Peranan Psikologi Klinis dengan Ilmu Lainnya

Peranan Psikologi Klinis dengan Ilmu Lainnya

1. Psikologi klinis mungkin diperlukan selain oleh psikologi juga oleh pedagogi dan andragogi, psikiatri, agama, sosiologi. Seandainya benar demikian berikan alasan esensial disertai contoh pernyataan tersebut.
Psikologi Klinis Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal. Psikologi Klinis juga merupakan studi tentang perilaku seorang individu secara dan yang khas (particular individual). Dengan demikian maka Ilmu Psikologi Klinis juga diperlukan dalam berbagai bidang seperti;
Pedagogi dan Andragogi;
Andragogi sebagai “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”.
Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.
Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :
1. Citra Diri; Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri.
2. Pengalaman; Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar; Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri.
4. Waktu dan Arah Belajar; Andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini.
Psikiatri;
Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) adalah cabang spesialistik Ilmu Kedokteran, yang mempelajari patogenesis, diagnosis, terapi, rehabilitasi, pencegahan gangguan jiwa dan peningkatan ikhtiar peningkatan taraf kesehatan jiwa. Penyandang profesi keahliannya adalah psikiater atau spesialis kedokteran jiwa.
Terkait erat dengan ilmu kesehatan mental yang berhubungan dengan psikologi klinis. Jika dihubungkan dengan psikologi klinis maka peranannya terkait dengan kesehatan mental yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembanga anak. Anak adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang tentu juga akan berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya. Psikiatri adalah ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan anak yang berkaitan erat dengan kejiwaan dari sisi pandang secara medis.
Istilah psikiatri (inggris: psychiatry) diangkat dari bahasa Yunani, yaitu psyche (soul, mind kehidupan mental, baik yang sadar maupun bawah sadar dalam bahasa Indonesia: roh, jiwa, mental) dan iatreia (healing- penyembuhan). Sesuai dengan kedudukannya sebagai bidang ilmu, maka di dalam bidang psikiatri, psyche berarti mind atau mental dan bukan berarti soul atau roh.
Agama;
Dalam kehidupan peranan agama tidak bisa dilepaskan begitu saja, bila keadaan psikologis kesehatan jiwa seseorang perlu dipertegas dengan adanya keyakinan akan agama. Pemahaman akan keberadaan Tuhan sebagai pencipta makhluk didunia ini amat penting disadari. Bagi manusia yang beragama hal ini amat penting sebagai penetralisi kestabilan mental seseorang. Sebab dengan adanya agama orang akan yakin segala sesuatu yang diluar kendali manusia.

Sosiologi;
Karena lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi individual, kelompok sosial, dan komunitas untuk memecahkan masalah psikososial dan meningkatkan kualitas hidup.
Bidang Psikologi Klinis mengintegrasikan ilmu, teori, dan praktis untuk memahami dan mengurangi ketidaksesuaian,ketidakmampuan,dan rasa tak nyaman seperti pun meningkatkan adaptasi, penyesuaian manusia, dan perkembangan pribadi. Psikologi klinis memusatkan kegiatannya pada aspek intelektual, emosional, biologis, sosial, dan prilaku pemfungsian manusia sepanjang hidupnya,dalam berbagai budaya, dan pada taraf sosio ekonomik.
2. Ada tiga fungsi utama/bidang kegiatan psikologi klinis yaitu; Asesment, Intervensi, dan riset.
a. Terangkan apa yang dimaksud ketiga fungsi tersebut!
Fungsi Asesment;
fungsi ini ditekankan pada mengases perbedaan antar orang. Orang pertama yang tercatat melakukannya adalah Francis Galton, yang menggunakan metode kuantitatif, menyangkut akuitas sensori, keterampilan motor, dan waktu reaksi, yang ia lakukan saat membangun labolatorium antropometrik pada 1882. Selanjutnya dilakukan oleh McKeen Cattel, Wilhelm Wundt, yang memberikan perhatian pada masalah perbedaan waktu reaksi ini. Maka menurut Thorndike, 1997, usaha ini melahirkan istilah mental tests, la menggunakan 10 sub tes untuk suatu batteray test, dan dapat menemukan konstansi proses mental, bahkan menduga bahwa tes semacam itu dapat digunakan untuk menseleksi dan melatih orang seperti pun mendeteksi penyakit. Hal ini merupakan langkah-langkah awal bagi gerakan pengujian (tes).Kraeplin mengajukan gagasan bahwa gangguan itu dapat disebabkan oleh dua tipe penyebab, yakni faktor-faktor luar (exogenous, cur-wble) dan faktor dalam (endogenous, incurable). Ciri utama masa ini adalah dikembangkannya pengukuran mental (men¬tal measurement) atau pengetesan psikologis diagnostik (mental measurement ordiagnostic psychological testing), yang landasannya adalah Galton dan Cattel tetapi pencetusnya adalah Alfred Binet. KesehatanTerkendali(Monaged/-/ea/t/iCore),termasuk kesehatan mental dan perilaku, berkembang sebagai respons atas mahalnya biaya pemeliharaan kesehatan.Psikolog yang terlibat dalam pemeliharaan kesehatan ini perlu menguasai tes yang (a) membantu rencana penanganan dengan mengidentifikasi dan secara akurat mengases simtom-simtom problematik, (b) Sensitif terhadap perubahan dan peningkatan fungsi klien sebagai hasil penanganan, dan (c) relatif cepat.

Fungsi Intervensi;
Kraeplin (1850- 1899) Pusat perhatian adalah pada klasifikasi psikosis. Juga berkaitan dengan teknik penanganan penderita neurotik, seperti sugesti dan hipnosis. Fungsi intervensi ini berkaitan dengan teknik penangan masalah psikologi klinis yang dilakukan dengan menggunkan pendekatan teori-teori terhadap masalah yang dihadapi oleh klien. Misal Freud melahirkan teori psychoanalisis, Carl Rogers 1951 menerbitkan Client-Centered Therapy, Frankl, 1953, mengemukakan Logotherapy dan hubungannya dengan teori eksistensial, Perls mengajukan Gestalt Theapy, 1951, Pada tahun 1958, Ackerman juga menerangkan tentang Family Therapy, dan tahun 1962, Albert Ellis menerangkan tentang Ratio-Emotive Therapy. Sekitar tahun 1961, Eric Berne mengajukan Transactional Analysis atau TA. Lahirnya berbagai macam terapi “kecil” menimbulkan juga reaksi negatif, sebagaimana dikemukakan oleh Eyesenck dalam buku tipisnya yang terkenal, The Effectness ofPsychotherapy. Namun, kaum behavioris mulai mengembangkan metode-metodenya yang lebih “hardheaded’,’seperti dilakukan Andrew Salter, 1949, yang menulis ConditionedReflexTherapy, yang menjadi pendorong lahirnya metode-metode desensitisasi.Tahun 1953, B.F. Skinner mengembangkan terapi keperilakuan berdasarkan prinsip operan untuk terapi dan intervensi sosial.
Fungsi Riset;
fungsi ini berkaitan dengan fungsi pengembangan keilmuan dalam bidang psikologis. Yang pertama adalah Wilhelm Wundt, dikenal sebagai pendiri laboratorium psikologi yang resmi di Lelpzig pada tahun 1879. Ivan Pavlov (1900 – 1919) berhasil meletakkan dasar bagi psikologi klinis awal dengan clasical conditioningnya. Binet-Simon menawarkan bukti-bukti validitas tes baru mereka pada tahun 1905; dan pada tahun 1916 riset Terman atas tes Binet-Simon diterbitkan. Pada periode ini pun lahir tes Army Alpha dan Army Beta. Reset psikologi klinis Maiz merupakan reset yang berada dalam taraf infancy. Meskipun demikian lahirnya tes-tes kepribadian dan terutama lahirnya WBIS pada tahun 1939 perlu dicatat, sedangkan riset akademik menyangkut Behaviorisme dan Psikologi Gestalt merupakan kegiatan yang perlu dihargai. Behaviorisme menguatkan para psikolog klinis mengenai kekuatan pembiasaan dalam pengembangan dan penanganan gangguan prilaku. Sedangkan Psikologi Gestalt menekankan pentingnya pemahaman atas keunikan persepsi pasien atas masalah-masalahnya. Mulai pertahuan tahun 1960-an asesmen dan diagnosis menjadi kurang penting bagi psikolog klinis, karena mereka mulai langsung menangani pasien tidak sekedar mengases dan membuat diagnosis melayani kebutuhan profesi lainnya, seperti psikiater dan guru-guru. Riset di bidang tes inteligensi dan kepribadian, meskipun demikian terus berkembang, baik untuk keperluan psikoterapi maupun untuk penggunaan psikologi di bidang lain, seperti pendidikan dan industri-organisasi. Demikian juga dengan tes proyektif seperti Rorschach dan TAT, yang penelitian dan pengembangannya terus menerus dilakukan. Banyak dari studi ini menyangkut sisi validitas dan reliabilitas. Di antaranya adalah Cari Rogers, 1951,mengenai efektivitas konselingjaporannya terbit pada tahun 1954 bersama Dymond. Julian Rotter yang pada tahun 1954, mebciptakan Social Learning and ClinicaI Psychology. Kemudian Wolpe, 1958, mengembangkan metode systematic desensitization, sebagai salah satu dari sekian banyakjenis terapi perilaku. Tentu saja penelitian mengenai berbagai macam psikoterapi perlu dilakukan dan dikembangkan terus.

b. Apa yang dimaksud dengan istilah; Asesment psikologi, asesment psikologi klinis, dan psikologi diagnostik?
Asesmen Psikologi adalah;
“Proses mengumpulkan informasi yang biasanya digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang nantinya akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait oleh asesor” (Nietzel dkk,1998).
Asesment Psikologi Klinis adalah;
Asesment ini berkenaan dengan pengumpulan Informasi terhadap orang lain dapat berupa latar belakang, sikap, tingkah laku atau karakteristik yang dimiliki orang tersebut. Kemudian informasi tersebut dihubungkan dengan pengalaman dan harapan yang kita miliki sehingga kita akan mendapatkan kesan dari orang tersebut yang selanjutnya kita jadikan dasar untuk memutuskan cara kita bersikap terhadapnya.
b. Asesmen Psikologi Diagnostik adalah;
Suatu cara untuk menegakkan diagnosa yang akhirnya menjadi suatu diagnosa kepribadian.
Suatu usaha untuk mengukur karakteristik individu melalui pengamatan terhadap gambaran eksternal.
Perangkat yang digunakan untuk melakukan diagnosa terhadap gangguan psikologi terhadap kepribadian sesorang. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai macam kondisi psikologis yang dilakukan melalui diagnostik tersebut. Untuk itu ada beberapa macam perangkat diagnostik yang dapat digunakan untuk mengungkap kondisi mental orang yang di tes. APA (American Psychiatric Association) menerbitkan sistem klasifikasi diagnostik yang pertama kali, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Sistem ini kemudian terkenal dengan nama DSM I dan berlaku hingga tahun 1968, ketika WHO mengeluarkan International Classification of Diseases (ICD). DSM I kemudian direvisi dan disamakan dengan ICD, kemudian terbit DSM II. DSM I dan II menyeragamkan terminologi untuk mendeskripsikan dan mendiagnosa perilaku abnormal, tetapi tidak menjelaskan tentang aturan sebagai pedoman dalam memutuskan suatu diagnostik. Kemudian mengalami beberapa kali perubahan menjadi DSM III, DSM III-R. Dalam DSM III ini, sudah terdapat suatu kriteria operasional untuk masing-masing label diagnostik. Kriteria ini meliputi simtom utama dan simtom spesifik serta durasi simtom muncul. Disini juga digunakan pendekatan multiaxial, dimana klien dideskripsikan ke dalam lima dimensi (axis), yaitu : a) gangguan mental major, b) problem perkembangan dan gangguan kepribadian, c) Gangguan fisik atau kondisi-kondisi yang mungkin berhubungan dengan gangguan mental, d) Stressor psikososial (lingkungan) e) Rating terhadap fungsi psikologis, sosial dan pekerjaan dalam satu tahun terakhir.
c. Mengapa pada poin b ada intervensi, konseling, psikoterapi dan ada konsultasi. Dimana letak perbedaan dan persamaannya?
Ada tiga macam yaitu klasifikasi diagnostik, deskripsi dan prediksi.
1. Klasifikasi diagnostik
Maksud dari klasifikasi (penegakan) diagnostik yang tepat antara lain :
• Untuk menentukan jenis treatment yang tepat. Suatu treatment sangat bergantung pada bagaimana pemahaman klinisi terhadap kondisi klien termasuk jenis gangguannya (vermande, van den Bercken, & De Bruyn, 1996).
• Untuk keperluan penelitian. Penelitian tentang berbagai penyebab suatu gangguan sangat bergantung kepada validitas dan reliabilitas diagnostik yang ditegakkan.
• Memungkingkan klinisi untuk mendiskusikan gangguan dengan cara efektif bersama profesional yang lain (Sartorius et.al, 1996).
2. Deskripsi
Para klinisi beranggapan bahwa untuk memahami content dari perilaku klien secara utuh maka harus mempertimbangkan juga tentang context sosial, budaya dan fisik klien. Hal itu menyebabkan asesmen diharapkan dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang secara lebih utuh dengan melihat pada person-environtment interactions. Dalam fungsinya sebagai sarana untuk melakukan deskripsi terhadap kepribadian seseorang secara utuh, di dalam asesmen harus terdapat antara lain : motivasi klien, fungsi intrapsikis, respon terhadap tes, pengalaman subjektif, pola interaksi, kebutuhan (needs) dan perilaku. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif tersebut memudahkan klinisi untuk mengukur perilaku pra treatment, merencanakan jenis treatment dan mengevaluasi perubahan perilaku pasca treatment.
3. Prediksi
Tujuan asesmen yang ketiga adalah untuk memprediksi perilaku seseorang. Misalnya klinisi diminta oleh perusahaan, kantor pemerintah atau militer untuk menyeleksi seseorang yang tepat bagi suatu posisi kerja tertentu. Dalam kasus tersebut, klinisi akan melakukan asesmen dengan mengumpulkan dan menguji data deskriptif yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan prediksi dan seleksi.
Klinisi kadang dihadapkan pada situasi untuk memprediksi hal-hal yang berbahaya, misalnya pertanyaan seperti “Apakah si A akan bunuh diri ?”, “Apakah si B tidak akan menyakiti orang lain setelah keluar dari RS?”. Pada saat itu klinisi harus menentukan jawaban “ya” atau “tidak”. Prediksi klinisi tentang “berbahaya” atau “tidak berbahaya” dapat dievaluasi dengan empat kemungkinan jawaban: a) True positive, jika prediksi klinisi berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku berbahaya, b) True negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku yang tidak berbahaya, c) False negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku berbahaya, d) False positive, jika prediksi klinisi berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku tidak berbahaya.
Intervensi; Intervensi dilaksanakan setelah dilakukan asesmen psikologis dalam rangka mengatasi atau melakukan penyembuhan terhadap permasalahan gangguan mental psikologis penderita.
Konseling; Konseling dilakukan setelah dilakukan asesmen dalam rangka membantu memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan klien agar dapat mengatasi permasalahan hidup secara mandiri yang dilakukan disekolah, keluarga dan masyarakat.
Psikoterapi; Dengan adanya asesmen maka akan ditemukan permasalahan yang berkaitan dengan munculnya masalah yang bersifat patologis. Untuk itu penderita perlu mendapatkan treatmen atau terapi.
Konsultasi; Dilakukan setelah dilakukan asesmen dan berkenaan dengan berbagai alternatif pemecahan persoalan secara psikologis dan terencana dengan harapan klien dapat menilai dan melakukan pilihan aternatif permasalahan.
Perbedaan dan Persamaannya adalah: Masing-masing kegiatan tersebut memiliki kewenangan tersendiri dlam penangan permasalahan dan merupakan wilayah berbeda tetapi mereka kadang-kadang saling membutuhkan dalam proses pekerjaannya. Maka dari itu untuk menjaga ketimpangsiurannya diperlukan adanya kerjasama antar profesional terkait.

Intervensi Konseling Psikoterapi Konsultasi
1. Hanya membrikan stimulus
2. Waktunya singkat
3. Kliennya normal
4. Yang memberikan intervensi lebih dominan 1. Tidak ada treatment
2. Waktunya singkat
3. Kliennya normal
4. Klien lebih dominan
5. Keputusan ditangan klien 1. Klien memiliki masalah patologi
2. Waktunya lebih lama
3. Adanya treatmen atau terapi 1. Waktunya singkat
2. Kliennya normal
3. Hanya memberikan advise atau meluruskan masalah
4. Klien lebih dominan

3. Buatlah contoh judul penelitian dibidang asesment psikologi abnormal, asesment psikologi klinis, dan psikologi/konseling. Sebutkan dan terangkan variabel-variabel yang terdapat di dalamnya!
Judul penelitian dibidang asesment Psikologi Abnormal; Judul Pengaruh Psikiatri Dalam Berbagai Aspek Kehidupan. Beberapa variabel yang terkandung dalam judul penelitian ini meliputi: (1) roh, nyawa, atau (2) seluruh kehidupan batin manusia yang terdiri dari perasaan, pikiran, angan-angan, dsb. Peran psikiatri masih selalu dikaitkan dengan gangguan jiwa saja, padahal cakupan peran psikiatri sebagian besar justru di dalam berbagai aspek kehidupan yang menentukan tinggi atau rendahnya tingkat kesehatan jiwa individu maupun masyarakat. Psikiatri dan Kesehatan Mental (Psychiatry and Mental Health). Saat ini masih ada beberapa kerancuan pada makna istilah, yang dapat menghambat usaha memasyarakatkan psikiatri.
Judul penelitian dibidang asesment Psikologi Klinis; Pengaruh Kesehatan Jiwa (Mental Health) bagi anak hiper aktif ditengah keluarga. Variabel yang terkait meliputi keluarga, masyarakat, segi budaya, segi agama/spiritual, sosio-ekonomi, dsb.) Dengan demikian berdasarkan judul di atas perlu dibatasi kajian penelitian agar lebih terfokus.
Judul penelitian dibidang asesment Psikologi/Konseling; Kecenderungan perilaku nakal anak di lingkungan sekolah. Variabel yang terkandung meliputi; a) Perilaku Anarkis, b) Perilaku Depresif, c) Perilaku Agresif dan, d) konsep diri siswa.
4. Kegiatan apakah yang dapat dilakukan oleh ahli BK yang termasuk wilayah Pedagogi dan Androgogi dalam rangka spesialisasi psikologi klinis, misalnya dalam psikologi komunitas dan psikologi kesehatan (community mental health)
Kegiatan yang dapat dilakukan oleh para ahli dalam bidang Bimbingan dan Konseling meliputi berbagai kemampuan yang dapat menunjang keahlian dalam melakukan pekerjaan diantaranya sebagai berikut:
a. Metode Psikologi
Beberapa metodologi dalam psikologi, diantaranya sebagai berikut :
Cara ini dilakukan biasanya di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen. (sumber : buku Psokologi, penulis : Abdul Rahman Shaleh, penerbit : Kencana Prenada Media Group). Peneliti mempunyai kontrol sepenuhnya terhadap jalannya suatu eksperimen. Yaitu menentukan akan melakukan apa pada sesuatu yang akan ditelitinya, kapan akan melakukan penelitian, seberapa sering melakukan penelitiannya, dan sebagainya.
b. Observasi Ilmiah
Pada observasi ilmiah, suatu hal pada situasi-situasi yang ditimbulkan tidak dengan sengaja. Melainkan dengan proses ilmiah dan secara spontan. Observasi alamiah ini dapat diterapkan pula pada tingkah laku yang lain, misalnya saja : tingkah laku orang-oranng yang berada di toko serba ada, tingkah laku pengendara-pengendara kendaraan bermotor dijalan raya, tingkah laku anak yang sedang bermain prilaku orang dalam bencana alam
c. Sejarah Kehidupan
Sejarah kehidupan seseorang dapat merupakan sumber data yang penting untuk lebih mengetahui “jiwa” orang yang bersangkutan, misalnya dari ceritaibunya, seorang anak yang tidak naik kelas mungkin diketahui bahwa dia bukannya kurang pandai tetapi minatnya sejak kecil memang dibidang musik sehingga dia tidak cukup serius untuk mengikuti pendidikan di sekolahnya.
d. Wawancara
Wawancara merupakan tanya jawab si pemeriksa dan orang yang diperiksa. Agar orang diperiksa itu dapat menemukan isi hatinya itu sendiri, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga orang yang mewawancarai dapat menggali semua informasi yang dibutuhkan.
e. Angket
Angket merupakan wawancara dalam bentuk tertulis. Semua pertanyaan sudah di susun secara tertulis pada lembar-lembar pertanyaan itu. Dan orang yang diwawancaraipun tinggal membaca pertanyaan yang diajukan. Lalu menjawabnya secara tertulis pula. Lalu jawaban-jawabannya akan dianalisis untuk mengetahui hal-hal yang diselidiki.
f. Pemeriksaan Psikologi
Dalam bahasa populernya “pemeriksaan psikologi “ disebut juga dengan “psikotes”. Metode ini menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang benar-benar sudah terlatih alat-alat itu dapat dipergunakan unntuk mengukur dan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang, arah minat seseorang, sikap seseorang, struktur kepribadian seeorang, dan lain-lain dari orang yang diperiksa itu.
5. Buatlah suatu problem statement (disertasi) bidang kegiatan BK yang bersangkutan dengan psikologi Klinis umum atau spesialis khusus di bidang psikologi klinis. (minimal 200-400 kata)
Model Konseling Kelompok Rational-emotive Untuk Meningkatkan Kinerja Konselor dalam Modifikasi Kecenderungan Perilaku Nakal Siswa SMA Bandung.
Pelayanan konseling yang diarahkan untuk membantu pengembangan individu dalam setting sekolah dan masyarakat luas harus diselenggarakan oleh tenaga ahli yang profesional pada jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3). Dalam sistem pendidikan nasional, keberadaan konselor sebagai salah satu kualifikasi tenaga ke’pendidikstffr yang setara dengan kualifikasi guru, dosen, pamong dan tutor. Konsekuensinya konselor sebagai pengemban profesi konseling harus mampu menampilkan kinerja profesionalnya yang efektif agar dirinya memperoleh penghargaan sejajar bahkan lebih baik dari pemerintah khususnya lembaga tempat dirinya mengabdi maupun dari masyarakat luas. Dalam hal penanganan masalah psikologis siswa di sekolah, konselor harus berada pada jajaran paling depan agar keberadaannya dapat memberikan efek yang signifikan terhadap mutu perkembangan peserta didik dan bagi peningkatan mutu produktifitas sekolah. Untuk menangani siswa yang memiliki kecenderungan perilaku nakal yang bersumber pada keyakinan irasional konselor dituntut mampu menggunakan teknik dan metode sesuai dengan karakteristik dan latar belakang siswa. Konselor dituntut mampu mengadaptasi teknik-teknik konseling perspective rational-emotive untuk meningkatkan kinerjanya dalam menanggulangi kecenderungan kenakalan siswa.
Tujuan umum penelitian ini untuk memperoleh model Konseling Kelompok Rational-Emotive (KKRE) dianggap dapat meningkatkan kinerja konselor dalam menyelenggarakan layanan konseling kelompok yang efektif untuk modifikasi kecenderungan perilaku nakal siswa SMA. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian dilakukan dalam dua tahap: 1) Studi pendahuluan untuk memperoleh model KKRE adaptif, Subyek penelitian untuk Studi awal adalah Guru BK/Konselor SMA dan untuk Uji Lapangan subyek penelitiannya siswa SMA dan
2) Uji lapangan efektifitas KKRE dalam modifikasi perilaku nakal menggunakan quasi eksperimen disain: “Patched-Up” Design.
Hasil penelitian akan direkomendasikan kepada:
1. Bagi Guru BK di sekolah sangat disarankan agar: a. meningkatkan kinerjanya dalam menangani kecenderungan perilaku nakal siswa, b. guru-guru berlatih menggunakan KKRE untuk pencegahan dan penanggulangan kenakalan remaja di sekolah, c. Kepala Sekolah perlu memfasilitasi peningkatan kinerja konselor dalam penggunaan sarana pembelajaran untuk aplikasi KKRE, d. bekerjasama dengan organisasi profesi Pertemuan Guru Bimbingan Konseling (MGBK) atau Asosiasi Bimbingan Konseling (ABKIN) untuk pelatihan peningkatan mutu kinerja konselor,
2. Bagi pengembangan ilmu bimbingan dan konseling, agar dapat mendorong minat siswa atau guru BK untuk penelitian lanjut.

Daftar Bacaan;
Sutardjo, A. Wiramihardja, (2009), Pengantar psikologi Klinis, Refika Aditama, Bandung.
Sutardjo, a Wiramihardja, (2005), Pengantar psikologi Abnormal, Refika Aditama, Bandung.
Jhon McLEOD, (2006) Pengantar Konseling, teori dan studi kasus, Kencana Predana Media Group, Jakarta.
Norman D Sundberg, at.all, (2007) Psikologi Klinis, teori, praktik, dan penelitian, Pustaka pelajar, Yogyakarta.
Winkel, (1995) Bimbingan dan Konseling di institusi pendidikan, Gramedia widiasarana, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: