ASSESSING INDIVIDUALS NEEDS AND RESOURCES ( Menilai Kebutuhan Individu dan Sumber Daya )

ASSESSING INDIVIDUALS NEEDS AND RESOURCES
( Menilai Kebutuhan Individu dan Sumber Daya )

Bab ini membahas tentang asesmen dan diagnosis; penggunaan tes psikologis dan penemuan; arti dan istilah ‘diagnosis’ dalam konseling dan proses diagnosis medis. Kemudian membahas permasalahan mengases tingkat fungsi klien dan keefektivan, fungsi pada klien yang terdiri dari lima level; imlikasi untuk konseling; kararakteristik dari proses diagnosis yang efektif sereta pandangan bersifat kontinyu, tentatif, dan teruji.. Selanjutnya membahas penggunaan tes psikologi dan penemuan serta karakteristik psikometrik dan juga mendeskripsikan konsep reliabilitas dan validitas serta implikasinya; diakhir bab diberikan deskripsi tentang pendekatan tingkah laku terhadap asesmen psikologis, dan diskusi tentang asesmen perkembangan kognitif dengan penekanan pada model Loevinger tentang perkembangan ego.
Berdasarkan topik diatas maka kegiatannya merupakan karakteristik dari pendekatan konseling dan psikoterapi sebagai usaha untuk memahami klien dan dunianya, namun usaha dalam mendapatkan pemahaman ini bukanlah suatu yang mudah.

Proses Diagnostik dalam Konseling
Proses konselor untuk memahami klien merupakan suatu topik yang penuh kontroversi dan banyak menimbulkan kesalah pahaman. Proses ini diberi nama ‘diagnosis’. Secara tradisional proses diagnosis dalam mendis terutuma lebih memusatkan pada usaha menemukan keberadaan ciri suatu penyakit pada diri pasien.
Pada bab sebelumnya juga dibahas keterbatasan model penyakit itrapsikik, baik filofis maupun profesional. Banyak konselor yang menentang penggunaan model medis untuk mendiagnosis klien, namun perlu dicatat bahwa tidak semua ahli psikiatri mendukung model penyakit ini, misalnya Benjamin (1981) dan Menninger (1963). Sedang Menninger mengusulkan untuk mengembangakn unitary model (model unit) agar memungkinkan untuk konselor mengkonseptualisasikan level-level fungsi klien tanpa harus melibatan kaitan dengan penyakit. Sementara Prugh (1973) mengusulkan ‘unitary model’ yang mengembangkn sistem diagnosis yang didasarkan pada pribadi yang optimal dan fungsi keluarga pada tingkat usia tertentu.
Model unitary ini tampaknya bermanfaat dalam usaha untuk mengevaluasi usaha pencegahan dan peningkatan pertumbuhan pribadi. Salah satu keunggulan nya adalah memperhitungkan aset maupun halangan yang dimiliki seseorang. Berikut adalah model diagnosis ‘unitary’ untuk mendeskripsikan level fungsi dalam kaitanya dengan keefektivan manusia.
Beberapa Tingkat Keefektivan Manusia
Kita dapat mengkonseptualisasikan keefektivan manusia sebagai kemampuan untuk mendapatkan kontrol jangka panjang terhadap ciri-ciri fisik, sosial, dan lingkungan psikologis. Berkaitan dengan keefektivan manusia bukanlah murni ciri intrapsikik, tetapi merupakan ukuran kualitas interaksi antara orang dengan lingkungan dalam waktu dan keadaan tertentu pula. Transaksi dalam model unitary dikategorikan menjadi lima bagian; (1) Panik, tingkat keefektivan manusia yang terendah. Tingkat ini dicirikan dengan hilangnya kontrol yang parah terhadap respon efektif dan juga hilangnya kontrol terhadap lingkungan sekitarnya. Tindakan yang dapat dilakakukan konselor adalah memindahkan dari tempat yang penuh stress serta memberi nasehat tentang bagaimana menghadapinya.. Kemudian dapat dicegah yang disebut prosedur sterss inoculation’ atau prosedur penanganan sterss. Prosedur ini mencakup latihan tingkah laku, yaitu melatih klien merespon suatu stress yang telah diantisipasi sebelumnya. (2) apatis, pada level ini seseorang mempunyai kontrol terhadap aspek yang singkat dan mendadak dari suatu lingkungan. Pada level ini orang mencoba untuk mengontrol lingkungannya dengan cara menghindari ada interaksi yang akan menimbulkan stress. terstruktur dan juga sulit bertanggung (3) berusaha keras, orang pada level keefektivan ini mampu mengontrol sebagian besar transaksi jangka pendek dengan lingkungannya dan secara aktif berusah untuk mendapatkan kontrol untuk jangka panjang. Pada level ini orang mungkin berusaha mencari konseling, namun mereka mungkin mengharapkan hasil yang kurang realistik dan segera. Kecendrungannya dalam konseling berhenti sebelum waktunya. (4) Coping (menyelesaikan), pada level ini mempunyai kontrol terhadap sebagian besar transaksi jangka panjang dengan lingkunganya. Orang yang demikian mereaksi permasalahan dalam hidupnya segai suatu tantangan dan bukan sebagai ancaman. Klien pada level ini cendrung mencari sendiri bantuan. (5) mastery (penguasaan), Orang pada level keefektivan ini secara aktif mempunyai kontrol terhadap lingkungannya. level ini memasuki interaksi yang aktif dengan lingkungannya, dan. berusaha sendiri menemui konselor atau dihubungkan oleh orang lain. Mereka menghubungi konselor untuk mendapatkan bantuan dalam merencanakan masa pensiun, atau untuk mempersiapkan perubahan dalam hidupnya..
Kerangka keefektivan yang telah diuraikan mengandung sistem diagnosis’unitary’ struktur tujuan konseling. Sistem diagnosis ‘unitary’ tampaknya lebih bermanfaat dibandingkan dengan pendekatan intrapsikik.

Diagnosis sebagi Proses yang Terus Menerus, Tentatif, dan Teruji
Proses diagnosis dalam konseling akan efektif apabila diagnosisnya bersifat kontinu, tentatif, dan ter uji. Apabila kita mengikuti prosedur diagnostik tersebut berarti kita telah mengurangi bahaya dari penggunaan kerangka dianostik yang formal. Kita dapat membentuk seperangkat prediksi tentang tingkah laku klien dan selanjutnya secara terus-menerus menguji prediksi itu untuk menentukan keakuratannya.

Penggunaan Tes Psikologi dan Teknik Penilaian Lainnya
Topik konseling yang paling banyak menimbulkan perdebatan adalah tentang kapan dan bagaimana tes psikologis harus digunakan. Penggunaan tes dalam konseling hendak dipandang sebagai bagian dari seselururuhan proses diagnosis.
Observasi dan Inferensi.
Untuk memahami tes dan juga untuk dapat benar-benar mengerti dengan keuntungan dan keterbatasan kita harus memahami proses dasar observasi.
Observasi , untuk memahami suatu fenomena, kita mencoba untuk membuat suatu rancangan untuk mengamati. Intervensi terhadap kehidupan manusia tentunya harus didasarkan pada observasi yang akurat dan hati-hati. Inferensi, bahwa bahaya dari penggunaan tes standar ada pada inferensi yang kita buat dari observasi yang telah kita lakukan. Setelah melakukan observasi kita akan mencoba membuat suatu generasilasi untuk memperluas pemahaman kita. Proses ina disebut inferensi dan ini akan memungkinkan terjadi kesalahan.
Dalam konseling tes dan inventori dapat dimanfaatkan untuk dua tujuan umum. Pertama , dalam kaitan dengan pembuatan dan pengujian hipotesis yang dimiliki konselor. Kedua, interpretasi lansung dari hasil yang diperoleh untuk dapat memberikan informasi kepada klien tentang dirinya dan potensinya yang dimilikinya.
Fakta yang paling penting diperhatikan dalam membuat interpretasi tes adalah informasi yang ada bukan lah akhir. Hasil yang diperoleh dari tes hendaknya dipandang sebagai alat untuk mempercepat pencapaian tujuan konseling.
Validitas, konsep ini mencakup sejauh mana suatu tes atau instrumen benar-benar mengukur apa yang diukur. Ada sejumlah konsep dalam psikologi yang berkaitan dengan validitas, antara lain yaitu validitas prediktif, validitas konkruen, dan validitas konstruk.
Realibilitas , konsep ini berhubungan dengan konsistensi alat ukur. Ada dua aspek besar dari realibilitas, yaitu: (1) konsistensi dari waktu kewaktu dan biasanya diukur dengan realibilitas test-retes, dan (2) konsistensi antara dua perangkat item tes yang mirip atau yang kadang-kadang disebut’paralel form’ atau”split half reliability’..
Skor Normatif dan Skor Kriteria
Kita biasanya tidak menginterpretasikan skor mentah tetapi kita biasanya menginterpretasikan skor mentah dengan cara membandingkan dengan suatu referen/pembanding. Apabila kita ingin membandingkan pencapaian dari seseorang dengan performan suatu kelompok, kita menggunakan referensi normatif. Sedangkan tife referensi kedua adalah didasarkan pada suatu kriteria. Dalam pendidikan dan konseling, referensi pada kriteria lebih bermanfaat dibandingkan dengan pembandingan terhadap norma populasi atau suatu kelompok tertentu.
Interpretasi Hasil
Yang perlu diperhatiakan, yakni (1) skor tes hendaknya diinterpretasikan dalam konteks semua informasi (2) prediksi dari skor tes diperoleh melalui tabel ekspektasi senantiasa di dasarkan pada kelompok dan bukan suatu individu tertentu, tetapi untuk ketiga jamak (3) keberhasilan dalam usaha ditentukan oleh faktor yang komplek yang mencakup motivasi, self-control, dan aptitude.

Asessmen Tingkah Laku

Prosedur asesmen tingkah laku diksudkan untuk menemukan hubungan fungsi antara tingkah laku imndividu dengan faktor-faktor lingkungan dan stimulus. Salah satu modelnya S-O / R-K-C guna untuk mendeskripsikan analisis fungsi. Variabel penting yang yang diidentifiksi (S) stimulus, yang mencakup oejadian fisiki dan sosial yang terjadi dalam lingkungan. Organismic (O) mencakup keadaan biologis seseorang , misalnya rasa lapar. Respon ® mencakup tindkana dalam kognitif, motor, ataupunfisiologis dari individu. Faktor Contingency (K) mendeskripsikan hubungan antara tingkah laku dan konsekuensi. Consequences (C ) adalah kejadian baik yang positif maupun negatif setelah suatu respon tertentu.
Pendekatan asesmen tingkahlaku menekankan pada dua prinsip penting. Pertama prinsip observasi lansung. Kedua, bahwa semua istilah atau konsep yang digunakan dalam asesmen haruslah dioperasionalisasikan.
Asesmen tingkahlaku merupakan bagian integral dari perlakuan. Keseluruhan prosesnya memiliki lima fase, yaitu: 1) penentuan permasalahan,2) analisis fungsional, 3) prosedur perlakuan, 4) sesi berbagi informasi dengan klien, dan 5) evaluasi terhadap perlakuan.
Asesmen Kognitif
Psikologi kognitif yang mempelajari perubahan-perubahan dalam fungsi kognitif manusia sepanjang hidupnya juga memberikan alat yang sangat bermanfaat untuk melihat kebutuhan dan sumber daya yang ada pada seseorang. Dari psikologi kognitif muncul, pandangn kontruktivis tentang tingkah laku manusia, yang menyatakan bahwa manusia tidak hanya merespon stimulus yang diterimanya tetapi manusia mengorganisasikan, mengkategorisasikan, dan memproses stimulus ini kedalam kontruksinya sendiri.
Perlu dicatat bahwa tahapan-tahapan yang digunakan dalam perkembangan kognitif berbeda dari tahapan kronologis. Skema perkembangan kognitif yang paling komprehensif adalah model perkembangan ego yang dikemukakan oleh Jane Loeviger:Tahap prasosial, ketika masih bayi orang tidak dapat membedakan dirinya dari lingkungannya. Selanjutnya bayi akan memandang bahwa orang lain adalah sebagai orang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhannya saja. Tahapan impulsif, , bayi mulai memisahkan diri dari lingkungannya. Bersamaan dengan itu muncul kesadaran terhadap impuls dan kecendrungan untuk bertindak terhadap lingkungan.Tahap’conformist’ tahap ini mulai berkembang sosialnya yaitu tumbuhnya kesadaran tentang kesamaan antara dirinya dengan yang lain sebagai kelompok. Tahap kesadaran diri, fase ini ditandai dengan adanya peningkatan dalam kesadaran diri dan kemampuan untuk mempertimbangkan bermacam kemungkinan dan bermacam perspektif dalam membuat pertimbangan moral dan sosial.Tahap ketelitian, tahap perkembangan ego ini menandai munculnya kesadaran kedewasaan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri, menetapkan tujuan jangka panjang, dan mengevcaluasi berdasarkan nilai-nilai pribadi. Pada level ini orang dapat menerima tanggung jawab untuk membantu orang lain dan lebih memberikan perhatian terhadap konsekuensi dari suatu tindakan. Tahap autonomi, pada tahap ini seseorang memperoleh kemampuan untuk mengakui dan menghadapi nilai-nilai yang bertentangan dan saling berkompetisi antara kebutuhan sendiri dengan kebutuhan orang lain. Tahap terpadu, tahapan ini anlog dengan self-actualisation yang dikemukakan oleh Maslow. Pada tahap teritekrasi ini orang telah mengembangkan kemampuan untuk mentolerir bahkan mengapresiasi kompleksitas, ambiguitas, dan kontradiksi yang ada dalam dunia nyata. Mereka mampu memecahkan masalah dan tahanp tertinggi dari pencapaian intelektual, kontrol emosional, dan penguasaan lingkungan.

Model Perkembangan Kognitif dan Konseling
Piaget (1929) pioner psikologi perkembangan kognitif menyatakan bahwa perkembangan tidaklah beruipa loncatan dalam suatu urutan. Seseorang mungkin telah bergerak maju pada level yang lebih tinggi untuk suatu area tertentu namun masih rendah dalam area yang lain. Karenanya perkembangan merupakan suatu yang proses dinamis dan ‘fluid’(mengalir). Dari pada mengkategorikan seorang klien pada satu tahap tertentu, akan lebih bermanfaat untuk menggunakan kerangka perkembangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: