COUNSELING SETTING AND SITUATIONS (Setting dan situasi konseling)

COUNSELING SETTING AND SITUATIONS
(Setting dan situasi konseling)
Hal. 40 – 55
A. SETTING KONSELING
Sebagaimana diketahui, bahwa sekolah merupakan seting utama untuk perkembangan profesi konseling. Namun dalam duapuluh tahun terakhir di kalangan masyarakat peranan konselor mulai bangkit. Seting yang paling dinamis bagi profesi konseling adalah konseling pada masyarakat.
1. Konseling di Masyarakat
Munculnya konseling ini disebabkan oleh perkembangan suatu pendidikan terhadap disain program layanan yang disebut Psikologi Masyarakat. Awalnya dimulai sejak tahun 1960-an dengan adanya laporan tentang kesehatan mental masyarakat dan legislasi untuk pendanaan bagi pusat kesehatan mental untuk masyarakat.
Gearakan kesehatan mental masyarakat berbeda dari pemikiran tentang pemberian layanan kesehatan masyarakat. Pendekatan Psikologi masyarakat dikatakan sebagai inovatif dalam beberapa hal: Pertama, pendekatan ini cendrung mengurangi perhatian terhadap model intrapsikik yang diambil dari psikologi abnormal dan cendrung memandang disfungsi psikologi sebagai sesuatu yang muncul dari respon yang dilakukan seseorang terhadap persoalan dasar dalam kehidupan. Kedua, psikologi masyarakat bukan hanya untuk menangani individu dalam masyarakat tetapi juga persoalan sosial yang sering menimbulkan permasalahan individu. Ketiga, pendekatannya mempunyai perhatian terhadap pencegahan.
Konselor telah bergerak dalam bermacam agen masyarakat, ternyata konseling cocok untuk program masyarakat. Keterampilan konselor dalam konseling pendidikan dan vokasional telah memberikan kompetensi khusus yang tidak dimilki oleh profesional lain di masyarakat.
2. Konseling di Sekolah-sekolah
Bimbingan konseling di Amerika merupakan inovasi pendidikan yang khas. Dalam banyak hal, keyakinan dasar dari konseling adalah hubungan dengan doktrin tentang penempatan perbedaan individual sebagai pusat perencanaan program pendidikan. Namun konseling di sekolah juga memiliki tantangan untuk mendapatkan tempat yang unik dan dihargai dalam organisasi sekolah. Salah satu adalah usaha untuk memisahkan konseling dari profesi mengajar.
Menurunnya gerakan pendidikan yang progresif dan munculnya ide dari psikologi humanistik telah mempengaruhi profesi konseling pada tahun 1950-an. Pada masa ini konseling dan mengajar seakan merupakan dua hal yang berlawanan. Pada akhir 1950-an jumlah konselor di sekolah bertambah, konflik tentang fungsi dan peranan juga meningkat. Konselor berusaha untuk lepas dari tugas-tugas administrasi. Konflik peranan yang dihadapi konselor disebabkan karena belum jelasnya konsepsi terhadap peranannya , karena ide dan sikap yang diajarkan dalam program koselor lebih cocok untuk seting privat dari pada seting sekolah.
Dan pada akhir tahun 1950-an itu juga konselor ditugaskan untuk meningkatkan persentase siswa mengambil pelajaran matematika dan sains. Namun satu dekade kemudian konselor dikritik, karena dianggap tidak memperingatkan para siswa tentang kelebihan insinyur dan dokter.
3. Konseling di Perguruan Tinggi
Konseling perguruan tinggi merupakan layanan tambahan yang diorganisir di luar administrasi akademik. Model organisasi di perguruan tinggi telah membuat konseling berada di luar pengajaran dan kehidupan akademik. Konsep konselingnya merupakan model klinis, yang memberikan pelayanan pada orang-orang yang datang berupa layanan konseling dan psikoterapi. Namun programnya berusaha berkolaborasi dengan pihak-pihak lain di kampus, dengan maksud meningkatkan kualitas kampus. Kegiatan layanan konseling di kampus dewasa ini paling bervariasi.
4. Konseling Rehabilitasi
Tugas konselor dalam seting rehabilitasi membantu pasien untuk dapat menerima “kecacatannya” serta bisa mengatasi masalah yang berhubungan dengan kecacatannya. Para konselor juga dapat memberikan pendidikan dan vokasional bila pasien memerlukan perubahan karir. Untuk itu konselor bekerja sama dengan dokter dan profesional lainnya. Selain keterampilan konseling, ia juga memiliki keterampilan khusus yang berhubungan dengan aspek medis dan cacat, serta konselor juga terampil dalam menilai vokasional dan psikologis.
5. Konseling dalam Perawatan Kesehatan
Perkembangan terbaru dari profesional konseling adalah pemanfatan konselor di dalam perawatan kesehatan. Konseling perawatan kesehatan dibangun berdasarkan beberapa asumsi dasar: Pertama, karena sakit yang dederita akan dapat menimbulkan stress dan dapat mempengaruhi emosional. Kedua, respon manusia terhadap sakit sebagai organisme yang utuh, bukan hanya emosi atau fisik saja. Ketiga, sakit yang berkepanjangan akan menimbulkan masalah baik bagi diri pasien maupun keluarganya.
Aspek paling penting dan berkembang dari konseling perawatan kesehtan adalah pencegahan penyakit melaui kebiasaan hidup sehat, seperti menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi berat badan, dan kebiasaan berolah raga.
6. Konseling dalam Praktek Privat
Walaupun praktek privat merupakan lahan yang relatif baru bagi profesi konseling, namun jumlah konselor yang bergerak dalam bidang ini semakin banyak. Layanan diberikan kepada kelompok/lembaga berdasarkan kontak, seperti layanan kepada lembaga bisnis untuk program bantuan bagi pekerja, atau program seleksi pegawai.
Persoalan besar di dalam konseling praktek privat menyangkut tentang kepercayaan profesional. Konselor sekaligusssebagai psikolog mungkin memperoleh lisensi demikian. Namun di beberapa negara bagian lisensi juga diberikan kepada dokter dan pekerja sosial.
B. SITUASI KONSELING
1. Organisasi Profesi Konselor.
Konferensi nasional pertama bagi para konselor telah dilaksanakan pada tahun 1910, di mana profesi konseling saat itu sangat beragam. Pada tahun 1913 didirikanlah The National Vocational Guidance Ascociation (Asosiasi Vokasional dan Bimbingan Nasional). Pada tahun 1951 beberapa Asosiasi profesional bergabung dalam membentuk American Personal and Guidance Association,yang kemudian berubah menjadi America Association for Counseling and Development pada tahun 1984. Karena beberapa konselor juga sekaligus sebagai psikolog, maka bermunculanlah organisasi profesi yang paralel lainnya.
2. Konseling : Usaha untuk Sebuah Profesi yang Utuh dan Unik
Konseling merupakan profesi yang baru dan terpisah-pisah. Mungkin keragaman inilah yang menjadi kekuatan utama konselor. Karenanya, tuntutan utama profesi ini adalah kemampuan untuk mengkonseptualisasikan dan menunjukkan ide yang dapat memperlihatkan keunikan dasar teoritis dan filosifisnya yang utuh. Berikut ini adalah gambaran keutuhan dan keunikan profesi tersebut.
Konseling Lintas Budaya
Permasalahan yang sulit dihadapi oleh konselor profesional “konseling lintas budaya” adalah perbedaan latar budaya antara konselor dengan klien. Perbedaan ini akan menimbulkan penghalang di antara keduanya di dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Perbedaan tersebut berkenaan dengan norma, adat kebiasaan, agama, usia, jenis kelamin, pendidikian dan pengalaman, dan sebagainya. Hal tersebut dapat diatasi dengan menciptakan suasana saling percaya dan saling memahami satu sama lain.
Memahami Perbedaan Kelompok.
Karena banyaknya bias dan deskriminasi dalam masyarakat, konselor hendaknya dapat bepikir jernih dan rasional terhadap etnik dan perbedaan kultural dalam kelompok klien. Tampa menyadari hal tersebut konselor bisa bersikap rasial. Langka pertama untuk mengatasi pengaruh bias dan diskriminasi tersebut adalah dengan belajar untuk berpikir jelas dan hati-hati tentang istilah yang digunakan untuk mendiskripsikan perbedaan sosial.
Ras dan etnik merupakan istilah yang berbeda. Etnik merujuk pada warisan sosial (agama, bahasa, asal daerah, kebiasaan,dan ciri budaya lainnya). Etnik cendrung diwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kultural tertentu tidak perlu berhubungan dengan karakteristik biologis atau genetik. Kultural mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki oleh suatu kelompok yang diwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Konsep ini mencakup semua pola tingkah laku yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Istilah lain yang disalah pahami adalah ‘minoritas’, yang dipakai untuk mendeskripsikan suatu kelompok yang kecil, di mana kelompok ini sering tertekan oleh kelompok mayoritas.
Konsep Jarak Sosial Psikologis
Konsep ini mencakup keseluruhan gap dalam kultural, sosial dan karakteristik dan perspektif individual, yang memisahkan diri seseorang dengan yang lainnya, karena dapat mempersulit untuk terjadinya berbagi pengalaman hidup. Agar dapat memahami pihak lain karena adanya jarak sosial psikologis antara konselor dengan klien, maka masing-masing pihak berusaha dengan stereotyping (meniru). Ini merupakan suatu bentuk persepsi di mana seseorang mereaksi terhadap karakteristik orang lain.
Sumber-sumber Bias
Ada tiga kekeliruan asumsi atau sumber bias,yakni:
Pertama, asumsi yang menyimpang. Pandangan yang mengasumsikan bahwa permasalahan semacam ini berakar dari perbedaan adat, sikap atau pola tingkah laku yang lain dari kelompok minoritas, dan norma sosial yang dimiliki oleh kelompok mayoritas. Pengabaian variasi tingkah laku dalam suatu kelompok kultural cendrung meningkatkan pemikiran etnosentrik.
Kedua, asumsi defisit kultural. Pandangan ini cenderung mengasumsikan bahwa anggota-anggota kelompok minoritas menderita kekurangan yang disebabkan oleh karena kekurangan dalam warisan kulturalnya. Yang mendasari asumsi ini adalah pandangan bahwa kultural yang dominan adalah kultural yang lebih tinggi dibandingkan dengan minoritas.
Ketiga, model defisit genetis. Asumsi atau pendekatan ini menyatakan bahwa perbedaan antar kultural pada tes inteligensi adalah disebabkan perbedaan genetis yang tidak terpengaruh oleh pendidikan atau pengalaman sosiokultural. Menurut pandangan ini dalam pencapaian pendidikan, satatus pekerjaan dan lainnya adalah kareana faktor genetis.
Konselor yang Kultural ‘encapsulated’
Yang menjadi perhatian adalah sejauhmana pemikiran stereotype tentang perbedaan kultural mengkontaminasikan dan membatasi pemikiran pada konselor profesional. Pemikiran yang demikian mengarah pada konselor yang ‘culturally encapsulated’ (mewakili gambaran suatu kultural).
Dari contoh terungkap bahwa encapsulated kultural dan pemikiran yang sejenisnya tentang perbedaan kelompok etnis yang muncul bukan karena perasaan benci tetapi karena terbatasnya pengalaman dan kurangnya kesadaran diri.
Agar konselor terhindar dari hal ini, maka konselor harus mengembangkan suatu tingkat kompleksitas kognitif yang memadai agar dapat menghadapi informasi tentang sesorang yang asing dari budayanya. Konselor harus diekspos agar terjadi kontak dengan kelompok kultural yang berbeda, agar konselor dapat memahami keragaman kultural yang ada. Konselor juga harus dibantu untuk dapat mengintegrasikan aspek-aspek kultural yang tampak berbeda. Agar konselor dapat mengatasi perbedaan lintas kultural yang memisahkan dia dari klien, mereka harus mendapatkan pengalaman praktis yang mencakup lebih dari sekedar kontak superficial dengan kelompok lain. Pengalaman yang demikian harus diberikan kepada semua calon konselor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: