts had previously explained was ‘concerned with capturing the flow of a moment’. Aku bertanya kepadanya apakah perubahan ini telah hanya khusus untuk PMTH. Saya juga tertarik untuk mengetahui apakah ada hal-hal tentang PMTH yang mendukung perubahan gaya penulisan, yang sebelumnya menjelaskan Roberts adalah ‘prihatin dengan menangkap aliran sejenak’.

Indeed, Roberts credited PMTH for the change in his writing style. To my amusement, he explained that when he first joined PMTH, he had taken a female pseudonym (named Anita Berber). In a subsequent reply, Roberts spoke of his fascination for Berber and mused on the human paradox of “being” and “having” bodies. However, as time went by, Roberts replaced the name Berber for his own; he found it much easier to refer directly to his own experience as T. Michael Roberts within PMTH’s unique community. Memang, Roberts dikreditkan PMTH untuk perubahan dalam gaya penulisan. Untuk saya geli, ia menjelaskan bahwa ketika ia pertama kali bergabung PMTH, ia mengambil nama samaran perempuan (bernama Anita Berber). Dalam sebuah jawaban berikutnya, Roberts berbicara tentang daya tarik untuk Berber dan renung pada paradoks manusia “menjadi” dan “memiliki” tubuh. Namun, seiring berjalannya waktu, Roberts berber diganti nama untuk dirinya sendiri, dia merasa lebih mudah untuk merujuk langsung kepada pengalamannya sendiri sebagai Michael T. Roberts dalam PMTH komunitas unik.

In one of the first emails that I had read on PMTH, Roberts had quoted Foucault – “We are all Jews and we are all Germans.” In that message, Roberts expressed that “there are at least two stories that can be told about any situation’.” Dalam salah satu email yang pertama yang saya baca di PMTH, Roberts telah dikutip Foucault – “Kita semua adalah orang-orang Yahudi dan kita semua adalah Jerman.” Dalam pesan itu, Roberts menyatakan bahwa “setidaknya ada dua cerita yang dapat menceritakan tentang apapun situasi ‘. ” At the time, I was caught by the Foucault quote, and captivated by the views Roberts expressed in the message. Pada saat itu, aku tertangkap oleh Foucault penawaran, dan terpikat oleh Roberts pandangan yang diungkapkan dalam pesan. The first part of my question asked him if one can differentiate between what is “right” and ‘wrong’; the second part of the question queried if one can “genuinely refuse to participate in wrong-doing if we are guilty of everything?” Bagian pertama dari pertanyaan saya bertanya apakah seseorang dapat membedakan antara apa yang “benar” dan “salah”; bagian kedua dari pertanyaan tanya jika seseorang dapat “benar-benar menolak untuk berpartisipasi dalam salah-lakukan jika kita bersalah dari segalanya?”

I found Roberts’ reply generous and astute. Aku menemukan Roberts ‘jawaban dermawan dan cerdas. He replied that good and evil are not real and absolute perspectives. Dia menjawab bahwa kebaikan dan kejahatan tidak nyata dan absolut perspektif. However, Roberts declared that he did consider some things evil and would certainly act on this belief. Namun, Roberts menyatakan bahwa ia mempertimbangkan beberapa hal jahat dan pasti akan bertindak berdasarkan keyakinan ini. Like Rorty , he was “always aware that historical contingency goes all the way Seperti Rorty, ia “selalu sadar bahwa kontingensi sejarah berjalan sepanjang jalan
down.” His view was that in some sense, we are all innocent and guilty. As a consequence, “evil” cannot be defined in an “absolute sense.” Roberts provided an example of his point in case – if he had been on a jury for Jack the Ripper, he would acquit “rather than saying “yes” to the criminal justice system in its current form.” From a Foucaultian perspective, Roberts maintained that “Jolly Jack” was both Jew and German. ke bawah. “Pandangannya adalah bahwa dalam beberapa hal, kita semua berdosa dan bersalah. Sebagai akibatnya,” jahat “tidak dapat didefinisikan dalam” pengertian absolut. “Roberts memberikan sebuah contoh dari titik kasus – jika ia telah berada di juri untuk Jack the Ripper, ia akan membebaskan “daripada mengatakan” ya “untuk sistem peradilan pidana dalam bentuk yang sekarang.” Dari perspektif Foucaultian, Roberts berpendapat bahwa “Jolly Jack” adalah baik Yahudi dan Jerman.

In his follow-up message, Roberts responded to my penultimate question: “Do you have any personal moral absolutes?” His answer: “Yes.” Dalam lanjutan pesan, Roberts penultima saya menjawab pertanyaan: “Apakah Anda punya moral pribadi yang mutlak?” Dia menjawab: “Ya.” Roberts’ explicit passion for his moral absolutes was not shaken even though he was aware that they are ‘products of a historical process of identity formation’. Roberts ‘eksplisit semangat untuk kemutlakan moralnya tidak terguncang meskipun ia sadar bahwa mereka adalah’ produk dari proses sejarah pembentukan identitas ‘. In homage to his discussion of Foucault, Roberts declared that “Hitler was just as passionate and just as convinced.” Dalam diskusi penghormatan kepada Foucault, Roberts menyatakan bahwa “Hitler juga sama bergairah dan sama yakin.”

My final question was related to the prevalence of labelling in therapeutic circles. Pertanyaan terakhir saya berhubungan dengan penandaan prevalensi di kalangan terapeutik. I had read several emails where Roberts spoke of labelling, and I saw an opportunity to introduce this question when he made reference to them in one other message during the event. I was interested to read Roberts’ view on the topic, and I asked him if labels could be helpful to convey meaning or improve understanding. Saya telah membaca beberapa email di mana Roberts berbicara tentang penandaan, dan aku melihat sebuah kesempatan untuk memperkenalkan pertanyaan ini ketika ia membuat rujukan kepada mereka dalam satu pesan lain selama acara. Saya tertarik untuk membaca Roberts ‘pandangan mengenai topik, dan aku bertanya kepadanya jika label bisa membantu untuk menyampaikan makna atau meningkatkan pemahaman. To illustrate, I identified myself as a social worker; I then asked Roberts if his knowing I was a social worker would better facilitate our communication. Sebagai ilustrasi, saya memperkenalkan diri sebagai seorang pekerja sosial, saya kemudian bertanya Roberts apakah tahu bahwa aku adalah seorang pekerja sosial akan lebih memudahkan komunikasi kita.

The response from Roberts was affirmative but he also acknowledged that nasty results could come from labelling, due to the expectations and justifications created around those labels. Tanggapan dari Roberts afirmatif tetapi dia juga mengakui bahwa hasil buruk bisa datang dari label, karena harapan dan pembenaran yang dibuat di sekitar orang-orang label. Roberts referred to his own personal experience of having poor eyesight, and suggested that labelling this could assist in helping his students to understand his behaviour better. Roberts merujuk kepada pengalaman pribadi memiliki penglihatan yang buruk, dan menyarankan bahwa pemberian label ini bisa membantu dalam membantu murid-muridnya untuk memahami perilaku yang lebih baik. He added that not labelling could be counter-productive, as a student who didn’t know of Roberts’ condition could get angry for raising a hand and not getting any response from him. Dia menambahkan bahwa label tidak bisa kontra-produktif, sebagai seorang mahasiswa yang tidak mengetahui Roberts kondisi bisa marah untuk mengangkat tangan dan tidak mendapatkan respon apapun darinya. In essence, Roberts’ reply was a qualified yes. Pada intinya, Roberts ‘jawabannya ya yang memenuhi syarat.

The event quickly wrapped up after this final exchange of emails. Acara dibungkus dengan cepat setelah akhir ini pertukaran email. We both expressed some regret that the event was coming to a close. Kami berdua mengungkapkan beberapa penyesalan bahwa acara ini datang ke dekat. Our final emails were mutual exchanges of good will and farewell. Email terakhir kami adalah saling pertukaran akan baik dan perpisahan.

In conclusion, I thoroughly enjoyed the opportunity to interview Roberts for the online event. Had I the opportunity to participate in another event, I would be less inclined to be as conversational as I had been with Roberts. Kesimpulannya, saya benar-benar menikmati kesempatan untuk mewawancarai Roberts untuk acara online. Seandainya aku kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara lain, saya akan lebih cenderung menjadi seperti percakapan seperti aku telah dengan Roberts. Although I enjoyed taking a conversational approach, I would enjoy offering a guest more room to impart their unique worldview. Meskipun aku menikmati mengambil pendekatan percakapan, saya akan menawarkan tamu menikmati lebih banyak ruang untuk menyampaikan pandangan dunia mereka yang unik.

Roberts Experience Roberts Pengalaman

of the PMTH2 interview dari wawancara PMTH2

Tony Michael Roberts Tony Michael Roberts
03/24/06 03/24/06

Being interviewed is as much an epistemic process as writing. Diwawancarai adalah sebesar suatu proses epistemis menulis. Both Clarke Millar and Vicki Douds did an excellent job of talking in order to listen to me. Baik Clarke Millar dan Vicki Douds melakukan pekerjaan yang sangat baik berbicara dalam rangka untuk mendengarkan aku. The result was Hasilnya
a dialogue much more lucid and coherent than any written monologue I could have composed around the same issues. dialog jauh lebih jelas dan koheren daripada monolog ditulis aku bisa terdiri sekitar masalah yang sama. Millar’s question about my writing for an audience Millar pertanyaan tentang menulis untuk khalayak
of PMTH regulars [people on PMTH who post emails the most] while knowing that there is a larger audience out there both actually and potentially brings in the whole dari PMTH tetap [orang-orang yang mengirim email PMTH paling] ketika mengetahui bahwa ada audiens yang lebih besar di luar sana benar-benar baik dan berpotensi membawa di seluruh
cluster of questions about the status of a text as something which, once composed and disseminated via whatever medium, takes on a life of its own not at all governed by the author’s original intentions. kumpulan pertanyaan tentang status teks sebagai sesuatu yang, sekali disusun dan disebarluaskan melalui media apa pun, mengambil pada kehidupannya sendiri sama sekali tidak diatur oleh pengarang asli niat.

This experience of being interviewed on PMTH2 was quite enjoyable for me. Pengalaman ini diwawancarai di PMTH2 cukup menyenangkan bagi saya. This is a little surprising given that the conversation was synchronous and, therefore, Ini sedikit mengejutkan mengingat bahwa percakapan itu sinkron dan, karenanya,
more like a face to face conversation than the asynchronous threaded dialogue that I have become accustomed to on PMTH. lebih mirip muka dengan muka percakapan dari dialog threaded asynchronous bahwa aku telah menjadi terbiasa pada PMTH. I think the experience was enjoyable because my interviewers so skillfully talked-in-order-to-listen (ie, tiotoled) to my responses. Saya pikir pengalaman itu menyenangkan karena pewawancara saya begitu ahli bicara-in-order-to-dengarkan (yaitu, tiotoled) untuk tanggapan saya. The result was a model of how therapeutic conversation ought to be conducted. Hasilnya adalah model bagaimana percakapan terapi harus dilakukan.

There has been a discussion on PMTH recently around the whole question of “not knowing” as this term is used in the CLS approach to doing therapy pioneered at the Telah ada diskusi baru-baru ini di sekitar PMTH seluruh pertanyaan tentang “tidak tahu” sebagaimana istilah ini digunakan dalam pendekatan CLS untuk melakukan terapi dirintis di
Houston Galveston Institute by Harry Goolishian and Harlene Anderson. Houston Galveston Institute oleh Harry Goolishian dan Harlene Anderson. This discussion was sparked by the posting of two very interesting papers by Peter Rober that some saw as critical of the CLS approach even though Rober’s stated intention was to develop his own ideas within the space horizoned by the seminal work done by Goolishian and Anderson. Diskusi ini dipicu oleh pengumuman dari dua makalah yang sangat menarik oleh Peter Rober bahwa sebagian melihat sebagai kritis terhadap pendekatan CLS meskipun Rober’s menyatakan niat adalah untuk mengembangkan ide-idenya sendiri dalam ruang horizoned oleh karya yang dilakukan oleh Goolishian dan Anderson. I think Millar and Douds modeled a style of being “not knowing” while at the same time structuring the dialogue through their questions in a way that made it more likely that a “unique outcome” in Michael White’s sense would occur. Saya pikir model Douds Millar dan gaya yang “tidak tahu” sementara pada saat yang sama menyusun dialog melalui pertanyaan-pertanyaan mereka dengan cara yang membuatnya lebih mungkin bahwa “hasil unik” dalam Michael White rasa akan terjadi.

Both were “not knowing” in the sense that their questions were never rhetorical but always genuine attempts to encourage me to think through and further articulate Keduanya adalah “tidak tahu” dalam arti bahwa pertanyaan-pertanyaan mereka tidak pernah retoris tapi selalu tulus usaha-usaha untuk mendorong saya untuk memikirkan dan merumuskan lebih lanjut
thoughts, feelings and commitments that I had already expressed. pikiran, perasaan dan komitmen bahwa aku sudah diungkapkan. Their asking of real questions, generated out of a sensitive awareness of my own issues and concerns Mereka mengajukan pertanyaan riil, yang dihasilkan dari kesadaran yang sensitif masalah saya sendiri dan kekhawatiran
as previously stated, provided a demonstration by example of how being “not knowing” differs from simple ignorance. seperti dinyatakan sebelumnya, memberikan demonstrasi yang dilakukan oleh contoh bagaimana menjadi “tidak tahu” berbeda dari kebodohan sederhana. “Not knowing” is not about being ignorant or “Tidak tahu” bukan berarti bodoh atau
pretending not to know things that one in point of fact does know, but about asking as few rhetorical questions as possible while asking as many questions as possible berpura-pura tidak tahu hal-hal yang satu sebetulnya tidak tahu, tapi tentang meminta sesedikit pertanyaan retoris mungkin sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin
that evoke answers that may surprise both the person asking the question and the person answering it. yang membangkitkan jawaban yang mungkin akan mengejutkan kedua orang yang mengajukan pertanyaan dan orang yang menjawabnya. Could we define a “unique outcome” as the surprisingly helpful Bisakah kita mendefinisikan sebuah “hasil unik” sebagai mengherankan membantu
answer to a “not knowing” question? jawaban untuk suatu “tidak tahu” pertanyaan?

The interview caused me to reflect more deeply on my passing observation that we are all Jews and we are all Germans (a quote I had taken from Foucault). Wawancara membuat saya untuk merenungkan lebih mendalam pada lewat pengamatan bahwa kita semua adalah orang Yahudi dan kita semua adalah Jerman (sebuah kutipan saya telah mengambil dari Foucault). I realized, Aku sadar,
while the trial of Saddam Hussein is in the news just now, that I have as much or as little doubt that Saddam Hussein ordered and condoned atrocities as I have that sementara pengadilan Saddam Hussein adalah dalam berita baru saja, bahwa saya telah sebanyak atau sedikit keraguan bahwa Saddam Hussein memerintahkan dan memaafkan kekejaman seperti yang saya punya
George W. Bush still does order and condone atrocities. George W. Bush masih ketertiban dan memaafkan kekejaman. On reflection, I also feel convinced that whatever atrocities Saddam has committed, they have nothing to do with why he is presently on trial and will have as little to do with the outcome. Pada refleksi, saya juga merasa yakin bahwa apa pun yang telah melakukan kekejaman Saddam, mereka tidak ada hubungannya dengan mengapa ia saat ini sedang diadili dan akan sedikit hubungannya dengan hasil. The atrocities we suffer as Jews very seldom flow in any obvious and direct way from the Kekejaman kita menderita sebagai orang Yahudi sangat jarang mengalir dalam setiap cara yang jelas dan langsung dari
atrocities we commit as Germans. kekejaman kita lakukan sebagai orang Jerman. The thing that makes this whole trial of Saddam such an elaborate show and such a sad farce is that not one question will be asked by anyone during the whole proceeding that is not rhetorical. Hal yang membuat seluruh pengadilan Saddam seperti pertunjukan yang rumit dan seperti lelucon yang menyedihkan adalah bahwa tidak satu pertanyaan akan ditanyakan oleh siapa pun selama seluruh proses persidangan yang tidak retoris. That is, the questioners will not be talking-in-order-to-listen to what Saddam has to say. Yaitu, para penanya tidak akan bicara-in-order-to-mendengarkan apa yang dikatakan Saddam. As I have come to think about things, the Iraqis are now seeing in their own land an American type judicial system, a system that claims to purse justice through due process, but in fact condemns to unnoticed static the information and perspective that could make sense of what the defendant has to say. Seperti Aku datang untuk memikirkan hal-hal, Irak sekarang melihat di negeri mereka sendiri sebuah sistem peradilan tipe Amerika, sebuah sistem yang mengklaim dompet keadilan melalui proses hukum, tetapi kenyataannya mengutuk untuk diperhatikan statis informasi dan perspektif yang bisa masuk akal dari apa yang terdakwa katakan.

The glory of my interview conducted by Clarke Millar and Vicki Douds was the encouragement I was given to think things through. Kemuliaan wawancara saya yang dilakukan oleh Clarke Millar dan Vicki Douds adalah aku diberi dorongan untuk memikirkan segalanya. Now that I’ve had time and Sekarang aku punya waktu dan
encouragement to think things through more, I believe that rigid labels damage us human beings by transforming any aspect of the person which does not fit the label into dorongan untuk memikirkan hal-hal melalui lebih, saya percaya bahwa label kaku kerusakan kita manusia dengan mengubah aspek apapun dari orang yang tidak sesuai dengan label ke
a kind of unnoticed static that vanishes behind the message carried by the label. If that transformation did not happen, these unnoticed aspects might be used to form a deeper, more accurate and more meaningful appraisal of the person. semacam diperhatikan statis yang hilang di balik pesan yang dibawa oleh label. Jika itu tidak terjadi transformasi, ini tidak diperhatikan aspek dapat digunakan untuk membentuk yang lebih dalam, lebih akurat dan lebih berarti penilaian orang. But the unnoticed aspect is simply filtered out, apparently, in the same manner that our minds filter out the static behind the songs we listen to on an AM radio. Namun aspek tanpa diketahui hanya disaring, tampaknya, dengan cara yang sama yang menyaring pikiran kita yang statis di balik lagu-lagu yang kita dengarkan pada radio AM. Unique outcomes are achieved when this static becomes information again that provides a basis for a new story about a life. Unik hasil yang dicapai saat statis ini menjadi informasi lagi yang menyediakan dasar untuk sebuah cerita baru tentang kehidupan. A not-knowing interview helps bring the hidden material back to life in a reflective process. Sebuah wawancara tidak-tahu membantu membawa bahan tersembunyi hidup kembali dalam proses reflektif.

In summary, this interview was great fun, and it was a great honor to be asked. Singkatnya, wawancara ini sangat menyenangkan, dan itu merupakan kehormatan besar untuk diminta.

Vicki Douds’ Study: Vicki Douds ‘Studi:
Do We Need Social Connection to Learn? Apakah Kita Perlu Sambungan Sosial untuk Belajar?

Vicki Douds Vicki Douds

3/24/06 3/24/06

Do people need a bit of social connection in order to learn from each other? Apakah orang-orang perlu sedikit hubungan sosial untuk belajar dari satu sama lain? Before the time of computers, the rule was that people sat looking at the face of the teacher as the teacher lectured. Sebelum waktu komputer, peraturan itu bahwa orang-orang duduk memandang wajah guru sebagai guru mengajar. Does that provide a sense of communication? Apakah itu memberikan rasa komunikasi?

I need to break this question into parts to be able to fully address it. Aku perlu istirahat pertanyaan ini menjadi bagian untuk dapat mengatasinya sepenuhnya. What is meant by social connection? Apa yang dimaksud dengan hubungan sosial? Does that mean contact with people? Apakah itu berarti kontak dengan orang? Like saying ‘hi’ to the neighbour in the morning when I go and get the newspaper out of the mail box? Does it mean answering the phone in the morning and taking a message for my daughter? Seperti mengatakan ‘hi’ ke tetangga di pagi hari ketika saya pergi dan mendapatkan surat kabar dari kotak surat? Apakah ini berarti menjawab telepon di pagi hari dan mengambil pesan untuk anakku? It probably does mean these interactions. Mungkin berarti interaksi ini. Both involve communicating with language and actually allowing sounds to come out of my voice box that I can recognise as verbal speech and promote verbal responses from others. Keduanya melibatkan berkomunikasi dengan bahasa dan benar-benar memungkinkan suara untuk keluar dari kotak suara saya bahwa saya dapat mengenali verbal lisan pidato dan mempromosikan tanggapan dari orang lain.

Or does it? Atau apakah itu? Am I making a social connection if I just go to the mail box and grunt at the neighbour or just wave a greeting? Apakah saya membuat koneksi sosial jika aku pergi saja ke kotak surat dan menggeram pada tetangga atau hanya gelombang ucapan? Is taking a message making a connection or is it just a response to a voice on the other end of the phone, which is not particularly interested in talking with me, but really wants to speak to my daughter. When I wake in the morning and turn on the computer and log onto PMTH, am I making a connection? Adalah mengambil pesan membuat sambungan atau itu hanya respons terhadap suara di ujung telepon, yang tidak terlalu tertarik untuk berbicara dengan saya, tapi benar-benar ingin untuk berbicara dengan putri saya. Ketika aku bangun di pagi hari dan menyalakan komputer dan masuk ke PMTH, apakah saya membuat sambungan? Am I communicating? Apakah saya berkomunikasi? Am I learning? Apakah aku belajar?

Well yes, I am, learning because I have learned how to log in to PMTH. Well ya, aku, belajar karena saya telah belajar bagaimana untuk log in ke PMTH. Yes, I am connecting when the site comes up and I recognise I am receiving mail. Ya, saya menghubungkan bila situs muncul dan aku mengenali saya menerima surat. Am I communicating? Apakah saya berkomunikasi? I am not sure about that. If I type an email and I get a reply, than yes it is connecting and communicating. But it is not face to face communication. I cannot see my lecturers or my fellow students. Saya tidak yakin tentang hal itu. Jika saya mengetik email dan saya mendapat jawaban, dari ya itu menghubungkan dan berkomunikasi. Tetapi tidak berhadapan langsung komunikasi. Saya tidak dapat melihat dosen atau sesama mahasiswa. I can only read words as they appear on the email and it is up to me as to how I interpret these words. Aku hanya bisa membaca kata-kata yang muncul di email dan terserah kepada saya mengenai bagaimana cara menginterpretasikan kata-kata ini.

This brings us back to the original question. Hal ini membawa kita kembali ke pertanyaan awal. Do we all need a bit of social connection in order to learn? Apakah kita semua membutuhkan sedikit hubungan sosial dalam rangka untuk belajar?

Individuals vary in style of thinking and learning. Individu bervariasi dalam gaya berpikir dan belajar. Thus, social connection and learning are dependent on individual variants. Dengan demikian, hubungan sosial dan pembelajaran individu bergantung pada varian. This is where, I wonder about the sense of social connection. Di sinilah, aku bertanya-tanya tentang arti hubungan sosial. Email does not allow for tone of voice, facial expressions, body language and other non-verbal forms of communication which can give up to 60% of our non verbal understanding when we are communicating, face to face. Email tidak memungkinkan nada suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan non-bentuk komunikasi verbal yang dapat memberikan hingga 60% dari non verbal pemahaman kita ketika kita berkomunikasi, muka dengan muka.

Figuratively speaking, I can liken this to bubbles blown by bubble pipes. Kiasan berbicara, saya bisa menyamakan ini ditiup oleh gelembung gelembung pipa. One can blow big bubbles and small bubbles, different coloured bubbles and some break straight away while others journey on through the air before dissolving. Satu dapat meniup gelembung besar dan kecil gelembung, gelembung berwarna berbeda dan beberapa langsung istirahat sementara yang lain perjalanan melalui udara sebelum larut. Verbal speech is like this. Pidato verbal seperti ini. Words are uttered and they journey into the air. Kata-kata yang diucapkan dan perjalanan mereka ke udara. Sometimes they connect, and sometimes they break before connecting and are lost. Kadang-kadang mereka menghubungkan, dan kadang-kadang mereka istirahat sebelum tersambung dan hilang.

To capture these bubbles, these utterances, we need to make connections. Some ways of doing this is by verbal responses, bubbles’ talking to each other’. Untuk mengambil gelembung ini, ucapan-ucapan ini, kita perlu membuat sambungan. Beberapa cara untuk melakukan hal ini adalah dengan tanggapan verbal, gelembung ‘berbicara satu sama lain’. Sometimes it is just listening to one bubble and letting it journey on. Kadang-kadang hanya mendengarkan satu gelembung dan membiarkannya perjalanan. One can also turn the bubbles into symbols of the written word and in the form of the written word these utterances become cemented as “what is written” or “what is said.” Satu bisa juga mengubah gelembung menjadi simbol-simbol kata-kata tertulis dan dalam bentuk kata-kata tertulis ucapan-ucapan ini menjadi semen sebagai “apa yang tertulis” atau “apa yang dikatakan.”

However, words can be ambiguous. Conversations can go off on tangents, miscommunication can happen so easily. What is it that provides that sense of communication? Namun, kata-kata bisa ambigu. Percakapan bisa pergi pada garis singgung, miskomunikasi bisa terjadi begitu mudah. Apa itu yang memberikan perasaan bahwa komunikasi? Is it more than connecting with computers? Apakah lebih dari menghubungkan dengan komputer? Is it more than listening to a teacher? Apakah lebih dari mendengarkan seorang guru? I feel communication is more than just listening. Aku merasa komunikasi yang lebih dari sekadar mendengarkan. Many people can connect with other people through wonderful technological advancements and many others can use these advancements and not feel a sense of social connection. Banyak orang dapat berhubungan dengan orang lain melalui kemajuan teknologi luar biasa dan banyak orang lain dapat menggunakan kemajuan tersebut dan tidak merasakan hubungan sosial.

For example, an email allows for a message to be sent and a response to be given and this to me allows for many people to experience a means of communicating without the added ambiguities of reading and interpreting social behaviours. Sebagai contoh, sebuah email memungkinkan untuk pesan yang akan dikirim dan tanggapan yang akan diberikan dan ini padaku memungkinkan bagi banyak orang untuk mengalami sebuah cara berkomunikasi tanpa tambahan ambiguitas membaca dan menafsirkan perilaku sosial. This was outlined by a teacher known to me who stated, “I have a very strong preference for communicating by e-mail. What I like about it is that email permits me to sit and compose a text. I can edit and revise this text until I am comfortable with it. I find it much easier to produce texts that feel adequate representations of who I am than to perform myself successfully in face to face interactions. Hal ini diuraikan oleh seorang guru yang dikenal kepada saya yang menyatakan, “Aku punya preferensi yang sangat kuat untuk berkomunikasi dengan e-mail. Yang saya sukai tentang itu adalah bahwa email memungkinkan saya untuk duduk dan menulis teks. Saya dapat mengedit dan merevisi teks ini sampai saya merasa nyaman dengan itu. Aku merasa jauh lebih mudah untuk menghasilkan teks yang merasa cukup representasi siapa saya daripada melakukan diriku berhasil dalam interaksi tatap muka.

Social interactions and technology, both allow for a sense of communication. Face to face connections allow for engagement not only in expressive language but the non verbal language that humans use. Interaksi sosial dan teknologi, baik memungkinkan komunikasi rasa. Tatap muka koneksi memungkinkan keterlibatan ekspresif tidak hanya dalam bahasa tetapi bahasa non verbal yang digunakan manusia. Expressive language and body language convey messages that human beings can use as tools to make connections with each other and learn from each other. Ekspresif bahasa dan bahasa tubuh menyampaikan pesan bahwa manusia dapat digunakan sebagai alat untuk membuat koneksi dengan satu sama lain dan belajar dari satu sama lain.

From the day we are born we are engaged in social connections. Sejak hari kita dilahirkan kita terlibat dalam hubungan sosial. From our first expressive smile to our first steps. Dari pertama kita tersenyum ekspresif langkah pertama kami. Next, we develop peer interactions, copying and imitating others as we rehearse new behaviour. Selanjutnya, kita mengembangkan interaksi rekan, menyalin dan meniru orang lain seperti kita berlatih perilaku yang baru. In the teenage years, we stumble awkwardly, modelling behaviour of significant others and trying out learned parts as a way of navigating the journey into adulthood. Dalam masa remaja, kita tersandung canggung, pemodelan perilaku yang signifikan orang lain dan mencoba belajar bagian-bagian sebagai cara untuk navigasi perjalanan ke masa dewasa.

How do we learn all happen if we don’t make social connections? Bagaimana kita mempelajari semua terjadi jika kita tidak membuat koneksi sosial? Can a television equip us for real life interaction? Bisakah televisi memperlengkapi kami untuk interaksi kehidupan nyata? Can a computer teach us the art of greetings, the meaning of a smile or a wave? Komputer dapat mengajarkan kita seni salam, arti dari sebuah senyuman atau gelombang? Tools of learning, such as emails and cyberspace, can connect us faster and more efficiently than other learning environments such as the standard lecture hall. Alat pembelajaran, seperti email dan dunia maya, dapat menghubungkan kita lebih cepat dan lebih efisien daripada lingkungan belajar yang lain seperti ruang kuliah standar. We are in the learning revolution with access to information of infinite means at our finger tips. Kita berada dalam revolusi pembelajaran dengan akses informasi yang tak terhingga berarti di ujung jari kita. Yes this is learning, but does it allow for the social component of learning, to hear, see, feel, the speaker and the energy that drives the words along with the message? Ya ini adalah belajar, tapi apakah hal itu memungkinkan untuk komponen sosial belajar, mendengar, melihat, merasakan, pembicara dan energi yang menggerakkan kata-kata bersama-sama dengan pesan?

In saying this to me there is a place for all types of learning, but the heart of being a social human being is the ability to acknowledge your neighbour, to greet your landlord, to ask requests and receive social support. Dengan mengatakan ini padaku ada tempat untuk semua jenis belajar, tetapi jantung menjadi manusia sosial adalah kemampuan untuk mengakui tetangga Anda, untuk menyapa pemilik rumah Anda, untuk meminta permohonan dan menerima dukungan sosial. It is this sense of social connection that I feel cannot be found in technology. This leads me to ponder if there a difference for example between a self serving coffee dispenser and an over the counter coffee order. Inilah pengertian hubungan sosial yang saya merasa tidak dapat ditemukan dalam teknologi. Hal ini membuat saya untuk merenungkan apakah ada perbedaan misalnya antara melayani diri dispenser kopi dan kopi di atas meja pesanan. That is with the dispenser there is a connection – the money goes in, one presses the button for the required coffee flavour and yahoo if it works. One coffee is delivered. Yaitu dengan dispenser ada hubungan – uang masuk, satu menekan tombol untuk rasa kopi yang diperlukan dan yahoo jika bekerja. Salah satu kopi yang diberikan. Yes that is connecting. Ya yang menghubungkan. However probably the behaviour is nonverbal, I cannot imagine a person talking to a machine in any depth, but the body language will be communicating as one waits anxiously to see if the coffee will be delivered. Namun mungkin perilaku nonverbal, aku tak bisa membayangkan seseorang berbicara dengan sebuah mesin dalam setiap kedalaman, tapi bahasa tubuh akan berkomunikasi sebagai salah satu menunggu dengan cemas untuk melihat apakah kopi akan dikirim. Either way the message is the same ‘I want a coffee,’ but the connection is very different than a human connection. Either way pesan adalah sama ‘Aku ingin minum kopi,’ tetapi sambungan ini sangat berbeda dari hubungan manusia. The dispenser predominantly involves nonverbal behaviour to form a connection while the staff to customer connection relies on the social exchange of communication. Didominasi dispenser melibatkan perilaku nonverbal untuk membentuk sambungan sementara staf untuk sambungan pelanggan bergantung pada pertukaran sosial komunikasi.

But on the flip side if the machine does not deliver, one will probably hear the individuals protesting voice as he is without what he anticipated he would be receiving. Tapi di sisi lain jika mesin tersebut tidak memberikan, salah satu mungkin akan mendengar suara orang-orang protes saat dia tanpa apa yang diperkirakan ia akan menerima. It is strange though, many people, kick these machines, curse them and so forth, yet to what avail? Sungguh aneh sekalipun, banyak orang, menendang mesin ini, mengutuk mereka dan sebagainya, namun untuk apa gunanya? The dispenser cannot talk back. Dispenser tidak bisa bicara kembali. In fact the machine has the control and it is people like me who lose control over the delivery aspect that end up looking like a ‘nutter’. Observers nearby watch and listen to frustrated people trying to get their coffee from a machine that is not connecting. Bahkan mesin memiliki kontrol dan itu adalah orang-orang seperti saya yang kehilangan kendali atas pengiriman aspek yang akhirnya tampak seperti ‘gila’. Pengamat dekat menonton dan mendengarkan frustrasi orang yang mencoba untuk mendapatkan kopi dari mesin yang tidak menghubungkan .

Many of us have diverse styles of interacting and making social connections. Maybe what matters more is what works for the people who are making the connection. If it works by email then fine. If one needs to see someone and get involved in face to face contact, than let it be so. Banyak dari kita memiliki beragam gaya berinteraksi dan membuat hubungan sosial. Mungkin yang lebih penting adalah apa yang bekerja untuk orang yang membuat sambungan. Jika bekerja dengan email, baik-baik saja. Jika orang perlu melihat seseorang dan terlibatlah dalam berhadapan kontak, daripada membiarkan hal itu begitu. What technology has allowed is a means for many people to connect with others across the world. Teknologi apa yang diizinkan adalah sarana bagi banyak orang untuk berhubungan dengan orang lain di seluruh dunia. It allows for contact and with contact there can be learning and this to me is what a sense of communication is all about. Hal ini memungkinkan untuk kontak dan kontak ada dapat belajar dan ini adalah apa yang saya rasa komunikasi adalah semua tentang.

However I feel what is needed is a bit of all our senses involved to promote optimum communication to allow for connections to be made. Namun saya merasa apa yang dibutuhkan adalah sedikit dari semua indera kita terlibat untuk mempromosikan komunikasi optimal untuk memungkinkan koneksi yang harus dibuat. But as outlined above there are always exceptions due to personal preferences. Tapi seperti diuraikan di atas selalu ada pengecualian karena preferensi pribadi. Some people have strengths in speech (written or oral), while others are not so confident in the art of verbal communication. Beberapa orang memiliki kekuatan dalam berbicara (tertulis atau lisan), sementara yang lain tidak begitu percaya diri dalam seni komunikasi verbal. Some of us need visual aids and body language to rescue us from ambiguity, while for others effective communication is distorted by the nonverbal forms of communication. Often it depends upon the context in which the conversation is being held and what is actually needed to promote connections and understanding. Beberapa dari kita membutuhkan alat bantu visual dan bahasa tubuh untuk menyelamatkan kita dari ambiguitas, sementara untuk orang lain komunikasi yang efektif terdistorsi oleh bentuk-bentuk komunikasi nonverbal. Sering kali tergantung pada konteks di mana percakapan sedang berlangsung dan apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk mempromosikan sambungan dan pengertian.

On reflection as I ponder the questions posed above, there appears to be no particular connection method that can always allow for total connection and make for a sense of communication. Refleksi pada saat aku merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas, tampaknya tidak ada metode koneksi tertentu yang dapat selalu memungkinkan untuk total koneksi dan membuat rasa untuk komunikasi. It seems to depend on the interconnection between the person delivering the message and the person receiving the message. Tampaknya tergantung pada interkoneksi antara orang yang menyampaikan pesan dan orang yang menerima pesan. In evaluating social connection in order to learn and a sense of communication, it is clear that there is only only one method that can work for all situations. Dalam mengevaluasi hubungan sosial dalam rangka untuk belajar dan rasa komunikasi, jelas bahwa hanya ada satu metode yang dapat bekerja untuk semua situasi. To capture the art of today’s means of communication there are many diverse tools as there are learning styles. Untuk menangkap seni hari ini alat komunikasi ada banyak beragam alat seperti ada gaya belajar.

When it comes to a bit of social connection in order to learn from each other… Ketika datang ke sedikit hubungan sosial untuk belajar dari satu sama lain … it therefore clearly depends on many things. karena itu jelas tergantung pada banyak hal.

THE REVOLUTION OF HOPE (Toward A Humanized Technology) By: Erich Fromm

Februari 12, 2010

ERICH FROMM
Erich Fromm adalah seorang praktisi psikoanalis dan penulis buku-buku berpengaruh seperti; The Art of Loving, Escape from Freedom, The Heart of Man, Beyond the Chains of Illusion. Lahir di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1900, ia belajar di Universitas Heidelberg dan Munich, dan di Institut Psychoanalytic di Berlin. Dia mengajar di Jerman dan Meksiko, dan di Amerika Serikat di Bennington College, Yale University, Michigan State University dan New York University.

REVOLUSI OF HOPE,
Fromm membahas masalah-masalah tertentu dari individual: masalah-masalah pemuda, yang sangat memerlukan perubahan, masalah-masalah “manusia industri modern… terperangkap dalam arti kerja dan konsumsi kompulsif”; masalah-masalah kehidupan masyarakat yang technologized politik dan moral yang korup, atau iginality dan penegasan harapan, dan berbagi keprihatinan.

Chapter I
The Crossroads
Sebuah momok baru: masyarakat mekanik, dikhususkan untuk output maksimal dan kontra prasangka yang disutradarai oleh komputer, dan dalam proses sosial manusia sedang berubah menjadi bagian dari total mesin, cukup makan dan menghibur, namun pasif, unalive, dan dengan sedikit perasaan. “bentuk baru masyarakat dalam bentuk fiksi Orwell’s 1984 dan Aldous Huxley’s Brave New World. Aspek yang paling menakutkan adalah saat kita kehilangan kontrol atas sistem kita sendiri. Kita sebagai manusia tidak memiliki tujuan kecuali produksi dan lebih banyak bersifat konsumtif. Kita terancam punah oleh senjata nuklir dan oleh ketidakpedulian dari keputusan yang bertanggung jawab.
Dalam pencarian kebenaran ilmiah, manusia menemukan pengetahuan yang digunakan untuk dominasi alam. Tapi di satu sisi penekanan pada teknik dan konsumsi material, manusia kehilangan kontak dengan dirinya sendiri, dengan kehidupan. Setelah kehilangan kepercayaan agama dan nilai-nilai humanistik terikat dengan itu, ia berkonsentrasi pada materi teknis dan nilai-nilai dan kehilangan kemampuan untuk pengalaman emosional, untuk kegembiraan dan kesedihan yang menyertai mereka.
Salah satu gejala paling berat adalah kenyataan bahwa perekonomian kita didasarkan pada produksi senjata (plus pemeliharaan pertahanan). Bahwa kita mengubah individu menjadi pasif, dan bahwa kami telah membuat birokrasi yang membuat individu merasa impoten.
Perubahan drastis dalam kehidupan manusia yang “megamachine” bahwa masyarakat baru mampu unavoid, karenanya tidak ada gunanya berdebat. Pada saat yang sama, mereka bersimpati kepada masyarakat baru, meskipun mereka mengungkapkan sedikit keraguan tentang apa yang akan dilakukan. Kesimpulannya bahwa masyarakat baru pasti menang, dalam hal probabilitas, kemungkinan untuk menang. Kemungkinan lebih besar pada kontrol sistem sosial manusia. Harapan saya dalam hal ini didasarkan pada faktor-faktor berikut:
1. Dengan memperkenalkan faktor manusia ke dalam analisis seluruh sistem, kita lebih siap untuk memahami dan menentukan dysfunctioning norma-norma ekonomi yang sehat sebagai fungsi sistem sosial untuk kesejahteraan orang-orang secara optimal. Semua ini berlaku, tentu saja, hanya jika ada kesepakatan bahwa mengembangkan dari sistem manusia secara maksimal.
2. Ideologi dan konsep telah kehilangan banyak ditraksi; tradisional klise seperti “benar” dan “kiri” atau “komunisme” dan “kapitalisme” telah kehilangan makna. Orang-orang mencari orientasi baru, filsafat baru, yang berpusat pada prioritas hidup-secara fisik dan rohani-dan bukan pada prioritas kematian.
Dalam bentuk yang paling umum, tujuannya adalah aktivasi individu, pemulihan kontrol atas sistem sosial.

Chapter II
Hope
1. Harapan Apa Tidak
Harapan adalah elemen yang menentukan dalam setiap usaha untuk membawa perubahan sosial ke arah kehidupan yang lebih besar, kesadaran, dan alasan. Objek harapan itu adalah kehidupan yang lebih lengkap, kehidupan yang lebih besar, sebuah pembebasan dari kebosanan abadi, atau untuk keselamatan; atau untuk revolusi.
Harapan pasif sangat terkait dengan bentuk umum yang digambarkan sebagai berharap. Waktu dan masa depan menjadi kategori sentral dari harapan, yang diharapkan terjadi pada saat berikutnya, hari berikutnya, tahun berikutnya, dan di dunia, bahwa harapan dapat terwujud di dunia ini.

2. Paradoks Dan Sifat Dari Harapan
Harapan adalah paradoks. Jika berharap berarti siap setiap saat, namun tidak menjadi putus asa. Orang-orang berharap untuk kenyamanan atau untuk kekerasan; orang-orang yang mengharap melihat dan menghargai semua tanda-tanda kehidupan baru dan siap setiap saat.
Kegagalan untuk membedakan harapan antara sadar dan tidak sadar adalah kesalahan, tentu saja sehubungan dengan banyak pengalaman emosional lainnya, seperti kebahagiaan, kecemasan, depresi, kebosanan, dan benci. Bahwa dalam tulisan-tulisan dari beberapa psikoanalis dan beberapa “filsuf psikoanalisis” Freud; seluruh fenomena bawah sadar yaitu, dari keinginan seksual, dan mereka menggunakan represi yang salah sebagai sinonim dengan penekanan keinginan seksual dan kegiatan.
Sebagian besar orang tidak mengakui diri mereka penakut, kebosanan, kesepian, harapan ketidakberdayaan-yang mengatakan, mereka tidak sadar dari perasaan ini. Yang penting dalam pemeriksaan harapan dan keputusasaan bukanlah apa yang dipikirkan orang tentang perasaan mereka, tetapi apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Hal ini dapat dikenali paling tidak dari kata-kata dan frase, dideteksi dari ekspresi wajah, cara berjalan, kemampuan untuk bereaksi pada sesuatu, dan mereka tidak fanatisme, yang ditunjukkan dalam kemampuan untuk mendengarkan argumen yang masuk akal.
Kita tidak hanya memahami perilaku saat ini tetapi kita juga dapat membuat asumsi yang masuk akal tentang bagaimana seseorang cenderung bertindak berdasarkan perubahan circumstances. Dalam pandangan dinamis, mengejutkan “perubahan” dalam pemikiran seseorang atau perilaku perubahan yang dapat diramalkan, diberi pengetahuan tentang struktur karakternya.
Harapan adalah suatu keadaan kesiapan batin, bahwa yang intens namun tidak-belum-menghabiskan activeness. Konsep “kegiatan” terletak pada ilusi manusia dalam masyarakat industri modern. Orang-orang sangat “aktif” bahwa mereka tidak dapat melakukan apa-apa; bahkan mengubah waktu luang. Kebanyakan orang yang berpikir mereka sangat aktif tidak menyadari fakta bahwa mereka sangat pasif meskipun mempunyai “kesibukan.” Dan mereka membayangkan diri mereka sangat aktif saat didorong oleh obsesi untuk melakukan sesuatu dalam rangka melepaskan diri dari kecemasan, mereka dihadapkan dengan diri mereka sendiri.
Harapan seiring bersifat psikis dalam kehidupan dan pertumbuhan, dicontohkan melalui pertanyaan berikut;
Apakah berbeda dengan anak yang lahir? Ia mungkin tidak memiliki kesadaran, namun kegiatannya mengungkapkan harapannya untuk dilahirkan dan untuk bernapas secara mandiri.
Apakah tidak berharap untuk menyusu pada ibunya?
Apakah bayi tidak berharap untuk berdiri tegak dan berjalan?
Apakah si sakit tidak berharap untuk sembuh, napi jadi bebas, yang lapar berharap makan?
Apakah kita tidak berharap untuk bangun ketika kita tertidur?
Apakah cinta membuat seseorang tidak menyiratkan harapan dalam potensi, dalam kapasitasnya untuk membangkitkan pasangannya?

3. Iman
Iman bukanlah bentuk keyakinan yang lemah atau pengetahuan itu bukan iman; iman adalah keyakinan tentang pengetahuan tentang kemungkinan nyata, kesadaran tentang kehamilan. Iman adalah rasional ketika mengacu pada pengetahuan yang sebenarnya belum lagi lahir, melainkan berdasarkan pengetahuan dan pemahaman.
Pernyataan bahwa iman adalah kepastian membutuhkan kualifikasi. Ini adalah kepastian tentang realitas kemungkinan-tapi bukan kepastian dalam arti tidak prediktabilitas yang terbantahkan. Ini adalah kepastian dalam hal visi manusia dan pemahaman itu bukan dalam hal kepastian hasil akhir dari realitas. Kita tidak memerlukan prediksi iman secara ilmiah. Iman didasarkan pada pengalaman hidup kita, untuk mengubah diri sendiri. Bahwa Iman dapat mengubah orang lain dari pengalaman.
Ada perbedaan penting antara rasional dan tidak rasional. Sementara iman adalah dari batin kita sendiri secara aktif dalam pikiran atau perasaan, irasional ketaatan iman yang diberikan, yang menerima sebagai sesuatu yang benar atau tidak. Elemen penting dari semua iman yang tidak rasional adalah karakter pasif, menjadi idola, seorang pemimpin, atau ideologi. Iman tidak dapat dipertahankan tanpa harapan. Harapan tidak memiliki dasar kecuali dalam iman.

4. Ketabahan
Masih ada elemen lain yang terkait dengan harapan dan iman dalam struktur kehidupan: Spinoza menyebutnya, ketabahan. Ketabahan mungkin kurang ekspresi ambigu, karena keberanian lebih sering digunakan untuk menunjukkan keberanian untuk mati daripada keberanian untuk hidup.
Ketabahan adalah kemampuan untuk menahan godaan dan iman dengan mengubah mereka dan dengan demikian menghancurkan mereka ke dalam optimisme kosong atau menjadi iman yang irasional. Aspek- aspek ketabahan antara lain: keberanian, tak kenal takut tidak takut ancaman, bahkan kematian.
Tiga hal penting dalam keberanian: Pertama, seseorang dapat menjadi takut karena ia tidak peduli untuk hidup, hidup tidak banyak berguna baginya, maka ia merasa takut ketika datang bahaya kematian, tetapi ia mungkin takut hidup. Kedua adalah bahwa orang yang simbiosis tunduk kepada berhala, baik itu seseorang, lembaga, atau sebuah ide, perintah-perintah dari berhala yang sakral; mereka jauh lebih menarik daripada perintah kelangsungan hidupnya. Ketiga adalah keberanian dapat ditemukan dalam orang yang berkembang penuh, yang terletak di dalam dirinya sendiri dan mencintai kehidupan.
Harapan dan iman pada dasarnya bergerak melampaui status quo, secara individu dan sosial. Ini adalah salah satu kualitas dari semua kehidupan yang berada dalam proses perubahan terus-menerus dan tidak pernah tetap sama pada setiap moment.


5. Kebangkitan
Kebangkitan akan menjadi salah satu ekspresi simbolik yang mungkin-bukanlah penciptaan realitas lain setelah realitas kehidupan, tetapi transformasi kenyataan ke arah kehidupan yang lebih besar. Setiap saat keberadaan menghadapkan kita dengan alternatif kebangkitan atau kematian; setiap saat kita memberikan jawaban. Jawaban ini tidak terletak pada apa yang kita katakan atau berpikir, tetapi pada apa yang kita, bagaimana kita bertindak, di mana kita bergerak.

6. Messianic Hope
Iman dan harapan telah menemukan kebangkitan dunia terhadap ekspresi klasik dalam visi mesianis para nabi. Mereka tidak ingin menjadi nabi, tetapi merasa terdorong untuk mengekspresikan suara ilmu mereka, mengatakan apa yang mereka lihat dan kemungkinan untuk menunjukkan alternatif untuk memperingatkan mereka. Semua bercita-cita untuk melakukannya. Terserah kepada masyarakat untuk mengambil peringatan serius dan untuk mengubah cara mereka, atau untuk tetap tuli dan buta-dan menderita. Bahasa kenabian selalu bahasa alternatives, pilihan, dan kebebasan; tidak pernah determinisme, baik atau buruk.
Konsep kenabian tetap hidup dan interpretasi kenabian iman Kristen telah berkali-kali menemukan ungkapan revolusioner dan “sesat” sekte; Di luar Gereja, sosialisme Marxis asli yang paling signifikan adalah ekspresi dari visi mesianis dalam bahasa sekuler, dapat rusak dan dihancurkan oleh Marx distorsi komunis. Dalam beberapa tahun terakhir unsur mesianis dalam Marxisme menemukan sejumlah sosialis humanis, terutama di Yugoslavia, Polandia, Cekoslowakia, dan Hongaria.

7. The Fraction Hope (Berharap Pecahan)
Kenyataannya respon dan reaksi terhadap menghancurkan harapan sangat berbeda-beda, tergantung pada beberapa keadaan: sejarah, pribadi, psikologis, dan konstitusional. Mayoritas orang bereaksi terhadap kekecewaan dari harapan mereka dengan penyesuaian optimisme dengan rata-rata berharap yang terbaik tanpa repot-repot untuk mengakui bahwa tidak ada yang baik tapi mungkin, sesuatu yang terburuk memang dapat terjadi. Mereka mengurangi tuntutan mereka untuk apa mereka mendapatkan impian yang berada di luar jangkauan mereka. Mereka tidak pernah merasa putus asa karena tidak ada orang lain yang merasa putus asa.
Hasil yang lain menghancurkan harapan adalah “pengerasan hati.” Biasanya reaksi kehancuran harapan destruktif dapat ditemukan di antara orang-orang, untuk alasan sosial atau ekonomi. Hal ini tidak terutama frustrasi ekonomi yang mengarah pada kebencian dan kekerasan, itu adalah keputusasaan dari situasi, yang selalu mengulangi janji-janji, yang kondusif untuk kekerasan dan merusak. Psikologis, destruktif adalah alternatif untuk harapan, seperti halnya ketertarikan kematian adalah alternatif untuk kehidupan cinta, dan sama seperti sukacita adalah alternatif untuk kebosanan.
Catatan harus diambil dari kenyataan bahwa perkembangan harapan atau putus asa dalam suatu individu sangat ditentukan oleh adanya harapan atau putus asa di dalam masyarakat. Namun harapan individu hancur mungkin di masa kanak-kanak, jika ia tinggal di masa harapan dan iman, harapan sendiri akan dikobarkan, di sisi lain, orang yang memiliki pengalaman akan menuntun dia untuk berharap cenderung menjadi depresi dan putus asa ketika masyarakat telah kehilangan semangat harapan. Apa pun yang kita katakan tentang harapan, ketidakmampuan kita untuk bertindak atau rencana untuk mengkhianati hidup keputusasaan kita.

Chapter III
Where Are We Now and Where Are We Headed?
(Dimana dan kemana kita sekarang?)

1. Di mana kita sekarang?
Kita tidak dalam perjalanan ke individualisme yang lebih besar, tetapi menjadi massa yang semakin dimanipulasi peradaban. Kami tidak dalam perjalanan ke tempat-tempat ke arah mana peta ideologis kita mengatakan bahwa kita sedang bergerak. Yang paling penting bahwa kita telah melewati tahap pertama Revolusi Industri dan telah mulai periode kedua Revolusi Industri.
Revolusi Industri yang pertama dicirikan oleh kenyataan bahwa manusia telah belajar untuk menggantikan energi hidup (dari hewan dan manusia) oleh energi mekanik (dari uap, minyak, listrik, dan atom). Terkait dengan potensi industri baru sebagai jenis organisasi industri tertentu, yang bersaing satu sama lain, dan dieksploitasi untuk mencari keuntungan. Eksploitasi populasi kulit putih dengan reformasi domestik, semakin bermurah hati terhadap orang miskin, dan akhirnya, pada paruh abad pertama munculnya kelompok pekerja dari kemiskinan bukan untuk hidup yang relatif nyaman.
Revolusi Industri pertama sedang diikuti oleh Revolusi Industri kedua, awal yang kita saksikan pada saat ini. Kenyataan bahwa hidup tidak hanya energi telah digantikan oleh energi mekanis, pemikiran manusia sedang ditempatkan oleh pemikiran mesin. Cybernetics dan otomatisasi (“cybernation”) memungkinkan untuk membangun fungsi mesin yang jauh lebih tepat dan jauh lebih cepat daripada otak manusia untuk tujuan teknis dan organisasional.
Cybernation menciptakan kemungkinan jenis ekonomi baru dan organisasi sosial. Sejumlah perusahaan raksasa telah menjadi pusat mesin ekonomi dan akan memerintah sepenuhnya dalam waktu yang tidak terlalu lama di masa depan.

2. Visi Dari Masyarakat Manusiawi Tahun 2000
Visi tahun 2000 adalah bahwa ia akan menjadi realisasi penuh aspirasi manusia sejak akhir Abad Pertengahan, dan mereka tidak melihat bahwa tahun 2000 mungkin tidak bahagia dan puncak di mana manusia berjuang untuk kebebasan dan kebahagiaan, melainkan awal dari suatu periode di mana manusia tidak lagi menjadi manusia dan berubah menjadi mesin secara membabi buta dan tidak berperasaan. Bahayanya merendahkan martabat masyarakat yang baru sudah jelas diakui oleh pikiran intuitif dalam abad kesembilan belas, dan itu menambah kesan visi bahwa mereka adalah orang-orang yang berlawanan kamp politik. Seorang konservatif Disraeli dan sosialis seperti Marx berpendapat mengenai bahaya pada manusia mengakibatkan pertumbuhan produksi konsumsi yang tidak terkendali.
Pertama kalinya megamachine digunakan pada skala besar di zaman modern, dalam sistem Stalinis industrialisasi, dan setelah itu, dalam sistem yang digunakan oleh Komunisme Cina. Sementara Lenin dan Trotsky masih berharap bahwa Revolusi akhirnya mengarah pada penguasaan masyarakat dengan individu, seperti Marx membayangkan, Stalin mengkhianati apa pun yang tersisa dari harapan dan pengkhianatan oleh kepunahan fisik semua orang dalam harapan yang tidak sepenuhnya. Para pemimpin Komunis di China dihadapkan dengan situasi yang berbeda.

3. The Present Technological Society
a. Prinsip; Prinsip pertama adalah pepatah bahwa sesuatu harus dilakukan karena secara teknis dimungkinkan untuk melakukannya. Prinsip ini berarti negasi dari semua nilai yang telah mengembangkan tradisi humanis. Tradisi ini mengatakan bahwa sesuatu harus dilakukan karena dibutuhkan untuk manusia, untuk pertumbuhan, sukacita, dan alasan, karena cantik, baik, atau benar. Prinsip kedua adalah bahwa efisiensi maksimal dan output. Persyaratan efisiensi maksimal sebagai konsekuensi mengarah pada persyaratan minimal individualitas.
Jika kita mempertimbangkan metode apa yang diberikan dilakukan kepada manusia dalam sistem, kita dapat menemukan bahwa mereka merasa bosan, cemas, depresi, tegang, dll. Hasilnya akan menjadi dua kali lipat:
1. Imajinasi mereka akan tertatih-tatih oleh patologi psikis mereka, mereka tidak kreatif, pemikiran mereka akan menjadi rutin dan birokrasi, dan karenanya mereka tidak menemukan ide-ide baru dan solusi yang akan memberikan kontribusi untuk perkembangan sistem yang lebih produktif; energi mereka akan jauh menurun.
2. Mereka akan menderita penyakit fisik, yang merupakan hasil dari stres dan ketegangan; kerugian di bidang kesehatan ini juga merupakan kerugian bagi sistem. Selain itu, jika kita memeriksa ketegangan dan kecemasan mereka dalam hubungan dengan istri dan anak-anak mereka, dan bertanggung jawab terhadap fungsi mereka sebagai warga negara, ternyata bahwa untuk sistem secara keseluruhan metode yang paling efisien menjadi tidak efisien, tidak hanya dalam pengertian manusia, tetapi hanya diukur dengan kriteria ekonomi.

b. Its Effect on Man (Pengaruh di Manusia)
Ketidakpedulian manusia dalam masyarakat industri saat ini adalah salah satu yang paling khas. Ia ingin diberi makan, tetapi dia tidak bergerak, memulai, dia seolah-olah tidak mencerna makanannya. Ketidakpedulian manusia hanyalah salah satu gejala di antara total sindrom, yang satu dapat menghubungi “sindrom keterasingan.” Menjadi pasif, ia tidak berhubungan dengan dirinya kepada dunia secara aktif dan dipaksa untuk menyerahkan kepada berhala dan tuntutan mereka. Oleh karena itu, ia merasa tak berdaya, kesepian, dan cemas. Dia memiliki sedikit rasa integritas atau identitas diri. Kesesuaian tampaknya menjadi satu-satunya cara untuk menghindari kecemasan tak tertahankan dan bahkan tidak meringankan kecemasan.
Rasionalitas dalam kehidupan emosional berarti bahwa emosi menegaskan dan membantu orang struktur psikis untuk menjaga keseimbangan yang harmonis dan pada saat yang sama untuk membantu pertumbuhannya. Rasional cinta adalah cinta seseorang yang berhubungan erat dengan yang lain, yang sama menjaga integritas dan kemandiriannya.
Alasan mengalir dari campuran pikiran rasional dan perasaan. Jika kedua fungsi terkoyak, berpikir memburuk menjadi aktivitas intelektual skizoid, dan merasa neurotik menjadi nafsu yang merusak. Perpecahan antara pikiran dan mempengaruhi mengarah pada suatu penyakit, untuk kelas rendah skizofrenia kronis, dari mana manusia baru dari usia technetronic mulai menderita. Diasumsikan bahwa objektivitas ilmiah menuntut bahwa teori mengenai pikiran dan manusia dikosongkan dari semua perhatian emosional dengan manusia.
Pengalaman skizofrenia melebihi ambang batas tertentu akan dianggap sebagai penyakit dalam masyarakat, karena mereka yang menderita itu tidak akan bisa berfungsi dalam situasi sosial apapun (kecuali jika penderita skizofrenia terangkat ke status dewa, dukun, kudus, pendeta, dll ). Tapi ada tingkat rendah bentuk psikosis kronis yang dapat dipakai oleh jutaan orang karena mereka tidak melampaui batas tertentu dari fungsi sosial. Selama mereka berbagi sakit dengan jutaan orang lain, mereka merasa tidak sendirian; dengan kata lain, mereka terhindar dari perasaan terisolasi. Sebaliknya, mereka memandang diri mereka normal yang belum kehilangan hubungan antara hati dan pikiran “gila.”
Salah satu gejala dari atraksi adalah semakin meningkatnya popularitas, di antara beberapa ilmuwan dan publik, bahwa hal itu memungkinkan untuk membangun komputer yang tidak berbeda dari kemampuan manusia dalam berpikir, atau fungsi aspek lainnya. Mengapa ide ini menjadi begitu populer dalam periode sejarah ketika tidak ada yang lebih penting daripada yang ada untuk mengubah manusia menjadi yang lebih rasional, harmonis, dan cinta damai. Orang tidak dapat menahan rasa curiga bahwa sering kali daya tarik komputer adalah ekspresi dari kehidupan dan dari pengalaman manusiawi ke mekanik dan otak murni.
Kemungkinan kita dapat membuat robot seperti orang di masa depan. Tapi sekarang orang-orang bertindak seperti robot. Ketika sebagian besar orang seperti robot, maka tidak akan ada masalah dalam membangun robot. Ide tentang komputer adalah contoh alternatif yang baik antara manusia dan penggunaan mesin tidak manusiawi. Komputer dapat melayani peningkatan kehidupan dalam banyak hal.
Pesona mekanik dilengkapi oleh meningkatnya popularitas konsep-konsep yang menekankan sifat binatang manusia dan akar-akar naluriah emosi atau tindakan. Seperti naluriah psikologi Freud, tetapi pentingnya konsep libido adalah sekunder dibandingkan dengan penemuan yang mendasar dari proses tak sadar dalam kehidupan.
Jika mimpi dapat dipenuhi, masalah kebebasan manusia dan tanggung jawab tampaknya akan menghilang. Perasaan manusia akan menghalangi nalurinya, alasannya; laki-laki tidak harus memberikan jawaban atas pertanyaan keberadaannya. Apakah orang menyukai mimpi atau tidak, realisasinya adalah mustahil; otak komputer yang tidak lagi menjadi manusia.
Di antara masyarakat efek teknologi patogenik atas manusia, dua lagi harus disebutkan: hilangnya privasi dan kontak manusia secara pribadi. Ketika semua kualifikasi ini dibuat, privasi nampaknya masih menjadi syarat penting bagi produktif seseorang. Orang akan takut “salah”; mereka akan menjadi lebih mudah mengakses manipulasi psikologis, melalui tes psikologi, mencoba untuk menetapkan norma-norma “diinginkan,” “normal,” “sehat”. Menimbang bahwa tes ini diterapkan dalam rangka membantu perusahaan dan instansi pemerintah untuk menemukan orang-orang “terbaik”, penggunaan tes psikologi, yang sekarang secara umum untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, merupakan suatu pelanggaran berat pada kebebasan warga negara. Sejumlah besar psikolog mengabdikan pengetahuan untuk kepentingan organisasi dan mempertimbangkan efisiensi. Jadi, psikolog menjadi bagian penting dari industri dan sistem pemerintahan sambil menyatakan bahwa kegiatan mereka melayani pengembangan manusia yang optimal.

c. Kepastian Kebutuhan
Pada awalnya, ilmu pengetahuan sepertinya mampu memberikan kepastian baru. Namun, dengan semakin meningkatnya kompleksitas kehidupan, yang kehilangan semua proporsi manusia, isolasi individu, yang berorientasi tidak lagi menjadi manusia rasional dan independen. Ia kehilangan untuk membuat keputusan atas dasar komitmen intelektual dan emosional untuk hidup. Ia ingin menukar “kepastian tidak menentu”, yang dapat memberikan pemikiran rasional untuk sebuah “kepastian yang mutlak”: dugaan “ilmiah” kepastian, berdasarkan prediktabilitas. Kepastian ini dijamin bukan oleh manusia itu sendiri pengetahuan dan emosi tidak dapat diandalkan tetapi oleh komputer yang memungkinkan prediksi dan menjadi penjamin kepastian.
Yang ideal adalah bahwa semua kebijakan luar negeri dan strategi militer didasarkan pada keputusan komputer, dan ini berarti bahwa semua fakta diketahui, dipertimbangkan, dan dibuat tersedia bagi komputer. Dengan metode ini, keraguan menjadi dikecualikan, walaupun bencana ini tidak berarti harus dihindari. Tetapi jika bencana benar-benar terjadi setelah keputusan diambil berdasarkan yg tak diragukan lagi “fakta,” itu adalah seperti tindakan Allah, yang satu harus menerima, karena manusia tidak dapat berbuat lebih banyak daripada membuat keputusan terbaik dia tahu bagaimana membuatnya.
Ada satu kualifikasi yang harus dibuat: baik keputusan keagamaan, yang merupakan kehendak Tuhan dan keputusan komputer, berdasarkan iman dalam logika “fakta,” adalah bentuk-bentuk keputusan terasing di mana manusia menyerah sendiri wawasan, pengetahuan, penyelidikan, dan tanggung jawab untuk berhala, baik itu Allah atau komputer. Komputer dapat membantu manusia dalam memvisualisasikan beberapa kemungkinan, tapi keputusan tidak dibuat untuk dia, bukan hanya dalam arti bahwa ia dapat memilih antara berbagai model, tetapi juga dalam arti bahwa ia harus menggunakan akal sehatnya, berhubungan dengan dan merespon kenyataan yang dia transaksi, dan memancing dari komputer fakta-fakta yang relevan dari sudut pandang akal, dan itu berarti dari sudut pandang mempertahankan dan memenuhi sifat hidup manusia.
Kita harus mengarahkan diri kita untuk pertanyaan, Apa yang salah jika komputer memberi kita semua fakta, komputer dapat membuat keputusan terbaik untuk kegiatan mendatang? Apa fakta? Dalam diri mereka, bahkan jika benar dan tidak diselewengkan oleh pribadi atau bias politik, fakta-fakta tidak hanya dapat menjadi tidak berarti, mereka bisa tidak benar, mengambil perhatian yang relevan, atau menyebarkan dan memecah-belah seseorang berpikir begitu banyak yang satu kurang mampu membuat keputusan yang lebih bermakna “informasi” yang telah diterima. Kesadaran adalah syarat membuat penggunaan fakta-fakta rasional. Sebuah pernyataan tentang fakta-fakta penting telah dibuat oleh Whitehead. “Dasar dari semua otoritas,” tulisnya dalam The Function of Reason, “adalah fakta atas supremasi berpikir.
Secara singkat, “fakta” adalah interpretasi peristiwa, dan penafsiran mengandaikan kekhawatiran tertentu acara relevansi. Pertanyaan yang krusial adalah menyadari apa yang dikhawatirkan adalah fakta-fakta apa yang relevan. Apakah teman, atau seorang detektif, atau hanya seorang pria yang ingin melihat pria total dalam kemanusiaan? Selain menyadari keprihatinan saya, saya harus tahu semua detail tentang episode-dan kemudian mungkin rincian tidak akan memberitahu saya bagaimana mengevaluasi. Akhirnya itu harus dinyatakan bahwa fakta sangat memutuskan untuk memilih peristiwa-peristiwa tertentu sebagai fakta memiliki efek pada diri sendiri. Dengan keputusan ini kami telah berkomitmen diri untuk bergerak dalam arah tertentu, dan komitmen ini kita menentukan pilihan lebih jauh fakta-fakta. Hal yang sama berlaku bagi lawan kita. Mereka juga dipengaruhi oleh pilihan fakta mereka sendiri, dan juga oleh kita. Tetapi tidak hanya fakta-fakta itu sendiri dipilih dan disusun berdasarkan nilai-nilai, sedangkan programing dari komputer tidak didasari nilai-nilai. Prinsip bahwa semakin banyak kita menghasilkan yang lebih baik merupakan suatu pertimbangan nilai. Ilusi kepastian keputusan komputer, berbagi oleh sektor besar masyarakat dan oleh banyak pengambil keputusan, terletak pada asumsi yang keliru;
(a) bahwa fakta-fakta yang objektif “kodrat,” dan
(b) bahwa program norma adalah gratis.

CHAPTER IV
WHAT DOES IT MEAN TO BE HUMAN?

1. Berbagai Manifestasi Alam Dan Manusia
Manusia telah didefinisikan sebagai Homo sapiens, tetapi dalam definisi ini semua tergantung pada apa yang dimaksud sapiens. Menggunakan pikiran untuk tujuan bertahan hidup yang lebih baik dan cara untuk mencapai apa yang kita inginkan, dan ada perbedaan antara manusia dan hewan. Namun, jika salah satu sarana sapiens pengetahuan dalam arti mencoba untuk memahami suatu fenomena, pemikiran yang “benar-benar nyata,” bukan untuk memanipulasi, melainkan untuk memahami, maka Homo sapiens akan, menjadi definisi benar.
Dua definisi yang lain : 1) Homo begans: orang yang dapat mengatakan “tidak”, meskipun kebanyakan orang mengatakan “ya” ketika kelangsungan hidup mereka atau keuntungan mereka memerlukannya. Dari sudut pandang statistik pada perilaku manusia, manusia harus disebut. Tapi dari sudut pandang potensi manusia, manusia dibedakan dari binatang dengan kemampuannya untuk mengatakan “tidak,” oleh pengakuan kebenaran, cinta, integritas, bahkan dengan mengorbankan keselamatan fisik. 2) Homo exsperans; Jika manusia telah memberikan semua harapan, dia telah memasuki gerbang neraka, apakah dia tahu atau tidak, dan dia telah meninggalkan kemanusiaan sendiri.
Sikap skeptis terhadap kemungkinan untuk membuat pernyataan terakhir tentang sifat manusia memiliki karakter ilmiah, yang menarik kesimpulan dari mengamati fakta-fakta, kesimpulan yang benar terlepas dari kenyataan bahwa motivasi untuk menemukan kehidupan yang lebih bahagia, sebaliknya, Whitehead mengatakan: “Fungsi of Reason adalah untuk mempromosikan seni kehidupan.”

2. Syarat-Syarat Eksistensi Manusia
Ada dua syarat; Pertama, penurunan determinisme insting yang lebih tinggi kita masuk hewan evolusi, mencapai titik terendah dalam manusia, pada kekuatan yang determinisme insting bergerak menuju nol. Kedua, peningkatan luar biasa dalam ukuran dan kompleksitas otak dibandingkan dengan berat badan, pada paruh kedua Pleistocene. Neokorteks ini adalah dasar bagi kesadaran, imajinasi, dan semua fasilitas seperti pidato dan simbol yang mencirikan keberadaan manusia.
Manusia dilahirkan sebagai keanehan alam. Dia harus menemukan prinsip-prinsip tindakan dan pengambilan keputusan yang menggantikan prinsip-prinsip naluri. Dia harus memiliki kerangka orientasi yang memungkinkan dirinya untuk konsisten di dunia. Dia harus berjuang tidak hanya melawan bahaya kematian, kelaparan, dan disakiti, tetapi juga melawan bahaya lain yang secara khusus.
Memang, pria hampir dapat melakukan apa pun, atau, mungkin lebih baik, tatanan sosial hampir dapat melakukan apa pun pada manusia. Bahkan jika tatanan sosial dapat melakukan segala sesuatu kepada manusia-kelaparan, menyiksa dia, memenjarakannya, atau tidak dapat dilakukan tanpa konsekuensi tertentu yang mengikuti kondisi-kondisi eksistensi manusia. Jika manusia benar-benar kehilangan semua rangsangan dan kenikmatan, akan menjadi tidak mampu melakukan pekerjaan, tentu harus terampil bekerja. Jika ia tidak benar-benar miskin, ia akan cenderung memberontak jika Anda membuat dia menjadi seorang budak, ia akan cenderung kehilangan semua kreativitas jika Anda membuat dia menjadi sebuah mesin. Manusia dalam hal ini tidak berbeda dari binatang atau dari materi tak bernyawa.

3. Kebutuhan Frames Of Orientasi Dan Pengabdian
Kondisi-kondisi eksistensi manusia akan memerlukan penyerahan diri bahkan jika kita mengabaikan masa lalu hewani kita sepenuhnya. Manusia memiliki kepentingan yang berkaitan dengan realitas, menyentuh bumi dengan kakinya, seperti dalam legenda Yunani Antaeus; laki-laki lebih kuat yang berhubungan dengan kenyataan. Setiap perubahan dalam pola sosial mengancam dia dengan intens ketidakamanan dan bahkan kegilaan karena seluruh hubungan dengan realitas yang ditengahi oleh realitas fiktif yang disajikan kepadanya. Semakin banyak ia dapat menangkap realitas sendiri dan bukan hanya sebagai masyarakat, semakin aman karena ia merasa kurang tergantung pada konsensus dan kurang terancam oleh perubahan sosial.
Proses peningkatan kesadaran tidak lain adalah proses kebangkitan, seseorang membuka mata dan melihat apa yang di depan. Kesadaran berarti melakukan jauh dengan ilusi dan itu adalah proses pembebasan. Manusia tidak hanya memiliki pikiran dan sangat memerlukan kerangka orientasi yang memungkinkan dirinya untuk membuat beberapa rasa dan structuralize di sekelilingnya, ia juga memiliki hati dan tubuh yang terikat secara emosional kepada alam. Keterpisahan manusia saya sebut sebagai “ikatan primer” dan penting bagi bayi dalam hubungannya kepada ibunya ketika kita mempelajari ibadat-ibadat primitif dari penyembahan terhadap tanah, danau, pegunungan, atau binatang, disertai dengan identifikasi simbolik individu (totem binatang).
Pada skala sosial, visi baru ini diungkapkan dari tengah milenium kedua dalam sejarah manusia. Solusi bagi eksistensi manusia tidak lagi dicari di kembali ke alam maupun dalam ketaatan pada figur ayah, tapi dalam visi baru bahwa manusia dapat merasa di rumah dan mengatasi rasa kesepian yang menakutkan, bahwa ia dapat mencapai ini oleh perkembangan dari kekuatan manusia, dari kemampuannya untuk mencintai, untuk menggunakan alasan, untuk menciptakan dan menikmati keindahan, untuk berbagi kemanusiaan dengan sesama manusia.
Buddhisme, Yudaisme, dan Kristen mengklaim pro visi baru ini.
Ikatan baru yang memungkinkan manusia untuk merasa satu dengan semua orang pada dasarnya berbeda dari pengajuan-ikatan ayah dan ibu; itu adalah ikatan persaudaraan yang harmonis di mana solidaritas dan ikatan manusia tidak vitiated oleh pembatasan kebebasan, baik emosional atau intelektual. Ini adalah alasan mengapa solusi brotherliness bukan salah satu preferensi subjektif. Ini adalah satu-satunya yang memenuhi dua kebutuhan manusia: menjadi saling berhubungan dan pada saat yang sama untuk bebas, untuk menjadi bagian dari keseluruhan dan untuk menjadi mandiri.

4. Kelangsungan Hidup Dan Trans-Kebutuhan
Manusia mempunyai kebutuhan tubuh pada dasarnya sama dengan hewan, ia berjuang untuk bertahan hidup secara fisik, walaupun ia tidak memiliki naluri, karakter reflex yang lebih dikembangkan pada hewan. Jika manusia merasa puas untuk menghabiskan hidupnya, dengan mencari nafkah, tidak akan ada masalah. Namun, hal itu merupakan bagian dari kondisi manusia bahwa manusia tidak puas.
Kelaparan dan seks, sebagai fenomena fisiologis, termasuk dalam lingkup bertahan hidup. (Sistem psikologis Freud menderita dari kesalahan utama yang merupakan bagian dari materialisme mekanistik pada masanya dan yang menuntunnya untuk membangun sebuah psikologi pada drive mereka yang melayani kelangsungan hidup.) Tetapi manusia mempunyai nafsu yang secara khusus dan melampaui fungsi kelangsungan hidup.
Dinamika sifat manusia adalah kebutuhan untuk mengekspresikan kemampuannya dengan dunia daripada menggunakan dunia sebagai sarana untuk kebutuhan fisiologis. Ini berarti: karena aku punya mata, aku memiliki kebutuhan untuk melihat; karena aku punya telinga, aku memiliki kebutuhan untuk mendengar; karena aku punya pikiran, saya memiliki kebutuhan untuk berpikir; dan karena aku punya hati, aku perlu merasa. Singkatnya, karena saya seorang laki-laki, saya membutuhkan manusia dan dunia. Marx membuat sangat jelas apa yang dimaksud dengan “daya manusia” yang berhubungan dengan dunia dalam cara yang penuh gairah: “Nya hubungan manusia kepada dunia-melihat, mendengar, mencium, merasakan, menyentuh, berpikir, mengamati, perasaan, keinginan, akting, cinta-di mana semua organ-organ kepribadiannya adalah… ekspresi aktif (Betaetig) dari realitas manusia … Dalam prakteknya aku hanya bisa mengaitkan diri untuk suatu hal ketika terkait dalam cara kepada manusia.”
Man’s drive, karena mereka adalah trans-utilitarian, adalah ungkapan khusus yang fundamental dan kebutuhan manusia: kebutuhan untuk berhubungan dengan manusia dan alam dan untuk mengkonfirmasi dirinya dalam keterkaitan ini.
Setiap masyarakat dan setiap orang memiliki ritme tertentu di mana kedua bentuk kehidupan membuat penampilan mereka. Yang penting adalah kekuatan relatif yang masing-masing yang satu mendominasi yang lain. Keaktifannya pada kelangsungan hidup adalah satu panggilan, atau semua kegiatan yang berkaitan dengan kultus, ritual, dan seni. Pikiran juga muncul dalam dua bentuk, satu porsi fungsi kelangsungan hidup dan satu porsi fungsi pengetahuan dalam arti pemahaman dan intuisi.
Pikiran sadar kita adalah bahwa jenis pemikiran, dihubungkan dengan bahasa, yang mengikuti kategori-kategori pemikiran sosial terpatri dalam pemikiran kita dari anak usia dini. Kesadaran kita pada dasarnya adalah kesadaran fenomena seperti penyaring sosial yang terdiri dari bahasa, logika, dan tabu memungkinkan kita untuk menjadi sadar. Mereka fenomena yang tidak lolos filter sosial tetap sadar atau, lebih tepat berbicara, kita tidak mengetahui segala sesuatu yang tidak dapat menembus kesadaran kita, karena blok filter sosial yang masuk. Ini adalah alasan mengapa kesadaran ditentukan oleh struktur masyarakat. Namun, pernyataan ini hanya deskriptif.
Kasus yang paling terkemuka di mana manusia tidak harus menerima kategori sosial dari masyarakat adalah ketika dia tidur. Tidur adalah keadaan diri di mana manusia bebas dari kebutuhan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Sementara dia terjaga, dia sangat ditentukan oleh fungsi kelangsungan hidup, sementara ia tertidur, ia adalah orang bebas. Akibatnya, pikirannya tidak tunduk pada kategori pemikiran dari masyarakat dan menunjukkan bahwa kreativitas khas yang kita temukan di dalam mimpi. Dalam mimpi, manusia menciptakan simbol-simbol dan memiliki wawasan ke dalam sifat kehidupan dan kepribadian sendiri yang tidak mampu memiliki sementara ia adalah makhluk sibuk dengan mengumpulkan makanan dan pertahanan. Seringkali, memang, kurangnya kontak dengan realitas sosial dapat menyebabkan dia memiliki pengalaman dan pikiran yang kuno, primitif, ganas, tetapi bahkan mereka adalah otentik dan mewakili dirinya daripada pola pikir masyarakat.
Itulah sebabnya penemuan penafsiran mimpi Freud, meskipun ia memandang pada dasarnya untuk ditekan naluri seksual, telah membuka jalan bagi pemahaman yang uncensored kemanusiaan dalam diri kita. (Kadang-kadang anak-anak, sebelum mereka telah cukup diindoktrinasi oleh proses pendidikan, dan psikotik yang telah mengeraskan semua hubungan dengan dunia sosial nyata wawasan dan kreatif kemungkinan-kemungkinan artistik yang diadaptasi dewasa tidak dapat sembuh.)
Tapi mimpi hanya kasus khusus yang trans-kehidupan kelangsungan hidup manusia. Ekspresi utamanya adalah dalam ritual-ritual, simbol, lukisan, puisi, drama, dan musik.
Di sinilah letak hubungan antara keindahan dan kebenaran. Kecantikan bukanlah lawan dari “jelek,” tapi dari “false”; itu adalah pernyataan sensorik suchness dari sesuatu atau seseorang. Untuk menciptakan keindahan mengandaikan, dalam hal Buddhisme Zen berpikir, keadaan pikiran di mana seseorang telah mengosongkan diri dalam rangka untuk mengisi diri dengan apa yang menggambarkan sehingga orang menjadi itu. “Beautiful” dan “jelek” konvensional hanyalah kategori yang berbeda-beda dari kebudayaan ke kebudayaan.

5. ” Pengalaman Manusiawi “
Setiap ilmu pengetahuan, neurofisiologi maupun psikologi, memiliki metode dan tentu akan berurusan dengan masalah-masalah dalam perkembangan ilmiah. Tugas psikolog untuk menantang neurofisiologi, untuk mengkonfirmasi atau menyangkal temuan-temuan, tugas yang harus menyadari kesimpulan neurofisiologis untuk dirangsang dan ditantang oleh mereka. Ilmu, psikologi dan neurofisiologi, harus mengembangkan dan relatif mandiri namun tetap berhubungan erat satu sama lain, saling menantang dan merangsang.
Dalam non-perasaan serakah, manusia tidak digerakkan, dia tidak pasif, tetapi ia bebas dan aktif. Keserakahan termotivasi dalam dua cara:
(1) Ketidakseimbangan fisiologis yang menghasilkan keinginan serakah untuk makanan, minuman, dan lain-lain kebutuhan fisiologis Setelah puas, keserakahan berhenti, kecuali ketidakseimbangan yang kronis.
(2) Ketidakseimbangan psikologis, dengan meningkatnya kegelisahan, kesepian, ketidakamanan, kurangnya identitas, oleh keinginan; untuk makanan, kepuasan seksual, kekuasaan, ketenaran, properti, dll.
Jenis keserakahan pada prinsipnya, tak pernah puas, kecuali kecemasan, berhenti atau berkurang. Tipe keserakahan; 1) adalah reaktif terhadap keadaan, 2) adalah karakter yang melekat pada struktur. Perasaan yang rakus sangat egosentris; kelaparan, haus, atau hasrat seksual, orang yang serakah menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri secara eksklusif, hanya untuk tujuannya sendiri.
Dalam perasaan nongreedy, ada sedikit egosentrisme. Pengalaman tidak diperlukan untuk mempertahankan hidup seseorang, untuk menghilangkan kecemasan, atau untuk memenuhi atau meningkatkan ego seseorang, tetapi tidak melayani ketegangan yang kuat, tetapi dalam arti bertahan hidup atau menenangkan kecemasan.
Kita dapat membahas beberapa “pengalaman manusiawi” tanpa mengklaim deskripsi berikut. Terkait nongreedy hasrat seksual yang berbeda dari itu adalah kelembutan. Freud, kelembutan sebagai hasil dari dorongan seksual, sebagai tujuan-menghambat hasrat seksual. Teori ini diperlukan, tetapi cenderung menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah sebuah fenomena yang dapat dijelaskan sebagai tujuan-menghambat hasrat seksual. Ini adalah pengalaman generis.
Karakteristik manusia; Pertama adalah bahwa ia bebas dari keserakahan. Dalam pengalaman kelembutan, seseorang tidak menginginkan apa pun dari orang lain, bahkan tidak timbal-balik. Ini tidak memiliki maksud dan tujuan tertentu, bahkan bukan itu yang hadir dalam bentuk relatif ungreedy seksualitas. Hal ini tidak terbatas jenis kelamin atau usia. Biasanya dinyatakan dalam kata-kata, mungkin juga dalam sebuah puisi. Kedua “pengalaman manusiawi” sulit untuk mengklasifikasikan dalam hal perasaan, mempengaruhi, sikap. Tapi hal-hal kecil bagaimana kita menggolongkan mereka, karena semua klasifikasi ini sendiri didasarkan pada perbedaan-perbedaan tradisional, validitas yang dipertanyakan. Saya mengacu kepada rasa identitas dan integritas.

6. Nilai Dan Norma
Selama nilai-nilai didasarkan atas wahyu, mereka terikat pada sumber wahyu. (Nilai-nilai agama Buddha dan Taoisme tidak didasarkan pada Rêvelation oleh seorang atasan. Secara khusus, dalam Buddhisme, validitas nilai-nilai berasal dari pemeriksaan kondisi dasar-penderitaan manusia, yaitu keserakahan, dan pengakuan dari cara-cara untuk mengatasi ketamakan. Nilai-nilai hierarki Buddha dapat diakses oleh siapa pun kecuali bahwa pikiran manusia rasional dan otentik.)
Kita menemukan di antara mereka yang tidak menerima otoritas Allah sebagai landasan nilai-nilai berikut:
1. Relativisme menyatakan bahwa semua nilai adalah masalah selera pribadi.
2. Norma-norma etika identik dengan norma-norma sosial dan norma-norma sosial melestarikan melayani setiap masyarakat-termasuk ketidakadilan dan kontradiksi.
3. Nilai-nilai imanen biologis, bahwa pengalaman-pengalaman seperti cinta, kesetiaan, solidaritas kelompok berakar pada perasaan yang terlihat dalam sikap ibu yang masih muda, solidaritas sebagai kohesi kelompok di antara banyak spesies hewan.

Semua norma-norma agama seperti; Buddhisme, Yudaisme, Kristen, atau Islam atau filsuf humanis besar dari para pemikir kontemporer preSocratics adalah elaborasi dari nilai-nilai prinsip umum. Manusia dapat menemukan nilai-nilai ketika ia telah mencapai pembangunan sosial tertentu dan ekonomi yang membuatnya cukup waktu dan energi untuk berpikir secara eksklusif di luar tujuan keselamatan fisik.


CHAPTER V
STEPS TO THE HUMANIZATION OF TECHNOLOGICAL SOCIETY

1. Premis Umum
Jika kita sekarang untuk mempertimbangkan kemungkinan memanusiakan masyarakat industri seperti yang telah dikembangkan di Revolusi Industri kedua, kita harus mulai dengan mempertimbangkan lembaga-lembaga dan metode ekonomi serta alasan psikologis. Unsur-unsur ini adalah:
(1) skala besar seperti yang telah berkembang dalam dekade terakhir pemerintahan, bisnis, universitas, rumah sakit, dll. Proses sentralisasi masih terus, dan hampir semua kegiatan dilakukan oleh sistem yang besar.
(2) skala besar dalam setiap sistem perencanaan, bersifat sentralisasi.
(3) Cybernation, yaitu sibernetika dan otomasi, sebagai prinsip utama teoretis dan praktis kontrol, dengan komputer sebagai unsur yang paling penting dalam otomatisasi.
Alternatif yang paling penting menyangkut masyarakat teknologi adalah sebagai berikut: jika manusia pasif, bosan, tidak berperasaan, dan otak secara sepihak, ia mengembangkan gejala patologis seperti kecemasan, depresi, depersonalization, ketidakpedulian terhadap kehidupan, dan kekerasan.
Kemungkinan-kemungkinan yang kita hadapi ; 1) bahwa kita terus ke arah yang telah kita ambil, 2) usaha untuk mengubah arah itu dengan kekerasan atau revolusi kekerasan, 3) humanisasi sistem, sedemikian rupa tujuannya untuk kesejahteraan dan pertumbuhan manusia.
Langkah-langkah yang paling penting dilakukan adalah:
(1) Perencanaan yang meliputi sistem yang didasarkan pada norma-norma yang mengikuti pemeriksaan fungsi optimal manusia.
(2) Aktivasi individu dengan metode akar rumput-kegiatan dan tanggung jawab, dengan mengubah metode birokrasi menjadi manajemen humanistik.
(3) Mengubah pola konsumsi ke arah yang memberikan kontribusi untuk aktivasi dan menghambat “passivation.”
(4) Munculnya bentuk-bentuk baru psikospiritual orientasi dan pengabdian, yang setara dengan sistem agama masa lalu.

2. Perencanaan Humanistik
Apapun manfaat norma-norma validitas humanis, tujuan umum dari masyarakat industri dapat didefinisikan: perubahan sosial, ekonomi, dan kehidupan budaya masyarakat kita sedemikian rupa sehingga merangsang dan furthers yang pertumbuhan dan sifat hidup manusia; bahwa mengaktifkan individu daripada membuatnya pasif dan reseptif; bahwa kemampuan teknologi kita melayani pertumbuhan manusia.
Komputer harus menjadi bagian fungsional dalam kehidupan sistem sosial yang berorientasi dan bukan sebagai kanker yang akhirnya membunuh sistem. Mesin atau komputer harus menjadi sarana untuk tujuan yang ditentukan oleh akal manusia dan kehendak.
Perencanaan di bidang ekonomi harus diperluas untuk seluruh sistem; lebih jauh lagi, sistem Manusia harus diintegrasikan ke dalam seluruh sistem sosial. Manusia, sebagai perencana, harus sadar akan peran manusia sebagai bagian dari keseluruhan sistem. Sama seperti manusia adalah satu-satunya kasus kehidupan yang sadar akan dirinya sendiri, manusia sebagai pembangun sistem dan analisa harus membuat dirinya sebagai objek sistem yang menganalisa.
Yang paling penting, sistem manajemen dan analisis menjadi salah satu jenis kegiatan yang paling maju, tidak hanya dalam hal intelijen, tetapi juga dalam hal visi manusia. Pertama, korporasi beroperasi untuk keuntungan, dan minat pada keuntungan, meskipun diubah dalam perbandingan dengan abad kesembilan belas. Kedua, perusahaan swasta bahkan tidak tunduk pada kontrol pemerintah dalam sistem demokrasi.
Kesopanan pribadi membuat mereka lebih kebal terhadap keraguan tentang metode perencanaan mereka. Saya mengusulkan agar perencanaan korporasi juga harus tunduk pada kontrol, oleh pemerintah dan badan-badan independen dari pokok perencanaan mereka.

3. Aktivasi Dan Pembebasan Energi
Bahwa salah satu kebutuhan dasar harus aktif, dalam arti latihan produktif dari semua fakultas; bahwa salah satu fitur yang paling patogenik dalam masyarakat kita adalah kecenderungan untuk menjadikan manusia pasif, dengan mencabut kepadanya tentang peluang partisipasi aktif dalam urusan masyarakat-nya, dalam perusahaan di mana dia bekerja, dan, pada kenyataannya, walaupun lebih tersembunyi, dalam urusan pribadinya. Ini “passivation” manusia adalah sebagian disebabkan oleh ” birokrasi terasing ” metode yang digunakan dalam perusahaan terpusat.

Humanistik Versus Diasingkan Metode Birokrasi
Prinsip yang sama dari manajemen humanistik dapat dinyatakan dengan cara ini: Sementara di birokrasi terasing semua kekuasaan mengalir dari atas ke bawah, dalam manajemen humanistik ada dua arah jalan; sebagai “subyek” dari keputusan yang dibuat di atas menanggapi menurut mereka sendiri dan keprihatinan; jawaban mereka tidak hanya mencapai pengambilan keputusan, tetapi memaksa mereka untuk menanggapi secara bergantian. The “subjek” pengambilan keputusan memiliki hak untuk menantang para pembuat keputusan. Tantangan semacam itu pertama-tama akan memerlukan aturan bahwa jika dalam jumlah yang memadai “subjek” menuntut agar birokrasi yang sesuai (di tingkat apapun) menjawab pertanyaan, menjelaskan prosedur, para pengambil keputusan akan menanggapi permintaan.
Bahwa jenis partisipasi aktif dari “subjek” akan bertentangan dengan efisien manajemen dan perencanaan terpusat. Keberatan ini masuk akal;
(a) disediakan satu tidak punya alasan kuat untuk berpikir bahwa metode sekarang terasing birokrasi patogenik;
(b) jika orang berpikir hanya dari mencoba dan terbukti metode dan imajinatif shies jauh dari solusi baru;
(c) jika salah satu menegaskan bahwa bahkan jika seseorang dapat menemukan metode-metode baru, prinsip efisiensi maksimal tidak boleh menyerah, bahkan untuk sementara waktu.
Jika modus birokrasi itu berubah dari humanistik terasing, selalu menyebabkan perubahan dalam jenis manajer yang sukses. Tipe defensif-kepribadian yang melekat ke citra birokrasi dan yang takut menjadi rentan dan menghadapi orang secara langsung dan terang-terangan akan berada di suatu kerugian. Di sisi lain, imajinatif, nonfrightened, responsif akan berhasil jika metode manajemen yang berubah.

4. Konsumsi Manusiawi
Sekelompok psikolog, sosiolog, ekonom, dan perwakilan dari masyarakat mengkonsumsi bisa melakukan studi tentang kebutuhan-kebutuhan yang “manusiawi,” dalam arti bahwa mereka melayani pertumbuhan manusia dan kegembiraan, dan orang-orang kebutuhan sintetis disarankan oleh industri dan propaganda untuk menemukan sebuah Order untuk investasi yang menguntungkan.
Istilah “kebahagiaan” bahwa kebahagiaan adalah suatu keadaan penuh kepuasan dari keinginan seseorang terlepas dari kualitas. Kebahagiaan biasanya menyiratkan keadaan puas kekenyangan, daripada yang menyertai kondisi kepenuhan pengalaman manusia; “kebahagiaan” dapat dikatakan sebagai bentuk sukacita.

5. Pembaruan Psikospiritual
Agama adalah satu-satunya sistem yang menggabungkan aspek-aspek keberadaan manusia. Dengan pertumbuhan “ilmu pengetahuan baru,” agama dalam bentuk-bentuk tradisional menjadi kurang efektif, dan di sana muncul bahaya bahwa nilai-nilai teistik akan hilang.
Ideologi adalah gagasan-gagasan yang diformulasikan untuk konsumsi publik, memuaskan kebutuhan semua orang untuk meringankan bersalah dalam keyakinan bahwa ia bertindak untuk mendukung sesuatu yang muncul baik atau diinginkan. Ideologi “komoditas” yang disebarkan oleh pers, orator, para ideolog dalam rangka untuk memanipulasi massa rakyat untuk tujuan yang tidak ada hubungannya dengan ideologi, dan sangat sering justru sebaliknya. Pada dasarnya, ideologi tidak tertarik untuk aktif berpikir, atau perasaan aktif.
Yang penting adalah bahwa gagasan tidak samar-samar dan umum, tetapi khusus dan mencerahkan dan relevan dengan kebutuhan manusia. Kekuatan ide-ide menjadi semua yang lebih besar dalam situasi di mana orang-orang yang mempertahankan status quo tidak memiliki ide-ide, dan ini justru kasus situasi sekarang.
Bagaimana dengan media massa? Apakah mereka akan menghalangi jalan untuk penyebaran ide-ide baru? Ini akan menjadi suatu penyederhanaan yang berlebihan untuk mengatakan bahwa, karena media massa mendukung pendirian, mereka akan memblokir publikasi ide-ide yang mendukung perubahan radikal.

6. Gerakan
Gerakan baru akan menjadi gerakan budaya, mengarah pada transformasi orang dan seluruh budaya kita; itu akan berkaitan dengan masalah-masalah sosial-ekonomi dan politik, tetapi juga dengan hubungan interpersonal, seni, bahasa, gaya hidup, dan nilai-nilai.
Secara historis, gerakan-gerakan penting telah mulai hidup mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Tidak peduli apakah kita memikirkan orang Kristen, Teman, kaum Mason. Saya mengacu pada fakta bahwa kelompok-kelompok yang mewakili sebuah ide dalam kemurniannya dan tanpa kompromi adalah persemaian sejarah; ide mereka tetap hidup, terlepas dari tingkat kemajuan yang membuat kalangan mayoritas.
Kelompok harus, mempunyai tujuan umum yang telah dinyatakan sebelumnya sebagai tujuan umum dari gerakan. Tapi mereka mungkin sangat berbeda di antara mereka sendiri mengenai metode. Setiap individu akan memiliki kesempatan untuk bergabung dengan grup tertentu yang sikap yang paling cocok untuk dirinya sendiri tetapi menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar yang bahkan bisa mengizinkan dirinya sendiri untuk memiliki keragaman yang cukup besar.

PEMBAHASAN
Kegagalan untuk membedakan harapan antara sadar dan tidak sadar adalah kesalahan, tentu saja sehubungan dengan banyak pengalaman emosional lainnya, seperti kebahagiaan, kecemasan, depresi, kebosanan, dan benci.
Harapan didasarkan pada faktor-faktor berikut:
1. Kesiapan untuk memahami dan menentukan dysfunctioning norma-norma ekonomi yang sehat sebagai fungsi sistem sosial secara optimal.
2. Ideologi dan konsep telah kehilangan banyak ditraksi; tradisional klise seperti “benar” dan “kiri” atau “komunisme” dan “kapitalisme” yang telah kehilangan makna.
Ada perbedaan penting antara rasional dan tidak rasional. Iman adalah dari batin kita sendiri secara aktif dalam pikiran atau perasaan, irasional ketaatan iman yang diberikan, yang menerima sebagai sesuatu yang benar atau tidak. Elemen dari iman yang tidak rasional adalah karakter pasif, menjadi idola, seorang pemimpin, atau ideologi. Iman tidak dapat dipertahankan tanpa harapan.
“Kita adalah orang-orang yang harus menjadi sesuai dengan keperluan-keperluan masyarakat di mana kita hidup”. Karena kekuatan-kekuatan sosial dan kultural begitu penting, Fromm percaya bahwa perlu menganalisis struktur masyarakat (masa lampau dan sekarang) supaya memahami struktur anggota-anggota individu dalam masyarakat itu. Jadi kodrat masyarakat adalah kunci untuk memahami dan mengubah kepribadian manusia. Sebagaimana halnya kebudayaan, maka akan demikian juga halnya individu. Apakah sebagian kepribadian itu sehat atau tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang membantu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan manusia yang positif.

Pendekatan Fromm Terhadap Kepribadian
Fromm melihat kepribadian hanya sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus di definisikan menurut bagaimana baik nya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Karena itu kesehatan psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha masyarakat. Faktor kunci ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan manusia.
Menurut Fromm, kita adalah makhluk yang unik dan kesepian. Sebagai akibat evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, kita tidak lagi bersatu dengan alam, kita telah mengatasi alam. Tidak seperti tingkah laku binatang, tingkah laku kita tidak terikat pada mekanisme-mekanisme instinktif. Akan tetapi perbedaan yang sangat penting antara manusia dan binatang yang lebih rendah terletak pada kemampuan kita akan kesadaran diri, pikiran, dan khayal.
Dorongan Kepribadian Yang Sehat
Sebagai organisme yang hidup, kita didorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan kelaparan, kehausan, dan seks. Apa yang penting dalam mempengaruhi kepribadian ialah kebutuhan-kebutuhan psikologis. Semua manusia sehat dan tidak sehat didorong oleh kebutuhan-kebutuhan tersebut, perbedaan antara mereka terletak dalam cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dipuaskan. Orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Orang-orang yang sakit memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara irasional.

Lima kebutuhan dari dikotomi kebebasan dan keamanan menurut Fromm: 1) Hubungan; Manusia harus mencari ikatan-ikatan baru dengan orang lain, kita harus menemukan suatu perasaan hubungan dengan mereka untuk menggantikan ikatan-ikatan kita yang hilang dengan alam. Kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis. 2) Trasendensi; bahwa dalam perbuatan menciptakan (anak-anak, ide-ide, kesenian, atau barang-barang material) manusia mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai suatu perasaan akan maksud dan kebebasan. Jalan lain untuk kreativitas ialah destruktivitas. Destruktivitas dan kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis. 3) Berakar; Cara yang ideal adalah membangun suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan solidaritas dengan orang-orang lain ini memuaskan kebutuhan untuk berakar, untuk berkoneksi berhubungan dengan dunia. 4) Perasaan identitas; identitas ditentukan berdasarkan kualitas-kualitas suatu kelompok, bukan berdasarkan kualitas-kualitas diri. Dengan melekat pada norma-norma, nilai-nilai, dan tingkah laku kelompok-kelompok itu, seseorang benar-benar menemukan semacam identitas. 5) Kerangka orientasi; Pikiran harus dikembangkan dan diterapkan dalam semua segi kehidupan. Suatu yang kurang ideal dalam membangun suatu kerangka orientasi adalah lewat irasionalitas. Suatu kerangka subjektif juga memberikan suatu gambaran dunia. Meskipun kerangka subjektif mungkin merupakan khyalan tetapi tetap riil bagi individu yang mempertahankannya.
Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan ini adalah; 1) cinta yang produktif, 2) pikiran yang produktif, 3) kebahagiaan, dan 4) suara hati.

KESIMPULAN
Kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm adalah pribadi yang produktif, yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian ditandai oleh pola hubungan yang sehat (konstruktif), bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi (kebutuhan untuk melebihi peran-peran pasif, melampaui perasaan tercipta menjadi pencipta yang aktif-kreatif). Perasaan identitas sebagai individu yang unik. Memiliki kerangka orientasi (frame of reference) yang mendasari interpretasinya terhadap berbagai peristiwa. Menurut tokoh lain, Viktor Frankl, hakekat eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor, yaitu spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab. Sama seperti Fromm, dan tokoh-tokoh lain yang menggambarkan kepribadian yang sehat (Carl Rogers, Maslow, Fritz Pearls). Kegagalan dalam menegakkan tiga faktor tersebut akan mengakibatkan frustrasi eksistensial ditandai oleh perasaan hampa/absurd (ragu akan makna hidupnya sendiri). Ada 4 kepribadian sehat yaitu; cinta, pikiran, kebahagiaan, dan suara hati. Cinta yang produktif adalah cinta yang memperhatikan serta membantu pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Pikiran yang produktif adalah pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan mempelajarinya secara keseluruhan, bukan hanya dalam potongan-potongan. Suara hati yang produktif adalah suara hati yang memimpin dan mengatur diri sendiri.
Mencintai berarti memikul tanggung jawab untuk orang-orang lain. Fromm mengingatkan bahwa cinta yang produktif ini sukar dicapai. Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pikiran yang produktif berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajari dan bukan pada kepingan-kepingan atau potongan-potongan gejala yang terpisah. Fromm percaya bahwa semau penemuan dan wawasan yang hebat pasti melibatkan pikiran objektif. Fromm menyatakan bahwa suatu perasaan kebahagiaan merupakan bukti bagaimana keberhasilan seseorang ”dalam seni kehidupan”. Suara hati ada dua tipe suara hati, yaitu suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu.
Sumber : Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya : Kanisius

POST MODERN APPROACHES (Pendekatan Post Modern)

Februari 12, 2010

POST MODERN APPROACHES
PENDIRI PENDEKATAN MODERN TERAPI
INSOO KIM BERG: Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER: salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
MICHAEL WHITE: membantu pendirian bersama David Epston, ilmu pengobatan terapi naratif, bertempat di Dulwich di Adelaide, Australia. Cinta pada keluarga dan teman-teman, berenang, terbang dengan pesawat kecil, dan bersepeda. Mengantarkan banyak Bukunya: Terapi Naratif untuk tujuan Mengobati (1990), Karangan kehidupan: wawancara and ujian tulis (1995), dan Narratif untuk terapi kehidupan (1997).
DAVID EPSTON: Sebagai pembantu direktur pengembangan terapi Naratif dari pusat terapi keluarga di Auckland, Slandia baru, dan dia sebagai penulis dan guru dari ide-ide naratif, sebagai pelancong internasional, dosen pada pusat pelatihan di Australia, Eropah dan Amerika Utara. Profesional terhadap ancaman kehidupan anak-anak berpenyakit Asma, berjuang untuk kelompok wanita penyandang Anoreksia, dan melibatkan ayah yang dilepas oleh anak-anaknya. Penulis buku Makna Akhir Terapi Naratif (1990), Terapi Naratif untuk Anak dan Keluarga (1997). Suka bersepeda dan mencintai istrinya Anne di rumah pengasingan di sebuah pulau Waiheke.
PENGANTAR CONSTRUCTIONISM SOSIAL
Masing-masing model konseling dan psikoterapi yang telah kita pelajari sejauh ini memiliki versi sendiri “realitas”. Seringkali “kebenaran” bertentangan yang menyebabkan meningkatnya skeptisisme. Kita telah memasuki dunia postmodern di mana kebenaran dan realitas sering dipahami sebagai sudut pandang yang dibatasi oleh konteks sejarah dan bukan sebagai objektif, fakta-fakta kekal.Modernis lebih percaya pada realitas independen dari setiap percobaan untuk mengamatinya, orang mencari terapi untuk masalah ketika mereka telah menyimpang terlalu jauh dari beberapa norma objektif. Sebaliknya Postmodernis, percaya pada realitas subyektif yang tidak ada proses observasi independen.
Constructionism sosial adalah perspektif terapeutik dalam pandangan postmodern: yang menekankan realitas klien apakah akurat atau rasional (Weishaar, 1993). Constructionists sosial realitas didasarkan pada penggunaan bahasa dan sebagian besar fungsi dari situasi di mana orang hidup dibangun secara sosial.
Dalam pemikiran postmodern, menggunakan bahasa dalam cerita-cerita, untuk menceritakan kisah-kisah, dan masing-masing kisah-kisah ini benar bagi orang yang mengatakannya. Setiap orang yang terlibat dalam suatu situasi memiliki perspektif tentang “realitas”.
Kenneth Gergen (1985, 1991, 1999) mulai menekankan cara-cara di mana orang-orang membuat makna dalam hubungan sosial. Berger dan Luckman (1967) yang terkenal sebagai orang pertama yang menggunakan istilah constructionism sosial, dan itu menandakan pergeseran penekanan dalam sistem keluarga individu dan psikoterapi.

De Jong dan Berg (2002) tentang tugas terapis yang baik:
Kami tidak melihat diri kita sebagai ahli, namun menilai secara ilmiah masalah klien dan kemudian melakukan intervensi.
Sebaliknya, kami berusaha untuk menjadi ahli dalam menjajaki klien ‘kerangka acuan dan mengidentifikasi orang-orang, persepsi klien dapat digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan.
Empati dan kemitraan kolaboratif dalam proses terapeutik lebih penting daripada penilaian atau teknik.
Cerita dan proses-proses bahasa (linguistik) menjadi fokus bagi kedua pemahaman individu dan membantu mereka membangun perubahan yang diinginkan.

Empat asumsi utama Teori konstruksionis sosial (Burn, 1995), yang membentuk perbedaan antara postmodernisme dan tradisional perspektif psikologis;
Pertama, teori konstruksionis sosial sikap kritis diambil-untuk-knewledge diberikan. Constructionists sosial tantangan pengetahuan konvensional yang secara historis menuntun pemahaman kita tentang dunia, dan mereka hati-hati untuk bersikap curiga terhadap asumsitions tentang bagaimana dunia tampaknya.
Kedua, kunstruksinis sosial percaya bahasa dan konsep umum yang kita gunakan untuk memahami dunianya dan budaya spesifik.
Ke tiga, constructionists sosial menyatakan bahwa pengetahuan dibangun melalui proses-proses sosial. Apa yang kita anggap sebagai “kebenaran” adalah produk antara orang-orang dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, pemahaman negosiasi, atau “konstruksi sosial”, seperti danau yang luas yang berbeda-beda bentuk.

Historical Glimpse Constructionism Social
(Sejarah pandangan construsionism sosial)
Freud, Adler, dan Jung adalah bagian dari paradigma besar pergeseran yang mengubah psikologi maupun filsafat, ilmu pengetahuan, medis, dan bahkan seni. Pada abad ke-21, postmodern konstruksi alternatif sumber pengetahuan tampaknya menjadi salah satu pergeseran paradigma yang paling mungkin mempengaruhi bidang psikoterapi. Penciptaan diri, yang begitu mendominasi modernis mencari hakikat manusia dan kebenaran. Untuk beberapa constructionists sosial proses “mengetahui” termasuk sebuah ketidakpercayaan dari posisi yang dominan menyerap budaya keluarga dan masyarakat hari ini (White & Epston, 1990), dan perubahan dimulai dengan dekonstruksi kekuatan narasi budaya dan kemudian dilanjutkan dengan co-konstruksi kehidupan makna baru.
Ada sejumlah perspektif praktek terapi postmodern, yang paling terkenal adalah pendekatan sistem bahasa kolaboratif (Anderson & Goolishian, 1992), yang berfokus pada solusi terapi singkat (de Shazer, 1985, 1988, 1991, 1994), berorientasi solusi terapi (Bertolino & O’Hanlon, 2002; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989), dan narasi terapi (White & Epston, 1990). Bagian berikutnya membahas bahasa kolaboratif pendekatan sistem, tapi bab ini membahas dua dari pendekatan postmodern yakni: berfokus pada solusi terapi dan narasi terapi singkat.

The Collaborative Language Systems Approach
(Pendekatan sistem bahasa yang colaboratif)
Dinyatakan oleh Harlen Anderson dan almarhum Harold Goolishian (1992) dari Institut Galveston Houston. Lebih menolak terapis dikontrol dan intervensi berdasarkan teori-lain pendekatan terapeutik Amerika Utara, Anderson dan terapi Goolishian mengembangkan kepedulian dengan klien. Sikap mereka mirip dengan Carl Rogers. Sistem sosiokultural di mana orang hidup adalah produk interaksi sosial, bukan sebaliknya. Ketika orang mencari terapi, mereka sering “terjebak” dalam sistem dialogis yang memiliki bahasa yang unik, makna, dan proses yang terkait dengan “masalahnya.
“Dalam pendekatan ini pertanyaan-pertanyaan yang diminta terapis selalu diinformasikan oleh klien. Terapis memasuki sesi dengan beberapa pengertian dari arahan atau dari apa yang diinginkan klien. Jawaban klien menyediakan informasi yang merangsang kepentingan therapist, masih dalam penyelidikan postur, dan pertanyaan lain merupakan hasil dari setiap jawaban yang diberikan. Suatu cerita adalah representasi pengalaman; itu membangun sejarah di masa sekarang” (Anderson & Goolishian, 1992).
Percakapan berkembang menjadi dialog makna baru, constructing kemungkinan naratif baru. Therapis telah menanamkan sebagai kedua konsep kunci; yang berfokus pada solusi dan pendekatan terapi naratif.


SOLUTIONS FOCUSED BRIEF THERAPY(SFBT)
(Solusi-Fokus Terapi Singkat)
Key Concepts
De Shazer (1988, 1991) menunjukkan bahwa tidak perlu mengetahui penyebab masalah untuk menyelesaikannya, dan bahwa tidak ada hubungan antara masalah dan solusi mereka.
Mengumpulkan informasi tentang problem tidak diperlukan untuk perubahan, kecuali: Jika mengetahui problem dan memahami problem tidak penting, jadi mencari solusi yang “benar”.
Setiap orang mungkin mempertimbangkan beberapa solusi, dan apa yang benar bagi satu orang mungkin tidak cocok untuk orang lain. (Bertolino & (? ‘Hanlon, 2002; Gingerich & Eisengart, 2000; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989).

ORIENTASI POSITIF; Solusi yang berfokus pada terapi singkat (SFBT) didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang yang sehat dan berkompeten, memiliki kemampuan untuk membangun solusi yang dapat meningkatkan kehidupan mereka.
Proses terapeutik menyediakan suatu konteks dimana individu fokus pada pemulihan dan menciptakan solusinya, bukan membicarakan masalah mereka. O’Hanlon (1994) menggambarkan orientasi positif ini: “mengembangkan solusi-meningkatkan kehidupan bagian dari kehidupan manusia daripada berfokus pada masalah dan perubahan luar biasa dapat terjadi sangat cepat”.
Terapis dapat berperan dalam membantu orang dalam membuat suatu pergeseran dari masalah dengan kemungkinan-kemungkinan baru, dapat mendorong dan menantang klien untuk menulis cerita yang berbeda dan berakhir pada sesuatu yang baru (O’Hanlon, dikutip dalam Bubenzer & West, 1993).

MENCARI KERJA APA; Individu membawa cerita untuk terapi. Beberapa digunakan untuk membenarkan keyakinan kehidupan mereka, data tidak dapat diubah atau, lebih buruk lagi bahwa hidup akan bergerak semakin jauh dari tujuan mereka. Terapis yang berfokus solusi Singkat membantu klien dalam memberi perhatian pada pengecualian untuk pola masalah mereka (Miller, Hubble, & Duncan, 1996). SFBT berfokus pada mencari tahu apa yang dilakukan orang-orang yang bekerja dan kemudian membantu mereka dalam menerapkan budaya untuk menghilangkan masalah dalam jumlah waktu yang sesingkat mungkin. O’Hanlon (1999) menyatakan: “itu mendorong orang untuk pindah dari sifat menganalisis masalah yang muncul dan sebagai gantinya mulai mencari solusi dan mengambil tindakan pemecahannya”
Ada berbagai cara untuk membantu klien dalam berpikir entang apa yang telah mereka kerjakan. De Shazer (1991) lebih memilih untuk melibatkan klien dalam percakapan yang mengarah ke cerita progresif dimana orang menciptakan situasi, mereka lebih mantap pada tujuan.
ASUMSI DASAR PEMANDU PRAKTIK; Walter dan Peller (1992, 2000)
Beberapa asumsi dasar tentang terapi yang berfokus pada solusi:
Ada beberapa keuntungan positif dan fokus pada solusi di masa depan. Jika klien dapat. Reorientasi diri dalam arah kekuatan mereka menggunakan solusi-talk, ada kesempatan baik terapi dapat singkat
Orang yang datang untuk terapi memang memiliki kemampuan cara bertindak secara efektif, mengenali mereka telah berurusan dengan masalah.
Ada pengecualian untuk setiap masalah. Berbicara tentang pengecualian, klien bisa mendapatkan kontrol atas apa yang menjadi problem dapat diatasi. Iklim pengecualian ini memungkinkan untuk menciptakan kemungkinan solusi.
Klien sering hadir hanya satu sisi dari diri mereka sendiri. Solusi terapis berfokus mengundang klien untuk memeriksa sisi lain dari cerita yang mereka sajikan.
Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar.
Klien ingin mengubah, memiliki kapasitas untuk perubahan, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Terapis harus mengadopsi kerjasama operasi posisi dengan klien daripada merancang strategi untuk mengendalikan pola resistif.
Klien bisa dipercaya dalam keinginan mereka untuk memecahkan masalah mereka. Tidak ada “benar” solusi untuk masalah-masalah tertentu yang dapat diterapkan untuk semua orang. Setiap individu adalah unik dan begitu juga, adalah setiap solusi.

The Therapeutic Proses
Bertolino dan O’Hanlon (2002) menekankan pentingnya menciptakan hubungan terapeutik kolaboratif dan melakukannya untuk keberhasilan terapi. Mengakui bahwa terapis memiliki keahlian dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa klien adalah ahli dalam kehidupan mereka sendiri. Singkatnya, collaborative dan hubungan kerjasama cenderung lebih efektif daripada hubungan dalam terapi.
Walter dan Peller (1992) Empat langkah yang menjadi ciri gambaran proses SFBT:
(1) Mencari tahu apa yang diinginkan dan yang tidak mereka inginkan klien.
(2) Jangan mencari patologi, dan tidak berusaha untuk mengurangi memberikan dengan label diagnostik bagi klien. Sebaliknya, carilah apa yang klien lakukan dan mendorong mereka agar terarah.
(3) Bereksperimen dengan melakukan sesuatu yang berbeda.
(4) Simpan terapi singkat dengan mendekati setiap sesi seolah-olah itu adalah yang sesi terakhir.

Kerangka pendekatan tradisional untuk memecahkan masalah (De Jong & Berg, 2002):
(1) Klien diberi kesempatan untuk menjelaskan masalah-masalah mereka, terapis mendengarkan dengan penuh hormat dan klien hati-hati menjawab pertanyaan terapis, “Bagaimana saya bisa bermanfaat bagi anda?”
(2) Terapis bekerja dengan klien dalam mengembangkan tujuan-tujuan sesegera mungkin. “Apa yang berbeda dalam hidup Anda ketika masalah anda terpecahkan?”
(3) Terapis meminta klien tentang masalah-masalah yang kurang parah. Klien dibantu dengan penekanan khusus pada apa yang mereka lakukan untuk membuat suatu peristiwa terjadi.
(4) Pada setiap akhir percakapan solusi, terapis menawarkan umpan balik, memberikan dorongan, dan menunjukkan apa yang bisa diamati klien sebelum sesi berikutnya untuk memecahkan masalah mereka.
(5) Terapis dan klien mengevaluasi kemajuan yang dibuat dalam mencapai solusi dengan menggunakan skala penilaian.

TUJUAN THERAPEUTIC SFBT; Mencerminkan gagasan dasar tentang perubahan, interaksi, dan mencapai tujuan.
Tujuan SFBT (O’Hanlom & Weiner Davis, 1989):
(1) Mengubah situasi atau kerangka acuan; mengubah perbuatan situasi yang problematis, dan menekan kekuatan klien dan sumber daya.
(2) Membantu klien mengadopsi sebuah sikap dan mengukur pergeseran dari membicarakan masalah-masalah untuk berbicara tentang solusi.
(3) Mendorong klien untuk terlibat dalam perubahan atau berbicara solusi daripada masalah dengan asumsi bahwa apa yang kita bicarakan kebanyakan akan berhasil.

Walter dan Peller (1992) menekankan pentingnya membantu klien untuk menciptakan tujuan:
(1) positif dalam bahasa klien,
(2) berorientasi proses atau tindakan,
(3) secara terstruktur di sini dan sekarang,
(4) dapat dicapai, konkret dan spesifik, dan
(5) dikontrol oleh klien.
Klien harus terlebih dahulu merasa bahwa sumber keprihatinan mereka didengar dan dipahami sebelum mereka dapat merumuskan tujuan yang bermakna.

FUNGSI DAN PERAN TERAPIS; Klien sepenuhnya mengambil bagian dalam proses terapeutik jika mereka berkeinginan untuk menentukan arah dan tujuan percakapan (Walter & Peller, 1996).
Terapis berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan sekarang dan perubahan masa depan (Bertolipo & O’Hanlon, 2002).
Terapis menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan, dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi, dan co-penulis cerita-cerita mereka yang berkembang (Walter & Peller, 1996).
Tugas utama terapeutik terdiri dari membantu klien membayangkan bagaimana mereka akan menyukai hal-hal yang berbeda dan apa yang diperlukan untuk membawa perubahan-perubahan ini (Gingericli & Eisengart, 2000).

Beberapa pertanyaan Walter dan Peller (2000) yang berguna adalah;
 “Apa yang Anda inginkan datang ke sini?”
 “Bagaimana hal itu membuat perbedaan bagi Anda?” dan
 “Apa yang mungkin beberapa tanda-tanda kepada Anda bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?”

HUBUNGAN THERAPEUTIC; De Shazer (1988) menggambarkan tiga jenis hubungan yang dapat dikembangkan antara terapis dan klien untuk membangun SFBT:
Pelanggan: klien dan terapis secara bersama-sama mengidentifikasi masalah dan solusi untuk bekerja ke arah. Klien menyadari bahwa untuk mencapai tujuan nya, usaha pribadi akan diperlukan.
Pengadu: klien menggambarkan masalah tetapi tidak mampu berperan dalam membangun sebuah solusi. Dalam situasi ini, mantan klien umumnya respects pada terapis untuk mengubah orang lain kepada siapa klien masalah atribut.
Pengunjung: klien yang datang ke terapi karena orang lain (pasangan, orangtua, guru; percobaan petugas) berpikir bahwa klien memiliki masalah.

Aplikasi: Therapeutic Teknik dan Prosedur
CUKUP GANTI PRETHERAPY; Selama awal sesi terapi, biasanya berfokus pada solusi, terapis bertanya, “Apa yang telah Anda lakukan sejak berjanji membuat perbedaan dalam masalah Anda?” Kami Shaze, (1985, 1988). Dengan bertanya tentang perubahan tersebut, terapis dapat menimbulkan evek dan memperkuat apa yang telah dilakukan klien dengan cara membuat perubahan yang positif. Perubahan-perubahan ini tidak dapat dikaitkan dengan proses terapi, sehingga mereka cenderung bertanya untuk mendorong klien, terapis kurang mengandalkan mereka atau pada sumber daya mereka sendiri untuk mencapai tujuan perawatannya. (Bertolino & O’Hanlon, 2002; McKeel, 1996).

PENGECUALIAN PERTANYAAN SFBT; didasarkan pada pemikiran bahwa ada saatnya ketika klien mengidentifikasi masalah mengatakan mereka tidak bermasalah. Kali ini disebut: pengecualian dan perbedaan (Bateson, 1972) Solusi yang berfokus pada pertanyaan, maka terapis meminta pengecualian secara langsung ketika masalah itu tidak ada. Pengecualian pengalaman terakhir dalam hidup klien ketika masuk akal untuk terjadinya masalah yang diharapkan, tapi entah mengapa hal itu tidak (De Shazer, 1985).
Eksplorasi ini mengingatkan klien bahwa masalah-masalah yang tidak semua-kuat dan belum ada selamanya, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi bidang positing solusi yang mungkin. Terapis meminta klien apa yang harus terjadi untuk pengecualian ini terjadi lebih sering. solusi foccussed ini disebut perubahan-talk (Andrews & Clark, 1996).

TERAPI PERTANYAAN KEAJAIBAN; De Shazer (1985, 1988) Para terapis bertanya, “sebuah keajaiban terjadi dan masalah Anda dipecahkan dalam semalam, bagaimana kau tahu itu dipecahkan, dan apa yang berbeda?” Kemudian klien didorong untuk menetapkan “apa yang akan berbeda” terlepas dari masalah-masalah. Jika klien ingin merasa lebih percaya diri dan aman, terapis akan berkata: “Biarkan diri Anda membayangkan bahwa Anda meninggalkan kantor hari ini dan bahwa Anda berada di jalur yang tepat untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Apa yang akan Anda lakukan?
De Jong dan Berg (2002) mengidentifikasi. Sejumlah alasan mukjizat bertanya merupakan teknik yang berguna. Meminta klien untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan keajaiban di masa depan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan pada klien untuk dapat mempertimbangkan jenis kehidupan yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan masalah; di masa lalu dan di masa depan.

SOLUSI PERTANYAAN SCALING; Sebagai contoh, seorang wanita pelaporan perasaan panik atau cemas mungkin akan diminta: “Pada skala nol sampai 10, dengan nol yang bagaimana yang Anda rasakan ketika Anda pertama kali datang ke terapi dan 10 adalah bagaimana Anda merasakan setelah mukjizat terjadi dan Masalah Anda adalah pergi/hilang, bagaimana Anda menilai kecemasan Anda sekarang? “Jika klien pindah dari nol ke satu, dia telah membaik. Bagaimana dia melakukan? Apa yang dia perlu lakukan untuk memindahkan nomor lain atas skala?
Pertanyaan scaling memungkinkan klien untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah-langkah yang akan menyebabkan perubahan yang mereka inginkan. Teknik ini dapat diterapkan secara kreatif untuk klien tekan ‘persepsi tentang berbagai pengalaman, termasuk “harga diri, presession perubahan, kepercayaan diri, investasi dalam perubahan, kemauan untuk bekerja keras untuk mewujudkan perubahan yang diinginkan, prioritas masalah yang akan dipecahkan, persepsi tentang harapan, dan evaluasi kemajuan “(Berg, 1994, hal. 102-103).

TUGAS FORMULA SESI PERTAMA; Formula sesi pertama tugas (FFST) adalah suatu bentuk pekerjaan rumah terapis akan memberikan klien untuk menyelesaikan antara sesi pertama dan sesi kedua.
Sesi pertama terapis berkata: “saya ingin Anda mengamati, sehingga Anda dapat menjelaskan kepada saya pada waktu berikutnya, apa yang terjadi pada Anda? (keluarga, kehidupan, pernikahan, hubungan) yang telah terjadi “(De Shazer, 1985, hal 137).
Pada sesi kedua, klien dapat ditanyakan apa yang mereka amati dan apa yang mereka inginkan terjadi di masa depan. Menurut De Shazer, intervensi ini cenderung untuk meningkatkan klien ‘optimisme dan harapan tentang situasi mereka.

FEEDBACK TERAPIS UNTUK KLIEN; Praktisi solusi yang berfokus pada umumnya istirahat dari 5 sampai I0 menit menjelang akhir setiap sesi untuk menulis sejumlah pesan untuk klien. Selama jeda ini terapis merumuskan umpan balik yang akan diberikan kepada klien setelah istirahat.
De. Tong dan Berg (2002) menggambarkan tiga bagian dasar dengan struktur ringkasan umpan balik: pujian, jembatan, dan menyarankan suatu tugas.
Pertama, pujian yang tulus dari apa yang telah dilakukan klien yang mengarah ke solusi yang efektif, yang merupakan dorongan, menciptakan harapan dan menyampaikan kepada klien bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan menggambar pada kekuatan dan keberhasilan mereka.
Kedua, sebuah link jembatan awal yang disarankan pujian untuk tugas-tugas yang akan diberikan. Jembatan menyediakan alasan bagi saran.
Ketiga umpan balik terdiri dari tugas menyarankan kepada klien, yang dapat dianggap sebagai pekerjaan rumah.
Tugas observasi meminta klien untuk memperhatikan beberapa aspek kehidupan mereka. Proses pemantauan diri membantu klien perhatikan perbedaan ketika segala sesuatu lebih baik, terutama apa yang berbeda dengan cara berpikir mereka, merasa, atau berperilaku.
Mengakhiri solusi pertama yang berfokus pada wawancara, terapis harus ingat akan penghentian pebekerjaan. Setelah klien dapat membangun beberapa faktor solusi, hubungan terapeutik dapat dihentikan. Karena terapi model ini adalah singkat, sekarang berpusat, dan alamat keluhan spesifik, sangat mungkin bahwa klien akan mengalami kekhawatiran perkembangan di lain waktu. Klien dapat meminta tambahan sesion kapan saja mereka perlu.

NARRATIVE THERAPY
Pendahuluan
Dari semua constructionists sosial, Michael White dan David Epston (1990) yang paling dikenal untuk penggunaan terapi naratif. Menurut White (1992), individu membangun makna kehidupan dalam kisah interpretatif, yang kemudian diperlakukan sebagai “kebenaran.” White yakin wacana berfungsi dominan untuk mengabadikan sudut pandang, proses, dan kisah-kisah yang melayani mereka yang mendapatkan manfaat dari budaya, tetapi yang dapat bekerja melawan agen dan kesempatan hidup individu.
Postmodern mengadopsi narasi, pandangan konstruksionis sosial menyoroti bagaimana kekuasaan, pengetahuan, dan “kebenaran” yang dinegosiasikan dalam keluarga dan sosial lainnya dan konteks budaya (Freedman & Combs, 1996). Terapi ini, dalam bagian, sebuah badan reestablishment pribadi dari penindasan masalah eksternal dan kisah-kisah dominan yang lebih besar.

FOKUS THERAPY NARASI; Mengadopsi pendekatan narasi yang melibatkan perubahan fokus dari teori tradisional. Terapis dianjurkan untuk membangun pendekatan kolaboratif dengan minat khusus pada klien mendengarkan ‘cerita-cerita; untuk mencari klien dalam kehidupan akal mereka (misalnya, tinggal alternatif cerita); menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk melibatkan klien dan memfasilitasi mereka eksplorasi; untuk menghindari diagnosis dan pelabelan klien atau berdasarkan deskripsi masalah; untuk membantu klien dalam pemetaan masalah pengaruh atau mereka mempunyai hidup, dan untuk membantu klien dalam memisahkan diri dari kisah-kisah dominan mereka diinternalisasi untuk menciptakan kisah kehidupan alternatif (Freedman & Combs, 1996).

PERAN STORIES; Cerita sebenarnya membentuk realitas dalam membangun dan membentuk apa yang kita lihat, rasakan, dan lakukan. Cerita tumbuh dari percakapan dalam konteks sosial dan budaya. Tetapi klien tidak mempunyai peran pathologized, tanpa harapan dan menyedihkan, melainkan, muncul sebagai pemenang yang menghitung ulang. Cerita tidak hanya mengubah orang yang mengatakan cerita, tetapi juga mengubah terapis menjadi bagian dari proses (Monk, 1997).

MENDENGARKAN DENGAN PIKIRAN TERBUKA; Lindsley (1994) menekankan bahwa terapis dapat mendorong klien mereka untuk mempertimbangkan kembali penilaian absolut dengan bergerak ke arah melihat kedua “baik” dan “buruk” unsur-unsur dalam situasi.
Terapis Narrative melakukan upaya menyakitkan klien untuk mengubah kepercayaan, nilai, dan interpretasi tanpa memaksakan sistem nilai mereka dan interpretasi. Terapis narasi membawa kepada usaha terapi sikap tertentu seperti optimisme, hormat keingintahuan dan ketekunan, dan menghargai pengetahuan klien, mereka dapat mendengarkan masalah-kisah kejenuhan klien tanpa terjebak.
Selama percakapan narasi, perhatian diberikan untuk menghindari total bahasa, yang mengurangi kompleksitas individu dengan tetap merangkul semua esensinya. Therapist mulai memisahkan seseorang dari masalah dalam pikiran mereka sebagai mereka mendengarkan dan respond (Winslade & Monk, 1999).
Perspektif narasi berfokus pada kemampuan manusia untuk berpikir kreatif dan imajinatif. Narasi praktisi tidak pernah menganggap bahwa ia tahu lebih banyak tentang kehidupan klien daripada yang mereka lakukan. Klien adalah penafsir utama pengalaman mereka sendiri. Dengan demikian, proses perubahan dapat difasilitasi, tetapi tidak diarahkan oleh terapis.

The Therapeutic Proses; Langkah-langkah dalam proses terapeutik narasi menggambarkan struktur pendekatan narasi (O’Hanlon, 1994, hlm. 25-26):
Berkolaborasi dengan klien untuk saling menerima masalah, mewujudkan masalah dan niat menindas atribut dan taktik.
Selidiki bagaimana masalah telah mengganggu, mendominasi, atau klien berkecil hati.
Mintalah klien untuk melihat ceritanya dari perspective yang berbeda dengan menawarkan makna alternatif.
Temukan klien ketika tidak didominasi atau discour berusaha mencari masalah pengecualian.
Carilah bukti-bukti sejarah untuk mendukung pandangan baru klien sebagai cukup berkemampuan untuk berdiri, untuk kalah, atau melarikan diri dari dominasi atau penindasan dari masalah. (Pada tahap ini identitas dan kisah kehidupan anak mulai ditulis ulang)
Mintalah klien untuk berspekulasi mengenai masa depan macam seperti apa yang diinginkan. Klien bebas dari masalah kejenuhan masa lalu, ia dapat membayangkan dan merencanakan masa depan yang tidak bermasalah.
Cari atau membuat penonton untuk memahami dan mendukung cerita baru.

TUJUAN THERAPY; Tujuan umum terapi naratif adalah mengundang orang untuk menulis pengalaman mereka dalam bahasa yang baru dan segar. Dalam melakukan, mereka membuka pandangan baru yang memungkinkan. (Freedman & Combs, 1996). Narasi terapi hampir selalu mencakup kesadaran akan dampak dari berbagai aspek dari kebudayaan yang dominan pada kehidupan manusia. Narasi praktisi berusaha untuk memperluas perspektif dan fokus dan memfasilitasi penciptaan atau pilihan baru yang unik bagi orang-orang yang melihat mereka.

FUNGSI DAN PERAN TERAPIS; Fasilitator terapis Naratif yang aktif memiliki konsep perawatan, bunga, rasa hormat, ingin tahu, keterbukaan, empati, bijaksana, dan bahkan mempesona dipandang sebagai suatu keharusan relasional.
Tugas utama terapis adalah membantu klien membangun alur cerita dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dari klien dan, berdasarkan pada jawaban, menghasilkan pertanyaan lebih lanjut. Terapis narasi mengadopsi sebuah sikap yang ditandai dengan hormat curiosity dan bekerja dengan klien untuk menjelaskan kedua dampak dari masalah pada mereka dan apa yang mereka lakukan untuk mengurangi efek dari masalah (Winslade & Monk, 1999).
White dan Epston (1990) menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk memisahkan masalah dari orang yang terkena masalah: Pergeseran dalam bahasa memulai dekonstruksi dari cerita asli di mana orang-orang dan masalah menyatu, sekarang masalahnya adalah objektifikasi eksternal mereka.
Seperti solusi yang berfokus pada terapis, terapis narasi menganggap klien adalah ahli ketika conies untuk apa yang dia inginkan dalam hidup. Para terapis narratif cenderung menghindari penggunaan bahasa yang diagnosis, menilai, dan intervensi.

HUBUNGAN THERAPEUTIC; Jika hubungan benar-benar kolaboratif, terapis harus menyadari bagaimana kekuasaan memanifestasikan dirinya dalam praktek profesionalnya. Ini tidak berarti bahwa terapis tidak memiliki otoritas sebagai seorang profesional.
Winslade, Crocket, dan Monk (1997) menjelaskan kerjasama ini sebagai co-authoring atau berbagi otoritas. Klien berfungsi sebagai penulis ketika mereka memiliki otoritas untuk berbicara atas nama mereka sendiri. Dalam pendekatan narasi, terapis digantikan oleh klien.
Terapis memasuki dialog ini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dar klien. Masa lalu adalah sejarah, tetapi kadang-kadang memberikan landasan untuk memahami dan menemukan perbedaan-perbedaan atau hasil yang unik akan membuat perbedaan. Ini adalah masa kini dan masa depan, Namun, dalam kehidupan yang akan dijalani oleh terapis narative persediaan optimisme dan kadang-kadang sebuah proses, namun Klien menghasilkan apa yang mungkin dan memberikan kontribusi actualizes gerakan itu.

Aplikasi: Therapeutic Teknik dan Prosedur
Penerapan terapi naratif lebih tergantung pada Therapists; sikap atau perspektif daripada teknik. Sebuah pendekatan konseling narasi lebih dari penerapan keterampilan; itu didasarkan pada karakteristik pribadi terapis yang menciptakan dan mendorong klien untuk melihat kisah mereka dari perspektif yang berbeda. Pendekatan ini juga merupakan ekspresi sikap yang etis, yang didasarkan pada kerangka filosofis. Kerangka konseptual ini diterapkan untuk membantu klien dalam menemukan makna-makna baru dan dalam kehidupan mereka (Winslade & Monk, 1999).

Pertanyaan dan Pertanyaan-Pertanyaan Lainnya; Narasi Pertanyaan terapis bertanya mungkin tampak tertanam dalam percakapan yang unik, bagian dari sebuah dialog tentang dialog sebelumnya, sebuah peristiwa penemuan unik, atau budaya dominan eksplorasi proses dan keharusan. Apa pun tujuan, pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan, atau relasional, dan mereka berusaha untuk memberdayakan klien dalam cara-cara baru. Gregory Bateson’s (1972) ungkapan pertanyaan-pertanyaan dalam mencari perbedaan dapat membuat perbedaan.
Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menutupi atau membangun pengalaman klien sehingga terapis lebih terarah untuk mengejar. Terapis mengajukan pertanyaan dari posisi, tidak-tahu yang berarti bahwa mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mereka pikir mereka sudah tahu jawaban. Monk (1997) menggambarkan sikap ini sebagai berikut:
Dia menunjukkan kepada klien bahwa menjadi seorang konselor tidak menyiratkan akses istimewa terhadap kebenaran. Konselor secara konsisten dalam peran mencari berdasarkan pengalaman klien. Terapis menggunakan pendekatan narasi ingin mengambil terpisah, atau mendekonstruksi, wacana yang mendukung keberadaan masalah. Terapis tertarik untuk mengetahui bagaimana masalah menjadi jelas, dan bagaimana mereka mempengaruhi klien ‘dilihat dari diri mereka sendiri (Monk, 1997).

EKSTERNALISASI DAN DEKONSTRUKSI; Terapis Narasi membantu klien mendekonstruksi cerita masalah yang diberikan asumsi tentang sebuah peristiwa, kemudian membuka kemungkinan alternatif (Bertolino & O’Hanlon, 2002; Winslade & Monk, 1999). Eksternalisasi merupakan salah satu kekuatan proses dekonstruksi narasi dan memisahkan orang dari mengidentifikasi masalah dan kadang-kadang memberinya nama.
Metode yang digunakan untuk memisahkan orang dari masalah ini disebut sebagai externalizing percakapan. Metode ini sangat berguna saat diagnosa dan label yang belum divalidasi atau pemberdayaan dari proses perubahan (Bertolino & O’Hanlon, 2002).
Dua structuring yang merupakan percakapan adalah (1) untuk memetakan pengaruh masalah dalam kehidupan anak, atau (2) untuk memetakan pengaruh kehidupan seseorang pada pengembangan masalah (McKenzie & Monk, 1997). Pengaruh pemetaan masalah menghasilkan banyak informasi yang berguna dan sering mengakibatkan orang-orang merasa malu dan menyalahkan. Orang merasa didengarkan dan dipahami ketika pengaruh masalah dieksplorasi secara sistematis. Ketika pemetaan ini dilakukan dengan hati-hati, untuk meletakkan dasar penulisan alur cerita baru bagi klien.
Pertanyaannya adalah, “Kapan masalah ini pertama kali muncul dalam hidup Anda?” `Tugas terapis adalah membantu klien dalam menelusuri masalah hingga saat ini. Apakah berarti bagi Anda?” Pertanyaan ini dapat memotivasi klien untuk bergabung dengan Therapist dalam memerangi dampak masalah.
Efek pemetaan dari kehidupan seseorang, klien menyadari bahwa masalahnya tidak didominasi dalam kehidupannya. Ada beberapa hal ketika klien ditangani secara efektif dengan masalah. Pemetaan semacam ini membantu klien yang kecewa dengan melihat beberapa harapan untuk kehidupan yang berbeda. (White & Epston, 1990).

PENEMUAN HASIL YANG UNIK; Dalam pendekatan narasitions eksternalisasi diikuti oleh pertanyaan mencari hasil yang unik. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian yang integral dari konteks percakapan narasi, dan setiap pertanyaan berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya (White, 1992).
Menunjukkan pengajuan pertanyaan, baik langsung maupun tidak langsung, lebih mengarah ke narasi:
Apa yang Anda pikir ini bercerita tentang apa yang telah Anda inginkan untuk hidup Anda dan tentang apa yang telah Anda usahakan dalam hidup Anda?
Bagaimana Menurut Anda ketika mengetahui pandangan saya telah mempengaruhi Anda sebagai pribadi?
Dari semua orang-orang yang telah mengenal Anda, yang paling surprised bahwa Anda telah mampu mengambil suatu langkah dalam menantang berbagai masalah dalam hidup Anda?
Tindakan apa yang membuat Anda berkomitmen untuk lebih mengetahui tentang siapa Anda?

Epston dan White (1992) Perkembangan cerita Unik ke cerita solusi difasilitasi “pertanyaan sirkulasi”:
Sekarang Anda telah mencapai titik ini dalam kehidupan, siapa lagi yang harus tahu tentang hal itu?
Saya rasa ada mempunyai beberapa pandangan yang ketinggalan jaman. Apa ide Anda untuk merobah pandangan ini?
Jika orang lain mencari terapi untuk alasan yang sama dengan yang Anda lakukan, dapatkah saya berbagi dengan mereka sebagai salah satu penemuan penting yang telah Anda buat?

ALTERNATIF CERITA DAN RE-AUTHORING; Membangun cerita baru berjalan bergandengan tangan dengan dekonstruksi, dan terapis narasi bukan mendengarkan cerita-cerita baru. Orang-orang dapat terus-menerus dan penulis aktif kembali kehidupan mereka, dan narasi terapis mengundang klien ke penulis cerita alternatif melalui “hasil yang unik ” (Freedman & Combs, 1996).
Terapis Narasi: “Apakah kamu pernah mampu melepaskan diri dari pengaruh masalah?” Terapis mendengarkan petunjuk kompetensi di tengah-tengah cerita dan kisah, membangun kompetensi di sekelilingnya.
Sebuah titik balik dalam wawancara narasi datang ketika klien membuat pilihan apakah akan terus hidup dengan masalah-kisah kejenuhan atau membuat cerita alternatif (Winslade & Monk, 1999). Dengan menggunakan pertanyaan, terapis bergerak ke fokus masa depan. Sebagai contoh: “Mengingat apa yang telah Anda pelajari tentang diri Anda, apa langkah berikutnya yang mungkin Anda ambil? Ketika Anda bertindak dari identitas pilihan Anda, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk berbuat lebih banyak?” pertanyaan seperti itu mendorong orang untuk merenungkan apa yang telah mereka capai saat ini dan apa langkah berikutnya.

MENDOKUMENTASIKAN BUKTI NARASI; Salah satu teknik untuk mengkonsolidasi keuntungan klien adalah dengan menulis setiap sesi. Narasi ditulis oleh para terapis dan mencatat deskripsi eksternalisasi masalah dan pengaruhnya terhadap klien serta kekuatan dan kemampuan klien yang diidentifikasi dalam satu sesi. (McKenzie & Monk, 1997). Surat-surat dikirimkan kepada klien antara sesi (Andrews, Clark, & Baird, 1997).
David Nylund (1994), menggambarkan kerangka kerja konseptual yang menemukan kegunaan dalam penataan surat kepada klien:
Bukti yang menghubungkan klien untuk sesi terapi sebelumnya.
Sebagai bukti secara ringkas pengaruh masalah tersebut pada klien.
Memikirkan pertanyaan terapis setelah sesi dapat diajukan kepada klien. (Pertanyaan mungkin berkaitan dengan alternatif cerita yang berkembang)

PENDEKATAN POSTMODERN DARI PERSPEKTIF MULTICULTURAL
Kontribusi Multicultural Counseling
Konstruksionis sosial pendekatan terapi klien dengan menyediakan kerangka kerja untuk berpikir tentang pemikiran mereka dan untuk menentukan dampak stories terhadap apa yang mereka lakukan. Klien didorong untuk menjelajahi bagaimana realitas mereka sedang dibangun dan konsekuensi yang mengikuti dari konstruksi. Dalam kerangka nilai-nilai budaya mereka dan pandangan dunia, klien dapat mengeksplorasi kepercayaan mereka dan memberikan reinterpretations mereka sendiri tentang peristiwa kehidupan yang signifikan.
Para praktisi dengan perspektif konstruktivis sosial dapat memandu klien dengan menghormati nilai-nilai yang mendasarinya. Dimensi ini penting terutama dalam kasus-kasus di mana konselor dari latar belakang budaya yang berbeda dengan klien mereka.
Terapi naratif didasarkan konteks sosial budaya, yang membuat pendekatan ini sangat relevan untuk konseling dengan klien beragam budaya. Banyak pendekatan modern yang telah dibahas dalam buku ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah-masalah ada di dalam individu. Beberapa model tradisional ini mendefinisikan kesehatan mental dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya yang dominan. Sebaliknya, narasi terapis beroperasi pada premis bahwa masalah-masalah yang diidentifikasi dalam sosial, budaya, politik, dan konteks relasional daripada individua. Mereka sangat peduli dengan mempertimbangkan isu-isu gender, etnis, ras, orientasi seksual, dan kelas sosial dalam proses terapeutik.
Masalah terapis narasi berkonsentrasi pada cerita-cerita yang mendominasi dan menundukkan pribadi, sosial, dan budaya tingkat. Dari orientasi ini, para praktisi membongkar asumsi-asumsi budaya yang merupakan bagian dari problem klien.
Dalam diskusi tentang pengaruh multikultural klien, Bertolino dan O’Hanlon (2002) bahwa mereka tidak mendekati klien dengan pendapat yg terbentuk sebelumnya. Sebaliknya, mereka belajar dari klien tentang pengalaman mereka. Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk lebih memahami multikultural klien:
Apa yang dapat Anda berbagi dengan saya tentang latar belakang yang memungkinkan saya untuk lebih memahami Anda?
Apa yang telah Anda siapkan menghadapi tantangan perkembangan budaya Anda?
Jika ada, tentang latar belakang yang sulit bagi Anda?
Bagaimana Anda dapat menarik kekuatan dan sumber daya dari budaya Anda?
Sumber daya apa yang dapat Anda ambil pada saat dibutuhkan?

Pertanyaan seperti ini dapat menjelaskan pengaruh multikultural tertentu sebagai sumber dukungan atau yang berkontribusi pada masalah klien.

PEMBAHASAN

Keterbatasan Multicultural Counseling terhadap Pendekatan Post
Modern
Keterbatasan berkenaan pendekatan postmodern, pada “sikap ketidaktahuan” terapis, mengasumsikan bersama “klien sebagai ahli”. Jika terapis mengatakan pada klien “Saya benar-benar tidak seorang ahli; Anda adalah ahli, aku percaya pada sumber daya Anda untuk mencari solusi untuk masalah Anda,” kemungkinan akan menimbulkan kurangnya kepercayaan pada Therapist.
Untuk menghindari situasi ini, terapis menggunakan solusi-fokus atau orientasi narrative kepada klien bahwa ia memiliki keahlian dalam proses terapi, tetapi klien tidak langsung terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan tujuan dasar mereka.

Kontribusi dari Pendekatan Postmodern
Constructionism sosial, SFBT, dan narasi terapi membuat banyak contributions untuk bidang psikoterapi.
Orientation postmodern menghargai pendekatan yang optimis didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang yang berkompeten dan dapat dipercaya untuk menggunakan sumber daya mereka dalam menciptakan ilustrasi jadi lebih baik dan lebih banyak kisah-kisah kehidupan.
Praktisi postmodern beranggapan bahwa klien mampu membangun secara signifikan menuju kehidupan yang lebih memuaskan dalam waktu yang relatif singkat.
Karakteristik dari praktisi yang nonpathologizing dengan konstruksionis sosial, solusi-fokus, atau orientasi narative kontribusi besar bagi profesi konseling.
Praktisi dengan orientasi postmodern tidak mendukung pandangan yang berorientasi patologi, mengambil isu dengan sistem pemberian label, dan menantang bahwa terapis adalah ahli pengobatan yang berlaku intervensi ke klien secara pasif.
Pendekatan yang digunakan dengan melihat klien sebagai orang berkompeten dan berakal. Kata kunci yang mendasari konsultatif percakapan adalah: “Bagaimana kita bisa menciptakan ruang untuk dialog dan bertanya-tanya, di mana tujuan, preferensi, dan kemungkinan dapat muncul dan berkembang?”
Hasil studi di Pusat Brief Terapi Keluarga, melaporkan bahwa 91% dari klien yang menghadiri sesi empat atau lebih berhasil dalam mencapai tujuan pengobatan mereka. Keringkasan adalah daya tarik utama SFBT di era perawatan yang dikelola, yang menempatkan premi pada terapi jangka pendek.
Terlepas dari orientasi teoritis tertentu terapis, terapi singkat telah terbukti effective untuk berbagai masalah klinis. Studi yang singkat dibandingkan terapi dengan terapi jangka panjang umumnya tidak menemukan perbedaan (McKeel, 1996).

(Bertolino & O’Hanlon, 2002; de Shazer, 1991; De Jong & Berg, 2002; Freedman & sisir, 1996; Miller, Hubble, & Duncan, 1996; O’Hanlon & Weiner-Davis, 1989; Walter & Peller, 1992, 2000; Winslade & Monk, 1999).
Berdasarkan penelitian SFBT, McKeel mengidentifikasikan:
Presuppositional pertanyaan untuk melihat apa yang mereka lakukan berguna. “Apa Anda telah berhasil di masa lalu?” Pertanyaan seperti itu mengembangkan perspektif baru bagi klien.
Scaling pertanyaan efektif untuk memantau kemajuan.
Kolaborasi klien-terapis cenderung sukses.
Ketika terapis klien terlibat dalam larutan-pembicaraan (bukan masalah-pembicaraan), klien sering melaporkan bahwa terjadi perubahan.

Batasan dan Kritik terhadap Pendekatan Postmodern
Sebuah kekhawatiran mengenai kedua solusi yang; terapi berfokus pada solusi dan terapi narasi singkat berkenaan dengan cara di mana beberapa ahli mungkin memuliakan sebuah teknologi dan membuat tujuan sendiri.
SFBT atau terapi naratif tidak memiliki seperangkat formula atau panduan yang jelas.
Bahwa terapi narasi akan bervariasi dengan setiap klien, karena setiap orang adalah unik.
Dalam waktu yang relatif singkat praktistioners harus dapat membuat penilaian, membantu klien dalam merumuskan tujuan specific, dan secara efektif menggunakan intervensi yang tepat.
(Freedman & Combs, 1996; Monk, Winslade, 6ockei, &. Epston, ,1997; O ‘Hanlon, 1994; Winslade & Monk, 1999

TEORI-TEORI POSTMODERN
Teori Karir Kontekstualis
(Young, Valach, & Collin, 2002). Menyarankan bahwa pendekatan dikotomis yang digunakan para ahli teori sikap dan faktor untuk menggambarkan orang dan lingkungan kerja tidak sesuai. Mereka percaya bahwa satu-satunya jalan untuk memahami individu adalah dalam konteks lingkungannya ketika mereka mengalami dan memikirkannya atau arti dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Untuk memahami sebuah peristiwa, seseorang harus memulainya dengan peristiwa tersebut, menentukan pandangan individu mengenai peristiwa tersebut, dan melanjutkan dari titik tersebut.
Young, Valach, dan Collin (2002) Mereka membagi aksi menjadi tiga bagian:
perilaku yang tidak dapat diobservasi,
proses internal yang tidak dapat diobservasi,
dan arti atau hasil sebagaimana diinterpretasikan oleh individu dan orang lain yang mengawasi tindakan.
Dalam proses ini, tujuan bersama dibentuk, dan para pemain terlibat dalam aksi bersama yang juga memiliki arti personal dan sosial. Proyek-proyek adalah aksi individu atau bersama jangka panjang, seperti mempersiapkan karir. ketika orang membentuk arti diantara aksi-aksi dan proyek-proyek, mereka bisa terlibat dalam usaha seperti karir.
Interpretasi-interpretasi juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan budaya aktor karena berbagai macam persepsi yang berkembang sebagai hasil dari variabel-variabel tersebut. Interpretasi terjadi pada dua tingkat: konteks saat ini, yang dibangun dalam aliran tindakan, dan konteks masa depan yang diantisipasi.
Tersedia sejumlah publikasi yang mengilustrasikan bagaimana teori kontekstual dapat diterapkan dalam konseling karir (contoh Savickas, 1995; Young dkk., 2002). Savickas (1995) menyarankan pendekatan lima langkah yang dimulai dengan cerita –cerita menyenangkan yang mengarahkan pada identifikasi tema. Tema-tema sering disebut sebagai ide mengenai hakikat masalah karir. apabila tema atau beberapa tema telah tergambar, konselor “bercerita” atau menggambarkan tema pada klien. Klien dan konselor kemudian menginterpretasikan permasalahan sesuai dengan tema, mengedit atau mengubah tema, dan memperpanjangnya sampai masa depan. Langkah akhir dalam proses ini mencakup membantu klien mengembangkan keahlian-keahlian perilaku yang dibutuhkan untuk menerapkan tema naratif masa depan yang telah dikembangkan.

Status dan Kegunaan Teori-teori Kontekstualis.
Bloch (2005) memulai penjelasan teorinya dengan memberikan daftar karakteristik-karakteristik entitas adaptif, dimana salah satunya adalah karir. Karakteristik-karakteristik tersebut digambarkan dibawah ini.
1. Entitas-entitas adaptif memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri meskipun bentuk dan komponen mereka berubah.
2. Mereka adalah sistem-sistem terbuka, mengambil energi dari lingkungan dan sebagai balasannya memberikan energi.
3. Mereka merupakan bagian dari jaringan, menggunakan pertukanran sumber daya. Jaringan ini dapat dilukiskan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris yang saling terkait dan semakin melebar (hingga efek kupu-kupu)
4. Mereka merupakan bagian dari entitas lain. Bagian-bagian tersebut dinamakan fraktal.
5. Mereka dinamis dan karenanya semakin berubah. Dalam proses perubahan bentuk dan komponen ini, mereka bergerak antara keteraturan dan kekacauan.
6. Mereka melalui transisi dan selama periode ini mencari kecocokan puncak yang memaksimalkan kesempatan bertahan.
7. Merka berperilaku secara tidak linear karena peristiwa-peristiwa ganda dan tak dapat dijelaskan.
8. Mereka bereaksi sehingga perubahan kecil akan mengakibatkan efek yang besar.
9. Mereka bergerak melalui transisi. Mereka mungkin berulangkali kembali pada keadaan yang sama ( titik attractor), berputar dari satu titik ke titik lainnya dalam ayunan attractor , atau bergerak dalam lingkaran, tetapi nonkonsentrik, pola-pola (torus attractor)
10. Fraktal bisa menciptakan fraktal baru ketika mereka bergerak melalui transisi.
11. Fraktal ada hanya sebagai bagian dari realitas yang berasal dari semesta; mereka interindependen.

Karir-karir adalah fraktal-fraktal dan merupakan bagian dari kehidupan seseorang, dan mereka, sebagai balasannya, adalah bagian dari jaringan yang dihubungkan yang membentuk kembali diri mereka. Karena mereka bekerja dan berpartisipasi dalam karir mereka, orang mengalami perhubungan sumber daya dan energi sama dengan yang terjadi pada fraktal, karir beberapa orang dan bahkan hidup mereka, berada pada berurutan dan kekacauan. Perubahan kecil dalam karir seseorang sering mengakibatkan perubahan besar yang tak terantisipasi. Ketika orang mengalami transisi, yang mungkin atau mungkin tidak merupakan proses terus menerus, pencarian mereka terhadap karir baru menjadi pencarian pada puncak kecocokan, atau apa yang diharapkan terbaik oleh seseorang.
Karir menjadi masuk akal hanya jika diuji mengunakan logika nonlinear. Perpindahan dalam karir dan bentuk dan keadaan yang diinginkan tidak dapat diprediksi; mereka hanya bisa dipahami secara fenomena, yaitu, dari prespektif individu.

Status dan Kegunaan Teori-Teori Posmodern.
Terlalu dini untuk mengatakan apakah teori Bloch (2005) akan diikuti oleh banyak orang, tetapi boleh kita katakan bahwa banyak profesional setuju dengan filosfi yang mendasari teorinya, terutama idenya bahwa konseling karir adalah konseling spiritual. Meskipun dia belum mengucapkanpendekatan menyeluruh pada konseling karir, dia dan Lee Rich mond (Bloch & Richmonf, 1998) mengidentifikasi tujuh konektor yang bisa membantu klien memperoleh atau mempertahankan hubungan antara kerja dan spiritualitas.
1. Klien mempertahankan keterbukaan untuk berubah dalam hidup mereka dn mengembangkan kapasistas untuk bereaksi terhadap kejadian yang tidak direncanakan (Krumboltz 1998).
2. Klien menyeimbangkan aktivitas dalam hidup mereka antara keluarga, pekerjaan, waktu senggang, dll.
3. Klien mengembangkan energi sehingga mereka merasa mereka bisa melakukan apa yang mereka kehendaki.
4. Klien dapan bekerja di komunitas- berkolaborasi.
5. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja adalah panggilan spiritual dimana dia menerapkan nilai-nilai dan kemampuan-kemampuan.
6. Klien dapat bekerja dlam suasana yang sesuai dengan talenta dan nilai mereka.
7. Klien dapat mengembangkan rasa bahwa bekerja memiliki arti spiritual yang melebihi ekonomi karena, baik langsung maupun tidak, bekerja itu melayani orang lain.

TEORI-TEORI SOSIOEKONOMI
Teori-teori yang telah dijelaskan sejauh ini pada dasarnya berdasarkan pada psikologis dimana mereka berpendapat bahwa individu-individu memiliki kontrol terhadap hidupnya. Meskipun sebagian besar ahli teori akan setuju bahwa tingkat kontrol berbeda antara individu yang satu dan lainnya dan dari satu situasi ke situasi lainnya, mereka juga setuju bahwa proporsi bahwa individu memang memiliki kontrol dan adalah tugas konselor karir untuk meningkatkan tingkat pengarahan diri.
Berbeda dengan para psikolog, sosiolog dan ahli ekonomi cenderung memperhatikan perilaku kelompok kecil dan besar. Pasa sosiolog sering memfokuskan pada kelompok kecil seperti keluarga, tetapi mereka mungkin memperhatikan kelompok besar seperti wanita atau kelompok minoritas. Beberapa ahli ekonomi mungkin fokus pada kekuatan ekonomi yang mempengaruhi pengembangan karir seluruh angkatan kerja, seperti ekonomi global, apa yang disebut dengan pasar tenaga kerja dual, atau akibat persediaan dan tuntutan pekerja mengenai gaji dan masa kerja.

Teori Pencapaian Status
Menurut Hotchkiss dan Borow (1984,1990,1996), publikasi The American Occupational Structure (Blau & Duncan, 1967) menandai kedatangan teori pencapaian status (SAT). pada awalnya, SAT mengusulkan bahwa status sossioekonomi sebuah keluarga mempengaruhi pendidikan, yang pada gilirannya mempengaruhi pekerjaan yang dimasuki. Variabel-variabel setelahnya, seperti kemampuan mental dan apa yang diistilahkan social-psychological processes, ditambahkan pada model ini. Hotchkiss dan Borrow (1996) menyarankan bahwa, sebagaimana keadaan model saat ini, asumsi dasarnya adalah status keluarga dan variabel kognitif berkombinasi melalui proses sosial-psikologis untuk mempengaruhi pencapaian pendidikan yang pada gilirannya mempengaruhi pencapaian pekerjaan dan penghasilan.

Teori Pasar Tenaga Kerja Dual
Teori pasar tenaga kerja dual mengusulkan dua tipe bisnis dalam pasar tenaga kerja kita: inti dan peripheral (sekeliling). Perusahaan inti memiliki pasar tenaga kerja internal yang kurang lebih memiliki jalur karir yang baik dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan mobilitas. Perusahaan peripheral tidak membuat komitmen jangka panjang pada pegawai mereka. Bahkan pekerja dibayar per pekerjaan dan diusir ketika tidak lagi dibutuhkan. Para pekerja di perusahaan semacam ini hanya memiliki sedikit kesempatan untuk meningkatkan mobilitas menurut teori dan penilitian yang mendukung penilaian ini (Hotchkiss & Burrow, 1996)
Ras, Jenis Kelamin dan Karir
Para sosiolog berada di garis terdepan dalam penelitian mengeani akibat ras dan gender terhadap pencapaian pekerjaan dan pendapatan. Penelitian ini secara konsisten telah menunjukkan bahwa orang pendapatan Afrika Amerika lebih rendah dari orang kulit putih (contoh Saunders, 1995). Data gaji mengenai pria dan wanita juga menunjukkan pola serupa, dengan pendapatan wanita secara konsisten lebih rendah dari pria (contoh Johnson & Mortimer, 2002; Reskin, 1993; Roos & Jones, 1993). Penelitian Reskin juga menunjukkan bahwa pria dan wanita dipisahkan di tempat kerja dengan wanita lebih sering dipindahkan pada pekerjaan dengan pendapatan dan status lebih rendah.
Penelitian, seperti pemisahan pekerjaan wanita dan stratifikasi sosioekonomi kelompok minoritas, harus berperan untuk mengingatkan para konselor karir dan lainnya bahwa dibutuhkan usaha yang luar biasa dalam praktik dan advokasi jika terdapat permasalahan yang telah berlangsung lama.
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Setiap teori yang dibahas dalam bab ini menggabungkan pengambilan keputusan sebagai sebuah aspek penting dari pilihan karir dan pengembangan karir. Bagaimanapun dengan pengecualian dari teori pembelajaran sosial Kumblotz (1979), sebagian besar memberikan tanggapan yang kecil terhadap bagaimana individu membuat keputusan-keputusan itu.
Japson dan Dilley 1974) serta Wight (1984) memberikan pembaca beberapa model diskusi yang relevan. Jepson dan Dilley membagi model yang mereka diskusikan kedalam 2 kelompok: model perspektif, yaitu model yang mendeskripsikan bagaimana keputusan sebaikmnya dibuat, dan model deskriptif, yang menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan sebenarnya dibuat. Mereka juga mengatakan bahwa proses meliputi seorang pengambil keputusan dan situasi dimana terdapat 2 alternatif atau lebih yang membawa hasil potensial dari faktor-faktor penting untuk pembuat keputusan. Hal-hal yang penting dari proses ini adalah untuk mengidentifikasikan dan menentukan nilai-nilai relatif kepada altrernatif-alternatif dan konsekuensi mereka jadi dia dapat memaksimalkan hasilnya.
Mitchel mengidentifikasikan 4 elemen yang dianut oleh pengambil keputusan.
1. Batasan mutlak yaitu faktor-faktor yang harus disajikan atau ditiadakan untuk alternatif agar menjadi aktif
2. Karakteristik negatif yaitu adlah aspek-aspek yang tidak diinginkan.
3. Karakteristik positif adalah aspek-aspek yang diinginkan.
4. Karakteristik netral adalah aspek-aspek yang ada namun tidak relevandengan pilihan yang dibuat.
Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengambilan keputusan sebagai berikut.
1. Apakah beresiko rumit jika tidak saya ubah?
2. Apakah beresiko serius jika tidak saya ubah?
3. Dapatkah saya menentukan sebuah solusi aktif untuk masalah tersebut?
4. Apakah ada cukup waktu untuk mencari alternatif-alternatif aktif?

Konselor karir menghadapi sebuah dilema serius ketika membantu para klien dalam proses pengambilan keputusan. Sekarang tidak satupun dari model-model yang telah dijelaskan digabungkan kedalam teori-teori umum. Hal ini muncul seperti bahwa sebuah model dapat membantu beberapa klien dan beberapasituasi lebih baik dan yang lainya mungkin lebih meuaskan hasilnya untuk keadaan yang berbeda. Ironisnya, konselor harus menggunakan sebuah model dalam menentukan model mana yang sepertinya paling bagus untuk klienya saat ini.
IMPLEMENTASI KONSELING POSTMODERN DI SEKOLAH.
Konseling Karir Postmodern
Young, Valach, dan Collin (2002) mengindikasikan bahwa aspek terpenting dalam konseling karir adalah interpretasi, yang melibatkan pemahaman pengalaman klien. Ketika klien menceritakan kisah hidup mereka, konselor dan klien secara spontan menginterpretasikan cerita dalam usaha pembentukan arti.
Bagi konselor, tujuan proses interpretasi adalah; (1) untuk mengetahui pandangan klien; (2) untuk membantu klien peduli terhadap konseptualisasinya dan bagaimana hal tersebut dapat dilakukan dalam rentang hidup mereka; (3) untuk mendukung klien dalam penerapan gagasan-gagasan; dan (4) untuk mempertahankan konstruksi klien dan tidak meninggalkannya demi ide-ide yang lebih ilmiah seperti tipe sifat dan kepribadian.
Proses ini harus membuat klien untuk mengidentifikasi gagasan-gagasan yang berhubungan dnegan pilihan-pilihan karirnya. Sering kali terjadi, gagasan-gagasan akan memiliki arti di luar batasan-batasan lapangan pekerjaan. Setelah gagasan-gagasan diidentifikasi dan dinilai atau ditolak, para klien yang berhasil akan memprioritaskan dan mengintegrasikan gagasan-gagasan tersebut pada tema-tema tertentu, seperti kemampuan-kemampuan dan nilai-nilai.
Konselor karir mengesampingkan nilai-nilai mereka selama sesi-sesi ini dan bergabung dengan klien dalam proses menciptakan cerita kehidupan yang akan mendorongnya dalam kesempatan karirnya. Prespektif bebas nilai ini membentuk pemikiran dan teori postmodern, sebagaimana yang dibuat oleh Young dan koleganya, ideal untuk digunakan untuk seluruh kelompok, termasuk etnis minoritas. Dengan bebas nilai, konselor dapat bekerja dengan klien dalam proses bantuan tanpa diikat oleh sistem kepercayaan konselor.
Amundson (2003) mempresentasikan filsafat postmodern yang dinamakan seond-order questioning, yang terdapat pada presentasi ini, berikut ini urutan SFBCC:
(1) klien mengidentifikasi masalah untuk dikenali;
(2) klien mengidentifikasi perubahan (tujuan) yang dilakukan dan membuat skala tujuan;
(3) klien didorong untuk mencari pengecualian, yaitu, waktu dimana mereka bisa memecahkan masalah serupa;
(4) klien mengidentifikasi kekuatan personal dan strategi yang diterpakan pada keberhasilan sebelumnya yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah yang teridentifikasi;
(5) konselor dan klien meninjau ulang tujuan, membuat skalanya, dan mengembangkan sebuah rencana untuk memecahkan kembali atau mengurangi akibat masalah yang ditemui; dan
(6) konselor boleh terlibat dalam menanyakan urutan kedua jika klien “macet.”
Harus dicatat bahwa SFBCC tidak dikembangkan untuk mengenali masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan tentang keputusan. Oleh karena itu, jika permasalahan kesehatan mental menjadi penghalang proses konseling karir, konselor harus mengenalinya dengan menggunakan pendekatan seperti pendekatan perilaku kognitif sebelum melanjutkan dengan konseling karir.

KESIMPULAN

Dalam teori konstruksionis sosial terapis-sebagai-ahli digantikan oleh klien-sebagai-ahli. Walaupun klien dipandang sebagai ahli pada kehidupan mereka sendiri, mereka sering terjebak dalam pola-pola yang tidak bekerja dengan baik bagi mereka.
Kedua solusi-terfokus dan narasi terapis masuk ke dalam dialog adalah upaya untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dari klien mereka. Upaya terapeutik adalah hubungan yang sangat kolaboratif di mana klien adalah partner senior. Kualitas hubungan terapeutik berada di jantung efektivitas dan narasi terapi yang baik dari SFBT. Banyak terapis memberikan perhatian meningkat untuk menciptakan hubungan collaborative dengan klien.
Bagi terapis yang tidak mengetahui posisi dirinya, memungkinkan terapis untuk mengikuti, menegaskan, dan dibimbing oleh cerita-cerita klien mereka, menciptakan pengamat dan peran fasilitator sebagai terapis dan terintegrasi dengan perspektif penyelidikan postmodern
Kedua solusi yang berfokus pada terapi dan narasi terapi singkat didasarkan pada asumsi optimis bahwa orang-orang yang sehat, berkompeten, berakal, dan memiliki kemampuan untuk membangun alternatif solusi dan cerita-cerita yang dapat meningkatkan kehidupan mereka. Dalam proses terapeutik SFBT menyediakan konteks di mana individu berfokus pada solusi yang diciptakan, bukan berbicara tentang masalah-masalah mereka.
Teknik umum termasuk penggunaan keajaiban pertanyaan, ekpektasi pertanyaan; dan skala pertanyaan. Dalam terapi narasi proses terapeutik menyediakan konteks sosiokultural di mana klien dibantu dalam menemukan sumber masalah mereka dan dapat kesempatan untuk menyempaikan cerita baru.
Praktisi dengan solusi-orientasi terfokus atau narasi cenderung mengarah menciptakan situasi: Di mana mereka dapat membuat keuntungan yang jelas kepada tujuan mereka.

PERKEMBANGAN MUTAKHIR DAN ISU GLOBAL BIMBINGAN DAN KONSELING

Februari 12, 2010

TIPIK 3
PENATAAN PENDIDIKAN PROFESIONAL
KONSELOR DI INDONESIA
a. Alur Pikir dan Penegasan Profesi Konselor: 1) Landasan hukum pendidikan profesi dan sertifikasi Konselor, 2) Spesifikasi kompetensi dasar profesi konselor, 3) Spesifikasi kompetensi profesi konselor yang dapat dilatihkan dengan mempertimbangkan kompetensi lulusan yang diharapkan, keluasan ruang (space) kurikulum, 4) Penetapan dan spesifikasi program pendidikan profesi konselor, 5) Pengembangan kurikulum pendidikan profesi konselor secara utuh, 6) Ragam program pendidikan profesi konselor bagi lulusan LPTK dan non-LPTK, dan program S1 pendidikan profesi konselor prajabatan (concurrent pre-service counselor training). Pengemasan kurikulum untuk program yang bervariasi merujuk pada ragam program: 1) Asesmen awal sebagai identifikasi kebutuhan pelatihan dan penempatan (training neesds assessment and placement), 2) Penempatan peserta pada program yang sesuai dengan hasil asesmen awal, 3) Pelaksanaan pendidikan profesi dan sertifikasi, 4) Ujian kompetensi untuk kelulusan dan sertifikasi konselor, 5) Pemberian gelar dan sertifikat konselor.
b. Standar Kompetensi dan Pengembangan Program Pendidikan Konselor
Kompetensi guru/Pendidik/Konselor menurut UU 14 Pasal 10: 1) Kompetensi pedagogik, 2) Kompetensi kepribadian, 3) Kompetensi sosial, dan 4) Kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kompetensi Konselor Menurut ABKIN: 1) Penguasaan Konsep dan Praksis Pendidikan, 2) Kesadaran dan Komitmen Etika Profesional, 3) Penguasaan Konsep Perilaku dan Perkembangan Individu, 4) Menguasai Konsep dan Praksis Asesmen, 5) Penguasaan Konsep dan Praksis Bimbingan dan Konseling, 6) Memiliki Kemampuan Mengelola Program BK, 7) Penguasaan Konsep dan Praksis Riset Dalam BK.
Kompetensi Utuh Profesi Konselor. Sosok utuh kompetensi profesi konselor yang merupakan penataan terpadu dari keempat kompetensi pendidik yang termaktub dalam PP No. 19 Pasal 10 terdiri atas kemampuan seperti berikut (Diadaptasi dari kompetensi guru, Raka Jini, 2006): 1) mengenal secara mendalam peserta didik yang hendak dilayani, 2) menguasai bidang ilmu yang melandasi layanan ahli BK dilihat dari segi : a) isi pengetahuan disiplin ilmu yangbersangkutan, dan, b) isi pengetahuan yang terkait dengan layanan BK, 3) menyelenggarakan layanan ahli dalam bimbingan dan konseling berbasis pedagogik, yang mencakup: a) perancangan program layanan bimbingan dan konseling berdasarkan serentetan keputusan situasional, b) implementasi program layanan BK termasuk penyesuaian sambil melaksanakan layanan (mid-service adjustments) berdasarkan keputusan transaksional yang sedang berlangsujng berhubung dengan reaksi unik dari klien (peserta didik) terhadap tindakan konselor, c) melakukan asesmen proses dan hasil layanan BK, 4) menggunakan hasil asesmen proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling dalam rangka perbaikan pengelolaan program dan proses layanan BK secara berkelanjutan, merujuk kepada ketercapaian tujuan utuh pendidikan sebagai rujukan normatif; dan, 5) mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan dan terpadu.

TOPIK 4
PENATAAN PENYELENGGARAAN BK DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL
a. Reposisi dan Rekonseptualisasi: Komprehensive Approach; Bidang reposisi dan rekonseptualisasi bimbingan konseling yang perlu dipikirkan meliputi; Sistem, substansi, dan konsep selingkup pendidikan konselor.
Sistem yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan konselor meliputi: 1) Kebijakan, 2) Perencanaan, 3) Organisasi, 4) Strategi Pelaksanaan, 5) Evaluasi, 6) Balikan, 7) Perbaikan, 8) Penjaminan Mutu Internal, 9) Akreditasi
Substansi dan Agenda Reposisi: 1) Konsep Konseling, 2) Konselor, 3) Program Studi Konseling, 4) Layanan
Konsep Konseling yang harus dibangun: 1) Visi, 2) Misi, 3) Tujuan, 4) Sasaran, 5) Landasan, 6) Makna/Definisi Konseling, 7) Organisasi Profesi/Keilmuan, 8) Standar.
Pengembangan/Penentuan Lembaga Sertifikasi Konselor: 1) Pemantapan makna/konsep dan spesifikasi sertifikat, sertifikasi, lembaga sertifikasi, dan lisensi, 2) Pengembangan LPTK sebagai Lembaga Sertifikasi Pendidik, 3) Penyusunan standar sertifikasi, 4) Pengembangan instrumen sertifikasi, 5) Penataan penilai/asesor dalam proses sertifikasi, 6) Spesifikasi persyaratan untuk penilai dalam proses sertifikasi, 7) Pembentukan kelompok penilai untuk sertifikasi, 8) Penyusunan Pedoman Sertifikasi Pendidik, 9) Penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Program Sertifikasi Pendidik.
Sertifikasi dan Lisensi; Pendidikan profesi dan sertifikasi pendidik/konselor dilanjutkan dengan pemberian lisensi bagi pendidik/konselor yang telah menyelesaikan program pendidikannya secara lengkap. Lembaga yang menerbitkan sertifikat pendidik/konselor seyogianya lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pendidik/konselor yang telah terakreditasi, adalah LPTK dengan program-program studi pendidikan tenaga kependidikan (guru kelas, guru bidang studi, dan tenaga kependidikan lainnya, seperti administrator pendidikan, pengembang kurikulum, pendidik luarsekolah, pendidik anak berkebutuhan khusus/luar biasa, konselor di dalam dan luar sekolah).
Ragam Program Pedidikan Profesi dan Sertifikasi Konselor; 1) Program terpadu dalam pendidikan prajabatan [concurrent] dengan program sertifikasi terdapat di dalamnya (built-in), 2) Program untuk lulusan prodi BK yang belum berpengalaman, 3) Program untuk lulusan prodi BK yang telah berpengalaman, 4) Program untuk lulusan non-BK yang telah berpengalaman, 5) Program untuk lulusan non-BK yang belum berpengalaman
b. Bimbingan dan Konseling yang Memandirikan: Layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan khususnya dalam jalur pendidikan formal, memetakan tiga wilayah layanan, yaitu layanan (a) administrasi dan manajemen, (b) kurikulum dan pembelajaran, dan (c) bimbingan dan konseling. Permen Diknas No. 22/ 2006 tentang Standar Isi, pelayanan bimbingan dan konseling diletakan sebagai bagian dari kurikulum yang isinya dipilah menjadi (a) kelompok mata pelajaran, (b) muatan local, dan (c) materi pengembangan diri, yang harus dilakukan oleh konselor kepada peserta didik.

TOPIK 5
GUIDANCE AND COUNSELING IN NON FORMAL
EDUCATION SETTING
a. Learning in non Formal Setting and Adulthood: Ada tiga klasifikasi penyelenggaraan pendidikan yaitu: (1) pendidikan formal (di sekolah); (2) pendidikan informal (di keluarga); dan (3) pendidikan non formal (di masyarakat: seperti tempat kursus, organisasi, tempat-tempat pelatihan, lembaga-lembaga konsultasi, panti asuhan, panti jompo, lembaga pemasyarakatan, karang taruna, rumah singgah, kelompok tani dan organisasi kemasyarakatan). “Peserta didiknya” biasanya relatif lebih berfariasi baik dari segi usia, tingkat pendidikannya, dan jangka waktunya pendek. Pendidikan non formal untuk tujuan-tujuan khusus tertentu. Di lembaga-lembaga seperti itu juga diperlukan layanan bimbingan dan konseling. Seperti di panti jompo, panti asuhan, panti sosial, yang selama ini jarang diperhatikan, mestinya dilakukan pelayanan bimbingan dan konseling. Dirasakan perlu pelayanan yang komprehensif, serta aspek-aspek dan tahap-tahap perkembangan. Prof. Sunaryo menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak pernah berakhir (never ending process). Misalnya untuk kesadaran kultural (cultural awareness), cultural intelligence, dalam rangka membangun community of learner,yang sifatnya multi level, multy chanel, dan multi setting (Para Rektor LPTK, 2009).
b. Guidance and Counseling Framework and its Aplication in Non Formal Setting; Banyak bidang-bidang pendidikan non formal di masyarakat; Misalnya pelatihan yang dilaksanakan oleh banyak Panti Sosial yang mendidik anak-anak putus sekolah, serta orang-orang yang memiliki waktu luang yang membutuhkan keterampilan meliputi; keterampilan menjahit, membordir, dan menyulam, berbasis keterampilan dan ekonomi rumah tangga, yang tujuannya agar mereka yang putus sekolah memiliki skill dan dapat berwira usaha secara mandiri. Aspek pelatihan semacam itu belum menggunakan sentuhan bimbingan konseling yang bertujuan mengembangkan sikap optimisme, memotivasi perubahan nasib, mind set orang yang ingin bergerak maju keperobahan nasib yang lebih baik. Glasser dengan teori Terapi Realitas dan Frankl dengan Logotrapinya, bahwa manusia harus mampu menemukan makna kehidupan yang harus dijalani untuk merencanakan masa depan. Pada pendidikan non formal mereka memerlukan interaksi yang mendidik, yang menumbuhkan rasa self-responsibility dan empaty.
Natawidjaja (2000:77 dalam Nur Faizah R) bahwa: “Pada masa mendatang, profesi konselor dan praksis bimbingan dan konseling tidak saja pada ruang lingkup sekolah, di masyarakat dalam arti lebih luas juga diperlukan, meskipun di sekolah sebagai salah satu bagian dari masyarakat.” Dedi Supriadi Supriadi 2003 dalam tulisannya berjudul “Reposisi Bimbingan dan Konseling di Tengah Lingkungan yang Berubah.” Sudah saatnya suatu pemikiran yang matang untuk merencanakan pendidikan bagi calon konselor yang dapat eksis dimasyarakat penggunanya sehingga kurikulum yang digagas harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman.
TOPIK 6
MULTICULTURAL ISSUE IN GUIDANCE AND COUNSELING

Sebagai bangsa Indonesia kita bersukur menjadi bangsa yang besar dengan budaya beragam. Budaya bangsa Indonesia tersebar di masing-masing wilayah di Indonesia dengan cultur yang berbeda-beda. Bak pepatah mengatakan “Lain padang Lain belalang, Lain lubuk lain ikannya” Ini mengandung makna bahwa setiap orang memiliki budaya yang mengakar pada sistem dan tatanan sosial dimana mereka hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan budayanya. Seseorang yang berbudaya artinya mereka memiliki dan menganut berbagai (nilai, norma, sikap, perilaku, bias-bias) di samping kecerdasan, minat, bakat, dan lain-lain. Dalam kehidupan modrnism orang akan bersosialisasi dalam tatanan kehidupan sosial masing-masing, dimana nilai-nilai budaya yang mereka anut sangat mewarnai cultur mereka masing-masing. Masyarakat perkotaan akan berinteraksi dalam bermacam-macam konteks, termasuk konselor dan klien (Supriadi, 2001:23). Lebih lanjut dikatakan oleh Corey & Callahan (1984), Biggs & Blocher (1986) dalam Supriadi (2001:24) bahwa persoalan budaya semakin crucial apabila intervensi konselor menyangkut hal-hal yang berada pada domain yang sangat pribadi, seperti keyakin-an, nilai, dan etik dalam konseling. Bagi kelompok tertentu tidak jadi soal jika diketahui orang lain semisal konselor, tapi ada kelompok yang menganggap “tabu”.
Di negara kita Indonesia sangat banyak kosa kata yang bermakna lain bagi suatu daerah (khususnya yang berdampingan) sehingga banyak pula orang salah memaknai kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicaranya, yang berlainan daerah dan budayanya. Contoh untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah atau Jawa Timur, banyak sekali kata-kata yang bermakna lain antar budaya masing-masing. Di Sumatera saja terdapat l2 wilayah yang berdekatan, dimana antara satu sama lainnya memiliki budaya yang berbeda meliputi; nilai-nilai sosial, adat istiadat, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, seni dan sastra. Terutama dalam hal kosa kata yang bisa bermakna lain, jika diartikan oleh orang yang berasal dari daerah berbeda. Jika dibiarkan sepertinya hal-hal yang sepele ini akan berdampak pertentangan dan persaingan antar budaya masing-masing, sehingga kontek pembicaraan akan berubah makna.
Jika dilibatkan dalam kasus yang lebih luas dalam konteks budaya, maka di Dunia ini, terdapat beribu-ribu macam budaya dimana satu sama lainnya tidak akan pernah nyambung dan sulit dipertemukan. Melalui konteks konseling lintas budaya tidak ada sesuatu hal yang tidak mungkin, dan konseling lintas budaya akan mewarnai kasanah keilmuan bagi kedua orang yang terlibat dalam proses konseling. Untuk hal ini seorang konselor perlu memahami konteks antar budaya, sehingga konseling yang diharapkan akan memiliki kesinambungan antara klien dan konselor dalam suatu sesi konseling. Oleh sebab itu peranan konseling lintas budaya menjadi sangat penting dipahami oleh para calon konselor, agar konseling berlangsung efektif dan produktif.

TOPIK 7
COMPETENCE CONNECTION IN GLOBAL PERSPECTIVES
a.The Essence of and the need for competence connection
Gardner; bahwa dalam suatu profesi, mereka harus memiliki keseriusan untuk melakukan pekerjaan dengan segenap kompetensi apapun karena pekerjaan berhubungan dengan produktivitas dan posisi kompetitif. “Anda perlu mengetahui kompetensi sekitar pekerjaan Anda.” Common competencies yang harus dikuasai oleh konselor sekolah, perkawinan, karir, traumatik, rehabilitasi, dan kesehatan mental. Untuk itu konselor harus kompeten dalam hal: 1) Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks sosial budaya, 2) Menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik antar maupun intrapribadi dan lintas budaya, 3) Menguasai strategi dan teknik asesmen yang memungkink¬an dapat difahaminya keberfungsian psikologis individu dan interaksinya di dalam lingkungan, 4) Memahami proses perkembangan manusia secara individual maupun secara sosial, 5) Memegang kokoh regulasi profesi yang terinternalisasi ke dalam kekuatan etik profesi yang mempribadi, 6) Memahami dan menguasai kaidah-kaidah dan praktek pen¬didikan
The Power of Prophecies Robert Rosenthal (Harvard University): a) Kita akan menciptakan iklim yang lebih hangat, dan ramah, kita menghargai karena lebih trampil atau layak, b) Kita akan lebih dapat menantang informasi klien, c) Dinamika pelaksanaan diri sendiri menjadi sangat kuat sehingga mempengaruhi hasil eksperimen
Prophecies of Competence: The Managerial Challenge: 1) Kita harus mengorganisir diri sendiri dan mengatur landasan pemikiran, mempunyai kecerdikan, kerajinan, dan perhatian, 2) Mengatur profesi berdasarkan kompetensi, kita perlu mengubah tugas-tugas managerial, 3) Para manajer harus sejati dan, tindakannya harus sesuai.
Buhmester, dkk (1988 : 933) menemukan 5 aspek kemampuan interpersonal, yaitu: 1) Kemampuan berinisiatif; 2)Kemampuan bersikap terbuka (self disclosure);3) Kemampuan bersikap asertif; 4) Kemampuan memberikan dukungan emosional; 5)Kemampuan Mengatasi Konflik;
b. Its Implikations For Guidance and Counseling Services
Tiga kompetensi global yang harus dimiliki seorang konselor: Global knowledge, ini berkaitan dengan isu-isu global dan berita-berita dunia saat ini diantaranya: HIV AIDs, Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif), trafficking dan child abuse termasuk kekerasan dalam rumah tangga, terorisme, pemanasan global (global warming), penjualan manusia (trafficking). Empati Menurut Corey (2008), berhubungan erat dengan kemampuan menerima dan memahami pemikiran (reference) klien. Seorang konselor harus; Fleksibilitas dan adaptability; toleransi dan kesabaran; rasa homor; keingintahuan secara intlektual dan sosial; kepercayaan diri dan control; kemampuan berkomunikasi. Keterampilan yang berkaitan dengan keterampilan dalam berbahasa atau kemampuan memahami bahasa yang lebih luas dan keterampilan interpersonal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan profil konselor dalam perspektif global, diantaranya: 1) Memiliki mindset longlife learning, 2) Melakukan asesmen, 3) Memiliki pengetahuan dan keterampilan bimbingan dan konseling, 4) Keterampilan membina hubungan multidisipliner.
TOPIK 8
HUMAN DEVELOPMENT ISSUES IN GLOBAL CONTEXT
Konseling Bagi Anak Berbakat
Konseling AB baru mendapatkan sedikit perhatian. Padahal kemampuan peserta didik untuk mengeksplorasi, memilih, berjuang, meraih serta mempertahankan karier itu ditumbuhkan secara isi mengisi atau komplementer oleh konselor dan guru dalam setting pendidikan. Jika dicermati, pengembangan diri peserta didik secara utuh dan maksimal lebih banyak terkait dengan wilayah layanan guru, yaitu dengan pembentukan berbagai dampak pengiring yang relevan dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang mendidik menggunakan materi kurikulum sebagai konteks kegiatan belajar. Dalam setting pendidikan formal, kontribusi guru masih parsial sehingga perlu dilengkapi oleh konselor.
Bimbingan konseling yang memandirikan, harus bahu-membahu dengan guru dalam wilayah komplementer. Pemikiran ini didasarkan atas kenyatan keberbakatan ditemukan pada tingkat agak berbakat, berbakat, dan sangat berbakat. American Psychiatric Association (1980) melaporkan tidak seorang pun menyarankan individu agak terbelakang diberi pelajaran pada level sama dengan yang sangat terbelakang.
Milgram (1991) membagi kebutuhan AB akan bimbingan konseling dalam katagori : kognitif-akademik, pribadi-sosial, dan pengalaman. Dalam kontreks kognitif-akademik, anak berbakat memerlukan pengetahuan diri, peluang akademik dan karir. Mereka membutuhkan informasi spesifik mengenal kombinasi unik kemampuannya. Dalam konteks pribadi sosial, anak berbakat memerlukan konseling dalam lingkup pribadi-sosial untuk menyadari kemampuan khususnya. Adapun dalam konteks kebutuhan pengalaman, AB membutuhkan pengalaman diluar sekolah, baik dalam keluarga, masyarakat, dan berupa aktivitas di waktu senggang.
Anak berbakat memiliki sikap perfectionist, mereka takut akan kegagalan, namun pada kasus perempuan berbakat terjadi sebaliknya mereka takut akan kesuksesan (Kaslow dan Schwartz, 1978). ”Takut Kegagalan” disebabkan oleh harapan diri sendiri yang besar dan faktor luar untuk berpenampilan sempurna dan ”Takut akan Kesuksesan” membahayakan prestasi anak-anak berbakat dikelas. Jika tidak mencoba, tentunya ia tidak akan gagal. Jika tidak mencoba, tentunya ia akan kehilangan kesempatan untuk belajar, dan meraih prestasi, dan untuk aktualisasi diri (Whitmore, 1986).
Aspek lain yang harus diperhatikan adalah prestasi rendah pada anak-anak berbakat. Hal ini terjadi karena kurangnya motivasi mereka dalam berbagai bidang studi yang akan menjadi masalah bagi guru dan orang tua. Bagi anak berbakat, ” Penolakan kesempatan untuk ikut dalam program akademik yang lebih menantang bisa menjadi pilihan untuk menghindari konflik psikologis yang dialami murid-murid pada kegiatan yang sama, (Whitemore, 1986). Hal ini karena mereka berada dalam lingkungan kelas tradisional secara eksklusif dan tidak mengambil semua keuntungan dari semua kesempatan yang terbuka untuk mereka. Bagi anak perempuan hukuman itu terpusat pada penolakan sosial atau social rejection, khususnya pada usia pra-remaja (Hollinger, dan Fleming, 1984).

TOPIK 9
ONLINE ON TELEPHONE BASED COUNSELING:
NEEDS, PROBLEMS, AND ETHICAL ISSUES
Pada tatanan global seluruh umat manusia di dunia dihadapkan pada tantangan yang bersumber dari perkembangan global sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu perngetahuan dan teknologi. Menurut Robert B Tucker (2001) dalam makalah M. Surya pada Seminar dan Workshop Bimbingan dan Konseling (BK) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu: (1) kecepatan, (2) kenyamanan, (3) gelombang generasi, (4) pilihan, (5) ragam gaya hidup, (6) kompetisi harga, (7) pertambahan nilai, (8) pelayananan pelanggan, (9) teknologi sebagai andalan, (10) jaminan mutu dalam konteks global.
Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan landasan-landasan filosofis dari orientasi baru bimbingan dan konseling, yaitu : Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya.
Tidak dapat disangkal bahwa saat ini kita hidup dalam dunia teknologi. Pelling (2002) ketergantungan kepada teknologi ini tidak saja di kantor, tetapi sampai di rumah-rumah. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Pelling (2002) menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Sampsons (2000) mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1) Dapat meningkatkan kreativitas, keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, kelas lebih menarik;
2) Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa;
3) Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan;
4) Memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email;
5) Tidak akan memunculkan kebosanan;
6) Silabus, kurikulum mudah diperoleh siswa melalui website; dan
7) Terdapat pengaturan yang baik

TOPIK 10
ETHICAL AND PROFESSIONAL ISSUES
OF GUIDANCE AND COUNSELING
Ada pendapat bahwa Program Studi Akademik yang mempunyai misi pengembangan ilmu dikembangkan terpisah dari Pendidikan Profesi yang memiliki misi mendidik tenaga profesi dalam bidang tertentu. Pendapat ini menyebabkan kedua jenis program studi itu dikembangkan sendiri-sendiri. Misalnya pendidikan keilmuan dalam bidang konseling dikembangkan dan dilaksanakan terpisah dari program pendidikan konselor.
Definisi konseling professional; Profesi yang terfokus pada relasi dan interaksi antara individu dan lingkungan dengan tujuan untuk membina perkembangan diri, dan mengurangi pengaruh hambatan-hambatan lingkungan yang mengganggu keberhasilan hidup dan kehidupan individu. Konselor; Secara tradisional, konselor diasosiasikan dengan bidang pendidikan [di sekolah] (M.S., M.S.E. atau Ed.D.) 1) Di Indonesia, secara eksplisit, konselor digolongkan ke dalam kategori pendidik (UUSPN tahun 2003). 2) Konselor merupakan lulusan pendidikan konselor (konselor sekolah) dengan latar pendidikan magister konselor, 3) 1960s – 1970s, di Amerika posisi konselor sekolah sudah penuh dan beralih ke arah konseling perkawinan/keluarga, dan kanak-kanak, 4) Selanjutnya berkembang ke arah penanganan permasalahan hidup dan kehidupan individu pada umumnya, 5) Misi konselor ditekankan pada penanganan perkembangan yang normal.
Kredensial Konselor; 1) Sertifikat yang mendokumerntasikan keberhasilan profesional berupa pengetahuan dan kompertensi, 2) Menuntut suatu proses baku untuk mengukur keberhasilan/pencapaian kompetensi, 3) Diberikan oleh suatu badan yang telah diakui, 4) Standar dikembangkan dan dimonitor oleh kelompok profesional yang diakui. Sertifikasi dan Lisensi; Pendidikan profesi dan sertifikasi pendidik/konselor dilanjutkan dengann pemberian lisensi bagi pendidik/konselor yang telah menyelesaikan program pendidikannya secara lengkap. Permasalahannya adalah : Siapa yang menerbitkan sertifikat pendidik/konselor? Siapa yang memberikan lisensi berupa izin kerja bagi pendidik/konselor yang bersertifikat? Lembaga yang menerbitkan sertifikat pendidik/konselor yakni lembaga pendidikan yang telah terakreditasi dan berwewenang mengangkat dan mempekerjakannya. Pejabat di Pemda, yaitu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Lembaga yang memberikan lisensi pendidik di luar sistem sekolah dan instansi swasta di luar sekolah adalah Asosiasi/organisasi profesi yang telah diakui pemerintah.

Kepustakaan
ALPTKI. 2009. “Pemikiran Tentang Pendidikan Karakter dalam Bingkai Utuh Sistem Pendidikan Nasional”. Jakarta.
Dedi Supriadi. 2001. “Konseling Lintas Budaya: Isu-isu dan Relevansinya di Indonesia.” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bimbingan dan Konseling pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia Tanggal 18 Oktober 2001.
Dedi Supriadi. 2003. “Reposisi Bimbingan dan Konseling di Tengah Lingkungan yang Berubah.” Jurnal Ilmiah Ta’dib Vol. VI No. 2 hal. 25-32.

Dirjen Dikti, Depdiknas. 2008. “Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.” Jakarta.

Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional ;2007 : 187

Hackney, Harold L. & Cormier, Sherry. 2009. “The Professional Counselor, A Process Guide to Helping”. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Hall, Jay. 1988. “The Competence Connection, A Blue Print for Excellencs: Teleometrics International”

Ki Supriyoko. 2004. “HDI Indonesia Tetap Rendah”. http://www.undp org.id.

Nur Faizah Romadona. 2009. “Human Development Issues in Global Context, Konseling Dalam Bidang Kesehatan.” UPI, Bandung: Power Point

Sunaryo, Kartadinata. 2009. “Kerangka Kerja Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan, Pendekatan Ekologis Sebagai Suatu Alternatif.” Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

UNDP. 2007. “Human Development Report 2007/2008, Fighting Climate Change: Human Solidarity in a divided world”. New York: United Nations Development Programme.

competence connection

Februari 12, 2010

PENGERTIAN COMPETENCE CONECTION
Kompetensi merujuk kepada penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel.
Koneksi berkenaan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jika koneksi berkaitan dengan jalinan kerja profesional maka koneksi yang terjalin sehubungan dengan kemampuan dan komitmen dalam suatu kerjasama dalam secara profesional. Pekerjaan profesional akan menuntut orang-orang agar memiliki kemampuan menjalin hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, sehingga pekerjaan dapat terlaksana dengan baik serta dapat bekerja dalam kerangka profesi yang profesional.

PROPHECIES OF COMPETENCE
Pada suatu profesi, kompetensi merupakan suatu hal yang paling mendasar, untuk memberikan kepuasan pada seluruh lapisan masyarakat.
Gardner; bahwa dalam suatu profesi, mereka harus memiliki keseriusan untuk melakukan pekerjaan dengan segenap kompetensi apapun karena pekerjaan berhubungan dengan produktivitas dan posisi kompetitif. “Anda perlu mengetahui kompetensi sekitar pekerjaan Anda.”
Di dalam teori pengelolaan, berfungsi sebagai kendali, pengambilan keputusan eksekutif, dan metoda penimbangan prestasi; dalam struktur organisasi sebagai koordinasi, keefektifan biaya, deskripsi jabatan, dan hubungan-hubungan otoritasnya. Terutama yang berkenaan dengan mekanisme ketidakcakapan. Aku sudah sering kali bertanya-tanya apa akan terjadi jika kita mengorganisir diri kita sendiri dan mengatur dengan penekanan di landasan pemikiran bahwa orang-orang yang berkompeten dapat melakukan apapun juga untuk menselesaikan suatu pekerjaan.
Seorang konselor profesional perlu memiliki kesadaran etik karena di dalam memberikan layanan kepada siswa (manusia) maupun dalam kolaborasi dengan pihak lain akan selalu diperhadapkan kepada persoalan dan isu-isu etis dalam pengambilan keputusan untuk membantu individu.
Kompetensi utama minimal, sebagai kompetensi bersama (common competencies), yang harus dikuasai oleh konselor sekolah, perkawinan, karir, traumatik, rehabilitasi, dan kesehatan mental.
Dalam kapasitasnya sebagai pendidik, konselor berperan dan berfungsi sebagai seorang pendidik psikologis (psychological educator/psychoeducator), dengan perangkat pengetahuan dan keterampilan psikologis yang dimilikinya untuk membantu individu mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi.
Sebagai seorang pendidik psikologis, konselor harus kompeten dalam hal:
1. Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks sosial budaya.
2. Menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik antar maupun intrapribadi dan lintas budaya.
3. Menguasai strategi dan teknik asesmen yang memungkink¬an dapat difahaminya keberfungsian psikologis individu dan interaksinya di dalam lingkungan.
4. Memahami proses perkembangan manusia secara individual maupun secara sosial.
5. Memegang kokoh regulasi profesi yang terinternalisasi ke dalam kekuatan etik profesi yang mempribadi.
6. Memahami dan menguasai kaidah-kaidah dan praktek pen¬didikan

The Power of Prophecies
Robert Rosenthal (Harvard University) mengusulkan, untuk membentuk satu pengharapan terhadap pelaksanaan potensi mereka.
Kita akan menciptakan iklim yang lebih hangat, dan ramah, kita menghargai karena lebih trampil atau layak.
Ini bermanfaat sebagai “umpan balik;” pada kinerja “khusus” dibanding lainnya.
Kita akan lebih dapat menantang informasi klien.
Kita akan usahakan peluang lebih besar serta lebih banyak dorongan untuk melakukannya jika kita mempunyai harapan yang tinggi. Singkatnya, tergantung pada apa yang diharapkan atau mempercayai orang lain, dengan mengubah praktek sedemikian rupa sehingga kita akan mendapat apa yang diharapkan.
Dinamika pelaksanaan diri sendiri menjadi sangat kuat sehingga mempengaruhi hasil eksperimen, tergantung apakah eksperimen dapat dipercaya.
Hal ini bertalian dengan bagaimana kita mengorganisir dan mengaturnya, jika berbohong akan diketahui ketika experimenters.

Prophecies of Incompetence: (Ketidakcakapan dari profesi)
The Managerial Paradox
Pelaksanaan profesi dapat memunculkan suatu pertanyaan yang bertentangan: kita perlu meningkatkan mutu kinerja menjadi suatu kenyataan. Bukankah kita semua lebih baik? Mengapa organisasi-organisasi dan orang-orang tak puas dan gelisah? Mengapa terjadi kemunduran produksi yang universal? Mengapa, dengan semua inovasi stimulants-technological tradisional, investasi modal, dan organisasi canggih produksi menurun di seluruh dunia?. Jawaban berada di dalam fakta bahwa pelaksanaan profesi bekerja dua arah: profesi kita untuk kinerja harapan-harapan kita yang managerial jika anda, menggenapi diri untuk menjadi baik atau berpenyakit. “tidak akan pernah menipu kita”, ahli filsafat Prancis Rousseau menulis, “kita selalu menipu diri kita sendiri.” yang bertentangan dengan bukti yang ada.
Berkenaan dengan profesi kita menemukan self-deceptions pada kompetesi orang lain yang terkait. Dipandang dari sudut alienasi pekerja dan mengurangi keluaran, kita perlu menaksir kembali sifat alami profesi managerial kita. Kita perlu merenungkan sifat alami itu, struktur organisasi dan praktek-praktek managerial yang menggambarkan profesi kita secara aktif. Chris Argyris sudah melakukan, kita dapat melihat bagaimana kita menipu diri kita sendiri. Dan permasalahan produktivitas di tempat kerja memiliki maksud tertentu. Argyris, bahwa yang dibedakan insightfull (pengertian yang mendalam) tentang hidup dalam setiap organisasi, menyatakan kasus dengan ringkas tapi jelas:
… kita sudah merancang organisasi-organisasi yang sudah mengabaikan potensi individu untuk kompetensi, tanggung jawab, tujuan yang membangun, dan produktivitas. Kita sudah menciptakan struktur-struktur dan pekerjaan pada tingkat yang lebih rendah, mengasingkan dan menghalangi para pekerja; memimpin tingkah laku yang bertanggung jawab, tidak hanya tak kenal hukum, hanya dengan suatu kesadaran hukum; dan mengajak mereka berjuang. Products dan layanan seperti itu menjadi ungkapan-ungkapan mengukur rendahnya mutu hidup suatu organisasi.
Perancangan organisasi-organisasi dan structuring pekerjaan mengungkapkan nilai-nilai dan asumsi-asumsi managerial tentang orang-orang dan kondisi-kondisi di bawah mereka diharapkan dapat menghasilkan. Argyris terus berkata bahwa asumsi-asumsi dan nilai-nilai “…tentang manusia dan organisasi-organisasi, apapun juga, yang menjadikan pelaksanaan profesi sendiri dalam pikiran dan pengelolaan-pengelolaan.” Di tempat itu paradox menjadi sangat penting dari managerial kita. Kita mengharapkan yang terburuk, mengorganisir dan mengatur secara setimpal.

Prophecies of Competence:
The Managerial Challenge
Kita harus mengorganisir diri sendiri dan mengatur landasan pemikiran sederhana bahwa orang-orang yang berkompeten mempunyai kecerdikan, kerajinan, dan perhatian akan melakukan apapun agar selesai.
Jika kita mengharapkan kompetensi, lalu mengorganisir secara setimpal mengatur profesi berdasarkan kompetensi, kita perlu mengubah tugas-tugas managerial.
Para manajer. Mereka harus sejati dan, maka harus sesuai dengan tindakannya.
AS. J. Sterling Livingston menyatakan ; Untuk pelaksanaan menjadi profesi diri sendiri, harapan-harapan yang harus dibuat dari bahan buritan dibanding dari keyakinan yang disamaratakan atau berpikiran positif yang menolong secara penuh dalam satu konsep-konsep yang bisa digunakan untuk beberapa tujuan lain . . . harapan-harapan managerial harus melewati ujian sebelum diterjemahkan terhadap kinerja. Dan kita akan di proses, guna mengembangkan dan menyaring teknologi baru untuk memenuhi pekerjaan teknologi sosial dan bersinggungan dengan orang-orang ketimbang peralatan yang digunakan.

The Guiding Philosophy
Pada tahun 1930 almarhum Harwood sebagai pendirinya, menyerahkan pengelolaan miliknya kepada dua orang, psikolog dan insinyur. Mereka mendirikan kebijakan perusahaan bahwa permasalahan pengelolaan akan dipecahkan atas dasar pengetahuan ilmiah. Tahun 1939 Harwood menjadi pusat riset tingkah laku. Kurt Lewin mulai bekerja dengan pengelolaan pabrik dengan permasalahan kepemimpinan, keputusan kelompok membuat hubungan antar pribadi. Lewin akrab dengan pemilik Harwood, membawa para siswa dan para rekan kerjanya untuk menyelesaikan sejumlah proyek-proyek riset di bidang ilmu kepeloporan.
Dalam sebuah kejadian, Dr. Yohanes R. P. French, Jr., salah satu anak didik Lewin dan direktur riset personil untuk perusahaan, menangani oposisi pengelolaan untuk merekrut para pekerja lebih tua menerapkan dengan sukses. “memecahkan masalah melalui pengetahuan ilmiah” aturan yang diberikan pemilik Harwood mengikuti kepemimpinan Lewin, ia melibatkan pengelolaan dalam proyek risetnya ke dalam biaya yang berhubungan dengan memanfaatkan wanita-wanita yang lebih tua. French menciptakan satu peluang bagi para manajer untuk menguji kepercayaan pribadi mereka yang dipandang dari sudut data yang sulit. Para manajer merancang studi dan memikirkan tujuan untuk pengumpulan data. Dan mereka menganalisa data mereka sendiri; proyek mereka sendiri disebut sebagai penemuan.
Hasil-hasil itu kontras kepada harapan-harapan pengelolaan. Tetapi mereka percaya karena, Lewin mengamati, … fakta-fakta menjadi benar-benar fakta mereka (sebagai lawan fakta orang lain). Masing-masing orang akan percaya pada faktanya.
Pengelola menyimpulkan, atas dasar studi mereka sendiri, bahwa manfaat menggunakan orang-orang lebih tua jauh lebih berat dari segi biaya. Itu wajar dan untuk mengharapkan permasalahan produksi dari pekerja yang di bawah standard akan diperlakukan suatu analisa lebih ilmiah, dan metoda penyelidikan ilmiah akan dipusatkan dalam pemecahan masalah.
Scientific Problem Solving (Pemecahan Masalah Secara Ilmiah)
French dan rekan kerjanya, Lester Coch, satu gerakkan “eksperimental” pendekatan pemecahan permasalahan kemerosotan produktivitas dan pekerja malaise. Seperti di banyak setting laboratorium, penyaluran ide-ide langsung dan proses-proses dari pengetahuan ilmiah dicobai dalam dunia pekerjaan.
Manajer produksi menjelaskan gaya baru dari pekerjaan, tugas-tugas pekerjaan baru, dan daftar biaya pengiriman barang-barang baru. Operator diminta mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan diberi jawaban yang terus terang.
Mereka bekerja sama dengan penyelia mereka, dan tidak seorang pun berhenti. Moral yang sempurna mencerminkan perasaan mereka bahwa mereka adalah suatu regu. Dan akhirnya, keterlibatan akan suatu faktor yang positif lebih seragam, lebih sedikit sporadis, individu yang produktif.
Ada kesembuhan cepat setelah perubahan sistem kerja: suatu tingkat yang lebih tingginya dan yang baru dari keluaran, tanpa permusuhan, tanpa akhir-akhir, kooperasi dan moral tinggi.

The Emergence of New Managerial Values (Kemunculan dari Nilai-nilai Managerial Yang Baru)
Pendekatan managerial menggambarkan telah meningkatkan pengembangan perusahaan, eksperimen Harwood melambangkan sisi manusia dari gambar pengelolaan di mana-mana.
Perubahan-perubahan mempengaruhi sikap dan tingkah laku dari para pekerja, mereka menanggapi sering juga direpotkan oleh perubahan.”
Asumsi-asumsi nilai-nilai managerial baru dan expectations-were fitur penjelasan dari pengalaman Harwood. Ini semua dapat kita pelajari; bahwa kita dapat membangun dan mulai untuk bersiap-siap menghadapi masa depan.

The Miracle in Restrospect (Mukjizat di Restrospect)
Shtogren, “pemakaian sederhana dan metoda uncontrolling seperti keikutsertaan, kelihatannya bila melihat peristiwa lalu, sedikit banyaknya dari mukjizat managerial.”
Tetapi praktek-praktek partisipatif tidaklah mukjizat Marion: mukjizat adalah ada apa di balik praktek-praktek seperti itu. Praktek-praktek partisipatif didasarkan pada suatu harapan managerial seseorang.
Mukjizat Marion adalah kemunculan dari suatu profesi managerial dari kompetensi, suatu kepercayaan bahwa orang-orang umumnya enerjik dan kreatif memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan kerja mereka kembali pada apa yang telah diusahakannya. Milikilah pendapat-pendapat pekerja itu dari banyak nilai? Itu tergantung kepada keadaan seberapa banyak partisipator mengenal dan seberapa penting perkara itu baginya.
Harwood bertemu dengan para pekerja dan dapat membuat usul-usul praktis yang pantas dipertimbangkan. Berdayacipta dan berakal: cerdik, mampu melihat jalan pintas, dan sadar akan mereka sendiri dan memahami kemampuan rekan sekerja mereka.
Marrow tidak pernah satu penghargaan kenyataan kompetensi, tetapi ia mengharapkan kompetensi menjelma dan mulai mengatur secara setimpal. Apa yang akan terjadi jika kita mengorganisir diri kita sendiri dan mengatur atas dasar landasan pemikiran sederhana bahwa orang-orang juga berkompeten, bahwa mereka dapat melakukan apapun juga yang perlu diselesaikan? Jawabannya: Kita akan berhasil dengan baik dalam cara-cara yang dibayangi oleh pikiran managerial tradisional.
Dalam posisi influence-managers, para guru, orang tua, dan memilih leaders-can. Kendati kita bimbang dan ragu-ragu bercampur takut, berasal dari kompetensi dari profesi, kita akan menemukan alternatif-alternatif baru, asumsi-asumsi dan nilai-nilai baru secara terbuka. Ini akan mendorong kita untuk mencoba strategi dan eksperimen baru dengan praktek-praktek baru.
Kunci dimasa depan adalah mengerti nilai kompetensi manusia. Bahwa kita dapat menghidupi pengelolaan yang tepat. Oleh karena itu, sebelum mengandalkan strategi pengelolaan spesifik, alamatkan pada diri sendiri untuk kompetensi pokok yang underlies produktivitas sehingga kita bisa lebih baik memahami sumber daya yang kaya.

A PRESUMPTION OF COMPETENCE (Suatu Anggapan dari Kompetensi)
Kebanyakan dari teori-teori organisasi dan usaha-usaha managerial kita telah dicocokkan terutama untuk melindungi ketidakcakapan. Argyris: “…kita sudah merancang organisasi-organisasi yang sudah mengabaikan potensi individu untuk berkompetensi, tanggung jawab, tujuan dan produktivitas bersifat membangun.”
Jika kita mencapai keunggulan di dalam organisasi-organisasi dan komunitas-komunitas, kita harus melakukan reorientasi diri kita sendiri. Kita harus membuat suatu anggapan kompetensi di tempat kerja ketimbang ketidakcakapan, karena kinerja tingkat tinggi bersandarkan hal yang sederhana, namun tidak semua orang menerima, bahwa orang-orang akan berperilaku dengan segenap kemampuan jika kita memberi kesempatan pada mereka.
Di dalam organisasi-organisasi bahwa orang-orang mempunyai kapasitas untuk memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan produktivitas kolektif pribadi, bahwa mereka memiliki kecerdikan yang diperlukan karena pertunjukan perkakas dari pekerjaan mereka dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk kinerja superior. Ini berarti bahwa mereka disetir oleh suatu kebutuhan untuk meyakinkannya dengan baik.
Fakta historis dari kompetensi manusia secara individu, komponen-komponen dan bukti mendasar suatu motivasi komptensi, dan keperluan absolut dari suatu konteks organisatoris yang diciptakan oleh manajers pada faktor lingkungan dan mendukung kompetensi sehingga mungkin saja dinyatakan dalam pekerjaan. Kita dapat membangun suatu teknologi sosial untuk kompetensi dalam komunitas-komunitas dan organisasi-organisasi kita.
PERSONAL COMPETENCE
Pengertian.
Kemampuan interpersonal menurut Spitzberg & Cupach (dalam Muhamad) Lukman 2000:10) adalah “kemampuan seorang individu untuk melakukan komunkasi yang efektif”. Kemampuan ini ditandai oleh adanya karakteristik-karakteristik psikologis tertentu yang sangat mendukung dalam menciptakan dan membina hubungan antar pribadi yang baik dan memuaskan. Sedangkan kemampuan interpersonal menurut Buhrmester, dkk (1988 ; 991) adalah : “ kecakapan yang dimiliki seorang untuk memahami berbagai situasi sosial dimanapun berada serta bagaimana tersebut menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan harapan orang lain yang merupakan interaksi dari individu dengan individu lain. Kekurang mampuan dalam hal membina hubungan interpersonal berakibat terganggunya kehidupan sosial seseorang. Seperti malu, menarik diri, berpisah atau putus hubungan dengan seseorang yang pada akhirnya menyebabkan kesepian. Berdasarkan definisi diatas, maka penulis berpendapat bahwa kemampuan interpersonal adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki seseorang dimana ia mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain dan mengerti apa yang diinginkan orang lain dari dirinya, entah itu dari sikap, tingkah laku atau perasaannya.
Buhmester, dkk (1988 : 933) menemukan 5 aspek kemampuan interpersonal, yaitu:
a. Kemampuan berinisiatif;
Inisiatif merupakan usaha pencarian pengalaman baru yang lebih banyak dan luas tentang dunia luar dan tentang dirinya sendiri dengan tujuan untuk mencocokan sesuatu atau informasi yang telah diketahui agar dapat lebih memahami. Jalaludin Rahmat (1998 : 125) mengemukakan bahwa “hubungan interpersonal berlangsung melewati 3 tahap yaitu, tahap pembentukan hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Kemampuan berinisiatif yang pertama inilah yang dimaksud dengan tahap perkenalan dalam hubungan interpersonal.
b. Kemampuan bersikap terbuka (self disclosure);
Adalah kemampuan seseorang untuk mengungkap informasi yang bersifat pribadi mengenai dirinya dan memberikan perhatian kepada orang lain. Dengan adanya keterbukaan, kebutuhan dua orang terpenuhi yaitu dari pihak pertama kebutuhan untuk bercerita dan berbagi rasa terpenuhi, sedang bagi pihak kedua dapat muncul perasaan istimewa karena dipercaya untuk mendengarkan cerita yang bersifat pribadi.
c. Kemampuan bersikap asertif;
Menurut Pearlman dan Cozby (dalam Fuad Nashori, 2000 : 30) mengartikan “asertif sebagai kemampuan dan kesedian individu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan secara jelas dan dapat mempertahankan hak-hak dengan tegas. Dengan demikian sifat asertif, individu tidak akan diperlukan secara tidak pantas oleh lingkungan sosialnya dan dianggap sebagai individu yang memiliki harga diri.
d. Kemampuan memberikan dukungan emosional;
Menurut Buhmester dkk (1988:998) “dukungan emosional mencakup sangat berguna untuk mengoptimalkan komunikasi interpersonal antara dua individu”. Sedangkan menurut Barker dan Lemle (dalam Buhmester, dkk 1998) mengatakan bahwa sikap hangat juga dapat memberikan perasaan nyaman kepada orang lain dan akan sangat berarti ketika orang tersebut dalam kondisi tertekan dan bermasalah.
e. Kemampuan Mengatasi Konflik;
Konflik senantiasa hadir dalam setiap hubungan antar manusia dan bisa muncul karena berbagai sebab. Menurut Buhmester (1988) mengatakan bahwa kemampuan mengatasi konflik adalah berupaya agar konflik yang muncul dalam suatu hubungan interpersonal tidak semakin memanas. Kemampuan mengatasi konflik itu diperlukan agar tidak merugikan suatu hubungan yang telah terjalin karena akan memberikan dampak yang negatif.

The Shadow Truth (Kebenaran Bayangan)
Kita harus memahami dan menghargai kompetensi sebagai suatu sifat manusia, sebagai suatu kapasitas yang tersebar luas untuk diselesaikan. Kompetensi lebih mendasar dibanding ketrampilan-ketrampilan khusus yang kita sebut sebagai keahlian. Tanpa kompetensi beberapa kapasitas pokok perlu dilaksanakan untuk mengetahui pengalaman masa lampau, mustahil akan ada tanpa ketrampilan-ketrampilan khusus/tanpa keahlian. Konsep dari kompetensi harus berlaku bagi semua, Yohanes Gardner telah menggambarkan perangkap-perangkap dari elitism.
Plumber yang sempurna jauh lebih besar yang bisa dihormati dari satu ahli filsafat yang tidak cakap. Masyarakat yang merendahkan keunggulan di dalam menduga karena Plumbing adalah suatu aktivitas sederhana dan memaklumi mutu yang rendah dalam filsafat karena itu adalah satu aktivitas yang diagungkan akan memiliki saluran filsafat yang baik kerena teori-teorinya benar/masuk akal.
Robert W. White, telah menggambarkan kompetensi seperti kunci kebugaran adaptif: semakin berkompeten kita semakin bugar kita berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial secara fisik, untuk menanggapi secara produktif kepada permintaan-permintaan mereka yang kita buat. Jika kita memandang kompetensi sebagai kebugaran adaptip. Tingkah laku adaptip digambarkan sebagai tingkah laku yang membantu permintaan-permintaan lingkungan, sebagai satu kemampuan untuk membuat tanggapan-tanggapan yang sesuai untuk mengubah keadaan. Ini menghantam isu-isu inti kompetensi. Mengutamakan kreativitas dan komitmen kita untuk merinci kinerja yang berkompeten dalam dinamika paling mendasar sehingga kita dapati hakekatnya dan bersiap-siap menghadapi pengelolaannya.
SOSOK UTUH KOMPETENSI KONSELOR
Kompetensi Akademik Konselor
Kompetensi akademik konselor yang utuh diperoleh melalui Program S-1 Pendidikan Profesional Konselor Terintegrasi (Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds.) (1990).
Kompetensi akademik seorang Konselor Profesional terdiri atas kemampuan:
a. Mengenal secara mendalam konseli yang hendak dilayani.
Seyogyanya melebar ke segenap spektrum kemampuan intelektual manusia sebagaimana dipaparkan dalam gagasan inteligensi multipel (Gardner, 1993) selain juga menghormati keberadaan kemampuan berpikir sintetik dan kemampuan berpikir praktikal di samping kemampuan berpikir analitik yang telah dikenal luas selama ini (Sternberg, 2003), Konselor selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan konseli dalam pelaksanaan layanan ahlinya,
b. Menguasai khasanah teoretik dan prosedural termasuk teknologi dalam bimbingan dan konseling.
Van Zandt, Z dan J. Hayslip, (2001) mencakup kemampuan:
1) Menguasai secara akademik teori, prinsip, teknik dan prosedur dan sarana yang digunakan dalam penyeleng¬garaan pelayanan bimbingan dan konseling.
2) Mengemas teori, prinsip dan prosedur serta sarana bimbingan dan konseling sebagai pendekatan, prinsip, teknik dan prosedur dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.
3) Menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan.
Upaya peningkatan diri itu juga dapat dilakukan secara lebih sistematis dengan melakukan Penelitian Tindakan (Action Research), dengan mengakses berbagai sumber informasi termasuk yang tersedia di dunia maya, selain melalui interaksi kesejawatan baik yang terjadi secara spontan-informal maupun yang diacarakan secara lebih formal, sampai dengan mengikuti pelatihan serta pendidikan lanjut.
Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor terbentuk melalui latihan dalam menerapkan Kompetensi Akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dikuasai itu dalam konteks otentik di sekolah atau arena terapan layanan ahli lain yang relevan melalui Program Pendidikan Profesi Konselor berupa Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang sistematis dan sungguh-sungguh.

THE COMPETENT RESPONSE:
Creativity Fueled by Commitment (Kreativitas Fueled oleh Komitmen)
Di dalam organisasi-organisasi kita menjadi adaptip, berarti bahwa orang-orang tidak hanya mampu mengidentifikasi dengan meneliti berbagai hubungan antar pribadi, dan tugas menuntut mereka dapat menanggapi suatu pertunjukan benar-benar produktif, tetapi mereka harus mampu membuat alternatif dan memprediksikan akibat-akibatnya. Ini adalah tingkah laku pemecahan masalah dasar dan memerlukan suatu fleksibilitas pemikiran bahwa ini membatasi parameter-parameter palsu. Ini semua disebut proses-proses kreatif. Mereka memerlukan kebebasan untuk bertindak.
Tetapi tanpa peluang untuk kompetensi kreativitas akan kecil. Dan tanpa kreativitas komitmen akan kecil. Orang-orang cenderung memikirkan, dan memberi usaha lebih besar untuk mempunyai suatu pancang atau kesadaran dari kepentingan pribadi.
Suatu definisi kompetensi pribadi yang lebih tepat saling mempengaruhi creative-commitment. Proses kompetensi sebagai kesiap-siagaan kebugaran dan tanggapan adaptif adalah kapasitas yang mendukung orang-orang untuk menanggapi suatu pertunjukan kreatif dan terikat kepada permintaan-permintaan penempatan di lingkungan mereka. Orang-orang tidak hanya bertahan hidup tetapi berhasil dengan baik karena mereka cocok secara adaptif.

THE COMPETENCE MOTIVE:
A Personal Need to Perform Well (keperluan pribadi untuk lebih baik)
Suatu kapasitas yang didukung untuk adaptif kreatif dan yang terikat, kompetensi dasar dari kebanyakan organisasi-organisasi karena mayoritas luas orang-orang yang meliputi organisasi-organisasi akan lebih berhasil. Bahwa ada suatu motivasi kompetensi, suatu kebutuhan antar orang-orang untuk menunjukkan kompetensi mereka.
Bayi-bayi bekerja keras untuk menguasai tugas-tugas sederhana yang berdampak pada lingkungan mereka. Anak-anak secara spontan menjelajah pada tahap yang lebih rumit. Mencari-cari tantangan ini tidak pernah berakhir, sehingga kita semua sudah mengenal dalam satu wujud atau yang lain.
Kompetensi diperlukan tanpa daya dorong eksternal. Kompetensi pada hakekatnya memuaskan. Tetapi “prestasi dari peluang kompetensi sering kali bergantung pada yang lain.

The Need for Efficacy and Personal Worth: Self-respect
(Kebutuhan Akan Kemanfaatan dan Nilai Pribadi: Self-respect)
Erikson, menunjuk makna dari pemenuhan pemecahan masalah dan tugas yang sukses untuk konsep diri, telah menggambarkan pahala dari kompetensi dalam kaitan dengan menggunakan istilah mengembangkan gambaran diri. Tingkah laku berkompeten, katakan Erikson, menyediakan “. . .suatu verifikasi diri sendiri dalam arti penting yang kekal.
” Peluang untuk berperilaku dengan segenap kemampuan menegaskan lagi dan memperkuat masing-masing dari kita, sepanjang hidup kita, dan menolong kita merasakan baik tentang apa yang kita alami .
Mike Lefevre memahami apa yang disebut sebagai motivasi kompetensi adalah semua yang diinginkan untuk berbuat baik pada pekerjaan dan menginginkan yang lain untuk mengenal lebih baik.
Orang-orang yang datang kepada organisasi, yang mampu dan ingin berkerja dengan segenap kemampuan. Para manajer lalu menyediakan mereka dengan kebijakan-kebijakan dan peraturan gelanggang, panji-panji dan sasaran hasil, yang akan menandai pekerjaan mereka. Orang-orang menyediakan kapasitas dan para manajer menyediakan konteks. Sering kali bertabrakan karena konteks untuk melakukan pekerjaan mencerminkan beberapa alasan orang mengerjakan semua.
Competence and the Meaning of Work (Kompetensi dan pemaknaan kerja)
Pandangan-pandangan hidup berakar dalam teori ekonomi, teologi dan filsafat politis; dan mereka mencerminkan nilai-nilai pengalaman masing-masing. Tetapi mereka terkait dengan kesehatan jiwa dan dinamika pengembangan sosial manusia mempunyai suatu pandangan yang berbeda.
Menurut Freud, keberadaan manusia digambarkan dengan menggunakan istilah kenyataan-kenyataan mendasar yang disebut sebagai keunikan. Freud berkata, kita perlu mengasihi dan dikasihi untuk menghasilkan sesuatu yang baik bagi diri sendiri. Lalu pekerjaan, menjadi syarat kenormalan. Bahwa pekerjaan terbaik mampu menyatakan banyak ketrampilan dan masing-masing keunikan kita. Kejemuan dalam pekerjaan akan mempengaruhi dan mempunyai dampak di mana berada. Rasa jemu akan pekerjaan akan mencapai dan mendukung suatu pergerakan perasaan, bahwa rangsangan dan kesadaran yang tumbuh adalah dasar yang mirip proses. Apakah setiap keajaiban akan memperoleh kebermanfaatan dan worthself-respect-from (rasa hormat pada diri sendiri) pribadi pekerja aktip? Makanya kita perlu menegaskan kebiasaan hidup.
Dan apakah setiap keajaiban ditanggapi sebagai cara counterproductive dengan permusuhan dan antagonisme, dengan apatif dan mereka mengabaikannya sehingga mengganggu pekerjaan atau lebih sulit melakukan dengan baik? Penelitian Sosial menggarisbawahi pentingnya kesehatan emosional, itu bahwa kita menyamakan kompetensi dengan normalcy.
Motivasi kompetensi terikat secara langsung pada sasaran normalcy. Keinginan untuk melakukan yang terbaik, merasakan baik untuk dirinya, reward atas tidak ada pemenuhan. Tanpa daya dorong dari luar, ancaman-ancaman sebagai peluang pengungkapan. Mereka akan menyangkal kesempatan semacam itu karena beberapa dugaan yang salah sekitar pekerjaan, oleh penganut faham elit manusia melakukan semua tindakan yang merugikan.
When Competence is Frustrated (Ketika Kompetensi Terhalang)
Chris Argyris menyimpulkan bahwa organisasi-organisasi dipasang dalam cara-cara yang tidak mengambil kapasitas manusia untuk membalikkan proses pertumbuhan yang alami; untuk mendorong ketergantungan ketimbang kemerdekaan; untuk mengharapkan ketidak dewasaan ketimbang kedewasaan seperti norma; dan untuk mempromosikan kegagalan psikologis ketimbang keberhasilan psikologis. Orang-orang mempelajari kondisi-kondisi seperti itu untuk berperilaku secara tidak cakap. Mereka belajar untuk menjadi bersikap tunduk dan pasif, untuk menghindari tanggung jawab dan resiko.
Kegagalan mengenali kompetesi dan kegagalan membentuk langkah-langkah kritis utama dalam hilangnya kompetensi organisatoris. Kapasitas kompetensi adalah bawaan tetapi secara langsung dipengaruhi oleh agen-agen dan di luar kejadian. Sebenarnya yang dirampas kepuasan, dan akan menjadi lebih besar sehingga menjadi frustasi.
Kita tidak benar-benar membicarakan perasaan dan ketegangan-ketegangan yang dicetuskan kompetensi frustrasi? Persoalannya bahwa, kita tidak terbiasa berpikir dalam penggunaan istilah kompetensi manusia dan pengelolaannya. Kita salah menafsir tanda-tanda kompetensi ftrustrasi. Kesalahan dari kegagalan kompetensi untuk menciptakan konteks yang tepat sebagai ungkapan yang bertanggung jawab terhadap masalah produksi utama dan moral yang kita hadapi.
Meskipun semua bukti di dalam dukungan, konsep dari kompetensi tersebar luas tidak akan kelihatan kepada semua. Akan selalu ada mereka yang melihat para pekerja mereka seperti tidak produktif dan yang tanpa motivasi. Mereka akan memilih beberapa pemain sandiwara yang lemah dan mengutip perkecualian untuk membuktikan kebalikannya. Tetapi perkecualian-perkecualian tidak menantang prinsip kompetensi. Kita semua mengetahui bahwa ada orang-orang yang tidak peduli ketika kita semua mengetahui bahwa ada individu bernasib sial yang tidak berfungsi di dalam batasan-batasan kenormalan. Barangkali, seperti para manajer, kita seharusnya mengambil suatu yang sulit memperhatikan perkecualian-perkecualian kita; lebih sering daripada tidak, kita akan menemukan bahwa mereka berasal dari perbuatan kita sendiri, bahwa kita sudah mendapat motivasi kompetensi.
Kita harus mengenali bila berhadapan dengan orang lain, semua us-managers, orang tua, para guru, para pemimpin dari tiap jenis akan berhadapan dengan kemampuan, dengan talenta-talenta dan sifat-sifat bahwa tidak hanya ada di masa datang tetapi juga di masa depan. Erich Fromm, mengatakan yang penting realitas.
Demikian juga dengan orang-orang di tempat kerja. Bagaimana jika, para manajer kita, menujukan diri sendiri, kepada organisasi-organisasi ketimbang orang yang ada di dalamnya? orang-orang itu bukan masalah. Secara individu mereka berkompeten. Ini adalah pekerjaan pengelolaan untuk memanfaatkan kompetesi pribadi sehingga mungkin menjadi kompetensi kolektif. Ini adalah pekerjaan pengelolaan untuk menyediakan suatu konteks di mana kompetensi bisa dinyatakan, di mana komitmen dan kreativitas berkibar. Kunci dalam posisi ini pada peningkatan produktivitas dan moral di tempat kerja untuk menggeser perhatian kita dari kapasitas individu dan berfokus kepada konteks organisatoris yang mengendalikan ungkapan kompetensi.

Daftar Pustaka
Depdiknas, (2009) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi, 2003; Schone, 1983; Corey, 2001; Hogan-Garcia, 2003; Sternberg, 2003.
Sofyan Willis, S (2009) Konseling Individual, AlfaBeta, Bandung
Sunaryo, (2009) Arah Dan Tantangan Bimbingan Dan Konseling Profesional:Proposisi Historik- Futuristik,UPI Press

Winkel, (2002) Bimbingan Konseling di Sekolah, Gramedia, Jakarta

COMPETENCE CONNECTION IN GLOBAL PERSPECTIVES The Essence of And The Need for Competence Conection (Essence dan kebutuhan kemampuan Menjalin Hubungan)

Februari 12, 2010

A. Pengertian Competence Conection

Kompetensi merujuk kepada penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. Koneksi berkenaan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jika koneksi berkaitan dengan jalinan kerja profesional maka koneksi yang terjalin sehubungan dengan kemampuan dan komitmen dalam suatu kerjasama dalam secara profesional. Pekerjaan profesional akan menuntut orang-orang agar memiliki kemampuan menjalin hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, sehingga pekerjaan dapat terlaksana dengan baik serta dapat bekerja dalam kerangka profesi yang profesional.

Kode Etik: Seorang konselor profesional perlu memiliki kesadaran etik karena di dalam memberikan layanan kepada siswa (manusia) maupun dalam kolaborasi dengan pihak lain akan selalu diperhadapkan kepada persoalan dan isu-isu etis dalam pengambilan keputusan untuk membantu individu.
Kompetensi utama minimal, sebagai kompetensi bersama (common competencies), yang harus dikuasai oleh konselor sekolah, perkawinan, karir, traumatik, rehabilitasi, dan kesehatan mental.
Dalam kapasitasnya sebagai pendidik, konselor berperan dan berfungsi sebagai seorang pendidik psikologis (psychological educator/psychoeducator), dengan perangkat pengetahuan dan keterampilan psikologis yang dimilikinya untuk membantu individu mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi. Sebagai seorang pendidik psikologis, konselor harus kompeten dalam hal:
1. Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks sosial budaya. Ini berarti seorang konselor harus mampu mengakses, mengintervensi, dan mengevaluasi keterlibatan dinamis dari keluarga, lingkun-gan, sekolah, lembaga sosial dan masyarakat sebagai fak¬tor yang berpengaruh terhadap keberfungsian individu di dalam sistem.
2. Menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik antar maupun intrapribadi dan lintas budaya.
3. Menguasai strategi dan teknik asesmen yang memungkink¬an dapat difahaminya keberfungsian psikologis individu dan interaksinya di dalam lingkungan.
4. Memahami proses perkembangan manusia secara individual maupun secara sosial.
5. Memegang kokoh regulasi profesi yang terinternalisasi ke dalam kekuatan etik profesi yang mempribadi.
6. Memahami dan menguasai kaidah-kaidah dan praktek pen¬didikan

B. Kemampuan Interpersonal.
1. Pengertian.
Kemampuan interpersonal menurut Spitzberg & Cupach (dalam Muhamad) Lukman 2000:10) adalah “kemampuan seorang individu untuk melakukan komunkasi yang efektif”. Kemampuan ini ditandai oleh adanya karakteristik-karakteristik psikologis tertentu yang sangat mendukung dalam menciptakan dan membina hubungan antar pribadi yang baik dan memuaskan. Sedangkan kemampuan interpersonal menurut Buhrmester, dkk (1988 ; 991) adalah : “ kecakapan yang dimiliki seorang untuk memahami berbagai situasi sosial dimanapun berada serta bagaimana tersebut menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan harapan orang lain yang merupakan interaksi dari individu dengan individu lain. Kekurang mampuan dalam hal membina hubungan interpersonal berakibat terganggunya kehidupan sosial seseorang. Seperti malu, menarik diri, berpisah atau putus hubungan dengan seseorang yang pada akhirnya menyebabkan kesepian. Berdasarkan definisi diatas, maka penulis berpendapat bahwa kemampuan interpersonal adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki seseorang dimana ia mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain dan mengerti apa yang diinginkan orang lain dari dirinya, entah itu dari sikap, tingkah laku atau perasaannya.
2. Aspek-aspek kemampuan Interpersonal; Kemudian Buhmester, dkk (1988 : 933) menemukan 5 aspek kemampuan interpersonal, yaitu:
a. Kemampuan berinisiatif;
Inisiatif merupakan usaha pencarian pengalaman baru yang lebih banyak dan luas tentang dunia luar dan tentang dirinya sendiri dengan tujuan untuk mencocokan sesuatu atau informasi yang telah diketahui agar dapat lebih memahami. Jalaludin Rahmat (1998 : 125) mengemukakan bahwa “hubungan interpersonal berlangsung melewati 3 tahap yaitu, tahap pembentukan hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Kemampuan berinisiatif yang pertama inilah yang dimaksud dengan tahap perkenalan dalam hubungan interpersonal.
b. Kemampuan bersikap terbuka (self disclosure);
Adalah kemampuan seseorang untuk mengungkap informasi yang bersifat pribadi mengenai dirinya dan memberikan perhatian kepada orang lain. Dengan adanya keterbukaan, kebutuhan dua orang terpenuhi yaitu dari pihak pertama kebutuhan untuk bercerita dan berbagi rasa terpenuhi, sedang bagi pihak kedua dapat muncul perasaan istimewa karena dipercaya untuk mendengarkan cerita yang bersifat pribadi. Disini seorang remaja dapat mengungkapkan perasaannya sekaligus dapat mendengarkan dengan baik segala keluhan dari sahabatnya. Dan adanya self disclosure ini terkadang seseorang menurunkan pertahanan dirinya dan membiarkan orang lain mengetahui dirinya secara lebih mendalam.
c. Kemampuan bersikap asertif;
Dalam komunikasi interpersonal orang sering kali mendapat kejanggalan yang tidak sesuai dengan alam pikirannya, sehingga disaat seperti itu diperlukan sikap asertif dalam diri orang tersebut. Menurut Pearlman dan Cozby (dalam Fuad Nashori, 2000 : 30) mengartikan “asertif sebagai kemampuan dan kesedian individu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan secara jelas dan dapat mempertahankan hak-hak dengan tegas. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya secara jelas, meminta orang lain untuk melakukan sesuatu dan menolak melakukan hal yang tidak diinginkan tanpa melukai perasaan orang lain, jadi seseorang itu memahami tindakan dan ucapannya sendiri. Dengan demikian sifat asertif, individu tidak akan diperlukan secara tidak pantas oleh lingkungan sosialnya dan dianggap sebagai individu yang memiliki harga diri.
d. Kemampuan memberikan dukungan emosional;
Menurut Buhmester dkk (1988:998) “dukungan emosional mencakup kemampuan memberikan dukungan emosional sangat berguna untuk mengoptimalkan komunikasi interpersonal antara dua individu”. Sedangkan menurut Barker dan Lemle (dalam Buhmester, dkk 1998) mengatakan bahwa sikap hangat juga dapat memberikan perasaan nyaman kepada orang lain dan akan sangat berarti ketika orang tersebut dalam kondisi tertekan dan bermasalah.
e. Kemampuan Mengatasi Konflik; Setiap hubungan antar pribadi mengandung unsur perbedaan yang dapat menyebabkan terjadinya konflik. Konflik senantiasa hadir dalam setiap hubungan antar manusia dan bisa muncul karena berbagai sebab. Menurut Buhmester (1988) mengatakan bahwa kemampuan mengatasi konflik adalah berupaya agar konflik yang muncul dalam suatu hubungan interpersonal tidak semakin memanas. Kemampuan mengatasi konflik itu diperlukan agar tidak merugikan suatu hubungan yang telah terjalin karena akan memberikan dampak yang negatif. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan interpersonal merupakan kecakapan yang dimiliki individu untuk memahami berbagai situasi sosial dan menentukan perilaku yang tepat yang merupakan hasil dari interaksi individu dengan orang lain yang mencakup lima komponen yaitu kemampuan berinisiatif, kemampuan bersikap terbuka (self disclosure), kemampuan untuk bersikap asertif, kemampuan memberikan dukungan emosional, kemampuan dalam mengatasi konflik.

B. Arah Pengembangan BK di Era Abad 21
(Norman C. Gysber, 2001). Dalam Sunaryo (2009) Beberapa hal yang patut menjadi perhatian serius dalam mengembangkan bimbingan dan konseling profesional di era abad 21 adalah:
1. Kebutuhan akan kejelasan tujuan dan misi
Kebutuhan profesi bimbingan dan konseling, melakukan kolaborasi dengan bidang-bidang atau profesi lain di dalam dan di luar pendidikan; mendiskusikan tujuan dan misi bimbingan dan konseling abad 21. ABKIN sebagai asosiasi profesi harus tampil mengambil peran kepemimpinan dalam menangani tugas yang penting dan strategik ini baik di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional. Bimbingan dan konseling pada abad 21 bahwa bimbingan dan konseling dinyatakan sebagi bagian terpadu dari pendidikan.
Myers (1920) dan Payne (1923) menegaskan bahwa bimbingan dan konseling adalah bagian integral dari pendidikan. Bahwa bimbingan dan konseling adalah bagian tepadu dari pendidikan; dan kini saatnya pula untuk meletakan prinsip kebijaksanaan itu di dalam praktek.
2. Kebutuhan akan kerangka kerja bimbingan dan konseling kom-prehensif.
Model bimbingan dan konseling (perkembangan) komprehensif adalah model yang memposisikan konselor untuk menaruh perhatian penuh kepada seluruh siswa, bekerja bersama dengan orangtua, guru, administrator, dan stakeholder lainnya. Arah perkembangan ini perlu ditindaklanjuti dan ditegaskan dalam agenda abad 21.
3. Kebutuhan akan akuntabilitas
Akuntabilitas berkaitan dengan pertanggung jawaban atas hasil yang harus dicapai oleh layanan/program yang ditawarkan. Fokus akuntabilitas bimbingan dan konseling pada dewasa ini terletak pada prestasi akademik, perkembangan pribadi/sosial dan karir. Studi Sunaryo Kartadinata dan Tim (1999), Sunaryo Kartadinata dan Tim (2003), dan ABKIN (2004) memberikan dasar empirik bagi pengokohan identitas dan wilayah garapan bimbingan dan konseling dalam seting pendidikan. Model ini menginkorporasikan bimbingan dan konseling berkontribusi signifikan terhadap perkembangan akademik, pribadi-sosial, dan karir siswa.
4. Kebutuhan advokasi
Langkah sistematis diawali pada tahun 1975 untuk menempatkan bimbingan dan konseling dalam posisi yang lebih jelas, dan dibentuknya organisasi profesi yang bertugas mengurusi profesi, menunjukkan bahwa bimbingan dan konseling telah secara aktif ambil bagian secara lebih nyata di dalam kehidupan sosial dan pendidikan di Indonesia; di dalam pengambilan kebijakan dan keputusan pendidikan secara nasional.
Bahwa sebagai sebuah profesi, bimbingan dan konseling memiliki kebutuhan advokasi yang dapat dinyatakan dalam keterlibatan secara aktif di dalam reformasi pendidikan, sosial, dan pekerjaan, terutama dalam bidang-bidang reformasi yang memerlukan kepakaran konselor. Sebuah profesi harus menghindari kondisi yang oleh Haley (1969 dalam Gysber, 2001) disebut sebagai “the five Be’s) yaitu: “be passive, be inactive, be reflective, be silent, beware”.”- (pasif, non-aktip, memantulkan cahaya, tenang, hati-hati”).
5. Kebutuhan melayani semua siswa
Tujuan ini didasarkan kepada asumsi bahwa seluruh siswa dapat dan harus mengambil manfaat dari aktivitas dan layanan bimbingan dan konseling komprehensif untuk memfasilitasi perkembangan akademik, pribadi-sosial, dan karir.
Apa yang dimaksud melayani seluruh siswa saat ini? Ini berarti bahwa program bimbingan dan konseling komprehensif melayani siswa, orang tua, guru, dan stakeholder lain secara seimbang tanpa membedakan jender, ras, etnik, latar belakang budaya, disabilitas, struktur keluarga, dan status ekonomi. Ini adalah pemahaman latarbelakang kultural, sosiologis, psikologis, ekonomi, dan keluarga. Pendekatan multikultural memberi makna dalam konteks persekolahan kultur inklusif ini harus tampak dalam kultur dan layanan sekolah yang mampu mengakomodasi dan memfasilitasi perkembangan anak dari berbagai latar belakang dan kemampuan. Pendidikan inklusif yang pada awal abad 21 ini dicanangkan di Indonesia menuntut layanan bimbingan dan konseling memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus di dalam seting pendidikan reguler, menyiapkan diversifikasi layanan sesuai dengan kebutuhan siswa.

D. Langkah-Langkah Penegasan Identitas Profesi
Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Memahamkan Para Kepala Sekolah
Kepala sekolah yang memaha¬mi dengan baik profesi bimbingan dan konseling akan:
a. Memberikan kepercayaan kepada konselor dan memelihara komunikasi yang teratur dalam berb¬agai bentuk
b. Memahami dan merumuskan peran konselor
c. Menempatkan staf sekolah sebagai tim atau mitra kerja
2. Membebaskan konselor dari tugas yang tidak relevan.
3. Mempertegas tanggung jawab konselor
4. Membangun standar supervisi.

STANDAR KOMPETENSI KONSELOR
A. Kerangka Pikir Dasar
Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Kesejajaran posisi ini tidaklah berarti bahwa semua tenaga pendidik itu tanpa keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Demikian juga konselor memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja yang tidak persis sama dengan guru. Hal ini mengandung implikasi bahwa untuk masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, perlu disusun standar kualifikasi akademik dan kompetensi berdasar kepada konteks tugas dan ekspektasi kinerja masing-masing.
Dengan mempertimbangkan berbagai kenyataan serta pemikiran yang telah dikaji, bisa ditegaskan bahwa pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang diampu oleh Konselor berada dalam konteks tugas “kawasan pelayanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan tentang pendidikan termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum melalui pendidikan”.
Sedangkan ekspektasi kinerja konselor yang mengampu pelayanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik dalam arti selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan pengguna pelayanannya, dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindak pelayanannya itu terhadap pengguna pelayanan, sehingga pengampu pelayanan profesional itu juga dinamakan “the reflective practitioner”.

B. Sosok Utuh Kompetensi Konselor
Sebagaimana lazimnya dalam suatu profesi, sosok utuh kompetensi konselor terdiri atas 2 komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis sehingga tidak bisa dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional.
1. Kompetensi Akademik Konselor
Sebagaimana layanan ahli pada bidang lain seperti akuntansi, notariat dan layanan medik, kompetensi akademik konselor yang utuh diperoleh melalui Program S-1 Pendidikan Profesional Konselor Terintegrasi (Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds.)1, 1990). Ini berarti, untuk menjadi pengampu pelayanan di bidang bimbingan dan konseling, tidak dikenal adanya pendidikan profesional konsekutif sebagaimana yang berlaku di bidang pendidikan profesional guru.
Kompetensi akademik seorang Konselor Profesional terdiri atas kemampuan:
a. Mengenal secara mendalam konseli yang hendak dilayani. Sosok kepribadian serta dunia konseli yang perlu didalami oleh konselor meliputi bukan saja kemampuan akademik yang selama ini dikenal sebagai Inteligensi yang hanya mencakup kemampuan kebahasaan dan kemampuan numerikal-matematik yang lazim dinyatakan sebagai IQ yang mengedepankan kemampuan berpikir analitik, melainkan juga seyogyanya melebar ke segenap spektrum kemampuan intelektual manusia sebagaimana dipaparkan dalam gagasan inteligensi multipel (Gardner, 1993) selain juga menghormati keberadaan kemampuan berpikir sintetik dan kemampuan berpikir praktikal di samping kemampuan berpikir analitik yang telah dikenal luas selama ini (Sternberg, 2003), motivasi dan keuletannya dalam belajar dan/atau bekerja (perseverance, Marzano, 1992) yang diharapkan akan menerus sebagai keuletan dalam bekerja, kreativitas yang disandingkan dengan kearifan (a.I. Sternberg, 2003) serta kepemimpinan, yang dibingkai dengan kerangka pikir yang memperhadapkan karakteristik konseli yang telah bertumbuh dalam latar belakang keluarga dan lingkungan budaya tertentu sebagai rujukan normatif beserta berbagai permasalahan serta solusi yang harus dipilihnya, dalam rangka memetakan lintasan perkembangan kepribadian (developmental trajectory) konseli dari keadaannya sekarang ke arah yang dikehendaki. Selain itu, sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai pekerja di bidang profesi perbantuan atau pemfasilitasian (helping professions), dalam upayanya mengenal secara mendalam konseli yang dilayaninya itu, konselor selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan konseli dalam pelaksanaan layanan ahlinya,
b. Menguasai khasanah teoretik dan prosedural termasuk teknologi dalam bimbingan dan konseling. Penguasaan khasanah teoretik dan prosedural serta teknologik dalam bimbingan dan konseling (Van Zandt, Z dan J. Hayslip, 2001) mencakup kemampuan:
1) Menguasai secara akademik teori, prinsip, teknik dan prosedur dan sarana yang digunakan dalam penyeleng¬garaan pelayanan bimbingan dan konseling.
2) Mengemas teori, prinsip dan prosedur serta sarana bimbingan dan konseling sebagai pendekatan, prinsip, teknik dan prosedur dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.
3) Menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan.
Untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan (Gysbers, N. C. dan P. Henderson, 2006), seorang konselor harus mampu:
a) Merancang kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.
b) Mengimplementasikan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.
c) Menilai proses dan hasil kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan penyesuaian-penyesuaian sambil jalan (mid-course adjustments) berdasarkan keputusan transaksional selama rentang proses bimbingan dan konseling dalam rangka memandirikan konseli (mind competence).
d) Mengembangkan profesionalitas sebagai konselor secara berkelanjutan.

Sebagai pekerja profesional yang mengedepankan kemaslahatan konseli dalam pelaksanaan layanannya, Konselor perlu membiasakan diri menggunakan setiap peluang untuk belajar dalam rangka peningkatan profesio¬nalitas termasuk dengan memetik pelajaran dengan kerangka pikir belajar eksperiensial yang berlangsung secara siklikal (Cyclical Experiental Learning Model, Kolb, 1984) sebagai bagian dari keseharian pelaksanaan tugasnya, dengan merekam serta merefleksikan hasil serta dampak kinerjanya dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling (reflective practitioner, lihat kembali Schone, 1983). Selain itu, upaya peningkatan diri itu juga dapat dilakukan secara lebih sistematis dengan melakukan Penelitian Tindakan (Action Research), dengan mengakses berbagai sumber informasi termasuk yang tersedia di dunia maya, selain melalui interaksi kesejawatan baik yang terjadi secara spontan-informal maupun yang diacarakan secara lebih formal, sampai dengan mengikuti pelatihan serta pendidikan lanjut.

Kompetensi akademik sebagaimana dipaparkan di atas dapat dikuasai melalui pendidikan akademik dengan menu kurikuler yang mencakup kajian tentang Pedagogi, Psikologi Perkembangan, Psikologi Belajar, Bimbingan dan Konseling serta beberapa bidang penunjang seperti Filsafat Pendidikan, Sosiologi, Antropologi budaya, Dinamika Kelompok, Budaya Organisasi Kelas dan Sekolah, di samping kajian tentang program pendidikan dalam sistem pendidikan formal, Strategi Bimbingan dan Konseling serta Strategi Pembelajaran, Asesmen bakat dan minat konseli di samping asesmen proses dan hasil pembelajaran, Dinamika Kelompok, Pengelolaan Kelas dan sebagainya, dengan beban studi minimum 144 SKS.

2. Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor terbentuk melalui latihan dalam menerapkan Kompetensi Akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dikuasai itu dalam konteks otentik di sekolah atau arena terapan layanan ahli lain yang relevan melalui Program Pendidikan Profesi Konselor berupa Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang sistematis dan sungguh-sungguh (rigorous), yang terentang mulai dari observasi dalam rangka pengenalan lapangan, latihan keterampilan dasar penyelenggaraan konseling, latihan terbimbing (supervised practice) yang kemudian terus meningkat menjadi latihan melalui penugasan terstruktur (self-managed practice) sampai dengan latihan mandiri (self-initiated practice) dalam program pemagangan, kesemuanya di bawah pengawasan Dosen Pembimbing dan Konselor Pamong3 (Faiver, Eisengart, dan Colonna, 2004). Sesuai dengan misinya untuk menumbuhkan kemampuan profesional konselor, maka kriteria utama keberhasilan dalam keterlibatan mahasiswa dalam Program Pendidikan Profesi Konselor berupa Program Pengalaman Lapangan itu adalah pertumbuhan kemampuan calon konselor dalam menggunakan rentetan panjang keputusan-keputusan kecil (minute if-then decisions atau tacit knowledge) yang dibingkai kearifan dalam mengorkestrasikan optimasi pemanfaatan dampak layanannya demi ketercapaian kemandirian konseli dalam konteks tujuan utuh pendidikan. Oleh karena itu, pertumbuhan kemampuan mahasiswa calon konselor sebagaimana digambarkan di atas, mencerminkan lintasan dalam pertumbuhan penguasaan kiat profesional dalam penyeleng¬garaan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berdampak menumbuhkan sosok utuh profesional konselor sebagai praktisi yang aman buat konseli (safepractitioner) lihat kembali, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi, 2003; Schone, 1983; Corey, 2001; Hogan-Garcia, 2003; Sternberg, 2003]).

• Asesmen Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan akademik, penguasaan kemampuan profesional hanya dapat diverifikasi melalui pengamatan ahli yang, dalam pelaksanaannya, juga sering mempersyaratkan penggunaan sarana asesmen yang longgar untuk memberikan ruang gerak bagi diambilnya pertimbangan ahli secara langsung (on-the-spot expert judgement) misalnya sarana asesmen yang menyerupai Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG) yang merupakan high-inference assessment instrument, yang telah beredar di lingkungan LPTK sejak awal dekade 1980-an. Ini berarti bahwa perlu dikembangkan sarana asesmen yang serupa di bidang bimbingan dan konseling. Yang juga perlu dicatat sebagaimana telah diisyaratkan di atas adalah bahwa asesmen kemampuan profesional konselor itu tidak cukup apabila hanya dilaksanakan melalui pemotretan sesaat (snapshot atau moment opname), melainkan harus melalui pengamatan berulang, karena sasaran asesmen penguasaan kompetensi profesional itu bukan hanya difokuskan kepada sisi tingkatan kemampuan (maximum behavior) melainkan, dan terlebih-lebih penting lagi, adalah kualitas keseharian (typical behavior) kinerja konselor. Ini berarti bahwa, asesmen penguasaan kemampuan profesional itu perlu lebih mengedepankan rekam jejak (track record) dalam penyelenggaraan pengelolaan pelayanan bimbingan dan konseling dalam kurun waktu tertentu. Demi transparansi, asesmen penguasaan kompetensi profesional calon konselor itu dilakukan dengan menggunakan penguji luar baik dosen Bimbingan dan Konseling yang berasal dari LPTK lain, unsur Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) maupun konselor pamong yang berasal dari sekolah lain. Mahasiwa yang berhasil dengan baik menguasai kompetensi profesional konselor melalui Program Pendidikan Profesional Konselor yang berupa Progam Pengalaman Lapangan sebagaimana dipaparkan dalam bagian ini, dianugerahi Sertifikat Konselor dan berhak mencantumkan singkatan gelar profesi “Kons” di belakang namanya.

Memahani secara Mendalam Konseli yang hendak dilayani:
a. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mdviduaiftas. kebebasan memilih dan mengedepankan kemaslahatan Konseii dalam konteks kemaslahatan umum
b. Mengaplikasikan perkem¬bangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseii dalam bingkai budaya Indonesia, dalam konteks kehidupan global yang beradab
Menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling yang Memandirikan:
a. Menguasai konsep dan praksis asesrnen urluk memahami koncfsi. kebutuhan, dan masalah korset!.
b. Merancang program bimbingan den konseBng
c. Mengimptomert as8<an program bimbingan dan konseling yang komprehensif
d. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling
e. Memanfaatkan hasil penilaian terhadap proses dai hasil Kegiatan bimbingan dan konseling
Menguasai Landasan Teoretik Bmbingan dan Konseling
a. Menguasai teori dan praksis pendidikan
b. Menguasai kerangka teoretlk dan praksis bimbingan dan konsefng
c. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam Jalur, jenis dan Jenjang satuan pendidikan
d Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling
Mengencangkan Pribadi dan Profesionalitas secara Berkelanjutan
a Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Menunjukkan Integritas dan stabilitas kepribadian yang bekerja kuat
c. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika bimbingan dan konseling profesional
d. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat
e. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi
f. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi

C. Rincian Kompetensi Konselor
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
A. MEMAHAMI SECARA MENDALAM KONSELI YANG HENDAK DILAYANI
1. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum 1.1 Mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi
1.2 Menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya
1.3 Peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya
1.4 Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya.
1.5 Toleran terhadap permasalahan konseli
1.6 Bersikap demokratis.
2. Mengaplikasikan per kembang¬an fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli 2.1 Mengaplikasikan kaidah-kaidah perilaku manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran layanan bimbingan d an konseling dalam upaya pendidikan
2.2 Mengaplikasikan kaidah-kaidah kepribadian, individulaitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
2.3 Mengaplikasikan kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
2.4 Mengaplikasikan kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
2.5. Mengaplikasikan kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
B. MENGUASAI LANDASAN TEORETIK BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Menguasai teori dan praksis pendidikan 1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya
1.2 Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran
1.3 Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan
2. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan 2.1 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal
2.2 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus
2.3 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah
3. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling 3.1 Memahami berbagai jenis dan metode penelitian
3.2 Mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling
3.3 Melaksaanakan penelitian bimbingan dan konseling
3.4 Memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling
4. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling 4.1 Mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling.
4.2 Mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling.
4.3 Mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling.
4.4 Mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja.
4.5 Mengaplikasikan pendekatan /model/jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
4.6 Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling.
C. MENYELENGGARAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING YANG MEMANDIRIKAN
1. Merancang program Bimbing¬an dan Konseling 1.1 Menganalisis kebutuhan konseli
1.2 Menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan
1.3 Menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling
1.4 Merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling
2. Mengimplementasi kan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif 2.1 Melaksanakan program bimbingan dan konseling.
2.2 Melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling.
2.3 Memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal,
dan sosial konseli
2.4 Mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling
3. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling. 3.1 Melakukan evaluasi hasil, proses, dan program bimbingan dan konseling
3.2 Melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling.
3.3 Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait
3.4 Menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling
4. Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli 4.1 Menguasai hakikat asesmen
4.2 Memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling
4.3 Menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling
4.4 Mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli.
4.5 Memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli.
4.6 Memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan
4.7 Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling
4.8 Menggunakan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat
4.9 Menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen
D. MENGEMBANGKAN PRIBADI DAN PROFESIONALITAS SECARA BERKELANJUTAN
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 1.1 Menampilkan kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
1.2 Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran terhadap pemeluk agama lain
1.3 Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur
2. Menunjukkan inte gritas dan stabilitas kepribadian yang kuat 2.1 Menampilkan kepribadian dan perilaku yang terpuji (seperti berwibawa, jujur, sabar, ramah, dan konsisten)
2.2 Menampilkan emosi yang stabil.
2.3 Peka, bersikap empati, serta menghormati keragaman dan perubahan
2.4 Menampilkan toleransi tinggi terhadap konseli yang menghadapi stres dan frustasi
2.5 Menampilkan tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif
2.6 Bersemangat, berdisiplin, dan mandiri
2.7 Berpenampilan menarik dan menyenangkan
2.8 Berkomunikasi secara efektif
3, Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional 3.1 Memahami dan mengelola kekuatan dan keterbatasan pribadi dan profesional.
3.2 Menyelenggarakan layanan sesuai dengan kewenangan dan kode etik profesional konselor
3.3 Mempertahankan objektivitas dan menjaga agar tidak larut dengan masalah konseli.
3.4 Melaksanakan referal sesuai dengan keperluan
3.5 Peduli terhadap identitas profesional dan pengembangan profesi
3.7 Mendahulukan kepentingan konseli daripada kepentingan pribadi konselor
4. Mengimplementasi kan kolaborasi intern di tempat bekerja 4.1 Memahami dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/ madrasah, komite sekolah/madrasah) di tempat bekerja
4.2 Mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja
4.3 Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orang tua, tenaga administrasi)
5. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling 5.1 Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi
5.2 Menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling
5.3 Aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi
6. Mengimplementasi kan kolaborasi antarprofesi 6.1 Mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain
6.2 Memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling
6.3 Bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain.

Daftar Pustaka
Sofyan Willis, S (2009) Konseling Individual, AlfaBeta, Bandung
Sunaryo, (2009) Arah Dan Tantangan Bimbingan Dan Konseling Profesional:
Proposisi Historik- Futuristik,UPI Press
Depdiknas, (2009) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia.
Winkel, (2002) Bimbingan Konseling di Sekolah, Gramedia, Jakarta

MAN’S SEARCH FOR MEANING

Februari 12, 2010

Part One
Experiences in a Concentration Camp

Buku ini sebagai sebuah fakta dan peristiwa pengalaman pribadi, pengalaman jutaan tahanan yang menderita. Ini adalah kisah dalam sebuah kamp konsentrasi, diceritakan oleh salah satu korban, dengan banyak siksaan. Bagaimana kehidupan sehari-hari di sebuah kamp konsentrasi dalam pikiran rata-rata tahanan? Sebagian besar peristiwa yang diuraikan di sini tidak terjadi di kamp besar dan terkenal, dimana sebagian besar pembunuhan terjadi.
Para tahanan tanpa tanda perbedaan di lengan baju mereka, siapa yang benar-benar Capos hina. Diberi makan hanya sedikit atau tidak sama sekali. Capos bernasib lebih baik di kamp dan bahkan mereka lebih keras di tahanan daripada para penjaga, dan mereka lebih kejam daripada SS itu. Ini adalah perjuangan tanpa henti merupakan makanan sehari-hari dan untuk kehidupan sendiri, untuk kepentingan sendiri atau untuk teman yang baik.
Sebuah pilihan yang sakit bila tahanan tidak mampu berkerja akan dikirim ke salah satu pusat kamp-kamp besar yang dilengkapi dengan kamar gas dan krematorium. Yang penting menyelamatkan diri sendiri, meskipun semua orang tahu bahwa untuk setiap orang yang diselamatkan, harus ada yang dikorbankan. Tato berupa angka-angka pada kulit mereka, dan juga harus dijahit pada tempat tertentu seperti di celana, jaket, atau mantel. Setiap penjaga yang ingin membuat tuduhan terhadap seorang tahanan hanya melirik nomor (dan cara pandang seperti itu paling ditakuti!).
Tidak ada pertimbangan isu-isu moral atau etika. Setiap orang berpikiran: agar ia tetap hidup karena keluarga menunggunya di rumah, dan untuk menyelamatkan teman-temannya. Tanpa ragu-ragu, ia akan mengatur tahanan lain, untuk mengambil tempatnya dalam transportasi. Orang-orang tahanan bisa tetap hidup, setelah bertahun-tahun terjebak dari kamp ke kamp, mereka telah kehilangan semua eksistensinya, mereka menggunakan segala cara; jujur, dan sebaliknya, bahkan kekuatan brutal, pencurian, dan pengkhianatan dari teman-teman mereka, untuk menyelamatkan diri sendiri. Dan bagi mereka yang pernah masuk, hal itu mungkin membantu mereka untuk memahami, dan untuk memahami, terlalu kecil persentase tahanan yang selamat.
Mantan tahanan sering berkata, “Kami tidak suka berbicara tentang pengalaman kami. Tidak ada penjelasan yang diperlukan bagi mereka yang telah masuk, dan yang lain tidak akan mengerti apa yang kita rasakan”. Hanya orang dalam yang tahu. Penilaiannya mungkin tidak objektif. Upaya apapun harus dilakukan untuk menghindari bias pribadi, dan itu sebenarnya sangat sulit. Perlu memiliki keberanian untuk menceritakan pengalaman. Aku berniat menulis buku ini secara anonim, dengan menggunakan nomor penjara saja. Tapi ketika naskah selesai, saya melihat bahwa publikasi sebagai anonim akan kehilangan setengah nilainya, dan bahwa aku harus memiliki keberanian untuk menyatakan saya secara terbuka. Karena itu saya menahan diri untuk menghapus salah satu bagian, meskipun tidak suka intens eksibisionisme.
Aku tidak bekerja sebagai psikiater di kamp, atau bahkan sebagai dokter, kecuali untuk beberapa minggu terakhir. Beberapa kolega saya cukup beruntung untuk dipekerjakan di posko bantuan pertama yang menerapkan perban terbuat dari potongan kertas limbah. Aku dan teman sebanyak 119.104 orang, dan sebagian besar sedang menggali dan meletakkan rel untuk jalur kereta api. Pada suatu waktu, pekerjaan saya menggali terowongan, tanpa bantuan, untuk air di bawah jalan utama.
Tepat sebelum Natal 1944, disajikan hadiah yang disebut ” kupon premi.” Ini dikeluarkan oleh perusahaan konstruksi dimana kami dijual sebagai budak: perusahaan membayar penguasa kamp dengan harga harian. Biaya kupon lima puluh plennigs dan dapat dipertukarkan sebanyak enam batang rokok, sekali seminggu, meskipun mereka kadang-kadang kehilangan validitasnya. Saya bangga mendapat token bernilai dua belas batang rokok. Tapi yang lebih penting, rokok bisa ditukar dengan dua belas sup, dan dua belas sup lebih baik untuk kita agar terbebas dari kelaparan.
Satu-satunya pengecualian adalah bila mereka telah kehilangan kemauan untuk hidup dan ingin “menikmati” hari-hari terakhir mereka. Jadi, ketika kita melihat seorang kawan mengisap rokok sendiri, kami tahu dia sebenarnya sudah pasrah.
Ketika seseorang meneliti sejumlah besar pengamatan dan pengalaman, tiga tahapan reaksi mental narapidana untuk kehidupan perkemahan menjadi jelas:
(1) mengikuti periode penerimaan;
(2) masa ketika ia berurat berakar baik dalam rutinitas perkemahan; dan
(3) periode pembebasan.

Gejala tahap pertama adalah shock. Saya dengan seribu lima ratus orang menempuh perjalanan dengan kereta api selama beberapa hari dan beberapa malam: ada delapan puluh orang untuk setiap pelatih. Semua harus berbaring di atas barang bawaan, berupa sisa-sisa milik pribadi mereka. Kereta begitu penuh, hanya bagian atas jendela bebas untuk membiarkan abu-abu fajar masuk ke dalam. Kita akan dipekerjakan sebagai pekerja paksa. Kami tidak tahu apakah kita masih di Silesia atau sudah di Polandia. Peluit mesin memiliki suara aneh, seperti teriakan minta tolong untuk beban yang ditakdirkan untuk menuju kebinasaan. Kemudian kereta didorong, mendekati stasiun utama. Tiba-tiba tangisan pecah dari jajaran penumpang yang gelisah, “Ada tanda, Auschwitz!”. Auschwitz sebuah nama yang sangat yang mengerikan: kamar gas, krematorium, pembantaian. Semua jantung berdetak pada saat itu Perlahan-lahan, ragu-ragu, pindah kereta seakan ingin menghindarkan dari para penumpang yang mengerikan selama mungkin.
Dengan sinar fajar nampak garis-garis besar sebuah kamp besar memanjang dari beberapa baris pagar kawat berduri; menara jaga; lampu pencarian, dan kolom-kolom panjang compang-camping sosok manusia, abu-abu di fajar kelabu, trekking sepanjang jalan lurus yang sepi, untuk tujuan yang tidak kita ketahui. Imajinasi saya mengarahkan saya untuk melihat tiang gantungan dengan orang-orang tergantung pada mereka. Aku merasa ngeri, tapi ini hanya sebagai baik, karena langkah demi langkah kami harus terbiasa dengan kejadian mengerikan dan kengerian besar. Akhirnya kami pindah ke stasiun. Keheningan terpotong oleh perintah sambil berteriak. Kami mendengar orang-orang kasar, nada melengking, lagi dan lagi di semua kamp. Suara mereka hampir seperti jeritan terakhir dari korban. Sara serak serak, seolah-olah berasal dari tenggorokan seorang laki-laki yang harus terus berteriak seperti itu, seorang laki-laki yang sedang dibunuh lagi dan lagi. Pintu-pintu kereta terbuka dan satu detasemen kecil menyerbu dalam tahanan. Mereka mengenakan seragam bergaris-garis, mencukur kepala mereka, tetapi mereka tampak cukup makan. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa Eropa, dan semua dengan humor tertentu yang terdengar aneh. Seperti seseorang yang tenggelam mencengkeram sedotan, optimisme saya (yang sering dikuasai perasaan bahkan dalam situasi paling putus asa) berpegang pada pemikiran ini. Tahanan ini terlihat cukup baik, mereka tampaknya berada dalam semangat yang baik dan bahkan tertawa. Siapa yang tahu?
Dalam psikiatri ada kondisi tertentu yang dikenal sebagai “angan-angan penangguhan hukuman.” Si terhukum sebelum eksekusi, segera mendapatkan ilusi bahwa ia mungkin diberi penangguhan pada menit terakhir. Kami juga, menempel-cabik harapan dan diyakini saat terakhir itu tidak akan terlalu buruk. Hanya melihat pipi merah dan bulat wajah orang-orang tahanan adalah dorongan besar. Mereka membentuk sebuah elit yang dipilih secara khusus, yang telah bertahun-tahun menjadi skuad menerima angkutan baru yang bergulung-gulung ke stasiun hari demi hari. Mereka melucuti pendatang baru dan barang bawaan mereka, termasuk barang langka dan perhiasan. Auschwitz tempat yang aneh di Eropa ini, dari tahun-tahun terakhir perang. Pasti ada harta yang unik dari emas dan perak, platinum dan berlian, bukan hanya di gudang-gudang besar, tetapi juga di tangan SS.
Seribu lima ratus tawanan dikurung di gudang yang hanya bisa menampung dua ratus orang saja. Kami kedinginan, kelaparan dan tidak ada cukup ruang bagi setiap orang untuk berjongkok, apalagi untuk berbaring. Sepotong roti satu-lima ons adalah satu-satunya makanan dalam empat hari. Namun aku mendengar tahanan senior yang bertanggung jawab atas gudang tawar-menawar dengan salah satu anggota dari pihak penerima mengenai pin dasi yang terbuat dari platinum dan berlian. Sebagian besar keuntungan akhirnya akan diperdagangkan untuk minuman keras-schnapps. Aku tidak ingat lagi hanya berapa ribu tanda yang diperlukan untuk membeli schnapps untuk “malam gay,” tapi aku tahu bahwa untuk tawanan jangka panjang diperlukan schnapps. Dalam kondisi seperti itu, siapa yang bisa menyalahkan mereka untuk mencoba obat bius? Ada kelompok napi lain yang mendapat minuman keras yang disediakan dalam jumlah tak terbatas oleh SS. Ini adalah orang-orang yang bekerja di kamar-kamar gas dan krematorium, yang suatu hari mereka juga harus meninggalkan peran algojo dan menjadi korban.
Hampir semua orang di transportasi, hidup di bawah ilusi bahwa ia akan tangguh, bahwa segala sesuatu belum menjadi baik. Kami tidak menyadari makna di balik adegan sekarang. Kami disuruh untuk meninggalkan barang-barang di kereta api dan jatuh ke dalam dua baris-perempuan di satu sisi, orang-orang-lain untuk mengajukan masa lalu SS perwira senior. Cukup mengejutkan, saya memiliki keberanian untuk menyembunyikan rangsel di bawah mantel. Saya menyadari bahwa akan sangat berbahaya jika petugas melihat tas saya.
Tak satu pun dari kami memiliki sedikit gagasan tentang makna mengerikan di balik gerakan kecil jari seorang laki-laki, sekarang menunjuk ke kanan dan ke kiri, tapi jauh lebih sering ke kiri. Seseorang berbisik kepada saya bahwa untuk dikirim ke sisi kanan berarti bekerja, ke kiri berarti untuk orang sakit dan yang tidak mampu bekerja akan dikirim ke kamp khusus. Rangsel saya berat, tapi aku berusaha berjalan tegak. SS itu tampak ragu, kemudian meletakkan kedua tangannya di pundakku. Aku berusaha sangat keras untuk tampak cerdas, dan ia berbalik sampai berhadapan dengan saya, dan aku pindah ke sisi tersebut.
Makna permainan jari telah dijelaskan kepada kami di malam hari. Itu adalah seleksi pertama, sekitar 90% berarti kematian. Mereka yang dikirim ke kiri berbaris dari stasiun langsung ke krematorium. Saya diberitahu oleh seseorang yang bekerja di sana, di atas pintu-pintunya ditulis kata “mandi” dalam beberapa bahasa Eropa. Saat memasuki, setiap tahanan diberi sepotong sabun. Kita yang diselamatkan, menemukan kebenaran di malam hari.
Aku bertanya dari tahanan yang telah berada di sana selama beberapa waktu di mana kolega saya P telah dikirim. “Apakah dia dikirim ke sisi kiri?” “Ya,” jawabku. “Kalau begitu, Anda dapat melihatnya di sana,”. “Di mana?” Ia menunjuk ke cerobong asap beberapa ratus meter, berupa kolom api naik ke langit kelabu Polandia, berubah menjadi kepulan asap sinis. “Di situlah teman Anda, melayang ke surga,” jawabnya. Tapi aku masih tidak mengerti sampai kebenaran telah dijelaskan kepada saya dalam kata-kata sederhana. Dari sudut pandang psikologis, kami tidak istirahat dari subuh di stasiun sampai malam pertama kita istirahat di kamp. Dikawal oleh SS dengan senapan terisi, kita disuruh berlari dari stasiun, melewati kawat berduri yang dialiri listrik, melalui perkemahan, ke stasiun pembersihan, karena telah lulus seleksi pertama, ini benar-benar mandi. Mereka baik, selama mereka melihat jam di pergelangan tangan kami dan dapat meyakinkan kita dalam nada yang bermaksud baik untuk menyerahkan pada mereka. Apakah kita harus menyerahkan semua harta milik kita, dan mengapa tidak boleh memiliki jam?.
Kami menunggu di gudang yang tampaknya menjadi ruang tunggu ke ruang desinfektan. SS muncul dan menyuruh membuang semua harta milik kita, semua jam tangan dan perhiasan. Tidak seorang pun bisa memahami kenyataan bahwa segala sesuatu akan dibawa pergi. Aku mencoba mendekati salah satu tahanan lama secara diam-diam, aku menunjuk gulungan kertas dalam saku dalam mantelku dan berkata, “Lihat, ini adalah naskah buku ilmiah. Aku tahu apa yang akan Anda katakan; bahwa aku harus bersyukur untuk melarikan diri dengan hidup saya, bahwa saya bisa mengharapkan nasib, tapi aku tidak bisa menahan diri. Aku harus menyimpan naskah ini; ini berisi karya hidup saya. Apakah kau mengerti?”
Ya, dia mulai mengerti. Sebuah senyum pelan-pelan menyebar di wajahnya, pertama memelas, kemudian lebih geli, mengejek, menghina, sampai ia berteriak padaku satu kata untuk menjawab pertanyaan saya, sebuah kata yang hadir dalam kosakata esey kamp tahanan: “Sialan!” Pada saat itu aku melihat kebenaran nyata dan melakukan apa yang menandai puncak dari fase pertama reaksi psikologis saya. Tiba-tiba ada keributan di antara sesama pelancong, yang telah berdiri dengan pucat, wajah frightenec, tak berdaya. Sekali lagi kami mendengar perintah dengan berteriak serak. Kami diusir dengan pukulan ke ruang tunggu dari bak mandi. Di sana kami berkumpul, seorang anggota SS menunggu sampai kami semua tiba. Kemudian ia berkata, “Aku memberikan waktu dua menit, dan dalam dua menit Anda semua akan mendapatkan pakaian lengkap dan droi yang ada di tempat Anda berdiri. Anda tidak akan membawa apa-apa kecuali sepatu, bel atau suspender Anda, dan mungkin truss, aku mulai menghitung-sekarang!”
Dengan tergesa-gesa orang-orang menyobek pakaian mereka. Mereka menjadi semakin gugup dan canggung memakai, ikat pinggang dan sepatu tali. Lalu kami mendengar suara pertama mencambuk; tali kulit memukuli tubuh telanjang. Selanjutnya kami digiring ke ruangan lain untuk dicukur: tidak hanya kepala kita yang dicukur, tapi semua bulu di tubuh kita, lalu ke kamar mandi, kami berbaris lagi. Kami nyaris tak mengenali satu sama lain, tetapi dengan sangat melegakan beberapa orang mencatat bahwa air menetes dari semprotan.
Sementara kami mandi, kita benar-benar tidak ada sekarang, kecuali tubuh kami yang telanjang-bahkan minus rambut; secara harfiah, keberadaan kami telanjang. Apa yang tersisa bagi kita sebagai bahan hubungan dengan kehidupan kita? Bagi saya ada kacamata dan belt; yang kedua aku harus pertukarkan dengan sepotong roti. Pada malam hari napi senior yang bertanggung jawab atas gubuk kami, ia berjanji bahwa ia akan menggantung, “dari balok” dia menunjuk ke setiap orang yang telah dijahit uang atau batu-batu berharga ke truss. Dengan bangga ia menjelaskan bahwa sebagai penghuni senior hukum kamp memungkinkan dia untuk melakukannya.
Pria SS pergi ke kamar kecil sebelah. Setelah beberapa waktu kami kembali mendengar jeritan orang disiksa. Kali ini berlangsung cukup lama. Sebagian dari kita dihancurkan satu per satu, dan kemudian, secara tak terduga, kita diatasi oleh selera humor suram. Kami tahu bahwa kami hidup telanjang. Ketika hujan mulai berlari, kita semua berusaha keras untuk menghibur, baik diri kita sendiri dan lainnya. Selain humor aneh itu. Rasa keingintahuan saya, sebagai reaksi terhadap keadaan tertentu. Ketika hidup saya terancam oleh sebuah kecelakaan pendakian, saya hanya merasakan satu sensasi pada saat kritis: rasa ingin tahu, apakah saya harus keluar dari situ hidup-hidup atau dengan tengkorak retak atau luka lainnya.
Didominasi rasa ingin tahu bahkan di Auschwitz, entah bagaimana memisahkan pikiran dari lingkungannya, yang kemudian dianggap dengan semacam objektivitas. Pada waktu itu pikiran dibudidayakan sebagai sarana perlindungan. Kami sangat ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan apa yang akan menjadi akibat, misalnya, kami berdiri di udara terbuka, di akhir musim gugur dingin, telanjang bulat, dan dari kamar mandi yang basah. Dalam beberapa hari berikutnya rasa ingin tahu berkembang menjadi kejutan; terkejut kerena kami tidak masuk angin.
Ada banyak kejutan serupa bagi para pendatang baru. Pertama-tama: “Buku teks berbohong!” Suatu tempat dikatakan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa tidur selama bebrapa jam. Aku tidak bisa tidur tanpa ini atau aku tidak bisa hidup dengan itu. Malam pertama di Auschwitz kami tidur di tempat tidur bertingkat. Pada setiap tingkatan (berukuran sekitar enam setengah sampai delapan kaki) tidur sembilan orang beralas papan. Dua selimut untuk sembilan orang. Kami penuh sesak dan meringkuk satu sama lainnya karena dingin.
Saya mau menyebutkan beberapa kejutan: kami tidak dapat membersihkan gigi, dan parahnya kekurangan vitamin, kita sebelumnya punya gusi yang sehat. Kami harus memakai kemeja yang sama selama setengah tahun, sampai mereka kehilangan semua penampilan rapi. Selama berhari-hari kami tidak mencuci, karena air beku, luka dan lecet pada tangan yang kotor dari pekerjaan di dalam tanah tidak bernanah (kecuali ada radang dingin). Pikiran bunuh diri hampir menghinggapi semua orang, jika berpikiran singkat. Situasi keputusasaan yang terus-menerus, bahaya kematian menjulang di atas kita setiap hari dan setiap jam. Kemudian aku berjanji dg diriku, pada malam pertama saya dalam kamp, bahwa aku tidak akan “lari ke kawat beraliran listrik.” Ini adalah cara yang paling populer digunakan sebagai upaya bunuh diri; menyentuh pagar kawat berduri bermuatan listrik.
Teman-teman yang saya temui kemudian mengatakan bahwa saya bukan salah satu dari orang-orang yang sangat tertekan, Aku hanya tersenyum. Seorang rekan saya, memberi kami beberapa tips: “Jangan takut! “bercukurlah setiap hari, jika mungkin harus menggunakan pecahan kaca untuk melakukannya… Bahkan jika Anda harus memberikan potongan terakhir roti untuk itu. Anda akan tampak lebih muda dan gesekan akan membuat pipi Anda terlihat ruddier. Jika anda ingin tetap hidup, hanya ada satu cara: mencari yang cocok untuk bekerja. Jika Anda lemas, misalnya Anda punya lecet kecil pada tumit, anggota SS akan melambaikan tangan Anda ke samping dan hari berikutnya Anda akan digas. Apakah Anda tahu apa yang kita maksud dengan ‘Islam’? Seorang laki-laki Muslim Cepat atau lambat, biasanya lebih cepat, pergi ke kamar gas. Oleh karena itu, ingat: bercukur, berdiri dan berjalan pintar; maka Anda tidak perlu takut gas.
Semua dari kalian berdiri di sini, bahkan jika Anda hanya di sini dua puluh empat jam, Anda tidak perlu takut gas. ” Dan kemudian ia menunjuk saya dan berkata, “Saya harap Anda tidak keberatan saya berterus terang.” “Dari kalian semua dia adalah satu-satunya yang harus takut seleksi berikutnya. Jadi, jangan khawatir!” Dan aku tersenyum.
Tawanan yang baru tiba mengalami penyiksaan emosi yang paling menyakitkan. Pertama-tama, ada kerinduan yang tak terbatas pada rumah dan keluarganya. Lalu ada rasa jijik dan muak dengan semua keburukan yang mengelilinginya. Dan dengan demikian pengendalian diri adalah mempercepat reaksi normal. Mula-mula tawanan memalingkan muka jika ia melihat azab kelompok lain, ia tidak tahan melihat sesama tahanan berbaris naik dan turun selama berjam-jam di lumpur, disertai pukulan. Suatu hari ia mendengar jeritan dan melihat bagaimana seorang kawan knocked down. Contoh lain: anak umur dua belas tahun dipaksa untuk berdiri tegak selama berjam-jam di atas salju atau bekerja dengan kaki telanjang. Jari-jari kakinya membeku, dan dokter mengambil jarinya satu-persatu dengan pinset.
Para penderita yang sekarat dan yang mati, menjadi pemandangan umum setelah beberapa minggu hidup di kamp. Saya menghabiskan beberapa waktu di sebuah gubuk untuk pasien tifus yang sering mengigau, banyak dari mereka hampir mati. Satu dari mereka baru saja meninggal, aku menonton setiap kematian dengan tanpa emosi yang diulang lagi dan lagi. Semua ini saya saksikan dengan ketidakpedulian. Mengambil mayat “perawat” dengan kaki, membiarkannya jatuh ke lorong kecil di antara dua deret dari papan yang merupakan tempat tidur untuk pasien tifus, dan menyeretnya di tanah bergelombang menuju pintu. Setelah beberapa bulan tinggal di kamp kami tidak bisa berjalan.
Aku bekerja sangat keras memperbaiki lintasan kereta dengan kerikil, karena itu adalah satu-satunya cara untuk tetap hangat. Suatu saat saya berhenti sejenak untuk mengambil napas dan bersandar pada sekop. Yang paling menyakitkan adalah pemukulan yang menyiratkan penghinaan.
Lain waktu, di sebuah hutan, dengan suhu 2°f, kami mulai menggali lapisan atas tanah yang keras, untuk meletakkan pipa air. Secara fisik saat itu aku sudah agak lemah. Seorang mandor mengamati saya diam-diam, kemudian ia menghardik: “Kau babi, saya telah memperhatikan Anda sepanjang waktu! Aku akan mengajari kalian untuk bekerja, namun! Tunggu sampai Anda menggali tanah dengan gigi Anda, Anda akan mati seperti binatang! Dalam dua hari aku akan selesai, Anda keluar! Anda belum pernah melakukan kerja stroke dalam hidup Anda. Apa kau, babi? Seorang pengusaha? “Aku tidak peduli. Tapi aku mendapat ancaman serius, jadi aku berdiri tegak dan langsung menatap. “Aku adalah dokter spesialis.” “Apa? Seorang dokter? Anda punya banyak uang.” “Kebetulan, saya melakukan sebagian besar pekerjaan saya tanpa uang, bagi masyarakat miskin.” Dia berteriak seperti orang gila.
Untungnya Capo suka padaku karena aku mendengarkan kisah cinta dan masalah perkawinan, yang dicurahkan selama iring-iringan panjang ke tempat kerja. Aku membuat kesan kepadanya dengan diagnosis nasihat psikoterapi. Setelah itu ia bersyukur, dan ini bernilai bagi saya. Pada beberapa kesempatan sebelumnya dia memesan tempat bagi saya di sampingnya, yang biasanya terdiri dari dua 280 orang. Orang-orang yang berdiri di baris belakang diperlukan untuk suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan dan tidak disukai.
Selama Capo merasa perlu menuangkan isi hatinya pada saya, Aku punya tempat yang aman disebelahnya. Keuntungan lain seperti hampir semua kamp tahanan menderita endema. Kakiku bengkak, aku hampir tak dapat menekuk lutut. Setiap langkah menjadi penyiksaan.
Capo ini, seorang mantan perwira militer, bahkan mempunyai keberanian untuk berbisik kepada mandor, yang telah bertengkar dengan saya. Dia berhasil menyelamatkan hidup saya. Sehari setelah episode dengan mandor ia menyelundupkan saya ke pekerjaan lain. Tapi mereka terus mengingatkan kita bahwa buruh biasa melakukan beberapa kali lebih banyak pekerjaan seperti yang kita lakukan dalam waktu yang lebih singkat. Aku memberanikan diri untuk mengatakan pada mandor, “Jika Anda bisa belajar dari saya bagaimana melakukan operasi otak dalam waktu singkat seperti saya, saya sangat menghormati Anda.”

Gejala tahap kedua, adalah diperlukan mekanisme pertahanan diri. Realitas meredup, dan semua usaha dan semua emosi yang berpusat pada satu tugas: melestarikan kehidupan sendiri dan orang lain. Itu adalah khas untuk mendengar para tahanan, sementara mereka sedang digiring ke kamp dari pekerjaan pada malam hari, napas lega dan berkata, “Yah, satu hari lagi selesai.”
Hal ini dapat memahami keadaan tegang, ditambah dengan kebutuhan yang terus-menerus berkonsentrasi pada tugas hidup, memaksa tahanan kehidupan batin ke tingkat primitif. Beberapa kolega saya di kamp yang dilatih psikoanalisis sering berbicara tentang “regresi” di kamp tahanan yang lebih primitif kehidupan mentalnya. Harapan dan keinginan menjadi jelas dalam mimpinya.
Apakah mimpi-mimpi ini tidak ada gunanya; si pemimpi harus bangun dari realitas kehidupan kamp, dan kontras antara yang mengerikan dan ilusinya.
Saya tidak akan pernah lupa bagaimana saya terbangun suatu malam oleh keluhan sesama tahanan, dalam tidurnya mempunyai mimpi buruk yang mengerikan. Karena saya selalu minta maaf terutama bagi orang-orang yang menderita takut mimpi atau deliria, aku ingin membangunkan orang miskin. Pada saat itu aku menjadi sangat sadar akan fakta bahwa mimpi tidak ada, tidak peduli betapa mengerikan, seburuk realitas kamp yang mengelilingi kami, dan aku ingat dia.
Karena para tahanan kurang gizi, wajar bahwa keinginan untuk makan sebagai naluri primitif di mana kehidupan mental terpusat. Sebagian besar tahanan, jika tidak diawasi dengan ketat, mereka membahas makanan. Satu orang akan bertanya apa makanan kesukaannya. Aku selalu menganggap diskusi tentang makanan berbahaya. Apakah tidak salah untuk memprovokasi organisme dengan rinci dan menyikapi gambar-gambar makanan lezat ketika berhasil menyesuaikan diri dengan jatah sangat kecil dan rendah kalori?
Pada bagian akhir dari penjara kami, jatah harian terdiri dari sup yang sangat berair diberikan sekali dalam sehari, dan jatah roti kecil. Selain itu, ada “tambahan uang saku,” tiga-perempat ons margarin, sepotong sosis berkualitas buruk, sepotong kecil keju, sedikit madu sintetis, atau sesendok selai berair, bervariasi setiap hari. Dalam kalori, diet ini benar-benar tidak memadai, terutama dengan pertimbangan pekerjaan kami yang berat dan terus-menerus, hawa dingin dengan pakaian tidak memadai. Orang sakit yang berada “di bawah perawatan khusus” diperbolehkan berada di dalam pondok-pondok bukannya meninggalkan kamp.
Kami tampak seperti kerangka disamarkan dengan kulit dan kain, kita bisa menyaksikan tubuh kita mulai melahap diri mereka sendiri. Dicerna organisme protein sendiri, dan otot-otot menghilang. Kemudian tubuh tidak memiliki kekuatan resistensi. Satu demi satu anggota komunitas kecil di pondok kami meninggal.
Saya sebutkan di atas tidak dapat dihindari adalah bagaimana pikiran tentang makanan dan masakan favorit yang memaksa diri dalam kesadaran tahanan, setiap kali dia punya waktu luang. Yang paling kuat di antara kami adalah kerinduan untuk mempunyai makanan yang cukup baik, bukan demi makanan yang baik, tapi demi mengetahui keberadaan manusia, yang telah membuat kami tidak dapat memikirkan hal lain daripada makanan, akhirnya akan berhenti. Orang-orang yang tidak melalui pengalaman serupa hampir tidak bisa memahami jiwa laki-laki yang menghancurkan konflik dan bentrokan kekuasaan seorang pria yang mengalami kelaparan. Mereka tidak dapat memahami apa artinya berdiri menggali parit, hanya mendengarkan sirene untuk mengumumkan 9:30 atau 10:00 am setengah jam untuk makan siang diselingi roti akan dijatah (selama itu masih tersedia).
Ada dua aliran pemikiran. Salah satunya kelompok mendukung jatah makan sampai segera. Ini mempunyai keuntungan ganda untuk memuaskan rasa lapar untuk waktu yang sangat singkat sekurang-kurangnya sekali sehari dan untuk menjaga kemungkinan pencurian atau kehilangan jatah. Kelompok kedua, yang diselenggarakan dengan membagi ransum atas, saya akhirnya bergabung dengan barisan mereka.
Saat yang paling mengerikan dari dua puluh empat jam kehidupan kamp, ketika tiga pukulan bunyi peluit tanpa belas kasihan dari tidur lelah kami dan dari kerinduan dalam mimpi kita. Kami kemudian mulai bergumul dengan sepatu basah, di mana kita nyaris tidak bisa memaksa kaki kami, yang sakit dan bengkak dengan edema. Suatu pagi saya mendengar seseorang, menangis seperti seorang anak karena ia harus pergi ke lapangan bersalju dengan kaki telanjang, sepatunya terlalu menyusut baginya untuk dipakai. Kurang gizi, selain penyebab keasyikan umum dengan makanan, dorongan seksual pada umumnya tidak ada. Terlepas dari efek awal shock, ini tampaknya menjadi satu-satunya penjelasan dari fenomena seorang psikolog, ia pasti akan amati orang-orang laki-laki dalam semua kamp: bahwa, berlawanan dengan semua laki-laki secara ketat seperti barak tentara ada sedikit penyimpangan seksual. Bahkan dalam mimpinya napi tampaknya tidak menyibukkan diri dengan seks, meskipun frustrasi emosi dan halus, perasaan yang lebih tinggi pasti berhasil menemukan ekspresi di dalamnya.
Kami semua merasa lebih baik mati daripada hidup, karena transportasi kita sedang menuju perkemahan di Mauthausen dan kami hanya mempunyai satu atau dua minggu untuk hidup. Aku mulai memohon agar mereka, untuk membiarkan aku berdiri di depan sesaat saja. Permintaan saya ditolak dengan kasar dan sinis: “Anda tinggal di sini bertahun-tahun, maka Anda sudah melihat!”
Secara umum ada juga budaya “hibernasi” di kamp. Ada dua pengecualian: politik dan agama. Politik itu berbicara tentang mana-mana di perkemahan, hampir terus-menerus; diskusi didasarkan pada rumor, yang beredar. Beberapa orang kehilangan harapan, semua itu paling menjengkelkan sahabat. Kepentingan keagamaan para tawanan, segera berkembang. Kedalaman dan kekuatan kepercayaan agama sering terkejut dan pindah pendatang baru. Yang paling mengesankan dalam hubungan ini adalah improvisasi doa atau layanan di sudut gubuk, atau dalam kegelapan truk ternak yang terkunci di mana kita dibawa kembali dari tempat kerja yang jauh, lelah, lapar dengan pakaian compang-camping.
Pada musim dingin dan musim semi tahun 1945 ada wabah tifus, yang terinfeksi hampir semua tahanan. Kematian besar di antara yang lemah, yang harus kerja keras selama mungkin. Pemukiman untuk orang sakit tidak memadai, tidak ada obat. Kasus terburuk dari igauan seorang teman saya yang berpikir bahwa ia sedang sekarat dan ingin berdoa. Dalam igauan dia tidak bisa berkata-kata. Untuk menghindari igauan ini, aku berusaha, agar tetap terjaga sepanjang malam.
Selama berjam-jam aku menulis pidato. Akhirnya aku mulai merekonstruksi naskah saya yang hilang di kamar desinfeksi Auschwitz, dan menuliskan kata-kata kunci dalam steno pada potongan-potongan kertas kecil.
Kadang-kadang debat ilmiah yang dikembangkan di perkemahan. Setelah saya menyaksikan sesuatu yang belum pernah saya lihat, bahkan dalam kehidupan normal: sebuah wasitah pemanggilan arwah. Aku diundang oleh dokter kepala kamp (juga seorang tahanan), yang tahu bahwa aku adalah seorang spesialis dalam psychiatry. Pertemuan berlangsung di kamar pribadi.
Satu orang mulai memanggil roh-roh dengan semacam doa. Petugas di kamp itu duduk di depan kertas kosong, menulis tanpa sadar. Selama sepuluh menit berikutnya (pemanggilan arwah dihentikan karena kegagalan medium untuk menyulap roh-roh yang muncul) pelan-pelan pensil menggambar garis di kertas, membentuk “vaev.” Petugas tidak pernah belajar bahasa Latin dan belum pernah mendengar kata-kata “VAE victis” kecelakaan besarlah bagi yang kalah. Menurut pendapat saya ia pasti pernah mendengar, tanpa mengingat-ingat mereka, dan pasti sudah tersedia di “roh” (roh dari pikiran bawah sadar) pada waktu itu, beberapa bulan sebelum pembebasan akhir perang.
Terlepas dari semua keterpaksakan fisik dan mental primitif dari kehidupan di kamp konsentrasi, untuk memperdalam kehidupan rohani. Orang-orang sensitif untuk kehidupan intelektual yang menderita kesakitan, tetapi kerusakan batin mereka kurang. Mereka mundur dari lingkungan yang mengerikan kepada kehidupan kekayaan batin dan kebebasan spiritual. Hanya dengan cara ini kita bisa menjelaskan paradoks yang nyata bahwa beberapa tahanan yang kurang hardy make-up tampaknya sering bertahan hidup lebih baik daripada orang-orang yang kuat.
Kami tersandung di dalam kegelapan, di atas batu-batu besar dan melalui genangan air yang besar, di sepanjang jalan menuju salah satu dari kamp. Penjaga yang menyertainya terus berteriak pada kami dan menghantam kami dengan popor senapan mereka. Hampir tidak sepatah kata pun diucapkan; angin sedingin es tidak mendorong bicara. Bersembunyi di balik mulutnya, orang yang berbaris di sebelah saya tiba-tiba berbisik: “Jika istri kita bisa melihat kita sekarang! Saya berharap mereka lebih baik di kamp-kamp dan mereka tidak tahu apa yang terjadi pada kita.”
Sebuah pikiran terlintas di benakku: Cinta berjalan sangat jauh melampaui fisik yang terkasih. Ia menemukan makna yang paling dalam dalam wujud spiritual sejatinya. Aku tidak tahu apakah istri saya masih hidup, dan aku tak punya cara mencari tahu (selama penjara seumur hidup tidak ada surat keluar atau masuk).
Intensifikasi kehidupan batin membantu tawanan menemukan perlindungan dari kehampaan, kesedihan dan kemiskinan spiritual, dengan melarikan diri ke masa lalu. Ketika diberi kebebasan, imajinasinya bermain dengan peristiwa masa lalu. Memori nostalgia dimuliakan dan menganggap karakter aneh. Dunia mereka dan eksistensi mereka terasa sangat jauh dan semangat yang penuh kerinduan: Dalam pikiran saya, saya mengambil bus, membuka pintu depan apartemenku, menjawab telepon, menyalakan lampu listrik. Pikiran kita sering berpusat pada rincian seperti itu, dan kenangan ini bisa menggerakan air mata.
Kehidupan batin napi cenderung menjadi lebih kuat, dia juga mengalami keindahan seni dan alam yang sebelumnya belum pernah. Kadang-kadang dia lupa keadaan yang mengerikan. Jika seseorang telah melihat wajah kami dalam perjalanan dari Auschwitz ke sebuah kamp Bavaria, kita telah melihat Salzburg pegunungan dengan puncak mereka berkilau dalam matahari terbenam, melalui jendela berjeruji kecil dari kereta penjara, ia tidak akan pernah percaya bahwa mereka adalah wajah-wajah laki-laki yang telah memberikan semua harapan hidup dan kebebasan.
Saya diam-diam bercakap-cakap dengan istri saya, atau mungkin aku sedang berjuang untuk menemukan alasan untuk penderitaan saya, saya sekarat dengan lambat. Dalam kekerasan terakhir protes terhadap keputusasaan dari kematian sudah dekat, aku merasakan semangat menembus kegelapan yang menyelimuti. Aku merasa itu melampaui batas putus asa, aku mendengar kemenangan “Ya” dalam menjawab pertanyaan saya tentang adanya sebuah tujuan akhir. Pada saat itu lampu dinyalakan di rumah pertanian yang jauh, yang berdiri di cakrawala seolah-olah dilukis di sana, di tengah-tengah abu-abu yang menyedihkan dari sebuah fajar pagi di Bavaria. “Et lux di tenebris lucet” dan shineth cahaya dalam kegelapan. Selama berjam-jam aku berdiri di tanah yang dingin. Penjaga menghina saya, dan sekali lagi aku communed dengan kekasihku. Semakin banyak aku merasa dia hadir, bahwa dia bersama saya, saya merasa bahwa aku bisa menyentuhnya, mampu mengulurkan tangan dan genggaman tangannya. Perasaan itu sangat kuat: sepertinya dia berada di sana.
Sebelumnya, saya sebutkan seni. Apakah ada hal seperti itu di sebuah kamp konsentrasi? Itu lebih tergantung pada apa yang memilih untuk memanggil seni. Semacam kabaret adalah improvisasi dari waktu ke waktu. Sebuah pondok dibersihkan sementara, beberapa bangku kayu yang didorong atau dipaku bersama-sama dan program yang disusun. Pada malam hari orang-orang yang memiliki posisi yang cukup baik di kamp-yang Capos dan para pekerja yang tidak memiliki meninggalkan kamp pada pawai jauh-berkumpul di sana. Mereka datang untuk tertawa atau mungkin sedikit menangis. Ada lagu, puisi, lelucon, beberapa dengan mendasari satir mengenai kamp. Semua itu dimaksudkan untuk membantu kita lupa, dan mereka tidak membantu. Para pertemuan itu sangat efektif sehingga beberapa tahanan biasa pergi untuk melihat kabaret meskipun mereka kelelahan dari makanan sehari-hari.
Untuk menemukan bahwa ada kemiripan seni di kamp konsentrasi harus cukup mengejutkan untuk orang luar, tetapi ia mungkin bahkan lebih terkejut mendengar bahwa orang dapat menemukan adanya rasa humor, dan hanya untuk beberapa detik atau menit. Bahwa humor mampu untuk mengatasi situasi apa pun, walau hanya untuk beberapa detik. Aku dilatih seorang teman di lokasi pembangunan untuk mengembangkan rasa humor. Saya menyarankan kepadanya untuk berjanji satu sama lain agar menciptakan setidaknya satu cerita lucu sehari-hari, tentang beberapa kejadian yang bisa terjadi, setelah pembebasan kami. Di lokasi pembangunan (terutama ketika pengawas inspeksi) mandor mendorong kami untuk bekerja lebih cepat dengan berteriak: “Action! Action!” Aku mengatakan teman saya, “Suatu hari Anda akan kembali ke dalam ruang operasi, melakukan operasi perut besar. Tiba-tiba seorang petugas terburu-buru dalam mengumumkan kedatangan ahli bedah senior dengan berteriak, ‘Action! Action!”
Usaha untuk mengembangkan rasa humor dan melihat hal-hal dalam kelucuan adalah semacam trik belajar menguasai seni dalam hidup. Mungkin saja untuk praktik seni hidup bahkan dalam sebuah kamp konsentrasi, walaupun penderitaan di mana-mana. Untuk menarik suatu analogi: penderitaan adalah serupa dengan perilaku gas. Jika kuantitas tertentu gas dipompa ke ruang kosong, ia akan mengisi ruang sepenuhnya dan merata, tidak peduli seberapa besar ruangan. Dengan demikian penderitaan manusia benar-benar mengisi jiwa dan pikiran sadar, tidak peduli apakah penderitaan yang besar atau kecil. Oleh karena itu, “ukuran” penderitaan manusia benar-benar relatif. Ini juga mengikuti bahwa hal yang sangat sepele dapat menyebabkan kegembiraan yang paling besar.

Part Two
Logotherapy in a Nutshell
Logotherapy, dibandingkan dengan psikoanalisis, adalah sebuah metode yang kurang retrospektif dan kurang introspektif. Agaknya Logotherapy berfokus pada masa depan, yang mengatakan, pada makna yang harus dipenuhi oleh pasien di masa depannya. (Logotherapy, adalah pemaknaan yang berpusat pada psikoterapi.) Pada saat yang sama, logotherapy berfokus pada semua formasi lingkaran setan dan mekanisme umpan balik yang memainkan peranan besar dalam perkembangan neurosis. Jadi, mementingkan diri sendiri dari neurotik bukannya terus-menerus dibina dan diperkuat. Logoterapi membuatnya menyadari makna ini dapat berkontribusi banyak untuk mengatasi neurosis.
Logos adalah kata Yunani artinya “yang berarti.” Psikoterapi,” berfokus pada arti eksistensi manusia pada pencarian makna. Menurut logotherapy, ini berjuang untuk menemukan arti dalam hidup seseorang adalah kekuatan motivasi utama dalam diri manusia. Itu sebabnya saya berbicara tentang kemauan untuk makna yang bertentangan dengan prinsip kesenangan (keinginan untuk kesenangan) yang berpusat psikoanalisis Freudian, serta berlawanan dengan kehendak untuk berkuasa seperti psikologi Adlerian, menggunakan istilah “berjuang untuk superioritas,” sebagai fokus.

PEMAKNAAN
Manusia mencari makna adalah motivasi utama dalam hidup dan bukan sebuah “rasionalisasi sekunder” dari dorongan insting. Makna ini unik dan spesifik, ia harus dapat dipenuhi oleh diri sendiri; kemudian mencapai signifikansi yang akan memuaskan kehendak sendiri. Ada beberapa penulis yang berpendapat bahwa arti dan nilai-nilai “selain mekanisme pertahanan, reaksi formasi dan sublimasi.” Bagaimanapun, Manusia dapat hidup dan bahkan mati demi cita-cita dan nilai-nilainya!
Kesehatan Mental. Ditanyakan apa yang mereka anggap “sangat-penting” untuk mereka sekarang, 16% dari siswa diperiksa “menghasilkan banyak uang”; 78% mengatakan tujuan pertama mereka adalah “menemukan tujuan dan makna hidupku.” Satu-satunya hal bahwa “unmasking psikolog” benar-benar Unmasks adalah milik sendiri “motif tersembunyi” yaitu, pikiran bawah sadar perlu untuk merendahkan dan depresiasi manusia.

EKSISTENSIAL FRUSTRASI
Kehendak manusia untuk makna juga dapat frustrasi, dalam hal ini logotherapy berbicara tentang “frustrasi eksistensial.” Istilah “eksistensial” dapat digunakan dalam tiga cara:
(1) eksistensi itu sendiri, yaitu khusus cara keberadaan manusia,
(2) makna dari keberadaan; dan
(3) berusaha menemukan makna yang konkret tentang keberadaan pribadi, artinya, keinginan untuk makna.

Frustrasi eksistensial juga dapat mengakibatkan neurosis. Logotherapy telah menciptakan istilah “noogenic neurosis” berlawanan dengan neurosis dalam pengertian tradisional, yaitu neurosis psikogenik. Noogenic neurosis berasal tidak dalam psikologis melainkan dalam “noological” (dari bahasa Yunani yang berarti mengangguk) dimensi eksistensi manusia. Istilah logotherapeutic menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan dimensi manusia secara khusus.

NOOGENIC NEUROSIS
Noogenic neurosis tidak muncul dari konflik antara drive dan naluri tetapi lebih dari masalah eksistensial. Di antara masalah tersebut, yang frustrasi akan memainkan peran besar. Hal ini jelas bahwa dalam kasus-kasus noogenic bukanlah psikoterapi, tetapi secara umum logotherapy; lebih berani memasuki dimensi manusia secara khusus.
Tidak semua konflik harus neurotik; beberapa konflik adalah normal dan sehat. Penderitaan tidak selalu merupakan fenomena patologis; penderitaan mungkin merupakan pencapaian manusia, terutama jika penderitaan eksistensial tumbuh dari perasaan frustrasi. Seseorang mencari arti keberadaannya, dalam setiap kasus berasalnya setiap penyakit. Frustrasi eksistensial tidak patologis maupun patogen. Penderitaan eksistensial tidak berarti penyakit mental. Seorang dokter memotivasi untuk mengubur eksistensial keputusasaan pasiennya di bawah tumpukan obat penenang.
Logotherapy menganggap bidang tugasnya sebagai yang membantu pasien untuk menemukan makna dalam hidupnya. Sebab logotherapy membuatnya menyadari logo tersembunyi keberadaannya, ini merupakan proses analitis. Namun, dalam upaya logotherapy membuat sesuatu sadar tidak membatasi kegiatan untuk insting fakta-fakta dalam alam bawah sadar individu tetapi juga peduli terhadap realitas eksistensial, seperti makna potensi keberadaannya harus dipenuhi untuk makna. Setiap analisis mencoba untuk membuat pasien sadar akan apa yang ia rindukan di dalam dirinya.


NOO-DINAMIKA
Pencari makna dapat menimbulkan ketegangan batin daripada keseimbangan batin. Namun, justru ketegangan seperti itu merupakan prasyarat yang sangat diperlukan kesehatan mental. Pemaknaan sangat efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun bahwa ada suatu makna dalam kehidupan seseorang.
Kesehatan mental didasarkan pada tingkat ketegangan tertentu, ketegangan antara apa yang sudah dicapai dan apa yang masih harus diselesaikan, atau kesenjangan antara apa yang kita dan apa yang harus terjadi. Semacam ketegangan yang melekat pada manusia dan karena itu sangat diperlukan untuk kesejahteraan mental. Kita tidak boleh, ragu-ragu tentang orang yang menantang dengan potensi untuk memenuhi makna. Hanya dengan demikian bahwa kita membangkitkan kehendak-Nya untuk makna dari keadaan latency. Kebutuhan manusia tidak homeostasis tapi “noo-dinamika,” yaitu, dinamika eksistensial dalam bidang kutub ketegangan di mana satu tiang yang diwakili oleh sebuah makna yang harus dipenuhi dan tiang lain oleh orang yang harus memenuhinya. Dan orang tidak boleh berpikir bahwa ini hanya berlaku untuk kondisi normal, dalam neurotik individu, ini lebih valid.

EKSISTENSIAL VACUUM
Eksistensial vakum adalah fenomena yang luas dari abad kedua puluh. Pada awal sejarah manusia, manusia kehilangan sebagian dasar naluri hewan di mana perilaku hewan adalah tempat tidur dan keamanan. Naluri tidak memberitahukan apa yang harus dilakukan; kadang-kadang tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Sebaliknya, ia juga berkeinginan untuk melakukan apa yang orang lain (conformism) atau ia melakukan apa yang orang lain ingin dia lakukan (totalitarianisme).
Tidak sedikit kasus bunuh diri dapat ditelusuri kembali ke eksistensial vakum ini. Seperti depresi, agresi dan kecanduan yang tidak dimengerti kecuali jika kita mengenali kekosongan eksistensial yang mendasari mereka. Hal ini juga berlaku pada krisis orang pensiunan dan penuaan.
Selain itu, terdapat berbagai topeng di mana kekosongan eksistensial muncul. Kadang-kadang frustrasi akan dikompensasi oleh suatu kehendak untuk berkuasa, termasuk bentuk paling primitif, keinginan akan uang. Dalam kasus lain, frustrasi untuk makna kesenangan. Itulah sebabnya frustration eksistensial eventuates terhadap kompensasi seksual. Seperti dalam kasus-kasus bahwa libido seksual menjadi merajalela dalam kekosongan eksistensial.

MAKNA KEHIDUPAN
Ketika setiap situasi dalam hidup merupakan tantangan bagi manusia dan menimbulkan masalah untuk memecahkannya, pertanyaan tentang makna kehidupan sebenarnya bisa kembali. Pada akhirnya, manusia harus mengakui bahwa sebenarnya dia yang bertanya. Setiap orang dipertanyakan oleh kehidupan dengan menjawab kehidupannya sendiri, dia hanya bisa merespon dengan bersikap bertanggung jawab. Dengan demikian, logotherapy melihat dalam responsibleness hakikat keberadaan manusia.
Inti dari keberadaan
Logotherapy mencoba untuk membuat pasien menyadari sepenuhnya responsibleness sendiri, sehingga ia harus meninggalkan pilihan untuk apa, atau kepada siapa ia memahami dirinya sendiri untuk bertanggung jawab. Itu sebabnya logotherapist adalah yang paling tergoda dari semua psikoterapis untuk menerapkan pertimbangan nilai pada pasiennya, karena ia tidak akan pernah mengizinkan pasien menilai tanggung jawab.
Apakah pasien harus menafsirkan tugas hidupnya sebagai orang yang bertanggung jawab kepada masyarakat atau kepada hatinya sendiri. Hanya dalam pengertian tentang tugas yang ditugaskan kepada mereka, tetapi juga dalam kaitannya dengan pemberi tugas yang telah diberikan kepada mereka.
Logotherapy bukanlah pengajaran atau khotbah. Seolah-jauh dari penalaran logis seperti nasihat moral. Peran yang logotherapist terdiri dari pelebaran dan perluasan bidang visual pasien sehingga seluruh spektrum makna potensial menjadi sadar dan terlihat padanya.
Dengan menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab dan harus mengaktualisasikan potensi makna hidupnya. Bahwa makna hidup ditemukan di dunia bukan dalam diri manusia atau jiwa sendiri, seolah-olah itu adalah sistem tertutup. Karakteristik konstitutif ini disebut “transendensi-diri eksistensi manusia.” Ini menunjukkan fakta bahwa menjadi manusia selalu menunjuk, dan diarahkan, untuk sesuatu, atau seseorang, selain diri sendiri, baik itu untuk memenuhi diri atau manusia lain. Apa yang disebut aktualisasi diri bukanlah tujuan sama sekali, bahwa orang akan berusaha keras untuk itu, semakin merasa kehilangan. Dengan kata lain, aktualisasi diri hanya dimungkinkan sebagai efek samping dari transendensi-diri.
Makna hidup selalu berubah, dan tidak pernah berhenti. Menurut logotherapy, kita dapat menemukan arti hidup ini dalam tiga cara yang berbeda:
(1) dengan menciptakan pekerjaan atau melakukan perbuatan;
(2) dengan mengalami sesuatu atau bertemu seseorang; dan
(3) oleh sikap kita terhadap penderitaan tidak dapat dihindari .

MAKNA CINTA
Dalam logotherapy, cinta bukan hanya ditafsirkan sebagai drive phenomenon seksual dan naluri dalam arti sublimasi. Cinta adalah sebagai sebuah fenomena utama seks. Biasanya, seks adalah ekspresi cinta. Seks dibenarkan, bahkan dikuduskan, tetapi hanya selama masih cinta. Jadi cinta tidak hanya dipahami sebagai efek samping seks. Melainkan, seks adalah cara untuk mengekspresikan pengalaman kebersamaan yang disebut cinta. Cara ketiga untuk menemukan makna dalam hidup adalah dengan penderitaan.

MAKNA PENDERITAAN
Salah satu prinsip dasar logotherapy perhatian utama manusia bukan untuk mendapatkan kesenangan atau untuk menghindari rasa sakit, tetapi lebih melihat makna dalam hidupnya. Itu sebabnya manusia harus siap untuk menderita, pada kondisi, untuk memastikan, bahwa penderitaan memiliki makna. Bahwa penderitaan tidak dapat dihindari, akan tetapi bermakna untuk dilakukan dengan menghilangkan penyebabnya, baik psikologis, biologis atau politik. Sistem nilai bertanggung jawab atas fakta bahwa ketidakbahagiaan tidak dapat dihindari dengan ketidakbahagiaan tentang menjadi bahagia. “Dan bahwa logotherapy” dapat membantu mengatasi beberapa kecenderungan yang tidak sehat di zaman sekarang, di mana penderita tidak diberi kesempatan untuk menjadi bangga dengan penderitaan dan untuk mempertimbangkannya daripada merendahkan “sehingga” dia tidak hanya bahagia, tapi juga malu bila tidak bahagia.”
Ketika saya di kamp konsentrasi. Kemungkinan bertahan dalam kamp itu dua puluh delapan tahun. Ini tampaknya tidak mungkin, apalagi mungkin, bahwa naskah buku pertama saya, yang saya sembunyikan dalam mantel saya ketika saya tiba di Auschwitz, bisa diselamatkan. Jadi, saya harus mengatasi kehilangan mental saya. Jadi aku mendapati diriku berhadapan dengan pertanyaan apakah dalam keadaan seperti itu hidup saya akhirnya mengalami kekosongan makna?.
“Apakah kita akan selamat dari kamp? Jika tidak, semua penderitaan ini tidak ada artinya.” “Apakah semua penderitaan ini, bermakna? Sebab, jika tidak, maka pada akhirnya tidak ada artinya untuk kelangsungan hidup; untuk hidup tergantung pada makna atau tidak layak hidup sama sekali. ”

META-MASALAH KLINIS
Semakin banyak, psikiater didekati oleh pasien yang berhadapan dengan masalah-masalah manusia bukan gejala neurotik. Beberapa orang-orang akan melihat seorang psikiater sebagai pendeta, imam atau nabi. Sekarang mereka sering menolak untuk diserahkan kepada seorang pendeta dan bukannya menghadapi dokter dengan pertanyaan seperti, “Apa arti hidupku?”

SEBUAH LOGODRAMA
Saya ingin mengutip contoh berikut: Setelah, ibu kematian anaknya dia ditinggalkan sendirian dengan anak yang lebih tua, yang lumpuh, menderita sejak kanak-kanak. Anak malang harus dipindahkan di kursi roda. Namun Ibunya, memberontak terhadap nasibnya. Tetapi ketika ia mencoba bunuh diri, anak cacat itu yang mencegahnya! Bagi dia, kehidupan tetap bermakna. Mengapa tidak demikian bagi ibunya? Bagaimana mungkin hidupnya masih punya makna? Dan bagaimana kita bisa membantunya untuk menjadi sadar akan hal itu?
Improvisasi, aku berpartisipasi dalam diskusi, dan menanyai wanita lain dalam kelompok. Aku bertanya padanya berapa usia? dan ia menjawab, “Tiga puluh.” Aku menjawab, “Tidak, Anda tidak tiga puluh tapi sebaliknya delapan puluh dan berbaring di ranjang kematiannya. Dan sekarang Anda melihat kembali pada kehidupan Anda, kehidupan yang tak punya anak tapi penuh kesuksesan finansial dan prestise sosial.” Dan kemudian aku mengundangnya untuk membayangkan apa yang dia rasakan dalam situasi ini. “Apa yang Anda pikirkan? Apa yang akan Anda katakan kepada diri sendiri?” Biarkan aku mengutip apa yang dia benar-benar berkata dari sebuah kaset yang direkam selama sesi tersebut. “Oh, aku menikah dengan seorang jutawan, aku punya kehidupan yang penuh dengan kekayaan, Aku main mata dengan laki-laki; aku menggoda mereka! Tapi sekarang saya delapan puluh: Menengok ke belakang sebagai seorang wanita tua, aku tidak bisa melihat semua itu; sebenarnya, aku harus bilang, hidup saya telah gagal! “
Saya kemudian mengundang ibu dari anak cacat membayangkan dirinya sama melihat kembali hidupnya. Mari kita mendengarkan apa yang ia katakan: “Aku ingin punya anak dan harapan ini telah diberikan kepada saya; satu anak meninggal, Namun satu orang cacat, akan dikirim ke institusi jika aku tidak mengambil alih perawatan. Meskipun ia lumpuh dan tak berdaya, ia telah membuat kehidupan yang lebih lengkap; saya telah membuat manusia yang lebih baik dari anakku. ” Pada saat ini, ada air mata dan kemarahan, menangis, ia dilanjutkan UED: “Mengenai diriku, aku bisa melihat kembali damai di hidupku karena aku dapat mengatakan hidup saya penuh makna, dan aku telah berusaha keras untuk memenuhinya; aku telah melakukan yang terbaik-aku telah melakukan yang terbaik untuk anakku. Hidupku adalah kegagalan! ” Melihat hidupnya seolah-olah dari ranjang kematiannya, ia tiba-tiba bisa melihat makna di dalamnya, suatu makna yang bahkan termasuk semua penderitaan-nya. Dengan cara yang sama, bagaimanapun, telah menjadi jelas bahwa kehidupan yang berdurasi pendek, seperti itu, misalnya, anak laki-laki mati, bisa jadi kaya dalam sukacita dan cinta itu bisa mengandung lebih banyak makna dari sebuah kehidupan abadi delapan puluh tahun.

SUPER-MAKNA
Makna ini selalu melampaui dan melebihi kapasitas intelektual yang terbatas manusia; di logotherapy, kita berbicara dalam konteks super-makna. Apa yang dituntut dari manusia, karena beberapa filsuf eksistensial mengajar, untuk menanggung ketidakberdayaan makna-hidup, melainkan untuk menanggung ketidakmampuan untuk memahami dengan tanpa syarat kebermaknaan dalam istilah rasional. Logo lebih dalam daripada logika.
Seorang psikiater yang melampaui konsep-makna yang super cepat atau lambat akan menjadi malu oleh pasien, sama seperti aku ketika putriku pada sekitar enam tahun mengajukan pertanyaan, “Mengapa kita berbicara tentang Tuhan yang baik? ” Dimana saya berkata, “Beberapa minggu yang lalu, kau menderita campak, dan kemudian Tuhan mengutus kesembuhan total.” Namun, gadis kecil tidak puas, ia menukas, “Yah, tapi tolong, Ayah, jangan lupa: di tempat pertama, ia telah mengutus aku campak.”
Namun, ketika seorang pasien berdiri di atas keyakinan agama, tidak boleh ada keberatan untuk memanfaatkan efek terapeutik dari keyakinan agama dan pada sumber daya spiritualnya. Untuk melakukannya, psikiater dapat menempatkan diri di tempat pasien. Itulah yang saya lakukan sekali. Seorang rabbi dari Eropa Timur; dia telah kehilangan istri pertamanya dan enam anak-anak mereka di kamp konsentrasi Auschwitz di mana mereka digas, dan sekarang ternyata istri keduanya mandul. Aku mengamati bahwa keturunan bukanlah satu-satunya makna hidup, karena dengan begitu hidup dalam dirinya sendiri akan menjadi tidak berarti, dan pada dirinya sendiri tidak berarti.


KESEMENTARAAN KEHIDUPAN
Logotherapy, mengingat kefanaan hakiki eksistensi manusia, tidak pesimis melainkan activistic. Untuk mengungkapkan hal ini secara kiasan kita dapat mengatakan: Seorang pria yang pesimis mengamati dengan ketakutan dan kesedihan bagai kalender dinding, sehari-hari daraian air mata, tumbuh lebih tipis dengan berlalunya hari. Di sisi lain, orang yang menyerang masalah-masalah kehidupan secara aktif adalah seperti seorang lelaki yang masing-masing berturut-turut menghilangkan daun dari kalender dan file dengan rapi dan hati-hati pergi dengan pendahulunya, setelah menuliskan beberapa catatan buku harian di bagian belakang. Dia dapat mencerminkan dengan bangga dan kegembiraan pada semua kekayaan termaktub dalam catatan ini, pada semua kehidupan yang telah dijalani sepenuhnya. Apa yang akan peduli kepadanya jika ia melihat bahwa ia menjadi tua? Apakah dia punya alasan untuk iri pada orang-orang muda, atau lilin nostalgia atas pemuda hilang sendiri? Alasan apa yang telah membuat ia iri pada orang muda? “Tidak, terima kasih,” ia akan berpikir. “Daripada kemungkinan, realitas saya di masa lalu, tidak hanya realitas pekerjaan dan cinta mencintai, tetapi penderitaan berani menderita. Penderitaan ini bahkan hal-hal yang paling saya bangga, meskipun ini adalah hal-hal yang tidak bisa menginspirasi sifat iri.

LOGOTHERAPY SEBAGAI TEKNIK
Selain niat dan perhatian yang berlebihan, atau “hiper-refleksi,” seperti yang disebut dalam logotherapy, mungkin juga patogenik (yaitu, menyebabkan penyakit). Seorang wanita muda datang kepada saya mengeluh menjadi dingin, bahwa pada masa kecilnya ia mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya. Ternyata sikap antisipatif dapat mengakibatkan kecemasan yang berlebihan baik dalam niat untuk mengkonfirmasi kewanitaannya dan perhatian yang berlebihan berpusat pada diri sendiri dan bukan pada pasangannya. Orgasme adalah membuat objek niat, dan juga objek perhatian, bukan efek sisa yang tidak. Ketika memfokuskan kembali perhatiannya ke objek yang tepat, yaitu pasangan, orgasme datang secara spontan.
Logotherapy mendasarkan teknik yang disebut “paradoks niat” pada kenyataan ganda yang mendatangkan rasa takut, dan yang hiper-niat membuat mustahil apa yang diinginkan. Kemampuan untuk mengaktualisasikan diri kapan saja disebut penerapan teknik paradoks logotherapeutic. Pada saat yang sama, pasien diaktifkan untuk menempatkan diri pada neurosis sendiri. Gordon W. All-port “Neurotik belajar mentertawakan diri sendiri adalah menuju pengelolaan diri, untuk menyembuhkan.”
Paradoks niat tidak hanya efektif dalam kasus-kasus monosymptomatic. Paradoks niat juga dapat diterapkan dalam kasus-kasus gangguan tidur. Sleeplessness takut hasil dalam hiper-niat, yang pada gilirannya, incapacitates pasien untuk melakukannya. Untuk mengatasi ketakutan ini, pasien disarankan untuk tidak mencoba tidur, tetapi melakukan hal yang berlawanan, agar tetap terjaga selama mungkin. Dengan kata lain, hiper-niat harus diganti dengan niat paradoks tidak tertidur.
Paradoks niat adalah obat mujarab dalam mengobati obsesif-kompulsif dan kondisi fobia, terutama dalam kasus-kasus dengan antisipatif yang mendasari kecemasan. Selain itu, ini adalah perangkat terapi jangka pendek. Namun, orang tidak boleh menyimpulkan bahwa terapi jangka pendek hanya menghasilkan efek terapi sementara.
Salah satu fakta yang paling luar biasa adalah bahwa niat paradoks efektif terlepas dari dasar etiologi perkara yang bersangkutan. Sedangkan penyebab neurosis yang sebenarnya, terlepas dari unsur konstitusional, baik somatik atau psikis di alam, seperti mekanisme umpan balik sebagai antisipasi kecemasan tampaknya menjadi faktor patogen utama. “Antisipatif kecemasan harus dinetralkan oleh paradoks-niat; hiper-niat serta hiper-refleksi harus dinetralkan oleh dereflection; dereflection dapat dilakukan oleh orientasi pasien ke arah panggilan dan misi khusus dalam hidup.”

NEUROSIS GABUNGAN
Bahwa manusia tidak lain adalah hasil dari biologis, psikologis dan sosiologis kondisi, atau hasil dari keturunan dan lingkungan. Pandangan seperti manusia membuat neurotik percaya apa yang ia cenderung untuk percaya tetap, yaitu, bahwa ia adalah bidak dan korban dari pengaruh luar atau keadaan batin. Fatalisme neurotik ini dipupuk dan diperkuat oleh seorang psikoterapi yang menyangkal bahwa manusia adalah bebas.
Yang pasti, seorang manusia adalah hal yang terbatas, dan dibatasi kebebasannya. Itu bukan kebebasan dari kondisi, tetapi kebebasan untuk mengambil sikap terhadap kondisi. “Sebagai seorang profesor di dua bidang, neurologi dan psikiatri, saya sepenuhnya menyadari sejauh mana manusia tunduk pada biologis, kondisi psikologis dan sosiologis. Tetapi selain menjadi profesor dalam dua bidang, yang selamat dari empat kamp-kamp konsentrasi, saya juga memberi kesaksian yang tak terduga sejauh mana manusia mampu melawan dan bahkan menantang kondisi terburuk. ”

KRITIK DARI PAN-DETERMINISME
Psikoanalisis telah sering dipersalahkan karena apa yang disebut pan-sexualism. Aku, misalnya, meragukan apakah pernah mencela. Namun, ada sesuatu asumsi yang keliru dan berbahaya, yang saya sebut “pan-determinisme.” Pandangan manusia yang mengabaikan kemampuannya untuk mengambil sikap terhadap setiap kondisi apapun. Manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan ditentukan melainkan menentukan sendiri apakah ia menyerah pada kondisi sendiri. Dengan kata lain, manusia akhirnya menentukan diri sendiri.
Salah satu fitur utama eksistensi manusia adalah kemampuan untuk mengatasi kondisi seperti itu, untuk tumbuh melampaui mereka. Manusia mampu mengubah dunia menjadi lebih baik, dan mengubah dirinya menjadi lebih baik.
Kebebasan hanya bagian dari cerita dan setengah dari kebenaran. Kebebasan adalah aspek negatif dari seluruh fenomena aspek positif yang responsibleness. Bahkan, kebebasan berada dalam bahaya memburuk menjadi kesewenang-wenangan kecuali tinggal dalam hal responsibleness.

CREDO JIWA
Kredo kejiwaan adalah kondisi individu penderita psikotik mungkin kehilangan kegunaan tetapi belum mempertahankan martabat manusia. Tanpa itu aku tidak boleh berpikir untuk menjadi seorang psikiater. Hanya demi sebuah mesin otak yang rusak tidak dapat diperbaiki? Jika pasien tidak lebih jelas, eutanasia akan dibenarkan.

PSIKIATRI REHUMANIZED
Psikiatri mencoba menafsirkan pikiran manusia sebagai sebuah mekanisme, dan akibatnya terapi penyakit mental hanya dalam hal teknik.
Bagaimanapun, seorang dokter akan tetap menafsirkan perannya sendiri seperti yang dilakukan oleh seorang teknisi, bahwa ia melihat pasien tidak lebih dari mesin, bukannya melihat manusia di balik penyakit!
Seorang manusia bukanlah yang menentukan satu sama lain, tetapi pada akhirnya manusia adalah mencegah diri-pertambangan. Di kamp-kamp konsentrasi, misalnya, hidup dalam laboratorium dan di ajang pengujian ini, kami melihat dan menyaksikan beberapa kawan berperilaku seperti babi sedangkan yang lain berperilaku seperti orang-orang kudus. Manusia memiliki potensi baik dalam dirinya sendiri; mana yang diaktualisasikan tergantung pada keputusan tetapi tidak pada kondisi.

Postscript 1984
Kasus untuk Tragic Optimisme”
Didedikasikan untuk mengenang Edith Weisskopf-Joelson, yang merintis logotherapy di Amerika Serikat mulai pada awal tahun 1955.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri apa yang harus un-derstood oleh “optimisme tragis.” Bahwa yang satu dan tetap optimis terlepas dari “triad tragis,” seperti yang disebut dalam logotherapy. Tritunggal terdiri dari aspek-aspek keberadaan manusia yang dibatasi oleh: (1) sakit; ( 2) rasa bersalah; dan (3) kematian.
Bagaimana mungkin untuk mengatakan hidup terlepas dari semua itu? Bagaimana, untuk mengajukan pertanyaan berbeda, hidup dapat mempertahankan makna potensi, meskipun memiliki aspek-aspek tragis?
Kemampuan manusia untuk hidup secara kreatif mengubah aspek negatif menjadi sesuatu yang positif atau konstruktif. Dengan kata lain, yang penting adalah membuat yang terbaik dari segala situasi. Sebuah optimisme dalam menghadapi tragedi dan mengingat potensi manusia selalu memungkinkan untuk :
(1) mengubah penderitaan menjadi pencapaian dan prestasi manusia;
(2) berasal dari rasa bersalah kesempatan untuk mengubah diri untuk semakin baik; dan
(3) berasal dari kesementaraan hidup insentif untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab.
Harus diingat, bagaimanapun, bahwa optimisme tidak akan diperintahkan atau memerintahkan. Salah satu bahkan tidak dapat memaksa diri untuk optimis tanpa pandang bulu, melawan segala rintangan, melawan segala harapan. Dan apa yang benar bagi harapan ini juga berlaku untuk dua komponen lainnya sejauh iman dan kasih tidak dapat diperintahkan.
Dalam logotherapy, seperti pola perilaku disebut “hiper-niat.” Ia memainkan peranan penting dalam penyebab neurosis seksual, baik frigiditas atau impotensi. Semakin banyak pasien, bukannya melupakan dirinya melalui memberi diri, langsung berusaha untuk orgasme, yaitu, kenikmatan seksual, semakin ini mengejar kenikmatan seksual menjadi merugikan diri sendiri. Memang, apa yang disebut “prinsip kesenangan” adalah, yang menyenangkan-spoiler.
Manusia bukanlah untuk mengejar kebahagiaan melainkan mencari alasan untuk menjadi bahagia, melalui makna mewujudkan potensi yang melekat dan tertidur dalam situasi tertentu. Sekali individu mencari makna sukses, bukan hanya menjadikan dia bahagia, tapi juga memberinya kemampuan untuk menghadapi penderitaan.
Tak perlu dikatakan bahwa tidak setiap kasus depresi harus ditelusuri kembali ke perasaan ketakbermaknaan, juga tidak bunuh diri-di mana kadang-kadang depresi selalu eventuates-hasil dari kekosongan eksistensial. Tetapi bahkan jika masing-masing dan setiap kasus bunuh diri tidak pernah dilakukan keluar dari rasa berartinya, hal itu mungkin saja terjadi bahwa dorongan seorang individu untuk mengambil hidupnya telah diatasi seandainya ia menyadari makna dan tujuan untuk hidup layak.
Logotherapist berkaitan dengan makna potensi yang melekat dan terbengkalai di semua situasi, orang harus menghadapi sepanjang hidupnya. Fakta menunjukkan bahwa makna, dan persepsi, seperti yang terlihat dari sudut logotherapeutic, benar-benar turun ke bumi daripada mengapung di udara atau tinggal di menara gading. Persepsi makna yang berbeda dari konsep klasik persepsi Gestalt sejauh yang terakhir menyiratkan kesadaran yang tiba-tiba sebuah “sosok” pada sebuah “tanah,” sedangkan persepsi makna, intinya untuk menyadari kemungkinan latar belakang realitas atau, untuk mengungkapkan dalam kata-kata sederhana, untuk menyadari apa yang dapat dilakukan dalam situasi tertentu.

Tiga jalan utama logotherapy untuk sampai pada makna dalam kehidupan:
Yang pertama adalah dengan menciptakan pekerjaan atau dengan melakukan suatu perbuatan.
Yang kedua adalah dengan mengalami sesuatu atau bertemu seseorang; makna dapat ditemukan tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam cinta.
Yang ketiga untuk makna hidup: Dia mungkin mengubah tragedi pribadi menjadi sebuah kemenangan.
Mengingat kemungkinan menemukan makna dalam penderitaan, artinya hidup tanpa satu syarat. Bahwa tanpa syarat makna, adalah sejajar dengan nilai tanpa syarat dari masing-masing dan setiap orang. Ini adalah yang menjamin kualitas yang tak terhapuskan martabat manusia. Jika orang tidak menyadari perbedaan ini dan berpendapat bahwa nilai seseorang hanya berasal dari kegunaan saat sekarang. Hitler mengatakan, “rahmat” membunuh orang mereka telah kehilangan kegunaan sosial, baik itu karena usia tua, penyakit tak tersembuhkan, kemunduran mental, atau cacat yang mereka derita.
Tidak perlu untuk menjadi tidak benar kepada konsep dasar manusia dan prinsip-prinsip filsafat hidup yang melekat pada logotherapy. Seperti kesetiaan tidak sulit untuk mempertahankan mengingat fakta bahwa, seperti Elisabeth S. Lukas pernah menunjukkan, “sepanjang sejarah psikoterapi, tidak pernah ada sekolah sebagai undogmatic sebagai logotherapy.” Kongres Logotherapy Pertama (San Diego, California, November 6-8, 1980) Saya berpendapat tidak hanya untuk rehumanization psikoterapi, tetapi juga untuk apa “degurufication dari logotherapy.”
Sigmund Freud pernah menyatakan, “Biarkan satu upaya untuk mengungkapkan sejumlah orang yang paling beragam, seragam untuk kelaparan. Dengan meningkatnya dorongan imperatif kelaparan semua perbedaan individual akan kabur, dan di gantinya mereka akan muncul ekspresi seragam satu unstilled mendesak.”

KOMENTAR TERHADAP BUKU

Buku ini ditulis oleh Fiktor Emil Frankl berdasarkan pengalamannya selama berada di kampt pengasingan (penjara bawah tanah) yang memperkerjakan tahankan secara paksa. Dia bekerja tidak sebagai seorang Dokter ahli psikiatri tetapi disamakan dengan para tahanan lainnya. Tetapi selama pengasingan Frankl dapat menerima keberadaannya menjadi suatu yang harus dipahami maknanya.
Logotherapy menunjukkan bahwa hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) adalah motivasi utama setiap manusia, serta mengajukan sebuah metode untuk menemukan makna hidup (the meaning of life).
Pengertian Logoterapi
Logoterapi diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:
1. Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.
2. Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas – untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
3. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelas mendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secara positif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.
Ajaran Logoterapi
Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan makna hidup sebagai berikut.
a. Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.
b. Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
c. Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.
d. Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (eksperiental values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).
Tujuan Logoterapi
Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
a. memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
b. menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;
c. memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

Pandangan Logoterapi terhadap Manusia
a. Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
b. Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
c. Dengan adanya dimensi noetic ini manusiamampu melakukan self-detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
d. Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.


Logoterapi sebagai Teori Kepribadian
Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut:
Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness). Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis) mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).
Logotherapy mendasarkan teknik yang disebut “paradoks niat” pada kenyataan ganda yang mendatangkan rasa takut, dan yang hiper-niat membuat mustahil apa yang diinginkan. Kemampuan untuk mengaktualisasikan diri kapan saja disebut penerapan teknik paradoks logotherapeutic. Pada saat yang sama, pasien diaktifkan untuk menempatkan diri pada neurosis sendiri. Gordon W. All-port “Neurotik belajar mentertawakan diri sendiri adalah menuju pengelolaan diri, untuk menyembuhkan.”
Tiga jalan utama logotherapy untuk sampai pada makna dalam kehidupan:
Yang pertama adalah dengan menciptakan pekerjaan atau dengan melakukan suatu perbuatan.
Yang kedua adalah dengan mengalami sesuatu atau bertemu seseorang; makna dapat ditemukan tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam cinta.
Yang ketiga untuk makna hidup: Dia mungkin mengubah tragedi pribadi menjadi sebuah kemenangan.
Logotherapi yang bermotto “Meaning in suffering” dan bersifat “future oriented” diharapkan dapat untuk membangkitkan optimisme menghadapi masa depan, betapapun berat kendala yang dihadapi. Bagi para penderita stress pasca trauma, akibat kerusuhan, perang, berbagai bencana alam, dan lebih jauh akibat krisis multidemensi, diharapkan melalui mampu membantu membantu mereka bankit dari keterpurukan.

VIKTOR FRANKL AND LOGOTHERAPY

Februari 12, 2010

VIKTOR FRANKL AND LOGOTHERAPY

1. Apa yang dimaksud Logoterapy
a. Pengertian
Secara literal, logoterapy mempunyai arti terapi melalui pemaknaan. Merupakan suatu terapi yang bersifat direktif dan terus menerus yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat secara spesifik pada situasi yang amat penting, dapat juga dilakukan oleh mereka sendiri secara mendalam atau secara tidak langsung dimana sasarannya yakni para pecandu obat bius, para pemabuk atau penderita depresi. Logoterapi juga menggunakan teknik tertentu untuk mengatasi phobia (rasa takut yang berlebihan), kegelisahan, obsesi tak terkendali dari pemakai obat-obatan terlarang. Selain itu juga termasuk untuk mengatasi kenakalan remaja, konsultasi terhadap masalah memilih pekerjaan dan membantu semua masalah dalam kehidupan.
Kika dikaitankan dengan konseling maka Konseling logoterapi suatupendekatan yang digunakan untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.
a. Teori yang Mendasari Logoterapi
1) Ekstensialisme
Merupakan keberadaan orang hidup yang pada hakikatnya kebebasan dari hasrat/ambisi dan pertanggung jawaban. Yang terpenting bagaimana memaknai kehidupan itu. Whilst Freud menyatakan bahwa manusia mempunyai hasrat untuk senang, dan Adler mengatakan hasrat sebagai kekuatan, Frankl mengatakan kita harus mempunyai hasrat yang bermakna.
Seandainya terjadi frustrasi, kerja saraf berhenti “neogenik” Frankl mengemukakan bahwa dimensi spiritual (neotik) dari manusia seharusnya diikutsertakan kepada dimensi pisik dan kejiwaan. Frankl akhirnya memaknai adanya sisi positif yang khas pada setiap orang dalam suatu keadaan. Setiap peristiwa menawarkan situasi yang berubah-ubah terus menerus dan juga memberikan sebuah makna khusus yang penuh dengan tantangan. Maknanya tidak dapat dibuat-buat tetapi harus dihayati sendiri.
2) Stoicisisme (tenang/sabar/tabah)
Sikap ketabahan/sabar/tenang juga harus dimiliki, karena tidak ada masalah yang tidak ada dalam dunia ini. Kita selalu dapat menentukan sikap menolong diri sendiri. Manusia yang berpendirian dan berkeyakinan selalu dapat berubah tetapi juga tergantung pada penafsiran mereka terhadap masalah. Bahkan dalam alam kematian dan penderitaan, dengan menujukkan keteguhan hati kita dapat memposisikan diri dalam situasi yang bermakna.
3) Pengalaman Pribadi Frankl (dalam studinya sebagai Psikiater)
“Ini adalah pelajaran, Selama tiga tahun saya menghabiskan waktu untuk belajar di Auschwitz dan Dachau, hal lain sama keadaanya, untuk melestarikan suasana belajar yang berorientasi kepada suatu tugas dimasa mendatang, atau menjadi manusia yang berharga, menanti masa depan, untuk sebuah makna yang harus diwujudkan dimasa mendatang. Tetapi Logoterapi merupakan perolehan ide-ide oleh Frankl dan improfisasi bahwa tidak semua yang nyata berkaiatan dengan pengalamannya dalm mempelajari atau makna dari kehidupan.

2. Teknik-teknik Logoterapi
a. Intensi Paradoksikal
Para ahli terapi menganjurkan pasien untuk; mengarahkan keinginan, bahkan mengatasi apa yang menjadi ketakutan/kekhawatiran mereka.
1) Digunakan untuk yang terobsesi, keadaan terjerumus, dan phobia (tidak untuk pasien skizoprenia)
2) Kasusnya berguna untuk mengurangi kegelisahan, seringkali bekerja dengan tergesa-gesa.
3) Kapasitas manusia untuk bergerak for self-detacement, seringkali dilakukan dengan rasa humor.
4) Hans Gerz” mengatakan bahwa kesuksesan dari Intensi paradoksikal mencapai keberhasilan antar 80-90% dari kasus.
Suatu kasus dari sweating doktor (dari psikoterapi dan eksistensialisme, p 139) Seorang dokter muda mengalami Hidrophobia hebat (kronis) suatu hari ia bertemu atasannya di jalan, karena sudah lama menjalin persahabatan, dia memperhatikan bahwa dia sedang mengalami masa-masa diluar dugaannya. Dimasa akan datang dalam masa yang hampir sama dia berharap untuk mencapai puncak kejayaan, dan kegelisahan dirasakan sangat cepat sehingga mempengaruhi semangat kerja dalam bentuk lingkaran setan. Kita memperingati pasien, bahkan dalam kegelisahan yang berulang-ulang. Untuk merubahnya sudah banyak yang diusahakan dengan keringatnya. Seminggu kemudian dia kembali melaporkan/memberitahu bahwa dia bertemu degan seseorang yang dapat memicu kegelisahannya, dia berkata pada diri sendiri, “saya hanya mengeluarkan 10 liter keringat sebelumnya, tetapi sekarang saya akan mengeluarkan 10 liter untuk berikutnya”.
Apakah hasil dari resolusi paradoksikal ini? Selama 4 tahun penyakit phobia dideritanya, dia mempunyai kemampuan lebih hanya setelah satu sesi untuk membebaskan dirinya menjadi lebih baik.

Kamu Seorang Logoterapi
Dalam kasus berikut, apa yang disebut sebagai intensi Paradoksikal, bila ada, apa yang akan kamu anjurkan?
1) Seoarang anak/manusia akan merasa takut tentang sebab kematian dari serangan jantung. Untuk menjaga kesehatan agar ebih baik ia harus melakukan cek pisik.
2) Suatu obsesi akan muncul karena fokus setiap waktu, dan saatnya menghindari perbuatan jahat dalam keseharian.
3) Seorang manusia muda menghampirimu untuk menghindari kegagapan. Apa tanggapanmu? dan pertimbanganmu?
4) Seorang schizoprenia membuat gelisah masyarakat, dia melihat sesuatu tabung agar keluar darinya.
b. Derefleksi
Ahli terapi mengalihkan dan menjauhkan pasien dari masalah-masalah mereka dengan cara memberikan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.
1) Gunakan secara spesifik disfungsi seksual. Derefleksi terindikasi karena kamu berpikir lebih tentang potensi sek, yang jarang kamu mencapainya.
2) Jangan hanya mengandalkan cerita mereka untuk berhenti berpikir tentang suatu kebutuhan untuk meniru sesuatu yang positif (contoh; insomnia, jangan hanya menyuruh mereka berhenti mencoba untuk tidur, mengatakan kepada mereka untuk menghitung biri-biri)
3) Secara umum, Logoterapi dapat dilihat sebagai refleksi kembali kondisi pasien dari masalah yang ada dalam mencari makna hidup. Pasien ditinjau kembali tentang gangguan mereka sebagai sesuatu yang lain melebihi dari diri mereka sendiri.
Nasihat Frankl kepada Anna siswa seni berumur 19 tahun yang mengalami gejala schizofrenia yang sangat berat. Dia menilai diri sendiri sebagai seorang yang labil dan perlu bantuan.
Pasien: Apa yang akan saya alami?
Frankl: Jangan menyusahkan diri sendiri. Jangan masuk kedalam sumber masalahmu, biarkan ini menjadi tugas dokter kita, kita akan berusaha mengatasi krisis. Baiklah jangan ada perkataan, kamu mengisyaratkan suatu maksud pekerjaan seni ya?
Pasien: Tetapi ini suatu kekacauan dari dalam…….
Frankl: Jangan abaikan kekacauanmu, tetapi kembalikan semangat hidupmu yang menunggumu. Tidak ada apa-apa dari sudut hatimu yang paling dalam, tetapi aktualisasikan dirimu dimasa yang akan datang.
Pasien: Tetapi, apakah benar ini masalah saya?
Frankl: Jangan kau ungkapkan pertanyaan seperti ini. Apapun proses patologikal yang mengawali penderitaan psikologismu, kami akan menjagamu, karena itu jangan terbawa oleh perasaan yang menghantuimu. Anggap mereka sebagai perantara, kita akan membuatkamu menghilangkan perasaan itu, jangan pikirkan itu, jagan pula melawannya. Bayangkan saja terdapat selusin benda-benda berharga, pekerjaan menunggu kreativitasmu, dan tidak ada seorangpun yang dapat mencapai dan menyelesaikannya kecuali Anna sendiri. Tidak seorangpun dapat mengembalikan pekerjaan ini. Hal yang begini akan menjadi karya senimu, dan seandainya kamu tidak mengaturnya, dia mungkin tidak akan menciptakan kreasi seni selamanya.
Pasien: Dokter, saya percaya dengan apa yang kamu katakan. Ini merupakan suatu pesan yang amat menyenangkan.

c. Pemaknaan Terhadap Orientasi
Para ahli terapi mencoba untuk memaknai ketajaman dan sensitivitas pasien terhadap masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dan secara kreatif penuh dengan pendirian dan pengalaman.
1) Pemaknaan terhadap nilai-nilai kreatif
Frankl mengatakan bahwa aturan-aturan logotherapi meliputi perluasan dan pengembangan sisi nyata dari pasien karena keseluruhan itu memiliki nilai-nilai yang dapat dilihat dan dirasakannya. Sumber utama dari makna dapat dirasakan melalui penghargaan yang kita berikan, penrimaan dan perlakuan.
2) Pemaknaan Melalui Nilai-nilai Pengalaman
Frankl (sebagai seorang dokter jiwa) dalam tulisannya “mari kita segera menjadi seorang pendaki gunung yang dapat menyaksikan sunset (terbitnya matahari) di Alpin dan juga berpergian sambil menikmati keindahan alam, bahwa dia meresakan makin kesepian dan tidak suka dengan masa lalu dan membiarkannya setelah pengalaman hidup muncul lagi tetapi semua tidak berarti.
3) Pemaknaan nilai-nilai pengahayatan sikap
Frankl yakin bahwa kita selalu punya kebebasan untuk mencari pemaknaan melalui penghayatan sikap bahkan dalam situasi yang tidak mendukung sekalipun.
Sebagai contoh, Seorang senior mengalami depresi, dia tidak menerima kenyataan dari kehilangan istrinya yang didukung oleh keterlibatannya.
Frankl bertanya “ Apa yang akan terjadi jika kamu yang meninggal lebih dulu, dan istrimu bertahan hidup? Oh, desah pasien” Baginya akan sangat menyakitkan; betapa menderitanya dia.
Frankl Melanjutkan pertanyaan; Kamu lihat bagaimana penderitaan yang dialaminya, dan kamu yang telah menyebabkan ini, tetapi sekarang kamu harus membayar dengan hidup tanpanya dan selalu berduka. Tidak ada kata menyesal, tetapi Frankl langsung berjabatan tangan dan dengan tenang meninggalkan kantornya (pencarian makna hidup dari seorang manusia).

Studi Kasus Harold (Chris Wurm)
Harold seorang warga Australia berusia paruh baya yang kehidupannya dengan cepat berubah carut-marut diluar kontrol seperti seorang pemabuk. Masalah keuangan/ekonomi tidak didukung oleh sejumlah biaya yang dihabiskan untuk minum dan pengaruh beban pekerjaan (stress). Simpati istrinya berkurang disamping ia juga punya masalah tidur tengah malam. Dia pulang untuk menemui Chris Wurm, seorang GP ahli Logotherapi. Wurm mengkombinasikan pendekatan medis sebagai contoh pemberian informasi terhadap bahaya minuman-minuman juga dilakukan dengan logotherapi. Roda kehidupan Harol kembali bergulir, liku-liku sisi alkohol dari kehidupannya dan tak bisa dihindari. Werm berkata “ bahwa memungkin untuk memikirkan apayang dia ketahui dan dapat menentukan pilihan dan menjalani kehidupan dengan berbagai cara (penekanan logotherapi dapat dipertanggung jawabkan). Cerminan dari suatu pilihan yang membawa perubahan baginya (ini adalah orientasi terhadap makna penghayatan dan nilai), dan terdapat gambaran masa masa mendatang. Perannya sangat menentukan dan menjadi efektif, setiap kali ia memandang betapa akal piciknya menjadi bumerang (api dalam sekam).

Penafsiran Logotherapi
a. Kekuatan
• Inspirasi kehidupan Viktor Frankl
• Pemahaman relatif sederhana, perubahan kehidupan yang potensial dan terus berkembang
• Dimensi pertahanan hidup tidak mengalamatkan terapi yang lain
• Selalu optimis dan bersifat konstruktif
b. Ruang lingkup
• Terlalu menganut paham otoriterkah?
• Terlalu religius dan dan tidak berbau saintifik atau tepatkah?
• Apakah terlalu bergantung pada intusi Frankl?
• Sangat terbataskah?

4. Pengembangan Logoterapi
a. Usaha-usaha untuk mempertahankan nilai makna agar lebih sistematis
James Crumbaugh, penemu arti makna hidup, yang mencetuskan latihan-latihan tertentu yang ditujukan pada kliennya untuk mendukung pencapaian makna dan nilai. Gagasan bekerja diluar batas nilai dan betapa kamu harus memenuhi kebutuhan mereka, dengan demikian tercapailah arti kehidupan yang bermakna. Crumbaugh juga mengemukakan 6 daftar yang digunakan seluruh analisis.
1) Sasaran jangka panjang khidupan, ambisi, tujuan dan keinginan yang terpendam sepanjang klien dapat mengingatnya termasuk pertimbangan hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak.
2) Sumber kekuatan dari kepribadian, faktor fisik dan lingkungan sekitar sebagai faktor keberuntungan.
3) Titik lemah dari kepribadian seseorang, kegagalan merupakan pertanda keburukan.
4) Masalah-masalah khusus yang menimbulkan konflik berkepanjangan klien.
5) Harapan hidup/tantangan masa depan. Perbedaan dengan yang pertama akni lebih menekankan masa yang akan datang berdasarkan ambisi-ambisi masa lalu
6) Rencana masa depan, segera, dan dengan rentang yang lama.
Saya sendiri dalam pekerjaan harus memaksakan diri untuk masuk kedalam kerangka kerja yang lebih luas yang tidak hanya menemukan hal-hal yang bermakna dan dapat dihargai, tetapi juga untuk mempertahankan apapun mereka sungguh-sungguh.
b. Usaha-usaha menempatkan Logoterapi pada pijakan yang lebih Saintifik
Wong & Fry’s “the human quest for meaning” (1988) memaparkan suatu usaha dengan melakukan tes yang dapat diuji dilakukan oleh para ahli psikologi secara ketat dan terbaru yang berpusat pada makna. Suatu kemajuan yakni meningkatkan penghargaan hidup untuk memperbaiki penyelesaian hambatan-hambatan kehidupan pada lama pemikiran, dengan demikian bisa ditentukan kalau pasien bisa sembuh oleh logoterapi dan mengukur/mentukan perkembangan mereka.

PEMBAHASAN
Pengertian Logoterapi
Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
Asas-asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:
1. Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.
2. Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas – untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
3. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelas mendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secara positif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.
Ajaran Logoterapi
Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan makna hidup sebagai berikut.
a. Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.
b. Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
c. Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.
d. Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (eksperiental values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).
Tujuan Logoterapi
Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
a. memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
b. menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;
c. memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Pandangan Logoterapi terhadap Manusia
a. Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
b. Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimensi ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
c. Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan self-detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
d. Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.
Logoterapi sebagai Teori Kepribadian
Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut:
Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness). Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis) mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).

Konseling Lokgotherapi
Konseling logoterapi merupakan konseling untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain. (Luthfi Seli Fauzi, Luthfi@yahoo.com)

Komponen-Komponen Konseling Logoterapi
Komponen-komponen pribadi dalam konseling logoterapi adalah kemampuan, potensi, dan kualitas insane dari diri konseli yang dijajagi, diungkap, dan difungsikan pada proses konseling dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap makna dan tujuan hidupnya.
Dalam logoterapi usaha meningkatkan kesadaran atas kualitas dan kemampuan pribadi- seperti pemahaman diri, pengubahan sikap, pengarahan diri, tanggungjawab, komitmen, keimanan, cinta kasih, hati nurani, penemuan makna hidup-merupakan hal-hal penting yang menentukan keberhasilan konseling. Selain itu konseli disadarkan pula atas rasa tanggungjawab untuk mengubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik dan lebih sehat serta bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Tahapan Konseling Logoterapi
Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:
1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
3. Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

PENGGUNAAN SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

Februari 11, 2010

PENGGUNAAN SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF

PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

Disusun Oleh:

JON EFENDI

ABSTRAK

Rational Emotif Therapy (RET) dilakukan pada penyandang tunagrahita ringan dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar logika ke dalam praktek RET, terutama silogisme praktis, yang disesuaikan dengn kemampuan penyandang tunagrahita secara optimal.

Prosedur pengembangan secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Selama berlangsung pertemuan, klien membuat timbangan nilai yang membentuk pernyataan verbal yang mendasari emosi dan sikap. 2) Terapis dapat memperbaiki dasar logika suatu emosi dengan upaya merekonstruksi premis-premis silogisme praktis yang muncul, 3) Premis-premis di arahkan kepada pengendalian rasional.

Bentuk RET yang menggunakan dasar logika seperti dikemukakan di atas, perlu memperhatikan bentuk logika baik induktif maupun deduktif. Oleh karena itu, bilamana menggunakan model ini, maka para terapis diharapkan rnemiliki pemahaman yang luas mengenai logika dan ketrampilan menerapkannya dalam RET yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan, sehingga kemandirian anak tunagrahita dapat ditingkatkan. Dengan demikian mereka lebih dapat hidup mandiri di masayarakat.

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merawal dari keinginan untuk lebih meningkatkan kemampuan penyandang tunagrahita ringan yang selama ini lebih banyak tergantung pada keberadaan orang lain. Selain penyandang tunagrahita memiliki permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan inteligensi, pada khirnya mereka kurang mampu menunjukkan aktualisasi diri dengan baik ditengah masyarakat.

Rational Emotif Therapy (RET) dilakukan pada penyandang tunagrahita ringan dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar logika ke dalam praktek RET, terutama silogisme praktis, yang disesuaikan dengn kemampuan penyandang tunagrahita secara optimal.

Penyempurnaan dan penyususnan makalah ini banyak mendapat arahan dari dosen pembimbing selama perkuliahan serta masukan dari berbagai teman. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih, serta memohon kritikan dan saran-saran demi kesempurnaan tulisan ini di masa datang.

Bandung, Januari 2010

Penulis


DAFTAR ISI

ABSTRAK                                                                                                        1

KATA PENGANTAR                                                                                      2

DAFTAR ISI                                                                                                     3

BAB I PENDAHULUAN                                                                                4

  1. Latar Belakang Permasalahan                                                     4
  2. Tujuan Penulisan                                                                           6
  3. Format Penulisan                                                                           6

BAB II SILOGISME DALAM RET PADA TUNAGRAHITA                       7

A. Pendekatan Silogisme                                                                    7

B. Hakekat Penalaran                                                                          7

BAB III PEMBAHASAN                                                                                 11

A. Silogisme Dan Jenisnya                                                                 11

1. Silogisme kategorial                                                             11

2. Silogisme Praktis                                                                  14

B. Terapi Rasional Emotif                                                                    19

1. Pengantar                                                                              19

2. Pokok-pokok Teori                                                                23

C. Tunagrahita Ringan                                                                        33

1. Pengertian Tunagrahita Ringan                                        33

2. Karakteristik Tunagrahita ringan                                        34

D. Pentingnya Layanan Bimbingan Bagi Anak Tunagrahita       40

BAB IV PENERAPAN SILOGISME DALAM RET                                     43

A. Konseling RET dalam setting kelompok                                      43

1. RET sebagai Model Pendidikan                                        43

2. Tujuan Silogisme                                                                  44

3. Rasionel                                                                                 45

4. Peranan dan Fungsi Konselor                                           48

BAB   V USULAN PENELITIAN                                                                   50

IMPLENTASI SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF

(Model Peningkatan Kemandirian Pada Anak Tunagrahita Ringan)

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI                                          50

DAFTAR PUSTAKA                                                                                       53

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sesuai dengan para penganut terapi rasional-emotif (RET), para terapis mempunyai kemungkinan untuk menghilangkan emosi klien yang tidak dikehendaki (misalnya depresi atau kecemasan) dengan memperbaiki dan mengubah keyakinan tak-rasional tertentu sebagai bagian dan sistem keyakinan klien. Sekalipun begitu, penganut teori RET, salah memahami hubungan antara peristiwa, keyakinan, dan emosi.

Meskipun mereka tidak menyangkal peranan peristiwa tindakan (activating events) dapat menimbulkan emosi, mereka meyakini bahwa “sebab utama konsekuensi anda sendiri pada C, adalah karena keyakinan kuat terhadap sesuatu pada B”. Jadi, keyakinan orang merupakan sebab utama dari emosinya, seperti misalnya menggoreskan korek api merupakan sebab utama dari menyalanya korek api. Seperti halnya dengan seseorang tidak dapat menyalakan koerek api tanpa oksigen, maka seseorang tidak dapat memiliki emosi tanpa ada kejadian tindakan.

Brekaitan dengan paham yang dianut oleh teori RET; Kondisi anak-anak yang mengalami kelainan Tunagrahita, mereka hampir rata-rata mengalami ksulitan dalam pemahaman terhadap suatu peristiwa, keyakinannya sulit dan mudah dialihkan, serta emosinya sering tidak stabil. Kondisi tersebut juga sejalan dengan kekurangan dalam kecerdasan, pada akhirnya mereka sulit untuk menentukan keputusan yang dirasakan tepat baginya.

Tunagrahita ringan diartikan sebagai suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat dari lemahnya kemampuan intelektual. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan  AAMD dalam Moh Amin ( 1995 ). Anak yang termasuk dalam tunagrahita ringan meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat namun mereka mempunyai kemampuan berkembang dalam bidang akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.

Meskipun pentingnya keyakinan seseorang dalam menghayati emosi tertentu, sebenarnya pandangan di atas mengenai hubungan antara peristiwa, keyakinan, dan emosi, tidak menjelaskan proses logis timbulnya emosi. Maksud tulisan ini adalah untuk memberikan alternatif menghitung hubungan ini dengan menerapkan konsep fundamental tertentu dari ilmu logika pada umumnya yang disesuaikan dengan kondisi ketunagrahitaan, dan konsep logika silogistik pada khususnya dan untuk menjelaskan bagaimana pemahaman seseorang penyandang tunagrahita ringan bisa. Seorang konselor diharapkan dapat menempatkan terapis RET dalam posisi yang lebih baik untuk membantu klien dalam memperbaiki keyakinan tak rasional, meskipun dalam tahap yang minimal, namun sesuai dengan kemampuan intelektual yang optimal.


B. Tujuan Penulisan

Tulisan ini berusaha mengetengahkan suatu persoalan bagi konselor yang menghadapi para penyandang Tunagrahita baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan memusatkan perhatian pada pendekatan silogisme. Maksud tulisan ini adalah untuk memberikan alternatif dengan menerapkan konsep fundamental tertentu dari ilmu logika pada umumnya. Konsep silogistik pada khususnya untuk menjelaskan pemahaman  yang menempatkan terapis RET dalam posisi yang tepat untuk membantu klien  sehingga mendapakan keyakinan yang rasional sesuai dengan keterbatasannya.

Tujuan lain makalah ini juga sebagai salah satu tugas akhir perkuliahan Filsafat Bimbingan Konseling di SPS UPI Bandung.

C. Format Penulisan

Format penulisan yang digunakan dalam tugas akhir ini mengguakan pendekatan dan kajian teori sesuai dengan penulisan karya ilmiah. Acuan yang digunakan berupa kajian dari berbagai literatur dan sumber-sumber yang mendukung berupa hasil-hasil diskusi dan kritisi dari barbagai nara sumber terkait.

Selanjutnya teori-teori akan diguakan untuk membahas permasalahan yang dikemukakan sebagai pokok permasalahan. Kaitan teori yang digunakan berupa; konsep Silogisme, terapi Rasional Emotif, dan konsep tunagrahita ringan yang dikaitkan dengan prose Bimbingan dan Konseling.

BAB  II

SILOGISME DALAM RET PADA TUNAGRAHITA

A. Pendekatan Silogisme

Silogisme berkaitan erat dengan kemampuan penalaran. Kemamampuan penalaran dari seseorang diperlukan dalam rangka memahami  sesuatu sesuai dengan rasio. Diharapan orang akan mampu mengendalikan diri dalam kaitan perisitwa-peristiwa, hubungan sosial, dan pengendalian emosi. Melalui pendekatan silogisme akan digunakan dalam pelaksanaan proses konseling yang menggunakan terapi rasional emotif.

Para terapis mempunyai kemungkinan untuk menghilangkan kemungkinan-kemungkinan emosi pada anak tunagrahita ringan melalui pendekatan silogisme. Dimana pada klien akan dimunculkan suatu kekuatan dan kemampuan mengenai logika untuk menjelaskan pemahaman baru dengan menenpatkan RET pada klien penyandang tunagrahita.

B. Hakekat Penalaran

Secara singkat dapat dikatakan bahwa terapi rasional-emotif merupakan suatu upaya untuk membetulkan kesalahan dalam penalaran klien sebagai cara untuk menghilangkan emosi-emosi yang tidak dikehendaki. Adapun hakekat penalaran itu sendiri adalah sebagai berikut.

Pertama, ada dua aspek dari setiap bentuk penalaran yaitu premis dan konklusi. Bila setiap proses dikualifikasikan sebagai penalaran, maka kedua unsur tersebut harus ada.  Konklusi adalah keyakinan yang memungkinkan seseorang berusaha untuk membuktikan atau membenarkan. Premis adalah keyakinan yang digunakan seseorang untuk membuktikan atau membenarkan konklusi. Penalaran dapat memiliki lebih dari satu premis, tetapi sekurang-kurangnya harus memiliki satu premis.

Kedua, ada dua macam penalaran yang berbeda tetapi saling berkaitan, yaitu penalaran deduksi dan induksi. Deduksi adalah macam penalaran di mana konklusi dikembangkan dengan mengikuti premis. Dalam hal ini bila premisnya betul tidak mungkin konklusinya salah. Misalnya bila suatu premis mengatakan : “Semua manusia adalah makhluk yang bakal mati”, maka dapat ditank konklusi deduktif antara lain sebagai berikut: “Semua makhluk yang tidak mati adaiah bukan manusia”. Oleh karena itu apabila seseorang menerima suatu premis, akan tetapi tidak membenarkan konklusi , maka orang itu dapat dikatakan berfikir tak-rasional yang berarti juga bertentangan dengan dirinya sendiri.

Induksi adalah macam penalaran di mana konklusi tidak mendasarkan pada premis, tetapi mendasarkan derajat probabilitas, Misalnya dari premis yang mengatakan: “Mobil saya tidak dapat dihidupkan” dan “meteran bensin menunjukkan kosong”, maka konklusi “mobil saya kehabisan bensin” merupakan bentuk induksi. Konklusi dibuat lebih mungkin berdasarkan premis, akan tetapi tidak seperti dalam deduksi, di sini mungkin dapat terjadi premisnya betul tetapi konklusinya salah. Misalnya seperti dalam contoh di atas, bila ternyata bahwa petunjuk meteran bensin tidak berfungsi, maka mungkin saja saluran bensin tersumbat sehingga mesin tidak dapat hidup.

Sebagai bentuk penaralan yang dapat membantu dalam menata standar untuk sebutan rasional dan tak-rasional bagi keyakinan klien, maka konsep di atas masih relevan dengan terapi rasional-emotif.


BAB  III

PEMBAHASAN

A. Silogisme Dan Jenisnya

1. Silogisme kategorial

Satu bentuk penalaran yang relevan dengan RET (terapi rasional-emotif) adalah silogisme. Silogisme adalah suatu bentuk penalaran deduktif yang terdiri atas dua premis dan satu konklusi. Sebenarnya ada tiga macam silogisme yaitu kategorial, hipotesis, dan disjunctive, akan tetapi dalam bahan ini hanya akan dikemukakan mengenai silogisme kategorial saja.

Silogisme kategorial disebut demikian karena terdiri atas proposisi-proposisi kategorial. Proposisi kategorial adalah satu pernyataan kelas inklusi dan eksklusi. Misalnya pernyataan “semua manusia akan mati”, merupakan suatu pernyataan yang menggambarkan suatu kategori yang bisa inklusi atau masuk kategori dan eksklusi atau tidak termasuk dalam kategori. Semua yang bernama manusia akan inklusi dalam pernyataan di atas, tetapi kambing akan eksklusi dalam pernyataan tersebut.

Berikut ini sebuah contoh silogisme kategorial:

lidak ada anjing yang tergolong gajah.

Beberapa mamalia ada/ah anjing.

Jadi, beberapa mamalia bukan gajah.

Premis pertama (“lidak ada anjing yang tergolong gajah”) disebut premis mayor karena mempunyai lingkup mayor (besar) yang dirumuskan sebagai penaksir unsur konklusi, yang dalam contoh ini adalah “gajah”. Premis kedua disebut premis minor karena mempunyai lingkup yang minor (kecil) yang dirumuskan sebagai subyek konklusi, yang dalam contoh ini adalah “mamalia”.

Contoh di atas juga disebut sebagai penalaran (deduktif) yang valid. Dalam hal ini, valid mengandung arti bahwa konklusi yang dibuat berdasarkan premis-premis sebagaimana telah dijelaskan di atas. Biasanya hanya ada sedikit silogisme kategorial yang bersifat valid. Meskipun demikian, ada aturan-aturan yang tepat untuk menguji validitas silogisme itu. Aturan ini dapat dengan mudah dipelajari dan diterapkan.

Silogisme kategorial sering terjadi dalam konteks kehidupan, meskipun jarang dinyatakan secara verbal dalam bentuk yang lengkap. Sering terjadi ada bagian yang hilang dalam silogisme itu, apakah premis atau konklusi. Bila hal ini terjadi, maka penalaran ini disebut entimematik. Misalnya seorang klien yang mempunyai masalah perkawinan, selalu menjaga bahwa meskipun ia dapat mengusulkan sesuatu kepada suaminya, namun ia menganggap bahwa keputusan akhir masalah keluarga ada pada suaminya. Bila ia ditanya mengapa dia merasa seperti itu, ia mengatakan bahwa suaminya adalah orang pertama di rumah. Kepadanya diajukan pertanyaan sebagai berikut : “Jadi, anda pikir bahwa laki-laki di dalam rumah adalah seseorang yang harus membuat keputusan terakhir mengenai masalah-masalah keluarga?”. Jawabannya terhadap pertanyaan itu menggambarkan silogismenya yang prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut.

“Laki-laki di dalam rumah adalah seseorang yang harus membuat keputusan terakhir dalam masalah-masalah keluarga” (premis mayor yang tidak diungkapkan)

“Suami saya adalah seorang laki-laki di rumah” (premis minor).

“Jadi, suami saya adalah seseorang yang harus membuat keputusan terakhir dalam masalah-masalah kelurga” (konklusi).

Langkah selanjutnya kita menanyakan premis mayornya.

Bila ditanyakan mengapa ia meyakini bahwa laki-laki di rumah adalah yang harus membuat keputusan terakhir mengenai masalah keluarga, ia mengatakan bahwa laki-laki lebih baik dari pada wanita dalam membuat keputusan. Hal ini membuat silogisme yang lain yang konklusinya sama dengan premis mayor seperti dia atas. Prosesnya adalah sebagai berikut.

“Hal terbaik dalam membuat keputusan adalah sesorang yang harus membuat pernyataan terakhir dalam masalah-masalah keluarga” (premis mayor yang tidak dikemukakan).

“Laki-laki di rumah adalah yang terbaik dalam membuat keputusan” (premis minor).

“Jadi, orang pertama dalam rumah adalah orang yang harus membuat keputusan terakhir dalam masalah-masalah keluarga” (konklusi).

Melalui garis penemuan seperti digambarkan dia atas, penggunaan mekanisme silogisme kategorial memungkinkan ditemukannya sistem keyakinan klien. Dari contoh di atas, ternyata bahwa klien tidak memiliki landasan premis induktif atau deduktif yang memadai. Dengan melalui pertemuan-pertemuan konseling, sistem keyakinan klien dibantu melalui proses penalaran silogisme yang benar yang dapat mengubah keyakinan tak-rasional menjadi keyakinan yang rasional.

2. SILOGISME PRAKTIS

Filosof Yunani kuno Aristoteles merupakan orang pertama yang melakukan studi secara ilmiah tentang silogisme kategorial. Aristoteles membedakan dua macam silogisme kategorial yaitu: (1) silogisme teoritis, yaitu yang digunakan dalam ilmu pengetahuan alam (misalnya fisika dan geometri), dan (2) silogisme praktis, yaitu yang digunakan dalam disiplin-disiplin ilmu praktis (misalnya etika dan seni). Silogisme praktis seperti digambarkan di bawah ini, mempunyai arti penting bagi terapi rasional-emotif sepanjang memusatkan pada satu penalaran praktis.

Aristoteles meyakini bahwa silogisme praktis bersifat praktis karena tidak menggambarkan kenyataan, tetapi lebih berkenaan dengan tindakan. Hal itu lebih banyak berkenaan dengan pertanyaan “apa yang harus saya perbuat?”, dan bukan pertanyaan “Apakah ini?” Menurut Aristoteles, silogisme praktis terletak pda premis mayornya yang berupa pernyataan universal (pernyataan yang menggunakan “semua” atau “tidak” seperti: “”Semua manusia akan mati” atau “Tidak ada manusia yang akan mati”) yang meminta orang untuk merespon atau bertindak dengan cara tertentu kepada sesuatu yang dapat memuaskan satu deskripsi kelas tertentu. Premis minor merupakan pernyataan fakta penting tertentu yang berkaitan dengan beberapa hal tertentu yang merupakan kekhusussan premis mayor. Bagi Aristoteles, konklusi dari silogisme adalah respon atau tindakan behavioral yang diambil oleh seseorang yang menerima premis mayor dan premis minor. Aristoteles tidak banyak memberikan contoh silogisme praktis. Berikut ini sebuah contoh yang diberikan Aristoteles :

“Semua benda yang manis harus dicicipi” (premis mayor)

“Ini manis” (premis minor)

“Jadi, ini harus dicicipi (respon behavioral dibuat oleh seseorang yang menerima premis mayor dan premis minor).

Premis mayor seperti dikemukakan dalam silogisme di atas adalah satu arahan universal untuk memberikan respon dalam cara tertentu kepada semua benda yang berada dalam deskripsi kategori tertentu (misalnya untuk mencicipi segala sesuatu yang manis). Juga, premis minor adalah pernyataan mengenai kenyataan tertentu yang dinyatakan bahwa “Ini” merupakan deskripsi yang dikhususkan dari premis mayor (misalnya “Ini manis”). Jadi, konklusi yang diambil adalah tindakan nyata untuk mencicipi benda yang manis yang ditunjukkan oleh premis minor.

Karena silogisme praktis seperti ditunjukkan di atas, adalah penalaran praktis yang menghubungkan premis kepada tindakan, maka hal itu dapat digunakan dalam RET (terapi rasional-emotif) untuk memahami hubungan antara premis penalaran klien dengan cara-cara merespon (baik secara emosional ataupun behavioral). Aplikasikan konsep silogisme praktis kepada RET menyarankan para penganut RET untuk melihat emosi klien yang tidak dikehendaki sebagai keterkaitan antara keyakinan dengan kejadian tindakan, sebagai konklusi kepada premis mayor dan premis minor dalam silogisme praktis. Dengan mengikuti gagasan silogisme praktis dari Aristoteles, maka model RET dapat disusun sebagai berikut:

Tilik B : Arahan universal untuk merespon (secara emosional atau behavioral) dalam satu cara R tertentu (positif atau negatif) kepada semua hal yang berada dalam deskripsi kategori/kelas D (premis mayor).

Titik A: Pernyataan mengenai kenyataan tertentu bahwa sebuah benda X berada dalam kategori D (premis minor).

Titik C: Klien merespon dengan cara R kepada X (Konklusi penerimaan klien terhadap premis mayor dan minor di atas).

Model ini dapat diilustrasikan dengan contoh lain dari konseling perkawinan. Seorang klien pria berkeberatan terhadap cara-cara isterinya membelanjakan uang. Menurut dia, isterinya membelanjakan uangnya secara berlebihan, membeli sesuatu yang tidak perlu, dan secara umum “tidak menghargai nilai uang”. Ia menyebutkan bahwa sifat-sifat itu muncul karena isterinya itu berasal dari keluarga yang sejahtera dan berkecukupan. Silogismenya dapat digambarkan sebagai berikut:

‘Titik A: Semua anggota keluarga yang berkecukupan “tidak menghargai nilai uang” (premis mayor).

Titik B: Isteri saya adalah berasal dari keluarga berkecukupan (premis minor).

Titik C: Jadi, isteri saya “tidak menghargai nilai uang” (pernyataan verbal klien mengenai sikap negatif terhadap isterinya dalam keuangan) (Konklusi).

Premis minor (dinyatakan dalam titik A) dalam silogisme di atas dapat dipandang sebagai kejadian tindakan yang disebut sebagai premis dalam silogisme, membuat sikap negatif klien. Tetapi, sebagaimana harus diakui dalam RET, bahwa tidak hanya semata-mata kenyataan bahwa isterinya datang dari keluarga berkecukupan yang mengganggu jalan pikirannya, melainkan juga timbangannya pada titik B, premis mayor yang bila digabungkan dengan titik A, secara logis menghasilkan emosi negatif. Juga timbangan pada titik B adalah bersifat menghukum. Hal ini mengakibatkan suatu arahan universal untuk merespon dengan emosi negatif terhadap seseorang yang dideskripsikan sebagai orang yang berasal dari kerluarga berkecukupan. Seseorang tidak semestinya meyakini bahwa orang lain tidak menghargai nilai uang tanpa mengandung emosi atau sikap negatif mengenai disposisi seseorang memandang keuangan. Dengan demikian penampang utama premis mayor dalam silogisme praktis sebagaimana dalam pandangan Aristoteles, adalah suatu timbangan nilai.

Sekali premis silogisme dinyatakan, penganut RET sebaiknya melokalisasikan keyakinan tak-rasional yang mungkin secara logis menimbulkan terjadinya emosi yang tidak dikehendaki. Misalnya, klien ditanya mengapa berfikir bahwa orang yang berasal dari keluarga berkecukupan tidak menghargai nilai uang. Ia merespon bahwa orang kaya tidak pernah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu. Dari temuan ini, silogisme dapat dikembangkan sebagai berikut:

Titik B : Semua orang yang tidak pernah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu “tidak menghargai nilai uang” (premis mayor).

Titik A: Semua orang yang berasal dari keluarga berkecukupan adalah orang yang tidak pernah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu (premis minor).

Titik C : Jadi semua orang yang berasal dari keluarga berkecukupan “tidak menghargai nilai uang” (Konklusi).

Titik A merupakan sasaran, dan klien ditanya apakah orang tua isterinya telah bekerja keras untuk memperoleh uang. Ia menyatakan bahwa mereka mendapatkan uang dari usaha pertanian dengan bekerja keras untuk mendapatkan uang. Pertemuan selanjutnya, klien menyatakan bahwa ia mungkin cemburu kepada orang kaya telah mempengaruhi sikapnya terhadap orang.

B. Konseling Rational-Emotive Therapy

1. Pengantar

Konseling Rational-emotif Theraphy (RET) dikembangkan oleh Albert Ellis (1913) pada awal Tahun 1955 an, sebagai reaksi terhadap teori Psikoanalisis dari Freud yang mendasarkan pandangan bahwa perilaku manusia didasari atas ketidak sadaran. Ellis dengan RET nya mendasarkan asumsinya bahwa kognisi, emosi dan perbuatan berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat yang timbal balik. Dalam perkembangannya dengan menekankan kepada ketiga modalitas tersebut RET dipraktikkan dengan pendekatan eklektif yang multimodel (Corey, 1997:460). Dengan berlandaskan pada falsafah phenomenologis (tidak ada sesuatu yang menyulitkan seseorang, yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan adalah karena pandangannya sendiri). RET pada awalnya dipraktikkan untuk konseling individual. RET dipandang banyak kesamaannya dengan terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku, dan perbuatan, dalam arti bahwa RET menekankan berpikir, memperkirakan, mengambil keputusan, menganalisis dan berbuat. RET sangat didaktis, sangat direktif, dan memiliki kepedulian yang seimbang antara pikiran dan emosional (Natawidjaja, 1987:142).

RET menjadi suatu aliran psikoterapi yang ditujukan untuk memberi kesempatan kepada klien suatu fasilitas atau kemudahan untuk menyusun ulang gaya falsafah dan perbuatannya. Saling hubungan antara kognisi, emosi, dan perilaku dinyatakan oleh beberapa filsuf kuno baik dari dunia Timur maupun dunia Barat, misalnya filsuf Yunani kuno aliran Stoika, Epictus yang menyatakan: “It’s never the things that happen to you that upset you; its your view of them” (Orang menjadi terganggu bukan oleh benda-benda, melainkan oleh apa yang dipandangnya tentang benda-benda itu). Ellis juga mengakui adanya pengaruh dari aliran Adlerian mengenai reaksi dan gaya hidup yang ada hubungannya dengan keyakinan dasar manusia dan menekankan kepada peranan interes sosial dalam menetapkan kesehatan psikologis, serta pentingnya sasaran, tujuan, nilai, dan makna dari keberadaan manusia, memfokuskan pada pengajaran (didaktik) yang aktif dan mengarahkan (direktif), menggunakan metode kognitif-persuasif, dan pengajaran tentang terapi dengan jalan memberikan peragaan yang hidup di depan peserta terapi (Corey, 1987:460).

RET didasari asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi berpikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Berpikir rasional direfleksikan dalam kecenderungan untuk menjaga kelangsungan keadaan diri, keberadaannya, kebahagiaan, kesempatan memikirkan dan mengungkapkan dengan kata-kata, mencintai, berkomunikasi dengan orang lain, serta pertumbuhan dan katualisasi diri. Sedangkan dorongan irasional diwujudkan dalam dorongan dari dalam dirinya untuk merusak diri-sendiri, menghindar dari memikirkan sesuatu, menunda-nunda, berulang-ulang melakukan kekeliruan, percaya pada takhayul, tidak memiliki tenggang rasa, menjadi perfeksionis dan menyalahkan diri sendiri, dan menghindari adanya aktualisasi potensi pertumbuhan yang dimilikinya (Corey, 1991: 426). Keyakinan irasional itulah yang menyebabkan gangguan emosional, mungkin telah berbaur dengan hal-hal yang berasal dari luar diri manusia akan tetapi manusia tetap bertahan pada sikap yang cenderung mengalahkan diri dengan suatu proses indoktrinasi diri sendiri.Untuk mengatasi indoktrinasi yang membawa hasil berpikir irasional itu, maka para tarapis (konselor) RET bekerja dengan teknik-teknik yang bersifat aktif dan direktif seperti mengajar, memberi saran, membujuk, dan pemberian tugas pekerjaan rumah, dan menantang klien-kliennya untuk mengganti keyakinan yang irasional dengan yang rasional (Natawidjaja, 1987:143).

Dalam praktek RET relasi antara konselor dengan klien bukan merupakan hal yang penting. RET lebih menekankan kepada kemampuan konselor menantang klien untuk mengubah cara-cara berpikir tentang pengalaman-pengalamannya dari cara berpikir irasional menjadi berpikiran yang rasional atau mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif. Beck & Weisher (dalam Glading, 1995: 107) menyatakan bahwa pikiran menentukan perasaan dan tindakan. Berpikir positif mengarahkan perasaan dan tindakan individu sehat dalam arti mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga terhindar dari kecemasan dan perilaku salah suai lainnya. Sebaliknya pikiran yang negatif mengarahkan perasaan dan tindakan individu secara tidak sehat, tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungannya dan berakibat timbulnya perilaku salah suai dan kecemasan.

Konselor dari perspektif RET akan berupaya dengan menggunakan teknik-teknik didaktik (pengajaran), memberi saran, membujuk, memberi pekerjaan rumah, untuk membantu klien mengubah pikiran irasional menjadi rasional, berpikir negatif menjadi berpikir positif atau berpikir tidak logis menjadi berpikir logis. RET yang menggunakan prosedure kelompok sebagai alternatif terhadap prosedure individual. Suasana kelompok dipandang sebagai suatu suasana yang memberi kesempatan kepada klien untuk menantang pemikiran yang nerusak diri dan untuk mempraktekan perilaku yang berbeda dengan perilaku yang lama dan tidak efektif (Natawidjaja,1987:144).

2. Pokok-pokok Teori

2.1 Hakekat Manusia

Sebagaimana telah diuraikan, RET memandang bahwa pada hakekatnya manusia dilahirkan dengan potensi berpikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Dengan anggapan manusia itu tidak sempurna RET berusaha menolong seseorang untuk mau menerima dirinya sebagai makhluk yang akan selalu membuat kesalahan namun pada saat bersamaan juga sebagai yang bisa belajar hidup damai dengan dirinya sendiri. RET menyusun sejumlah asumsi tentang manusia sebagai berikut (Ellis, 1979 dalam Corey, 1995: 462):

a. Orang mengkondisikan diri-sendiri sebagai merasakan adanya suatu gangguan, dan bukan oleh sumber yang berasal dari luar dirinya.

b. Orang memiliki kecenderungan biologis dan budaya untuk berpikir berbelit-belit dan menimbulkan gangguan pada diri sendiri, sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

c. Manusia itu unik untuk menemukan keyakinan yang mengganggu dan membiarkan dirinya terganggu oleh adanya gangguan itu.

d. Orang memiliki kemampuan untuk mengubah proses kognitif, emotif dan perilaku mereka; mereka bisa memilih untuk memberikan reaksi mereka secara berbeda dengan pola yang biasanya mereka anut, bisa menolak untuk membiarkan dirinya menjadi marah, dan bisa melatih diri mereka sendiri sehingga pada akhirnya nanti mereka bisa bertahan mengalami gangguan yang minim selama sisa hidupnya.

Atas dasar asumsi tersebut Ellis menyimpulkan bawa manusia itu berbicara sendiri, mengevaluasi sendiri, dan bertahan sendiri. Manusia mengembangkan kesulitan emosional dan behavioral mana kala mereka mengambil pilihan sederhana (nafsu bercinta, mendapatkan persetujuan, mencapai sukses) dan membuat kesalahan memikirkannya pada saat yang mendesak. Manusia memiliki naluri yang cenderung menuju ke pertumbuhan dan aktualisasi diri, namun pada saat yang bersamaan mereka sering menjegal gerakan mereka menuju pertumbuhan sebagai akibat naluri kecenderungan mereka menuju ke pemikiran yang berbelit-belit dan juga ke pola menggagalkan diri sendiri apa-apa yang telah mereka pelajari.

2.2 Gangguan Emosional

Pada awalnya gangguan emosional dipandang sebagai gangguan yang bersumber pada orang lain yang terjadi berulang-ulang sejak masa anak-anak dan secara irasional diajarkan oleh orang tua secara turun temurun. Oleh karena itu sebagian besar pengulangan yang dibuat sendiri oleh individu terhadap pikiran yang tidak rasional yang diindoktrinasikan dulu, dan bukan pengulangan dari orang tua yang menjadikan sikap disfungsional tetap hidup dan beroperasi pada manusia.

RET menegaskan bahwa menyalahkan merupakan inti dari sebagian besar gangguan emosional. Oleh karena itu untuk menghentikan gangguan neurosis atau gangguan kepribadian, manusia harus berhenti menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, lebih dari itu hal yang penting adalah seseorang mau menerima dirinya-sendiri meskipun ada ketidak sempurnaan dalam dirinya. Ellis mengasumsikan bahwa pada hakekatnya manusia dilahirkan dengan dibekali kemampuan untuk berpikir secara rasional; namun kita juga memiliki kecenderungan kuat untuk meningkatkan hasrat dan preferensi kita menjadi tuntutan dan perintah “apa yang seharusnya”, “apa yang harus”, “apa yang seyogyanya”, yang sifatnya dogmatik dan mutlak. Apabila seseorang tetap dalam preferensi dan keyakinan rasional ia cenderung merasa bahagia, santai atau sekurang-kurangnya tenang dan ia tidak akan menjadi tertekan atau mengalami kecemasan secara proporsional, memusuhi dan menganiaya diri-sendiri. Sebaliknya seseorang yang hidupnya berdasarkan pada tuntutan-tuntutan maka akan muncul gangguan-gangguan atau hambatan-hambatan pada dirinya. Ide-ide yang tidak realistik dan tidak logis menciptakan perasaan terganggu dan perilaku yang tidak berfungsi.

Menurut Ellis (Dalam Corey, 1991:464), karena individu sendiri yang menciptakan pikiran dan perasaan yang terganggu maka individupun juga memiliki kekuatan untuk mengendalikan masa depan emosinya. Ellis menyarankan apabila -seseorang marah hal yang baik adalah melihat ke “tuntutan harus” yang dogmatik serta “tuntutan seharusnya” yang mutlak yang tersembunyi dalam dirinya. Kognisi yang sifatnya mutlak merupakan inti dari penderitaan manusia, oleh karena seringkali keyakinan ini menjadi ganjalan dan menghalangi seseorang dalam usahanya untuk sampai pada sasaran serta maksud yang dituju. Pada dasarnya semua penderitaan manusia dan gejolak emosionalnya yang serius sama sekali tidak perlu ada. Manusia menciptakan baik secara sadar atau tidak sadar, jalan pikiran dan perasaan, dan oleh karenanya manusia melakukannya dalam berbagai situasi. Karenanya manusia memiliki kemampuan untuk sadar akan diri-sendiri, mengamati dan mengevaluasi sasaran serta maksud perbuatannya, serta kemampuan untuk mengubahnya.

Dalam pandangan RET orang tidak harus diterima dan dicintai, meskipun itu merupakan hal yang sangat diinginkan. Terapis RET akan mengajarkan kepada individu bagaimana supaya dirinya tidak merasa tertekan atau memiliki gangguan psikologis ketika dirinya tidak diterima dan dicintai orang lain. RET mendorong orang untuk menghayati kesedihan karena tidak diterima atau tidak dicintai orang lain, tetapi RET juga berupaya membantu orang memperoleh cara untuk mengatasi depresi, keresahan, kepedihan, kehilangan perasaan harga diri, dan perasaan kebencian (Corey, 1995:465)

Beberapa ide irasional yang diinternalisasi manusia yang mengakibatkan kegagalan pada diri manusia adalah seperti berikut (Dryden & Ellis, 1988; Ellis, 1987b, 1988 dalam Corey, 1991:465):

❖ “Saya harus dicintai atau diterima oleh semua orang penting dalam kehidupan saya”

❖ “Saya harus melakukan tugas penting secara kompeten dan sempurna”

❖ “Oleh karena saya sangat menginginkan agar orang memperlakukan saya dengan penuh pengertian dan jujur, maka mereka mutlak harus berbuat seperti aku”

❖ “Apabila saya tidak mendapatkan apa yang sangat inginkan maka itu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan dan saya tidak tahan”

❖ Lebih mudah menghindari kesulitan hidup dan pertanggungan jawab daripada melakukan suatu bentuk disiplin diri yang menjajnjikan keuntungan” Sebagian besar orang memiliki kecenderungan kuat untuk menjadikan dirinya tetap terganggu secara emosional dengan jalan menginternalisasi keyakinan penggagalan diri-sendiri seperti yang ada dalam daftar di atas. Oleh karena itu mereka anggap secara esensial tidak mungkin untuk mendapatkan dan tetap mempertahankan kesehatan mental secara konsisten.

2. 3 Teori A-B-C

Teori A-B-C tentang kepribadian dan gangguan emosional merupakan unsur yang sangat penting dalam praktek dan teori RET. Menurut Ellis (1979 dalam

Natawidjaja, 1987:144), manusia membentuk emosi dan perilakunya sesuai dengan dasar fikiran dan filsafat yang ditemukannya sendiri. Dasar pemikiran itu dibentuk oleh lingkungan sosial menurut individu bersangkutan. Akan tetapi unsur utama yang membentuk kepribadian dan gangguan perasaan bukan kondisi-kondisi sosial itu sendiri, melainkan reaksi individu terhadap kondisi-kondisi sosial di sekitarnya. Teori A-B-C dan Konfrontasi dan menyerang keyakinan rasional tersebut dapat disusun dalam suatu diagram sebagai berikut (Corey, 1995: 466):

A = Activing : peristiwa yang sedang terjadi

B = Belief: keyakinan

C = Consecuense: konsekuensi emosi dan perilaku

D = Dispute, intervensi yang meragukan/membantah

E = Effect: efek/akibat

F = Fresh: perasaan baru

Apabila seseorang mempunyai reaksi emosional pada titik C (Consequence: akibat), sesudah peristiwa yang menggerakkan yang terjadi pada pada titik A (Activing: menggerakkan), dalam hal ini bukan peristiwa itu sendiri (A) yang menyebabkan keadaan kondisi C. Yang menciptakan C itu sesungguhnya adalah sistim keyakinan (B = Belief system:Sistem keyakinan) atau keyakinan yang dimiliki seseorang. Misalnya, apabila seorang individu merasa ditolak dan disakiti (C) karena suatu peristiwa karena tidak dinaikkan pangkat pekerjaan (A), yang menyebabkan perasaan sakit pada individu bersangkutan adalah bukan fakta bahwa yang bersangkutan tidak dinaikkan pangkat, melainkan keyakinan (B) mengenai peristiwa itu. Individu bersangkutan meyakini bahwa dirinya tidak dinaikkan pangkatnya diartikan sebagai kegagalan dan bahwa upayanya yang selama ini dilakukan tidak dihargai. Keyakinan itulah yang membentuk akibat emosional dalam bentuk perasaan ditolak dan disakiti. Jadi, manusia itu bertanggung jawab terhadap gangguan emosi yang diciptakannya sendiri melalui keyakinan-keyakinan yang dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya.

Pendekatan RET berpendapat (Natawidjaja, 1987: 145) bahwa manusia itu mempunyai kapasitas untuk mengubah kognisinya, perilakunya, dan perasan-perasaannya. Apabila manusia itu memaksakan pilihan untuk berpikir dan bertindak lain, maka dia dapat dengan segera mengubah pola menciptakan gangguan itu menjadi cara hidup yang konstruktif. Dia dapat menyelesaikan tugas mencapai tujuan itu dengan menghindarkan keadaan dirinya yang terlena dengan A – yaitu peristiwa – dan dengan mengenal tetapi menolak godaan untuk terus menerus memikirkan akibat emosional pada titik C. Orang dapat memilih jalan untuk menguji, menantang, memodifikasi, dan meruntuhkan B – yaitu keyakinan irasional mengenai A, yang oleh Ellis (1977) berulang-ulang menegaskan bahwa “Anda itu terutama merasakan apa yang anda pikirkan”. Reaksi emosi yang terganggu seperti depresi dan kecemasan dimulai dan dilanggengkan oleh sistem keyakinan menggagalkan diri sendiri yang didasarkan pada ide irasional yang telah ditemukan dan dikembangkan sendiri. Oleh karena itu Ellis menekankan bahwa, karena manusia dapat berpikir, mereka dapat pula melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghilangkan keyakinan yang menghambat dirinya, dengan melatih disiplin diri, dengan mencari bantuan dari orang-orang yang mampu berpikir secara obyektif dan rasional, dengan menjalani terapi individual ataupun kelompok, atau membaca buku-buku, memanfaatkan Audio-Visual-System (AVS) tentang RET, mengikuti pengajaran, pelatihan, bahkan out-bond, dan metode lainnya.

2. 4 Mengkonfrontasikan dan menyerang keyakinan yang irasional

Konseling   dengan   perspektif   RET   mengajarkan   orang-orang   untuk mengkofrontasikan sistem keyakinan yang menciptakan gangguan (Natawidjaja, 1987:146). Tujuan ini akan tercapai dengan menjelaskan bagimana gagasan-gagasan irasional menyebabkan gangguan emosional, dengan menyerang gagasan-gagasan itu secara ilmiah, dengan mengajar klien tentang bagaimana klien harus menantang pemikirannya dan tentang bagaimana mengganti gagasan-gagasan irasional dengan yang rasional.

Proses konseling dimulai dengan mengajarkan teori A-B-C kepada klien. Apabila klien telah melihat bagaimana keyakinan dan nilai-nilai rasional itu berkaitan secara sebab akibat dengan gangguan emosional dan perilaku, dia siap untuk membantah keyakinan dan nilai-nilai pada titik D (Dispute: membantah). D merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menantang filsafat yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan mengalahkan dugaan-dugaan yang irasional dan tidak dapat dibuktikan. Kebanyakan gagasan-gagasan irasional itu dapat dikembalikan kepada tiga bentuk keharusan, yaitu: (i) saya harus mampu, dan saya harus memperoleh persetujuan dari orang-orang yang berarti dalam hidup saya, (2) orang lain harus memperlakukan saya dengan adil dan penuh perhatian; dan (3) hidup saya harus enak dan menyenangkan. Saya harus memilki sesuatu yang benar-benar saya inginkan. Dalam hal yang demikian itu, konselor RET secara cepat dan efisien mencoba menunjukkan kepada klien-kliennya, bahwa mereka mempunyai satu, dua atau ketiga-tiganya dari keyakinan yang irasional itu. Apabila mereka telah meyakini akan adanya ketiga bentuk keharusan itu, maka mereka telah sampai kepada hasil atau akibat bantahannya itu atau pada titik E (Efectakibat), yaitu melepaskan faham merusak diri, perolehan filsafat hidup yang lebih relaistik dan rasional, penerimaan terhadap diri-sendiri, terhadap orang lain, terhadap frustasi-frustasi yang tak dapat terelakan dalam hidupnya.

Ketika seseorang berhasil sampai pada titik E dalam mengatasi masalahnya, dia juga dapat menciptakan titik F (Fresh) atau perangkat perasaan baru suatu perasaan yang terbebas dari kecemasan atau tertekan dan menggantinya dengan perasaan baru yaitu merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasu yang ada. Cara yang paling baik untuk memulai merasa lebih baik adalah mengembangkan falsafah yang efektif dan rasional. Jadi, orang tidak lalu menyalahkan diri-sendiri serta menghukum diri-sendiri berupa depresi karena terjadinya peristiwa “tidak dinaikkan pangkatnya”, melainkan orang akan mencari kongklusi yang rasional dan berdasarkan empiri, misalnya dengan mengatakan: “Ya, sungguh tidak enak bahwa saya tidak dinaikkan pangkat, tetapi hal itu bukan mempakan akhir dari dunia ini. Lain kali mungkin ada kesempatan lain. Di samping itu, tidak dinaikan pangkat tidak berarti bahwa saya adalah orang gagal. Jadi saya tidak perlu terus menerus berbicara tentang segala hal yang tidak perlu”. Yang penting bagi RET, hasil akhir dari konseling adalah hilangnya perasaan tertekan dan perasaan ditolak.

Singkatnya, restrukturisasi filosofis untuk bisa mengubah kepribadian yang disfungsional dapat dialakukan dengan langkah-langkah: (1) mengakui sepenuhnya bahwa diri kita sendirilah yang bertanggung jawab atas terciptanya masalah yang kita alami, (2) mau menerima pendapat bahwa diri kita sendiri memiliki kemampuan untuk secara signifikan mengubah gangguan-gangguan yang dialami, (3) mengakui bahwa masalah emosional banyak berasal dari keyakinan yang irasional, (4) dengan jelas mengamati keyakinan ini, (5) melihat nilai dari sikap meragukan keyakinan yang bodoh itu, dengan menggunakan metode yang tegas, (6) menerima kenyataan bahwa apabila kita mengharapkan adanyha perubahan kita sebaiknya kerja keras dengan cara emotif behavioral untuk mengadakan konfrontasi terhadap keyakinan, peraaan dan perbuatan kita yang disfungsional yang selalu menyertainya, dan (7) mempraktekan metode RET untuk mencabut atau mengubah konsekuensi yang mengganggu dalam kehidupan kita (Ellis, 1979d, 1988 dalam Corey, 1995:468)

C. Tunagrahita Ringan

  1. Pengertian  Tunagrahita Ringan

Tunagrahita ringan diartikan sebagai suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat dari lemahnya kemampuan intelektual. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan  AAMD dalam Moh Amin ( 1995 )

Anak yang termasuk dalam tunagrahita ringan meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat namun mereka mempunyai kemampuan berkembang dalam bidang akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.

Istilah tunagrahita ringan sama dengan mampu didik bila ditinjau dari disiplin ilmu pedagogis. Tarmansyah dkk (1991) mengemukan :

Tunagrahita mampu didik kecerdasannya tergolong rendah namun masih dapat dididik secara khusus dengan program dan metode yang khusus intelegensi antara 50-70. pendidikan yang dicapai maksimal tingkat sekolah dasar IV dan V sedangkan mentalnya berkisar antara 7-12 tahun.

Jadi pada dasarnya anak mampu didik IQnya berada di bawah rata-rata yang hanya mampu mencapai pendidikan maksimal tingkat sekolah dasar IV dan V, apabila dilatih dalam segi keterampilan anak akan mampu mengikutinya dan dapat dijadikan untuk hidup di tengah masyarakat.

  1. Karakteristik  Tunagrahita Ringan

Karakteristik tunagrahita ringan banyak yang menyerupai anak normal, terutama dari segi fisik. Moh Amin (1995) mengemukakan karakteristik tunagrahita ringan sebagai berikut:

Tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang dalam perbendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran dalam berfikir abstrak, Tetapi mereka masih bisa mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun  di sekolah khusus. Sebagaimana tertulis dalam The New American Webster (1956 ) bahwa moron (debil) is a person whose mentality does not develop beyond the 12 years old level. Maksudnya kecerdasan berfikir seorang tunagrahita ringan paling tinggi sama dengan kecerdasan anak normal umur 12 tahun.

Selanjutnya Tarmansyah dkk (1991) mengemukakan tentang karakteristik tunagrahita ringan :

Dalam kehidupan sehari-hari gerakan tidak lincah, sulit dalam menyesuaikan diri, kurang dapat menilai baik dan buruk, emosi tidak stabil, mudah marah bila terbelenggu sedikit saja dan kadang kala keras kepala dan pencemburu.

Kemudian Sumantri (1996) mengemukan karakteristik tunagrahita ringan dapat ditinjau dari berbagai segi,  yaitu :

  1. Perkembangan fisik

Fungsi perkembangan tunagrahita ada yang tertinggal jauh oleh anak normal. Fungsi-fungsi yang menyamai atau hampir menyamai anak normal ialah fungsi perkembangan jasmaniah dan motorik. Perkembangan jasmani dan motorik anak tunagrahita tidak secepat perkembangan anak normal.

  1. Perkembangan kognitif

Tunagrahita yang memiliki usia kalender (CA) yang sama dengan anak normal tidak memiliki keterampilan kognitif yang sama. Anak normal tetap memiliki keterampilan kognitif yang lebih unggul dari pada tunagrahita anak normal memiliki kaidah dan strategi dalam memecahkan masalah sedangkan tunagrahita bersifat trial and error (coba-coba dan salah).

  1. Perkembangan bahasa

Bahasa merupakan prilaku yang mencakup kemampuan untuk mengungkapkan ide-ide, maksud dan perasaan. Tahap perkembangan prilaku sejalan dengan perkembangan bahasa yang meliputi :

1) Inner language

Mentranformasikan pengalaman kedalam simbol bahasa (Inner language) merupakan aspek bahasa yang pertama berkembang, muncul kira-kira pada usia 6 bulan.  Karakteristik prilaku yang muncul pada tahap ini adalah pembentukan konsep–konsep sederhana, seperti anak mendemonstrasikan pengetahuannya tentang hubungan sederhana antara satu objek dengan objek lainnya.

2) Receptive Language

Memahami dan menyerap bahasa yang diterima (Receptive Language) muncul Kira–kira pada umur 8 bulan, anak  mulai mengerti sedikit-sedikit tentang apa yang dikatakan orang lain kepadanya.

3) Expressive Language

Aspek terakhir pada perkembangan bahasa yaitu bahasa ekspresif (Bahasa wajah). Bahasa ekpsresif berkembang setelah pemantapan pemahaman, Bahasa ekspresif  anak muncul pada usia kira-kira 1 tahun.

Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kognitif, keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Perkembangan kognitif  tunagrahita mengalami hambatan, karenanya perkembangan bahasanya juga terhambat.

  1. Emosi, Penyesuaian Sosial dan Kepribadian

Perkembangan emosi berkaitan dengan derajat ketunagrahitaan seseorang. Tunagrahita ringan kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan orang normal, tetapi tidak sekaya orang normal. Tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan kegembiraan, tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman.

Keperibadian dan penyesuaian sosial merupakan proses yang saling berkaitan. Kepribadian seseorang  mencerminkan cara orang tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya pengalaman-pengalaman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian.

Selanjutnya Amin (1995) menjelaskan karakteristik  tunagrahita ringan adalah :

  1. Kecerdasan

Kecerdasan  tunagrahita sangat terbatas terutama untuk hal yang bersifat abstrak, mereka banyak belajar dengan membeo.

  1. Keterbatasan sosial

Pergaulan mereka tidak bisa untuk memelihara dan menempa diri. Selalu memerlukan bimbingan dan pengawasan orang lain.

  1. Keterbatasan fungsi – fungsi mental

Tunagrahita ringan sukar untuk memusatkan perhatian dan mengalami kesukaran mengungkapkan suatu ingatan.

  1. Keterbatasan dalam dorongan emosi

Perkembangan dan dorongan emosi  tunagrahita ringan sesuai dengan ketunagrahitaannya.

Maslow dengan teori kebutuhannya telah mengoperasionalkan teori-teorinya oleh Laster dalam Herr (1984) untuk dilaksanakan bagi mereka yang memiliki kecacatan dan ketidakmampuan dalam suatu bidang kerja, dalam konteks ini Laster menggambarkan kebutuhan-kebutuhan dan aplikasi mereka dalam bekerja dan penyesuaian kerja dalam bagian-bagian kompetitif.

  1. Kebutuhan  psikologis
    1. Kebutuhan untuk belajar dan bekerja di atas kursi roda, menggunakan kamar mandi dan bepergian dalam bekerja.
    2. Kebutuhan untuk belajar dan mempelajari cara-cara baru yang produktif misalnya bekerja sesuai dengan jadwal, menggunakan lembaran-lembaran kerja yang khusus.
    3. Kebutuhan untuk seorang klien dalam tanggung jawab serta perkembangan kepribadian misalnya belajar memelihara diri sendiri, tidak memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang lain.
    4. Kebutuhan rasa aman
      1. Keinginan yang kuat dari seseorang dalam bekerja tanpa gangguan-gangguan di sekitarnya.
      2. Kebutuhan untuk bekerja menurut stabilitas kesehatan dan rencana kerja yang dimiliki.
      3. Kebutuhan untuk memiliki fungsi-fungsi kerja yang sesuai menurut posisinya.
  1. Kebutuhan kasih sayang dan cinta kasih
    1. Kebutuhan untuk menemukan hal-hal yang baru dalam membangun suatu cinta kasih.
    2. Kebutuhan untuk menganalisis potensi-potensi guna membawa kemungkinan untuk dikembangkan menjadi suatu pendukung dalam meningkatkan kinerja dalam bekerja.
    3. Kebutuhan atas penghargaan, kebutuhan untuk merasakan pengalaman baru yang kompeten  dan percaya diri, datang dari keterampilan diri dan kemajuan diri.
    4. Kebutuhan untuk aktualisasi diri
      1. Kebutuhan untuk mampu membina pribadi dan       aktualisasi diri.
      2. Kebutuhan untuk membangun proses dalam diri sendiri.
      3. Percaya diri dan optimis atas kecacatan yang dimiliki.

Pendidikan khusus bagi penyandang cacat, Gysbers dalam Herr (1984) menyarankan bahwa fokus yang terarah dari seseorang konselor seharusnya menolong individu dalam keterampilan khusus yang membantu bagi kesuksesan dalam hidup dan bekerja.


D. Pentingnya Layanan Bimbingan Bagi Anak Tunagrahita Ringan

Pengertian bimbingan menurut Peraturan Pemerintah No 28 tahun 1990 Bab X, Pasal 25, bimbingan  dirumuskan sebagai bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan yang akan dilaluinya.

Bila kita amati pelayanan dan pelaksanaan bimbingan di Sekolah Luar Biasa (SLB), maka kegiatan itu tidak bisa terlepas dari kegiatan rehabilitasi yang merupakan upaya bantuan medik, sosial, dan keterampilan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. Rehabilitasi medik meliputi usaha penyembuhan  kesehatan penyandang kelainan serta pemberian alat pengganti dan/atau alat pembantu tubuh. Rehabilitasi sosial meliputi usaha pemberian bimbingan sosial kepada peserta didik yang mencakup pengarahan pada penyesuaian diri dan pengembangan pribadi secara wajar. Rehabilitasi diberikan oleh ahli terapi fisik, ahli terapi bicara, dokter umum, dokter spesialis, ahli psikologi, ahli pendidikan luar biasa, perawat, dan pekerja sosial.

Keberhasilan dalam mencapai perkembangan yang optimal apabila ia dapat menggunakan sisa kemampuannya secara optimal sesuai dengan derajat ketunaan. Tetapi tidak semua anak dapat berhasil mencapai perkembangan yang optimal, dan bukanlah semata-mata karena ketunaan yang disandang siswa, tetapi ada juga karena ketidak mampuan pelaksana pendidikan untuk mendekati secara individu sehingga dapat mengetahui berbagai hambatan yang mereka hadapi.

Agar anak tunagrahita dapat menjadi pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh, tidak hanya kegiatan-kegiatan administrasi, tetapi juga meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik  secara pribadi mendapat layanan, sehingga perkembangan yang optimal  dapat terwujud.

Surya, (1988:4) menyatakan bahwa guru pembimbing dituntut untuk menguasai keterampilan antara lain: (1) keterampilan intelektual adalah penguasaan sejumlah kaidah-kaidah keilmuan yang menunjang pelaksanaan kehidupan sehari-hari, (2) keterampilan sosial yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar bagi tercapainya interaksi sosial secara efektif meliputi keterampilan memahami dan mengelola diri sendiri, interaktif, dan keterampilan memecahkan masalah, (3) keterampilan sensomotorik adalah penguasaan sejumlah keterampilan untuk mengembangkan syaraf dan otot sensomotorik.

Kebutuhan yang bersifat sosial-psikologis bertujuan untuk  mengurangi rasa ketunaan yang disandang. Untuk itu pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan konseling merupakan salah satu usaha untuk  memenuhi kebutuhan.

BAB  IV

PENERAPAN SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

A. Konseling RET dalam Setting Kelompok

1. RET sebagai Model Pendidikan

Konseling RET menekankan kepada penataan ulang kognisi dan sangat tergantung kepada cara-cara didaktis dalam proses konselingnya. Konseling secara luas dipandang sebagai upaya mendidik kembali emosi dan intelektual. Seperti halnya bentuk-bentuk pengajaran lainnya, RET sering dilakukan dalam suasana kelompok. Konseling kelompok RET banyak memanfaatkan alat AVS, buku-buku bacaan, pelajaran berprograma, pelatihan-pelatihan, out-bond, dan lain sebagainya.

Ellis (1977, dalam Natawidjaja, 1987) bahwa melalui intervensi kelompok RET diharapkan dapat merupakan cara pemecahan masalah yang lebih mendalam, lebih cepat dan lebih halus bandingkan dengan bentuk konseling manapun. Untuk mencapai pemecahan masalahnya, para anggota kelompok harus belajar memisahkan keyakinan yang rasional dengan keyakinan yang irasional dan memahami asal mula gangguan emosionalnya dan juga gangguan perasaan orang lain. Para peserta diajar berbagai cara untuk (1) membebaskan diri dari filsafat hidup yang irasional sehingga mereka dapat berfungsi secara efektif sebagai individu dan sebagai makhluk yang senantiasa berhubungan dengan orang lain, dan (2) belajar tentang cara-cara yang lebih tepat untuk memberikan respon sehingga tidak perlu terganggu oleh berbagai kenyataan dalam hidup. Para anggota kelompok saling membantu dan mendukung dalam upaya belajar itu.

2. Tujuan-tujuan

Tujuan utama konseling RET adalah agar para klien dapat menguji tanpa ketakutan dasar pemikiran filsafat hidupnya, berpikir tentang dasar-dasar pemikiran secara sadar dan bersama-sama memahami bahwa mereka bertindak berdasakan asumsi-asumsi atau kesimpulan yang tidak logis dan tidak konsisten sehingga semuanya itu hilang atau sedikitnya berkurang sampai batas minimum. Ellis berpendapat bahwa konseling kelompok RET dapat dilakukan dalam kelompok besar yang beranggotakan 50, 100 orang atau bahkan lebih dengan bentuk loka karya atau dapat pula dilaksanakan dengan kelompok kecil yang beranggotakan 10 sampai 13 orang. Konseling kelompok RET dengan kelompok kecil itu bertujuan (Natawidjaja, 1987:148):

1) Membantu anggota kelompok untuk memahami akar masalah emosional dan perilakunya untuk digunakan sebagai wawasan untuk mengatasi gejala-gejalanya dan belajar tentang cara-cara yang lebih halus untuk berperilaku

2) Memberi kesempatan kepada anggota untuk mengembangkan pemahaman tentang masalah orang lain, dan belajar bagaimana dirinya dapat memberi bantuan terapeutik kepada teman sekelompoknya.

3) Memberi kesempatan kepada peserta untuk belajar tentang cara-cara untuk memahami keadaan kehidupan dan memberikan reaksi yang rasional kepadanya, sehingga mampu mengurangi gangguan terhadap dirinya sendiri

4) Memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk mencapai perubahan perilaku dan kognisi dasarnya, termasuk mempelajari cara-cara untuk menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan, mengalahkan cara berpikir yang cenderung mengalahkan diri sendiri dan menggantikannya dengan cara berpikir yang rasional, menghentikan praktek penilaian yang negatif dan belajar memperlakukan dirinya sebagai manusia yang mungkin melakukan kekeliruan.

3. Rasionel

Menurut Ellis (1977: dalam Natawidjaja, 1987) suasana kelompok sangat efektif untuk membantu para peserta dalam mengubah kepribadian dan perilaku secara konstruktif. Beberapa keuntungan dari pelaksaaan RET dalam kelompok antara lain:

a) Para anggota kelompok dapat memperingatkan satu sama lain mengenai kehendak menerima kenyataan dan bekerja sama untuk menghasilkan perubahan yang positif.

b) RET menekankan serangan keras terhadap cara berpikir yang cenderung mengalahkan diri sendiri, maka anggota kelompok yang lain dapat memainkan peranan penting dalam menantang cara berpikir yang berliku-liku.

c) Para anggota kelompok dapat memberikan sumbangan dalam bentuk saran, komentar dan hipotesis, dan menguatkan hal-hal yang dikemukakan oleh konselor.

d) Tugas-tugas pekerjaan tumah yang merupakan unsur penting dalam RET lebih efektif apabila dilakukan dalam suasana kelompok daripada dalam konseling individual.

e) Suasana kelompok memberikan lingkungan yang efektif untuk berbagai prosedure yang aktif-direktif, seperti permainan peranan, latihan bertindak tegas, gladi perilaku, percontohan, dan latihan mengambil resiko.

f) Kelompok berfungsi sebagai laboratorium di mana perilaku dapat diamati secara langsung.

g) Klien seringkali menyelesaikan format laporan pekerjaan rumah yang menuntut penulusuran situasi yang mengganggu dengan prosedure A-B-C dan kemudian belajar cara bagaimana memperbaiki pemikiran dari perbuatan yang salah.

h) Dalam situasi kelompok para anggota menemukan bahwa mereka tidak perlu mengutuk dirinya sendiri karena memiliki masalah.

i) Melalui balikan dari orang lain dalam kelompok para peserta mulai memandang dirinya sendiri sebagaimana orang lain memandang dirinya, dan melihat secara jelas perilaku yang perlu diubahnya.

j) Dengan memperhatikan anggota lain para peserta dapat melihat bahwa perlakuan bantuan dapat menjadi efektif, bahwa manusia dapat berubah, bahwa ada langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk membantu dirinya sendiri, dan bahwa konseling yang berhasil adalah suatu pekerjaan yqang sulit dan memerlukan ketahanan.

k) Dalam kelompok klien mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih luas untuk memecahkan persoalan mereka dari pada dalam konseling individual.

I) Kelompok memberikan kesempatan dan dorongan kepada anggota-anggotanya untuk mengungkapkan diri dan mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi secara intim. Pengungkapan diri secara intim merupakan kegaiatan terapeutik dengan sendirinya, karena dengan pengungkapan diri itu klien telah mengambil keputusan untuk mengambil resiko, bahwa dia mungkin ditertawakan orang, dicemooh orang atau sama sekali dikucilkan dari kelompok.

m) Karena RET itu sangat bersifat kependidikan dan didaktif, maka dalam kegiatan banyak mencakup pemberian informasi dan diskusi untuk menentukan strategi pemecahan masalah. Ditinjau dari sisi praktis dan ekonomis, maka kegiatan semacam itu lebih baik dilaksanakan dalam bentuk kelompok daripada dalam suasana individual. Kelompok juga memberikan suasana untuk mengajar, belajar, diskusi dan praktek, yang mendorongnpara peserta menjadi terlibat secara aktif dalam upaya penyembuhan.

n) Kelompok RET bertemu rata-rata dua setengah jam setiap sesi pertemuan, yaitu pertemuan yang disertai konselor. Waktu itu masih ditambah dengan pertemuan lanjutan tanpa konselor selama labih kurang satu jam. Waktu selama ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk secara efektif saling menantang keyakinan yang cenderung mengalahkan diri sendiri yang telah tertanam dalam diri klien secara kaku

o) Prosedure kelompok secara khusus bermanfaat bagi orang-orang yang terikat secara kaku oleh pola perilaku yang salah fungsi karena suasana kelompok memberikan tantangan yang diperlukan untuk menilai kembali pola-pola yang salah itu dan mengambil pola baru yang lebih sehat dan lebih efektif.

4. Peranan dan fungsi konselor

Tujuan utama terapi perspektif   RET adalah membantu peserta mengusir gagasan-gagasan irasionalnya dan menggantikannya dengan gagasan-gagasan yang rasional. Tujuan akhirnya adalah memungkinkan anggota kelompok menginternalisasikan suatu falsafah hidup yang rasional apabila mereka telah menginternalisasikan keyakinan-keyakinan yang dogmatis dan keliru yang diperolehnya dari lingkungan sosial budayanya (Natawidjaja, 1987:151). Sementara George & Cristina (1981) menyatakan bahwa tujuan terapi adalah membantu anggota agar mereka mengakui perasaan-perasaan dan perilaku mereka yang tidak tepat, mengakui adanya gejala-gejala kesulitan dan kemudian menetapkan sumber filosofi dari gejala tersebut. Glading 1955) mendeskripsi ada empat tujuan yang dicapai dalam kerja RET, yaitu: (1) membelajarkan anggota kelompok tentang cara-cara berpikir rasional dan mengendalikan proses berpikir agar mereka dapat menangani berbagai problem secara selektif, (2) menangani keyakinan yang irasional, (3) memberikan pengetahuan yang memadai hal-hal berkaitan dengan masalah non perkembangan, dan (4) anggota memperoleh pengalaman pribadi tentang proses perubahan.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, konselor RET memiliki fungsi-fungsi dan tugas khusus, yaitu (Natawidjaja, 1987:153): (1) menunjukkan kepada peserta bagaimana mereka menciptakan kesengsaraan sendiri. Tugas ini dilakukan dengan cara mengklasifikasikan hubungan antara gangguan emosional dan perilaku mereka dengan nilai-nilai, keyakinan dan sikap-sikapnya. Dengan bantuan konselor mereka dapat melihat bagaimana mereka secara tidak berfikir-fikir menerima seperangkat keharusan”. Konselor bertindak sebagai orang yang melakukan propaganda yang mengkonfrotasikan para anggota dengan propaganda yang telah diterimanya pada permulaan tanpa memikirkan arti sesungguhnya dari propaganda itu, dan menunjukkan kepada mereka bagaimana sekarang dia melanjutkan indoktrinasinya sendiri dengan asumsi-asumsi yang tidak teruji.

Untuk mambantu klien memerangi gagasan-gagasan tidak logis dan menggantinya dengan yang logis, maka konselor kelompok berusaha keras untuk mengubah pemikirannya. RET berasumsi bahwa keyakinan yang tidak logis seseorang itu tertanamnya demikian mendalam sehingga tidak mudah untuk mengubahnya. Dengan demikian peranan konselor adalah mengajar para anggota tentang bagaimana menantang asumsi-asumsinya dan bagaimana seyogyanya mereka memutus lingkaran setan mengenai proses penilaian diri yang negatif dan tindakan menyalahkan disi sendiri.

Menghilangkan gangguan perilaku dan emosional saja pun belum cukup karena apabila gejala khusus saja yang ditangani maka ketakutan irasional lainnya akan muncul. Dalam hal ini konselor perlu mangajarkan kepada peserta bagaimana menghindarkan diri dari kemungkinan menjadi korban dari keyakinan irasional pada masa mendatang.

BAB   V

USULAN PENELITIAN

IMPLENTASI SILOGISME DALAM TERAPI RASIONAL-EMOTIF

(Model Peningkatan Kemandirian Pada Anak Tunagrahita Ringan)

Sesuai dengan karakteristik tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang dalam perbendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran dalam berfikir abstrak, tetapi mereka masih bisa mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun  di sekolah khusus.

Selanjutnya Amin (1995) menjelaskan karakteristik  tunagrahita ringan adalah : a) Kecerdasan; tunagrahita sangat terbatas terutama untuk hal yang bersifat abstrak, mereka banyak belajar dengan membeo, b) Keterbatasan social; Pergaulan mereka tidak bisa untuk memelihara dan menempa diri, c) Keterbatasan fungsi – fungsi mental; Tunagrahita ringan sukar untuk memusatkan perhatian dan mengalami kesukaran mengungkapkan suatu ingatan, d) Keterbatasan dalam dorongan emosi;

Meskipun memiliki keterbatasan, namun mereka masih dapat dididik, dan mampu mengerjakan pelajaran akademik setingkat sekolah dasar. Bekenaan dengan itu, penulis memiliki suatu keinginan untuk mencoba menerapakan silogisme dalam terapi rasional emotif dalam meningkatkan kemandirian pada anak tunagrahita dengan memanfaatkan berbagai aspek terkait dengan lingkungan terdekatnya.


BAB  VI

KESIMPULAN

Maksud tulisan ini adalah untuk menunjukkan bahwa RET dapat ditingkatkan dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar logika ke dalam praktek RET, terutama silogisme praktis.

Prosedur yang harus ditempuh oleh para terapis RET dikembangkan dan pemahaman; secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Selama berlangsung pertemuan, klien membuat timbangan nilai yang membentuk pernyataan verbal yang mendasari emosi dan sikap. Misalnya, timbangan nilai klien bahwa isterinya tidak menghargai nilai uang, membentuk suatu pernyataan verbal yang mendasari sikap negatif terhadap isterinya. Bila emosi ini terhalangi, maka terapis hendaknya berusaha untuk memperbaiki dasar logikanya.

2. Terapis dapat memperbaiki dasar logika suatu emosi dengan upaya merekonstruksi premis-premis silogisme praktis yang muncul, dengan bertanya kepada klien tentang mengapa ia merasa cara-cara yang ia lakukan. Merekonstruksi premis penalaran klien sebaiknya dilakukan berulang-ulang yang memungkinkan terapis mengeksplisitkan penalaran klien yang tidak dinyatakan.

3. Sekali premis-premis dikemukakan, maka harus di arahkan kepada pengendalian rasional. Terapis dapat melakukannya dengan bertanya kepada klien mengenai alasannya mengemukakan premis-premis tertentu

Bentuk RET yang menggunakan dasar logika seperti dikemukakan di atas, perlu memperhatikan bentuk logika baik induktif maupuan deduktif. Oleh karena itu, bilamana menggunakan model ini, maka para terapis diharapkan rnemiliki pemahaman yang luas mengenai logika dan ketrampilan menerapkannya dalam RET.

DAFTAR PUSTAKA

Aileen, Milne. 2003. Teach Yourself: Counseling. Chicago – USA. McGraw-Hill Companies

Axelson, John. A. 2002. Counseling and Development in a Multicultural Society. 3rd edt. Singapore. Brooks/Cole Publishing. Co.

Blocher, Donald, H. 1987. The Professional Counselor. New York-USA. Macmillan Publishing Company

Corey, G. 2008. Theory and Practice of Group Counseling. California. Brooks/Cole Publishing Company.

_. 1991. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy (Edisi

Terjemahan Oleh Mulyarto. 1995). Semarang. IKIP Press

Dedi Supriadi. 2001. Konseling Lintas Budaya: Isu – isu dan relevansinya di Indonesia. Bandung. UPI

Gazda, George, M. 1984. Group Counseling A Development Approach (3rd Edition). Sydney. Allyn and Bacon, Inc

Kartadinata, Sunarya. 2003. Kebijakan, Arah, dan Strategi Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Bandung. Abkin

Mussen, Paul Henry, et al. 1989. Children Development and Personality (Edisi Terjemah oleh : FX. Budiyanto, dkk. 1994). Jakarta. Area,

Naisbitt, John. 1994. Global Paradox: Edisi Terjemahan oleh : Budiyanto. Jakarta Bina Rupa Aksara

Natawidjaja, R. 1987. Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok. Bandung. Diponegoro

Natawidjaja, Rohman. 2002. Penyusuanan Instrumen Penelitian. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

Papadopoulos, Linda & Cross, C, Malcolm & Bor, Robert. 2003. Reporting in Counseling and Psychotherapy: A Trainee’s Guide to Preparing Case Studies and Reprts. Hove and New York – USA. Brunner Routledge

Sciarra, Daniel, T. 2004. School Counseling: Foundation and Contemporary Issues. Singapore. Brooks/Cole

Stone, Gerald, L. 1986. Counseling Psychology: Perspectives and Functions. Monterey-California. Brooks/Cole Publishing, Co

Surya, Moh. 2003. Psikologi Konseling. Bandung. Pustaka Bani Quraisy.

Taufiq, A. 2009. Model Supervisi Kinerja Konselor Untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah (Rangkuman Desertasi. Tidak diterbitkan). Bandung. UPI.

Woody, Rober Henley; Hansen, James, C; Rossberg, Robert, H. 1989. Counseling Psychology: Strategies and Services. Pasific Grove, California-USA. Brooks/Cole Publishing Company

Zandat, Van, Zark. And Hayslip Jo. 2001. Developing Your School Counseling Program: Hand Book of Planing System. Singapore. Brooks/Cole

Jurnal

Journal of The Teacher Education: The Journal of Policy, Practice, and Research in Teacher Education. January/February 2002. Volume 53. Number 1. American Association of Colleges for Teacher Education

Psikopedagogia: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. ABKIN – PPB FIP UPI. Vol. 2 Nomor 4, Nopember 2002/2003

The Counseling Psychologist. Vol. 30. No. 5 dan 6. September-November. 2003. Devisison of Counseling Psychology of The American Psychological Assiciation. SAGE Publication


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.