PENDIDIKAN INKLUSI : MEREALISASI WAJIB BELAJAR 9 TAHUN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI INDONESIA

PENDIDIKAN INKLUSI :
MEREALISASI WAJIB BELAJAR 9 TAHUN
BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI INDONESIA

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir dalam Mata Kuliah:
PERKEMBANGAN MUTAKHIR DAN ISU GLOBAL
BIMBINGAN DAN KONSELING

Disusun Oleh:
JON EFENDI
NIM. 0908305/S3/BK

SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2009
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mereka juga sebagai warga negara Indonesia tentunya juga memiliki hak untuk memperoleh pelayanan pendidikan. Sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 pada pasal 31 ayat (1) yang menyatakan bahwa: ”Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran” dan dalam ayat (2) dinyatakan bahwa:” Pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan diatur dengan Undang-Undang.
Disadari bahwa perhatian pemerintah terhadap Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Indonesia sangat besar, namun harus diakui bahwa masih banyak masalah yang harus dihadapi dan memerlukan pemikiran yang serius untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Indonesia setidaknya secara kualitatif seluruh anak berkelaianan fisik dan/atau metal usia sekolah, berkesempatan menikmati pendidikan dasar dan/atau yang setara dengan itu; sedangkan secara kuantitatif setidaknya mereka dapat menyelesaikan pendidikan dasar atau setara sesuai dengan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 pasal 14 ayat 3 tentang pelaksanaan wajib belajar ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
Berkenaan dengan hak anak luar biasa untuk memperoleh pengajaran pada dasar. Bukti nyata semua rencana dari program Wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan pada tanggal 2 mei 1994 dan sudah dimulai sejak tahun ajaran 1994/1995 hingga sekarang. Termasuk Anak Berkebutuhan Khusus yang memiliki potensi agar dapat untuk dikembangkan dan ikut serta secara bersama dengan anak normal lainnya. Untuk itu perlu memantapkan bagaimana peranan orang tua dan organisasi kemasyarakat dalam rangka pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun tersebut.
Wajib belajar sudah dicanangkan namun disana-sini masih terdapat kendala tentang belum meratanya pelayanan pendidikan terutama bagi ABK, dimana masih banyak yang belum tersentuh oleh pendidikan. Ini terbukti berdasarkan estimasi Jumlah ABK usia 6-12 Tahun berjumlah sebesar 5.923.250 anak digunakan sebagai acuan sedangkan ABK yang memperoleh pelayanan pendidikan luar biasa sebanyak 22.362 anak maka berarti yang memperoleh pelayanan PLB baru sekitar 0,378 % dari populasi. Jika estimasi persentase ALB 13,975% dibulatkan 14 %, estimasi inipun belum mencapai seperdua dari estimasi berdasarkan kurva normal sebesar sekitar 32%. Tantangan tersebut diharapkan dapat merupakan panggilan untuk mengatasinya (Abdurahman, 1994).
Selanjutnya menurut laporan prosentase penduduk usia sekolah di Indonesia pada tahun 1987, Walinono menyampaikan di dalam laporan data informasi SLB, SDL dan sekolah terpadu (Depdikbud,1990) sebagai berikut: Untuk usia SD (7-12 tahun) 94% bersekolah dan 6% belum bersekolah (hasil sensus 1987). Sedangkan pada tahun 1990/1991 “gross participation rate” (indeks partisipasi kasar) jenjang SD untuk anak-anak yang tidak tergolong berkelaianan telah mencapai 100%. Sementara itu untuk jenis anak yang berkelaianan fisik dan/atau mental indeks partisipasi kasarnya baru mencapai 10% .
Dalam rangka menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar, dipandang perlu meningkatkan perhatian terhadap anak-anak berkelainan, baik yang telah memasuki sekolah umum (SD) tetapi belum mendapatkan pelayanan pendidikan khusus maupun anak-anak berkelainan yang belum sempat mengenyam pendidikan sama sekali karena tidak diterima di SD terdekat atau karena lokasi SLB jauh dari tempat domisilinya.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkelainan. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Secara lebih operasional, hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor Tahun tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.

B. Permasalahan
Berdasarkan uraian-urain di atas ternyata program yang telah dicanangkan oleh pemerintah masih belum terealisasi dengan baik, dengan demikian permasalahan yang diajukan yakni: Bagaimanakah realisasi wajib belajar 9 tahun bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia?
C. Tujuan
Ada pun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah;
Pertama; untuk mengetahui dan memahami salah satu alternatif jenis pelayanan pendidikan luar biasa dan mengetahui bagaimana mewujudkan program pemerintah Indonesia.
Kedua; sebagai bahan kajian dalam rangka upaya pengembangan profesi pendidikan luar biasa demi menghadapi tantangan masa depan.
Ketiga, sebagai informasi untuk masyarakat luas tentang jenis layanan ABK agar keberadaannya dimasa depan semakin dapat pengakuan dan tersebar disetiap wilayah.
D. Metode Pendekatan.
Pembahasan ini berupaya menggali dengan menggunakan kajian pustaka. Selanjutnya penulis rumuskan setelah adanya masukan dari sejawat serta sekelumit persepsi yang ada pada penulis. Sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif tentang pendidikan luar biasa (inklusi) sebagai model alternatif peningkatan SDM di Indonesia.
B. KONSEP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
1. Pengertian ABK
Banyak istilah yang sering kita dengar dalam lingkungan masya-rakat luas tentang sebutan Anak Luar Biasa ( ALB). Istilah tersebut ada anak cacat, anak berkelaianan, anak tuna, dan lain sebagainya. Dengan penggunaan label istilah banyak dari mayarakat maupun tenaga profesi-onal lain selain tenaga pendidik luar biasa yang ragu atau bingung dari pemakaian istilah tersebut.
Kalau melihat dari sejarahnya bahwa istilah yang pertama kali yang muncul ditengah masyarakat adalah “cacat”, sedangkan istilah berke-lainan menunjukkan kepada keadaan yang sebenarnya yaitu anak yang mengalami kelainan. Dan istilah tuna mengambarkan seseorang mengalami kekurangan/ hambatan dalam segi fisik, mental, soisal maupun emosinya. Dalam bidang pendidikan yang dikatakan Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mempunyai penyimpangan/kelainan baik fisik, mental, sosial dan atau emosinya sehingga memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus.
Menurut pandangan Kirk dan Gallagher (1986) yang diterjemahkan Moh. Amin mengatakan bahwa Anak luar Biasa didefinisikan sebagai berikut” Anak luar Biasa sebagai anak yang berbeda dari rata-rata anak normal dalam berbagai hal: (1) ciri-ciri mental, (2) kemampuan panca indera, (3) kemampuan komunikasi, (4) perilaku sosial atau (5) sifat-sifat fisiknya. Perbedaan ini harus lah sampai pada tingkat tertentu sehingga anak tersebut membutuhkan praktek sekolah yang dimodifikasi kan atau pelayanan pendidikan khusus untuk mengembangkan kemampuannya yang tertinggi.
2. Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus
PP.N0.72 Tahun 1991 Bab III, Ps. 3 tentang Anak Berkebutuhan Khusus berbunyi:
Jenis-jenis dari ALB dapat dilihat dari berbagai ragam kelainan antara lain adalah :
1. Anak tunanetra,
Adalah mereka yang terganggu daya lihatnya sehingga mendapat kesulitan dalam mengikuti program pendidikan seperti program pendidikan anak normal lainnya, untuk itu bagi anak tunanetra perlu mendapatkan layanan, latihan serta bimbingan agar potensi yang dimiliki dapat dikembangkan.
2. Anak tunarungu
Mereka kekurangan atau kehilangan pendengaran walaupun telah diberikan ransangan tetapi tetap tidak dapat memahami atau menangkap reaksi yang ada, sehingga menghambat terhadap perkembanganya, dan dampaknya kepada kehidupan yang kompleks dengan demikian perlu layanan bimbingan dan pendidikan khusus
3. Anak tunagrahita
Adalah mereka yang tidak mampu mengikuti pendidikan dengan anak normal serta sulit berinteraksi sosial dengan masyarakat normal, hal ini karena akibat dari kemampuannya berada dibawah normal.
4. Anak tunadaksa
Adalah mereka yang mengalami kelainan pada organ tubuhnya sehingga tidak dapat berfungsi (beraktivitas ) sebagaimana mestinya seperi orang normal lainnya.
5. Anak tunalaras
Adalah mereka yang menunjukkan tingkah laku emosi sosial yang tidak sesuai dalam bertingkah laku
6. Anak tunaganda
Adalah mereka yang mengalami kecacatan lebih dari satu (ganda kecacatan
7. Anak berbakat
Adalah mereka yang mempunyai kecerdasan luar biasa sehingga memungkinkan untuk berprestasi yang tinggi, namun hal ini tidak selalu atau dengan sendirinya terjadi, karena banyak faktor yang turut berperan dalam menentukan .
III. BENTUK DAN SISTEM PENDIDIKAN ALB
A. Pengertian
Pendidikan inklusi merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi anak berkelainan yang secara formal kemudian ditegaskan dalam pernyataan Salamanca pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Berkelainan bulan Juni 1994 bahwa “prinsip mendasar dari pendidikan inklusif adalah: selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.”
Model pendidikan khusus tertua adalah model segregasi yang menempatkan anak berkelainan di sekolah-sekolah khusus, terpisah dari teman sebayanya. Sekolah-sekolah ini memiliki kurikulum, metode mengajar, sarana pembelajaran, system evaluasi, dan guru khusus. Disebutkan oleh Reynolds dan Birch (1988), antara lain bahwa model segregatif tidak menjamin kesempatan anak berkelainan mengembangkan potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda dengan kurikulum sekolah biasa. Kecuali itu, secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berintegrasi dengan masyarakat normal, tetapi mereka dipisahkan dengan masyarakat normal. Kelemahan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa model segregatif relatif mahal.
B. Alternatif Pelayanan PLB
1. Sistem Segregasi
Perkembangan sistem pendidikan luar biasa di Indonesia selama ini mempergunakan sistem pendidikan segregasi. Sistem ini adalah sistem pendidikan yang paling tua. Pada awalnya sistem ini dilaksanakan karena adanya kekhuwatiran atau keraguan terhadap kemampuan anak luar biasa bersama belajar dengan anak normal. Sehingga di dalam memberikan pelayanan pendidikan antara anak normal dengan anak luar biasa berjalan dengan sendiri-sendiri. Jadi mereka tidak mendapat perlakuan secara bersama dengan anak normal lainnya.
Pendidikan ALB melalui sistem segregasi merupakan penyeleng-garaan pendidikan yang dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan anak normal. Pelayanannya diberikan di SLB dan SDLB sesuai dengan jenis kecacatannya. Struktur organisasinya umumnya berbentuk unit pendidikan. Artinya di dalam penyelenggaraan pendidikannya dimulai dari tingkat persiapan sampai tingkat lanjutan di-selenggarakan dalam satu sekolah dengan seorang kepala sekolah. Dengan sistem segregasi ada suatu kelemahan terhadap ALB diantara-nya “ Sosialisasi anak luar biasa terbatas sekali pada teman yang senasip. Terlebih lagi bagi ALB yang tinggal di asrama, dan penyelenggaraan pendidikan melalui sistem segregasi masih dianggap sebagai penyelenggaraan pendidikan yang relatif mahal. Pendidikan luar biasa membutuhkan biaya lebih besar dibanding dengan pendidikan reguler karena jenis-jenis layanan yang ditawarkan pun lebih banyak dibandingkan pada pendidikan reguler. Namun lebih jauh biaya ini akan sangat bervariasi , tergantung pada jenis atau tingkatan kondisi kecacatan yang dialami oleh anak luar biasa. Menurut perhitungan hasil penelitian pada tahun 1970 biaya untuk penyelenggaraan pendidikan luar biasa (dirata-ratakan untuk seluruh kategori kecacatan ) sekitar 2 kali dari penyelenggaraan pendidikan reguler.
Sistem pendidikan segregasi yang dikembangkan dewasa ini adalah sistem pendidikan yang sesuai dengan UU RI No.2 tahun 1989, yang bentuk pelaksanaannya diatur oleh Peraturan pemerintah No.72 Tahun 1991. Pasal 4 dari peraturan pemerintah tersebut, menyatkan bahwa bentuk satuan pendidikan luar biasa terdiri dari :
a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
b. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB)
c. Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB)
Sedangkan lamanya dalam penyelenggaraan tercantum dalam PP.No. 72 pasal (5) yang berbunyi diantaranya : (1) sekolah dasar luar bisa (SDLB) sekurang-kurangnya enam tahun, (2) sekolah lanjutan tingkat pertama luar biasa (SLTPLB) sekurang-kurangny tiga tahun dan (3) sekolah menengah luar bisa (SMLB) sekurang-kurangnya tiga tahun.
Asumsinya bahwa pelayanan pendidikan untuk anak luar biasa dalam proses pembelajaran dapat diselenggarakan dalam bentuk satuan pendidikan luar biasa;
a. TKLB ( Taman Kanak-kanak Luar Biasa)
b. SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa)
c. SLTPLB (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa)
d. SMLB (Sekolah Menengah Luar Biasa )
Berdasarkan jenis kelainan anak maka sekolah khusus ini meliputi:
a. SLB Tunanetra (A)
b. B. SLB Tunarungu (B)
c. SLB Tungrahita (C)
d. SLB Tunadaksa (D)
e. SLB Tunalaras (E)
f. SLB Anak Berbakat (F)
g. SLB Tunaganda (G)
Fasilitas dari bangunan atau gedung dari pendidikan luar biasa ( SDLB SLTPLB, dan SMLB ) hanya baru berada disekitar lingkungan kabupaten, dan untuk tingkat kecamatan hampir tidak ada. Sedangkan jumlah ALB yang belum mendapat pelayanan pendidikan tersebar dimana-mana. Sebagaimana yang telah diungkapkan pada uraian sebelumnya. Bahwa Penyebarannya tidak diketahui secara pasti, maka kita tahu bahwa penduduk Indonesia mayoritas berada didesa-desa, sedangkan lembaga pendidikannya hanya baru terjangkau untuk tingkat kabupaten atau di kota madya. Dengan demikian dapat kita asumsikan bahwa sebagian besar anak berkelainanan pun berada didaerah-daerah terpencil. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Supriadi (1990), daerah terpencil secara fisik menunjukkan pada daerah yang lokasinya jauh, sulit untuk dijangkau karena transportasi dan komunikasi kurang, serta kondisi alam geografisnya tidak menguntungkan. Daerah ini biasanya meliputi :(1) daerah terpencil daratan pedalaman,(2) daerah terpencil pantai dan aliran sungai, dan (3) daerah terpencil perairan, kepulauan perbatasan internasional.
Melihat kepada perkembangan pendidikan khusus untuk anak luar biasa, lembaga penyelenggara pendidikannya sangat terbatas. Sedang-kan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun perlu untuk dilak-sanakan sesegera mungkin hal ini tidak hanya berlaku untuk anak-anak yang normal melainkan termasuk kepada anak luar biasa. Untuk itu bagaimana caranya agar pendidikan ini dapat pula dinikmati oleh anak luar biasa (ALB) yang berada di daerah pedesaan. Semua ini rasanya perlu dipikirkan, sebab di Indonesia didalam Sistem Pendidikan Nasional pasal 14 ayat 2 dikatakan, bahwa :” warga negara yang berumur 7 tahun berkewajiban mengikuti Pendidikan Dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat”. Bila diperhatikan pernyatan ini mengandung makna yang sangat luas, jadi pendidikan tersebut bukan hanya diberlakukan untuk anak-anak normal saja melainkan termasuk kepada anak yang tidak normal (ALB). Pada dasarnya diharapkan bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas SDM bagi warga Indonesia , mereka wajib belajar sampai tamat pada jenjang pendidikan dasar yakni SD dan SLTP.
Apabila diberlakukan bagi anak luar biasa, maka Undang-undang ini mempunyai konsekwensi yang amat besar bagi pemerintah. Sebab jika dilihat dari waktu setidaknya dari masa orde baru selama lima pelita (25 tahun), pemerintah baru mampu menangani anak berkelainan usia SD 10%. Maka untuk mencapai angka 100% seperti yang dicapai SD Umum, bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena itu meskipun pada sekolah umum peningkatan mutu pendidikan telah dicanangkan , maka untuk PLB masih harus bekerja keras untuk perluasan kesempatan belajar “equality of acces” seperi disinggung dimuka. Oleh karena itu mereka pada umumnya tinggal didaerah terpencil, maka tidak bisa pilihan prioritas pengembangan PLB di Indonesia pada saat ini harus dicurahkan di daerah-daerah terpencil tanpa mengabaikan peningkatan mutu PLB yang telah ada selama ini.
Berangkat dari pernyataan di atas makah ahli pendidikan mempertanyakan kehandalan sruktur sistem penyampaian (penghantar) PLB dalam menjawab persoalan-persoalan pendidikan luar biasa. Sejak saat ini banyak kritik dan saran dilontarkan pada sistem pendidikan tersebut. Untuk menjawab usulan-usulan ini akhirnya para ahli mengusulkan sistem pendidikan reguler dengan sistem pendidikan luar biasa (iklusi atau integrasi)
2. Sistem Integrasi (inklusi)
Dewasa ini trend baru tentang sistem pelayanan PLB yang sedang berkembang ada diberi nama atau istilah yang dikenal dengan maistreaming, integrasi, normalisasi, dan/atau terst restrictive emvironment, mengandung makna bahwa sejauh mungkin anak luar biasa seyokyanya beritegrasi dengan rekan-rekan yang normal, atau menghilangkan sejauh mungkin keterpisahan mereka dari rekan-rekannya yang normal. Artinya bahwa konsep tersebut memberikan kesempatan kepada anak luar biasa untuk belajar secara bersama-sama dengan anak-anak biasa di sekolah umum, baik secara menyeluruh, penuh, sebagian atau bersifat sosialisasi, gunanya adalah untuk mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin.
Untuk lebih mengetahui istilah tersebut dapat pahami penjelasan berikut: pertama, main streaming yaitu istilah yang dikembangkan dari keberadaan tentang dua sistem sekolah yang paralel (sejajar) antara pendidikan khusus (PLB) dan pendidikan umum yang diasumsi kedua pendidikan itu tidaklah sama namun anak tersebut berada dalam satu setting pendidikan, kedua , Integrasi yaitu anak luar biasa diperkirakan 10 % dari populasi usia sekolah untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak normal pada umumnya (mayoritas) menerima pengajaran di pendidikan umum atau maistreaming (jalur utama), ketiga, normalisasi yaitu menciptakan suatu lingkungan sosial dan pendidikan yang senormal mungkin bagi anak luar biasa, dan keempat, least restrictive (LRE), yaitu anak luar biasa tidak dipisahkan dengan lingkungan kelas, rumah, keluarga dan masyarakat biasa/normal.
Dalam merealisasikan konsep di atas, tentu akan membawa dampak terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan baik itu guru, konselor sekolah, orang tua siswa dan siswa itu sendiri baik ALB maupun yang bukan ALB. Sekalipun model inklusi ini belum memiliki dasar perundang-undangan yang kuat, tetapi ternyata sudah dilaksanakan di beberapa negara bagian di Amerika. Untuk di Indonesia penulis mencoba menawarkan konsep ini atau dengan kata lain bagaimana implikasinya bagi dunia pendidikan kita.
Smith dan Neisworth (1975) mengutip ungkapan dari Deno dan sahabatnya Reynolds tentang Generalisasi dari integrasi (inklusi) yang dikembangkan secara terprogram untuk pembelajaran ALB dan dilakukan secara efektif, efisien, teroganisasi, ter-administrasi, dan tersaji, sedang-kan Dunn mengembangkan model yang bersumber dari Deno’s, sebagai dasarnya. Setting layanan pendidikan luar biasa model Deno’s tersusun secara berurutan yang terbagi dalam tujuh level sebagai berikut:
a. Penempatan pada kelas biasa (reguler).
Integrasi pada level ini , anak ditempatkan pada kelas dengan teman lain yang usianya sama. Sebab mungkin penyimpangan yang ada padanya masih dapat difungsikan lagi dengan disatukannya pada lingkungan sebaya. Pada sekolah tersebut disediakan konsultan diagnostik pendidikan, guru khusus (PLB), suvevisor, konsultan membaca atau psikolog sekolah.
b. Kelas reguler dengan tugas tambahan
Disekolah disamping kelas reguler mereka memiliki ruangan khusus. Sebagian besar aktivitas belajarnya mereka tinggal bersama dalam kelas reguler.Bila anak-anak tertinggal dalam belajarnya, mereka ditempatkan pada ruang sumber (resource-room), dan mendapatkan layanan khusus oleh guru PLB. Disini dilatih dan dikembangkan oleh guru profesional atau konsultan, sesuai dengan hambatan yang dialami. Apabila dirasa sudah memiliki kemampuan yang setara mereka dikembalikan pada kelas reguler.
c. Kelas khusuh paruh waktu (part-time special class)
Program layanan pendidikan lebih ditekankan pada penanganan masalah dengan menggunakan bermacam-macam alat bantu. Bila kebutuhan mereka bertentangan dengan kebanyakan teman-temannya, maka mereka diletakkan pada ruang sumber, dan pada bidang-bidang tertentu mereka dapat ikut dan mereka disatukanpada kelas reguler.
d. Klas khusus penuh (full time special class)
Pada level ini mereka sepenuhnya berada pada klas khusus , dan membutuhkan atau membangun guru yang benar-benar profesional, dan mempunyai keterampilan tinggi. Mereka akan berhubungan dengan masalah-masalah pendidikan yang sulit. Pada level ini letak normalisasi sosialnya terletak pada persamaan lokasi dan nama sekolah yang sama, dengan demikian disela-sela belajarnya mereka dapat bermain bersama dengan teman-teman yang normal.
e. Sekolah khusus (special school)
Anak-anak yang memiliki kelainan yang berat tidak mungkin ditempatkan dikelas reguler, dan ini baru ditempatkan disekolah luar biasa atau yang disebut dengan kelas khusus. Pada tingkat ini mereka anak luar biasa sudah dikategorikan cacat berat atau sedang. Jadi pelayanannya dilaksanakan secara terpisah dari sekolah reguler.
f. Pembelajaran di rumah (homebound Intruction)
Anak luar biasa secara fisik tidak mungkin dapat meninggalkan rumah, maka layanan pendidikan luar biasa dilaksanakan dirumah. Model ini memang sangat mahal.Tetapi secara hukum mereka mempunyai hak untuk mengenyam pendidikan.
g. Penempatan di lembaga atau asrama (institution or residential assignment).
Hal ini berarti bahwa sekolah mempunyai mandat untuk merencanakan dan menyiapkan program pendidikan terhadap anak yang tinggal dipusat rehabilitasi dan asrama.
3. Integrasi penuh ( Full Inclusion)
Inklusi berasal dari bahasa ingris “inclusion” yang berarti pencantuman (termasuk pemasukan). Menurut Allan Galis & C. Kenneth Tanner dalam Behring dkk. (1998) adalah:”..providing services to students in the regular classroom, rather than pulling students out of regular classroom to receive special services”. Pengertian layanan siswa pada kelas reguler, disini yang dimaksudkan adalah anak cacat (anak luar bisa). Dimana mereka selama ini mendapat layanan pendidikan pada sekolah khusus (sekolah luar biasa) yang terpisah dari sekolah reguler. Konsep inklusi ini menawarkan penyatuan pola layanan bagi ALB maupun anak normal dalam satu atap pada sekolah reguler (sekolah anak normal).
Full inclusion mengakui adanya satu kesatuan sistem pendidikan , bukan sistem minoritas dan mayoritas sebagai implikasi dibawah model meinstreaming. Model ini meningkatkan suatu sistem kesatuan pendidikan formal semua anggotanya sama.
Landasan Filosofis, ada tiga alasan fundamental yang mendukung falsafah inklusi, sebagaimana yang disampaikan oleh Yatvin dalam Galis (1995), diantaranya : Pertama, semua anak akan belajar dengan sangat baik di kelas yang reguler, dimana ada organisasi yang fleksibel dan pola pengajaran yang ada serta adanya dukungan manusia dan sarana bagi anak dengan kebutuhan khusus, kedua, keyakinan pada diri anak bahwa dia berhak mendapatkan tempat dimasyarakat sebayanya, merupakan prakondisi belajar, dan ketiga, program terpisah yang memaksakan beban akademik tambahan, pengajaran yang rendah kualitasnya, kecemasan sosial, dan status yang rendah pada anak yang cacat akan membuat mereka tidak mendapatkan pendidikan yang sesungguhnya menjadi haknya karena melanggar hak asasi mereka”.
Abdurahman (1994) berpendapat bahwa manusia bukan hanya makhluk individu tetapi juga makhluk sosial. Oleh karena itu, manusia berada pada dua kutub eksistensi, yaitu kutub eksistensi individu dan kutub eksistensi sosial. Eksistensi manusia sebagai makhluk individu tercermin dari kebhinekaan potensi potensi mereka sedangkan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial tercermin pada kebutuhan manusia untuk berintegrasi dengan sesamanya.
Tujuan, adapun tujuan utama anak luar biasa dalam inklusi adalah meningkatkan penggunaan waktu dan meningkatkan kualitas fungsional pengajaran dalam kelas pendidikan reguler. Guru PLB memberikan suatu persepsi yang lebih baik tentang harapan-harapan akademis dan tingkat perilaku yang wajar. Anak-anak non anak luar biasa bekerjasama dengan anak luar biasa baik dalam tugas maupun penyesuaian job sehingga anak luar biasa ikut berpartisipasi dan tidak hanya menjadi seorang pengawas.
Konsep inklusi berawal dari konsep integrasi dimana inklusi adalah merupakan penyempurnaan dari model sebelumnya yaitu Deno,s Model yang telah diuraikan di atas
Model integrasi penuh (Full Inclusion), yaitu model yang ditawarkan untuk sitem pendidikan di Indonesia dalam rangka meningkatkan SDM serta mempersiapkan generasi muda luar biasa dimasa mendatang, serta upaya menciptakan terciptanya normalisasi. Trend tersebut adalah Integrasi penuh (full inclusion). Kami berpendapat demi untuk menggalakkan wajib belajar 9 tahun, dan demi meratanya PLB diseluruh pelosok tanah air, maka full inklusi (integrasi penuh) salah satu alternatif untuk bisa mengatasinya.
Giongreco dalam Behring dkk. (1998) menyatakan: Integrasi penuh sebagai suatu keberadaan dimana hanya terdapat satu kesatuan sistem pendidikan formal yang semua peserta didik dididik secara wajar tanpa memandang perbedaan status dengan anak normal. Selanjutnya Stainback & stainback, Integrasi penuh tidak diartikan bahwa semua siswa akan didik dengan menggunakan metode pengajaran yang sama atau mengerjakan tugas-tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang sama.
Integrasi penuh (full inclusion) berarti bahwa semua siswa luar biasa diberikan program pendidikan yang layak yang direfleksikan pada kemampuan dan kebutuhan siswa dengan dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan. Dukungan-dukungan yang penting ini bisa dalam bentuk pengajaran yang khusus, perlengkapan yang disesuaikan dan/atau personal-personal yang khusus. Agar integrasi penuh ini dapat berhasil perlu adanya kolaborasi (kerjasama) antara guru pendidik umum, staf pendidikan khusus (PLB), dan konselor sekolah agar dapat memberikan program yang layak sebagai suatu proses, dan proses tersebut sangat berarti bagi semua siswa, sehingga ia memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan anak normal lainnya.
Artinya bahwa sistem pendidikan untuk ALB benar-benar sudah menyatu dengan pendidikan anak normal lainya. Untuk dimasa mendatang pelayanan pendidikannya tidak terpisah seperti yang berlansung sekarang ini. Jadi di Indonesia itu nanti hanya ada satu pendidikan dasar dan tidak ada pemisahan seperti sekarang ini SLB atau SDLB. Pelabelan tersebut sudah menyatu di SD atau SLTP.
Manfaatnya dari integrasi penuh
Untuk dimasa depan tersebut keuntungan yang diraih antara lain:
• Anak luar Bisa memperoleh peranan yang lebih normal
• Akan memudahkan mengarahkan ALB untuk menunjukkan perilaku-perilaku yang lebih baik
• Bagi anak normal lainnya akan dapat memahami, sabar, dan menghargai perbedaan-perbedaan individual anak luar biasa belajar menerima modifikasi aturan-aturan dalam proses belajar mengajar (PBM)
Faktor penunjang sistem pendidikan integrasi
Yang menjadi faktor penunjang dalam penyelenggaraan sistem pendidikan terpadu bagi anak luar biasa adalah:
• ALB pada umumnya mempunyai kemampuan atau potensi untuk didik dan dikembangkan.
• Miskipun pendidikan terpadu untuk anak luar biasa belum semuanya dilembagakan secara formal maka tidaklah berlebihan kalau anak luar biasa diterpadukan dengan anak normal lainnya
• Bertambahnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknyayang mengalami kelainan (ALB)
• Adanya kebijakan para penyelenggara sekolah biasa untuk menerima ALB sebagai anak didik
• Adanya pendapat para ahli yang memberikan keterangan sesuai dengan bidangnya. Dan semuanya itu dapat dijadikan sumber imformasi bagi para pendidik ALB.
Agar pelaksanaan model pelayanan integrasi dapat terlaksana maka perlu ditunjang dengan persiapan-persiapan seperi : pelaksana/-personil pendidikannya, tenaga administrasi, dan kurikulum:
1. Guru, disamping guru untuk anak normal disekolah integrasi juga ada guru yang berkualifikasi khusus sesuai dengan profesinya. Seperti tercantum dalam pasal 20 ayat (2) PP/RI/No.72/1991. Tenaga pendidik merupakan tenaga yang memiliki kualifikasi khusus sebagai guru pada satuan pendidikan luar biasa.
2. Tenaga administrasi. Sangat membantu dalam pelaksanaan sekolah integrasi yang dapat mengadministrasikan keadaan atau keberadaan anak luar bisa (ALB) disekolah tersebut. Sehingga dapat memprediksi keperluan lain yang akan dibutuhkan untuk pelaksanaan pendidikan anak luar bisa (ALB) yang berada di sekolah terpadu.
3. Kurikulum, dimana pengajarannya perlu adanya kolaboratif, ini berarti bahwa guru-guru pendidikan umm dan khuss bersama dalam perencanaan dan penyajian pengajaran sesuai dengankebutuhan –kebutuhan yang ditemukan dari setia anak baik anak luar biasa (ALB) maupun non ALB. Guru pendidikan khusus (PLB) dilatih dalam pemberian dalam pemberian penyesuaian kurikulum bagi ALB. Modifikasi dan adap tasi yang memungkinkan ALB untuk berpartisipasi sebanyak mungkin dalam kurikulum pendidikan umum. Dalam hal ini guru pendidikan khusus dapat menggunakan cara yang sistematis melalui tiga tahap yaitu: (1) menentukan kebutuhan-kebutuhan siswa bagi perubahan-perubahan kurikulum secara spesifik, (2) melaksana-kan perubahan-perubahan kurikulum tersebut, dan (3) mengevaluasi kemajuan siswa.
IV. KESIMPULAN
1. Anak Berkebutuhan Khusus adalah mereka yang memiliki kelainan baik fisik dan/atau mental dan/atau perilaku maupun yang memiliki kemampuan diatas normal dan/atau di bawah normal atau keterpaduan dari kelainan tersebut, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan , latihan maupun bimbingan agar mereka dapat berkembang seoptimalnya.
2. Model integrasi penuh (full inklusi) merupakan salah satu alternatif layanan pendidikan ALB dalam rangka untuk meningkatkan kualitas SDM dan mensukseskan Wajar 9 tahun serta dalam rangka memper-siapkan generasi muda luar biasa yang produktif, terampil dan tangguh di masa mendatang.
3. Agar pelaksanaan model pelayanan integrasi (integrasi) dapat terlaksana maka perlu ditunjang dengan persiapan-persiapan seperti personil pendidikan, tenaga administrasi , dan kurikulum.
4. Dengan dilkukan sistem integrasi (Inklusi) atau integrasi penuh (full Inklusi) maka pelayanan pendidikan untuk anak luar biasa bisa merata di seluruh pelosok nusantara, dan pelaksanaan dari program pendidikannya bersamaan dengan anak normal lainnya. ALB memiliki hak yang sama di dalam menimba ilmu pengetahuan yang ada di sekolah (reguler). Dan dalam sistem pendidikannya tidak ada pemisahan antara anak normal dengan ALB tersebut.
5. Pencanangan Wajib Belajar 9 tahun bagi semua anak Indonesia tanpa kecuali akan membantu kebutuhan pendidikan dan kemandirian bagi ABK, dengan relajar bersama anak lanilla di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Daftar Pustaka
Abdurahman, Mulyono & Sudjadi. 1994. Pendidikan Luar Bisa Umum.: Jakarta: Depdikbud
Depdikbud. 1991. Peraturan Pemerintah RI No. 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa . Jakarta: Depdikbud.
Depdikbud. 1997. Profil Siswa Sekolah Dasar Yang Memerlukan Perhatian/pelayanan Khusus dan Yang Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdikbud.
Direktur Pendidikan Dasar. 1992. Laporan Data Informasi Keadaan SLB Negeri dan Swasta, dan Sekolah Terpadu, Jakarta: Depdikbud RI.
Eeward, William L dan Orlaski, Michel D. 1988. Exceptional Children, The Ohio State University, Colombus,
Galis, Susan Allan. (1995). Inclusion in Elementary Schools: A Survey and Polocy Analysis. Artikel. V. No.3. Departemen of Educational Leadership University of Georgia Athens, GA 30602.
Gloria D. dkk, 1997, Using Mentoring to Improve Academic Programming for Afrika Amerika Male Youth Whith Mild Disabilities, Jurnal The School Counselor. Vol. 44
Kirk, Samuel A dan Gallagher, James. 1986. Pendidikan Anak Luar Biasa I. (Diterjemahkan oleh Moh.Amin dkk). Jakarta: DNIKS
Marozas, Donald S. & . May, Deboard C. 1988. Issues and Practices in Spescial Education. The Alinc Prese Inc: New York.
Supriadi, Dedi. 1997. Profesi Konseling dan Keguruan. Bandung: Bidang Studi Bimbingan dan Konseling Program Pascasarjana dan Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP IKIP Bandung.
Somad, Permanarian. Dkk. 1996. Ortopedagogik Anak Tunarungu. Jakarta: Depdikbud.
Berhring, Shari Tarver, dkk. 1998. School Counselors and Full Inclusion For Children With Special Needs, Jurnal Professional School Counseling Volume 1 N0.3.p Pepruari . ASCA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: