MAKALAH NEEDS ASSESSMENT DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN PERKEMBANGAN BAGI ANAK TUNAGRAHITA DI SLB

MAKALAH

Disusun Oleh:
JON EFENDI

NEEDS ASSESSMENT DALAM PENGEMBANGAN
PROGRAM BIMBINGAN PERKEMBANGAN BAGI ANAK TUNAGRAHITA DI SLB

I. PENDAHULUAN

Pendidikan dan pelatihan diselenggarakan untuk merespon tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Produk pendidikan dan pelatihan akan bermakna dan diterima di masyarakat jika produk pendidikan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakatnya. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam rangka menjembatani kesenjangan antara produk pendidikan yang dihasilkan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat adalah dengan melakukan penilaian terhadap kebutuhan masyarakat (Needs Assessment).
Needs Assessment sebagai bagaian dari pendekatan penelitian evaluatif oleh dipandang sebagai suatu teknik penting untuk diketahui dan dilakukan oleh orang yang terlibat dalam dunia pendidikan dan pelatihan.
Dalam makalah ini dibahas beberapa hal yang penting yang berhubungan dengan Needs Assessment antara lain : Pengertian Needs Assessment, Karakteristik Needs Assessment, Dimensi-Dimensi Needs Assessment, Langkah-Langkah Penilaian Kebutuhan, Teknik Needs Assessment, Konsep Bimbingan di Sekolah Luar Biasa, Konsep Anak Tunagrahita.

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Needs Assessment
Banyak Istilah yang digunakan terhadap pendekatan atau proses pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka pengembangan suatu program pendidikan. Hilda Taba (1962) menyebutnya dengan Istilah Diagnosis Kebutuhan (Diagnosis of Needs), Tyler (1975 : 19) menyebutnya dengan istilah Analisis Kebutuhan atau Masalah (Analysis of needs or problems). Braddy,L (1990 :20) dan Print (1993 : 109) menyebutnya dengan istilah Analisis Situasional (Situational Analysis), dan Kaufman R (1972 : 28) serta Oliva (1992 : 218) menyebutnya dengan istilah Penilaian Kebutuhan (Needs Assessment).
Definisi Needs Assessment; Kaufman (1972 : 49) mendefinisikan Needs Assessment sebagai suatu proses untuk memperoleh data diskrepansi (needs/gap) dan menempatkan prioritas-prioritas di antara diskrepansi atau kebutuhan-kebutuhan tersebut (“a process for obtaining such discrepancy data and for placing priorities among them”).
Menurut Fenwick et al (Oliva, 1992, : 246) Needs Assessment adalah; Suatu alat/cara untuk menemukan gap antara produk pendidikan yang ada (outcomes or results) dan produk pendidikan yang dikehendaki, kemudian menempatkan gap-gap ini dalam susunan prioritas dan memilih gap yang paling prioritas untuk dilakukan tindakan biasanya melalui implementasi kurikulum yang ada atau kurikulum baru atau melalui proses manajemen.
Print (1993 : 140) mendefinisikan Penilaian Terhadap Kebutuhan (Needs Assessment) sebagai suatu teknik untuk menentukan bentuk kebutuhan dan menentukan prioritas-prioritasnya (“a usefull technique for defining needs and determining their priorities”). Dijelaskan juga bahwa, pendekatan atau teknik ini bermanfaat khususnya ketika melakukan penilaian dan analisis terhadap kebutuhan yang hasilnya sebagai dasar dalam mengembangkan suatu program.
Oliva (1992 : 246) mendefinisikan penilaian kebutuhan (Needs Assessment) sebagai suatu proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang bersifat programik yang harus diperhatikan oleh para perencana program (“a process for identifying programmatic needs that must be addressed by curriculum planners).
Dari definisis-definisi di atas dimaknai bahwa, Needs Assessment merupakan langkah awal yang penting dan mendasar dalam mengembangkan maupun merevisi suatu program pendidikan. Melalui identifikasi kebutuhan-kebutuhan (identification of needs) yang teliti dan sistematis dapat memberikan arah bagi para pengembang program pendidikan dan latihan untuk menghasilkan suatu program yang representatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ralph Tyler (1975 : 18) menegaskan bahwa, penelitian dan analisis terhadap kondisi-kondisi signifikan yang mempengaruhi konstruksi dan operasi dari progam merupakan suatu langkah yang esensial dalam pengembangan program (“an essential early step in curriculum development is to examine and analyze significant conditions that influence the construction and operation of the curriculum”).
B. Karakteristik Needs Assessment
Dalam proses pengumpulan data (baik data tentang kondisi riil maupun data tentang kondisi yang dinginkan) untuk mengembangkan atau merevisi suatu program, maka data atau informasi itu adalah yang berhubungan langsung dengan kebutuhan, minat, bakat, tahap perkembangan anak dan tuntutan/kebutuhan masyarakat serta perkembangan pengetahuan. Hal ini dimaksudkan agar produk suatu program pendidikan dan pelatihan itu, setelah diimplementasikan, akan relevan dengan tuntutan dan kebutuhan anak, masyarakat serta perkembangan pengetahuan.
Data mengenai kondisi riil anak dan masyarakat yang telah dipertimbangkan dan dituangkan dalam suatu program pendidikan dan latihan harus terus ditinjau ulang kesuaiannya akibat perubahan dan dinamika anak dan masyarakat. Dengan kata lain, tidak ada kondisi riil anak dan masyarakat yang tetap, oleh karena itu penilaian terhadap kebutuhan (Needs Assessment) dalam mengembangkan suatu program pendidikan bukanlah suatu yang final dan sempurna.
Penilaian terhadap permasalahan pendidikan seharusnya lebih diarahkan untuk mencari dan menemukan diskrepansi atau persoalan produk pendidikan yang diinginkan (Desired conditions/outcomes) dan produk pendidikan yang telah dihasilkan (Current conditions/outcomes), bukan kepada proses atau alat. Sehubungan dengan hal ini Kaufman (1972 : 29) merumuskan 3 karakteristik penilaian terhadap kebutuhan (needs assessment) dalam mengembangkan suatu program sebagai berikut :
1. Data harus menggambarkan dunia nyata peserta didik dan masyarakat, baik kini maupun masa yang akan datang,
2. Tidak ada penetapan kebutuhan itu yang final dan sempurna; pernyataan mengenai kebutuhan itu bersifat tentatif dan validitas pernyataan itu seharusnya ditinjau secara terus menerus,
3. Kebutuhan (diskrepansi/gap) seharusnya diidentifikasi dalam hubungannya dengan produk atau tingkah laku nyata, bukan dalam hubungannya dengan proses.
C. Dimensi-Dimensi Needs Assessment
Ada beberapa dimensi yang perlu menjadi perhatian ketika melakukan Needs Assessment antara lain :
1. Sifat pendidik
Pendidik merupakan faktor yang menentukan dalam proses belajar mengajar. Hal ini karena peran dan tanggungjawabnya yang sangat besar dalam usaha mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam program. Syaodih N.S (1997 : 191) menjelaskan bahwa, “sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional”. Sejalan dengan itu, Armstrong & Savage (1983 : 410 – 420) menjelaskan mengenai peran dan tanggungjawab guru atau pendidik, disamping sebagai pengajar, maka guru juga berperan sebagai pengelola pendidikan dan pembelajaran, pengevaluasi program, sebagai seorang konselor dan berperan sebagai seorang anggota organisasi profesi kependidikan. Peran seperti disebutkan diatas menuntut guru atau pendidik untuk memiliki kelengkapan kependidikan yang dapat diukur dari latar belakang pendidikan, ketrampilan dan pengalaman, dedikasi, akhlak, tanggungjawab dan kecintaan terhadap profesinya. Dengan demikian merupakan suatu yang mutlak jika dalam suatu kegiatan pengembangan program, guru atau pendidik menjadi salah satu dimensi atau faktor yang harus dipertimbangkan.
2. Sifat pelajar
Dimensi kedua yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan program adalah peserta didik. Sebagai salah satu faktor penting dalam kegiatan pendidikan, peserta didik secara individual memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal kebutuhan, perkembangan fisik dan psikis, kemampuan, bakat, minat dan inteligensia. Maka semua aspek-aspek tersebut harus diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengembangan program.
3. Sifat masyarakat
Masyarakat dimana kegiatan pendidikan dan pembelajaran itu berlangsung adalah komunitas yang akan menerima produk pendidikan tersebut. Produk dari suatu program pendidikan secara tidak langsung diperuntukkan bagi masyarakat. Oleh karena itu menurut Syaodih (1997 : 60 – 63), dalam mengembangkan program, aspek-aspek perkembangan di masyarakat seperti perubahan pola pekerjaan, perubahan peranan wanita, perubahan kehidupan keluarga dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat lainnya harus menjadi bahan kajian dan bahan pertimbangan bagi para pengembang.
4. Sifat pengetahuan
Ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan, baik perkembangan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan itu sendiri, maupun dalam hubungannya dengan kebutuhan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan itu. Perubahan dan perkembangan sudah menjadi ciri pengetahuan (Nature of Knowledge). Oleh karena itu perubahan dan perkembangan pengetahuan serta tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan, juga merupakan dimensi pertimbangan, terutama dalam penseleksian dalam suatu program (Kaufman 1972 : 30).
Skilbeck (1976 : 96, dalam Print, 1993 : 115), menggunakan istilah “Faktor” penilaian untuk menunjuk kepada istilah “dimensi” yang digunakan Kaufman. Skilbeck mengelompokkan fokus analisis atau penilaian terhadap kebutuhan dalam mengembangkan program pendidikan menjadi dua faktor pokok, yaitu :
1. Faktor eksternal, mencakup hal-hal sebagai berikut :
Pertama, Perubahan-perubahan budaya masyarakat, tuntutan serta kebutuhannya (Baca: Harapan-harapan orang tua, kebutuhan tenaga kerja, asumsi dan nilai-nilai di masyarakat, pertumbuhan ekonomi, interaksi sosial dan ideologi),
Kedua, Kebutuhan dan tantangan dalam sistem pendidikan (Baca : Kebijakan, sistem ujian, proyek-proyek kurikulum dan penelitian pendidikan),
Ketiga, Sifat mata pelajaran yang diajarkan yang terus menuntut peninjauan dan perubahan disesuaikan dengan perkembangan dunia di luar sekolah,
Keempat, Sistem yang mendukung kemajuan guru (Baca : Lembaga pelatihan guru, Lembaga- lembaga riset, bahan audio-visual dan sumber lainnya),
Kelima, Sumber-sumber pendukung pendidikan (Baca : proyek sekolah, proyek nasional, Departemen yang mengelola pendidikan dan LSM yang peduli terhadap pendidikan).
2. Faktor Internal, meliputi :
Pertama, Para peserta didik (Baca : kemampuan, sikap, emosi, perkembangan fisik dan psikis, perkembangan sosial dan kebutuhan-kebutuhan terhadap pendidikan),
Kedua, Para guru (Baca : Ketrampilan, pengalaman dan gaya mengajarnya, kekuatan dan kelemahan dari guru),
Ketiga, Iklim atau lingkungan sekolah (Baca: kepemimpinan kepala sekolah, kontribusi kekuatan, keterpautan sosial, prosedur profesional dan keterpautan profesional),
Keempat, Sumber-sumber yang bersifat materi atau sarana fasilitas pendidikannya (Baca: Gedung, peralatan, perpustakaan, pendanaan dan fasilitas yang menunjang rencana pengembangan program),
Kelima, Kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh guru, orang tua, siswa dan masyarakat yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan.
Ditegaskan juga oleh Print (1993 : 111), bahwa untuk menciptakan suatu program yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan peserta didik, para orang tua dan guru perlu dilakukan analisis kebutuhan yang difokuskan kepada empat aspek pokok yaitu :
1. Pengidentifikasian kebutuhan siswa, orang tua, guru dan masyarakat lokal dimana program itu akan dikembangkan,
2. Pemahaman konteks atau situasi program lokal,
3. Fasilitasi perencanaan dan pengembangan program sebelumnya,
4. Penyediaan data dasar yang sistematik untuk merencanakan tujuan-tujuan program (Aims, goals and objectives).
Masih berhubungan dengan dimensi-dimensi penilaian terhadap kebutuhan, maka keputusan-keputusan kurikuler yang komprehensif harus didasari oleh berbagai sumber informasi. Untuk itu sebagai penguat dari pandangan diatas, Diamond, R.M (1989 : 47), merumuskan lima area yang menjadi sumber data dan fokus penilaian kebutuhan (needs assessment), yaitu :
1. Karakteristik siswa (Latar belakang, kemampuan dan prioritas)
2. Keinginan dan kebutuhan masyarakat
3. Prioritas lembaga (sekolah, departemen dll)
4. Aspek pengetahuan yang sesuai dengan cakupan proyek
5. Hasil penelitian yang berhubungan dengan proyek (survey, hasil tes dan hasil diskusi).
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli mengenai faktor-faktor yang harus menjadi fokus perhatian dan bahan pertimbangan dalam mengambangkan suatu program pendidikan, kesemuanya memiliki sudut pandang yang sama, yaitu bagaimana hasil penilaian terhadap kebutuhan (needs assessment) menghasilkan informasi atau data yang benar-benar menggambarkan jenis dan tingkat kebutuhan serta tuntutan masyarakat dimana program itu akan dikembangkan. Berlandaskan data dan informasi yang representatif, diharapkan dapat menghasilkan suatu program yang representasi dari masyarakat. Melalui implementasi maka program dapat menghasilkan produk pendidikan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Suatu usaha untuk menentukan dan merumuskan kebutuhan pendidikan dengan tidak melibatkan beberapa sumber tersebut merupakan titik awal yang keliru dalam mengembangkan program pendidikan.
D. Langkah-Langkah Needs Assessment
Dalam melakukan Needs Assessment ada beberapa langkah berikut ini yang dapat dilalui, meskipun dalam prakteknya langkah-langkah tersebut tidak berlaku secara kaku, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik dari faktor-faktor yang dinilai, namun tetap memperhatikan prinsip-prinsip yang terkandung dan dimaksudkan dalam langkah-langkah tersebut. English & Kaufman (1975 : 12-48, dalam Oliva : 249)) merumuskan langkah-langkah dalam melakukan penilaian terhadap kebutuhan (Needs Assessment) sebagai berikut :
1. Tahap persiapan perencanaan (Baca: Penentuan alokasi waktu, sumber-sumber yang tersedia, orang yang akan dilibatkan, dll)
2. Merumuskan tujuan sementara. Tujuan ini berhubungan dengan produk pendidikan yang ingin dihasilkan. Tujuan ini dirumuskan berdasarkan kajian teoritis dan pendapat para fakar,
3. Memvalidasi tujuan sementara tentang tingkat kesesuaiannya dengan melibatkan para pendidik dan lainnya,
4. Memprioritaskan tujuan untuk mengetahui ranking tujuan-tujuan tersebut sesuai dengan kepentingnnya dengan melibatkan siswa, guru dan sivitas akademika sekolah,
5. Penjabaran tujuan dari bentuk pernyataan ke dalam standar performan yang dapat diukur (tujuan khusus/objectives),
6. Memvalidasi standar performan (objectives) untuk melihat akurasi penjabaran dari tujuan umum ke tujuan khusus dan juga untuk mengetahuan tentang penspesifikasian tujuan-tujuan penting,
7. Memprioritaskan kembali tujuan dengan melibatkan sampling kedua dari siswa, staff dan masyarakat,
8. Memasukkan tujuan-tujuan yang berorientasi ke masa depan melalui teknik delphi,
9. Perankingan kembali tujuan berdasarkan penelitian dan studi prediktif (teknik delphi),
10. Menyeleksi alat tes yang berhubungan dengan performan siswa,
11. Membandingkan data yang terkumpul yang disajikan lewat Tabel, skema dan lainnya,
12. Penyusunan daftar kebutuhan sementara (the initial gap or needs statement),
13. Memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan ranking kepentingannya dan dilakukan seperti pada langkah ke empat,
14. Mempublikasikan hasil penilaian kebutuhan (needs assessment) yang dibuat dalam bentuk pernyataan-pernyataan mengenai kebutuhan.
E. Teknik Needs Assessment
Sebagai salah satu pendekatan dalam penelitian evaluasi, maka teknik yang digunakan dalam melkukan Needs Assessment sedikit banyaknya sama dengan teknik yang digunakan dalam penelitian evaluasi pada umumnya seprti kuesioner, observasi, wawancara, tes dan teknik-teknik penelitian lainnya.
F. Layanan Bimbingan Bagi Anak Tunagrahita Ringan
Pengertian bimbingan menurut Peraturan Pemerintah No 28 tahun 1990 Bab X, Pasal 25, bimbingan dirumuskan sebagai bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan yang akan dilaluinya.
Bila kita amati pelayanan dan pelaksanaan bimbingan di Sekolah Luar Biasa (SLB), maka kegiatan itu tidak bisa terlepas dari kegiatan rehabilitasi yang merupakan upaya bantuan medik, sosial, dan keterampilan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. Rehabilitasi medik meliputi usaha penyembuhan kesehatan penyandang kelainan serta pemberian alat pengganti dan/atau alat pembantu tubuh. Rehabilitasi sosial meliputi usaha pemberian bimbingan sosial kepada peserta didik yang mencakup pengarahan pada penyesuaian diri dan pengembangan pribadi secara wajar. Rehabilitasi diberikan oleh ahli terapi fisik, ahli terapi bicara, dokter umum, dokter spesialis, ahli psikologi, ahli pendidikan luar biasa, perawat, dan pekerja sosial.
Keberhasilan dalam mencapai perkembangan yang optimal apabila ia dapat menggunakan sisa kemampuannya secara optimal sesuai dengan derajat ketunaan. Tetapi tidak semua anak dapat berhasil mencapai perkembangan yang optimal, dan bukanlah semata-mata karena ketunaan yang disandang siswa, tetapi ada juga karena ketidak mampuan pelaksana pendidikan untuk mendekati secara individu sehingga dapat mengetahui berbagai hambatan yang mereka hadapi.
Agar anak tunagrahita dapat menjadi pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh, tidak hanya kegiatan-kegiatan administrasi, tetapi juga meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan, sehingga perkembangan yang optimal dapat terwujud.
Surya, (1988:4) menyatakan bahwa guru pembimbing dituntut untuk menguasai keterampilan antara lain: (1) keterampilan intelektual adalah penguasaan sejumlah kaidah-kaidah keilmuan yang menunjang pelaksanaan kehidupan sehari-hari, (2) keterampilan sosial yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar bagi tercapainya interaksi sosial secara efektif meliputi keterampilan memahami dan mengelola diri sendiri, interaktif, dan keterampilan memecahkan masalah, (3) keterampilan sensomotorik adalah penguasaan sejumlah keterampilan untuk mengembangkan syaraf dan otot sensomotorik.
Kebutuhan yang bersifat sosial-psikologis bertujuan untuk mengurangi rasa ketunaan yang disandang. Untuk itu pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan konseling merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan.
a. Bimbingan Konseling Perkembangan
1. Definisi Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Menurut Muro dan Kottman (1995:50-53) menyebutkan bimbingan dan konseling perkembangan merupakan program yang di dalamnya mengandung prinsip-prinsip seperti di bawah ini.
a. Guidance and counseling are needed by all children.
b. Developmental guidance and counseling has a focus on children’s learning.
c. Counselors and teachers are cofunctionaries in developmental guidance programs.
d. An organized and planed curriculum is a vital part of developmental guidance.
e. Developmental guidance is concerned with self-acceptance, self-understanding, and self-enhancement.
f. Developmental guidance and counseling focus on the encouragement process.
g. Developmental guidance acknowledges directional development rather than definitive ends.
h. Developmental guidance, while team oriented, requires the services of a trained professional counselor.
i. Developmental guidance is concerned with early identification of special needs.
j. Developmental guidance is concerned with the psychology of use.
k. Developmental guidance has foundations in child psychology, child development, and learning theory
l. Developmental guidance is both sequential and flexible.
Berdasarkan pendapat Muro dan Kottman diperoleh maknanya sebagai berikut di bawah ini.
Program perkembangan kegiatan bimbingan dan konseling diasumsikan diperlukan oleh seluruh siswa, termasuk siswa yang memiliki kesulitan dalam pemahaman diri, meningkatkan tanggung jawab terhadap kontrol diri, memahami lingkungan, dan kesulitan membuat keputusan.
Kebutuhan siswa sebagaimana tersirat di dalam kesulitan dan beban tanggungjawabnya pemenuhannya diupayakan konselor melalui perancangan dan pengembangan kurikulum yang menitik beratkan pada pembelajaran manusia dan pemanusiaan peserta didik. Tugas mereka adalah membantu anak untuk belajar, dan tujuan sekolah adalah pembelajaran. Sedangkan tujuan bimbingan dan konseling perkembangan adalah membantu siswa untuk belajar.
Konselor membantu guru dalam menelusuri pemahaman siswa, mendengarkan sungguh-sungguh perasaan yang dicurahkan guru, memperjelas, menentukan pendekatan yang akan digunakan, dan membantu mengevaluasi kegiatan pengajaran yang baru.
Seluruh program bimbingan perkembangan hendaknya berisi perencanaan dan pengorganisasian kurikulum yang matang. Kurikulum menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal. Kegiatan bimbingan perkembangan dirancang untuk membantu siswa mengetahui lebih banyak tentang diri, penerimaan diri, serta memahami kekuatan-kekuatan diri.
Pengupayaan agar siswa mencapai perkembangan, maka bimbingan dan konseling diarahkan untuk: (1) menempatkan nilai pada diri anak sebagai diri sendiri, (2) percaya pada diri, (3) percaya akan kemampuan diri anak, membangun penghargaan terhadap diri, (4) pengakuan untuk bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh, (5) memanfaatkan kelompok untuk mempermudah dan meningkatkan perkembangan anak, (6) memadukan kelompok sehingga anak merasa memiliki tempat dalam kelompok, (7) membantu pengembangan keterampilan secara berurutan dan secara psikologis memungkinkan untuk sukses, (8) mengakui dan memfokuskan pada kekuatan asset anak, dan (9) memanfaatkan minat anak sebagai energi dalam pengajaran.
Konselor perkembangan menyadari perkembangan anak sebagai suatu proses “menjadi”, sehingga pertumbuhan fisik dan psikologis memiliki berbagai kemungkinan sebelum mencapai masa dewasa. Bimbingan perkembangan sebagai team oriented, menuntut pelayanan dari konselor profesional.
Bimbingan perkembangan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan khusus anak. Konselor bekerja sama dengan guru untuk menemukan kebutuhan siswa yang jika tidak terpenuhi akan menjadi kendala dalam kehidupan siswa selanjutnya. Menjalin hubungan yang erat dengan orang tua merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam melaksanakan identifikasi kebutuhan siswa.
Bimbingan perkembangan mendasarkan penerapan psikologi anak, psikologi perkembangan, dan teori-teori pembelajaran. Konselor perkembangan tidak sekedar peduli pada asesmen kemampuan anak untuk belajar, melainkan pada bagaimana anak menggunakan kemampuannya. Bimbingan perkembangan mempunyai sifat mengikuti urutan dan lentur. Program hendaknya disesuaikan dengan perbedaan individual. Berurutan berarti bahwa program bimbingan dirancang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Bertolak dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa bimbingan konseling perkembangan adalah upaya bantuan yang memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan minat, dan isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan anak merupakan bagian penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan.
2. Unsur-unsur Bimbingan dan Konseling Perkembangan
a. Visi dan Misi Bimbingan dan Konseling di SLB
Bertolak dari dasar formal, konseptual dan kontekstual, maka visi dan misi bimbingan dan konseling adalah edukatif, preventif dan developmental. Oleh karena itu model layanan bimbingan di SLB adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Layanan bimbingan dan konseling di SLB memiliki misi penting dalam peningkatan mutu pendidikan, sekaligus mensukseskan Wajar Dikdas 9 tahun. Di sisi lain keberhasilan pelaksanaan bimbingan di SLB sangat bergantung pada dukungan guru sebagai pelaksana dan kebijakan pimpinan sekolah. Hasil penelitian Ahman (1998) bahwa visi bimbingan dan konseling memiliki peranan yang penting dalam peningkatan mutu pendidikan di SD. Guru yang menyatakan bahwa bimbingan di SD itu penting, namun dalam pelaksanaannya belum menjadi prioritas.
b. Tugas-tugas Pekembangan dan Kebutuhan Anak SLB Sebagai Dasar Pengembangan Program Bimbingan
Bimbingan dan konseling melalui pencapaian penguasaan tugas-tugas perkembangan siswa, menjembatani tugas-tugas yang muncul, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertetu, dan meningkatkan sumber daya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal bagi klien.
c. Asumsi
Perkembangan individu akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan lingkungannya. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan bimbingan di sekolah.
1) Perkembangan adalah tujuan bimbingan; oleh karena itu para petugas bimbingan di sekolah perlu memiliki suatu kerangka berpikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan.
2) Interaksi yang sehat merupakan suatu iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh petugas bimbingan. Petugas bimbingan perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus untuk mengembangkan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem peluncuran bimbingan di sekolah.
d. Tujuan Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTP.
1) Menanamkan dan mengembangkan kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku.
3) Mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
4) Mempelajari keterampilan fisik sederhana yang diperlukan untuk permainan dan kehidupan.
5) Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok sebaya.
6) Belajar menjadi pribadi yang mandiri.
7) Membangun sikap hidup yang sehat mengenai diri sendiri dan lingkungan.
8) Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari.
9) Belajar menjalankan peran sosial sesuai dengan jenis kelamin.
10) Mengembangkan sikap positif terhadap kelompok dan lembaga-lembaga sosial.
e. Program Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Komponen yang terkandung dalam program bimbingan konseling perkembangan yakni (1) layanan dasar bimbingan, (2) layanan responsif, (3) sistem perencanaan individual, dan (4) pendukung sistem.
3. Layanan Dasar Bimbingan
Tujuan layanan dasar bimbingan yakni membantu seluruh siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupan. Komponen ini merupakan landasan bagi program bimbingan perkembangan.
Muro dan Kottman, (1995:56) menyebutkan materi program bimbingan perkembangan di Sekolah Dasar seperti berikut.
a. self-esteem
b. motivation to achieve
c. decisitom-making, goal-setting, and planning skills
d. problem-solving skills
e. interpersonal effectiveness
f. communication skills
g. cross-cultural effectiveness
h. responsible-behavior.
Layanan dasar perkembangan memiliki cakupan dan urutan bagi pengembangan kompetensi siswa. Materi kurikulum diajarkan dengan unit fokus pada hasil (outcome-focused) dan pengajaran yang berorientasi tujuan (objective-based) bagi siswa dalam kelompok kecil atau kelas. Kurikulum dirancang untuk menggunakan material dan sumber-sumber lainnya, dan memerlukan strategi penilaian. Pengajaran dalam layanan dasar bimbingan diawali sejak pengalaman pertama siswa masuk sekolah, dengan materi yang diselaraskan dengan usia dan tahapan perkembangan siswa.
Isi bimbingan layanan dasar yakni pengembangan keterampilan hidup dan perilaku efektif tugas-tugas perkembangan (imtaq, nilai-nilai, calistung, keterampilan fisik, kelompok sebaya, pribadi mandiri, hidup sehat, konsep hidup, peran sosial, sikap terhadap lembaga dan keseluruhan).
Bentuk bimbingan terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar dan dinamika kelompok pada bidang bimbingan sosial pribadi, bimbingan belajar, dan bimbingan karir. Fungsi bimbingan perkembangan adalah bimbingan yang mengarah pada pencapaian perkembangan idividu atau kelompok.
4. Aspek Tugas Perkembangan Belajar Menjadi Pribadi yang Mandiri
Hakekat tugas perkembangan belajar menjadi pribadi yang mandiri yaitu: mampu membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan pada saat ini dan di masa mendatang secara mandiri tidak tergantung pada orang tua atau orang lain yang lebih tua. Temuan penelitian Ahman, (disertasi, 1998) memberikan gambaran bahwa kemampuan untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri merupakan tugas perkembangan yang paling rendah tingkat penguasaannya. Pada umumnya siswa sekolah dasar cenderung lemah dalam mengurus diri sendiri, belum mampu menyusun rencana kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain, dan belum memiliki kemampuan untuk melaksanakan rencana kegiatan secara kensekuen. Siswa kebanyakan tidak berani pulang-pergi sekolah sendiri, karena mereka kesulitan untuk menyeberang di jalan raya.
5. Implementasi Layanan Dasar Bimbingan
Implementasi layanan dasar bimbingan melalui bentuk bimbingan kelompok di kelas. Bentuk bimbingan kelompok ternyata memiliki keunggulan dibandingkan dengan bentuk individual. Temuan-temuan penelitian memberikan gambaran bahwa penggunaan terapi kelompok dapat meningkatkan self-esteem, pengelolaan rasa marah, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku murid dalam kelas.
Lenore, S. Brantley et.al (1996) serta Myrick dan Dixon (1985) dalam Ahman (1998:118) melakukan studi pengubahan sikap dan perilaku melalui konseling kelompok. Bahwa murid-murid yang menerima konseling kelompok menunjukkan peningkatan perilaku dalam kelas secara signifikan. Shectman (1993) mengukur pengaruh terapi kelompok kecil melalui penilaian guru berkenaan dengan sikap siswa terhadap teman sekelas dan guru. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat kemajuan perilaku dan hubungan antar pribadi siswa secara signifikan. Sementara Rhone (1992) mempelajari perilaku remaja selama 12 minggu pertemuan kelompok, dalam self-esteem, model peran, membangun karakter dan perilaku yang tepat. Analisis data menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan yang dramatis dalam perilaku negatif.
6. Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Tujuan layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah membantu anak didik dalam memahami potensi diri, peluang dan tuntutan lingkungan, serta merencanakan masa depan melalui pengambilan serangkaian keputusan yang paling mungkin bagi anak. Kemampuan ini bukanlah suatu proses yang terjadi seketika melainkan terbentuk melalui proses interaksi dan terkait dengan berbagai faktor kemampuan diri, keluarga, masyarakat, maupun sistem nilai yang dianut. Bertolak dari hasil kajian lapangan Ahman (1998), maka salah satu rumusan tugas-tugas perkembangan anak di SD adalah aspek “belajar menjadi pribadi yang mandiri”, yang meliputi: 1) memiliki kemampuan mengurus diri sendiri, 2) mampu menyusun rencana kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain, dan 3) mampu melaksanakan rencana kegiatan secara konsekuen.
III. PENUTUP
Pembahasan mengenai Needs Assessment di atas merupakan hasil review beberapa sumber yang membahas tentang Needs Asessment. Beberapa poin penting yang berhubungan dengan Needs Assessment dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pengertian Needs Assessment
2. Karakteristik Needs Assessment
3. Dimensi-Dimensi Needs Assessment
4. Langkah-Langkah Penilaian Kebutuhan
5. Teknik Needs Assessment
6. Pentingnya pengembangan program bimbingan bagi anak tungrahita

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Borg, Walter R, & Gall, Meredith, D. (1983). Educational Research : An Introduction. (4th ed.). New York : Longman Inc.
Brady, Laurie. (1990). Curriculum Development. Victoria : Prentice Hall of Australia Pty Ltd, Burwood
Kaufman, Roger A. (1972). Educational System Planning. New Jersey : Prentice Hall Inc., Engleewood Cliffs
Oliva, Feter, F. (1992). Developing The Curriculum. New York : HarperCollins Publishers Inc.,
Print, Murray. (1993). Curriculum Development And Design. Australia : Allen & Unwin Pty Ltd, St.Leonard
Syaodih, N. S. (1997). Pengembangan Kurikulum : Teori Dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Tyler, Ralph, W. (1949). Basic Principles of Curriculum and Instruction. London : The University of Chicago Press
Amin, Moh. (1995). Orthopedagogik Anak Tunagarahita. Depdikbud Dikti, Proyek pendidikan Tenaga Guru, Jakarta
Ahman, (1998). Bimbingan Perkembangan: Model bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. Disertasi. PPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.
Bailey, D. Roy., (1982). Therapeutic Nursing for the Mentally Handicapped. Oxford University Press, New Yoork Toronto.
Depdikbud, (1987). Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum SLB-C, Pedoman bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta.
_________, (1989). Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989, Undang-Undang Sistem Pendididkan Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
_________, (1990). Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan di SD. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
_________, (1990). Peraturan Pemerintah no 28. Jakarta.
_________, (1991). Peraturan Pemerintah No.72 . Jakarta.
_________, (1994). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Lampiran I. Landasan, Program dan Pengembangan. Jakarta.
_________, (1997). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Lampiran II. GBPP Mata Pelajaran Program Khusus Kemampuan Merawat Diri. Jakarta.
Havighurst, J. R (Eds), (1988). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (alih bahasa Istiwidayanti dan Sudjarwo). Jakarta: Erlangga.
Kartadinata, Sunaryo (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Bandung: Tesis PPS IKIP Bandung. tidak diterbitkan.
_________, (1996). Peningkatan Mutu Pengembangan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. (laporan Penelitian). FIP IKIP Bandung. Tidak di terbitkan.
Kirk, A. Samuel & James, J Gallagher, (1986). Exceptional Children. Alir bahasa. Moh. Amin & Ina Yusuf K, (1990), DNIKS. Jakarta.
Muro, J. James and Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in Elementary School and Midlde School. Iowa: Brown and Benchmark Publisher.
Neely, A. Margery, (1982). Counseling and Guidance Practices with Special Education Students. Kansas State University, The Dorsey Press, Homewood, Illinois.
Natawiyoga, Suhaeri H. (1995). Bimbingan dan Konseling Anak Luar Biasa. Dikti, Proyek Pendidikan Tenaga Guru, Jakarta: Depdikbud.
Patton, MQ. (1984), Qualitative Evaluations, Methods, Baverly Hills : Sage Publications.
Smith, Robert, M. & Neisworth, John, T. (1975). The Exceptional Child a Functional Approach. McGraw-Hill Book Company.
Wehman, paul & McLaughlin Philip J, (1981). Program Development In Special Education, McGraw-Hill Book Company.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: