Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

PENDEKATAN KONSELING MULTIKULTUR TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Januari 23, 2013

PENDEKATAN KONSELING MULTIKULTUR
DALAM MENDORONG PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. PENDAHULUAN.
I. Latar belakang
Konseling merupakan proses interaksi psikologis antara konselor dengan konseli dalam rangka memberikan bantuan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Kegiatan ini sudah berlangsung selama berabat-abat, sehingga secara perlahan berkembang menjadi salah satu cabang ilmu dan profesi. Pada mulanya konseling merupakan bagian dari psikologi sehingga penanganannya lebih banyak melibatkan aspek-aspek psikologis. Setelah menjadi salah satu cabang ilmu dan profesi tersendiri, Proses konseling melibatkan berbagai factor secara integral.
Diantara beberapa factor yang sangat penting dan mempengaruhi proses konseling adalah factor social budaya. Seiring berkembangnya paham globalisasi dan meningkatnya existensi konseling, interaksi konselor dan konseli tidak hanya terjadi dalam satu kultur, terapi dapat terjadi antara orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Untuk mengatasi perbedaan budaya antara konselor dan konseli, maka konselor perlu memahami latar belakang budaya dari konselinya. Dengan demikian selain memahami aspek-aspek psikologis dan teknik-teknik konseling, seorang konselor perlu memahami aspek-aspek budaya yang berbeda-beda.
Proses interaksi/konseling antara dua orang dengan latar belakang budaya yang berbeda dinamakan konseling multicultural. Sebagai ilmu baru konseling multikultural baru berkembang sekitar 20 tahun. Namun demikian konseling ini dirasakan lebih efektif, terutama jika konselor mampu mengadaptasikan teknik dan teori konseling dalam perspektif budaya dari konselingnya.
Salah satu kelompok khusus yang memerlukan bantuan atau layanan konseling adalah kelompok tunanetra. Sebagai kelompok yang memiliki masalah dan kekhususan, kelompok tunanetra memerlukan penanganan yang khusus pula. Dengan demikian konselor harus memahami kekhususan-kekhususan tersebut sebagai salah satu kultur atau sub-kultur dalam memberikan layanannya.
Untuk mengaplikasikan konseling multicultural dalam membantu tunanetra menanggulagi masalahnya, makalah ini akan menyajikan hakekat, konsep dasar, dan prinsip-prinsip konseling multiculturar serta aplikasinya dalam membantu tunanetra.

II. Tujuan
a. Memberikan gambaran tentang konseling multikultural
b. Menjadi stimulan untuk kajian yang lebih mendalam tentang konseling multikultural hingga dapat di aplikasikan dalam praktek konseling untuk memdorong kepribadian ABK
c. Dihasilkannya rumusan model konseling multikultural dalam memdorong perkembangan kepribadian ABK sesuai budaya Indonesia.

III. Bahan kajian
Berdasarkan teori yang sudah berkembang dan dilangsir berbagai buku, kajian tentang konseling multicultural sangatlah luas. Oleh karena itu kajian dari tulisan ini akan dibatasi dan difokuskan pada beberapa aspek. Adapun aspek yang lebih focus dalam tulisan ini meliputi :

a. Hakekat konseling Multikultural
b. Konsep dasar konseling Multikultural
c. Prinsip-prinsip Dasar Konseling Multikultural
d. Karakteristik konselor Multikultural
e. Hakekat Anak Berkebutuhan khusus ( ABK)
f. Masalah perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
g. Aplikasi konseling multicultural dalam mendorong perkembangan kepribadian ABK.
Tulisan ini akan diakhiri dengan kesimpulan yang merupakan intisari dari masing-masing aspek yang menjadi pembahasan.

B. PEMBAHASAN

a. Hakekat konseling Multikultural
Konseling lintas budaya merupakan hal baru. Ia baru popular kira-kira duapuluh tahun belakangan ini ( Padersen et al..,1981). Locke (dalam Brown et al, 1988) mendefinisikan konseling Multikultur sebagai bidang praktik yang (1) menekankan pentingnya dan keunikan (kekhasan)individu, (2) mengaku bahwa konselor membawa nilai-nilai pribadi yang berasal dari lingkungan kebudayaannya ke dalam setting konseling, dan (3) selanjudnya mengakui bahwa klien-klien yang berasal dari kelompok ras dan suku minoritas membawa nilai-nilai dan sikap yang mencerminkan latar belakang budaya mereka.
Dengan perkataan lain, ada tiga hal pokok yang menyangkut pengertian konseling multicultural. Pertama, individu itu penting dan has (unik), Kedua, waktu menjalankan konseling, konselor membawa nilai-nilai yang berasal dari lingkungan budayanya. Ketiga, klien dari kelompok minoritas etnik dan ras datang menemui konselor membawa seperangkat nilai dan sikap yang mencerminkan latar belakang budayanya.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa konseling multicultural merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap konsep dan budaya lain terutama bagi konselor agar dapat memberikan bantuan secara efektif sesuai perspektif budaya konseling.

b. Konsep dasar konseling Multikultural
Kajian menyangkut keragaman budaya dikenal beberapa istilah seperti cross cultur ( lintas budaya), intercultur ( antar budaya) dan multicultur ( multibudaya). Dalam konseling istilah multicultural atau multibudaya lebih sering digunakan karena mencerminkan kesetaraan dari masing-masing budaya dan menafikan keunggulan satu budaya pada budaya lain, (Pedersen,1988). Sebuah proses konseling dianggap sebagai konseling multicultural jika memenuhi situasi-situasi sebagai berikut :
- Apabila konselor dan konseli merupakan individu yang berbeda latar budayanya.
Konselor dan konseli dapat berasal dari satu ras yang sama, namun memiliki perbedaan dalam : jenis kelamin, usia, orientasi seksual, reregius, social ekonomi dan lain-lain, ( Sue et el, 1982) .
Draguns (1989), menawarkan point kunci dalam pelaksanaan konseling multicultural yaitu :
1. Teknik konseling harus dimodifikasi jika terjadi proses yang melibatkan latar belakang budaya yang berbeda.
2. Konselor harus mempersiapkan diri dalam memahami kesenjangan yang makin meningkat antara budayanya dengan budaya konseli pada saat proses konseling berlangsung.
3. Konsepsi menolong atau membantu harus berdasarkan pada perspektif budaya konseli, dan konselor dituntut memiliki kemampuan mengkomunikasikan bantuannya serta memahami distrees dan kesusahan konseli.
4. Konselor dituntut memahami perbedaan gejala dan cara menyampaikan keluhan masing-masing kelompok budaya yang berbeda.
5. Konselor harus memahami harapan dan norma yang mungkin berbeda antara dirinya dengan konseli.
Kelima aspek tersebut menunjukkan konselor sebagai actor utama dalam proses dituttut memiliki kemampuan dalam memodifikasi teknik konseling dan memahami aspek-aspek budaya dari konselinya serta memahami kesenjangan dan perbedaan antara budayannya dengan budaya konseli.

c. Prinsip-prinsip Dasar Konseling multikultural
Dalam melaksanakan konseling Multikultur pendapat beberapa prinsif yang harus dijalankan secara sinergis oleh konselor, konseli, dan proses konseling yang melibatkan kedua pihak secara timbal balik. Sebagai inisiator dan pihak yang membantu, konselor wajib memahami prinsip-prinsip tersebut dan mengaplikasikannya, dalam proses konseling. Adapun prinsip-prinsip dasar yang dimaksut adalah sebagai berikut :
1. Untuk konselor
- Kesadaran terhadap pengalaman dan sejarah dalam kelompok budayanya.
- Kesadaran tentang pengalaman diri dalam lingkungan arus besar kulturnya.
- Kepekaan perceptual terhadap kepercayaan diri dan nilai-nilai yang dimilikinya.
2. Untuk pemahaman konseli
- Kesadaran dan pengertian/pemahaman tentang sejarah dan pengalaman budaya konseli yang dihadapi.
- Kesadaran perceptual akan pemahaman dan pengalaman dalam lingkungan kultur dari konseli yang dihadapi.
- Kepekaan perceptual terhadap kepercayaan diri konseli dan nilai-nilainya.
3. Untuk proses konseling
- Hati-hati dalam mendengarkan secara aktif, konselor harus dapat menunjukkan baik secara verbal maupun nonverbal bahwa ia memahami yang dibicarakan konseli, dan dapat mengkomunikasikan tanggapannya dengan baik sehingga dapat dipahami oleh konseli.
- Memperhatikan konseli dan situasinya seperti konselor memperhatikan dirinya dalam situasi tersebut, serta memberikan dorongan optimisme dalam menemukan solusi yang realistis.
- Mempersiapkan mental dan kewaspadaan jika tidak memahami pembicaraan konseli dan tidak ragu-ragu memintak penjelasan. Dengan tetap memelihara sikap sabar dan optimis.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa prinsip-prinsip tersebut menuntut konselor dapat memahami secara baik tentang situasi budayanya dan budaya konseli, serta memiliki kepekaan konseptual terhadap respon yang diberikan konseli, sehingga dapat mendorong optimisme, dalam mendapatkan solusi yang realistis. Konselorpun harus memiliki sikap sabar, optimis dan waspada jika tidak dapat memahami pembicaraan konseli serta tidak ragu-ragu memintak penjelasan agar proses konseling berjalan efektif.

d. Karakteristik konselor multikultural
Untuk dapat melaksanakan proses konseling multikultural secara efektif, konselor multikultural dituntut memiliki beberapa kemampuan atau kopetensi.( Sue , 1978), menyebutkan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh konselor multicultural sebagai berikut :
1. Mengenali nilai dan asumsi tentang perilaku yang diinginkan dan tidak diingikan.
2. Memahami karakteristik umum tentang konseling.
3. Tanpa menghilangkan peranan utamanya sebagai konselor ia harus dapat berbagi pandangan dengan konselinya.
4. Dapat melaksanakan proses konseling secara efektif.
Selain ke empat aspek tersebut, dalam artikelnya 1981, Sue menambahkan beberapa kompetensi yang harus dimiliki konselor multicultural sebagai berikut :
1. Menyadari dan memiliki kepekaan terhadap budayanya.
2. Menyadari perbedaan budaya antara dirinya dengan konseli serta mengurangi efek negative dari perbedaan atau kesenjangan tersebut dalam proses konseling.
3. Merasa nyaman dengan perbedaan antara konselor dengan konseli baik menyangkut ras maupun kepercayaan.
4. Memiliki informasi yang cukup tentang cirri-ciri khusus dari kelompok atau budaya konseli yang akan ditangani.
5. Memiliki pemahamn dan keterampilan tentang konseling dan psikoterapi.
6. Mampu memberikan respon yang tepat baik secara verbal maupun non verbal.
7. Harus dapat menerima dan menyampaikan pesan secara teliti dan tepat baik verbal maupun non verbal.
Sebelas kompetensi yang menjadi karakteristik konselor multicultural seperti dikemukakaan Sue tersebut dapat disarikan dalam 3 aspek besar yaitu : Pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan demikian seorang konselor multicultural harus memiliki pengetahuan tentang teknik konseling dan social budaya , sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, serta keterampilan dalam memodifikasi teknik-teknik konseling secara efektif dalam latar budaya yang berbeda-beda. Menyangkut konselor Indonesia perlu pula memahami cirri-ciri khusus budaya dan sub budaya dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam serta mampu menjadikan keanekaragaman tersebut sebagai unsure persatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Selain memiliki keanegaragaman budaya dan kepercayaan dalam masyarakat Indonesia terdapat beberapa kelompok khusus lainnya. Salah satu kelompok yang dimaksud adalah kelompok penyandang cacat. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, kelompok ini memerlukan ruang dan pemberian kesempatan untuk dapat hidup wajar bersama masyarakat lainnya. Namun demikian , keunikan perilaku yang mereka tunjukkan, kendala yang mereka hadapi, dan diskriminasi yang mereka peroleh, menyebabkan kelompok penyandang cacat dinilai sebagai kelompok marjinal dan beban masyarakat.
Untuk menangulangi masalah tersebut, konseling dan multicultural dapat menjadi salah satu solusi. Oleh karena itu konselor multicultural perlu memiliki empati dan kompetensi dalam memberikan bantuan kelompok penyandang cacat sehingga dapat mendorong mereka berkiprah secara wajar ditengah masyarakatnya.

e. Hakekat Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus dulu disebut (anak luar biasa) didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna ( Hallahan dan Kauffman,1986). Anak luar biasa, juga dapat didefinisikan sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Anak luar biasa disebut sebagai anak yang berkebutuhan khusus, karena dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan social,layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.
Jenis-jenis layanan tersebut diberikan secara khusus kepada anak yang berkebutuhan khusus oleh pihak yang berkompeten pada setiap jenis layanan itu. Adapun yang termasuk pihak-pihak yang berkompeten dalam memberikan layanan pendidikan, social, bimbingan konseling, dan jenis layanan lainnya ialah para pendidik yang berijazah Pendidikan luar biasa, pekerja social, konselor/petugas bimbingan konseling, dan ahli lain yang relevan dengan jenis layanan yang diberikan kepada anak luar biasa.
Tujuan pendidikan dan pemberian layanan tersebut dimaksudkan untuk membentuk kepribadian ABK yang tangguh, sehingga dapat hidup wajar dan mandiri ditengah masyarakat dan lingkungannya. Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mendorong kepribadian ABK adalah melalui pemberian layanan konseling dengan pendekatan multicultural. Pendekatan ini dapat menjadi anternatif menginggat keunikan dan perbedaan karakteristik dan permasalan yang dihadapi ABK, terutama menyangkut perkembangan kepribadiaanya. Keunikan dan perbedaan tersebut dapat dianggap sebagai sebuah kultur, sehingga konseling multicultural merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk membantu ABK dalam mengembangkan kepribadiaannya.
f. Pengertian dan pola perkembangan kepribadian
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “ organisasi dinamik dalam diri individu yang tersusun dari system psikofisis yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”, dalam definisi tersebut tersirat pengertian penting, yaitu :(1) Dinamik, berarti kepribadian itu pada hakekatnya selalu berubah dan terungkap dalam bentuk kualitas tingkah laku. (2) organisasi, berarti bahwa kepribadian bukan hanya sekedar kumpulan sifat-sifat (trait) tetapi merupakan sifat-sifat yang mempunyai hubungan timbal balik. Bila hubungan timbale balik itu berubah, maka beberapa sifat menjadi dominan dan beberapa sifat menjadi lemah, dalam hal ini berhubungan dengan perubahan pada diri anak dan perubahan pada lingkungan. (3) system psikofisis dapat diartikan sebagai kebiasaan, sikap, keyakinan, keadaan emosional, perasaan, motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar neural dan glandular (syaraf dan kelenjar), maupun keadaan fisik secara keseluruhan. System ini berdasarkan pada factor keturunan yang berkembang melalui proses belajar anak melalui pengalaman-pengalamannya. System psikofisis ini merupakan daya penggerak yang menentukan penyesuaian diri anak. Karena pengalaman yang dialami anak berbeda-beda, penyesuaian yang dilakukan itu bersifat unik.
Pola kepribadian terdiri dari dua komponen, yaitu komponen inti yang disebut konsep diri dan komponen penunjang yang disebut sifat (trait). Pola kepribadian orang normal dan yang abnormal dibedakan berdasarkan derajat organisasinya. Pola kepribadian yang normal terorganisasi, komponen-komponennya menunjukkan hubungan yang erat dan berstuktur, sedangkan kepribadian orang abnormal menunjukkan disorganisasi.
Stabilitas konsep diri seseorang tergantung dari beberapa hal anatara lain: (1) perlakuan yang tidak konsisten yang menyebabkan perbedaan perlakuan di dalam keluarga dan perlakuan diluar keluarga, dan (2) kesenjangan antara konsep diri dan riil dan konsep yang dicita-citakan.
Komponen kepribadian terdiri dari konsep diri dan sifat (trait). Konsep diri dibedakan menjadi: konsep diri yang riil (siapa dia yang sesungguhnya), yang ada dalam kenyataan; dan konsep diri yang ideal (gambaran diri yang diinginkan seseorang). Konsep diri ini mempunyai aspek psikologis dan aspek fisik. Aspek fisik terdiri atas konsep individu mengenai penampilan dirinya, keselarasan penampilan jenis kelaminnya, hubungan antar tubuhnya dalam hubungan dengan manusia lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep individu mengenai kemampuan dan ketidakmampuannya, arti dirinya dan hubungan dirinya dengan orang lain . pada awalnya kedua aspek ini terpisah namun dengan berkembangnya seorang anak, kedua pihak ini akan menjadi suatu kesatuan.
Sifat merupakan kualitas tingkah laku atau pola penyesuaian diri yang bersifat spesifik seperti reaksi terhadap frustasi, cara untuk menyelesaikan masalah, tingkah laku penampilan diri atau menarik diri dalam pergaulan dengan orang lain. Trait terintegrasi dan dipengaruhi oleh konsep diri. Trait menunjukkan dua karakteristik, yaitu:
 Individualitas; terungkap dalam variasi kualitas sifat tertentu.
 Konsisten; yang terungkap dalam tingkah laku yang serupa yang dilakukan seseorang dalam situasi dan kondisi yang hamper sama.
Perkembangan pola kepribadian dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: pembawaan sejak lahir, pengalaman pada masa dini dalam keluarga, dan pengalaman dalam masa kehidupan selanjutnya. Dalam membicarakan perkembangan pola kepribadian akan dibicarakan secara terpisah:

Menurut Woodworth dan Marquis kepribadian adalah kualitas tingkah laku individu secara keseluruhan. ………..
g. Masalah perkembangan kepribadian ABK
Untuk mengetahui permasalah perkembangan kepribadian ABK, perlu dikemukakan klasifikasi ABK. Dalam pendidikan dunia luar biasa……….berbakat. namun demikian dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan masalah perkembangan kepribadian dari ABK yang mengalami gangguan atau ketunaan. Oleh karena itu pembahasan hanya akan difokuskan pada beberapa kelompok ABK sebagai berikut :

1. Perkembangan kepribadian anak tunanetra
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan sifat kepribadian antara anak tunanetra dengan anak awas. Ada kecenderungan anak tunnetra relative lebih banyak yang mengalami gangguan kepribadian dicirikan dengan introversi, neurotic, frustasi dan regiditas (kekakuan) mental. Namun demikian, disisi lain terdapat pula hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam hal penyesuaian diri antara anak yang tunanetra dengan anak awas. Dalam hal tes kepribadian dikemukakan pula bahwa tes-tes kepribadian yang sudah standarpun tidak secara khusus diperuntukkan bagi tunanetra. Situasi kehidupan yang berbeda antara anak tunanetra dengan anak awas seringkali menimbulkan tafsiran yang berbeda pula terhadap sesuatu yang diajukan.
Mengenai peran konsep diri dalam penyesuaian terhadap lingkungannya, Devis(Kirtley, 1975) menyatakan bahwa dalam proses perkembangan awal, diferensiasi konsep diri merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai. Untuk memasuki lingkungan baru, seorang anak tunanetra harus dibantu oleh ibu atau orang tuanya melalui proses komunikasi verbal, memberikan semangat, dan memberikan gambaran lingkungan tersebut sejelas-jelasnya seperti anak tunanetra mengenal tubuhnya.
Hasil penelitian lain juga menunjukan anak-anak tunanetra yang tergolong setengah melihat memiliki kesulitan yang lebih besar dalam menemukan konsep diri dibanding orang yang buta total. Kesulitan tersebut terjadi karena mereka sering mengalami konflik identitas dimana suatu saat ia oleh lingkunganya disebut anak awas tetapi pada saat yang lain disebut sebagai orang buta atau tunanetra. Bahkan seringkali ditemukan anak-anak tunanetra golongan ini mengalami krisis identitas yang berkepanjangan. Konsep diri adalah salah satu determinan dari perilaku pribadi, dengan demikian ketidakpastian konsepdiri anak tunanetra akan memunculkan masalah-masalah penyesuaian seperti dalam masalah seksual, hubungan pribadi, mobilitas,dan kebebasan. Ada kecenderungan pula bahwa anak-anak tunannetra setelah lahir akan lebih sulit menyesuaikan diri dibandingkan dengan tunanetra sejak lahir. Disamping itu, Sukini Pradopo (1976) mengemukakan gambaran sifat anak tunanetra diantaranya adalah ragu-ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain. Sedangkan Sommer menyatakan bahwa anak tunanetra cenderung memiliki sifat-sifat yang berlebihan, menghindari kontak social, mempertahankan diri dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui kecacatannya

2. Perkembangan kepribadian anak tunarunggu
Kepribadian pada dasarnya merupakan keseluruhan sifat dan sikap pada seseorang yang menentukan cara-cara yang unik dalam penyusaiannya dengan lingkungan. Oleh karena itu banyak ahli berpendapat perlu dihentikannya masalah penyesuaian seseorang agar kita mengetahui bagaimana kepribadiannya. Demikian pula anak tunarungu, untuk mengetahui keadaan kepribadiannya, perlu kita perhatikan bagaimana penyesuain diri mereka.
Perkembangan kepribadian banyak ditentukan oleh hubungan antara anak dan orang tua terutama ibunya. Lebih-lebih pada masa awal perkembangannya. Perkembangan kepribadian terjadi dalam pergaulan atau perluasan pengalaman pada umumnya dan diarahkan pada factor anak sendiri. Pertemuan antara factor-faktor dalam diri anak tunarungu, yaitu ketidak mampuan menerima rangsang pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktetapan emosi, dan keterbatasan inteligensi dihubungankan dengan sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya.
3. Perkembangan kepribadian anak tunagrahita
Pada anak terbelakang ringan, kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal, akan tetapi tidak sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan kegembiraan tetapi sulit mengungkapkan kekaguman.
Kanak-kanak dan penyesuaian sossial merupakan proses yang saling berkaitan. Kepribadian social mencerminkan cara orang tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Mc Iver dengan menggunakan Children’s Personality Questionare ternyata anak-anak tunagrahita mempunyai beberapa kekurangan. Anak tunagrahita pria memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap dingin, menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsive, lancing, dan merusak. Anak tunagrahita wanita mudah dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, dan cenderung melanggar ketentuan. Dalam hal lain, anak tunagrahita sama dengan anak normal. Kekurangan-kekurangan dalam kepribadian akan berakibat pada proses penyesuaian diri.
Dalam tingkah laku social, tercakup hal-hal seperti keterkaitan dan ketergantungan, hubungan kesebayaan, self concept, dan tingkah laku moral. Yang dimaksud dengan tingkah laku keterikatan dan ketergantungan adalah kontak anak dengan orang dewasa (orang lain). Masalah keterkaitan anak dan ketergantungan anak terbelakang telah diteliti oleh Zigler (1961) dan steneman (1962,1969).

4. Perkembangan kepribadian anak tunadaksa
Masalah-masalah kepribadian yang mendasar pada anak-anak tunadaksa sebenarnya sama dengan anak-anak yang mempunyai keadaan fisik yang normal. Namun demikian ketunadaksaan merupakan suatu variabel psikologis yang berarti.
Pada anak-anak tunadaksa Nampak bahwa dalam hubungan social mereka berusaha untuk menyakinkan konsep diri dalam arti fisiknya dan juga berusaha untuk menyakinkan konsep diri yang disadarinya. Sehubungan dengan pandangan di atas, anak-anak tunadaksa mempunyai dua tipe masalah, yaitu:
(1) Masalah penyesuain diri yang mungkin terjadi pada kemajuan perkembangan yang normal yang dialami setiap individu yang pada saat bersaman juga berusaha untuk memperluas ruang gerak dirinya serta mempertahankan konsep diri (self concept) yang sudah dimilikinya.
(2) Masalah penyesuaian diri yang semata-mata merupakan gabungan dari kenyataan bahwa keadaan tunadaksa yang bersifat fisik merupakan hambatan yang terletak antara tujuan (goal) dan keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.
Semua aspek pertumbuhan dan perkembangan satu sama lain saling berhubungan dan memiliki ketergantungan satu sama lain. Aspek fisik merupakan salah satu dari berbagai aspek tersebut. Keadaan social anak tunadaksa akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian individu secara keseluruhan. Kondisi tunadaksa secara kesenimbungan mengubah dan memodifikasi beberapa atau bahkan mugkin semua dimensi perkembangan dalam berbagai taraf. Dengan demikian dapat dijelaskan rangkaian reaksi yang dimulai dengan kerusakan fungsi motorik akan diikuti dengan menurunnya perkembangan kognitif serta timbulnya tekanan emosional yang mengakibatkan kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Perkembangan kepribadian individu secara keseluruhan dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain :
a. Tingkat ketidakmampuan (kesulitan) akibat ketunadaksaan. Factor ketidak mampuan fisik sering menimbulkan hambatan psikologis bagi anak tunadaksa terutama jika dikaitkan dengan perilaku dan penerimaan orang normal disekitarnya.
Dreikurs mengungkapkan bahwa individu tunadaksa merumuskan responnya terhadap ketunadaksaan sesuai dengan ‘gaya hidupnya’. Gaya hidup ini menurut Adler terbentuk pada masa anak-anak melalui hambatan dan pengalaman yang dihadapi individu tersebut. Ketunadaksaan merupakan factor yang penting yang menentukan perkembangan kepribadian inividu.
Dengan demikian, yang menentukan perkembangan kepribadian individu bukan hanya factor pembawaan dan factor lingkungan, akan tetapi juga bagaimana individu yang bersangkutan mengartikan kedua factor tersebut.
b. Usia ketika ketunadaksaan itu terjadi, sampai batas tertentu berpengaruh terhadap laju perkembangan individu.
Ketunadaksaan yang dialami pada usia yang lebih besar akan menunjukkan efek yang lebih kecil terhadap perkembangan fisik, namun menimbulkan efek yang lebih besar pada perkembangan psikologis yang bersangkutan.
c. Nampak atau tidaknya kondisi tunadaksa, menunjukkan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian individu, terutama mengenai gambaran tubuhnya (body image).
Kecacatan fisik umumnya sangat mudah diketahui atau dilihat oleh orang lain, meskipun ada variasinya. Kelainan fisik tersebut ada yang menyolok tetapi ada juga yang tidak mudah terlihat oleh orang lain. Ada kesulitan yang begitu berat dan jelas sehingga mudah mengundang rasa kasihan, akan tetapi ada pula kelainan yang akibat kesulitannya tidak jelas. Factor Nampak dan tidaknya kelainan ini memiliki pengaruh yang demikian besar dalam menentukan sikap lingkungan terhadap anak tunadaksa maupun sikap anak tunadaksa terhadap lingkungannya.
Anak-anak tunadaksa pada umumnya menunjukkan sikap rendah diri, cemas, dan agresif. Hal demikian berhubungan dengan gambaran tubuh yang dimilikinya. Disamping itu pengaruh ketunadaksa terhadap perkembangan kepribadian individu ditentukan juga oleh nilai psikologis bagian tubuh yang mengalami kelainan tersebut.
d. Dukungan keluarga dan dukungan masyarakat terhadap anak tunadaksa memiliki pengaruh yang besar karena sikap keluarga dan masyarakat tersebut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak tersebut. Orang tua atau masyarakat yang menunjukkan sikap menolak akan mengakibatkan anak tunadaksa merasa rendah diri, merasa tidak berdaya, merasa tidak pantas, merasa frustasi, merasa bersalah, merasa benci, dan sebagainya.
Sepertinya telah dikemukakan bahwa dalam pembentukan self respect pada anak yang terpenting adalah menghargai anak dengan jalan menerima anak apa adanya sehingga anak merasa bahwa dirinya ada sebagai suatu pribadi/individu.
Tidak adanya self respect pada anak tunadaksa akan mengakibatkan mudah timbulnya ketegangan. Sedikit saja anak mengalami kesulitan maka ia akan merasa bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat ia hadapi.
e. Sikap masyarakat terhadap anak tunadaksa menunjukan pengaruh yang sangat menentukan terhadap perkembangan kepribadian individu yang bersangkutan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pandangan masyarakat dewasa ini yang memandang ukuran keberhasilan seseorang dari prestasi yang dicapainya. Keterbatasan yang disandang tunadaksa, yang menghambatnya untuk berprestasi seperti anak-anak normal dapat menimbulkan rasa tidak aman dan kecemasan yang mengganggu perkembangan kepribadian anak tersebut. Dalam menghadapi situasi seperti itu, anak-anak tunadaksa melakukan berbagai upaya menghindari tuntutan untuk berhasil dengan cara-cara yang masih dapat diterima oleh masyarakat. Tindakan seperti itu seringkali menimbulkan hambatan-hambatan terhadap perkembangan kepribadian anak. Misalnya dengan munculnya perasaan terpojok, tidak mempunyai kesempatan untuk meraih sukses, memiliki tujuan yang tidak relistik, dan sebagainya.
Penelitian Gelman menunjukan bahwa perlakuan stereotipik masyarakat terhadap anak-anak sering menimbulkan katakutan yang bersifat neurotic pada anak-anak tersebut.

h. Aplikasi konseling multicultural dalam mendorong perkembangan kepribadian anak Anak Berkebutuhan Khusus
Model bimbingan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus seyoknya……..,

1. Perkembangan kepribadian anak tunanetra.
Merujuk pada berbagai hasil penelitian, tidak terdapat perbedaan signifikan dalam perkembangan kepribadian anak tunanetra dengan anak awas. Perbedaan signifikan terdapat pada pengenalan konsep diri. Oleh karena itu konselor harus dapat mengkomunikasikan keadaan dan kondisi konseli yang tunanetra serta membantunya memasuki dunia atau lingkungan baru melalui pengenalan komunikasi verbal, pemberian semangat dan motivasi. Bagi tunanetra yang memiliki sisa penglihatan, pengenalan konsep diri lebih sulit lagi, karena adanya konflik identitas. Dalam hal ini konselor harus dapat mendorong anak tersebut untuk memfungsikan penglihatan yang masih tersiksa semaksimal mungkin, serta mempersiapkan yang bersangkutan untuk menghadapi kondisi berkurang dan atau bahkan hilangnya penglihatan. Pelatihan dan pembekalan ini selain melibatkan pemberian motivasi juga, melibatkan layanan terapi untuk memelihara penglihatan yang tersisa. Dengan cara demikian tunanetra tersebut akan dapat memaksimalkan penglihatannya selagi masih ada, dan tidak akan mengalami depresi ketika penglihatannya menurun bahkan hilang. Melalui konseling dan pelatihan yang tepat tunanetra dapat menjadi pribadi yang tangguh dan siap berkipra secara wajar ditengah masyarakatnya.
2. Perkembangan kepribadian anak tunarunggu
……..
3. Perkembangan kepribadian anak tunagrahita
Pada anak terbelakang……..

4. Perkembangan kepribadian anak tunadaksa

C. KESIMPULAN
1. Konseling multicultural merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap konsep dan budaya lain terutama bagi konselor agar dapat memberikan bantuan secara efektif sesuai perspektif budaya konseling.
2. Untuk dapat memberikan konseling multicultural secara efektif, konselor multicultural harus dapat memahami karakterbudaya dari konselingnya, serta merancang segala tindakan dalam perspektif budaya konseling.
3. Beberapa prinsip dasar yang harus disadari konselor dalam melaksanakan konseling multicultural antara lain :
a. Kesadaran tentang kemampuan konselor
b. Kesadaran tentang memahami konseli dan nilai-nilainya.
c. Kesadaran tentang kemampuan melaksanakan proses konseling yang mampu mendorong optimisme dan menemukan sulusi yang realistis.
4. Sebelas kompetensi yang menjadi karakteristik konselor multicultural seperti dikemukakaan Sue tersebut dapat disarikan dalam 3 aspek besar yaitu : Pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan demikian seorang konselor multicultural harus memiliki pengetahuan tentang teknik konseling dan social budaya , sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, serta keterampilan dalam memodifikasi teknik-teknik konseling secara efektif dalam latar budaya yang berbeda-beda. Menyangkut konselor Indonesia perlu pula memahami cirri-ciri khusus budaya dan sub budaya dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam serta mampu menjadikan keanekaragaman tersebut sebagai unsure persatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
5. Masalah dan dampak ketunanetraan dalam perkembangan emosi, social dan kepribadian dapat ditanggulangi melalui konseling multicultural sepanjang konselor memiliki kompetensi dalam konseling serta empati dan pemahaman yang benar terhadap tunanetra.

ABNORMALITAS PSIKOLOGI DAN PSIKOTERAPI DALAM KONTEKS MULTIKULTUR

Januari 23, 2013

ABNORMALITAS PSIKOLOGI DAN PSIKOTERAPI
DALAM KONTEKS MULTIKULTUR

Oleh
Nur Faizah Romadona

A. PENDAHULUAN
Salah satu tujuan utama psikologi adalah menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari riset untuk membantu orang yang menderita gangguan psikologis agar dapat hidup lebih efektif, produktif, dan bahagia. Hal yang paling utama adalah pertanyaan tentang definisi dari perilaku abnormal, dan bagaimana cara mendeteksi dan mengklasifikasikan perilaku abnormal tersebut (melakukan assessment dan diagnosis). Penilaian (assessment) yang tepat dan diagnosis psikopatologi merupakan langkah penting untuk membantu orang dengan gangguan mental memperbaiki hidup mereka melalui intervensi psikologis yaitu psikoterapi (Sue & Sue, 2003).
Dalam kaitan dengan penentuan definisi abnormalitas psikologi, budaya merupakan dimensi penting yang harus dimasukkan. Daniels, Arredondo dan D’Andrea (2001) menyatakan definisi kesehatan mental seharusnya ditentukan oleh latar budaya atau ras individu (Constantine, 2001). Dryden (1999) memperluas dictum Epictetus dengan menyatakan bahwa ”Seseorang tidak terganggu oleh peristiwa, melainkan pandangan yang kaku dan ekstrim terhadap peristiwa tersebut”. Dengan demikian dipercaya bahwa kekuatan lingkungan atau eksternal seperti rasism atau penindasan, dapat menyebabkan timbulnya gangguan emosi dan perilaku pada seseorang. (Weinrach & Thomas, 2002). Kurangnya pemahaman mengenai perilaku abnormal yang terikat budaya dapat menyebabkan overdiagnosis, underdiagnosis, atau misdiagnosis gejala, dengan konsekuensi yang berpotensi membahayakan individu (Matsumoto&Juang, 2008).
Dalam dunia yang beragam, pendekatan psikoterapi ternyata hanya efektif bagi sebagian orang, tapi tidak bagi orang lain, terutama yang keturunan non-Eropa (Matsumoto&Juang, 2008). Nystul (1999) juga menyatakan pendekatan psikoterapi seperti psikodinamika, humanistik, dan kognitif-perilaku telah dikritik karena gagal mempertimbangkan isu budaya unik dari klien dengan latar budaya yang beragam (Constantine, 2001). Ivey, Ivey, dan Simek-Morgan (1980) menyatakan bahwa “Konseling dan psikoterapi mengalami konseptualisasi di Barat dan bersifat individualistik. Para profesional konseling yang menggunakan teori dan pelatihan berdasarkan perspektif monokultur seringkali membuat asumsi bahwa suatu teori dapat diterapkan dalam semua populasi” (h. 89). Dengan demikian, menganggap konseling bersifat generik bagi semua kultur, bukannya memiliki kekhasan budaya, berlawanan dengan kemajuan klien dari kelompok minoritas.
Beberapa penulis (misalnya, Alarcon & Leetz, 1998; Wohl, 1989) mengusulkan bahwa psikoterapi sendiri terikat dengan kerangka kerja budaya tertentu. Gagasan ini mungkin masuk akal karena beberapa alasan. Pertama, ekspresi abnormalitas, dan penyebab gangguan psikologis, setidaknya sebagian terikat budaya. Kedua, kemampuan terapis untuk menilai dan menangani perilaku tersebut sangat erat terkait dengan pemahaman pengetahuan dan penghargaan dari konteks budaya di mana perilaku terjadi. Ketiga, jika tujuan dari psikoterapi adalah membantu orang untuk menjadi lebih fungsional dalam masyarakat mereka, maka fungsi itu sendiri juga ditentukan oleh budaya.
Merunut akar dan sejarah perkembangan psikoterapi, para penulis menyatakan bahwa psikoanalisis, sebagai psikoterapi tradisional – yang menjadi dasar psikoterapi kontemporer- dikembangkan khusus dalam kerangka budaya Yahudi di Eropa Barat dengan pelopornya Sigmund Freud, dan dipengaruhi mistisisme Yahudi (Langman, 1997). Carl Rogers (1942) memodifikasi psikoanalisa dengan mengembangkan pendekatan client-centered therapy. Perkembangan pendekatan psikoterapi lainnya, disebut psikoterapi kontemporer, seperti pendekatan perilaku atau humanistik, dapat dianggap sebagai hasil “culturalization” psikoanalisis tradisional dengan masyarakat dan budaya Amerika. Dengan demikian, psikoterapi dapat dianggap sebagai produk budaya, yang mencerminkan dan mereproduksi konteks budaya. Karena konteks budaya adalah bagian dari tradisi moral yang tertanam dalam struktur politik, psikoterapi itu sendiri tak terhindarkan menjadi praktik moral dengan konsekuensi politik yang tertanam dalam kerangka budaya. Dengan demikian tak ada psikoterapi yang bebas nilai, karena psikoterapi terikat dengan kerangka budaya tertentu, dan budaya tak mungkin lepas dari nilai moral dan sistem.
B. ABNORMALITAS PSIKOLOGI
1. DEFINISI ABNORMALITAS DALAM PSIKOLOGI
Terdapat dua titik pandang hubungan antara budaya dan psikopatologi /perilaku abnormal. Satu pandangan menyatakan bahwa budaya dan psikopatologi adalah saling berkaitan erat, dan bahwa perilaku abnormal dapat dipahami hanya dalam kerangka budaya di mana abnormalitas terjadi. Perspektif ini dikenal sebagai relativisme budaya. Pandangan sebaliknya menunjukkan bahwa meskipun budaya memainkan peran dalam menentukan manifestasi perilaku dan kontekstual dari perilaku abnormal, ada kesamaan lintas-budaya, bahkan universalitas, pada mekanisme psikologis yang mendasari dan pengalaman subyektif beberapa gangguan psikologi.
Contoh:
Seorang wanita berada di tengah-tengah sekelompok orang, tetapi tampaknya ia tidak menyadari sekelilingnya. Dia berbicara dengan keras tanpa jelas ditujukan kepada siapa, menggunakan kata-kata dan suara yang dikenali orang-orang di sekitarnya sebagai bukan suaranya. Ketika ditanya tentang perilakunya kemudian, dia menjelaskan bahwa dia telah dimasuki oleh roh binatang dan berbicara dengan seorang pria yang baru saja meninggal.
Dalam mendefinisikan perilaku abnormal, psikolog Amerika seringkali menggunakan pendekatan statistik atau menerapkan kriteria gangguan atau inefisiensi, penyimpangan, atau penderitaan subyektif. Dengan menggunakan pendekatan statistik, misalnya, kita bisa mendefinisikan perilaku sebagai abnormal karena kejadiannya yang jarang. Satu masalah dengan pendekatan ini adalah bahwa tidak semua perilaku yang jarang merupakan abnormalitas, dan tidak semua perilaku abnormal jarang terjadi.
Pendekatan tradisional dalam mendefinisikan abnormalitas terfokus apakah perilaku seseorang dikaitkan dengan gangguan atau inefisiensi saat melaksanakan peran biasanya. Misalnya, sulit dibayangkan wanita dalam cerita diatas, dapat menjalankan fungsi sehari-hari, seperti merawat keluarga dan bekerja, sementara dia percaya dirinya adalah binatang. Dalam banyak kasus, gangguan psikologis melibatkan gangguan serius atau penurunan fungsi keseluruhan individu. Namun, hal ini tidak selalu terjadi. Beberapa orang penderita gangguan bipolar (manik depresi), dilaporkan mengalami peningkatan produktivitas selama episode manik.
Jika kita menganggap perilaku perempuan diatas sebagai menyimpang, kita juga menyimpulkan bahwa perilaku wanita tersebut abnormal karena tampaknya melawan norma-norma sosial. Namun, tidak semua perilaku yang secara sosial menyimpang dianggap sebagai abnormal atau gangguan psikologis. Sebagai contoh, banyak orang tetap percaya bahwa homoseksualitas menyimpang, meskipun tidak lagi diklasifikasikan sebagai gangguan jiwa di Amerika Serikat (American Psychiatric Association, 1987). Meskipun beberapa orang Amerika melihat homoseksualitas sebagai abnormalitas, dalam budaya lainnya dan periode tertentu dalam sejarah homoseksual telah dipraktikkan secara luas. Jadi, menggunakan norma-norma kemasyarakatan sebagai kriteria bagi abnormalitas adalah sulit, bukan hanya karena norma-norma selalu berubah seiring waktu tetapi karena subjektif. Apa yang dianggap salah satu anggota masyarakat atau budaya sebagai menyimpang, yang lain mungkin menganggap normal.
Penentuan abnormalitas perilaku berdasarkan laporan penderitaan subyektif individu, juga bermasalah. Apakah penderitaan seseorang timbul akibat perilaku abnormal, mungkin tergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan dia. Sebagai contoh, jika perempuan dalam cerita diatas diejek, dijauhi, dan dipandang sebagai “orang sakit” karena perilakunya, dia mungkin akan mengalami penderitaan. Sebaliknya, jika dia dianggap memiliki kekuatan khusus dan diterima lingkungannya, dia mungkin tidak menderita sama sekali. Selain itu, ada beberapa indikasi bahwa kelompok-kelompok budaya bervariasi dalam derajat penderitaan yang dialami berkaitan dengan gangguan psikologis. Kleinman (1988) menyatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa orang Cina dan Afrika yang mengalami depresi, merasa kurang bersalah dan malu dibandingkan orang Amerika dan Eropa. Namun orang Cina dan Afrika, dilaporkan lebih sering menunjukkan gejala somatik. Temuan ini mungkin mencerminkan bias respon budaya. Beberapa kelompok budaya mungkin memiliki nilai-nilai yang melarang pelaporan atau berfokus pada penderitaan subjektif, berbeda dengan gagasan Barat tentang pentingnya keterbukaan diri.
Sebagai alternatif, para ahli lintas-budaya banyak yang berpendapat bahwa kita dapat memahami dan mengidentifikasi perilaku abnormal hanya jika kita menggunakan konteks budaya. Sudut pandang ini menunjukkan bahwa kita harus menerapkan prinsip relativisme budaya untuk abnormalitas. Misalnya, perilaku wanita dalam cerita diatas mungkin dianggap abnormal jika terjadi di sudut jalan sebuah kota besar di Amerika Serikat, namun sesuai dan dapat dimengerti jika terjadi dalam sebuah upacara shamanistik diaman ia berperan sebagai penyembuh. Budaya yang percaya pada intervensi supernatural dapat dengan jelas membedakan suatu keadaan “trance” dan berbicara dengan roh sebagai bagian yang diterima dari perilaku seorang penyembuh dengan keadaan ketika perilaku yang sama akan dianggap sebagai abnormal/gangguan (Murphy, 1976). Contoh budaya lainnya yaitu Yoruba di Afrika dan suku Eskimo di Alaska. Dengan demikian abnormalitas dan normalitas, sampai batas tertentu ditentukan konsep budaya (Sue & Sue, 2003).
2. PENELITIAN LINTAS BUDAYA TENTANG PERILAKU ABNORMAL
Penelitian lintas-budaya selama bertahun-tahun memberikan banyak bukti bahwa perilaku abnormal atau psikopatologi memiliki kedua aspek universal dan budaya khusus. Berikut perbandingan beberapa karakteristik abnormalitas psikologis dengan latar kultur yang berbeda.
Schizofrenia Depresi Somatisasi
Definisi: Distorsi realitas, penarikan dari interaksi sosial, disorganisasi persepsi, pikiran, dan emosi. Gejala: kehilangan insight, halusinasi verbal dan auditory, dan ideas of reference (WHO,1977).
Prevalensi:
1,1% di AS Karakteristik:
- Fisik (gangguan tidur/nafsu makan)
- Perubahan motivasi
( apati, bosan)
- Perubahan emosi& perilaku:
(sedih, putus asa, hilang energi). Definisi:
Gejala fisik sebagai ekspresi ketegangan psikis.
Gejala:
- Low Back Pain
- Gangguan Saluran Cerna

Perbedaan (International Pilot Study of Schizofrenia, WHO):
1. Di negara maju (AS, Inggris, Uni Sovyet):
- Gejala utama penarikan diri, dan pasif
- Penderita lebih lambat sembuh
- Jarang dapat bekerja kembali
(dukungan keluarga)
2. Di negara berkembang ( India, Nigeria,Colombia ):
-Gejala utama kehilangan insight, dan halusinasi auditori
- Penderita lebih cepat sembuh
- Lebih cepat bekerja kembali
(pengaruh faktor budaya seperti:dukungan keluarga dan komunitas)
Wanita lebih sering terkena dibanding pria (2x lipat) tanpa melihat perbedaan ras, etnis, sosialekonomi, dan budaya.
Prevalensi:
Kore Utara 3,3%, Lebanon 4,9 %, Iran 6,2%, dan 12,6 persen di New Zealand. Masyarakat komunal (Cina, Jepang, Hispanik, Arab) lebih banyak penderita dibanding masyarakat individualistic (barat).

Expressed Emotion (komunikasi keluarga dengn ciri permusuhan, penuh kritik, dan keterlibatan berlebih):
- Di negara Barat : resiko makin meningkat dg tingginya EE
- Di Malaysia: EE tidak berpengaruh
Penelitian WHO, 1983:
Gejala sama di beberapa negara (Kanada, Swiss, Iran, dan Jepang): sedih, kehilangan kegembiraan, cemas, kehilangan energi, kehilangan minat, ketegangan, kehilangan konsentrasi, ide insufisiensi, ide bunuh diri) Perbedaan:
Perbedaan fisafat,
Barat : dikotomi mind-body
Timur (Cina, Jepang):
Filsafat keseimbangan holistik pikiran dan tubuh.
Psikiater AS lebih mudah memberikan diagnosis schizofren dibanding Inggris (Leff, 1977) (bias rasial)
Rasio penderita schizofrenia:
- Afro Amerika: Hispanik: White= 4:3:1 (AS)
- Afro-Caribbean> White
(Inggris)
Variasi luas ekspresi:
- Barat: kesepian dan isolasi (kultur individualistic)
- Kultur komunal (somatic)
- Nigeria: sedikit gejala perasaan ekstrim tak berharga dan rasa bersalah.
- Hopi Indian: cemas, sakit, dan patah hati
- Cina :
Gejala somatic (nyeri kepala)
- Uganda:
Bersifat kognitif (berpikir terlalu banyak) dibanding emosi

3. SINDROM TERIKAT BUDAYA (CULTURE-BOUND SYNDROME)
Meski studi lintas budaya menyatakan karakteristik schizofrenia dan depresi bersifat universal atau etik, beberapa studi etnografi melaporkan adanya sindrom terikat budaya (culture-bound syndrome) yang mendukung relativisme budaya dalam kaitan dengan definisi abnormalitas. Dengan menggunakan pendekatan emik (culture-specific) para antropolog dan psikiatris telah mengidentifikasi beberapa bentuk unik gangguan psikologis. Pola gangguan tidak sesuai dengan kriteria diagnostik gangguan psikologi dalam klasifikasi Barat.
Beberapa sindrom terikat budaya antara lain dalam DSM-IV (Matsumoto&Juang, 2008; Sue&Sue, 2003):
a. Sinbyong (spirit-sickness) di Korea, yang terjadi ketika seorang wanita dipercaya direkrut roh untuk menjadi shaman (seorang penyembuh/dukun).
b. Amok, teridentifikasi di beberapa negara (Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Tahiland). Gangguan ini ditandai dengan marah tiba-tiba dan agresi membunuh. Hal ini diduga disebabkan oleh stres, kurang tidur, dan konsumsi alkohol (dan terutama pada laki-laki.
c. Anoreksi Nervosa
Awalnya teridentifikasi di Barat tetapi kemudia berkembang di negara dunia ketiga seperti Hong Kong, Korea, Singapura, dan Cina (Sue&Sue, 2003) meski kriteria khusus mungkin sedikit berbeda antara kelompok-kelompok budaya yang berbeda. Gangguan ini ditandai dengan citra tubuh yang terdistorsi, takut menjadi gemuk, dan hilangnya berat badan yang cepat akibat menahan dari makan makanan atau memuntahkankan makanan dengan sengaja (bulimia). Kemungkinan penyebab yaitu penekanan pada budaya kurus sebagai ideal untuk wanita, mengecilnya peran gender, dan ketakutan seseorang berada di luar kendali atau mengambil tanggung jawab orang dewasa.
d. Ataque de nerviosa (Amerika Latin).
Gejala meliputi gemetar, berteriak tak terkendali, menangis kuat, panas di dada naik ke kepala, dan pusing.
e. Zar (imigran Etiopia di Israel)
Zar adalah kondisi kesadaran yang berubah akibat pengaruh roh Zar, dengan gejala gerakan tak disadarai, bisu dan tak bergerak/mutism, atau bahasa yang tidak dimengerti.
f. Whakama (suku Maori, New Zealand)
Adalah rasa malu, rendah diri, tidak mampu, ragu, malu, kesopanan yang berlebihan, dan penarikan diri (Sachdev, 1990).
g. Sinking Heart (budaya Punjabi)
Berupa sensasi fisik di jantung atau dada, diduga disebabkan oleh panas yang berlebihan, kelelahan, cemas, atau kegagalan sosial.
h. Avanga (budaya Tonga)
Berupa gangguan hubungan, dengan gejala spesifik, persahabatan imajiner yang penuh semangat dengan roh/arwah tunggal.
i. Susto (India dari dataran tinggi Andes)
Ditandai dengan depresi dan sikap apatis yang mencerminkan “hilangnya jiwa”.
Di Indonesia, culture-bound sindrom disebut sebagai fenomena dan sindrom yang yang berkaitan dengan faktor sosial budaya (PPDGJ III, 1985).
Beberapa fenomena dan sindrom yang telah dikenal dalam masyarakat Indonesia, secara garis besar dibagi dalam dua golongan besar:
• Yang tidak digolongkan sebagai gangguan jiwa karena tidak memenuhi definisi gangguan jiwa, misalnya keadaan kemasukan roh/kesurupan yang merupakan bagian upacara keagamaan atau tradisi setempat.
• Yang tergolong sebagai gangguan jiwa karena memenuhi kriteria gangguan jiwa, dibagi dua kelompok:
1. Fenomena atau sindrom yang merupakan gejala atau nama lain dari gangguan jiwa spesifik’
Contoh:
• Kesurupan/kemasukan
Suatu keadaan perubahan kesadaran dengan tanda-tanda disosiatif, yang dapat dikategorikan kepribadian ganda atau gangguan disosiatif tidak khas. Kondisi ini dapat dianggap serangan akut gangguan psikotik misalnya gangguan schizofreniform dengan perubahan kesadaran.
• Babainan.
Fenomena di Bali, dengan perubahan kesadaran, tingkah laku agitatif, mendadak, disertai kebingungan, halusinasi, dan gejolak emosi. Kondisi ini sering dianggap kemasukan roh. Kondisi ini dapat dikategorikan gangguan disosiatif.
• Koro
Ketakutan mendadak menghilangnya alat kelamin disertai keadaan panik, umumnya pada laki-laki (bertaraf waham). Dapat dianggap gejala gangguan psikotik schizophrenia atau gangguan schizophreniform.
• Kena Guna-Guna
Keyakinan bertaraf waham bahwa dirinya dikuasai kekuatan adikuasa atau gaib, yang baisanya berniat jahat terhadap kesehatan atau kehidupannya. Seringkali merupakan suatu waham aneh atau dikendalikan (delision of being controlled) yang dapat dikategorikan dalam diagnostik A dari kelompok schizophrenia.
2. Fenomena atau sindrom yang merupakan gangguan jiwa spesifik
• Latah
Reaksi terkejut yang terjadi berulangkali dan menetap, berupa penggunaan kata-kata atau kalimat (biasanya kata kotor yang berkaitan dengan alat kelamin laki-laki (koprolalia) secara berulang dan beruntun, dan terjadi tanpa pengendalian. Kondisi ini dapat disertai perbuatan atau gejala meniru gerakan orang lain atau menjalankan instruksi tertentu secara automatic tanpa pengendalian. Berlangsung minimal 6 bula, disertai penderitaan mendalam akan kondisinya. Diagnosis banding gangguan kepribadian histrionic (histerik).
• Amuk
Suatu episode tunggal dari kegagalan menekan impuls, yang mengakibatkan suatu tindak kekerasan yang ditujukan keluar sehingga mengakibatkan malapetaka bagi orang lain, sebelumnya tak dijumpai tanda impuls atau agresivitas umum. Derajat agresivitas sangat hebat dibandingkan dengan stressor sebagai faktor pencetus. Tidak disebabkan skizofrenia, gangguan kepribadian antisosial, gangguan tingkah laku, atau gangguan eksplosif intermiten. Dijumpai di negara lainnya dengan nama “krisis katatimik”.
Hal penting dari mempelajari sindrom terikat-budaya, adalah bahwa perlu untuk mempertimbangkan nilai-nilai budaya, kepercayaan, praktik, dan situasi sosial dalam menentukan apakah seseorang mengalami gangguan atau tidak (perilaku abnormal).

4. PENILAIAN (ASSESMENT) PERILAKU ABNORMAL
Penilaian atau assesment perilaku abnormal meliputi identifikasi dan gambaran gejala individu dalam konteks yang lebih luas dari fungsi keseluruhan nya, riwayat hidup, dan lingkungan (Carson et al., 1988). Alat dan metode penilaian harus peka terhadap budaya dan pengaruh lingkungan lain yang mempengaruhi perilaku dan fungsi. Saat ini dari data kepustakaan mengenai teknik standar penilaian menunjukkan bahwa mungkin ada masalah bias atau ketidakpekaan ketika tes psikologis dan metode yang dikembangkan dalam satu konteks budaya digunakan untuk menilai perilaku dalam konteks budaya yang berbeda.
Dalam menilai/assesment perilaku abnormal, psikolog berusaha untuk mengklasifikasikan perilaku abnormal ke dalam kategori diagnosis yang reliabel dan valid. Karena budaya memberi pengaruh pada definisi perilaku abnormal, isu-isu lintas-budaya muncul terkait keandalan dan validitas diagnosis, dan bahkan kategori diagnostik yang digunakan. Jika semua perilaku abnormal sepenuhnya etik dalam ekspresi mereka dan presentasi-yaitu sepenuhnya sama di seluruh kebudayaan-kemudian menciptakan kategori diagnostik yang handal dan valid, hal ini tidak menjadi masalah. Namun, sebagaimana individu berbeda dalam ekspresi abnormalitas, kebudayaan juga bervariasi; dan beberapa sindrom terikat-budaya memang terbatas hanya dalam satu atau beberapa kebudayaan.
Salah satu sistem yang paling banyak digunakan saat ini adalah klasifikasi American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistic Manual Mental Disorders (DSM). DSM, pertama kali diterbitkan pada tahun 1952, telah mengalami beberapa revisi besar dan sekarang dalam edisi keempat (DSM-IV-TR). Beberapa perubahan dalam DSM III-IV merupakan tanggapan atas kritik oleh psikiater lintas-budaya. Sejumlah besar gangguan yang dijelaskan dalam manual berbeda atau sama sekali tidak ada dalam masyarakat dan budaya di luar dunia Barat. Sebanyak 80% penduduk dunia tidak termasuk dalam lingkup budaya Barat.
Untuk mengatasi kritik-kritik ini, beberapa modifikasi dibuat untuk DSM-IV-TR untuk meningkatkan sensitivitas budaya: (1) memasukkan informasi bagaimana manifestasi klinis dari gangguan dapat bervariasi menurut latar budaya; (2) memasukkan 25 sindrom budaya-terikat dalam lampiran; dan (3) menambahkan panduan penilaian mendalam tentang latar belakang budaya individu, termasuk ekspresi budaya dari gangguan individu, faktor budaya yang berhubungan dengan fungsi psikososial dalam konteks tertentu budaya individu , dan perbedaan budaya antara klinisi dan individu
Klasifikasi lainnya adalah sistem klasifikasi The International Classification of Diseases, 10 th editions (ICD-10) yang disusun WHO. Sayangnya, ulasan terhadap ICD-10 (misalnya oleh Alarcon, 1995) menunjukkan bahwa ICD-10 gagal mengenali pentingnya budaya dalam mempengaruhi ekspresi dan presentasi gangguan/penyakit. Untuk mengatasi masalah kurangnya pertimbangan budaya dalam penilaian gangguan mental, diciptakan sistem diagnostik lokal. Salah satunya The Chinese Classification of Mental Disorders (CCMD), sangat dipengaruhi oleh DSM-IV dan ICD-10 namun memiliki fitur-budaya spesifik yang tidak ada dalam sistem internasional. Edisi terbaru, yang CCMD-3, direvisi tahun 2001. Manual ini memasukkan gangguan yang khas budaya Cina dan tidak memasukkan gangguan yang tidak relevan (sepertisibling-rivalry akibat kebijakan satu-anak). Pada pertengahan 1980-an, tiga psikiater Afrika mengembangkan sebuah buku pegangan bagi para praktisi Afrika Utara (Douki, Moussaoui, & Kaca, 1987). Indonesia mengembangkan panduan diagnosis gangguan mental yaitu Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), yang saat ini telah mencapai edisi ketiga. Didalamnya dimasukkan culture-bound syndrome yaitu fenomena dan sindrom yang yang berkaitan dengan faktor sosial budaya.
Masalah dalam penilaian ditemukan dalam mempelajari skizofrenia dan depresi dalam berbagai budaya yang menggambarkan keterbatasan metode penilaian tradisional. Dalam survei di Yoruba di Nigeria, diagnosis skizofrenia, menunjukkan bias etnosentris, sehingga harus memasukkan gejala budaya spesifik seperti rasa ” kepala yang membesar dan daging angsa”. Demikian juga instrument untuk mengukur gangguan depresi mungkin juga kehilangan ekspresi budaya penting dari gangguan di Afrika dan Indian, karena gagal untuk menangkap suasana hati dysphoric pendek tapi akut yang kadang-kadang dilaporkan oleh Hopi Indian. Child Behavior Checklist (CBCL; Achenbach, 2001) yang digunakan untuk menilai masalah emosi dan perilaku anak-anak di berbagai bagian dunia, termasuk Thailand, Kenya, Amerika Serikat, Cina, dan Israel menemukan bahwa anak-anak Amerika cenderung menunjukkan perilaku kurang terkendali (“perilaku eksternalisasi” seperti bertindak diluar batas dan agresi) yang lebih tinggi daripada perilaku overcontrolled (” perilaku internalisasi” sepertitaku dan somatisasi) dibandingkan dengan anak-anak dari budaya lain, khususnya kolektivistik. Namun, sebuah studi pada orangtua American Indian (Dakota / Lakota) untuk menilai akseptabilitas dan kelayakan penggunaan CBCL dalam budaya mereka menemukan bahwa beberapa pertanyaan yang sulit untuk dijawab orangtua, karena tidak memperhitungkan budaya nilai-nilai atau tradisi, dan karena orang tua percaya bahwa tanggapan mereka akan disalahartikan oleh anggota dari budaya yang dominan, yang tidak memiliki pemahaman yang baik tentang budaya Dakotan / budaya Lakotan (Oesterheld, 1997).
Beberapa peneliti menyarankan pentingnya menguji sistem penyembuhan adat atau indigenous healing system, untuk budaya tertentu. Penilaian terhadap sistem penyembuhan adat seharusnya dapat meningkatkan perencanaan strategi pengobatan, salah satu tujuan utama dari penilaian tradisional (Carson et al., 1988).
Penelitian lain menemukan bahwa latar belakang budaya terapis dan klien dapat berkontribusi dengan persepsi dan penilaian kesehatan mental. Penelitian oleh Li-Repac (1980) mengevaluasi peran budaya dalam pendekatan diagnostik terapis. Dalam studi ini, klien laki-laki Cina-Amerika dan Eropa-Amerika diwawancarai dan direkam, kemudian dinilai oleh terapis laki-laki Cina-Amerika dan Eropa-Amerika pada tingkat fungsi psikologis. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh interaksi antara latar belakang budaya terapis dan klien pada penilaian para terapis terhadap klien. Klien Cina-Amerika dinilai sebagai canggung, bingung, dan gugup oleh terapis Amerika Eropa, namun klien yang sama dinilai sebagai beradaptasi, yang jujur, dan ramah oleh terapis Cina-Amerika. Sebaliknya, klien Amerika Eropa dinilai sebagai tulus dan mudah bergaul dengan terapis Amerika Eropa, tapi agresif dan memberontak oleh terapis Cina-Amerika. Selain itu, klien Cina-Amerika dinilai lebih tertekan dan kurang sosialisasi oleh terapis Amerika-Eropa, dan klien Amerika Eropa dinilai lebih sangat-terganggu oleh terapis Cina Amerika.
Dua kesalahan yang sering dijumpai dalam penilaian abnormalitas yaitu overpatologi dan underpatologi. Overpathologizing terjadi bila terapis kurang memahami latar belakang budaya klien, sehingga memberikan penilaian perilaku patologis untuk perilaku yang merupakan variasi normal dalam budaya individu tersebut, sedangkan underpathologizing terjadi ketika seorang terapis tanpa pandang bulu menjelaskan perilaku klien sebagai terikat-budaya, misalnya menghubungkan perilaku menarik diri dan ekspresi emosi datar sebagai gaya komunikasi budaya yang normal padahal sebenarnya perilaku ini mungkin merupakan gejala depresi.

C. PSIKOTERAPI
Psikoterapi sebagai alat untuk membantu individu dengan perilaku abnormal agar dapat berfungsi normal, berakar dari kebudayaan Barat. Demikian pula modifikasi psikoanalisa dan pendekatan psikoterapi kontemporer (seperti CBT) juga berasal dari kultur Barat.
Saat ini psikoterapi telah digunakan secara luas di luar Amerika dan Eropa, hingga ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, India, dan Cina. Para terapis di negara-negara ini berusaha menggabungkanbeberapa elemen esensial dari budaya mereka untuk meningkatkan keberhasilan psikoterapi. Di Malaysia, misalnya, menggabungkan psikoterapi dengan doa dan keyakinan keagamaan dan perilaku, seperti doa dan berfokus pada ayat-ayat Alquran. Studi pasien dengan berbagai gangguan, termasuk gangguan kecemasan dan depresi, menunjukkan bahwa psikoterapi agama lebih efektif dan mendorong peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan psikoterapi (Azhar, 8t Varma, 1995; Azhar, Varma, &: Dharap, 1994 ). Di Cina, Tao dan prinsip-prinsip Konfusius digabung dengan teknik psikoterapi. Ayat-ayat dari tulisan Tao, seperti membatasi keinginan egois, belajar bagaimana memahami isi, dan belajar untuk melepaskan. Satu studi menemukan bahwa pendekatan ini, disebut psikoterapi kognitif Cina Tao, lebih efektif dalam jangka panjang dalam mengurangi gangguan kecemasan dibandingkan dengan obat. Di Timur Tengah, ditemukan beberapa masalah dalam penggunaan psikoterapi. Terapi menggunakan kelompok ternyata sulit dilakukan karena orang Arab sulit memandang kelompok sebagai alat terapi dan bukan sebagai aktivitas sosial, karena peran gender yang kaku di Arab sehingga pencampura lelaki dan perempuan diktitik keras, dan bahwa status suku menyulitkan beberapa individu untuk berkomunikasi dengan orang lain dari kelompok suku yang berbeda.
Penelitian mengenai efektivitas psikoterapi di Amerika bagi individu dengan latar budaya berbeda yaitu Afro-Amerika, Hispanik/Latino, Asian-Amerika, dan Native Amerika masih sedikit. Beberapa penelitian menyatakan penggunaan psikoterapi bagi Latino efektif, namun bagi klien Afro-Amerika justru sebaliknya. Klien Asian-Amerikan paling sedikit menggunakan jasa kesehatan mental, hal ini diduga karena rasa malu, kehilangan muka, menghindar secara aktif pikiran-pikiran kematian, atribusi penyebab penyakit mental sebagai faktor biologi, dan ketakutan bahwa sistem tidak dibentuk untuk menangani perbedaan budaya dengan baik. Cheng, Leong, dan Geist (1993) melaporkan bahwa sebagian orang Amerika Asia percaya mengungkapkan pikiran atau peristiwa yang menyakitkan hanya akan memperburuk masalah.
Dalam masyarakat Latino, penyebab gangguan mental dihubungkan dengan roh-roh jahat, sehingga percaya untuk menyembuhkan masalah terletak di dalam gereja dan bukan dengan profesional kesehatan mental. Alasan redahnya penggunaan layanan kesehatan mental adalah ketidakpercayaan dan stigma. Sussman, Robins, dan Earls (1987) menemukan bahwa Afrika-Amerika lebih memiliki ketidakpercayaan terhadap layanan kesehatan mental formal, takut rumah sakit dan pengobatan. Ketidakpercayaan ini mungkin berasal dari sejarah dan pengalaman segregasi, rasisme, dan diskriminasi.
Beberapa masalah terkait perbedaan budaya dalam psikoterapi:
1) Perbedaan dalam cara berpikir mengenai penyakit dan ekspresi pikiran.
2) Peran hierarki (otoritas) dalam hubungan interpersonal (hubungan keluarga).
3) Jenis terapi yang digunakan, apakah direktif atau non-direktif, fokus solusi, dan sebagainya.
4) Menggunakan keluarga besar (extended-family) sebagai sumber dukungan klien.

D. TERAPI BERBASIS BUDAYA/ADAT (INDIGENOUS HEALING)
Perubahan demografi di Amerika Serikat akibat meningkatnya jumlah etnik mioritas yang bermigrasi ke Barat, meningkatkan minat terhadap terapi berbasis adat (indigenous healing). Indigenous healing meliputi kepercayaan penyembuhan /terapi dan praktek-praktek terapi yang berakar dalam kebudayaan tertentu. Dengan kata lain, kepercayaan dan praktek ini tidak diimpor dari budaya luar melainkan sudah terdapat dalam budaya tersebut dan digunakan untuk menyembuhkan penduduk asli (Sue & Sue, 1999). Banyak metode penyembuhan adat sangat berbeda dari gagasan-gagasan Barat. Misalnya, berakar dalam agama dan spiritualitas, bukannya ilmu biomedis. Terdapat kesamaan praktek-praktek adat di 16 negara-negara non-Barat (Lee & Mountcastle, 1992), yaitu (1) ketergantungan pada keluarga dan jaringan masyarakat baik sebagai konteks dan instrumen untuk pengobatan, (2) penggabungan tradisional, spiritual, dan keyakinan keagamaan sebagai bagian dari perawatan-misalnya, membaca ayat-ayat Quran, memulai pengobatan dengan doa, atau melakukan perawatan di rumah-rumah agama atau gereja; dan (3) penggunaan dukun dalam pengobatan (Yeh et all, 2002).
Review oleh sekelompok psikolog konseling telah mengidentifikasi beberapa penyembuhan adat seperti Reiki, Chikung, Prana, dan Ho’oponopono (Yeh et all, 2004; Matsumoto &Juang, 2008). Reiki mengacu pada energi kehidupan “universal” dan merupakan praktik di Jepang untuk relaksasi, mengurangi stres, dan mempercepat penyembuhan. Dalam terapi Reiki, energi kehidupan digunakan untuk penyembuhan dengan menyeimbangkan fisik, emosional, mental, dan spiritual. Chikung mengacu pada “aliran udara” atau “energi vital” dan merupakan metode Cina yang menekankan pernapasan, gerakan, dan postur fisik untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seseorang. Prana mengacu pada “kekuatan hidup” dan penyembuhan prana didasarkan pada prinsip bahwa penyembuhan adalah mungkin dengan meningkatkan gaya hidup sehat pada bagian dari tubuh jasmani. Ho’oponopono merupakan indigenous healing dari Hawai, yang berarti “meletakkan dengan benar, membuat benar, membenarkan”. Dalam konteks budaya, ho’oponopono adalah usaha memulihkan dan mempertahankan hubungan baik antara keluarga dan kekuatan supranatural (Sue&Sue, 2003).
Asumsi dasar dalam indigenous healing adalah holistic, interkoneksi (keterhubungan), dan harmoni (keseimbangan) (Sue&Sue, 2003). Terapi adat mendukung gagasan holistik bahwa kesehatan fisik terkait dengan emosional, mental, dan kesehatan rohani. Berlawanan dengan konsep isolasi, perpisahan, dan individualism yang menjadi ciri budaya Barat, kebanyakan budaya non-Barat menekankan pandangan holistic yang menjadikan perbedaan minimal antara fisik dan fungsi mental dan percaya kesatuan jiwa, tubuh, dan lingkungan. Keterhubungan bentuk-bentuk kehidupan, lingkungan dan kosmos sudah merupakan kodrat. Dengan demikian mereka membuat konsep yang berbeda tentang realitas. Dalam banyak budaya, perilaku otonomi dan independen merupakan masalah karena menimbulkan disharmoni dalam kelompok. Sakit, penderitaan, atau perilaku bermasalah merupakan akibat dari ketidakseimbangan dalam hubungan individu, disharmoni antara individu dengan kelompoknya, atau kurang sinkron dengan kekuatan internal atau eksternal. Harmoni dan keeimbangan menjadi tujuan terapi.
Saat ini terjadi pergerakan besar di beberapa negara dan budaya untuk menggabungkan aspek tradisional psikoterapi dengan metode dan keyakinan yang berbasis budaya untuk menghasilkan sistem terapi yang unik. Sebagai contoh, Sato (1998) menunjukkan bahwa terapi adat digabung dengan aspek terapi kognitif dan perilaku kontemporer telah memberikan hasil efektif. Penulis lainnya menyatakan metode tradisional psikoterapi harus berbaur dengan budaya dan mengakomodasi isu-isu spesifik, doktrin karma dan reinkarnasi di India; masalah dekulturasi, keterasingan, ketidakpercayaan, dan putus asa di antara Native-American dan Native-Alaska; masalah perwalian, jaringan sosial, dan dukungan sosial di Shanghai; dan interaksi spiritual, emosional / mental, fisik, dan kesehatan keluarga di Selandia Baru Maori (Durie, 1997). Prince berpendapat yang umum untuk pengobatan lintas-budaya adalah mobilisasi kekuatan dalam penyembuhan klien. Misalnya, penduduk asli Amerika percaya bahwa penyakit akibat dari ketidakharmonisan sendiri, masyarakat, dan alam, dan pengobatan harus menyelaraskan ketidakharmonisan dan memulihkan keseimbangan dan integrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Constantine, M.G (2001). Multicultural training, theoretical orientation, empathy, and multicultural conceptualization ability in counselor. Journal of Mental Health Counseling; 23, 4; pg. 357-372

Matsumoto, D dan Juang, L (2008). Culture and Psychology (4th edition). Australia: Thomson Wadsworth.
McFadden, J. (1996). A transcultural perspective: Reaction to C. H. Patterson’s “Multicultural counseling: From diversity to universality”. Journal of Counseling and Development : JCD. Alexandria: Vol. 74, Iss. 3; pg. 232-245.

Sue, D.W dan Sue, D (2003). Counseling The Culturally Diverse (4th edition). Amerika: John Wiley & Son, Inc.
Weinrach, G.S dan Thomas, K.R. (2002). A critical analysis of the multicultural counseling competencies: Implication for The Practice of Mental Health Counseling. Journal of Mental Health Counseling; 24, 1; pg. 20-35.

Yeh, C.J, Hunter, C.D, Madan_bahel, A, Chiang, L., and Arora, A.K.(2004) Indigenous and Interdependent Perspectives of Healing: Implications for Counseling and Research. Journal of Counseling and Development : JCD; 82, 4;pg. 410-419.

PERANAN ASESMEN DALAM PSIKOLOGI KLINIS

Januari 23, 2013

ASESMEN dalam PSIKOLOGI KLINIS
M. Fakhrurrozi, S.Psi

APA ITU ASESMEN?
“Proses mengumpulkan informasi yang biasanya digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang nantinya akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait oleh asesor” (Nietzel dkk,1998).

Kita pada dasarnya seringkali melakukan asesmen. Misalnya ketika bertemu seseorang, saat itu kita akan berusaha untuk mengumpulkan informasi, memproses dan menginterpretasikannya. Informasi tersebut dapat berupa latar belakang, sikap, tingkah laku atau karakteristik yang dimiliki orang tersebut. Kemudian informasi tersebut dihubungkan dengan pengalaman dan harapan yang kita miliki sehingga kita akan mendapatkan kesan dari orang tersebut yang selanjutnya kita jadikan dasar untuk memutuskan cara kita bersikap terhadapnya.

PROSES ASESMEN KLINIS
Inti asesmen adalah mengumpulkan informasi yang akan digunakan untuk mengenali dan menyelesaikan masalah menjadi lebih efektif.

I II III IV

I. PLANNING DATA COLLECTION PROCEDURES
• Apa yang ingin kita ketahui ?

Usaha-usaha atau penekanan asesmen yang dilakukan disesuaikan dengan pendekatan atau teori yang akan digunakan. Penekanan asesmen berkaitan dengan dinamika kepribadian, latar belakang lingkungan sosial dan keluarga, pola interaksi dengan orang lain, persepsi terhadap diri dan realita atau riwayat secara genetis dan fisiologi.

Tabel 1. Tingkat asesmen dan data yang berkaitan

TINGKAT ASESMEN JENIS DATA
1. Somatis Golongan darah, pola respon somatis terhadap stres, fungsi hati, karakteristik genetis, riwayat penyakit, dsb
2. Fisik Berat/tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, tipe rambut, dsb
3. Demografis Nama, umur, tempat/tanggal lahir, alamat, nomor telepon, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, status perkawinan, jumlah anak, dsb
4. Overt behavior Kecepatan membaca, koordinasi mata-tangan, kemampuan conversation, ketrampilan bekerja, kebiasaan merokok, dsb
5. Kognitif/intelektual Respon terhadap tes intelegensi, daya pikir, respon terhadap tes persepsi, dsb
6. Emosi/afeksi Perasaan, respon terhadap tes kepribadian, emosi saat bercerita, dsb
7. Lingkungan Lokasi dan karakteristik tempat tinggal, deskripsi kehidupan pernikahan, karakteristik pekerjaan, perilaku anggota keluarga dan teman, nilai-nilai budaya dan tradisi, kondisi sosial ekonomi, lokasi geografis, dsb

PEDOMAN STUDI KASUS :
1. Identifikasi data, meliputi : nama, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, status perkawinan, alamat, tempat tanggal lahir, agama, pendidikan, suku bangsa.
2. Alasan kedatangan dan keluhan, harapan-harapan klien.
3. Situasi saat ini, meliputi : di tempat tinggal, kegiatan harian, perubahan dalam hidup yang terjadi dalam satu bulan, dsb.
4. Keluarga, meliputi : deskripsi orang tua, saudara, figur lain dalam keluarga yang dekat dengan klien (significant other), peran dalam keluarga, dsb.
5. Ingatan awal, mendeskripsikan tentang kejadian dan situasi pada awal kehidupannya.
6. Kelahiran dan perkembangan, meliputi : usia saat bisa berjalan dan berbicara, permasalahan dengan anak lain, pengaruh dari pengalaman masa kecil, dsb.
7. Kondisi fisik dan kesehatan, meliputi : penyakit sejak kecil, penggunaan obat dokter atau obat terlarang yang berturut-turut, merokok, alkohol, kebiasaan makan atau olahraga, dsb.
8. Pendidikan, meliputi : riwayat pendidikan, bidang pendidikan yang diminati, prestasi, bidang yang dirasa sulit, dsb.
9. Pekerjaan, meliputi : alasan berhenti atau pindah kerja, sikap dalam menghadapi pekerjaan, dsb.
10. Minat dan hobi, meliputi : kesenangan, ekspresi diri, hobi, dsb.
11. Perkembangan seksual, meliputi : aktivitas seksual, ketepatan dalam pemuasan kebutuhan seksual, dsb.
12. Data perkawinan dan keluarga, meliputi : alasan menikah, kehidupan perkawinan dalam budayanya, masalah selama menikah, kebiasaan dalam rumah tangga, dsb.
13. Dukungan sosial, minat sosial dan komunikasi dengan orang lain, meliputi : tingkat frekuensi untuk berhubungan dengan orang lain, kontribusi selama berinteraksi, kesediaan menolong orang lain, dsb.
14. Self description, meliputi : kekuatan dan kelemahan, daya imajinasi, kreativitas, nilai-nilai dan ide.
15. Pilihan dalam hidup, meliputi : keputusan untuk berubah, kejadian penting, dsb.
16. Tujuan dan masa depan, meliputi : harapan pada 5 – 10 tahun yang akan datang, hal-hal yang perlu disiapkan untuk itu, kemampuan untuk menetapkan tujuan, daya realistis berhubungan dengan waktu, dsb.
17. Hal-hal lain dapat dilihat dari riwayat atau latar belakang klien.

Pedoman tersebut harus selalu disesuaikan dengan pendekatan yang akan digunakan :
• Psikodinamika lebih memfokuskan pada pertanyaan seputar motif bawah sadar, fungsi ego, perkembangan pada awal kehidupan (5 tahun pertama) dan berbagai macam defense mechanism.
• Kognitif-behavior memfokuskan pada skill, pola berpikir yang biasa digunakan, berbagai stimulus yang mendahului serta permasalahan perilaku yang menyertainya.
• Fenomenologi cenderung mengikuti outline asesmen dan melihat bahwa serangkaian asesmen merupakan kolaborasi untuk memahami klien dalam hal bagaimana klien melihat atau mempersepsi dunia.

TUJUAN ASESMEN KLINIS
Ada tiga macam yaitu klasifikasi diagnostik, deskripsi dan prediksi.
1. Klasifikasi diagnostik
Maksud dari klasifikasi (penegakan) diagnostik yang tepat antara lain :
• Untuk menentukan jenis treatment yang tepat. Suatu treatment sangat bergantung pada bagaimana pemahaman klinisi terhadap kondisi klien termasuk jenis gangguannya (vermande, van den Bercken, & De Bruyn, 1996).
• Untuk keperluan penelitian. Penelitian tentang berbagai penyebab suatu gangguan sangat bergantung kepada validitas dan reliabilitas diagnostik yang ditegakkan.
• Memungkingkan klinisi untuk mendiskusikan gangguan dengan cara efektif bersama profesional yang lain (Sartorius et.al, 1996).

Diagnostic System : DSM-IV
Teknik pengklasifikasian gangguan mental sudah dilakukan sejak tahun 1900-an. Sedangkan secara formal baru pada tahun 1952 ketika APA (American Psychiatric Association) menerbitkan sistem klasifikasi diagnostik yang pertama kali, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Sistem ini kemudian terkenal dengan nama DSM I dan berlaku hingga tahun 1968, ketika WHO mengeluarkan International Classification of Diseases (ICD). DSM I kemudian direvisi dan disamakan dengan ICD, kemudian terbit DSM II. DSM I dan II menyeragamkan terminologi untuk mendeskripsikan dan mendiagnosa perilaku abnormal, tetapi tidak menjelaskan tentang aturan sebagai pedoman dalam memutuskan suatu diagnostik. Di dalamnya tidak terdapat suatu kriteria yang jelas bagi tiap gangguan sehingga agak sulit untuk mengklasifikasikan diagnostik. Pada tahun 1980 DSM II mengalami perubahan menjadi DSM III yang diikuti pada tahun 1987 dengan edisi revisi sehingga namanya menjadi DSM III-R. Dalam DSM III ini, sudah terdapat suatu kriteria operasional untuk masing-masing label diagnostik. Kriteria ini meliputi simtom utama dan simtom spesifik serta durasi simtom muncul. Disini juga digunakan pendekatan multiaxial, dimana klien dideskripsikan ke dalam lima dimensi (axis), yaitu :
a. Axis I : 16 gangguan mental major
b. Axis II : Berbagai problem perkembangan dan gangguan kepribadian
c. Axis III : Gangguan fisik atau kondisi-kondisi yang mungkin berhubungan dengan gangguan mental
d. Axis IV :Stressor psikososial (lingkungan) yang mungkin memberi kontribusi terhadap gangguan pada Axis I dan II
e. Axis V : Rating terhadap fungsi psikologis, sosial dan pekerjaan dalam satu tahun terakhir

DSM III-R pun kemudian dikritik karena beberapa kriteria diagnostiknya masih terlalu samar dan masih membuka peluang untuk muncul bias dalam penggunaannya. Dan Axis II, IV dan V mempunyai kekurangan dalam pengukurannya. Akhirnya pada tahun1988, APA membentuk tim untuk membuat DSM IV. Di dalamnya tetap menggunakan pendekatan multiaxial seperti pada DSM III-R dan Axis I hanya dapat di tegakkan jika terdapat jumlah kriteria minimum dari daftar simtom yang disebutkan. Pada DSM IV ini terdapat beberapa modifikasi dalam terminologi sebelumnya dan skema rating yang digunakan pada beberapa axis. Sekarang ini telah diterbitkan DSM IV-TR (Text Revised). Sampai saat ini DSM IV dan DSM IV-TR digunakan sebagai pedoman klinisi dan profesional terkait untuk menentukan diagnostik.
Multiaxial DSM IV :
a. Axis I : Clinical Disorders, Other Conditions That May Be a Focus of Clinical Attentions
b. Axis II : Personality Disorders, Mental Retardation
c. Axis III : General Medical Conditions
d. Axis IV : Psychosocial and Environtmental Problems
e. Axis V : Global Assessment of Functioning (GAF)

2. Deskripsi
Para klinisi beranggapan bahwa untuk memahami content dari perilaku klien secara utuh maka harus mempertimbangkan juga tentang context sosial, budaya dan fisik klien. Hal itu menyebabkan asesmen diharapkan dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang secara lebih utuh dengan melihat pada person-environtment interactions. Dalam fungsinya sebagai sarana untuk melakukan deskripsi terhadap kepribadian seseorang secara utuh, di dalam asesmen harus terdapat antara lain : motivasi klien, fungsi intrapsikis, respon terhadap tes, pengalaman subjektif, pola interaksi, kebutuhan (needs) dan perilaku. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif tersebut memudahkan klinisi untuk mengukur perilaku pra treatment, merencanakan jenis treatment dan mengevaluasi perubahan perilaku pasca treatment.

3. Prediksi
Tujuan asesmen yang ketiga adalah untuk memprediksi perilaku seseorang. Misalnya klinisi diminta oleh perusahaan, kantor pemerintah atau militer untuk menyeleksi seseorang yang tepat bagi suatu posisi kerja tertentu. Dalam kasus tersebut, klinisi akan melakukan asesmen dengan mengumpulkan dan menguji data deskriptif yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan prediksi dan seleksi.
Klinisi kadang dihadapkan pada situasi untuk memprediksi hal-hal yang berbahaya, misalnya pertanyaan seperti “Apakah si A akan bunuh diri ?”, “Apakah si B tidak akan menyakiti orang lain setelah keluar dari RS?”. Pada saat itu klinisi harus menentukan jawaban “ya” atau “tidak”. Prediksi klinisi tentang “berbahaya” atau “tidak berbahaya” dapat dievaluasi dengan empat kemungkinan jawaban.
a. True positive, jika prediksi klinisi berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku berbahaya.
b. True negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku yang tidak berbahaya.
c. False negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku berbahaya.
d. False positive, jika prediksi klinisi berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku tidak berbahaya.

II. COLLECTING ASSESSMENT DATA
• Bagaimana seharusnya kita mencari tahu tentang hal itu ?

SUMBER ASESMEN DATA
Ada empat macam yaitu : interview, tes, observasi dan life record.
1. Interview
Interview merupakan dasar dalam asesmen dan merupakan sumber yang sangat luas. Ada beberapa kelebihan interview antara lain:
a. Merupakan hal biasa dalam interaksi sosial sehingga memungkinkan untuk mengumpulkan sampel tentang perilaku verbal atau non verbal individu bersama-sama.
b. Tidak membutuhkan peralatan atau perlengkapan khusus dan dapat dilakukan dimanapun juga.
c. Mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi. Klinisi bebas untuk melakukan inquiry (pendalaman) terhadap topik pembicaraan yang mungkin dapat membantu proses asesmen.
Tetapi interview dapat terdistorsi oleh karakteristik dan pertanyaan interviewer, karakteristik klien dan oleh situasi pada saat interview berlangsung.

2. Tes
Seperti interview, tes juga memberikan sampel perilaku individu, hanya saja dalam tes stimulus yang direspon klien lebih terstandardisasikan daripada interview. Bentuk tes yang sudah standar tersebut membantu untuk mengurangi bias yang mungkin muncul selama proses asesmen berlangsung. Respon yang diberikan biasanya dapat diubah dalam bentuk skor dan dibuat analisis kuantitatif. Hal itu membantu klinisi untuk memahami klien. Skor yang didapat kemudian diinterpretasi sesuai dengan norma yang ada.

3. Observasi
Tujuan observasi adalah untuk mengetahui lebih jauh di luar apa yang dikatakan klien. Banyak yang mempertimbangkan bahwa observasi langsung mempunyai tingkat validitas yang tertinggi dalam asesmen. Hal itu berhubungan dengan kelebihan observasi antara lain:
a. Observasi dilakukan secara langsung dan mempunyai kemampuan untuk menghindari permasalahan yang muncul selama interview dan tes seperti masalah memori, jenis respon, motivasi dan bias situasional.
b. Relevansinya terhadap perilaku yang menjadi topik utama. Misalnya perilaku agresif anak dapat diobservasi sebagaimana perilaku yang ditunjukkan dalam lingkungan bermain dimana masalah itu telah muncul.
c. Observasi dapat mengases perilaku dalam konteks sosialnya. Misalnya untuk memahami seorang pasien yang kelihatan depresi setelah dikunjungi keluarganya, akan lebih bermakna dengan mengamati secara langsung daripada bertanya, “Apakah Anda pernah depresi?”.
d. Dapat mendeskripsikan perilaku secara khusus dan detail. Misalnya untuk mengetahui tingkat gairah seksual seseorang dapat diobservasi dengan banyaknya cairan vagina yang keluar atau observasi melalui bantuan kamera.

4. Life record
Asesmen yang dilakukan melalui data-data yang dimiliki seseorang baik berupa ijazah sekolah, arsip pekerjaan, catatan medis, tabungan, buku harian, surat, album foto, catatan kepolisian, penghargaan, dsb. Banyak hal dapat dipelajari dari life record tersebut. Pendekatan ini tidak meminta klien untuk memberi respon yang lebih banyak seperti melalui interview, tes atau observasi. Selama proses ini, data dapat lebih terhindar dari distorsi memori, jenis respon, motivasi atau faktor situasional. Contohnya, klinisi ingin mendapatkan informasi tentang riwayat pendidikan klien. Data tentang transkrip nilai selama sekolah mungkin dapat lebih memberikan informasi yang akurat tentang hal itu daripada bertanya ,”Bagaimana saudara di sekolah?”. Buku harian yang ditulis selama periode kehidupan seseorang juga dapat memberikan informasi tentang perasaan, harapan, perilaku atau detail suatu situasi yang mana hal itu mungkin terdistorsi karena lupa selama interview. Dengan merangkum informasi yang di dapat tentang pikiran dan tingkah laku klien selama periode kehidupan yang panjang, life records memberikan suatu sarana bagi klinisi untuk memahami klien dengan lebih baik.

III. PROCESSING ASSESSMENT DATA
• Bagaimana seharusnya data-data tersebut dikombinasikan ?
• Bagaimana asesor dapat meminimalkan bias selama interpretasi data ?
Didasarkan pada teori apa yang akan digunakan : psikoanalisa, behavioral atau fenomenologi.

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya dalam asesmen adalah menentukan arti dari data tersebut. Jika informasi tersebut sekiranya berguna dalam pancapaian tujuan asesmen, maka informasi itu akan dipindahkan dari data kasar menjadi format interpretatif. Langkah tersebut biasanya disebut pemrosesan data asesmen atau clinical judgment.
Klinisi cenderung melihat data asesmen melalui tiga cara yaitu : sebagai sampel, korelasi atau tanda (sign). Contoh : Seorang laki-laki menelan 20 tablet obat penenang sebelum tidur tadi malam di sebuah hotel, tapi berhasil diselamatkan oleh petugas kebersihan yang akhirnya membawanya ke RS.
1. Data dilihat sebagai sampel dari perilaku klien. Kemungkinan judgment :
• Klien mempunyai cara potensial untuk melakukan pembunuhan secara medis
• Klien tidak ingin diselamatkan sebab tidak ada seorangpun yang tahu tentang usaha bunuh diri tersebut sebelum hal itu terjadi.
• Dalam situasi yang sama, klien mungkin akan mencoba bunuh diri lagi.

Disini dapat dilihat, bahwa data berupa usaha bunuh diri dilihat sebagai contoh dari apa yang dilakukan klien dalam situasi seperti itu. Tidak ada usaha untuk mengetahui mengapa dia mencoba bunuh diri. Jika dilihat sebagai sampel, akan didapat kesimpulan tingkat rendah. Teori yang mendasarinya adalah behavioral.

2. Data dilihat sebagai korelasi dengan aspek lain dalam hidup klien. Kemungkinan judgment :
• Klien sepertinya seorang lelaki setengah baya yang masih single atau bercerai dan mengalami kesepian.
• Klien saat itu mungkin mengalami depresi.
• Klien kurang mendapatkan dukungan emosi dari teman dan keluarganya.

Ada kombinasi antara : 1). Fakta tentang perilaku klien. 2). Pengetahuan klinisi tentang apa yang sekiranya dapat dikorelasikan dengan perilaku klien. Disini kesimpulan yang diambil berada pada tingkat yang lebih tinggi. Kesimpulannya didasarkan pada data-data pendukung yang ada di luar data asli seperti hubungan antara bunuh diri, usia, jenis kelamin, dukungan sosial, dan depresi. Semakin kuat pemahaman terhadap hubungan antar variabel, maka kesimpulan yang di dapat semakin akurat. Pendekatan ini bisa didasarkan pada beragam teori.

3. Data dilihat sebagai tanda (sign) yang lain, untuk mengetahui karakteristik kilen yang masih kurang jelas. Kemungkinan judgment :
• Dorongan agresif klien berubah menyerang diri sendiri.
• Perilaku klien merefleksikan adanya konflik intrapsikis.
• Perilaku minum obat merupakan manifestasi adanya kebutuhan untuk ditolong yang tidak disadarinya.

Kesimpulan yang didapat berada pada tingkat paling tinggi. Teori yang mendasari pendekatan ini adalah psikoanalisa atau fenomenologi.

IV. COMMUNICATING ASSESSMENT DATA
• Siapa yang akan diberi laporan asesmen dan tujuannya apa ?
• Bagaimanakah asesmen akan mempengaruhi klien yang di ases ?

Hasil dari asesmen biasanya akan ditulis menjadi sebuah laporan asesmen. Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi suatu laporan asesmen yaitu : jelas, relevan dengan tujuan dan berguna.
1. Jelas
Kriteria pertama yang harus dipenuhi adalah laporan itu harus jelas. Tanpa kriteria ini, relevansi dan kegunaan laporan tidak dapat dievaluasi. Ketidakjelasan laporan psikologis merupakan suatu masalah karena kesalahan interpretasi dapat menyebabkan kesalahan pengambilan keputusan.
2. Relevan dengan tujuan
Laporan asesmen harus relevan dengan tujuan yang sudah ditetapkan pada awal asesmen. Jika tujuan awalnya adalah untuk mengklasifikasikan perilaku klien maka informasi yang relevan dengan hal itu harus lebih ditekankan.
3. Berguna
Laporan yang ditulis diharapkan dapat memberikan sesuatu informasi tambahan yang penting tentang klien. Kadang terdapat juga laporan yang mempunyai validitas tambahan yang rendah. Misalnya klinisi menyimpulkan bahwa klien mempunyai kecenderungan agresifitas tinggi, tapi data kepolisian mencatat bahwa klien tersebut telah berulang kali ditahan karena kasus kekerasan. Informasi yang diberikan klinisi tidak memberikan suatu hal penting lainnya dari klien.

OUTLINE ASSESSMENT DATA
1. Psikoanalisa
I. Konflik
A. Persepsi diri
B. Tujuan
C. Frustrasi
D. Hubungan interpersonal
E. Persepsi lingkungan
F. Dorongan, dinamika
G. Kontrol emosi
II. Nilai stimulus sosial
A. Kemampuan kognitif
B. Faktor konatif
C. Tujuan
D. Peran sosial
III. Fungsi kognitif
A. Penurunan
B. Psikopatologi
IV. Defenses
A. Represi
B. Rasionalisasi
C. Regresi
D. Fantasi
E. Dsb

2. Fenomenologi ; pendekatan subjektif dan cenderung mengikuti format umum asesmen.
I. Klien dari sudut pandang sendiri
II. Klien seperti yang direfleksikan dalam tes
III. Klien seperti yang dilihat klinisi

3. Cognitive-Behavioral
I. Deskripsi tentang penampilan fisik dan perilaku selama asesmen
II. Permasalahan
A. Masalah saat ini
B. Latar belakang masalah
C. Situasi tertentu yang menentukan masalah
D. Variabel yang relevan
1. Aspek fisiologis
2. Pengaruh medis
3. Aspek kognitif yang menentukan masalah
E. Dimensi masalah
1. Durasi
2. Frekuensi
3. Keseriusan masalah

F. Konsekuensi masalah
1. Positif
2. Negatif
III. Masalah yang lain (diobservasi oleh asesor, tidak dinyatakan oleh klien)
IV. Aset individu
V. Target perubahan
VI. Treatment yang direkomendasikan
VII. Motivasi klien untuk treatment
VIII. Prognosis
IX. Prioritas treatment
X. Harapan klien
A. Penyelesaian masalah yang spesifik
B. Pada treatment secara umum
XI. Komentar lain


Kreativitas Verbal
Posted on November 22, 2008 by klinis
Kata kreativitas berasal dari kata sifat creative yang berarti pandai mencipta. Sedangkan untuk pengertian yang lebih luas, kreativitas berarti suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan orisinalitas berpikir.
Menurut Komite Penasehat Nasional Pendidikan Kreatif dan Pendidikan Budaya, keativitas merupakan bentuk aktivitas imajinatif yang mampu menghasilkan sesuatu yang bersifat orisinal, murni, dan bermakna (Munandar, 1999b).
Guilford (1967) menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah. Guilford juga menambahkan bahwa bentuk pemikiran kreatif masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan, sebab, disekolah yang dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan, dan penalaran (berfikir logis).
Hurlock (1992) juga menjelaskan bahwa kreativitas merupakan proses mental yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan orisinal. Hurlock menambahkan kreativitas menekankan pada pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda. Kreativitas juga tidak selalu menghasilkan sesuatu yang dapat diamati dan dinilai.
Menurut Jawwad (2004) kreativitas adalah kemampuan berpikir untuk meraih hasil-hasil yang variatif dan baru, serta memungkinkan untuk diaplikasikan, baik dalam bidang keilmuan, kesenian, kesusastraan, maupun bidang kehidupan lain yang melimpah.
Chandra (1994) menguraikan bahwa kreativitas merupakan kemampuan mental dan berbagai jenis ketrampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan unik, berbeda, orisinal, sama sekali baru, indah, efisien, tepat sasaran dan tepat guna.
Maslow (dalam Schultz, 1991) menyatakan bahwa kreativitas disamakan dengan daya cipta dan daya khayal naif yang dimiliki anak-anak, suatu cara yang tidak berprasangka, dan langsung melihat kepada hal-hal atau bersikap asertif. Kreativitas merupakan suatu sifat yang akan diharapkan seseorang dari pengaktualisasian diri.
Munandar (1999b) menguraikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru yang berdasarkan data informasi atau unsur-unsur yang ada. Pengertian kreativitas tidak hanya kemampuan untuk bersikap kritis pada dirinya sendiri melainkan untuk menciptakan hubungan yang baik antara dirinya dengan lingkungan dalam hal material, sosial, dan psikis.
Munadi (1987) memberikan batasan kreativitas sebagai proses berpikir yang membawa seseorang berusaha menemukan metode dan cara baru di dalam memecahkan suatu masalah. Kemudian ia menemukan bahwa kreativitas yang penting bukan apa yang dihasilkan dari proses tersebut tetapi yang pokok adalah kesenangan dan keasyikan yang terlihat dalam melakukan aktivitas kreatif.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu proses berpikir yang lancar, lentur dan orisinal dalam menciptakan suatu gagasan yang bersifat unik, berbeda, orisinal, baru, indah, efisien, dan bermakna, serta membawa seseorang berusaha menemukan metode dan cara baru di dalam memecahkan suatu masalah.
2. Ciri-ciri individu yang kreatif
Munandar (1999a) menyatakan bahwa ciri individu yang kreatif menurut para ahli psikologi antara lain adalah bebas dalam berpikir, mempunyai daya imajinasi, bersifat ingin tahu, ingin mencari pengalaman baru, mempunyai inisiatif, bebas berpendapat, mempunyai minat luas, percaya pada diri sendiri, tidak mau menerima pendapat begitu saja, cukup mandiri dan tidak pernah bosan.
Lebih lanjut Munandar (1999a) menjelaskan ciri-ciri pribadi kreatif meliputi ciri-ciri aptitude dan non-aptitude. Ciri-ciri aptitude yaitu ciri yang berhubungan dengan kognisi atau proses berpikir :
a. Keterampilan berpikir lancar, yaitu kemampuan mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan.
b. Keterampilan berpikir luwes, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, serta dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c. Keterampilan berpikir orisinal, yaitu kemampuan melahirkan ungkapan yang baru, unik, dan asli.
d. Keterampilan memperinci (mengelaborasi), yaitu kemampuan mengembangkan, memperkaya, atau memperinci detil-detil dari suatu gagasan sehingga menjadi lebih menarik.
e. Keterampilan menilai (mengevaluasi), yaitu kemampuan menentukan penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan, suatu rencana, atau suatu tindakan itu bijaksana atau tidak
Ciri-ciri non-aptitude yaitu ciri-ciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan, motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu : a) Rasa ingin tahu; b) Bersifat imajinatif; c) Merasa tertantang oleh kemajemukan; d) Berani mengambil risiko; e) Sifat menghargai.
Sund (dalam Nursito, 2000) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri yaitu (a) mempunyai hasrat ingin tahu, bersikap terhadap pengalaman baru, (b) panjang akal, (c) keinginan untuk menemukan dan meneliti, (d) cenderung lebih suka melakukan tugas yang lebih berat dan sulit, (e) berpikir fleksibel, bergairah, aktif dan berdedikasi dalam tugas, (f) menanggapi pertanyaan dan mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban lebih banyak.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang kreatif adalah bebas dalam berpikir dan bertindak, mempunyai daya imajinasi, bersifat ingin tahu, ingin mencari pengalaman baru, mempunyai minat yang luas, mempunyai inisiatif, bebas berpendapat, tidak pernah bosan, dan merasa tertantang oleh kemajemukan.
3. Aspek-aspek kreativitas
Guilford (Nursito, 2000) menyatakan bahwa aspek-aspek kreativitas adalah sebagai berikut :
1. Fluency, yaitu kesigapan, keancaran untuk menghasilkan banyak gagasan
2. Fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan.
3. Orisinalitas, yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagsan yang asli.
4. Elaborasi, yaitu kemampuan untuk melakukan hal-hal secara detail atau terperinci.
5. Redefinition, yaitu kemampan untuk merumuskan batasan-batasan dengan melihat dari sudut yang lain daripada cara-cara yang lazim.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek kreativitas adalah fluency (kelancaran), fleksibilitas, orisinalitas (murni), elaborasi, dan redenifition.
B. Kreativitas Verbal
1. Pengertian Kreativitas Verbal
Kreativitas verbal terdiri dari 2 kata, yaitu kreativitas dan verbal. Thrustone, yang dikutip Azwar (1996) menyatakan bahwa verbal adalah pemahaman akan hubungan kata, kosakata, dan penguasaan komunikasi.
Sinolungan (2001) menyatakan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan berkomunikasi yang diawali dengan pembentukan ide melalui kata-kata, serta mengarahkan fokus permasalahan pada penguasaan bahasa atau kata-kata, yang akan menentukan jelas tidaknya pengertian mengenai ide yang disampaikan.
Torrance (Munandar, 1999b) mengungkapkan kreativitas verbal sebagai kemampuan berpikir kreatif yang terutama mengukur kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam bentuk verbal. Bentuk verbal dalam tes Torrance berhubungan dengan kata dan kalimat.
Mednick & Mednick (dalam Sinolungan, 2001) menambahkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan melihat hubungan antar ide yang berbeda satu sama lain dan kemampuan untuk mengkombinasikan ide-ide tersebut ke dalam asosiasi baru. Anak-anak yang mempunyai kemampuan tersebut mampu membuat pola-pola baru berdasarkan prakarsanya sendiri menurut ide-ide yang terbentuk dalam kognitif mereka.
Guilford (1967) menambahkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan berfikir divergen, yaitu pemikiran yang menjajagi bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan yang sama besarnya.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan membentuk ide-ide atau gagasan baru, serta mengkombinasikan ide-ide tersebut kedalam sesuatu yang baru berdasarkan informasi atau unsur-unsur yang sudah ada, yang mencerminkan kelancaran, kelenturan, orisinalitas dalam berpikir divergen yang terungkap secara verbal.
2. Faktor yang mempengaruhi kreativitas verbal.
Munandar (1999b) mengatakan bahwa lingkungan yang responsif (keluarga, sekolah, dan masyarakat) merupakan faktor utama terjadinya proses perkembangan inteligensi dan merupakan dasar yang kuat untuk pertumbuhan kreativitas verbal.
Hurlock (1992) mengemukakan kondisi yang mempengaruhi kreativitas adalah :
a. Waktu. Untuk menjadi kreatif, kegiatan anak seharusnya jangan diatur, karena hal itu akan menyebabkan anak hanya mempunyai sedikit waktu untuk bermain-main dengan gagasan dan konsep serta mencobanya dalam bentuk baru.
b. Kesempatan menyendiri. Anak dapat menjadi kreatif bila tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial.
c. Dorongan. Orang tua sebaiknya mendorong anak untuk kreatif serta tidak mengejek atau mengkritik anak.
d. Sarana belajar dan bermain untuk merangsang dorongan eksperimen dan eksplorasi yang merupakan unsur penting dari kreatif.
e. Lingkungan yang merangsang. Lingkungan rumah dan sekolah harus memberikan bimbingan dan dorongan untuk merangsang kreativitas anak.
f. Hubungan orang tua. Orang tua yang tidak terlalu melindungi dan tidak terlalu posesif akan sangat mendukung kreativitas anak.
g. Cara mendidik anak. Cara mendidik yang demokratis dan permisif akan meningkatkan kreativitas, sedangkan cara mendidik yang otoriter akan memadamkan kreativitas anak.
h. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak semakin baik dasar untuk mencapai hasil yang kreatif.
Menurut Kutner dan Kanto (dalam Rismiati, 2002) menyatakan faktor-faktor yang menimbulkan kreativitas adalah :
a. Lingkungan didalam rumah maupun di sekolah yang merangsang belajar kreatif. Lingkungan kreatif tercipta dengan memberikan pertanyaan terbuka, dapat dilakukan dirumah maupun disekolah yang menimbulkan minat dan merangsang rasa ingin tahu anak.
b. Pengaturan Fisik. Dengan menciptakan suasana nyaman dan santai untuk merangsang imajinasi anak.
c. Konsentrasi. Akan menghasilkan ide-ide yang produktif sampai menampilkan daya khayal anak untuk mengembangkan imajinasi anak.
d. Orang tua dan guru sebagai fasilitator. Orang tua dan guru harus bisa menghilangkan ketakutan dan kecemasan yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.
Munandar (1988a) menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas verbal adalah :
a. Kelancaran berpikir (fluency of thinking) yang menggambarkan banyaknya gagasan yang keluar dalam pemikiran seseorang.
b. Fleksibilitas (keluwesan) yaitu kemampuan untuk menggunakan bermacam-macam pendekatan dalam mengatasi persoalan.
c. Orisinalitas (keaslian) yaitu kemampuan seseorang untuk mencetuskan gagasan asli.
d. Elaborasi yaitu kemampuan untuk mengembangkan ide-ide dan menguraikan ide-ide tersebut secara terperinci.
Keempat faktor tersebut oleh Munandar digunakan untuk menyusun Tes Kreativitas Verbal.
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengauhi kreativitas verbal adalah waktu, kesempatan menyendiri, sarana, lingkungan, dan kesempatan memperoleh pengetahuan. Selain itu faktor lain yang juga mempengaruhi kreativitas verbal adalah kelancaran berpikir (fluency of thinking), fleksibilitas (keluwesan), originalitas (keaslian), dan elaborasi.
3. Faktor-faktor yang menghambat Kreativitas Verbal
Menurut Lehman (dalam Hurlock, 1996) kreativitas akan melemah apabila dihambat oleh lingkungan seperti :
a. Kesehatan yang buruk. Dapat mematikan daya kreativitas anak karena anak tidak mampu mengembangkan diri.
b. Lingkungan keluarga yang kurang baik. Tidak memberi dorongan untuk meningkatkan kreativitas.
c. Adanya tekanan ekonomi. Mempersulit anak untuk mengembangkan bakat kreatifnya, bila anak membutuhkan dana, misalnya membeli buku.
d. Kurangnya waktu luang. Tidak adanya kesempatan dan kebebasan pada anak untuk mengembangkan bakat kreatifnya.
Hurlock (1992) menambahkan kondisi yang dapat melemahkan kreativitas adalah:
a. Pembatasan eksplorasi. Kreativitas anak akan melemah bila orang tua membatasi anaknya untuk bereksplorasi dan bertanya.
b. Pengaturan waktu yang terlalu ketat. Anak menjadi tidak kreatif jika terlalu diatur, karena mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk bebas berbuat sesuka hati mereka.
c. Dorongan kebersamaan keluarga. Perkembangan kreativitas anak akan terganggu bila keluarga selalu menuntut kegiatan bersama-sama, karena tidak mempedulikan minat dan pilihan anak.
d. Membatasi khayalan. Hal ini dapat melemahkan kreativitas, karena orang tua selalu menginginkan anaknya berpikiran realistis dan beranggapan bahwa khayalan hanya membuang-buang waktu.
e. Penyediaan alat-alat permainan yang sangat terstruktur. Anak yang sering diberi mainan yang sangat terstruktur, seperti boneka yang berpakaian lengkap, akan kehilangan kesempatan untuk bermain.
f. Sikap orang tua yang konservatif. Orang tua yang bersikap seperti ini biasanya takut menyimpang dari pola sosial yang ada dalam masyarakat, sehingga mereka selalu menemani kemana pun anaknya pergi.
g. Orang tua yang terlalu melindungi. Jika orang tua terlalu melindungi anak-anaknya, maka mereka mengurangi kesempatan bagi anaknya untuk mencari cara mengerjakan sesuatu yang baru atau berbeda.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menghambat kreativitas verbal adalah : kesehatan yang buruk, lingkungan keluarga yang kurang baik, adanya tekanan ekonomi, kurangnya waktu luang, pembatasan eksplorasi, membatasi khayalan anak, sikap orang tua yang terlalu melindungi, dan pengaturan waktu yang terlalu ketat.
4. Perkembangan Kreativitas Verbal
Bahtiar (Ali Sjahbana, 1983) berpendapat bahwa salah satu faktor penting yang memungkinkan kreativitas berkembang adalah adanya kebutuhan sosial yang menghendaki suatu bentuk, struktur, pola atau sistem yang baru, karena apa yang telah ada dianggap tidak lagi memadai atau tidak bisa memenuhi kebutuhan. Pada keadaan tertentu orang-orang yang berhubungan satu sama lain bisa merasa kurang senang, tidak puas, dengan bentuk dan sifat-sifat hubungan mereka, sehingga mereka merasakan perlu penciptaan bentuk-bentuk, pola-pola atau sistem hubungan yang baru.
Soemardjan (1983) menekankan bahwa timbul, tumbuh, dan berkembangnya kreativitas individu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu tersebut tinggal.
Munandar (1999a) menyebutkan bahwa mengembangkan kreativitas meliputi:
a. Pengembangan segi kognitif antara lain dilakukan dengan merangsang kelancaran, kelenturan dan keaslian dalam berpikir.
b. Pengembangan segi afektif antara lain dilakukan dengan memupuk sikap dan minat untuk bersibuk diri secara kreatif.
c. Pengembangan segi psikomotorik dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memungkinkan siswa mengembangkan keterampilannya dalam membuat karya-karya yang produktif dan inovatif.
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa perkembangan kreativitas verbal meliputi segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu tersebut tinggal juga dapat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya kreativitas verbal.
diambil dari Tulisan Nur AM
Filed under: Uncategorized | Tagged: artikel, kreativitas, verbal | Leave a Comment »
Kecemasan menghadapi menopause
Posted on January 2, 2008 by klinis
1. Pengertian kecemasan menghadapi menopause
a. Pengertian kecemasan. Salah satu gejala yang dialami oleh semua
orang dalam hidup adalah kecemasan. Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat
dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari.
Bagaimanapun juga bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan
suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah
klinis.
Menurut Bryne (1966), bahwa kecemasan adalah suatu perasaan yang
dialami individu, seperti apabila ia mengalami ketakutan. Pada kecemasan
perasaan ini bersifat kabur, tidak realistis atau tidak jelas obyeknya sedangkan
pada ketakutan obyeknya jelas.
Menurut Hurlock (1990), kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir,
gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya
perasaan-perasaan ini disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak mampu, merasa
rendah diri, dan tidak mampu menghadapi suatu masalah.
Menurut Kartono (1997), ketidakberanian individu dalam menghadapi
suatu masalah dan ditambah dengan adanya kerisauan terhadap hal-hal yang tidak
jelas merupakan tanda-tanda kecemasan pada individu.
Pendapat ahli lain Havary (1997), berpendapat bahwa kecemasan
merupakan reaksi psikis terhadap kondisi mental individu yang tertekan. Apabila
orang menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan baik pada situasi
tertentu akan berakhir tidak enak maka mereka akan cemas. Kondisi-kondisi atau
situasi yang menekan akan memunculkan kecemasan.
Dari uraian di atas diambil suatu kesimpulan bahwa kecemasan adalah
suatu kondisi psikologis individu yang berupa ketegangan, kegelisahan,
kekhawatiran sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam.
b. Pengertian menopause. Menurut Kartono (1992), bahwa “men” berarti
bulan, “pause, pausa, pausis, paudo” berarti periode atau tanda berhenti, hilangnya
menopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi.
Mappiare (1983), mengemukakan menopause sebagai akibat adanya
perubahan fisik dan psikis yang ditandai dengan berhentinya produksi sel telur
dan hilangnya kemampuan untuk melahirkan anak yang juga ditandai berhentinya
menstruasi.
Wanita akan mengalami menopause ditandai dengan berhentinya sirkulasi
haid dan juga diikuti dengan melemahnya organ produksi dan muncul gejalagejala
penuaan dibeberapa bagian tubuh. (Ibrahim, 2002)
Pakasi (1996), menjelaskan definisi menopause bukan hanya dari segi fisik
yaitu berhentinya menstruasi, tetapi dari segi usia yaitu dimulai pada akhir masa
menopause dan berakhir pada awal lanjut usia (senium) yaitu sekitar 40-65 tahun.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan menopause adalah suatu fase
dari kehidupan wanita yang ditandai dengan berhentinya menstruasi, berhentinya
produksi sel telur, hilangnya kemampuan melahirkan anak, dan membawa
perubahan dan kemunduran baik secara fisik maupun psikis.
c. Pengertian kecemasan menghadapi menopause. Burn (1988), bahwa
kebanyakan wanita menopause sering mengalami depresi dan kecemasan dimana
kecemasan yang muncul dapat menimbulkan insomnia atau tidak bisa tidur.
Setiap orang mempunyai keyakinan dan harapan yang berbeda-beda.
Karena perbedaan itu maka tidak ada dua orang yang akan memberikan reaksi
yang sama, meskipun tampaknya mereka seakan-akan bereaksi dengan cara yang
sama. Situasi yang membuat cemas adalah situasi yang mengandung masalah
tertentu yang akan memicu rasa cemas dalam diri seseorang dan tidak terjadi pada
orang lain. (Tallis, 1995)
Kartono (1992), mengemukakan perubahan-perubahan psikis yang terjadi
pada masa menopause akan menimbulkan sikap yang berbeda-beda antara lain
yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simtom-simtom psikologis
seperti: depresi, mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah, dan diliputi
banyak kecemasan.
Adanya perubahan fisik yang terjadi sehubungan dengan menopause
mengandung arti yang lebih mendalam bagi kehidupan wanita. Berhentinya siklus
menstruasi dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah
tidak dapat melahirkan anak lagi. Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak
berharga, tidak berarti dalam hidup sehingga muncul rasa khawatir akan adanya
kemungkinan bahwa orang-orang yang dicintainya berpaling dan
meningggalkannya. Perasaan itulah yang seringkali dirasakan wanita pada masa
menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan. (Muhammad,1981)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan
menghadapi menopause adalah perasaan gelisah, khawatir dari adanya perubahanperubahan
fisik, sosial maupun seksual sehubungan dengan menopause.
2. Faktor penyebab kecemasan menghadapi menopause
Sebuah permasalahan yang muncul pasti ada yang melatarbelakanginya,
sehingga permasalahan itu timbul demikian juga kecemasan yang dialami oleh
seseorang, ada penyebab yang melatarbelakanginya.
Menurut Kartono (2000), kecemasan disebabkan oleh dorongan-dorongan
seksual yang tidak mendapatkan kepuasan dan terhambat, sehingga
mengakibatkan banyak konflik batin.
Menurut Hartoyo (2004), bahwa stressor pencetus kecemasan dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Ancaman terhadap integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis yang
akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup
sehari-hari.
b. Ancaman terhadap system diri, dapat membahayakan identitas, harga diri,
dan fungsi integritas sosial. Faktor internal dan eksternal dapat mengancam
harga diri. Faktor eksternal meliputi kehilangan nilai diri akibat kematian,
cerai, atau perubahan jabatan. Faktor internal meliputi kesulitan interpersonal
di rumah atau tempat kerja.
Menurut Carpenito (1998), ada beberapa faktor yang berhubungan dengan
munculnya kecemasan yaitu :
a. Patofisiologis, yaitu setiap faktor yang berhubungan dengan kebutuhan dasar
manusia akan makanan, air, kenyamanan dan keamanan.
b. Situasional (orang dan lingkungan)
Berhubungan dengan ancaman konsep diri terhadap perubahan status, adanya
kegagalan, kehilangan benda yang dimiliki, dan kurang penghargaan dari orang
lain.
a). Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat karena kematian,
perceraian, tekanan budaya, perpindahan, dan adanya perpisahan
sementara atau permanen.
b). Berhubungan dengan ancaman intergritas biologis : yaitu penyakit, terkena
penyakit mendadak, sekarat, dan penanganan-penanganan medis terhadap
sakit.
c). Berhungan dengan perubahan dalam lingkungannya misalnya :
pencemaran lingkungan, pensiun, dan bahaya terhadap keamanan.
d). Berhubungan dengan perubahan status sosial ekonomi, misalnya
pengangguran, pekerjaan baru, dan promosi jabatan.
e). Berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu.
Freud (dalam Hall, 1980), faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah
lingkungan disekitar individu.dan menurut Priest (1987), bahwa sumber umum
dari kecemasan adalah pergaulan, usia yang bertambah, keguncangan rumah
tangga, dan adanya problem. Selain itu kecemasan juga ditimbulkan karena tidak
terpenuhinya kebutuhan seksual, atau frustasi karena tidak tercapainya apa yang
diingini baik material maupun sosial.
Menurut Tallis (1995), bahwa penyebab individu cemas adalah masalah
yang tidak bisa terselesaikan. Contoh masalah yang tidak dapat terselesaikan
adalah penuaan dan kematian. Menurut Dimyati (1990), mengatakan bahwa
kecemasan disebabkan oleh adanya keinginan-keinginan, kebutuhan, dan hal-hal
yang tidak disetujui oleh orang-orang disekitar, selain itu rangsangan emosi
merupakan reaksi terhadap kekecewaan terhadap frustasi. Sedangkan menurut
Freud (dalam Dimyati, 1990), bahwa penyebab kecemasan pada individu adalah
motif sosial dan motif seksual.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
menyebabkan kecemasan menghadapi menopause adalah masalah yang tidak
terselesaikan, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, adanya motif
sosial dan motif seksual.
3. Gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause
Setiap individu pasti pernah merasakan perasaan tidak nyaman, takut waswas
akan suatu hal dalam hidupnya, salah satunya adalah perasaan cemas.
Ada beberapa gejala tentang kecemasan menurut Morgan (1991) yaitu :
a. Gejala fisiologis : gemetar, tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai, kelopak
mata bergetar, kening berkerut, muka tegang, tak dapat diam, mudah kaget,
berkeringat, jantung berdebar cepat, rasa dingin, telapak tangan lembab, mulut
kering, pusing, kepala terasa ringan, kesemutan, rasa mual, rasa aliran panas
dingin, sering kencing, diare, rasa tak enak di ulu hati, kerongkongan
tersumbat, muka merah dan pucat, denyut nadi dan nafas yang cepat waktu
istirahat.
b. Gejala psikologis : rasa khawatir yang berlebihan tentang hal-hal yang akan
datang, seperti cemas, khawatir, takut, berpikir berulang-ulang, membayangkan
akan datangnya kemalangan terhadap dirinya maupun orang lain, kewaspadaan
yang berlebih, diantaranya adalah mengamati lingkungan secara berlebihan
sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih, sulit konsentrasi, merasa
nyeri, dan sukar tidur.
Adapun gejala-gejala psikologis adanya kecemasan menghadapi
menopause bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn dan Davidson
(dalam Zainuddin, 2000) adalah sebagai berikut:
a. Suasana hati, yaitu keadaan yang menunjukan ketidaktenangan psikis, seperti:
mudah marah, persaaan sangat tegang.
b. Pikiran, yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti : khawatir, sukar
konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri
sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya,.
c. Motivasi, yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari
situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri dari kenyataan.
d. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup,
kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
e. Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar,
pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.
Menurut Freud (dalam Hall, 1980), mengatakan tentang gejala-gejala
kecemasan yang dialami oleh individu biasanya mulutnya menjadi kering bernafas
lebih cepat, jantung berdenyut cepat.
Selain hal diatas Weekes (1992), menambahkan tentang gejala-gejala
kecemasan yang lain diantaranya adalah gelisah, adanya perasaan tidak berdaya,
tidak nyaman, insomnia, menarik diri, gangguan pola makan, komunikasi verbal
menurun, perasaan terancam atau ketakutan yang luar biasa, pikiran terpusat pada
gangguan fisiknya dan kesadaran diri menurun, merasa mual, banyak berkeringat,
gemetar dan seringkali diare.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan tentang gejala-gejala kecemasan
menghadapi menopause adalah suasana hati yang menunjukan ketidaktenangan
psikis, pikiran yang tidak menentu, motivasi untuk mencapai sesuatu, reaksireaksi
biologis yang tidak terkendali.
4. Periode terjadinya menopause
Wanita dilahirkan dengan sejumlah besar sel telur yang secara bertahap
akan habis terpakai. Ovarium tidak mampu membuat sel telur baru, sehingga
begitu sel telur yang dimiliki sejak lahir habis, maka ovulasi akan berhenti sama
sekali. Jadi terdapat semacam kekurangan hormon yang menyebabkan sebagian
besar masalah yang terjadi disekitar menopause atau yang berkembang
sesudahnya.
Muhammad (1981), menjelaskan bahwa pada suatu saat akan tiba
waktunya bagi sisa folikel sel telur yang berada pada indung telur mulai
menghilang. Saat ini tidaklah sama pada setiap wanita. Perubahan ini terjadi
secara mendadak, diantara umur 45 tahun dan 55 tahun. Ada transisi yang
bertahap dari masa kegiatan indung telur yang tidak ada lagi, ketika wanita itu
sudah mulai memasuki usia menopause
Terjadinya menopause dipicu oleh perubahan hormon dalam tubuh.
Dimana hormon merupakan suatu zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar
tertentu dalam tubuh (tidak semua kelenjar menghasilkan hormon), yang efeknya
mempengaruhi kerja alat-alat tubuh yang lain. Hormon yang dikeluarkan melalui
saluran terbuka keluar, tetepi langsung disalurkan ke dalam darah melalui
perembesan pada pembuluh-pembuluh darah yang ada disekitar kelenjar tersebut.
Seperti diketahui ada tiga macam hormon penting yang diproduksi oleh ovarium,
yaitu estrogen, progesteron, dan testotesron, dimana setelah mencapai menopause
hormon-hormon ini tidak diproduksi. (Sadli, 1987)
Estrogen dan progesteron pada wanita disebut hormon kelamin (sex
hormones). Esrtogen pada wanita menampilkan tanda-tanda kewanitaan, seperti
kulit halus, suara lemah lembut, payudara membesar. Dalam setiap bulan, kadar
estrogen dan progesteron bergelombang, bergantian naik turun. Gelombang itu
yang menyebabkan terjadinya haid pada wanita. Lain halnya dengan estrogen
yang hanya dihasilkan oleh indung telur selam persediaan sel tulur masih ada.
Tugas estrogen sebenarnya ialah mematangkan sel telur sebelum dikeluarkan.
Oleh karena itu selam estrogen masih ada, sel telur tetap akan diproduksi.
Kemudian setelah wanita berusia sekitar 45 tahun, ketika persediaan sel telur
habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen akibatnya haid tidak
muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti
berhentinya masa kesuburannya. (Sadli, 1987)
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa periode terjadinya
menopause ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan
produksi estrogen akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut
menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, A. W. 1994. Hubungan Sholat Dengan Kecemasan. Jakarta ; Studio Press.
Admir. 2005. Menopause Dini, Datang Di Saat? Tak Terduga.
http://www.ummigroup.co.id. Akses 1 Juni 2005.
Azwar, S. 1992. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Sigma Alpha.
1999. Metode Penelitian.Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
Bali post. 2005. Insomnia. http://www.balipost.com. Akses 16 Maret 2005.
Byrne, D. 1966. An Introduction to Personality. New Jersey : A Englewood dift.
Daradjat Z 1987. Menghadapi Masa Menopause (mendekati Usia Tua). Jakarta
:Bulan Bintang.
Dimyati, M. M. 1990. Psikologi Suatu Pengantar. Edisi I. Yogyakarta: BPFE.
Gusti, I. P. 1993. Gangguan Tidur (Insomnia) dan Terapinya Suatu Kajian
Pustaka. Majalah Ilmiah Unud. Vol. 15. No. 37. Hal. 29-35.
Hadi, S. 1985. Metodologi Research I. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada.
. 1990. Metodologi Research Jilid III. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan .
Fakultas Psikologi UGM
Hall, C. S. 1980. Suatu Pengantar Kedalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud
(Terjemahan Oleh Tasrif). Bandung: Pustaka Pelajar.
Hawari, D. 1990. Insomnia. Majalah Anda. Jakarta. Hal. 101-102.
Hawari, D. 1997. Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan. Yogyakarta :
Dana Bhakti Primayasa.
Hardjanta,G. 1994. Efektivitas Perlakuan Kontrol Stimulus dan Intensi Paradoksal
Pada Penderita Insomnia. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Program
Pasca Sarjana. UGM.
Hurlock, E.B. 1990. Psikologi Perkembangan, Suatu Rentang Kehidupan
(terjemahan : Istiwidayanti dan Soedjarwo). Edisi 5. Jakarta : Erlangga.
Hoeve, V, 1992. Ensiklopedi. (Terjemahan : Irsyad, M) Jakarta : Ichtiar Baru.
Iskandar, Y, 1985. Gangguan Tidur Dan Pengobatannya. Simposium Kesehatan
Jiwa ke XIII / 1985. Jakarta. Edisi Juli. Vol 4 No. 8.
Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita Jilid 2 : Wanita Sebagai Ibu Dan Nenek.
Bandung: Mandar Maju.
.2003. Patologi Sosial : Gangguan-Gangguan Kejiwaan. Jakarta :Raja
Grafido Persada.
Kavery, 1995. Penyebab Gangguan Insomnia (terjemahan : Ibrahim, M). Harian
Pikiran Rakyat. Tnggal 16 Maret. Bandung, hal. 4-5.
Kompas. 2004. Sulit Tidur Saat Menopause. http://www.kompas.com. Akses 1 Juni
2005.
Lumbatobing, 2004. Gangguan Tidur. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Maramis, W. F, 1994. Imu Kedokteran Jiwa. Jakarta : Erlangga.
Mappiare, 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional.
Medicastore, 2004. Insomnia. http://www.medicastore.com. Akses 14 Maret 2005.
Muhammad, K. 1981. Ginekologi Dan Kesehatan Wanita. Jakarta: Gaya Favo
Presss.
Morgan, H. G. 1991. Segi Praktis Psikiatri. Edisi Kedua (terjemahan Hartanto).
Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Nusa Indah, 2005. Info Kesehatan. http://www.Tripod.com. Akses 16 maret 2005.
Pakasi, L. S. 2000. Menopause: Masalah dan Penanggulangannya Edisi Kedua.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rahman, I. A. 2000. Perubahan Tubuh Menjelang Menopause Dan Gejala Serta
Tanda Yang Menyertainya. Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Insonesia.
Rafknowledge, 2004. Insomnia Dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta : PT Elex
Media Komputindo.
Republika, 2005. Mengatasi insomnia. http://www.Republika.co.id. Akses 16 Maret
2005.
Rosemary, N. 1992. Tidur Nyenyak Tanpa Obat. (terjemahan : Suryana) Jakarta
Arcan.\
Sadli, S. 1987. Di Atas 40 Tahun. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Santoso, Jihad. 2003. Pengaruh Menstruasi terhadap Insomnia Pada Mahasiswa
Putri Fakultas Kedoteran UMY Angkatan 1999. http://www.Bachelor
paper.com. Akses 23 Juni.
Sinar Harapan. 2002. Mengatasi Insomnia. http://www.Sinarharapan.com. Akses 16
Maret.
Suryabrata, S. 1990. Metodologi Penelitian. Jakarta: CV. Rajawali.
Subekti, T. H. 2000. Hubungan Kematangan Emosi Dengan Kecemasan dalam
Menghadapi Usia Lanjut Pada Ibu Rumah Tangga. Skripsi (tidak
diterbitkan). Surakarta : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Tallis, Fr. 1995. Mengatasi Rasa Cemas (Ahli Bahasa Meitasari Tjandrasa).
Jakarta: Arcan.
Wong, M, 1995. Tidur Tanpa Obat. (Terjemahan : dr. Hutapea) Yogyakarta :
Yayasan Essensia Medica.
Weekes, C. 1992. Mengatasi Stres (Terjemahan oleh Soemarto). Yogyakarta:
Kanisius
Zainuddin, S. K. 2002. Menopause. http://www.e-psikologi.com. Akses 1 Juni 2005

menopouse dan insomnia
Posted on December 28, 2007 by klinis
Tidur merupakan bagian hidup manusia yang memiliki porsi banyak. Rata-rata hampir seperempat hingga sepertiga waktu digunakan untuk tidur. Tidur merupakan kebutuhan, bukan suatu keadaan istirahat yang tidak bermanfaat. Tidur merupakan proses yang diperlukan oleh manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh. Disamping itu tidur bagi manusia dapat mengendalikan irama kehidupan sehari-hari. Salah satu fungsi tidur yang paling utama adalah untuk memungkinkan sistem syaraf pulih setelah digunakan selama satu hari. Dalam The World Book Encyclopedia, dikatakan tidur memulihkan energi kepada tubuh, khususnya kepada otak dan sistem syaraf (Mass dalam Furyanto, 2005).
Kesulitan tidur (insomnia) merupakan masalah kesehatan yang sangat mengganngu dan harus diantisipasi wanita menopause. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 10% hingga 15% wanita menopause meningkat kegelisahannya. Mereka mengalami insomnia dan depresi. Biasanya keluhan yang sering muncul berupa kesulitan untuk mulai tidur, lama tidak bisa tidur lagi, dan sering terbangun di waktu malam sehingga mengantuk di siang hari (www.kompascybermedia.com).
enurut Hoeve (1992), insomnia merupakan keadaan tidak dapat tidur atau terganggunya pola tidur. Orang yang bersangkutan mungkin tidak dapat tidur, sukar untuk jatuh tidur, atau mudah terbangun dan kemudian tidak dapat tidur lagi.
Menopause merupakan sumber potensial lain pada masalah tidur. Nyeri tiba-tiba atau dikenal dengan hot flash dan perubahan cara bernafas termasuk yang paling banyak dialami kaum wanita di saat pertama kali datang menopause. Konon separuh wanita menopause menderita nyeri tiba-tiba ini, dan rata-rata mengalaminya selama lima tahun pertama. Kondisi ini cukup mengganggu tidur dan bisa memicu kelelahan di siang hari. Sementara total waktu tidur untuk penderita tidak berbeda dengan yang tidak mengalaminya. Nyeri tiba-tiba berhubungan dengan seringnya terbangun pada malam hari, biasanya hampir setiap delapan menit. Lesu dan kelelahan diesok hari menjadi lebih sering dibandingkan rasa kantuk (Damayanti, 2003).
Menurut Hawari (1990) insomnia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain fisik dan psikis, faktor fisik misalnya terserang flu sehingga sulit untuk tidur, sedangkan faktor gangguan psikis adalah stres, cemas, depresi
alah satu proses atau tahap perkembangan manusia yang berkaitan dengan perubahan fisik dan psikis yaitu menopause. Menurut Kartono (1992) perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause dapat menimbulkan sikap yang berbeda-beda, di antaranya yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis seperti depresi, mudah tersinggung, mudah menjadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomnia atau tidak bisa tidur, karena sangat bingung dan gelisah. Lebih lanjut Kartono (1990) mengungkapkan ketika masa menopause berlangsung, terjadilah perubahan fisik maupun psikis, menurunnya fungsi hormon estrogen dan progesteron yang menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan seperti pusing, mual, gerah, berdebar-debar, dan sebagainya. Masalah menopause memberikan perubahan psikis karena adanya anggapan bagi sementara wanita bahwa menopause adalah tanda-tanda penuaan dan berakhirnya semua sifat-sifat kewanitaannya. Keadaan ini mungkin diperkuat dengan kurangnya pengertian atau adanya pengertian yang keliru mengenai masalah menopause.
erjadinya kekhawatiran-kekhawatiran, ketakutan-ketakutan, dan kecemasan-kecemasan pada masa menopause dapat menyebabkan terjadinya insomnia.
al ini didukung oleh pendapat Walsleben (Handita, 2004) bahwa gangguan
idur tidak langsung berhubungan dengan menurunnya hormon, namun
kondisi psikologis dan meningkatnya kecemasan, gelisah, dan emosi sering tidak terkontrol akibat menurunnya hormon estrogen yang bisa menjadi salah satu sebab meningkatnya gangguan tidur (insomnia) pada wanita menopause. Insomnia meningkat pada wanita usia 44-45 tahun karena berkurangnya hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Masalah tersebut bertambah parah saat menopause. Walsleben (Handita, 2004) juga mengatakan sebanyak 40 % wanita menopause mengalami kesulitan tidur.
Lain halnya pada sebagian wanita yang belum menopause, yang pada umunya berusia antara 30 sampai 40 tahun. Berdasarkan teori sebelumnya bahwa manita yang belum mengalami menopause umumya adalah wanita pada masa dewasa madya atau dewasa tengah berusia 30 sampai 40an tahun. Pada masa tersebut stabilitas emosional dan kepribadian berada dalam kondisi yang terbaik. Dalam California Longitudinal Study, pada waktu individu berusia 34 sampai 50 tahun, mereka adalah kelompok usia yang paling sehat, paling tenang, paling bisa mengontrol diri, dan juga paling bertanggung jawab, mereka tidak mengnalami ketakutan, cemas atau khawatir karena mereka merasa hidup lebih bebas. (Levinson dan Peskin, dalam Santrock, 2002)
Wanita yang berada pada masa dewasa madya yang belum mengalami menopauase tidak akan mengalami gejala-gejala yang seperti dialami oleh wanita yang mengalami menopause misalnya: terjadinya arus panas. Hal ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan pada vasomotor, rasa gelisah, mudah tersinggung, ketegangan dan kecemasan, termasuk perasaan tertekan, sedih, malas, emosi yang meluap, mudah marah, merasa tidak berdaya dan mudah menangis, osteoporosis (pengeroposan tulang), pruritis. Selain itu kebutuhan utama dan kuat mendorong individu dalam hidup berkeluarga seperti kebutuhan seksual relatif masih mampu terpenuhi dengan baik, sehingga tidak rasa ketakutan, cemas, khawatir seperti halnya orang wanita yang mengalami menopause. Dengan demikian wanita yang belum mengalami menopause relatif lebih kecil mengalami insomnia dibandingkan wanita yang sudah mengalami menopause.
Filed under: setiyo purwanto

PENERAPAN TERAPI “BACK IN CONTROL (BIC)” PADA ANAK ADHD (ATTENTION DEFICITS HIPERACTIVITY DISORDER)
Posted on August 30, 2007 by klinis
DEFINISI, PENYEBAB, DAN KARAKTERISTIK PERILAKU ANAK ADHD
Gangguan yang berupa kurangnya perhatian dan kiperaktivitas atau yang lebih dikenal dengan Attention Deficits Hiperactivity Disorder (ADHD) dapat kita temui dalam banyak bentuk dan perilaku yang tampak. Sampai saat ini ADHD masih merupakan persoalan yang kontroversial dan banyak dipersoalkan di dunia pendidikan. Beberapa bentuk perilaku yang mungkin pernah kita lihat seperti: seorang anak yang tidak pernah bisa duduk di dalam kelas, dia selalu bergerak; atau anak yang melamun saja di kelas, tidak dapat memusatkan perhatian kepada proses belajar dan cenderung tidak bertahan lama untuk menyelesaikan tugas; atau seorang anak yang selalu bosan dengan tugas yang dihadapi dan selalu bergerak ke hal lain.
ADHD sendiri sebenarnya adalah kondisi neurologis yang menimbulkan masalah dalam pemusatan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, dimana tidak sejalan dengan perkembangan usia anak. Jadi disini, ADHD lebih kepada kegagalan perkembangan dalam fungsi sirkuit otak yang bekerja dalam menghambat monitoring dan kontrol diri, bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi selama ini. Hilangnya regulasi diri ini mengganggu fungsi otak yang lain dalam memelihara perhatian, termasuk dalam kemampuan membedakan reward segera dengan keuntungan yang akan diperoleh di waktu yang akan datang (Barkley, 1998).
Anak-anak dengan ADHD biasanya menampakkan perilaku yang dapat dikelompokkan dalam 2 kategori utama, yaitu: kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas.
Kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dapat muncul dalam perilaku:
a. Ketidakmampuan memperhatikan detil atau melakukan kecerobohan dalam mengerjakan tugas, bekerja, atau aktivitas lain.
b. Kesulitan memelihara perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain
c. Kadang terlihat tidak perhatian ketika berbicara dengan orang lain
d. Tidak mengikuti perintah dan kegagalan menyelesaikan tugas
e. Kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas
f. Kadang menolak, tidak suka, atau enggan terlibat dalam tugas yang memerlukan proses mental yang lama, misalnya: tugas sekolah
g. Sering kehilangan barang miliknya, misal: mainan, pensil, buku, dll
h. Mudah terganggu stimulus dari luar
i. Sering lupa dengan aktivitas sehari-hari
Sedangkan hiperaktivitas-impulsivitas sering muncul dalam perilaku:
a. gelisah atau sering menggeliat di tempat duduk
b. sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau situasi lain dimana seharusnya duduk tenang
c. berlari berlebihan atau memanjat-manjat yang tidak tepat situasi (pada remaja atau dewasa terbatas pada perasaan tidak dapat tenang/gelisah)
d. kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan
e. seolah selalu terburu-buru atau bergerak terus seperti mesin
f. berbicara terlalu banyak
g. sering menjawab pertanyaan sebelum selesai diberikan. (Impulsivitas)
h. kesulitan menunggu giliran (Impulsivitas)
i. menyela atau memaksakan pendapat kepada orang lain (Impulsivitas)
Terkadang gejala tersebut juga diikuti oleh agresivitas dalam bentuk:
a. sering mendesak, mengancam, atau mengintimidasi orang lain
b. sering memulai perkelahian
c. menggunakan senjata tajam yang dapat melukai orang lain
d. berlaku kasar secara fisik terhadap orang lain
e. menyiksa binatang
f. menyanggah jika dikonfrontasi dengan korbannya
g. memaksa orang lain melakukan aktivitas seksual
Menurut DSM-IV definisi ADHD sendiri adalah sebagai berikut:
A. (1) atau (2)
(1) memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan;
(2) memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan
B. Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
C. Gejala-gejala tersebut muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)
D. Harus ada bukti nyata secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
E. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).
Gejala-gejala yang muncul sebagai bentuk kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas terkadang berpengaruh terhadap pengalaman belajar anak karena anak yang menunjukkan gejala-gejala tersebut biasanya akan terlihat selalu gelisah, sulit duduk dan bermain dengan tenang, kesulitan terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan antri, menjawab pertanyaan sebelum selesai ditanyakan, kesulitan mengikuti instruksi detail, kesulitan memelihara perhatian dalam waktu panjang ketika mengerjakan tugas, dan sering salah meletakkan barang.
Penelitian terakhir menyebutkan bahwa gejala-gejala pada anak ADHD muncul karena mereka tidak dapat menghambat respon-respon impulsif motorik terhadap input-input yang diterima, bukan ketidakmampuan otak dalam menyaring input sensoris seperti cahaya dan suara (Barkley, 1998).
Walaupun banyak penelitian sudah dilakukan namun sampai saat ini para ahli belum yakin apa penyebab ADHD, namun mereka curiga bahwa sebabnya berkait dengan aspek genetik atau biologis, walaupun mereka juga percaya bahwa lingkungan tumbuh anak juga menentukan perilaku spesifik yang terbentuk. Beberapa faktor yang banyak diduga memicu munculnya gejala ADHD adalah: kelahiran prematur, penggunaan alkohol dan tembakau pada ibu hamil, dan kerusakan otak selama kehamilan. Beberapa faktor lain seperti zat aditif pada makanan, gula, ragi, atau metode pengasuhan anak yang kering juga diduga mendukung munculnya gejala ADHD walaupun belum didukung fakta yang meyakinkan.

TRITMEN BAGI ANAK ADHD
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD, namun telah tersedia beberapa pilihan tritmen yang telah terbukti efektif untuk menangani anak-anak dengan gejala ADHD. Strategi penanganan tersebut melibatkan aspek farmasi, perilaku, dan metode multimodal.
Metode perubahan perilaku bertujuan untuk memodifikasi lingkungan fisik dan sosial anak untuk mendukung perubahan perilaku (AAP, 2001). Pihak yang dilibatkan biasanya adalah orang tua, guru, psikolog, terapis kesehatan mental, dan dokter. Tipe pendekatan perilakuan meliputi training perilaku untuk guru dan orang tua, program yang sistematik untuk anak (penguatan positif dan token economy), terapi perilaku klinis (training pemecahan masalah dan ketrampilan sosial), dan tritmen kognitif-perilakuan/CBT (monitoring diri, self-reinforcement, instruksi verbal untuk diri sendiri, dan lain-lain) (AAP, 2001).
Metode farmasi meliputi penggunaan psikostimulan, antidepresan, obat untuk cemas, antipsikotik, dan stabilisator suasana hati (NIMH, 2000). Harus diperhatikan bahwa penggunaan obat-obatan ini harus dibawah pengawasan ketat dokter dan ahli farmasi yang terus-menerus melakukan evaluasi terhadap efektivitas penggunaan dan dampaknya terhadap subjek tertentu.
Beberapa penelitian terakhir membuktikan bahwa cara terbaik untuk menangani anak ADHD adalah dengan mengkombinasikan beberapa pendekatan dan metode penanganan. Penelitian yang dilakukan NIMH terhadap 579 anak ADHD menunjukkan bahwa kombinasi terapi obat dan perilaku lebih efektif dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri. Tritmen multimodal khususnya efektif untuk meningkatkan ketrampilan sosial pada anak-anak ADHD yang diikuti gejala kecemasan atau depresi. Ternyata dosis obat yang digunakan lebih rendah jika diikuti dengan terapi perilaku daripada jika diberikan tanpa terapi perilaku.
TERAPI “BACK IN CONTROL (BIC)”
Program terapi “Back in Control” dikembangkan oleh Gregory Bodenhamer. Program terapi ini unik karena dikatakan lebih baik daripada intervensi reward/punishment bagi anak-anak dengan ADHD. Program ini berbasis kepada sistem yang berdasar pada aturan, jadi tidak tergantung pada keinginan anak untuk patuh. Jadi, program ini lebih kepada sistem training bagi orang tua yang kemudian diharapkan dapat menciptakan sistem tata aturan yang berlaku dirumah sehingga dapat merubah perilaku anak. Demi efektivitas program, maka nantinya orang tua akan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan proses yang sama bagi anaknya, ketika dia di sekolah. Orang tua harus selalu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan dan konsisten atas program yang dijalankan. Begitu juga ketika program ini dilaksanakan bersama-sama dengan pihak sekolah maka orang tua sangat memerlukan keterlibatan guru dan petugas di sekolah untuk melakukan proses monitoring dan evaluasi.
Dalam program ini, tugas orang tua adalah:
1. Orang tua mendefinisikan aturan secara jelas dan tepat (kita perjelas apa yang kita mau, tidak kurang tidak lebih). Kita buat aturan sejelas mungkin sehingga pengasuh pun dapat mendukung pelaksanaannya tanpa banyak penyimpangan.
2. Jalankan aturan tersebut dengan ketat.
3. Jangan memberi imbalan atau hukuman pada sebuah aturan. Jalankan saja.
4. Jangan pernah berdebat dengan anak tentang sebuah aturan. Gunakan kata-kata kunci yang tidak akan diperdebatkan, misalnya “kamu harus….meskipun…..”
Beberapa masalah yang muncul dalam pelaksanaan program ini antara lain :
1. Kebanyakan orang tua kurang bersedia memberikan reward, sedikit yang benar-benar tidak memberikan hukuman.
2. Kebanyakan orang tua kesulitan menahan untuk berteriak ketika marah kepada anak mereka. Sebenarnya, hal ini justru membuat anak merasa menang dan mengalihkan anak dari aturan yang sebenarnya.
Demikian paparan ringkas tentang terapi BIC untuk penyandang ADHD dan untuk lebih jelasnya, saya mencoba menyusun satu program untuk satu kasus ADHD sebagai ilustrasi bagaimana terapi BIC diterapkan.
ILUSTRASI : KASUS BONA
Bona adalah anak laki-laki berusia 5 tahun dan bersekolah di sebuah TK ternama di Yogya. Penampilan fisiknya gemuk dan tinggi, jauh lebih besar dibandingkan teman-teman seusianya. Ayah ibunya bekerja sebagai karyawan swasta yang bekerja sepanjang hari sehingga Bona lebih banyak diasuh pembantunya. Bona dibawa ke sebuah biro konsultasi psikologi oleh ibunya karena adanya keluhan yang disampaikan pembantu, para tetangga, dan terutama guru-guru di sekolahnya. Pembantu rumah tangga di keluarga tersebut sering sekali berganti karena kebanyakan dari mereka tidak tahan dengan perilaku Bona yang selalu berlarian tanpa henti, membuat berantakan seluruh mainan tanpa menggunakannya untuk bermain (hanya dilempar-lempar kemana saja), sering memukul dan menendang tanpa alasan bahkan terkadang saat memegang benda juga digunakan untuk melempar atau memukul, makan sambil berlarian dan berantakan seluruh makanannya, tidak memperhatikan jika diberitahu sesuatu, suka berteriak-teriak kasar, dan membanting benda-benda terutama jika permintaannya tidak segera dipenuhi.
Orang tua Bona sering merasa tidak nyaman dan serba salah dengan tetangga karena hampir setiap hari ada saja tetangga yang mengadu tentang perilaku Bona kepada anak-anak mereka. Perilaku Bona yang merebut mainan temannya hingga rusak, Bona yang memukul temannya hingga benjol, Bona yang melempar-lempar batu mengenai kaca tetangga, sampai Bona yang memanjat pagar tetangga dan merusakkan tanaman hias mereka, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sementara itu guru di sekolah juga sering sekali menyampaikan keluhan tentang perilaku Bona di sekolah, bahkan Bona beberapa kali diantarkan pulang guru sebelum waktunya. Di sekolah, Bona terlihat kesulitan mengikuti proses belajar karena dia selalu saja berlari dan sulit sekali diminta duduk di kursinya. Guru dan teman-teman lain merasa terganggu karena setiap kali Bona diminta duduk, beberapa detik kemudian sudah berlari-lari lagi keliling ruang kelas sambil mengganggu temannya atau sampai keluar kelas. Ketika teman-temannya belajar mewarnai atau menggambar maka Bona akan meninggalkan kertas gambarnya dalam keadaan kosong atau dengan sedikit coretan yang terlihat asal-asalan. Bona juga sulit sekali diminta melakukan sesuatu oleh gurunya karena setiap kali gurunya berbicara, Bona tidak tahan mendengarkannya sampai selesai. Juga ketika guru mengajukan pertanyaan, terkadang Bona berteriak menjawab meski pertanyaan belum selesai, dan akhirnya jawabannya pun tidak tepat. Beberapa waktu terakhir bahkan gurunya secara implisit menyatakan bahwa Bona sebaiknya di pindah ke sekolah lain yang dapat menanganinya dengan lebih baik karena guru-guru di sekolahnya yang sekarang sudah kewalahan. Orang tuanya bingung sekali dengan kondisi ini sehingga merasa perlu minta bantuan tenaga terapis anak untuk membantu. Mengingat bahwa Bona adalah anak tunggal dan efek dari perilakunya sudah dipandang meresahkan maka ibunya berniat cuti selama beberapa bulan dari pekerjaannya untuk mengatasi masalah anaknya ini.
PROSES TATA LAKSANA PERILAKU BAGI BONA
A. TARGET PERILAKU
Mengingat usia Bona yang 5 tahun dimana kebutuhan sosialisasinya dengan teman sebaya sudah cukup tinggi dan hampir memasuki usia sekolah, sementara Bona masih memiliki masalah dalam memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, maka beberapa perilaku yang menjadi target dalam perubahan perilaku ini adalah:
1. Mampu membereskan mainan dan barang-barang milik Bona sendiri.
2. Mendengarkan orang lain bicara sampai selesai.
3. Mengerjakan aktivitas sampai selesai.
Karena program ini berbasis pada sistem aturan maka perilaku yang menjadi target dapat beberapa (tidak hanya satu) dengan catatan setiap target perilaku akan dibuatkan aturan yang detil dan jelas tentang perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan (dalam program yang direncanakan).
B. RENCANA WAKTU
Waktu yang direncanakan adalah 6 bulan, mengingat bahwa selama waktu itu ibunya akan cuti dari kantor dan dapat secara penuh terlibat dalam program ini untuk terus berada di samping Bona. Waktu 6 bulan ini akan dibagi dalam beberapa tahap untuk memudahkan proses monitoring dan evaluasi.
Tahap pertama adalah training yang dilaksanakan oleh terapis bagi orang tua Bona untuk melatih mereka agar dapat menciptakan aturan dan mengelola program di rumah. Training ini dilakukan selama 1 minggu dilanjutkan dengan membuat program.
Minggu kedua orang tua Bona mulai membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi Bona di rumah dengan kontrol dari seluruh warga rumah termasuk pembantu. Jadi seluruh aturan ini secara detil dan jelas disosialisasikan kepada semua orang di rumah. Untuk memudahkan sosialisasi, orang tua Bona menempelkan aturan-aturan tersebut di beberapa tempat di dinding rumah.
Sejalan dengan sosialisasi maka aturan mulai dijalankan dengan monitoring setiap saat oleh ibunya Bona dibantu siapa saja yang di rumah. Evaluasi dilakukan oleh orang tua bersama pembantu setiap hari dan oleh orang tua bersama terapis setiap akhir minggu.
C. PELAKSANA PROGRAM
Program ini dilaksanakan oleh Ibu Bona sebagai manajer program dibantu oleh seluruh anggota keluarga dengan didampingi terapis anak sebagai pemandu program dan nara sumber proses.
D. PROGRAM YANG DIRENCANAKAN
Berdasarkan target perilaku tersebut di bagian A maka dibuatlah aturan-aturan yang detil tentang perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan dari Bona, yaitu:
1. Membereskan mainan dan barang milik Bona sendiri.
Aturan:
a. Memasukkan pensil, penghapus, dan buku ke tas setelah digunakan. (Tidak meninggalkan pensil, penghapus, dan buku di meja belajar, meja tamu, atau di ruang lain)
b. Mengembalikan mainan ke wadahnya setelah digunakan. (Tidak melempar-lempar mainan jika tidak digunakan. Jika melempar-lempar maka harus mengambil kembali dan dikembalikan ke wadahnya.)
2. Mendengarkan orang lain bicara sampai selesai.
Aturan:
a. Menunggu Bapak, Ibu, pembantu, atau teman selesai ketika sedang berbicara tanpa memotong.
b. Tidak pergi ketika Bapak, Ibu, teman, atau pembantu sedang berbicara kepada Bona.
c. Menjawab pertanyaan Bapak, Ibu, teman, atau pembantu jika sudah selesai diucapkan. (Tidak menjawab pertanyaan sebelum selesai.)
d. Menatap wajah Bapak, Ibu, teman, atau pembantu yang sedang berbicara kepada Bona. (Tidak memalingkan muka ketika diajak berbicara.)
3. Mengerjakan aktivitas sampai selesai.
Aturan:
a. Memasang-masang mainan lego sampai berbentuk sesuatu baru dilepas kembali. (Tidak berganti mainan sebelum selesai dimainkan.)
b. Menggambar sampai selesai. (Tidak berganti kertas gambar atau meninggalkannya sebelum gambar selesai dibuat.)
c. Mewarnai bentuk sampai selesai baru berganti kertas.
d. Makan sambil duduk sampai selesai. (Tidak makan sambil berlari-lari keluar rumah.)
Keseluruhan aturan ini disampaikan kepada Bona dengan jelas dan harus yakin bahwa Bona mengerti dengan jelas yang dimaksud dengan aturan ini. Aturan ini kemudian ditulis besar-besar dan ditempel di beberapa bagian rumah, seperti di kamar Bona, ruang bermain, dan dapur untuk selalu mengingatkan orang tua dan pembantu agar terus mendorong pelaksanaan aturan tersebut secara konsisten.
E. EVALUASI PROGRAM
Program bagi Bona ini akan selalu dievaluasi dan dimonitor menggunakan lembar evaluasi dan lembar monitoring yang dibuat saat perencanaan program (contoh lembar evaluasi dan lembar monitoring terlampir). Evaluasi dan monitoring dilakukan ibu Bona sebagai manajer program dan secara berkala akan didiskusikan bersama terapis untuk melihat efektivitas dan kemajuan program.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders (4th ed.). Washington, DC: American Psychiatric Association.
Barkley, R. A. (September, 1998). Attention-deficit hyperactivity disorder. Scientific
American, 279: 3.
Barkley, R. A. (1998). Handbook of Attention Deficit Hyperactivity Disorder (2nd ed.).
New York: Guilford Press.
Cantwell, D. P., & Baker, L. (1991). Association between attention deficit-hyperactivity
disorder and learning disorders. Journal of Learning Disabilities, 24, 88-95.
Carlson, C. L., Pelham, W. E., Jr., Milich, R., & Dixon, J. (1992). Single and combined
effects of methylphenidate and behavior therapy on the classroom performance of children with attention-deficit hyperactivity disorder. Journal of Abnormal Child Psychology, 20, 213-232.
DSM-III-R symptoms for the disruptive behavior disorders. Journal of the American
Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 31, 210-218.
Hinshaw, S. P., Owens, E. B., Wells, K. C., Kraemer, H. C., Abikoff, H. B., Arnold, L. E., et
al. (2000). Family processes and treatment outcome in the MTA: Negative/ineffective
parenting practices in relation to multimodal treatment. Journal of Abnormal Child
Psychology, 28(6), 555-568.
Jensen, P. S., Martin, D., & Cantwell, D. (1997). Comorbidity in ADHD: Implications for
research, practice, and DSM-IV. Journal of the American Academy of Child Adolescent Psychiatry, 36(8), 1065-1079.
Jensen, P. S., Hinshaw, S. P., Kraemer, H. C., Lenora, N., Newcorn, J. H., Abikoff, H. B., et
al. (2001). ADHD Comorbidity findings from the MTA Study: Comparing Comorbid
Subgroups. Journal of the American Academy of Child Adolescent Psychiatry, 40(2), 147-158.
MTA Cooperative Group. (1999a). Fourteen-month randomized clinical trial of treatment
strategies for attention-deficit hyperactivity disorder. Archives of General Psychiatry, 56,1073-1086.
National Institute of Mental Health (NIMH). (1999). Questions and answers. NIMH
Multimodal Treatment Study of Children With ADHD. Bethesda, MD: NIMH.
National Institute of Mental Health. (2000). NIMH Research on Treatment for Attention
Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): The Multimodal Treatment Study—Questions and Answers. [Online]. Available: http://www.nimh.nih.gov/events/mtaqa.cfm.
________________________________________
Possibly related posts: (automatically generated)
• DEFINISI ADHD (ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDERS)
• Terapi Bermain Untuk Anak ADHD
• ADHD
Filed under: Lusi Nuryanti

PENERAPAN TERAPI BERMAIN BAGI PENYANDANG AUTISME (3)
Posted on August 30, 2007 by klinis
PENDEKATAN TEORITIS PENERAPAN TERAPI BERMAIN PADA PENYANDANG AUTISME
Sebagian besar teknik terapi bermain yang dilaporkan dalam literatur menggunakan basis pendekatan psikodinamika atau sudut pandang analitis. Hal ini sangat menarik karena pendekatan ini secara tradisional dianggap membutuhkan komunikasi verbal yang tinggi, sementara populasi autistik tidak dapat berkomunikasi secara verbal. Namun terdapat juga beberapa hasil penelitian yang menunjukkan penggunaan terapi bermain pada penyandang autisme dengan berdasar pada pendekatan perilakuan (Landreth, 2001). Salah satu contoh penerapan terapi bermain yang menggunakan pendekatan perilakuan adalah The ETHOS Play Session dari Bryna Siegel (Schaefer, Gitlin, & Sandgrund, 1991).
Terdapat beberapa contoh penerapan terapi bermain bagi anak-anak autistik, diantaranya adalah (Landreth, 2001):
1. Terapi yang dilakukan Bromfield terhadap seorang penyandang autisme yang dapat berfungsi secara baik. Fokus terapinya untuk dapat masuk ke dunia anak agar dapat memahami pembicaraan dan perilaku anak yang membingungkan dan kadang tidak diketahui maknanya. Bromfield mencoba menirukan perilaku obsessif anak untuk mencium/membaui semua objek yang ditemui menggunakan suatu boneka yang juga mencium-cium benda. Apa yang dilakukan Bromfield dan yang dikatakannya ternyata dapat menarik perhatian anak tersebut. Bromfield berhasil menjalin komunikasi lanjutan dengan anak tersebut menggunakan alat-alat bermain lain seperti boneka, catatan-catatan kecil, dan telepon mainan. Setelah proses terapi yang berjalan 3 tahun, si anak dapat berkomunikasi secara lebih sering dan langsung.
2. Lower & Lanyado juga menerapkan terapi bermain yang menggunakan pemaknaan sebagai teknik utama. Mereka berusaha masuk ke dunia anak dengan memaknai bahasa tubuh dan tanda-tanda dari anak, seperti gerakan menunjuk. Tidak ada penjelasan detil tentang teknik mereka namun dikatakan bahwa mereka kurang berhasil dengan teknik ini.
3. Wolfberg & Schuler menyarankan penggunaan terapi bermain kelompok bagi anak-anak autistik dan menekankan pentingnya integrasi kelompok yang lebih banyak memasukkan anak-anak dengan kemampuan sosial yan tinggi. Jadi mereka memasangkan anak-anak autistik dengan anak-anak normal dan secara hati-hati memilih alat bermain dan jenis permainan yang dapat memfasilitasi proses bermain dan interaksi di antara mereka. Fasilitator dewasa hanya berperan sebagai pendukung dan mendorong terjadinya proses interaksi yang tepat.
4. Mundschenk & Sasso juga menggunakan terapi bermain kelompok ini. Mereka melatih anak-anak non-autistik untuk berinteraksi dengan anak-anak autistik dalam kelompok.
5. Voyat mendeskripsikan pendekatan multi disiplin dalam penggunaan terapi bermain bagi anak autisme, yaitu dengan menggabungkan terapi bermain dengan pendidikan khusus dan melatih ketrampilan mengurus diri sendiri.
EFEKTIVITAS TERAPI BERMAIN BAGI PENYANDANG AUTISME
Efektivitas penggunaan terapi bermain masih cukup sulit diketahui karena sampai saat ini kebanyakan literatur masih memaparkan hasil kasus per kasus. Namun Bromfield, Lanyado, & Lowery menyatakan bahwa klien mereka menunjukkan peningkatan dalam bidang perkembangan bahasa, interaksi sosial, dan berkurangnya perilaku stereotip, setelah proses terapi. Mereka dikatakan juga dapat mentransfer ketrampilan ini di luar seting bermain.
Wolfberg & Schuler menyatakan bahwa model terapi bermain yang terintegrasi dalam kelompok juga dapat berhasil, dimana program ini ditujukan untuk meningkatkan interaksi sosial dan melatih ketrampilan bermain simbolik. Mundschenk & Sasso juga melaporkan hal yang sama.
PRINSIP-PRINSIP PENERAPAN TERAPI BERMAIN BAGI ANAK AUTISTIK
Terdapat beberapa hal prinsip yang harus dipahami terapis sebelum menerapkan terapi bermain bagi anak-anak autistik, yaitu:
1. Terapis harus belajar “bahasa” yang diekspresikan kliennya agar dapat lebih membantu. Karena itu metode yang disarankan adalah terapi yang berpusat pada klien.
2. Harus disadari bahwa terapi pada populasi ini prosesnya lama dan sangat sulit sehingga membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi. Apa yang kita latihkan bagi anak normal dalam waktu beberapa jam mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun pada anak autistik. Kondisi ini kadang membuat terapis bosan dan putus asa.
3. Terapis harus menghindari memandang isolasi diri anak sebagai penolakan diri dan tidak memaksa anak untuk menjalin hubungan sampai anak betul-betul siap.
4. Terapis juga harus betul-betul sadar bahwa meskipun anak autistik dapat mengalami kemajuan dalam terapi yang diberikan, ketrampilan sosial dan bermain mereka mungkin tidak akan bisa betul-betul normal. Jika tujuan umum terapi adalah untuk membantu anak dapat memaksimalkan potensi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk berfungsi lebih baik dalam hidup mereka, maka keberhasilan sekecil apapun harus dianggap sebagai kemenangan dan harus disyukuri sepenuh hati.
Berdasarkan luasnya batasan terapi bermain maka penerapannya bagi penyandang autisme memerlukan batasan-batasan yang lebih spesifik, disesuaikan dengan karakteristik penyandang autisme sendiri. Pada anak penyandang autisme, terapi bermain dapat dilakukan untuk membantu mengembangkan ketrampilan sosial, menumbuhkan kesadaran akan keberadaan orang lain dan lingkungan sosialnya, mengembangkan ketrampilan bicara, mengurangi perilaku stereotip, dan mengendalikan agresivitas.
Berbeda dengan anak-anak non autistik yang secara mudah dapat mempelajari dunia sekitarnya dan meniru apa yang dilihatnya, maka anak-anak autistik memiliki hambatan dalam meniru dan ketrampilan bermainnya kurang variatif. Hal ini menjadikan penerapan terapi bermain bagi anak autisme perlu sedikit berbeda dengan pada kasus yang lain, misalnya:
1. Tujuan dan target setiap sesi terapi bermain harus spesifik berdasarkan kondisi dan ketrampilan anak, dilakukan dengan bertahap dan terstruktur . Misalnya pada penyandang autisme yang belum terbentuk kontak mata, maka mungkin tujuan terapi bermain dapat diarahkan untuk membentuk kontak mata. Permainan yang dapat dipilih misalnya ci luk ba, lempar tangkap dengan bantuan, ‘lihat ini’, dan lain-lain.
2. Jika secara umum terapi bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan eksplorasi, maka pada anak autisme hal ini akan memerlukan usaha yang lebih keras dari terapis terutama jika anak belum memiliki kesadaran akan dirinya dan dunia sekitarnya sehingga inisiatif belum muncul. Pada kasus seperti ini maka terapis perlu lebih aktif menarik anak untuk masuk dalam forum bermain dengan secara aktif menunjukkan contoh dan menarik anak terlibat. Misalnya dengan menunjuk masing-masing alat bermain yang ada sambil menyebutkan namanya, memberi contoh bagaimana alat bermain itu digunakan, terapis bermain pura-pura dengan tetap berusaha menarik anak terlibat.
3. Jika kesadaran diri dan dunia sekitarnya sudah muncul , maka anak dapat diberikan target yang lebih tinggi misalnya melatih ketrampilan verbal (berbicara) dan ketrampilan sosial. Pada tahap ini maka pelibatan anak dalam forum yang lebih besar, dengan melibatkan anak-anak sebaya lain mungkin lebih membantu. Misalnya anak diajak bernyanyi bersama, dibacakan cerita bersama anak-anak lain, diajak berbicara, dan permainan lainnya.
4. Terapi bermain bagi penyandang autisme dapat ditujukan untuk meminimalkan/menghilangkan perilaku agresif, perilaku menyakiti diri sendiri, dan menghilangkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering menyakiti diri sendiri. Mengenalkan anak pada permainan konstruktif seperti menyusun balok juga akan memberi kegiatan lain sehingga diharapkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat dapat diminimalkan.
Demikian beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam terapi bermain bagi penyandang autisme. Namun, disamping beberapa hal tersebut terdapat beberapa hal prinsip yang juga harus diperhatikan, yaitu:
1. Terapi bagi anak penyandang autisme tidak dapat dilakukan hanya dengan terapi tunggal. Mengingat bahwa spektrum hambatan yang dialami anak autism sangat luas dan kompleks, maka terapi bermain sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan terapi yang lain, misalnya terapi wicara, terapi medis, dan lain-lain. Rencana program terapi yang dijalankan pun harus disusun dengan terpadu dan terstruktur dengan baik, begitu juga proses evaluasinya.
2. Terapi bermain ini harus dilakukan oleh tenaga terapis yang sudah terlatih dan betul-betul mencintai dunia anak dan pekerjaannya. Hal ini terlebih pada penyandang autisme karena menangani anak autisme memerlukan kesabaran dan keteguhan hati yang tinggi. Jika pada anak non autistik target perubahan perilaku yang dibuat mungkin dapat dicapai dengan cepat dan lebih mudah, maka bagi penyandang autisme belajar perilaku baru memerlukan usaha dan perjuangan yang sangat keras dan belum tentu berhasil memuaskan.
3. Keberhasilan program terapi bermain sangat ditentukan oleh bagus tidaknya kerja sama terapis dengan orang tua dan orang-orang lain yang terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan proses transfer ketrampilan yang sudah diperoleh selama terapi yang harus terus dipelihara dan ditingkatkan dalam kehidupan di luar program terapi.
Demikianlah beberapa hal yang menurut saya penting diketahui tentang penerapan terapi bermain bagi anak penyandang autisme. Sekali lagi, harus dicatat bahwa terapi bermain adalah salah satu alternatif saja diantara sekian banyak program terapi yang sudah dikembangkan bagi anak autisme. Masukan dan kritik bagi makalah ini sangat diharapkan demi proses belajar saya dan perbaikan ke depan. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
APA. 1994. DSM-IV, 4th Ed. Washington DC: The American Psychiatric Association
Budiman, M., 1997. Tata Laksana Terpadu pada Autisme. Simposium Tata Laksana Autisme oleh Yayasan Autisme Indonesia. Jakarta: tidak diterbitkan
Caldera, Y.M., et al., 1999. Children ‘s Play Preferences, Construction Play with Blocks, and Visual-Spatial Skills: Are They Related? International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 23. No. 4,855-872.
Coplan, R.J, et al., 2004. Do You “want “ to Play? Distinguishing Between Conflicted Shyness and Social Disinterest in Early Childhood. International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 40. No. 2, 244-258.
Hartini, N., 2004. Pola Permainan Sosial: Upaya Meningkatkan Kecerdasan Emosi Anak, Anima, Vol. 19, No. 3, 271-285
Hoeksema, S.N., 2004. Abnormal Psychology. 3rd ed. New York: McGraw-Hill Companies. Inc.
International Association for Play Therapy (APT), Play Therapy. Diakses dari www. A4pt.org
Landreth, G.L., 2001, Innovations in Play Therapy: Issues, Process, and Special Populations, Philadelphia, Brounner-Routledge
Lyytinen, P., Dikkens, A. M., dan Laakso, M.L. 1997. Language and Symbolic Play in Toddlers. International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 21. No. 2, 289-302.
McConnell, R.S., 2002. Interventions to Facilitate Social Interaction for Young Children with Autism: Review of Available Research and Recommendations for Educational Intervention and Future Research. Journal of Autism and Developmental Disorders. Vol. 32. No. 5, October 2002, 351-372
Openheim, D. 1997. The Attachment Doll-Play Interview for Preschoolers. International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 20. No. 4, 681-697.
Schaefer,C.E., Gitlin, K, & Sandgrund., 1991, Play Diagnosis & Assessment, Canada: John Wiley & Sons
Sugiarto, S, Prambahan, D.S., & Pratitis, N.T., 2004, Pengaruh Social Story terhadap Kemampuan Berinteraksi Sosial pada Anak Autis, Anima, Vol. 19, N0. 3, 250-270
Sukmaningrum, E., 2001, Terapi Bermain sebagai Salah Satu Alternatif Penanganan Pasca Trauma pada Anak, Jurnal Psikologi, Vol. 8, No. 2, 14-23
Sutadi, R., 1997. Tata Laksana Perilaku pada Penyandang Autisme. Simposium Tata Laksana Autisme oleh Yayasan Autisme Indonesia. Jakarta: tidak diterbitkan
Filed under: Lusi Nuryanti

PERANAN PSIKOLOGI KLINIS DAN BIMBINGAN KONSELING

Januari 23, 2013

PERANAN PSIKOLOGI KLINIS DAN BIMBINGAN KONSELING
Oleh: Jon Efendi

1. Tujuan matakuliah ini adalah memberikan apresiasi kepada; BK, Pedagog mengenai pengertian psikologi klinis;
a. Apakah yang dimaksud dengan apresiasi?
Yang dimaksud dengan apresiasi disini adalah sebuah pandangan atau pemahaman bagi seseorang tentang orientasi pekerjaan sebagai profesi psikologi klinis. Psikologi Klinis merupakan ilmu yang menerapkan atau mengaplikasikan Psikologi Abnormal sebagai ilmu dasarnya. Di bidang-bidang lain kita kenal pedologi dan gerontologi, patologi sosial dll yang secaa keseluruhan merupakan bagian dari kajian psikologi klinis,yang juga berkembang dengan nama psikologi klinis anak dan lanjut usia, psikologi klinis sosial atau patologi sosial. Namun, sebagaimana ilmu psikologi pada umumnya, yang merupakan studi tentang perilaku dan penghayatan atas pengalaman seseorang, Psikologi Klinis juga merupakan studi tentang perilaku seorang individu secara dan yang khas (particular individual).
Sejalan dengan pengertian Psikologi Klinis adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristik individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis, serta pemberian saran dan rekomendasi, agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut. Psikologi klinis memusatkan kegiatannya pada aspek intelektual, emosional, biologis, sosial, dan prilaku pemfungsian manusia sepanjang hidupnya, dalam berbagai budaya, dan pada taraf sosioekonomik. Psikologi klinis merupakan bidang dalam psikologi yang meliputi riset, pengajaran, dan pelayanan yang relevan dengan prinip-prinsip, metode, dan prosedur aplikasi untuk memahami, menduga, dan mengurangi maladjust¬ment, ketidakmampuan, dan ketidaknyamanan, aspek intelektual, emosional, biologis, psikollogis,sosial, dan prilaku, ketidak mampuan,dan ketidaknyamanan, diterapkan pada populasi klien untuk rentang yang luas.
b. Apakah ada perbedaan tujuannya?
Jika dilihat dari sudut perbedaan tujuannya maka psikologi klinis lebih mengarah pada penanganan gangguan mental yang berkaitan dengan perilaku secara klinis. Psikologi klinis memusatkan kegiatannya pada aspek intelektual, emosional, biologis, sosial, dan prilaku pemfungsian manusia sepanjang hidupnya, dalam berbagai budaya, dan pada taraf sosioekonomik. Sementara Bimbingan Konseling lebih mengacu pada penanganan yang berkakitan dengan masalah-masalah belajar atau pendidikan (educational). Sehigga klien mendapatkan kesuksesan dalam mengatasi masalah-masalah belajar yang bersumber dari gangguan dari berbagai macam aspek yang menjadi penyebabnya.
c. Apakah pemahaman tujuan diagnosis dalam asesmen klinis tersebut?
Makna diagnosis lebih cenderung mengarak pada pendekatan medis, sementara Asesmen klinis, sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan diagnositika atau khusus untuk masalah-masalah psikologis disebut psikodiagnostika, merupakan upaya untuk memahami gejala-gejala yang menyangkut masalah yang dialami anak-anak. Asesmen klinis ini merupakan aktivitas profesional utama yang dilakukan para praktikus psikologi klinis, yang saat itu kebanyakan terbatas dalam sisi keterampilannya. Sejumlah minoritas klinikus yang melakukan psikoterapi, melakukannya di bawah supervisi psikiatris. Praktek pribadi umumnya jarang, yang dalam kegiatannya terutama lebih banyak merupakan konsultasi psikologis daripada Psikologi Klinis yang sebenarnya. Adapun yang merupakan konsentrasi tetap, lebih banyak dikenal berperan sebagai mental tester oleh atau bagi profesi lain.Maksudnya adalah bahwa psikolog klinis berfungsi merespons permintaan profesi lain,seperti psikiater,psikolog industri dan organisasi,guru, dan lain-lain untuk melakukan tes mental terhadap klien atau pasien mereka.
d. Bedakan tujuan BK dengan pemahaman tujuan S1 Psikologi!
Tujuan BK berbeda dengan tujuan S1 psikologi dikarenakan;
BK bertujuan dalam membantu siswa yang memiliki masalah-masalah berkenaan dengan pembelajaran atau pendidikan. Sementara psikologi menangani permasalahan kelainan kejiwaan dalam kehidupan
BK berorientasi pada masalah-masalah gangguan dalam pendidikan dan kesuksesan dalam pembelajaran.

2. Pendidikan atau disebut training psikologi klinis/saintifict personal approach.
a. Mengapa disebut training, bukan pendidikan/sekolah?
Dalam psikologi klinis selalu menggunakan istilah training dan bukan pendidikan, hal ini dikarenakan untuk menjadi seorang psikolog bagi mereka diperlukan bermacam-macam training dengan tujuan agar mereka terlaltih dalam memberikan intervensi dalam penanganan gangguan mental dengan harapan agar dapat hidup normal dengan lingkungannya.
b. Apakah yang dimaksud degan saintifict personal approach, mengapa demikian?
Adalah suatu kemampuan intelektual bagi seorang psikolog klinis dalam melaksanakan pekerjaan profesionalnya, maka bagi mereka perlu membekali diri sesuai dengan tuntutan perkerjaan tersebut meliputi;
motivasi yang kuat untuk mengatasi permasalahan orang lain.
memiliki kapasitas intelektual yang cukup untuk memperkirakan seberapa kuat individu memiliki sumber stress, keadaan frustrasi, konflik, perasaan tertekan, dan kemampuan untuk berubah.
pengendalian (kontrol) meliputi; overcontrol atau represi, undercontrol atau overexpresiveness, pengendalian rasa cemas (anxiety), pengendalian inadequate saat terganggu, dan pengendalian yang ideal.
Selain itu seorang psikolog dituntut memiliki kemampuan; 1) untuk melakukan intervensi dalam bentuk terapi dan konseling, 2) mampu melakukan Asesmen, psiko diagnostik dan evaluasi, 3) mengajarkan berbagai ilmu psikologis, 4) mampu melakukan pekerjaan sebagai konsultasi, 5) melaksanakan administrasi terkait dengan pekerjaan dalam intervensi, 6) serta melaksanakan penelitian yang menunjang pengembangan dalam bidang pekerjaan mereka.
c. Dalam pendidikan pelatihan psikologi klinis diberikan juga pelatihan-pelatihan atau praktikan mengenai diagnostik/intervensi, Apa tujuan tersebut?
Diharapkan kita akan terlatih dalam menyikapai barbagai permasalahan dan persoalan klinis, memahami sebab-sebab kemunculan gangguan, potensi-potensi yang mendukung serta teknik dan kita-kita untuk menghadapi demi mencari solusi yang tepat dalam memberikan intervensi.
Seseorang calon psikolog klinis mereka harus memiliki kompetensi yang mendukung pekerjaannya meliputi; a) pemahaman akademik yang berlatang belakang keilmuan terkait, b) pengalaman tentang riset yang bermakna dalam peningktan kualitas intervensi, c) serta pengalaman klinis yang banyak mendukung dalam berbagai penangan gangguan-gangguan bersifat klinis terhadap perilaku yang muncul dalam kehidupan manusia.
d. Apakah praktikum itu merupakan Esensial atau tambahan?
Prarikum bagi seorang psikolog klinis merupakan suatu hal yang sangat essensial sekali dalam rangka menunjang keprofesionalan kerja. Melalui pratikum kita dapat belajar dalam menangani berbagai masalah dan berbagai kasus, dengan demikian kita akan semakin terlatih dan mantap dalam memberikan terapi sebagai alternatif yang ingin kita terapkan sebagai usaha penyembuhan.
Ada lima hal yang menjadi acuan dalam hal ini, yakni: (a) psikolog klinis akan menyelenggarakan pelatihannya dan departemen-departemen di unversitas; (b) mereka akan dilatih pertama-tama sebagai ilmuwan dan kemudian baru sebagai klinikus; (c) mereka akan dibutuhkan untuk melakukan magang klinikus; (d) mereka akan mencapai kompetensi diagnosis, psikoterapi, dan riset; dan (e) kulminasi pelatihan gelar Ph.D. yang meliputi kontribusi riset original di lapangan.
Tanpa praktikum mustahil kita mampu memahami dan menjiwai secar langsung pekerjaan yang akan kita geluti, sehingga melalui praktikum kita banyak mendapat berbagai pengalaman yang mampu mengasah keprofesionalan kita, bukankah pengalaman itu merupakan guru yang paling baik?

3. Mengenai Psikodiagnostik/assesment klinis.
a. Mengapa harus didasarkan kepada psikolog kepribadian atau tidak cukup psikologi umum saja?
Seorang psikolog klinis harus lebih banyakmemahami kepribadian seseorang, dikarenakan kepribadian merupakan suatu yang dapat menjadikan dasar bagi seseorang dalam bertindak sebagaimana pribadinya. Melalui mempelajari kepribadian psikolog klinis lebih mantap dalam memahami sebab-sebab munculnya perilaku klinis.
Kalau psikolog klinis terdapat banyak kemungkinan sasaran atau target yang akan diusahakannya. Psikolog klinis dapat memusatkan perhatian terhadap (1) disfungsi (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran,emosi,atau tindakannya. Dalam kasus-kasus lain, bisa jadi mereka memusatkan perhatian untuk menemukan (2) kekuatan klien, dalam hal kemampuan, keterampilan, (3) kepribadian subyek. Dalam hal ini bisa jadi ia akan menyelenggarakan tes, observasi, dan interview untuk membantu menemukan kebutuhan, motivasi, pertahanan,dan pola perilaku subyek.
Psikolog klinis juga mengases kekuatan dan kelemahan lingkungan sosial individual dan efek lingkungan sosial terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku klien. Asesmen demikian dikenal dengan sebutan analisis fungsional, di mana psikolog klinis menaruh perhatian untuk mengevaluasi perubahan perubahan dalam perilaku yang dihasilkan oleh pilihan spesifik dalam situasi hidupnya. Pada kebanyakan asesmen, psikolog klinis memfokuskan diri pada lingkup target yang luas, bergerak dari kekuatan atau aset sampai kelemahan, dan dari determinan perilaku stabil sampai perubahan perilaku.
b. Apa yang menjadi pin point hasil test psikologi seorang konselor atau psikolog?
Hasil tesnya mengarah kepada ketepatan hasil test yang mampu mengungkap berbagai aspek kejiwaan, berbagai alternatif pemunculan masalah gangguan, dan alternatif pemecahan intervensinya.
c. Misalnya tes berhitung, Apa yang dilihat oleh psikolog atau pendidik?
Untuk melihat kemampuan seseorang dalam penggunaan nomerikal, kecepatan berpikir, ketepatan, dan kecermatan dalam berpikir persoalan berhitung.
Melalui tes berhitung seseorang akan mampu menemukan kelemahan dan alternatif intervensi yang mampu menunjang keberhasilan dalam persoalan berhitung. Dengan demikian akan dapat dibuatkan program intervensi yang dirasakan cocok dalam membantu mereka agar terlepas dari permasalahannya.
d. Mengapa istilah psikodiagnosis berubah menjadi psikologi klinis?
Bahwa profesi psikologi sampai saat ini belum mendapat perlindungan hukum, sehingga banyak ahli atau bukan yang melakukan praktik psikologi, yang bisa jadi tidak didasarkan pada kaidah-kaidah baku, karena memang bukan lulusan dari fakultas psikologi. Mereka tidak terkena aturan kode etik sebagaimana diatur dan disepakati inggota HIMPSI.
Fokus perhatian telah bergeser dari mencari sifat atau faktor-faktor internal dalam diri individu yang menjadi penyebab gangguan menjadi faktor-faktor luarnya yang membentuk prilakunya. Pada akhir tahun 1960-an perjalanan ke berubah prilaku yang tidak diinginkan mulai menjadi tajam dalam psikoterapi (dan insight dirancang menjadi memproduksi) menjadi pembiasaan dan pengubahan kontingensi penguatan.

4. Intervensi
a. Mengapa istilah Intervensi dianggap tepat dari pada terapi?
Istilah intervensi yang digunakan berkaitan dalam rangka menemukan berbagai alternatif dan solusi peyembuhan gangguan klinis, yang lebih menekankan adanya proses yang bersinambungan dan mengetahui sebab munculnya gangguan.
Sedangkan istilah terpi akan sangat banyak berkaitan dengan penggunaan penyembuhan melalui media dan penggunaan pengobatan dari profesi kedokteran. Intervensi dalam hal medis lebih mengedepankan aspek penanganan bersifat penyembuhan secara fisik dan sedikit psikis.
Intervensi dalam rangka psikologi dan khususnya psikologi klinis adalah membantu klien atau pasien menyelesaikan masalah psikologis, terutama sisi emosionalnya. Kendali dan Norton Ford berpendapat bahwa intervensi klinis meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang mengalami masalah-masalah dan memiliki keinginan mengembangkan kehidupannya secara lebih memuaskan. Psikolog klinis menggunakan pengetahuannnya mengenai pemfungsian manusia dan sistem-sistem sosial dalam kombinasi dengan hasil asesmen klinis guna merumuskan cara untuk membantu pengubahan pribadi klien ke arah yang lebih baik.
Alasan penggunaan intervensi klinis didasarkan pada tiga dasar, yaitu ameliorasi, prevensi, dan pengembangan. Ameliorasi adalah menolong orang atau sistem sosial untuk menanggulangi masalah-masalah yang telah terjadi. Misalnya menangani orang yang sedang mengalami rasa cemas atau merasakan kegagalan dan kehidupannya. Prevensi meliputi usaha-usaha untukmeramalkan masalah-masalah sebelum berkembang,misalnya dalam bentuk merencanakan pembangunan suatu pusat rekreasi agar masyarakat sekitar tidak melakukan perbuatan kriminal. Pengembangan adalah usaha untuk membantu orang meningkatkan keterampilan pribadi, relasi,dan lingkungan hidupnya.
b. Saat ini banyak sekali terapi/interviu yang tidak memerlukan diagnostik, mengapa?
Jika kita lihat terhadap apa yang berkembang dimasyarakat sekarang bukanlah menggambarkan suatu praktek psikologi klinis. Hal ini berkembang dapat disebabkan oleh karena kurangnya pengawasan dari organisasi keilmuan terhadap kewenangan dalam memberikan penanganan terhadap sesuatu masalah klinis.
Apa yang terjadi dimasyarakat sekarang hanyalah semacam upaya sedrhana yang belum bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan, dengan demikian kita sebagai orang yang mengerti tentang praktek psikologi harus melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu alternatif penangan dan belum bisa dipertanggung jawabkan.
Tidak penting bagaimana kita melakukan usaha dalam psikoterapi, tetap saja intinya adalah penanggulangan. Istilah lain yang sering digunakan, ialah reedukasi, proses pertolongan, dan bimbingan; tidak sekedar pemerian atas kejadian-kejadian dalam cara penanggulangan, melainkan senantiasa dengan tujuan yang jelas, yakni menanggulangi masalah yang dihadapi klien.
Tidak termasuk dalam psikoterpi ini adalah terapi-terapi somatik seperti obat, terapi konvulsif, pembedahan dll, meskipun memberikan efek terapeutik,tidak secara tegas menampilkan ciri psikoterapi.
c. Berikan contoh intervensi klinis yang tidak menggunakan diagnostik!
Sebagai contoh adalah berbagai macam angket dan kuis yang banyak tersebar di berbagi macam mas media, baik cetak, elektronikan dan media promosi lainnya. Angket yang terdapat dimasyarakat bebas itu dibuat tidak untuk mengungkapkan persoalan gangguan secara klinis dan tidak dilatarbelakangi keilmuan yang jelas, jika ditelusuri kemunculannya hanya semacam alternatif sederhana yang kurang didasi oleh keilmuan psikologi seseorang yang membuatnya.
d. Adakah perbedaan tujuan intervensi BK pendidik dengan yang psikologi?
Letak perbedaan yang paling nyata adalah pada objek yang menjadi sasaran, misalnya untuk bidang keilmuan Bimbingan Konseling lebih mengkonsentrasikan dalam hal penangan masalah-masalah psikologis yang berkaitan dengan gangguan pembelajaran atau mengarah pada objek educational saja, walaupun mereka masih menggunakan pendekatan psikologi yang hampir bersamaan.
Sementara tujuan Psikologi lebih mengacu pada persoalan-persoalan psikologi yang bersifat gangguan kejiwaan dan keabnormalan secara kejiwaan. Namun ada saatnya terkadang mereka dapat menjadi sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, tergantung pada kepentingan dan penanganan terhadap intervensi yang dibutuhkan.
Daftar Bacaan
Sutardjo, a Wiramihardja, (2009), Pengantar psikologi Klinis, Refika Aditama, Bandung.
Sutardjo, a Wiramihardja, (2005), Pengantar psikologi Abnormal, Refika Aditama, Bandung.
Jhon McLEOD, (2006) Pengantar Konseling, teori dan studi kasus, Kencana Predana Media Group, Jakarta.
Norman D Sundberg, at.all, (2007) Psikologi Klinis, teori, praktik, dan penelitian, Pustaka pelajar, Yogyakarta.
Winkel, (1995) Bimbingan dan Konseling di institusi pendidikan, Gramedia widiasarana, Jakarta

Peranan Psikologi Klinis dengan Ilmu Lainnya

Januari 23, 2013

Peranan Psikologi Klinis dengan Ilmu Lainnya

1. Psikologi klinis mungkin diperlukan selain oleh psikologi juga oleh pedagogi dan andragogi, psikiatri, agama, sosiologi. Seandainya benar demikian berikan alasan esensial disertai contoh pernyataan tersebut.
Psikologi Klinis Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal. Psikologi Klinis juga merupakan studi tentang perilaku seorang individu secara dan yang khas (particular individual). Dengan demikian maka Ilmu Psikologi Klinis juga diperlukan dalam berbagai bidang seperti;
Pedagogi dan Andragogi;
Andragogi sebagai “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”.
Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.
Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :
1. Citra Diri; Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri.
2. Pengalaman; Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar; Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri.
4. Waktu dan Arah Belajar; Andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini.
Psikiatri;
Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) adalah cabang spesialistik Ilmu Kedokteran, yang mempelajari patogenesis, diagnosis, terapi, rehabilitasi, pencegahan gangguan jiwa dan peningkatan ikhtiar peningkatan taraf kesehatan jiwa. Penyandang profesi keahliannya adalah psikiater atau spesialis kedokteran jiwa.
Terkait erat dengan ilmu kesehatan mental yang berhubungan dengan psikologi klinis. Jika dihubungkan dengan psikologi klinis maka peranannya terkait dengan kesehatan mental yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembanga anak. Anak adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang tentu juga akan berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya. Psikiatri adalah ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan anak yang berkaitan erat dengan kejiwaan dari sisi pandang secara medis.
Istilah psikiatri (inggris: psychiatry) diangkat dari bahasa Yunani, yaitu psyche (soul, mind kehidupan mental, baik yang sadar maupun bawah sadar dalam bahasa Indonesia: roh, jiwa, mental) dan iatreia (healing- penyembuhan). Sesuai dengan kedudukannya sebagai bidang ilmu, maka di dalam bidang psikiatri, psyche berarti mind atau mental dan bukan berarti soul atau roh.
Agama;
Dalam kehidupan peranan agama tidak bisa dilepaskan begitu saja, bila keadaan psikologis kesehatan jiwa seseorang perlu dipertegas dengan adanya keyakinan akan agama. Pemahaman akan keberadaan Tuhan sebagai pencipta makhluk didunia ini amat penting disadari. Bagi manusia yang beragama hal ini amat penting sebagai penetralisi kestabilan mental seseorang. Sebab dengan adanya agama orang akan yakin segala sesuatu yang diluar kendali manusia.

Sosiologi;
Karena lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi individual, kelompok sosial, dan komunitas untuk memecahkan masalah psikososial dan meningkatkan kualitas hidup.
Bidang Psikologi Klinis mengintegrasikan ilmu, teori, dan praktis untuk memahami dan mengurangi ketidaksesuaian,ketidakmampuan,dan rasa tak nyaman seperti pun meningkatkan adaptasi, penyesuaian manusia, dan perkembangan pribadi. Psikologi klinis memusatkan kegiatannya pada aspek intelektual, emosional, biologis, sosial, dan prilaku pemfungsian manusia sepanjang hidupnya,dalam berbagai budaya, dan pada taraf sosio ekonomik.
2. Ada tiga fungsi utama/bidang kegiatan psikologi klinis yaitu; Asesment, Intervensi, dan riset.
a. Terangkan apa yang dimaksud ketiga fungsi tersebut!
Fungsi Asesment;
fungsi ini ditekankan pada mengases perbedaan antar orang. Orang pertama yang tercatat melakukannya adalah Francis Galton, yang menggunakan metode kuantitatif, menyangkut akuitas sensori, keterampilan motor, dan waktu reaksi, yang ia lakukan saat membangun labolatorium antropometrik pada 1882. Selanjutnya dilakukan oleh McKeen Cattel, Wilhelm Wundt, yang memberikan perhatian pada masalah perbedaan waktu reaksi ini. Maka menurut Thorndike, 1997, usaha ini melahirkan istilah mental tests, la menggunakan 10 sub tes untuk suatu batteray test, dan dapat menemukan konstansi proses mental, bahkan menduga bahwa tes semacam itu dapat digunakan untuk menseleksi dan melatih orang seperti pun mendeteksi penyakit. Hal ini merupakan langkah-langkah awal bagi gerakan pengujian (tes).Kraeplin mengajukan gagasan bahwa gangguan itu dapat disebabkan oleh dua tipe penyebab, yakni faktor-faktor luar (exogenous, cur-wble) dan faktor dalam (endogenous, incurable). Ciri utama masa ini adalah dikembangkannya pengukuran mental (men¬tal measurement) atau pengetesan psikologis diagnostik (mental measurement ordiagnostic psychological testing), yang landasannya adalah Galton dan Cattel tetapi pencetusnya adalah Alfred Binet. KesehatanTerkendali(Monaged/-/ea/t/iCore),termasuk kesehatan mental dan perilaku, berkembang sebagai respons atas mahalnya biaya pemeliharaan kesehatan.Psikolog yang terlibat dalam pemeliharaan kesehatan ini perlu menguasai tes yang (a) membantu rencana penanganan dengan mengidentifikasi dan secara akurat mengases simtom-simtom problematik, (b) Sensitif terhadap perubahan dan peningkatan fungsi klien sebagai hasil penanganan, dan (c) relatif cepat.

Fungsi Intervensi;
Kraeplin (1850- 1899) Pusat perhatian adalah pada klasifikasi psikosis. Juga berkaitan dengan teknik penanganan penderita neurotik, seperti sugesti dan hipnosis. Fungsi intervensi ini berkaitan dengan teknik penangan masalah psikologi klinis yang dilakukan dengan menggunkan pendekatan teori-teori terhadap masalah yang dihadapi oleh klien. Misal Freud melahirkan teori psychoanalisis, Carl Rogers 1951 menerbitkan Client-Centered Therapy, Frankl, 1953, mengemukakan Logotherapy dan hubungannya dengan teori eksistensial, Perls mengajukan Gestalt Theapy, 1951, Pada tahun 1958, Ackerman juga menerangkan tentang Family Therapy, dan tahun 1962, Albert Ellis menerangkan tentang Ratio-Emotive Therapy. Sekitar tahun 1961, Eric Berne mengajukan Transactional Analysis atau TA. Lahirnya berbagai macam terapi “kecil” menimbulkan juga reaksi negatif, sebagaimana dikemukakan oleh Eyesenck dalam buku tipisnya yang terkenal, The Effectness ofPsychotherapy. Namun, kaum behavioris mulai mengembangkan metode-metodenya yang lebih “hardheaded’,’seperti dilakukan Andrew Salter, 1949, yang menulis ConditionedReflexTherapy, yang menjadi pendorong lahirnya metode-metode desensitisasi.Tahun 1953, B.F. Skinner mengembangkan terapi keperilakuan berdasarkan prinsip operan untuk terapi dan intervensi sosial.
Fungsi Riset;
fungsi ini berkaitan dengan fungsi pengembangan keilmuan dalam bidang psikologis. Yang pertama adalah Wilhelm Wundt, dikenal sebagai pendiri laboratorium psikologi yang resmi di Lelpzig pada tahun 1879. Ivan Pavlov (1900 – 1919) berhasil meletakkan dasar bagi psikologi klinis awal dengan clasical conditioningnya. Binet-Simon menawarkan bukti-bukti validitas tes baru mereka pada tahun 1905; dan pada tahun 1916 riset Terman atas tes Binet-Simon diterbitkan. Pada periode ini pun lahir tes Army Alpha dan Army Beta. Reset psikologi klinis Maiz merupakan reset yang berada dalam taraf infancy. Meskipun demikian lahirnya tes-tes kepribadian dan terutama lahirnya WBIS pada tahun 1939 perlu dicatat, sedangkan riset akademik menyangkut Behaviorisme dan Psikologi Gestalt merupakan kegiatan yang perlu dihargai. Behaviorisme menguatkan para psikolog klinis mengenai kekuatan pembiasaan dalam pengembangan dan penanganan gangguan prilaku. Sedangkan Psikologi Gestalt menekankan pentingnya pemahaman atas keunikan persepsi pasien atas masalah-masalahnya. Mulai pertahuan tahun 1960-an asesmen dan diagnosis menjadi kurang penting bagi psikolog klinis, karena mereka mulai langsung menangani pasien tidak sekedar mengases dan membuat diagnosis melayani kebutuhan profesi lainnya, seperti psikiater dan guru-guru. Riset di bidang tes inteligensi dan kepribadian, meskipun demikian terus berkembang, baik untuk keperluan psikoterapi maupun untuk penggunaan psikologi di bidang lain, seperti pendidikan dan industri-organisasi. Demikian juga dengan tes proyektif seperti Rorschach dan TAT, yang penelitian dan pengembangannya terus menerus dilakukan. Banyak dari studi ini menyangkut sisi validitas dan reliabilitas. Di antaranya adalah Cari Rogers, 1951,mengenai efektivitas konselingjaporannya terbit pada tahun 1954 bersama Dymond. Julian Rotter yang pada tahun 1954, mebciptakan Social Learning and ClinicaI Psychology. Kemudian Wolpe, 1958, mengembangkan metode systematic desensitization, sebagai salah satu dari sekian banyakjenis terapi perilaku. Tentu saja penelitian mengenai berbagai macam psikoterapi perlu dilakukan dan dikembangkan terus.

b. Apa yang dimaksud dengan istilah; Asesment psikologi, asesment psikologi klinis, dan psikologi diagnostik?
Asesmen Psikologi adalah;
“Proses mengumpulkan informasi yang biasanya digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang nantinya akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait oleh asesor” (Nietzel dkk,1998).
Asesment Psikologi Klinis adalah;
Asesment ini berkenaan dengan pengumpulan Informasi terhadap orang lain dapat berupa latar belakang, sikap, tingkah laku atau karakteristik yang dimiliki orang tersebut. Kemudian informasi tersebut dihubungkan dengan pengalaman dan harapan yang kita miliki sehingga kita akan mendapatkan kesan dari orang tersebut yang selanjutnya kita jadikan dasar untuk memutuskan cara kita bersikap terhadapnya.
b. Asesmen Psikologi Diagnostik adalah;
Suatu cara untuk menegakkan diagnosa yang akhirnya menjadi suatu diagnosa kepribadian.
Suatu usaha untuk mengukur karakteristik individu melalui pengamatan terhadap gambaran eksternal.
Perangkat yang digunakan untuk melakukan diagnosa terhadap gangguan psikologi terhadap kepribadian sesorang. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai macam kondisi psikologis yang dilakukan melalui diagnostik tersebut. Untuk itu ada beberapa macam perangkat diagnostik yang dapat digunakan untuk mengungkap kondisi mental orang yang di tes. APA (American Psychiatric Association) menerbitkan sistem klasifikasi diagnostik yang pertama kali, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Sistem ini kemudian terkenal dengan nama DSM I dan berlaku hingga tahun 1968, ketika WHO mengeluarkan International Classification of Diseases (ICD). DSM I kemudian direvisi dan disamakan dengan ICD, kemudian terbit DSM II. DSM I dan II menyeragamkan terminologi untuk mendeskripsikan dan mendiagnosa perilaku abnormal, tetapi tidak menjelaskan tentang aturan sebagai pedoman dalam memutuskan suatu diagnostik. Kemudian mengalami beberapa kali perubahan menjadi DSM III, DSM III-R. Dalam DSM III ini, sudah terdapat suatu kriteria operasional untuk masing-masing label diagnostik. Kriteria ini meliputi simtom utama dan simtom spesifik serta durasi simtom muncul. Disini juga digunakan pendekatan multiaxial, dimana klien dideskripsikan ke dalam lima dimensi (axis), yaitu : a) gangguan mental major, b) problem perkembangan dan gangguan kepribadian, c) Gangguan fisik atau kondisi-kondisi yang mungkin berhubungan dengan gangguan mental, d) Stressor psikososial (lingkungan) e) Rating terhadap fungsi psikologis, sosial dan pekerjaan dalam satu tahun terakhir.
c. Mengapa pada poin b ada intervensi, konseling, psikoterapi dan ada konsultasi. Dimana letak perbedaan dan persamaannya?
Ada tiga macam yaitu klasifikasi diagnostik, deskripsi dan prediksi.
1. Klasifikasi diagnostik
Maksud dari klasifikasi (penegakan) diagnostik yang tepat antara lain :
• Untuk menentukan jenis treatment yang tepat. Suatu treatment sangat bergantung pada bagaimana pemahaman klinisi terhadap kondisi klien termasuk jenis gangguannya (vermande, van den Bercken, & De Bruyn, 1996).
• Untuk keperluan penelitian. Penelitian tentang berbagai penyebab suatu gangguan sangat bergantung kepada validitas dan reliabilitas diagnostik yang ditegakkan.
• Memungkingkan klinisi untuk mendiskusikan gangguan dengan cara efektif bersama profesional yang lain (Sartorius et.al, 1996).
2. Deskripsi
Para klinisi beranggapan bahwa untuk memahami content dari perilaku klien secara utuh maka harus mempertimbangkan juga tentang context sosial, budaya dan fisik klien. Hal itu menyebabkan asesmen diharapkan dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang secara lebih utuh dengan melihat pada person-environtment interactions. Dalam fungsinya sebagai sarana untuk melakukan deskripsi terhadap kepribadian seseorang secara utuh, di dalam asesmen harus terdapat antara lain : motivasi klien, fungsi intrapsikis, respon terhadap tes, pengalaman subjektif, pola interaksi, kebutuhan (needs) dan perilaku. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif tersebut memudahkan klinisi untuk mengukur perilaku pra treatment, merencanakan jenis treatment dan mengevaluasi perubahan perilaku pasca treatment.
3. Prediksi
Tujuan asesmen yang ketiga adalah untuk memprediksi perilaku seseorang. Misalnya klinisi diminta oleh perusahaan, kantor pemerintah atau militer untuk menyeleksi seseorang yang tepat bagi suatu posisi kerja tertentu. Dalam kasus tersebut, klinisi akan melakukan asesmen dengan mengumpulkan dan menguji data deskriptif yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan prediksi dan seleksi.
Klinisi kadang dihadapkan pada situasi untuk memprediksi hal-hal yang berbahaya, misalnya pertanyaan seperti “Apakah si A akan bunuh diri ?”, “Apakah si B tidak akan menyakiti orang lain setelah keluar dari RS?”. Pada saat itu klinisi harus menentukan jawaban “ya” atau “tidak”. Prediksi klinisi tentang “berbahaya” atau “tidak berbahaya” dapat dievaluasi dengan empat kemungkinan jawaban: a) True positive, jika prediksi klinisi berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku berbahaya, b) True negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku yang tidak berbahaya, c) False negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku berbahaya, d) False positive, jika prediksi klinisi berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku tidak berbahaya.
Intervensi; Intervensi dilaksanakan setelah dilakukan asesmen psikologis dalam rangka mengatasi atau melakukan penyembuhan terhadap permasalahan gangguan mental psikologis penderita.
Konseling; Konseling dilakukan setelah dilakukan asesmen dalam rangka membantu memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan klien agar dapat mengatasi permasalahan hidup secara mandiri yang dilakukan disekolah, keluarga dan masyarakat.
Psikoterapi; Dengan adanya asesmen maka akan ditemukan permasalahan yang berkaitan dengan munculnya masalah yang bersifat patologis. Untuk itu penderita perlu mendapatkan treatmen atau terapi.
Konsultasi; Dilakukan setelah dilakukan asesmen dan berkenaan dengan berbagai alternatif pemecahan persoalan secara psikologis dan terencana dengan harapan klien dapat menilai dan melakukan pilihan aternatif permasalahan.
Perbedaan dan Persamaannya adalah: Masing-masing kegiatan tersebut memiliki kewenangan tersendiri dlam penangan permasalahan dan merupakan wilayah berbeda tetapi mereka kadang-kadang saling membutuhkan dalam proses pekerjaannya. Maka dari itu untuk menjaga ketimpangsiurannya diperlukan adanya kerjasama antar profesional terkait.

Intervensi Konseling Psikoterapi Konsultasi
1. Hanya membrikan stimulus
2. Waktunya singkat
3. Kliennya normal
4. Yang memberikan intervensi lebih dominan 1. Tidak ada treatment
2. Waktunya singkat
3. Kliennya normal
4. Klien lebih dominan
5. Keputusan ditangan klien 1. Klien memiliki masalah patologi
2. Waktunya lebih lama
3. Adanya treatmen atau terapi 1. Waktunya singkat
2. Kliennya normal
3. Hanya memberikan advise atau meluruskan masalah
4. Klien lebih dominan

3. Buatlah contoh judul penelitian dibidang asesment psikologi abnormal, asesment psikologi klinis, dan psikologi/konseling. Sebutkan dan terangkan variabel-variabel yang terdapat di dalamnya!
Judul penelitian dibidang asesment Psikologi Abnormal; Judul Pengaruh Psikiatri Dalam Berbagai Aspek Kehidupan. Beberapa variabel yang terkandung dalam judul penelitian ini meliputi: (1) roh, nyawa, atau (2) seluruh kehidupan batin manusia yang terdiri dari perasaan, pikiran, angan-angan, dsb. Peran psikiatri masih selalu dikaitkan dengan gangguan jiwa saja, padahal cakupan peran psikiatri sebagian besar justru di dalam berbagai aspek kehidupan yang menentukan tinggi atau rendahnya tingkat kesehatan jiwa individu maupun masyarakat. Psikiatri dan Kesehatan Mental (Psychiatry and Mental Health). Saat ini masih ada beberapa kerancuan pada makna istilah, yang dapat menghambat usaha memasyarakatkan psikiatri.
Judul penelitian dibidang asesment Psikologi Klinis; Pengaruh Kesehatan Jiwa (Mental Health) bagi anak hiper aktif ditengah keluarga. Variabel yang terkait meliputi keluarga, masyarakat, segi budaya, segi agama/spiritual, sosio-ekonomi, dsb.) Dengan demikian berdasarkan judul di atas perlu dibatasi kajian penelitian agar lebih terfokus.
Judul penelitian dibidang asesment Psikologi/Konseling; Kecenderungan perilaku nakal anak di lingkungan sekolah. Variabel yang terkandung meliputi; a) Perilaku Anarkis, b) Perilaku Depresif, c) Perilaku Agresif dan, d) konsep diri siswa.
4. Kegiatan apakah yang dapat dilakukan oleh ahli BK yang termasuk wilayah Pedagogi dan Androgogi dalam rangka spesialisasi psikologi klinis, misalnya dalam psikologi komunitas dan psikologi kesehatan (community mental health)
Kegiatan yang dapat dilakukan oleh para ahli dalam bidang Bimbingan dan Konseling meliputi berbagai kemampuan yang dapat menunjang keahlian dalam melakukan pekerjaan diantaranya sebagai berikut:
a. Metode Psikologi
Beberapa metodologi dalam psikologi, diantaranya sebagai berikut :
Cara ini dilakukan biasanya di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen. (sumber : buku Psokologi, penulis : Abdul Rahman Shaleh, penerbit : Kencana Prenada Media Group). Peneliti mempunyai kontrol sepenuhnya terhadap jalannya suatu eksperimen. Yaitu menentukan akan melakukan apa pada sesuatu yang akan ditelitinya, kapan akan melakukan penelitian, seberapa sering melakukan penelitiannya, dan sebagainya.
b. Observasi Ilmiah
Pada observasi ilmiah, suatu hal pada situasi-situasi yang ditimbulkan tidak dengan sengaja. Melainkan dengan proses ilmiah dan secara spontan. Observasi alamiah ini dapat diterapkan pula pada tingkah laku yang lain, misalnya saja : tingkah laku orang-oranng yang berada di toko serba ada, tingkah laku pengendara-pengendara kendaraan bermotor dijalan raya, tingkah laku anak yang sedang bermain prilaku orang dalam bencana alam
c. Sejarah Kehidupan
Sejarah kehidupan seseorang dapat merupakan sumber data yang penting untuk lebih mengetahui “jiwa” orang yang bersangkutan, misalnya dari ceritaibunya, seorang anak yang tidak naik kelas mungkin diketahui bahwa dia bukannya kurang pandai tetapi minatnya sejak kecil memang dibidang musik sehingga dia tidak cukup serius untuk mengikuti pendidikan di sekolahnya.
d. Wawancara
Wawancara merupakan tanya jawab si pemeriksa dan orang yang diperiksa. Agar orang diperiksa itu dapat menemukan isi hatinya itu sendiri, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga orang yang mewawancarai dapat menggali semua informasi yang dibutuhkan.
e. Angket
Angket merupakan wawancara dalam bentuk tertulis. Semua pertanyaan sudah di susun secara tertulis pada lembar-lembar pertanyaan itu. Dan orang yang diwawancaraipun tinggal membaca pertanyaan yang diajukan. Lalu menjawabnya secara tertulis pula. Lalu jawaban-jawabannya akan dianalisis untuk mengetahui hal-hal yang diselidiki.
f. Pemeriksaan Psikologi
Dalam bahasa populernya “pemeriksaan psikologi “ disebut juga dengan “psikotes”. Metode ini menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang benar-benar sudah terlatih alat-alat itu dapat dipergunakan unntuk mengukur dan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang, arah minat seseorang, sikap seseorang, struktur kepribadian seeorang, dan lain-lain dari orang yang diperiksa itu.
5. Buatlah suatu problem statement (disertasi) bidang kegiatan BK yang bersangkutan dengan psikologi Klinis umum atau spesialis khusus di bidang psikologi klinis. (minimal 200-400 kata)
Model Konseling Kelompok Rational-emotive Untuk Meningkatkan Kinerja Konselor dalam Modifikasi Kecenderungan Perilaku Nakal Siswa SMA Bandung.
Pelayanan konseling yang diarahkan untuk membantu pengembangan individu dalam setting sekolah dan masyarakat luas harus diselenggarakan oleh tenaga ahli yang profesional pada jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3). Dalam sistem pendidikan nasional, keberadaan konselor sebagai salah satu kualifikasi tenaga ke’pendidikstffr yang setara dengan kualifikasi guru, dosen, pamong dan tutor. Konsekuensinya konselor sebagai pengemban profesi konseling harus mampu menampilkan kinerja profesionalnya yang efektif agar dirinya memperoleh penghargaan sejajar bahkan lebih baik dari pemerintah khususnya lembaga tempat dirinya mengabdi maupun dari masyarakat luas. Dalam hal penanganan masalah psikologis siswa di sekolah, konselor harus berada pada jajaran paling depan agar keberadaannya dapat memberikan efek yang signifikan terhadap mutu perkembangan peserta didik dan bagi peningkatan mutu produktifitas sekolah. Untuk menangani siswa yang memiliki kecenderungan perilaku nakal yang bersumber pada keyakinan irasional konselor dituntut mampu menggunakan teknik dan metode sesuai dengan karakteristik dan latar belakang siswa. Konselor dituntut mampu mengadaptasi teknik-teknik konseling perspective rational-emotive untuk meningkatkan kinerjanya dalam menanggulangi kecenderungan kenakalan siswa.
Tujuan umum penelitian ini untuk memperoleh model Konseling Kelompok Rational-Emotive (KKRE) dianggap dapat meningkatkan kinerja konselor dalam menyelenggarakan layanan konseling kelompok yang efektif untuk modifikasi kecenderungan perilaku nakal siswa SMA. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian dilakukan dalam dua tahap: 1) Studi pendahuluan untuk memperoleh model KKRE adaptif, Subyek penelitian untuk Studi awal adalah Guru BK/Konselor SMA dan untuk Uji Lapangan subyek penelitiannya siswa SMA dan
2) Uji lapangan efektifitas KKRE dalam modifikasi perilaku nakal menggunakan quasi eksperimen disain: “Patched-Up” Design.
Hasil penelitian akan direkomendasikan kepada:
1. Bagi Guru BK di sekolah sangat disarankan agar: a. meningkatkan kinerjanya dalam menangani kecenderungan perilaku nakal siswa, b. guru-guru berlatih menggunakan KKRE untuk pencegahan dan penanggulangan kenakalan remaja di sekolah, c. Kepala Sekolah perlu memfasilitasi peningkatan kinerja konselor dalam penggunaan sarana pembelajaran untuk aplikasi KKRE, d. bekerjasama dengan organisasi profesi Pertemuan Guru Bimbingan Konseling (MGBK) atau Asosiasi Bimbingan Konseling (ABKIN) untuk pelatihan peningkatan mutu kinerja konselor,
2. Bagi pengembangan ilmu bimbingan dan konseling, agar dapat mendorong minat siswa atau guru BK untuk penelitian lanjut.

Daftar Bacaan;
Sutardjo, A. Wiramihardja, (2009), Pengantar psikologi Klinis, Refika Aditama, Bandung.
Sutardjo, a Wiramihardja, (2005), Pengantar psikologi Abnormal, Refika Aditama, Bandung.
Jhon McLEOD, (2006) Pengantar Konseling, teori dan studi kasus, Kencana Predana Media Group, Jakarta.
Norman D Sundberg, at.all, (2007) Psikologi Klinis, teori, praktik, dan penelitian, Pustaka pelajar, Yogyakarta.
Winkel, (1995) Bimbingan dan Konseling di institusi pendidikan, Gramedia widiasarana, Jakarta

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI KLINIS DI INDONESIA

Januari 23, 2013

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI KLINIS
DI INDONESIA
Bab I
Pendahuluan
Psikologi Klinis adalah salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi Pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lain. Psikologi Klinis menggunakan konsep-konsep Psikologi Abnormal, Psikologi Perkembangan, Psikopatologi dan Psikologi Kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam assesment dan intervensi, untuk dapat memahami maslah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku anormal.
Dilihat dari cakupannya, psikologi klinis dapat diartikan secara sempit atau luas. Secara sempit, psikologi klinis tugasnya ialah mempelajari orang-orang abnormal atau subnormal. Tugas utama psikologi klinis adalah menggunakan tes yang merupakan bagian integral suatu pemeriksaan klinis yang biasanya dilakukan di rumah sakit. Dalam cakupan yang lebih luas, psikologi klinis adalah bidang psikologi yang membahas dan mempelajari kesulitan-kesulitan serta rintangan emosional pada manusia, tidak memandang ia abnormal atau subnormal. Psikologi Klinis menopang gejala-gejala yang dapat mengurangi kemungkinan manusia untuk bahagia. Kebahagiaan erat hubungannya dengan kehidupan emosional-sensitif dan harus dibedakan dengan kepuasan yang lebih berhubungan dengan segi-segi rasional dan intelektual (Yap Kie Hien,1968).
Disini, berdasarkan cakupan dan beberapa pengertian dari para ahli psikologi, akan dibicarakan tentang perkembangan psikologi klinis dari awal dan akhirnya sampai di Indonesia. Dengan beberapa referensi baik buku maupun dari rujukan lain mengenai ilmu psikologi klinis yang merupakan cabang dari ilmu psikologi, akan merumuskan dan membahas masalah perkembangan psikologi klinis ini.
Bab II
Pembahasan
Psikologi Klinis merupakan salah satu jenis psikologi terapan yang sampai sekarang sering dipertanyakan arti, kedudukan, dan peranannya jika dibandingkan dengan psikiatri. Dalam hal Psikologi Klinis, bahkan psikologi saja masih tidak banyak yang mengetahuinya. Bahkan sejak digunakan, pada tahun 1530-an, telah terlihat jelas adanya ketidakpastian mengenai materi apa yang sebenarnya dibahas dalam psikologi ini. Philip Melacthon yang pada tahun tersebut merencanakan adanya psikologi, menyatakan bahwa substansi atau materi psikologi adalah gabungan dari faal tubuh, malaikat, setan, dan Tuhan yang muncul dalam gejala perilaku. Dapat dibayangkan rumitnya, apa yang dihadapi psikologi klinis kalau psikologi dianggap ilmu tentang materi tersebut. Kemudian, para fungsionalis menganggap bahwa materi psikologi adalah mental atau fungsi psikis, seperti emosi dan daya pikir.
Pada tahun 1920-an muncul Watson yang menghendaki adanya materi psikologi berdasarkan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang objektif, dapat diukur dan diamati, ialah perilaku. Perkembangan psikologi berikutnya manjadi lebih rumit lagi, karena sangat banyak mengikuti perkembangan filsafat, terutama tentang hakikat manusia dan metodologi. Jadi, psikologi klinis sesuai dengan perkembangan materi psikologi pada umumnya, juga menghadapi masalah yang sama, ialah keruwetan mengenai apa yang sebenarnya dibaca psikologi : jiwa, ruh, mental, perilaku, pengalaman, penghayatan, dan lain-lain.
Dilihat dari sejarahnya, Psikoogi Klinis kemungkinan besar merupakan wacana psikologi yang paling tua dan sekaligus merupakan akar wacana psikologi pada umumnya. Akan tetapi, dilihat dari kedudukan dan fungsi dalam hubungannya dengan psikologi sebagai cabang ilmu yang mandiri Psikologi Klinis bukanlah pilar utama ilmu psikologi. Dengan demikian tidak ada kaidah dasar Psikologi Klinis yang mendukung dan menjadi tumpuan kaidah utama psikologi umumnya. Yang ada malahan sebaliknya, wacana psikologi klinis justru berkembang berdasarkan penggunaan kaidah-kaidah psikologi.
Adapun yang termasuk pilar psikologi adalah sub-sub disiplin ilmu psikologi, yaitu Psikologi Umum, Psikologi Perkembangan, Psikologi Sosial, dan Study Kepribadian ( yang lebih dikenal dengan nama Psikologi Keporibadian). Dalam pemahaman dasarnya, Psikololgi Klinis m,erupakan ilmu yang menerapkan atau mengaplikasikan Psikologi Abnormal sebagai dasarnya. Sementara itu, Psikologi Abnormal merupakan “kelanjutan” dari Study atau Psikologi Kepribadian. Namun, sebagaimana ilmu psikologi pada umumnya, yang merupakan study tentang perilaku dan penghayatan atas pengalaman seseorang. Psikologi Klinis juga merupakan study tentang perilaku seseorang. Psikologi Klinis juga merupakan study tentang perilaku seseorang individu secara khas (particular individual).
Psikologi Klinis lahir berdasarkan pendapat Hippocrates, bahwa setiap perilaku, termasuk gejala sakit, bersumber dari otak. Selanjutnya, apa yang dimaksudkan dengan “otak” itu diperluas menjadi persyaratan, dan khusus untuk perilaku, pengertian “otak” ini disubstitrusikan dengan “psike” atau “jiwa”, “mental” atau “mind”.
Pada awalnya, Psikologi Klinis merupakan bidang kajian dan terapan kecil yang juga menyangkut bagian kecil dari psikologi secara menyeluruh. Asamen Klinis, yang sebelumnya lebih dikenal dengan diagnostika atau khusus untuk masalah-masalah psikologis disebut psikodiagnostika, merupakan upaya untuk memahami gejala-gejala yang menyangkut masalah yang dialami anak-anak. Asament Klinis ini merupakan aktiitas profesional utama yang dilakukan para praktikus Psikologi Klinis, yang saat itu kebanyakanterbatas dalam ketrampilannya. Sejumlah mioritas klinikus yang melakukan psikoterapi, melakukan di bawah supervisi psikiatris. Praktik pribadi umumnya jarang, yang dalam kegiatannyaterutama lebih banyak merupakan konsultasi psikologis daripada Psikologi Klinis yang sebenarnya. Adapun yang merupakan konsentrasi tetap, lebih banyak dikenal berperan sebagai mental tester oleh atau bagi profesi lain. Maksudnya adalah bahwa Psikolog Klinis menerima permintaan profesi lain, seperti psikiater, Psikolog Industri dan Organiasai, guru, dan profesi lain untuk melakukan tes mental terhadap klien atau pasien mereka.
Selang waktu antara tahun 1896 dan 1946 merupakan tahun-tahun penting dalam Psikologi Klinis. Pada kurun waktu tersebut, praktik maupun wacana tentang psikologi klinis mendominasi wacana psikologi pada umumnya. Penggabungan istilah “psikologi” yang terkait dengan istilah “klinik” yang artinya tempat orang berobat, pertama kali dilakukan oleh L.Witmer (Arieti,1959 & Phares, 1993). Dari penggabungan ini dapat dilihat bahwa bidang terapan ini berpijak pada dua disiplin ilmu yang berbeda yakni psikologi akademik dan kedokteran. Psikologi Klinis adalah gabungan dari Psikologi Medis (yang merupakan perkembangan dari psikiatri), dan “University Clinicss” yang didirikan oleh L. Witmer yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari mental tests dan psikologi eksperimental, atau sering juga disebut psikologi “akademik”, psikologi sebagai ilmu.
Lightner Witmer pada tahun 1896 mendirikan Klinik Psikologis atau “Psychologocal Clinic” yang pertama di Universitas Pensylvania. Oleh karena itu, tahun 1896 dianggap sebagai tahun penemuan psikologi klinis sebagai profesi. Pada klinik ini tugas psikolog ialah memeriksa anak-anak yang mengalami kesulitan menerima pelajaran. Klinik psikologi pada waktu itu tidak bergerak seagai adan pel;ayanan bagi orang sakit atau orang-orang yang mengalami gangguan penyesuaian diri. Di Universitas lain, pendirian klinik psikologis seperti itu kemusian bermunculan, antara lain klinik psikologi yang dibangun oleh Carl E. Seashore di Universitas IOWA. Pada tahun 1914 telah tercatat 19 klinik psikologi yang dibangun, dan jumlahnya meningkat tajam pada tahun 1935 hingga menjadi 87 buah klinik (Louttit, 1939).
Pada tahun 1946, barulah psikoterapi menjadi aktivitas profesional yang tetap bagi psikolog klinis. Sejak 1970-an, kebanyakan psikolog klinis melakukan kegiatan psikoterapi, sementara kegiatan asesmen atau diagnosis hanya menyita 10% saja dari keseluruhan waktu praktik yang digunakan.
Dalam kegiatan praktisnya, psikolog klinis lebih sedikit mirip psikolog pada umumnya dari pada pendeta atau manager persoalia atau dokter. Yang sama diantara mereka adalah evaluasi individu pada waktu dan pada perangkat lingkungan tertentu. Tugas utamanya adalah memahami individu secara lebih mendalam sebagai landasan untuk penanganan berikut keperluan tertentu yang telah dirancang.
Oleh karena psikologi klinis tidak mempunyai pendidikan dasar kedokteran, maka hak seorang psikolog klinis untuk memberikan psikoterapi sekiar tahun 1950-1980 seringkali dipermasalahkan. Istilah psikoterapi hanya dapat dilakukan oleh psikiaer. Ada pendidikan fomal yang biasanya dilakukan di universitas untuk tujuan memperoleh gelar, dan ada pendidikanpreaktik yang dilakukan dalam nstitusi untuk menujang ketrampilan-ketrampilan khusus yang terkait dengan psikologi dan asrsmen psikologik. Untuk pendidikan praktik, yang berperan penting ialah organisasi profesi.
Yap Kie Hien (1968) mengemukakan beberapa istilah lain untuk “Psikologi klinis.” Istilah-istilah ini tidak sepenuhnya memeliki arti yang sama karena tiap istilahmewakili aliran berbeda-beda. Istilah-istilah tersebut adalah psikopatologi, psikologi abnormal, psikologi medis, pato psikologi dan psikologi mental health.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa psikologi klinis mencakup nasesmen, intervensi dan penelitian. Di luar negri kemantapan psikologi klinis sebagai suatu profesi dalam praktik psikologi klinis didukung oleh organisasi profesi psikologi klinis, diterbitkan jurnal yang memuat penelitian-penelitian psikologi klinis, didirikannya program study untuk psikologi klinis yang didukung organisasi profesi dan lain-lain.
Di Indonesia sendiri pendidikan psikologi dipelopri oleh Slamet Iman Santoso. Pendidikan ini diharapkan dapat membentuk suatu lembaga yang mampu menempatkan the right man in the right place, karena pada masa itu banyak kejadian di mana orang-orang yang kurang kompeten menduduki posisi penting sehingga membuat keputusan yang salah
Awal dari pendiodikan psikologi dilakukan di lembaga psikoteknik yang dipimpin oleh Teutelink yang kemudian menjadi program stiudy psikologi yang pernah bernaung di bawah brbagai fakultas di lingkungan Universitas Indonesia. Di Jakarta, mata kuliah filsafat dinaungi fakultas sastra; mata kulah statistik oleh fakultas ekonomi, dan mata kuliah faat oleh fakultas kedokteran.
Program studi psikologi kemudian pada tahun 1956-1960 menjadi jurusan psikologi pada fakultas kedokteran UI. Pada tahun 1960 psikologi menjadi fakultas yang berdiri sendiri di UI (Somadikarta et. Al. 2000). Kurikulum dan pelaksanaan program study psikologi dimulai sebelum tahun 1960, dibina oleh para pakar yang mendapat pendidikan Doktor (S3) dan Doploma dari negeri Belanda dan Jerman. Liepokliem mendirikan bagian klinis dan psikoterapi bertempat di barak I RSUP (RSCM). Yap Kie Hien mendirikan bagian psikologi eksperimen di salemba. Myra Sidharta mendirikan klinik bimbingan anak. Koestoer dan Moelyono memimpin agian psikologi kejuruan dan perusahaan (sekarang psikologi industri dan organisasi) kemudian diperkuat oleh A.S.Munandar. bagian posikologi sosial dirintis oleh Marat kemudian dipimpin oleh Z.Joesoef. setelah kepergian Liepokliem ke Australia, bagian psikologi klinis dan psikoterapi berganti nama menjadi bagian psikologi klinis dan konseling dipimpin oleh Yap Kie Hien (1960-1969). Namun dengan adanya pengertian yang luas tentang psikologi klinis, maka nama bagian psikologi klinis-konseling berganti lagi menjadi bagian psikologi klinis.
Sejak tahun 1992, pendidikan akademik dan pendidikan profesi psikolog dipisahkan untuk memungkinkan sarjana psikologi meneruskan ke bidang lain yang mereka minati. Sebelumnya, sarjana psikologi adalah juga psikolog karena pendidikan praktik digabungkan pendidikan akademik. Sejak tahun 20200, suatu forum menyepakati bahwa prasyarat bagi pendidikan profesi psikolog – agar dapat melakukan praktik psikologi – adalah tingkat S2, namun hal itu baru diberlakukan di UI saja. Forum ini terdiri dari dekan-dekan Fakultas Psikologi – yang kini mencapai 20 Fakultas Psikologi negeri dan swasta – dan organisasi Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).
Sejak 1994, psikolog yang berpraktik – artinya memberikan konsultasi psikologi, melakukan asesmen atau psikodiagnostik, dan melakukan konseling dan terapi – diwajibkan memiliki Izin Praktik Psikolog. Izin ini diperoleh setelah mereka memperoleh rekomendasi dari oeganisasi profesi – dulu Ikatan Sarjana Psikologi, sekarang Himpsi. Izin diterbitkan oleh Departemen Tenaga Kerja (1994-2000) dan rencananya akan dikeluarkan oleh Himpsi sendiri.
Di Indonesia pendidikan profesi spesialis psikologi klinis secara formal belum diadakan, padahal sebenarnya sudah cukup banyak pakar yang berpengalaman di berbagai bidang psikologi klinis seperti terapi tingkahlaku, family therapy, counseling. Upaya untuk membuka jalur pendidikan spesialistik-profesional semestinya didukung oleh organisasi profesi (ISPSI/HIMPSI) karena pihak pemerintah – yakni Direktorat Pendidikan Tinggi Dep. Pendidikan Naisonal – lebih mengutamakan pendidikan akademik S1, S2, dan S3.
Bab III
Kesimpulan
Dari perkembangan Psikologi di dunia dan kemudian pendapat-pendapat ahli tentang psikologi,dan kemudian tentang perkembangan Psikologi Klinis di Indonesia. Dapat diambil garis besar tentang pengertian Psikologi Klinis. Psikologi Klinis adalah salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi Pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lain. Psikologi Klinis menggunakan konsep-konsep psikologi abnormal, psikologi perkembangan, psikopatologi dan psikologi kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam assesment dan intervensi, untuk dapat memahami masalah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku anormal.
Kemudian tentang perkembangan psikologi klinis di Indonesia sendiri disimpulkan bahwa perkembangan Psikologi Klinis di Indonesia masih dalam tahap pengembangan dan dapat juga dikatakan masih terpuruk dan belum maju. Hal ini dapat diketahui bahwa di Indonesia pendidikan profesi spesialis psikologi klinis secara formal belum diadakan, padahal sebenarnya sudah cukup banyak pakar yang berpengalaman di berbagai bidang psikologi klinis seperti terapi tingkahlaku, family therapy, counseling.
Hal-hal yang perlu digaris bawahi bahwa jika kita ingin mengembangkan Psikologi Klinis haruslah Upaya untuk membuka jalur pendidikan spesialistik-profesional semestinya didukung oleh organisasi profesi (ISPSI/HIMPSI) karena pihak pemerintah – yakni Direktorat Pendidikan Tinggi Dep. Pendidikan Naisonal – lebih mengutamakan pendidikan akademik S1, S2, dan S3. Dan dukungan tersebut haruslah lebih dapat disosialisasikan untuk dapat menarik minal para sarjana psikolog untuk melanjutkan ke bidang Psikologi klinis.
BAB XI
DAFTAR PUSTAKA
Wiramihardja,Prof.Dr.Sutardjo S.(2004).Psikologi “Pengantar Psikologi Klinis”.Refika aditama : Bandung
Slamet, Suprapti I.S-Sumarmo Markam. (2003). Pengantar Psikologi Klinis. UI Press : Jakarta

Persepsi Guru Terhadap Kemampuan Mahasiswa PPL Dalam Penyusunan RPP KTSP di SLB Kota Padan

Januari 23, 2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dunia pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam menumbuhkan sikap mandiri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut. Untuk itu diperlukan upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain: sarana prasarana, lingkungan pendidikan, menejemen pendidikan, dana dan tenaga pendidik. Kualitas tenaga pendidik mempunyai peranan yang relatif besar dalam peningkatan kualitas pendidikan, karena tenaga pendidiklah yang berhadapan langsung dengan peserta didik, mengelola kelas, membimbing siswa dan memberikan ilmu pengetahuan.
Universitas Negeri Padang sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ikut ambil bagian dalam menghasilkan tenaga-tenaga guru yang berkualitas. Ditegaskan dalam buku Pedoman Universitas Negeri Padang yang pada intinya memuat bahwa UNP mempunyai tujuan untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang tepat dan dapat mengembangkan kemampuan personal, profesional dan sosial yang berlandaskan kepada ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk mencapai hal tersebut, maka UNP menyelenggarakan Program Pengalaman Lapangan Kependidikan yang merupakan mata kuliah dengan bobot 6 SKS dan harus diselesaikan oleh semua mahasiswa program studi kependidikan Strata Satu (S1). Dalam Program Praktek Lapangan Kependidikan ini mahasiswa dikirim ke sekolah-sekolah untuk mengaplikasikan semua pengetahuan yang diperoleh selama di perkuliahan, baik tentang rencana pelaksanaan pembelajaran maupun tentang teknik-teknik dalam pembelajaran. Hal ini juga dikemukakan dalam goching pelaksanaan Program Praktek Lapangan Kependidikan yang berisikan bahwa:
“Program Praktek Lapangan Kependidikan bertujuan untuk melatih mahasiswa agar memiliki kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dalam situasi nyata, baik untuk kegiatan mengajar maupun tugas-tugas non mengajar”

Untuk itu mahasiswa yang melaksanakan program Praktek Lapangan Kependidikan dituntut untuk dapat menguasai kompetensi guru, sehingga dapat menjalankan tugas yang diberikan dengan baik. Mengajar merupakan salah satu hal yang komplek, yang menuntut penguasaan berbagai pengetahuan dan keterampilan, disamping penghayatan terhadap sikap, nilai-nilai dan wawasan yang relevan dengan tugas tersebut. Oleh sebab itu pengajaran yang efektif dapat dilaksanakan, apabila telah memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. seperti; merencanakan pengajaran, menuliskan tujuan pelajaran, menyajikan pelajaran, memberikan pertanyaan kepada siswa, mengajarkan konsep, berkomunikasi dengan siswa, mengamati kelas, mengelola kelas, mengevaluasi hasil belajar siswa. Selain itu perlu dikuasai dan pengkombinasian prinsip-prinsip pengajaran khusus guna sukses dalam pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus.
Keterampilan-keterampilan tersebut harus dijadikan milik pribadi dan dapat direalisasikan dalam mengajar, karena mengajar menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang mempengaruhi tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dengan demikian seorang guru harus mampu melakukan unjuk praktek lapangan kependidkan yang baik, sehingga dapat mewujudkan proses belajar mengajar yang baik pula bagi peserta didik.
Di bidang kompetensi sosial, seorang guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi sosial, baik dengan siswa, guru, kepala sekolah bahkan dengan masyarakat. Berdasarkan hasil pra survey juga diperoleh data bahwa ada mahasiswa yang kurang bisa menciptakan hubungan yang baik dengan guru, maupun pihak sekolah lainnya. Hal ini sesuai pernyataan guru tentang mahasiswa yang hanya duduk-duduk di posko pada saat tidak mengajar dan tidak tampaknya komunikasi efektif antara mahasiswa PPL dengan Guru sehingga nantinya dapat menghambat proses komunikasi masukan dari guru. Padahal seorang guru nantinya seharusnya mempunyai kemampuan untuk menjalin komunikasi dan bersosialisasi dengan baik.
Selanjutnya, keterampilan guru profesional yang pertama dilakukan adalah merancang pembelajaran melalui rencana program pembelajaran. Meskipun telah dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas mahasiswa kependidikan, namun pada kenyataannya masih terdapat beberapa kekurangan. Seorang guru dituntut untuk dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik, karena perncanaan yang baik sangat mempengaruhi kualitas dalam mengelola pembelajaran.
Layaknya pembelajaran yang baik, dengan adanya kompetensi-kompetensi yang ada pada kurikulum tingkat satuan pendidikan maka pembelajaran menjadi inovatif dan terarah. Dalam pelaksanaannya masih ada mahasiswa PPL yang tidak dapat memenuhi kompetensi ini. Dalam prakteknya rencana pelaksanaan pembelajaran harus memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar, hal ini tentunya telah disesuaikan dengan standar nasional pendidikan. Berdasarkan hasil pra survey, guru yang mengajar di SLB mengemukakan bahwa ada sebagian praktek mengajar mahasiswa PPL yang tidak sesuai dengan acuan RPP baik dalam mengembangkan kurikulum maupun isi. Sebagai contoh pada saat menerangkan materi ajar dalam proses belajar mengajar mahasiswa PPL belum dapat mengembangkan materi secara tematik. Masih ada mahasiswa yang belum paham, Hal tersebut berdampak terhadap pendidikan dan terhadap peserta didik juga akan berpengaruh terhadap nama baik almamater.
Selanjutnya mahasiswa yang melaksanakan program praktek lapangan menyatakan bahwa banyak hal yang menyebabkan terganggunya kelancaran proses belajar mengajar. Salah satu hal tersebut adalah mahasiswa sering mengalami kebingungan pada saat berkonsultasi dengana guru tentang bentuk isi RPP, terdapat keberagaman pendapat tentang bentuk isi RPP. Selain itu mengenai hal penggunaan media pendidikan, secara teoritis guru dituntut dapat menggunakan bermacam-macam media pendidikan. Hal tersebut bertujuan untuk dapat mempermudah pemahaman siswa. Namun kenyataannya di lapangan masih sulit diwujudkan dengan sempurna. Pada umumnya yang menjadi penyebab permasalahan tersebut adalah keterbatasan fasilitas, keterbatasan penggunaan tekhnologi dan dana yang tersedia dari pihak sekolah.
Hal ini tidak boleh terus berlanjut, karena mahasiswa kependidikan tersebut nantinya akan menjadi guru yang akan terjun langsung di lingkungan masyarakat dan merupakan orang yang akan mendidik generasi penerus bangsa khususnya bagi anak luar biasa. Dengan demikian kualitasnya akan mempengaruhi kualitas tenaga kependidikan di masa depan. Selain itu, kompetensi mengajar yang dimiliki guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Apalagi selama pelaksanaan program praktek lapangan kependidikan hampir sebagian besar pembelajaran dikelola oleh mahasiswa PPL.
Berdasarkan permasalahan di atas dimana guru sebagai orang yang lebih banyak terlibat dan berhubungan langsung disaat mahasiswa PPL mengajar, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan persepsi guru dalam penyusunan RPP KTSP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek. Yang dilakukan melalui penyebaran angket terhadap guru-guru yang ditunjuk sebagai lokasi PPL mahasiswa PLB.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan yang ada, yaitu:
1. Masih adanya mahasiswa PPL PLB UNP yang belum mampu mengembangkan indikator dengan baik.
2. Masih adanya mahasiswa PPL FIP UNP yang belum mampu mengembangkan materi secara tematik.
3. Masih adanya mahasiswa PPL PLB UNP yang belum mampu menggunakan metode pengajaran dengan baik dan tepat guna.
4. Masih rendahnya pemanfaatan media pengajaran yang bersifat inovatif.
5. Kemampuan menggunakan tematik mahasiswa masih rendah

C. Batasan Masalah
Mempertimbangkan keterbatasan yang penulis miliki antara lain dari segi waktu, tenaga, pengalaman dan agar penelitian ini lebih terfokus maka penulis membatasi penelitian pada masalah unjuk praktek lapangan kependidkan mahasiswa PPL PLB UNP dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran di SLB praktek menurut persepsi guru kelas SLB praktek Tahun 2008/2009.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas maka dirumuskan masalah yakni masalah unjuk kerja mahasiswa PPL PLB UNP menurut persepsi Guru SLB praktek ditinjaui dari:
1. Bagaimana penentuan materi ajar?
2. Bagaimana penggunaan metode mengajar yang akan diterapkan?
3. Bagaimana penggunaan tematik mahasiswa?

E. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi guru SLB praktek dalam penyusunan RPP KTSP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek tentang unjuk praktek lapangan kependidkan mahasiswa PPL PLB UNP di tinjau dari perencanaan pengajaran maka pertanyaan yang diajukan berupa; bagaimana persepsi guru terhadap kemampuan mahasiswa PPL dalam penyusunan RPP KTSP di SLB Kota Padang?
F. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan:
1. Kemampuan mahasiswa PPL PLB UNP menurut persepsi guru SLB praktek dalam penentuan materi ajar.
2. Kemampuan menggunakan metode mengajar mahasiswa PPL sesuai dengan kondisi siswa menurut persepsi guru SLB praktek.
3. Kemampuan menggunakan tematik mahasiswa PPL PLB UNP menurut persepsi guru SLB praktek

G. Manfaat Penelitian
Adapun Penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengajaran, sehingga bermanfaat dalam mengetahui:
1. Penentuan materi ajar.
2. Penggunaan metode mengajar.
3. Penggunaan tematik dalam proses pembelajaran.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Persepsi
Persepsi berasal dari bahasa latin; percipere; perceptio yang berarti penyimpulan, penerimaan, pandangan, pengertian (Komaruddin, 2000). Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) mengemukakan pengertian persepsi: “Tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya”.
Dari pendapat di atas persepsi dapat diartikan gambaran seseorang tentang suatu objek. Selain itu persepsi dapat juga diartikan dengan bagaimana seseorang mengamati dan memandang situasi atau keadaan tertentu. Dalam memandang atau mengamati sesuatu, setiap individu mempunyai perbedaan. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi persepsi tersebut antara lain: usia, latar belakang pendidikan, dan pengetahuan.

B. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Berkembangnya demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan dari pengelolaan sentralistik menjadi desentralistik. Hal ini tidak terlepas dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang pemerintahan daerah dan dilanjutkan dengan pelaksanaan otonomi daerah memberikan peluang yang cukup luas pada daerah untuk menentukan kebijakan-kebijakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah masing-masing termasuk penyelenggaraan pendidikan. Implikasi dari kebijakan tersebut berdampak pada desentralisasi kurikulum, sebagai mana diketahui bahwa kurikulum merupakan substansi pendidikan yang sangat penting.
Desentralisasi kurikulum ini menuntun pada pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran sehingga memungkinkan tiap-tiap sekolah untuk merancang dan mengembangkan pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah masing-masng.
Tim Pustaka Yustisia (2007:151) mengemukakan bahwa “silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indiator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.
Berdasarkan silabus dengan mudah guru dapat membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.
Adapun contoh RPP yaitu: BSNP (2006:27) sebagai berikut;
Nama Sekolah : SLB B Cempaka Putih
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : D1/I
Alokasi Waktu : 4 Jam Pelajaran
Tahun Pelajaran : 2006/2007

I. Standar Kompetensi
Siswa mampu memahami hubungan antara bagian alat tubuh makhluk hidup dengan fungsinya dan memahami bahwa beragam makhluk hidup memiliki daur hidup yang berbeda.
II. Kompetensi Dasar
Mencari hubungan antara bagian alat tubuh dengan fungsinya pada makhluk hidup.
III. Materi Pokok
• Rangka mansia, fungsi dan pemeliharaannya
• Alat indera manusia, fungsi dan pemeliharaannya
• Jenis makanan hewan
• Bagian-bagian tumbuhan.
IV. Indikator
• Menjelaskan kegunaan rangka
• Mempraktekan sikap tubuh untuk menjaga bentuk rangka, cara duduk, berdiri dan cara tidur
• Mencari informasi tentang penyakit yang berkatan dengan rangka
• Mengidentifikasi alat indera manusia berdasarkan pengamatan
• Menjelaskan kegunaan alat indera
• Mencari informasi kelainan alat indera yang disebabkan oleh kebiasaan buruk
• Memberi contoh cara merawat alat indera
V. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran belangsung, siswa mampu:
• Menjelaskan kegunaan rangka
• Mempraktekan sikap tubuh untuk menjaga bentuk rangka, cara duduk, berdiri dan cara tidur
• Mencari informasi tentang penyakit yang berkatan dengan rangka
• Mengidentifikasi alat indera manusia berdasarkan pengamatan
• Menjelaskan kegunaan alat indera
• Mencari informasi kelainan alat indera yang disebabkan oleh kebiasaan buruk
• Memberi contoh cara merawat alat indera
VI. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1. Tanya jawab tentang tubuh manusia yang terdiri dari rangka sebagai penyangga
2. Menggali pengalaman siswa
B. Kegiatan Inti
1. Menjelaskan bagian-bagian rangka manusia dan kegunaanny
2. Mendemonstrasikan cara duduk, berdiri, dan tidur yang baik sebagai cara untuk memelihara rangka
3. Mendiskusikan hasil demonstrasi
4. Mendiskusikan tentang penyakit yang berkaitan dengan rangka
5. Menyimpulkan dan membuat daftar tentang penyakit yeng berkaitan dengan rangka
C. Kegiatan Akhir
1. Tes Lisan
2. Tugas pengamatan (cara posisi duduk, berdiri, dan tidur yang baik.
VII. Alat dan Sumber
VIII. Penilaian
Penilaian kinerja secara lisan, tertulis dan praktek
Tes Lisan
Soal
1. Sebutkan bagian-bagian rangka manusia?
2. Sebutkan kegunaan rangka manusia?
3. Bagaimana posisi duduk dan berdiri yang baik?
4. Bagaimana cara memelihara rangka?
Lembar Kerja Siswa
Tugas pengamatan
Lakukan sikap duduk, berdiri, dan tidur dengan cara berpasangan dan amati/tulis hasil pengamatan pada kolom yang tersedia.
No Posisi/Sikap Hasil Pengamatan
1 Duduk . . . . . .
2 Berdiri . . . . . .
3 Tidur . . . . . .

Tim Pustaka Yustsia (2007:152) mengemukakan bahwa langkah-langkah pengembangan silabus :
1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar
2. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran
3. Mengebangkan kegiatan pembelajaran
4. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi
5. Penentuan jenis penilaian
6. Menentukan alokasi waktu
7. Menentukan sumber belajar

C. Program Praktek Lapangan Kependidikan
Program Praktek lapangan kependidikan merupakan perkuliahan dengan bobot 6 SKS yang harus diambil oleh mahasiswa program studi kependidikan (S1). Tujuan pelaksanaan program praktek lapangan kependidikan adalah untuk melatih mahasiswa agar dapat bertugas layaknya seorang tenaga kependidikan. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi kegiatan mengajar dan kegiatan non mengajar. Kegiatan mengajar merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses pengajaran peserta didik, yaitu mengajar di kelas dengan menguasai segenap kemampuan yang harus dikuasai, Kunandar (2007: 75) mengemukakan bahwa kompetensi yang harus dikuasi setiap guru dibedakan dalam: 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi profesional, 4) kompetensi sosial. (Raka, 1983: 24) mengemukakan tentang unjuk praktek lapangan kependidikan yang harus mampu dilakukan oleh seorang guru yang meliputi; 1) perencanaan pengajaran, 2) pengelolaan kelas, 3) penggunaan metode mengajar dan 4) pelaksanaan evaluasi. Sedangkan kegiatan non mengajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pendidikan. Kegiatan mengajar tersebut dapat berupa kegiatan administrasi di bagian tata usaha sekolah, kegiatan administrsi di perpustakaan, menjadi guru piket harian serta kegiatan pembinaan ekstra kurikuler sekolah. Mahasiswa PPL diharapkan dapat melaksanakan tugas-tugas mengajar dan non mengajar tersebut dengan baik. Dengan demikian diharapkan betul-betul dapat menjadi tenaga kependidikan yang profesional.
Program praktek lapangan kependidikan ini dilakukan dua periode selama satu tahun, yaitu periode Juli-Desember dan periode Juli-Desember. Tempat pelaksanaannyapun hampir merata di semua Kabupaten di Sumatera Barat.
SLB Negeri 2 Padang, SLB Wacana Asih, SLB YPAC, SLB YPPLB, SLB N Sicincin merupakan SLB Negeri maupun Swasta yang ada di Sumatera Barat yang memiliki latar belakang sebagai sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Sekolah ini berada di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Sekolah ini merupakan beberapa tempat pelaksanaan PPL mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP.
D. Hakekat Pendidikan Luar Biasa
Dalam pendidikan luar biasa berarti pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari dari anak dengan kelainan. Pendidikan luar biasa diibaratkan seperti kendaraan umum bertaraf standarisasi dimana siswa berkebutuhan khusus bebas mengenyam pendidikan di SLB maupun di sekolah reguler tentunya dengan setting inklusif.
Adapun siswa yang diidentifikasi berkebutuhan khusus yang menjadi cakupan bidang pendidikan luar biasa adalah:
1. Anak dengan ketunanetraan
Nakata (2003) dalam Rahardja (2006) …tunanetra adalah mereka yang mempunyai kombinasi ketajaman penglihatan hampir kurang dari 0.3 (60/200) atau mereka ynag mempunyai tingkat kelainan fungsi penglihatan yang lainnya lebih tinggi, yaitu mereka yang tidak mungkin atau kesulitan secara signifikan untuk membaca tulisan dan ilustrasi awas meskipun dengan mempergunakan alat bantu kaca pembesar.
2. Anak dengan ketunarunguan
Rahardja (2006) Tunarungu adalah istilah umum yang dipergnakan untuk menggambarkan semua tingkat dan jenis kehilangan pendengaran dan ketulian. Seseorang biasanya dikatakan tuli apabila dia tidak mampu untuk menerima suara bicara dan perkembangan bahasanya sendiri terganggu.
3. Anak dengan ketunagrahitaan
Direktorat PLB (2004) dalam Rahardja (2006) tuna grahita adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.
4. Anak dengan ketunadaksaan
Direktorat PLB (2004) dalam Rahardja (2006) tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi,otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus.
5. Anak dengan ketunalarasan
Direktorat PLB (2004) dalam Rahardja (2006) Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteran dirinya maupun lingkungannya.
6. Anak dengan kesulitan belajar
Munawir (1997:10) adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikolgis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah dan anak tersebut beresiko tinggi tinggal kelas.
7. Anak dengan kelainan kurang perhatian dan hiperaktifitas (ADHD)
Santrock (2002) dalam buletin mengemukakan ADHD sebagai suatu kelainan berupa rentan perhatian yang pendek, perhatian mudah beralih dan tingkat kegiatan fisik yang tinggi.
8. Anak dengan kelainan bicara dan bahasa
Setyono (1998:43) kelainan bahasa dan bicara yang digolongkan sebagai kelainan prilaku komunikasi, terjadi akibat adanya penyakit, gangguan atau kelainan fisik, psikis, atau sosiologis. Hal ini timbul pada masa sebelim (pranatal), saat lahir(natal), setelah lahir (pascanatal).
9. Anak dengan autisme
American Psychiatic Association (2000) autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.

E. Kerangka Konseptual
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan praktek lapangan kependidikan mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP periode Januari-Juni 2009 khususnya dalam penyusunan RPP menurut persepsi guru. Sekurang-kurangnya terdapat 3 Sub inti yang tercakup dalam RPP dalam merancang RPP. Dari indikator di atas, dapat digunakan guna mengetahui penilaian guru terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran mahasiswa praktek lapangan kependidikan. indikator yang menjadi acuan dalam penilaian adalah merencanakan pengajaran yang meliputi menentukan materi ajar, menetukan metode mengajar, dan penggunaan tematik dalam PBM. Kerangka konseptual tersebut dapat dilihat dalam diagram berikut ini.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Russefendi (1994:30) mengemukakan: “Menurut metodenya, penelitian dapat dikelompokkan kedalam penelitian: sejarah, deskriptif, korelasional, kausal komparatif, percobaan dan kuasi percobaan”. Selanjutnya ia menjelaskan: “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan observasi, wawancara, atau angket mengenai keadaan sekarang ini, mengenai subjek yang sedang kita teliti”. Sehubungan dengan hal ini, Margono (1997:8) mengemukakan: “Penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu”.
Kedua pendapat tersebut didukung oleh Sudjana (1989:64) yang mengemukakan:
“Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa dan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa sekarang. Dengan kata lain penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian diadakan”.

Berdasarkan ketiga pendapat di atas, maka penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif yang akan mendeskripsikan pendapat guru SLB dalam penyusunan RPP KTSP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek.

B. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari satu varabel, yaitu persepsi guru-guru SLB terhadap RPP mahasiswa PPL di SLB praktek.
C. Defenisi Operasional Variabel
RPP yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan bagian dari pendalaman sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh dimasing-masing satuan pendidikan. RPP yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indiator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Aspek-aspek yang diukur dari RPP ini adalah persepsi dari guru-guru SLB terhadap pembuatan RPP mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNP di SLB praktek.

D. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SLB yang terdaftar pada tahun ajaran 2008/2009 dan sampel dalam penelitian ini adalah SLB yang di pakai menjadi sekolah praktek pogram praktek lapangan yang terdiri dari. Pada tabel berikut ini
No Populasi Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25 SLB N 1 Padang
SLB N 2 Padang
SLB Aisyiah Padang
SLB Muhammadiyah ngl
SLB YPPA
SLB YPAC
SLB Wacana Asih
SLB Perwari
SLB Karya Padang
SLB Fan Reda
SLB Luki
SLB Karya Padang
SLB Amanah Padang
SLB Hikmah
SLB Alhidayah
SLB Gema Insani
SLB Bina Bangsa
SLB Work Shop Padang
SLB Almujadilah
SLB Alif
SLB Salsabila
SLB Autis Mitra Ananda
SLB Limas
SLB Bima
SLB Bakti SLB N 2 Padang
SLB Wacana Asih
SLB YPAC
SLB YPPLB
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Marlina (2004) mengemukakan angket adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung menjumpai responden di SLB praktek dengan memberikan seperangkat angket sebagai alat pengumpulan data dan responden langsung mengisinya.

F. Instrumen Penelitian
1. Bentuk Instrumen
Instrumen yang digunakan disusun menuerut pola skala Likert, skala dalam bentuk gradasi yang terdiri dari lima kategori dan pernyataan angket bersifat positif dan negatif. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Pernyataan Sikap Sifat Pernyataan
Positif Negatif
Selalu (SL)
Sering (S)
Kadang-kadang (KK)
Tidak Pernah (TS)
Tidak Pernah Samasekali (STS) 5
4
3
2
1 1
2
3
4
5

2. Penyusunan Instrumen
Langkah penyusunan instrumen dalam penelitian ini adalah: a) pembuatan kisi-kisi berdasarkan indikator, b) menyusun pernyataan sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Penyusunan angket diusahkan mempertimbangkan kemudahan pengisisan objek penelitian. Kisi-kisi instrumen yang disusun dapat dilihat pada lampiran.

3. Uji Coba Instrumen
Uji coba dilakukan untuk mengetahui apakan instumen yang digunakan tersebut benar-benar valid (sahih) dan reliabel (handal). Validitas instrumen adalah kemampuan suatu alat ukur mampu mengukur apa yang harus diukur. Sedangkan reliabel adalah kemampuan suatu alat ukur untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten dalam waktu dan tempat yang berbeda. Juga untuk mengetahui pemahaman responden terhadap butir-butir pernyataan. Untuk melakukan uji coba, prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1) penentuan responden uji coba, 2) pelaksanaan uji coba dan 3) analisis data hasi uji coba.
1. Responden uji coba
Responden uji coba adalah guru kelas SLB N 1 Padang yang berada diluar sampel. Uji coba dilakukan kepada 10 guru.
2. Pelaksanaan uji coba
Uji coba data instrumen dilakakan di SLB N 1 Padang dengan menjumpai langsung responden di kelas dan memberikan seperangkat angket untuk di isi dan tidak diperbolehkan untuk di bawa pulang.
3. Analisis data hasil uji coba
Dengan uji coba ini akan diperoleh butir-butir instrumen yang sesungguhnya, sehingga diperoleh butir-butir yang layak untuk dijadikan alat ukur. Layak atau tidaknya alat ukur tersebut dapat diketahu dengan uji validitas dan reliabilitas.
a. Uji validitas
Uji kesahihan instrumen dilaksanakan untuk mengetahui tingkat ketepatan instrumen yang digunakan. Pengujian instruemn ini dilaksankan dengan menggunakan validitas konstrak (Content validity) untuk angket. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunkan expert judgement (meminta pertimbangan ahli, dalam hal ini kepada dosen pembimbing) sehingga diperoleh penentapan butir-butir angket yang baik.
b. Uji Reliabilitas
Angket yang digunakan dalam penelitian ini disamping harus sahih juga harus handal. Adapun cara-cara yang ditempuh untuk menguji kehandalan instrumen ini adalah dengan menggunakan rumus alpha, karena menurut Suharsimi (1998: 192) untuk mencari reliabilitas soal dalam bentuk angket digunakan rumus alpha. Rumus ini digunakan dengan menggunakan bantuan program SPSS (Stastical Package for Social Sciences) 11. 5 for windows.
Rumus alpha yang dikemukan Suharsimi (1998: 1993) adalah:

Keterangan:
r11 = reliabilitas instrument
k = banyaknya butir pernyataan atau banyaknya soal
Σσb2 = jumlah varian butir
σ12 = varial total
Sebagai tingkat reliabilitas soal digunakan yang dikemukan oleh Slameto (1995: 215). Dapat dilihat pada table berikut:
No Indek reliabiltas Klasifikasi
1.
2.
3.
4.
5. 0,00 – < 0,20
0,20 – < 0,40
0,40 – < 0,60
0,60 – < 0,80
0,80 – < 1,00 Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

Setelah dilakukan ujicoba angket untuk mengetahui validitas dan realibilitas maka diperoleh angket yang gugur. Keseluruhan item yang gugur tidak dibuang, tetapi diperbaiki redaksi kalimatnya agar responden lebih mudah memahami isi kalimat tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa angket ini reliable dan layak untuk dijadikan instrument penelitian.

G. Teknik Analisis Data
Data penelitian ini diolah dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Verivikasi data, dilaksanakan dengan mengecek apakah semua data sudah terkumpul dan telah lengkap diisi oleh responden.
2. Mentabulasi data, dengan cara menghitung frekwensi dari masing-masing alternatif jawaban yang diberikan oleh responden.
3. Menghitung mean (rata-rata) dengan rumus yang dinyatakan Sudjana (1989: 66) sebagai berikut:

Keterangan:
M = mean (rata-rata)
Fi = frekwensi jawaban
Xi = alternatif jawaban
Untuk menginterpretasi nilai mean yang diperoleh maka harga mean dari perhitungan di atas disesuaikan dengan tabel harga mean berikut ini.
Nilai Rata-rata Keterangan
4,20 – 5,00
3,40 – 4,19
2,60 – 3,39
1,80 – 2,59
1,00 – 1,79 Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

DAFTAR PUSTAKA

BSNP. 2006. Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Cooper,, James. 1977. Clasroom Teaching Skill. Lexitong Mass: D.C Health & Co
Depdikbud. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Komaruddin. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara
Kunandar. 2007. Kompetensi Guru. Jakarta. Rajagrafindo Persada
Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Marlina. 2004. Penelitian Kuantitatif. Padang:Proyek Peningkatan UNP Padang.
Munawir, dkk. 1997. Paket Penanganan Siswa Berkesulitan Belajar Untuk Guru, Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah Dasar. Jakarta: Pusbang Kurrandik.
Ruseffendi. 1994. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-eksakta Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Pers.
Rahardja. 2006. Pengantar Pendidikab Luar Biasa. Criced: University of Tsukuba.
Slameto. 1995. (Edisi Revisi). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Setyono Bambang. 1998. Terapi Wicara Untuk Praktisi Pendidikan & Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rajawali.
Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Penyusunan KTSP Lengkap (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) SD, SMP dan SMA. Jogjakarta: Pustaka Yustisia
Marlina (Santrock,2002). Apa dan Bagaimana ADHD. Buletin Warta Inklusif, 3

Kisi-kisi Penelitian
Persepsi Guru Terhadap Kemampuan Mahasiswa PPL Dalam Penyusunan RPP KTSP di SLB Kota Padang.

Variabel Indikator Deskriptor Item Tekhnik Pengumpulan Data Instrumen Sumber Data
Persepsi Guru terhadap Mahasiswa PPL PLB UNP di SLB Kota Padang 4. Penggunaan materi ajar.

5. Penggunaan metode mengajar.

6. Penggunaan tematik dalam proses pembelajaran. 1) Mengacu pada Kompetensi Dasar
a. Fakta
b. Konsep
c. Prinsip
d. Prosedur
e. Aspek
f. Sikap
g. Psikomotor
2) Kedalaman materi

1) Ketepatan metode
a) Penyesuaian kondisi
b) Penyesuaian materi
2) Variasi metode
a) Ceramah
b) Tanya jawab
c) Diskusi
d) Penugasan
e) Bermain peran
f) Demonstrasi
g) Karya wisata

1) Konsentrasi pada tema
2) Keterkaitan satu tema antar mata pelajaran
3) Keterkaitan bahan ajar antar mata pelajaran
4) Pengoptimalan potensi siswa
5) Penekanan aspek menulis, membaca, berhitung serta nilai-nilai Teknik dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket Data bersumber dari responden yang mengisi angket

UPAYA PENEMUAN MODEL PENGAJARAN BUDAYA ALAM MINANGKABAU

Januari 23, 2013

JON EFENDI : UPAYA PENEMUAN MODEL PENGAJARAN BUDAYA ALAM MINANGKABAU (Action Research Sosialisasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di SD & SLTP Kota Padang)

Menyikapi Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011.08.C.1994 tanggal 1 Februari 1994 menetapkan lima mata pelajaran untuk Sekolah Dasar. Salah satu diantaranya adalah “Budaya Alam Minangkabau / BAM”. Sejalan dengan itu dilakukan studi pendahuluan di SD Kota Padang bahwa; 1) kurangnya pemahaman guru-guru terhadap misi pembelajaran BAM, 2) tidak jelasnya visi yang disandang dalam pelajaran BAM 3) tidak adanya petunjuk pelaksanaan BAM yang jelas membuat guru ragu-ragu, 4) keterbatasan guru-guru dalam menyampaikan materi, serta perbedaan budaya daerah yang dianut guru, 5) tidak tersedianya guru yang benar-benar menguasai persoalan BAM, 6) sarana dan sumber belajar sulit diadakan oleh sekolah.
Penelitian tindakan (action research) ini bertujuan untuk menemukan model pembelajaran BAM yang berbasis adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Yang akan dicapai dalam penelitian ini meliputi; 1) menata misi dan visi yang ingin dicapai dalam pembelajaran BAM, 2) membuat petunjuk dan persiapan yang perlu dilakukan guru dalam pengajaran BAM, 3) keterlibatan guru-guru dalam pencetusan ide serta melaksanakan uji keyakan model, 4) meberikan arahan dan teknik pengajatan BAM hingga guru tidak merasa kesulitan.
Pada prosesnya akan dilakukan pengamatan dan diskusi bersama guru-guru SD yang diuji cobakan melalui beberapa siklus tindakan. Dibentuk tim kerja peneliti serta pemberian tindakan hingga menemukan model yang sesuai.

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan sebagai investasi bagi masa depan bangsa menduduki peranan penting dalam usaha mencerdaskan kehidupan, maka fungsi kecerdasan sangat berperan dalam mensukseskan pembangunan nasional. Peningkatan mutu pendidikan pada jenjang SD merupakan kebijakan strategis setelah keberhasilan pemerataan kesempatan belajar melalui gerakan wajib belajar. Mutu pendidikan di SD maupun SLTP akan memberikan landasan yang kuat bagi upaya peningkatan mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selajutnya.
Program pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui gerakan wajib belajar sebilan tahun pada jenjang pendidikan dasar yang diperuntukkan bagi setiap warga negara Indonesia. Jika disimak Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, merupakan pokok landasan pelaksanaan pendidikan nasional Indonesia, hingga diperlukan kurikulum persekolahan. Selanjutnya kepada sekolah diberikan kesempatan menggunakan kurikulum muatan lokal sesuai dengan situasi dan tempat sekolah itu berada.
Selanjutnya Bab IX pasal 37 Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan dengan tegas bahwa “kurikulum sekolah disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Pasal 38 menjelaskan bahwa “pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan dipaparkan atas kurikulum yang berlaku secara nasional disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan serta ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan.
Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 011.08.C.1994 tanggal 1 Februari 1994 menetapkan lima mata pelajaran untuk Sekolah Dasar. Salah satu diantaranya adalah “Budaya Alam Minangkabau / BAM”. Mata pelajaran ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar kepada siswa tentang budaya alam Minangkabau sebagai bagian budaya Nasional. Memupuk dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah. Juga mendorong siswa agar menghayati dan menerapkan nilai-nilaiyang terkandung, menggali, melestarikan serta turut mengembangkan budaya alam Minangkabau dalam rangka memupuk budaya nasional. Dengan harapan siswa mampu memberikan sumbangan bagi kelestarian kebudayaan Minangkabau sebagai bagian kebudayaan nasional.
Berdasarkan studi pendahuluan di SD Kota Padang diperoleh informasi bahwa; 1) kurangnya pemahaman guru-guru terhadap misi pembelajaran BAM, 2) tidak jelasnya visi yang disandang dalam pelajaran BAM 3) pelaksanaan BAM tidak diriringi dengan petunjuk ayang jelas dan dilaksanakan dengan kesan apa adanya tanpa ada usaha persiapan matang oleh guru, 4) guru-guru memiliki keterbatasan dalam menyampai materi tertentu, yang disebabkan oleh perbedaan budaya daerah yang dianut oleh masing-masing guru, 5) tidak tersedianya guru yang benar-benar menguasai persoalan budaya dan filosofi sebagai masyarakat Minangkabau, 6) sarana dan sumber belajar sulit diadakan oleh sekolah.
Secara keseluruhan gambaran pelaksanaan pembelajaran BAM yang dilakukan dapat berupa materi pelajaran banyak terdapat kiasan-kiasan serta pepatah-petitih yang sulit dimengerti dan dicerna oleh para guru. Kurangnya inisiatif para guru menggali budaya untuk mencari pengalaman di lingkungan masyarakat untuk mendapatkan masukan-masukan mengenai adat istiadat Minangkabau. Pembicaraan tentang adat istiadat dibicarakan terbatas pada acara dan kalangan orang-orang tertentu sepertri ninik mamak. Masih ada beberapa sekolah yang tidak mengajarkan sama sekali pelajaran Budaya Alam Minangkabau dengan alasan-alasan yang tidak dapat diterima dengan akal. Dalih bahwa mereka bukan putra Minangkabau dan mengenai adat istiadat Minangkabau mereka kurang memahami. Tentu saja hal ini akan menghambat kemajuan dan perkembangan siswa serta tuntutan kurikulum untuk mengembangkan nilai budaya daerah itu sendiri tidak pernah terpenuhi sehingga lama kelamaan nilai-nilai Budaya Minangkabau akan hilang dari peradaban dan nilai-nilai kehidupan sebagai masyarakat Minang. Kondisi tersebut mengakibatkan pengembangan nilai-nilai budaya tidak dapat terpelihara dan berjalan sesuai dengan filosofi masyarakat “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.
Berdasarkan fenomena yang diangkat dari permasalahan di atas, tampak bahwa melaksanakan pelajaran BAM masih diperlukan suatu usaha pengembangan kearah penemuan model pembelajaran yang sesuai dan dapat diterima oleh guru-guru sebagai pelaksana inti. Maka penelitian ini berupaya untuk menemukan model dalam rangka menata pelaksanaan mata pelajaran BAM di tingkat SD dan SLTP sehingga lebih bermakna bagi usaha pemeliharaan nilai-nilai budaya daerah.
1. RUMUSAN MASALAH
Berkenaan dengan masalah tersebut, maka ditetapkan rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan yakni; “Bagaimanakah Model pengajaran BAM di tingkat SD dan SLTP yang dapat mensosialisasikan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ? Dengan demikian diperlukan suatu usaha untuk mencari Model alternatif yang benar-benar dapat dilaksanakan oleh guru sebagai tenaga pengajar di sekolah.
2. FOKUS PENELITIAN
Merujuk pada rumusan masalah yang telah diajukan, dengan demikian fokus dalam penelitian ini ditetapkan sebagai berikut:
1. menata misi yang ingin dicapai dalam pembelajaran BAM,
2. mempersatukan visi guru-guru dalam pelajaran BAM,
3. membuat petunjuk dan persiapan yang perlu dilakukan guru dalam pengajaran BAM,
4. tersedia guru-guru BAM yang berkualitas setelah action,
5. solusi terhdap media pembelajaran BAM.
D. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian tindakan (action research) ini bertujuan untuk menemukan model pembelajaran BAM yang berbasis adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Pada prosesnya akan melibatkan guru-guru SD dengan melakukan kolaborasi dan diskusi meliputi visi dan misi pelajaran BAM, sehingga menghasilkan model pembelajaran yang benar-benar dapat dilaksanakan dan dapat diukur kebermanfaatannya. Model pembelajaran BAM dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para guru pelaksana pelajaran BAM di sekolah masing-masing, serta dapat dijadikan rujukan dalam pelaksanaannya. Untuk menunjang penelitian tersebut dilakukan pengamatan dan diskusi bersama dalam bentuk tim kerja peneliti serta pemberian tindakan hingga menemukan model yang sesuai.
E. SASARAN PENELITIAN
Sasaran yang ingin dicapai dalam penelitan ini ditetapkan seperti berikut;
1. Tersusun suatu model pelajaran BAM, menata misi dan visi yang ingin dicapai dalam pembelajaran BAM,
2. membuat petunjuk dan persiapan yang perlu dilakukan guru dalam pengajaran BAM,
3. Adanya keterlibatan guru-guru dalam pencetusan ide serta melaksanakan uji keyakan model yang disusun bersama tim peneliti.
4. Hasil temuan diharapkan dapat meberikan arahan dan teknik pengajaran BAM hingga guru tidak merasa kesulitan.
5. Munculnya model pengajaran BAM dapat dijadikan sebagai tameng pemeliharaan budaya dan filosofi orang Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki sumbangan berarti pada efisiensi proses belajar mengajar yang sesuai dengan upaya dan teknik pendekatan yang telah dilakukan terhadap penemuan model pembelajaran BAM.
F. TINJAUAN PUSTAKA
1. Adat dan Kebudayaan Minangkabau
Masyarakat Minangkabau memiliki karakteristik budaya tersendiri yang sudah ada semenjak ratusan tahun lalu. Budaya tersebut pada saat ini telah tumbuh, berkembang, dan terpelihara secara baik. Idrus Hakimi (1994:38) dalam mengemukakan bahwa “Minangkabau merupakan salah satu etnis Indonesia yang menganut sistem kekerabatan matrilinial. Sistem ini dianggap unik, karena hampir tidak ada etnis lain yang menganut sistem ini”. Lebih lanjut Tsuyoshi, Kato (1977) dalam sumber yang sama mengemukakan bahwa “bahkan etnis Minangkabau merupakan suatu masyarakat matrilinial terbesar di dunia”. Di samping itu peran pemimpin pada masyarakat Minangkabau tidak terfokus pada satu pemegang kekuasaan. Mereka memiliki suku, demogratis, paternalistik, dan disentralistik. Kekuasaan terbagi empat, yaitu Ninik mamak yang mengurus masalah adat, Alim Ulama mengurus masalah agama, Cerdik Pandai (intelektual) mengurus masalah dunia, dan Manti atau Dubalang mengurus masalah keamanan.
Secara konseptual, Syafroedin (1995:4) menyatakan bahwa: “ada dua model utama yang dapat digunakan untuk memahami masyarakat dan budaya Minangkabau, yaitu model Adat-Syarak dan Rantau-Alam”. Adat syarak berarti antara adat dan syarak (agama) di Minangkabau saling melengkapi. Aturan adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama ditinggalkan. Sedangkan Rantau-Alam maksudnya masyarakat Minangkabau yang merantau memiliki keterkaitan dengan kampung halaman.
Model pertama, Adat syarak. Model ini memandang struktur internal masyarakat dan kebudayaan Minangkabau sebagai suatu akulturasi (kesesuaian) yang dinamis antara adat yang bersifat lokal dengan agama Islam yang bersifat universal.
Model kedua, Rantau-Alam. Struktur eksternal kebudayaan Minangkabau sebagai interaksi dinamis antara alam Minangkabau yang relatif bersifat statis dengan rantau yang bersifat dinamis. Pada model ini tersirat visi dinamika masyarakat Minangkabau yang tergantung pada hubungannya dengan daerah rantau. Masyarakat Minangkabau memiliki pola pikir terhadap fenomena kehidupan masa depan, dan selalu berusaha menumbuhkan nilai-nilai sosial budaya yang tersusun dalam konsep adatnya.
Orang Minangkabau menyebut masyarakatnya dengan “Alam Minangkabau” dan menyebut kebudayaannya dengan “Adat Minang-kabau”. Penyebutan demikian menunjukkan bahwa orang Minangkabau melihat diri mereka sebagai bagian dari alam. Secara otomatis hukum-hukum alam tersebut dianut masyarakat Minangkabau. Kenyata-an ini dinukilkan dalam fatwa adat seperti yang dikutip Idrus Hakimi (1994:2) sebagai berikut:
“Panakiak pisau sirawuik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiak ke niru,
nan satitiak jadikan lawik,
nan sakapa jadikan gunuang,
alam takambang jadi guru. (Penakik pisau siraut,
ambil galah batang lintabung,
selodang ambil untuk niru,
yang setetes jadikan laut,

yang sekepal jadikan gunung,
alam terkembang jadikan guru).

Fatwa ini mengandung arti agar manusia berusaha menyelidiki, membaca, serta mempelajari ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam serta menyerapnya sebagai ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur masyarakat. Dengan demikian apa yang terjadi pada alam dimanifestasikan untuk keperluan belajar, dan inilah makna dari “alam takambang jadi guru” yang menjadi sumber falsafah hidupnya.
Agama dan adat bagi masyarakat Minangkabau merupakan ketentuan vital dalam mengatur kehidupan masyarakat. Ketentuan adat menjadi anutan masyarakat dalam bertingkah laku. Adat itu sendiri berdasarkan pada ajaran Islam yang menjadi kepercayaan dan keyakin-an masyarakat Minangkabau. Perpaduan adat dan agama ini tersusun dalam konsep “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Lahirnya konsep ini, berdasarkan hasil persetujuan setelah terjadinya perang Padri, yaitu perperangan antara kaum adat dengan kaum agama. Persetujuan ini dirumuskan dalam suatu pemufakatan di Bukitt Marapalam. Isi persetujuan tersebut diputuskan dalam bentuk tiga semboyan yang berlaku di Minangkabau menurut Bahar Hatta (1990) “(1) adat nan kawi, syarak nan lazim, (2) adat basisamping, syarak batilanjang, (3) syarak mangato, adat mamakai”.
Marbawi (1950:165) mengemukakan bahwa pada “adat nan kawi, syarak nan lazim, kata kawi di sini berasal dari bahasa Arab, yakni “qawiyyun” yang berarti kuat atau kokoh. Sedangkan kata lazim berarti pasti,perlu. Kata adat juga berasal dari bahasa Arab, “adatun”, berarti adat atau kelaziman. Dengan demikian dapat dipahami bahwa adat bersendikan secara kokoh kepada hukum-hukum agama.
“Syarak bertelanjang, adat bersesamping” berarti bahwa apa yang dikatakan oleh syarak adalah polos, terang, jernih dan tegas, tetapi setelah dia dijadikan adat diaturlah prosedur pelaksanaannya dengan sebaik-baiknya.
“Syarak mangato, adat mamakai”, di sini terlihat antara syarak dan adat sejalan, sehingga apa yang dikatakan oleh syarak, lalu dipakaikan oleh adat. Tidak mungkin agama akan bertentangan dengan adat, atau adat bertentangan dengan agama. Karena yang diperbuat adalah apa yang telah diisyaratkan atau diberi petunjuk syarak.
Bila dilihat antara adat dan syarak, pada hakikatnya sama-sama mengambil ketentuan dari ayat-ayat Allah. Bedanya, syarak berdasarkan kepada al-Qur’an, sementara adat berdasarkan kepada “Alam” menurut alur yang seharusnya. Sumber yang demikian dapat dijumpai dalam firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsyiah ayat 3-4 yang diterjemahkan oleh Husein Umar (1990:449) yang artinya sebagai berikut:
Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasan Allah) untuk kamu yang menyakini. (QS. 45:3-4)

Pada kehidupan masyarakat Minangkabau, adat dan agama merupakan ketentuan yang tidak terpisah sebagaimana fatwa adat yang dikutip Alirman Kampai (1992) sebagai berikut:
“Simuncak mati tarambau,
Kaladang mambaok ladiang.
Lukolah pau kaduonyo,
Adat jo syarak di Minangkabau,
Umpamo aua dengan tabiang,
Sanda manyanda kaduonyo”.
“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagaruyung pusek Tanah Datar,
Tigo Luak rang mangatikan,
Adat jo syarak kok bacarai,
Bakeh bagantuang nan alah sakah,
Tampek bapijak nan alah tahan”. (Simuncak mati tersungkur,
ke ladang membawa parang,
lukalah paha keduanya,
adat dengan syarak di Minangkabau
seumpama aur dengan tebing,
sandar menyandar keduanya).

(Pariangan menjadi tempuk tangkai,
Pagaruyung pusat Tanah Datar,
Tiga luhak atau kampung orang mengatakan,
Adat dengan syarak jika berpisah,
Bekas bergantung yang telah runtuh,
Tempat berpijak yang telah kuat).

Inti sari Fatwa tersebut di atas mengandung arti, bahwa secara teoritis perpaduan antara adat dengan agama (syarak) telah terjalin dengan istilah “syarak yang mengata, adat memakai. Adat bersendi syarak bersendi kitabullah”. Konsep ini mencerminkan kondisi sosial budaya masyarakat Minangkabau yang relegius.
Sejalan dengan itu Mursal Esten (1993:21) mengatakan bahwa: “Pada dasarnya adat Minangkabau terdiri dari dua sifatnya sendi adat, yakni (1) adat nan berbuhul mati, (2) adat nan berbuhul sentak”. Adat berbuhul mati yakni adat yang tidak mengalami perubahan, dan tidak mungkin diungkai (dicabut) dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, aturan-aturan disusun berdasarkan “alam takambang jadi guru”. Termasuk kategori ini adalah adat yang diadatkan dan adat yang sabana adat, yakni “tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan” (tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan). Menurut Idrus Hakimi (1994:113) dinyakan seperti di bawah ini.
Adat nan berbuhul mati adalah buhul yang sangat erat sehingga tidak boleh dibuka dan diubah walau dengan musyawarah, karena keduanya merupakan hukum dasar dari adat Minangkabau.
Adat berbuhul sentak adalah aturan yang boleh dirubahm ditambah da dikurangi, mudah membukanya asal tahu caranya, yaitu melalui musyawarah.

Termasuk kategori ini yaitu adat nan teradat dan adat istiadat. Rumusan dari penjawaban tersebut dilakukan melalui musyawarah dan mufakat. Hasil musyawarah inilah yang akan muncul norma-norma atau aturan-aturan.
Adat yang dipakai dalam budaya masyarakat Minangkabau menurut Amir Syarifuddin (1984:143) terdapat empat tingkatan, yakni: (1) adat yang sebenarnya, (2) adat yang diadatkan, (3) adat yang ter-adat dan (4) adat istiadat”. Adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan dalam sebutan sehari-hari disebut “Adat”, sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat dalam sebutan sehari-hari disebut “istiadat”.
“Ádat nan sabana adat” (adat yang asli, tidak berubah, yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas). Kalau ingin merubahnya, ia “dicabuik indak mati, diasak indak layua (dicabut tidak mati, dipindah tidak layu). Adatnya bersandarkan al-Qur’an dan hadits Nabi, sehingga dikatakan “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”, disamping berpedoman kepada “alam takambang jadi guru”. Dalam contoh klasik dikatakan, adat api membakar, adat air membasahi, adat tajam melukai. Semuanya ini merupakan aturan alam yang telah diatur oleh Allah secara tertib dan berjalan menurut sifat serta tingkah lakunya. Dari perjalanan adat alam itulah manusia diharapkan dapat mengambil hikmah sebagai bahan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengatur tentang hidup dan kehidupan di tengah masyarakat. Kenyataan ini terungkap dalam firman Allah SWT surat Ali Imran ayat 190 terjemahan Moh. Said (1987:68) yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” .
Seiring dengan itu hadits nabi Muhammad SAW, menjelaskan yang artinya:
Kalau kalian akan ma’rifat kepada Allah hendaklah kalian memperhatikan seluruh alam ciptaan Allah (makhluk-Nya) dan tidak usah memikirkan Dzat Allah Maha Pencipta, sebab walau bagaimanapun juga kalian tidak akan dapat menjangkaunya. (Mustafaqunalaihi).

Adat nan diadatkan, yakni hukum-hukum atau tatanan adat yang dirancang, dijalankan, serta diteruskan oleh nenek moyang yang mula-mula menempati Minangkabau untuk menjadi peraturan bagi kehidupan masyarakat dalam segala bidang. Ide ini dicetus oleh Datuk Ketamang-gungan yang menganut paham otokrasi dalam lingkungan adat suku Koto Piliang, dan Datuk Perpatih nan Sabatang yang memiliki paham demokrasi dalam lingkungan adat suku Bodi Caniago. Kedua tokoh ini dalam merumuskan adat berdasarkan pengalamannya dalam kehidup-an dan belajar dari alam terkembang.
Adat nan teradat, adat kebiasaan yang berlaku pada suatu tempat tertentu, pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kodisi setempat. Dipakai dalam seluhak, senagari, selaras sebagaimana terungkap dalam fatwa adat: Dima sumua digali disitu rantiang dipatah, dima bumi dipijak disinan langit dijunjung, dima nagari dihuni disitu adat dipakai.
Adat istiadat, merupakan tatanan adat yang berlaku di sluruh alam Minangkabau yang bersifat umum, seperti harta pusaka adalah milik kaum, sedangkan harta pencaharian milik keluarga.

2. Pola Hubungan Kekerabatan dalam Masyarakat Minangkabau
Pengertian “keluarga” di Minangkabau dapat disamakan dengan “kerabat” yang terdiri dari nenek perempuan dan saudara-saudaranya, anak laki-laki dan perempuan dari nenek perempuan terdiri dari ibu dan saudara laki-laki dan perempuan dan seluruh anak ibu dan anak saudara-saudaranya yang perempuan. M.I. Soelaeman (1994:6) mengartikan bahwa:
Keluarga dalam arti luas yakni, meliputi semua pihak yang ada hubungan daerah seperti ayah-ibu-anak, termasuk paman, bibi, kakek, nenek, cucu, mertua, ipar, keponakan, dan sebagainya, kadang-kadang dinamai dengan istilah kerabat. Sedangkan dalam arti sempit keluarga di Minangkabau adalah kesatuan terkecil dalam unit kekerabatan menurut garis ibu.

Bagan 2.1
Konsep Kekerabatan Keluarga dalam Suku Minangkabau
^ 0
__________
___________________ ______________
^ 0 0 ^ 0
0 . ^
0
_____ ____________ ___________
^ 0 0 ^ ^ 0 ^
___________
________________
0 ^

Keterangan:
^ = tanda untuk laki-laki.
0 = tanda untuk perempuan.
Artinya: bagi laki-laki Minang yang sudah menikah, maka anaknya tidak lagi termasuk dalam ranji kaumnya tetapi sudah masuk ke dalam ranji garis keturunan ibunya (istri dari laki-laki tersebut). Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum laki-laki di Minangkabau adalah sebagai penurun garis keturunan orang lain.

Pola kekerabatan matrilinial masyarakat Minangkabau, Amir Syarifuddin (1984:184) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1) keturunan dihitung dari garis ibu, (2) hubungan anak dari dua orang perempuan yang bersaudara sangat rapat sehingga tidak mungkin mengadakan perkawinan, (3) pihak suami tidak masuk hitungan dalam menentukan keturunan, (4) anak-anak dibesarkan di rumah ibunya.

Sistem kekerabatan matrilinial, ibu memiliki peranan penting dalam kehidupan keluarga, sehingga adat Minangkabau akan tetap eksis, selama kaum ibu Minangkabau ada, sebab kaum ibulah yang akan meneruskan dan melanjutkan keturunan masyarakat Minangkabau. Ibu mempunyai fungsi peran mengembangkan kehidupan budi pekerti luhur dalam masyarakat. Ini sesuai dengan pendapa Idrus Hakimi (1994:40) bahwa “akan hilangkah adat Minangkabau apabila budi pekerti luhur tidak mendapat tempat lagi dalam diri pribadi masyarakatnya, terutama kaum ibu”.
Penjelasan di atas mengandung makna bahwa, dalam keluarga Minangkabau kaum wanita mendapat tempat tersendiri. Ini disebut “bundo kanduang”, yakni panggilan kepada wanita yang bijaksana, sebagai-mana digambarkan dalam fatwa adat yang dikutip Idrus Hakimi (1994:41) sebagai berikut:
“Bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang,
umbun puro pegangan kunci,
hiyasan dalam kampuang,
sumarak dalam nagari,
nan gadang basa batuah,
kok hiduik tampek banasa,
akalau mati tampek baniat,
kaunduang-unduang ka Madinah,
ka payuang panji ka sarugo”
(Kaum ibu, tiang rumah yang besar,

umbun pura pegangan kunci,
hiasan di dalam kampung,
semarak dalam negari,
yang besar banyak bertuah,
kalau hidup banyak bernazar,
kalau mati tempat berniat,
untuk undung-undung ke Madinah,
untuk ganti payung ke sorga).

Sistem matrilinial membawa dampak terhadap pola hubungan keluarga, suku, dan pewarisan gelar, serta harta pusaka kepada suku. Bentuk keluarga di Minangkabau yang dikenal dengan “rumah tanggo” merupakan keluarga luas yaitu dalam satu keluarga tidak hanya terdiri dari ibu, ayah dan anak, tetapi juga anggota keluarga lainnya yang mempunyai pertalian darah dengan ibu, seperti kakek, nenek, dan saudara dari ibu. Mereka tinggal dalam suatu rumah yang disebut “rumah gadang”. Rumah tersebut berada di lingkungan keluarga istri, dengan banyak ruangan (rata-rata sembilan ruangan/kamar), sehingga disebut dengan “rumah gadang nan sambilang ruang. Disamping itu rumah gadang juga merupakan awal dari proses pendidikan, seperti yang dikemukakan Idrus Hakimi (1994:169) “rumah gadang merupakan tempat pertama dalam pembinaan pribadi seorang anak untuk dapat menghayati budi pekerti yang luhur. Dan juga rumah gadang melambangkan kebersamaan dalam keluarga besar.
Segi pewarisan gelar dan pembagian hartapusaka, juga mengikuti lajur suku ibu. Prinsip kesukuan ini melahirkan pola hubungan dalam suku dan di luar suku. Pola hubungan dalam suku terdiri dari “hubungan pertalian darah dan hubungan pertalian adat”, seperti hubungan mamak dengan kemenakan dan hubungan suku “sako” (yang keterkaitannya dengan warisan gelar). Sedangkan hubungan ke luar suku menurut Nurdin Ya’kup (1989:24) “hubungan sumando-manyumando, hubungan andan-pasumandan, hubungan bako-mambako, ipa-bisan, hubungan bapak-baranak”.
Pewarisan gelar adat yang dikenal dengan sako, diwariskan dari mamak (saudara laki-laki ibu) kepada kemenakan laki-laki. Gelar adat yang diwariskan yaitu gelar “Datuk”. Berkenaan dengan warisan yang disebut “pusako”, A.A. Navis (1986:163) mengemukakan ada dua jenis pusako yaitu:
Pusako tinggi (harta yang diperoleh dari tambilang basi artinya harta tersebut diusahakan oleh nenek moyang dahulu untuk keturunannya dengan tembilang besi) merupakan harta kekayaan yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang dan diterima oleh kemenakan perempuan, melalui pembagian yang diawasi dan diatur oleh mamak. Harta ini tidak boleh dijual, kecuali memenuhi empat kriteria; pertama rumah gadang katirisan, kedua gadih gadang hendak balaki, ketiga mayat tabujua di tangah rumah, keempat pembangkik batang tarandam.
Sedangkan pusako rendah (harta diperoleh dari tambilang ameh artinya harta yang diperoleh atas hasil usaha pembelian orang tua diberikan kepada anak) selama masa perkawinan mereka dan kemudian diwariskan kepada anak sesuai dengan syari’at.

Pola hubungan kekerabatan mamak-kemenakan merupakan hubungan antara seorang anak laki-laki dengan saudara laki-laki ibunya, atau sebaliknya hubungan seorang laki-laki dengan anak laki-laki saudara perempuannya. Fungsi mamak digambarkan dalam fatwa adat yang dikutip Idrus Hakimi (1994: 28) yakni:
”Kaluak paku kacang balimbuang,
tampuruang lenggang-lenggokkan,
bao manurun ka Suruaso,
tanamlah siriah di ureknyo,
anak dipangku kamanakan dibimbiang,
urang kampunang dipatenggangkan,
tenggang nagari jan binaso,
tenggang sarato jo adatnya” (Kelok paku kacang belimbing,
tempurung lenggang lenggokkan,
bawa menurun ke Saruaso,
tanamlah sirih di akarnya,
anak dipangku kemenakan dibimbing,
orang kampung dipertenggangkan,
tenggang negari jangan binasa,
tenggang serta dengan adanya).

Fatwa di atas menunjukkan bahwa mamak mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap kemenakannya.
3. Muatan Lokal
Suatu kenyataan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki adat istiadat, tatacara dan tatakrama pergaulan, seni, bahasa lisan dan tulisan, keterampilan mahir, dan nilai kehidupan yang beranekaragam. Keanekaragaman itu bukan saja pada kebudayaannya, melainkan juga kondisi alamnya dan lingkungan sosialnya. Keanekaragaman lingkungan budaya, lingkungan sosial dan kondisi alam itu justru memperkaya kebudayaan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu perlu diupayakan pelestariannya melalui upaya pendidikan. Untuk itu diperlukan suatu materi pelajaran “muatan lokal” yang akan memelihara jalinan antara sekolah dan lingkungannya.

Di samping itu menurut Depdikbud (1989:iii) sebagai berikut:
Muatan lokal selain dimaksudkan untuk mempertahankan pelestarian (berkenaan dengan kebudayaan daerah), juga perlu ditujukan pada usaha pembaharuan atau modernisasi (berkenaan dengan keterampilan atau kejuruan setempat) sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi modern. Selanjutnya “muatan lokal” juga dimaksudkan agar pengembangan sumber daya dan tenaga manusia yang terdapat di daerah setempat dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan daerah, sekaligus mencegah terjadinya depopulasi daerah itu dari tenaga produktif.

Berdasarkan kutipan di atas, dapat dipahami bahwa muatan lokall diberikan pada murid SD pada umumnya bertujuan agar lebih memperkenalkan dan mengakrabkan anak didik pada budaya, adat istiadat dan sebagai potensi yang ada di lingkungannya serta menghindakan anak didik dari keterasingan terhadap lingkungannya.
Muatan lokal di daerah Sumatera Barat sendiri, ditetapkan sebagai salah satu mata pelajaran yang berdiri sendiri dipilih dan ditetapkan atas beberapa dasar, Depdikbud (1996/1997) di antaranya sebagai berikut:
1. Hasil identifikasi kebutuhan daerah di Propinsi Sumatera Barat terhadap lingkungan alam sosial budaya yang dilakukan Tim Perekayasa Kurikulum kanwil Depdikbud Propinsi Sumatera Barat.
Hasil seminar yang dilaksanakan tanggal 15,16 dan 17 Februari 1993 di aula kanwil Depdikbud Propinsi Sumatera Barat yang dihadiri semua unsur terkait (Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, Bappeda, Tim Perekayasa Kurikulum, pejabat kanwil Depdikbud Propinsi Sumatera Barat dan Pusbangkururandik, Balitbang, Dirjen Dikdasmen Depdikbud Jakarta).
2. Muatan lokal yang pernah diberilakukan di Sumatera Barat, sebagai realisasi Keputusan Mendikbud RI No.0412/U/87. Instruksi Gubernur/ Kepala Daerah Tk.I Propinsi Sumatera Barat No.14 tahun 1991, Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI No.128 tahun 1982 dan No.44A tahun 1982, tentang Peningkatan Baca tulis huruf Al-Quran dan Pengamalannya dalam Kehidupan Sehari-hari maka diangkatlah muatan lokal ke dalam hal-hal sebagai berikut:
a. Budaya Alam Minangkabau
Bahan kajian ini diangkat agar tata nilai budaya alam Minangkabau yang berlaku di Ranah Minang dapat dilestarikan sebagai aset budaya nasional.
b. Baca Tulis Al-Quran
Propinsi yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, wajar pengajaran membaca Al-Quran sudah dimulai sejak usia sedini mungkin. Mata pelajaran ini diharapkan dapat mendukung kegiatan pemeluk agama Islam Sumatera Barat supaya lebih banyak mengirim anak-anaknya belajar membaca al-Quran ke langgar-langgar pada usia sekolah.
c. Baca Tulis Arab Melayu
Kecenderungan semakin menurunnya peminat terhadap baca tulis Arab Melayu menimbulkan kekhawatiran akan semakin rendanya kemampuan orang Minangkabau untuk membaca dokumen-dokumen historis seperti Tambo Adat Alam Minangkabau dan hikayat-hikayat lama yang ditulis dalam tulisan Arab Melayu. Mata pelajaran ini akan dapat menambah kemampuan generasi baru ke arah mempelajari dokumen historis tersebut.
d. Keterampilan tradisional Minangkabau
Mata pelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk melestarikan budaya daerah dan kerajinan tradisional Minangkabau yang membantu perekonomian mereka di samping menjadi sumbangan besar terhadap dunia usaha pariwisata di daerah ini.
e. Keterampilan Pertanian
Sumatera Barat sebagai daerah agraris perlu mempersiapkan putera-puteranya seawal mungkin untuk menumbuhkan da mengembangkan minat dan kemampuan dalam keterampilan bekerja di bidang pertanian supaya mampu membantu dirinya sendiri, orang tua dan masyarakat sekitarnya.
f. Bahasa Inggris
Mata pelajaran bahasa Inggris ini diharapkan sebagai alat pengembangan diri untuk mampu berkomunikasi secara sederhana baik lisan maupun tulisan dan bekal pengetahuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

4. Pengertian, Tujuan dan fungsi Pelajaran Budaya Alam Minangkabau
a. Pengertian
Budaya menurut Depdikbud (1996/1997:16) merupakan hasil cipta karya manusia yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan Alam Minangkabau merupakan sebutan orang Minang-kabau terhadap tanah leluhurnya. Dengan demikian Budaya Alam Minangkabau berarti hasil daya cipta karsa orang Minangkabau di tanah leluhurnya yang berguna dalam kehidupannya. Hasil daya cipta itu dapat berupa benda dan bukan benda. Yang berupa benda seperti peralatan, perlengkapan dan kerajinan tangan lainnya. Sedangkan yang bukan benda seperti nilai-nilai, aturan-aturan, norma-norma serta adat istiadat.
Materi mata pelajaran ini memuat hal-hal pokok tentang Budaya Alam minangkabau bahkan kajian ini dipilih dan ditetapkan berdasarkan pertimbangan kebutuhan siswa, masyarakat serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Tujuan
Secara umum kurikulum muatan lokal disusun berdasarkan kebutuhan daerah, yang bahan kajian dan pelajarannya disesuaikan dengan lingkungan alam, sosial, budaya dan ekonomi serta kebutuhan pembangunan daerah, yang diorganisasikan dalam mata pelajaran yang berdiri sendiri. Proses pelestarian lingkungan alam, budaya dan keterampilan melalui pendidikan di sekolah diawali dengan pengenalan, pemahaman, penguasaan dan penerapan hingga membentukan etos kerja.
Salah satu dari muatan lokal di Sumatera Barat Budaya Alam Minangkabau, yang menurut Depdikbud (1996/1997) bertujuan “memperkenalkan peserta didik kepada lingkungannya sendiri dan melestarikan budaya daerah Minangkabau”.
c. Fungsi Pelajaran BAM
Sesuai dengan tujuan di atas, lebih lanjut Depdikbud (1996/1997:16) mengemukakan fungsi mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau sebagai berikut:
- Memberikan pengetahuan dasar terhadap siswa tentang Budaya Alam Minangkabau sebagai budaya nasional.
- Memupuk dan menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap Alam Minangkabau dalam rangka memupuk rasa cinta terhadap budaya nasional.
- Mendorong siswa menghayati nilai-nilai Budaya Alam minangkabau yang relevan dalam kehidupannya.
- Memberikan dorongan pada siswa menggali, melestarikan dan mengembangkan Budaya Alam Minangkabau dalam rangka memupuk budaya nasional.

Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa mata pelajaran Alam Minangkabau berfungsi untuk memberikan pengetahuan dasar, memupuk dan menumbuhkan rasa cinta, mendorongan siswa untuk menghayati, menggali dan melestarikan serta mengembangkan Budaya Alam Minangkabau.

5. Sejarah Budaya Alam Minangkabau
Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki adat istiadat, tata cara, tata krama pergaulan, bahasa dan kesenian tradisional, serta keragaman pekerjaan dan kehidupan yang sudah diwariskan secara turun temurun. Semua ini merupakan ciir khas yang memperindah dan memperkaya nilai kehidupan yang perlu dilestarikan, dikembangkan serta dipertahankan melalui pendidikan.
Pengenalan keadaan lingkungan alam, sosial dan budaya Minangkabau kepada peserta didik di sekolah memberikan kemungkinan besar kepada mereka supaya akrab dengan lingkungannya serta terhindar dari rasa keterasingan terhadap lingkungannya sendiri. Dengan demikian maka perlunya diberikan pelajaran Budaya Alam Minangkabau sebagai salah satu mata pelajaran pada penerapan kurikulum muatan lokal.
6. Materi Budaya Alam Minangkabau
Pada kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus mempunyai pedoman. Memang setiap mata pelajaran mempunyai kurkulum tersendiri untuk menentukan batas pembelajaran yang selayaknya didapat anak. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan materi pelajaran Budaya Alam Minangkabau. Budaya Alam Minangkabau ini merupakan salah satu dari materi muatan lokal. Untuk materi muatan lokal ini diberi kebebasan pada daerah untuk disesuaikan dengan keadaan, kebutuhan lingkungan dan ciri khas satuan pelajaran yang bersangkutan.
Materi Budaya Alam Minangkabau untuk Sekolah Dasar atau Sekolah Dasar Luar Biasa yang perlu diketahui oleh guru antara lain bahwa dalam penyajiannya terbagi atas beberapa bagian, yaitu:
a. Bagian pengantar, dimaksudkan sebagai pembuka pelajaran. Biasanya pada bagian ini disajikan pepatah petitih atau pantun.
b. Bagian sub judul berisi uraian materi pelajaran. Pada bagian inilah inti dari materi pelajaran.
Pada materi pelajaran Budaya Alam Minangkabau sajiannya antara lain:
7. Asal Nama Minangkabau
Nama Minangkabau menurut Tambo berasal dari peristiwa adu kerbau. Awalnya daerah ini memerintah dua orang Datuak yaitu Datuak Parpatiah nan Sabatng dan Dauak Katumangguangan yang sangat pintar, arif dan bijaksana. Suatu ketika datang sebuah kapal yang dipimpin seorang nakkoda dan anak buahnya yang membawa seekor kerbau besar. Nakhoda beserta anak buahnya disambut baik oleh oleh rakyat. Ternyata maksud kedatangannya adalah untuk mengadu kerbau kerbau pimpinan daerah ini, dengan taruhan kalau ia kalah akan dibayarnya dengan kapal dan isinya, Akan tetapi, jika menang ia akan menguasai daerah ini dan menjadi raja.
Saat hari pertandingan dimulai, kedua Datuak tersebut menggunakan anak kerbau yang sedang erat menyusu yang belum menyusu selama dua hari dan dikepalanya dipasang besi runcing yang dinamakan “minang”. Kerbau kecil itu menyangka kerbau besar tersebut induknya sehingga ia menyerunduk perut kerbar besar. Besi runcing yang terpasang menembus perut kerbau nakhoda.
Sejak itulah daerah yang dipimpin kedua Datuak ini dinamakan “Minangkabau”, artinya kerbau bertanduk besi.
Di samping itu asal nama Minangkabau menurut para ahli dalam Zulkarnain (1995) antara lain sebagai berikut:
1) Sultan Muhammad Zain mengatakan, Minangkabau berasal dari kata Minanga Kanvar artinya Muara Kampar.
2) Poerbocoroko mengatakan, Minangkabau berasal dari kata Minanga Tamwam artinya pertemuan dua sungai
3) Vander Tuuk mengatakan, Minangkabau berasal dari kata Pinang Khabu artinya tanah asal. Dahulu kala, datanglah satu rombongan manusia ke daerah ini. Ini menempati daerah baru itu. Mereka memberinya nama daerah semula. Akhirnya kata Pinang Khabu diucapkan menjadi Minangkabau. Begitulah menurut Vander Tuuk.
8. Asal Orang Minangkabau
Orang Minangkabau berasal dari keturunan Raja Masedonea, yaitu Iskandar Zulkarnain. Ia beranak tiga orang. Anak yang bungsu yaitu Sultan Maharaja Diraja beserta rombongan sampai di puncak Gunung Merapi. Sultan inilah yang menjadi nenek moyang orang Minangkabau.
Nenek moyang rombongan itu membuka daerah secara bertahap. Mula-mula ia membuat daerah bernama Labuhan si Tembaga atau Legundi Nan Baselo. Kemudian Guguak Ampang, Pariangan dan Padang Panjang. Pariangan isebut negeri tertua, karena disanalah pertama dibuat peraturan dan tempat pertemuan. Dari Pariangan Padang Panjang penduduk menyebar ke Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah Koto. Dari luhak itu mereka menyebar ke daerah rantau.
Uraian di atas merupakan sekelumit dari materi ajar yang ada dalam pelajaran Budaya Alam Minangkabau agar siswa dapat:
a. Mengetahui daerah asalnya beserta kebudayaan yang ada.
b. Diharapkan agar anak didik tidak lupa akan budaya, adat istiadat daerah asalnya walaupun dimana ia berada.
c. Diharapkan anak didik mampu menjadi generasi penerus yang tahu adat, sopan santun, walaupun di tengah-tengah canggihnya ilmu pengetahuan di era globalisasi yang semakin penuh kompetitif.
d. Diharapkan anak didik lebih mencintai daerahnya sebagai salah satu kekayaan nasional. (Bukan berarti membenci adat istiadat daerah lain)
9. Pelaksanaan Pengajaran Budaya Alam Minangkabau Teknik pelaksanaan pengajaran Budaya Alam Minang- kabau hampir sama dengan pengajaran bidang studi lainnya, dimana guru dituntut mempunyai kemampuan menguasai teknik atau keterampilan tertentu. Agar apa yang diajarkan mampu diterima oleh anak. Menurut Moh. Uzer Usman (1989:47) komponen yang harus diperhatikan guru dalam pengajaran sebagai berikut:
1. Identitas 2. Cara menentukan tujuan instruksional 3. Cara menetapkan kegiatan belajar mengajar:
a. materi, metode, sarana dan sumber
b. langkah-langkah kegiatan belajar mengajar
c. mengelompokkan siswa, rangkuman hasil belajar dan pembatasan waktu
4. Penilaian

a. Metode Pengajaran BAM
Metode pengajaran merupakan suatu cara atau teknik yang digunakan guru dalam penyampaian materi pelajaran pada anak didiknya, agar pelajaran tersebut dapat diterima oleh anak secara maksimal. Metode yang dapat digunakan dalam pengajaran budaya Alam Minangkabau ini diantaranya: 1) metode ceramah, 2) metode tanya jawab, 3) metode penugasan dan 4) metode karyawisata. Menurut Nana Sudjana (1987:77) sebagai berikut:
a) Metode ceramah; Metode ceramah merupakan suatu cara penyampaian materi pelajaran dengan penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini merupakan metode yang banyak digunakan guru. Pertimbangan dalam penggunaan metode ini yaitu: 1) tujuan yang hendak dicapai, 2) bahan yang akan diajarkan termasuk buku sumber yang tersedia, 3) alat, fasilitas, waktu yang tersedia, 4) jumlah peserta didik dan 5) kemampuan guru dalam penguasaan materi dan kemampuan berbicara.
b) Metode tanya jawab; Metode tanya jawab merupakan suatu penyajian pengajaran dengan membahas soal-soal, baik yang datang dari guru maupun dari anak didik sendiri. Pada metode ini memungkinkan terjadinya komunikasi langsung antara guru dan anak. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab: 1) tujuan yang akan dicapai, 2) jenis pertanyaan dan 3) teknik mengajukan pertanyaan. Oleh sebab itu, hal pokok yang harus diperhatikan guru dalam mengajukan pertanyaan yaitu: 1) pertanyaan harus jelas dan terbatas sehingga tidak menimbulkan keraguan pada anak, 2) pertanyaan hendaknya diajukan pada kelas sebelum ditunjuk pada salah seorang anak, 3) beri kesempatan anak memikirkannya, 4) hargai pendapat anak, 5) pemberian pertanyaan harus merata dan 6) buat ringkasan hasil pertanyaan.
c) Metode pemberian tugas; Metode pemberian tugas dilakukan guru untuk mengukur bagaimana anak mampu melaksanakan sendiri apa yang telah dipelajarinya.
d) Metode karyawisata; Metode karyawisata merupakan salah satu penyajian pelajaran sambil berkaryawisata. Pengajaran ini dilakukan untuk melihat sendiri tentang alat atau peninggalan dari budaya alam Minangkabau pada zaman dahulunya.

10. Strategi Pengajaran Budaya Alam Minangkabau
Strategi pembelajaran harus serasi dengan tujuan mata pelajaran yang hendak dicapai. Sesuai dengan aspek tujuan yang hendak dicapai, yaitu: mengenal, memahami, menghayati, meng-apresiasikan dan menerapkan nilai-nilai budaya alam Minangkabau dalam kehidupannya.
Untuk itu menurut Datoek Toeah (1999:30) strategi pembelajaran Budaya Minangkabau sebagai berikut:
a) Untuk mengenalkan dilakukan dengan membaca, mendengar, melihat dan meraba
b) Untuk memahami dilakukan dengan jalan tanya jawab, memperhatikan dan meneliti
c) Untuk menghayati dilakukan dengan menjelaskan, mendramatisasikan
d) Untuk mengapresiasikan dilakukan dengan membuat catatan sendiri, memberikan komentar dan memberikan penilaian
e) Menerapkan nilai-nilai, dilakukan dengan memperoleh contoh perbuatan dan tingkah laku.
f) Penciptaan lingkungan alam dan lingkungan masyarakat sekitar yang kondusif bagi tujuan yang hendak dicapai
g) Karyawisata mengunjungi tempat bersejarah, pertunjuk-kan kesenian dan permainan tradisional.

11. Media Pengajaran Budaya Alam Minangkabau
Menurut Soeparno (1988:1-2) media merupakan suatu alat yang dipakai untuk saluran (chanel) dalam menampilkan pesan atau informasi dari suatu sumber kepada penerimanya, hal ini diperjelas lagi oleh Arif. S. Sadiman (1986) : “Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pikiran, perasaan dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi”.
Media atau alat bantu yang diperlukan bagi pencapaian tujuan dalam berbagai aspek seperti dikemukakan di atas perlu tersedia di sekolah, baik dalam bentuk milik sekolah sendiri, sebagai sumbangan dari masyarakat maupun sebagai pinjaman sekolah dari berbagai sumber. Datoek Toeah (1999:31), media tersebut sebagai berikut:
1. Miniatur rumah adat
2. Alat-alat kesenian prasasti/sejarah
3. Gambar-gambar prasasti/sejarah
4. Pakaian adat dalam berbagai upacara
5. Benda-benda sako seperti keris, saluak
6. Buku-buku tambo, buku sastra dan buku bacaan lainnya
7. Dan lain-lain yang berhubungan dengan tujuan pengajaran.

I. METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research), yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat refleksi dengan melakukan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di sekolah secara lebih profesional (Suyanto, 1997:4). Lebih lanjut Suyanto (1997:17) mengemukakan bahwa ada empat bentuk penelitian tindakan kelas yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kelaboratif, (3) penelitian tindakan Simultan terintegrasi, (4) penelitian tindakan administrasi sosial, eksperimen.
Penelitian dilakukan bersifat kolaboratif bersama dengan guru-guru yang mengajar BAM di tingkat SD dimana peneliti berada diluar tindakan. Dalam proses penelitian kemudian akan disusun suatu model hipotetik awal yang akan diuji cobakan pada beberapa sekolah. Selama penelitian keberadaan peneliti juga akan terlibat sebagai partisipan dan bekerjasama dengan tim kerja penelitian seperti teman sejawat dalam hal perencanaan penelitian, mengadakan tindakan melakukan refleksi. Model Pengajaran BAM yang diharapkan akan muncul setelah adanya suatu usaha sosialisasi kepada guru-guru SD kota Padang melalui seminar. Kemudian berdasarkan hasil seminar akan disusun model akhir pengajaran BAM yang berbasis filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi; pada penelitian ini merupakan pengamatan langsung terhadap proses belajar dalam usaha peningkatan kemampuan massage tunanetra yang dilaksanakan oleh instruktur.
b. Diskusi; dilakukan dengan Instruktur dan teman sejawat secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian.
c. Dokumentasi; dalam memperoleh informasi, meliputi tiga macam sumber yaitu tulisan, tempat atau orang”.
3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah bersifat kualitatif yaitu digambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan (Suharsimi Arikunto, 1993).

Langkah yang penulis tempuh dalam penelitian ini adalah:
1. Mencatat hasil pengamatan melalui observasi, wawancara dan studi, dokumentasi sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.
2. Mengklasifikasikan data yang telah diperoleh sesuai masalah yang diteliti.
3. Menganalisis data yang telah terkumpul dan mengidentifikasi data sesuai dengan permasalahan yang ditemui.
4. Memberi interpretasi terhadap data.
5. Memaknai/menafsirkan data dengan menggambarkan hasil data dengan kata-kata atau kalimat secara kualitatif.
6. Menyusun Model hipotetik Pembelajaran BAM
7. Ujicoba model BAM dalam bentuk siklus penelitian aksi dalam tindakan.
8. Diskusi dan berkolaborasi dengan guru-guru pelaksana uji coba model BAM.
9. Menyusun kembali model setelah diskusi dan kolaborasi.
10. Uji kelayakan model melalui seminar yang melibatkan guru-guru SD kota Padang yang mengajar BAM.
11. Menyusun Model akhir (temuan) BAM
12. Memberikan penilaian dengan tujuan mencari kesesuaian dari data.
13. Memberikan rekomendasi tentang model yang ditemukan.
14. Menyusun dan menggandakan laporan akhir penelitian.
4. Alur Kerja Penelitian

Penelitian ini terdiri dari siklus. Setiap siklus akan meliputi empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi (evaluasi). Pelaksanaan masing-masing siklus akan dilakukan hingga ditemukan suatu kesepakatan antar tim peneliti dalam rangka menemukan model pengajaran BAM yang diharapkan.
5. Kerangka Konseptual

G. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Ruang lingkup rencana kegiatan yang akan dilakukan dijabarkan seperti berikut di bawah ini.
1. Penjajakan lokasi dan menentukan tempat penelitian.
2. Menyusun instrumen penelitian.
3. Pengamatan dalam rangka mengumpulkan data
4. Menyusun Model hipotetik yang siap untuk diuji cobakan. Pelaksanaan dilakukan dalam bentuk siklus (action research) dengan menggunakan teknik kolaborasi.
5. Melaksanakan aksi tindakan penelitian model BAM dalam bentuk siklus bersama tim kerja penelitian
6. Menyusun kembali model Pengajaran BAM berdasarkan uji coba meliputi visi, misi, materi, teknik pelaksanaan, serta evaluasinya.
7. Melaksanakan seminar tentang Model BAM bersama guru-guru SD Kota Padang.
8. Melakukan revisi Model BAM sesuai hasil seminar dengan saran dan masukan guru-guru.
9. Menyusun Model pengajaran BAM yang utuh disertai dengan rekomendasi penggunaannya jika diperlukan.

H. LUARAN PENELITIAN
Luaran dari penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat secara langsung bagi pemakai Model pengajaran BAM seperti berikut;
1. Model yang ditemukan dapat membantu guru-guru dalam melaksanakan pengajaran BAM.
2. Sekolah dan guru-guru yang dijadikan lokasi penelitian dapat dijadikan sebagai sekolah percontohan dalam pengajaran BAM.
3. Model pengajaran BAM yang ditemukan perlu diikuti dengan petunjuk pelaksanaan dan diintruksikan dalam bentuk kebijakan oleh pejabat yang berwenang sehingga bisa direalisasikan.
4. Munculnya Model pengajaran BAM secara tidak langsung diharapkan dapat melestarikan nilai-nilai budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional.
I. JADWAL PELAKSANAAN
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam jangka waktu 10 bulan terhitung sejak ditandatangani kontrak kerja dengan rincian berikut di bawah ini:
No. Jenis Kegiatan Waktu
1. Pemantapan rancangan penelitian meliputi; penentuan lokasi penelitian dan pemilihan sekolah tempat penelitian 0,5 bulan
2. Penyusunan instrumen bersama tim peneliti 1,0 bulan
3. Pelaksanaan penelitian meliputi riset aksi dalam bentuk siklus, menyusun model, seminar tentang model, dan penyempurnaan model 6,0 bulan
4. Pengolahan dan analisis penelitian 0,5 bulan
5. Penulisan Draf laporan 1,0 bulan
6. Revisi dan penulisan draf akhir 0,5 bulan
7. Penggandaan laporan penelitian 0,5 bulan

J. RINCIAN ALOKASI BIAYA

No Pengeluaran Uraian Biaya Rp.
1. Honorarium peneliti 3 Org x 10 bln x @ 300.000,- 9.000.000,-
2. Bahan dan alat penelitian
a. kertas duplicator 4 rim
b. HVS 80 Gram 4 rim
c. Disket 5 buah
d. Tinta refill 5 buah
4 rim x @ 25.000,-
4 rim x @ 30.000,-
5 bh x @ 10.000,-
5 bhx @ 30.000,-
100.000,-
120.000,-
50.000,-
150.000,-
3. Pelaksanaan penelitian
a. Penjajakan lokasi
b. Surat izin penelitian
c. Judge / revisi instrumen
d. Penggandaan instrumen
e. Transpor pengumpulan data
f. Buat model hipotetik
g. Ujicoba model hipotetik
h. Snek diskusi/kolaborasi
i. Susun model BAM
j. Honor seminar Model BAM
k. biaya piagam seminar
l. Sewa gedung (seminar)
3 org x 8 SD x @ 20.000,-
3 surat x @ 100.000,-
1 instr x @ 100.000,-
10 lbr x 30 eks x @ 1.000,-
3 orgx120 harix@ 20.000,-
30 orgx2 harix@ 30.000,-
30 orgx@100.000,-
50 orgx@ 7.500,-
3 orgx 7 harix@ 40.000,-
50 orgx@ 25.000,-
50 lbrx@ 2.500,-
1 kali x @500.000,-
480.000,-
300.000,-
100.000,-
300.000,-
7.200.000,-
1.800.000,-
3.000.000,-
375.000,-
840.000,-
1.250.000,-
125.000,-
200.000,-
4. 4 Pengolahan dan analisis 4 org x 5 @100.000,- 1.000.000,-
5. 5 Penggandaan laporan
a. Penyususnan draf awal
b. Refisi dan penulisan final
c. Penggandaan laporan
d. Seminar hasil penelitian
3 orgx @ 40.000,-
3 orgx @ 50.000,-
10 eksx @20.000,-
50 orgx @ 7.500,-
120.000,-
150.000,-
200.000,-
375.000,-
Jumlah: (Dua puluh tujuh juta empat ratus empat puluh ribu rupiah. 27.440.000,-

K. PERSONALIA PENELITIAN
1. Ketua peneliti :
a. Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
b. Pangkat/Gol/NIP : Penata muda/IIIb/132092865
c. Jabatan : Asisten ahli
d. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Biasa
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
f. Bidang Keahlian : Pendidikan Luar Biasa
g. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
h. Pendidikan terakhir : S2 / Pasca Sarjana IKIP Bandung
2. Anggota Peneliti I :
a. Nama lengkap : Dr.Jamaris jamna, M.Pd
b. Pangkat/Gol/NIP : Penata Tk I/IIId/131689819
c. Jabatan : : Lektor muda
d. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Sekolah
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
f. Bidang Keahlian : Pendidikan Luar Sekolah
g. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
h. Pendidikan terakhir : S3 / Pasca Sarjana IKIP Bandung
3. Anggota Peneliti II :
i. Nama lengkap : Dra. Irdamurni, M.Pd
j. Pangkat/Gol/NIP : Penata Tk I/IIId/131689819
k. Jabatan : : Lektor muda
l. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Biasa
m. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
n. Bidang Keahlian : Teknologi Pendidikan
o. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
p. Pendidikan terakhir : S3 / Pasca Sarjana IKIP Bandung

DAFTAR PUSTAKA
Amir Syarifuddin, (1984). Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta; Gunung Agung.

Alirman Kampai, (1992). Singgalang tanggal 2 Januari 1992.

Arif S. Sadiman, (1986). Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali.

Bahar Hatta, (1990). Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Singgalang 7 Januari 1990.

Datoek Toeah, (1999). Budaya Alam Minangkabau. Padang: Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat

Depdikbud, (1989). Penerapan Muatan Lokal Kurikulum Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.

———–, (1996/1997). Kurikulum Muatan Lokasl Propinsi Sumatera Barat. Padang: Depdikbud.

Depdikbud, (1994), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Elliott John, (1993), Action Research for Educational Change, Open University Press, Milton Keynes, Philadelphia.

Herman, (2001) Kendala Yang Dihadpi Guru Dalam Pengajaran Budaya Alam Minangkabau, Skripsi, PLB FIP UNP Padang.

Idrus Hakimi Dt. Rajo Penghulu, (1994) Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak, Di Minangkabau, Bandung, Remadja Rosdakarya.

———–, (1994), Pokok-pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau, Bandung, Remadja Rosdakarya.

———–, (1994), Pegangan Penghulu , Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat Minangkabau. Bandung, Remadja Rosdakarya.

Kato, Tsuyoshi. (1989), Matriliny And Migration, Evolving Minangkabau Indonesia, Structure In Indonesia

LKAAM, (1999). Budaya Alam Minangkabau. Padang: LKAAM

Lexy J.Moleong, (1988). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Depdikbud.

Marbawi, (1950). Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Moh. Uzer Usman, (1989), Menjadi Guru Profesional. Bandung: Grafika.

Moh. Said. (1987). Terjemahan AL-Qur’an Al-Karim. Bandung: PT. Al Ma ‘arif

Mursal Esten, (1993), Minangkabau Tradisi dan Perubahan, Padang, Angkasa Raya.

Navis, A.A, (1986), Alam Takambang Jadi Guru, Jakarta, Temprint

Nurdin yakub, (1987), Minakabau Tanah Pusaka, Bukittinggi Pustaka Indonesia.

———–, (1995), Hukum Kekerabatan Minagkabau, Bukittinggi Pustaka Indonesia.

Nasution S, (1992). Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nana Sudjana, (1987). Media Pengajaran. Jakarta: Depdikbud

Nana Sudjana, E.ibrahim. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru.

Umar Husein. (1990). Al-Quran dan Terjemahaannya. Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Rochman Natawidjaja, (1997). Penelitian tindakan (Action Research). Bandung: IKIP Bandung.

S.Nasution, (1988). Metode Research. Bandung: Jembers.

——. (1992). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Saafaruddin Bahar, (1995). Pemanfaatan Kebudayaan Minangkabau untuk Menunjang Pembangunan Pendidikan di Sumatera Barat. Padang: Makalah.

Siswoyo Harjodipura, (1997). Action Research, Jakarta: IKIP

Suminar Setiati Achmadi, (2003), Teknik Menyusun Usul Penelitian, makalah disampaikan pada pelatihan penyusunan proposal tingkat nasional bagi staf UNP Padang, DP3M Ditjen Dikti Depdiknas.1
Soeparno, (1988). Media Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Suharsimi Arikunto, (1993). Manajemen Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Zulkarnain, (1995). Budaya Alam Minangkabau. Padang.

Zainal Asril, (1997). Pembinaan Akhlak dalam Kehidupan Budaya Masyarakat Minangkabau (Studi kasus tentang Peranan Orang Tua dan Mamak dalam Membina Akhlak Anak Kemenakan pada Lingkungan Keluarga di Kabupaten Padang Pariaman dan Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat. Tesis, Bandung. PPS IKIP Bandung.

CURRICULUM VITAE PENELITI
I. KETERANGAN PERORANGAN
1. Nama : Drs. Jon Efendi, M.Pd
2. NIP : 132 092 865
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Tempat tanggal lahir : Padang 22 November 1965.
5. Agama : Islam
6. Status Dosen : Dosen tetap (biasa) Negeri
7. Pangkat/golongan : Penata muda/ IIIb
8. Jabatan : Asisten ahli
9. Pendidikan tertinggi : S2 IKIP Bandung 1999
10. Alamat : Vilaku Indah IV Blok.F No.3 Siteba Padang.
Telpon. (0751) 54544

II. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SD : SD Negeri 39 Padang, tahun 1979
2. SLTP : SMP Negeri 9 Padang, tahun 1982
3. SLTA : SMA Negeri 5 Padang, tahun 1985
4. Akademi : SGPLB Negeri Padang, tahun 1988
5. Perguruan tinggi : S1, Pendidikan Luar Biasa FIP IKIP
Bandung, tahun 1992
6. Pasca Sarjana : S2, Bimbingan Konseling Konsentrasi
Pendidikan Luar Biasa, PPS IKIP Bandung, tahun 1999.

III. DAFTAR KARYA ILMIAH :
1. Efektivitas metode bermain dan ceramah dalam mengajarkan nilai nominal uang bagi anak tunagrahita ringan di SPLB Cipaganti Bandung (skripsi) 1992.
2. Pengembangan program bimbingan konseling perkembangan melalui kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan kemandirian anak tunagrahita ringan (Tesis) Bandung 1999.
3. Mainstreaming dalam system Pendidikan Anak Tunagrahita (Majalah Basandi) Tahun 1999
4. Remaja Tunagrahita & Orang Tua Otoriter. Tahun 1999.
5. Bimbingan Orang Tua dalam Intervensi Anak Tunarungu Suatu Optimalisasi Kemandirian. Tahun 2000
6. Peranan Kecerdasan Emosional dalam Menunjang Keberhasilan belajar Anak Tunagrahita. Tahun 2000

DAFTAR ISI

ABSTRAK……………………………………….………………………… I
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………… ii
FORMULIR ISIAN USUL PENELITIAN …………………………….… iii
A. LATAR BELAKANG ………………………………………………..…. 1
B. RUMUSAN MASALAH ……………………………………………..… 4
C. FOKUS PENELITIAN ……………………………………………….. 4
D. TUJUAN PENELITIAN…………………………………………………. 5
E. SASARAN PENELITIAN ………………………………………………. 5
F. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………… 6
G. METODE PENELITIAN ………………………………………………. 31
H. RUANG LINGKUP KEGIATAN ……………………………………….. 36
I. LUARAN PENELITIAN ……………………………………………….. 37
J. PELAKSANAAN PENELITIAN ……………………………………… 37
K. RINCIANALOKASI BIAYA …………………………………………… 38
L. PERSONALIA PENELITIAN …………………………………………. 39
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 40
CURRICULUM VITAE ……………………………………………………. 43

Pijat (Massage) Bagi Tunanetra (Penelitian Dosen Muda)

Januari 23, 2013

BAB I
A. LATAR BELAKANG
Beberapa kemampuan dan pilihan karier yang dilakoni oleh penyandang tunanetra mulai mendapat perhatian dalam kapasitas diperlukan oleh pengguna jasanya. Maka dari itu pemerintah berusaha mempersiapkan dengan membekali penyandang tunanetra keahlian di bidang jasa dengan tujuan agar mereka dapat hidup mandiri dan berusaha secara ekonomi. Usaha pemerintah tersebut dapat dilihat dengan berdirinya panti sosial yang dikelola oleh departemen sosial.
Departemen sosial sebagai pengelola yang mempersiapkan keterampilan bagi penyandang tunanetra telah berupaya memberikan layanan bimbingan yang mengarah pada beberapa keterampilan produktif bagi bekal hidup dimasyarakat. Keterampilan tersebut mengacu pada keterampilan jasa yang diberikan dalam bentuk program pelatihan oleh panti. Adapun bentuk latihan keterampilan tersebut meliputi; 1) keterampilan massage, 2) keterampilan akupuntur, 3) keterampilan shiatsu, 4) keterampilan merajut, dan 5) kursus Ilmu Arab Braille. Dengan harapan setelah selesai dari pelatihan keterampilan , maka para penyandang tunanetra dapat berusaha sendiri untuk kebutuhan hidup sehari-hari secara ekonomi. Wujud nyata dari keberhasilan Departemen Sosial (Depsos) yakni berkembangnya panti pijat yang dikelola oleh penyandang tunanetra di berbagai kota dewasa ini.
Berdasarkan studi awal yang dilakukan ke Panti Binanetra Kalumbuk Padang tanggal 25 September 2003 diperoleh informasi bahwa beberapa keterampilan yang diberikan oleh Panti Binanetra ternyata yang paling banyak menarik minat yakni Bidang keterampilan Massage. Lebih lanjut dilakukan diskusi dengan para instruktur yang memberikan latihan keterampilan. Disampaikan bahwa dari sekian banyak lulusan pelatihan keterampilan bagi penyandang tunanetra ternyata keterampilan massage yang paling banyak diminati. Selain itu profesi sebagai masseur bagi penyandang tunanetra dewasa ini sudah dapat diterima oleh masyarakat pengguna jasa. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya panti pijat sebagai penjual jasa yang diprakarsai oleh juru pijat (masseur) tunanetra.
Wujud dari diterimanya jual jasa tersebut terbukti dengan mulai banyaknya berdiri panti-panti pijat sebagai tempat praktek massage yang dikelola oleh para penyandang tunanetra tersebut seperti kota Padang, Bukitinggi, Payakumbuh. Lebih lanjut dikatakan bahwa kehadiran panti pijat tersebut ternyata dapat menghidupi para penyandang tunanetra secara ekonomi dan dapat menunjang penghasilan keluarga. Disampaikan bahwa untuk kunjungan sekali pijat untuk ukuran Kota Padang mereka mematok tarif minimal Rp. 15.000. Melalui perhitungan angka jika mereka menerima tiga orang pasien setiap hari artinya Rp.45.000. sudah mereka kantongi sebagai bekal hidupnya. Usaha pembuktian lebih lanjut dilakukan dengan survey ke Panti pijat (inisial R) diperoleh informasi bahwa disamping bekerja sebagai pegawai negeri mereka memperoleh penghasilan sebagai juru pijat lebih kurang Rp. 50.000. setiap harinya. Sementara panti pijat lain menyatakan untuk ukuran ekonomi dari penghasilan sebagai pemijat mereka menyatakan berpenghasilan mencukupi untuk kebutuhan keluarga.
Keberadaan panti pembinaan bagi para penyandang tunanetra di wilayah Sumatera Barat memiliki program latihan berupa keterampilan. Salah satu panti tersebut misalnya “Panti Binanetra Kalumbuk Padang” yang dikelola oleh Depsos. Maka satu-satunya Panti yang membina tunanetra inilah yang menyelenggarakan latihan keterampilan massage/pijat bagi anak binanya. Walaupun masih ada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang juga berwenang dalam meyelenggarakan keahlian di bidang keterampilan massage. Dalam hal ini seperti yang diprogramkan oleh SLB Tunaetra Payakumbuh. Dinyatakan bahwa kemampuannya masih terbatas pada menyelenggarakan pendidikan. SLB sulit melaksanakan program keterampilan pijat yang mampu membekali penyandang tunanetra untuk hidup secara ekonomi dengan menjual jasa pijat. Lebih lanjut dinyatakan salah seorang guru SLB Tunanetra payakumbuh mereka belum mampu memberikan keterampilan pijat secara kontinu pada siswanya. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar SLB-SLB yang belum memiliki tenaga guru atau instruktur yang mampu melatih dan mengajarkan materi pijat seperti yang diberikan di Panti Binanetra Kalumbuk Padang. Berdasarkan wawancara dengan beberapa instruktur massage di kalumbuk dinyatakan bahwa keterampilan massage tersebut diperoleh melalui pelatihan selama dua bulan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Depsos. Lebih lanjut diperoleh informasi dari beberapa orang kepala SLB di Kota Padang menyatakan bahwa untuk pelatihan keterampilan massage yang dilaksanakan oleh Depsos tersebut tidak pernah mengikutsertakan guru-guru SLB. Sedangkan di SLB juga melayani para penyandang tunanetra, maka guru-guru SLB merasa perlu untuk menguasai ketarampilan massage sehingga siap untuk membekali siswanya dengan keterampilan tersebut.
Berkenaan dengan permasalahan yang sudah dipaparkan di atas peneliti sebagai akademisi dibidang Pendidikan Luar Biasa (PLB) ingin mengungkap secara deskriptif tentang penyelenggaraan keterampilan terhadap penyandang tunanetra untuk menguasai keterampilan massage meliputi, metode, alat bantu, serta melakukan evaluasinya. Untuk itu diperlukan suatu usaha penelitian yang mendalam tentang pencarian data dilapangan sehingga wujud penyelenggaraan latihan tersebut dapat dijadikan sumber informasi bagi para pengguna dan peneyelenggara pendidikan luar biasa.
B. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini diajukan dalam bentuk pertanyaan. “Bagaimanakah gambaran pelaksanaan keterampilan massage bagi penyandang tunantera di Panti Binanetra Kalumbuk Padang ? Pertanyaan tersebut perlu dibuktikan dengan melakukan penelitian yang mendalam serta menyeluruh meliputi bidang kajian metode, alat bantu, dan penyelenggaraan evaluasinya.
C. FOKUS PENELITIAN
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan maka fokus penelitian ini menetapkan pada sport massage. Pijat jenis ini ditujukan untuk orang yang aktif berolah raga dan atlit olah raga. Agar penelitian terarah maka perlu ditetapkan fokus penelitian sebagai berikut;
1. Pelaksanaan keterampilan massage/pijat pada penyandang tunanetra di Panti Binanetra Kalumbuk Padang meliputi metode, alat bantu,dan evaluasinya.
2. Kendala-kendala yang dihadapi para instruktur dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padangberkaitan dengan metode, alat bantu, dan evaluasinya.
3. Usaha-usaha yang dilakukan oleh para instruktur dalam mengatasi kendala dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
E. PERTANYAAN PENELITIAN
Pertanyaan penelitian yang diajukan dan akan dicari jawabanya dalam penelitian sebagai berikut;
1. Bagaimanakah gambaran pelaksanaan keterampilan massage/pijat pada penyandang tunanetra di Panti Binanetra Kalumbuk Padang ?
2. Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi para instruktur dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang ?
3. Usaha-usaha seperti apakah yang dilakukan oleh para instruktur dalam mengatasi kendala dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang
F. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pertanyaan penelitian yang diajukan seperti berikut.
1. Mengungkap gambaran penyelenggaraan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
2. Menemukan kendala-kendala yang dialami para instruktur berkaitan dengan penyelenggaraan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
3. Mengungkapkan pemecahan masalah dari kendala-kendala yang dialami para instruktur berkaitan dengan penyelenggaraan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang
G. KONTRIBUSI PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki sumbangan pemikiran pada semua pihak terkait seperti berikut.
1. Bagi guru-guru SLB dan instruktur massage, penelitian ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam penyelenggaraan keterapilan massage/pijat.
2. Sebagai bahan masukan bagi Depsos dalam upaya meningkatkan pelayanan bagi penyandang tunanetra untuk mempersiapkan mereka keterampilan produktif dan bernilai ekonomi.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi para praktisi yang ingin melaksanakan keterampilan massage bagi penyandang tunanetra.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. KONSEP MASSAGE
A. Pengertian Massage.
Pengertian massage dirujuk berdasarkan buku panduan instruktur yang diterbitkan oleh Depsos (1998:4). Perkataan massage berasal dari bahasa Arab “Maas” yang berarti menyentuh atau meraba. Sedangkan kata massage berasal dari bahasa Francis. Di Indonesia disebut pijat atau mengurut. Massage dapat diartikan pijat yang telah disempurnakan dengan ilmu-ilmu tentang tubuh manusia, dan dapat pula di artikan dengan gerakan-gerakan tangan yang mekanis terhadap tubuh manusia mempergunakan bermacam-macam bentuk pegangan atau manipulasi. Pengertian untuk pijat yang dipakai di Indonesia dapat dikutip dari kamus Bahasa Indonesia Balai Pustaka (1995;767) Pijat diartikan sebagai kegiatan mengurut bagian tubuh untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah lancar.
Berkenaan dengan pengertian tersebut terkandung suatu usaha untuk merileksasikan tubuh agar kembali segar setelah melakukan aktifitas berolah raga. Maka untuk mendapatkan kondisi tersebut orang melakukan pijat untuk mengembalikan kebugaran tubuh.

B. Macam-macam Massage
Sejalan dengan sejarah massage dan dimana kebedaraannya dipakai dan dibutuhkan orang dimuka bumi ini, maka ia memiliki karakter dan kunikan tersendiri. Pada kajian ini macam massage/pijat keterampilan tersebut dapat dikuasai oleh tunanetra sebagai keterampilan bernilai ekonomis.
Massage terdiri dari tiga macam sesuai dengan pendapat yang dikutip dari Depsos (1998;4) mengemukakan sebagai berikut:
1. Sport Massage; pijat yang dipakai dalam bidang sport atau olah raga. Ditujukan utuk membentuk dan memelihara kondisi badan para olah ragawan agar konstan baik.
2. Segment Massage; pijat yang dilakukan untuk mengobati beberapa macam penyakit tanpa memasukkan obat ke dalam tubuh. Ditujukan untuk meringankan atau menymbuhkan beberapa bacam penyakit yang boleh di pijat.
3. Cosmetic Massage; Pijat yang dipakai dalam bidang pemeliharaan kecantikan. Ditujukan untuk membersihkan dan menghaluskan kulit, juga untuk menjaga agar kulit tidak lekas mengerut (awet muda).
Memperhatikan macam-macam pijat yang terdiri dari tiga jenis tersebut maka dalam kesempatan penelitian ini peneliti akan berusaha mengungkap tentang pelaksanaan Sport Massage. Pembatasan kajian dilakukan agar masalah tetap pada alur atau objek teliti. Dengan demikian penelitian ini hanya sebatas ruang lingkup massage yang ditujukan untuk orang yang aktif berolah raga dengan tujuan tubuhnya menjadi segar kembali setelah lelah berolah raga atau beraktivitas yang banyak membutuhkan tenaga dan kekuatan otot.

C. Sport Massage
Agar pembaca dapat memahami apa menjadi kajian penelitian maka perlu dibicarakan sekilas tentang sport massage. Untuk itu dikutip pendapat dari buku pedoman instruktur keterampilan massage yang diterbitkan oleh Depsos (1998:11-35). “Pengertian tentang sport massage yakni pemijatan yang dilakukan oleh kalangan olah raga atau orang-orang yang beraktivitas tinggi, betujuan untuk membentuk dan memelihara kondisi badan agar tetap konstan/baik”.
Pelaksanaan massage diperlukan bentuk-bentuk manipulasi seperti: a) Eflurage = menggosok, b) Petrissage = memijat, c) Shaking = menggoncangkan, d) Friction = menggerus, e) Tapotement = memukul, dan f) Chiropraktik = melonggarkan persendian.
Lebih lenjut masih dalam sumber yang sama Depsos (1998) dijelaskan, daerah yang harus dimassage/pijat meliputi; a) posisi telungkup; daerah paha bagian belakang dan samping, tungkai bawah bagian belakang, tapak kaki dan tumit, daerah pantat, daerah pinggang dan punggung; b) posisi telentang; paha bagian depan dan samping, tungkai bawah bagian depan,punggung kaki dan telapak kaki, lengan atas dan lengan bawah, tangan dan jari-jari, daera dada dan perut; c) posisi duduk; daerah tengkuk dan bahu, daerah kepala.

D. Cara Mempraktekkan Massage
Cara mempraktekkan massage tidaklah mudah sebab dengan gerakan asal-asalan saja akan dapat berkibat orang yang dipijat merasa kesakitan atau mtidak enak. Berkaitan dengan itu pelaksanaan massage perlu memperhatikan beberapa hal penting untuk diingat sebelum melakukan praktek sport massage yang dikutip berdasarkan buku pedoman instruktur massage Depsos (1998) sebagai berikut:
a. Gosokan dan urutan selalu menuju ke arah jantung dan boleh menyamping.
b. Gerakan manipulasi harus dilakukan dengan supel dan kontinu.
c. Manipulsi dilakukan kurang lebih 5 kali pada tiap bagian tubuh.
d. Dosis kekuatan tekanan saat memijat untuk masing-masing individu disesuaikan dengan kondisi atau permintaan pasien.
e. Badan pasien harus dalam keadaan rilek, lemas dan bersih.
f. Pakaian pasien seminim mungkin untuk memudahkan gerakan-gerakan manipulasi.
g. Pakaian juru pijat tidaklah terlalu sempit dan tidak memakai asesories.
h. Setelah melakukan praktek tangan juru pijat hendaklah dicuci, perguanakan handuk kecil untuk mengelap
i. Gunakan bahan pelicin menurut selera pasien.
j. Massage selalu dimulai dan diakhiri dengan eflurage (gosokan) sebanyak 5 kali.
k. Juru pijat melaksanakan senam sekurangnya dua kali seminggu untuk menjaga kebugaran.
E. Penyakit yang Boleh Dimassage/Pijat
Beberapa penyakit yang bisal dimassage berdasarkan pedoman massage Depsos (1998) menyatakan bahwa perlu diperhatikan beberapa indikasi dari penyakit yang boleh dimassage seperti berikut: a) masuk angin, b) keseleo/terkilir, c) kram/kejang, d) asma bronchiale, e) sukar buang air besar, f) rematik, g) tekanan darah tinggi/rendah, h) lemah syahwat/impoten, I) datang bulan tidak teratur, j) sakit kepala, k) penyakit pinggang, l) nyeri persendian, m) mabuk kendaraan, n) kelayuan/kekuan otot, o) diabetes militus/kencing gula, p) insomnia atau susah tidur yang tidak teratur.
F. Tujuan Massage/Pijat
Tujuan massage pada umumnya dapat ditetapkan sesuai dengan definisi dan manfaat yang diperoleh setelah orang melakukan pijat. Berkenaan dengan itu maka tujuan massage yang dikutip dari Depsos (1998;4) ditetapkan sebagai berikut:
1. Melancarkan peredaran darah terutama peredaran darah di pembuluh vena (pembuluh balik) dan peredahan darah getah bening (air limphe)
2. Menghancurkan pengumpalan sisa pembakaran di dalam sel otot yang telah mengeras.
3. Menyempurnakan pertukaran gas dan zat dalam jaringan atau memperbaiki proses metebolisme.
4. Menyempurnakan pembagian zat makanan keseluruh tubuh.
5. Menyempurnakan proses pencernaan makanan.
6. Menyempurnakan proses pembuangan sisa pembakaran.
7. Merangsang kekuatan otot untuk bekerja yang lebih berat.
8. Mengaktifkan saraf sadar dan kerja saraf tak sadar.
9. Membantu penyerapan pada peradangan bekas luka.
10. Membentuk sel baru atau menyuburkan pertumbuhan tubuh.
11. Membersihkan dan menghaluskan kulit.
12. Memberikan perasaan nyaman, segar dan kehangat pada tubuh.
13. Meringankan gangguan penyakit yang boleh dipijat.

Sehubungan tujuan yang telah ditetapkan oleh Depsos di atas maka dapat dimaknai bahwa tujuan pijat akan bermakna lebih baik bagi orang dalam rangka penyegaran kembali tubuh setelah beraktifitas. Dengan melakukan pijat maka orang akan memperoleh peningkatan daya tahan otot dan kebugaran badan agar tampak lebih sehat dan bugar.
G. Manipulasi Pijat, Efek dan Penggunaannya
Manipulasi berarti cara memegang dengan tangan atau sikap tangan waktu memijat. Kemampuan memanipulasi dalam pijat sangat diperlukan terhadap kemampuan seorang pemijat. Kemampuan dalam manipulasi terbagi dalam beberpa jenis pijatan seperti yang dikutip dari Depsos (1998;5-10) dapat disarikan sebagai berikut:
a. Eflurage (gosokan); dilakukan dengan seluruh permukaan telapak tangan melekat pada bagian tubuh yang digosok. Gosokan harus selalu berakir pada kelenjer limphe (ketiak atau lipat paha). Sedangkan variasi dilakukan seperti berikut; 1) mempergunakan telapak tangan untuk gosokan dangkal, 2) mempergunakan pangkal telapak tangan untuk gosokan dalam, 3) dan mempergunakan punggung kepalan jika memijat pada otot yang besar dan dalam.
b. Pertissage (Pijatan); Mempergunakan empat jari merapat berhadapan dengan ibu jari lurus. Gerakannya memijat dengan memeras otot, sedikit ditarik ke atas dan dilakukan untuk semua kelompok otot. Variasi yang dapat dilakukan; 1) Kneding dengan mempergunakan satu atau dua tangan, 2) Wringing (gosokan lipat pindah) dengan mempergunakan kedua belah tangan yang ditujukan untuk otot pantat, pinggang, dan punggung, 3) Pieking-Up dengan mempergunakan kedua belah tangan yang dipegang pada otot secara bergantian dengan gerakan kemuka dan belakang.
c. Shaking (goncangan); dengan mempergunakan satu tangan atau keduanya yang dilakukan pada daerah: otot paha, tungkai bawah, kaki, tengkuk dan bahu, lengan atas-bawah, tangan dan perut.
d. Tapotement (pukulan); dengan satu tangan atau keduanya secara bergantian. Variasi dalam pukulan ; 1) Beating dengan mempergunakan jari-jari lemas yang berguna untuk merilekskan otot yang akan dipijat, 2) Clapping; pukulan dengan mempergunakan telapak tangan dan jari-jari yang berguna untuk mempengaruhi kulit mengeluarkan kelenjer keringat, 3) Hacking; pukulan dengan jari-jari tangan miring dengan telapak tangan saling berhadapan. Digunakan pada daerah pinggang dan punggung, 4) pounding; yakni pukulan dengan mengkombinasikan pukulan.
e. Friction (gerusan); berbentuk gerakan kecil yangdilakukan dengan mempergunakan ujung tiga jari (telunjuk, tengah,manis). Gerakan dapat dilakukan berputar berlawanan arah jarum jam.
f. Vibration (getaran); gerakan dengan menggunakan ujung jari-jari yang digetarkan pada tubuh dan tidak boleh keras.
g. Stroking (mengurut); dengan menpergunakan ujung tiga jari (telunjuk, tengah,manis) untuk menguatkan tekanan.
h. Skin-Rolling (melipat atau menggeser kulit); Dilakukan seperti mencubit, kemudian kulit digeserkan diikuti gerakan maju dari ibu jari sambil menekan.
i. Cheropratik (melonggarkan persendian); dilakukan setelah massage selesai dilakukan. Seluruh tubuh harus dalam keadaan rileks dan dilakukan saat pasien mengeluarkan nafas. Macam-macamnya; 1) Menekuk kepala ke samping, 2) Menengok kepala ke samping belakang, 3) Mengankat kepala ke atas, 4) Menekan punggung saat telungkup, 5) Pinggang pada posisi miring dan telungkup, 6) Columna verteberalis, 7) Punggung posisi duduk, 8) Tengkuk dan bahu, 9) Pergelangan dan jari-jari.
H. Peralatan Massage/Pijat
Peralatan massage bagi seorang juru pijat (Masseur) perlu dipersiapkan terlebih dahulu agar saat pelaksanaan tidak terganggu atau gerakan pijat menjadi terputus atazu terganggu. Bagi seorang masseur alat utamanya yakni kedua tangan yang bersih dan sehat, bebas dari penyakit menular. Pakaian harus bersih disarankan warna putih, dan sebuah tas sebagai tempat perlengakpan juru pijat. Selanjutnya untuk melaksanakan kegiatan pijat diperlukan alat dan perlengkapan yang dikutip berdasarkan buku pedoman instruktur massage oleh Depsos (1998) sebagai berikut:
a. Ruangan praktek atau panti pijat mempunyai; kamar tunggu, kamar praktek, kamar kecil, papan nama, dan tarif.
b. Dipan tempat tidur (Panjang 2 meter, lebar 6 cm). Tingginya disesuaikan dengan juru pijat.
c. Kasur dan sprei harus bersih dan berwarna putih sehingga kesannya terang, terbuat dari kapuk supaya tidak panas.
d. Bantal guling besar dan kecil serta sarungnya.
e. Bahan pelicin; talk atau bedak bayi, baby oil dan sejenisnya, dan balsem.
f. Peralatan lain; tempat cuci tangan dan air, sabun dan carbol, handuk dan raknya, kastok dan sisir, kain penutup.
I. Metode Latihan Massage/Pijat
Metode yang dilakukan saat mengajarkan latihan massage atau pijat pada umumnya mengacu pada beberapa macam metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Berkaitan dengan itu para instruktur juga perlu merencanakan pemilihan motode yang tepat. Dengan demikian metode pijat yang sesuai dengan karakter siswa atau kalayan yang dilatihnya akan dapat memahami materi pelatihan dan lebih cepat menyerap saat diberikan pelatihan.
Menurut Arief S. Sadiman (1984) ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab untuk menentukan strategi pembelajaran yaitu;
1. Dalam kondisi dan konteks lingkungan tertentu, bagaimana kegiatan pembelajaran di laksanakan ?
2. Dimana letak titik sentral kegiatan pembelajaran ? Pada guru/institusi, atau pada siswa ?
3. Pola pembelajaran tipe apa yang akan digunakan ?
pola kurikulum – guru kelas – siswa ?
pola kurikulum – guru kelas – AVA – siswa ?
pola kurikulum – guru kelas – AVA dan guru media – siswa ?
pola kurikulum – guru media – siswa ?
4. Metode apa saja yang akan digunakan agar siswa dapat mencapai tujuan belajar secara efektif dan efisien ?
5. Bagaimana siswa dikelompokkan ? Kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, atau pembelajaran individual ?
6. Bagaimana pemanfaatan atau pengelolaan sumber-sumber belajar ? Media pembelajaran apa saja yang diperlukan ?
7. Bagaimana program, proses, dan hasil belajar dievaluasi ?
Suasana belajar yang bagaimana yang harus diciptakan, kooperatif, kompetitif, atau individualistik ?
Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam pelatihan massage atau pijat dikutip dari A.J. Romiszowski (1983), Jenis-jenis strategi pembelajaran antara lain seperti berikut:
a. Metode ceramah; sering dianggap sebagai metode yang tidak memerlukan waktu persiapan. Memberikan ceramah dianggap sebagai tugas rutin dengan menggunakan metode suara saja. Sedangkan peralatan yang diperlukan dengan menggunakan overhead transparency.
b. Metode simulasi; memerlukan persiapan dan pasilitas yang dilaksanakan sesuai dengan situasi seperti yang sebenarnya. Tujuannya ialah memberikan pengalaman praktek kepada siswa.
c. Metode demonstrasi; dilakukan dengan cara memperagakan gerakan-gerakan yang dilakukan dalam latihan pijat oleh instruktur kepada siswa pelatihan. Selanjutnya siswa mencobakan sendiri peragaan yang telah dilakukan.
d. Metode drill; dengan memberikan latihan dan pengulangan sesering mungkin sehingga siswa dapat mengetahui kesalahan dan melakukan perbaikan atas kesalahan yang dilakukan dalam latihan pijat dibawah pengawasan instruktur.

II. KONSEP TUNANETRA
A. Pengertian Anak Tunanetra
Dipandang dari segi etimologi istilah tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra. Menurut Depdikbud (1995:1083) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tuna berarti: rusak, luka, kurang, tidak memiliki sedangkan netra berarti: mata. Tunanetra berarti rusak matanya atau luka matanya atau tidak memiliki mata yang berarti buta atau kurang dalam penglihatan. Berikut beberapa batasan yang dikemukakan para ahli tentang tunanetra:
Menurut beberapa ahli dalam pendidikan luar biasa yang dikutip dari Abdurrahman (1994:43) menyatakan bahwa:
Tunanetra dapat diartikan penglihatan yang tidak normal biasanya memiliki ketajaman penglihatan 20/20 (pueschel, 1988;p.63). Ketajaman penglihatan diukur dengan membaca huruf,huruf, angka,angka atau symbol pada chart sejauh 20 kaki (Heward & Orlansky, 1988:p.296)
Seseorang dikatakan buta (blind) bila ketajaman penglihatan sentral 20/200 yaitu yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki yang dapat dilakukan orang berpenglihatan normal pada jarak 200 kaki.
Orang yang tidak memiliki ketajaman penglihatan sama sekali atau visus matanya 0 (nol) disebut buta.

Pendapat lain yang dikemukakan oleh Nolan dalam Anastasia (1996:5) menyatakan bahwa:
Seseorang dikatakan buta (blind) bila ketajaman penglihatan sentral 20/200 atau kurang pada penglihatan terbaiknya setelah dikoreksi dengan kacamata atau ketajaman penglihatan sentralnya lebih dari 20/200 tetapi ada kerusakan pada lantang pandangnya membentuk sudut yang tidak lebih besar dari 20 derajat.
Seiring dengan kutipan di atas dimaknai bahwa jika seseorang tidak mampu mempergunakan matanya untuk kegiatan pendidikan maka orang tersebut dapat dikatakan tunanetra. Pandangan yang dilihat dari sisi pendidikan mengisaratkan bahwa anak tunanetra yaitu anak yang tidak menggunakan penglihatannya dan bergantung pada indera lain seperti pendengaran, perabaan.
B. Klasifikasi Anak Tunanetra
Klasifikasi tentang anak tunanetra yang dikutip menurut Anastasia (1996) yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
1) Pengelompokkan berdasarkan tingkat ketajaman penglihatan.
No Visus Klasifikasi Keterangan
1 6/6m6/16m atau 20/20 feet- 20-50 feet Normal Bahwa orang normal dapat melihat sesuatu benda tertentu pada jarak 6m dan mereka juga masih dapat melihat benda pada jarak 6 m
2. 6/20m-6/60m atau
20-70 feet/ 20/200feet Kurang lihat (low vision) Bahwa orang normal dapat melihat suatu benda tertentu pada jarak 20 m tetapi mereka yang terbatas penglihatannya hanya mampu melihatnya pada jarak 6 m
3. 6/60m lebih atau 20/200 lebih Tunanetra berat Bahwa orang normal dapat melihat suatu benda tertentu pada jarak 60 tetapi mereka yang terbatas pengliha-tannya hanya mampu melihatnya pada jarak 6m
4. 0 Tunanetra total/buta Tidak dapat melihat

2) Berdasarkan saat terjadinya kebutaan; 1) Tunanetra sebelum dan sejak lahir, 2) Tunanetra batita ;Ketunaan yang terjadi usia di bawah 3 tahun, 3) Tunanetra balita ; Terjadinya kebutaan saat usia di bawah 5 tahun, 4) Tunanetra pada usia sekolah, 5) Tunanetra remaja ; Memiliki kesan-kesan visual sangat mendalam, 6) Tunanetra dewasa ; mereka telah memiliki konsep penglihatan yang mapan.
B. Karakteristik Tunanetra Total
Karakteristik anak tunanetra total menurut Anastasia (1996:11) sebagai berikut: a) Memiliki rasa curiga pada orang lain, b) Perasaannya mudah tersinggung c) Ketergantungan yang berlebihan dengan orang lain, d) Bersikap Blindism berupa gerakan-gerakan tanpa disadari, e) Rasa rendah diri yang berlebihan, f) Tangan ke depan dan badan agak membungkuk, g) Suka melamun, h) Fantasi yang kuat untuk mengingat sesuatu objek, I) Kritis, j) Pemberani melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, k) Perhatian terpusat (terkonsentrasi).
III. KERANGKA KONSEPTUAL
Pelaksanaan keterampilan massage ini yakni berusaha menggambarkan secara deskriptif tentang latihan-latihan yang diberikan oleh instruktur massage kepada anak bina atau siswa. Data yang berkaitan dengan pelaksanaan latihan massage tersebut juga menghimpun data berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi oleh para instruktur dalam memberikan latihan, serta data yang berkenaan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh instruktur dalam mengatasi kendala saat proses latihan keterampilan massage yang ada di Panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang. Agar lebih jelasnya lihat bagan pada halaman berikut.

Berdasarkan kerangka konseptual di atas maka diharapkan akan dijadikan patokan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dengan tujuan agar penelitian mudah dikontrol dan memudahkan penelitimelakukan pengolahan data.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Berkenaan dengan jenis penelitian maka dikutip pendapat menurut Suharsimi (1998:245) “pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan”. Dengan demikian dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan kategori data meliputi: a) gambaran pelaksanaan ketarampilan massage, b) kendala yang dihadapi instruktur dalam memberikan keterampilan massage, serta c) Upaya yang dilakukan sinstruktur untuk mengatasi kendalam dalam latihan keterampilan massage.
B. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan data yang akan diperoleh peneliti maka peneliti akan turun ke lokasi penelitian untuk mengamati secara langsung tentang penyelenggaraan latihan keterampilan massage/pijat di Panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang. Upaya yang dilakukan dalam rangka untuk mendapatkan data dilakukan dengan menggunakan; a) teknik Observasi terhadap pelaksanaan keterampilan, b) teknik wawancara dengan dua orang instruktur, dan dokumentasi terhadap data yang berkaitan dengan pelaksanan keterampilan massage. Sedangkan alat yang digunakan disesuaikan dengan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data berupa berupa pedoman observasi, pedoman wawancara dan pedoman catatan dokumentasi.
C. Sumber Data
Menurut Lofland dalam Moleong (2000: 112) sumber data ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Seiring dengan itu Arikunto (1993: 102) menjelaskan jenis data dalam penelitian kualitatif ada dua yaitu:
a. Jenis Data Primer
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diambil langsung saat proses keterapilan massage. Data ini berupa data pengamatan yang diambil berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap 2 orang instruktur keterampilan massage saat memberikan latihan keterampilan. Selanjutnya observasi kepada siswa/anak bina sebanyak 4 orang di panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang.
b. Jenis Data Sekunder (Data Penunjang)
Jenis data sekunder (data penunjang) dalam penelitian ini di dapat dari Kepala Panti Sosial Bina Netra, Instruktur keterampilan lain yang memberikan keterampilan massage, serta dokumentasi yang ada di panti.
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah bersifat kualitatif yaitu digambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan yang disampaikan oleh Arikunto, (1993:205).
Langkah yang penulis tempuh dalam penelitian ini adalah:
1. Mencatat hasil pengamatan melalui observasi, wawancara dan studi
2. Dokumentasi sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.
3. Mengklasifikasikan data yang telah diperoleh sesuai masalah yang diteliti.
4. Menganalisa data yang telah terkumpul dan mengidentifikasikannya
5. Sesuai dengan permasalahan yang ditemui.
6. Memberi interpretasi terhadap data.
7. Peneliti memaknai/menafsirkan data dengan menggambarkan hasilnya dengan kata-kata atau kalimat secara kualitatif.
8. Memberikan penilaian dengan tujuan mencari kesesuaian dari data.
9. Memberikan saran terhadap hasil penelitian.
Berdasarkan langkah-langkah yang diajukan di atas maka peneliti akan berusaha mengikutinya sehingga penelitian dapat dianggap sudah sesuai dengan kegiatan yang semestinya.

BAB IV
DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN

I. LATAR DAN ENTRY
Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato Kel. Kalumbuk Kec. Kuranji Padang. Gedung PSBN berbetuk permanen dengan alur menyerupai huruf O, ada kantor, lokal belajar, ruang terapi/praktek, asrama, pustaka, poliklinik, aula dan musholla.
PSBN “Tuah Sakato” Padang di bangun pada tanggal 22 Juli 1993 melalui bantuan LOAN OECF Jepang Tahun Ajaran 1992/1993 dan 1997/1998. Mulai beroperasi pada tanggal 2 Desember 1994 menampung 20 orang kelayan, 1 April 1995 menampung 30 orang, dan 1 April 1996 bertambah menjadi 50 orang sampai sekarang. PSBN mempunyai wilayah kerja 3 (tiga) Provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, dan Bengkulu. Pada tanggal 1 April 1998 ditunjuk sebagai panti di lingkungan Departemen Sosial dengan tipe B melalui SK Mensos RI No.25/HUK/1998. Kemudian diadakan perubahan nama panti dari PSBN “Kalumbuk” menjadi PSBN “Tuah Sakato” Padang. Dengan berlakunya UU No.22 tahun 1999 tentang otonomi daerah (Otoda), maka PSBN “Tuah Sakato” Padang menjadi UPTD Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Prov. Sumbar menjadi eselon III A.
Proses penerimaan kelayan (tunanetra) pada awalnya menggunakan jalur PSK (Petugas Sosial Kecamatan) dan UPSK (Unit Pelayan Sosial Keliling), merekalah yang menginformasikan dan menyalurkan kelayan untuk dididik dan dilatih di PSBN. Sekarang PSBN kembali berada dibawah naungan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat. Kelayan (umur antara 12-35 tahun) dijaring, maka akan dilakukan asessmen dan ditempatkan dikelas persiapan selama 3 bulan.
Banyaknya kelayan di PSBN ini maksimal 50 orang, terdiri dari;
1. kelas persiapan 2 kelas (kelas persiapan A dan kelas persiapan B),
2. kelas dasar 2 kelas (kelas dasar A dan kelas dasar B),
3. kelas lanjutan 2 kelas (kelas lanjutan A dan kelas lanjutan B).
Dalam memberikan materi pelajaran dibedakan menurut katagori kelas A terdiri dari kalayan yang menurut hasil asesmen masuk pada golongan kecerdasan lebih baik. Untuk kelas B berdasarkan asesmen bagi yang kecerdasannya rendah. Jumlah pegawai yang mengelola PSBN 35 orang, 23 orang pegawai Negeri dan 12 orang tenaga honorer.
Berikut ini disajikan denah tata ruang lokasi penelitian di PSBN Tuah Sakato Kalumbuk Padang.

II. DESKRIPSI DATA
1. Pelaksanaan Keterampilan Massage
a. Persiapan
Data persiapan ini meliputi; 1) keadaan tempat latihan, 2) program latihan, 3) lokasi, 4) waktu, dan 5) peserta latihan massage. Sesuai dengan hasil observasi dan wawancara maka data tersebut dipaparkan sebagai berikut ;
Tempat; Ruangan praktek massage ini berbentuk persegi dengan ukuran 6×6 m. Ruangan ini cukup tertata rapi dan bersih. Di dalam ruangan terdapat 5 buah tempat tidur yang dibatasi oleh sekat-sekat berupa gorden berwarna hijau. Setiap tempat tidur dilengkapi dengan sebuah bantal, sebuah guling kecil dan sebuah guling besar. Di dinding dekat tempat tidur masing-masing diberi gantungan pakaian.
Ruangan ini dilengkapi sebuah model kerangka manusia dan sebuah model susunan organ tubuh manusia yang bisa di bongkar pasang. Pada dinding sebelah kanan, terdapat gambar atlas anatomi yang berisi tentang gambar otot-otot, gambar rangka manusia dan gambar organ tubuh manusia.
Selain itu ruangan dilengkapi dengan sebuah kipas angin. Dan pada sisi ruangan terdapat empat jendela sebagai penerangan kedalam ruangan. Jendela diberi gorden berwarna hijau yang serasi dengan pembatas antara tempat tidur.
Ruangan praktek dilengkapi dengan sebuah lemari yang berisi celana pendek, hand body, bedak, minyak pijat, ember, kain lap, handuk, serta buku-buku pedoman instruktur pijat. Di sebelah lemari terdapat meja dengan ukuran agak besar berbentuk memanjang dengan 7 buah kursi yang dimanfaatkan sebagai tempat duduk kelayan dalam menerima teori/materi pelajaran.
Program; Program latihan massage dilaksanakan dalam bentuk program harian yang disusun berdasarkan jadwal pelatihan. Pelatihan massage dilaksanakan pada hari senin, selasa, rabu, kamis. Hari jumat pelatihan segmen massage, dan hari sabtu digunakan untuk olah raga. Program latihan massage mengacu pada buku pedoman massage yang diterbitkan oleh Dinas Sosial Republik Indonesia. Dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kecepatan kemampuan kalayan dalam menerima pelajaran.
Lokasi; Lokasi bagunan ruangan latihan massage letaknya bersebelahan dengan bangunan kantor yang terdiri dari tiga ruangan. Ruang latihan pertama digunakan untuk segmen massage dan ruang kedua digunakan untuk massagedan ruang ketiga dipergunakan untuk ruang belajar teori. Letak ruangan massage berada di tengah lokasi panti dan mudah dicapai oleh kalayan dari asrama tempat tinggalnya.
Waktu; Lamanya waktu pelaksanaan latihan massage bagi kalayan selama satu tahun. Selanjutnya mereka diberikan latihan pemagangan di panti pijat “Kelompok Usaha Bersama (KUB)” yang dikelola oleh panti. Selain itu juga pada panti pijat yang dikelola oleh alumni dengan alasan lebih mudah memantaunya.
Peserta; Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala panti dan instruktur massage didapat informasi bahwa daya tampung PSBN yang diperbolehkasn oleh Dinas Sosial Sumatera Barat maksimal sebanyak 50 orang. Saat ini terdiri dari 25 orang laki-laki dan 25 orang perempuan. Siswa panti disebut kelayan, bagi mereka wajib mengikuti semua program yang telah disediakan panti. Kelayan panti ada yang datang dengan diantar oleh keluarga atau familinya dan ada juga yang berasal dari penjaringan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Propinsi Sumatera Barat. Bagi kelayan yang berasal dari luar daerah harus memiliki surat pengantar dari Lurah/Rt setempat.
b. Pelaksanaan Gerak Manipulasi Pijat
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa pelaksanaan gerakan massage/memijat selalu didahului dengan penjelasan ceramah oleh insruktur untuk memijat bagian yang akan dilatihkan. Kelayan diberikan materi tentang teori massage, tujuan massage, pembagian massage dan tentang manipulasi gerak dalam massage secara umum, serta diajarkan mengenai teknik pijatan pada bagian paha.
Sebelum belajar praktek, instruktur menyuruh para kelayan mengganti celana yang dipakainya dengan celana pendek yang sudah tersedia dalam lemari diruang massage. Disini terlihat jelas siapa yang teknik orientasi mobilitasnya baik dan siapa yang masih kaku. Nampaknya para tunanetra telah terbiasa dan telah mengetahui dimana letak lemari perlengkapan mereka. Setelah mereka semua siap, semua mengambil posisi pada sisi difan pijat secara berpasang-pasangan.
1) Massage Bagian Paha
Berdasarkan wawancara dengan instruktur menjelaskan;
“biasanya setiap kelas terdiri dari 6 orang, jadi semuanya berpasangan. Setiap pasangan mengambil minyak untuk memijat. Latihan pijat pada paha ini dilakukan secara bergantian, bagian kanan kemudian bagian kiri dan dibagi dalam beberapa gerakan”
Jenis gerakan yang dilakukan pada pemijatan pada bagian paha meliputi beberapa gerakan yaitu:
a. Efflurage (gosokan)
b. Pertissage (pijatan)
c. Shaking (gocangan)
d. Tapotemen (pukulan)
e. Efflurage (gosokan) penutup
Langkah-langkah dari pelaksanaan latihan pijatan pada paha ini diperoleh melalui pengamatan selama latihan terhadap praktek pijat kalayan sebagai berikut:
1. Sesuai dengan pasangan waktu praktek, salah seorang dari kelayan menjadi masseur (pemijat) dan yang lainnya menjadi pasien. Pasien disuruh tidur dengan posisi telungkup dalam keadaan rileks.
2. Bagian kaki kanan pasien diberi alas dengan guling kecil.
3. Pemijat berdiri disebelah kanan atau dekat dengan bagian yang akan dipijat. Selanjutnya ia akan mengoleskan minyak pijat secara merata kebagian paha sebelah kanan yang akan dipijat.
4. Gerakan Efflurage dilakukan dengan cara menggosokkan kedua telapak tangan (tangan kiri berada dibelakang tangan kanan) mulai dari bagian bawah paha sampai kebagian atas (otot pantat). Sampai di otot pantat letakkan tangan kiri di atas tangan kanan lalu lakukan gerakan menekan. Gerakan dilakukan sebanyak lima kali. Gerakan efflurage selanjutnya dilakukan pada bagian samping luar dan dalam paha kanan. Caranya sama tapi cukup dengan satu tangan. Dosis gerakan masing-masing juga lima kali.
5. Pertissage. Gerakan pertissage ini terdiri dari beberapa macam manipulasi gerakan yaitu;
1) Pertissage bersamaan, yaitu dengan cara merengkuh otot paha dengan jari-jari tangan, kemudian tekan. Bergerak keatas sedikit, rengkuh kemudian tekan lagi. Begitu seterusnya sampai keatas, teruskan kebawah. Lakukan hal ini sebanyak lima kali.
2) Pertissage bergelombang, yaitu dengan cara merengkuh otot dengan jari-jari tangan kanan, kemudian menekan dengan telapak tangan kiri. Gerakan bergeser keatas sedikit demi sedikit. Sampai dibatas pangkal paha kemudian bergerak lagi kebawah. Posisi tangan diganti. Merengkuh dengan tangan kiri dan menekan dengan telapak tangan kanan. Dosis tetap yaitu lima kali.
3) Picking-Up, yaitu dengan cara merengkuh otot dengan jari-jari tangan secara bergantian. Gerakannya sama dengan diatas bergerak sedikit demi sedikit keatas kemudian kebawah dengan dosis lima kali.
4) Pertissage dengan ibu jari, yaitu dengan cara merengkuh otot paha dengan jari tangan kiri, kemudian menekan bagian tengah paha dengan ibu jari tangan kanan. Bergerak sedikit demi sedikit keatas. Kemudian terus kebawah dengan mengganti posisi tangan menjadi tangan kanan yang merengkuh dan ibu jari tangan kiri yang menekan. Dosis sama yaitu lima kali. Ada yang perlu diperhatikan dalam melakukan pertissage yaitu dalam merengkuh otot tidak boleh mencubit karena hal itu akan menyakiti pasien. Jarak pindah dalam satu gerakan juga tidak boleh terlalu jauh.
6. Pemijatan dengan ibu jari, yaitu dengan cara menekankan ibu jari pada bagian tengah paha kearah fertikal dan horizontal. Posisi ibu jari adalah melintang, bukan tegak lurus terhadap paha. Gerakan ini dilakukan secara sistematis sambil mendengarkan penjelasan instruktur. Instruktur menyatakan sebaiknya gerakan jangan terlalu cepat, usahakan pasien merasakan setiap gerakan yang kita lakukan”. Gerakan dilakukan keatas kemudian kebawah. Setelah di tengah para kalayan praktek disuruh melakukan hal yang sama pada bagian samping luar dan dalam otot paha dengan dosis lima kali.
7. Tapotemen, a) lakukan dengan cara memukul-mukul otot paha dengan jari yang dikepal secara perlahan bergerak keatas dan kebawah, b) memukul-mukul dengan jari-jari tangan yang dilemaskan, dosis tetap lima kali.
8. Shaking, yaitu dengan cara tangan kanan memegang pergelangan kaki pasien kemudian diangkat. Sementara telapak tangan kiri melakukan gosokan kearah ibu jari (dosis lima kali)
9. Efflurage penutup; dengan cara yang sama seperti diawal, tapi dosis hanya tiga kali.
10. Setelah selesai pada satu bagian paha sebelah kanan, lanjutkan dengan bagian paha sebelah kiri.
Lebih lanjut diperoleh data melalui pengamatan dan wawancara dengan instruktur bahwa;
“masih ada yang belum tepat dalam melakukan gerakan seperti; hanya bisa melakukan gerakan tetapi tidak pas dalam penempatan, ragu-ragu dan selalu bertanya-tanya pada instruktur, dan ada juga yang belum bisa sama sekali. Dalam pelaksanaan instruktur hanya memperhatikan dan membenarkan jika ada gerakan dari kelayan yang salah. Dengan cara memegang tangan kalayan praktek, meletakan pada posisi yang benar, kemudian membimbing gerakan. Setelah semua selesai posisi kelayan diganti, yang tadinya sebagai pasien akan mengambil posisi menjadi pemijat (masseur)”.

Pada pengamatan dan dilanjutkan dengan wawancara dengan instruktur diperoleh data selasa, tanggal 06 Juli 2004 terlihat;
“instruktur memberikan tes mengenai materi sebelumnya yaitu tentang pengertian massage, tujuan massage, pembagian massage, dan tentang manipulasi gerak dalam massage. Tes tertulis dan lisan dilakukan untuk mengukur pengetahuan kalayan dalam memahami gerakan yang mesti dilakukan dalam pijatan paha. Selesai ujian, kelayan diberi pengarahan dan nasehat dan motivasi kalayan untuk lebih maju, lebih giat belajar dan mengembangkan diri”.
2) Massage Bagian Betis
Data berdasarkan hasil pengamatan tentang pelaksanaan massage pada bagian betis diperoleh bahwa;
”instruktur memberikan materi baru tentang teknik massage pada bagian betis melalui metode ceramah dan Tanya jawab. Sebelumnya kelayan disuruh mencatat kemudian membaca materi yang telah dicatatnya secara bersama. Bila kalayan sukar mengerti instruktur menjelaskan dan menanyakan bagian mana yang belum paham”.
Lebih lanjut untuk pelaksanaan pijatan diperoleh melalui hasil pengamatan bahwa;
“kegiatan ditetapkan pada kemampuan kelayan mempraktekkan teknik massage pada betis. Seperti biasa sebelum praktek para kelayan mengganti celana mereka dengan celana pendek yang tersedia di lemari ruang praktek. Para instruktur menugaskan kalayan untuk mempraktekkan lagi gerakan yang telah dipelajari sebelumnya kemudian langsung dilanjutkan dengan materi gerakan massage yang dipelajari hari ini.
Pada saat praktek pijat bagian betis diperoleh data mengenai teknik massage pada bagian betis seperti berikut;
1. Kalayan yang berfungsi sebagai massieur memberi minyak pada bagian yang akan dipijat. Posisi pemijat tetap dekat dengan bagian yang akan dipijat.
2. Gerakankan efflurage, dengan cara menggosok bagian tengah betis dengan kedua ibu jari, mulai dari bawah (dekat mata kaki) sampai kebagian paha bawah, kemudian di tekan (dosis lima kali). Gerakan efflurage selanjutnya dilakukan pada bagian samping sebelah luar dan dalam, tetapi menggosok bukan dengan ibu jari melainkan dengan telapak tangan, dari bawah keatas (bagian bawah paha), kemudian di tekan (dosis lima kali).
3. Pertissage; pelaksanaannya yaitu: a) pertissage bersamaan, b) pertissage bergelombang, c) Picking-Up dan Pertissage dengan ibu jari. Kesemuanya dalam pelaksanaan tidak jauh berbeda dengan pertissage pada bagian paha.
4. Tapotemen; Pada bagian betis tapotemen yang digunakan hanyalah tapotemen dengan menggunakan jari yang dikepal.
5. Shaking, yaitu dengan cara memegang pergelangan kaki yang dipijat, kemudian menggosok otot betis dengan telapak tangan yang satunya lagi.
6. Efflurage penutup, dosis tiga kali.
Hasil pengamatan tersebut ditegaskan dengan hasil wawancara dengan instruktur menyatakan bahwa;
“Jika gerakan untuk pijatan pada bagian paha, yang sebelumnya masih ada yang belum bisa sekarang sudah mulai bisa karena sudah diulang dua kali, dan metode ini dilakukan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kalayan”.
Selanjutnya data yang berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan kemampuannya dilakukan melalui wawancara saat istirahat yang menyatakan;
“bahwa mereka sering latihan praktek massage dengan teman diasrama sudah dan juga melakukan sering pendapat tentang kemampuan praktek diantara mereka.
Pada kesempatan wawancara dengan instruktur diperoleh data untuk memperjelas hasil pengamatan bahwa; “
pada kelas dasar B nampak ada sedikit perbedaan cara instruktur mengajar dengan kelas A yang diamati sebelumnya. Disini instruktur nampak lebih sibuk memperhatikan dan sering menegur para kelayan yang salah dalam melakukan gerakan massage. Kelas dasar B ini kemampuannya memang sedikit lemah dibanding anak kelas dasar A. Saat praktek masih banyak kelayan yang memijat asal-asalan dan ini tentu membutuhkan perhatian yang ekstra dari para instruktur untuk membetulkan gerakannya”.
3. Massage Bagian Telapak Kaki
Data yang berkenaan dengan pelaksanaan keterampilan massage ini masih dilakukan melalui pengamatan.
“Terhadap para kelayan kelas B didahului dengan mempelajari dan memahami materi yang ada di buku dan menayakan apa-apa yang belum mereka pahami. Kemudian langsung mempraktekkannya. Seperti biasa sebelum masuk kepada gerakan yang dipelajari hari ini, dalam mempraktekkan kelayan harus mengulang dulu gerakan yang sudah dipelajari sebelumnya yaitu massage pada bagian paha dan pada bagian betis.
Selanjutnya gerakan massage pada bagian telapak kaki ini berdasarkan hasil pengamatan adalah;
1. Memberi minyak pada seluruh bagian telapak kaki pasien yang akan dipijat.
2. Efflurage, yaitu dengan cara memegang pergelangan kaki pasien dengan tangan kanan dan pangkal telapak tangan kiri menggosok telapak kaki mulai dari bagian ujung jari, bergerak sedikit kearah dalam, sampai kebagian dekat tumit kemudian diremas. Setelah selesai bagian dalam lakukan pula pada bagian tengan telapak kaki, setelah itu pada bagian luar telapak kaki dengan dosis masing-masing lima kali.
3. Pertissage, yaitu dengan cara jari-jari tangan kiri merengkuh tepi telapak kaki secara bersamaan, kemudian ibu jari tangan kanan menekan bagian tengah telapak kaki (dosis lima kali). Setelah itu lakukan pertissage dengan ibu jari dengan cara ibu jari pemijat (masseur) menekan-nekan seluruh bagian telapak kaki, mulai dari jari-jari kemudian bergerak keatas sampai kebagian tumit, kemudian turun lagi sampai kebagian jari-jari lagi (dosis lima kali).
4. Tapotemen, yaitu dengan cara mengangkat telapak kaki passien dengan tangan kanan, jari tangan kiri dikepal kemudian dipukul-pukulkan kepada telapak kaki tersebut.
5. Efflurage penutup dosis tiga kali.
Setelah selesai satu bagian kemudian dilanjutkan dengan bagian yang lain, dan kegiatan ini selalu diulang dari awal saat akan memulai praktek. Untuk memperjelas data tersebut maka dilakukan pengamatan pada hari berikutnya diperoleh data sebagai berikut;
Ditegaskan bahwa untuk kelas B Instruktur menyuruh langsung kelayan untuk mempraktekkan seluruh teknik massage yang telah dipelajari. Instrutur lebih banyak menyuruh kelayan untuk praktek. Saya (instruktur) menjelaskan bahwa karena keterbatasan kemampuan akademik yang dimiliki oleh para kelayan dikelas dasar B maka, saya merasa perlu memberikan banyak praktek dari pada teori agar para kelayan lebih cepat memahami. Supaya tidak lupa kelayan hanya disuruh mencatat materi, penjelasan sedikit kemudian praktek.
4. Massage Pada Bagian Pantat
Data yang berkeitan dengan gerakan massage pada bagian pantat ini dilakukan melalui pengamatan. Adapun data tersebut seperti berikut;
1. Efflurage, dengan cara meletakkan kedua telapak tangan diatas pantat pasien sebelah kanan. Kemudian tangan kanan menggosok dari bawah otot pantat, sampai ditengah letakkan tangan kiri diatas tangan kanan lalu tekan. Setelah itu tangan kiri menggosok dari atas otot pantat (dekat pinggul), sampai ditengah letakkan tangan kanan diatas tangan kiri, kemudian tekan (dosis lima kali). Setelah selesai, lanjutkan kebagian sebelah kiri.
2. Friction. Friction yang dilakukan dipantat ada beberapa macam, yaitu; 1) Friction dengan 3 jari (jari manis, tengah dan telunjuk) yang sejajar. berada dalam posisi yang sejajar dan harus rata. Lakukan gerakan memutar dengan tiga jari tersebut pada seluruh bagian otot pantat, 2) Friction dengan pangkal telapak tangan, caranya dengan melakukan gerakan memutar pada seluruh otot pantat dengan pangkal telapak tangan, 3) Friction dengan siku, caranya yaitu dengan melakukan gerakan memutar dengan mengunakan siku bagian bawah, bukan dengan mata siku. Gerakan ini dilakukan apabila pasien gemuk/agak besar, dan 4) Friction dengan ibu jari, caranya yaitu dengan melakukan gerakan memutar pada seluruh otot pantat dengan menggunakan ibu jari.
3. Pertissage, yaitu dengan cara menekan-nekan seluruh bagian otot pantat dengan menggunakan ibu jari.
4. Wallken, yaitu gerakan gosokan berpindah, dengan cara telapak tangan kanan menyentuh pinggul sebelah kanan pasien dan telapak tangan kiri menyentuh pingul sebelah kiri pasien. Kemudian secara bersamaan tangan kanan merengkuh dan menarik kearah dalam sedangkan tangan kiri mendorong dan menggosok kearah luar. Sekarang posisi tangan sudah bergantian. Lakukan hal yang sama sebanyak lima kali.
5. Tapotemen, dengan cara memukul-mukul otot pantat secara perlahan dengan menggunakan jari-jari yang dilemaskan.
6. Efflurage penutup sebanyak tiga kali.
Lebih lanjut melalui wawancara dengan instruktur beliau menegaskan bahwa;
“karena ada gerakan baru saya mencoba mempraktekkannya kepada masing-masing kelayan yang menjadi masseur. Dalam pelaksanaan tetap gerakan yang sudah dipelajari sebelumnya harus dilakukan terlebih dahulu. Setelah semua selesai, yang tadi menjadi pasien sekarang menjadi masseur. Menurut hemat saya kelas dasar A ini mampu belajar mandiri. Mereka saling mengingatkan kalau ada yang salah, jadi cukup sekali diajarkan oleh instruktur, namun jika mereka betul-betul tidak tahu baru mereka bertanya”.
Untuk membuktikan penegasan instruktur tentang perbedaan kemampuan antara kalayan di kelas A dan kelas B diperoleh data seperti berikut;
“Hari ini kelayan belajar tentang teknik massage pada bagian pantat. Setelah diajarkan beberapa saat, instruktur pergi meninggalkan kelayan. Disini nampak jelas perbedaan antara anak kelas dasar A dengan anak dasar B. Apabila instruktur meninggalkan kelas dasar B, kelayan akan nampak kebingungan. Sampai pada pengamatan kali ini ada satu orang kelayan yang masih belum mantap teknik pijatnya. Ketika instruktur kembali masuk ruang praktek belaiau menjelaskan bahwa untuk kelayan yang masih benar-benar belum mampu, akan diberikan pelatihan secara individu disamping lebih giat belajar praktek dengan temannya di asrama”.
5. Massage Pada Bagian Punggung
Pelaksanaan massage pada bagian punggung ini pemerolehan datanya masih dilaksanakan melalui pengamatan. Berdasarkan pengamatan tersebut maka data yang diperoleh sebagai berikut;
“Instruktur memberikan materi dan catatan kepada kelayan. Setelah selesai kelayan segera mengambil posisi untuk mempraktekkan teknik massage pada bagian punggung ini. Seperti biasa, sebelum melaksanakan gerakan yang baru dipelajari kelayan mengulang kembali gerakan yang pernah diajarkan sebelumnya”.
Data hasil pengamatan pada massage pada bagian punggung ini kegiatan yang dilakukan kalayan secara rinci disampaikan memiliki beberapa gerakan sebagai berikut;
1. Pasien diminta membuka bajunya. Nampak disini kelayan tidak malu-malu untuk mempraktekkan pijat pada bagian punggung ini. Termasuk bagi kelayan perempuan. Tapi ketika praktek tetap tempat perempuan ditutup dengan gorden.
2. Kalayan yang berfungsi sebagai masieur segera memberi minyak keseluruh bagian punggung pasien.
3. Efflurage. Pada punggung terdapat dua macam gerakan gosokan (efflurage), yaitu: a) Dengan cara meletakkan telapak tangan diatas punggung diantara, kemudian menggosokkan telapak tangan tersebut kearah atas sampai kebagian pundak. Kemudian ulang lagi dari bawah, gosok keatas. Lakukan sebanyak lima kali, b) Dengan cara melipat jari-jari, kemudian letakkan diatas punggung. Setelah itu lakukan gosokan dari bawah keatas (bagian pundak) diremas-remas, bukan dicubit. Ulangi sebanyak lima kali.
4. Friction. Untuk teknik pada punggung, friction yang dilakukan ada tiga macam, yaitu; a) Friction dengan tiga jari. Caranya sama dengan friction tiga jari pada bagian pantat. Lakukan pada seluruh otot punggung secara sistematis, b) Friction dengan ibu jari, dilakukan dengan cara meletakkkan ibu jari diotot punggung kemudian lakukan gerakan memutar. Lakukan pada seluruh otot punggung, c) Friction dengan telapak tangan, dilakukan dengan cara menekankan telapak tangan pada bagian otot punggung, kemudian lakukan gerakan memutar. Lakukan pada seluruh otot punggung.
5. Pertissage. Pada bagian punggung, pertissage yang dilakukan ada 3 macam, yaitu; a) Pertissage dengan ibu jari. Caranya yaitu dengan menekan-nekan otot punggung dengan menggunakan ibu jari, b) Pertisasage dengan menggunakan telapak tangan. Caranya yaitu dengan menekan-nekan bagian tengah punggung dengan menggunakan telapak tangan, c) Pertissage tambahan yaitu dengan cara melipat tangan pasien kebelakang, kemudian menekan bagian
6. Wallken. Caranya sama dengan wallken pada pantat.
7. Tapotemen. Ada 3 macam teknik tapotemen yang dilakukan, yaitu:
8. Tapotemen dengan jari yang dikepal. Caranya yaitu dengan memukul-mukul bagian atas tulang punggung. Gerakan yang dilakukan seperti berikut; a) Tapotemen dengan jari-jari yang dilemaskan. Caranya yaitu dengan memukul-mukul bagian otot punggung dengan jari-jari yang dilemaskan, b) Tapotemen dengan telapak tangan. Caranya yaitu dengan memukul-mukul bagian tulang punggung dengan telapak tangan dari bawah keatas.
9. Efflurage penutup. Caranya sama dengan efflurage pada awal dengan dosis tiga kali.
2. Pada hari hari Kamis berikutnya berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa;
“kegiatan masih difokuskan pada mempraktekkan seluruh gerakan mulai dari paha, betis, telapak kaki, pantat dan terakhir punggung. Kelayan yang kemarinnya menjadi pasien sekarang menjadi masseur. Instruktur meminta kelayan melaksanakan latihan ini dengan sungguh-sungguh sebab instruktur akan mencoba menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan kelayan untuk menyelesaikan semua gerakan pijat pada posisi telungkup”.
Selanjutnya data yang berkaitan dengan praktek kemampuan massage pada kelas B juga dilakukan berdasarkan hasil pengamatan pada hari senin tanggal 09 Agustus 2004 (kelas dasar B) diperoleh data bahwa;
“untuk Hari ini kelas dasar B juga melaksanakan latihan pijat pada bagian paha, betis, telapak kaki, pantat dan punggung. Tapi nampaknya masih banyak yang belum bisa melakukan pijatan dengan baik dan sempurna. Ketidakmampuan atau seringnya kekeliruan ini tampak pada kegiatan instruktur sering menegur para kalayan yang salah dan kadang diikuti dengan pemberian hukuman untuk meningkatkan kemampuan agar lebih seriur dalam belajar. Namaun kebanyakan kalayan hanya tersenyum dan mengatakan saya lupa buk”.
6. Massage Pada Bagian Lengan Atas dan Lengan Bawah
Data pengamatan pada gerakan ini posisi pasien masih telentang sedangkan masseur berdiri disebelah kanan pasien. Gerakan yang dilakukan sebagai berikut;
1. Eflurage; a) gerakan pertama; melakukan gosokan pada lengan atas dan bawah dengan dosis lima kali. Tangan kiri masseur memegang tangan kanan pasien seperti berjabatan tangan. Kemudian tangan kiri masseur menggosok jari-jari pada bagian belakang ibubjari pada bagian depan lengan bawah. Gosokan dimulai pada pergelangan tangan pasien dan setelah lekuk siku, belok keluar tangan yang menggosok diputar kebawah sehingga jari-jari dan ibu jari masseur menghadap ke atas. Gosokan berhenti sampai diketiak, b) Gerakan kedua; dengan melakukan gosokan pada otot-otot lengan atas dan bawah dengan satu tangan. Tangan kiri masseur memegang punggung telapa tangan kana pasien, tangan kanan masseur menggosok ibu jari pada bagian depan dan jari-jari pada bagian belakang lengan bawah pasien. Gosokan dimulai dari pergelangan tangan pasien dan setelah sampai di lekuk siku tangan yang menggosok diputasr ke atas, sehingga jari-jari dan ibu jari masseur menghadap ke bawah, gosokan berakhir pada ketiak.
2. Petrissage; melakukan pijatan pada otot lengan atas dengan dua tangan dengan dosis lima kali; pijatan variasi dalam kolong di daerah otot-otot lengan atas bagian dalam, kemudan pada kolong lengan atas bagian luar dengan dosis lima kali.
3. Shaking; melakukan goncangan pada otot lengan atas dengan satu tangan; siku pasien ditekuk dan melakukan goncangan maju mundur, goncangan dimulai di bagian atas siku sampai sendi bahu dengan dosis 15 detik
4. Petrissage; melakukan pijatan pada otot lengan bawah dengan dua tangan; masseur berdiri membungkuk di sebelah kanan pasien, siku pasien ditekuk ujung sikunya. Pijatan dilakukan secara bergantian dengan ibu jari tangan kanan masseur menekan otot-otot lengan bawah bagian belakang ketulang pengumpil.
5. Shaking; melakukan goncangan yang dimulai dari atas pergelangan lengan pasien sampai sebelum batas sendi siku dan sebaliknya. Dosinya selama 15 detik.
6. Eflurage penutup; untuk masing-masing lengan atas dan lengan bawah dan sebaliknya untuk tangan kiri. Dengan dosis lima kali.
7. Massage Pada Bagian Tangan dan Jari-jari
Data yang berkaitan dengan pijat untuk tangan dan jari diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dimana posisi pasien dalam keadaan telentang. Sedangkan posisi masseur dalam keadaan membungkuk di sebelah kanan pasien dan akan berpindah posisi bila tangan yang akan dipijat bergantian. Adapun gerakan yang dilakukan seperti berikut;
1. Eflurage; yakni melakukan gosokan pada otot-otot tangan dan jari-jari; a) bagian pertama; pada otot-otot pungung dan telapak tangan gosokannya dengan mempergunakan ibu jari sejajar pada otot-otot antar tulang punggung telapak tangan mulai dari pangkal jari sampai pergelaangan tangan, b) bagian kedua; pada otot-otot punggung telapak tangan dengan mempergunakan permukaan telapak tangan pada otot punggung telapak tangan dimaulai dari pangkal jari-jari tangan sampai pergelangan tangan, c) bagian ketiga; pada otot telapak tangan dengan memperguankan kedua ibu jari sejajar pada otot-otot telapak tangan dimulai dari pangkal jari-jari tangan sampai pergelangana tangan, d) keempat; gosokan pada telapak tangan dengan mempergunakan pangkal telapak tangan mulai dari pangkal jari-jari sampai pergelangan tangan, e) kelima; melakukan gosokan pada jari-jari tangan pada samping kiri kanan jari-jari dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk.
2. Petrissage; a) pijatan pertama pada otot-otot punggung tapak tangan, b) kedua pada telapak tangan dengan kedua ibu jari secara bergantian, c) ketiga pada jari tangan dengan mempergunakan ujung ibu jari dan telunjuk. Dosisnya lima kali.
3. Shaking; melakukan gocangan pada otot-otot tangan.
4. Eflurage penutup; gerakannya sama dengan saat permulaan tetapi dosisnya tiga kali.

8. Massage Pada Bagian Tengkuk dan Bahu
Gerakan massage pada bagian tengkuk dan bahu ini masih dilakukan melalui pengamatan saat para kalayan praktek di bawah pengawasan instruktur di ruang praktek. Adapun kegiatan yang dapat diamati seperti berikut;
1. Posisi pasien duduk, sedangkan posisi msseur berdiri dibelakang pasien. Kalayan yang bertugas sebagai massieur mengoleskan minyak pijat pada bagian pundak atau bahu pasien yang akan dipijat.
2. Eflurage; dengan melakukan gosokan samping kanan tengkuk dan bahu, gosokan dengan tiga ujung jari. Tangan kiri masseur memegang kepala pasien bagian samping kiri selanjutnya gosokan berpindah pada bagian kiri.
3. Petrissage; Gerakan ini dilakukan dengan dua jenis gerakan; a) pada leher bagian belakang (tengkuk) dengan jari-jari dan ibu jari tangan kanan pada daerah leher belakang dimulai dari kanan tulang leher sampai pada tulang leher sedangkan tangan kiri menahan dahi pasien, b) pijatan pada bahu kanan dan kiri dengan menggunakan jari-jari dan ibu jari kedua tangan masseur pada bahu kanan dan kiri secara bersama-sama dan mulai dari pangkal leher sampai ujung bahu.
4. Tapotemen; Gerakan tapotemen dengan melakukan pukulan pada daerah bahu dengan menggunakan fariasi hacking.
5. Shaking; gerakan melakukan goncangan pada sepanjang tengkuk bahu kanan dengan tangan kanan masseur. Tangan kiri masseur memegang ujung bahu pasien dengan dosisnya selama 15 detik
6. Gosokan penutup; gerakannya sama dengan permulaan dosisnya tiga kali.
Dalam pelaksanaan pijat pada bagian bahu ini setiap gerakan dilakukan sebanyak lima kali berturut-turut. Dan posisi pasien dalam keadaan duduk. Disini kelihatan instruktur lebih banyak memberikan penjelasan dan membetulkan letak tangan pada posisi yang dipijat sambil memberikan penjelasan bagian yang akan di pijat.
9. Massage Pada Bagian Perut
Pelaksanaan gerakan pada bagian perut dengan posisi masseur tidur telentang. Data diperoleh berdasarkan hasil pengamatan didapat data sebagai berikut;
1. Eflurage; melakukan gosokan pada otot-otot perut dengan gerak manipulasi sebagai berikut; a) gosokan dengan tangan kanan masseur yang diletakkan diatas pinggir dada kanan dengan jari-jari rapat yang sedikit diangkat menghadap ke pingngang pasien, b) tangan kiri masseur bertumpu di atas tangan kanan untuk membantu memperkuat gosokan, c) Gosokan dengan pangkal telapak tangan kanan dimulai dari tepi dada kanan pasien sampai sepanjang dada kiri terus menurun lewat pinggang kiri, d) gosokan dilakukan dengan ujung-ujung jari kanan dimulai dari pinggang kiri bawah menyusur sepanjang tepi panggul depan melalui atas kandung kencing sampai usus buntu. Kemudian gosokan kembali bersikap semula mendorong dan menekan usus besar naik lewat hati, usus besar melintang, lambung, usus besar menurun lewat limpa sampai pinggang kiri dan seterusnya. Gosokan pada perut dilakukan dengan halus dan hati-hati secara supel dan kontinyu. Dosis yang diberikan sebanyak lima kali gosokan.
2. Walken; pada otot-otot perut dilakukan sama dengan daerah pantat pada posisi telungkup.
3. Shaking; dengan melakukan goncangan di atas pusat dengan telapak tangan satu, dosisnya selama 15 detik. Goncangan dilakukan secara halus naik turun di atas pusat dengan mempergunakan telapak tangan kanan yang ujung-ujung jarinya menghadap ke atas tanpa bantuan tangan kiri di atasnya.
4. Eflurage penutup; menggosokan tiga jri dengan tangan kanan digosokan di kanan kiri pusat dengan dosis tiga kali.
10. Massage Pada Bagian Dada
Data yang teramati saat pelaksanaan pijat pada bagian dada. Pasien tidur telentang dan posisi masseur berdiri di sebelah kanan pasien. Sedangkan gerakan manipulasi yang dilakukan sebagai berikut;
1. Eflurage; a) gerakan pertama; melakukan gosokan pada otot-otot dada bagian kiri; jari-jari tangan masseur telentang lurus, telapak tangan kirinya menghimpit di atas punggung telapak tangan kanan masseur, gosokan dengan meletakkan ujung jari tangan kanan di antara otot-otot sela iga, gosokan dimulai dari dekat tulang dada ke samping bawah sampai pada bawah ketiak. b) gerakan kedua; gosokan pada otot-otot dada bagiankanan dimana sikap tangan dan posisi masseur merupakan kebalikan dari gerakan pertama.
2. Petrissage; melakukan pijatan pada otot-otot dada dengan tiga ujung jari tangan kanan, dengan gerakan menekan dan memutar kearah ibu jari, mulai dari kanan dengan dosis masing-masing tiga kali.
3. Walken; gerakannya sama dengan gerakan yang dilakukan pada pantat saat posisi telungkup.
4. Shaking; melakukan goncangan pada daerah atas putting dengan mempergunakan seluruh permukaan telapak tangan dan jari-jari melekat dengankuat pada otot dada diantara daerah puting. Dialakukan selama 15 detik.
5. Eflurage penutup; dilakukan sama dengan gerakan pada waktu permulaan.
11. Massage Pada Bagian Kepala
Berdasarkan hasil pengamatan saat praktek mssage bagian kepala in diperoleh data berikut;
1. bagian dahi; posisi masseur tetap dibelakang pasien. Melakukan gosokan dengan ketiga ujung-ujung jari kedua tangan menyamping dimulai dari tengah dahi sampai pada kepala bagian belakang meliwati atas daun telinga.
2. Bagian kepala; pijatan bagian kepala dengan seluruh ujung jari kedua tangan. Posisi kedua ibu jari masseur berada dibagian belakang kepala pasien sedang jari-jari yang lain dengan posisi terbuka berada disamping kiri kanan kepala pasien. Untuk memulai pijatan secara bersama-sama seluruh jari-jari menekan berjalan dari tepi menuju ke bagian tengah atas kepala. Dosis yang diberikan sebanyak tiga kali.
3. Friction daerah pelipis; dengan menggunakan ujung tiga jari kedua tangan mulai dari pelipis kanan kiri sampai daun telinga. Posisi kedua ibu jari menempel pada tulang kepala belakang dengan dosis tiga kali.
4. Friction daerah tepi bawah tulang kapala belakang; dengan menggunakan ibu jari tangan mulai dari bawah sebelah kiri berjalan ketengah. Posisi tangan kiri masseur menahan dahi pasien dengan dosis tiga kali.

c. Metode yang digunakan dalam pelatihan pijat
Pemerolehan data berkenaan dengan metode yang dilakukan oleh para instruktur dalam pelaksanaan keterampialan pijat ini dilakukan melalui wawancara dan observasi diperoleh data sebagai berikut;
“Sebelum saya melaksanakan praktek keterampilan pijat terlebih dahulu para kalayan diberikan materi yang berkenaan dengan gerakan pijat yang akan dilakukan diruang kelas belajar oleh instruktur yang terdiri dari dua orang. Adapun metode penyampai yang sering dilakukan adalah dengan metode ceramah yang dipadukan dengan peragaan pada masing-masing kelayan secara individu. Para kalayan diberikan kesempatan untuk bertanya dan instruktur selalu siap.

Metode demonstrasi digunakan saat praktek latihan di ruang massage dengan cara memegang tangan kalayan dan meletakkan posisi tanggan masseur pada bagian tubuh yang akan di pijat. Karena kalayan mengalami hambatan dalam penglihatan maka kepadanya kami memberikan demenstrasi pada masing-masing individu. Dan pelaksanaannya tetap dibawah pengawasan instruktur.

Metode simulasi juga kami lakukan saat praktek di ruang massage dengan mengambil perang secara bergantian oleh para kalayan kami. Mereka selalu berpasangan dengan sesama jenis. Dalam pelaksaannnya instruktur bertindak mengawasi gerakan yang salah dan di diskusikan dengan kalayan yang menjadi pasien dengan mengajukan pertanyaan “Apakah gerakannya sudah betul atau belum?” dengan demikian kalayan mengetahui kesalahannya melalui teman pasanganya.

Penggunaan metode drill selalu kami tekankan pada kalayan agar sering latihan di asrama bersama teman yang seasrama atau pada kalayan yang lebih senior.
Pelaksanaan metode mengajar tersebut tidak mungkin kami lakukan satu-sat namun itulah yang paling sering kami lakukan. Dalam pelaksanaannya sebenarnya lebih cenderung pada penggunaan berbagai metode sebagai gabungan yang memungkinkan bagi pengjaran yang memerlukan praktek sehingga mudah mengukur keberhasilan belajarnya.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan para kalayan di luar jam praktek di asrma di peroleh informasi bahwa;
Melaksanakan latihan di luar jam pelajaran dirasakan sangat membantu bagi kami untuk memperdalam dan meningkatkan kemampuan. Dan kami lebih senang jika melakukan praktek latihan di asrma dengan kalayan yang lebih senior karena mereka sudah lebih lama berpraktek sedangkan sebagian sudah ada yang magang di klinik usaha bersama yang dikelola oleh panti yang mana masseurnya terdiri dari para senior putra dan putri . Praktek di klinik tersebut diatur berdasarkan jadwal piket.
Hal senada juga disampaikan oleh ketua PSBN yang menyatakan keberadaan klinik dan manfaatnya bagi para kalaya sebagai berikut;
Klinik Usaha Bersama (KUB) didirikan untuk kepentingan praktek bagi kalayan yang diatur menurut piket terjadwal. Klinik ini dikelola oleh panti baik untuk pengadaan alat-alat dan perlengkapannya dan hasilnya akan dibagikan pada kalayan berdasarkan persentase kerja dan pendapatan setiap akhir bulan. Semenjak adanya KUB ini para kalayan sangat bersemangat dan selalu siap piket sesuai jadwal piketnya. Sedangkan bagi kalayan yunior mereka dapat berdiskusi dengan para senior saat pasien tidak ada. Jadi KUB menurut kami sangat bermanfaat untuk sarana praktek diluar jam belajar.
d. Alat Bantu yang Digunakan
Berdasarkan pengamatan diruang prektek massage diperoleh data penggunaan alat bantu berupa;
Alat perlengakapan yang digunakan untuk pijat meliputi; bedak talk, baby oil, balsem, pelicin seperti hand body. Selain aitu alat pendukung seperti tempat cuci tangan disediakan sebuah ember kecil, air, sabun, karbol, kain lap badan jika berkeringat, kain penutup, dipan tempat tidur dengan satu bantal besar serta satu bantal kecil untuk alas kaki saat pijat.
Berkaitan dengan penyediaan alat bantu tersebut instruktur melalui wawancara menyatakan seperti berikut;
Semua alat Bantu untuk perlengkapan latihan pijat disediakan oleh panti dalam hal ini Dinas Sosial Propinsi yang selalu mensuplai segala kebutuhan baik untuk keterampilan atau kebutuhan di asrama. Sedangkan para kalayan tidak dipungut byaran.
Jika mereka telah menyelesaikan program pelatihan selama tiga tahun akan dibekali perlengkapan pijat sebagai bekal membuka usaha mandiri yang diberikan secara cuma-Cuma. Dengan demikian menurut hemat kami keluaran panti ini tidak ada yang menganggur.
Untuk keperluan praktek kami sering menggunakan minyak urut (serei) karena persediaan ini yang paling banyak disuplai oleh dinas ke panti.
e. Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi yang dilaksanakan saat latihan massage dilakukan melalui wawancara dengan instruktur seperti berikut;
Untuk evaluasi kami menggunakan evaluasi sesering mungkin. Dalam hal ini dapat dilakukan di awal belajar, saat praktek dan juga dilakukan evaluasi terjadwal seperti evaluasi setiap telah melaksanakan program pijat tertentu. Evaluasi yang kami laksanakan berbentuk lisan dan praktek langsung. Sedangkan bagi kalayan disediakan format kemajuan evaluasi kemajuan yang disimpat oleh instruktur.
Setiap evaluasi kami selalu memberikan penguatan yang disesuaikan dengan kebutuhan saat itu seperti kamu mesti lebih serius belajar dan banyak latihan serta diskusi dengan temanmu.
2. Kendala yang dihadapi dalam Latihan Pijat
Data mengenai kendala didapatkan melalui wawancara dengan para instruktur dan kepala panti. Hasil wawancara dengan instruktur menyatakan bahwa;
Untuk mempersiapkan segala kebutuhan praktek massage rasanya boleh dikatakan tidak ada kendala, sebab semua perlengakapan disediakan oleh panti. Kami tinggal laporkan persiapan yang kami inginkan.
Jika memungkinkan kendala yang kami hadapi hanya pada kemampuan kalayan yang berbeda-beda, seperti perkebedaan kemampuan antra kelas A dan kelas B. Di kelas A kebanyakan mereka mampu baca tulis Braille dan mendorong mereka belajar mandiri. Sedangkan di kelas B kebanyakan kurang mampu menggunakan Braille sehingga saat praktek mereka lebih mengandalkan dan menunggu penjelasan dari instruktur.

Sebagian kalayan dari kelas A menyatakan memang agak sulit belajar dengan kawan-kawan dari kelas B sebab mereka kurang pemahamannya.
Sementara kebanyak kalayan menyatakan cenderung pada tidak ada kendala. Kami malah senang disini segala kebutuhan kami disediakan dan hanya bermodalkan keseriusan untuk belajar mandiri. Kami diberikan semua perlengkapan mulai dari baju, sepatu, diberi makan dan bahkan bila tamat diberikan juga perlengkapan pijat secara cuma-cuma tanpa harus mengembalikan jika nati kelak kamik telah berhasil.
Pada kesempatan lain kepala panti menyatakan kendala yang dihadapinya sebagai berikut;
Kesediaan panti kami sangat terbatas sekali dalam daya tampung yang sudah ditentukan dari pemerintah pusat. Panti hanya mboleh menampung kalayan maksimal 50 orang. Sedangkan wilayah binaan panti meliputi; Sumbar, Riau, dan Jambi.

Kendala lain yang kami hadapi yakni keterbatasan dari pegawai untuk melakukan pendataan keseluruh wilayah binaan. Namun demikian panti kami tidak pernah tidak mencukupi batas maksimal tersebut.

Sebab kalayan yang datang kesini ada berasal dari utusan kabupaten, bahkan ada yang diantar oleh orang tuanya dan juga ada yang dating sendiri hanya berbekal informasi orang lain yang mengerti keberadaan panti ini.
3. Usaha Mengatasi Kendala
Data berkaitan dengan usaha para instruktur dalam mengatasi kendala ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara sebagai berikut;
Seperti yang telah kami sampaikan bahwa kendala yang ada masih dapat kami atasi bersama melalui diskusi dan bertukar pendapat dengan intruktur jika permasalahannya berkaitan dengan kemampuan dalam pelaksanaan latihan.
Berkaitan dengan kalayan yang suka rewel dan memilih teman untuk berpasangan dalam praktek biasanya kami berikan hukuman seperti manakutinya dengan cara akan diberhentikan. Biasanya dengan cara ini mereka cepat menyadari kesalahannya sebab mereka disini sudah dewasa semua.
Jika kalayan suka rewel dalam pemakaian media pijat biasanya kepada mereka disuruh untuk menyiapkan sendiri.
Lebih lanjut kepala panti menjelaskan tentang usaha yang dilakukan dalam mengatasi kendala seperti berikut;
KUB merupakan usaha utama yang kami lakukan dalam mengatasi kendala berkaitan dengan praktek latihan mandiri di luar jam pelajaran yang resmi. Bagi kalayan bermanfaat sebagai pendapatan uang jajan jika mereka mendapat pasien dari luar. Usaha lain yang kami lakukan melalui praktek magang di panti pijat lain yang masseurnya adalah alumni dari sini. Disana mereka disamping praktek dan juga akan mendapat uang saku.

III. PEMBAHASAN
1. Pelaksanaan Keterampilan Massage
Sesuai dengan data yang telah dipaparkan pada deskripsi maka dilakukan pembahasan yang difokuskan pada pokok permasalahan seperti berikut;
Persiapan yang dilakukan sebelum praktek dapat dikatakan sudah baik, hal ini karena semua peralatan yang dibutuhkan untuk praktek sudah tersedia di panti. Dengan demikian instruktur hanya tinggal melaksanakan kegiatan praktek dan penyampian materi. Semua kebutuhan untuk paraktek masseur dan kebutuhan kalayan telah tersedia dipanti. Hal ini merupakan daya tarik bagi kalayan dan mereka akan menjadi senang dengan layanan yang mereka dapatkan.
Praktek yang dilakukan di ruang pijat telah disusun sesuai jadwal yang ditentukan dimana dalam seminggu dilaksanakan tiga hari dengan proporsi setiap prakteknya selama dua jam. Untuk persiapan latihan keterampilan pijat guru hanya terbatas pada urutan yang ada pada buku petunjuk pijat yang dikeluarkan Depsos. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa instruktur belum merencanakan suatu program yang dapat dipedomani selalin materi yang ada pada buku petunjuk pijat tersebut.
Berkenaan dengan proses pelaksanaan keterampilan pijat yang mana sebagian besar materinya dilaksanakan dan ada juga materi yang belum disampaian seperti gerakan melipat dan menggeser kulit, gerakan melonggarkan persendian. Walau ada beberapa gerakan yang tidak diberikan pada kalayan dapat dicandrai bahwa antar pelaksanaan keterampilan pijat yang ada pada teori pedoman pijat untuk instruktur sebenarnya dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang maksimal jika dilihat berdasarkan kondisi fisik dan karakteristik kalayan.
Banyaknya dosis pengurutan dan pemberian getaran dan pijatan pada bagian tertentu selalu disesuaikan dengan buku petunjuk, sehingga tidak membuka peluang untukmenyalahi aturan buku pedoman pijat yang dikeluarkan depsos sebagai pengelola utama.
Berbagai metode yang dilakukan instruktur dalam memberikan latihan keterampilan pijat dapat dimaknai bahwa pembelajaran yang menuntut seorang guru atau instruktur dalam penyampaian materi tidak boleh terpaku pada salah satu metode saja. Sebab antara metode mengajar tersebut masing-masingnya memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Namun dalam pelaksanaan instruktur hdituntut untuk lebih menentukan mteode mengajar mana yang lebih dominan dilakukan. Berkaitan dengan keterampilan pijat ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam penggunaan metodenya lebih banyak menuntut pemahamannya dan selalu berusaha untuk menggabungkan beberapa metode pengajaran yang disesuaikan dengan kegiatan mengajar terori atau praktek. Dengan demikian instruktur juga harus lebih banyak mengenal perbedaan kemampuan bagi para kalayannya. Jika kalayannya memiliki kemampuan kurang baik seperti di kelas B dengan demikian instruktur dituntut untukl lebih sering melakukan metode drill dan mengulang serta demonstrasi yang lebih sering terhadap masing-masing individu.
Sejalan dengan alat bantu dan media pijat yang digunakan oleh instruktur saat latihan dimaknai bahwa untuk pemijatan yang akan dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan keinginan para pasien. Sedangkan untuk latihan boleh saja dilakukan dengan media yang monoton dengan memperhatikan keterbatasan media latihan dengan catatan gerak yang dilakukan tidak keluara dari kaidah pemijatan yang diajarkan oleh instruktur dan merujuk pada buku pedoman pijat.
Upaya peningkatan latihan pijat dilaksanakan di luar jam belajar resmi (di asrama, panti pijat mandiri, atau di KUB) dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang baik demi peningkatan dan keseriusan kalayan dalam berlatih. Ini terlihat dengan resfek para kalayan menyambut program yang dilakukan panti dan mereka lebih serius belajar dan jika ada waktu selalu memanfaatkan sarana praktek tersebut.
Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh instruktur dapat dikatakan sebagai usaha yang paling tepat untuk mengukur keberhasilan suatu pelajaran yang banyak menuntut praktek dibanding teori. Sejalan dengan teori pelaksanaan evaluasi dalam belajar maka evaluasi tidaklah hanya mengukur keberhasilan setelah penyampaian suatu materi. Sebaiknya evaluasi dilaksanakan sesering mungkin jika materi pelajaran yang diajarkan lebih banyak menuntut keterampilan praktek. Dengan demikian dimaknai bahwa kegiatan evluasi oleh instruktur tersebut sudah merupakan usaha yang palaing obyektif dan maksimal. Namun demikian masih diperlukan suatu usaha sebagai unpan balik dengan selalu mengevaluasi kepuasan para pelanggan yang telah dipijat oleh kalayan yang dimagangkan melalui KUB atau panti yang ditunjuk sebagai tempat magang.

2. Kendala-kendala yang Dihadapi Instruktur
Berkenaan dengan kendala-kendala yang dihadapi para insturktur lebih banyak terkendala pada kemampuan penglihatan insturktur. Sebab dengan instruktur yang juga tunanetera baginya akan sulit mengontrol kemampuan dan ketepatan pemijatan kalayan yang juga tunanetra. Penggunaan instruktur yang sama-sama tunanetra dapat mengakibatkan kesulitan tersendiri dan harus bekerja eksta , lebih banyak menyita waktu saat latihan dikarenakan beliau juga harus memberikan layanan pengajaran secara individu. Kondisi seperti ini dalam penyampaian materi melalui ceramah mungkin tidak menjadi suatu penghalang yang berarti akan tetapi untuk penyampaian praktek akan lebih banyak rugiannya seperti telah disebutkan. Tetapi salah satu keuntungan menggunakan instruktur tunanetra bahwa kalayan lebih cepat akrab dan merasa sama-sama senasib, mereka lebih termotivasi kenapa orang lain bias dan tentunya ia juga harus bias seperti semboyan pada Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Jika kita mampu mengintrospeksi diri dan menggalai kemampuan yang masih dimiliki dan harus dikembangkan merupakn suatu modal utama untuk lebih mengambangkan diri ke arah yang lebih baik.
Kebanyakan dari kendala yang muncul bahwa keterbatasan panti dalam menampung kalayan dengan jumlah yang lebih besar mengingat wilayah binaan dari PSBN meliputi tiga provinsi yang ada di Sumatera. Dengan demikian akibanya banyak para penyandang tunanetra yang datang ke panti dengan terpaksa tidak diterima atau masuk daftar tunggu untuk menjadi kalayan tetap.
Kendala yang berkaitan dengan kemampuan tunanetra yang pernah sekolah dan tidak pernah sekolah atau yang lebih baik kemampuannya. Usaha pengelompokan yang dilakukan oleh instruktur dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang semestinya dilakukan. Sebab jika mereka dianggap memiliki kemampuan sama dapat mengakibatkan timbulnya minder bagi yang lemah, dan bahkan mungkin akan mengarah pada kebosanan bagi para kelayan.
Dilirik dari posisi kalayan kendala dalam pelaksanaan latihan keterampilah pijat terletak pada kemampuan menghafal srutktur anatomi tubuh manusia dan menhafal istilah pijat. Hal ini sering terjadi pada kelayan kelas B.

3. Usaha-usaha yang Dilakukan dalam Mengatasi Kendala
Berkaitan dengan usaha para instruktur dalam mengatasi kendala dapat dimaknai bahwa kendala yang dihadapi oleh para instruktur tersebut kukanlah suatu kendala yang sangat berarti dan berat serta memerlukan pemecahan lebih serius. Pemecahan masalah yang dilakukan panti dapat dikatakan suatu hal terbaik yang mesti mereka tempuh dan hal ini telah mereka lakukan dengan membuka KUB sebagai wadah utama di dalam lingkungan PSBN.
Upaya pemecahan masalah terkecil antar instruktur mencerminkan kekompakan kerja sebagai pelatih. Sedangkan upaya yang lebih melibatkan pengelola panti yang lain termasuk melibatkan kepala panti , dan juga mengundang kepala Dinas Sosial Provinsi sebaiknya lebih mengutamakan keterkaitan dengan pengembangan pola,bentuk, dan Janis layanan yang akan diberikan pada penyandang tunanentra.
Upaya menempatkan kalayan pada panti pijat mandiri yang menjadi binaan dapat dipandang sebagai suatu kontrol yang bermanfaat bagi kedua balah pihak. Sebab pengelola panti pijat mandiri sebagai mitra merupakan panti yang didirikan oleh alumni dan selanjutnya mudah mengontrol kalayan yang dimagangkan. Dengan demikian terjadi kerjasama mutualisme bagi kedua belah pihak yang saling menguntungkan.
Jalan yang ditempuh dalam mengatasi kendala ini jelas meruapakan suatu usaha yagn sangat baik dan perlu dikembangkan pada peningkatan kerjasama yang lebih luas sehingga sangat bermanfaat bai kalayan atau alumni untuk merintis karir yang mendatang nilai ekonomi dikemudian hari.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

I. KESIMPULAN
1. Pelaksanaan
Untuk memulai pelaksanaan keterapilan massage diperlukan persiapan yang meliputi; tempat, ruang, lokasi, waktu, dan program yang telah disusun sedemikian rupa. Program mestinya harus dibuat untuk semua keterampailan yang diberikan. Berkenaan dengan program instruktur berpedoman pada buku panduan pijat dan melaksanakan sesuai urutan. Hal ini menghambat insturktur untuk mengembangkan kemampuan pijat.
Dalam pelaksanaan praktek latihan massage lebih ditekankan pada gerakan yang paling diutamakan untuk dipijat. Pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk pijat. Berkenaan dengan dosis pijatan selalu dilakukan sebanyak lima kali meliputi gerak; gosokan, pijatan, gerusan dan mengurut serta manilpulasi geraknya. Sedangkan untuk; goncangan, pukulan, dan getaran dosisnya selalu dalam hitungan 15 detik. Dengan demikian untuk memijat seorang pasien diperlukan waktu 2 s/d 3 jam. Kekuatan saat pijatan selalu disesuaikan dengan selera pasien. Hasil pijat yang baik akan mampu membuat pasien terlepas dari rasa capek dan kembali rileks dan kebanyak saat dipijat pasien tertidur, dan ini semestinya dijadikan tolak ukur para masseur dalam bekerja.

2. Kendala yang dihadapi Instruktur
Penggunaan instruktur yang sama-sama tunanetra menuntut mereka bekerja ekstra, lebih banyak menyita waktu saat latihan. Keuntungan menggunakan instruktur tunanetra: kalayan lebih cepat akrab dan merasa sama-sama senasib, mereka lebih termotivasi.
Kendala yang muncul bahwa keterbatasan panti dalam menampung kalayan dengan jumlah yang lebih besar mengingat wilayah binaan dari PSBN meliputi tiga provinsi yang ada di Sumatera. Adanya perbedaan mencolok anatar kelayan yang pernah sekolah dan tidak pernah sekolah atau yang lebih baik kemampuannya.
Dilirik dari posisi kalayan kendala dalam pelaksanaan latihan keterampilah pijat terletak pada kemampuan menghafal srutktur anatomi tubuh manusia dan menghafal istilah pijat. Hal ini sering terjadi pada kelayan kelas B.
3. Usaha-usaha yang Dilakukan dalam Mengatasi Kendala
Pemecahan masalah yang dilakukan panti dapat dikatakan suatu hal terbaik yang mesti mereka tempuh dan hal ini telah mereka lakukan dengan membuka KUB sebagai wadah utama di dalam lingkungan PSBN. Mengirim kalayan pada panti pijat binaan sebagai suatu kontrol yang bermanfaat bagi kedua balah pihak.
Upaya pemecahan masalah dimulai antar instruktur mencerminkan kekompakan kerja sebagai pelatih. Sedangkan upaya melibatkan kepala panti , mengundang kepala Dinas Sosial Provinsi lebih mengutamakan keterkaitan dengan pengembangan pola,bentuk, dan jenis layanan panti.
II. SARAN-SARAN
Pelaksanaan pengajaran keterampilan pijat memerlukan ketelatenan yang menuntut instruktur mempersiapkan mulai dari bahan, materi, manipulasi gerak, dan lokasi pijat. Dengan demikian instruktur sebaiknya mempersiapkan program yang mampu mengukur keberhasilan pada setiap gerakan dan lokasi pijatan.
Instruktur sebaiknya lebih meningkatkan diri melalui belajar mandiri tentang strutktur anatomi tubuh manusia serta mengenal otot-otot yang perlu mendapatkan pijatan.
Perlu dikembangkan peningkatan kerjasama yang lebih luas yang bermanfaat bagi instruktur, dan kalayan atau alumni untuk merintis karir yang mendatangkan nilai ekonomi dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA
Arief S. Sadiman, (1984), Pengembangan Sistem Instruksional, Jakarta IKIP Jakarta
Arikunto Suharsimi, (1993). Manajemen Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Abdurrachman Muljono, (1994), Pendidikan Luar Biasa Umum, Dikti, Depdikbud, Jakarta
Anastasia Wijayantin, (1996), Ortopedagogik Tunanetra I, Dikti, Depdikbud, Jakarta
Depdikbud, (1995), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Departeman Sosial RI, (1998), Buku Pedoman Instruktur Keterampilan Pijat / Massage, Dirjen Bina Rehabilitasi Sosial Republik Indonesia, Jakarta. Direktorat Rehabilitasi Penca.
Kirk. A, Samuel & Gallagher James S., (1986). Pendidikan Anak Luar Biasa, Jakarta: DNIKS
Moleong Lexy J (2000), Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Depdikbud
Nasution S, (1992). Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Suminar Setiati Achmadi, (2003), Teknik Menyusun Usul Penelitian, makalah disampaikan pada pelatihan penyusunan proposal tingkat nasional bagi staf UNP Padang, DP3M Ditjen Dikti Depdiknas.
Sadri Islami, (2003), Pelaksanaan Keterampilan Pijat Sihatsu di Panti SosialBina Netra, Skripsi, PLB FIP UNP Padang, tidak diterbitkan.

PENELITIAN DANA RUTIN

LAPORAN PENELITIAN

PELAKSANAAN KETERAMPILAN MASSAGE
PADA PENYANDANG TUNANETRA
DI PANTI BINA NETRA KALUMBUK PADANG

OLEH :

Drs. Jon Efendi, M.Pd
Drs. Asep Ahmad Sopandi

Penelitian ini dibiayai oleh:
Dana DIK / RUTIN Universitas Negeri Padang
Tahun Anggaran 2004
Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian (SP3)
Nomor: 260/J.41/KU/Rutin/2004
Tanggal 5 Mei 2004

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2004

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN

1. Judul : PELAKSANAAN KETERAMPILAN MASSAGE PADA PENYANDANG TUNANETRA DI PANTI BINA NETRA KALUMBUK PADANG
2. Ketua Peneliti
Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP : 132 092 865
Pangkat/golongan : Penata muda/IIIb
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
Fakultas/Jurusan : Ilmu Pendidikan/ Pendidikan Luar Biasa
Bidang Ilmu yang diteliti : Pendidikan Luar Biasa
3. Jumlah Tim Peneliti : 2 orang
4. Lokasi Penelitian : Panti Bina Netra Kalumbuk Padang
5. Kerjasama dengan instansi : Instruktur Massage (pijat) Kalumbuk Padang
6. Jangka Waktu Penelitian : 5 Bulan
7. Biaya yang diperlukan : 3.000.000,- (TigaJuta Rupiah)

Mengetahui: Padang, 15 Desember 2004
Dekan FIP UNP Padang Ketua Peneliti

Prof. DR. H. Suyarma Marsyidin,M.Pd Drs. Jon Efendi, M.Pd
NIP: 131 129 397 NIP: 132 092 865

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian UNP Padang

Prof. DR. H. Agus Irianto
NIP: 130 879 791

ABSTRAK

Penelitian ini berawal dari pilihan karier yang dilakoni oleh penyandang tunanetra yang mulai mendapat perhatian dalam kapasitas diperlukan oleh pengguna jasanya. PSBN memberikan keterampilan meliputi; 1) keterampilan massage, 2) keterampilan akupuntur, 3) keterampilan shiatsu, 4) keterampilan merajut, dan 5) kursus Ilmu Arab Braille. Bahwa beberapa keterampilan yang diberikan oleh Panti Binanetra ternyata yang paling banyak menarik minat yakni Bidang keterampilan Massage dan dapat menghidupi para penyandang tunanetra secara ekonomi dalam menunjang penghasilan keluarga.
Dalam pelaksanaan praktek latihan massage lebih ditekankan pada gerakan yang harus sesuai dengan petunjuk pijat. Dosis pijatan selalu dilakukan sebanyak lima kali meliputi gerak; gosokan, pijatan, gerusan dan mengurut serta manilpulasi geraknya. Sedangkan untuk; goncangan, pukulan, dan getaran dosisnya selalu dalam hitungan 15 detik. Hasil pijat yang baik akan mampu membuat pasien terlepas dari rasa capek dan kembali rileks dan kebanyakan saat dipijat mampu membuat pasien tertidur, dan ini semestinya dijadikan tolak ukur para masseur dalam bekerja.
Kendala yang muncul: 1) keterbatasan panti dalam daya tampungyang sangat terbatas, 2) kemampuan kealayan yang rendah dalam menghafal srutktur anatomi tubuh manusia dan istilah pijat.
Pemecahan masalah yang dilakukan: 1) Mengirim kalayan pada panti pijat binaan sebagai suatu kontrol dan kerjasama, 2) melibatkan kepala panti , 3) mengundang kepala Dinas Sosial Provinsi untuk lebih mengutamakan pengembangan pola,bentuk, dan jenis layanan panti.
Dengan demikian sebaiknya; instruktur sebaiknya mempersiapkan program yang mampu mengukur keberhasilan pada setiap gerakan dan lokasi pijatan, belajar mandiri tentang strutktur anatomi tubuh manusia dan mengenal otot-otot yang perlu mendapatkan pijatan, peningkatan kerjasama yang lebih luas bagi instruktur, kalayan atau alumni panti untuk merintis karir yang mendatang.

KATA PENGATAR

Penelitian ini berusaha memenuhi suatu kebutuhan akan pelaksanaan latihan massage bagi para penyandang tunanetra. Selama ini penelitian berkaitan dengan pengungkapan keterampilan yang mulai banyak diminati oleh penyandang tunanetra sebagai pilihan karier.
Sistematika penulisan dipaparkan dalam bentuk urutan pertanyaan penelitan seperti berikut; a) pelaksanaan latihan keterampilan massage, b) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan, dan c) usaha yang dilakukan instruktur dalam mengatasi kendala. Penyusunannya merujuk pada sisi pandang ilmu pendidikan di samping cara pandang ilmu lainnya yang terkait.
Penulis sangat menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang perlu disisip dan perlu dilakukan upaya pengembangan hingga memenuhi standar bacaan. Pada kesempatan ini penulis mohonkan tegur sapa, kritikan dan saran demi penyempurnaannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para penggunanya. Amiiiin.
Padang, 10 Oktober 2004

DAFTAR ISI

Halaman
Kata pengantar i
Daftar isi ii
A. PELAKSANAAN KETERAMPILAN MASSAGE TUNANETRA 1
B. BIDANG KEILMUAN 1
C. PENDAHULUAN 1
D. PERUMUSAN MASALAH 4
E. FOKUS PENELITIAN 4
F. PERTANYAAN PENELITIAN 5
G. TUJUAN PENELITIAN 5
H. KONTRIBUSI PENELITIAN 6
I. TINJAUAN PUSTAKA 6
a. Konsep Massage 6
1. Pengertian massage 6
2. Macam-macam massage 7
3. Sport Massage 8
4. Cara memperaktekkan massage 8
5. Penyakit yang boleh di massage 9
6. Tujuan massage 9
7. manipulasi pijat, efek dan penggunaannya 10
8. Peralatan Massage 13
9. Metode latihan massage 13
b. Konsep Tunanetra 14
1. Pengertian anak tunanetra 14
2. Klasifikasi anak tunanetra 15
3. Karakteristik tunanetra 16
I. KERANGKA KONSEPTUAL 17
J. METODE PENELITIAN 18
1. Jenis Penelitian 18
2. Teknik Pengumpulan data 18
3. Sumbedr data 19
4. Teknik Analisa data 20
K. LATAR ENTRY 21
L. DESKRIPSI DATA 23
1. Pelaksanaan Latihan Keterampilan Massage 23
2. Kendala yang Dihadapi 42
3. Usaha Mengatasi Kendala 44
M. PEMBAHASAN 45
N. KESIMPULAN 50
O. SARAN-SARAN 52
DAFTAR PUSTAKA 53

JADWAL PELAKSANAAN
Penelitian dilaksanakan dalam jangka waktu 5 bulan dengan rincian;
1. Pemantapan rancangan penelitian : 2 minggu
2. Penyusunan instrumen : 2 minggu
3. Pelaksanaan penelitian : 10 minggu
4. Pengolahan dan analisis penelitian : 2 minggu
5. Penulisan Draf laporan : 3 minggu
6. Revisi dan penulisan draf akhir : 2 minggu
7. Penggandaan laporan penelitian : 2 minggu
L. PERSONALIA PENELITIAN
1. Ketua peneliti :
a. Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
b. Pangkat/Gol/NIP : Penata muda/IIIb/132092865
c. Jabatan : Asisten ahli
d. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Biasa
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
f. Bidang Keahlian : Pendidikan Luar Biasa
g. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
h. Pendidikan terakhir : S2 / Pasca Sarjana IKIP Bandung
2. Anggota Peneliti :
a. Nama lengkap : Drs. Asep Ahmad Sopandi
b. Pangkat/Gol/NIP : Penata Tk I/IIId/131689819
c. Jabatan : : Lektor muda
d. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Biasa
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
f. Bidang Keahlian : Pendidikan Luar Biasa
g. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
h. Pendidikan terakhir : S1 IKIP Bandung

M. Jangka Waktu dan Biaya Penelitian
No. Rincian Biaya Kegiatan Penelitian @ dalam Rupiah (Rp)
1. Honorer Pelakasana Penelitian:
a. Ketua Pelaksana
b. Anggota Pelaksana I
800.000
500.000
2. Bahan dan alat Penelitian:
a. Kertas duplicator 3 rim
b. Kertas HVS 80 Gram 3 rim
c. Disket 3 buah
d. Tinta Refil komputer 4 buah
100.000
150.000
60.000
150.000
3. Pelaksanaan penelitian
a. Penjajakan ke lokasi penelitian
b. Pengurusan surat izin penelitian
c. Penyusunanan, Judge, revisi instrumen
d. Penggandaan intsrumen penelitian
e. Pengumpulan data ke lapangan
400.000
100.000
200.000
100.000
500.000
4. Pengolahan dan analisis data 500.000
5. Pembuatan dan penggandaan laporan
a. Penulisan draf awal
b. Revisi dan penulisan final
c. penggandaan laporan
d. Seminar hasil penelitian.
300.000
150.000
200.000
400.000
Jumlah: (Empat Juta Sepuluh Ribu Rupiah) Rp. 4.010.000

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI
1. Nama : Drs. Jon Efendi, M.Pd
2. NIP : 132 092 865
3. Status Dosen : Dosen tetap (biasa) Negeri
4. Tempat tanggal lahir : Padang tanggal 22 November 1965.
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Pangkat/golongan : Penata muda/ IIIb
7. Jabatan : Asisten ahli
8. Pendidikan tertinggi : S2 IKIP Bandung 1999
9. Daftar Karya Ilmiah : 1. Efektivitas metode bermain dan ceramah dalam mengajarkan nilai nominal uang bagi anak tunagrahita ringan di SPLB Cipaganti Bandung (skripsi) 1992.
: 2. Pengembangan program bimbingan konseling perkembangan melalui kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan kemandirian anak tunagrahita ringan (Tesis) Bandung 1999.
: 3. Mainstreaming dalam system Pendidikan Anak Tunagrahita (Majalah Basandi)
: 4. Remaja Tunagrahita & Orang Tua Otoriter, (makalah)
: 5. Bimbingan Orang Tua dalam Intervensi Anak Tunarungu Suatu Optimalisasi Kemandirian.
: 6. Peranan Kecerdasan Emosional dalam Menunjang Keberhasilan belajar Anak Tunagrahita.

FORMULIR ISIAN
USUL PENELITIAN DOSEN MUDA

1. a. Nomor ID : ............
b. Tahun anggaran: ........
2. Judul Penelitian : Pelaksanaan Keterampilan Massage Pijat Pada Penyandang Tunanetra di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
3. Tim Peneliti :
No Nama Peneliti NIP Tgl Lahir Jabatan akademi Jenis kelamin Penddk terakhir
1. Jon Efendi 132092865 22-11-65 03 01 S2
2. Asep Ahmad S 131689819 24-11-61 03 01 S2

4. Perguruan tinggi :
a. Nama : Universitas Negeri Padang
b. Kode : ……………
5. Fakultas :
a. Nama : Fakultas Ilmu Pendidikan
b. Kode : ……………
6. Penelitian yang diusulkan: Penelitian Dosen Muda
7. Kategori Penelitian : Meningkatkan keterampilan staf pengajar serta mengembangkan institusi.
8. Lingkup penelitian : 02 Wilayah
9. Bidang Ilmu yang diteliti: 03 Pendidikan
10. Lokasi Penelitian : Panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang
11. Macam penelitian : Obsevasi
12. Lama dan waktu penelitian :
a. Lama Penelitian : 6 bulan
b. Bulan penelitian : 04-10
13. Biaya Penelitian :
a. Diusulkan : Rp. 4.010.000,-
b. Disetujui : Rp. 4.000.000,-
c. Sumber biaya : Dana Rutin
14. Jumlah artikel yang akan dipublikasikan :
a. Diseminarkan : 01
b. Ditulis diJurnal : 02
Padang 5 April 4, 2004
Ketua Peneliti

Drs. JON EFENDI, M.Pd NIP: 132092865

PENDAPAT GURU SEKOLAH LUAR BIASA SE-KOTA PADANG TERHADAP PELAKSANAAN KEGIATAN PRAMUKA LUAR BIASA

Januari 23, 2013

A. JUDUL: PENDAPAT GURU SEKOLAH LUAR BIASA SE-KOTA PADANG TERHADAP PELAKSANAAN KEGIATAN PRAMUKA LUAR BIASA
B. BIDANG KEILMUAN: PENDIDIKAN
C. PENDAHULUAN
Cakupan pendidikan dalam arti luas terdiri dari pendidikan formal, non formal, dan informal. Pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah-sekolah terdiri dari program intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang termasuk ke dalam program ekstrakurikuler diantaranya: perlombaan antar kelas, Palang Merah Remaja (PMR), pesantren kilat, Pramuka dan lain-lain.
Gerakan kepramukaan sebagai suatu organisasi yang masuk dalam program yang menyelenggarakan kegiatan yang lebih mengarahkan anak didik untuk menanamkan dan menumbuhkan budi pekerti yang luhur.
Kegiatan pramuka sangat menarik perhatian dan minat siswa, Pramuka terdiri dari berbagai aktivitas yang mengandung ilmu pengetahuan dan keterampilan bersifat praktek, dan penerapan ilmu, meliputi, memiliki kemantapan mental, moral, fisik, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu Munas Gerakan Pramuka (1996:6) menyatakan :
Gerakan pramuka berfungsi sebagai lembaga pendidikan diluar sekolah dan diluar keluarga serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda, menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan Serta Sistem Among, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia .

Gerakan pramuka merupakan salah satu wadah dan usaha pembinaan generasi muda, yaitu anak-anak dan pemuda yang berusia 7 sampai dengan 25 tahun. Prinsip Dasar Pendidikan Kepramukaan pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia.
Seiring dengan kegiatan Pramuka, di Sekolah Luar Biasa (SLB) program pendidikan anak luar biasa diprioritaskan pada program pendidikan yang bersifat praktis dan dapat mengembangkan kemampuan ke arah kemandirian. Proses pemberian pendidikannya melaksanakan kegiatan-kegiatan praktis, sehingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler lebih tepat diberikan kepada anak luar biasa. Sementara itu dari sekian banyak jumlah SLB di Kota Padang, yang baru mempunyai Gugus depan (Gudep) terdiri dari 11 gudep. Kondisi dan keadaannya tergantung pada yayasan, sekolah, guru, jumlah murid maupun dukungan dari orang tua. Melihat kondisi demikian, semangat dan kemauan dari gudep untuk mengikuti kegiatan sangat antusias dalam kepramukaan. Namun masih ada SLB yang belum memiliki gudep dan penyelenggaraan kegiatan pramuka tidak terjadwal. Hal demikian mkemungkinan disebabkan oleh beberapa factor antara lain; a) tidak terdapatnya kualifikasi guru yang sudah memiliki kemampuan mahir dasar dalam bidang kepramukaan, 2) tidak memiliki lapangan untuk latihan pramuka, c) kekurang pedulian dari guru-guru terhadap pramuka bagi ALB.
Kegiatan-kegiatan Gudep SLB di Kota Padang seperti, Jambore Daerah maupun Pertemuan Pramuka Luar Biasa (PPLB). Di awal Februari 2003 kemarin telah diadakan kegiatan pramuka luar biasa yang memiliputi wilayah Sumbar dan Riau. Ternyata kegiatan tersebut disambut dengan berbagaiantusias bagi sekolah yang ikut dan juga ada yang berpendapat pesimis sekali terhadap kemampuan anak.
Namun berdasarkan wawancara awal dengan para pembina pramuka SLB se-kota Padang diperoleh informasi bahwa semua kegiatan kepramukaan tersebut dapat diikuti oleh peserta didik dengan baik. Lebih lanjut dikatakan berhasil dibawah binaan guru-guru atau pembina masing-masing gudep walaupun mereka belum mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) dalam bidang kepramukaan. Orang tua Anak Luar Biasa ikut mendukung dengan cara memberikan izin kepada anaknya mengikuti kegiatan kepramukaan.
Berdasarkan paparan diatas yang menyatakan bahwa walaupun masih ada SLB yang belum meiliki Gudep atau tidak melaksanakan latihan kepramukaan dengan terjadwal, tapi pada kenyataanya mereka meyembut kegiatan pramuka jika ada. Kenyataan tersebut membuat peneliti ingin mengetahui pendapat guru sekolah luar biasa terhadap pelaksanaan kegiatan kepramukaan luar biasa di Kota Padang yang didasari dengan berbedanya latar belakang guru-guru dan kemampuan dalam melaksanakan kegiatan pramuka.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan paparan yang telah melatar belakangi permasalahan maka rumusan masalah penulis tentukan sebagai berikut::
1. Bagaimana Pendapat guru-guru SLB se Kota Padang tentang Pelaksanaan Pramuka Luar Biasa ?
2. Apakah terdapat Perbedaan pendapat antara guru-guru ditinjau dari sisi tingkat pendidikan, lama mengabdi, status pegawai negeri dan honorer ?
3. Apakah terdapat korelasi signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pramuka luar biasa ?
E. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Kepramukaan.
Pendidikan dalam gerakan pramuka dilaksanakan melalui proses pendidikan di luar lingkunagn sekolah dan diluar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar dan metode kepramukan yang sasaran akhirnya pembentukan watak. Gerakan pramuka di maksudkan dan diartikan secara luas sebagai suatu proses pembinaan sepanjang hayat yang berkesinambungan sumber daya/potensi peserta didik, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, sehingga menjadikan mereka sebagai manusia mandiri, peduli, bertanggung jawab dan berpegang teguh pada nilai dan norma masyarakat. Proses pendidikan terjadi karena adanya dua atau lebih manusia bertemu dalam pertemuan yang interaktif dan komunikatif. Pertemuan itu mulai di tingkat satuan terkecil (Barung Siaga, Regu Penggalang, Sangga Penegak, Reka Pandega), satuan besar (Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak, Racana Pandega), dan pertemuan ditingkat Gudep, Ranting, Cabang, Daerah, Nasional dan Internasional.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1999:24) mengemukakan pengertian Kepramukaan sebagai berikut dibawah ini:
Kepramukaan adalah proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan yang selaras akhirnya pembentukan watak dan kepribadian serta budi pekerti.

Suatu upaya untuk mengisi kebutuhan peserta didik yang tidak terpenuhi oleh pendidikan sekolah dan pendidikan dalam keluarga, hal itu dapat dilengkapi oleh kegiatan pramuka .Kegiatan tersebut dapat mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, minat untuk melakukan penjelajahan atau penelitian, penemuan dan keinginan untuk tahu. Melalui kepramukaan secara terus menerus dan berkesinambungan, peserta didik menemukan dunia lain diluar kelas, saling bertukar pendapat, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan kepramukaan.
Batasan mengenai Kepramukaan tersebut dapat juga kita ambil dari usaha gerakan pramuka dalam mencapai tujuannya seperti dikatakan labih lanjut oleh:
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1999:7) bahwa :
Gerakan pramuka dalam mencapai tujuannya melakukan usaha membina, melatih jasmani, panca indra, daya pikir, penelitian, kemandirian dan sikap otonomi, keterampilan dan hasta karya.

2. Prinsip Dasar Kepramukaan
Prinsip Dasar Kepramukaan sebagai norma hidup seorang anggota gerakan pramuka, ditanamkan dan ditumbuh kembangkan melalui proses penghayatan oleh, dari, dan untuk diri pribadinya. Peserta didik dibantu oleh pembina sehingga pelaksanaan dan pengamatannya dilakukan dengan penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggung jawab, serta keterkaitan moral, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat. Menerima secara sukarela prinsip dasar kepramukaan adalah hakekat pramuka, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, maupun individu yang menyadari bahwa diri pribadinya.
Mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan beribadah sesuai tata cara agama yang dipeluknya, serta menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mengakui bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan makhluk lain yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa khususnya sesama manusia yang tidak diberi derajat yang lebih mulia dari makhluk lainnya. Dalam kehidupan bersama didasari oleh prinsip peri kemanusiaan yang adil dan beradab. Diberi tempat untuk hidup dan berkembang oleh Tuhan Yang Maha Esa di bumi yang berunsurkan tanah, air dan udara yang merupakan tempat bagi manusia untuk hidup bersama, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan rukun dan damai.
Memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial serta memperkokoh persatuan, menerima kebhinekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memerlukan lingkungan yang bersih dan sehat agar dapat menunjang/memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidup dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik.
Prinsip Dasar Kepramukaan perlu ditanamkan pada peserta didik secara efektif dan efisien melalui kegiatan yang memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, yang akhirnya benar-benar menjadi bagian dari cara hidup peserta didik. Pelaksanaannya bukan diajarkan, bukan diinstruksikan, tetapi dididikkan secara sadar untuk menjadikan peserta didik sebagai manusia yang berimtaq (Iman dan Taqwa).
3. Program Peserta Didik (Prodik)
Kegiatan dalam kepramukaan sebagai bentuk proses pendidikan, merupakan totalitas apa yang dilakukan peserta didik dalam kepramukaan, bagaimana (metode) melakukannya, mengapa dilakukan (tujuan). Dengan kata lain kegiatan dalam kepramukaan yang dilakukan termasuk caranya dan tujuannya oleh peserta didik merupakan pengalaman total peserta didik. Pengalaman total ini merupakan proses pendidikan total peserta didik yang disebut dengan program peserta didik yang selanjutnya disingkat dengan Prodik. Kegiatan sebagai prodik harus sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi kaum muda dan masyarakat lingkungannya, bermanfaat baik untuk peserta didik maupun masyarakat, dan mentaati berdasarkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan serta menantang.
Apa yang dilakukan peserta didik, metode yang diterapkan dan tujuan yang mau dicapai, merupakan tiga bagian terpadu prodik. Kalau ketiga bagian itu tidak seimbang atau salah bagian tidak ada prodik tidak efektif. Dapat dimisalkan prodik sebagai tempat duduk berkaki tiga, kalau salah satu kakinya tidak berfungsi maka tempat duduk itu tidak ada gunanya. Apa yang dilakukan peserta didik berupa kegiatan merupakan faktor penting yang menarik peserta didik untuk mengikuti kegiatan secara sederhana diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan pramuka. Dari sudut pandang pendidikan, kegiatan ini merupakan pengalaman dalam kepramukaan yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditetapkan sebagai sasaran kegiatan.
Prodik meliputi semua aktivitas yang diikuti peserta didik dalam perkemahan, penjelajahan, pengabdian masyarakat, upaya untuk memperoleh TKU (Tanda Kecakapan Umum) dan TKK (Tanda Kecakapan Khusus), permainan, upacara, pertemuan barung, regu, sangga, perindukan, pasukan dan ambalan. Semua itu harus menarik dan menantang kaum muda. Kegiatan dalam kepramukaan sangat luas bahkan tidak terbatas bukanlah sifat kegiatan yang utama tetapi sasarannya. Metode pelaksanaannya melibatkan peserta didik dalam memutuskannya. Pengalaman merupakan penggerak pertumbuhan dan perkembangan pribadi peserta didik. Pengalaman dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi yang diikuti peserta didik dalam memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka. Prodik dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a Perencanaan : Disusun bersama peserta didik dan pembina pramuka sebelum kegiatan dilaksanakan.
b Pelaksanaan : Oleh peserta didik dengan dukungan pembina yang bertindak sebagai konsultan dan sebagai pembina atau pembimbing.
c Evaluasi : Oleh pembina dan peserta didik setelah kegiatan dilaksanakan.
Sasaran bina melalui periodik adalah kemantapan fisik, intelektual, emosi, sosial, dan spiritual peserta didik, sehingga akhirnya mereka menjadi pribadi yang mandiri, peduli, bertanggung jawab, teguh pada kebenaran yang diyakininya.
4. Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan tidak dapat dilepaskan dari Prinsip Dasar Kepramukaan (PDK) dan Metode Kepramukaan (MK) diterapkan secara terpadu. Keterkaitannya terletak pada pelaksanaan kode kehormatan pramuka, yang merupakan suatu sistem yang terdiri atas 8 (delapan) unsur yaitu : a). pengenalan kode kepramukaan, b). belajar sambil melakukan, c). sistem berkelompok, d). kegiatan yang menantang dan mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, e). kegiatan di alam terbuka, f). sistem tanda kecakapan, g). sistem satuan terpisah untuk putra dan putri, h). sistem among.
Peserta didik yang sebaya dikelompokkan dalam satuan kecil disebut barung, regu dan sangga yang beroperasi sebagai tim atau kelompok. Tiap tim diadakan pembagian tugas dan tanggung jawab demi kelangsungan hidup dan keberhasilan misi. Masing-masing tim memilih secara demokrasi pemimpin timnya. Pembina berperan sebagai pendukung, motivator, konsultan dan konselor.

5. Tingkat Dan Golongan Dalam Pramuka
Anggota Gerakan Pramuka dikelompokkan menurut umur serta kecakapan yang harus dimiliki. Adapun ruang lingkup pramuka digolongkan menjadi 4 golongan:
1. Golongan Siaga, umur 7-10 tahun dibagi atas a). siaga mula. b). siaga bantu, c). siaga tata. Anak seusia pramuka siaga dihimpun dalam satuan pramuka siaga yang disebut barung, satuan terkecil ini kemudian dihimpun dalam peridukan siaga. Dalam satuan inilah pramuka siaga mengalami proses pendidikan yang sesuai dengan perkenbangan anak yaitu seusia kepramukaan siaga. Jelasnya dunia anak merupa kan sebagian dari kepramukaan sebagai proses pendidikan progresif yang utuh atau komplit. Adapun macam pertemuan pramuka siaga yaitu : a). pertemuan kegiatan rutin disatuannya yang diselenggarakan seminggu sekali, b). pertemuan bersama yang disebut pesta siaga seperti: rekreasi, permainan bersama, bazar siaga, darma wisata, pentas seni dan budaya, perkemahan siang hari dan pawai hias.
2. Golongan penggalang, 11-15 tahun dibagi atas a). penggalang ramu, b). penggalang rakit, c). penggalang terap. Remaja usia pramuka penggalang dihimpun dalam satuan pramuka penggalang yang disebut regu, satuan terkcil ini kemudian dihimpun dalam pasukan penggalang. Bentuk kegiatan pramuka penggalang adalah : a). pertemuan dalam bentuk kegiatan rutin disatuan biasanya diselenggakan dalam seminggu sekali, b). pertemuan besar pramuka penggalang dapat diselenggakan antara lain dalam bentuk : latihan bersama, perkemahan, pentas seni/api unggun, penjelajahan, lomba tingkat regu penggalang, Jambore, perkemahan bakti penggalang.
3. Golongan penegak, umur 16-21 tahun dibagi atas : a). penegak bantara, b). penegak laksana. Pemuda seusia pramuka penegak dihimpun dalam satuan pramuka penegak yang disebut sangga, satuan terkecil ini kemudian dihimpun dalam ambalan penegak. Bentuk pertemuan pramuka penegak adalah : a). pertemuan dalam bentuk rutin di satuannya sendiri dalam kegiatan pengabdian diri sebelum melakukan kegiatan di luar satuannya, b). pertemuan bersama diselenggarakan dalam bentuk : pertemuan pramukan penegak putra dan putri disebut raimuna, seminar, lokakarya, diskusi, Latihan Pengembangan Kepemimpinan (LPK), Perkemahan Wirakarya (PW), Musyawarah Penegak Putra dan Putri (MUSPANITERA), temu satuan karya pramuka (Temu Saka), Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka (PERTISAKA).
4. Golongan pandega, umur 21-25 tahun, hanya terdiri dari satu tingkatan saja yaitu pandega. Adapun macam dan bentuk kegiatannya sama dengan kegiatan golongan penegak akan tetapi lebih banyak diarahkan pada kegiatan pengabdian masyarakat.
5. Kajian Konseptual Anak Luar Biasa
Anak luar biasa didefenisikan sebagai anak yang menyimpang dari kriteria normal atau rata-rata dalam mental, fisik dan neuromotor, sensorik, prilaku, komunikasi dan tunaganda. Untuk itu selanjutnya dijelaskan kalsifikasi tentang anak luar biasa.
a) Anak Tunanetra
Penglihatan adalah indra yang sangat penting bagi anak-anak dalam memperoleh informasi tentang alam lingkungan dimana mereka hidup. Ada dua pengertian tentang kerusakan penglihatan menurut ilmu kedokteran: seseorang yang ketajaman penglihatannya 20/200 atau kurang setelah perbaikan secara legal dinyatakan buta. Selain dari itu seseorang yang bidang penglihatannya sangat terbatas atau 20 derajat atau kurang secara legal dinyatakan buta.
Berdasarkan ilmu pendidikan anak buta mempunyai penglihatan yang sangat sedikit sehingga untuk belajar mereka harus menggunakan indera lain dengan mempertimbangkan keluasan tingkatan yang mana suatu tingkat kerusakan penglihatan menentukan materi dan metode-metode pendidikan khusus. Anak yang ketajaman penglihatannya rendah atau lemah dapat belajar melalui saluran penglihatan dan biasanya masih dapat membaca tulisan cetak.
Kerusakan pada penglihatan dapat disebabkan oleh rabun dekat (myopia), rabun jauh (nyperopia), ketidak teraturan pada kornea, katarak, tekanan pada bola mata dan lain-lain.
b) Anak Tunarungu
Anak-anak yang kehilangan pendengaran diantaranya anak yang kehilangan pendengaran sangat ringan, ringan dan sedang. Kelompok lain adalah tuli yaitu kehilangan pendengaran berat dan sangat berat.
Kemampuan mendengar dapat digolongkan dalam dua tingkat. Orang yang tuli yang tidak dapat mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya dan orang yang kehilangan pendengaran yang masih dapat menggunakan pendengarannya untuk mengerti pembicaraan orang lain, baik dengan maupun tanpa alat bantu dengar. Kerusakan pendengaran dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yaitu:
a. Menurut waktu terjadinya yaitu kerusakan pendengaran bawaan yang sudah ada pada saat kelahiran dan setelah kelahiran.
b. Yang dikaitkan dengan perkembangan bahasa, yaitu pendengaran rusak sebelum atau sesudah bahasa dan bicaranya berkembang.
c. Berdasarkan tempat kerusakan di bagian telinga, yaitu kerusakan pendengaran konduktif dan sensori-neurol, campuran serta sentral.
d. Pendengaran yang rusak hanya satu telinga saja atau kedua belah telinga.
c) Anak Tunagrahita
Defenisi anak tunagrahita atau retardasi mental mencakup tiga komponen utama, yaitu subnormalitas intelektual, perilaku adaptif, dan terjadi pada masa perkembangan. Defenisi tunagrahita tergantung sebagian pada karakteristik anak dan sebagiannya lagi tergantung pada harapan-harapan lingkungan sosial.
Anak dengan intelegensi rendah dicirikan oleh suatu keterbatasan kemampuan mengasosiasikan ide-ide dan peristiwa-peristiwa, telah diklasifikasikan untuk keperluan pendidikan sebagai anak lamban belajar, mampu didik, mampu latih, tunagrahita berat atau mampu rawat.
Faktor penyebab anak tunagrahita antara lain : a). faktor genetik, b). kerusakan biokimiawi, c). abnormalitas kromosom anak akan menjadi retardasi mental dan d). sindrom down (mongolism). Penyebab tunagrahita pada masa prenatal seperti infeksi rubella, faktor rhesus. Perinatal terutama luka-luka saat kelahiran, sesak nafas dan prematuritas. Sedangkan penyebab postnatal adalah penyakit akibat infeksi dan problem nutrisi yang diderita pada masa bayi dan awal masa kanak-kanak. Selain dari itu sosiokultural dapat juga menyebabkan anak retardasi mental, intelektual anak dapat berkembang apabila mereka berada dalam lingkungan manusia.
d) Anak Tunadaksa
Tunadaksa dapat diartikan cacat tubuh. Cacat tubuh atau kerusakan tubuh disebabkan karena gangguan atau kerusakan fisik yang ada kaitannya dengan gangguan kesehatan. Otak adalah pusat kontrol seluruh tubuh manusia, apabila ada suatu yang salah pada otak seperti luka atau infeksi, dapat mengakibatkan sesuatu pada fisik atau tubuh, emosi, atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang terjadi pada otak atau bagian otak, baik sebelum, saat, maupun sesudah kelahiran dapat menyebabkan retardasi mental (tunagrahita), gangguan bahasa, ketidakmampuan membaca, menulis, memahami kata-kata dan tidak adanya koordinasi berbagai macam gerak.
Cerebral palsy merupakan salah satu jenis gangguan atau kerusakan fisik yang paling banyak dijumpai pada anak-anak usia sekolah. Cerebral palsy dibedakan dalam 5 tipe diantaranya: spastik (mengejang), athetoid (gerakan-gerakan yang tiba-tiba tanpa sengaja), ataxia (kurangnya koordinasi dan kesinambungan), riged (kekakuan pada anggota tubuh), tremor (gerakan-gerakan yang tidak berirama tanpa terkontrol).
e) Anak Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan dalam perilaku, mereka sering diberi nama dengan istilah emotionally disturbed, socially masladjusted, psychologically disordered, atau emotionally handicapped. Apabila tingkah laku mereka secara ekstrim tidak normal maka mereka mendapat istilah dengan psikotik atau autistik. Pada umumnya anak-anak ini tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan lingguhan, mereka mempunyai kelainan prilaku yang jarang disukai oleh siapa saja, baik oleh teman-temannya, gurunya, saudara-saudaranya maupun oleh orang tuanya, lebih buruk lagi kadang-kadang mereka tidak menyukai diri mereka sendiri.
Anak berkelainan perilaku yang secara fisik tidak berkelainan, akan tetapi karena prilaku yang berbahaya atau karena menjadi terisolasi merupakan hambatan yang berat bagi perkembangan dan belajar mereka sehingga tampak seperti anak yang lamban belajar mereka memerlukan layanan pendidikan luar biasa.
Faktor penyebab terjadinya gangguan emosional atau prilaku diantaranya frustasi yang terus menerus karena sering menghadapi konflik atau kegagalan. Kesedihan yang mendalam pada masa kanak-kanak karena perpisahan atau kematian orang yang sangat dicintainya, menahan perasaan pada awal tahap perkembangan dapat menyebabkan kehilangan kemampuan oral pada masa bayi atau anak-anak.
Kerusakan otak dianggap oleh para ahli sebagai penyebab lain penyimpangan perilaku. Beberapa ahli beranggapan bahwa semua anak lahir dengan temperamen biologis tertentu. Walaupun tempramen yang dibawa sejak lahir itu tidak dapat dianggap sebagai penyebab masalah-masalah perilaku, akan tetapi kecenderungan menyebabkan masalah-masalah anak. Kejadian tertentu mungkin tidak menimbulkan perilaku yang tidak normal bagi anak-anak yang bertemperamen masa bodoh, tetapi tidak menimbulkan gangguan prilaku bagi anak-anak yang bertemperamen sulit. Kemungkinan sebab-sebab yang sifatnya biologis akan tampak secara jelas pada anak-anak yang mempunyai gangguan prilaku yang berat dan sangat berat.
6. Kegiatan Pramuka Bagi Anak Luar Biasa
Anak luar biasa merupakan anak yang mengalami kelainan dari segi fisik, mental, emosi, sosial dan tingkah laku sehingga dalam pendidikannya membutuhkan pelayanan dan penanganan secara khusus untuk mengembangkan sisa kemampuannya secara optimal. Program pengajaran yang direncanakan dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan untuk anak luar biasa prioritas pendidikannya pada pemberian ilmu pengetahuan, keterampilan praktis dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses belajar mengajar lebih banyak diarahkan pada materi-materi yang bersifat konkrit, langsung pada benda dan alam yang sebenarnya agar materi yang disampaikan pada anak didik dapat diserap dengan baik dan setia.
Seorang guru sebaiknya mampu menciptakan suasana dalam proses belajar mengajar yang menarik, menyenangkan, kondisinya seperti dirumah sendiri, sehingga dapat memotivasi minat dan interest anak didik untuk mengikuti kegiatan belajar. Kegiatan pramuka sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan yang merupakan pelengkap pendidikan sekolah dan pendidikan dalam keluarga, dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki atau belum dimiliki oleh peserta didik. Kegiatan dilaksanakan di alam terbuka yang dirasakan oleh peserta didik sangat menyenangkan, menarik, tidak menjemukan, bukan bersifat paksaan. Jelasnya kegiatan pramuka bersifat rekreatif, edukatif, sehingga dapat mengembangkan kemantapan fisik, mental, emosi, sosial, pengetahuan, keterampilan dan spiritual.
Berdasarkan uraian tersebut maka kegiatan pramuka dapat diberikan kepada anak luar biasa untuk mengembangkan fisik, mental, emosi, sosial, dan tingkah lakunya, pengetahuan dan serta keterampilannya. Oleh karena itu disetiap sekolah luar biasa dalam programnya sebaiknya diadakan kegiatan pramuka sebagai program ekstra kurikuler yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketetapan peserta didik. Secara teknis bentuk kegiatan dan tingkatannya sama dengan pramuka biasa, akan tetapi pramuka luar biasa berhak mengikuti kegiatan yang diadakan untuk pramuka biasa, sesuai dengan bentuk dan jenis kegiatan yang biasa diikutinya.
Tujuan pramuka anak luar biasa tidak terlepas dari yang tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) gerakan pramuka. Secara khusus tujuan tersebut dapat mengembangkan pengetahuan dan pengalaman bagi pramuka luar biasa dengan menyajikan bentuk kegiatan yang menarik dan mengandung usaha rehabilitasi dan pendidikan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan anak dan pemuda dewasa.
E. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang:
1. Pendapat guru-guru SLB se Kota Padang tentang Pelaksanaan Pramuka Luar Biasa.
2. Perbedaan pendapat antara guru-guru ditinjau dari sisi tingkat pendidikan, lama mengabdi, status pegawai negeri dan honorer.
3. Korelasi signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pramuka luar biasa.
G. KONTRIBUSI PENELITIAN
Penelitian yang peneliti lakukan ini diharapkan mempunyai nilai dan memberikan manfaat antara lain:
1. Tentang pendapat guru sekolah luar biasa terhadap pelaksanaan kegiatan kepramukaan luar biasa di Kota Padang.
2. Meningkatkan pemahaman guru-guru terhadap manfaat pramuka bagi anak luar biasa.
3. Informasi bagi orang tua anak luar biasa sehingga mau memberi kesempatan pada anak untuk latihan pramuka luar biasa.
H. METODELOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Metode yang digunakan agar tujuan penelitian tercapai harus sesuai dengan masalah yang diteliti, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Maka untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan menurut para ahli :
Menurut Suharsimi Arikunto (1989:291) :
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.

Populasi dan Sampel.
1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah guru-guru SLB sekota Padang sebanyak 14 buah SLB yang terdiri dari 130 orang guru.
2. Sampel Penelitian .
Peneliti akan mengambil sampel guru sekolah luar biasa dengan pertimbangan sebagai berikut :
a). Sekolah luar biasa yang sudah memiliki gudep
b). Guru sekolah luar biasa yang sudah mengajar + 5 tahun
c). Guru yang memiliki latar belakang pendidikan luar biasa
d). Guru yang memiliki sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD)
Teknik Pengumpulan Data.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Angket yang merupakan suatu teknik pengumpulan data melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti.
Teknik Analisa Data.
1. Untuk menganalisis pertanyaan tentang pendapat guru-guru ditetapkan dengan membandingkan skor maksimal ideal dibagi dua. Jika hasil pengukuran lebih besar dari titik tentgah skala pengukuran artinya guru mempunyai sikap positif terhadap pramuka luar biasa.
2. Untuk menganalisis ada tidaknya perbedaan pendapat antara guru-guru ditinjau dari sisi tingkat pendidikan, lama mengabdi, status pegawai negeri dan honorer akan dianalisis dengan menggunakan rumus analisis varian (one way).
3. Untuk menjawab apakah terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pramuka luar biasa akan digunakan rumus tata jenjang dari sperman.aka seluruh data akan diolah dianalisis dengan menggunakan Program SPSS.

I. JADWAL PELAKSANAAN
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam jangka waktu 6 bulan terhitung sejak ditandatangani kontrak kerja dengan rincian:
1. Pemantapan rancangan penelitian : 0,5 bulan
2. Penyusunan instrumen : 1,0 bulan
3. Uji coba dan analisis instrumen : 0,5 bulan
4. Pelaksanaan penelitian : 1,5 bulan
5. Pengolahan dan analisis penelitian : 0,5 bulan
6. Penulisan Draf laporan : 1,0 bulan
7. Revisi dan penulisan draf akhir : 0,5 bulan
8. Penggandaan laporan penelitian : 0,5 bulan
J. PERSONALIA PENELITIAN
1. Ketua peneliti :
Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
Pangkat/Gol/NIP : Penata muda/IIIb/132092865
Jabatan : Asisten ahli
Pendidikan terakhir : Pasca Sarjana IKIP Bandung

2. Anggota Peneliti :
Nama lengkap : Dra. Irdamurni, M.Pd
Pangkat/Gol/NIP : Penata Tk I/IIId/131689819
Jabatan : Lektor muda
Pendidikan terakhir : Pasca Sarjana UNP Padang

J. Prakiraan Biaya Penelitian
No. Rincian Biaya Kegiatan Penelitian @ dalam Rupiah (Rp)
1. Honorer Pelakasana Penelitian:
a. Ketua Pelaksana
b. Anggota Pelaksana I
c. Anggota Pelaksana II
750.000
500.000
500,000
2. Bahan dan alat Penelitian:
a. Kertas duplicator 2 rim
b. Kertas HVS 80 Gram 2 rim
c. Disket 2 buah
d. Tinta Refil komputer 1 buah
50.000
50.000
20.000
35.000
3. Pelaksanaan peneliatian
a. Penjajakan ke lokasi penelitian
b. Pengurusan surat izin penelitian
c. Penyusunanan, uji coba, revisi instrumen
d. Penggandaan intsrumen penelitian
e. Pengumpulan data ke lapangan
250.000
50.000
500.000
500.000
500.000
4. Pengolahan dan analisis data
a. Verifikasi dan tabulasi data
b. Analisis / pembahasan hasil penelitian
200.000
300.000
5. Pembuatan dan penggandaan laporan
a. Peneulisan draf awal
b. Revisi dan penulisan final
c. penggandaan laporan
d. Seminar hasil penelitian.
300.000
400.000
500.000
250.000
Jumlah: (Enam Juta Rupiah) Rp. 6.000.000

DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono, (1987). Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik. Bandung : Tarsito
Bob Sunardi, Amdri. (2001). Boyman Ragam Latih Pramuka. Bandung : Nuansa Muda.
John Rahmad. (1998). Buku 2 Himpunan Kursus Pelatihan Lanjutan Plus. Padang Kwarnas.
Kirk, A Samuel. (1989), Alih bahasa M . Amin dan Ina Yusuf, Pendidikan anak luar biasa, DNIKS, Jakarta.
Kwarda. (1995). Pedoman Pembina Gudep. Sumatera Barat. Kwarda.
Kwarnas. (1993). Petunjuk Penyelenggara Kegiatan Pramuka Luar Biasa. Jakarta : Kwarnas
Lemdikanas. (2000). Materi Diklat Pembina Pramuka bagi Guru, Kepala Sekolah, Pengawas TK, SD. Jakarta Kwarnas.
Muljono Abdurrachman, (1994), Pendidikan Luar Biasa Umum, Depdikbud, Jakarta.
Mohammad Nazir. (1983). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Marnis Nawi, (1989). Metodologi Penelitian. Padang : IKIP.
Moh. Ali. (1987). Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung : Angkasa
Sutrisno Hadi,. (1991). Metodologi Research. Jakarta : Andi Offset.
Sudjana. (1975). Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.
Suharsimi Arikunto,. (1992). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
______ (1993), Manajemen Penelitian Rineka cipta, Jakarta.
______ (1993), Prosedur penelitian, Rineka cipta, Jakarta.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI
1. Nama : Drs. Jon Efendi, M.Pd
2. NIP : 132 092 865
3. Status Dosen : Dosen tetap (biasa) Negeri
4. Tempat tanggal lahir : Padang tanggal 22 November 1965.
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Pangkat/golongan : Penata muda/ IIIb
7. Jabatan : Asisten ahli
8. Pendidikan tertinggi : – S2 IKIP Bandung 1999
9. Daftar Karya Ilmiah : 1. Efektivitas metode bermain dan ceramah dalam mengajarkan nilai nominal uang bagi anak tunagrahita ringan di SPLB Cipaganti Bandung (skripsi) 1992.
: 2. Pengembangan program bimbingan konseling perkembangan melalui kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan kemandirian anak tunagrahita ringan (Tesis) Bandung 1999.

FORMULIR ISIAN
USUL PENELITIAN DOSEN MUDA

1. a. Nomor ID : ............
b. Tahun anggaran: ........
2. Judul Penelitian : Pendapat Guru Sekolah Luar Biasa Se-Kota Padang Terhadap Pelaksanaan Kegiatan Pramuka Luar Biasa
3. Tim Peneliti :
No Nama Peneliti NIP Tgl Lahir Jabatan akademi Jenis kelamin Penddk terakhir
1. Jon Efendi 132092865 22-11-65 03 01 S2
2. Irda Murni 131689819 24-11-61 03 02 S2

4. Perguruan tinggi :
a. Nama : Universitas Negeri Padang
b. Kode : ……………
5. Fakultas :
a. Nama : Fakultas Ilmu Pendidikan
b. Kode : ……………
6. Penelitian yang diusulkan: Penelitian Dosen Muda
7. Kategori Penelitian : Meningkatkan keterampilan staf pengajar serta mengembangkan institusi.
8. Lingkup penelitian : 02 Wilayah
9. Bidang Ilmu yang diteliti: 03 Pendidikan
10. Lokasi Penelitian : Sekolah Luar Biasa
11. Macam penelitian : Angket
12. Lama dan waktu penelitian :
a. Lama Penelitian : 6 bulan
b. Bulan penelitian : 03-09
13. Biaya Penelitian :
a. Diusulkan : Rp. 6.000.000,-
b. Disetujui : Rp. ……………
c. Sumber biaya : ………………..
14. Jumlah artikel yang akan dipublikasikan :
a. Diseminarkan : 01
b. Ditulis diJurnal : 02

Padang 15 Februari 2003
Ketua Peneliti

Drs. JON EFENDI, M.Pd
NIP: 132092865


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.