KONSELING MULTIKULTUR DAN KEPRIBADIAN ANAK TUNANETRA

APLIKASI KONSELING MULTIKULTUR DALAM MENDORONG PERKEMBANGAN EMOSI, SOSIAL, KEPRIBADIAN ANAK TUNANETRA

A. PENDAHULUAN.
I. Latar belakang
Konseling merupakan proses interaksi psikologis antara konselor dengan konseli dalam rangka memberikan bantuan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Kegiatan ini sudah berlangsung selama berabat-abat, sehingga secara perlahan berkembang menjadi salah satu cabang ilmu dan profesi. Pada mulanya konseling merupakan bagian dari psikologi sehingga penanganannya lebih banyak melibatkan aspek-aspek psikologis. Setelah menjadi salah satu cabang ilmu dan profesi tersendiri, Proses konseling melibatkan berbagai factor secara integral.
Diantara beberapa factor yang sangat penting dan mempengaruhi proses konseling adalah factor social budaya. Seiring berkembangnya paham globalisasi dan meningkatnya existensi konseling, interaksi konselor dan konseli tidak hanya terjadi dalam satu kultur, terapi dapat terjadi antara orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Untuk mengatasi perbedaan budaya antara konselor dan konseli, maka konselor perlu memahami latar belakang budaya dari konselinya. Dengan demikian selain memahami aspek-aspek psikologis dan teknik-teknik konseling, seorang konselor perlu memahami aspek-aspek budaya yang berbeda-beda.
Proses interaksi/konseling antara dua orang dengan latar belakang budaya yang berbeda dinamakan konseling multicultural. Sebagai ilmu baru konseling multikultural baru berkembang sekitar 20 tahun. Namun demikian konseling ini dirasakan lebih efektif, terutama jika konselor mampu mengadaptasikan teknik dan teori konseling dalam perspektif budaya dari konselingnya.
Salah satu kelompok khusus yang memerlukan bantuan atau layanan konseling adalah kelompok tunanetra. Sebagai kelompok yang memiliki masalah dan kekhususan, kelompok tunanetra memerlukan penanganan yang khusus pula. Dengan demikian konselor harus memahami kekhususan-kekhususan tersebut sebagai salah satu kultur atau sub-kultur dalam memberikan layanannya.
Untuk mengaplikasikan konseling multicultural dalam membantu tunanetra menanggulagi masalahnya, makalah ini akan menyajikan hakekat, konsep dasar, dan prinsip-prinsip konseling multiculturar serta aplikasinya dalam membantu tunanetra.

II. Tujuan
a. Memberikan gambaran tentang konseling multikultural
b. Menjadi stimulan untuk kajian yang lebih mendalam tentang konseling multikultural hingga dapat di aplikasikan dalam praktek konseling untuk membantu tunanetra.
c. Mendorong dirumuskannya aplikasi konseling multikultural dalam membantu tunanetra sesuai budaya Indonesia.

III. Bahan kajian
Berdasarkan teori yang sudah berkembang dan dilangsir berbagai buku, kajian tentang konseling multicultural sangatlah luas. Oleh karena itu kajian dari tulisan ini akan dibatasi dan difokuskan pada beberapa aspek. Adapun aspek yang lebih focus dalam tulisan ini meliputi :

a. Hakekat konseling Multikultural
b. Konsep dasar konseling Multikultural
c. Prinsip-prinsip Dasar Konseling Multikultural
d. Karakteristik konselor Multikultural
e. Keadaan orang-orang cacat
f. Masalah perkembangan emosi anak tunanetra.
g. Masalah perkembangan social anak tunanetra.
h. Masalah perkembangan kepribadian anak tunanetra.
i. Aplikasi
Tulisan ini akan diakhiri dengan kesimpulan yang merupakan intisari dari masing-masing aspek yang menjadi pembahasan.

B. PEMBAHASAN

a. Hakekat konseling Multikultural
Konseling lintas budaya merupakan hal baru. Ia baru popular kira-kira duapuluh tahun belakangan ini ( Padersen et al..,1981). Locke (dalam Brown et al, 1988) mendefinisikan konseling Multikultur sebagai bidang praktik yang (1) menekankan pentingnya dan keunikan (kekhasan)individu, (2) mengaku bahwa konselor membawa nilai-nilai pribadi yang berasal dari lingkungan kebudayaannya ke dalam setting konseling, dan (3) selanjudnya mengakui bahwa klien-klien yang berasal dari kelompok ras dan suku minoritas membawa nilai-nilai dan sikap yang mencerminkan latar belakang budaya mereka.
Dengan perkataan lain, ada tiga hal pokok yang menyangkut pengertian konseling multicultural. Pertama, individu itu penting dan has (unik), Kedua, waktu menjalankan konseling, konselor membawa nilai-nilai yang berasal dari lingkungan budayanya. Ketiga, klien dari kelompok minoritas etnik dan ras datang menemui konselor membawa seperangkat nilai dan sikap yang mencerminkan latar belakang budayanya.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa konseling multicultural merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap konsep dan budaya lain terutama bagi konselor agar dapat memberikan bantuan secara efektif sesuai perspektif budaya konseling.

b. Konsep dasar konseling Multikultural
Kajian menyangkut keragaman budaya dikenal beberapa istilah seperti cross cultur ( lintas budaya), intercultur ( antar budaya) dan multicultur ( multibudaya). Dalam konseling istilah multicultural atau multibudaya lebih sering digunakan karena mencerminkan kesetaraan dari masing-masing budaya dan menafikan keunggulan satu budaya pada budaya lain, (Pedersen,1988). Sebuah proses konseling dianggap sebagai konseling multicultural jika memenuhi situasi-situasi sebagai berikut :
– Apabila konselor dan konseli merupakan individu yang berbeda latar budayanya.
– Konselor dan konseli dapat berasal dari satu ras yang sama, namun memiliki perbedaan dalam : jenis kelamin, usia, orientasi seksual, reregius, social ekonomi dan lain-lain, ( Sue et el, 1982) .
Draguns (1989), menawarkan point kunci dalam pelaksanaan konseling multicultural yaitu :
1. Teknik konseling harus dimodifikasi jika terjadi proses yang melibatkan latar belakang budaya yang berbeda.
2. Konselor harus mempersiapkan diri dalam memahami kesenjangan yang makin meningkat antara budayanya dengan budaya konseli pada saat proses konseling berlangsung.
3. Konsepsi menolong atau membantu harus berdasarkan pada perspektif budaya konseli, dan konselor dituntut memiliki kemampuan mengkomunikasikan bantuannya serta memahami distrees dan kesusahan konseli.
4. Konselor dituntut memahami perbedaan gejala dan cara menyampaikan keluhan masing-masing kelompok budaya yang berbeda.
5. Konselor harus memahami harapan dan norma yang mungkin berbeda antara dirinya dengan konseli.
Kelima aspek tersebut menunjukkan konselor sebagai actor utama dalam proses dituttut memiliki kemampuan dalam memodifikasi teknik konseling dan memahami aspek-aspek budaya dari konselinya serta memahami kesenjangan dan perbedaan antara budayannya dengan budaya konseli.

c. Prinsip-prinsip Dasar Konseling multikultural
Dalam melaksanakan konseling Multikultur pendapat beberapa prinsif yang harus dijalankan secara sinergis oleh konselor, konseli, dan proses konseling yang melibatkan kedua pihak secara timbal balik. Sebagai inisiator dan pihak yang membantu, konselor wajib memahami prinsip-prinsip tersebut dan mengaplikasikannya, dalam proses konseling. Adapun prinsip-prinsip dasar yang dimaksut adalah sebagai berikut :
1. Untuk konselor
– Kesadaran terhadap pengalaman dan sejarah dalam kelompok budayanya.
– Kesadaran tentang pengalaman diri dalam lingkungan arus besar kulturnya.
– Kepekaan perceptual terhadap kepercayaan diri dan nilai-nilai yang dimilikinya.
2. Untuk pemahaman konseli
– Kesadaran dan pengertian/pemahaman tentang sejarah dan pengalaman budaya konseli yang dihadapi.
– Kesadaran perceptual akan pemahaman dan pengalaman dalam lingkungan kultur dari konseli yang dihadapi.
– Kepekaan perceptual terhadap kepercayaan diri konseli dan nilai-nilainya.
3. Untuk proses konseling
– Hati-hati dalam mendengarkan secara aktif, konselor harus dapat menunjukkan baik secara verbal maupun nonverbal bahwa ia memahami yang dibicarakan konseli, dan dapat mengkomunikasikan tanggapannya dengan baik sehingga dapat dipahami oleh konseli.
– Memperhatikan konseli dan situasinya seperti konselor memperhatikan dirinya dalam situasi tersebut, serta memberikan dorongan optimisme dalam menemukan solusi yang realistis.
– Mempersiapkan mental dan kewaspadaan jika tidak memahami pembicaraan konseli dan tidak ragu-ragu memintak penjelasan. Dengan tetap memelihara sikap sabar dan optimis.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa prinsip-prinsip tersebut menuntut konselor dapat memahami secara baik tentang situasi budayanya dan budaya konseli, serta memiliki kepekaan konseptual terhadap respon yang diberikan konseli, sehingga dapat mendorong optimisme, dalam mendapatkan solusi yang realistis. Konselorpun harus memiliki sikap sabar, optimis dan waspada jika tidak dapat memahami pembicaraan konseli serta tidak ragu-ragu memintak penjelasan agar proses konseling berjalan efektif.

d. Karakteristik konselor multikultural
Untuk dapat melaksanakan proses konseling multikultural secara efektif, konselor multikultural dituntut memiliki beberapa kemampuan atau kopetensi.( Sue , 1978), menyebutkan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh konselor multicultural sebagai berikut :
1. Mengenali nilai dan asumsi tentang perilaku yang diinginkan dan tidak diingikan.
2. Memahami karakteristik umum tentang konseling.
3. Tanpa menghilangkan peranan utamanya sebagai konselor ia harus dapat berbagi pandangan dengan konselinya.
4. Dapat melaksanakan proses konseling secara efektif.
Selain ke empat aspek tersebut, dalam artikelnya 1981, Sue menambahkan beberapa kompetensi yang harus dimiliki konselor multicultural sebagai berikut :
1. Menyadari dan memiliki kepekaan terhadap budayanya.
2. Menyadari perbedaan budaya antara dirinya dengan konseli serta mengurangi efek negative dari perbedaan atau kesenjangan tersebut dalam proses konseling.
3. Merasa nyaman dengan perbedaan antara konselor dengan konseli baik menyangkut ras maupun kepercayaan.
4. Memiliki informasi yang cukup tentang cirri-ciri khusus dari kelompok atau budaya konseli yang akan ditangani.
5. Memiliki pemahamn dan keterampilan tentang konseling dan psikoterapi.
6. Mampu memberikan respon yang tepat baik secara verbal maupun non verbal.
7. Harus dapat menerima dan menyampaikan pesan secara teliti dan tepat baik verbal maupun non verbal.
Sebelas kompetensi yang menjadi karakteristik konselor multicultural seperti dikemukakaan Sue tersebut dapat disarikan dalam 3 aspek besar yaitu : Pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan demikian seorang konselor multicultural harus memiliki pengetahuan tentang teknik konseling dan social budaya , sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, serta keterampilan dalam memodifikasi teknik-teknik konseling secara efektif dalam latar budaya yang berbeda-beda. Menyangkut konselor Indonesia perlu pula memahami cirri-ciri khusus budaya dan sub budaya dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam serta mampu menjadikan keanekaragaman tersebut sebagai unsure persatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Selain memiliki keanegaragaman budaya dan kepercayaan dalam masyarakat Indonesia terdapat beberapa kelompok khusus lainnya. Salah satu kelompok yang dimaksud adalah kelompok penyandang cacat. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, kelompok ini memerlukan ruang dan pemberian kesempatan untuk dapat hidup wajar bersama masyarakat lainnya. Namun demikian , keunikan perilaku yang mereka tunjukkan, kendala yang mereka hadapi, dan diskriminasi yang mereka peroleh, menyebabkan kelompok penyandang cacat dinilai sebagai kelompok marjinal dan beban masyarakat.
Untuk menangulangi masalah tersebut, konseling dan psikoterapi multicultural dapat menjadi salah satu solusi. Oleh karena itu konselor multicultural perlu memiliki empati dan kompetensi dalam memberikan bantuan kelompok penyandang cacat sehingga dapat mendorong mereka berkiprah secara wajar ditengah masyarakatnya.

e. Keadaan orang – orang cacat
Keadaan orang cacat merupakan penghambat bagi pelaksanaan konseling. Keadaan cacat yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi perilaku, sikap, kepekaan perasaan, dan reaksinya terhadap lingkungan. Nathanson (dalam Brown et al., 1988) meninjau sejumlah literature mengenai sikap para professional yang menangani orang-orang yang cacat. Karena tidak luput dari prasangka (bias), konselor kadang-kadang secara tidak sadar juga mengungkapkan problemnya. Nathanson mengidentifikasi pelanggaran-pelanggaran yang umum dilakukan konselor terhadap integritas kaum cacat :
1. Memandang bahwa satu factor penghambat dapat menjalar keaspek lain seseorang, sehingga keseluruhan individu itu dinilai hanya dari satu cirri fisiknya saja.
2. Keliru mengasihani seorang individu dengan memandangnya sebagai individu yang rapuh, tak ada harapan lagi, penuh penderitaan, frustasi dan ditolak.
3. Merusak peluang individu untuk menunjukkan tanggung jawab dan keyakinan diri dengan terlalu cepat (gampang) mendorong orang lain memberikan orang cacat tersebut “istirahat”
4. Menghambat antusiasme dan optimism klien dengan jalan terlalu cepat membatasi klien untuk bertindak dengan harapan agar ia terhindar dari kegagalan.
5. Menolak klien karena tidak sanggup mengatasi masalah cacat fisik klien tanpa memperlihatkan perubahan sikap yang tiba-tiba dan rasa jijik.
6. Berlebih-lebihan menilai ( memuji) prestasi seorang klien dengan kata-kata seperti” mengagumkan” atau “ hebat” yang mempunyai implikasi bahwa kebanyakan kaum cacat adalah inferior.
Agar dapat berhasil membantu kaum cacat, konselor perlu mempunyai berbagai keterampilan, di samping ia perlu meneliti sikap-sikapnya sendiri dan bahasa yang digunakannya. Sikap konselor pada saat berhubungan dengan orang cacat perlu ditinjau lagi, respon spontannya, bagaimana ia berbicara, cara ia memandang dan sebagainnya, akan mempengarui proses konseling. Demikian juga penggunaan bahasa oleh konselor harus tepat, baik dalam komunikasi umumnya dengan orang cacat, atau pada waktu mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan cacat seseorang ( tidak salah sebut, atau melebih-lebihkan).
Kecacatan dapat dibedakan dalam beberapa kelompok seperti tunanetra, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa dan tunalaras. Tunanetra merupakan salah satu kelompok penyandang cacat yang memerlukan bantuan konseling. Bantuan tersebut diperlukan untuk mendorong mereka menangulangi kendala yang dihadapi, sehingga mereka dapat hidup secara wajar, mandiri dan bahkan menunjukkan partisipasi aktifnya dalam kehidupan masyarakat. Untuk dapat memberikan bantuan yang optimal pada kelompok tunanetra, kiranya perlu dikemukakan permasalahan umum yang dihadapi tunanetra.
Secara umum tunanetra menghadapi permasalahan yang dapat digolongkan dalam dua kelompok besar yaitu, masalah exsternal dan internal. Masalah exsternal berupa perlakuan, sikap dan pemberian kesempatan dari pihak lain kepada tunanetra. Adapun masalah internal dapat berupa keterbatasan/hambatan fisik, sikap, perilaku, serta motivasi dan kemampuan social dari tunanetra itu sendiri. Diantara sejumlah permasalah internal yang dihadapi anak tunanetra, ada tiga masalah krusial yang akan dikemukakan pada tulisan ini. Dengan demikian akan diperoleh pula cara mendorong penanggulangan masalah-masalah tersebut melalui konseling multicultural.

f. Masalah perkembangan emosi anak tunanetra.
Salah satu variabel determinan perkembangan emosi adalah variabel organisme, yaitu perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi bila seseorang mngalami emosi. Sedangkan variabel lainnya ialah setimulus atau rangsangan yang menimbulkan emosi, serta respon atau jawaban terhadap rangsangan yang datang dari lingkungannya. Secara umum dari ketiga variabel tersebut yang tidak dapat diubah oleh pendidikan adalah variabel organisme.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan untuk member respon secara emosional sudah dijumpai sejak bayi baru lahir. Mula-mula bersifat tak terdeferensiasi atau random dan cenderung ditampilkan dalam bentuk perilaku atau respon motorik menuju kearah terdeferensiasi dan dinyatakan dalam respon-respon yang bersifat verbal. Pola atau bentuk pernyataan emosi pada anak-anak relative tetap kecuali mengalami perubahan-perubahan yang drastic dalam aspek kesehatan, lingkungan, dan hubungan personal. Perkembangan emosi juga sangat dipengaruhi oleh kematangan, terutama kematangan intelektual dan kelenjar endokrin, serta proses belajar baik melalui proses belajar coba-coba gagal, imitasi, maupun kondisioning. Namun demikian proses belajar jauh lebih penting pengaruhnya terhadap perkembangan emosi dibandingkan dengan kematangan karena proses belajar dapat dikendalikan atau dikontrol. Kematangan emosi ditunjukkan dengan adanya keseimbangan dalam mengendalikan emosi baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat kita pradugakan bahwa perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan anak yang awas. Keterlambatan ini terutama disebabkan oleh keterbatasan kemampuan anak tunanetra dalam proses belajar. Pada awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan melakukan proses belajar mencoba-coba untuk menyatakan emosinya., namun hal ini tetap dirasakan tidak efisien karena dia tidak dapat melakukan pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara tepat. Akibatnya pola emosi yang ditampilkan mungkin berbeda atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh diri maupun lingkungannya.
Pada bayi yang normal, ia dapat tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajah tertentu untuk menunjukkan perasaan senangnya karena ia mampu melihat dan menirukan perilaku orang lain yang ditunjukkan kepadanya pada saat senang. Pada anak tunanetra, hal semacam itu tentu sangat sulit untuk dipelajari maupun diajarkan. Bentuk pernyataan emosi yang bersifat nonverbal cenderung dilakukan melalui proses belajar imitasi, yaitu dengan melakukan aktivitas pengamatan visual terhadap orang-orang lain disekitarnya dalam mereaksi situasi tertentu. Kesulitan bagi anak tunanetra ialah ia tidak mampu belajar secara visual tentang stimulus-stimulus apa saja yang harus diberi respon emosional serta respon-respon apa saja yang diberikan terhadap stimulus-stimulus tersebut. Dengan kata lain anak tunanetra memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi secara emosional melalui ekspresi atau reaksi-reaksi wajah atau tubuh lainnya untuk menyampaikan perasaan yang dirasakannya kepada orang lain. Bagi anak tunanetra pernyataan-pernyataan emosi cenderung dilakukan dengan kata-kata atau bersifat verbal dan ini pun dapat dilakukan secara tepat sejalan dengan bertambahnya usia, kematangan intelektual, dan kemampuan berbicara atau berbahasa. Karena sangat sulit bagi kita untuk mengetahui bagaimana kondisi emosional anak tunanetra sebelum ia mampu berbahasa dengan baik kecuali dengan melakukan pengamatan terhadap kebiasaan-kebiasaan gerak motorik yang ditampilkan sebagai cerminan pernyataan emosinya. Akan sangat sulit bagi orang asing atau yang baru kenal untuk menebak kondisi emosional anak tunanetra hanya dengan melihat penampilan ekspresi wajahnya tanpa disertai ungkapanan kata-katanya. Namun demikian bukan berarti bahwa anak tunanetra tidak mampu menunjukkan perasaan emosinya dengan ekspresi wajah atau tubuh lainnya. Dengan diajarkan secara intensif, anak tunanetra juga mampu berkomunikasi secara emosional melalui pernyataan emosi yang bersifat nonverbal.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila anak tersebut mengalami deprivasi emosi, yaitu keadaan dimana anak tunanetra tersebut kurang memiliki kesempatan untuk menghayati pengalaman emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang cenderung mengalami deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada masa awal kehidupan atau perkembangannya ditolak perhatiannya oleh lingkungan keluarga atau lingkungannya. Deprivasi emosi ini akan sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan lainnya seperti kelambatan dalam perkembangan fisik,motorik, bicara, intelektual, dan sosialnya. Disamping itu, ada kecenderungan bahwa anak tunanetra yang dalam masa awal perkembangannya mengalami deprivasi emosi akan bersifat menarik diri, mementingkan diri sendiri, serta sangat menuntut pertolongan atau perhatian dan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya.
Masalah-masalah lain yang sering muncul dan dihadapi dalam perkembanagan emosi anak tunanetra ialah ditampilkannya gejala-gejala emosi yang tidak seimbang atau pola-pola emosi yang negative dan berlebihan. Semua ini terutama berpangkal pada ketidakmampuannya atau keterbatasannya dalam penglihatan serta mengalaman-pengalaman yang dirasakan atau dihadapi dalam masa perkembangannya. Beberapa gejala atau pola emosi yang negative dan berlebihan tersebut adalah perasaan takut, malu, khawatir, cemas, mudah marah, iri hati, serta kesedihan yang berlabihan.
Perasaan takut yang berlabihan pada anak tunanetra biasanya berhubungan dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengenal bahaya serta penilaian kritis terhadap lingkungannya. Ketikmampuannya dalam melihat mengakibatkan ia tidak mampu mendeteksi secara tepat kemungkinan-kemungkinan bahaya yang dapat mengancam keselamatannya. Akibatnya anak tunanetra cenderung memiliki perasaan dan bayangan adanya bahaya yang jauh lebih banyak dan jauh lebih besar disbanding dengan orang awas. Kondisi ini diperberat dengan ketidakmampuam atau keterbatasannya dalam menghadapi atau menghindari dari bahaya tersebut, apalagi jika bahaya tersebut datang secara tiba-tiba, serta pengalamannya dalam melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya yang begitu banyak dihadapkan pada berbagai resiko. Kita sendiri dapat mengbayangkan bagaimana takutnya berada dalam situasi yang penuh kegelapan, walaupun kita memiliki kemampuan dan pengalaman untuk menghindari atau menghadapi bahaya yang mungkin datang.
Sekaliapun anak tunanetra tidak mampu melihat lingkungannya, perasaan malu seringkali menghinggapi mereka. Hal ini terutama dalam memasuki duniayang masih asing baginya. Sifat ini seringkali desebabkan karena keluarbiasaannya serta sebagai reaksi terhadap ketidaktahuan dan ketidakpastian reaksi orang lain terhadap diri dan perilakunya. Sedangkan perasaan khawatir dan cemas seringkali menghinggapi anak tunanetra sebagai akibat dari ketidakmampuan atau keterbatasan dalam memprediksikan dan mengantisipasi kemungkinan-kamungkinan yang terjadi dilingkungannya dan menimpa dirinya. Sedangkan perasaa iri hati biasanya muncul karena kurang atau hilangnya kasih sayang dari lingkungannya. Biasanya tumbuh dan berkembang dari reaksi lingkungan terhadap dirinya yang ternyata diperlukan secara berbeda karena kecacatannya.

g. Masalah perkembangan social anak tunanetra
Perkembangan social berarti dikuasainya seperangkat kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak tunanetra penguasaan seperangkat kemampuan bertingkah laku tersebut tidaklah mudah. Dibandingkan dengan anak awas, anak tunanetra lebih banyak menghadapi masalah dalam perkembangan social. Hambatan-hambatan tersebut terutama muncul sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraannya. Kurangnya motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan social yang lebih luas atau baru, perasaan-perasaan rendah diri, malu sikap-sikap masyarakat yang seringkali tidak menguntungkan seperti penolakan, penghinaan, sikap tak acuh, ketidakjelasan tuntunan social, serta terbatasnya kesempatan bagi anak untuk belajar tentang pola-pola tingkah laku yang diterima merupakan kecenderungan tunanetra yang dapat mengakibatkan perkembangan sosialnya menjadi terlambat. Kesulitan lain dalam melaksanakan tugas perkembangan social ini ialah keterbatasan anak tunanetra untuk dapat belajar social melalui proses identifikasi dan imitasi. Ia juga memiliki keterbatasan untuk mengikuti bentuk-bentuk permainan sebagai wahana penyerapan norma-norma atau aturan-aturan dalam bersosialisasi.
Pengalaman social anak tunanetra pada usia dini yang tidak menyenangkan sebagai akibat dari sikap dan perlakuan negative orang tua dan keluargannya akan sangat merugikan perkembangan anak tunanetra. Hal ini karena usia tersebut merupakan masa-masa kritis dimana pengalaman-pengalaman dasar social yang terbentuk pada masa itu akan sulit untuk diubah dan terbawa sampai usia dewasa. Anak tunanetra yang mengalami pengalaman social yang menyakitkan pada usia dini cenderung akan menunjukkan perilaku-perilaku untuk menghindar atau menolak partisipasi social atau pemilihan sikap social yang negative pada tahapan perkembangan berikutnya. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpagan-penyimpangan dalam perkembangan social anak tunanetra, sikap dan perlakuan orang tua dan keluarga tunanetra nampaknya harus menjadi perhatian terutama pada usia dini.
Masa sosialisasi sesungguhnya akan terjadi pada saat anak memasuki lingkungan pendidikan kedua, yaitu sekolah. Pada masa ini anank akan dihadapkan pada berbagai aturan dan desiplin serta penghargaan terhadap orang lain. Masa transisi dari orientasi lingkungan keluarga kesekolah seringkali menimbulkan masalah-masalah pada anak, termasuk anak tunanetra. Bagi anak tunanetra memasuki sekolah atau lingkungan yang baru adalah saat-saat yang kritis, apalagi ia sudah merasakan dirinya berbeda dengan orang lain yang tentunya akan mengundang berbagai reaksi tertentu yang mungkin menyenangkan atau sebaliknya. Ketidaksiapan mental anak tunannetra dalam memasuki sekolah atau lingkungan baru atau kelompok lain yang berbeda atau lebih luas seringkali mengakibatkan anak tunanetra gagal dalam mengembangkan kemampuan sosialnya. Apabila kegagalan tersebut dihadapi sebagai suatu kenyataan dan tantangan, maka biasanya akan menjadi modalitas utama dalam memasuki lingkungan yang baru berikutnya. Namun bila kegagalan dihadapi sebagai suatu ketidakmampuan, maka sikap-sikap ketidakberdayaan yang akan muncul menumpuk menjadi sebuah rasa putus asa yang mendalam dan akhirnya anak menghindari kontak social, menarik diri, dan apatis. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa bagaimana perkembangan social anak tunanetra sangat tergantung pada bagaimana perlakuan dan penerimaan lingkungan terutama lingkungan keluarga terhadap anak tunanetra itu sendiri. Akibat ketunanetraan secara langsung atau tidak langsung, akan berpengaruh terhadap perkembangan social anak seperti keterbatasan anak untuk belajar social melalui identifikasi maupun imitasi, keterbatasn linkungan yang dapat dimasuki anak untuk memenuhi kebutuhan ssosialnya, serta adanya factor-faktor psikologis yang menghambat keinginan anak untuk memasuki lingkungan sosialnya secara bebas dan aman.

h. Masalah perkembangan kepribadian anak tunanetra.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan sifat kepribadian antara anak tunanetra dengan anak awas. Ada kecenderungan anak tunnetra relative lebih banyak yang mengalami gangguan kepribadian dicirikan dengan introversi, neurotic, frustasi dan regiditas (kekakuan) mental. Namun demikian, disisi lain terdapat pula hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam hal penyesuaian diri antara anak yang tunanetra dengan anak awas. Dalam hal tes kepribadian dikemukakan pula bahwa tes-tes kepribadian yang sudah standarpun tidak secara khusus diperuntukkan bagi tunanetra. Situasi kehidupan yang berbeda antara anak tunanetra dengan anak awas seringkali menimbulkan tafsiran yang berbeda pula terhadap sesuatu yang diajukan.
Mengenai peran konsep diri dalam penyesuaian terhadap lingkungannya, Devis(Kirtley, 1975) menyatakan bahwa dalam proses perkembangan awal, diferensiasi konsep diri merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai. Untuk memasuki lingkungan baru, seorang anak tunanetra harus dibantu oleh ibu atau orang tuanya melalui proses komunikasi verbal, memberikan semangat, dan memberikan gambaran lingkungan tersebut sejelas-jelasnya seperti anak tunanetra mengenal tubuhnya.
Hasil penelitian lain juga menunjukan anak-anak tunanetra yang tergolong setengah melihat memiliki kesulitan yang lebih besar dalam menemukan konsep diri dibanding orang yang buta total. Kesulitan tersebut terjadi karena mereka sering mengalami konflik identitas dimana suatu saat ia oleh lingkunganya disebut anak awas tetapi pada saat yang lain disebut sebagai orang buta atau tunanetra. Bahkan seringkali ditemukan anak-anak tunanetra golongan ini mengalami krisis identitas yang berkepanjangan. Konsep diri adalah salah satu determinan dari perilaku pribadi, dengan demikian ketidakpastian konsepdiri anak tunanetra akan memunculkan masalah-masalah penyesuaian seperti dalam masalah seksual, hubungan pribadi, mobilitas,dan kebebasan. Ada kecenderungan pula bahwa anak-anak tunannetra setelah lahir akan lebih sulit menyesuaikan diri dibandingkan dengan tunanetra sejak lahir. Disamping itu, Sukini Pradopo (1976) mengemukakan gambaran sifat anak tunanetra diantaranya adalah ragu-ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain. Sedangkan Sommer menyatakan bahwa anak tunanetra cenderung memiliki sifat-sifat yang berlebihan, menghindari kontak social, mempertahankan diri dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui kecacatannya.

i. Aplikasi
Untuk mengaplikasikan layanan konseling multicultural dalam membantu tunanetra, perlu dikemukakan kembali tiga permasalahan atau tiga factor internal yang dihadapi anak tunanetra. Berdasarkan permasalahan tersebut dapat dirumuskan langkah-langkah atau layanan konseling yang diperlukan. Adapun permasalahan yang dihadapi tunanetra antara lain sebagai berikut:
1. Perkembangan emosional.
Gangguan atau hambatan perkembangan emosional terjadi karena pada usia dini tunanetra tidak mampu mengespresikan atau merespon stimulus emosional yang diterima secara non verbal. Solusi yang mungkin ditempuh adalah mengajarkan dan menerjemahkan exspresi-exspresi emosional non verbal kedalam exspresi verbal. Dalam hal ini konselor multicultural perlu memahami exspresi-exspresi non verbal dalam lingkungan tempat tinggal anak tunanetra dan mampu menerjemahkannya kedalam bahasa verbal. Konselorpun harus mengetahui penyebab ketunanetraan dari konselinya, sehingga terapi yang tepat dapat diberikan kepada tunanetra baru yang mengalami trauma atau gangguan emosional akibat kebutaan yang baru dihadapinya.
2. Perkembangan social anak tunanetra.
Masalah perkembangan social terjadi karena besarnya penolakan masyarakat terhadap tunanetra atau karena kurangnya motivasi dan ketakutan tunanetra dalam menghadapi lingkungannya. Solusi kongkret yang dapat ditempuh konselor dalam menanggulagi masalah perkembangan anak tunanetra adalah memberikan motivasi dan latihan kemandirian dalam perspektif budaya tunanetra yang diintergrasikan dengan perspektif social budaya masyarakat lingkungannya. Pengalaman-pengalaman intergrasi social dapat diberikan melalui pembauran yang wajar, sehingga pada saat yang bersamaan memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi partisipasi aktif tunanetra dalam masyarakat.
3. Perkembangan kepribadian anak tunanetra.
Merujuk pada berbagai hasil penelitian, tidak terdapat perbedaan signifikan dalam perkembangan kepribadian anak tunanetra dengan anak awas. Perbedaan signifikan terdapat pada pengenalan konsep diri. Oleh karena itu konselor harus dapat mengkomunikasikan keadaan dan kondisi konseli yang tunanetra serta membantunya memasuki dunia atau lingkungan baru melalui pengenalan komunikasi verbal, pemberian semangat dan motivasi. Bagi tunanetra yang memiliki sisa penglihatan, pengenalan konsep diri lebih sulit lagi, karena adanya konflik identitas. Dalam hal ini konselor harus dapat mendorong anak tersebut untuk memfungsikan penglihatan yang masih tersiksa semaksimal mungkin, serta mempersiapkan yang bersangkutan untuk menghadapi kondisi berkurang dan atau bahkan hilangnya penglihatan. Pelatihan dan pembekalan ini selain melibatkan pemberian motivasi juga, melibatkan layanan terapi untuk memelihara penglihatan yang tersisa. Dengan cara demikian tunanetra tersebut akan dapat memaksimalkan penglihatannya selagi masih ada, dan tidak akan mengalami depresi ketika penglihatannya menurun bahkan hilang. Melalui konseling dan pelatihan yang tepat tunanetra dapat menjadi pribadi yang tangguh dan siap berkipra secara wajar ditengah masyarakatnya.

C. KESIMPULAN
1. Konseling multicultural merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap konsep dan budaya lain terutama bagi konselor agar dapat memberikan bantuan secara efektif sesuai perspektif budaya konseling.
2. Untuk dapat memberikan konseling multicultural secara efektif, konselor multicultural harus dapat memahami karakterbudaya dari konselingnya, serta merancang segala tindakan dalam perspektif budaya konseling.
3. Beberapa prinsip dasar yang harus disadari konselor dalam melaksanakan konseling multicultural antara lain :
a. Kesadaran tentang kemampuan konselor
b. Kesadaran tentang memahami konseli dan nilai-nilainya.
c. Kesadaran tentang kemampuan melaksanakan proses konseling yang mampu mendorong optimisme dan menemukan sulusi yang realistis.
4. Sebelas kompetensi yang menjadi karakteristik konselor multicultural seperti dikemukakaan Sue tersebut dapat disarikan dalam 3 aspek besar yaitu : Pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan demikian seorang konselor multicultural harus memiliki pengetahuan tentang teknik konseling dan social budaya , sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, serta keterampilan dalam memodifikasi teknik-teknik konseling secara efektif dalam latar budaya yang berbeda-beda. Menyangkut konselor Indonesia perlu pula memahami cirri-ciri khusus budaya dan sub budaya dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam serta mampu menjadikan keanekaragaman tersebut sebagai unsure persatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
5. Masalah dan dampak ketunanetraan dalam perkembangan emosi, social dan kepribadian dapat ditanggulangi melalui konseling multicultural sepanjang konselor memiliki kompetensi dalam konseling serta empati dan pemahaman yang benar terhadap tunanetra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: