PENDEKATAN KONSELING MULTIKULTUR TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

PENDEKATAN KONSELING MULTIKULTUR
DALAM MENDORONG PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. PENDAHULUAN.
I. Latar belakang
Konseling merupakan proses interaksi psikologis antara konselor dengan konseli dalam rangka memberikan bantuan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Kegiatan ini sudah berlangsung selama berabat-abat, sehingga secara perlahan berkembang menjadi salah satu cabang ilmu dan profesi. Pada mulanya konseling merupakan bagian dari psikologi sehingga penanganannya lebih banyak melibatkan aspek-aspek psikologis. Setelah menjadi salah satu cabang ilmu dan profesi tersendiri, Proses konseling melibatkan berbagai factor secara integral.
Diantara beberapa factor yang sangat penting dan mempengaruhi proses konseling adalah factor social budaya. Seiring berkembangnya paham globalisasi dan meningkatnya existensi konseling, interaksi konselor dan konseli tidak hanya terjadi dalam satu kultur, terapi dapat terjadi antara orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Untuk mengatasi perbedaan budaya antara konselor dan konseli, maka konselor perlu memahami latar belakang budaya dari konselinya. Dengan demikian selain memahami aspek-aspek psikologis dan teknik-teknik konseling, seorang konselor perlu memahami aspek-aspek budaya yang berbeda-beda.
Proses interaksi/konseling antara dua orang dengan latar belakang budaya yang berbeda dinamakan konseling multicultural. Sebagai ilmu baru konseling multikultural baru berkembang sekitar 20 tahun. Namun demikian konseling ini dirasakan lebih efektif, terutama jika konselor mampu mengadaptasikan teknik dan teori konseling dalam perspektif budaya dari konselingnya.
Salah satu kelompok khusus yang memerlukan bantuan atau layanan konseling adalah kelompok tunanetra. Sebagai kelompok yang memiliki masalah dan kekhususan, kelompok tunanetra memerlukan penanganan yang khusus pula. Dengan demikian konselor harus memahami kekhususan-kekhususan tersebut sebagai salah satu kultur atau sub-kultur dalam memberikan layanannya.
Untuk mengaplikasikan konseling multicultural dalam membantu tunanetra menanggulagi masalahnya, makalah ini akan menyajikan hakekat, konsep dasar, dan prinsip-prinsip konseling multiculturar serta aplikasinya dalam membantu tunanetra.

II. Tujuan
a. Memberikan gambaran tentang konseling multikultural
b. Menjadi stimulan untuk kajian yang lebih mendalam tentang konseling multikultural hingga dapat di aplikasikan dalam praktek konseling untuk memdorong kepribadian ABK
c. Dihasilkannya rumusan model konseling multikultural dalam memdorong perkembangan kepribadian ABK sesuai budaya Indonesia.

III. Bahan kajian
Berdasarkan teori yang sudah berkembang dan dilangsir berbagai buku, kajian tentang konseling multicultural sangatlah luas. Oleh karena itu kajian dari tulisan ini akan dibatasi dan difokuskan pada beberapa aspek. Adapun aspek yang lebih focus dalam tulisan ini meliputi :

a. Hakekat konseling Multikultural
b. Konsep dasar konseling Multikultural
c. Prinsip-prinsip Dasar Konseling Multikultural
d. Karakteristik konselor Multikultural
e. Hakekat Anak Berkebutuhan khusus ( ABK)
f. Masalah perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
g. Aplikasi konseling multicultural dalam mendorong perkembangan kepribadian ABK.
Tulisan ini akan diakhiri dengan kesimpulan yang merupakan intisari dari masing-masing aspek yang menjadi pembahasan.

B. PEMBAHASAN

a. Hakekat konseling Multikultural
Konseling lintas budaya merupakan hal baru. Ia baru popular kira-kira duapuluh tahun belakangan ini ( Padersen et al..,1981). Locke (dalam Brown et al, 1988) mendefinisikan konseling Multikultur sebagai bidang praktik yang (1) menekankan pentingnya dan keunikan (kekhasan)individu, (2) mengaku bahwa konselor membawa nilai-nilai pribadi yang berasal dari lingkungan kebudayaannya ke dalam setting konseling, dan (3) selanjudnya mengakui bahwa klien-klien yang berasal dari kelompok ras dan suku minoritas membawa nilai-nilai dan sikap yang mencerminkan latar belakang budaya mereka.
Dengan perkataan lain, ada tiga hal pokok yang menyangkut pengertian konseling multicultural. Pertama, individu itu penting dan has (unik), Kedua, waktu menjalankan konseling, konselor membawa nilai-nilai yang berasal dari lingkungan budayanya. Ketiga, klien dari kelompok minoritas etnik dan ras datang menemui konselor membawa seperangkat nilai dan sikap yang mencerminkan latar belakang budayanya.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa konseling multicultural merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap konsep dan budaya lain terutama bagi konselor agar dapat memberikan bantuan secara efektif sesuai perspektif budaya konseling.

b. Konsep dasar konseling Multikultural
Kajian menyangkut keragaman budaya dikenal beberapa istilah seperti cross cultur ( lintas budaya), intercultur ( antar budaya) dan multicultur ( multibudaya). Dalam konseling istilah multicultural atau multibudaya lebih sering digunakan karena mencerminkan kesetaraan dari masing-masing budaya dan menafikan keunggulan satu budaya pada budaya lain, (Pedersen,1988). Sebuah proses konseling dianggap sebagai konseling multicultural jika memenuhi situasi-situasi sebagai berikut :
– Apabila konselor dan konseli merupakan individu yang berbeda latar budayanya.
Konselor dan konseli dapat berasal dari satu ras yang sama, namun memiliki perbedaan dalam : jenis kelamin, usia, orientasi seksual, reregius, social ekonomi dan lain-lain, ( Sue et el, 1982) .
Draguns (1989), menawarkan point kunci dalam pelaksanaan konseling multicultural yaitu :
1. Teknik konseling harus dimodifikasi jika terjadi proses yang melibatkan latar belakang budaya yang berbeda.
2. Konselor harus mempersiapkan diri dalam memahami kesenjangan yang makin meningkat antara budayanya dengan budaya konseli pada saat proses konseling berlangsung.
3. Konsepsi menolong atau membantu harus berdasarkan pada perspektif budaya konseli, dan konselor dituntut memiliki kemampuan mengkomunikasikan bantuannya serta memahami distrees dan kesusahan konseli.
4. Konselor dituntut memahami perbedaan gejala dan cara menyampaikan keluhan masing-masing kelompok budaya yang berbeda.
5. Konselor harus memahami harapan dan norma yang mungkin berbeda antara dirinya dengan konseli.
Kelima aspek tersebut menunjukkan konselor sebagai actor utama dalam proses dituttut memiliki kemampuan dalam memodifikasi teknik konseling dan memahami aspek-aspek budaya dari konselinya serta memahami kesenjangan dan perbedaan antara budayannya dengan budaya konseli.

c. Prinsip-prinsip Dasar Konseling multikultural
Dalam melaksanakan konseling Multikultur pendapat beberapa prinsif yang harus dijalankan secara sinergis oleh konselor, konseli, dan proses konseling yang melibatkan kedua pihak secara timbal balik. Sebagai inisiator dan pihak yang membantu, konselor wajib memahami prinsip-prinsip tersebut dan mengaplikasikannya, dalam proses konseling. Adapun prinsip-prinsip dasar yang dimaksut adalah sebagai berikut :
1. Untuk konselor
– Kesadaran terhadap pengalaman dan sejarah dalam kelompok budayanya.
– Kesadaran tentang pengalaman diri dalam lingkungan arus besar kulturnya.
– Kepekaan perceptual terhadap kepercayaan diri dan nilai-nilai yang dimilikinya.
2. Untuk pemahaman konseli
– Kesadaran dan pengertian/pemahaman tentang sejarah dan pengalaman budaya konseli yang dihadapi.
– Kesadaran perceptual akan pemahaman dan pengalaman dalam lingkungan kultur dari konseli yang dihadapi.
– Kepekaan perceptual terhadap kepercayaan diri konseli dan nilai-nilainya.
3. Untuk proses konseling
– Hati-hati dalam mendengarkan secara aktif, konselor harus dapat menunjukkan baik secara verbal maupun nonverbal bahwa ia memahami yang dibicarakan konseli, dan dapat mengkomunikasikan tanggapannya dengan baik sehingga dapat dipahami oleh konseli.
– Memperhatikan konseli dan situasinya seperti konselor memperhatikan dirinya dalam situasi tersebut, serta memberikan dorongan optimisme dalam menemukan solusi yang realistis.
– Mempersiapkan mental dan kewaspadaan jika tidak memahami pembicaraan konseli dan tidak ragu-ragu memintak penjelasan. Dengan tetap memelihara sikap sabar dan optimis.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa prinsip-prinsip tersebut menuntut konselor dapat memahami secara baik tentang situasi budayanya dan budaya konseli, serta memiliki kepekaan konseptual terhadap respon yang diberikan konseli, sehingga dapat mendorong optimisme, dalam mendapatkan solusi yang realistis. Konselorpun harus memiliki sikap sabar, optimis dan waspada jika tidak dapat memahami pembicaraan konseli serta tidak ragu-ragu memintak penjelasan agar proses konseling berjalan efektif.

d. Karakteristik konselor multikultural
Untuk dapat melaksanakan proses konseling multikultural secara efektif, konselor multikultural dituntut memiliki beberapa kemampuan atau kopetensi.( Sue , 1978), menyebutkan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh konselor multicultural sebagai berikut :
1. Mengenali nilai dan asumsi tentang perilaku yang diinginkan dan tidak diingikan.
2. Memahami karakteristik umum tentang konseling.
3. Tanpa menghilangkan peranan utamanya sebagai konselor ia harus dapat berbagi pandangan dengan konselinya.
4. Dapat melaksanakan proses konseling secara efektif.
Selain ke empat aspek tersebut, dalam artikelnya 1981, Sue menambahkan beberapa kompetensi yang harus dimiliki konselor multicultural sebagai berikut :
1. Menyadari dan memiliki kepekaan terhadap budayanya.
2. Menyadari perbedaan budaya antara dirinya dengan konseli serta mengurangi efek negative dari perbedaan atau kesenjangan tersebut dalam proses konseling.
3. Merasa nyaman dengan perbedaan antara konselor dengan konseli baik menyangkut ras maupun kepercayaan.
4. Memiliki informasi yang cukup tentang cirri-ciri khusus dari kelompok atau budaya konseli yang akan ditangani.
5. Memiliki pemahamn dan keterampilan tentang konseling dan psikoterapi.
6. Mampu memberikan respon yang tepat baik secara verbal maupun non verbal.
7. Harus dapat menerima dan menyampaikan pesan secara teliti dan tepat baik verbal maupun non verbal.
Sebelas kompetensi yang menjadi karakteristik konselor multicultural seperti dikemukakaan Sue tersebut dapat disarikan dalam 3 aspek besar yaitu : Pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan demikian seorang konselor multicultural harus memiliki pengetahuan tentang teknik konseling dan social budaya , sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, serta keterampilan dalam memodifikasi teknik-teknik konseling secara efektif dalam latar budaya yang berbeda-beda. Menyangkut konselor Indonesia perlu pula memahami cirri-ciri khusus budaya dan sub budaya dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam serta mampu menjadikan keanekaragaman tersebut sebagai unsure persatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Selain memiliki keanegaragaman budaya dan kepercayaan dalam masyarakat Indonesia terdapat beberapa kelompok khusus lainnya. Salah satu kelompok yang dimaksud adalah kelompok penyandang cacat. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, kelompok ini memerlukan ruang dan pemberian kesempatan untuk dapat hidup wajar bersama masyarakat lainnya. Namun demikian , keunikan perilaku yang mereka tunjukkan, kendala yang mereka hadapi, dan diskriminasi yang mereka peroleh, menyebabkan kelompok penyandang cacat dinilai sebagai kelompok marjinal dan beban masyarakat.
Untuk menangulangi masalah tersebut, konseling dan multicultural dapat menjadi salah satu solusi. Oleh karena itu konselor multicultural perlu memiliki empati dan kompetensi dalam memberikan bantuan kelompok penyandang cacat sehingga dapat mendorong mereka berkiprah secara wajar ditengah masyarakatnya.

e. Hakekat Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus dulu disebut (anak luar biasa) didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna ( Hallahan dan Kauffman,1986). Anak luar biasa, juga dapat didefinisikan sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Anak luar biasa disebut sebagai anak yang berkebutuhan khusus, karena dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan social,layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.
Jenis-jenis layanan tersebut diberikan secara khusus kepada anak yang berkebutuhan khusus oleh pihak yang berkompeten pada setiap jenis layanan itu. Adapun yang termasuk pihak-pihak yang berkompeten dalam memberikan layanan pendidikan, social, bimbingan konseling, dan jenis layanan lainnya ialah para pendidik yang berijazah Pendidikan luar biasa, pekerja social, konselor/petugas bimbingan konseling, dan ahli lain yang relevan dengan jenis layanan yang diberikan kepada anak luar biasa.
Tujuan pendidikan dan pemberian layanan tersebut dimaksudkan untuk membentuk kepribadian ABK yang tangguh, sehingga dapat hidup wajar dan mandiri ditengah masyarakat dan lingkungannya. Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mendorong kepribadian ABK adalah melalui pemberian layanan konseling dengan pendekatan multicultural. Pendekatan ini dapat menjadi anternatif menginggat keunikan dan perbedaan karakteristik dan permasalan yang dihadapi ABK, terutama menyangkut perkembangan kepribadiaanya. Keunikan dan perbedaan tersebut dapat dianggap sebagai sebuah kultur, sehingga konseling multicultural merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk membantu ABK dalam mengembangkan kepribadiaannya.
f. Pengertian dan pola perkembangan kepribadian
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “ organisasi dinamik dalam diri individu yang tersusun dari system psikofisis yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”, dalam definisi tersebut tersirat pengertian penting, yaitu :(1) Dinamik, berarti kepribadian itu pada hakekatnya selalu berubah dan terungkap dalam bentuk kualitas tingkah laku. (2) organisasi, berarti bahwa kepribadian bukan hanya sekedar kumpulan sifat-sifat (trait) tetapi merupakan sifat-sifat yang mempunyai hubungan timbal balik. Bila hubungan timbale balik itu berubah, maka beberapa sifat menjadi dominan dan beberapa sifat menjadi lemah, dalam hal ini berhubungan dengan perubahan pada diri anak dan perubahan pada lingkungan. (3) system psikofisis dapat diartikan sebagai kebiasaan, sikap, keyakinan, keadaan emosional, perasaan, motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar neural dan glandular (syaraf dan kelenjar), maupun keadaan fisik secara keseluruhan. System ini berdasarkan pada factor keturunan yang berkembang melalui proses belajar anak melalui pengalaman-pengalamannya. System psikofisis ini merupakan daya penggerak yang menentukan penyesuaian diri anak. Karena pengalaman yang dialami anak berbeda-beda, penyesuaian yang dilakukan itu bersifat unik.
Pola kepribadian terdiri dari dua komponen, yaitu komponen inti yang disebut konsep diri dan komponen penunjang yang disebut sifat (trait). Pola kepribadian orang normal dan yang abnormal dibedakan berdasarkan derajat organisasinya. Pola kepribadian yang normal terorganisasi, komponen-komponennya menunjukkan hubungan yang erat dan berstuktur, sedangkan kepribadian orang abnormal menunjukkan disorganisasi.
Stabilitas konsep diri seseorang tergantung dari beberapa hal anatara lain: (1) perlakuan yang tidak konsisten yang menyebabkan perbedaan perlakuan di dalam keluarga dan perlakuan diluar keluarga, dan (2) kesenjangan antara konsep diri dan riil dan konsep yang dicita-citakan.
Komponen kepribadian terdiri dari konsep diri dan sifat (trait). Konsep diri dibedakan menjadi: konsep diri yang riil (siapa dia yang sesungguhnya), yang ada dalam kenyataan; dan konsep diri yang ideal (gambaran diri yang diinginkan seseorang). Konsep diri ini mempunyai aspek psikologis dan aspek fisik. Aspek fisik terdiri atas konsep individu mengenai penampilan dirinya, keselarasan penampilan jenis kelaminnya, hubungan antar tubuhnya dalam hubungan dengan manusia lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep individu mengenai kemampuan dan ketidakmampuannya, arti dirinya dan hubungan dirinya dengan orang lain . pada awalnya kedua aspek ini terpisah namun dengan berkembangnya seorang anak, kedua pihak ini akan menjadi suatu kesatuan.
Sifat merupakan kualitas tingkah laku atau pola penyesuaian diri yang bersifat spesifik seperti reaksi terhadap frustasi, cara untuk menyelesaikan masalah, tingkah laku penampilan diri atau menarik diri dalam pergaulan dengan orang lain. Trait terintegrasi dan dipengaruhi oleh konsep diri. Trait menunjukkan dua karakteristik, yaitu:
 Individualitas; terungkap dalam variasi kualitas sifat tertentu.
 Konsisten; yang terungkap dalam tingkah laku yang serupa yang dilakukan seseorang dalam situasi dan kondisi yang hamper sama.
Perkembangan pola kepribadian dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: pembawaan sejak lahir, pengalaman pada masa dini dalam keluarga, dan pengalaman dalam masa kehidupan selanjutnya. Dalam membicarakan perkembangan pola kepribadian akan dibicarakan secara terpisah:

Menurut Woodworth dan Marquis kepribadian adalah kualitas tingkah laku individu secara keseluruhan. ………..
g. Masalah perkembangan kepribadian ABK
Untuk mengetahui permasalah perkembangan kepribadian ABK, perlu dikemukakan klasifikasi ABK. Dalam pendidikan dunia luar biasa……….berbakat. namun demikian dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan masalah perkembangan kepribadian dari ABK yang mengalami gangguan atau ketunaan. Oleh karena itu pembahasan hanya akan difokuskan pada beberapa kelompok ABK sebagai berikut :

1. Perkembangan kepribadian anak tunanetra
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan sifat kepribadian antara anak tunanetra dengan anak awas. Ada kecenderungan anak tunnetra relative lebih banyak yang mengalami gangguan kepribadian dicirikan dengan introversi, neurotic, frustasi dan regiditas (kekakuan) mental. Namun demikian, disisi lain terdapat pula hasil-hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam hal penyesuaian diri antara anak yang tunanetra dengan anak awas. Dalam hal tes kepribadian dikemukakan pula bahwa tes-tes kepribadian yang sudah standarpun tidak secara khusus diperuntukkan bagi tunanetra. Situasi kehidupan yang berbeda antara anak tunanetra dengan anak awas seringkali menimbulkan tafsiran yang berbeda pula terhadap sesuatu yang diajukan.
Mengenai peran konsep diri dalam penyesuaian terhadap lingkungannya, Devis(Kirtley, 1975) menyatakan bahwa dalam proses perkembangan awal, diferensiasi konsep diri merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai. Untuk memasuki lingkungan baru, seorang anak tunanetra harus dibantu oleh ibu atau orang tuanya melalui proses komunikasi verbal, memberikan semangat, dan memberikan gambaran lingkungan tersebut sejelas-jelasnya seperti anak tunanetra mengenal tubuhnya.
Hasil penelitian lain juga menunjukan anak-anak tunanetra yang tergolong setengah melihat memiliki kesulitan yang lebih besar dalam menemukan konsep diri dibanding orang yang buta total. Kesulitan tersebut terjadi karena mereka sering mengalami konflik identitas dimana suatu saat ia oleh lingkunganya disebut anak awas tetapi pada saat yang lain disebut sebagai orang buta atau tunanetra. Bahkan seringkali ditemukan anak-anak tunanetra golongan ini mengalami krisis identitas yang berkepanjangan. Konsep diri adalah salah satu determinan dari perilaku pribadi, dengan demikian ketidakpastian konsepdiri anak tunanetra akan memunculkan masalah-masalah penyesuaian seperti dalam masalah seksual, hubungan pribadi, mobilitas,dan kebebasan. Ada kecenderungan pula bahwa anak-anak tunannetra setelah lahir akan lebih sulit menyesuaikan diri dibandingkan dengan tunanetra sejak lahir. Disamping itu, Sukini Pradopo (1976) mengemukakan gambaran sifat anak tunanetra diantaranya adalah ragu-ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain. Sedangkan Sommer menyatakan bahwa anak tunanetra cenderung memiliki sifat-sifat yang berlebihan, menghindari kontak social, mempertahankan diri dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui kecacatannya

2. Perkembangan kepribadian anak tunarunggu
Kepribadian pada dasarnya merupakan keseluruhan sifat dan sikap pada seseorang yang menentukan cara-cara yang unik dalam penyusaiannya dengan lingkungan. Oleh karena itu banyak ahli berpendapat perlu dihentikannya masalah penyesuaian seseorang agar kita mengetahui bagaimana kepribadiannya. Demikian pula anak tunarungu, untuk mengetahui keadaan kepribadiannya, perlu kita perhatikan bagaimana penyesuain diri mereka.
Perkembangan kepribadian banyak ditentukan oleh hubungan antara anak dan orang tua terutama ibunya. Lebih-lebih pada masa awal perkembangannya. Perkembangan kepribadian terjadi dalam pergaulan atau perluasan pengalaman pada umumnya dan diarahkan pada factor anak sendiri. Pertemuan antara factor-faktor dalam diri anak tunarungu, yaitu ketidak mampuan menerima rangsang pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktetapan emosi, dan keterbatasan inteligensi dihubungankan dengan sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya.
3. Perkembangan kepribadian anak tunagrahita
Pada anak terbelakang ringan, kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal, akan tetapi tidak sekaya anak normal. Anak tunagrahita dapat memperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka bisa mengekspresikan kegembiraan tetapi sulit mengungkapkan kekaguman.
Kanak-kanak dan penyesuaian sossial merupakan proses yang saling berkaitan. Kepribadian social mencerminkan cara orang tersebut berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Mc Iver dengan menggunakan Children’s Personality Questionare ternyata anak-anak tunagrahita mempunyai beberapa kekurangan. Anak tunagrahita pria memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap dingin, menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsive, lancing, dan merusak. Anak tunagrahita wanita mudah dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, dan cenderung melanggar ketentuan. Dalam hal lain, anak tunagrahita sama dengan anak normal. Kekurangan-kekurangan dalam kepribadian akan berakibat pada proses penyesuaian diri.
Dalam tingkah laku social, tercakup hal-hal seperti keterkaitan dan ketergantungan, hubungan kesebayaan, self concept, dan tingkah laku moral. Yang dimaksud dengan tingkah laku keterikatan dan ketergantungan adalah kontak anak dengan orang dewasa (orang lain). Masalah keterkaitan anak dan ketergantungan anak terbelakang telah diteliti oleh Zigler (1961) dan steneman (1962,1969).

4. Perkembangan kepribadian anak tunadaksa
Masalah-masalah kepribadian yang mendasar pada anak-anak tunadaksa sebenarnya sama dengan anak-anak yang mempunyai keadaan fisik yang normal. Namun demikian ketunadaksaan merupakan suatu variabel psikologis yang berarti.
Pada anak-anak tunadaksa Nampak bahwa dalam hubungan social mereka berusaha untuk menyakinkan konsep diri dalam arti fisiknya dan juga berusaha untuk menyakinkan konsep diri yang disadarinya. Sehubungan dengan pandangan di atas, anak-anak tunadaksa mempunyai dua tipe masalah, yaitu:
(1) Masalah penyesuain diri yang mungkin terjadi pada kemajuan perkembangan yang normal yang dialami setiap individu yang pada saat bersaman juga berusaha untuk memperluas ruang gerak dirinya serta mempertahankan konsep diri (self concept) yang sudah dimilikinya.
(2) Masalah penyesuaian diri yang semata-mata merupakan gabungan dari kenyataan bahwa keadaan tunadaksa yang bersifat fisik merupakan hambatan yang terletak antara tujuan (goal) dan keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.
Semua aspek pertumbuhan dan perkembangan satu sama lain saling berhubungan dan memiliki ketergantungan satu sama lain. Aspek fisik merupakan salah satu dari berbagai aspek tersebut. Keadaan social anak tunadaksa akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian individu secara keseluruhan. Kondisi tunadaksa secara kesenimbungan mengubah dan memodifikasi beberapa atau bahkan mugkin semua dimensi perkembangan dalam berbagai taraf. Dengan demikian dapat dijelaskan rangkaian reaksi yang dimulai dengan kerusakan fungsi motorik akan diikuti dengan menurunnya perkembangan kognitif serta timbulnya tekanan emosional yang mengakibatkan kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Perkembangan kepribadian individu secara keseluruhan dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain :
a. Tingkat ketidakmampuan (kesulitan) akibat ketunadaksaan. Factor ketidak mampuan fisik sering menimbulkan hambatan psikologis bagi anak tunadaksa terutama jika dikaitkan dengan perilaku dan penerimaan orang normal disekitarnya.
Dreikurs mengungkapkan bahwa individu tunadaksa merumuskan responnya terhadap ketunadaksaan sesuai dengan ‘gaya hidupnya’. Gaya hidup ini menurut Adler terbentuk pada masa anak-anak melalui hambatan dan pengalaman yang dihadapi individu tersebut. Ketunadaksaan merupakan factor yang penting yang menentukan perkembangan kepribadian inividu.
Dengan demikian, yang menentukan perkembangan kepribadian individu bukan hanya factor pembawaan dan factor lingkungan, akan tetapi juga bagaimana individu yang bersangkutan mengartikan kedua factor tersebut.
b. Usia ketika ketunadaksaan itu terjadi, sampai batas tertentu berpengaruh terhadap laju perkembangan individu.
Ketunadaksaan yang dialami pada usia yang lebih besar akan menunjukkan efek yang lebih kecil terhadap perkembangan fisik, namun menimbulkan efek yang lebih besar pada perkembangan psikologis yang bersangkutan.
c. Nampak atau tidaknya kondisi tunadaksa, menunjukkan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian individu, terutama mengenai gambaran tubuhnya (body image).
Kecacatan fisik umumnya sangat mudah diketahui atau dilihat oleh orang lain, meskipun ada variasinya. Kelainan fisik tersebut ada yang menyolok tetapi ada juga yang tidak mudah terlihat oleh orang lain. Ada kesulitan yang begitu berat dan jelas sehingga mudah mengundang rasa kasihan, akan tetapi ada pula kelainan yang akibat kesulitannya tidak jelas. Factor Nampak dan tidaknya kelainan ini memiliki pengaruh yang demikian besar dalam menentukan sikap lingkungan terhadap anak tunadaksa maupun sikap anak tunadaksa terhadap lingkungannya.
Anak-anak tunadaksa pada umumnya menunjukkan sikap rendah diri, cemas, dan agresif. Hal demikian berhubungan dengan gambaran tubuh yang dimilikinya. Disamping itu pengaruh ketunadaksa terhadap perkembangan kepribadian individu ditentukan juga oleh nilai psikologis bagian tubuh yang mengalami kelainan tersebut.
d. Dukungan keluarga dan dukungan masyarakat terhadap anak tunadaksa memiliki pengaruh yang besar karena sikap keluarga dan masyarakat tersebut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak tersebut. Orang tua atau masyarakat yang menunjukkan sikap menolak akan mengakibatkan anak tunadaksa merasa rendah diri, merasa tidak berdaya, merasa tidak pantas, merasa frustasi, merasa bersalah, merasa benci, dan sebagainya.
Sepertinya telah dikemukakan bahwa dalam pembentukan self respect pada anak yang terpenting adalah menghargai anak dengan jalan menerima anak apa adanya sehingga anak merasa bahwa dirinya ada sebagai suatu pribadi/individu.
Tidak adanya self respect pada anak tunadaksa akan mengakibatkan mudah timbulnya ketegangan. Sedikit saja anak mengalami kesulitan maka ia akan merasa bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat ia hadapi.
e. Sikap masyarakat terhadap anak tunadaksa menunjukan pengaruh yang sangat menentukan terhadap perkembangan kepribadian individu yang bersangkutan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pandangan masyarakat dewasa ini yang memandang ukuran keberhasilan seseorang dari prestasi yang dicapainya. Keterbatasan yang disandang tunadaksa, yang menghambatnya untuk berprestasi seperti anak-anak normal dapat menimbulkan rasa tidak aman dan kecemasan yang mengganggu perkembangan kepribadian anak tersebut. Dalam menghadapi situasi seperti itu, anak-anak tunadaksa melakukan berbagai upaya menghindari tuntutan untuk berhasil dengan cara-cara yang masih dapat diterima oleh masyarakat. Tindakan seperti itu seringkali menimbulkan hambatan-hambatan terhadap perkembangan kepribadian anak. Misalnya dengan munculnya perasaan terpojok, tidak mempunyai kesempatan untuk meraih sukses, memiliki tujuan yang tidak relistik, dan sebagainya.
Penelitian Gelman menunjukan bahwa perlakuan stereotipik masyarakat terhadap anak-anak sering menimbulkan katakutan yang bersifat neurotic pada anak-anak tersebut.

h. Aplikasi konseling multicultural dalam mendorong perkembangan kepribadian anak Anak Berkebutuhan Khusus
Model bimbingan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus seyoknya……..,

1. Perkembangan kepribadian anak tunanetra.
Merujuk pada berbagai hasil penelitian, tidak terdapat perbedaan signifikan dalam perkembangan kepribadian anak tunanetra dengan anak awas. Perbedaan signifikan terdapat pada pengenalan konsep diri. Oleh karena itu konselor harus dapat mengkomunikasikan keadaan dan kondisi konseli yang tunanetra serta membantunya memasuki dunia atau lingkungan baru melalui pengenalan komunikasi verbal, pemberian semangat dan motivasi. Bagi tunanetra yang memiliki sisa penglihatan, pengenalan konsep diri lebih sulit lagi, karena adanya konflik identitas. Dalam hal ini konselor harus dapat mendorong anak tersebut untuk memfungsikan penglihatan yang masih tersiksa semaksimal mungkin, serta mempersiapkan yang bersangkutan untuk menghadapi kondisi berkurang dan atau bahkan hilangnya penglihatan. Pelatihan dan pembekalan ini selain melibatkan pemberian motivasi juga, melibatkan layanan terapi untuk memelihara penglihatan yang tersisa. Dengan cara demikian tunanetra tersebut akan dapat memaksimalkan penglihatannya selagi masih ada, dan tidak akan mengalami depresi ketika penglihatannya menurun bahkan hilang. Melalui konseling dan pelatihan yang tepat tunanetra dapat menjadi pribadi yang tangguh dan siap berkipra secara wajar ditengah masyarakatnya.
2. Perkembangan kepribadian anak tunarunggu
……..
3. Perkembangan kepribadian anak tunagrahita
Pada anak terbelakang……..

4. Perkembangan kepribadian anak tunadaksa

C. KESIMPULAN
1. Konseling multicultural merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap konsep dan budaya lain terutama bagi konselor agar dapat memberikan bantuan secara efektif sesuai perspektif budaya konseling.
2. Untuk dapat memberikan konseling multicultural secara efektif, konselor multicultural harus dapat memahami karakterbudaya dari konselingnya, serta merancang segala tindakan dalam perspektif budaya konseling.
3. Beberapa prinsip dasar yang harus disadari konselor dalam melaksanakan konseling multicultural antara lain :
a. Kesadaran tentang kemampuan konselor
b. Kesadaran tentang memahami konseli dan nilai-nilainya.
c. Kesadaran tentang kemampuan melaksanakan proses konseling yang mampu mendorong optimisme dan menemukan sulusi yang realistis.
4. Sebelas kompetensi yang menjadi karakteristik konselor multicultural seperti dikemukakaan Sue tersebut dapat disarikan dalam 3 aspek besar yaitu : Pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dengan demikian seorang konselor multicultural harus memiliki pengetahuan tentang teknik konseling dan social budaya , sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan, serta keterampilan dalam memodifikasi teknik-teknik konseling secara efektif dalam latar budaya yang berbeda-beda. Menyangkut konselor Indonesia perlu pula memahami cirri-ciri khusus budaya dan sub budaya dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam serta mampu menjadikan keanekaragaman tersebut sebagai unsure persatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
5. Masalah dan dampak ketunanetraan dalam perkembangan emosi, social dan kepribadian dapat ditanggulangi melalui konseling multicultural sepanjang konselor memiliki kompetensi dalam konseling serta empati dan pemahaman yang benar terhadap tunanetra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: