ETHICAL AND VALUE QUESTIONS (Permasalahan Etika dan Nilai)

ETHICAL AND VALUE QUESTIONS
(Permasalahan Etika dan Nilai)
Keadaan Profesi
Prinsip-prinsip etika dan masalah etika meupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan profesional keluarganya, muncul dari profesi itu sendiri dan penentu suatu profesi tergantung dari kepercayaan publik serta dari kepercayaan itu, juga memungkinkan kelompok mendapatkan kepercayaan untuk erfungsi profesional.
Persepsi tentang kompetensi
Kepercayaan publik terhadap semua profesional dianggap memilki keahlian dan kompetensi yang telah dimiliki oleh kebanyakan orang. Publik memandang bahwa kompetensi muncul dari pendidikan khusus, serta penyelesaiannya diperlukan kompetensi yang tinggi.
Persepsi tentang diri sendiri dan aturan umum
Merupakan persepsi dari keyakinan publik terhadap kelompok profesional dalam mengatur dirinya sendiri, dan didalam kepentingan umum dapat diatur oleh masyarakat.
Persepsi tentang layanan umum
Yaitu persepsi terhadap anggota dari suatu provesi ysang termotivasi didalam melayani orang yang dihadapinya.

Permasalahn Tenatang Etika dan Profesional Dalam Konseling.
Pertanyaan tentang etika berakar pada kepercayaan publik, persepsi akan perubahan apabila semua anggota persepsi berubah. Dalam Efektivitas dan perkembangan masa mendatang erat hubungannya dengan kemampuan dalam mengikuti dan m,endaptkan kepercayaan publik. Alasan pertama , konseling merupakan profesi yang baru, kedua, konseling berhubungan dengan klien pada tingkat pribadi yang mendalam, ketiga, persepsi konseling tidak terdefinisikan dan teridentifikasikan secara jelas oleh publik.
– Permasalahan Etika dan Prinsip-prinsip Dalam Konseling.
Permasalahn etika profesional dalam konseling merupakan masalah bagi konselor maupun klien, yang dikenal tentang Comfidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan
Klien banyak memberikan informasi tentang pribadinya dengan kerahasiaan sangat penting bagi konselor, untuk memudahkan dalam memberikan pelkayanan terhadap informasi yang akan jadi pusat perhatian.
Level kerahasiaan
Pertama berhubungan dengan penggunaan informasi secara profesional. Tiap konselor profesional berkewajiban untuk memperlakukan informasi melalui kontak profesional juga. Kewajiban ini mencakup informasi yang diperoleh konseling, tetapi jiga informasi yang lain misalnya dari percakapan tempat dan lain-lain. Kedua berhubungan denga informasi khusus yang muncul dalam proses konseling. Konselor dapat memberi tahu klien sebelum membagi informasi terhadap profesional yang lain apabila hal tersebut terbaik bagi klien. Ketiga konselor sepenuhnya memegang kepercayaan atau kerahasiaan terhadap informasi klien, kecuali apabila inormasi penting berhubungan dengan jiwa manusia.
Implikasi Hukum dari Kerahasiaan
Salah satu prinsip “Privileged Communication). Konsep ini memandang bahwa hubungan profesional penting bagi kesejahteraan individu dan masyarakat, maka tidak boleh dicapuri bahkan oleh hukum sekalipun. Praktek Preveleged Communication bahwa profesional tidak dapat dipaksa untuk meberikan kesaksian melawan kliennya dalam tindakan kriminal yang berhubungan dengan apa yang telah dikomunikasikan dengan hubungan profesionalnya.

Kompetensi
Etika profesi sesungguhnya lebih dari sekedar niat baik, disebabkan bahwa pelayanan komnselor didasarkan pada kepercayaan akan kompetensinya. Berkaitan dengan ini konselor mempunyai dua kewajiban (1) kewajiban untuk tidak bekerja diluar area kompetensinya, (2) mereka mempunyai kewajiban, untuk tidak memberikan gambaran yang salah tentang profesional terhadap klien atau calon klien. Konselor profesional benar-benar jelas dan jujur pada diri sendiri serta batas-batas kemampuan sendiri.

Komplek Kepentingan.
Secara etika konselor berkewajiban untuk bertindak demi kepentingan klien dan kepentingannya, atau komitmen lain dari konselor. Ini berarti bahwa konselor tidak terlibat memberikan konseling terhadap teman dekat, kerabat dekat, atau yang mempunyai hubungan atasan- bawahan

Kode Etik danTanggung Jawab Profesional
Kode etik pada dasarnya adalah prinsip-prinsip yang harus di usahakan untuk di aplikasikan oleh praktisi dalam situasi yang nyata. Karena tingkah laku etik merupakan masalah semua profesional maka tanggung jawab tidak dibatasi pada tingkah laku sendiri saja, mana kalah harus mengamati tingkah laku konselor lain yang tidak sesuai dengan kode etik, maka konselor yang mengamati harus melakukan tindakan bisa formal maupun non formal.

Masalah Nilai
Konselor mempunyai sistem nilai yang mantap, serta tidak menjadi individu yang lemah dan mencoba untuk menghindarikan diri dari kenyataan yang ada, maka konselor harus mampu menunjukkan dirinya matang penuh perhatian, kemudian dapat pula menunjukkan dirinya orang yang sensitif, taat dan konsisten yang dapat dipercaya.
Prinsip tingkat pertama, dalam melakukan penalaran dan membuat pertimbangan moral dala situasi etika yang kompleks adalah dengan menggunakan kerangka kerja moral yang umum sifatnya, yakni dasar untuk mengambil kepiutusan baik buruk. Kerangka ini disebut”prinsip tingkat pertama”. Karena kerangka kerja bersifat dasar dan mencakup semua hal. Beberapa kerangka kerja moral yang sering digunakan.
Theisme, didasarkan pada pandangan bahwa manusia harus bertindak yang dapat menyenangkan, atau yang sesuai dengan kehendak tuhan (bersifat keyakinan).
Keharusan moral
Etika dan moral didasarkan pada konsep “categorikakal inveractives” yang dikemukakan oleh Khan. Model ini merupakan model rasional kecuali bahwa premis dasar atau asumsi dari mana kita memulai proses cakupannya harus bersifat umum.
Penalaran ulitlitarian
Pandangan yang bertujuan untuk meningkatkan kebahagian dan kesejahteraan umat manusia.
Egoisme etika
Pandangan ini menyatakan bahwa manusia harus bertindak untuk kepentingan jangka panjang. Dengan kata lain, petunjuk untuk membuat pertimbangan moral adalah apakah untuk jangka panjang hal tersebut akan menguntungkan dirinya ataukah tidak.
Intuisionisme Moral,
Pada kerangka kerja membuat keputusan moral adalah perasaan pribadi tentang suatu situasi. Orang yang bermoral orang yang benar-benar sadar dan sensitif serta bertindak pada perasaan yang kuat.
Pencarian akan keadilan sosial
Kerangka kerja didasarkan kepada prinsip keadilan sosial artinya berbuat dan bertindak bvenar-benaradai tanpa perbedaan.

Prinsip tingkat kedua, cakupannya adalah, penghormatan terhadap manusia, terhadap kebenaran, rahasia pribadi, kebebasan dan autonomi, janji dan komitmen, perhatian tehadap yang lemah, terhadap pertumbuhan dan perkembangan orang, terhadap orang tersakiti, terhadap martabat dan kesamaan manusia, terhadap syukur dan revarasi serta kebebasan manusia.

Sebuah model pengambilan keputusan yang etika
Ada lima langkah yang ditempuh dalam memikirkan dilema etika dan moral yang sulit. Diantaranya; tinjauan kerangka kerja umum atau prinsip tingkat pertama yang dijadikan dasar untuk penalaran modal anda, tulisan prinsip-prinsip tingkat dua yang tanpak paling relevan dengan situasi yang ada, kumpulkan semua informasi yang relevan dengan situasi yang ada, tuliskan pilihan utama yang anda milki dan bandingkan pemilijhan ini berdasarkan tingkat komitmen anda pada prinsip pertama dan prinsip kedua.
Apabila konselor profesional dapat mengembangkan etika dan moral yang menjadi dasar bagi hubungan profesionalnya, mereka akan ssanggup mnenghadapi orang lain dengan penuh konsisten dan percaya baik ileh klien maupun sejawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: