FAMILY THERAPY

FAMILY THERAPY

BAB I
POLA INTERAKSI KELUARGA

Sebuah keluarga adalah sistem sosial yang alami, dimana seseorang menyusun aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi, cara mendiskusikan pemecahan masalah sehingga dapat melaksanakan berbagai kegiatan dengan lebih efektif. Sistem keluarga dipelajari melalui 3 perspektif : Pertama, secara struktural dapat dilihat dengan dyadic yaitu subsistem suami isteri, saudara kandung, dari anak dengan orang tua, dan tryadic yaitu subsistem ibu-nenek-anak perempuan atau ayah, kakek dan anak perempuan. Kedua, secara fungsional adalah bagaimana cara keluarga melindungi, merawat dan mendidik anak. Bagaimana membuat lingkungan fisik, sosial dan ekonomi untuk mendukung perkembangan individu, bagaimana menciptakan ikatan yang kuat dan terpelihara, bagaimana orang tua mendidik anak supaya sukses dikehidupan dunia. Ketiga, secara developmental, keluarga seperti individu, dimana dalam kehidupannya berbagai tugas perkembangan harus dikuasai dan cara baru untuk beradaptasi harus selalu disempurnakan.

MENGADOPSI PERSPEKTIF KELUARGA
Untuk mengatasi permasalahan disfunction behaviour dapat dilakukan dengan metode terapi keluarga. Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Rancangan kerja terapi keluarga, awal permasalahan yaitu pada apa yang menyebabkan adanya kesulitan hubungan dan tingkah laku individu menjadi tidak bisa dimengerti. Pendekatan terapi keluarga lebih melihat bahwa individulah yang membawa simptom. Individu yang sakit telah menggambarkan adanya ketidakseimbangan di dalam keluarganya. Terapi keluarga fokusnya adalah anggota keluarga lain, membantu untuk memahami masalah sebagai gambaran tidak berfungsinya sistem dalam keluarga.

MEMBANTU MASALAH KELUARGA
Terapi keluarga dapat dilakukan oleh sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda.

Berikut ini adalah tipe keluarga yang ada di Amerika :
Tipe Keluaga Anggota Keluarga
Nuclear Family Suami, isteri, anak
Extended Family Nuclear family ditambah kakek, paman, bibi
Blended Family Suami, isteri ditambah anak dari pernikahan sebelumnya
Common Law Family Laki-laki, perempuan, dan mungkin anak yang tinggal bersama sebagai keluarga, meskipun tanpa diikat oleh pernikahan yang sah
Single Parent Family Rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua (laki-laki atau perempuan) yang mungkin disebabkan oleh perceraian, kematian, ditinggalkan atau tidak pernah menikah.
Commune Family Laki-laki, perempuan dan anak tinggal bersama, berbagai hak dan kewajiban, memiliki dan menggunakan perabotan bersama, kadang memutuskan untuk melakukan pernikahan monogami.
Serial Family Laki-laki atau perempuan yang telah menikah berkali-kali kemudian mendapatkan pasangan dan keluarga sepanjang hidupnya tetapi hanya sekali memiliki nuclear family.
Composite Family Bentuk pernikahan poligami dimana 2 atau lebih nuclear familiy berbagai suami (poligini) atau isteri (poliandri)
Conabitation Hubungan yang kurang permanen antara 2 orang yang tidak menikah dengan jenis kelamin berbeda yang tinggal bersama tanpa adanya aturan yang sah.
Gay Coupies Pasangan dengan jenis kelamin sama yang membina hubungan homoseksual.

PROSES PERKEMBANGAN KELUARGA
Menurut Carter dan McGoldrick (1980) terdapat siklus kehidupan keluarga. Dengan mengenali fase perkembangan keluarga, kita akan tahu para tiap anggota keluarga dan memahami keluarga sebagai system yang dinamis. Semua anggota keluarga akan mengalami krisis-krisis yang dapat merubah hubungan dengan system keluarga. Hoffman (1980) menyebut gangguan tersebut sebagai discountinous changes – perubahan tiba-tiba yang merubah system keluarga sehingga tidak bisa kembali pada bentuk dan fungsinya semula.

SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA
Setiap fase perkembangan keluarga menurut keluarga menghadapi tugas-tugas baru dan mempelajari teknik adaptasi yang sesuai. Duvall (1977) menggambarkan tipe siklus keluarga dari keluarga utuh dengan lingkaran yang memiliki 8 sektor. Lingkaran ini dapat membantu menempatkan keluarga berada difase yang mana dan memprediksi kapan setiap fase akan dicapai. Perilaku disfungsional pada individu anggota keluarga berhubungan dengan stressor vertical dan horizontal dalam system keluarga. Stresor vertical meliputi pola-pola hubungan dan fungsi-fungsi yang diturunkan antar generasi. Stressor horizontal meliputi kecemasan-kecemasan akibat peristiwa yang dialami sepanjang keluarga melalui siklus kehidupannya.

TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA
Tabel tahap-tahap siklus kehidupan keluarga
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga Proses Emosi Transisi : Prinsip Utama Perubahan Sekunder Yang dibutuhkan untuk dapat berkembang
1.Antara keluarga dan
dewasa muda yang
tidak terikat Menerima bahwa harus siap berpisah dengan keluarga a.pembedaan diri dalam hubungan dengan keluarga
asal.
b. Membangun hubungan yang intim dengan sebaya
c. Mapan dalam keluarga
2. Penyatuan keluarga
melalui perkawinan
pasangan pengantin
baru Komitmen dengan system yang baru a. Membantuk sistem keluarga
b. Menyusun kembali hubungan dengan keluarga
luas dan teman dengan melibatkan pasangan
3.Keluarga dengan
anak kecil Menerima anggota baru ke dalam sistem a.Menyesuaikan system dengan memberi ruang
untuk anak
b. Mengambil peran menjadi orang tua
c. Menyusun kembali hubungan dengan keluarga
luas termasuk peran orang tua dan kakek nenek
4.Keluarga dengan
remaja Menambah fleksibilitas dalam ikatan keluarga termasuk memberi kebebasan pada anak a.Mengganti hubungan orang tua-anak dengan
mengizinkan anak keluar masuk system
b. Memfokuskan kembali pada masa perkawinan
pertengahan dan masalah akhir.
c. Mulai fokus pada generasi lansia
5. Pelepasan anak-
anak dan keluarga
harus terus berlanjut Menerima masuk dan keluarnya anak dalam system keluarga a.Menegaskan kembali system perkawinan sebagai
sebuah dyad.
b. Mengembangkan hubungan orang tua anak
sebagai hubungan sesama orang dewasa.
c. Menyusun kembali hubungan dengan melibatkan
mertua dan cucu.
d. Menerima disabilitas atau kematian orang tua
6. Keluarga dalam
kehidupan senja Menerima pergantian peran antar generasi a. Memelihara fungsi dan interes pribadi maupun, pasangan dalam menghadapi penurunan fisik, menemukan peran-peran baru dalam kehidupan keluarga dan sosial.
b. Mendukung generasi kedua menjadi sentral peran
c. Menyediakan ruang untuk kebijaksanaan dan pengalaman para orang tua dalam system, mendukung mereka tanpa diberdayakan secara berlebihan
d. Menerima kehilangan salah satu pasangan, saudara-saudara kandung, atau teman sebaya dan mempersiapkan kematian, mengkaji dan menginterprestasikan kehidupan.

Keluarga-Keluarga Alternatif
Keluarga lainnya seperti single parents dan keluarga inti telah mengalami suatu gangguan pada siklus kehidupan keluarga sebelum menuju tahap perkembanganya. Pentingnya bagi terapis keluarga untuk mengetahui latar belakang etik dan social ekonomi suatu keluarga.
BAB II
KEBERUNTUNGAN DAN KETIDAKBERFUNGSIAN
SISTEM KELUARGA

TEORI SISTEM: BEBERAPA PERTIMBANGAN DASAR
Suatu sistem digambarkan sebagai satu set unit yang saling berinteraksi dengan hubungan antara mereka yang ada didalamnya (Miller, 1978) atau seperti satuan unsur-unsur yang didasarkan pada interaksi (Bertalanffy, 1968). Gray, Duhl dan Rizzo (1969) menjelaskan bahwa teori sistem menghadirkan suatu pendekatan ilmu baru yang menekankan keutuhan, interaksi bagian komponen dan organisasi sebagai pemersatu prinsip. Konsep organisasi adalah dasar dan teori sistem (Steinglass, 1978). Konsep keutuhan terdiri dari dua prinsip pokok teori sistem yaitu sistem terbuka dan tertutup. Sistem terbuka menerima masukan perihal, energi atau informasi dari lingkungan dan mengeluarkannya ke lingkungan. Sistem tertutup tidak mempunyai pertukaran dengan lingkungan; sistem itu hanya beroperasi di dalam batasan-batasannya. Sistem terbuka dikatakan negentropy; yaitu dapat menyesuaikan diri dan terbuka bagi perubahan. Sistem tertutup cenderung ke arah entropy; yaitu dikacaukan dan diperuntukan untuk kekacuan akhirnya. Semua sistem diharapkan mampu memelihara beberapa macam keseimbangan. Homeostatis mengacu pada kecenderungan suatu sistem untuk memelihara keseimbangan dinamis disekitarnya.

BEBERAPA KARAKTERISTIK SISTEM KELUARGA
Aturan Keluarga
Suatu keluarga adalah aturan sistem yang diatur, interaksi anggota keluarga mengikuti aturan, menetapkan pola teladan.

Homeostatis Keluarga
Dalam terminiologi keluarga, homeostatis mengacu pada keramahan, menopang proses interaksi yang berlangsung di dalam suatu keluarga dan membantu menyakinkan keseimbangan internal.

PERUBAHAN PERAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI
Dimensi psikologis dalam peran perempuan dan laki-laki

Peran perempuan
1. Oriantasi rumah, orientasi anak
2. Kehangatan, emosi, kelembutan, penawaran
3. Tenggang rasa, bijaksana, berbelas kasih
4. Suka murung, temperamental, emosional tidak masuk akal.
5. Keluhan, mengomel.
6. Lemah tanpa mengharapkan, mudah secara emosional luka.
7. Bersikap tunduk, bergantung

Peran laki-laki
1. Ambisi, kompetisi, mencoba usaha baru, duniawi
2. Tenang, stabil, tak berperasaan, realistas, logis
3. Kuat, tabah
4. Agresif, kuat bersifat menentukan, dominan
5. Bebas, percaya diri
6. Kasar, menjengkelkan, kejam
7. Otokritas, kaku, angkuh

FUNGSI DAN DISFUNGSI SISTEM KELUARGA
Mengelompokan fungsi keluarga

Tipologi keluarga kantor & Lehr’s
Menurut Kantor & Lehr’s (1975) ada tipe keluarga yakni terbuka, tertutup dan random yang mencakup bentuk struktur hubungan keluarga internal dan akses untuk menyesuaikan dengan dunia luar. Dalam tipe keluarga terbuka, menekankan demokratis, kejujuran. Fleksibilitas tercermin pada keluarga ini, negosiasi antar anggota keluarga dapat dilakukan, dan diharapkan adanya loyalitas antar anggota keluarga. Dalam tipe keluarga tertutup, aturan dan struktur hirarki diterapkan, orang tua membatasi pergaulan anaknya, semua kegiatan dirumah dipersiapkan mulai nonton acara TV dan sebagainya. Pada tipe ini, keluarga mempunyai jadwal tersendiri untuk diterapkan. Tujuan dari tipe keluaga ini adalah untuk stabilitas yang sesuai dengan tradisi sedangkan tipe keluarga terbuka, lebih mengarah pada penyesuaian jaman. Struktur keluarga random menekankan aturan namun hanya aturan tertentu yang harus dijalankan. Jadwal makan jarang ditentukan karena disesuaikan dengan aktivitas anggota keluarga. Tujuan dari tipe keluarga ini adalah eksplorasi melalui intuisi.

Model Olson’s Circumplex
Penelitian David menemukan model integratif dari fungsi keluarga yang berdasarkan pada dimensi keluarga yakni kohesi dan kemampuan untuk menyesuaikan. Kohesi adalah keterikatan emosional antara anggota keluarga dan otonomi individu dalam sistem keluarga. Kemampuan adaptasi adalah kemampuan anggota dalam sistem keluarga untuk mengubah struktur, aturan dan peran dalam hubungunnya untuk merespon situasi. Olson dan koleganya berpendapat bahwa keseimbangan antara dimensi ini lebih diperlukan untuk mencapai perkawinan yang efektif.

Paradigma keluarga Reiss’s
Penelitian Reiss’s menemukan bagaimana keluarga mengembangkan paradigma keluarga dan apa yang terjadi jika paradigma tersebut dirusak. Reiss (1981) membedakan 3 dimensi dengan karakteristik paradigma keluarga yakni ”konfigurasi” (level keluarga yang percaya bahwa dunia sudah menjadi sifat seperti yang telah ditentukan), ”koordinasi” (tingkat kepercayaan bahwa lingkungan mempunyai efek yang sama terhadap semua anggota keluarga) dan ”closure” (variasi persepsi keluarga tentang peristiwa yang familiar kemudian diinterprestasikan atas dasar pengalaman yang lalu).

Fungsi tingkat Beavers’s
Penelitian Lewis, Beavers, Gossett & Phillips (1976) melihat kekuatan dan kelemahan anggota keluarga untuk mengidentifikasi interaksi dalam sistem keluarga yang sehat untuk menjalankan fungsi-fungsinya secara optimal. Fungsi keluarga yang baik adalah anggota bersedia untuk berhubungan dengan anggota keluarga yang lain. Mereka mengharapkan adanya kepedulian, keterbukaan, empati dan kepercayaan. Sedangkan anggota keluarga yang disfungsional biasanya bersifat menolak, menjaga jarak dan bermusuhan. Keluarga yang berfungsi tinggi, anggotanya lebih peduli pada kemandirian pribadi dan mengembangkan sikap toleransi. Keluarga disfungsional, anggota keluarga merespon yang lain dengan sikap pasif dan lemah.
Persaingan dan konflik yang tersembunyi antara anggota keluarga disfungsional akan menyebabkan frustasi. Ketika anak tumbuh pada suatu lingkungan keluarga yang mengalami pergeseran, mereka mempelajari peran yang strereotype dalam mengembangkan identitas. Ketika mereka beranjak remaja maka akan memisahkan diri dari keluarga dan sikap keluarga dapat dibedakan menjadi centripental dan centrifugal (Stierlin, 1972). Centripental merupakan kecenderungan anggota keluarga untuk terlibat satu sama lain sedangkan centrifugal menandakan kenyamanan saat proses melepaskan terjadi. Pada keluarga disfungsional dengan gaya centripental, menurut Beavers, remaja memandang keluarga sebagai hal yang harus memenuhi kebutuhan mereka dibanding dengan lingkungan luar keluarga.

BAB III
TANDA-TANDA DISFUNGSI KELUARGA

Krisis memberikan kesempatan bagi keluarga untuk berkembang menjadi lebih baik dan mempunyai bekal menghadapi tantangan ke depan. Kita kemudian menguji beberapa tanda umum perilaku difungsi dalam keluarga : pola komunikasi yang patologis, keterlibatan dan menjaga jarak, korban kekerasan dalam keluarga, penyalahgunaan peran dalam keluarga, berakhir dengan menetapkan mitos-mitos keluarga.

STRESS HIDUP DAN KRISIS KELUARGA
• Stres berhubungan dengan transisi dalam perputaran kehidupan keluarga atau perubahan mendadak yang dapat mengarahkan pada krisis keluarga yang menantang bagi stabilitas keluarga.
• Keluraga akan kurang mempunyai pengalaman hidup bila tanpa kesulitan, ketegangan, dan pengalaman kegagalan. Bahkan keluarga yang paling tenang sekalipun kadangkala harus berurusan dengan masalah. Menninger (1963); krisis dalam keluarga sebagai suatu rangkaian kemarahan, perubahan, trauma, atau sesuatu yang tidak disangka.

Krisis Perkembangan
• Krisis terkait pada tugas langsung dari fase perkembangan keluarga. Pada keluarga yang tidak memiliki anak, krisis bisa diatasi ketika bayi lahir yang kemudian mengubah peran mereka, kebebasan bergerak, dan status ekonomi. Terkadang orang tua bisa melakukan tugas mengasuh anak dengan baik, namun gagal memberi support dan dorongan ketika anak mulai masuk sekolah. Pada keluarga lain, orang suka sangat mampu dan menikmati bermain dengan anak, namun tidak mampu menawarkan kepemimpinan dan bimbingan yang penting saat anak mencapai remaja.

• Shapiro (1967) meneliti pelajar muda dan keluarga secara individual maupun terapi keluarga dan menemukan bahwa hubungan orang tua anak berperan dalam membentuk identitas atau kebinbangan identitas, identitas ini penting dalam menentukan gangguan pada remaja yang menjadi konsekuensi keluarga.

Krisis Situasional
• Krisis situasional dapat terjadi dengan tiba-tiba dan merusak inti perkembangan keluarga. Sumber krisis ini diantarannya : keguguran, perkosaan, perpisahan, kematian anggota keluarga, bunuh diri, dll.
• Tiap krisis menjadi inspirasi bagi anggota keluarga untuk mengembangkan gaya baru untuk kopling.

POLA KOMUNIKASI PATOLOGIS
Kecacatan Komunikasi : Konsep dari Penyimpangan Komunikasi
• Fungsi keluarga yang efektif mengharuskan berkembangnya komunikasi yang mapan, jelas dan terpelihara.
• Komunikasi yang sehat mengharuskan 2 orang atau lebih, untuk berusaha berbagi kebersamaan fokus perhatian dan memaknai arti berbagai selama proses komunikasi.
• Dalam komunikasi keluarga diam dan menghindari kontak mata ketika orang lain bicara merupakan pesan yang berarti.

Komunikasi Paradoksial : Konsep Double – Blind
• Komunikasi paradoksial adalah komunikasi yang bergerak dalam 2 arah dan tidak konsisten pada waktu yang sama (Steinglass : 1976)
• Pesan double-blind dapat merusak komunikasi paradoksial satu orang mengungkapkan pernyataan kepada yang lain yang secara simultan berisi 2 pesan atau permintaan yang secara logis tidak konsisten dan berlawanan.

Penyamaran Komunikasi : Mistifikasi
• Mistifikasi : Laing (1965) ; gamaran bagaimana keluarga mengatasi konflik dan pertentangan melalui kebingungan, ketidakjelasan atau menutupi apapun yang terjadi diantara anggotanya.

KOMUNKASI TERPOLA: HUBUNGAN SIMETRIS DAN
KOMPLEMENTER
• Hubungan simetris; partisipan saling menjadi cermin perilaku satu sama lain, jika A membual, B membual lebih besar. Hubungan komplementer, perilaku satu pasangan akan melengkapi yang lain ; jika A asertif, B menjadi patuh (Baterson, 1958)
• Hubungan simetris bersifat sejajar dan minim partisipan, juga menjadi bersaing, aksi tiap pasangan mempengaruhi reaksi pasangannya pada efek spiral yang disebut eskalasi simetris.
• Hubungan simetris dan komplementer umum pada keluarga yang normal; namun tidak pada yang patologis. Misal pada eskalasi simteris dapat mengubah pembicaraan pada perubahan yang buruk yang menyisakan partisipan secara fisik dan emosi menjadi kering. Pasangan bisa berbalik menjadi pola dominan-pengalah dalam rangkaian perubahan sodomasochistis yang pada akhirnya merusak harga diri dari keduanya.

Keterlibatan dan Pengingkaran Janji
• Banyak sistem keluarga yang terpuruk antara keterlibatan (batas yang dikuburkan dan pengingkaran janji (batas yang kaku dan komunikasi antara sub-sistem yang sulit).
• Keterlibatan adalah bentuk dari kedekatan dan interaksi keluarga yang anggotanya sangat perhatian dan saling terlibat. Keluarga yang menjaga jarak berfungsi secara terpisah tidak loyal pada keluarga, dan kurang saling bergantung.

Penyimpangan – Produk Keluarga
• Ekstrim dari keterlibatan dan menjaga jarak (atau alternatif dari keduanya menentukan karakter interaksi keluarga, yang memunculkan penyimpangan dalam keluarga.

Keluarga Psikosomatis
• Elemen psikosomatis yang memperburuk simptom dengan cepat adalah tekanan emosi seperti misalnya anak yang mendapatkan bimbingan orang tua. Keluarga yang memiliki masalah dalam perkawinan yang mengakibatkan penyakit asma pada anak. Serangan ini sesungguhnya merupakan penangkisan terhadap masalah orang tuanya.

Batasan-Kekerasan dalam keluarga
• Inti dari konsep batasan disini adalah pengalaman terhadap keterlibatan atau ketidaksetujuan pada suatu perilaku dalam keluarga. Keluarga dengan batasan yang kaku cenderung akan membuat anggotanya memilih jalan masing-masing.
• Pada keluarga patogenik yaitu kelurga yang menghasilkan suatu perilaku disfungsional, salah satu atau kedua orang tua dan anak yang membuat peraturan yang tidak tepat/pantas yang seolah-olah mereka hanya punya satu karakter kepribadian, misalnya si pemalas atau si egois.

Korban Kekerasan
• Korban adalah seseorang yang mengembangkan simptom yang biasanya digunakan untuk mengidentifikasikan klien yang membawa penyimpangan pada seluruh anggota keluarga. Korban muncul sebagai akibat dari suatu proses. Tidak peduli korban itu merupakan korban dari perlakuan orang lain atau tidak. Semua anggota termasuk si korban merupakan orang yang berpartisipasi dalam proses.

KEKERASAN KELUARGA
• Pada episode kekerasan keluarga, tekanan, intensitas, persaingan, dan kontrol yang hilang semuanya bersumber dari ketidaknyaman individu atau dari sikap agresi yang tidak terpecahkan dari sipelaku.

Keluarga dan Hakekat Penyiksaan
• Teori sistem berasumsi bahwa tiap anggota keluarga memiliki peran dalam perilaku disfungsional dari anggota keluarga yang mengalami gangguan. Pada kasus kecanduan alkohol dan ketergantungan terhadap obat-obatan, perilaku individu akan dengan cepatnya bergema dalam keluarga.

Mitos yang menetap pada Keluarga
• Dalam keluarga, mitos dibagi keseluruh anggota keluarga, membantu dalam berinteraksi, melengkapi aturan. Seperti misalnya ; para pria disatu keluarga yang menyatakan bahwa mereka merupakan orang-orang cerdas pada keluarga tersebut dibanding para wanitanya yang lebih sering menggunakan emosi.

Pseudomutuality dan Pseudohostility
• Pseudomutuality adalah mereka yang melakukan usaha yang kuat untuk memelihara penampilan dalam hubungan, ilusi yang terbuka dan empati dalam interaksi dengan orang lain. Jika hal ini nyata mereka malah menjaga jarak dengan yang lain.
• Pseudomutually adalah karakter yang disetting keluarga dimana skizoperina berkembang

BAB IV
DASAR DAN PERKEMBANGAN FAMILY THERAPY

Chapter ini memaparkan sejumlah model teoritis yang menjadi dasar berkembangnya bentuk-bentuk terapi keluarga. Goldenberg dan Goldenberg (1983) menekankan pada lima pendekatan ilmiah dan perkembangan klinis yang memprakarsai famili terapy.
Kelima pendekatan tersebut adalah :
1) Eksistensi treatment psikoanalitas terhadap masalah-masalah emosi, termasuk pola interaksi keluarga yang menyeluruh.
2) General system theory yang menekankan pada interaksi dari suatu bagian yang memiliki keterkaitan dengan sistem secara menyeluruh.
3) Investigasi pada peran keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita schizopherina,
4) Evolusi dalam hal child guidence, dan marital counseling serta
5) Meningkatnya minat terhadap teknis klinis yang baru seperti terapi kelompok.

Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan suatu teknik terapi yang diprakarsai oleh Sigmund Freud, yang akhirnya menjadi ideologi yang dominan dalam dunia psikiatri di Amerika. Freud berpendapat bahwa hubungan keluarga (family relationship) sangat mempengaruhi karakter seseorang, khususnya dalam perkembangan simpton-simpton perilaku. Dalam hal ini, Freud mengelaborasi pandanganya tentang perkembangan psikoseksual pada anak dan penggunaan defence mechanisme sebagai dorongan ketidaksadaran dari ego, yang tampak pada orang yang mengalami gangguan afeksi yang disebabkan oleh anxiety. Disamping itu, Freud percaya bahwa resolusi yang tidak adekuat pada setiap tahap perkembangan psikoseksual dapat menyebabkan perilaku neurotik, misalnya phobia. Terapi yang diperkenalkan oleh Freud ini merupakan terapi yang berorientasi individual.

Ackerman mengkaji tentang peran keluarga sebagai suatu unit psikososial yang dinamis yang mempengaruhi para anggotanya. Ia mengelaborasi konsep psikoanalisis (interaksi yang bersifat konstan diantara dorongan biologis pada diri seseorang) dan konsep sistem (lingkungan sosial) dalam mengembangkan terapi keluarga. Tokoh psikoanalisis yang juga berpengaruh terhadap perkembangan terapi keluarga adalah Adler dan Sulivan.

General System Theory
General system theory merupakan upaya untuk menghasilkan suatu model teori yang komprehensif yang mencakup seluruh sistem kehidupan, suatu model teori yang relevan untuk semua ilmu perilaku. GST ini diprakarsai oleh Ludwig Von Bertalanffy, yang menggambarkan suatu framework tentang fenomena yang nampaknya tidak berhubungan sebagai komponen dari suatu ”self-regulating” dari sistem secara keseluruhan dengan mekanisme umpan balik untuk mengembangkan proses. Konsep ini diterapkan dalam system keluarga, yang berfokus pada bagaimana bentuk sebagian dari keseluruhan, bagaimana bagian-bagian tersebut diorganisasikan pada berinteraksi.

Schizophrenia dan Family Therapy
Terkait dengan penderita schizopherina, telah banyak ahli yang melakukan investigasi tentang peran keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita schizopherina, antara lain : Lidz dan Lidz (1949) dalam invesgasinya terhadap ibu penderita schizopherina, menemukan bahwa terdapat kondisi yang baik adekuat dan mengindikasikan adanya gangguan psikologis pada relasi antara ibu dengan anak. Senada dengan itu, investigasi yang dilakukan oleh Browen tentang hubungan simbiotik antar ibu dan anak, Wyne tentang pseudomutuality juga menunjukan bahwa schizopherina secara etilogi terjadi karena adanya disfungsi peran keluarga dan pola interaksi dalam keluarga.

Marital Counseling dan Child Guidance
Marital counseling dan Child guidance pada umumnya ditandai dengan adanya famili therapy, yang didasari oleh konsep bahwa gangguan psikologis yang muncul akibat adanya konflik diantara orang yang berasal dari konflik yang terjadi di dalam diri seseorang. Pendekatan ini akan afektif apabila treatment diberikan simultan kepada pasangan marital (ibu dan ayah) atau pasangan orang tua dengan anak.

Group Therapy
Group therapy telah dipraktekan sejak permulaan abad 20 akan digunakan setelah perang dunia kedua. Penggunaan proses kelompok psikoterapi diawali oleh seseorang psikiatris asal Austria Jacob Moreno sekitar tahun 1910, dengan melakukan teknik terapi dan drama yang dikombinasikan menciptakan psychodrama. Teknik ini masih digunakan sampai saat ini. hal ini dipercaya bahwa dalam proses terapi perlu untuk melukis kembali berbagai interpersonal yang mungkin telah mendorong munculnya kesulitan psikologis. Pada dasarnya praktek group therapy merupakan prinsip suatu kelompok kecil dapat bertindak sebagai pembawa perubahan dan betul-betul mempengaruhi pilihan yang perlu dipertimbangkan oleh anggotanya.

PERKEMBANGAN DALAM FAMILY THERAPY
Berdasarkan stimulasi oleh penelitian research-oriented dari keluhan keluarga dengan anggota yang schizohreic, terapi keluarga ini dimulai bergerak tahun 1950-an. Pendiri terapis keluarga pada dekade itu telah dihubungkan dalam tahun 1960-an oleh terapis yang bersifat individual – oriented, yang tertarik dengan baru mengkonseptualisasikan dan memperlakukan perilaku disfungsional. selama besar temuan diperoleh dari penelitian keluarga, selama ini klinis kerepotan melakukan praktek berkaitan dalam proses, mereka menciptakan beberapa hal baru untuk intervensi keutuhan keluarga.

Teknik ini bergerak lebih cepat dari teori dan riset baik selama teknik terapi yang inovatif memperkenalkan pendekatan perilaku untuk masalah-masalah family-oriented. Perkembangan pada bidang ini diarahkan pada awarness dan self-evalutiaon. Di tahun 1980-an marital therapy dan family therapy adalah suatu bidang nyaris disatukan. Praktisi dari berbagai disiplin ilmu “family therapist” terutama identifikasi profesional. Sekarang ini penekannya masalah-masalah perlakuan dalam proses konteks hubungan dibanding individu yang bekerja secara terpisah. Kebangkitan kembali dari minat akan keluarga dan hubungannya dengan penelitian klinis keluarga dan praktek family therapy.

BAB V
PERSPEKTIF TEORITIS
PSIKODINAMIKA DAN MODEL HUBUNGAN

Pendekatan terapi keluarga dibagi menjadi enam kelompok yaitu : psikodinamika, eksistensial/humanistik, Bowenian, struktural, komunikasi dan perilaku. Perbedaan penting dalam orientasi teoritis, adalah penekanan dalam intervensi pada masa lalu; atau masa sekarang, apakah yang berperan kesadaran atau ketidaksadaran, fungsi utama dari terapis, kesatuan analisis dan treatmen untuk mencapai tujuan. Perbedaan itu dapat dilihat pada tabel berikut :

Dimensi Psikodinamika Humanistik / Experential Bowenian Structual Communcation Behavior
Kerangka waktu utama Masa lalu : pengalaman pada masa kecil terbuka Sekarang : data kini dan disini dari pengalaman yang diobservasi langsung Mengutamakan masa kini, meskipun juga memperhatikan latar belakang keluarga Kini dan masa lalu : struktural keluarga yang sekarang dipengaruhi oleh pola-pola transaksional sebelumnya Kini masalah atau gejala-gejala yang ada sekarang, dipelihara oleh pengulangan hubungan antar personal Kini : masalah atau gejala-gejala yang ada sekarang, dipelihara oleh pengeluaran hubungan antar personal
Peranan proses-proses tak sadar Konflik dari masa lalu yang tidak terselesaikan, akan nampak pada perilaku sadar seseorang secara kontinyu untuk menghadapi situasi dan objek yang ada sekarang Pilihan bebas, dan menentukan dengan kesadaran Konsep awal memicu konflik bawah sadar Pengulangan kebiasaan yang dipelajari lebih penting daripada ketidaksadaran Peran-peran keluarga, keseimbangan homostatis menentukan perilaku Perilaku bermasalah dipelajari dan dipelihara oleh konsekuensinya
Fungsi utama terapi Netral membuat interprestasi terhadap pola perilaku individu dan keluarga Fasilitator aktif pada potensi-potensi pertumbuhan Langsung tapi tidak konfrontatif Pengarah tingkatna : memanipulasi perubahan keluarga Aktif, manipulatif Direktif, guru, trainer atau model pada perilaku yang diharapkan negosiator kontrak.
Unit analisis Individu Diadik Keluarga dalam beberapa generasi Triadikoalis, subsistem, keterikatan, kekuasaan Diadik dan triadik Diadik
Tujuan treatmen Insght, kematangan psikologis, menekankan pada fungsi ego hubungan objek yang lebih memuaskan Pertumbuhan, interaksi yang lebih bermakna, komunikasi yang jelas, kesadaran yang lebih bagus, keotentikan. Memaksimalkan self differensiation dari semua anggota keluarga Berubah dalam konteks hubungan untuk merestrukturisasi organisasi keluarga dan mengubah pola transaksional yang tidak berfungsi Mengubah perilaku disfungsional dan rangkaian perilaku yang tidak diinginkan antara anggota keluarga untuk mengurangi timbulnya masalah dan sympton-sympton Berubah dalam konsekuensi perilaku antara individu untuk mengurangi masalah perilaku maladaptif.

Sudut pandang psikodinamika sebagian besar mendasarkan pada model psikonalisis. Menurut pendekatan ini, dua individu yang disatukan dalam pernikahan. masing-masing membawa sifat psikologis yang berbeda dan unik. Latar belakangan dan pengalaman masing-masing anggola keluarga sebagai salah satu unit dalam keluarga. Terapi ini melihat sejauh mana individu masih berhubungan dengan masa ialunya. Tekanan pada pasangan dalam pemikahan bertiubungan dengan pathogenic introjects yang dibawa oleh masing-masing individu dalam hubungan ini.
Nathan Ackerman, seseorang yang mempelopori terapi keluarga. mencoba untuk mengintegrasikan teori psikoanalisis (dengan orientasi dalam tubuhnya) dan sistem teori (yang menekankan hubungan antar pribadi). la memandang bahwa tidak berfungsinya keluarga merupakan kagagalan di dalam poran yang menyeluruh diantara anggota dan sebagai produk dari konflik yang belum terselesaikan (di dalam dun di antara individu dalam sebuah keluarga) dan prasangka sebagai kambing hitam. Terapi berusaha diarahkan untuk membebaskan dari penyakit. James Framo, generasi pertama terapis keluarga yang lain, percaya bahwa konflik intrafisik tidak diperoleh dari keluarga asal, terlihat dalam wujud proyeksi ke teman akrab atau bersikap seperti anak-anak. Menggunakan pendekatan suatu obyek-hubungan, Frarrto menitikberatkan dirinya sendiri sebagai pembahasan dan memindahkan introjects, riil dalam proses ia melihat pasangan yang sendiri, kemudian dalam kelompok berpasaugan, dan akhimya menggunakan bagian terpisah dengan masing-masing pasangan dan anggota laki-laki atau perempuan keluarga asal.
Ivan Boszormenyi-Nagy dihubungkan dengan pusat pada transgenerational warisan dan bagaimana pengaruh masa lalu bertiubungan dengan funpsi dalam semua anggota keluarga. Dalam pandangan ini, keluarga mempunyai kewajiban kesetiaan berakar dalam generasi masa lampau dan tanggung jawab yang seimbang. Boszormenyi-Nagy menyatakan pendekatan terapi termasuk untuk membangun kembali tanggung jawab, perilaku yang dapat dipercaya, dengan mempertimbangkan pemberian judul dari semua hal yang terkait. Helm Stierlin, pendekatannya berkaitan dengan bagaimana keluarga yang mengalami penyakit skizofrenia, berusaha mengidentifikasi pasien untuk keluardari permasalahan dasarmereka.
Robin Skynner berpendapat bahwa orang dewasa dengan berbagai kesulitan hubungan sudah mengembangkan harapan tidak realistis dari yang lain dalam wujud sistem bersifat provcksi yang dihubungkan dengan kekurangan pada masa kanak-kanak. Pasangan dalam perkawinan, sering bertentangan dengan sistem proyeksi, usaha menciptakan situasi dalam perkawinan dimana situasi pengalaman yang hilang dapat disediakan, kekurangan yang ditengahi kembali oleh pasangan yang lain, tak bisa diacuhkan. Frustrasi tidak bisa dibiarkan, pasangan boleh mengarahkan proyeksi ini ke seorang anak, yang merupakan gejala simtomatik Skynner berusaha melakukan terapi, dengan versi yang diperluas, usaha untuk memudahkan perbedaan antara pasangan perkawinan menjadi lebih mandiri.
John Bell, seorang pendiri terapi keluarga, menggunakan dasar pendekatan pada teori psikologi sosial tentang perilaku kelompok kecil. Pendekatan terapi kelompok keluarga saling berinteraksi; la memudahkan komunikasi menjelaskan dan menginterpretasikan, untuk memimpin terapi kelompok yang akan lakukan. Di tahun terakhir, Bel telah mengarahkan perhatiannya untuk membantu menciptakan keluarga-meningkatkan lingkungan atas pertolongan suatu teknik intervensi yang berupa konteks dalam terapi keluarga.

BAB VI
THEORETICAL PERSPECTIVES:
EXPERIENTIAL / HUMANISTIC MODEL

THE EXPERIENTIAL MODEL
Semua experiential therapists sepakat untuk menggunakan pendekatan yang menekankan pada kondisi sekarang atau yang sedang terjadi. Tokoh yang menggunakan perspektif ini adalah Carl Whitaker (1976), Kempler (1981), Kaplan & Kaplan (1978). Penekanan mereka terhadap : here-and-now situasi yang terbuka dari waktu ke waktu antara terapis yang aktif dan perhatian dengan sebuah keluarga. Interaksi antar anggota keluarga dan dengan terapis adalah usaha yang dilakukan untuk membantu setiap oranc menghadapi masalah untuk mengeMbangkan lebih banyak kesempatan untuk-bebas berperilaku. Para terapist memberikan pengalaman daripada menggunakan insight dan interprestasi. Menyediakan kesempatan bagi anggota keluarga untuk membuka diri mereka sendiri secara spontan, bebas berekspresi, dan berkembang secara personal.
Pengalaman interpersonal merupakan stimulus utama untuk mengembangkan pendekatan psikoterapi ini.

EXPERIENTIAL / SYMBOLIC FAMILY THERAPY (Whitaker)
Asumsi dasar yang menjadi konsep dalam penerapan terapinya adalah
bahwa keluarga diubah sebagai hasil dari pengalaman moreka, tidak seluruhnya
dari pendidikan. Karena kebanyakan dari pengalaman kita terjadi diluar
kesadaran kita, kita hanya dapat memperoleh pesan secara non verbal atau
berupa symbol, stfatnya tidak teiap letapi dampak prosesnya terjadi dalam
keluarga. . …
Whitaker menggunakan pendekatan nonteorites di dalam terapinya. la lebih menekankan pada proses sesuatu yang terjadi selama tahapan keluarga, dan bagaimana setiap orang (partisipan) mengalami perasaan-perasaan dan perubahan perilakunya.

Menurut Whitaker, terapi keluarga terdiri dari boberapa tahapan yang meliputi: (1) pre-treatment phase, seluruh komponen dalam keluarga diharapkan memberikan kontribusi dan berpartisipasi dalam proses terapi (2) mid-phase. meningkatkan ke’terlibatan dalam perkembangan keluarga, (3) late phases pada terapan ini fleksibilitas dalam keluarga ditingkatkan dengan meminimalkan intervensi dari kelompok terapi, dan (4) separation phase, para terapis dan family part, tetapi dengan pengakuan terhadap mutual interdependence and loss.

GESTALT FAMILY THERAPY (Kempler)
Pendekatan gestalt menekankan pada pengorganisasian diri secara menyeluruh. Keseluruhan dari diri seseorang harus dijaga dan dapat diintegrasikan. Dalam proses pencapaian secara menyeluruh, aspek-aspek kepribadian yang tidak terlihat diidentifikasi dan diperoleh kembali. Self-awareness diartikan sebagai perubahan yang diselesaikan. Kecenderungan self-defeating hams dikenali, menghilangkan hambatan emosional terhadap self-understanding, mengekspresikan kondisi-kondisi yang dirasakan. Meningkatnya kesadaran diri, berimplikasi terhadap sense of self-direction. Pendekatan gestalt menganggap bahwa pengalaman sepanjang hidup dan observasi terhadap orang lain merupakan proses internalisasi nilai-nilai yang dinginkan dalam hidup seseorang. Ketika sumber daya yang ada dalam diri seseorang mampu dimobilisasi, maka hal ini diasumsikan sebagai sarana/untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
Peran seorang terapis dalam terapi gestalt adaiah membantu klien menyadari bagaimana mereka memanfaatkan sumber daya yang tidak efektif dan menemukan apa yang menghambat usaha mereka untuk mencapai tujuan, seorang terapis tidak menjelaskan kepada klien mengapa mereka melakukan cara tertentu. Gestalt family therapy menunjukkan usaha untuk memadukan prinsip-prinsip dan prosedur dalam keluarga dan terapis gestalt dalam usaha membantu seseorang (anggota keluarga) untuk mencapai cara yang biasanya dilakukan untuk memberdayakan diri, defenses, dan facades. Seseorang mampu menyadari kebermaknaan dirinya dan mampu mengekspresikan perasaan-perasaannya. Idealnya, anggota keluarga menyadari hubungan saling mempengaruhi antara dirinya dengan orang lain, dan keluarga dapat mempelajari cara baru untuk bekerja dan hidup bersama.

THE HUMANISTIC MODEL
Orientasi para terapis yang menggunakan pendekatan humanistic menekankan pada konsep yang mengatakan bahwa disfungsi perilaku merupakan hasil dari adanya hambatan dalam masa pertumbuhan, hal ini disebabkan karena adanya kegagalan dalam mengaktualisasikan potensial diri mereka sebagai gambaran adanya masafah psikologis. Pada umumnya, mereka mengartikan kematangan seseorang dilihat dari segi kemampuan untuk membuat pilihan secara rasional terhadap apa yang mereka minati dan kemampuan seseorang untuk merencanakan masa depannya. Pendekatan humanistic menganggap bahwa pertumbuhan adalah proses alami dan spontan yang terjadi pada semua human being yang dipengaruhi oleh lingkungan. Gangguan psikoiogis merupakan gambaran adanya kegagalan dalam mengaktualisasikan potensi untu.’c berkembang. Terapis humanistic berperan dalam memperkaya pengalaman kelusrga dan mengajarkan kepada setiap
anggota keluarga untuk menyadari keunikan dan potensi mereka yang luar biasa.

PENDEKATAN PROSES / KOMUNIKASI (Satir)
Satir (1982) mengidenlifikasi pendekatannya sebagai “model proses” dimana para terapis dan keluarga bekerja sama untuk menstimulasi proses health-promoting dalam keluarga. Pengalaman Satir dalam menerapkan terapinya sangat terkenal didunia. Pendekatan yang digunakan dalam menyatukan keluarga diawali dengan usaha mengklarifikasi adanya ketidaksesuaian dalam proses komunikasi diantara anggota keluarga dengan menggunakan pendekatan humanistic dalam usaha membangun self-esteem dan self-worth pada semua anggota keluarga. Dengan meyakini bahwa human-beings yang ada dalam diri setiap manusia merupakan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mencapai kemajuan. Satir memandang bahwa salah satu tugasnya adalah membantu orang-orang untuk menggali potensi yang mereka miliki dan mengajarkan orang untuk menggunakan potensinya secara efektif.

BAB VII
PERSPEKTIF TEORI: MODEL BOWENIAN

Murray Bowen mencoba menjembatani antara pendekatan yang berorientasi pada psikodinamika, yang menekankan pada perkembangan dini, isu-isu antar generasi, dan arti dari masa lalu, dengan system pendekatan yang membatasi perhatiannya pada unit di masa kini dan pengaruh-pengaruh terkini.

TEORI SISTEM KELUARGA
Murray Bowen hingga hari ini masih menjadi seorang figur kunci dalam perkembangan terapi keluarga. Bowen menekankan pentingnya teori untuk penelitian, tujuan penibelajaran dan sebagai blueprint dalam psikoterapi klinis. la prihatin dengan apa yang ia anggap sebagai kekurangluasan teori perkembanagan keluarga. maupun pendekatan lerapiutiknya. Ia melihat hubungan antara teori dan praktek sangat lemah

8 KONSEP YANG SALING BERKAITAN
Bowen berpendapat bahwa keluarga mcrupakan system hubungan emosional yang memiliki 8 konsep yang saling berkaitan. 8 kekuatan yang membentuk fungsi keluarga tersebut meliputi:
1. Perbedaan diri atau individu
2. Triagulasi
3. Sistem emosional keluarga kecil
4. Proses proyeksi keluarga
5. Pemutusan emosi
6. Proses penularan multigenerasi
7. Posisi saudara kandung
8. Regresi masyarakat

PERBEDAAN DIRI
– Landasan teori Bowen adalah konsep perbedaan diri, yaitu tingkat perbedaan intelektual dan emosional anggota keluarga. Menurut Bowen, tingkat perbedaan diri ditentukan oleh kemampuan individu dalam membedakan fungsi intelektual dan emosi. Mereka yang perpaduan emosi dan intelektualnya kurang baik, akan cenderung mudah emosi dan menjadi merasa tidak berguna meskipun stress yang dialami pada level yang rendah.
– Bowen mengenalkan konsep tidak adanya perbedaan ego keluarga, yang diambil dari teori psikoanalisis. Konsep ini menyatakan bahwa ada saling ketergantungan dan kedekatan emosi antar anggota keluarga, dimana mereka saling tahu perasaan, khayalan dan impian satu sama lain. Kedekatan ini menurut Bowen, dapat mengakibatkan ketidaknyamanan yang pada akhirnya mencapai fase saling menolak di antara anggota keluarga. Atas desakan kematangan dan aktualisasi diri, individu dituntut untuk memutuskan kelekatan emosi dengan keluarga asal mereka. Kemudian muncullah perbedaan diri.
– Bowen menjelaskan level perbedaan diri dengan membuat skala sebagai berikut :
• Skala 0 – 25 Orang yang emosinya sangat dipengaruhi oleh emosi keluarga dan orang lain, perasaannya lebih dominan dibanding pikirannya.
• Skala 25 – 50 Reaksi emosi masih terbimbng oleh orang lain. Dalam menyelesaikan masalah masih butuh orang lain.
• Skala 50 – 75 daya pikimya sudah cukup berkembang dan tidak lagi didominasi perasaan ketika menghadapi stress.
• Skala 75 – 100 Sudah dapat memisahkan antara pikiran dan perasaan. Keputusan-keputusan yang diambil sudah bebas dari pengaruh kedekatan keluarga.

TRIANGULASI
– Teori Bowen juga mendasarkan pada kecemasan atau tegangan emosi dalam kaitannya dengan orang lain. Oleh karena itu menurut Bowen, dasar yang menghalangi system emosi keluarga adalah triangulasi.
– Dalam menghadapi stress, dua orang anggota keluarga cenderung untuk melakukan perekrutan anggota baru atau membentuk triangulasi, mencari anggota ketiga, untuk mengurangi intensitas stress dan memperoleh kembali stabilitas. Contohnya ketika dua saudara kandung bertengkar, orang tua jadi orang ketiga yang menjadi penengah pertengkaran mereka. Hanya saja jika orang tua tidak dapat mengontrol emosinya atau tidak dapat netral dalam menyelesaikan masalah, justru akan memperparah situasi.
– Dalam kaitannya dengan tehnik terapi keluarga, Bowen berpendapat bahwa jika terapis yang diambil sebagai orang ketiga dalam system triangulasi tersebut di atas, maka ia dapat terlibat dalam permasalahan suami-istri tanpa ada keberpihakan pada satu orang atau lainnya.

SYSTEM EMOSI KELUARGA KECIL
– Dalam System emosi keluarga kecil, akan terlihat cara yang bervariasi dalam mengurangi tegangan emosi dan memelihara stabilitas emosi. Keluarga kecil yang menghadapi kecemasan kronis dan potensi instabilitas, akan cenderung untuk :
1) Mengembangkan jarak emosi antara suami-istri.
2) Tidak berfungsinya fisik atau emosi dalam hubungan suami-istri.
3) Terus menerus konflik, tidak memecahkan konflik pernikahan.
4) Memperburuk psikologis anak.

PROSES PROYEKSI KEUARGA
– Proses proyeksi keluarga adalah proses emosional yang dijalani dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang tua akan melekatkan emosinya pada anak-anaknya, demikian juga anak-anak ini akan melekatkan emosinya pada anaknya kelak, demikian seterusnya.
– Anak-anak yang hanya sedikit terlibat dalam proses poyeksi, akan muncul sebagai orang yang memiliki kemampuan yang baik dalam menahan pengaruh emosi orang lain dan akan mampu memisahkattantara pikiran dan petasaan.

PEMUSATAN EMOSI
– Pemutusan emosi adalah pemisahan jarak emosi dengan keluarga asal.
– Bowen menuntut orang dewasa agar memutuskan keterikatan emosi mereka
dengan keluarga asal.
– Terapis keluarga sebaiknya adalah orang yang tidak sedang memiliki masalah keluarga sehingga masalahnya tidak akan bercarnpur dengan masalah klien.

PROSES PENULARAN MULTIGENERASI
Proses penularan multigenerasi adalah proses emosi keluarga yang ditransfer dan dipelihara oleh lebih dan 3 generasi.
– Dua konsep awal yang penting dalam penularan emosi keluarga ini adalah :
• Pemilihan suami/istri dengan level perbedaan diri yang sama dengan dirinya
• Proses proyeksi keluarga yang menghasilkan level perbedaan diri yang lebih rendah dari keturunan tertentu.

POSSISI SAUDARA KANDUNG
– Menurut Bowen ada hubungan antara nomor unit kelahiran dengan kepribadian yang menjelaskan pengaruh posisi saudara kandung dalam proses emosi keluarga.
– Pola interaksi antara pasangan suami-istri dalam sebuah keluarga sangat dipengaruhi oleh nomor unit kelahiran pasangan tersebut dalam keluarga asal mereka. Misalnya: anak sulung yang menikah dengan anak ke dua atau yang lebih muda, dia akan lebih besar tanggungjawabnya, menjadi pengambil keputusan dalam keluarga dan sebagainya.

REGRESI MASYARAKAT
– Bowen berpendapat bahwa masyarakat, sebagaimana.keluarga terdiri dan kekuatan yang saling berlawanan, yang satu ke arah ketidakperbedaan (kesamaan), yang lain kearah individualitas.
– Dibawah tekanan/stress yang kronis (pertumbuhan penduduk menipisnya sumber daya alam) akan menimbulkan kecemasan, yang kemungkinan besar akan menjadi pengikisan kesamaan dan menjadi kekuatan munculnya individualitas. Hal ini tentu saja akan berpengaruh dalarn kehidupan keluarga.

TEKNIK PENDEKATAN KELUARGA BOWEN
Terapi Bowenian adalah sebuah system teori yang memikirkan hubungan-hubungan dalam keluarga, dengan suatu metode terapiutik yang bekerja untuk memperbaiki system keluarga, tanpa menghiraukan jumlah orang dari “keluarga” dalam tiap sessi atau pembahasan.
Dalam pendekatan Bowen, ada beberapa hal yang dapat dicatat sebagai berikut:
– Terapis tidak boleh mudah rentan, harus tenang, tidak boleh larut dalam triangulasi dan tidak terlibat secara emosional dengan suami/istri yang bermasalah.
– Tidak rnembiarkan konflik terbuka.
– Menggunakan posisi “AKU” dalam mengajarkan pada pasangan yang bermasalah untuk melakukan sesuatu.
– Menghindari interpretasi-interpretasi
Tujuan dari pendekatan Boweniah adaiah memaksimalkan perbedaan diri setiap individu dalam system keluarga kecil dan memisahkah dari pengaruh keluarga asal.
BAB VIII
PERSPEKTIF TEORI:MODEL STRUKTURAL

Banyak konsep dari pendekatan struktural untuk tcrapi keluarga dikenal oleh pembaca : subsistem, boundaris, alignment, dan ketidakterlibatan. Salvador Minuchin (Minuchin, 1974a, 1974b; Minuchin, Rosman & Baker, 1978), scjak tahun 1970-an membantu moyakinkan terapis keluarga untuk mengadopsi pandangan struktural terhadap organisasi keluarga dan menggunakan teknik lerapeutik dengan pendekatan struktural.

TEORI STRUKTUR KELUARGA
Lebih berorientasi pada sistem dibandingkan dengan Teori dari Bowen. pendekatan struktural lebih diasosiasikan dengan Salvadors Minuchin dan koleganya (Edgar Aurswald, Braulic Montalvo, Harry Apontc, Jay Haley, dan Lyrn Hofman). Lahir di Argentina, Minuchin menerima pelatihan medis disini dan dikirim keluar negeri. Ketika Israel mendeklarasikan negaranya pada 1948, Minuchin adalah seorang dokter melawan dalam perang antara Israel dengan negara-r.egara Arab. Setelah menjalani pelatihan sebagai psikiatris anak di Amerika Serikat, dia kembali ke Israel untuk bekerja dengan anak-anak yang selamat dari Holocaust dan dengan imigran Yahudi dari negara-negara Arab, ltu adalah titik dimana Minuchin menjadi tertarik untuk bekerja dengan keluarga. Setelah kembali ke Amerika Serikat dia mulai mengembangkan teori dan teknik khusus untuk bekerja dengan kebutuhan mendesak, seperti keluarga miskin berantakan di Wiltwayek School dimana banyak anak berkulit hitam dan anak-anak Puerto Rico dan New York dikirim kesana. Minuchin banyak memberikan pemaknaan, arahan, prosedur intervensi berorientasi aksi untuk merestrukturasi keluarga yang kemudian membawanya ke Klinik Pembinaan Anak Philadelphia, dimana dia menjadi direkturnya dari tahun 1965 sampai 1975. Klinik Pembinaan Anak Philadhelphia aslinya adalah klinik kecil dengan 1 orang staf. Klinik itu terletak ditengah-tengah (Shetto orang kulit hitam. Klinik itu berkembang dibawah kepemimpinan Minuchin menjadi fasilitas terbesar untuk jenisnya yang pernah dibangun. Klinik itu saat ini mempekerjakan 200 orarng Staf dan berafilasi dengan Rumah Sakit Anak di Universitas Pennyslvania. Klinik itu menjadi satu dari sedikit klinik di Amerika Serikat dengan keluarga Ghetos sebagai mayoritas. Dalam beberapa tahun, Minuchin menghabiskan waktu profesionalnya untuk mengajar, memberi konsukasi, mengawasi, menulis dan mendemonstrasikan tekniknya.
Dengan mcnggunakan beberapa prinsip sistem sejati yang telah kita diskusikan di Chapter 2, Minuchin (1974a) menekankan pada keaktifan, keseluruhan unit keluarga yang teratur. Lebih spesifik, dia menekankan kerugian dan perilaku repepetif serta kebiasaan yang dengannya suatu keluarga mengorganisasikan diri mereka, kemudian dengan mengikuti pola ini, menciptakan kesempatan pada keluarga untuk mengorganisasikan diri mereka serta substitusi struktur dan pola transksional baru. Secara umum, usaha terapeutik ini melibatkan takaran untuk boundary yang lebih jeias meningkatkan fleksibilitas dalam interaksi keluarga, dan yang paling penting, memodifikasi struktur yang disfungsi oral. Minuchin (1974a) mengungkapkan pandangannya sebagai berikut: “Esensinya, pendekatan struktural terhadap keluarga berdasar pada konsep bahwa keluarga lebih dari individu biopsikodinamis dari anggotanya. Anggota keluarga berhubungan pada susunan tertentu yang mengatur transaksi mereka. Susunan ini, biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit atau dikenali sebagai bentuk keseluruhan struktur keluarga. Realitas dari struktur adalah sesuatu yang berbeda dari realitas individual anggota keluarga (p-89)”.
Seperti kebanyakan sistem teori struktural tertarik pada bagaiamana kompehen dari sebuah sistem berinteraksi, bagaimana keseimbangan atau homeosteraksi dapat dicapai, bagaimana pola komunikasi yang disfungsional berkembang. Mereka secara khusus memberi perhatian terhadap pola transaksi keluarga karena pola tcrsebut memberi petunjuk organisasi keluarga, permeabilitas dari batas subsistem keluarga, eksistensi atau koalisi. Rosenberg (1983) menambahkan dengan memberi kesimpulan bahwa “ketika sebuah keluarga mengalarni kesulitan, seseorang dapat berasumsi bahwa keluarga itu diatur oleh struktur yang disfungsi. Mungkin keluarga itu berfungsi sesuai garis perkembangan normal kemudian memasuki tahapan perkembangan baru atau bernegosisasi dengan krisis dulam lingkaran kehidupan, seperti kelahiran anak, anak meninggalkan rumah, atau pemecatan fungsi anggota keluarga menjadi terlalu terlibat satu sama lain (perilaku orang tua yang tampak mendukung dan mencintai anak remajanya sering dianggap sebagai perilaku ikut campur oleh anak trsebut). Atau mungkin, dalam akhir kontinum, orang tua mengalami dilema ketidakterlibatan (anak menjadi mandiri, disisi lain juga menunjukkan ketidakmampuan orang tua memberi dukungan di saat Krisis).
Struktur yang disfungsional menunjukkan bahwa aturan yang mengatur transaksi keluarga tidak beijalan, tidak sesuia dan rnembutuhkan negoisasi ulang.
Walaupun Minucnin tidak mendefinisikan teori bcrdasar intervensi ini dia menawarkan bcberapa konsep vang berguna untuk menganalisis mckanisnic bagaimana keluarga mengatur dirinya, sesuai dengan isu transaksional, dan adaptasi menuju tahapan perkembangan baru. Secara teoritis, Minuchin memandang keluarga sebagai sistem sosial terdiferensial yang mengembangkan pola transaksional yang mengatur bagaimana, kapan, dan kepada siapa anggota / keluarga saling berhubungan. Operasi yang berulang-ulang (misal : siapa yang memiliki anak untuk berbicara apa kepada siapa dengan cara bagaimana) membangun pola sepanjang waktu dan pola itu menjadi cara bagaimana anggota keluarga berinteraksi. Sistem keluarga dibentuk oleh pola transaksional. Sistem ini menjaga bentuknya dalam jangkauan yang lebih luas maupun sempit, pelanggaran menjadi pemicu mekanisme homeostatic untuk membangun kembali jangkauan yang sesuai.

Subsistem, Boundaries, Alignment
Sistem keluarga menjalankan tugas mereka melalui subsistem. Individu adalah subsistem, dan seperti suami dan istri atau subgrup yang lebih luas ditentukan oleh generasi, gender, tugas yang diterima, atau kepentingan umum, adalah subsistem. Setiap orang berpartisipasi dalam variasi subsistem dalam keluarga dan mungkin dapat memainkan peranan yang berbeda. Minuchin menggambarkan seorang anak berperan sebagai anak laki-laki sehingga ayahnya dapat berperan sebagai seorang ayah, tetapi dia dapat mengambil posisi yang lebih kuai jika hanya bersama adiknya.
Aponte dan Van Deusen (1981) percaya bahwa transaksi dalam kcluarga mcnyepakati tentang boundaries alignment dan power. Boundaries dari sebuah subsystem adalah aturan yang mendefinisikan siapa berpartisipasi dan peranan mereka dalam trahsaksi atau pengoperasian yang dibutuhkan untuk manjalankan fungsi tertentu (misal : siapa yang hams bertanggung jawab terhadap pendidikan seks untuk anak, apakah ayah, ibu, atau saudara yang lebih tua? Atau sekolah?).
Alignment adalah kesetujuan atau ketidaksetujuan seorang anggota dari sistem terhadap anggota lain dalam menjalankan peranannya (misal : ayah setuju atau tidak dengan tindakan disiplin ibu pada anak? Power adalah pengaruh tiap anggota kelurga terhadap perannya. Power tidak absolut dan terkait dengan konteks atau situasi (misal : ibu memiliki pengaruh terhadap perilaku putrinya ketika di rumah, tetapi memilki pengaruh minimal di luar rumah). Power juga terkait dengan cara anggota keluarga secara aktif dan pasti mengkombinasikan kekuatan (misal: autotoritas ibu tergantung dukungan suaminya). Untuk dapat mencapai hasil yang diinginkan dalam keluarga harus ada :
1. Boundaries generasi yang jelas, sehingga orang tua dapat membentuk subsystem dengan kekuatan eksekutif.
2. Alignments antara kedua orang tua terhadap isu-isu kunci seperti disiplin.
3. Aturan terkait dengan power dan autoritas, mengindikasikan siapa yang berhak memutuskan ketidaksetujuan orang tua dan siap yang mampu mengabulkan harapan jika mereka setuju.
Sebagai catatan, boundary generasi yang terkuat dapat mencegah campur tangan kakek dan nenek dalam keluarga dan pengambil alihan fungsi terhadap anak. Sebagai tambahan, alignment harus berfungsi baik atau individu akan menyeberangi boundary pergi ke ayah untuk mendapat ijin, jika ibu tidak mengijinkan untuk mendapatkan yang diinginkan.
Beberapa keluarga merespon perubahan perkenibangan dengan membuat pola transaksi yang lebih rigid. Keluarga menjadi lebih: tertutup; sistemnya, anggota keluarga memiliki pilihan yang sempit dan mengembangkan respon stereo type ini sama lain. Dalam beberapa kasus, respon stereo type ini dapat menimbulkan sorang anggota dalam sebagai deviasi.
Minuchin menjelaskan bahwa kesulitan keluarga dalam menjalankan tugasnya pada masyarakat modern semakin nyata dan intense fi distress pada sistem keluarga, khususnya terhadap transisi, menunjukkan abnonnalitas atau disfungsional. Minuchin menekankan bahwa keliarga tidak perlu terlalu kaku dan resisten terhadap perubahan yang mencegah eksporasi pola interaktif. Keluarga yang mengadaptasi mekanisme coping menjadi kelelahan, siapa yang mengontrol konflik sebagai hasil, dan siapa yang tidak melihat alternatif, mungkin membutuhkan intervensi terapeutik jika anggotanya mengalami realitas dengan cara baru, mengubah pola transaksional, modifikasi struktur keluarga dan menyesuaikan dengan perubahan.

TERAPI STRUKTUR KELUARGA
Usaha terapeutik dari Minuchin berdasar pada keadaan saat ini dan prinsip tindakan menimbulkan pengertian (Minuchin dan Fishman, 1981). Tindakan menimbulkan pengalaman baru, untuk mendapatkan peagertian (insight) dan pemahaman untuk menyusun ulang struktur (berkebalikan dengan Bowen) Pendekatan Minuchin adalah untuk meningkatkan pola interaksi keluarga / memaksa anggota untuk melihat dibalik simtom-simtom agar dapat melihat (semua perilaku mereka dalam konteks struktur keluarga. Dia menawarkan kepemimpinan keluarga arahan dan pengkajian untuk menguji dan mengabaikan struktur yang rigid yang tidak lagi fungsional.
Perubahan kedekatan hubungan, seperti hubungan suami istri yang lebih dekat atau jarak antara anak laki-laki dengan ibu. Hubungan hierarkis dapat didefinisikan ulang, dibuat lebih fleksibel dan diberi penguatan satu sama lain
pada keluarga yang menggunakan autoritas. Aligment dan koalisi lebih diekspolarasi konflik lebih dipahami dalam keluarga/aturan alternatif lebih dikembangkan. Bagi Minuchin dan koleganya, cara paling efektif untuk menghilangkan perilaku yang disfungsional dan simtom-simtom adalah dengan mengubah pola transksional keluarga yang mengatur mereka.

MENYUSUN ULANG KESATUAN DISFUNGSIONAL
Minuchin (1974) meletakan patologi kekeluargaan sebagai hasil dari pembangunan kesatuan disfungsional. Kesatuan disfungsional adalah reaksi-reaksi keluarga, terbentuk dalam respon sampai tekanan, yang diulangi tanpa adanya modifikasi ketika terjadi konflik keluarga. Seorang suami yang mengalami stres pada pekerjaannya pulang ke rumah dan berteriak pada istrinya. Sang istri berteriak balik, menambah konflik yang berkelanjutan tanpa perubahan sampai salah satu pasangan meninggalkn konflik tersebut. Dua kelompok tersebut mengalami suatu kesatuan resolusi. Contoh yang lain, seorang Ibu secara verbal memarahi anak laki-laki remajanya, sang Ayah lain membelanya, anak yang lebih muda mengambil kesempatan bergabung dan membela kakak laki-lakinya. Semua anggota keluarga menjadi ikut serta dan bermacam koalisi terbentuk tetapi organisasi keluarga nampak sama dan kesatuan disfungsional akan terulang pada situasi yang memungkinkan selanjutnya.
Minuchin mengemukakan bahwa suatu keluarga yang mencari permasalahan mengalami tekanan yang melebihi mekanisme adaptasi dan pengopian sistem merintangi fungsi optimal dari para anggotanya dalam proses berkeluarga. Minuchin membuatt penyusunan ulang alas kesatuan keluarga-mengatur ulang sistem yang mengatur transaksi/hubungannya di dalamuya-sehingga keluarga akan berfungsi secara lebih efektif dan potensi pertumbuhan setiap anggotanya akan menjadi maksimal (Minuchin, I974). Proses pengaturan ulang mengandung perubahan dalam aturan-aturan keluarga. perubahan dalam hal-hal pokok yang mendukung perilaku-perilaku tertentu yang tak diinginkan dan perubahan dalam rangkaian interaksi.
Pendekatan terapi Minuchin sangat inovatif dan manipulatif secara sengaja, menyusul sebuah kesatuan perhitungan dan prosedur percobaan yang terencana. Secara umum Minuchin menyarankan bahwa ahli terapi memulai terapinya dengan menggabungkan dirinya bersaman keluarga dengan tujuan untuk terdapat pengalaman secara langsung tentang tekanan dalam sistem keluarga tersebut. Minuchin mulai dengan.menyelidiki struktur keluarga, mencari wilayah yang mengkaji terjadi perubahan. Contohnya, jika sebuah keluarga melakukan terapi karena anak wanitanya sangat pintar, menarik diri dan memiliki kesulitan dalam kehidupan sosialnya, ahli terapi dapat melakukan diagnosis berlangsung bagaimana keluarga tersebut memasuki ruangan terapi: anak perempuan duduk dekat ibunya dan mereka menempatkan kursi mereka saling berdekatan. Ketika ahli terapi menanyakan apa permasalahannya, ibunya yang menjawab, mengabaikan anak perempuannya yang mencoba mcnjawab dan menambahkan jawaban ibuaya. Ibunya membuat pernyataan yang menunjukkan bahwa ia sangat tahu secara mendalam mengenai kehidupan pribadi putrinya, lebih tahu dari orang kebanyakan. Selang beberapa menit setelah memulai diagnostik, Minuchin membuat satu campur tangan pertamanya, ia meminta sang Ibu dan Ayah untuk berganti kursi. Terapi struktural dimulai: ketika sang Ayah mulai digambarkan, flekbilitas keluarga kemudian diuji ; dengan implikasi pada patologi hubungan ibu-anak, alasan keluarga menjalani terapi untuk anaknya kemudian diatur ulang atau dikelompokkan ulang sebagai sebuah masalah dengan fokus yang luas (Minuchin, 1974b).

TEKNIK INTERVENSI STRUKTURAL
Minuchin, adalah seorang dokter, ia membuat teori struklur keluarga sebagai sebuah hasil dari terapi kerjanya dengau keluarga yang mengabaikan anak mudanya di Wiltwyek sebagaimana pada keluarga yang tidak memperhatikan keadaan psikologi anak-anaknya, terutama anoreksi di Pusat Pendampingan Anak Philadelphia (untuk pembahasan kedua penelitian ini, lihat bab 3). la cenderung melakukan praklek terapi keluarga di rumah, namun diri pengalaman klinisnya ia membuat strategi intervensi tertentu yang membentuk dasar pendekatan struklural. Strategi ini secara sederhana dan praktis, Diperhitungkan memiliki efek-efek tertentu strategi-strategi tersebut telah membuat terapi structural keluarga yang populer dan berpengaruh. Kami telah menyinggung, beberapa taktik ini dalam bagian sebelumnya: ikut masuk dan bergabung dengan aturan-aturan hubuugan keluarga, berhadapan, Dengan aturan-aturan hubungan keluarga mencoba untuk menyusun ulang dan mengalur ulang aturan-aturan perilaku para anggotanya.
Beberapa taktik klinis lainnya mengandung beberapa catatan. Mimesis menyamakan proses penggabungan keluarga dengan mengimitasi aturan, gaya. lingkup afektif atau isi dari komunikasi. Melalui proses tracking, ahli terapis struktural mengadopsi simbol-simbol kehidupan keluarga yang diperoleh dari komunikasi para anggotanya (seperti tema-tema kehidupan, nilai, kejadian-kejadian historis klinis) dan secara sengaja menggunakannya dalam percakapan keluarga. Usaha untuk mcmperkuat usaha-usaha trapis yang diberikan pada keluarga juga merupakan satu cara mempengaruhi aturan transisional terbaru mereka; Minuchin (1974) menyebutnya ‘mengatur lewat mengikuti.
Pengundangan adalah usaha-usaha yang dibuat oleh terapis untuk mengatasi konflik keluarga sehingga para anggota keluarga dapat mengkaji bagaimana mereka menghadapinya dan para terapis dapat mulai merencanakan cara untuk memodifikasi interaksi mereka dan membuat perubahan struktural. Untuk menggunakan sebuah contoh yang ditawarkan oleh Rosenberg (1983), seorang lbu mengajukan komplain kalau putrinya yang berusia 2.5 taliun marai; dan mempermalukan ibunya di depan kakek dan neneknya, di dalam bus, dan dalam situasi yang lain,. Si putri masih berperilaku dan bersikap baik selama sesi-sesi awal terlepas (atau mungkin karena) akan desakan ibunya sehingga ini berperilaku seperti itu. Saat sesi ketiga atau keempat, saat si anak meminta permen karet, Rosenberg tahu ada kesempatan baginya: ia meminta sang ibu untuk tidak memberinya permen karet karena waktu makan siang sudah dekat. Ketika si anak inercngek dan meuaugis, ia akhirnya menyungkur kaji dirinya ke lantai dan melopas bajunya dan ibunya ingin menurutnya sementara Rosenberg mendorong sang ibu untuk tetap bersikeras, dan jangan peduli dengan suara bising/tangis itu. Lepas sekitar setengah jam berikutnya, si anak berhenti menangis; ia terlihat baik kendati sang ibu dan terapist terlihat kelelahan! Dalam hal struktural, batasan generasional di siniterbentuk kembali, saiig ibu kembali memikul tanggungjawabnya, dan sang putri, akhirnya merasa nyaman setelah tahu bahwa ibunya dapat menanganinya.
Enactment (pemeriksaan) seringkali bermanfaat untuk menegaskan tujuan
atau maksud. Dalam hal ini, terapist keluarga struktural mendefinisikan ulang
masalah yang ada (sebagai contoh, penderitaan diri seorang putri dewasa) sebagai
fungsi dari struktur keluarga itu sendiri. Gadis yang anorexic (anorexia) dikatakan ‘bandel’ dan bukannya ‘sakit’, memaksa anggota keluarga untuk melihat pandangannya tcntang apa yang terjadi dan akhimya meiigubah pola transaksional mereka. ‘Kenyataan’ halnya si anak (puteri) tidak makan tidak mengubah ‘arti’ yang dikaitkan dengan perilaku tersebut. Refraining digunakan oleh banyak terapist keluarga (terutama para advokat ‘komunikasi’) untuk mengubah perspektif keluarga, dan akhirnya untuk mengubah pola perilaku keluarga berdasarkan pilihan dan alternatif baru.
lntervensi Minuchin sangat mungkin meningkatkan stresi/tekanan pada sistem keluarga bahkan mungkin menciptakan; krisis keluarga yang menjadikan homeostatis kekeluargaan tidak seimbang tapi sekaligus membuka peralihan struktur keluarga. Minuchin menemukan: bahwa dalam sistem keluarga yang lingkungan berbagai contoli. anggota keluarga kerab kali percaya bahwa semua keluarga tidak dapat beradaptasi dengannya; sebagai akibatnya, sistem melebihi menemukan adanya perubahan anggota tertentu untuk mempertahankan homecslatis disfungsional. Ketika mungkin bahaya dari keluarga tadi semakin meningkat maka penilaian gejala akan dialihkan sebagai bagian dari menurut penalaran konflik; sistem keluarga memperkuat konstitutional (berkelanjutan) gejala yang membantu mempertahankan keseimbangan sistem dan status quo. Dan tugas sang terapist lah untuk menjadikan semua orang sadar, yang senang dicapai melalui refraining, karena masalah itu milik dan dialami oleh keluarga. dan bukan individu; sehingga implementasi rangkaian fungsicnal baru harus mampu menggantikan kebiasaan/liabitual dari yang disfungsional.
Taktik terapeutik yang digunakan oleh Minuchin seringkali dramatik dan sekaligus terikat. Laiknya seorang pengarah panggung, ia menikmati penciptaan situasi, menciptakau skenario, memberikan tugas kepada keluarga dan menuntut anggota keluarga tadi untuk berfungsi atau berjalan sesuai dengan seting yang diberikan/ditunjukan. Sebagai contoh dalam menangani anak anorexia, menyiksa diri sendiri dan menolak makan, Mintichin menuliskan untuk menemui keluarga saat makan siang selama sesi pertama. la. menciptakan pcmcrilakuun sepcni itu sccara ssugaja, untuk mencari orang adanya krisis seputar makan dan nicngalami apa yang dialami olcli anggota keluarga. la mengamati baliwa orang tua berdalih, menuntut, membujuk, akhirnya menyerah dan merasa kalah. la mcngamati si anak (puteri yang sudah dewasa) menunjukan ketidakberdayaan, menolak makan. Minuchin melakukan refraining, membantu keluarga itu untuk melihat bahwa anorexia nervosa adalah diagnosis dan suatu sistem keluarga, tidak semata-mata perilaku simptomatik orang dewasa. Semua anggota keluarga terjebak dalam pola interaksi yang sia-sia yang telah menjadi pusat kehidupan mereka; setiap anggota memiliki taruhan/saham dalam mempertahankan penyakit tersebut. Minuchin menemukan tipe khusus dan organisasi keluarga terkungkung dimana si puteri mencoba menurunkan pemahaman terhadap dirinya sendiri. Dan menurutnya itu berkaitan dengan perkembangan dan perawatan sindrom psikosonatik pada perempuan dewasa. Sebaliknya, sindrom tersebut memainkan peran penting di dalam mempertahankan homeostatis keluarga. Tetapi keluarga struktural membantu setiap orang dalam keluarga tersebut untuk mengenali sindrom tadi dan mcngambil tanggung jawab untuk memberikan kontribusi tcrhadapnya.. Dengan menciptakan suatu krisis keluarga, Minuchin mendesak keluarga uutuk mengubah sistem mereka, menggantikannya dengan interaksi yang lebih fungsional.
Berikut ini merupakan pendekatan pemicuan-krisis Minuchin yang manipulatif. Dengan menunjukkan tekniknys terhadap keluarga yang memiliki puteri dewasa penderita anorexia, Minuchin menurut orang tua untuk memberikan makna , atau dia akan mati. Mereka membujuknya, desakan, ancaman, teriakan. dan akhirnya menjejalkan makanan ke tenggorokannya hingga si anak menangis dan pingsan. Minuchin yakin bahwa ia sekarang akan mau makan.
‘Anoretic terobsesi dengan ketidakberdayaan, ketidakmampuan, kelemahan, dan keburukannya. Saya mendorong suatu konflik interpersoncil yang menjadikannya berhenti berpikir lantang seberapa burukkah dia dan-akan berpikir tentang seberapa. (maaf) ‘brengsek’nya orang tuanya. Pada demonstrasi tersebut, saya mengatakan kepada orangtua si anak, “Buat ia mau makan,” dan ketika mereka melakukannya, dia harus menghadapinya sebagai manusia/orang. Sebelumnya, sang orangtua’ mengatakan “Kami mengendalikanmu karena kami menyayangimu.Salam posisi itu hanya memasukkan mereka ke dalamnya, mereka akhirnya berkala “(‘maaf) brengsek. Ini makan!’ Entah setelah itu si anak mau makan atau tidak, ia dapat saja memarahi si orang tua itu”
Dengan pendekatannya ini, Minuchin (oleh dapat menunjukan bahwa gejala anorexic ternyata tetapi melekat pada organisasi keluarga yang selalu karenanya mengubah organisasi tersebut akan menghilangkan gejala yang fatal.
Penyakif psikosomatik menunjukkan suatu tipe penyakit dimana penawar atau obatnya dapat diukur secara ilmiah, tidak semata-mata diasunisi atau disiratkan. Data Minuchin mengindikasikan tingkat keberhasilan sebcsar 86% dalam perawatan anorexic dengan terapi struktural ini. keberhasilan Minuchin dalam hal ini menunjukan kebermanfaatan penelitian lebih jauh untuk menilai apakah bentuk intervensi yang sangat diperhitungkan dapat juga efektif untuk masalah keluarga yang lain.

BAB IX
PERSPEKTIF TEORITIS : MODEL KOMUNIKASI

Komunikasi, atau interaksi diyakini merupakan bentuk hubungan yang bersifat sirkular (berputar), dan merupakan repetisi (pengulangan) yang kompleks, karena itu tidak dapat dipilah-pilah dalam logika sederhana, dan juga tidak selalu berupa hubungan sebab-akibat. Setiap orang cenderung menempatkan dirinya dalam pihak yang bereaksi, bukan yang memulai aksi, sekaligus juga menafsirkan posisi dan reaksi yang benar menurut subyektivitas mereka sendiri. Dengan demikian, komunikasi dalam keluarga uinumnya juga inengalami situasi yang sama. dan hal tersebut rentan menimbulkan konflik dalam keluarga. Pendapat ini telah bertahan dalam jangka waktu lama, dan telah memunculkan pengembangan dan revisi baru. Untuk itu, perspektif model komunikasi dan terapi masalah komunikasi dalam keluarga akan dibahas dalam 3 bagian.

A. THE MENTAL RESEARCH INSTITUTE (MRI)
INTERACTIONAL VIEW
Tinjauan Interaksional MRI dikembangkan oleh Don Jackson, Jay Haley, dan Virginia Satir, beserta tokoh-tokoh terapi keluarga yang terkemuka seperti Gregory Bateson, John Weakland, Jules Riskin, Paul Watzlawick dan Richard Fisch. Mereka mengembangkan teori model komunikasi berdasarkan pada teori system umum, sibernetika, dan teori informasi. Konsep mereka berisi teori aturan dalam keluarga, homeostasis (kemampuan mempertahankan keluarga dalam keseimbangan), marital quid pro quo, prinsip redundancy) (interaksi terbatas dan berkurang), punctuation (penekanan “tanda baca” sesuai persepsi sendiri). hubungan simetris dan komplementer, dan kausalitas sirkular.
Sesuai dengan konsep dasar komunikasi semua pelaku adalah bentuk komunikasi, baik verbal maupun nonverbal. Dengan demikian, komunikasi dapat direpresentasikan dalam gestur, bahasa tubuh, nada suara, postur tubuh dan intensitas perilaku. Namun demikian, komunikasi dapat bermakna ganda, dimana makna tersebut kontradikiif dan tidak dapat dihindari kedua-duanya. Seringkali komunikasi bermakna lerbeda pada level pertama (permukaan/isi) dan pada level kedua (metakomunikasi). Apabila hal tersebut terjadi pada anak, dapat membutuhkan penyakit sistem. Konsep MRI sangat menekankan pengendalian keseimbangan keluarga terjaga.
Setiap komunikasi memiliki 2 aspek, yaitu aspek isi (“laporan”) dan aspek hubungan (“perintah”). Hal ini berarti komunikasi tidak hanya memuat informasi. Namun juga menjelaskan hubungan antara pihak yang berkomunikasi. Menurut Jackson, hubungan dalam keluarga dapat dijelaskan dengan aspek perintah tersebut, sekaligus menegaskan aturan dan usaha mempertahankaii homeostasis dalam keluarga. Seperti yang diungkapkan Haley, komunikasi dalam keluarga dapat berfungsi pada banyak hal, diantaranya untuk mengendalikan anggota keluarga, menegaskan kekuatpn hubungan dan perintah, serta memfungsikan organisasi keluarga yang lebih baik (melalui pengenalan perilaku dan komunikasi lewat perilaku). Satir, sebagai pelengkapnya, menambahkan adanya komunikasi yang jujur dan efcktif antar anggota keluarga, seperti mcnjadikan aturan tak tertulis menjadi lebih eksplisit.
Bentuk terapi yang dikembanjkan dari konsep MRI, terutama oleh Jackson dan Watzlawick, berupa therapeutic double-bind, yaitu terapi dengan feknik paradoks. Terapi ini berguna untuk mendorong komunikasi yang lebih eksplis.l dalarn keluarga agar tidak terjadi penyampaian pesan inkongruen, asimetris. dan terlebih menimbulkan gejala skizofrenik. Terapi ini memberikan subyck permasalanan y’ang bersifal saling bcricnlangan, dimana hal tersebut tidak bisa dihindari tidak ada solusi yang mungkin, dan tidak ada bantuan ekstervial. Dengan demikian, orang yang mengikuti terapi harus memaksa dirinya berubah atau membuat pilihan sendiri, yang akhirnya dapat terkontrol melalui perilaku. Inti terapi ini adalah prescribing the symptoms (menentukan gejalanya). Dengan meminta peserta terapi untuk tidak merubah perilaku dasamya, diharapkan mereka dapat mengenali sendiri gejala dan penyebab konflik yang disebabkan kegagalan komunikasi, dan akhirnya mendapat feedback positif untuk mengatasinya secara alamiah.
Bentuk lain terapi mereka adalah dengan relabeling, yaitu tanpa mengubah perilaku maupun bentuk komunikasinya, namun dengan memberikan penjelasan atas perilaku yang tidak terkomunikasikan dengan baik, sehingga dapat diterima sebagai suatu persepsi positif dan simpatik.

B. STRATEGIC FAMILY THERAPY
Dikembangkan oleh Jay Haley dan Cloe Madanes. model terapi ini berlaku pada perancangan strategi yang akan disarankan pada klien yang.mengalami perrnasalahan dalam interaksi. Terapi strategis yang ditawarkari ini berfungsi untuk mengatasi masalah di masa sekarang, tanpa melihat bagaimana di masa lalu, dan berusaha mencegahnya menimbulkan repetisi atau perilaku destruktif. Secara garis besar, terapi ini berusaha mengubah aspek sistem dalam keluarga yavg menimbulkan masalah
Dalam prosesnya, terapis berperan iangsung dan tegas dalam memberikan arahan dan petunjuk. Hal ini cenderung manipulatif dan dapai bersifa: memaksa, namun disini Haley menunjukkan bahwa instruksi yang tegas dan skenario yang taktis dapat membantu menyelesaikan masalah. Arahan-arahan yang diberikan terapis dilakukan dengan beberapa alasan, antara lain untuk memberikan pengalaman subyektif yang berbeda pada klien, memperkuat hubungan antara terapis dan anggota keluarga, serta untuk mendapatkan informasi yang penting dari reaksi klien. Selain memberikan petunjuk Iangsung, cara lain yang biasa digunakan adalah merubah konteks dan interpretasi komunikasi/interaksi, yaitu dengan relabeling atau refroming.
Bentuk terapi lain dari Haley adalah paradoxical intervention, kurang lebih mirip dengan terapi yang dikembangkan Jackson dan Watzlawick. Inten.’ensi paradoks ini lebih luas, dimana terapi disusun dengan 3 tahap: redefining (inenjelaskan dengan cara lain, mirip dengan relabeling), prescribing (menenlukan gejala). dan restraining (membatasi perilaku bermasalah). Disini terapis akan membeVikan rencana, termasuk juga arahan dan petunjuk untuk mengatasi masalah, sesuai urulan diatas. Dengan demikian, perubahan perilakuHidak akan terjadi secara drastis, dan klien mungkin tidak sadar telah berusaha diubah perilakunya. Hal ini berguna untuk mengatasi penolakan yang mungkin muncul dari klien atau keluarganya, akibat persepsi awal rnengenai upaya terapis mengubah sistem nilai dan keseimbangan keluarga.
Konsep dan metode Haley dinilai oleh banyak pihak terlalu otoriter dan manipulatif, sekaligus sangat bergantung pada kemampuan dan pengaruh terapis Untuk membalikkan titik berat terapi pada klien, maka Madanes mengembangkan teknik pretending (berpura-pura). Teknik ini memberikan penjelasan dan arahan badi semua pihak yang terlibat untuk “berpura-pura”, seakan-akan apa yang mereka alami dan perilaku bermasalah mereka tidak nyata. Teknik ini berfungsi untuk membalikkan fakta, sehingga masalah tidak dianggap sesuatu yang nyata dan akhirnya harus ditekan, karena tidak sesuai dengan kenyataan.

C. SYSTEMIC THERAPY AND THE MILAN ASSOCIATES
Pendekatan terapi keluarga ini dikembangkan oleh Mara Selvini-Palazzoli dan groupnya, The Milan Associates. Fokus konsep mereka, sejalan dengan konsep sirkular Bateson, yaitu berfokus pada informasi serta pendekatan sistematik pada perbedaan perilaku dan hubungan dalam keluarga. Terapi ini dikenal dengan .systemic family therapy (terapi sistemik untuk keluarga). Terapi ini Tidak seluruhnya direncanakan, naniun terkoordinir dengan baik. Umumnya terapi ini memakan waktu yang cukup lama, dari sebulan hingga setahun, karena dasar metode terapi sistemik sangat terstruktur dan sangat memperhatikan proses perkembangan.
Grup terapis ini menyusun serangkaian skenario dan jadwal yang melibatkan anggota keluarga, terdiri dari sejumlah sesi wawancara, diskusi, dan permainan yang umumnya bersifat paradoks. Mereka berusaha mengumpulkan seluruh informasi hingga sedetil mungkin. Apabila terjadi hal-hal yang diluar perkiraan, mereka akan menyusun rencana lain untuk mengakomodasinya. Terapi ini juga melibatkan sejumlah :..ahan, petunjuk, dan tugas untuk dilakukan. Dengan demikian, selamu masa terapi tersebut grup terapi Milan ini terns memonitor dan mengontrol situasi dan pola perilaku keluarga.
Proses tetapi ini tidak terlalu memperhatikan faktor struktur nilai keluarga, sehingga mereka dapat merubah maupun mengendalikan nilai atau struktur yang dianggap bermasalah, tidak sesuai, atau dianggap kaku. Metode ini Sangat rawan dalam mengharuskan perlawanan, karena itu harus dilakukan secara tersistem. Salah satu metode yang mereka gunakan adalah melawan komunikasi yang bermakna ganda dan kontradiktif dengan paradoks lain, yang disebut coimicrpuruilox.
Terapi sistematik dari grup Milan ini memiliki beberapa teknik dan prinsip khusus, antara lain: positive conotulion, yaitu membcrikan tc.ni yang positif dan iebih baik pada perilaku yang memicu masalati (seperti relabeling atau refraining), sehingga seluruh anggota keluarga dapat menilai paradoks tersebut dan sudut yang berbeda dan akhirnya secara bertahap dapat merubah sistem nilai mereka sendm; hypothesizing, yaitu menyusun seluruh informasi awal yang mereka dapatkan sehingga mereka dapat ikut bertanggungjawab dalam setiap pembahasan masalah serta dapat merumuskan langkah awal; neutrality, yaitu tetap bersikap netral dan melihat masalah keluarga klien sebagai sesuatu yang komprehensif; dan circular questioning, yaitu diagnosa sirkular dengan merancang pertanyaan yang melibatkan seluruh anggota keluarga untuk suatu konflik. dan kemudian menanyakannya pada setiap anggola keluarga, sehingga informasi tenta.ig masalah yang sama dapat ditinjav dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dengan melihat perbedaan yang terjadi dalam proses terapi ini, mereka dapat merumuskan perubahan sistem yang dipenukan dan metode komunikasi yang ideal untuk setiap anggota keluarga.

BAB X
THEORETICAL PERSPECTIVE: BEHAVIORAL MODELS

Terapi keluarga model behavioral mulai berkembang tahun 60-an. Model ini merupakan bentuk reaksi atas konsep psikodinamika yang menganggap ketidaksadaran sebagai dasar perilaku patologis. Model terapi behavioral mendasarkan pada prinsip “here and now” sehingga lebih menekankan pada pengamatan oerilaku, penggunaan tes hipotesis, dan koreksi diri atas periiaku klien, dengan prosedur metodologi yang ketat dan terkontrol secara ilmiah. Ini merupakan kontribusi terpenting bagi psikologi.

BEBERAPA KONSEP YANG MENDASARI TERAPI BEHAVIORAL
Prinsip yang mendasari model ini adalah social learning (pembelajaran sosial) yang diperoleh melalui modifikasi perilaku maladaptive hasil uji laboratonum. Tokoh-tokoh yang berjasa merintis model ini antara lain Ivan Pavlov (Classical conditioning), Skinner (operant conditioning), Watson (S – R Bond theory), Albert Bandura (Social Learning), Clark Hull, rill. Asumsi yang mendasari konsep terapi behavioral, yakni:
1. Setiap bentuk perilaku diperoleh dan dipelihara dengan pola yang sama.
2. Gangguan perilaku menandakan adanya pembelajaran yang salah suai, dan
tidak perlu dicari motif yang tak tampak yang mendasarinya.
3. Perilaku maladaptive hanyalah gejala, bukan bentuk manifestasi dari gangguan.
4. Tidak periu menemukan lingkungan yang menjadi penyebab, tetapi lebih fokus memperkirakan faktor utama penentu penyokong timbulnya perilaku itu.
5. Perilaku maladaptive merupakan perilaku yang dipelajari, dapat diubah dan diganti dengan perilaku yang baru.
6. Treatment merupakan bagian dari aplikasi temuan eksperimen psikologi, dengan
metodologi yang dipilih secara tepat, dinilai secara objektif dan mudah dilakukan.
7. Assesmen merupakan bagian dari treatment dilakukan secara kontinyu, dievaluasi dan diinlervensi dengan teknik disesuaikan karaktcristik masalah dan individu.
8. Terapi behavioral memandang masalah dengan prinsip “here and now”. Terapis lebih tertarik pada modifikasi perilaku mendasarkan pada situasi sekarang.
9. Hasil treatment dinilai menurut purubahan perilaku yang terukur.
10. Validitas keilmiahan dan penelitian pada penggunaan teknik terapi khusus telah disediakan atau difsilitasi oleh ahli terapi behavioral.

BENTUK-BENTUK TERAPI KELUARGA MODEL BEHAVIORAL

The Association for the Advancement of Behavior Therapy mengemukakan bahwa behavioral therapy terutama mencakup aplikasi prinsip-prinsip yang diperoleh dari hasil riset ekserimental’dan psikologi sosial untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan fungsi hidup manusia. Ada tiga bentuk terapi behavioral sbb.:

1. Behavioral Marital Therapy (Terapi Perkawinan)
Jenis terapi ini mula-mula dikembangkan oleh Robert Liberman. Terapist mencoba mengubah perilaku pasangan suami-isteri dengan merekonstruksi lingkungan yang diperkirakan berpangaruh pada hubungan interpersonal. Langkah-langkahnya sbb.: Pertama, memperkirakan perilaku apa yang menjadi akar masalah bagi suami-isteri. Kedua, perubahan spesifik apa yang diinginkan oieh masing-masing pasangan. Ketiga, dengan kedua pertanyaan itu terapist berusaha menemukan kemungkinan -kemungkinan perilaku tidak menyenangkan (undesirable behavior) yang menjadi pemicu timbulnya permasalahan dan akibatnya.
Keempat, Selanjutnya terapis melakukan pembelajaran dengan menggunakan penguatan positif untuk membentuk pola perilaku yang diinginkan (desirable behavior).
Stuart (1969) dengan. teori operant conditioning, memberi nama Operant interpersonal therapy, beranggapan bahwa pada mulanya pola interaksi bermasalah itu tejjadikarena perbedaan pandangan antara suami atau isteri terhadap suatu hal. Dan perilaku merupakan bentuk pilihan yang dianggap lebih memberikan keuntungan (the most rewarding) sehingga mengapa ia melakukannya. Contoh : Mengapa suami memilih menghadiri undangan teman karibnya daripada mengantar isteri berbelanja karena menghadiri undangan dipandang lebih memberi arti (menguntungkan). Hal ini berbeda dengan pandangan isteri yang berangpapan bahwa kebutuhan isteri lebih penting daripada teman karib. Ada sembilan langkah dalam terapi perkawinan model ini, yakni:

 Langkah 1, pengisian data pra konseling’
 Langkah 2, perjanjian kontrak treatment
 Langkah 3, mendiskusikan tentang; jenis intervensi
 Langkah 4, memulai dengan hari-hari yang mesra
Langkah 5, meningkatkan fungsi komunikasi
 Langkah 6, kesepakatan tentang perubahan perilaku
 Langkah 7. membuat keputusan untuk menghormati peran dan tanggung jawab.
 Langkah 8, memelihara perubahan perilaku.
 Langkah 9, menyepakati perubahan untuk masa selanjutnya.

2. Behavioral Parent Training / BPT (Pelatihan bagi Orangtua)
Pelatihan ini diperuntukan bagi orang tua dalam memperlakukan anak. Pendekatan yang digunakan pada umumnya dengan pembelajaran sosial (social learning model). Umumnya pelatihan diarahkan pada perubahan perlaku anak yang tak” disukai, menerima pandangan-pandangan orangtua pada problem anak. Pada sasaran akhirnya adalah mengubah system interaksi dalam keluarga. Untuk pengungkapan problem anak dengan menggunakan daftar prilaku bemnasalah (behavioral problem).

3. Conjoint Sex Therapy (Terapi seks bersama-sama)
Gangguan fungsi seks banyak menimbulka.n berbagai akibat dalam kehidupan keluarga, maka sex therapy merupakan hal penting dalam problem rumah tangga. Terapi seksual ini dirintis oleh William Masters dan Virginia Johnson pada Masters and Johnson Institut di St.Louis, Amerika Serikat. Asurnsi yang mendasari terapi ini adalah bahwa salah satu pasangan suami-isteri tidak cukup memaharni berbagai bentuk kehidupan seksual. Akibatnya adalah suami dan isteri saling melakukan penekanan, dan akibatnya penyelewengan merupakan problem perkawinan yang lazim terjadi.
Prosedur yang dilakukan yaitu masing-masing pasangan suami-isteri dilayani oleh tim terapis pria dan wanita. Secara ideal, satu pasangan dilatih dengan pemahaman ilmiah tentang anatomi tubuh, dan pasangan yang lain dengan pelajaran perilaku seks. Pelatihan dilakukan selama dua minggu dengan dimulai dari penilaian secara menyeluruh pengalaman-pengalaman seksual dari masing-masitig pasangan, bukan hanya menilai pengalaman seksual dalam arti kronologis hubungan seksual, tetapi yang lebih penting justeru bagaimana orientasi atau pemahaman terhadap nilai seksual, sikap, perasaan, dan harapan tentang hubungan seksual itu dilakukan. Selanjutnya terapis bersama pasangan suami-isteri mereviu beberapa masalah yang menimbulkan kesulitan seksual.
Selama bebarapa hari berikutnya, terapis menginstruksikan kepada pasangan suami isteri untuk fokus pada daerah yang sensitive, tetapi tanpa adanya penekanan pada perilaku seksual. Selama periode ini diadakan pertemuan bersama-sama (roundtabie) antara terapis dan pasangan suami-isteri untuk membicarakan ketidak-serasiannya, perasaan bersalah, atau kekuatirannya selama ini. Sisa waktu yang ada tersebut digunakan oleh terapis untuk memberi pelajaran keduanya (suami dan isteri) untuk bisa bekerja bersama-sama mengatasi kesulitan dalam melakukan hubungan seksual mereka.

BAB XI
PROSES TERAPl KELUARGA

KARAKTERISTIK DASAR TERAPl KELUARGA
Terapi Keluarga vs Terapi Individual
 Terapi Keluarga adalah suatu teknik psikoterapi untuk menggali dan mencoba untuk mengurangi masalah-masalah emosional yang berpautan satu sama lain di dalam suatu sistem keluarga dengan cara menolong perubahan disfungsi pola transaksional keluarga pada anggota-anggota keluarga secara bersama-sama. Minat terapi keluarga adalah keluarga dari pasien psikiatrik dan keluarga sebagai pasien psikiatrik (Bloch, 1974).
 Psikoterapi Individual terfokus pada kesulitan intrapsikis seseorang mengetahui bahwa gangguan relasi interpersonal pasien mungkin berkontribusi pada kesulitan-kesulitan individu tersebut.

Tiga dimensi perbedaan Terapi Keluarga dan Terapi Individual:
1. Sifat dan lokasi sumber yang mengakitfkan gangguan dalam perkembangan kepribadian.
■ Terapi Keluarga : sumber eksternal mendominasi pembentukan kepribadian dimana karakteristik pengaturan tingkah laku dalam keluarga mengatur dan meregulasi kehidupan interpersonal anggota keluarganya.
■ Terapi Individual: sumber internal lebih dominan (pikiran, ketakutan,
konflik).
2. Formasi simptom.
■ Terapi Keluarga : konflik di dalam transaksional antara individu dan sistem keluarga yang disfungsional.
■ Terapi Individual : formasi simptom sebagai hasil dari konflik antara bagian dari self (misal, id/ego/superego dal?m psikoanalisis).
3 Pendekatan perubahan terapetis.
■ Terapi Keluarga : keluarga sebagai suatu komitmen bertingkah laku sesuai tata krama, melindungi diri sendiri dar. mempertahankan keseimbangan pada perubahan yang terjadi dalam keluarga.
■ Terapi Individual : pasien mencapai insight atau mendapatkan pengalaman baru untuk mengerti atau mengatasi kegagalan dan melepaskan simptom yang mengganggu.

Indikasi dan Kontraindikasi Terapi Keluarga
Terapis yang berorientasi pada keluarga dapat rnemilih untuk bekerja dengan seluruh keluarga, subsistem di dalam keluarga, atau individu sebagai anggota keluarga dengan maksud untuk menolong perubahan sistem sosial keluarga. Pada prakteknya, saat ini kasus Terapi Keluarga sering kali menjadi suatu kasus untuk Terapi Marital (Framo, 1975). Secara umum, indikasi Terapi Keluarga adalah ketika kemampuan keluarga untuk melakukan fungsi dasar menjadi inadekuat, dan lebih ;elasnya ketika masalah muncul di dalam suatu konteks hubungan keluarga. Indikasi Terapi Keluarga terutama untuk kasus konflik marital, persaingan saudara yang parah, atau konflik intergenerasi, atau untuk mengklarifikasi dan menyelesaikan kesulitan hubungan di dalam suatu keluarga. Kontraindikasi:
Kemampuan terapis yang terbatas untuk bekerja dengan seluruh keluarga atau keengganan sistem keluarga untuk mengatasi masalah dengan perubahan yang diperiukan pada seluruh anggota keiuarganya. Terapi Keluarga tidak selalu bermanfaat untuk semua gangguan.keluarga.
Terapi Keluarga tidak dapai bekerja ketika secara jelas satu atau lebih anggota keluarga menjadi lebih dominan dalam keluarga dengan dorongan dan tingkah laku yang membahayakan dan destruktif ataupun rapuh secara psikologis.

PENGUKURAN KELUARGA
Akankah Diagnosis Diperlukan ?
Terapis keluarga memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang diagnosis keluarga. Terapis yang tidak mendukung diagnosis menemukan bahwa proses diagnostik tidak iuktif dan mengganggu, sedangkan terapis yang mendukung setuju bahwa diagnosis iriukan dan berguna sebagai petunjuk untuk perencanaan tritrnen.

METODE PENILAIAN KELUARGA
Terapis keluarga percaya bahwa suatu proses evaluasi formal membantu untuk terlibat seluruh keluarga secara langsung pada kelanjutan tritmen lima prosedur evaluasi yang digunakan antara lain :

Keluarga Terstruktur
Perkembangkan oleh Paul Watzlawick (1 Jf 6), merupakan suatu teknik evaluasi terstandar yang ncang untuk mengungkap pola interaksi keluarga. Instrumen dimaksudkan untuk

NILAI DAN TUJUAN TERAPF KELUARGA
Nilai-nilai terapis seperti kepercayaan di dalam kehidupan perkawinan dan keluarga. cenderung pada keluarga asal kelas menengah dan berpengaruh pada proses terapi dan pilihan tujuan terapi. Meskipun terjadi perbedaan dalam orientasi nilai, tujuan utama terapis adalah untuk mengembangkan kemampuan anggota keluaga untuk berfungsi sebagai kelompok interdependen (saling tergantung).

ISUE ETIK DALAM TERAPI KELUARGA
Isue etik meliputi loyalitas dan tanggung jawab terapis, menjaga kerahasiaan keluarga, melakukan diagnostik, dan menyadari kekuatan untuk meningkatkan atau menurunkan konflik sebagai suatu pertimbangan dalam Terapi Keluarga.

TAHAP-TAHAP TERAPI KELUARGA
The Initial Interview
Tahap proses Terapi Keluarga dimulai dengan koritak pertama dengan keluarga, biasanya dilakukan per telepon. Kebanyakan terapis akan berusaha sebisa mungkin bertemu dengan seluruh keluarga sebanyak yang mereka bisa. Banyak cara untuk m’emulai interview; mulai dan suatu strategi yang terencana dengan hati-hati (Haley), pertemuan spontanitas antara terapis dengan keluarga (Whitaker), sampai usaha bergabung dengan keluarga, berakomodasi dengan gaya keluarga tersebut, dan berusaha untuk merubahnya dari dalam (Minuchin).

The Middle Phase
Selama fase pertengahan dalam Terapi Keluarga, keluarga dianjurkan untuk melihat hubungan mereka, bekerja pada masalah-masalah spesifik yang membawa mereka pada tritmen, dan berusaha mereorganisasi struktur keluarga.

Termination
Jika keluarga telah berhasil dalam daya tahan dan keteriibata n mereka sendiri di dalam tritmen, sering kali keluarga telah siap untuk mengakhiri tritmen, sekarang keluarga telah memiliki kemampuan lebih baik dalam bekerja sabagi suatu kelompok untuk menyelesaikan masalah dan mengubah pola tingkah laku yang merusak.

REFERENSI :
Goldenberg, Irene & Goldenberg, Herbert. 1985. Family Thetapy : An Overview. Second Edition. California : Brooks/Cole Publishing Company.

BAB XII
INNOVATIVE TECHNIQUES IN FAMILY THERAPY

Dibawah ini akan membahas sejumlah format terapi keluarga yang penting dalam suatu pengertian, variasi atas tema yaitu sebagian two-will. Beherapa format, dari berbagai terapi keluarga berdampak pada proses terapi. Adapun beberapa taknik berdasar pada terobosan teknologi ( sebagai contoh, videoplayback teknik). Sebelum orang menghadirkan aplikasi pengembangan teknik intervensi, orang mengubah kebutuhan keluarga dengan prosedur klinis ( sebagai contoh, famili krisis intervensi). Terapi keluarga didalam rumah adalah juga diwakili intervensi jaringan sosial. Dibawah ini kita akan meringkas format dan inovasi yang khusus dalam kaitannya dengai aplikasi klinis dari prosedural, ke situasi krisis, ke perawatan batas waktu dan ke siluasi di mana large-group perawatan ditandai.

1. PROSEDUR PERAWATAN NONVERBAL
A. Family Sclupture and Choreography (seni perencana tari balet)
Keluarga sclupture adalah kiasan untuk pemahaman artara hubungan keluarga dengan para anggota keluarga tersebut. Keluarga sclupture adalah suatu pengaturan yang menyangkut anggota dalam suatu keluarga, dari tiap figur yanq ditentukan oleh perorangan anggota keluarga yang bertindak sebagai ” direktur” {kepala rumah tangga}.

B. Videoplayback (Memainkan Video Kembali)
Penggunaan memainkan video kembali selama suatu sesi keluarga memiliki peluang unik untuk menangkap sasaran data tingkah laku dan untuk menguji (memeriksa kembali) tingkah laku-tingkah laku keluarga tersebut dengan segera ( Alger, 1976a). Memainkan video kembali, siaran ulang TV dari video merekam dan memainkan lagi suatu terapi keluarga untuk mengobati atau tujuan-tujuan latihan.

C. Other Projective and Expressive (Teknik Ekspresi dan Proyeksi lain)
Proyeksi adalah suatu test psikologis yang dengan bebas menghadiahi stimuli rancu dan tidak tersusun untuk menemukan yang tak sadar axaminee’s prosses dan aspek yang jumlah prosedur pemeriksaan ancillary ke terapi keluarga sudah nampak di tahun terakhir, disarankan membantu anggota keluarga mengungkapkan hubungan antar pribadi sekarang, yang ditekankan untuk menimbulkan memori, dan menekankan orang lain untuk meningkatkan ketrampilan memecahkar; masalah yang tersembunyi dari kepribadiannya.
Adapun teknik-tekniknya adalah; pekerjaan menggambar keluarga denah keluarga, wawancara boneka keluarga, pengintaian keluarga dan keluarga mengontrak game.

2. CRISIS ORIENTED TREATMENT PROCEDURES (Perawatan
Berorientasi Krisis Prosedures)
A. Berbagai dampak terapi
Berbagai terapi keluarga suatu format psikoterapi di mana anggota beberapa keluarga-keluarga dilihat bersama-sama sebagai kelompok. Berbagai dampak terapi suatu format psikoterapi dimana anggota suatu Glossory. B. terapi krisis keluarga. Terapi krisis keluarga adalah suatu crisis-intervention orientasi terapi keluarga di mana keluarga sebaqai sistem dibantu untuk memugar kembali tingkatan yang sebelumnya dari berfungsi; dalam beberapa hal berkenaan dengan penyakit skisofrenia, opnam dapat dihindari.

TIME LIMITED TREATMENT PROCEDURES
Brief Family Therapy
Brief Family Therapy adalah suatu prosedur terapi yang memiliki batasan waktu (tidak lebih dari sepuluh sesi), prakmatis, nonhistoris, dimana setiap langkah strategis yang dibuat dalam pendekatan ini didasari pada pemahaman bahwa kebanyakan permasalahan yang dihadapi manusia berkembang karena penanganan yang tidak tepat teihadap kesulHan-kesulitan hidup. Oleh sebab itu, terapis akan berusaha untuk memperoleh gambaran yang jelas dari persoalan yang spesifik, gambaran perilaku tertentu yang membentuknya, kemudian memikirkan rencana untuk mengubah aspek dari sistem interaksi yang membuat persoalan tersebut tetap bertahan.
Klinisi melaporkan tiga langkah penanganan masalah yang justru membuat sebuah keluarga menghadapi masalah yang lebih besar lagi yaitu : (1) beberapa tindakan dibutuhkan, tetapi tidak dilakukan; (2) suatu tindakan ditampilkan pada waktu yang tidak tepat; (3) suatu tindakan dilakukan pada tingkatan yang salah. Kegagalan yang berulang hanya membuat kebingungan dan respon yang kurang lebih sama.
Versi MRI dari brief therapy berfokus pada penyelesaian kembali berbagai persoalan yang dihasilkan dari usaha awal dalam mengatasi kesulitan. Keluarga belajar penyelesaian masalah yang baru dan bersifat sistematis, daripada melanjutkan penerapan solusi yang justru merusak diri mereka dan orang lain.

Divorce Therapy
Perceraian pada kehidupan modern sekarang semakin meningkat dan telah menjadi suatu kenyataan yang dapat diterima. Banyak pasangan yang mencari terapi perkawinan dengan fokus utama adalah kemungkinan untul: bercerai. Alasan yang biasa dikemukakan adalah karena pemikahan mereka tidak lagi memuaskan, meski sebagian lagi merasa takut dengan istilah “cerai” karena berpendapat bahwa hal itu adalah kegagalan pribadi. Ada juga pasangan yang beranggapan bahwa dengan mendatangj terapi perkawinan, mereka berharap hubungan dengan pasangan dapat meningkat. Dalam semua hal ini, perceraian tampaknya alternatff yang lebih mungicin untuk dilakukan dalam mengatasi persoalan hubungan dengan pasangan.
Divorce therapy sebenarnya” tidak melibatkan teknik yang baru, tetapi menghendaki berbagai macam prosedur yang disarankan untuk berbagai tingkatan perceraian (pra-perceraian, perceraian, pasca perceraian). Divorce mediation dilemparkan sebagai suatu strategi alternatif dimana pasangan dibantu untuk sampai pada penyelesaian perceraian yang dapat diterima dan bermanfaat bagi kedua belah pihak, dengan berfokus pada saat ini dan masa depan, dan bukan pada masa lalu.

LARGE-GROUP TREATMENT PROCEDURES
Multiple Family Therapy
Multiple Family Therapy (MFT) pada awalnya diberikan pada keluarga dimana salah satu anggota keluarganya adalah pasien shizoprenia, namun kini telah diterapkan pada berbagai keadaan disfungsi keluarga dan juga setting kli.iik. Terapi model ini membantu pembentukan desired behavior lebih cepat. Hal ini terjadi karena interaksi antar keiuarga menjadi dukungan bagi terbentuknya perilaku baru yang diharapkan. Satu keluarga akan memperhatikan bagaimana pola penyelesaian masalah di keluarga yang lain pada situasi konflik, dan dilakukan analogi dalam keluaiganya sehingga dapat membentuk pola yang baru yang akan diterapkan di kelurrganya. Cara ini ternyata lebih efektif daripada memberikan terapi hanya pada pasien seca/a individual ataupun pada satu keluarga secara terpisah. Social Network Intervention
Pendekatan lain yang memanfaatkan kekuatan suatu kelompok adalah Social Networ Intervention atau disebut network therapy. Metode yang diterapkan adalah dengar mengumpulkan bersama-sama keluarga, teman-teman, tetangga, dan orang-orang ‘ang terlibat dalam kehidupan seorang pasien untuk menolong pasien dalarn proses ierapi dan rehabilitasi. Tujuannya adalah memanfaatkan kekuatan jaringan sosial yang terbentuk atau terpasang untuk mengguncangkan dan mengubah siVem keluarga yang kaku. Tujuan lain adalah untuk mengubah persepsi anggota keluarga terhadap satu sama lain, membuka jaringan komunikasi yang lebih luas dan mtmunculkan kekuatan positif keluarga dan jaringan sosial yang lebih besar.
Sejumlah bentuk terapi keluarga yang bemilai. yaitu berbagai variasi tema-lema yang disajikan pada bagian Dua, akan dibahaa disini. Beberapa- bentuk seperti terapi keluarga muliipel atau terapi dampak multifel, merepresentasikan pendekatan yang baik pada periakuan keluarga sementara yang lain seperti patung keluarga atau koreografi keluarga. adalah teknik pelengkap yang berguna bukannya pendekatan terapetik yang telah berkembeng penuh. Beberapa didasarkan pada terobosan teknologi (misalnya teknik video playback). Bentuk yang lain yaitu merepresentasikan aplikasi teknik intervensi yang sebelumnya dikembangkan lerhadap kebutuhan keluarga yang berkembang (terapi perceraian), atau ekstraoolasi pada keluarga dari prosedur klinis individu (misalnya, intervensi krisis keluarga). Terapi keluarga di rumah juga dibahas di sini dalam bentuk interver.si jaringan sosial.
Dalam Pematungan keluarga, berbagai anggota diminta untuk menggambarkan. bagaimsna mereka melihat hubungan di dalam keluarga dengan mengatur orang-orang dalam berbagai posisi fisik dalam ruang dan waktu. Koreografi keluarga, suatu teknik non verbal terkait, menciptakan pola interaksi di dalam keluarga dan membukanya pada pemeriksaan dan perubahan yang mungkin. Pemutaran video adalah teknif, terapi tambahan untuk memungkinkan sebuah keluarga untuk memandang pola peri.’akunya sendiri dengan memfilmkan sesi terapi keluarga dan segera menunjukkan pada partisipan, sinyal apa, pesan dan tranksasi yang berlanysung. Umpan balik negatif ini dan konfrontasi din mendorong perubahan. Teknik non verbal lain meliputi menggambar keluarga, menggunakan boneka, foto keluarga, dan permainan menggunakan papah.
Pada terapi dampak multipel, sebuah keluarga dalam krisis (sering dibangkitkan dengan perilaku nakal dari anggota remaja) dilihat selama periode dua hari untuk interaksi intensif dengan tim profesional kesehatan mental. Meskipun pada intinya prosedur diagnostik, sejumlah pedoman terapetik diperkenalkan oleh tim, yang menjalankan studi lanjutan dengan keluarga untuk mengevaluasi luasnya keuntungan terapetik yang dibuat. Pendekatan berorientasi krisis lain, terapi krisis keluarga, adalah teknik yang sangat terfokus untuk memobilisasi kemampuan koping keluarga untuk menghadapi situasi emerjensi keluarga, yang menghindari rawat inap psikiatris dari anggota keluarga.
Dua prosedur periakuan terbatas waklu yang bernilai adalah tempi keluarga dan terapi perceraian. Seperti dipraklekan pada MRI, ferapi keluarga singkat adalah teknik pragmatis,. stralegis dan kadang paradoks untuk pemecahan masalah dimana keluarga mempelajari solusi masalah sistemik yang baru tertiadap masalah bukannya melanjutkan solusi mengalahkan diri yang menjadi masalah dalam dan dari diri mereka sendiri. Terapi perceraian tidak melibatkan teknik baru tetapi mensyaratkan berbagai prosedur yang direkomendasikan untuk fase perceraian yang berbeda (pra perceraian, perceraian, pasca perceraian). Mediasi perceraian adalah intervensi jangka pendek non adversarial dengan sebuah tin. yang teriatih uiituk menghadapi kekhawatiran emosional dan legal dari partner yang menginginkan perceraian. I’ntuk memungkinkan pasangan bemegosiasi dalam sebuah ccra yang terbuka, adil, langsung dan setara.
Prosedur penanganan kelompok bes3r, terapi kefuarga multipel awalnya dikembangkan untuk \bekeria dengan penderita sizoprenia yang diopname dan keluarga mereka tetapi dalam tahun-tahun terakhir telah juga digunakan dengan populasi rawat jalan. Ini adalah suatu bentuk teori kelompok dimana beberapa keluarga bertemu secara teratur untuk saling membagikan masalah dan saling membantu dalam proses pemecahan masalah suatu variasi adalah kelompok pasangan menikah, yang bertemu untuk membahas masalah perkawinan umum dan menemukan solusi bersama. Bentuk lain dari pendekatan kdompok besar, intervensi jaringan sosial (terapi jaringan). mengumpulkan keluarga, teman, tetagga, dan orang lain yang signrfikan untuk membantu dalam; penanganan pasien dan rehabilitasi. Tujuannya adalah mengkapitalsasi kekuatan dari kelonpok yang dirangkai untuk menimbulkan perubahan drlam sistem keluarga yang disfungsional.

BAB XIII
BELAJAR, PRAKTEK DAN EVALUASI
TERHADAP TERAPI KELUARGA

A. Menjadi Terapis Keluarga
Pada psikoterapi individual yang konvensional, terapis hams memberikan sikap mental yang netral, pasif, tidak menilai, tidak melibatkan diri dengan perhatian yang lebih.
Terapis keluarga harus teriibat dalam proses interpersonal keluarga, membantu dan menolong pada beberapa hal, menegur dan menuntut pada hal lain, menyelesaikan anggota dari usia yang berbeda, bergerak masuk/keluar seccra bergantiandalam keteriibatan emosi tanpa kehilangan jejak interaksi dan pola transaksi keluarga.

1. Program pendidikan
Pendidikan dalam terapi keluarga sebagai sebuah profesi terdiri dari dua jenis : pendidikan tingkat sarjana dan instansi independen setingkat pasca .sarjana. Tidak seperti trainee yang lulus dari pendidikan akademik yang lebih formal dan mempeYoleh sertifikat atas profesi mereka, Musan dari program yang independen ini biasanya mencari standar profesi yang diatur oleh American Associatbn for Marriage and Family Therapy (AAMFT), meskipun pada beberapa kasus .seseorang mungkin telah mendapat gelar sarjana di tempat lain dan masuk institusi ini untuk pendidikan khusus lebih lanjut.

2. Tujuan pendidikan
a. Tujuan dasar Pendidikan Terapis Keluarga
– Menguasai ketrampilan perseptual : mengenali interaksi dan artinya, efeknya terhadap anggota keluarga dan sistem keluarga.
– Menguasai ketrampilan konseptual : me mformulasikan masalah-masalah keluarga secara sistematis.
– Menguasai Ketrampilan terapeutik : mengenali mengubah urutan transaksi keluarga.
b. Tujuan lanjut Pendidikan Terapis Keluarga
– Belajar mengkatalisasi interaksi, memahami dan mengenali pesan-pesan dari suatu hubungan.
– konfrontasi. anggota keluarga dengan apa yang mereka lakukan satu sama lain, untuk menemukan solusi ban, up.tul: menggunakan kekuatannya sebagai sebuah keluarga agar oertanggungjawab atas perubahan anggota keluarganya sendiri.
– Mampu menilai keefektifan intervensinya dan merubah pendekatan apabila periu untuk membantu keluarga berjalan dengan lebih efisien dan sedikit distress.

B. Alat Bantu Pendidikan
Ada tiga metode primer untuk pendidikan yang digunakan dalam program terapi keluarga: didaktis (pendidikan), supervisi (pengawasan) dan praktek.

1. Kursus didaktis
Komponen didaktis dari pendidikan terapi keluarga meliputi kuliah/ceramah, diskusi kelompok, demonstrasi, tugas membaca, dan role play.

2. Film dan videotape
Film-film yang berisi teknik-teknik terapi, dinamika situasi kaluarga dengan terapis, berbagai bentuk terapi dalam berbagai jenis Ueluarga (remaja yang minggat, ibu yang bekerja, dan Iain-lain).
Videotape yang rnerupakan rekaman dari terapis ahli yang
mendemonstrasikan teknik mereka dalam sesi sesungguhnya dengan
keluarga.
– •
3. Maraton
Merupakan suatu pengalaman terapi keluarga yano intensif dan tanpa henti, kadang diperpanjang beberapa hari, yang berpusat pada proses pertemuan anggota keluarga secara terus menerus.

4. Pengawasan langsung
Pengamat mengawasi sesi terapi keluarga yang sedang berlangsung melalui one way mirror atau melihat melalui monitor video, sehingga ia bisa memberi feedback pada apa yang dilakukan terapis.

C. Co-terapi: Penggunaan Kerjaoama Tim Terapeutik
Co-terapi merupakan keterlibatan secara simultan dari 2 terapis dalam seting periakuan. Hal ini pada mulanya merupakan suatu cara untuk mengikutsertakan seorang trainee dalam sesi terapeutik untuk tujuan pengajaran, dan sudah dikembangkan dengan sukses dalam menangani individu, kelompok dan keluarga.

D. Pengaturan Praktek Profesional dalsm Terapi Pernikahan/Keluarga
Seseorang yang mencari pendidikan dalam terapi pernikahan/keluarga bisa mendapat gelar sarjana dan atau profesional dari universitas atau mendapatkan persiapan profesional pada pusat yang menawarkan pendidikan khusus dalam terapi pemikahan/keluarga.
Seseorang yang mengikuti jalur akademik dan telah mendapat pengawasan
pendidikan yang disyaratkan di suatu program terakreditasi oleh asosiasi
profesional yang layak (misalnya APA) bisa mendapatkan surat ijin atau
sertifikat berdasarkan hukum pemerintah yang berlaku di negara bagian
tertentu.

E. Efektivitas Terapi Keluarga
1. Pertanyaan penelitian psikoterapi
– Apakah psikoterapi bisa membantu?
– Apakah pendidikan tinggi membantu?
– Periakuan apa, oleh siapa, yang paling efektif untuk individu dengan masalah tertentu, dengan keadaan yang bagaimana dari bagaimana itu terjadi?

2. Hasil penelitian terapi keluarga
– Terapi keluarga lebih efektrf daripada terapi individual uniuk menangani remaja nakal dalam membentuk penyesuaian din yang baru.
– Produktivitas penelitian di area ini meningkat sejalan dengan kualitas rancangan peneiitian secara umum.
3. Revisi hasil penelitian
Terapi keluarga sama atau lebih tinggi daripada jenis periakuan lain.
– Terapi keluarga lebih efektif daripada terapi individu.
Pasangan yang mengalami distress akan lebi’i mengalami kemajuan apabila mereka berdua teriibat dalam terapi secara bersama daripada terpisah.
– Ahli klinis harus waspada dengan efek kemunduian yang mungkin terjadi
dalam terapi pernikahan/keluarga, terutama saat mereka dirawat oleh
terapis dengan ketrampilan interpersonal yang rendah.

F. Terapi Keluarga di Masa Depan
Dekade selanjutnya menjanjikan perubahan dalam bentuk dan organisasi dan sistem keluarga. Program terapeutik yang berani dan banyak ide harus dikembangkan untuk menjawab tantangan di masa depan. Metode pendidikan yang baru, masyarakat baru untuk dilayani, seting baru untuk kegiatan klinis, teknik terapi keluarga yang baru dan maju.
Profesi ahli terapi keluarga (family therapist) telah menambah pengalaman belajar yang baru bagi para dokter yang mendapat pelatihan agar dapat lebih memahami fungsi individu dan memberikan psikoterapi bagi para individu. Pemahaman teori hubungan keluarga pengalaman klinis pertama kali berhadapan dengan keluarga dan memberikan bimbingan yang teliti menjadi unsur penting dalam pendidikan terapi keluarga. Pelatihan menjadi ahli terapi keluarga dapat diperoleh dengan mengikuti program paska sarjana (post¬graduate) yang telah mapan atau dapat diperoleh dari lembaga pelatihan terapi keluarga indeperiden. Bantuar, pelatihan meliputi didactic course work (perkuliahan, demonstrssi, tugas wacana); pemakaian film master therapist dan trainee videotape untuk postsession viewing yang dilakukan oleh trainee (peserta latihan) bersama supervisomya dan/atau rekan-rekan sekeias; multiple-family marathon session yang melibatkan trainee, keluarga klien, dan supervisor; serta live supervision yang dilakukan lewat bimbingan aktor oleh seorang supervisor yang berada di balik kaca (one-way mirror) dan mengawasi sesi yang berlangsung, serta menawarkan umpan balik korektif lewat telepon, earphone, atau dengan memanggil trainee keluar dari ruang terapi.

Co-therapy, yang melibatkan dua ahli terapi (terapis) dengan sebuah keluarga, dapat diselenggarakan untuk pelatihan pada saat supervisor dan supervisee (pihak yang mendapat supervisi) bekerja bersama. Pmkteknya, teknik ini sering digunakan oleh ahli terapi keluarga, seperti Whitaker, yang menekankan upaya saling dukung (mutual “support), kerja tim (teamwork), dan kesempatan agar secara bebas mengikuti bidang-bidang yang sensitif (peka) dengan keluarga sementara dengan tetap tahu bahwa -erapi lain dalam posisi mendukung, yang terikat dengan kenyataan. Haley mewakili ahli terapi keluarga yang menyatakan bahwa co-therapy lebih bcrmanfaat bagi sense of security (kepekaan terhadap keamanan) di kalangan para ahli terapi
dibandingkan terapi keluarga {family therapy). Maski demikian, Haley menganggap bahwa terapi ini tidak murah dan kurang efisien bagi seorang profesional.
Kepercayaan untuk menjalankan praktek didapat oleh para ahli terapi keluarga salah satu dari dua cara berikut ini, sesuai latihan yang diperoleh, yaitu lewat: (1) state licensing (izin resmi pemerintah) stau sertifikasi di bidang profesi kesehatan mental yang bersangkutan; atas (2) sertifikasi yang dikeluarkan oleh AAMFT yang menyatakan bahwa oara ahli terapi tersebut telah berhasil lulus program tingkat sarjana yang terakreditasi dan berpengalaman melaksanakan terapi perkawinan/keluarga (marital/family therapy) pada pusat pelatihan pasca sarjana (post-degree) yang terakreditasi Sekarang ini, di Amerika Serikat, para lulusan program terapi perkawinan/terapi keluaiga. mendapat izin atau sertifikat untuk menyelenggarakan praktek profesional tersebut di sebelas negara bagian yang adri di Amerika Serikat
Sebelumnya, hanya ada sedikit hasil penelitian vang kurang memadai di bidang terapi keluarga akibat buruknya metodologi penelitian. Sebelumnya, memang diutamakan untuk lebih menggali sejumlah ‘eknik baru, ketimbang melakukan evaluasi ilmiah. Belakangan ini, telah mulai muncul sejumlah penelitian yang lebih terancang dengan baik. Penelitian kelompok tunggal (single-group studies), yaitu penelitian yang membandingkan perawatan keluarga /tanpa perawatan pada sebuah populasi klien tertentu dan penelitian yang membandingkan dua bentnk perawatan pada sebuah populasi tertentu merupakan jenis hasil penelitian dalam terapi keluarga. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi keluarga membandingkan dengan jenis penelitian perawatan lain tlan menjadi telah menjadi perawatan piiihan (treatment of choice) untuk masalah perkawinan/keluarga tertentu.
Masa depan terapi keluarga nampaknya menunjukkan titik cerah dan memiliki teknik yang sesuai untuk masa sekarang. Beberapa keuntungan terapi keluarga meliputi dasar teori yang lebih luas, lebih banyaknya perhatian terhadap beberapa faktor budaya, dapat diterapkan pada sejumlah keadaan
baru, dan dilaksanakannya evaluasi yaiig berbasis pada peneiitian yang iebih sistemaVis terhadap asumsi, prosedur, dan hasil yang ada. Ke depan, profesi ini menjanjikan sejumlah.-teknik intervensi baru, melayani populasi baru, menawarkan prosedur observasi dan pelatihan baru, mengembangkan metodologi peneiitian yang Iebih bagus, dsn menjelaskan kualifikasi yang periu dalam menghadapi sejumlah masalah klinis yang spesifik.

KOMENTAR DAN PEMBAHASAN

KOMENTAR DAN PEMBAHASAN 1
Untuk membentuk kerangka berpikir yang akan mengkritisi pokok-pokok pikiran yang dituangkan dalam buku ini, perlu dibicarakan secara teoritik dan terpisah hal-hal yang berkaitan dengan sifat manusia sebagai mahkluk individu dan sebagai mahkluk sosial. Manusia sadar bahwa ia memiliki, menguasai dan memastikan diri sendiri. Kesadaran manusia merupakan titik tolak pengertian manusia tentang wujudnya. Ia sadar bahwa segala peristiwa hidup bertalian dengan dirinya sebagai pusat; ia mengerti, mengalami dan merasa bahwa akulah yang berbuat demikian (Mariani Ga, 1999). Sebagai mahkluk individu, segala sesuatu terfokus pada dirinya sendiri. Dengan kesadaran dan akal budinya, manusia merasakan bahwa ia ada karena ia ada. Keberadaannya bukan ditentukan oleh pihak luar, tetapi oleh dirinya sendiri. Kesadaran akan dirinya sendirilah yang menjadi bukti bahwa ia ada. Ia tahu bahwa semua yang terjadi, baik dalam dirinya maupun di luar dirinya, ada hubungannya dengan dirinya. Manusia mengalami Aku ini Ada dan Aku ini Aku.
Di lain sisi, manusia juga adalah mahkluk sosial. Keberadaannya dicirikan dengan sikap terbuka kepada manusia luar. Keterbukaannya tidak hanya berarti keterarahan pada dunia, tetapi juga keterbukaan pada orang lain. Kecenderungan ini diungkapkan dengan kata eksistensi yang berarti keterbukaan (ex = keluar; sistere = berdiri). Hal ini berarti hidup mengandung keterbukaan kepada orang lain, sehingga eksistensi juga berarti koeksistensi (hidup bersama orang lain). Bahkan hubungannya dengan ora ng lain begitu meresapi manusia, sehingga rasa sunyi atau sendiri, yaitu k eadaan yang mengembalikan manusia pada diri sendiri hanya dapat dimengerti jika diandaikan, bahwa orang lain semestinya hadir, yang hidup berbagi dengannya.
Pemahaman di atas akan membantu dalam analisa terapi keluarga yang memiliki eksistensi kesadaran diri pada satu pihak dan interaksi social inter dan atau antar keluarga dengan masyarakat di pihak lain, sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dimana anak mengalami dirinya baik secara pribadi dan dalam hubungannya dengan orang lain..

KOMENTAR DAN PEMBAHASAN 2
Sebagai lingkungan yang pertama dan utama, keluarga memiliki beberapa dimensi, yang sebenarnya perlu dibahas dan dijelaskan dalam buku ini. Dimensi-dimensi tersebut sebagai berikut:
Emosi. Nathan W. Ackerman (1961) mengatakan keluarga adalah pusat strategis untuk mengerti gangguan emosional. Keluarga juga adalah pusat untuk memahami campur tangan atas kekuatan jiwa yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit, dalam hubungan manusiawi. Dengan perkataan lain, keluarga dapat membuat atau menghancurkan kesehatan mental. Keluarga merupakan sistem sosial yang dihubungkan dengan ikatan emosional yang begitu erat. Sebagai sistem, individu dilihat dan dipahami dalam kerangka totalitasnya. Gangguan terhadap satu bagian merupakan gangguan terhadap bagian yang lain. Dengan kata lain, gangguan yang dialami oleh seorang individu merupakan indikasi gangguan yang diderita oleh seluruh anggota keluarga. Dalam beberapa kasus gangguan jiwa misalnya, pasien yang telah dinyatakan sembuh dan diijinkan pulang, setelah beberapa bulan ternyata kembali dan hal ini terjadi beberapa kali. Menurut Virginia Satir, rasa sakit yang dialami oleh pasien tertentu seperti neurosis dan-delinkuen, adalah ungkapan yang jelas dan tersembunyi yang diderita oleh keseluruhan anggota keluarga dalam hal relasib (Satir. 1964).
Sosial. Selaku miniatur masyarakat, keluarga merupakan alat kontrol masyarakat yang sangat efektif. Faktor emosional yang mengikat hubungan keluarga memungkinkan anggota-anggotanya saling mengenal, menjaga dan memperhatikan dengan baik, sehingga tenaga, pikiran dan perhatian sepenuhnya dapat dipusatkan demi tujuan ini. Di sinilah proses sosialisasi (Nuhamara. 1994) pertama kali terjadi. Fungsinya adalah membentuk identitas diri (self-identity) melalui interaksi dengan orang-orang dalam lingkungannya. Identitas diri adalah kesatuan dari tiga hal pokok yang dimiliki seseorang yang saling berkaitan, yaitu sistem kepercayaan (belief system), sistem nilai (value system) dan pola tingkah laku (pattern of behaviour), Sosialisasi berjalan seumur hidup karena bagaimanapun manusia akan selalu berhadapan dengan realita sosial dalam hubungannya dengan orang lain. Sosialisasi dibagi lagi dalam dua kategori, sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer berpusat pada masa kanak-kanak, yang akan membentuk konsep dirinya, sistem nilai, serta pandangan dunianya dengan mengadopsi harapan-harapan, sistem nilai dan pandangan dunia orang-orang dewasa, terutama orang tua atau gurunya. Sedangkan sosialisasi sekunder merupakan kelanjutan dari sosialisasi primer, yang terjadi dengan mengadopsi nilai dan norma dalam masyarakat. Hasil sosialisasi dengan jelas dapat ditemukan dengan meninjau istilah seks dan gender. Seks selalu bersifat alami dan tidak dapat berubah sedangkan gender adalah peran yang dikonstruksikan oleh masyarakat, yang diperkuat dan berakar secara turun-temurun melalui proses sosialisasi. Gender tidaklah mutlak, dalam artian dapat diubah dan dipertukarkan. Sebagai hasil sosialisasi, kaum laki-laki harus bersifat agresif, kuat, rasional, jantan dan perkasa, sedangkan perempuan adalah kaum yang lemah, lembut, cantik, emosional, lemah-lembut dan keibuan. Pelabelan yang didasarkan pada perbedaan seks melahirkan sturktur dan pola relasi masyarakat yang tidak adil juga, misalnya istilah kanca wingkirg; swarga nunut, nanaka katut dalam masyarakat Jawa. Pemahaman ini menempatkan laki-laki sebagai penguasa yang harus lebih dominan dibandingkan perempuan yang inferior.
Reproduksi. Keluarga adalah satu-satunya lembaga sosial yang diberi tanggung jawab untuk mengubah organisme biologis menjadi manusia, dengan mengajarkannya kemampuan berbicara dan menjalankan banyak fungsi social (Goode, 1983). Dapat ditambahkan juga bahwa sturktur tali kekeluargaan merupakan suatu jaringan peran sosial yang dipersatukan oleh hubungan biologis yang benar atau diperkirakan tidak salah. Tanpa keluarga tampaknya ras manusia akan segera punah. Secara sosial keluarga dibebankan sebuah tugas khusus yang berkaitan dengan penerusan keturunan. Tentu saja hal ini berkaitan dengan masalah seks. Hubungan yang tercipta antara dua jenis kelamin yang berbeda selalu dipantau oleh masyarakat. Hubungan seks hanya dimungkin dalam sebuah lembaga yang disahkan, pernikahan, dan bertujuan untuk meneruskan keturunan. Hubungan seks di luar pernikahan adalah pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat.Selain hubungan seks pra-nikah, incest merupakan masalah lain yang sangat ditantang masyarakat. Yang disebut incest adalah hubungan seksual antara saudara laki-laki dengan saudara perempuannya, anak laki-laki dengan ibunya, atau anak perempuan dengan ayah kandungnya.
Edukasi. Long life education merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Meneruskan keturunan tidak hanya dalam arti kuantitatif, tapi juga dalam arti kualitatif, dengan mendidiknya secara bertanggung jawab. Ada beberapa hal yang esensial yang hanya dapat dipelajari di rumah, seperti belajar mencintai dan dicintai, keamanan dan penerimaan, hormat terhadap otoritas, membedakan mana yang benar dan mana yang salah, disiplin, tanggung jawab dan kontrol diri. Dalam hal belajar, orang tua adalah model utama bagi mereka. Dengan melihat contoh, perilaku dan sikap orang tuanya, anak-anak belajar membedakan mana yang benar dan yang salah. Anak-anak belajar dari apa yang mereka jalani dalam hidupnya dan menyerap pengetahuan tentang dunia melalui kejadian-kejadian yang dialami dan diamati. Mereka lebih banyak belajar dari pengamatan terhadap perilaku orang-orang dewasa dari pada belajar dari perkataan atau nasihat (learning by doing). Mereka lebih peka terhadap kurikulum tersembunyi di batik pengajaran, yang disampaikan lewat metode dan struktur yang bisa memperkuat atau justru bertentangan dengan isi pelajaran tersebut (Thompson, 2000). Karena itu, kata-kata yang diucapkan tidak bisa menyampaikan kebenaran, sistem kepercayaan dan pandangan seseorang terhadap dunia, sebaik kata-kata yang dilakukan melalui perbuatan ketika menjalani kehidupan sehari-hari dalam keluarga (Mulholland, 1985). Anak pertama kali merasakan cinta di dalam rumah; menemukan rasa aman dan penerimaan diri sebagai laki-laki atau perempuan, sehingga mulai belajar mencintai dirinya sendiri, yang memberikan dasar untuk mencintai orang lainOrang tua adalah otoritas pertama. Penghormatan terhadap orang tua juga merupakan basis untuk menghormati otoritas-otoritas yang lain. Bagaimana anak-anak menghormati orang tua, menentukan bagaimana mereka menghormati otoritas-otoritas yang lain di luar rumah.
Ekonomi. Tidak mungkin membentuk sebuah keluarga tanpa menyangkut pengembangan ekonomi. Tanpa ekonomi, keberlangsungan hidup sebuah keluarga akan kolaps di tengah jalan. Banyak keluarga di Indonesia, baik diperkotaan maupun di pedesaan, masih sulit memenuhi kebutuhan ekonominya, baik berupa sandang, pangan maupun papan. Anehnya, walaupun belum memiliki penghasilan (tetap), ada orang yang nekad berkeluarga juga. Keluarga yang terbentuk, dengan tanggungan tiga atau empat orang anak merupakan masalah serius yang perlu diperhatikan. Akibatnya, anak-anak yang dilahirkan tanpa kepastian ekonomis, harus turun tangan. Sebagian masalah-masalah kemiskinan, anak jalanan, pekerja anak, pelacuran (anak), dan tindak kriminal lainnya yang melanda kota-kota besar disebapkan karena kurangnya kesadaran akan hal ini.

IMPLIKASI TERHADAP PRAKTEK
BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

Melalui pendalaman dan pemahaman dalam buku Family Therapy karangan Irene Goldenberg dan Herbert Goldenberg, implikasinya terhadap praktek bimbingan dan konseling disekolah sebagai berikut:

Tujuan
1. Klien (para siswa) memperoleh pemahaman tentang definisi, fungsi dan peran keluarga.
Keluarga merupakan Sistem sosial yang alami dengan hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Hubungan interpersonal dengan melibatkan sejumlah aturan, peran, struktur kekuasaan, dan bentuk komunikasi. Keluarga juga sebagai tempat bersosialisasi yang pertama bagi anak. Di dalamnya bakat-bakat dan karakter diperkuat lewat interaksi dengan anggota keluarga yang lain. Hubungan dengan orang tua dan saudara-saudari kandungnya menjadi penting dan menentukan. Tanpa disadari, anak merefleksikan perasaan-perasaan, nilai-nilai, kepercayaan dan pola-pola kehidupan orang tua mereka, serta menyerapnya dengan amat cepat. Itulah sebabnya keluarga juga disebut juga sebagai lingkungan utama. Pola didikan yang dialami selama masa anak-anak akan menetap hingga masa dewasa nantinya.
• (Beavers, 1982):
Fungsi keluarga yang baik adalah anggota keluarga bersedia untuk berhubungan dengan anggota keluarga yang lain, ada saling kepedulian, keterbukaan, empati, dan kepercayaan. Keluarga yang berfungsi tinggi, anggotanya lebih peduli pada kemandirian pribadi dan mengembangkan sikap toleransi.
Keluarga disfungsional biasanya antar anggota keluarga bersifat menolak, menjaga jarak dan bermusuhan. Keluarga disfungsional, anggota keluarga merespon yang lain dengan sikap pasif dan lemah. Persaingan dan konflik yang tersembunyi antar anggota keluarga disfungsional akan menyebabkan frustrasi

2. Klien (para siswa) memperoleh pemahaman tentang sistem keluarga dan siklus keluarga.
Secara struktural keluarga dibagi atas: 1.Dyadic: suami-istri; saudara kandung;
anak-orang tua 2. Tryadic: ibu-nenek-anak perempuan; ayah-kakek-anak laki-laki.
Sistem keluarga tediri dari satu set unit yang saling berinteraksi antar mereka yang ada di dalamnya.Teori system yaitu: pendekatan yang menekankan keutuhan, interaksi bagian komponen, dan organisasi sebagai pemersatu prinsip. Konsep keutuhan: terdiri dari 2 prinsip pokok, yaitu: system terbuka dan tertutup. A. Sistem Terbuka: Menerima masukan perihal, energi, dan informasi dari lingkungan dan mengeluarkannya ke lingkungan disebut negentropy, yaitu dapat menyesuaikan diri dan terbuka bagi perubahan. B. Sistem Tertutup: Tidak mempunyai pertukaran dengan lingkungan disebut entropy, yaitu tak terorganisir dan cenderung kacau.

Siklus keluarga dapat digambarkan sebagai berikut
• Tahap: Antara keluarga dan dewasa muda yang tak terikat
• Proses emosi: Menerima perpisahan dengan keluarga asal
• Perubahan yang dibutuhkan:
a. Pembedaan diri dalam hubungan dengan keluarga asal
b. Membangun hubungan intim dengan sebaya
c. Mapan dalam pekerjaan
Keluarga juga merupakan sistem social (Clinebell, 1984). Berbicara mengenai sistem, berarti berbicara mengenai sebuah hubungan yang saling terkaitan antara individu-individu yang bernaung di dalamnya. Bagian-bagian yang memainkan peranannya dan yang bergabung menjadi keluarga tidak berdiri sendiri, otonom dari bagian lainnya, tetapi membentuk sebuah pola relasi yang saling berkait-kaitan satu dengan yang lain. Saling terkaitan ini dapat dibayangkan sebagai sebuah jaring yang saling terhubung dan terikat satu dengan yang lain. Gangguan terhadap satu bagian merupakan gangguan terhadap seluruh bagian dari sistem tersebut. Jika satu bagian merasa sakit, maka bagian yang lainnya juga akan merasa sakit (I Kor 12: 12- 31).
Oleh karena itu, keluarga tidak hanya sebuah kumpulan individu yang tinggal bersama, tetapi merupakan sistem sosial yang alamiah dengan semua kepemilikan yang melibatkan sejumlah aturan main, beberapa peran, struktur kekuasaan, bentuk-bentuk komunikasi dan cara negosiasi serta pemecahan masalah. Dalam sistem keluarga, individu terikat satu dengan yang lain melalui kekuatan dan kehadiran, kelekatan emosi, dan kesetiaan yang dapat berfluktuasi dalam intensitasnya dari waktu ke waktu tetapi tidak akan pernah berakhir sepanjang rentang berakhir kehidupan keluarga.

3. Klien (para siswa) memahami berbagai perseptif teoritis terapi keluarga.
Pendekatan sosialisasi sebagai salah satu terapi keluarga dapat dibagi lagi dalam dua kategori, sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer berpusat pada masa kanak-kanak, yang akan membentuk konsep dirinya, sistem nilai, serta pandangan dunianya dengan mengadopsi harapan-harapan, sistem nilai dan pandangan dunia orang-orang dewasa, terutama orang tua atau gurunya. Sedangkan sosialisasi sekunder merupakan kelanjutan dari sosialisasi primer, yang terjadi dengan mengadopsi nilai dan norma dalam masyarakat. Hasil sosialisasi dengan jelas dapat ditemukan dengan meninjau istilah seks dan gender. Seks selalu bersifat alami dan tidak dapat berubah sedangkan gender adalah peran yang dikonstruksikan oleh masyarakat, yang diperkuat dan berakar secara turun-temurun melalui proses sosialisasi. Gender tidaklah mutlak, dalam artian dapat diubah dan dipertukarkan. Sebagai hasil sosialisasi, kaum laki-laki harus bersifat agresif, kuat, rasional, jantan dan perkasa, sedangkan perempuan adalah kaum yang lemah, lembut, cantik, emosional, lemah-lembut dan keibuan. Pelabelan yang didasarkan pada perbedaan seks melahirkan sturktur dan pola relasi masyarakat yang tidak adil juga, misalnya istilah kanca wingkirg; swarga nunut, nanaka katut dalam masyarakat Jawa. Pemahaman ini menempatkan laki-laki sebagai penguasa yang harus lebih dominan dibandingkan perempuan yang inferior.
Pendekatan sosialisasi berusaha untuk menyediakan pengajaran dan informasi yang perlu. Seharusnya bahan-bahan seperti ini disediakan oleh sekolah, tetapi barangkali seolah-olah kita di Indonesia tidak membicarakan hal itu. Terapis kadang kadang mencoba untuk menyampaikan beberapa aspek pendidikan sosial dasar ini. Namun, berhubung dengan waktu yang terbatas, sering hal itu tidak bisa terlaksana dengan mendalam. Barangkali yang kita sebut dengan Bimbingan Pernikahan itu merupakan kegiatan sosialisasi yang dalam hal ini terapis memberikan pendidikan tentang liku-liku pernikahan dan keluarga dengan tujuan agar anggota keluarga yang akan menikah memiliki bekal pengetahuan yang memadai.
Kurangnya sosialisasi menyebabkan keluarga mengalami krisis dan perkembangan tertentu yang kurang menguntungkan yang tentunya harus dicegah terjadinya, agar keluarga akan terhindar dari keruntuhan. Dalam terapi keluarga ada pendekatan yang senada dengan pendekatan sosialisasi, yaitu suatu usaha untuk menghindari masalah yang merugikan kehidupan perkawinan atau yang biasa disebut Problem Avoidance. Melalui terapi pasangan itu akan mengerti masalah-masalah yang potensial dalam perkawinan yang tidak disetujui oleh masyarakat, dan kemudian memacu keterampilan untuk menghindari itu semua dari terjadi. Misalnya, bahwa konflik fisik dalam keluarga seharusnya dihindari, karena secara sosial tidak bisa diterima. Kalau pasangan itu tahu bahwa baik hukum maupun secara sosial tidak membenarkan perceraian dalam perkawinan, maka sebelum mereka menikah mereka sudah tahu cara-cara mempertahankan perkawinan untuk seumur hidup. Dengan demikian mereka akan berusaha keras agar perkawinan mereka tidak kandas atau pecah di tengah jalan.
Untuk menghindari krisis dalam keluarga, maka keluarga harus dilihat sebagai suatu kesempatan untuk pemenuhan kebutuhan yang harus dimaximalkan (enrichment approach). Biasanya pendekatan ini lebih ditandai dengan memberikan suatu proses perkembangan individual maupun perkembangan bersama daripada seperangkat nasihat. Terapis memberikan fasilitas kepada pasangan tersebut untuk mengevaluasi pengharapan dan ketakutan mereka, sehingga sampai kepada sasaran yang paling memuaskan atau mungkin pasangan tersebut mendiskusikan pengertian masing-masing tentang seks. Issu-issu tentang komunikasi, seks, dan spiritualitas bisa diajukan sebagai topik untuk dibicarakan, sehingga mereka mendapat pengertian yang memuaskan. Issu yang memperkaya wawasan pasangan (enrichment issues), bisa timbul dari pasangan itu sendiri.

4. Klien (para siswa) mendapatkan pemahaman komprehensif tentang berbagai problematika keluarga.
Gelombang globalisasi, arus komunikasi dan informasi yang makin cepat dan canggih tidak saja menguntungkan, tetapi juga berdampak negatif yang mengancam kehidupan keluarga. Karena itu, perhatian dan pengamatan yang semakin luas dan mendalam atas keluarga sangat dibutuhkan dan disambut hangat. Keluarga adalah unit terkecil sekaligus unit dasar masyarakat, bangsa dan negara. Demikian pula keluarga merupakan unit terkecil dan unit dasar persekutuan hidup bermasyarakat, sehingga keluarga menjadi soko guru atau tiang penunjang utama masyarakat.
Makin disadari bahwa keluarga merupakan wadah yang paling ampuh dalam membangun watak, membina karakter, membentuk pribadi, dan meletakan nilai-nilai moral. Keluarga adalah vital bagi keberhasilan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Berdasarkan pemahaman ini, kita perlu membahas betapa pentingnya merencanakan dan melaksanakan upaya sekolah menunjang pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan bermasyarakat yang berdampak terhadap proses belajar para siswa disekolah. Masalah tersebut adalah perjodohan, kegagalan cinta, gagal dalam studi, frustrasi pekerjaan, pil, wil, gigolo, wanita penghibur, kenakalan remaja, perkelahian anak sekolah, ayam kampus, abg, narkoba, ekstase, perselingkuhan, perceraian dan kawin ulang, dan lain-lain, yang merupakan masalah-masalah yang lagi ngetren saat ini
Mewujudkan kasih, perhatian dan kepedulian kepada para siswa yang berada dalam masalah, terutama perasaan-perasaannya merupakan upaya konselor sekolah memberikan pertolongan, meringankan beban dan tanggung jawabnya sebagai bentuk partisipasi aktif sekolah dalam masalah-masalah masyarakat. Untuk mewujudkan tanggung jawab itu, konselor sekolah perlu mengadakan pengkaderisasi melalui pelatihan bimbingan dan konseling bagi staf dewan guru yang lain, yang bersedia diperlengkapi menjadi teman pembimbing para siswa yang bermasalah.
Bimbingan adalah suatu “penemanan” yang menumbuhkan dan mampu menghidupkan, mengembangkan kepribadian diri sendiri dengan menyadari terus menerus sebagai pelayan yang terluka, maksudnya tidak terlepas dari masalah tetapi mau menyembuhkan dan membalut luka atau masalah orang lain. Bimbingan adalah pelayanan terhadap pribadi-pribadi dengan segala keunikannya.

5. Konselor sekolah memahami tentang perkembangan anak dalam keluarga yang berdampak pada siswa dan perkembangannya di sekolah.
Perkembangan Siswa dalam Perspektif Konselor Sekolah
Seorang konselor sekolah perlu memahami pola perkembangan anak dalam hal ini adalah para siswanya. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak sebagai berikut:
Pertama, perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar saja, tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan. Kata progresif menandakan bahwa perubahan terjadi secara terarah, bergerak maju, bukannya mundur; sedangkan kata koheren menunjukkan adanya hubungan antara perubahan yang terjadi dan yang telah terjadi atau yang akan mengikutinya (Hurlock. 1991). Tujuannya adalah realisasi diri atau apa yang dinamakan Abraham Maslow sebagai aktualisasi diri (self-actualization) (Meadow. 2001). Kebutuhan-kebutuhan ini tersusun secara hierarkis, mulai dari yang rendah sampai yang tertinggi. Jika kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi, maka ia akan bergerak kearah pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi. Bila kebutuhan yang lebih tinggi tidak terpenuhi, kesehatan mental siswa dapat terpengaruh. Untuk itu ia harus diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya itu. Namun, tercapainya tujuannya itu tergantung dari hambatan-hambatan yang dihadapi dan bagaimana ia menanggulanginya. Hambatan-hambatan itu dapat berasal dari luar dirinya, seperti hilangnya kesempatan belajar atau lingkungan sosial budaya yang tidak mendukung; atau hambatan-hambatan yang berasal dari dalam dirinya seperti rasa takut, cemas, minder, dan sebagainya. Berikut ini adalah daftar susunan kebutuhan dasar manusia menurut Maslow disertai beberapa situasi yang menjadi pemicu timbulnya tiap kebutuhan (Meadow, 2001).

TABEL : KEBUTUHAN DASAR MENURUT MASLOW
KEBUTUHAN DASAR SITUASI YANG MEMICU TIMBULNYA TIAP KEBUTUHAN
Fisiologis Rasa lapar, haus, dingin, panas, sakit, kantuk, dan lelah.
Rasa Aman Terancam bahaya yang nyata atau yang dibayangkan; berada di tempat yang belum dikenal dan kurang memahami situasi.
Rasa Memiliki Merasa tersingkir atau diabaikan; merasa asing di suatu tempat dan tidak menyatu dengan lingkungan.
Cinta Kasih Tidak memiliki teman atau hubungan-hubungan afeksi yang akrab dengan orang lain; merasa tidak diperhatikan atau tidak dicintai; tidak dapat menunjukkan perhatian atau cinta kasih kepada orang lain.
Kehormatan Diperlakukan dengan kurang hormat; gagasan atau perasaan ditertawakan orang lain; dibentak, ditegur atau diperintah.
Harga Diri Mengetahui telah melanggar nilai-nilai yang dianutnya; merasa tidak mampu menghadapi situasi; merasa kurang penting, kurang berharga, atau kurang baik dari pada orang lain.
Aktualisasi Diri Terhambat dalam mengembangkan bakat atau kemampuan; tidak memiliki pekerjaan yang sesuai dan memuaskan.
Transendensi Diri Tidak berhasil mengembangkan falsafah hidup yang seutuhnya; tidak berhasil memilih dan hidup berdasarkan nilai-nilai yang luhur, hidup dengan sikap seakan-akan kita adalah pusat segalanya (serba sempurna seperti Tuhan).
Kedua, perkembangan dimulai dari respons-respons yang bersifat umum ke yang khusus. Sebagai contoh, seorang bayi akan menangis apabila mengalami semua perasaan yang tidak mengenakkan seperti rasa lapar, marah atau takut. Dengan bertambahnya umurnya, ia akan memperhatikan reaksi berbeda terhadap situasi yang berbeda juga.
Ketiga, perkembangan berlangsung secara kontinyu sehingga apa yang terjadi pada satu tahap, mempengaruhi tahap berikutnya. Sebenarnya ciri-ciri yang ada pada masa-masa perkembangan siswa sebelumnya dapat dilihat pada masa perkembangan selanjutnya, hanya saja terjadi dominasi ciri baru atas ciri-ciri yang alam. Jika yang terjadi adalah yang sebaliknya, maka hal ini memperlihatkan bahwa ada peralihan ke tahapan selanjutnya. Disamping itu, ada aspek-aspek tertentu yang tidak berkembang dan meningkat lagi. Inilah yang dinamakan fiksasi.
Keempat, terdapat perbedaan antar individu dalam perkembangan. Perbedaan-perbedaan waktu atau cepat lambanya suatu tahapan yang dilalui, memperlihatkan bahwa setiap orang memang berbeda satu dengan yang lain secara biologis dan genetic. Tidak ada dua orang yang merasakan pengaruh yang sama oleh lingkungan yang sama, demikian juga tidak ada kembar yang identik. Dengan demikian, setiap anak memiliki pola perkembangan sendiri-sendiri, walaupun ia serupa di berbagai aspek utama yang diikuti anak-anak lain.
Kelima, dalam tiap masa perkembangan terdapat apa yang dinamakan Havinghurst sebagai tugas-tugas perkembangan (development task). Tugas perkembangan berfungsi sebagai panduan bagi para guru dan orang tua untuk mengetahui apa sajakah yang harus dipelajari untuk usia tertentu, menimbulkan motivasi bagi anak untuk belajar apa yang diharapkan masyarakat darinya pada usia-usia tertentu dan menunjukan kepada para guru dan orang tua tentang apa yang diharapkan dari mereka di masa mendatang. Dengan demikian mereka merasa perlu mempersiapkan anak untuk menghadapi harapan baru tersebut. Tugas-tugas perkembangan menurut Havinghurst antara lain :

Tabel Tugas Perkembangan Menurut Havinghurst
Masa Bayi dan Awal Kanak-kanak Masa Akhir Kanak-kanak Masa Remaja
Belajar berjalan Belajar kecakapan fisik yang diperlukan untuk permainan anak-anak Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya, baik laki-laki maupun perempuan.
Belajar makan makanan padat Membangun sikap menyeluruh terhadap diri sendiri sebagai organisme yang bertumbuh Mencapai peran sosial laki-laki dan perempuan.
Belajar berbicara Belajar bergaul dengan teman sebaya. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya dengan efektif.
Belajar mengendalikan pembuangan sampah tubuh Belajar memainkan peran laki-laki dan perempuan yang sesuai Mengharapkan dan mencapai
perilaku sosial yang bertanggung jawab.
Belajar membedakan seks dan kesopanan seksual Membangun kecakapan dasar dalam membaca, menulis dan menghitung Mencapai kemandirian emosional dan orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Mencapai stabilitas fisioliogis Membangun konsep yang diperlukan sehari-hari Mempersiapkan karir ekonomi
Membentuk konsep sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik Mengembangkan nurani, moralitas dan suatu skala nilai Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
Belajar berhubungan secara emosional dengan orang tua, saudara kandung dan orang lain Mencapai kemandirian pribadi Merealisasikan satu identitas sendiri dan dapat mengadakan partisipasi dalam lingkungan teman-teman sebayanya.
Belajar membedakan yang benar dan yang salah serta mengembangkan hati nurani Membentuk sikap terhadap kelompok dan lembaga sosial

Jika dalam menyelesaikan tugas perkembangan ini terjadi penyimpangan dari norma yang ada, maka akibatnya adalah timbulnya kesulitan dalam penyesuaian baik secara sosial, emosional dan kepribadiannya terhadap lingkungan hidupnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Alger, I. 1976. (a). IntegratingImmediate Video Playback in Family Therapy. In P. J. Geurin,
Jr., (Ed.)., Family Therapy: Theory and Practice. New York: Gardner Press.
Beavers, W. R. 1982. Healthy, Midrange, and Severely Dysfunctional Families. In F. Walsh
(Ed.). Normal Family Processes. New York: Guilford Press.
Bertalanffy, L. Von. 1968. General Systems Theory: Fondation, Development, Applications.
New York: Braziller.
Bloch, D. A. 1974. The Family of the Psychiatric Patient. In S. Arieti (Ed.), American
Handbook of Psychiatry I: The Foundations of Psychiatry. New York: Basic Books.
Bowen, M. 1966. The Use of Family Theory in Clinical Practice. Comprehensive Psychiatry.
Bowen, M. 1976. Theory in the Practice of Psychotherapy. In P. J. Guerin, Jr. (Ed.). Family
Therapy: Theory and Practice. New York: Gardner Press.
Bowen, M. 1978. Family Therapy in Clinical Practice. New York: Aronson.
Carter, E. A., & McGoldrick, M. 1980. The Family Life Cycle and Family Therapy: An
Overview. In E. A. Carter & M. McGoldrick (Eds). The Family Life Cycle:
A Framework for Family Therapy. New York: Gardner Press.
Clinebell Howard, Basic Types of Pastoral Care & Counseling: Resources For the Ministry of
Healing and Growth. Nashville; (Abingdon Press, 1984).
Duvall, E. M. 1977. Marriage and Family Development (5th ed.). New York: Lippincott.
Ester Mariani Ga. 1999. Cinta Dalam Kemitraan: Pendekatan Filsafat Terhadap Relasi
Perempuan dan Laki-Laki. Salatiga,
Goldenberg, I., Goldenberg, H. 1985. Family Therapy: An Overview. Brooks/Cole
Publishing Company. Pasific Grove. California.
Gray, W., Duhl, F. J., & Rizzo N. D. 1969. General Systems Theory and Psychiatry. Boston:
Little, Brown.
Hardiwiratno. 1994. Menuju Keluarga Bertanggung Jawab. Jakarta.
Hoffman, L. 1980. The Family Life Cycle and Discontinuous Chang. In E. A. Carter & M.
McGoldrick (Eds). The Family Life Cycle: A Framework for Family Therapy. New
York: Gardner Press.
Hurlock, Elisabeth B. 1972. Child Development: fifth edition, McGraw Hill Kogakuasha LTD.
Kantor, D., & Lehr, W. 1975. Inside the Family: Toward a Therapy of Family Process. San
Fransisco: Jossey-Bass.
Kaplan, M. L., & Kaplan, N. R. 1978. Individual and Family Growth: A Gestalt Approach.
Family Process.
Kempler, W. 1981. Experiential Psychotherap within Familes. New York: Brunner/Marzel.
Lewis, J. M., Beavers, W. R., Gossett, J. T., & Phillips, V. A. 1976. No Single Thread:
Psychological Health in Family Systems. New York: Brunner/Mazel.
Lidz, R., & Lidz, T. 1949. The Family Enviroment of Schizophrenic Patients. American
Journal of Psychiatry.
Marry Jo Meadow. 2001. Memahami Orang Lain: Meningkatkan Komunikasi dan Hubungan
Baik Dengan Orang Lain. Yogyakarta,
Marjorie L. Thompson. 2000. Keluarga Sebagai Pusat Pembentukan: Sebuah Visi tentang
Peran Keluarga dalam Pembentukan Rohani. Jakarta.
Menninger, K. 1963. The Vital Balance. New York: Viking Press.
Miller, J. G. 1978. Living systems. New York: McGraw-Hill.
Nathan W. Ackermar., “Emergence of Family Psychotherapys on the Present Scene, ” dalam
Contemporary Psychotherapies, Morris [. Stein, ed. (Glencoa, III: Free Press, 1961),
Reiss, D. 1981. The Family’s Construction of Reality. Cambridge, Mass.: Harvard Uniersity
Press.
Robert Mulholland, Jr. 1985. Shaped by the Word, The Power of Scripture in Spiritual
Formation (Nashville, Tenn.: The Upper Room).
Satir, V. M. 1964. Conjoint Family Therapy. Palo Alto, Calif.: Science and Behavior Books.
Satir, V. M. 1982. The Therapist and Family Therapy: Process Model. In A. M. Horne & M. M.
Ohlsen (Eds.). Family Counseling and Therapy. Itasca. Ill,: F. E. Peacock.
Shapiro, R. L. 1967. The Origin of Adolescent disturbance in the Family: Some Considerations
in Theory and Implications for Therapy. In C. H. Zuk and I. Boszormenyi-Nagy (Eds.)
Family Therapy and disturbed Families. Palo Alto, Calif: Science and Behavior Books.
Steinglass, P. 1978. The Conceptualization of Marriage from a Systems Theory Perspective. In
T. J. Paolino, Jr. & B. S. McCrady (Eds.), Marriage and Marital Therapy:
Psychoanalytic, Behavioral and Systems Theory Perspective. New York:
Brunner/Mazel.
Stierlin, H. 1972. Separating Parents and Adolescents. New York: Quadrangle..
Stuart, R. B. An Operant-Interpersonal Treatment for Marital Discord. Journal of Consulting
and Clinical Psychology.
Watzlawick, P. 1966. A Structural Family Interview. Family Process.
Whitaker, C. A. 1976. (a). A Family is a Four Dimensional Relationship. In P. J. Guerin, Jr.
(Ed.). Family Therapy: Theory and Practice. New York: Gardner Press.
William J. Goode. 1983. Sosiologi Keluarga. BPK Gungng Mulia: Jakarta.

ARTIKEL, MAKALAH
Daniel Nuhamara. 1994. Diktat Pembimbing Pendidikan Agama Kristen: Jakarta.

KONSELING KELOMPOK
DOSEN
Prof. Rochman Natawidjaja

LAPORAN BUKU
FAMILY THERAPY
O
L
E
H
JACOB DAAN ENGEL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
SEKOLAH PASCASARJANA
BIMBINGAN DAN KONSELING
BANDUNG 2009
DAFTAR ISI

Hal
Cover 1
Daftar Isi 2

Bab I. Pola Interaksi Keluarga 3
Bab II. Keberuntungan dan Ketidakberfungsian
Sistem Keluarga 6
Bab III. Tanda-Tanda Disfungsi Keluarga 9
Bab IV. Dasar dan Perkembangan Family Therapy 13
Bab V. Perspektif Teori Psikodinamika dan
Model Hubungan 16
Bab VI. Perspektif Teori: Experiential/
Humanistik Model 20
BabVII Perspektif Teori: Model Bowenian 23
BabVIII Perspektif Teori: Model structural 27
Bab IX Perspektif Teori: Model Komunikasi 35
Bab X Perspektif Teori: Model Tingkah Laku 39
Bab XI Proses Terapi Keluarga 42
BabXII Inovative Techniques In Family Therapi 45
BabXIIIBelajar Praktek dan Evaluasi Terhadap
Terapi Keluarga 49

Komentar Dan Pembahasan 54

Implikasi Terhadap Praktek Bimbingan Dan
Konseling Di sekolah 57

Daftar Kepustakaan 63

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: