PENDAPAT GURU SEKOLAH LUAR BIASA SE-KOTA PADANG TERHADAP PELAKSANAAN KEGIATAN PRAMUKA LUAR BIASA

A. JUDUL: PENDAPAT GURU SEKOLAH LUAR BIASA SE-KOTA PADANG TERHADAP PELAKSANAAN KEGIATAN PRAMUKA LUAR BIASA
B. BIDANG KEILMUAN: PENDIDIKAN
C. PENDAHULUAN
Cakupan pendidikan dalam arti luas terdiri dari pendidikan formal, non formal, dan informal. Pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah-sekolah terdiri dari program intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang termasuk ke dalam program ekstrakurikuler diantaranya: perlombaan antar kelas, Palang Merah Remaja (PMR), pesantren kilat, Pramuka dan lain-lain.
Gerakan kepramukaan sebagai suatu organisasi yang masuk dalam program yang menyelenggarakan kegiatan yang lebih mengarahkan anak didik untuk menanamkan dan menumbuhkan budi pekerti yang luhur.
Kegiatan pramuka sangat menarik perhatian dan minat siswa, Pramuka terdiri dari berbagai aktivitas yang mengandung ilmu pengetahuan dan keterampilan bersifat praktek, dan penerapan ilmu, meliputi, memiliki kemantapan mental, moral, fisik, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu Munas Gerakan Pramuka (1996:6) menyatakan :
Gerakan pramuka berfungsi sebagai lembaga pendidikan diluar sekolah dan diluar keluarga serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda, menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan Serta Sistem Among, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia .

Gerakan pramuka merupakan salah satu wadah dan usaha pembinaan generasi muda, yaitu anak-anak dan pemuda yang berusia 7 sampai dengan 25 tahun. Prinsip Dasar Pendidikan Kepramukaan pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia.
Seiring dengan kegiatan Pramuka, di Sekolah Luar Biasa (SLB) program pendidikan anak luar biasa diprioritaskan pada program pendidikan yang bersifat praktis dan dapat mengembangkan kemampuan ke arah kemandirian. Proses pemberian pendidikannya melaksanakan kegiatan-kegiatan praktis, sehingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler lebih tepat diberikan kepada anak luar biasa. Sementara itu dari sekian banyak jumlah SLB di Kota Padang, yang baru mempunyai Gugus depan (Gudep) terdiri dari 11 gudep. Kondisi dan keadaannya tergantung pada yayasan, sekolah, guru, jumlah murid maupun dukungan dari orang tua. Melihat kondisi demikian, semangat dan kemauan dari gudep untuk mengikuti kegiatan sangat antusias dalam kepramukaan. Namun masih ada SLB yang belum memiliki gudep dan penyelenggaraan kegiatan pramuka tidak terjadwal. Hal demikian mkemungkinan disebabkan oleh beberapa factor antara lain; a) tidak terdapatnya kualifikasi guru yang sudah memiliki kemampuan mahir dasar dalam bidang kepramukaan, 2) tidak memiliki lapangan untuk latihan pramuka, c) kekurang pedulian dari guru-guru terhadap pramuka bagi ALB.
Kegiatan-kegiatan Gudep SLB di Kota Padang seperti, Jambore Daerah maupun Pertemuan Pramuka Luar Biasa (PPLB). Di awal Februari 2003 kemarin telah diadakan kegiatan pramuka luar biasa yang memiliputi wilayah Sumbar dan Riau. Ternyata kegiatan tersebut disambut dengan berbagaiantusias bagi sekolah yang ikut dan juga ada yang berpendapat pesimis sekali terhadap kemampuan anak.
Namun berdasarkan wawancara awal dengan para pembina pramuka SLB se-kota Padang diperoleh informasi bahwa semua kegiatan kepramukaan tersebut dapat diikuti oleh peserta didik dengan baik. Lebih lanjut dikatakan berhasil dibawah binaan guru-guru atau pembina masing-masing gudep walaupun mereka belum mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) dalam bidang kepramukaan. Orang tua Anak Luar Biasa ikut mendukung dengan cara memberikan izin kepada anaknya mengikuti kegiatan kepramukaan.
Berdasarkan paparan diatas yang menyatakan bahwa walaupun masih ada SLB yang belum meiliki Gudep atau tidak melaksanakan latihan kepramukaan dengan terjadwal, tapi pada kenyataanya mereka meyembut kegiatan pramuka jika ada. Kenyataan tersebut membuat peneliti ingin mengetahui pendapat guru sekolah luar biasa terhadap pelaksanaan kegiatan kepramukaan luar biasa di Kota Padang yang didasari dengan berbedanya latar belakang guru-guru dan kemampuan dalam melaksanakan kegiatan pramuka.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan paparan yang telah melatar belakangi permasalahan maka rumusan masalah penulis tentukan sebagai berikut::
1. Bagaimana Pendapat guru-guru SLB se Kota Padang tentang Pelaksanaan Pramuka Luar Biasa ?
2. Apakah terdapat Perbedaan pendapat antara guru-guru ditinjau dari sisi tingkat pendidikan, lama mengabdi, status pegawai negeri dan honorer ?
3. Apakah terdapat korelasi signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pramuka luar biasa ?
E. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Kepramukaan.
Pendidikan dalam gerakan pramuka dilaksanakan melalui proses pendidikan di luar lingkunagn sekolah dan diluar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar dan metode kepramukan yang sasaran akhirnya pembentukan watak. Gerakan pramuka di maksudkan dan diartikan secara luas sebagai suatu proses pembinaan sepanjang hayat yang berkesinambungan sumber daya/potensi peserta didik, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, sehingga menjadikan mereka sebagai manusia mandiri, peduli, bertanggung jawab dan berpegang teguh pada nilai dan norma masyarakat. Proses pendidikan terjadi karena adanya dua atau lebih manusia bertemu dalam pertemuan yang interaktif dan komunikatif. Pertemuan itu mulai di tingkat satuan terkecil (Barung Siaga, Regu Penggalang, Sangga Penegak, Reka Pandega), satuan besar (Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak, Racana Pandega), dan pertemuan ditingkat Gudep, Ranting, Cabang, Daerah, Nasional dan Internasional.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1999:24) mengemukakan pengertian Kepramukaan sebagai berikut dibawah ini:
Kepramukaan adalah proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan yang selaras akhirnya pembentukan watak dan kepribadian serta budi pekerti.

Suatu upaya untuk mengisi kebutuhan peserta didik yang tidak terpenuhi oleh pendidikan sekolah dan pendidikan dalam keluarga, hal itu dapat dilengkapi oleh kegiatan pramuka .Kegiatan tersebut dapat mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, minat untuk melakukan penjelajahan atau penelitian, penemuan dan keinginan untuk tahu. Melalui kepramukaan secara terus menerus dan berkesinambungan, peserta didik menemukan dunia lain diluar kelas, saling bertukar pendapat, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan kepramukaan.
Batasan mengenai Kepramukaan tersebut dapat juga kita ambil dari usaha gerakan pramuka dalam mencapai tujuannya seperti dikatakan labih lanjut oleh:
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1999:7) bahwa :
Gerakan pramuka dalam mencapai tujuannya melakukan usaha membina, melatih jasmani, panca indra, daya pikir, penelitian, kemandirian dan sikap otonomi, keterampilan dan hasta karya.

2. Prinsip Dasar Kepramukaan
Prinsip Dasar Kepramukaan sebagai norma hidup seorang anggota gerakan pramuka, ditanamkan dan ditumbuh kembangkan melalui proses penghayatan oleh, dari, dan untuk diri pribadinya. Peserta didik dibantu oleh pembina sehingga pelaksanaan dan pengamatannya dilakukan dengan penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggung jawab, serta keterkaitan moral, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat. Menerima secara sukarela prinsip dasar kepramukaan adalah hakekat pramuka, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, maupun individu yang menyadari bahwa diri pribadinya.
Mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan beribadah sesuai tata cara agama yang dipeluknya, serta menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mengakui bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan makhluk lain yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa khususnya sesama manusia yang tidak diberi derajat yang lebih mulia dari makhluk lainnya. Dalam kehidupan bersama didasari oleh prinsip peri kemanusiaan yang adil dan beradab. Diberi tempat untuk hidup dan berkembang oleh Tuhan Yang Maha Esa di bumi yang berunsurkan tanah, air dan udara yang merupakan tempat bagi manusia untuk hidup bersama, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan rukun dan damai.
Memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial serta memperkokoh persatuan, menerima kebhinekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memerlukan lingkungan yang bersih dan sehat agar dapat menunjang/memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidup dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik.
Prinsip Dasar Kepramukaan perlu ditanamkan pada peserta didik secara efektif dan efisien melalui kegiatan yang memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, yang akhirnya benar-benar menjadi bagian dari cara hidup peserta didik. Pelaksanaannya bukan diajarkan, bukan diinstruksikan, tetapi dididikkan secara sadar untuk menjadikan peserta didik sebagai manusia yang berimtaq (Iman dan Taqwa).
3. Program Peserta Didik (Prodik)
Kegiatan dalam kepramukaan sebagai bentuk proses pendidikan, merupakan totalitas apa yang dilakukan peserta didik dalam kepramukaan, bagaimana (metode) melakukannya, mengapa dilakukan (tujuan). Dengan kata lain kegiatan dalam kepramukaan yang dilakukan termasuk caranya dan tujuannya oleh peserta didik merupakan pengalaman total peserta didik. Pengalaman total ini merupakan proses pendidikan total peserta didik yang disebut dengan program peserta didik yang selanjutnya disingkat dengan Prodik. Kegiatan sebagai prodik harus sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi kaum muda dan masyarakat lingkungannya, bermanfaat baik untuk peserta didik maupun masyarakat, dan mentaati berdasarkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan serta menantang.
Apa yang dilakukan peserta didik, metode yang diterapkan dan tujuan yang mau dicapai, merupakan tiga bagian terpadu prodik. Kalau ketiga bagian itu tidak seimbang atau salah bagian tidak ada prodik tidak efektif. Dapat dimisalkan prodik sebagai tempat duduk berkaki tiga, kalau salah satu kakinya tidak berfungsi maka tempat duduk itu tidak ada gunanya. Apa yang dilakukan peserta didik berupa kegiatan merupakan faktor penting yang menarik peserta didik untuk mengikuti kegiatan secara sederhana diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan pramuka. Dari sudut pandang pendidikan, kegiatan ini merupakan pengalaman dalam kepramukaan yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditetapkan sebagai sasaran kegiatan.
Prodik meliputi semua aktivitas yang diikuti peserta didik dalam perkemahan, penjelajahan, pengabdian masyarakat, upaya untuk memperoleh TKU (Tanda Kecakapan Umum) dan TKK (Tanda Kecakapan Khusus), permainan, upacara, pertemuan barung, regu, sangga, perindukan, pasukan dan ambalan. Semua itu harus menarik dan menantang kaum muda. Kegiatan dalam kepramukaan sangat luas bahkan tidak terbatas bukanlah sifat kegiatan yang utama tetapi sasarannya. Metode pelaksanaannya melibatkan peserta didik dalam memutuskannya. Pengalaman merupakan penggerak pertumbuhan dan perkembangan pribadi peserta didik. Pengalaman dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi yang diikuti peserta didik dalam memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka. Prodik dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a Perencanaan : Disusun bersama peserta didik dan pembina pramuka sebelum kegiatan dilaksanakan.
b Pelaksanaan : Oleh peserta didik dengan dukungan pembina yang bertindak sebagai konsultan dan sebagai pembina atau pembimbing.
c Evaluasi : Oleh pembina dan peserta didik setelah kegiatan dilaksanakan.
Sasaran bina melalui periodik adalah kemantapan fisik, intelektual, emosi, sosial, dan spiritual peserta didik, sehingga akhirnya mereka menjadi pribadi yang mandiri, peduli, bertanggung jawab, teguh pada kebenaran yang diyakininya.
4. Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan tidak dapat dilepaskan dari Prinsip Dasar Kepramukaan (PDK) dan Metode Kepramukaan (MK) diterapkan secara terpadu. Keterkaitannya terletak pada pelaksanaan kode kehormatan pramuka, yang merupakan suatu sistem yang terdiri atas 8 (delapan) unsur yaitu : a). pengenalan kode kepramukaan, b). belajar sambil melakukan, c). sistem berkelompok, d). kegiatan yang menantang dan mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, e). kegiatan di alam terbuka, f). sistem tanda kecakapan, g). sistem satuan terpisah untuk putra dan putri, h). sistem among.
Peserta didik yang sebaya dikelompokkan dalam satuan kecil disebut barung, regu dan sangga yang beroperasi sebagai tim atau kelompok. Tiap tim diadakan pembagian tugas dan tanggung jawab demi kelangsungan hidup dan keberhasilan misi. Masing-masing tim memilih secara demokrasi pemimpin timnya. Pembina berperan sebagai pendukung, motivator, konsultan dan konselor.

5. Tingkat Dan Golongan Dalam Pramuka
Anggota Gerakan Pramuka dikelompokkan menurut umur serta kecakapan yang harus dimiliki. Adapun ruang lingkup pramuka digolongkan menjadi 4 golongan:
1. Golongan Siaga, umur 7-10 tahun dibagi atas a). siaga mula. b). siaga bantu, c). siaga tata. Anak seusia pramuka siaga dihimpun dalam satuan pramuka siaga yang disebut barung, satuan terkecil ini kemudian dihimpun dalam peridukan siaga. Dalam satuan inilah pramuka siaga mengalami proses pendidikan yang sesuai dengan perkenbangan anak yaitu seusia kepramukaan siaga. Jelasnya dunia anak merupa kan sebagian dari kepramukaan sebagai proses pendidikan progresif yang utuh atau komplit. Adapun macam pertemuan pramuka siaga yaitu : a). pertemuan kegiatan rutin disatuannya yang diselenggarakan seminggu sekali, b). pertemuan bersama yang disebut pesta siaga seperti: rekreasi, permainan bersama, bazar siaga, darma wisata, pentas seni dan budaya, perkemahan siang hari dan pawai hias.
2. Golongan penggalang, 11-15 tahun dibagi atas a). penggalang ramu, b). penggalang rakit, c). penggalang terap. Remaja usia pramuka penggalang dihimpun dalam satuan pramuka penggalang yang disebut regu, satuan terkcil ini kemudian dihimpun dalam pasukan penggalang. Bentuk kegiatan pramuka penggalang adalah : a). pertemuan dalam bentuk kegiatan rutin disatuan biasanya diselenggakan dalam seminggu sekali, b). pertemuan besar pramuka penggalang dapat diselenggakan antara lain dalam bentuk : latihan bersama, perkemahan, pentas seni/api unggun, penjelajahan, lomba tingkat regu penggalang, Jambore, perkemahan bakti penggalang.
3. Golongan penegak, umur 16-21 tahun dibagi atas : a). penegak bantara, b). penegak laksana. Pemuda seusia pramuka penegak dihimpun dalam satuan pramuka penegak yang disebut sangga, satuan terkecil ini kemudian dihimpun dalam ambalan penegak. Bentuk pertemuan pramuka penegak adalah : a). pertemuan dalam bentuk rutin di satuannya sendiri dalam kegiatan pengabdian diri sebelum melakukan kegiatan di luar satuannya, b). pertemuan bersama diselenggarakan dalam bentuk : pertemuan pramukan penegak putra dan putri disebut raimuna, seminar, lokakarya, diskusi, Latihan Pengembangan Kepemimpinan (LPK), Perkemahan Wirakarya (PW), Musyawarah Penegak Putra dan Putri (MUSPANITERA), temu satuan karya pramuka (Temu Saka), Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka (PERTISAKA).
4. Golongan pandega, umur 21-25 tahun, hanya terdiri dari satu tingkatan saja yaitu pandega. Adapun macam dan bentuk kegiatannya sama dengan kegiatan golongan penegak akan tetapi lebih banyak diarahkan pada kegiatan pengabdian masyarakat.
5. Kajian Konseptual Anak Luar Biasa
Anak luar biasa didefenisikan sebagai anak yang menyimpang dari kriteria normal atau rata-rata dalam mental, fisik dan neuromotor, sensorik, prilaku, komunikasi dan tunaganda. Untuk itu selanjutnya dijelaskan kalsifikasi tentang anak luar biasa.
a) Anak Tunanetra
Penglihatan adalah indra yang sangat penting bagi anak-anak dalam memperoleh informasi tentang alam lingkungan dimana mereka hidup. Ada dua pengertian tentang kerusakan penglihatan menurut ilmu kedokteran: seseorang yang ketajaman penglihatannya 20/200 atau kurang setelah perbaikan secara legal dinyatakan buta. Selain dari itu seseorang yang bidang penglihatannya sangat terbatas atau 20 derajat atau kurang secara legal dinyatakan buta.
Berdasarkan ilmu pendidikan anak buta mempunyai penglihatan yang sangat sedikit sehingga untuk belajar mereka harus menggunakan indera lain dengan mempertimbangkan keluasan tingkatan yang mana suatu tingkat kerusakan penglihatan menentukan materi dan metode-metode pendidikan khusus. Anak yang ketajaman penglihatannya rendah atau lemah dapat belajar melalui saluran penglihatan dan biasanya masih dapat membaca tulisan cetak.
Kerusakan pada penglihatan dapat disebabkan oleh rabun dekat (myopia), rabun jauh (nyperopia), ketidak teraturan pada kornea, katarak, tekanan pada bola mata dan lain-lain.
b) Anak Tunarungu
Anak-anak yang kehilangan pendengaran diantaranya anak yang kehilangan pendengaran sangat ringan, ringan dan sedang. Kelompok lain adalah tuli yaitu kehilangan pendengaran berat dan sangat berat.
Kemampuan mendengar dapat digolongkan dalam dua tingkat. Orang yang tuli yang tidak dapat mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya dan orang yang kehilangan pendengaran yang masih dapat menggunakan pendengarannya untuk mengerti pembicaraan orang lain, baik dengan maupun tanpa alat bantu dengar. Kerusakan pendengaran dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yaitu:
a. Menurut waktu terjadinya yaitu kerusakan pendengaran bawaan yang sudah ada pada saat kelahiran dan setelah kelahiran.
b. Yang dikaitkan dengan perkembangan bahasa, yaitu pendengaran rusak sebelum atau sesudah bahasa dan bicaranya berkembang.
c. Berdasarkan tempat kerusakan di bagian telinga, yaitu kerusakan pendengaran konduktif dan sensori-neurol, campuran serta sentral.
d. Pendengaran yang rusak hanya satu telinga saja atau kedua belah telinga.
c) Anak Tunagrahita
Defenisi anak tunagrahita atau retardasi mental mencakup tiga komponen utama, yaitu subnormalitas intelektual, perilaku adaptif, dan terjadi pada masa perkembangan. Defenisi tunagrahita tergantung sebagian pada karakteristik anak dan sebagiannya lagi tergantung pada harapan-harapan lingkungan sosial.
Anak dengan intelegensi rendah dicirikan oleh suatu keterbatasan kemampuan mengasosiasikan ide-ide dan peristiwa-peristiwa, telah diklasifikasikan untuk keperluan pendidikan sebagai anak lamban belajar, mampu didik, mampu latih, tunagrahita berat atau mampu rawat.
Faktor penyebab anak tunagrahita antara lain : a). faktor genetik, b). kerusakan biokimiawi, c). abnormalitas kromosom anak akan menjadi retardasi mental dan d). sindrom down (mongolism). Penyebab tunagrahita pada masa prenatal seperti infeksi rubella, faktor rhesus. Perinatal terutama luka-luka saat kelahiran, sesak nafas dan prematuritas. Sedangkan penyebab postnatal adalah penyakit akibat infeksi dan problem nutrisi yang diderita pada masa bayi dan awal masa kanak-kanak. Selain dari itu sosiokultural dapat juga menyebabkan anak retardasi mental, intelektual anak dapat berkembang apabila mereka berada dalam lingkungan manusia.
d) Anak Tunadaksa
Tunadaksa dapat diartikan cacat tubuh. Cacat tubuh atau kerusakan tubuh disebabkan karena gangguan atau kerusakan fisik yang ada kaitannya dengan gangguan kesehatan. Otak adalah pusat kontrol seluruh tubuh manusia, apabila ada suatu yang salah pada otak seperti luka atau infeksi, dapat mengakibatkan sesuatu pada fisik atau tubuh, emosi, atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang terjadi pada otak atau bagian otak, baik sebelum, saat, maupun sesudah kelahiran dapat menyebabkan retardasi mental (tunagrahita), gangguan bahasa, ketidakmampuan membaca, menulis, memahami kata-kata dan tidak adanya koordinasi berbagai macam gerak.
Cerebral palsy merupakan salah satu jenis gangguan atau kerusakan fisik yang paling banyak dijumpai pada anak-anak usia sekolah. Cerebral palsy dibedakan dalam 5 tipe diantaranya: spastik (mengejang), athetoid (gerakan-gerakan yang tiba-tiba tanpa sengaja), ataxia (kurangnya koordinasi dan kesinambungan), riged (kekakuan pada anggota tubuh), tremor (gerakan-gerakan yang tidak berirama tanpa terkontrol).
e) Anak Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan dalam perilaku, mereka sering diberi nama dengan istilah emotionally disturbed, socially masladjusted, psychologically disordered, atau emotionally handicapped. Apabila tingkah laku mereka secara ekstrim tidak normal maka mereka mendapat istilah dengan psikotik atau autistik. Pada umumnya anak-anak ini tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan lingguhan, mereka mempunyai kelainan prilaku yang jarang disukai oleh siapa saja, baik oleh teman-temannya, gurunya, saudara-saudaranya maupun oleh orang tuanya, lebih buruk lagi kadang-kadang mereka tidak menyukai diri mereka sendiri.
Anak berkelainan perilaku yang secara fisik tidak berkelainan, akan tetapi karena prilaku yang berbahaya atau karena menjadi terisolasi merupakan hambatan yang berat bagi perkembangan dan belajar mereka sehingga tampak seperti anak yang lamban belajar mereka memerlukan layanan pendidikan luar biasa.
Faktor penyebab terjadinya gangguan emosional atau prilaku diantaranya frustasi yang terus menerus karena sering menghadapi konflik atau kegagalan. Kesedihan yang mendalam pada masa kanak-kanak karena perpisahan atau kematian orang yang sangat dicintainya, menahan perasaan pada awal tahap perkembangan dapat menyebabkan kehilangan kemampuan oral pada masa bayi atau anak-anak.
Kerusakan otak dianggap oleh para ahli sebagai penyebab lain penyimpangan perilaku. Beberapa ahli beranggapan bahwa semua anak lahir dengan temperamen biologis tertentu. Walaupun tempramen yang dibawa sejak lahir itu tidak dapat dianggap sebagai penyebab masalah-masalah perilaku, akan tetapi kecenderungan menyebabkan masalah-masalah anak. Kejadian tertentu mungkin tidak menimbulkan perilaku yang tidak normal bagi anak-anak yang bertemperamen masa bodoh, tetapi tidak menimbulkan gangguan prilaku bagi anak-anak yang bertemperamen sulit. Kemungkinan sebab-sebab yang sifatnya biologis akan tampak secara jelas pada anak-anak yang mempunyai gangguan prilaku yang berat dan sangat berat.
6. Kegiatan Pramuka Bagi Anak Luar Biasa
Anak luar biasa merupakan anak yang mengalami kelainan dari segi fisik, mental, emosi, sosial dan tingkah laku sehingga dalam pendidikannya membutuhkan pelayanan dan penanganan secara khusus untuk mengembangkan sisa kemampuannya secara optimal. Program pengajaran yang direncanakan dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan untuk anak luar biasa prioritas pendidikannya pada pemberian ilmu pengetahuan, keterampilan praktis dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses belajar mengajar lebih banyak diarahkan pada materi-materi yang bersifat konkrit, langsung pada benda dan alam yang sebenarnya agar materi yang disampaikan pada anak didik dapat diserap dengan baik dan setia.
Seorang guru sebaiknya mampu menciptakan suasana dalam proses belajar mengajar yang menarik, menyenangkan, kondisinya seperti dirumah sendiri, sehingga dapat memotivasi minat dan interest anak didik untuk mengikuti kegiatan belajar. Kegiatan pramuka sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan yang merupakan pelengkap pendidikan sekolah dan pendidikan dalam keluarga, dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki atau belum dimiliki oleh peserta didik. Kegiatan dilaksanakan di alam terbuka yang dirasakan oleh peserta didik sangat menyenangkan, menarik, tidak menjemukan, bukan bersifat paksaan. Jelasnya kegiatan pramuka bersifat rekreatif, edukatif, sehingga dapat mengembangkan kemantapan fisik, mental, emosi, sosial, pengetahuan, keterampilan dan spiritual.
Berdasarkan uraian tersebut maka kegiatan pramuka dapat diberikan kepada anak luar biasa untuk mengembangkan fisik, mental, emosi, sosial, dan tingkah lakunya, pengetahuan dan serta keterampilannya. Oleh karena itu disetiap sekolah luar biasa dalam programnya sebaiknya diadakan kegiatan pramuka sebagai program ekstra kurikuler yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketetapan peserta didik. Secara teknis bentuk kegiatan dan tingkatannya sama dengan pramuka biasa, akan tetapi pramuka luar biasa berhak mengikuti kegiatan yang diadakan untuk pramuka biasa, sesuai dengan bentuk dan jenis kegiatan yang biasa diikutinya.
Tujuan pramuka anak luar biasa tidak terlepas dari yang tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) gerakan pramuka. Secara khusus tujuan tersebut dapat mengembangkan pengetahuan dan pengalaman bagi pramuka luar biasa dengan menyajikan bentuk kegiatan yang menarik dan mengandung usaha rehabilitasi dan pendidikan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan anak dan pemuda dewasa.
E. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang:
1. Pendapat guru-guru SLB se Kota Padang tentang Pelaksanaan Pramuka Luar Biasa.
2. Perbedaan pendapat antara guru-guru ditinjau dari sisi tingkat pendidikan, lama mengabdi, status pegawai negeri dan honorer.
3. Korelasi signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pramuka luar biasa.
G. KONTRIBUSI PENELITIAN
Penelitian yang peneliti lakukan ini diharapkan mempunyai nilai dan memberikan manfaat antara lain:
1. Tentang pendapat guru sekolah luar biasa terhadap pelaksanaan kegiatan kepramukaan luar biasa di Kota Padang.
2. Meningkatkan pemahaman guru-guru terhadap manfaat pramuka bagi anak luar biasa.
3. Informasi bagi orang tua anak luar biasa sehingga mau memberi kesempatan pada anak untuk latihan pramuka luar biasa.
H. METODELOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Metode yang digunakan agar tujuan penelitian tercapai harus sesuai dengan masalah yang diteliti, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Maka untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan menurut para ahli :
Menurut Suharsimi Arikunto (1989:291) :
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.

Populasi dan Sampel.
1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah guru-guru SLB sekota Padang sebanyak 14 buah SLB yang terdiri dari 130 orang guru.
2. Sampel Penelitian .
Peneliti akan mengambil sampel guru sekolah luar biasa dengan pertimbangan sebagai berikut :
a). Sekolah luar biasa yang sudah memiliki gudep
b). Guru sekolah luar biasa yang sudah mengajar + 5 tahun
c). Guru yang memiliki latar belakang pendidikan luar biasa
d). Guru yang memiliki sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD)
Teknik Pengumpulan Data.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Angket yang merupakan suatu teknik pengumpulan data melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti.
Teknik Analisa Data.
1. Untuk menganalisis pertanyaan tentang pendapat guru-guru ditetapkan dengan membandingkan skor maksimal ideal dibagi dua. Jika hasil pengukuran lebih besar dari titik tentgah skala pengukuran artinya guru mempunyai sikap positif terhadap pramuka luar biasa.
2. Untuk menganalisis ada tidaknya perbedaan pendapat antara guru-guru ditinjau dari sisi tingkat pendidikan, lama mengabdi, status pegawai negeri dan honorer akan dianalisis dengan menggunakan rumus analisis varian (one way).
3. Untuk menjawab apakah terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan terhadap pramuka luar biasa akan digunakan rumus tata jenjang dari sperman.aka seluruh data akan diolah dianalisis dengan menggunakan Program SPSS.

I. JADWAL PELAKSANAAN
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam jangka waktu 6 bulan terhitung sejak ditandatangani kontrak kerja dengan rincian:
1. Pemantapan rancangan penelitian : 0,5 bulan
2. Penyusunan instrumen : 1,0 bulan
3. Uji coba dan analisis instrumen : 0,5 bulan
4. Pelaksanaan penelitian : 1,5 bulan
5. Pengolahan dan analisis penelitian : 0,5 bulan
6. Penulisan Draf laporan : 1,0 bulan
7. Revisi dan penulisan draf akhir : 0,5 bulan
8. Penggandaan laporan penelitian : 0,5 bulan
J. PERSONALIA PENELITIAN
1. Ketua peneliti :
Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
Pangkat/Gol/NIP : Penata muda/IIIb/132092865
Jabatan : Asisten ahli
Pendidikan terakhir : Pasca Sarjana IKIP Bandung

2. Anggota Peneliti :
Nama lengkap : Dra. Irdamurni, M.Pd
Pangkat/Gol/NIP : Penata Tk I/IIId/131689819
Jabatan : Lektor muda
Pendidikan terakhir : Pasca Sarjana UNP Padang

J. Prakiraan Biaya Penelitian
No. Rincian Biaya Kegiatan Penelitian @ dalam Rupiah (Rp)
1. Honorer Pelakasana Penelitian:
a. Ketua Pelaksana
b. Anggota Pelaksana I
c. Anggota Pelaksana II
750.000
500.000
500,000
2. Bahan dan alat Penelitian:
a. Kertas duplicator 2 rim
b. Kertas HVS 80 Gram 2 rim
c. Disket 2 buah
d. Tinta Refil komputer 1 buah
50.000
50.000
20.000
35.000
3. Pelaksanaan peneliatian
a. Penjajakan ke lokasi penelitian
b. Pengurusan surat izin penelitian
c. Penyusunanan, uji coba, revisi instrumen
d. Penggandaan intsrumen penelitian
e. Pengumpulan data ke lapangan
250.000
50.000
500.000
500.000
500.000
4. Pengolahan dan analisis data
a. Verifikasi dan tabulasi data
b. Analisis / pembahasan hasil penelitian
200.000
300.000
5. Pembuatan dan penggandaan laporan
a. Peneulisan draf awal
b. Revisi dan penulisan final
c. penggandaan laporan
d. Seminar hasil penelitian.
300.000
400.000
500.000
250.000
Jumlah: (Enam Juta Rupiah) Rp. 6.000.000

DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono, (1987). Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik. Bandung : Tarsito
Bob Sunardi, Amdri. (2001). Boyman Ragam Latih Pramuka. Bandung : Nuansa Muda.
John Rahmad. (1998). Buku 2 Himpunan Kursus Pelatihan Lanjutan Plus. Padang Kwarnas.
Kirk, A Samuel. (1989), Alih bahasa M . Amin dan Ina Yusuf, Pendidikan anak luar biasa, DNIKS, Jakarta.
Kwarda. (1995). Pedoman Pembina Gudep. Sumatera Barat. Kwarda.
Kwarnas. (1993). Petunjuk Penyelenggara Kegiatan Pramuka Luar Biasa. Jakarta : Kwarnas
Lemdikanas. (2000). Materi Diklat Pembina Pramuka bagi Guru, Kepala Sekolah, Pengawas TK, SD. Jakarta Kwarnas.
Muljono Abdurrachman, (1994), Pendidikan Luar Biasa Umum, Depdikbud, Jakarta.
Mohammad Nazir. (1983). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Marnis Nawi, (1989). Metodologi Penelitian. Padang : IKIP.
Moh. Ali. (1987). Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung : Angkasa
Sutrisno Hadi,. (1991). Metodologi Research. Jakarta : Andi Offset.
Sudjana. (1975). Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.
Suharsimi Arikunto,. (1992). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
______ (1993), Manajemen Penelitian Rineka cipta, Jakarta.
______ (1993), Prosedur penelitian, Rineka cipta, Jakarta.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI
1. Nama : Drs. Jon Efendi, M.Pd
2. NIP : 132 092 865
3. Status Dosen : Dosen tetap (biasa) Negeri
4. Tempat tanggal lahir : Padang tanggal 22 November 1965.
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Pangkat/golongan : Penata muda/ IIIb
7. Jabatan : Asisten ahli
8. Pendidikan tertinggi : – S2 IKIP Bandung 1999
9. Daftar Karya Ilmiah : 1. Efektivitas metode bermain dan ceramah dalam mengajarkan nilai nominal uang bagi anak tunagrahita ringan di SPLB Cipaganti Bandung (skripsi) 1992.
: 2. Pengembangan program bimbingan konseling perkembangan melalui kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan kemandirian anak tunagrahita ringan (Tesis) Bandung 1999.

FORMULIR ISIAN
USUL PENELITIAN DOSEN MUDA

1. a. Nomor ID : ............
b. Tahun anggaran: ........
2. Judul Penelitian : Pendapat Guru Sekolah Luar Biasa Se-Kota Padang Terhadap Pelaksanaan Kegiatan Pramuka Luar Biasa
3. Tim Peneliti :
No Nama Peneliti NIP Tgl Lahir Jabatan akademi Jenis kelamin Penddk terakhir
1. Jon Efendi 132092865 22-11-65 03 01 S2
2. Irda Murni 131689819 24-11-61 03 02 S2

4. Perguruan tinggi :
a. Nama : Universitas Negeri Padang
b. Kode : ……………
5. Fakultas :
a. Nama : Fakultas Ilmu Pendidikan
b. Kode : ……………
6. Penelitian yang diusulkan: Penelitian Dosen Muda
7. Kategori Penelitian : Meningkatkan keterampilan staf pengajar serta mengembangkan institusi.
8. Lingkup penelitian : 02 Wilayah
9. Bidang Ilmu yang diteliti: 03 Pendidikan
10. Lokasi Penelitian : Sekolah Luar Biasa
11. Macam penelitian : Angket
12. Lama dan waktu penelitian :
a. Lama Penelitian : 6 bulan
b. Bulan penelitian : 03-09
13. Biaya Penelitian :
a. Diusulkan : Rp. 6.000.000,-
b. Disetujui : Rp. ……………
c. Sumber biaya : ………………..
14. Jumlah artikel yang akan dipublikasikan :
a. Diseminarkan : 01
b. Ditulis diJurnal : 02

Padang 15 Februari 2003
Ketua Peneliti

Drs. JON EFENDI, M.Pd
NIP: 132092865

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: