Persepsi Guru Terhadap Kemampuan Mahasiswa PPL Dalam Penyusunan RPP KTSP di SLB Kota Padan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dunia pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam menumbuhkan sikap mandiri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut. Untuk itu diperlukan upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: sarana prasarana, lingkungan pendidikan, menejemen pendidikan, dana dan tenaga pendidik. Kualitas tenaga pendidik mempunyai peranan yang relatif besar dalam peningkatan kualitas pendidikan, karena tenaga pendidiklah yang berhadapan langsung dengan peserta didik, mengelola kelas, membimbing siswa dan memberikan ilmu pengetahuan.
Universitas Negeri Padang sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ikut ambil bagian dalam menghasilkan tenaga-tenaga guru yang berkualitas. Ditegaskan dalam buku Pedoman Universitas Negeri Padang yang pada intinya memuat bahwa UNP mempunyai tujuan untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang tepat dan dapat mengembangkan kemampuan personal, profesional dan sosial yang berlandaskan kepada ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk mencapai hal tersebut, maka UNP menyelenggarakan Program Pengalaman Lapangan Kependidikan yang merupakan mata kuliah dengan bobot 6 SKS dan harus diselesaikan oleh semua mahasiswa program studi kependidikan Strata Satu (S1). Dalam Program Praktek Lapangan Kependidikan ini mahasiswa dikirim ke sekolah-sekolah untuk mengaplikasikan semua pengetahuan yang diperoleh selama di perkuliahan, baik tentang rencana pelaksanaan pembelajaran maupun tentang teknik-teknik dalam pembelajaran. Hal ini juga dikemukakan dalam goching pelaksanaan Program Praktek Lapangan Kependidikan yang berisikan bahwa:
“Program Praktek Lapangan Kependidikan bertujuan untuk melatih mahasiswa agar memiliki kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dalam situasi nyata, baik untuk kegiatan mengajar maupun tugas-tugas non mengajar”

Untuk itu mahasiswa yang melaksanakan program Praktek Lapangan Kependidikan dituntut untuk dapat menguasai kompetensi guru, sehingga dapat menjalankan tugas yang diberikan dengan baik. Mengajar merupakan salah satu hal yang komplek, yang menuntut penguasaan berbagai pengetahuan dan keterampilan, disamping penghayatan terhadap sikap, nilai-nilai dan wawasan yang relevan dengan tugas tersebut. Oleh sebab itu pengajaran yang efektif dapat dilaksanakan, apabila telah memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. seperti; merencanakan pengajaran, menuliskan tujuan pelajaran, menyajikan pelajaran, memberikan pertanyaan kepada siswa, mengajarkan konsep, berkomunikasi dengan siswa, mengamati kelas, mengelola kelas, mengevaluasi hasil belajar siswa. Selain itu perlu dikuasai dan pengkombinasian prinsip-prinsip pengajaran khusus guna sukses dalam pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus.
Keterampilan-keterampilan tersebut harus dijadikan milik pribadi dan dapat direalisasikan dalam mengajar, karena mengajar menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang mempengaruhi tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dengan demikian seorang guru harus mampu melakukan unjuk praktek lapangan kependidkan yang baik, sehingga dapat mewujudkan proses belajar mengajar yang baik pula bagi peserta didik.
Di bidang kompetensi sosial, seorang guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi sosial, baik dengan siswa, guru, kepala sekolah bahkan dengan masyarakat. Berdasarkan hasil pra survey juga diperoleh data bahwa ada mahasiswa yang kurang bisa menciptakan hubungan yang baik dengan guru, maupun pihak sekolah lainnya. Hal ini sesuai pernyataan guru tentang mahasiswa yang hanya duduk-duduk di posko pada saat tidak mengajar dan tidak tampaknya komunikasi efektif antara mahasiswa PPL dengan Guru sehingga nantinya dapat menghambat proses komunikasi masukan dari guru. Padahal seorang guru nantinya seharusnya mempunyai kemampuan untuk menjalin komunikasi dan bersosialisasi dengan baik.
Selanjutnya, keterampilan guru profesional yang pertama dilakukan adalah merancang pembelajaran melalui rencana program pembelajaran. Meskipun telah dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas mahasiswa kependidikan, namun pada kenyataannya masih terdapat beberapa kekurangan. Seorang guru dituntut untuk dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik, karena perncanaan yang baik sangat mempengaruhi kualitas dalam mengelola pembelajaran.
Layaknya pembelajaran yang baik, dengan adanya kompetensi-kompetensi yang ada pada kurikulum tingkat satuan pendidikan maka pembelajaran menjadi inovatif dan terarah. Dalam pelaksanaannya masih ada mahasiswa PPL yang tidak dapat memenuhi kompetensi ini. Dalam prakteknya rencana pelaksanaan pembelajaran harus memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar, hal ini tentunya telah disesuaikan dengan standar nasional pendidikan. Berdasarkan hasil pra survey, guru yang mengajar di SLB mengemukakan bahwa ada sebagian praktek mengajar mahasiswa PPL yang tidak sesuai dengan acuan RPP baik dalam mengembangkan kurikulum maupun isi. Sebagai contoh pada saat menerangkan materi ajar dalam proses belajar mengajar mahasiswa PPL belum dapat mengembangkan materi secara tematik. Masih ada mahasiswa yang belum paham, Hal tersebut berdampak terhadap pendidikan dan terhadap peserta didik juga akan berpengaruh terhadap nama baik almamater.
Selanjutnya mahasiswa yang melaksanakan program praktek lapangan menyatakan bahwa banyak hal yang menyebabkan terganggunya kelancaran proses belajar mengajar. Salah satu hal tersebut adalah mahasiswa sering mengalami kebingungan pada saat berkonsultasi dengana guru tentang bentuk isi RPP, terdapat keberagaman pendapat tentang bentuk isi RPP. Selain itu mengenai hal penggunaan media pendidikan, secara teoritis guru dituntut dapat menggunakan bermacam-macam media pendidikan. Hal tersebut bertujuan untuk dapat mempermudah pemahaman siswa. Namun kenyataannya di lapangan masih sulit diwujudkan dengan sempurna. Pada umumnya yang menjadi penyebab permasalahan tersebut adalah keterbatasan fasilitas, keterbatasan penggunaan tekhnologi dan dana yang tersedia dari pihak sekolah.
Hal ini tidak boleh terus berlanjut, karena mahasiswa kependidikan tersebut nantinya akan menjadi guru yang akan terjun langsung di lingkungan masyarakat dan merupakan orang yang akan mendidik generasi penerus bangsa khususnya bagi anak luar biasa. Dengan demikian kualitasnya akan mempengaruhi kualitas tenaga kependidikan di masa depan. Selain itu, kompetensi mengajar yang dimiliki guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Apalagi selama pelaksanaan program praktek lapangan kependidikan hampir sebagian besar pembelajaran dikelola oleh mahasiswa PPL.
Berdasarkan permasalahan di atas dimana guru sebagai orang yang lebih banyak terlibat dan berhubungan langsung disaat mahasiswa PPL mengajar, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan persepsi guru dalam penyusunan RPP KTSP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek. Yang dilakukan melalui penyebaran angket terhadap guru-guru yang ditunjuk sebagai lokasi PPL mahasiswa PLB.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan yang ada, yaitu:
1. Masih adanya mahasiswa PPL PLB UNP yang belum mampu mengembangkan indikator dengan baik.
2. Masih adanya mahasiswa PPL FIP UNP yang belum mampu mengembangkan materi secara tematik.
3. Masih adanya mahasiswa PPL PLB UNP yang belum mampu menggunakan metode pengajaran dengan baik dan tepat guna.
4. Masih rendahnya pemanfaatan media pengajaran yang bersifat inovatif.
5. Kemampuan menggunakan tematik mahasiswa masih rendah

C. Batasan Masalah
Mempertimbangkan keterbatasan yang penulis miliki antara lain dari segi waktu, tenaga, pengalaman dan agar penelitian ini lebih terfokus maka penulis membatasi penelitian pada masalah unjuk praktek lapangan kependidkan mahasiswa PPL PLB UNP dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran di SLB praktek menurut persepsi guru kelas SLB praktek Tahun 2008/2009.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas maka dirumuskan masalah yakni masalah unjuk kerja mahasiswa PPL PLB UNP menurut persepsi Guru SLB praktek ditinjaui dari:
1. Bagaimana penentuan materi ajar?
2. Bagaimana penggunaan metode mengajar yang akan diterapkan?
3. Bagaimana penggunaan tematik mahasiswa?

E. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi guru SLB praktek dalam penyusunan RPP KTSP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek tentang unjuk praktek lapangan kependidkan mahasiswa PPL PLB UNP di tinjau dari perencanaan pengajaran maka pertanyaan yang diajukan berupa; bagaimana persepsi guru terhadap kemampuan mahasiswa PPL dalam penyusunan RPP KTSP di SLB Kota Padang?
F. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan:
1. Kemampuan mahasiswa PPL PLB UNP menurut persepsi guru SLB praktek dalam penentuan materi ajar.
2. Kemampuan menggunakan metode mengajar mahasiswa PPL sesuai dengan kondisi siswa menurut persepsi guru SLB praktek.
3. Kemampuan menggunakan tematik mahasiswa PPL PLB UNP menurut persepsi guru SLB praktek

G. Manfaat Penelitian
Adapun Penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengajaran, sehingga bermanfaat dalam mengetahui:
1. Penentuan materi ajar.
2. Penggunaan metode mengajar.
3. Penggunaan tematik dalam proses pembelajaran.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Persepsi
Persepsi berasal dari bahasa latin; percipere; perceptio yang berarti penyimpulan, penerimaan, pandangan, pengertian (Komaruddin, 2000). Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) mengemukakan pengertian persepsi: “Tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya”.
Dari pendapat di atas persepsi dapat diartikan gambaran seseorang tentang suatu objek. Selain itu persepsi dapat juga diartikan dengan bagaimana seseorang mengamati dan memandang situasi atau keadaan tertentu. Dalam memandang atau mengamati sesuatu, setiap individu mempunyai perbedaan. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi persepsi tersebut antara lain: usia, latar belakang pendidikan, dan pengetahuan.

B. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Berkembangnya demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan dari pengelolaan sentralistik menjadi desentralistik. Hal ini tidak terlepas dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang pemerintahan daerah dan dilanjutkan dengan pelaksanaan otonomi daerah memberikan peluang yang cukup luas pada daerah untuk menentukan kebijakan-kebijakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah masing-masing termasuk penyelenggaraan pendidikan. Implikasi dari kebijakan tersebut berdampak pada desentralisasi kurikulum, sebagai mana diketahui bahwa kurikulum merupakan substansi pendidikan yang sangat penting.
Desentralisasi kurikulum ini menuntun pada pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran sehingga memungkinkan tiap-tiap sekolah untuk merancang dan mengembangkan pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah masing-masng.
Tim Pustaka Yustisia (2007:151) mengemukakan bahwa “silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indiator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.
Berdasarkan silabus dengan mudah guru dapat membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.
Adapun contoh RPP yaitu: BSNP (2006:27) sebagai berikut;
Nama Sekolah : SLB B Cempaka Putih
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : D1/I
Alokasi Waktu : 4 Jam Pelajaran
Tahun Pelajaran : 2006/2007

I. Standar Kompetensi
Siswa mampu memahami hubungan antara bagian alat tubuh makhluk hidup dengan fungsinya dan memahami bahwa beragam makhluk hidup memiliki daur hidup yang berbeda.
II. Kompetensi Dasar
Mencari hubungan antara bagian alat tubuh dengan fungsinya pada makhluk hidup.
III. Materi Pokok
• Rangka mansia, fungsi dan pemeliharaannya
• Alat indera manusia, fungsi dan pemeliharaannya
• Jenis makanan hewan
• Bagian-bagian tumbuhan.
IV. Indikator
• Menjelaskan kegunaan rangka
• Mempraktekan sikap tubuh untuk menjaga bentuk rangka, cara duduk, berdiri dan cara tidur
• Mencari informasi tentang penyakit yang berkatan dengan rangka
• Mengidentifikasi alat indera manusia berdasarkan pengamatan
• Menjelaskan kegunaan alat indera
• Mencari informasi kelainan alat indera yang disebabkan oleh kebiasaan buruk
• Memberi contoh cara merawat alat indera
V. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran belangsung, siswa mampu:
• Menjelaskan kegunaan rangka
• Mempraktekan sikap tubuh untuk menjaga bentuk rangka, cara duduk, berdiri dan cara tidur
• Mencari informasi tentang penyakit yang berkatan dengan rangka
• Mengidentifikasi alat indera manusia berdasarkan pengamatan
• Menjelaskan kegunaan alat indera
• Mencari informasi kelainan alat indera yang disebabkan oleh kebiasaan buruk
• Memberi contoh cara merawat alat indera
VI. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1. Tanya jawab tentang tubuh manusia yang terdiri dari rangka sebagai penyangga
2. Menggali pengalaman siswa
B. Kegiatan Inti
1. Menjelaskan bagian-bagian rangka manusia dan kegunaanny
2. Mendemonstrasikan cara duduk, berdiri, dan tidur yang baik sebagai cara untuk memelihara rangka
3. Mendiskusikan hasil demonstrasi
4. Mendiskusikan tentang penyakit yang berkaitan dengan rangka
5. Menyimpulkan dan membuat daftar tentang penyakit yeng berkaitan dengan rangka
C. Kegiatan Akhir
1. Tes Lisan
2. Tugas pengamatan (cara posisi duduk, berdiri, dan tidur yang baik.
VII. Alat dan Sumber
VIII. Penilaian
Penilaian kinerja secara lisan, tertulis dan praktek
Tes Lisan
Soal
1. Sebutkan bagian-bagian rangka manusia?
2. Sebutkan kegunaan rangka manusia?
3. Bagaimana posisi duduk dan berdiri yang baik?
4. Bagaimana cara memelihara rangka?
Lembar Kerja Siswa
Tugas pengamatan
Lakukan sikap duduk, berdiri, dan tidur dengan cara berpasangan dan amati/tulis hasil pengamatan pada kolom yang tersedia.
No Posisi/Sikap Hasil Pengamatan
1 Duduk . . . . . .
2 Berdiri . . . . . .
3 Tidur . . . . . .

Tim Pustaka Yustsia (2007:152) mengemukakan bahwa langkah-langkah pengembangan silabus :
1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar
2. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran
3. Mengebangkan kegiatan pembelajaran
4. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi
5. Penentuan jenis penilaian
6. Menentukan alokasi waktu
7. Menentukan sumber belajar

C. Program Praktek Lapangan Kependidikan
Program Praktek lapangan kependidikan merupakan perkuliahan dengan bobot 6 SKS yang harus diambil oleh mahasiswa program studi kependidikan (S1). Tujuan pelaksanaan program praktek lapangan kependidikan adalah untuk melatih mahasiswa agar dapat bertugas layaknya seorang tenaga kependidikan. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi kegiatan mengajar dan kegiatan non mengajar. Kegiatan mengajar merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses pengajaran peserta didik, yaitu mengajar di kelas dengan menguasai segenap kemampuan yang harus dikuasai, Kunandar (2007: 75) mengemukakan bahwa kompetensi yang harus dikuasi setiap guru dibedakan dalam: 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi profesional, 4) kompetensi sosial. (Raka, 1983: 24) mengemukakan tentang unjuk praktek lapangan kependidikan yang harus mampu dilakukan oleh seorang guru yang meliputi; 1) perencanaan pengajaran, 2) pengelolaan kelas, 3) penggunaan metode mengajar dan 4) pelaksanaan evaluasi. Sedangkan kegiatan non mengajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pendidikan. Kegiatan mengajar tersebut dapat berupa kegiatan administrasi di bagian tata usaha sekolah, kegiatan administrsi di perpustakaan, menjadi guru piket harian serta kegiatan pembinaan ekstra kurikuler sekolah. Mahasiswa PPL diharapkan dapat melaksanakan tugas-tugas mengajar dan non mengajar tersebut dengan baik. Dengan demikian diharapkan betul-betul dapat menjadi tenaga kependidikan yang profesional.
Program praktek lapangan kependidikan ini dilakukan dua periode selama satu tahun, yaitu periode Juli-Desember dan periode Juli-Desember. Tempat pelaksanaannyapun hampir merata di semua Kabupaten di Sumatera Barat.
SLB Negeri 2 Padang, SLB Wacana Asih, SLB YPAC, SLB YPPLB, SLB N Sicincin merupakan SLB Negeri maupun Swasta yang ada di Sumatera Barat yang memiliki latar belakang sebagai sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Sekolah ini berada di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Sekolah ini merupakan beberapa tempat pelaksanaan PPL mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP.
D. Hakekat Pendidikan Luar Biasa
Dalam pendidikan luar biasa berarti pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari dari anak dengan kelainan. Pendidikan luar biasa diibaratkan seperti kendaraan umum bertaraf standarisasi dimana siswa berkebutuhan khusus bebas mengenyam pendidikan di SLB maupun di sekolah reguler tentunya dengan setting inklusif.
Adapun siswa yang diidentifikasi berkebutuhan khusus yang menjadi cakupan bidang pendidikan luar biasa adalah:
1. Anak dengan ketunanetraan
Nakata (2003) dalam Rahardja (2006) …tunanetra adalah mereka yang mempunyai kombinasi ketajaman penglihatan hampir kurang dari 0.3 (60/200) atau mereka ynag mempunyai tingkat kelainan fungsi penglihatan yang lainnya lebih tinggi, yaitu mereka yang tidak mungkin atau kesulitan secara signifikan untuk membaca tulisan dan ilustrasi awas meskipun dengan mempergunakan alat bantu kaca pembesar.
2. Anak dengan ketunarunguan
Rahardja (2006) Tunarungu adalah istilah umum yang dipergnakan untuk menggambarkan semua tingkat dan jenis kehilangan pendengaran dan ketulian. Seseorang biasanya dikatakan tuli apabila dia tidak mampu untuk menerima suara bicara dan perkembangan bahasanya sendiri terganggu.
3. Anak dengan ketunagrahitaan
Direktorat PLB (2004) dalam Rahardja (2006) tuna grahita adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.
4. Anak dengan ketunadaksaan
Direktorat PLB (2004) dalam Rahardja (2006) tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi,otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus.
5. Anak dengan ketunalarasan
Direktorat PLB (2004) dalam Rahardja (2006) Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteran dirinya maupun lingkungannya.
6. Anak dengan kesulitan belajar
Munawir (1997:10) adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikolgis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut beresiko tinggi tinggal kelas.
7. Anak dengan kelainan kurang perhatian dan hiperaktifitas (ADHD)
Santrock (2002) dalam buletin mengemukakan ADHD sebagai suatu kelainan berupa rentan perhatian yang pendek, perhatian mudah beralih dan tingkat kegiatan fisik yang tinggi.
8. Anak dengan kelainan bicara dan bahasa
Setyono (1998:43) kelainan bahasa dan bicara yang digolongkan sebagai kelainan prilaku komunikasi, terjadi akibat adanya penyakit, gangguan atau kelainan fisik, psikis, atau sosiologis. Hal ini timbul pada masa sebelim (pranatal), saat lahir(natal), setelah lahir (pascanatal).
9. Anak dengan autisme
American Psychiatic Association (2000) autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.

E. Kerangka Konseptual
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan praktek lapangan kependidikan mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP periode Januari-Juni 2009 khususnya dalam penyusunan RPP menurut persepsi guru. Sekurang-kurangnya terdapat 3 Sub inti yang tercakup dalam RPP dalam merancang RPP. Dari indikator di atas, dapat digunakan guna mengetahui penilaian guru terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran mahasiswa praktek lapangan kependidikan. indikator yang menjadi acuan dalam penilaian adalah merencanakan pengajaran yang meliputi menentukan materi ajar, menetukan metode mengajar, dan penggunaan tematik dalam PBM. Kerangka konseptual tersebut dapat dilihat dalam diagram berikut ini.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Russefendi (1994:30) mengemukakan: “Menurut metodenya, penelitian dapat dikelompokkan kedalam penelitian: sejarah, deskriptif, korelasional, kausal komparatif, percobaan dan kuasi percobaan”. Selanjutnya ia menjelaskan: “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan observasi, wawancara, atau angket mengenai keadaan sekarang ini, mengenai subjek yang sedang kita teliti”. Sehubungan dengan hal ini, Margono (1997:8) mengemukakan: “Penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu”.
Kedua pendapat tersebut didukung oleh Sudjana (1989:64) yang mengemukakan:
“Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa dan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa sekarang. Dengan kata lain penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian diadakan”.

Berdasarkan ketiga pendapat di atas, maka penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif yang akan mendeskripsikan pendapat guru SLB dalam penyusunan RPP KTSP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek.

B. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari satu varabel, yaitu persepsi guru-guru SLB terhadap RPP mahasiswa PPL di SLB praktek.
C. Defenisi Operasional Variabel
RPP yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan bagian dari pendalaman sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh dimasing-masing satuan pendidikan. RPP yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indiator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Aspek-aspek yang diukur dari RPP ini adalah persepsi dari guru-guru SLB terhadap pembuatan RPP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek.

D. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SLB yang terdaftar pada tahun ajaran 2008/2009 dan sampel dalam penelitian ini adalah SLB yang di pakai menjadi sekolah praktek pogram praktek lapangan yang terdiri dari. Pada tabel berikut ini
No Populasi Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25 SLB N 1 Padang
SLB N 2 Padang
SLB Aisyiah Padang
SLB Muhammadiyah ngl
SLB YPPA
SLB YPAC
SLB Wacana Asih
SLB Perwari
SLB Karya Padang
SLB Fan Reda
SLB Luki
SLB Karya Padang
SLB Amanah Padang
SLB Hikmah
SLB Alhidayah
SLB Gema Insani
SLB Bina Bangsa
SLB Work Shop Padang
SLB Almujadilah
SLB Alif
SLB Salsabila
SLB Autis Mitra Ananda
SLB Limas
SLB Bima
SLB Bakti SLB N 2 Padang
SLB Wacana Asih
SLB YPAC
SLB YPPLB
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Marlina (2004) mengemukakan angket adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung menjumpai responden di SLB praktek dengan memberikan seperangkat angket sebagai alat pengumpulan data dan responden langsung mengisinya.

F. Instrumen Penelitian
1. Bentuk Instrumen
Instrumen yang digunakan disusun menuerut pola skala Likert, skala dalam bentuk gradasi yang terdiri dari lima kategori dan pernyataan angket bersifat positif dan negatif. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Pernyataan Sikap Sifat Pernyataan
Positif Negatif
Selalu (SL)
Sering (S)
Kadang-kadang (KK)
Tidak Pernah (TS)
Tidak Pernah Samasekali (STS) 5
4
3
2
1 1
2
3
4
5

2. Penyusunan Instrumen
Langkah penyusunan instrumen dalam penelitian ini adalah: a) pembuatan kisi-kisi berdasarkan indikator, b) menyusun pernyataan sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Penyusunan angket diusahkan mempertimbangkan kemudahan pengisisan objek penelitian. Kisi-kisi instrumen yang disusun dapat dilihat pada lampiran.

3. Uji Coba Instrumen
Uji coba dilakukan untuk mengetahui apakan instumen yang digunakan tersebut benar-benar valid (sahih) dan reliabel (handal). Validitas instrumen adalah kemampuan suatu alat ukur mampu mengukur apa yang harus diukur. Sedangkan reliabel adalah kemampuan suatu alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten dalam waktu dan tempat yang berbeda. Juga untuk mengetahui pemahaman responden terhadap butir-butir pernyataan. Untuk melakukan uji coba, prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1) penentuan responden uji coba, 2) pelaksanaan uji coba dan 3) analisis data hasi uji coba.
1. Responden uji coba
Responden uji coba adalah guru kelas SLB N 1 Padang yang berada diluar sampel. Uji coba dilakukan kepada 10 guru.
2. Pelaksanaan uji coba
Uji coba data instrumen dilakakan di SLB N 1 Padang dengan menjumpai langsung responden di kelas dan memberikan seperangkat angket untuk di isi dan tidak diperbolehkan untuk di bawa pulang.
3. Analisis data hasil uji coba
Dengan uji coba ini akan diperoleh butir-butir instrumen yang sesungguhnya, sehingga diperoleh butir-butir yang layak untuk dijadikan alat ukur. Layak atau tidaknya alat ukur tersebut dapat diketahu dengan uji validitas dan reliabilitas.
a. Uji validitas
Uji kesahihan instrumen dilaksanakan untuk mengetahui tingkat ketepatan instrumen yang digunakan. Pengujian instruemn ini dilaksankan dengan menggunakan validitas konstrak (Content validity) untuk angket. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunkan expert judgement (meminta pertimbangan ahli, dalam hal ini kepada dosen pembimbing) sehingga diperoleh penentapan butir-butir angket yang baik.
b. Uji Reliabilitas
Angket yang digunakan dalam penelitian ini disamping harus sahih juga harus handal. Adapun cara-cara yang ditempuh untuk menguji kehandalan instrumen ini adalah dengan menggunakan rumus alpha, karena menurut Suharsimi (1998: 192) untuk mencari reliabilitas soal dalam bentuk angket digunakan rumus alpha. Rumus ini digunakan dengan menggunakan bantuan program SPSS (Stastical Package for Social Sciences) 11. 5 for windows.
Rumus alpha yang dikemukan Suharsimi (1998: 1993) adalah:

Keterangan:
r11 = reliabilitas instrument
k = banyaknya butir pernyataan atau banyaknya soal
Σσb2 = jumlah varian butir
σ12 = varial total
Sebagai tingkat reliabilitas soal digunakan yang dikemukan oleh Slameto (1995: 215). Dapat dilihat pada table berikut:
No Indek reliabiltas Klasifikasi
1.
2.
3.
4.
5. 0,00 – < 0,20
0,20 – < 0,40
0,40 – < 0,60
0,60 – < 0,80
0,80 – < 1,00 Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

Setelah dilakukan ujicoba angket untuk mengetahui validitas dan realibilitas maka diperoleh angket yang gugur. Keseluruhan item yang gugur tidak dibuang, tetapi diperbaiki redaksi kalimatnya agar responden lebih mudah memahami isi kalimat tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa angket ini reliable dan layak untuk dijadikan instrument penelitian.

G. Teknik Analisis Data
Data penelitian ini diolah dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Verivikasi data, dilaksanakan dengan mengecek apakah semua data sudah terkumpul dan telah lengkap diisi oleh responden.
2. Mentabulasi data, dengan cara menghitung frekwensi dari masing-masing alternatif jawaban yang diberikan oleh responden.
3. Menghitung mean (rata-rata) dengan rumus yang dinyatakan Sudjana (1989: 66) sebagai berikut:

Keterangan:
M = mean (rata-rata)
Fi = frekwensi jawaban
Xi = alternatif jawaban
Untuk menginterpretasi nilai mean yang diperoleh maka harga mean dari perhitungan di atas disesuaikan dengan tabel harga mean berikut ini.
Nilai Rata-rata Keterangan
4,20 – 5,00
3,40 – 4,19
2,60 – 3,39
1,80 – 2,59
1,00 – 1,79 Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

DAFTAR PUSTAKA

BSNP. 2006. Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Cooper,, James. 1977. Clasroom Teaching Skill. Lexitong Mass: D.C Health & Co
Depdikbud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Komaruddin. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara
Kunandar. 2007. Kompetensi Guru. Jakarta. Rajagrafindo Persada
Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Marlina. 2004. Penelitian Kuantitatif. Padang:Proyek Peningkatan UNP Padang.
Munawir, dkk. 1997. Paket Penanganan Siswa Berkesulitan Belajar Untuk Guru, Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah Dasar. Jakarta: Pusbang Kurrandik.
Ruseffendi. 1994. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-eksakta Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Pers.
Rahardja. 2006. Pengantar Pendidikab Luar Biasa. Criced: University of Tsukuba.
Slameto. 1995. (Edisi Revisi). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Setyono Bambang. 1998. Terapi Wicara Untuk Praktisi Pendidikan & Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rajawali.
Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Penyusunan KTSP Lengkap (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) SD, SMP dan SMA. Jogjakarta: Pustaka Yustisia
Marlina (Santrock,2002). Apa dan Bagaimana ADHD. Buletin Warta Inklusif, 3

Kisi-kisi Penelitian
Persepsi Guru Terhadap Kemampuan Mahasiswa PPL Dalam Penyusunan RPP KTSP di SLB Kota Padang.

Variabel Indikator Deskriptor Item Tekhnik Pengumpulan Data Instrumen Sumber Data
Persepsi Guru terhadap Mahasiswa PPL PLB UNP di SLB Kota Padang 4. Penggunaan materi ajar.

5. Penggunaan metode mengajar.

6. Penggunaan tematik dalam proses pembelajaran. 1) Mengacu pada Kompetensi Dasar
a. Fakta
b. Konsep
c. Prinsip
d. Prosedur
e. Aspek
f. Sikap
g. Psikomotor
2) Kedalaman materi

1) Ketepatan metode
a) Penyesuaian kondisi
b) Penyesuaian materi
2) Variasi metode
a) Ceramah
b) Tanya jawab
c) Diskusi
d) Penugasan
e) Bermain peran
f) Demonstrasi
g) Karya wisata

1) Konsentrasi pada tema
2) Keterkaitan satu tema antar mata pelajaran
3) Keterkaitan bahan ajar antar mata pelajaran
4) Pengoptimalan potensi siswa
5) Penekanan aspek menulis, membaca, berhitung serta nilai-nilai Teknik dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket Data bersumber dari responden yang mengisi angket

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: