ABNORMALITAS PSIKOLOGI DAN PSIKOTERAPI DALAM KONTEKS MULTIKULTUR

ABNORMALITAS PSIKOLOGI DAN PSIKOTERAPI
DALAM KONTEKS MULTIKULTUR

Oleh
Nur Faizah Romadona

A. PENDAHULUAN
Salah satu tujuan utama psikologi adalah menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari riset untuk membantu orang yang menderita gangguan psikologis agar dapat hidup lebih efektif, produktif, dan bahagia. Hal yang paling utama adalah pertanyaan tentang definisi dari perilaku abnormal, dan bagaimana cara mendeteksi dan mengklasifikasikan perilaku abnormal tersebut (melakukan assessment dan diagnosis). Penilaian (assessment) yang tepat dan diagnosis psikopatologi merupakan langkah penting untuk membantu orang dengan gangguan mental memperbaiki hidup mereka melalui intervensi psikologis yaitu psikoterapi (Sue & Sue, 2003).
Dalam kaitan dengan penentuan definisi abnormalitas psikologi, budaya merupakan dimensi penting yang harus dimasukkan. Daniels, Arredondo dan D’Andrea (2001) menyatakan definisi kesehatan mental seharusnya ditentukan oleh latar budaya atau ras individu (Constantine, 2001). Dryden (1999) memperluas dictum Epictetus dengan menyatakan bahwa ”Seseorang tidak terganggu oleh peristiwa, melainkan pandangan yang kaku dan ekstrim terhadap peristiwa tersebut”. Dengan demikian dipercaya bahwa kekuatan lingkungan atau eksternal seperti rasism atau penindasan, dapat menyebabkan timbulnya gangguan emosi dan perilaku pada seseorang. (Weinrach & Thomas, 2002). Kurangnya pemahaman mengenai perilaku abnormal yang terikat budaya dapat menyebabkan overdiagnosis, underdiagnosis, atau misdiagnosis gejala, dengan konsekuensi yang berpotensi membahayakan individu (Matsumoto&Juang, 2008).
Dalam dunia yang beragam, pendekatan psikoterapi ternyata hanya efektif bagi sebagian orang, tapi tidak bagi orang lain, terutama yang keturunan non-Eropa (Matsumoto&Juang, 2008). Nystul (1999) juga menyatakan pendekatan psikoterapi seperti psikodinamika, humanistik, dan kognitif-perilaku telah dikritik karena gagal mempertimbangkan isu budaya unik dari klien dengan latar budaya yang beragam (Constantine, 2001). Ivey, Ivey, dan Simek-Morgan (1980) menyatakan bahwa “Konseling dan psikoterapi mengalami konseptualisasi di Barat dan bersifat individualistik. Para profesional konseling yang menggunakan teori dan pelatihan berdasarkan perspektif monokultur seringkali membuat asumsi bahwa suatu teori dapat diterapkan dalam semua populasi” (h. 89). Dengan demikian, menganggap konseling bersifat generik bagi semua kultur, bukannya memiliki kekhasan budaya, berlawanan dengan kemajuan klien dari kelompok minoritas.
Beberapa penulis (misalnya, Alarcon & Leetz, 1998; Wohl, 1989) mengusulkan bahwa psikoterapi sendiri terikat dengan kerangka kerja budaya tertentu. Gagasan ini mungkin masuk akal karena beberapa alasan. Pertama, ekspresi abnormalitas, dan penyebab gangguan psikologis, setidaknya sebagian terikat budaya. Kedua, kemampuan terapis untuk menilai dan menangani perilaku tersebut sangat erat terkait dengan pemahaman pengetahuan dan penghargaan dari konteks budaya di mana perilaku terjadi. Ketiga, jika tujuan dari psikoterapi adalah membantu orang untuk menjadi lebih fungsional dalam masyarakat mereka, maka fungsi itu sendiri juga ditentukan oleh budaya.
Merunut akar dan sejarah perkembangan psikoterapi, para penulis menyatakan bahwa psikoanalisis, sebagai psikoterapi tradisional – yang menjadi dasar psikoterapi kontemporer- dikembangkan khusus dalam kerangka budaya Yahudi di Eropa Barat dengan pelopornya Sigmund Freud, dan dipengaruhi mistisisme Yahudi (Langman, 1997). Carl Rogers (1942) memodifikasi psikoanalisa dengan mengembangkan pendekatan client-centered therapy. Perkembangan pendekatan psikoterapi lainnya, disebut psikoterapi kontemporer, seperti pendekatan perilaku atau humanistik, dapat dianggap sebagai hasil “culturalization” psikoanalisis tradisional dengan masyarakat dan budaya Amerika. Dengan demikian, psikoterapi dapat dianggap sebagai produk budaya, yang mencerminkan dan mereproduksi konteks budaya. Karena konteks budaya adalah bagian dari tradisi moral yang tertanam dalam struktur politik, psikoterapi itu sendiri tak terhindarkan menjadi praktik moral dengan konsekuensi politik yang tertanam dalam kerangka budaya. Dengan demikian tak ada psikoterapi yang bebas nilai, karena psikoterapi terikat dengan kerangka budaya tertentu, dan budaya tak mungkin lepas dari nilai moral dan sistem.
B. ABNORMALITAS PSIKOLOGI
1. DEFINISI ABNORMALITAS DALAM PSIKOLOGI
Terdapat dua titik pandang hubungan antara budaya dan psikopatologi /perilaku abnormal. Satu pandangan menyatakan bahwa budaya dan psikopatologi adalah saling berkaitan erat, dan bahwa perilaku abnormal dapat dipahami hanya dalam kerangka budaya di mana abnormalitas terjadi. Perspektif ini dikenal sebagai relativisme budaya. Pandangan sebaliknya menunjukkan bahwa meskipun budaya memainkan peran dalam menentukan manifestasi perilaku dan kontekstual dari perilaku abnormal, ada kesamaan lintas-budaya, bahkan universalitas, pada mekanisme psikologis yang mendasari dan pengalaman subyektif beberapa gangguan psikologi.
Contoh:
Seorang wanita berada di tengah-tengah sekelompok orang, tetapi tampaknya ia tidak menyadari sekelilingnya. Dia berbicara dengan keras tanpa jelas ditujukan kepada siapa, menggunakan kata-kata dan suara yang dikenali orang-orang di sekitarnya sebagai bukan suaranya. Ketika ditanya tentang perilakunya kemudian, dia menjelaskan bahwa dia telah dimasuki oleh roh binatang dan berbicara dengan seorang pria yang baru saja meninggal.
Dalam mendefinisikan perilaku abnormal, psikolog Amerika seringkali menggunakan pendekatan statistik atau menerapkan kriteria gangguan atau inefisiensi, penyimpangan, atau penderitaan subyektif. Dengan menggunakan pendekatan statistik, misalnya, kita bisa mendefinisikan perilaku sebagai abnormal karena kejadiannya yang jarang. Satu masalah dengan pendekatan ini adalah bahwa tidak semua perilaku yang jarang merupakan abnormalitas, dan tidak semua perilaku abnormal jarang terjadi.
Pendekatan tradisional dalam mendefinisikan abnormalitas terfokus apakah perilaku seseorang dikaitkan dengan gangguan atau inefisiensi saat melaksanakan peran biasanya. Misalnya, sulit dibayangkan wanita dalam cerita diatas, dapat menjalankan fungsi sehari-hari, seperti merawat keluarga dan bekerja, sementara dia percaya dirinya adalah binatang. Dalam banyak kasus, gangguan psikologis melibatkan gangguan serius atau penurunan fungsi keseluruhan individu. Namun, hal ini tidak selalu terjadi. Beberapa orang penderita gangguan bipolar (manik depresi), dilaporkan mengalami peningkatan produktivitas selama episode manik.
Jika kita menganggap perilaku perempuan diatas sebagai menyimpang, kita juga menyimpulkan bahwa perilaku wanita tersebut abnormal karena tampaknya melawan norma-norma sosial. Namun, tidak semua perilaku yang secara sosial menyimpang dianggap sebagai abnormal atau gangguan psikologis. Sebagai contoh, banyak orang tetap percaya bahwa homoseksualitas menyimpang, meskipun tidak lagi diklasifikasikan sebagai gangguan jiwa di Amerika Serikat (American Psychiatric Association, 1987). Meskipun beberapa orang Amerika melihat homoseksualitas sebagai abnormalitas, dalam budaya lainnya dan periode tertentu dalam sejarah homoseksual telah dipraktikkan secara luas. Jadi, menggunakan norma-norma kemasyarakatan sebagai kriteria bagi abnormalitas adalah sulit, bukan hanya karena norma-norma selalu berubah seiring waktu tetapi karena subjektif. Apa yang dianggap salah satu anggota masyarakat atau budaya sebagai menyimpang, yang lain mungkin menganggap normal.
Penentuan abnormalitas perilaku berdasarkan laporan penderitaan subyektif individu, juga bermasalah. Apakah penderitaan seseorang timbul akibat perilaku abnormal, mungkin tergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan dia. Sebagai contoh, jika perempuan dalam cerita diatas diejek, dijauhi, dan dipandang sebagai “orang sakit” karena perilakunya, dia mungkin akan mengalami penderitaan. Sebaliknya, jika dia dianggap memiliki kekuatan khusus dan diterima lingkungannya, dia mungkin tidak menderita sama sekali. Selain itu, ada beberapa indikasi bahwa kelompok-kelompok budaya bervariasi dalam derajat penderitaan yang dialami berkaitan dengan gangguan psikologis. Kleinman (1988) menyatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa orang Cina dan Afrika yang mengalami depresi, merasa kurang bersalah dan malu dibandingkan orang Amerika dan Eropa. Namun orang Cina dan Afrika, dilaporkan lebih sering menunjukkan gejala somatik. Temuan ini mungkin mencerminkan bias respon budaya. Beberapa kelompok budaya mungkin memiliki nilai-nilai yang melarang pelaporan atau berfokus pada penderitaan subjektif, berbeda dengan gagasan Barat tentang pentingnya keterbukaan diri.
Sebagai alternatif, para ahli lintas-budaya banyak yang berpendapat bahwa kita dapat memahami dan mengidentifikasi perilaku abnormal hanya jika kita menggunakan konteks budaya. Sudut pandang ini menunjukkan bahwa kita harus menerapkan prinsip relativisme budaya untuk abnormalitas. Misalnya, perilaku wanita dalam cerita diatas mungkin dianggap abnormal jika terjadi di sudut jalan sebuah kota besar di Amerika Serikat, namun sesuai dan dapat dimengerti jika terjadi dalam sebuah upacara shamanistik diaman ia berperan sebagai penyembuh. Budaya yang percaya pada intervensi supernatural dapat dengan jelas membedakan suatu keadaan “trance” dan berbicara dengan roh sebagai bagian yang diterima dari perilaku seorang penyembuh dengan keadaan ketika perilaku yang sama akan dianggap sebagai abnormal/gangguan (Murphy, 1976). Contoh budaya lainnya yaitu Yoruba di Afrika dan suku Eskimo di Alaska. Dengan demikian abnormalitas dan normalitas, sampai batas tertentu ditentukan konsep budaya (Sue & Sue, 2003).
2. PENELITIAN LINTAS BUDAYA TENTANG PERILAKU ABNORMAL
Penelitian lintas-budaya selama bertahun-tahun memberikan banyak bukti bahwa perilaku abnormal atau psikopatologi memiliki kedua aspek universal dan budaya khusus. Berikut perbandingan beberapa karakteristik abnormalitas psikologis dengan latar kultur yang berbeda.
Schizofrenia Depresi Somatisasi
Definisi: Distorsi realitas, penarikan dari interaksi sosial, disorganisasi persepsi, pikiran, dan emosi. Gejala: kehilangan insight, halusinasi verbal dan auditory, dan ideas of reference (WHO,1977).
Prevalensi:
1,1% di AS Karakteristik:
- Fisik (gangguan tidur/nafsu makan)
- Perubahan motivasi
( apati, bosan)
- Perubahan emosi& perilaku:
(sedih, putus asa, hilang energi). Definisi:
Gejala fisik sebagai ekspresi ketegangan psikis.
Gejala:
- Low Back Pain
- Gangguan Saluran Cerna

Perbedaan (International Pilot Study of Schizofrenia, WHO):
1. Di negara maju (AS, Inggris, Uni Sovyet):
- Gejala utama penarikan diri, dan pasif
- Penderita lebih lambat sembuh
- Jarang dapat bekerja kembali
(dukungan keluarga)
2. Di negara berkembang ( India, Nigeria,Colombia ):
-Gejala utama kehilangan insight, dan halusinasi auditori
- Penderita lebih cepat sembuh
- Lebih cepat bekerja kembali
(pengaruh faktor budaya seperti:dukungan keluarga dan komunitas)
Wanita lebih sering terkena dibanding pria (2x lipat) tanpa melihat perbedaan ras, etnis, sosialekonomi, dan budaya.
Prevalensi:
Kore Utara 3,3%, Lebanon 4,9 %, Iran 6,2%, dan 12,6 persen di New Zealand. Masyarakat komunal (Cina, Jepang, Hispanik, Arab) lebih banyak penderita dibanding masyarakat individualistic (barat).

Expressed Emotion (komunikasi keluarga dengn ciri permusuhan, penuh kritik, dan keterlibatan berlebih):
- Di negara Barat : resiko makin meningkat dg tingginya EE
- Di Malaysia: EE tidak berpengaruh
Penelitian WHO, 1983:
Gejala sama di beberapa negara (Kanada, Swiss, Iran, dan Jepang): sedih, kehilangan kegembiraan, cemas, kehilangan energi, kehilangan minat, ketegangan, kehilangan konsentrasi, ide insufisiensi, ide bunuh diri) Perbedaan:
Perbedaan fisafat,
Barat : dikotomi mind-body
Timur (Cina, Jepang):
Filsafat keseimbangan holistik pikiran dan tubuh.
Psikiater AS lebih mudah memberikan diagnosis schizofren dibanding Inggris (Leff, 1977) (bias rasial)
Rasio penderita schizofrenia:
- Afro Amerika: Hispanik: White= 4:3:1 (AS)
- Afro-Caribbean> White
(Inggris)
Variasi luas ekspresi:
- Barat: kesepian dan isolasi (kultur individualistic)
- Kultur komunal (somatic)
- Nigeria: sedikit gejala perasaan ekstrim tak berharga dan rasa bersalah.
- Hopi Indian: cemas, sakit, dan patah hati
- Cina :
Gejala somatic (nyeri kepala)
- Uganda:
Bersifat kognitif (berpikir terlalu banyak) dibanding emosi

3. SINDROM TERIKAT BUDAYA (CULTURE-BOUND SYNDROME)
Meski studi lintas budaya menyatakan karakteristik schizofrenia dan depresi bersifat universal atau etik, beberapa studi etnografi melaporkan adanya sindrom terikat budaya (culture-bound syndrome) yang mendukung relativisme budaya dalam kaitan dengan definisi abnormalitas. Dengan menggunakan pendekatan emik (culture-specific) para antropolog dan psikiatris telah mengidentifikasi beberapa bentuk unik gangguan psikologis. Pola gangguan tidak sesuai dengan kriteria diagnostik gangguan psikologi dalam klasifikasi Barat.
Beberapa sindrom terikat budaya antara lain dalam DSM-IV (Matsumoto&Juang, 2008; Sue&Sue, 2003):
a. Sinbyong (spirit-sickness) di Korea, yang terjadi ketika seorang wanita dipercaya direkrut roh untuk menjadi shaman (seorang penyembuh/dukun).
b. Amok, teridentifikasi di beberapa negara (Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Tahiland). Gangguan ini ditandai dengan marah tiba-tiba dan agresi membunuh. Hal ini diduga disebabkan oleh stres, kurang tidur, dan konsumsi alkohol (dan terutama pada laki-laki.
c. Anoreksi Nervosa
Awalnya teridentifikasi di Barat tetapi kemudia berkembang di negara dunia ketiga seperti Hong Kong, Korea, Singapura, dan Cina (Sue&Sue, 2003) meski kriteria khusus mungkin sedikit berbeda antara kelompok-kelompok budaya yang berbeda. Gangguan ini ditandai dengan citra tubuh yang terdistorsi, takut menjadi gemuk, dan hilangnya berat badan yang cepat akibat menahan dari makan makanan atau memuntahkankan makanan dengan sengaja (bulimia). Kemungkinan penyebab yaitu penekanan pada budaya kurus sebagai ideal untuk wanita, mengecilnya peran gender, dan ketakutan seseorang berada di luar kendali atau mengambil tanggung jawab orang dewasa.
d. Ataque de nerviosa (Amerika Latin).
Gejala meliputi gemetar, berteriak tak terkendali, menangis kuat, panas di dada naik ke kepala, dan pusing.
e. Zar (imigran Etiopia di Israel)
Zar adalah kondisi kesadaran yang berubah akibat pengaruh roh Zar, dengan gejala gerakan tak disadarai, bisu dan tak bergerak/mutism, atau bahasa yang tidak dimengerti.
f. Whakama (suku Maori, New Zealand)
Adalah rasa malu, rendah diri, tidak mampu, ragu, malu, kesopanan yang berlebihan, dan penarikan diri (Sachdev, 1990).
g. Sinking Heart (budaya Punjabi)
Berupa sensasi fisik di jantung atau dada, diduga disebabkan oleh panas yang berlebihan, kelelahan, cemas, atau kegagalan sosial.
h. Avanga (budaya Tonga)
Berupa gangguan hubungan, dengan gejala spesifik, persahabatan imajiner yang penuh semangat dengan roh/arwah tunggal.
i. Susto (India dari dataran tinggi Andes)
Ditandai dengan depresi dan sikap apatis yang mencerminkan “hilangnya jiwa”.
Di Indonesia, culture-bound sindrom disebut sebagai fenomena dan sindrom yang yang berkaitan dengan faktor sosial budaya (PPDGJ III, 1985).
Beberapa fenomena dan sindrom yang telah dikenal dalam masyarakat Indonesia, secara garis besar dibagi dalam dua golongan besar:
• Yang tidak digolongkan sebagai gangguan jiwa karena tidak memenuhi definisi gangguan jiwa, misalnya keadaan kemasukan roh/kesurupan yang merupakan bagian upacara keagamaan atau tradisi setempat.
• Yang tergolong sebagai gangguan jiwa karena memenuhi kriteria gangguan jiwa, dibagi dua kelompok:
1. Fenomena atau sindrom yang merupakan gejala atau nama lain dari gangguan jiwa spesifik’
Contoh:
• Kesurupan/kemasukan
Suatu keadaan perubahan kesadaran dengan tanda-tanda disosiatif, yang dapat dikategorikan kepribadian ganda atau gangguan disosiatif tidak khas. Kondisi ini dapat dianggap serangan akut gangguan psikotik misalnya gangguan schizofreniform dengan perubahan kesadaran.
• Babainan.
Fenomena di Bali, dengan perubahan kesadaran, tingkah laku agitatif, mendadak, disertai kebingungan, halusinasi, dan gejolak emosi. Kondisi ini sering dianggap kemasukan roh. Kondisi ini dapat dikategorikan gangguan disosiatif.
• Koro
Ketakutan mendadak menghilangnya alat kelamin disertai keadaan panik, umumnya pada laki-laki (bertaraf waham). Dapat dianggap gejala gangguan psikotik schizophrenia atau gangguan schizophreniform.
• Kena Guna-Guna
Keyakinan bertaraf waham bahwa dirinya dikuasai kekuatan adikuasa atau gaib, yang baisanya berniat jahat terhadap kesehatan atau kehidupannya. Seringkali merupakan suatu waham aneh atau dikendalikan (delision of being controlled) yang dapat dikategorikan dalam diagnostik A dari kelompok schizophrenia.
2. Fenomena atau sindrom yang merupakan gangguan jiwa spesifik
• Latah
Reaksi terkejut yang terjadi berulangkali dan menetap, berupa penggunaan kata-kata atau kalimat (biasanya kata kotor yang berkaitan dengan alat kelamin laki-laki (koprolalia) secara berulang dan beruntun, dan terjadi tanpa pengendalian. Kondisi ini dapat disertai perbuatan atau gejala meniru gerakan orang lain atau menjalankan instruksi tertentu secara automatic tanpa pengendalian. Berlangsung minimal 6 bula, disertai penderitaan mendalam akan kondisinya. Diagnosis banding gangguan kepribadian histrionic (histerik).
• Amuk
Suatu episode tunggal dari kegagalan menekan impuls, yang mengakibatkan suatu tindak kekerasan yang ditujukan keluar sehingga mengakibatkan malapetaka bagi orang lain, sebelumnya tak dijumpai tanda impuls atau agresivitas umum. Derajat agresivitas sangat hebat dibandingkan dengan stressor sebagai faktor pencetus. Tidak disebabkan skizofrenia, gangguan kepribadian antisosial, gangguan tingkah laku, atau gangguan eksplosif intermiten. Dijumpai di negara lainnya dengan nama “krisis katatimik”.
Hal penting dari mempelajari sindrom terikat-budaya, adalah bahwa perlu untuk mempertimbangkan nilai-nilai budaya, kepercayaan, praktik, dan situasi sosial dalam menentukan apakah seseorang mengalami gangguan atau tidak (perilaku abnormal).

4. PENILAIAN (ASSESMENT) PERILAKU ABNORMAL
Penilaian atau assesment perilaku abnormal meliputi identifikasi dan gambaran gejala individu dalam konteks yang lebih luas dari fungsi keseluruhan nya, riwayat hidup, dan lingkungan (Carson et al., 1988). Alat dan metode penilaian harus peka terhadap budaya dan pengaruh lingkungan lain yang mempengaruhi perilaku dan fungsi. Saat ini dari data kepustakaan mengenai teknik standar penilaian menunjukkan bahwa mungkin ada masalah bias atau ketidakpekaan ketika tes psikologis dan metode yang dikembangkan dalam satu konteks budaya digunakan untuk menilai perilaku dalam konteks budaya yang berbeda.
Dalam menilai/assesment perilaku abnormal, psikolog berusaha untuk mengklasifikasikan perilaku abnormal ke dalam kategori diagnosis yang reliabel dan valid. Karena budaya memberi pengaruh pada definisi perilaku abnormal, isu-isu lintas-budaya muncul terkait keandalan dan validitas diagnosis, dan bahkan kategori diagnostik yang digunakan. Jika semua perilaku abnormal sepenuhnya etik dalam ekspresi mereka dan presentasi-yaitu sepenuhnya sama di seluruh kebudayaan-kemudian menciptakan kategori diagnostik yang handal dan valid, hal ini tidak menjadi masalah. Namun, sebagaimana individu berbeda dalam ekspresi abnormalitas, kebudayaan juga bervariasi; dan beberapa sindrom terikat-budaya memang terbatas hanya dalam satu atau beberapa kebudayaan.
Salah satu sistem yang paling banyak digunakan saat ini adalah klasifikasi American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistic Manual Mental Disorders (DSM). DSM, pertama kali diterbitkan pada tahun 1952, telah mengalami beberapa revisi besar dan sekarang dalam edisi keempat (DSM-IV-TR). Beberapa perubahan dalam DSM III-IV merupakan tanggapan atas kritik oleh psikiater lintas-budaya. Sejumlah besar gangguan yang dijelaskan dalam manual berbeda atau sama sekali tidak ada dalam masyarakat dan budaya di luar dunia Barat. Sebanyak 80% penduduk dunia tidak termasuk dalam lingkup budaya Barat.
Untuk mengatasi kritik-kritik ini, beberapa modifikasi dibuat untuk DSM-IV-TR untuk meningkatkan sensitivitas budaya: (1) memasukkan informasi bagaimana manifestasi klinis dari gangguan dapat bervariasi menurut latar budaya; (2) memasukkan 25 sindrom budaya-terikat dalam lampiran; dan (3) menambahkan panduan penilaian mendalam tentang latar belakang budaya individu, termasuk ekspresi budaya dari gangguan individu, faktor budaya yang berhubungan dengan fungsi psikososial dalam konteks tertentu budaya individu , dan perbedaan budaya antara klinisi dan individu
Klasifikasi lainnya adalah sistem klasifikasi The International Classification of Diseases, 10 th editions (ICD-10) yang disusun WHO. Sayangnya, ulasan terhadap ICD-10 (misalnya oleh Alarcon, 1995) menunjukkan bahwa ICD-10 gagal mengenali pentingnya budaya dalam mempengaruhi ekspresi dan presentasi gangguan/penyakit. Untuk mengatasi masalah kurangnya pertimbangan budaya dalam penilaian gangguan mental, diciptakan sistem diagnostik lokal. Salah satunya The Chinese Classification of Mental Disorders (CCMD), sangat dipengaruhi oleh DSM-IV dan ICD-10 namun memiliki fitur-budaya spesifik yang tidak ada dalam sistem internasional. Edisi terbaru, yang CCMD-3, direvisi tahun 2001. Manual ini memasukkan gangguan yang khas budaya Cina dan tidak memasukkan gangguan yang tidak relevan (sepertisibling-rivalry akibat kebijakan satu-anak). Pada pertengahan 1980-an, tiga psikiater Afrika mengembangkan sebuah buku pegangan bagi para praktisi Afrika Utara (Douki, Moussaoui, & Kaca, 1987). Indonesia mengembangkan panduan diagnosis gangguan mental yaitu Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), yang saat ini telah mencapai edisi ketiga. Didalamnya dimasukkan culture-bound syndrome yaitu fenomena dan sindrom yang yang berkaitan dengan faktor sosial budaya.
Masalah dalam penilaian ditemukan dalam mempelajari skizofrenia dan depresi dalam berbagai budaya yang menggambarkan keterbatasan metode penilaian tradisional. Dalam survei di Yoruba di Nigeria, diagnosis skizofrenia, menunjukkan bias etnosentris, sehingga harus memasukkan gejala budaya spesifik seperti rasa ” kepala yang membesar dan daging angsa”. Demikian juga instrument untuk mengukur gangguan depresi mungkin juga kehilangan ekspresi budaya penting dari gangguan di Afrika dan Indian, karena gagal untuk menangkap suasana hati dysphoric pendek tapi akut yang kadang-kadang dilaporkan oleh Hopi Indian. Child Behavior Checklist (CBCL; Achenbach, 2001) yang digunakan untuk menilai masalah emosi dan perilaku anak-anak di berbagai bagian dunia, termasuk Thailand, Kenya, Amerika Serikat, Cina, dan Israel menemukan bahwa anak-anak Amerika cenderung menunjukkan perilaku kurang terkendali (“perilaku eksternalisasi” seperti bertindak diluar batas dan agresi) yang lebih tinggi daripada perilaku overcontrolled (” perilaku internalisasi” sepertitaku dan somatisasi) dibandingkan dengan anak-anak dari budaya lain, khususnya kolektivistik. Namun, sebuah studi pada orangtua American Indian (Dakota / Lakota) untuk menilai akseptabilitas dan kelayakan penggunaan CBCL dalam budaya mereka menemukan bahwa beberapa pertanyaan yang sulit untuk dijawab orangtua, karena tidak memperhitungkan budaya nilai-nilai atau tradisi, dan karena orang tua percaya bahwa tanggapan mereka akan disalahartikan oleh anggota dari budaya yang dominan, yang tidak memiliki pemahaman yang baik tentang budaya Dakotan / budaya Lakotan (Oesterheld, 1997).
Beberapa peneliti menyarankan pentingnya menguji sistem penyembuhan adat atau indigenous healing system, untuk budaya tertentu. Penilaian terhadap sistem penyembuhan adat seharusnya dapat meningkatkan perencanaan strategi pengobatan, salah satu tujuan utama dari penilaian tradisional (Carson et al., 1988).
Penelitian lain menemukan bahwa latar belakang budaya terapis dan klien dapat berkontribusi dengan persepsi dan penilaian kesehatan mental. Penelitian oleh Li-Repac (1980) mengevaluasi peran budaya dalam pendekatan diagnostik terapis. Dalam studi ini, klien laki-laki Cina-Amerika dan Eropa-Amerika diwawancarai dan direkam, kemudian dinilai oleh terapis laki-laki Cina-Amerika dan Eropa-Amerika pada tingkat fungsi psikologis. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh interaksi antara latar belakang budaya terapis dan klien pada penilaian para terapis terhadap klien. Klien Cina-Amerika dinilai sebagai canggung, bingung, dan gugup oleh terapis Amerika Eropa, namun klien yang sama dinilai sebagai beradaptasi, yang jujur, dan ramah oleh terapis Cina-Amerika. Sebaliknya, klien Amerika Eropa dinilai sebagai tulus dan mudah bergaul dengan terapis Amerika Eropa, tapi agresif dan memberontak oleh terapis Cina-Amerika. Selain itu, klien Cina-Amerika dinilai lebih tertekan dan kurang sosialisasi oleh terapis Amerika-Eropa, dan klien Amerika Eropa dinilai lebih sangat-terganggu oleh terapis Cina Amerika.
Dua kesalahan yang sering dijumpai dalam penilaian abnormalitas yaitu overpatologi dan underpatologi. Overpathologizing terjadi bila terapis kurang memahami latar belakang budaya klien, sehingga memberikan penilaian perilaku patologis untuk perilaku yang merupakan variasi normal dalam budaya individu tersebut, sedangkan underpathologizing terjadi ketika seorang terapis tanpa pandang bulu menjelaskan perilaku klien sebagai terikat-budaya, misalnya menghubungkan perilaku menarik diri dan ekspresi emosi datar sebagai gaya komunikasi budaya yang normal padahal sebenarnya perilaku ini mungkin merupakan gejala depresi.

C. PSIKOTERAPI
Psikoterapi sebagai alat untuk membantu individu dengan perilaku abnormal agar dapat berfungsi normal, berakar dari kebudayaan Barat. Demikian pula modifikasi psikoanalisa dan pendekatan psikoterapi kontemporer (seperti CBT) juga berasal dari kultur Barat.
Saat ini psikoterapi telah digunakan secara luas di luar Amerika dan Eropa, hingga ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, India, dan Cina. Para terapis di negara-negara ini berusaha menggabungkanbeberapa elemen esensial dari budaya mereka untuk meningkatkan keberhasilan psikoterapi. Di Malaysia, misalnya, menggabungkan psikoterapi dengan doa dan keyakinan keagamaan dan perilaku, seperti doa dan berfokus pada ayat-ayat Alquran. Studi pasien dengan berbagai gangguan, termasuk gangguan kecemasan dan depresi, menunjukkan bahwa psikoterapi agama lebih efektif dan mendorong peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan psikoterapi (Azhar, 8t Varma, 1995; Azhar, Varma, &: Dharap, 1994 ). Di Cina, Tao dan prinsip-prinsip Konfusius digabung dengan teknik psikoterapi. Ayat-ayat dari tulisan Tao, seperti membatasi keinginan egois, belajar bagaimana memahami isi, dan belajar untuk melepaskan. Satu studi menemukan bahwa pendekatan ini, disebut psikoterapi kognitif Cina Tao, lebih efektif dalam jangka panjang dalam mengurangi gangguan kecemasan dibandingkan dengan obat. Di Timur Tengah, ditemukan beberapa masalah dalam penggunaan psikoterapi. Terapi menggunakan kelompok ternyata sulit dilakukan karena orang Arab sulit memandang kelompok sebagai alat terapi dan bukan sebagai aktivitas sosial, karena peran gender yang kaku di Arab sehingga pencampura lelaki dan perempuan diktitik keras, dan bahwa status suku menyulitkan beberapa individu untuk berkomunikasi dengan orang lain dari kelompok suku yang berbeda.
Penelitian mengenai efektivitas psikoterapi di Amerika bagi individu dengan latar budaya berbeda yaitu Afro-Amerika, Hispanik/Latino, Asian-Amerika, dan Native Amerika masih sedikit. Beberapa penelitian menyatakan penggunaan psikoterapi bagi Latino efektif, namun bagi klien Afro-Amerika justru sebaliknya. Klien Asian-Amerikan paling sedikit menggunakan jasa kesehatan mental, hal ini diduga karena rasa malu, kehilangan muka, menghindar secara aktif pikiran-pikiran kematian, atribusi penyebab penyakit mental sebagai faktor biologi, dan ketakutan bahwa sistem tidak dibentuk untuk menangani perbedaan budaya dengan baik. Cheng, Leong, dan Geist (1993) melaporkan bahwa sebagian orang Amerika Asia percaya mengungkapkan pikiran atau peristiwa yang menyakitkan hanya akan memperburuk masalah.
Dalam masyarakat Latino, penyebab gangguan mental dihubungkan dengan roh-roh jahat, sehingga percaya untuk menyembuhkan masalah terletak di dalam gereja dan bukan dengan profesional kesehatan mental. Alasan redahnya penggunaan layanan kesehatan mental adalah ketidakpercayaan dan stigma. Sussman, Robins, dan Earls (1987) menemukan bahwa Afrika-Amerika lebih memiliki ketidakpercayaan terhadap layanan kesehatan mental formal, takut rumah sakit dan pengobatan. Ketidakpercayaan ini mungkin berasal dari sejarah dan pengalaman segregasi, rasisme, dan diskriminasi.
Beberapa masalah terkait perbedaan budaya dalam psikoterapi:
1) Perbedaan dalam cara berpikir mengenai penyakit dan ekspresi pikiran.
2) Peran hierarki (otoritas) dalam hubungan interpersonal (hubungan keluarga).
3) Jenis terapi yang digunakan, apakah direktif atau non-direktif, fokus solusi, dan sebagainya.
4) Menggunakan keluarga besar (extended-family) sebagai sumber dukungan klien.

D. TERAPI BERBASIS BUDAYA/ADAT (INDIGENOUS HEALING)
Perubahan demografi di Amerika Serikat akibat meningkatnya jumlah etnik mioritas yang bermigrasi ke Barat, meningkatkan minat terhadap terapi berbasis adat (indigenous healing). Indigenous healing meliputi kepercayaan penyembuhan /terapi dan praktek-praktek terapi yang berakar dalam kebudayaan tertentu. Dengan kata lain, kepercayaan dan praktek ini tidak diimpor dari budaya luar melainkan sudah terdapat dalam budaya tersebut dan digunakan untuk menyembuhkan penduduk asli (Sue & Sue, 1999). Banyak metode penyembuhan adat sangat berbeda dari gagasan-gagasan Barat. Misalnya, berakar dalam agama dan spiritualitas, bukannya ilmu biomedis. Terdapat kesamaan praktek-praktek adat di 16 negara-negara non-Barat (Lee & Mountcastle, 1992), yaitu (1) ketergantungan pada keluarga dan jaringan masyarakat baik sebagai konteks dan instrumen untuk pengobatan, (2) penggabungan tradisional, spiritual, dan keyakinan keagamaan sebagai bagian dari perawatan-misalnya, membaca ayat-ayat Quran, memulai pengobatan dengan doa, atau melakukan perawatan di rumah-rumah agama atau gereja; dan (3) penggunaan dukun dalam pengobatan (Yeh et all, 2002).
Review oleh sekelompok psikolog konseling telah mengidentifikasi beberapa penyembuhan adat seperti Reiki, Chikung, Prana, dan Ho’oponopono (Yeh et all, 2004; Matsumoto &Juang, 2008). Reiki mengacu pada energi kehidupan “universal” dan merupakan praktik di Jepang untuk relaksasi, mengurangi stres, dan mempercepat penyembuhan. Dalam terapi Reiki, energi kehidupan digunakan untuk penyembuhan dengan menyeimbangkan fisik, emosional, mental, dan spiritual. Chikung mengacu pada “aliran udara” atau “energi vital” dan merupakan metode Cina yang menekankan pernapasan, gerakan, dan postur fisik untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seseorang. Prana mengacu pada “kekuatan hidup” dan penyembuhan prana didasarkan pada prinsip bahwa penyembuhan adalah mungkin dengan meningkatkan gaya hidup sehat pada bagian dari tubuh jasmani. Ho’oponopono merupakan indigenous healing dari Hawai, yang berarti “meletakkan dengan benar, membuat benar, membenarkan”. Dalam konteks budaya, ho’oponopono adalah usaha memulihkan dan mempertahankan hubungan baik antara keluarga dan kekuatan supranatural (Sue&Sue, 2003).
Asumsi dasar dalam indigenous healing adalah holistic, interkoneksi (keterhubungan), dan harmoni (keseimbangan) (Sue&Sue, 2003). Terapi adat mendukung gagasan holistik bahwa kesehatan fisik terkait dengan emosional, mental, dan kesehatan rohani. Berlawanan dengan konsep isolasi, perpisahan, dan individualism yang menjadi ciri budaya Barat, kebanyakan budaya non-Barat menekankan pandangan holistic yang menjadikan perbedaan minimal antara fisik dan fungsi mental dan percaya kesatuan jiwa, tubuh, dan lingkungan. Keterhubungan bentuk-bentuk kehidupan, lingkungan dan kosmos sudah merupakan kodrat. Dengan demikian mereka membuat konsep yang berbeda tentang realitas. Dalam banyak budaya, perilaku otonomi dan independen merupakan masalah karena menimbulkan disharmoni dalam kelompok. Sakit, penderitaan, atau perilaku bermasalah merupakan akibat dari ketidakseimbangan dalam hubungan individu, disharmoni antara individu dengan kelompoknya, atau kurang sinkron dengan kekuatan internal atau eksternal. Harmoni dan keeimbangan menjadi tujuan terapi.
Saat ini terjadi pergerakan besar di beberapa negara dan budaya untuk menggabungkan aspek tradisional psikoterapi dengan metode dan keyakinan yang berbasis budaya untuk menghasilkan sistem terapi yang unik. Sebagai contoh, Sato (1998) menunjukkan bahwa terapi adat digabung dengan aspek terapi kognitif dan perilaku kontemporer telah memberikan hasil efektif. Penulis lainnya menyatakan metode tradisional psikoterapi harus berbaur dengan budaya dan mengakomodasi isu-isu spesifik, doktrin karma dan reinkarnasi di India; masalah dekulturasi, keterasingan, ketidakpercayaan, dan putus asa di antara Native-American dan Native-Alaska; masalah perwalian, jaringan sosial, dan dukungan sosial di Shanghai; dan interaksi spiritual, emosional / mental, fisik, dan kesehatan keluarga di Selandia Baru Maori (Durie, 1997). Prince berpendapat yang umum untuk pengobatan lintas-budaya adalah mobilisasi kekuatan dalam penyembuhan klien. Misalnya, penduduk asli Amerika percaya bahwa penyakit akibat dari ketidakharmonisan sendiri, masyarakat, dan alam, dan pengobatan harus menyelaraskan ketidakharmonisan dan memulihkan keseimbangan dan integrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Constantine, M.G (2001). Multicultural training, theoretical orientation, empathy, and multicultural conceptualization ability in counselor. Journal of Mental Health Counseling; 23, 4; pg. 357-372

Matsumoto, D dan Juang, L (2008). Culture and Psychology (4th edition). Australia: Thomson Wadsworth.
McFadden, J. (1996). A transcultural perspective: Reaction to C. H. Patterson’s “Multicultural counseling: From diversity to universality”. Journal of Counseling and Development : JCD. Alexandria: Vol. 74, Iss. 3; pg. 232-245.

Sue, D.W dan Sue, D (2003). Counseling The Culturally Diverse (4th edition). Amerika: John Wiley & Son, Inc.
Weinrach, G.S dan Thomas, K.R. (2002). A critical analysis of the multicultural counseling competencies: Implication for The Practice of Mental Health Counseling. Journal of Mental Health Counseling; 24, 1; pg. 20-35.

Yeh, C.J, Hunter, C.D, Madan_bahel, A, Chiang, L., and Arora, A.K.(2004) Indigenous and Interdependent Perspectives of Healing: Implications for Counseling and Research. Journal of Counseling and Development : JCD; 82, 4;pg. 410-419.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: