Bahan Ajar Anak Gangguan Intelektual

BAHAN AJAR
ASESMEN ANAK GANGGUAN INTELEKTUAL
Penulis: Drs. Jon Efendi, M.Pd

II. MENGENAL ANAK MENGALAMI GANGGUAN INTELEKTUAL
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam rangka mengenal anak yang mengalami gangguan intelektual sebagai berikut:
1. Psikotes
Dimaksudkan untuk mengetahui pikis orang yang dites. Psikotes diperlukan untuk mengenal seseorang dalam waktu yang singkat. Dalam psikotes terdapat tugas-tugas yang berbeda satu sama lainnya seperti; memilih pasangan, gambar, menerka bagaian yang hilang, melengkapI suatu petak, menyusuri jalur, mencoret, menjumlah dan sebagainya.
Tes yang digunakan adalah tes inteligensi seperti; tes Binet – Terman, tes Wechlsler – Bellevne, tes Matrices. Sedangkan hasil tes dilaporkan dalam bentuk keterangan hasil tes.
2. Membandingkan dengan Kecakapan Anak Umumnya
Upaya membandingkan dengan kecakapan anak pada umumnya adalah merupakan cara yang paling sederhana diantara bentuk tes yang sering dilakukan orang. Disini kecakapan anak digunakan untuk membandingkan kecakapan anak lain yang sebaya dengannya. Anak yang dijadikan perbandingan hendaknya anak yang memiliki tingkat kecerdasan normal. Dengan demikian kita sebagai pengetes harus memperhatikan, dapatkah anak tersebut melakukan apa yang sudah dapat dikerjakan oleh anak lain.
3. Memeriksakan ke Biro Konsultasi Psikologi
Pemeriksaan melalui biro konsultasi psikologi dapat dilakukan dalam rangka memberikan nasehat mengenai perkembangan psikis, akan tetapi dapat juga menentapkan ada tidaknya kelainan kecerdasan pada seseorang. Dalam pelaksanaan pemeriksaan psikologis ini diusahakan dalam suasana santai, anak tidak tertekan, tidak dalam keadaan kurang sehat dan sebagainya yang dapat mempengaruhi hasil prediksi tes. Biasanya seorang tester akan mengajak anak seperti dalam lingkungan kesehariannya seperti; anak akan diajak bermain, menggambar, memasang gambar dan benda-benda dan lain-lain.
4. Memeriksakan ke Klinik Psikiatri
Pemeriksaan kepada ahli psikiatri yang melakukan pengobatan secara medis. Dalam suatu keadaan yang memungkinkan bias dilakukan pada ahli lain yang masih berwenang, dan bila diperlukan mereka meminta ahli syaraf. Seorang psikiater mengenal cara-cara pendekatan secara psikologi, mampu melaksanakan tes psikologi, psikologi perkembangan, psiko analisa dan sebagainya. Dengan kemampuan ini para ahli mampu melaksanakan pengetesan kecerdasan disamping mampu dan berwenang dalam memberikan penyembuhan melalui pengobatan.
Istilah gangguan intelektual : Cacat mental, Terbelakang mental, lemah ingatan, lemah otak, lemah pikiran, Tunagrahita
Pengertian dan defenisi gangguan intelektual: Anak yang mengalami gangguan intelektual adalah mereka yang kecerdasannya jelas berada di bawah rata-rata, mengalami keterbatasan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak, dan berbelit-belit, terjadinya pada usia perkembangan, mereka memerlukan layanan pendidikan secara khusus agar mereka dapat berkembang optimal. Anak tunagrahita yang akan mendapatkan layanan khusus di SLB : Mereka yang tergolong pada rentang usia 7 s/d 18 tahun. Artinya anak yang masih dalam usia perkembangan.
Jenis-jenis anak tunagrahita :
a). Gangguan intelektual Ringan IQ 55 – 70
b) Gangguan intelektual Sedang IQ 40 – 55
c) Gangguan intelektual berat IQ 25 – 40
d) Sangat Berat IQ di bawah 25
Jenis dan klasifikasi anak anak gangguan intelektual.

Organization Generic Term Levels IQ Range for Level
American Association on Mental Deficiency (Grossman, 1983) Mental Retardation Mild
Moderate
Severe
Profound 50-55 to approx 70
35-40 to 50-55
20-25 to 35-40
Below 20 or 25
American Psychiatric Association DSM III (1980) Mental Retardation
Mild Moderate
Severe
Profound 50 – 70
35 – 49
20 – 34
Below 20
World Health Organization (1975) Mental Subnormality Mild
Moderate
Severe
Profound 50 – 70
35 – 49
20 – 34
Under 20

Klasifikasi anakgangguan intelektual:
RINGAN SEDANG BERAT SANGAT BERAT
Debil Imbisil Idiot
Mampu didik Mampu latih Mampu rawat
Mild Moderate Severe Profound

Prevalensi anak gangguan intelektual: Prevalensi penting dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah anak gangguan intelektual yang ada di masyarakat, biasanyanya dinyatakan dengan jumlah penyandangnya perseribu penduduk dalam populasi. Bahwa 75% dari ppopulasinya adalah gangguan intelektual ringan, 25% gangguan intelektual sedang, dan 5% gangguan intelektual berat dan sangatr berat. Prevalensi dibagi menurut; a) Tingkat gangguan intelektual, b) menurut jenis kelamin, c) menurut perbedaan usia, d) keadaan sosial ekonomi dan keturunan.
Hak anak gangguan intelektual ;
a. Hak yang dinyatakan PBB tahun 1971 bahwa a) mereka memiliki kesamaan hak bagi martabat manusia tanpa memandang perbedaan jenis / ras, b) hak anak-anak cacat fisik, mental atau social harus mendapatkan perawatan pendidikan, dan pemeliharaan secara khusus sesuai dengan kondisi kelainannya.
b. Hak di Indonesia ; a) UUD 1945 pasal 27 ayat 1 dan 2, pasal 31 ayat 1 dan 2, b) UU Sitem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 pasal 8 ayat 1 dan pasal 11 ayat 4, c) Peraturan Pemerintah Indonesia nomor 71 tahun 1991.
Kewajiban Anak gangguan intelektual ; a) UUD 1945 Bab XII pasal 30 ayat 1, b) Pencetusan wajib belajar tanggal 2 Mei 1984 oleh presiden Suharto yang tidak membedakan hak terhadap anak cacat.
Kebutuhan anak gangguan intelektual ; Witmer & Kotinsky 1955 ; a) terjamin kebutuhannya, b) kewenangan mengatur diri, c) berbuat dan berprakarsa,d) kebutuhan melaksanakan tugas, e) identitas diri, f) perasaan keakraban, g) perasaan keorangtuaan, h) integritas
Kebutuhan fisik anak tunagrahita tidak berbeda dengan kebutuhan anak normal. Kebutuhan kejiwaan ; a) penghargaan, b) berkomunikasi, c) social berkelompok.
Sejarah pendidikan anak tunagrahita :
a. Periode zaman primitif dan purbakala (1550 sebelum masehi)
b. Periode zaman abad pertengahan (500 – 1500 Masehi)
c. Periode zaman modern (sejak tahun 1500 masehi)
Sejarah anak tunagrahita di Indonesia ;
a. masa sebelum abad ke 20,
b. masa sebelum perang duania ke dua,
c. masa setelah Indonesia merdeka.

II. MENGUNGKAP PERKEMBANGAN ANAK
Berbagai upaya dan cara untuk mengungkap sejarah perkembangan anak yang mengalami gangguan intelektual dapat dilakukan pada orang tua dan guru. Kepada orang tua diperlukan informasi dan oleh karena itu perlu ditanyakan tentang riwayat perkembangan dan kesehatan anak meliputi beberapa aspek berikut:
1. Sejarah kehamilan (prenatal).
Sejarah kehamilan merupakan informasi pertama dan menjadi kunci dari beberapa factor yang mungkin mempengaruhinya sehingga menimbulkan ketidaknormalan pada anak. Aspek yang dijadikan pertanyaan meliputi: (keadaan gizi, factor genetika, usia kehamilan dan penyakit yang diderita saat hamil, perkawinan saudara dekat).
2. Saat Kelahiran (natal)
Proses kelahiran anak meliputi; proses kelahiran normal atau tidak, normal, menggunakan alat bantu yang digunakan saat proses kelahiran, keadaan berat badan saat lahir, kelahiran tidak cukup bulan (premature), dan lain-lain. Informasi ini merupakan petunjuk bagi kita dalam menentukan penyebab ketunagrahitaan, sebab banyak diantara anak yang mengalami permasalahan saat lahir sehingga menimbulkan kecacatan pada anak.

3. Sesudah Kelahiran (pos natal)
Proses kecacatan yang disebabkan oleh factor setelah lahir ini menyatakan bahwa sebenarnya anak telah tumbuh dan berkembang dalam keadaan normal. Oleh beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab maka gangguan intelektual ini bermula setelah proses kelahiran.
Penyebabnya beragam seperti; a) adanya geger otak karena trauma atau terjatuh ataupun kena benturan benda keras, b) penyakit menyerang otak atau yang menyerang slaput otak yang berakibat pada lemahnya daya kemampuan otak, c) kekurangan nutrisi / gizi yang terjadi pada kurun waktu yang lama sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, d) tekanan jiwa berat seperti mereka yang berada didaerah konflik dan pertikaian yang mengancam keselamatan jiwa, e) dan kecelakaan yang meninggalkan efek buruk berupa terganggunya daya kecerdasan dan yang lainnya.
Faktor Penyebab Ganggauan Intelektual:
1. Faktor keturunan; a) kromosom, b) kelainan gen.
2. Gangguan metabolis gizi; a) Phenylketonuria, b) Gargoylism, c) cretin.
3. Infeksi dan keracunan; a) rubella, b) syphilis bawaan, c) syndrome gravidity beracun.
4. Trauma dan zat radio aktif; a) trauma otak, b) zat radio aktif.
5. Masalah pada saat kelahiran.
6. Faktor likngkungan (social budaya).
Pencegahan terjadinya gangguan intelektual:
Sesuai dengan faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketunagrahitaan, maka untuk usaha pencegahan terjadinya anak tunagrahita disarankan usaha berikut; a) diagnostik prenatal, b) immunisasi ibu hamil dan balita, c) tes darah, d) pemeliharaan kesehatan bagi ibu hamil, e) program keluarga berencana, f) pengetahuan tentang sanitasi lingkungan, g) penyuluhan genetic, h) tindakan operasi untuk kelahiran yang beresiko tinggi, dan I) intervensi dini untuk mengetahui perkembangan anak.

III. IDENTIFIKASI PADA ANAK GANGGUAN INTELEKTUAL
Identifikasi merupakan suatu usaha menemukan dan menentukan keberadaan, anggapan atau kenyataan. Menemukan atau menentukan keberadaan atau kenyataan sesuatu. Berkaitan dengan usaha identifikasi anak gangguan intelektual bukanlah merupakan hal mudah dan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi membutuhkan pengamatan yang seksama dan waktu relatif lama.
Usaha penemuan anak tunagrahita dapat dilakukan dengan menelusuri tahap-tahap perkembangannya meliputi; kemampuan gerak, kecerdasan, komunikasi, menolong diri dan tingkah laku social. Pendeteksi harus melakukan pengamatan yang teliti dan juga wawancara dengan orang-orang terkait dengan perkembangan anak yang memiliki gangguan intelektual.
A. RUANG LINGKUP IDENTIFIKASI
1. Kemampuan gerak : meliputi gerak motorik kasar meliputi dudu, merangkak, berdiri, berjalan, dan sebagainya. Gerak motorik halus misalnya meronce, memasukkan benang ke lubang jarum, menulis, menggambar, dan sebagainya.
2. Kemampuan komunikasi : meliputi komunikasi pasif atau bahasa pasif yaitu kemamampuan mengunkapkan perasaan dan pikiran tanpa bicara. Komunikasi aktif atau bahasa aktif yaitu kemampuan mengungkapkan ppikiran dan perasaan melalui berbicara.
3. Tingkah laku social dan emosi meliputi : keterlibatan dalam permainan atau kegiatan kelompok, menunjukkan perhatian pada lingkungannya, dapat dipimpin dan memimpin dalam kegiatan kelompok, dan sebagainya.
4. Kemampuan kecerdasan antara lain : kemampuan membedakan bentuk, warna, penggunaan angka, membaca dan sebagainya.
5. Kemampuan menolong diri antara lain : makan dan minum, merawat atau menjaga kebersihan diri, berpakaian dan merias diri, menjaga keselamatan diri, dan orientasi lingkungan.
Melakukan deteksi pada anak yang mengalami gangguan intelektual tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti ; metode observasi, membuat tes sendiri, dan melakukan tes psikologi.
Karakteristik anak tunagrahita :
Karakteristik yang dimaksud adalah berupa cirri-ciri yang melekat atau dimiliki oleh anak tunagarahita. Pemaparannya dibagi dalam kajian berikut; a) kecerdasan, b) social, c) fungsi-fungsi mental lain, d) dorongan dan emosi, e) organisme.
Selanjutnya karakteristik ini akan dikaji sesuai dengan masing-masing jenis anak tunagrahita; a) tunagrahita ringan, b) tunagrahita sedang, c) tunagrahita berat, d) tunagrahita sangat berat.
Permasalahan sepanjang kehidupan.
Masalah yang akan dihadapi oleh anak gangguan intelektual masing-masing relatif berbeda, namun diperlukan usaha menarik kesamaan agar mempermudah menemukan permasalahannya seperti berikut;
a) Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari,
b) masalah kesulitan dalam belajar,
c) masalah penyesuaiaan diri,
d) masalah penyaluran pekerjaan,
e) masalah gangguan kepribadian dan emosi,
f) masalah pemanfaatan waktu luang.
Format identifikasi anak tunagrahita :
Nama : …………………
Kelamin : ………………….
Usia : …………………..
Jenis Kelainan : …………………..
Alamat : …………………..
Aspek Identifikasi T. Ringan T. Sedang T. Berat Ket
1. Jenis kelainan
2. Faktor penyebab:
a. Pre Natal
b. Natal
c. Post Natal
3. Karakteristik
a. Sosial
b. Bahasa/bicara
c. Emosi
4. Layanan khusus
a. Pendidikan
b. Metode
c. Pendekatan
d. Terapi habilitasi
5. Masalah kehidupan dihadapi:
Format deteksi anak tunagrahita.
Nama : …………………
Kelamin : ………………….
Usia : …………………..
Jenis Kelainan : …………………..
Alamat : …………………..
Aspek Deteksisi T. Ringan T. Sedang T. Berat Ket
1. Gerak Motorik
a. Motorik Kasar
b. Motorik Halus
2. Komunikasi
b. Bicara pasif
3. Tingkah laku
a. Sosial
b. Emosi
4. Kecerdasan
5. Menolong diri
a. Makan dan minum
b. Mandi
c. Gosok gigi
d. Berpakaian
e. Memakai sepatu
6. Tes Psikologi yang pernah dilakukan.
a. NSC
b. Whesler
c. Binet Simon

IV. TES GANGGUAN INTELEKTUAL
1. Observasi
Observasi merupakan metode tertua diantara metode yang digunakan untuk mengetahui kelainan atau derajat intelektual seseorang dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Melalui observasi dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan dapat mengetahui tingkat gangguan intelektual. Dengan observasi diketahui status seseorang dalam hal lain seperti; emosi, bicara, motorik dan sebagainya.
Terdapat dua macam bentuk observasi. Pertama; membiarkan anak hidup dalam lingkungannya yang wajar tanpa dicampuri, sementara orang yang melakukan observasi mencata semua gejala yang diperlukannya. Kedua : Pengobservasi harus menciptakan situasi yang dapat mengundang anak berbicara, menyuruh melakukan sesuatu, dan sebagainya.
Petugas pengobsevasi harus memahami tugas-tugas perkem-bangan semestinya harus dikuasainya untuk kelompok umur yang berbeda-beda. Misalnyaumur kecerdasan anak 2 tahun sedangkan umur sebenarnya 3 tahun maka anak tersebut mungkin termasuk katagori tunagrahita ringan, karena mengahasilkan IQ kira-kira 66 yaitu 2/3 x 100 = 66.

2. Tes Buatan
Pelaksanaan tes buatan anak diminta melakukan tugas yang sesuai dengan umurnya. Jika dia mampu maka akan dilanjutkan untuk tugas bagi umur berikutnya sampai dia tidak mampu melakukannya lagi. Sebaliknya jika tidak mampu melakukan tugas untuk umurnya maka diberi tugas untuk umur sebelumnya dan lebih turun jika ia belum mampu juga.
3. Tes Psikologi
Tes psikologi telah dilengkapi sedemikian rupa, miosalnya instruksi telah ditentukan, ukuran tes telah dibakukan, serta dilengkapi pula dengan cara penghitungan hasil dan pengelolaannya.
Dalam tes psikologi, anak gangguan intelektual ringan mempunyai IQ anatara 50-70 (dalam tes Binet). Untuk gangguan intelektual sedang mempunyai IQ antara 30-50, sedangkan anak dengan gangguan intelektual berat dan sangat berat mereka yang mempunyai IQ kurang dari 30.

V. PELAKSANAAN INDENTIFIKASI GANGGUAN ITELEKTUAL

1. Tenaga pelaksana ; hendaklah orang-orang yang yang telah memahami fase-fase perkembangan anak yang normal serta keadaan anak gangguan intelektual secara mendalam, mampu berkomunikasi dengan baik saat wawancara dan observasi, srta memiliki minat dan kemauan yang keras.
2. Sasaran : ditujukan kepada anak-anak yang mberumur 0 sampai 9 atau 10 tahun. Mengingat sifatnya menelusuri perkembangan anak, maka tugas-tugas perkembangan haruslah dipersiapkan untuk setiap tingkatan umur.
3. Rambu-rambu : hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan tes identifikasi.
a. Setiap tes disesuaikan dengan umur anak
b. Apabila anak dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut maka ia diberi tugas pada umur berikutnya, dan jika ia berhasil maka dilanjutkan dengan tugas untuk umur berikutnya lagi sampai ia tidak mampu lagi melaksanakannya.
c. Jika anak tidak mampu melaksanakan tugas pada umurnya, segera berikan tugas untuk umur di bawahnya, dan biala masih belum mampu cobalah untuk umur yang lebih rendah.
d. Gunakan alat atau mainan yang merangsang minat anak, akan tetapi janganlah memberikan seluruh mainan secara langsung sebab dapat menyebabkan anak hanya tertarik pada mainan saja bukan pada tugas perkembangannya.
e. Simpanlah alat mainan segera setelah digunakan.
f. Ikuti perintah sesuai urutan yang telah disusun sedemikian rupa.
g. Jelaskan pada orang tua atau anggota keluarga tentang apa yang akan dilakukan.
h. Setiap kegiatan masing-masing dilakukan tiga kali.
i. Bila anak tidak dapat melakukan sebagian besar tugas-tugas yang sesuai dengan umurnya, maka patut dicurigai bahwa ia mengalami penyimpangan.
Format identifikasi anak gangguan intelektual : Format identifikasi digunakan agar kita dapat mengenal;
a. Jenis kelainan; sesuai dengan berat, ringana kelainan
b. Faktor penyebab yang menimbulkan kelainan
c. Menentukan karakteristik
d. Usaha penempatan berkenaan dengan pemberian layanan
e. Masalah yang dihadapi anak tunagrahita.
Pengertian deteksi anak tunagrahita ;
Deteksi berasal dari kata Detection yang berarti penemuan. Deteksi adalah usaha menemukan dan menentukan keberaadaan, anggapan atau kenyataan. Mendeteksi, menemukan atau menentukan keberadaan atau kenyataan sesuatu. Kegiatan deteksi diarahakan pada penemuan cirri-ciri anak tunagrahita dengan alasan yang meyakinkan dan mendalam.
Ruang lingkup deteksi ; a) kemampuan gerak; motorik kasar dan motorik halus, b) kemampuan komunikasi; bicara pasif dan bicara aktif, c) tingkah laku social dan emosi, d) kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan, e) kemampuan dalam menolong diri sendiri.
Metode deteksi ; a) Observasi secara langsung dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan anak tunagrahita, b) melakukan tes buatan dengan berpedoman pada usia anak, c) tes psikologi yang telah disusun sedemikian ruapa sesuai dengan petunjukan dan teknik pengguanaannya.
Pelaksana deteksi ;
Tenaga pelaksana adalah orang yang telah memahami fase perkembangan atau mahasiswa sebagai kegiatan praktek, Sasaran adalah usaha menemukan anak tunagrahita, rambu-rambu berkenaan dengan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan deteksi.
Pengertian asesmen : Berasal dari bahasa inggris assesment yang berarti penilaian terhadap suatu keadaan. Jika kaitannya dengan anak tunagrahita maka penilaian tersebut berkenaan dengan anak tunagrahita. Asesmen bukanlah tes tapi tes merupakan bagian dari asesmen.
Tujuan Asesmen ;
a) menyaring kemampuan anak,
b) keperluan pembuatan klasifikasi,
c) menentukan kebutuhan atau pelayanan khusus anak,
d) pengembangan progran individual pengajaran,
e) menentukan strategi pembelajaran.
Ruang lingkup asesmen ;
a) sebelum anak mengikuti pelajaran (kemampuan menolong diri, psikomotor, social emosi,bahasa, dan kognitif),
b) asesmen pada saat belajar.
Metode asesmen ; a) observasi, b) tes / hasil evaluasi hasil belajar, c) wawancara.
Pelaksanaan asesmen ;
a) menentukan urutan bidang keterampilan,
b) tingkah laku yang akan dinilai,
c) memilih kegiatan evaluasi,
d) pengadministrasian alat evaluasi,
e) pencatatan keterampilan siswa, penentuan tujuan pengajaran khusus.

VI. INSTRUMEN IDENTIFIKASI GANGGUAN INTELEKTUAL
1. Instrumen Observasi
Usia Aspek tes Intikator tes Penilaian
baik sedang kurang
12 bln Perkembangan gerak 1. berusaha tegak dengan berlutut
2. berjalan dengan berpe-gang sebelah tangan
3. merangkak bebas
Koordinasi mata dan tangan 1. menjangkau, mencengkram, memasukan benda ke mulut
2. mengenggam dan meletakkan benda kesuatu tempat
3. menjatuhkan benda permainan dan menjumput kembali
Perkembangan bahasa 1. mengucapkan tiga kata atau lebih (dede,mimi,susu)
2. memberikan reaksi terhadap suara atau mainan
3. memperhatikan dan memberikan reaksi terhadap pembicaraan yang panjang
4. memberikan reaksi verbal terhadap beberapa perintah
5. memberikan mainan ketika diminta
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. memegang makanan dan memasukan kemulut
2. memegang cangkir/gelas tanpa dibantu
3. memgang sendok dan mengacungkannya mengarah kemulut
4. merentangkan tangan dan kaki ketika berpakaian
5. meletakan sisir diatas rambut dan saputangan diatas hidung
6. tersenyum secara spontan
7. memberikan reaksi berbeda pada orang yang baru dikenal
8. menaruh perhatian jika namanya dipanggil
9. meniru perbuatan orang lain secara sederhana
10. bermainan dengan permainan sederhana
13-14 bulan Perkembangan gerak 1. berdiri sebentar
2. berjalan mundur satu dua langkah
3. bergoyang mengikuti irama musik
Koordinasi mata dan tangan 1. memungut biji-bijian
2. memegang dua dadu pada satu tangan
3. menyentuh benda-benda yang dekat (terjangkau)
Perkembangan bahasa 1. kacau dalam mengucapkan kata-kata
2. menggunakan lima kata atau lebih dengan arti yang tetap
3. bersuara, menunjuk, dan memberikan mimik dalam usahanya meraih benda
4. nampak mengerti perasaan orang yang bicara
5. tertarik pada gambar-gambar yang diberi nama selama kurang lebih 2 menit
15-16 bulan Perkembangan gerak 1. berjalan beberapa langkah
2. berlutut sendiri
3. jatuh terduduk
4. merangkak atau memanjat tangga
5. tegak berdiri dan berjalan
6. membungkuk dan tagak kembali
Koordinasi mata dan tangan 1. memasukkan biji-bijian kedalam botol
2. memasukkan 6 dadu atau lebih kedalam cangkir
3. meniru coretan dan membuat garis dengan alat tulis
4. membantu membalik halaman buku, meletakan buku
5. merogoh segala sesuatu
6. melemparkan bola sesukanya
7. membuat menera dengan balok
8. meletakan sesuatu sesuai kemaunan
9. menarik, memutar dan mendorong benda-benda
Perkembangan bahasa 1. mengguanakan 7 kata atau lebih dengan pengertian yang tetap
2. lebih sering menggunakan konsonan t,d,w,h
3. melaksanakan perintah verbal, memilih dan mengambil sesuatu dari orang lain
4. mengenal dan ingat terhadap benda-benda dan gambar-gambar yang diberi nama
5. mengenal nama bagian tubuh
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. menggunakan sendok tapi masih tumpah
2. menanggalkan sepatu
3. masih suka makan dengan tangan
4. memegang cangkir dengan satu tangan
5. dapat duduk diatas pispot
17-18 bulan Perkembangan gerak 1. berjalan sendiri tanpa dibantu
2. menaiki tangga dengan berpegangan
3. duduk sendiri
4. menendang bola
5. menarik alat main sambil berjalan mundur
6. menaiki rintangan
Koordinasi mata dan tangan 1. meletakkan 10 daduatau lebih kedalam cangkir; lebih mudah merentangkan jari tangan
2. mencoret dengan pensil dengan spontan
3. melihat-lihat gambar pada buku
4. menumpahkan sesuatu dari tempat besar (botol susu, poci)
5. membalik buku dua,tiga halaman sekaligus
6. membuat menara dengan tiga balok
7. melemparkan bola
Perkembangan bahasa 1. menunjukkan mata, hidung, dan telinga
2. mengulang kata-kata yang didengarnya
3. memahami pertanyaan sederhana
4. melaksanakan dua perintah yang beruntun mengenai benda-benda seperti bola, dan sebagainya
5. membuat asosiasi dan mengingat kata-kata berdasarkan pada katagori (mis; makanan, binatang)
6. mulai bicara tanpa bantuan gerak
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. mengenakan dan menanggalkan topi
2. membuka releting besar
3. makan sendiri sekedarnya
4. mengenakan sepatu
5. mampu mengatur dan menahan buang air
6. meminta tolong bila kesukaran
19-20 bulan Perkembangan gerak 1. Bisa berjalan diatas garis lurus kira-kira tiga meter
2. mampu bermain dengan alat seperti tongkat
3. memasukkan pasak kedalam lobangnya
Perkembangan bahasa 1. meniru kalaimat yang terdiri dari dua atau tiga kata
2. meniru sesuatu yang terdapat dilingkungan ketika bermain
3. dapat menunjukan bagian badan, bagian pakaian pada gambar
4. tepat dalam memberikan reaksi terhadap kata-kata (duduklah,berhenti dsb)
5. mengerti perintah yang mengandung kata panggilan (berikan padanya! ayo kemari ! dsb)
21-22 bulan Perkembangan gerak 1. naik tangga sambil berpegang dengan satu pegangan
2. turun tangga dengan dipegang satu tangan
3. berjongkok waktu bermain
4. berdiri dengan satu kaki dengan bantuan
5. berjalan mundur
Koordinasi mata dan tangan 1. memasukkan dua balok pada papan lubang
2. membuat menara dengan 5 atau 6 balok
3. mencoba memutar pengangan pintu
Perkembangan bahasa 1. menggabungkan dua kata yang mengandung perbedaan arti (ibu datang)
2. mengikuti dua atau tiga perintah sederhana yang berhubungan
3. mengenal banyak benda dan gambar waktu disebut namanya
23-24 bulan Perkembangan bahasa 1. sekali-sekali menggunakan kalimat yang terdiri dari tiga kata
2. menunjuk kepada diri sendiri dengan namanya
3. memilih satu kata (dari enam kata yang disebut)
4. mempelajari nama binatang dari buku
25-27 bulan Perkembangan gerak 1. dapat berlari
2. naik dan turun tangga tanpa berganti kaki
3. menyepak bola atas perintah
4. bangun miring, melompat dari bawah dengan satu kaki
Koordinasi mata dan tangan 1. memutarkan bagian depan tangan (lengan)
2. membalik-balik halaman buku sendirian
3. menyusun menara dengan tujuh balok atau benda lain
4. mempelajari bentuk yang mudah, seperti lingkaran
5. menderetkan dua atau tiga balok menyerupai kereta api
6. menjodohkan warna, gambar, bentuk, dan balok
7. membuka pembungkus permen
8. persiapan menulis; meniru, garis vertical, meniru garis lingkaran sekedarnya, meniru bentuk V 9dengan bantuan)
Perkembangan bahasa 1. menggunakan kalimat terdiri dari dua atau tiga kata serta merupakan kata panggilan, kata kerja, dan kata benda
2. sering menggunakan kata panggilan dengan tepat
3. memilih gambar-gambar tingkah laku (makan, lari, duduk dsb)
4. mampu menunjukkan bagian kecil pada tubuh
5. meminta sesuatu dengan menyebutkan namanya
6. memberikan reaksi terhadap gambar dengan dua kata
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. memegang cangkir atau gelas dengan satu tangan
2. makan sendiri 9sering tak mau mengerjakannya
3. menanggalkan sepatu, kaus kaki, dan celana pendek
4. memasukkan kedua tangan pada satu lubang pakaian dalam
5. berkata ketika mau buang air
6. bermain sendiri
2,5 tahun Perkembangan gerak 1. berjalan dengan ujung jari kaki
2. melompat dengan dua kaki bersama-sama
3. mencoba berdiri diatas satu kaki
4. berdiri dengan dua kaki diatas balok keseimbangan tanpa bantuan
5. berjalan mengikuti garis yang dibuat pada lantai, kadang-kadang melompat.
Koordinasi mata dan tangan 1. menangkap keras-keras, melemparkan berlebihan
2. membuat menara dengan 8 balok
3. menempatkan balok pada formboard tanpa contoh
4. mengenal beberapa benda dengan memegangnya (pensil, kelereng, dadu, kotak dsb)
5. menambahkan sesuatu kepada balok yang disusun seperti korek api
6. persiapan menulis; meniru garis datar, bentuk V dan bentuk H (sudah memegang alat tulis dengan jari tangan), membuat dua garis atau lebih yang berpotongan
Perkembangan bahasa 27-30 bulan
1. mengulang menyebut dua bilangan atau lebih, mengerti arti satu kata “satu’
2. mengerti ukuran (kecil, bessar dsb)
3. mengenal nama dan gambar
4. mengerti konsep berdasarkan fungsi
5. dapat menyebutkan sekurangnya sat warna
30-33 bulan
1. mengerti kata kerja dan kebanyakan kata sifat
2. menjawab dengan tepat pertanyaan (kamu laki atau perempuan?)
3. membicarakan gambar buatannya sendiri
33-36 bulan
1. mengikuti tiga perintah sederhana
2. mengerti arti (di atas, di bawah, depan, belakang)
3. menggunakan bunyi-bunyi t,d,n,k,g,ng
4. menguasai bunyi lambing huruf
3 tahun Perkembangan gerak 1. lari berjinjit
2. mengendarai sepeda roda tiga
3. naik tangga dengan kaki bergantian
4. melompat dengan dua kaki
5. berdiri dengan satu kaki
6. berjalan mundur dengan mudah
Koordinasi mata dan tangan 1. mempelajari formboard tanpa salah
2. membuat menara dengan 9 atau 10 balok
3. memutar-mutar pergelangan tangan
4. mencocokkan warna
5. melengkapi gambar sederhana
Persiapan menulis 1. meniru garis-garis silang
2. menciplak lingkaran
3. meniru garis-garis vertical dan horizontal menciplak dua segi empat
Perkembangan bahasa 1. mengucapkan bunyi huruf y,f,v dalam kata-kata
2. mengulang tiga kali kata
3. menggunakan kalaimat yang terdiri empat kata
4. senang berbisik dan memberikan reaksi pada bisikan
5. menenrangkan jenis kelamain, menyebutkan nama lengkap dan menerangkan peristiwa secara sederhana
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. membuaka kancing baju
2. makan sendiri, tidak mengotori
3. membuaka pakaian dengan baik dan cepat, kecuali kancing belakang
4. mengenakan pakaian dalam, kaus kaki, sepatu
5. belum dapat membedakan depan dan belakang baju
6. dapat menuangkan air dengan baik
3,5 tahun Perkembangan gerak 1. berdiri dengan sati kaki selama 3-5 detik
2. kurang koordinasi gerak; jatuh, takut
3. berjalan pada balok keseimbangan dengan 2 langkah berganti-ganti atau lebih
4. berlalri menhindari rintangan atau halangan
Koordinasi mata dan tangan 1. membuat jembatan dari model (tanpa contoh)
2. memisahkan dua benda yang berlainan warna
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. mencuci dan mengeringkan tangan atau muka
2. membuang ingus kalau diingatkan
3. turut bermain dengan anak lain (mulai berintegrasi)
4 tahun Perkembangan gerak 1. berdiri dengan satu kaki selama 5-10 detik
2. berganti-ganti naik turun tangga dengan satu kaki
3. melompat di atas benda setinggi 15 cm
Koordinasi mata dan tangan 1. menangkap bola yang dilemparkan kepadanya
2. menggunting menurut garis
3. memegang sikat dengan posisi yang benar
4. menghitung empat mata uang
5. menghitung tiga benda dengan menunjukkannya
6. menjodohkan hingga 10 bentuk, seperto; jajaran genjang, segi empat, segi tiga dsb
7. mengenal 5 hingga 7 bentuk bidang datar dengan sentuhan. Yang paling mudah; lingkaran, bintang; yang paling sukar; jajaran genjang dan hecabon.
Persiapan menulis 1. membuat tanda silang
2. membuat gambar secara kasar menganai benda-benda yang dikenalnya
3. meniru tulisan mengikuti titik-titik
Perkembangan bahasa 1. menjawab pertanyaan sederhana
2. mengucapkan sh,zh,th dalam kata-kata
3. menggunakan kalimat yang kompleks
4. berkomunikasi untuk menghubung-hubungkan pengalaman dan mencari pengetahuan yang diperlukannya
5. membuat kesalahan artikulasi terhadap bunyi konsonan; l,r,s,t,sh,ch,j, dan th; menguasai bunyi: b,p,m,w,, dan h
6. mengenal warna
7. mengetahui 4 sampai 5 kata depan seperti: di atas, di bawah, di depan, di belakang
8. memberikan reaksi terhadap gambar dengan 5 kata
5 tahun Perkembangan gerak 1. meloncat dengan satu kaki (kaki berganti-ganti)
2. berjalan mengikuti garis yang dibuat pada lantai dengan kaki dan tumit
3. berlari, naik kursi dan meja
4. gemar berbaris
5. melompat dari sesuatu dengan ketinggi 30 cm
Koordinasi mata dan tangan 1. lebih banyak menggunakan tangan dari pada lengan pda waktu menangkap bola kecil walau sering gagal
2. block design
3. mengenal 7 saqmpai 8 bentuk dengan sentuhan
4. menerangkan jumlah jari pada setiap tangan
5. memberi nama beberapa pecahan uang
6. gemar meniru bentuk-bentuk sederhana
7. menggambar di alatai dan pada kerta
8. membuat jalan dan rumah dengan pasir
9. membuat benda-benda dari plastisin/lilin
10. menyusun balok-balok: membuat jalan, bangunan, dsb
Perkembangan bahasa 1. mengetahui banyak lawan kata
2. menghitung benda sampai 10
3. mengulang 4 bilangan
4. memberikan definisi benda-benda berdasarkan kegunaan, seperti: garpu,pensil, gunting, dsb
5. membuat kekeliruan artikulasi
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. membetulkan kacing yang dilihatnya
2. memsang tali sepatu
3. berpakaian lengkap
4. tidak mengacuhkan pakaian, kurang motivasi
6 tahun Perkembangan gerak 1. sangat aktif tingkah lakukan konstan
2. keseimbangan badan aktif dalam permaianan (meloncat)
3. melompat setinggi 30 cm dan jatuh dengan jari kaki
4. berdiri pada salah satu kaki dengan mata tertutup
5. melempar menjauh
Koordinasi mata dan tangan 1. memegang dan mecoba menggunakan alat dan bahan
2. memerlukan bantuan dalam menyelesaikan sesuatu, mengawali sesuatu dengan baik
3. lebih sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu, kadang-kadang kaku
4. memotong dan merekat kertas, membuat buku dan dus
5. senang menggunakan pita
6. menjahit dengan jarum besar
7. menjiplak gambar-gambar, mengenal pola lingkaran, garis potong, segi empat
8. mengenal 9 bentuk bidang datar
9. disain balok
10. menjodohkan benda-benda berdasarkan gunanya, missal: bola dengan gasing, mobil dengan motor
Persiapan menulis 1. menggunakan pesil warna dan alat gambar untuk menggambar
2. gemar menggambar pada papan tulis
3. meniru gambar permata
Perkembangan bahasa 1. menguasai bunyi huruf; f,v,s, dan z
2. memberikan respon terhadap gambar dengan 7 kata
3. menanti gilirannya yang tepat dalam pembicaraan
4. memberi dan menerima keterangan
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. menyikat gigi tanpa dibantu
2. menyeberang jalan dengan selamat
3. memasang talai sepatu dengan baik
4. menyisir rambut
5. menggunakan pisau meja untuk memotong
6. memilih temannya sendiri
7. bermainpermainan kompetisi
8. bermain dengan anak lain dalam permainan kelompok yang memerlukan keputusan kelompok, pembagian peran permainan, dsb
7 tahun Perkembangan gerak 1. lebih berhati-hati dalam bergerak
2. melakukan kegiatan berbeda-beda
Koordinasi mata dan tangan 1. lari dalam kegiatan tertentu, mengulangi tingkah laku dengan gigih
2. menggunakan dua tangan pada piano dengan tekanan yang berbeda
3. dapat menjahit lurus
4. lebih kencang dan lama dalam memegang alat
5. dapat memukul bola 3 kali dalam 5 kesempatan
6. mengenal semua bentuk bidang datar dengan sentuhan
Menulis 1. memgang pensil dengan ketat, dekat ke ujung; menekannya keras-keras tetapi mengandung perbedaan
2. meniru gambar permata
Perkembangan bahasa 1. menjawab pertanyaan menganai persamaan, misalnya: apakah persamaan kedua benda ini ?
2. mengulang lima angka
3. menguasai bunyi: th,zh,sh dll
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. mengikatkan tali sepatu tapi enggan diganggu
2. mandi sendiri secara lebih sempurna
3. menggunakan pisau untuk memotong
8 tahun Perkembangan gerak 1. gerak tubuh lebih berirama dan lebih indah
2. dapat menilai sikap orang lain
Koordinasi mata dan tangan 1. menggunakan alat atau perkakas rumah untuk pekerjaan rumah
2. sikap dan gerak bebas waktu menggambar
3. tingkah laku yang dramatis dengan mimik yang jelas
4. lebih cepat dan lancar dalam koordinasi mata dan tagan
5. senang diberi jadwal tetapi tidak mengajar waktu yang tercantum di dalammnya
6. mulai menunjukkan perspektif dalam menggambar
7. anak gadis dapat mengelim pinggir yang lurus
Menulis 1. Dalam memegang pensil, kwas, dan alat tidak terlalu ketat
2. menguasai bunyi: z,s,r,wh
3. memberikan respon terhadap gambar dengan 8 kata
Pemeliharaan diri dan perkembangan sosial 1. memilih pakaian sendiri
2. mengikat tali sepatu dan tak perlu diperingatkan
3. memelihara kebersihan kuku, memotong kuku pada sebelah tangan
4. membaca dengan inisiatif sendiri
5. mengerjakan tugas-tugas rumah yang rutin
6. mandi sendiri tanpa bantuan
7. menggunakan sendok dan garpu
9 tahun Perkembangan gerak 1. Lebih mampu mengontrol kecepatan
2. Tertarik pada kesehatannya sendiri dan senang mengangkat sesuatu
3. Sering kaku dalam sikapnya
Koordinasi mata dan tangan 1. bermain pingpong, mengambalikan serve 2 kali berurutan
2. memegang dan mengayunkan palu dengan baik
3. menjahit dengan mudah dan cermat
4. menyelesaikan produksi
5. memegang dan menggunakan alat kebun dengan tepat
6. membuat banguanan yang kompleks dengan mainan bangunan
7. menggambar: mulai dengan skets, gambarnya seringkali mendetail, senang menggambar kehidupan yang tenang, peta dan desain
8. anak wanita: memotong dan menjahit pakaian sederhana, dapat membuat kriting dan merajut

2. Tes Perbuatan
Tes perbuatan ini diperuntukkan bagi anak yang berumur 18 bulan sampai dengan 71 bulan.
Usia Aspek tes Petunjuk Pelaksanaan tes Penilaian
baik sedang kurang
18-23 bulan Perintah sederhana  Letakkan kursi dan kotak dekat ke meja anak,
 Letakkan pula sebuah bola dekat tempat itu,
 Suruh anak mengambil kotak dan meletakkan di atas kursi
 Suruh anak mengambil bola dan meletakkan dalam kotak tadi
Wallin peg board A:  Alat ini berupa sebuah papan yang mempunyai 6 buah lubang-lubang yang bulat, sama besar, dan berderet pada sebuah garis lurus,
 Sediakan 6 buah pasak yang dapat dimasukkan kedalam lubang tersebut
 Masukkan terlebih dahulu6 pasak tersebut kedalam lubang tanpa dilihat anak
 Cabut 6 pasak tersebut dihadapan anak
 Suruh anak memasukkan kembali 6 pasak tersebut
16 dadu  Masukkan 16 dadu kedalam sebuah kota yang berwarna
 Keluarkanlah dadu dari kotak dihadapan anak
 Suruhlah anak memasukkan kembali ke 16 dadu tersebut dengan satu kali perintah
Melipat kertas  Perlihatkan sehelai kertas ukuran 14×11 cm
 Lipatlah didepan anak sambil berbicara bahwa kiata akan membuat buku dengan kertas
 Buka kembali lipatan itu dan lipatkan lagi untuk kedua kali
 Mintalah anak membuat buku seperti itu
24-29 bulan 26 dadu  Perintahnya sama seperti untuk usia 18-23 bulan
Wallin peg board A:  Perintahnya sama seperti untuk usia 18-23 bulan
 Diharapkan anak dapat menyelesaikan dalam waktu 26 detik
30-35 bulan Memasang kancing  Dua potong kain planel berwarna merah muda ukuran 15×7,5 cm
 Pada salah satu kain tersebut melekat sebuah kancing dan satunya lagi terdapat lubang kacing
 Perlihatkan pada anak cara memasang kancing ke lubang tersebut
 Mintalah anak mengulangi pekerjaan tersebut
Sangkar dadu  Sediakan 4 buah bolongan dadu yang berbeda ukuran
 Masukkan bolongan dadu yang paling kecil ke dalam dadu yang lebih besar dan bagitu seterusnya di hadapan anak
 Ceritakan pada anak proses kerja tadi
 Diharapkan anak mengetahui jumlah bolongan dadu tersebut
36-41 bulan Memasang kacing  Perintahnya sama seperti untuk usia 30-35 bulan
 tetapi terdiri dari 2 kancing dan 2 lubang kancing
 waktu pengerjaan 50 detik
42-47 bulan Pyramid dadu  sediakan 6 dadu yang warnanya sama
 3 untuk contoh dan 3 lagi untuk pekerjaan anak
 buatlah pyramid dengan 3 dadu dihadapan anak
 suruh anak mencontoh pyramid tersebut
 waktu pengerjaan 10 detik
Memasang akancing  Perintahnya sama seperti untuk usia 36-41 bulan
 Waktunya lebih sedikit 35 detik
48-53 bulan Gambar puzle  Sediakan gambar seorang ibu yang direkat pada triplek.
 Potong gambar serta triplek mengikuti garis berbelok menjadi 3 bagian
 Anak disuruh menyusun gambar kembali
 Waktunya 47 detik
54-59 bulan manikin  Sediakan gambar seorang laki-laki yang ditempel pada sebuah papan
 Potong gambar tersebut menjadi enam bagian (badan, kepala, dua tangan, dua kaki)
 Anak disuruh menyusun gambar kembali
 Anak menyusun minimal 2 bagian
Gambar puzle  Perintahnya sama seperti untuk usia 48-53 bulan
 Waktunya 22 detik
Memasang kancing  Perintahnya dan alatnya sama seperti untuk usia sebelumnya
 Waktunya maksimal 42 detik
60-65 bulan Memasang kancing  Perintahnya dan alatnya sama sama seperti terdahulu hanya saja kancing dan lubungnya masing-masing ada dua
 Wakrunya kurang dari 20 detik
Melengkapi gambar kuda  Sediakan gambar seekor kuda betina dan anaknya yang ditempal pada papan dengan bentuk yang sama
 Potong gambar menjadi 7 bagian
 Anak disuruh mneyusun gambar kembali
 Waktunya87 detik
66-71 bulan manikin  Perintahnya dan alatnya sama dengan manikin untuk usia 54-59 bulan
 Anak minimal menyusun 3 bagian

3. Tes Psikologi
Tes yang digunakan untuk mengukur kecerdasan biasanya disebut tes intelegensi. Tes ini muncul dari kalangan ilmuwan dalam bidang ilmu psikologi dan dapat dipakai untuk menyelidiki secara psikologis apakah orang itu terbelakang atau tidak. Dengan kata lain tes ini mampu mengukur taraf kecerdasan anak, apakah termasuk cerdas, cerdas sekali, bodoh atau terbelakang.
VII. MENENTUKAN DERAJAT GANGGUAN INTELEKTUAL
Hasil psiko tes dilaporkan dalam sebuah laporan pemeriksaan psikologis. Istilah yang sering dipakai ialah;
 Umur kecerdasan/umur mental (MA = mental age) ; adalah angka yang menggambarkan umur dalam perkembangan kecerdasan.
 Umur sebenarnya (CA = chronological age) ; pada anak genius umur kecerdasannya lebih tinggi dari usianya, sedangkan pada anak tunagrahita umur kecerdasannya lebih rendah.
 Intligency Quotion (IQ) ; merupakan hasil bagi umur mental oleh umur sebenarnya dan dikalikan 100.

VIII. JENIS-JENIS TES PEGUKURAN INTELEKTUAL
Banyak jenis tes yang dapat digunakan untuk memngungkap kemampuan seseorang dalam hal kecerdasan. Dengan tes diharapkan akan diketahui tingkat kecerdasan atau posisi kecerdasan orang yang dites. Tes lain yang dapat dipakai untuk mengukur kecerdasan anak ialah:
1. Binet dan Simon berhasil menyusun tes inteligensi guna mengadakan seleksi terhadap kecerdasan anak. Oleh para ahli tes Binet Simon diperbaiki kelemahannya yang kemudian di sebut tes Stamford Binet (SB)
2. Tes Progressive matrics (PM) ; sebuah bentuk tes pengukuran kecerdasan yang digunakan untuk anak yang berusia pra sekolah (5-6 tahun). Tes ini terdiri dari gambar-gambar, dimana pada teste diperintahkan untuk; mencocokkan gambar, memilah, mewarnai gambar sesuai contoh, dan membuat gambar manusia secara utuh.
3. Tes Wechsler Inteligence Scale For Children (WISC)
Tes jenis ini digunakan untuk anak berusia sekolah dasar yang sudah lebih menuntut; kejelian, keseriusan, ketelitian dengan memperhatikan perintah kepada teste hanya satu kali.
4. Tes Rorschach dan Tes Swabach: digunakan untuk mengetes kemampuan pendengaran seseorang
5. Tes Szandi
6. Tes Kraplein dan lain-lain
Orang yang boleh melaksanakan tes inteligensi ialag; a) para ahli psikologi, b) mereka yang telah mendapat latihan khusus tentang psikodiagnostik.
IX. ASESMEN GANGGUAN INTELEKTUAL
Asesmen merupakan usaha untuk menghimpun informasi yang relvan guna memahami atau menentukan keadaan individu. Asesmen bukalah suatu tes, tetapi tes merupakan bagian dari asesmen.
1. Tujuan asesmen
a. Asesmen dilakukan setelah deteksi bertujuan untuk: menyaring kemampuan anak, untuk keperluan pengklasifikasian, penentuan arahpendidikan, penyusunan program pembelajaran, dan menentukan strategi pembelajaran yang kan dilakukan.
b. Asesmen pada saat dan setelah diberi pelajaran bertujuan untuk: 1) menentukan keberhasilan, kemajuan belajar, dan kegagalan mengajar, 2) agar guru dapat menentukan program, evaluasi, strategi, dan pengaturan lingkungan belajar, 3) melakukan diagnosis, pelaksanaan remedial teaching dan tindak lanjut.
2. Ruang Lingkup Asesmen
a. Ruang lingkup sebelum anak mengikuti pelajaran; 1) kemampuan menolong diri meliputi; makan-minum, berpakaian, kebersihan dan merawat diri, keselamatan diri dan orientasi lingkungan, 2) kemampuan psikomotor meliputi; motorik kasar dan halus, membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar, menempel, 3) perkembangan social emosi meliputi; reaksi terhadap rangsangan, penyesuaian diri, bermain bersama, partisipasi, melaksanakan perintah, sikap diri, 4) perkembangan bahasa meliputi; bicara, perbendaharaan kata, menulis, 5) perkembangan kognitif, pengertian ukuran, jumlah, bentuk, inisiatif, orientasi ruang.
b. Asesmen saat belajar di kelas; meliputi penilaian untuk menentukan apa yang harus diajarkan kepada siswa secara individu, dan penilaian tentang cara guru mengajar.
3. Metode dan Alat Asesmen
1) Metode asesmen yang dapat dilakukan: observasi terhadap cara belajar siswa, tes evaluasi belajar pada setiap mata pelajaran, wawancara kepada orang tua, guru lainnya dan siswa.
2) Alat yang digunakan untuk asesmen; cheklist dengan memberikan tanda pada bagian yang telah ditentukan, skala nilai yang mengarah pada kemampuan atau prestasi belajar.
4. Pelaksanaan Asesmen
a. Asesmen untuk menentukan apa yang harus diajarkan pada siswa meliputi bidang berikut :
Urutan Asesmen Keterangan Program
Menentukan skop (bidang)
Tingkah laku yang dinilai
Kegiatan evaluasi
Pengadministrasian alat evaluasi
Pencatatan penampilan siswa
Tentukan tujuan pengajaran khusus

b. Asesmen untuk menentukan cara guru mengajar siswa
No. Urutan Asesmen Keterangan Program
1. Faktor harapan :
– harapan siswa
– harapan guru
– harapan teman sebaya
– harapan orang tua
2. Peristiwa stimulus :
– persiapan materi
– metode pengajaran
– latar ruang kelas
3. Faktor respon :
– respon gerak
– Respon verbal
– gabungan
4. Peristiwa berikutnya :
– respon situasi positif
– penguatan siswa

VIII. FORMAT ASESMEN GANGGUAN INTELEKTUAL
1. Identitas Anak
No. Identitas Keterangan
1. Nama
2. Tempat / tanggal lahir
3. Jenis Kelamin Laki-laki/perempuan*
4. Pendidikan / kelas
5. Alamat
6. Derajat Intelektual Debil / imbisil / idiot*
7. Penyebab gangguan intelektual
2. Kemampuan yang dimiliki
No. Jenis Kemampuan Reaksi Anak Penilaian
1. Menolong diri sendiri:
 makan-minum
 berpakaian
 kebersihan
 merawat diri
 keselamatan diri
 lalulintas
 orientasi lingkungan
2. Psikomotor
 motorik kasar; berdiri, berjalan, berlari, meloncat, melompat, mundur, memukul, menendang dll
 motorik halus; membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar, menem pel dll
3. sosial emosi meliputi;
 reaksi terhadap rangsangan,
 penyesuaian diri,
 bermain bersama,
 partisipasi,
 melaksanakan perintah,
 sikap diri
4. Bahasa meliputi;
 bicara,
 perbendaharaan kata,
 menulis
5. Kognitif:
 pengertian ukuran,
 jumlah,
 bentuk,
 inisiatif,
 orientasi ruang
Kemampuan Akademik Reaksi Anak Penilaian
 Membaca
 Menulis
 Berhitung
Kemampuan dalam berkerja dan berkarya
 Berkerja
 Berkarya
 Potensi lainnya
Kemampuan bersosialisasi
 Sosialisasi dengan orang tua
 Sosialisasi dengan anggota keluarga lain
 Sosialisasi dengan teman sebaya
 Sosialisasi dengan guru

6. Kemampuan bina diri
No. Jenis Kemampuan Reaksi Anak Penilaian
1.  Makan dengan bantuan
 Makan sendiri
 Makan dengan tangan
 Makan dengan sendok
 Makan dengan garpu
2.  Minum dengan bantuan
 Minum sendiri
 Minum dengan cangkir / gelas
 Minum dengan sedotan
 Minum dalam kemasan
3.  Membersihkan kaki
 Mencuci tangan
 Mencuci muka
 Mandi pakai sabun
 Menggosok badan
 Membersihkan busa sabun
 Menggunakan handuk
4.  Menggosok gigi
 Menggunakan odol
 Berkumur-kumur
 Menentukan pakaian dalam
 Menentukan pakaian luar
 Memasang pakaian dalam dan luar
 Memakai baju
 Memakai celana
 Memakai kita pinggang
 Berhias didepan kaca
 Memasang kaus kaki
 Memakai sepatu tanpa tali
 Memakai sepatu bertali
 Menentukan kiri-kanan
 Membuka sepatu
 Berhias sederhana
 Memakai bedak
 Menyisir rambut
 Memakai minyak rambut
 Merapikan pakaian
 Minyak wangi
 Mengenal obat-obatan
 Obat flu
 Obat sakit kepala
 Obat mual
 Obat luka
 Balsem
 Pembalut luka
 Menghindari bahaya binatang berbisa
 Bahaya listrik
 Bahaya api
 Bahaya air/kolam
 Bahaya benda tajam
 Berjalan ditempat umum
 Berjalan di trotoar
 Bersepeda
 Naik-turun oplet
 Menyeberang jalan
 Tanda lalu lintas
 Mengenal kantor pos
 Mengenal bank
 Mengenal kantor camat
 Mengenal kelurahan
 Pos ronda
 Pos yandu
 Mengenal pasar
 Mengenal swalayan
 Mengenal mall
 Mengenal tempat wisata
 Taman hiburan
 Taman kota
 Bioskop
 Gedung bersejarah
 Situs purbakala
 Mengenal alat komunikasi
 Radio
 Televisi
 Koran
 Majalah
 Tabloid
 Komik
 kartun
 Telepon
 Komputer
 Internet
 Mengenal batas tempat tinggal (rumah)
 Mengenal batas sekolah

XI. PENAFSIRAN SETELAH ASESMEN
Penafsiran diisi oleh tester setelah asesmen dan memberikan prediksi terhadap kebutuhan anak. Kebutuhan anak disesuaikan dengan pertimbangan mendahulukan kebutuhan yang lebih mendesak disbanding kebutuhan lainya. Selain itu tester juga bisa membuat program sesuai dengan hasil penafsiran, melakukan penempatan yang cocok bagi siswa. Metode dan pendekatan yang akan dilakukan.
Seorang guru yang bijak selalu mengedepankan kebutuhan siswa dan memperhatikan aspek kemampuan mana yang sangat perlu dikembangkan bagi anak didik. Dengan membuat program yang baik dan tepat dapat mengoptimalkan kemampuan siswa.

Berikut ini diberikan contoh format untuk menentukan kebutuhan siswa.
No. Kebutuhan primer Kebutuhan sekunder
1. ……………………………………
……………………………………
……………………………………
…………………………………… ……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………
2. ……………………………………
……………………………………
……………………………………
…………………………………… ……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………
3. ……………………………………
……………………………………
……………………………………
…………………………………… ……………………………………
……………………………………
……………………………………
……………………………………

XII. PENUTUP
Alhamdulillahirabil`alamin, berkat rahamat dan izinNya jualah bahan ajar ini dapat diselesaikan. Bahan ajar ini berupaya mengetengahkan suatu acuan yang sederhana dan pasti banyak kekurangan.
Penulis telah berupaya maksimal, namun demi kelengkapan dan objektifitas bahan ajar yang baik masih diharapkan sharing, kritikan sumbangan ide untuk menutupi kekurangannya.
Semoga Allah Swt, meridhoi apa yang telah kita lakukan hari ini, dan mendapat amal sholeh bagi pengguna dan praktisi PLB tercinta, Amin yaaa rabbil `alamiiiin .
Padang, 10 Oktober 2004
Drs. Jon Efendi, M.Pd

BAHAN AJAR
“ASESMEN ANAK GENGGUAN INTELEKTUAL”

Penulis : Drs. Jon Efendi, M.Pd

Dibiayai dengan:
Dana Proyek Peningkatan UNP Padang
DIP Nomor : 21/XXIII/08/1/–/2004

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2004

KATA PENGATAR

Tulisan ini berusaha memenuhi suatu kebutuhan akan pengadaanbahan ajar bagi anak yang mengalami gangguan intelektual. Selama ini bahan ajar yang ditulis dalam buku paket berbahasa Indonesia masih sangat terbatas.
Sistematika penulisan bahan ajar ini dipaparkan dalam bentuk urutan berikut; a) identifikasi anak gangguan intelektual, b) tes yang digunakan untuk anak gangguan intelektual, c) hal-hal yang perlu diperhatikan, d) Menentukan deraja intelektual, e) teknik mengenal anak mengalami gangguan intelektual, f) mengungkap perkembangan anak, g) deteksi anak gangguan intelektual, h) contoh asesmen anak gangguan intelektual. Penyusunannya merujuk pada sisi pandang ilmu pendidikan di samping cara pandang ilmu lainnya yang terkait.
Penulis sangat menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang perlu disisip dan perlu dilakukan upaya pengembangan hingga memenuhi standar bacaan. Pada kesempatan ini penulis mohonkan tegur sapa, kritikan dan saran demi penyempurnaannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para penggunanya. Amiiiin.
Padang, 10 Oktober 2004

DAFTAR ISI

Halaman
Kata pengantar i
Daftar isi ii
I. MENGENAL ANAK MENGALAMI GANGGUAN INTELEKTUAL 1
1. Psikotes 1
2. Membandingkan dengan Kecakapan Anak Umumnya 1
3. Memeriksakan ke Biro Konsultasi Psikologi 1
4. Memeriksakan ke Klinik Psikiatri 2
II. MENGUNGKAP PERKEMBANGAN ANAK 2
1. Sejarah Kehamilan 2
2. Proses Saat Kelahiran 2
3. Sesudah kelahiran 2
III. IDENTIFIKASI PADA ANAK GANGGUAN INTELEKTUAL 3
1. Ruang Lingkup Identifikasi 3
IV. TES GANGGUAN INTELEKTUAL 4
2. Observasi 4
3. Tes Buatan 4
4. Tes Psikologi 4
V. PELAKSANAAN IDENTIFIKASI GANGGUAN INTELEKTUAL 6
2. Tenaga Pelaksana 6
3. Sasaran 6
4. Rambu-rambu 6
VI. INSTRUMEN IDENTIFIKASI GANGGUAN INTELEKTUAL 7
1. Instrumen Observasi 7
2. Instrumen Tes Perbuatan 22
3. Tes Psikologi 25
VII. MENENTUKAN DERAJAT INTELEKTUAL 25
VIII. JENIS-JENIS TES GANGGUAN INTELEK TUAL 26
IX. ASESMEN TES GANGGUAN INTELEKTUAL 27
2. Tujuan 27
3. Ruang Lingkup 28
4. Metode dan Alat Asesmen 28
5. Pelaksanaan Asesmen 29
X. FORMAT ASESMEN GANGGUAN INTELEKTUAL 29
1. identitas Anak 29
2. Kemampuan yang Dimiliki 30
3. Kemampuan Akademik 30
4. Kemampuan Menolong Diri Sendiri 31
5. Kemampuan Berkerja dan Berkarya 31
6. Kemampuan Bersosialisasi 31
XI. PENAFSIRAN SETELAH ASESMEN 33
XII. PENUTUP 34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: