COMPETENCE CONNECTION IN GLOBAL PERSPECTIVES The Essence of And The Need for Competence Conection (Essence dan kebutuhan kemampuan Menjalin Hubungan)

COMPETENCE CONNECTION IN GLOBAL PERSPECTIVES
The Essence of And The Need for Competence Conection
(Essence dan kebutuhan kemampuan Menjalin Hubungan)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mingguan

Mata Kuliah:
PERKEMBANGAN MUTAKHIR DAN ISU GLOBAL
BIMBINGAN DAN KONSELING

Disusun Oleh:
JON EFENDI
NIM. 0908305/S3/BK

SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2009
The Essence of And The Need for Competence Conection
(Esensi dan Kebutuhan Kemampuan Menjalin Hubungan)

A. Pengertian Competence Conection

Kompetensi merujuk kepada penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. Koneksi berkenaan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jika koneksi berkaitan dengan jalinan kerja profesional maka koneksi yang terjalin sehubungan dengan kemampuan dan komitmen dalam suatu kerjasama dalam secara profesional. Pekerjaan profesional akan menuntut orang-orang agar memiliki kemampuan menjalin hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, sehingga pekerjaan dapat terlaksana dengan baik serta dapat bekerja dalam kerangka profesi yang profesional.

Kode Etik: Seorang konselor profesional perlu memiliki kesadaran etik karena di dalam memberikan layanan kepada siswa (manusia) maupun dalam kolaborasi dengan pihak lain akan selalu diperhadapkan kepada persoalan dan isu-isu etis dalam pengambilan keputusan untuk membantu individu.
Kompetensi utama minimal, sebagai kompetensi bersama (common competencies), yang harus dikuasai oleh konselor sekolah, perkawinan, karir, traumatik, rehabilitasi, dan kesehatan mental.
Dalam kapasitasnya sebagai pendidik, konselor berperan dan berfungsi sebagai seorang pendidik psikologis (psychological educator/psychoeducator), dengan perangkat pengetahuan dan keterampilan psikologis yang dimilikinya untuk membantu individu mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi. Sebagai seorang pendidik psikologis, konselor harus kompeten dalam hal:
1. Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks sosial budaya. Ini berarti seorang konselor harus mampu mengakses, mengintervensi, dan mengevaluasi keterlibatan dinamis dari keluarga, lingkun-gan, sekolah, lembaga sosial dan masyarakat sebagai fak¬tor yang berpengaruh terhadap keberfungsian individu di dalam sistem.
2. Menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik antar maupun intrapribadi dan lintas budaya.
3. Menguasai strategi dan teknik asesmen yang memungkink¬an dapat difahaminya keberfungsian psikologis individu dan interaksinya di dalam lingkungan.
4. Memahami proses perkembangan manusia secara individual maupun secara sosial.
5. Memegang kokoh regulasi profesi yang terinternalisasi ke dalam kekuatan etik profesi yang mempribadi.
6. Memahami dan menguasai kaidah-kaidah dan praktek pen¬didikan

B. Kemampuan Interpersonal.
1. Pengertian.
Kemampuan interpersonal menurut Spitzberg & Cupach (dalam Muhamad) Lukman 2000:10) adalah “kemampuan seorang individu untuk melakukan komunkasi yang efektif”. Kemampuan ini ditandai oleh adanya karakteristik-karakteristik psikologis tertentu yang sangat mendukung dalam menciptakan dan membina hubungan antar pribadi yang baik dan memuaskan. Sedangkan kemampuan interpersonal menurut Buhrmester, dkk (1988 ; 991) adalah : “ kecakapan yang dimiliki seorang untuk memahami berbagai situasi sosial dimanapun berada serta bagaimana tersebut menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan harapan orang lain yang merupakan interaksi dari individu dengan individu lain. Kekurang mampuan dalam hal membina hubungan interpersonal berakibat terganggunya kehidupan sosial seseorang. Seperti malu, menarik diri, berpisah atau putus hubungan dengan seseorang yang pada akhirnya menyebabkan kesepian. Berdasarkan definisi diatas, maka penulis berpendapat bahwa kemampuan interpersonal adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki seseorang dimana ia mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain dan mengerti apa yang diinginkan orang lain dari dirinya, entah itu dari sikap, tingkah laku atau perasaannya.
2. Aspek-aspek kemampuan Interpersonal; Kemudian Buhmester, dkk (1988 : 933) menemukan 5 aspek kemampuan interpersonal, yaitu:
a. Kemampuan berinisiatif;
Inisiatif merupakan usaha pencarian pengalaman baru yang lebih banyak dan luas tentang dunia luar dan tentang dirinya sendiri dengan tujuan untuk mencocokan sesuatu atau informasi yang telah diketahui agar dapat lebih memahami. Jalaludin Rahmat (1998 : 125) mengemukakan bahwa “hubungan interpersonal berlangsung melewati 3 tahap yaitu, tahap pembentukan hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Kemampuan berinisiatif yang pertama inilah yang dimaksud dengan tahap perkenalan dalam hubungan interpersonal.
b. Kemampuan bersikap terbuka (self disclosure);
Adalah kemampuan seseorang untuk mengungkap informasi yang bersifat pribadi mengenai dirinya dan memberikan perhatian kepada orang lain. Dengan adanya keterbukaan, kebutuhan dua orang terpenuhi yaitu dari pihak pertama kebutuhan untuk bercerita dan berbagi rasa terpenuhi, sedang bagi pihak kedua dapat muncul perasaan istimewa karena dipercaya untuk mendengarkan cerita yang bersifat pribadi. Disini seorang remaja dapat mengungkapkan perasaannya sekaligus dapat mendengarkan dengan baik segala keluhan dari sahabatnya. Dan adanya self disclosure ini terkadang seseorang menurunkan pertahanan dirinya dan membiarkan orang lain mengetahui dirinya secara lebih mendalam.
c. Kemampuan bersikap asertif;
Dalam komunikasi interpersonal orang sering kali mendapat kejanggalan yang tidak sesuai dengan alam pikirannya, sehingga disaat seperti itu diperlukan sikap asertif dalam diri orang tersebut. Menurut Pearlman dan Cozby (dalam Fuad Nashori, 2000 : 30) mengartikan “asertif sebagai kemampuan dan kesedian individu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan secara jelas dan dapat mempertahankan hak-hak dengan tegas. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya secara jelas, meminta orang lain untuk melakukan sesuatu dan menolak melakukan hal yang tidak diinginkan tanpa melukai perasaan orang lain, jadi seseorang itu memahami tindakan dan ucapannya sendiri. Dengan demikian sifat asertif, individu tidak akan diperlukan secara tidak pantas oleh lingkungan sosialnya dan dianggap sebagai individu yang memiliki harga diri.
d. Kemampuan memberikan dukungan emosional;
Menurut Buhmester dkk (1988:998) “dukungan emosional mencakup kemampuan memberikan dukungan emosional sangat berguna untuk mengoptimalkan komunikasi interpersonal antara dua individu”. Sedangkan menurut Barker dan Lemle (dalam Buhmester, dkk 1998) mengatakan bahwa sikap hangat juga dapat memberikan perasaan nyaman kepada orang lain dan akan sangat berarti ketika orang tersebut dalam kondisi tertekan dan bermasalah.
e. Kemampuan Mengatasi Konflik; Setiap hubungan antar pribadi mengandung unsur perbedaan yang dapat menyebabkan terjadinya konflik. Konflik senantiasa hadir dalam setiap hubungan antar manusia dan bisa muncul karena berbagai sebab. Menurut Buhmester (1988) mengatakan bahwa kemampuan mengatasi konflik adalah berupaya agar konflik yang muncul dalam suatu hubungan interpersonal tidak semakin memanas. Kemampuan mengatasi konflik itu diperlukan agar tidak merugikan suatu hubungan yang telah terjalin karena akan memberikan dampak yang negatif. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan interpersonal merupakan kecakapan yang dimiliki individu untuk memahami berbagai situasi sosial dan menentukan perilaku yang tepat yang merupakan hasil dari interaksi individu dengan orang lain yang mencakup lima komponen yaitu kemampuan berinisiatif, kemampuan bersikap terbuka (self disclosure), kemampuan untuk bersikap asertif, kemampuan memberikan dukungan emosional, kemampuan dalam mengatasi konflik.

B. Arah Pengembangan BK di Era Abad 21
(Norman C. Gysber, 2001). Dalam Sunaryo (2009) Beberapa hal yang patut menjadi perhatian serius dalam mengembangkan bimbingan dan konseling profesional di era abad 21 adalah:
1. Kebutuhan akan kejelasan tujuan dan misi
Kebutuhan profesi bimbingan dan konseling, melakukan kolaborasi dengan bidang-bidang atau profesi lain di dalam dan di luar pendidikan; mendiskusikan tujuan dan misi bimbingan dan konseling abad 21. ABKIN sebagai asosiasi profesi harus tampil mengambil peran kepemimpinan dalam menangani tugas yang penting dan strategik ini baik di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional. Bimbingan dan konseling pada abad 21 bahwa bimbingan dan konseling dinyatakan sebagi bagian terpadu dari pendidikan.
Myers (1920) dan Payne (1923) menegaskan bahwa bimbingan dan konseling adalah bagian integral dari pendidikan. Bahwa bimbingan dan konseling adalah bagian tepadu dari pendidikan; dan kini saatnya pula untuk meletakan prinsip kebijaksanaan itu di dalam praktek.
2. Kebutuhan akan kerangka kerja bimbingan dan konseling kom-prehensif.
Model bimbingan dan konseling (perkembangan) komprehensif adalah model yang memposisikan konselor untuk menaruh perhatian penuh kepada seluruh siswa, bekerja bersama dengan orangtua, guru, administrator, dan stakeholder lainnya. Arah perkembangan ini perlu ditindaklanjuti dan ditegaskan dalam agenda abad 21.
3. Kebutuhan akan akuntabilitas
Akuntabilitas berkaitan dengan pertanggung jawaban atas hasil yang harus dicapai oleh layanan/program yang ditawarkan. Fokus akuntabilitas bimbingan dan konseling pada dewasa ini terletak pada prestasi akademik, perkembangan pribadi/sosial dan karir. Studi Sunaryo Kartadinata dan Tim (1999), Sunaryo Kartadinata dan Tim (2003), dan ABKIN (2004) memberikan dasar empirik bagi pengokohan identitas dan wilayah garapan bimbingan dan konseling dalam seting pendidikan. Model ini menginkorporasikan bimbingan dan konseling berkontribusi signifikan terhadap perkembangan akademik, pribadi-sosial, dan karir siswa.
4. Kebutuhan advokasi
Langkah sistematis diawali pada tahun 1975 untuk menempatkan bimbingan dan konseling dalam posisi yang lebih jelas, dan dibentuknya organisasi profesi yang bertugas mengurusi profesi, menunjukkan bahwa bimbingan dan konseling telah secara aktif ambil bagian secara lebih nyata di dalam kehidupan sosial dan pendidikan di Indonesia; di dalam pengambilan kebijakan dan keputusan pendidikan secara nasional.
Bahwa sebagai sebuah profesi, bimbingan dan konseling memiliki kebutuhan advokasi yang dapat dinyatakan dalam keterlibatan secara aktif di dalam reformasi pendidikan, sosial, dan pekerjaan, terutama dalam bidang-bidang reformasi yang memerlukan kepakaran konselor. Sebuah profesi harus menghindari kondisi yang oleh Haley (1969 dalam Gysber, 2001) disebut sebagai “the five Be’s) yaitu: “be passive, be inactive, be reflective, be silent, beware”.”- (pasif, non-aktip, memantulkan cahaya, tenang, hati-hati”).
5. Kebutuhan melayani semua siswa
Tujuan ini didasarkan kepada asumsi bahwa seluruh siswa dapat dan harus mengambil manfaat dari aktivitas dan layanan bimbingan dan konseling komprehensif untuk memfasilitasi perkembangan akademik, pribadi-sosial, dan karir.
Apa yang dimaksud melayani seluruh siswa saat ini? Ini berarti bahwa program bimbingan dan konseling komprehensif melayani siswa, orang tua, guru, dan stakeholder lain secara seimbang tanpa membedakan jender, ras, etnik, latar belakang budaya, disabilitas, struktur keluarga, dan status ekonomi. Ini adalah pemahaman latarbelakang kultural, sosiologis, psikologis, ekonomi, dan keluarga. Pendekatan multikultural memberi makna dalam konteks persekolahan kultur inklusif ini harus tampak dalam kultur dan layanan sekolah yang mampu mengakomodasi dan memfasilitasi perkembangan anak dari berbagai latar belakang dan kemampuan. Pendidikan inklusif yang pada awal abad 21 ini dicanangkan di Indonesia menuntut layanan bimbingan dan konseling memfasilitasi siswa berkebutuhan khusus di dalam seting pendidikan reguler, menyiapkan diversifikasi layanan sesuai dengan kebutuhan siswa.

D. Langkah-Langkah Penegasan Identitas Profesi
Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Memahamkan Para Kepala Sekolah
Kepala sekolah yang memaha¬mi dengan baik profesi bimbingan dan konseling akan:
a. Memberikan kepercayaan kepada konselor dan memelihara komunikasi yang teratur dalam berb¬agai bentuk
b. Memahami dan merumuskan peran konselor
c. Menempatkan staf sekolah sebagai tim atau mitra kerja
2. Membebaskan konselor dari tugas yang tidak relevan.
3. Mempertegas tanggung jawab konselor
4. Membangun standar supervisi.

STANDAR KOMPETENSI KONSELOR
A. Kerangka Pikir Dasar
Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Kesejajaran posisi ini tidaklah berarti bahwa semua tenaga pendidik itu tanpa keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Demikian juga konselor memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja yang tidak persis sama dengan guru. Hal ini mengandung implikasi bahwa untuk masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, perlu disusun standar kualifikasi akademik dan kompetensi berdasar kepada konteks tugas dan ekspektasi kinerja masing-masing.
Dengan mempertimbangkan berbagai kenyataan serta pemikiran yang telah dikaji, bisa ditegaskan bahwa pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang diampu oleh Konselor berada dalam konteks tugas “kawasan pelayanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan tentang pendidikan termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum melalui pendidikan”.
Sedangkan ekspektasi kinerja konselor yang mengampu pelayanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik dalam arti selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan pengguna pelayanannya, dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindak pelayanannya itu terhadap pengguna pelayanan, sehingga pengampu pelayanan profesional itu juga dinamakan “the reflective practitioner”.

B. Sosok Utuh Kompetensi Konselor
Sebagaimana lazimnya dalam suatu profesi, sosok utuh kompetensi konselor terdiri atas 2 komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis sehingga tidak bisa dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional.
1. Kompetensi Akademik Konselor
Sebagaimana layanan ahli pada bidang lain seperti akuntansi, notariat dan layanan medik, kompetensi akademik konselor yang utuh diperoleh melalui Program S-1 Pendidikan Profesional Konselor Terintegrasi (Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds.)1, 1990). Ini berarti, untuk menjadi pengampu pelayanan di bidang bimbingan dan konseling, tidak dikenal adanya pendidikan profesional konsekutif sebagaimana yang berlaku di bidang pendidikan profesional guru.
Kompetensi akademik seorang Konselor Profesional terdiri atas kemampuan:
a. Mengenal secara mendalam konseli yang hendak dilayani. Sosok kepribadian serta dunia konseli yang perlu didalami oleh konselor meliputi bukan saja kemampuan akademik yang selama ini dikenal sebagai Inteligensi yang hanya mencakup kemampuan kebahasaan dan kemampuan numerikal-matematik yang lazim dinyatakan sebagai IQ yang mengedepankan kemampuan berpikir analitik, melainkan juga seyogyanya melebar ke segenap spektrum kemampuan intelektual manusia sebagaimana dipaparkan dalam gagasan inteligensi multipel (Gardner, 1993) selain juga menghormati keberadaan kemampuan berpikir sintetik dan kemampuan berpikir praktikal di samping kemampuan berpikir analitik yang telah dikenal luas selama ini (Sternberg, 2003), motivasi dan keuletannya dalam belajar dan/atau bekerja (perseverance, Marzano, 1992) yang diharapkan akan menerus sebagai keuletan dalam bekerja, kreativitas yang disandingkan dengan kearifan (a.I. Sternberg, 2003) serta kepemimpinan, yang dibingkai dengan kerangka pikir yang memperhadapkan karakteristik konseli yang telah bertumbuh dalam latar belakang keluarga dan lingkungan budaya tertentu sebagai rujukan normatif beserta berbagai permasalahan serta solusi yang harus dipilihnya, dalam rangka memetakan lintasan perkembangan kepribadian (developmental trajectory) konseli dari keadaannya sekarang ke arah yang dikehendaki. Selain itu, sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai pekerja di bidang profesi perbantuan atau pemfasilitasian (helping professions), dalam upayanya mengenal secara mendalam konseli yang dilayaninya itu, konselor selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan konseli dalam pelaksanaan layanan ahlinya,
b. Menguasai khasanah teoretik dan prosedural termasuk teknologi dalam bimbingan dan konseling. Penguasaan khasanah teoretik dan prosedural serta teknologik dalam bimbingan dan konseling (Van Zandt, Z dan J. Hayslip, 2001) mencakup kemampuan:
1) Menguasai secara akademik teori, prinsip, teknik dan prosedur dan sarana yang digunakan dalam penyeleng¬garaan pelayanan bimbingan dan konseling.
2) Mengemas teori, prinsip dan prosedur serta sarana bimbingan dan konseling sebagai pendekatan, prinsip, teknik dan prosedur dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.
3) Menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan.
Untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan (Gysbers, N. C. dan P. Henderson, 2006), seorang konselor harus mampu:
a) Merancang kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.
b) Mengimplementasikan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.
c) Menilai proses dan hasil kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan penyesuaian-penyesuaian sambil jalan (mid-course adjustments) berdasarkan keputusan transaksional selama rentang proses bimbingan dan konseling dalam rangka memandirikan konseli (mind competence).
d) Mengembangkan profesionalitas sebagai konselor secara berkelanjutan.

Sebagai pekerja profesional yang mengedepankan kemaslahatan konseli dalam pelaksanaan layanannya, Konselor perlu membiasakan diri menggunakan setiap peluang untuk belajar dalam rangka peningkatan profesio¬nalitas termasuk dengan memetik pelajaran dengan kerangka pikir belajar eksperiensial yang berlangsung secara siklikal (Cyclical Experiental Learning Model, Kolb, 1984) sebagai bagian dari keseharian pelaksanaan tugasnya, dengan merekam serta merefleksikan hasil serta dampak kinerjanya dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling (reflective practitioner, lihat kembali Schone, 1983). Selain itu, upaya peningkatan diri itu juga dapat dilakukan secara lebih sistematis dengan melakukan Penelitian Tindakan (Action Research), dengan mengakses berbagai sumber informasi termasuk yang tersedia di dunia maya, selain melalui interaksi kesejawatan baik yang terjadi secara spontan-informal maupun yang diacarakan secara lebih formal, sampai dengan mengikuti pelatihan serta pendidikan lanjut.

Kompetensi akademik sebagaimana dipaparkan di atas dapat dikuasai melalui pendidikan akademik dengan menu kurikuler yang mencakup kajian tentang Pedagogi, Psikologi Perkembangan, Psikologi Belajar, Bimbingan dan Konseling serta beberapa bidang penunjang seperti Filsafat Pendidikan, Sosiologi, Antropologi budaya, Dinamika Kelompok, Budaya Organisasi Kelas dan Sekolah, di samping kajian tentang program pendidikan dalam sistem pendidikan formal, Strategi Bimbingan dan Konseling serta Strategi Pembelajaran, Asesmen bakat dan minat konseli di samping asesmen proses dan hasil pembelajaran, Dinamika Kelompok, Pengelolaan Kelas dan sebagainya, dengan beban studi minimum 144 SKS.

2. Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor terbentuk melalui latihan dalam menerapkan Kompetensi Akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dikuasai itu dalam konteks otentik di sekolah atau arena terapan layanan ahli lain yang relevan melalui Program Pendidikan Profesi Konselor berupa Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang sistematis dan sungguh-sungguh (rigorous), yang terentang mulai dari observasi dalam rangka pengenalan lapangan, latihan keterampilan dasar penyelenggaraan konseling, latihan terbimbing (supervised practice) yang kemudian terus meningkat menjadi latihan melalui penugasan terstruktur (self-managed practice) sampai dengan latihan mandiri (self-initiated practice) dalam program pemagangan, kesemuanya di bawah pengawasan Dosen Pembimbing dan Konselor Pamong3 (Faiver, Eisengart, dan Colonna, 2004). Sesuai dengan misinya untuk menumbuhkan kemampuan profesional konselor, maka kriteria utama keberhasilan dalam keterlibatan mahasiswa dalam Program Pendidikan Profesi Konselor berupa Program Pengalaman Lapangan itu adalah pertumbuhan kemampuan calon konselor dalam menggunakan rentetan panjang keputusan-keputusan kecil (minute if-then decisions atau tacit knowledge) yang dibingkai kearifan dalam mengorkestrasikan optimasi pemanfaatan dampak layanannya demi ketercapaian kemandirian konseli dalam konteks tujuan utuh pendidikan. Oleh karena itu, pertumbuhan kemampuan mahasiswa calon konselor sebagaimana digambarkan di atas, mencerminkan lintasan dalam pertumbuhan penguasaan kiat profesional dalam penyeleng¬garaan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berdampak menumbuhkan sosok utuh profesional konselor sebagai praktisi yang aman buat konseli (safepractitioner) lihat kembali, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi, 2003; Schone, 1983; Corey, 2001; Hogan-Garcia, 2003; Sternberg, 2003]).

• Asesmen Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan akademik, penguasaan kemampuan profesional hanya dapat diverifikasi melalui pengamatan ahli yang, dalam pelaksanaannya, juga sering mempersyaratkan penggunaan sarana asesmen yang longgar untuk memberikan ruang gerak bagi diambilnya pertimbangan ahli secara langsung (on-the-spot expert judgement) misalnya sarana asesmen yang menyerupai Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG) yang merupakan high-inference assessment instrument, yang telah beredar di lingkungan LPTK sejak awal dekade 1980-an. Ini berarti bahwa perlu dikembangkan sarana asesmen yang serupa di bidang bimbingan dan konseling. Yang juga perlu dicatat sebagaimana telah diisyaratkan di atas adalah bahwa asesmen kemampuan profesional konselor itu tidak cukup apabila hanya dilaksanakan melalui pemotretan sesaat (snapshot atau moment opname), melainkan harus melalui pengamatan berulang, karena sasaran asesmen penguasaan kompetensi profesional itu bukan hanya difokuskan kepada sisi tingkatan kemampuan (maximum behavior) melainkan, dan terlebih-lebih penting lagi, adalah kualitas keseharian (typical behavior) kinerja konselor. Ini berarti bahwa, asesmen penguasaan kemampuan profesional itu perlu lebih mengedepankan rekam jejak (track record) dalam penyelenggaraan pengelolaan pelayanan bimbingan dan konseling dalam kurun waktu tertentu. Demi transparansi, asesmen penguasaan kompetensi profesional calon konselor itu dilakukan dengan menggunakan penguji luar baik dosen Bimbingan dan Konseling yang berasal dari LPTK lain, unsur Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) maupun konselor pamong yang berasal dari sekolah lain. Mahasiwa yang berhasil dengan baik menguasai kompetensi profesional konselor melalui Program Pendidikan Profesional Konselor yang berupa Progam Pengalaman Lapangan sebagaimana dipaparkan dalam bagian ini, dianugerahi Sertifikat Konselor dan berhak mencantumkan singkatan gelar profesi “Kons” di belakang namanya.

Memahani secara Mendalam Konseli yang hendak dilayani:
a. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mdviduaiftas. kebebasan memilih dan mengedepankan kemaslahatan Konseii dalam konteks kemaslahatan umum
b. Mengaplikasikan perkem¬bangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseii dalam bingkai budaya Indonesia, dalam konteks kehidupan global yang beradab
Menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling yang Memandirikan:
a. Menguasai konsep dan praksis asesrnen urluk memahami koncfsi. kebutuhan, dan masalah korset!.
b. Merancang program bimbingan den konseBng
c. Mengimptomert as8<an program bimbingan dan konseling yang komprehensif
d. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling
e. Memanfaatkan hasil penilaian terhadap proses dai hasil Kegiatan bimbingan dan konseling
Menguasai Landasan Teoretik Bmbingan dan Konseling
a. Menguasai teori dan praksis pendidikan
b. Menguasai kerangka teoretlk dan praksis bimbingan dan konsefng
c. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam Jalur, jenis dan Jenjang satuan pendidikan
d Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling
Mengencangkan Pribadi dan Profesionalitas secara Berkelanjutan
a Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Menunjukkan Integritas dan stabilitas kepribadian yang bekerja kuat
c. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika bimbingan dan konseling profesional
d. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat
e. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi
f. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi

C. Rincian Kompetensi Konselor
KOMPETENSI SUB KOMPETENSI
A. MEMAHAMI SECARA MENDALAM KONSELI YANG HENDAK DILAYANI
1. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum 1.1 Mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi
1.2 Menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya
1.3 Peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya
1.4 Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya.
1.5 Toleran terhadap permasalahan konseli
1.6 Bersikap demokratis.
2. Mengaplikasikan per kembang¬an fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli 2.1 Mengaplikasikan kaidah-kaidah perilaku manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran layanan bimbingan d an konseling dalam upaya pendidikan
2.2 Mengaplikasikan kaidah-kaidah kepribadian, individulaitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
2.3 Mengaplikasikan kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
2.4 Mengaplikasikan kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
2.5. Mengaplikasikan kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran layanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
B. MENGUASAI LANDASAN TEORETIK BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Menguasai teori dan praksis pendidikan 1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya
1.2 Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran
1.3 Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan
2. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan 2.1 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal
2.2 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus
2.3 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah
3. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling 3.1 Memahami berbagai jenis dan metode penelitian
3.2 Mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling
3.3 Melaksaanakan penelitian bimbingan dan konseling
3.4 Memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling
4. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling 4.1 Mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling.
4.2 Mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling.
4.3 Mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling.
4.4 Mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja.
4.5 Mengaplikasikan pendekatan /model/jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
4.6 Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling.
C. MENYELENGGARAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING YANG MEMANDIRIKAN
1. Merancang program Bimbing¬an dan Konseling 1.1 Menganalisis kebutuhan konseli
1.2 Menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan
1.3 Menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling
1.4 Merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling
2. Mengimplementasi kan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif 2.1 Melaksanakan program bimbingan dan konseling.
2.2 Melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling.
2.3 Memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal,
dan sosial konseli
2.4 Mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling
3. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling. 3.1 Melakukan evaluasi hasil, proses, dan program bimbingan dan konseling
3.2 Melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling.
3.3 Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait
3.4 Menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling
4. Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli 4.1 Menguasai hakikat asesmen
4.2 Memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling
4.3 Menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling
4.4 Mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli.
4.5 Memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli.
4.6 Memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan
4.7 Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling
4.8 Menggunakan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat
4.9 Menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen
D. MENGEMBANGKAN PRIBADI DAN PROFESIONALITAS SECARA BERKELANJUTAN
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 1.1 Menampilkan kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
1.2 Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran terhadap pemeluk agama lain
1.3 Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur
2. Menunjukkan inte gritas dan stabilitas kepribadian yang kuat 2.1 Menampilkan kepribadian dan perilaku yang terpuji (seperti berwibawa, jujur, sabar, ramah, dan konsisten)
2.2 Menampilkan emosi yang stabil.
2.3 Peka, bersikap empati, serta menghormati keragaman dan perubahan
2.4 Menampilkan toleransi tinggi terhadap konseli yang menghadapi stres dan frustasi
2.5 Menampilkan tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif
2.6 Bersemangat, berdisiplin, dan mandiri
2.7 Berpenampilan menarik dan menyenangkan
2.8 Berkomunikasi secara efektif
3, Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional 3.1 Memahami dan mengelola kekuatan dan keterbatasan pribadi dan profesional.
3.2 Menyelenggarakan layanan sesuai dengan kewenangan dan kode etik profesional konselor
3.3 Mempertahankan objektivitas dan menjaga agar tidak larut dengan masalah konseli.
3.4 Melaksanakan referal sesuai dengan keperluan
3.5 Peduli terhadap identitas profesional dan pengembangan profesi
3.7 Mendahulukan kepentingan konseli daripada kepentingan pribadi konselor
4. Mengimplementasi kan kolaborasi intern di tempat bekerja 4.1 Memahami dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/ madrasah, komite sekolah/madrasah) di tempat bekerja
4.2 Mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja
4.3 Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orang tua, tenaga administrasi)
5. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling 5.1 Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi
5.2 Menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling
5.3 Aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi
6. Mengimplementasi kan kolaborasi antarprofesi 6.1 Mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain
6.2 Memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling
6.3 Bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain.

Daftar Pustaka
Sofyan Willis, S (2009) Konseling Individual, AlfaBeta, Bandung
Sunaryo, (2009) Arah Dan Tantangan Bimbingan Dan Konseling Profesional:
Proposisi Historik- Futuristik,UPI Press
Depdiknas, (2009) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia.
Winkel, (2002) Bimbingan Konseling di Sekolah, Gramedia, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: