ASSESING ENVIRONMENTAL FACTORS ( Meng-ases Faktor-faktor Lingkungan)

ASSESING ENVIRONMENTAL FACTORS
( Meng-ases Faktor-faktor Lingkungan)

Bab ini membahas proses-proses asesmen yang berkaitan dengan klien dalam itekrasi dengan lingkungan, mendeskripsikan teori interaksi, konsep setting, prinsip-prinsip ‘optimal manning’ sebagai faktor pengontrol interaksi manusia dengan lingkungan.
Dan memperkenalkan konsep ekologis sosial, enam dimensi dasar anlisis ekologis dan konsep kesesuaian antara orang dengan lingkungannya. Selanjutnya mendeskripsikan model konseptual dari Pervin dan Holland, yang dikuti dengan pembahasan tentang bermacam instrumen yang digunakan untuk mengurkur karakteristik lingkungan.
Diakhirnya mendeskripsikan pola-pola fungsional reinforcement dalam kaitan dengan pandangan behavioral tentang asesmen lingkungan dan memberikan peringatan tentang interpretasi pola reinforcemen dalam suatu lingkungan.
Melihat topik yang ada, maka para ilmuwan sejak beberapa tahun ini telah mengakui bahwa tingkah laku manusia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Bila melihat kepada bab sebelumnya, pendekatan behavioral menfokuskan pada interaksi antara kontingensi dan reinforcement. Kurt Lewin mengemukakan ‘field theory’ dan menyatakan tingkahlaku manusia dalam rumus B = f (P,E) dengan keterangan bahwa B diartikan semua tingkah laku, f = fungsi, P = persepsi individual dan E = lingkungan.

Teori Barker tentang Interaksi antara Orang dengan Lingkungan
Barker memformulasikan pendekatan dengan asumsi dasar bahwa setting tingkah laku membentuk tingkah laku orang yang ada di dalamnya. Dan menunjukkan bahwa awal permasalahan dalam psikologi ekologis adalah mengidentifikasi unit natural sehingga bisa diamati interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
Karakteristik Setting Tingkah Laku
Barker (1978) menunjukkan beberapa karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh setting tingkah laku atau unit ekologis dalam membantu untuk memahami interaksi antara orang dengan lingkungannya, yaitu : (1) memiliki satu waktu dan lokus, artinya spesifik dalam hal waktu dan tempat, (2) memiliki batas-batas, artinya batas-batas bisa berubah bila kegiatan dan lingkungan fisik berubah, (3) mempunyai keberadaan secara fisik dan obyektif (4) mempunyai dua perangkat komponen yaitu tingkah laku dan obyek yang berkaitan, (5) Unit totalnya mencakup dan mengelilingi komponennya, (6) Orang dan kegiatan berhubungan dengan obyek fisik, (7) pola dalam batas-batas wilayah dapat mudah dibedakan dari poila duluar batas.
Karena Setting psikologis mempunyai semacam kesatuan psikologis dan integritas yang muncul dan saling ketergantungan antar bagian manusia, ruang, dan fisiknya. Bila kita lihat setting tingkahlau di kelas, ada kesatua psikologis antara behavioral dan non behavioral satu sama lain saling tergantungan..
Dengan mempergunakan setting tingkah laku sebagai unit analisis, Barker dan kawan-kawan berhasil menemukan sejumlah hubungan menarik antara karakteristik setting tingkahlaku dan tingkah laku yang berlansung didalamnya.
Prinsip-prinsip’manning’
Barker dan kawan-kawannya mengembangkan prinsip’optimal manning (jumlah manusia yang optimal). Prinsip ini tumbuh dari hasil penelitian yang intensif terhadap perbedaan-perbedaan tingkah laku siswa di sekolah yang ukurannya berbeda. Ia dan kawan-kawan menemukan bahwa kesempatan untuk berpartisipasi dalam setting tingkah laku ditentukan oleh jenis kegiatan yang dilakukan dan bukan oleh jumlah orang yang berpartisipasi didalamnya.
Dalam mempelajari fenomena’undermanning’ Barker dan kawan-kawan menemukan perbedaan antara setting’ undermanned’(kurang orang) dan setting overmanned (kelebihan orang). Dalam setting undermanned mereka menemukan bahwa :
1. Orang bekerja lebih keras kecenderung mengerjakan pekerjaan yang lebih tinggi.
2. Orang lebih cendrung terlibat dalam bermacam kegiatan
3. Kurang sensitivitas dan kebutuhan akan evaluasi
4. Standar performal lebih rendah
5. Tiap individu mempunyai kedudukan yang penting bagi kelompok
6. Tiap individu diberi tanggung jawab pribadi yang lebih besar
7. Individu mencapai identitas yang lebih besar dengan kelompok
8. Individu yang sukses juga mengalami kegagalan yang lebih banyak
9. Individu mungkin lebih terlibat dengan performannya.

Konsep Ekologi Sosial
Salah satu alternatif pendekatan terhadap apa yang dikemukakan Barker adalah’ekoligi sosial’dikemukakan oleh Rudolf Moos (1976). Secara esensi pendekatan ekologi sosial memfokuskan pada hubungan antara variabel tingkah laku dalam suatu lingkungan. Ekologi sosial memfokuskan pada persepsi dan kognisi orang tentang lingkungan dan bagaimana semua ini saling berpengaruh untuk akhir mengatur tingkah laku. Ekologi sosial berhubngan dengan enam dimensi dasar yang beroperasi dalam lingkungan sosial, yaitu: Dimensi ekologis, struktur organisasional (yang mencakup ukuran, rassio staf, upah, suvervisi, dan kontrol ),Karakteristik personal penghuni, setting tingkah laku, ciri fungsional atau reinforcement lingkungan, karakteristik psikososial dan iklim organisasional.

Konsep Kesesuaian Antara Orang dengan Lingkungan

Pervin (1968) telah mengembangkan sebuah pendekatan tentang interakssi antrara orang dengan lingkungan. Dia mengajukan hipotesis bahwa seseorang akan menunjukkan performan lebih tinggi dalam situasi yang sesuai dengan kebutuhan kepribadian dan keinginannya untuk tumbuh dan berkembang. Orang akan mencari dan tertarik pada faktor linkungan yang membawa harapan kepada yang lebih tinggi dan menghindarkan lingkungan yang menghalangi untuk mencapai cita-citanya.
Walaupun Pervin menyatkankan bahwa lingkungan mengandung unsur personal dan interpersonal, namun dia lebih memperhatikan unsur interpersonal. Teori yang diajukan menyatakan bahwa orang yang mempunyai self-esteen yang rendah lebih puas dengan dukungan sosial dari lingkungan.
Model baru yang dikembangkan oleh Holland (1973) berisi tentang tipologi orang dan lingkungan kerja. Model untuk asesmen environmental, yang dikemukakan didasarkan pada tiga asumsi. Pertama, model ini mengasumsikan bahwa orang dapat diklasifikasikan berdasarkan kemiripannya terhadap yang lain dalam hal tipe kepribadian, yaitu: (1) realistik, (2) investigatif, (3) artistik, (4) sosial, (5) menghibur, dan (6) konvensional. Tipe-tipe ini dapat digambar sebagai berikut:

Asumsi kedua adalah bahwa lingkungan manusia dapat dapat ditipekan dalam bentuk yang sama, artinya bahwa aktivitas yang terlibat dalamlinkungan manusia dapat dikategorikan pula dalam enam katergori yang sama, dapat kita klasifikasikan sebagaimana mengklasifikasikan orangyaitu, realistik, investigatif, artistik, sosial, penghibur dan konvensional. Asumsi yang ketiga menyatakan bahwa interaksi orang dengan lingkungan yang sesuai akan mengarah pada hasil yang dapat diprediksikan dan dapat dipahami sebagai fungsi dari interaksi antara orang dengan lingkungannya.

Konsep Enviromental Press (Tekanan Lingkungan)
Konsep ini telah diaplikasikan oleh Stern untuk mengkategorikan lingkungan. Konsep ini ini telah diaplikasikan oleh stern untuk mengkategorikan lingkungan. Pandangan tentang konsep pers lingkungan ini diambil dari proposisi lewin bahwa tingkah laku merupakan fungsikeadaan individu dan keadaan lingkungan. Pandangan ini kadang-kadang dinyatakan dalam persamaan ‘ kebutuhan x tekanan = kultur.
Henry Murray (1938) mengembangkan suatu kerangka teoritis yang didasarkan pada proposisi. Dia mendeskripsikan orang sebagai satu perangkat kepribadian dan mendefinisikan lingkungan sebagai tekanan yang berpengaruh terhadap individu.
Penelitian tentang model ini hanya sedikit jumlah dan mengungkapkan hasil yang juga beragam. Satu analisis faktor tentang kebutuhan dan variabel tekanan untuk 55 perguruan tinggi telah menghasilkan lima faktor utama yang mewakili’kultur’ perguruan tinggi, yaitu (a) ekspresif, (b) intelektual, (c) protektif, (d) vokasional, dan (d) collegiate (bekaitan dengan perguruan tinggi)

Pola-pola Fungsional Reinforcement
Pada saat kita berusaha meng-ases keseluruhan lingkungan dan bukan individu, permasalahan yang dihadapi menjadi lebih besar dan menjadi sulit. Dalam lingkungan yang kompleks, banyak potensi reinforcement berfungsi setia saat. Beberapa bersifat negatif, beberapa bersifat positif, dan beberapa yang lain bersifat netral.
Pada saat kita berusaha untuk melakukan analisis fungsional terhadap pola reinforcement pada suatu lingkungan, kita haruslah sensitif terhadap reinforcement yang ada dalam lingkungan. Bagi beberapa anak pujian dari guru erupakan imbalan yang sangat kuat.
Dari beberapa penelitian terungkap bahwa dalam beberapa situasi penggunaan imbalan ekstrinsik tidaklah efektif dan bahkan ‘counter produktive’ (menghambat produktivitas).

Iklim Organisasional
Konsep iklim organisasi berasal dari teori dinamika kelompok. Iklim adalah perasaan suatu kelompok atau organisasi. Karena iklim organisasi sangat luas, mencakup faktor-faktor yang berhubungan keterlibatan, motivasi, dan moral anggota kelompok.
Insel dan Moos (1974) menyatakan bahwa pengukuran terhadap iklim organisasi pada umumnya mengukur tiga dimensi dasar, yaitu: (1) faktor hubungan, (2) faktor pertumbuhan pribadi, dan (3) faktor fungsi organisasi. Ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi moral, motivasi, dan keterlibatan anggota pada suatu organisasi.
Struktur Organisasi,
Merujuk pada cara-cara organisasi memberikan dua aspek dasar kegiatan kooperatif, yaitu pembagian tenaga kerja dan distribusi kekuasaan. Pada saat mengases struktur organisasi, rasional spesialisasi fungsional penting untuk dipahami katerena hal ini menentukan struktur bagian dari organisasi, dan akan mempengaruhi pola hubungan interpersonal dalam setting tersebut. Dalam struktur organisasi ada dua sumber kekuasaan, yaitu autoritas dan kepemimpinan.
Jaringan Komunikasi
Garis dan level autoritas membantu dalam menentukan jaringan komunikasi suatu organisasi. Salah satu faktor terpenting untuk memahami organisasi atau lingkungan sosial adalah bagaimana pergerakan informasi dalam sistem tersebut.
Penelitian dalam tingkah laku organisasi menunjukkan bahwa bentuk jaringan komunikasi dalam lingkungan dapat dipelajari dan efeknya terhadap tingkah laku anggota dapat diprediksikan. Dalam bentuk lingkaran, bebas untuk mengirim dan menerima pesanan. Dalam bentuk roda, yang terjadai adalah sebaliknya, semua anggota yang ingin bicara harus menggunakan stasiun yang ada di pusat roda.. Bentuk Y beroperasi seperti bentuk roda. Posisi C merupakan pusat relay yang mengontrol aliran informasi. Sementara bentuk chain (rantai) ada satu rangkaian seri untuk relay. Kerusakan pada satu stasiun akan dapat mengganggu jalannya informasi.
Ketika psikolog organisasional meneliti pengaruh bentuk jaringan komunikasi tersebut, ditemukan lah beberapa temuan yang menarik. Para peneliti menemukan bahwa tiap posisi dalam jaringan komunikasi dapat di ases berdasarkan tiga dimensi, yaitu Cent rality, independence), dan saturtion (kejenuhan).
Sementara komunikasi informal dapat diteliti dengan cara melacak pergerakan informasi penting dengan cara bertanya kepada orang tentang bagaimana dan dari siapa mereka mendapatkan informasi penting tersebut.
Meng-ases Tekanan Lingkungan
Salah satu alasan terpenting yang diperlakukan konselor untuk meng ases
Fakktor lingkungan adalah untuk memahami level dan sumber stres yang berpengaruh terhadap klien dan sistem klien.
Suber stres fisik, yaitu lingkungan yang ramai, bising dan polusi dan bentuk-bentuk lain yang bersifat ekstrim.
Sumber stress psikologis
Sumber stress di lingkungan tidak selalu bersifat fisik. Secara umum kita dapat mengkelasifikasikan sumber-sumber stress berdasarkan lima kategori yang muncul dari situasi ini, yaitu: (1) novelty /kebaruan, (2) intensitas, (3) ambiguitas, (4) komleksitas, dan (5) keterlibatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: