PERKEMBANGAN MUTAKHIR DAN ISU GLOBAL BIMBINGAN DAN KONSELING

TIPIK 3
PENATAAN PENDIDIKAN PROFESIONAL
KONSELOR DI INDONESIA
a. Alur Pikir dan Penegasan Profesi Konselor: 1) Landasan hukum pendidikan profesi dan sertifikasi Konselor, 2) Spesifikasi kompetensi dasar profesi konselor, 3) Spesifikasi kompetensi profesi konselor yang dapat dilatihkan dengan mempertimbangkan kompetensi lulusan yang diharapkan, keluasan ruang (space) kurikulum, 4) Penetapan dan spesifikasi program pendidikan profesi konselor, 5) Pengembangan kurikulum pendidikan profesi konselor secara utuh, 6) Ragam program pendidikan profesi konselor bagi lulusan LPTK dan non-LPTK, dan program S1 pendidikan profesi konselor prajabatan (concurrent pre-service counselor training). Pengemasan kurikulum untuk program yang bervariasi merujuk pada ragam program: 1) Asesmen awal sebagai identifikasi kebutuhan pelatihan dan penempatan (training neesds assessment and placement), 2) Penempatan peserta pada program yang sesuai dengan hasil asesmen awal, 3) Pelaksanaan pendidikan profesi dan sertifikasi, 4) Ujian kompetensi untuk kelulusan dan sertifikasi konselor, 5) Pemberian gelar dan sertifikat konselor.
b. Standar Kompetensi dan Pengembangan Program Pendidikan Konselor
Kompetensi guru/Pendidik/Konselor menurut UU 14 Pasal 10: 1) Kompetensi pedagogik, 2) Kompetensi kepribadian, 3) Kompetensi sosial, dan 4) Kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kompetensi Konselor Menurut ABKIN: 1) Penguasaan Konsep dan Praksis Pendidikan, 2) Kesadaran dan Komitmen Etika Profesional, 3) Penguasaan Konsep Perilaku dan Perkembangan Individu, 4) Menguasai Konsep dan Praksis Asesmen, 5) Penguasaan Konsep dan Praksis Bimbingan dan Konseling, 6) Memiliki Kemampuan Mengelola Program BK, 7) Penguasaan Konsep dan Praksis Riset Dalam BK.
Kompetensi Utuh Profesi Konselor. Sosok utuh kompetensi profesi konselor yang merupakan penataan terpadu dari keempat kompetensi pendidik yang termaktub dalam PP No. 19 Pasal 10 terdiri atas kemampuan seperti berikut (Diadaptasi dari kompetensi guru, Raka Jini, 2006): 1) mengenal secara mendalam peserta didik yang hendak dilayani, 2) menguasai bidang ilmu yang melandasi layanan ahli BK dilihat dari segi : a) isi pengetahuan disiplin ilmu yangbersangkutan, dan, b) isi pengetahuan yang terkait dengan layanan BK, 3) menyelenggarakan layanan ahli dalam bimbingan dan konseling berbasis pedagogik, yang mencakup: a) perancangan program layanan bimbingan dan konseling berdasarkan serentetan keputusan situasional, b) implementasi program layanan BK termasuk penyesuaian sambil melaksanakan layanan (mid-service adjustments) berdasarkan keputusan transaksional yang sedang berlangsujng berhubung dengan reaksi unik dari klien (peserta didik) terhadap tindakan konselor, c) melakukan asesmen proses dan hasil layanan BK, 4) menggunakan hasil asesmen proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling dalam rangka perbaikan pengelolaan program dan proses layanan BK secara berkelanjutan, merujuk kepada ketercapaian tujuan utuh pendidikan sebagai rujukan normatif; dan, 5) mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan dan terpadu.

TOPIK 4
PENATAAN PENYELENGGARAAN BK DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL
a. Reposisi dan Rekonseptualisasi: Komprehensive Approach; Bidang reposisi dan rekonseptualisasi bimbingan konseling yang perlu dipikirkan meliputi; Sistem, substansi, dan konsep selingkup pendidikan konselor.
Sistem yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan konselor meliputi: 1) Kebijakan, 2) Perencanaan, 3) Organisasi, 4) Strategi Pelaksanaan, 5) Evaluasi, 6) Balikan, 7) Perbaikan, 8) Penjaminan Mutu Internal, 9) Akreditasi
Substansi dan Agenda Reposisi: 1) Konsep Konseling, 2) Konselor, 3) Program Studi Konseling, 4) Layanan
Konsep Konseling yang harus dibangun: 1) Visi, 2) Misi, 3) Tujuan, 4) Sasaran, 5) Landasan, 6) Makna/Definisi Konseling, 7) Organisasi Profesi/Keilmuan, 8) Standar.
Pengembangan/Penentuan Lembaga Sertifikasi Konselor: 1) Pemantapan makna/konsep dan spesifikasi sertifikat, sertifikasi, lembaga sertifikasi, dan lisensi, 2) Pengembangan LPTK sebagai Lembaga Sertifikasi Pendidik, 3) Penyusunan standar sertifikasi, 4) Pengembangan instrumen sertifikasi, 5) Penataan penilai/asesor dalam proses sertifikasi, 6) Spesifikasi persyaratan untuk penilai dalam proses sertifikasi, 7) Pembentukan kelompok penilai untuk sertifikasi, 8) Penyusunan Pedoman Sertifikasi Pendidik, 9) Penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Program Sertifikasi Pendidik.
Sertifikasi dan Lisensi; Pendidikan profesi dan sertifikasi pendidik/konselor dilanjutkan dengan pemberian lisensi bagi pendidik/konselor yang telah menyelesaikan program pendidikannya secara lengkap. Lembaga yang menerbitkan sertifikat pendidik/konselor seyogianya lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pendidik/konselor yang telah terakreditasi, adalah LPTK dengan program-program studi pendidikan tenaga kependidikan (guru kelas, guru bidang studi, dan tenaga kependidikan lainnya, seperti administrator pendidikan, pengembang kurikulum, pendidik luarsekolah, pendidik anak berkebutuhan khusus/luar biasa, konselor di dalam dan luar sekolah).
Ragam Program Pedidikan Profesi dan Sertifikasi Konselor; 1) Program terpadu dalam pendidikan prajabatan [concurrent] dengan program sertifikasi terdapat di dalamnya (built-in), 2) Program untuk lulusan prodi BK yang belum berpengalaman, 3) Program untuk lulusan prodi BK yang telah berpengalaman, 4) Program untuk lulusan non-BK yang telah berpengalaman, 5) Program untuk lulusan non-BK yang belum berpengalaman
b. Bimbingan dan Konseling yang Memandirikan: Layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan khususnya dalam jalur pendidikan formal, memetakan tiga wilayah layanan, yaitu layanan (a) administrasi dan manajemen, (b) kurikulum dan pembelajaran, dan (c) bimbingan dan konseling. Permen Diknas No. 22/ 2006 tentang Standar Isi, pelayanan bimbingan dan konseling diletakan sebagai bagian dari kurikulum yang isinya dipilah menjadi (a) kelompok mata pelajaran, (b) muatan local, dan (c) materi pengembangan diri, yang harus dilakukan oleh konselor kepada peserta didik.

TOPIK 5
GUIDANCE AND COUNSELING IN NON FORMAL
EDUCATION SETTING
a. Learning in non Formal Setting and Adulthood: Ada tiga klasifikasi penyelenggaraan pendidikan yaitu: (1) pendidikan formal (di sekolah); (2) pendidikan informal (di keluarga); dan (3) pendidikan non formal (di masyarakat: seperti tempat kursus, organisasi, tempat-tempat pelatihan, lembaga-lembaga konsultasi, panti asuhan, panti jompo, lembaga pemasyarakatan, karang taruna, rumah singgah, kelompok tani dan organisasi kemasyarakatan). “Peserta didiknya” biasanya relatif lebih berfariasi baik dari segi usia, tingkat pendidikannya, dan jangka waktunya pendek. Pendidikan non formal untuk tujuan-tujuan khusus tertentu. Di lembaga-lembaga seperti itu juga diperlukan layanan bimbingan dan konseling. Seperti di panti jompo, panti asuhan, panti sosial, yang selama ini jarang diperhatikan, mestinya dilakukan pelayanan bimbingan dan konseling. Dirasakan perlu pelayanan yang komprehensif, serta aspek-aspek dan tahap-tahap perkembangan. Prof. Sunaryo menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak pernah berakhir (never ending process). Misalnya untuk kesadaran kultural (cultural awareness), cultural intelligence, dalam rangka membangun community of learner,yang sifatnya multi level, multy chanel, dan multi setting (Para Rektor LPTK, 2009).
b. Guidance and Counseling Framework and its Aplication in Non Formal Setting; Banyak bidang-bidang pendidikan non formal di masyarakat; Misalnya pelatihan yang dilaksanakan oleh banyak Panti Sosial yang mendidik anak-anak putus sekolah, serta orang-orang yang memiliki waktu luang yang membutuhkan keterampilan meliputi; keterampilan menjahit, membordir, dan menyulam, berbasis keterampilan dan ekonomi rumah tangga, yang tujuannya agar mereka yang putus sekolah memiliki skill dan dapat berwira usaha secara mandiri. Aspek pelatihan semacam itu belum menggunakan sentuhan bimbingan konseling yang bertujuan mengembangkan sikap optimisme, memotivasi perubahan nasib, mind set orang yang ingin bergerak maju keperobahan nasib yang lebih baik. Glasser dengan teori Terapi Realitas dan Frankl dengan Logotrapinya, bahwa manusia harus mampu menemukan makna kehidupan yang harus dijalani untuk merencanakan masa depan. Pada pendidikan non formal mereka memerlukan interaksi yang mendidik, yang menumbuhkan rasa self-responsibility dan empaty.
Natawidjaja (2000:77 dalam Nur Faizah R) bahwa: “Pada masa mendatang, profesi konselor dan praksis bimbingan dan konseling tidak saja pada ruang lingkup sekolah, di masyarakat dalam arti lebih luas juga diperlukan, meskipun di sekolah sebagai salah satu bagian dari masyarakat.” Dedi Supriadi Supriadi 2003 dalam tulisannya berjudul “Reposisi Bimbingan dan Konseling di Tengah Lingkungan yang Berubah.” Sudah saatnya suatu pemikiran yang matang untuk merencanakan pendidikan bagi calon konselor yang dapat eksis dimasyarakat penggunanya sehingga kurikulum yang digagas harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman.
TOPIK 6
MULTICULTURAL ISSUE IN GUIDANCE AND COUNSELING

Sebagai bangsa Indonesia kita bersukur menjadi bangsa yang besar dengan budaya beragam. Budaya bangsa Indonesia tersebar di masing-masing wilayah di Indonesia dengan cultur yang berbeda-beda. Bak pepatah mengatakan “Lain padang Lain belalang, Lain lubuk lain ikannya” Ini mengandung makna bahwa setiap orang memiliki budaya yang mengakar pada sistem dan tatanan sosial dimana mereka hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan budayanya. Seseorang yang berbudaya artinya mereka memiliki dan menganut berbagai (nilai, norma, sikap, perilaku, bias-bias) di samping kecerdasan, minat, bakat, dan lain-lain. Dalam kehidupan modrnism orang akan bersosialisasi dalam tatanan kehidupan sosial masing-masing, dimana nilai-nilai budaya yang mereka anut sangat mewarnai cultur mereka masing-masing. Masyarakat perkotaan akan berinteraksi dalam bermacam-macam konteks, termasuk konselor dan klien (Supriadi, 2001:23). Lebih lanjut dikatakan oleh Corey & Callahan (1984), Biggs & Blocher (1986) dalam Supriadi (2001:24) bahwa persoalan budaya semakin crucial apabila intervensi konselor menyangkut hal-hal yang berada pada domain yang sangat pribadi, seperti keyakin-an, nilai, dan etik dalam konseling. Bagi kelompok tertentu tidak jadi soal jika diketahui orang lain semisal konselor, tapi ada kelompok yang menganggap “tabu”.
Di negara kita Indonesia sangat banyak kosa kata yang bermakna lain bagi suatu daerah (khususnya yang berdampingan) sehingga banyak pula orang salah memaknai kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicaranya, yang berlainan daerah dan budayanya. Contoh untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah atau Jawa Timur, banyak sekali kata-kata yang bermakna lain antar budaya masing-masing. Di Sumatera saja terdapat l2 wilayah yang berdekatan, dimana antara satu sama lainnya memiliki budaya yang berbeda meliputi; nilai-nilai sosial, adat istiadat, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, seni dan sastra. Terutama dalam hal kosa kata yang bisa bermakna lain, jika diartikan oleh orang yang berasal dari daerah berbeda. Jika dibiarkan sepertinya hal-hal yang sepele ini akan berdampak pertentangan dan persaingan antar budaya masing-masing, sehingga kontek pembicaraan akan berubah makna.
Jika dilibatkan dalam kasus yang lebih luas dalam konteks budaya, maka di Dunia ini, terdapat beribu-ribu macam budaya dimana satu sama lainnya tidak akan pernah nyambung dan sulit dipertemukan. Melalui konteks konseling lintas budaya tidak ada sesuatu hal yang tidak mungkin, dan konseling lintas budaya akan mewarnai kasanah keilmuan bagi kedua orang yang terlibat dalam proses konseling. Untuk hal ini seorang konselor perlu memahami konteks antar budaya, sehingga konseling yang diharapkan akan memiliki kesinambungan antara klien dan konselor dalam suatu sesi konseling. Oleh sebab itu peranan konseling lintas budaya menjadi sangat penting dipahami oleh para calon konselor, agar konseling berlangsung efektif dan produktif.

TOPIK 7
COMPETENCE CONNECTION IN GLOBAL PERSPECTIVES
a.The Essence of and the need for competence connection
Gardner; bahwa dalam suatu profesi, mereka harus memiliki keseriusan untuk melakukan pekerjaan dengan segenap kompetensi apapun karena pekerjaan berhubungan dengan produktivitas dan posisi kompetitif. “Anda perlu mengetahui kompetensi sekitar pekerjaan Anda.” Common competencies yang harus dikuasai oleh konselor sekolah, perkawinan, karir, traumatik, rehabilitasi, dan kesehatan mental. Untuk itu konselor harus kompeten dalam hal: 1) Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks sosial budaya, 2) Menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik antar maupun intrapribadi dan lintas budaya, 3) Menguasai strategi dan teknik asesmen yang memungkink¬an dapat difahaminya keberfungsian psikologis individu dan interaksinya di dalam lingkungan, 4) Memahami proses perkembangan manusia secara individual maupun secara sosial, 5) Memegang kokoh regulasi profesi yang terinternalisasi ke dalam kekuatan etik profesi yang mempribadi, 6) Memahami dan menguasai kaidah-kaidah dan praktek pen¬didikan
The Power of Prophecies Robert Rosenthal (Harvard University): a) Kita akan menciptakan iklim yang lebih hangat, dan ramah, kita menghargai karena lebih trampil atau layak, b) Kita akan lebih dapat menantang informasi klien, c) Dinamika pelaksanaan diri sendiri menjadi sangat kuat sehingga mempengaruhi hasil eksperimen
Prophecies of Competence: The Managerial Challenge: 1) Kita harus mengorganisir diri sendiri dan mengatur landasan pemikiran, mempunyai kecerdikan, kerajinan, dan perhatian, 2) Mengatur profesi berdasarkan kompetensi, kita perlu mengubah tugas-tugas managerial, 3) Para manajer harus sejati dan, tindakannya harus sesuai.
Buhmester, dkk (1988 : 933) menemukan 5 aspek kemampuan interpersonal, yaitu: 1) Kemampuan berinisiatif; 2)Kemampuan bersikap terbuka (self disclosure);3) Kemampuan bersikap asertif; 4) Kemampuan memberikan dukungan emosional; 5)Kemampuan Mengatasi Konflik;
b. Its Implikations For Guidance and Counseling Services
Tiga kompetensi global yang harus dimiliki seorang konselor: Global knowledge, ini berkaitan dengan isu-isu global dan berita-berita dunia saat ini diantaranya: HIV AIDs, Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif), trafficking dan child abuse termasuk kekerasan dalam rumah tangga, terorisme, pemanasan global (global warming), penjualan manusia (trafficking). Empati Menurut Corey (2008), berhubungan erat dengan kemampuan menerima dan memahami pemikiran (reference) klien. Seorang konselor harus; Fleksibilitas dan adaptability; toleransi dan kesabaran; rasa homor; keingintahuan secara intlektual dan sosial; kepercayaan diri dan control; kemampuan berkomunikasi. Keterampilan yang berkaitan dengan keterampilan dalam berbahasa atau kemampuan memahami bahasa yang lebih luas dan keterampilan interpersonal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan profil konselor dalam perspektif global, diantaranya: 1) Memiliki mindset longlife learning, 2) Melakukan asesmen, 3) Memiliki pengetahuan dan keterampilan bimbingan dan konseling, 4) Keterampilan membina hubungan multidisipliner.
TOPIK 8
HUMAN DEVELOPMENT ISSUES IN GLOBAL CONTEXT
Konseling Bagi Anak Berbakat
Konseling AB baru mendapatkan sedikit perhatian. Padahal kemampuan peserta didik untuk mengeksplorasi, memilih, berjuang, meraih serta mempertahankan karier itu ditumbuhkan secara isi mengisi atau komplementer oleh konselor dan guru dalam setting pendidikan. Jika dicermati, pengembangan diri peserta didik secara utuh dan maksimal lebih banyak terkait dengan wilayah layanan guru, yaitu dengan pembentukan berbagai dampak pengiring yang relevan dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang mendidik menggunakan materi kurikulum sebagai konteks kegiatan belajar. Dalam setting pendidikan formal, kontribusi guru masih parsial sehingga perlu dilengkapi oleh konselor.
Bimbingan konseling yang memandirikan, harus bahu-membahu dengan guru dalam wilayah komplementer. Pemikiran ini didasarkan atas kenyatan keberbakatan ditemukan pada tingkat agak berbakat, berbakat, dan sangat berbakat. American Psychiatric Association (1980) melaporkan tidak seorang pun menyarankan individu agak terbelakang diberi pelajaran pada level sama dengan yang sangat terbelakang.
Milgram (1991) membagi kebutuhan AB akan bimbingan konseling dalam katagori : kognitif-akademik, pribadi-sosial, dan pengalaman. Dalam kontreks kognitif-akademik, anak berbakat memerlukan pengetahuan diri, peluang akademik dan karir. Mereka membutuhkan informasi spesifik mengenal kombinasi unik kemampuannya. Dalam konteks pribadi sosial, anak berbakat memerlukan konseling dalam lingkup pribadi-sosial untuk menyadari kemampuan khususnya. Adapun dalam konteks kebutuhan pengalaman, AB membutuhkan pengalaman diluar sekolah, baik dalam keluarga, masyarakat, dan berupa aktivitas di waktu senggang.
Anak berbakat memiliki sikap perfectionist, mereka takut akan kegagalan, namun pada kasus perempuan berbakat terjadi sebaliknya mereka takut akan kesuksesan (Kaslow dan Schwartz, 1978). ”Takut Kegagalan” disebabkan oleh harapan diri sendiri yang besar dan faktor luar untuk berpenampilan sempurna dan ”Takut akan Kesuksesan” membahayakan prestasi anak-anak berbakat dikelas. Jika tidak mencoba, tentunya ia tidak akan gagal. Jika tidak mencoba, tentunya ia akan kehilangan kesempatan untuk belajar, dan meraih prestasi, dan untuk aktualisasi diri (Whitmore, 1986).
Aspek lain yang harus diperhatikan adalah prestasi rendah pada anak-anak berbakat. Hal ini terjadi karena kurangnya motivasi mereka dalam berbagai bidang studi yang akan menjadi masalah bagi guru dan orang tua. Bagi anak berbakat, ” Penolakan kesempatan untuk ikut dalam program akademik yang lebih menantang bisa menjadi pilihan untuk menghindari konflik psikologis yang dialami murid-murid pada kegiatan yang sama, (Whitemore, 1986). Hal ini karena mereka berada dalam lingkungan kelas tradisional secara eksklusif dan tidak mengambil semua keuntungan dari semua kesempatan yang terbuka untuk mereka. Bagi anak perempuan hukuman itu terpusat pada penolakan sosial atau social rejection, khususnya pada usia pra-remaja (Hollinger, dan Fleming, 1984).

TOPIK 9
ONLINE ON TELEPHONE BASED COUNSELING:
NEEDS, PROBLEMS, AND ETHICAL ISSUES
Pada tatanan global seluruh umat manusia di dunia dihadapkan pada tantangan yang bersumber dari perkembangan global sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu perngetahuan dan teknologi. Menurut Robert B Tucker (2001) dalam makalah M. Surya pada Seminar dan Workshop Bimbingan dan Konseling (BK) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu: (1) kecepatan, (2) kenyamanan, (3) gelombang generasi, (4) pilihan, (5) ragam gaya hidup, (6) kompetisi harga, (7) pertambahan nilai, (8) pelayananan pelanggan, (9) teknologi sebagai andalan, (10) jaminan mutu dalam konteks global.
Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan landasan-landasan filosofis dari orientasi baru bimbingan dan konseling, yaitu : Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya.
Tidak dapat disangkal bahwa saat ini kita hidup dalam dunia teknologi. Pelling (2002) ketergantungan kepada teknologi ini tidak saja di kantor, tetapi sampai di rumah-rumah. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Pelling (2002) menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Sampsons (2000) mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1) Dapat meningkatkan kreativitas, keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, kelas lebih menarik;
2) Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa;
3) Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan;
4) Memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email;
5) Tidak akan memunculkan kebosanan;
6) Silabus, kurikulum mudah diperoleh siswa melalui website; dan
7) Terdapat pengaturan yang baik

TOPIK 10
ETHICAL AND PROFESSIONAL ISSUES
OF GUIDANCE AND COUNSELING
Ada pendapat bahwa Program Studi Akademik yang mempunyai misi pengembangan ilmu dikembangkan terpisah dari Pendidikan Profesi yang memiliki misi mendidik tenaga profesi dalam bidang tertentu. Pendapat ini menyebabkan kedua jenis program studi itu dikembangkan sendiri-sendiri. Misalnya pendidikan keilmuan dalam bidang konseling dikembangkan dan dilaksanakan terpisah dari program pendidikan konselor.
Definisi konseling professional; Profesi yang terfokus pada relasi dan interaksi antara individu dan lingkungan dengan tujuan untuk membina perkembangan diri, dan mengurangi pengaruh hambatan-hambatan lingkungan yang mengganggu keberhasilan hidup dan kehidupan individu. Konselor; Secara tradisional, konselor diasosiasikan dengan bidang pendidikan [di sekolah] (M.S., M.S.E. atau Ed.D.) 1) Di Indonesia, secara eksplisit, konselor digolongkan ke dalam kategori pendidik (UUSPN tahun 2003). 2) Konselor merupakan lulusan pendidikan konselor (konselor sekolah) dengan latar pendidikan magister konselor, 3) 1960s – 1970s, di Amerika posisi konselor sekolah sudah penuh dan beralih ke arah konseling perkawinan/keluarga, dan kanak-kanak, 4) Selanjutnya berkembang ke arah penanganan permasalahan hidup dan kehidupan individu pada umumnya, 5) Misi konselor ditekankan pada penanganan perkembangan yang normal.
Kredensial Konselor; 1) Sertifikat yang mendokumerntasikan keberhasilan profesional berupa pengetahuan dan kompertensi, 2) Menuntut suatu proses baku untuk mengukur keberhasilan/pencapaian kompetensi, 3) Diberikan oleh suatu badan yang telah diakui, 4) Standar dikembangkan dan dimonitor oleh kelompok profesional yang diakui. Sertifikasi dan Lisensi; Pendidikan profesi dan sertifikasi pendidik/konselor dilanjutkan dengann pemberian lisensi bagi pendidik/konselor yang telah menyelesaikan program pendidikannya secara lengkap. Permasalahannya adalah : Siapa yang menerbitkan sertifikat pendidik/konselor? Siapa yang memberikan lisensi berupa izin kerja bagi pendidik/konselor yang bersertifikat? Lembaga yang menerbitkan sertifikat pendidik/konselor yakni lembaga pendidikan yang telah terakreditasi dan berwewenang mengangkat dan mempekerjakannya. Pejabat di Pemda, yaitu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Lembaga yang memberikan lisensi pendidik di luar sistem sekolah dan instansi swasta di luar sekolah adalah Asosiasi/organisasi profesi yang telah diakui pemerintah.

Kepustakaan
ALPTKI. 2009. “Pemikiran Tentang Pendidikan Karakter dalam Bingkai Utuh Sistem Pendidikan Nasional”. Jakarta.
Dedi Supriadi. 2001. “Konseling Lintas Budaya: Isu-isu dan Relevansinya di Indonesia.” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bimbingan dan Konseling pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia Tanggal 18 Oktober 2001.
Dedi Supriadi. 2003. “Reposisi Bimbingan dan Konseling di Tengah Lingkungan yang Berubah.” Jurnal Ilmiah Ta’dib Vol. VI No. 2 hal. 25-32.

Dirjen Dikti, Depdiknas. 2008. “Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.” Jakarta.

Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional ;2007 : 187

Hackney, Harold L. & Cormier, Sherry. 2009. “The Professional Counselor, A Process Guide to Helping”. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Hall, Jay. 1988. “The Competence Connection, A Blue Print for Excellencs: Teleometrics International”

Ki Supriyoko. 2004. “HDI Indonesia Tetap Rendah”. http://www.undp org.id.

Nur Faizah Romadona. 2009. “Human Development Issues in Global Context, Konseling Dalam Bidang Kesehatan.” UPI, Bandung: Power Point

Sunaryo, Kartadinata. 2009. “Kerangka Kerja Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan, Pendekatan Ekologis Sebagai Suatu Alternatif.” Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

UNDP. 2007. “Human Development Report 2007/2008, Fighting Climate Change: Human Solidarity in a divided world”. New York: United Nations Development Programme.

2 Tanggapan to “PERKEMBANGAN MUTAKHIR DAN ISU GLOBAL BIMBINGAN DAN KONSELING”

  1. nurul Says:

    bagus, untuk kdepanya lebih semangat ya…………. fithing!!!

  2. bImbingan kOnseling | werkudoro19 Says:

    […] https://jofipasi.wordpress.com/2010/02/12/perkembangan-mutakhir-dan-isu-global-bimbingan-dan-konselin…, kamis, 30 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: