PERANAN PSIKOLOGI KLINIS DAN BIMBINGAN KONSELING

PERANAN PSIKOLOGI KLINIS DAN BIMBINGAN KONSELING
Oleh: Jon Efendi

1. Tujuan matakuliah ini adalah memberikan apresiasi kepada; BK, Pedagog mengenai pengertian psikologi klinis;
a. Apakah yang dimaksud dengan apresiasi?
Yang dimaksud dengan apresiasi disini adalah sebuah pandangan atau pemahaman bagi seseorang tentang orientasi pekerjaan sebagai profesi psikologi klinis. Psikologi Klinis merupakan ilmu yang menerapkan atau mengaplikasikan Psikologi Abnormal sebagai ilmu dasarnya. Di bidang-bidang lain kita kenal pedologi dan gerontologi, patologi sosial dll yang secaa keseluruhan merupakan bagian dari kajian psikologi klinis,yang juga berkembang dengan nama psikologi klinis anak dan lanjut usia, psikologi klinis sosial atau patologi sosial. Namun, sebagaimana ilmu psikologi pada umumnya, yang merupakan studi tentang perilaku dan penghayatan atas pengalaman seseorang, Psikologi Klinis juga merupakan studi tentang perilaku seorang individu secara dan yang khas (particular individual).
Sejalan dengan pengertian Psikologi Klinis adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristik individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis, serta pemberian saran dan rekomendasi, agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut. Psikologi klinis memusatkan kegiatannya pada aspek intelektual, emosional, biologis, sosial, dan prilaku pemfungsian manusia sepanjang hidupnya, dalam berbagai budaya, dan pada taraf sosioekonomik. Psikologi klinis merupakan bidang dalam psikologi yang meliputi riset, pengajaran, dan pelayanan yang relevan dengan prinip-prinsip, metode, dan prosedur aplikasi untuk memahami, menduga, dan mengurangi maladjust¬ment, ketidakmampuan, dan ketidaknyamanan, aspek intelektual, emosional, biologis, psikollogis,sosial, dan prilaku, ketidak mampuan,dan ketidaknyamanan, diterapkan pada populasi klien untuk rentang yang luas.
b. Apakah ada perbedaan tujuannya?
Jika dilihat dari sudut perbedaan tujuannya maka psikologi klinis lebih mengarah pada penanganan gangguan mental yang berkaitan dengan perilaku secara klinis. Psikologi klinis memusatkan kegiatannya pada aspek intelektual, emosional, biologis, sosial, dan prilaku pemfungsian manusia sepanjang hidupnya, dalam berbagai budaya, dan pada taraf sosioekonomik. Sementara Bimbingan Konseling lebih mengacu pada penanganan yang berkakitan dengan masalah-masalah belajar atau pendidikan (educational). Sehigga klien mendapatkan kesuksesan dalam mengatasi masalah-masalah belajar yang bersumber dari gangguan dari berbagai macam aspek yang menjadi penyebabnya.
c. Apakah pemahaman tujuan diagnosis dalam asesmen klinis tersebut?
Makna diagnosis lebih cenderung mengarak pada pendekatan medis, sementara Asesmen klinis, sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan diagnositika atau khusus untuk masalah-masalah psikologis disebut psikodiagnostika, merupakan upaya untuk memahami gejala-gejala yang menyangkut masalah yang dialami anak-anak. Asesmen klinis ini merupakan aktivitas profesional utama yang dilakukan para praktikus psikologi klinis, yang saat itu kebanyakan terbatas dalam sisi keterampilannya. Sejumlah minoritas klinikus yang melakukan psikoterapi, melakukannya di bawah supervisi psikiatris. Praktek pribadi umumnya jarang, yang dalam kegiatannya terutama lebih banyak merupakan konsultasi psikologis daripada Psikologi Klinis yang sebenarnya. Adapun yang merupakan konsentrasi tetap, lebih banyak dikenal berperan sebagai mental tester oleh atau bagi profesi lain.Maksudnya adalah bahwa psikolog klinis berfungsi merespons permintaan profesi lain,seperti psikiater,psikolog industri dan organisasi,guru, dan lain-lain untuk melakukan tes mental terhadap klien atau pasien mereka.
d. Bedakan tujuan BK dengan pemahaman tujuan S1 Psikologi!
Tujuan BK berbeda dengan tujuan S1 psikologi dikarenakan;
BK bertujuan dalam membantu siswa yang memiliki masalah-masalah berkenaan dengan pembelajaran atau pendidikan. Sementara psikologi menangani permasalahan kelainan kejiwaan dalam kehidupan
BK berorientasi pada masalah-masalah gangguan dalam pendidikan dan kesuksesan dalam pembelajaran.

2. Pendidikan atau disebut training psikologi klinis/saintifict personal approach.
a. Mengapa disebut training, bukan pendidikan/sekolah?
Dalam psikologi klinis selalu menggunakan istilah training dan bukan pendidikan, hal ini dikarenakan untuk menjadi seorang psikolog bagi mereka diperlukan bermacam-macam training dengan tujuan agar mereka terlaltih dalam memberikan intervensi dalam penanganan gangguan mental dengan harapan agar dapat hidup normal dengan lingkungannya.
b. Apakah yang dimaksud degan saintifict personal approach, mengapa demikian?
Adalah suatu kemampuan intelektual bagi seorang psikolog klinis dalam melaksanakan pekerjaan profesionalnya, maka bagi mereka perlu membekali diri sesuai dengan tuntutan perkerjaan tersebut meliputi;
motivasi yang kuat untuk mengatasi permasalahan orang lain.
memiliki kapasitas intelektual yang cukup untuk memperkirakan seberapa kuat individu memiliki sumber stress, keadaan frustrasi, konflik, perasaan tertekan, dan kemampuan untuk berubah.
pengendalian (kontrol) meliputi; overcontrol atau represi, undercontrol atau overexpresiveness, pengendalian rasa cemas (anxiety), pengendalian inadequate saat terganggu, dan pengendalian yang ideal.
Selain itu seorang psikolog dituntut memiliki kemampuan; 1) untuk melakukan intervensi dalam bentuk terapi dan konseling, 2) mampu melakukan Asesmen, psiko diagnostik dan evaluasi, 3) mengajarkan berbagai ilmu psikologis, 4) mampu melakukan pekerjaan sebagai konsultasi, 5) melaksanakan administrasi terkait dengan pekerjaan dalam intervensi, 6) serta melaksanakan penelitian yang menunjang pengembangan dalam bidang pekerjaan mereka.
c. Dalam pendidikan pelatihan psikologi klinis diberikan juga pelatihan-pelatihan atau praktikan mengenai diagnostik/intervensi, Apa tujuan tersebut?
Diharapkan kita akan terlatih dalam menyikapai barbagai permasalahan dan persoalan klinis, memahami sebab-sebab kemunculan gangguan, potensi-potensi yang mendukung serta teknik dan kita-kita untuk menghadapi demi mencari solusi yang tepat dalam memberikan intervensi.
Seseorang calon psikolog klinis mereka harus memiliki kompetensi yang mendukung pekerjaannya meliputi; a) pemahaman akademik yang berlatang belakang keilmuan terkait, b) pengalaman tentang riset yang bermakna dalam peningktan kualitas intervensi, c) serta pengalaman klinis yang banyak mendukung dalam berbagai penangan gangguan-gangguan bersifat klinis terhadap perilaku yang muncul dalam kehidupan manusia.
d. Apakah praktikum itu merupakan Esensial atau tambahan?
Prarikum bagi seorang psikolog klinis merupakan suatu hal yang sangat essensial sekali dalam rangka menunjang keprofesionalan kerja. Melalui pratikum kita dapat belajar dalam menangani berbagai masalah dan berbagai kasus, dengan demikian kita akan semakin terlatih dan mantap dalam memberikan terapi sebagai alternatif yang ingin kita terapkan sebagai usaha penyembuhan.
Ada lima hal yang menjadi acuan dalam hal ini, yakni: (a) psikolog klinis akan menyelenggarakan pelatihannya dan departemen-departemen di unversitas; (b) mereka akan dilatih pertama-tama sebagai ilmuwan dan kemudian baru sebagai klinikus; (c) mereka akan dibutuhkan untuk melakukan magang klinikus; (d) mereka akan mencapai kompetensi diagnosis, psikoterapi, dan riset; dan (e) kulminasi pelatihan gelar Ph.D. yang meliputi kontribusi riset original di lapangan.
Tanpa praktikum mustahil kita mampu memahami dan menjiwai secar langsung pekerjaan yang akan kita geluti, sehingga melalui praktikum kita banyak mendapat berbagai pengalaman yang mampu mengasah keprofesionalan kita, bukankah pengalaman itu merupakan guru yang paling baik?

3. Mengenai Psikodiagnostik/assesment klinis.
a. Mengapa harus didasarkan kepada psikolog kepribadian atau tidak cukup psikologi umum saja?
Seorang psikolog klinis harus lebih banyakmemahami kepribadian seseorang, dikarenakan kepribadian merupakan suatu yang dapat menjadikan dasar bagi seseorang dalam bertindak sebagaimana pribadinya. Melalui mempelajari kepribadian psikolog klinis lebih mantap dalam memahami sebab-sebab munculnya perilaku klinis.
Kalau psikolog klinis terdapat banyak kemungkinan sasaran atau target yang akan diusahakannya. Psikolog klinis dapat memusatkan perhatian terhadap (1) disfungsi (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran,emosi,atau tindakannya. Dalam kasus-kasus lain, bisa jadi mereka memusatkan perhatian untuk menemukan (2) kekuatan klien, dalam hal kemampuan, keterampilan, (3) kepribadian subyek. Dalam hal ini bisa jadi ia akan menyelenggarakan tes, observasi, dan interview untuk membantu menemukan kebutuhan, motivasi, pertahanan,dan pola perilaku subyek.
Psikolog klinis juga mengases kekuatan dan kelemahan lingkungan sosial individual dan efek lingkungan sosial terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku klien. Asesmen demikian dikenal dengan sebutan analisis fungsional, di mana psikolog klinis menaruh perhatian untuk mengevaluasi perubahan perubahan dalam perilaku yang dihasilkan oleh pilihan spesifik dalam situasi hidupnya. Pada kebanyakan asesmen, psikolog klinis memfokuskan diri pada lingkup target yang luas, bergerak dari kekuatan atau aset sampai kelemahan, dan dari determinan perilaku stabil sampai perubahan perilaku.
b. Apa yang menjadi pin point hasil test psikologi seorang konselor atau psikolog?
Hasil tesnya mengarah kepada ketepatan hasil test yang mampu mengungkap berbagai aspek kejiwaan, berbagai alternatif pemunculan masalah gangguan, dan alternatif pemecahan intervensinya.
c. Misalnya tes berhitung, Apa yang dilihat oleh psikolog atau pendidik?
Untuk melihat kemampuan seseorang dalam penggunaan nomerikal, kecepatan berpikir, ketepatan, dan kecermatan dalam berpikir persoalan berhitung.
Melalui tes berhitung seseorang akan mampu menemukan kelemahan dan alternatif intervensi yang mampu menunjang keberhasilan dalam persoalan berhitung. Dengan demikian akan dapat dibuatkan program intervensi yang dirasakan cocok dalam membantu mereka agar terlepas dari permasalahannya.
d. Mengapa istilah psikodiagnosis berubah menjadi psikologi klinis?
Bahwa profesi psikologi sampai saat ini belum mendapat perlindungan hukum, sehingga banyak ahli atau bukan yang melakukan praktik psikologi, yang bisa jadi tidak didasarkan pada kaidah-kaidah baku, karena memang bukan lulusan dari fakultas psikologi. Mereka tidak terkena aturan kode etik sebagaimana diatur dan disepakati inggota HIMPSI.
Fokus perhatian telah bergeser dari mencari sifat atau faktor-faktor internal dalam diri individu yang menjadi penyebab gangguan menjadi faktor-faktor luarnya yang membentuk prilakunya. Pada akhir tahun 1960-an perjalanan ke berubah prilaku yang tidak diinginkan mulai menjadi tajam dalam psikoterapi (dan insight dirancang menjadi memproduksi) menjadi pembiasaan dan pengubahan kontingensi penguatan.

4. Intervensi
a. Mengapa istilah Intervensi dianggap tepat dari pada terapi?
Istilah intervensi yang digunakan berkaitan dalam rangka menemukan berbagai alternatif dan solusi peyembuhan gangguan klinis, yang lebih menekankan adanya proses yang bersinambungan dan mengetahui sebab munculnya gangguan.
Sedangkan istilah terpi akan sangat banyak berkaitan dengan penggunaan penyembuhan melalui media dan penggunaan pengobatan dari profesi kedokteran. Intervensi dalam hal medis lebih mengedepankan aspek penanganan bersifat penyembuhan secara fisik dan sedikit psikis.
Intervensi dalam rangka psikologi dan khususnya psikologi klinis adalah membantu klien atau pasien menyelesaikan masalah psikologis, terutama sisi emosionalnya. Kendali dan Norton Ford berpendapat bahwa intervensi klinis meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang mengalami masalah-masalah dan memiliki keinginan mengembangkan kehidupannya secara lebih memuaskan. Psikolog klinis menggunakan pengetahuannnya mengenai pemfungsian manusia dan sistem-sistem sosial dalam kombinasi dengan hasil asesmen klinis guna merumuskan cara untuk membantu pengubahan pribadi klien ke arah yang lebih baik.
Alasan penggunaan intervensi klinis didasarkan pada tiga dasar, yaitu ameliorasi, prevensi, dan pengembangan. Ameliorasi adalah menolong orang atau sistem sosial untuk menanggulangi masalah-masalah yang telah terjadi. Misalnya menangani orang yang sedang mengalami rasa cemas atau merasakan kegagalan dan kehidupannya. Prevensi meliputi usaha-usaha untukmeramalkan masalah-masalah sebelum berkembang,misalnya dalam bentuk merencanakan pembangunan suatu pusat rekreasi agar masyarakat sekitar tidak melakukan perbuatan kriminal. Pengembangan adalah usaha untuk membantu orang meningkatkan keterampilan pribadi, relasi,dan lingkungan hidupnya.
b. Saat ini banyak sekali terapi/interviu yang tidak memerlukan diagnostik, mengapa?
Jika kita lihat terhadap apa yang berkembang dimasyarakat sekarang bukanlah menggambarkan suatu praktek psikologi klinis. Hal ini berkembang dapat disebabkan oleh karena kurangnya pengawasan dari organisasi keilmuan terhadap kewenangan dalam memberikan penanganan terhadap sesuatu masalah klinis.
Apa yang terjadi dimasyarakat sekarang hanyalah semacam upaya sedrhana yang belum bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan, dengan demikian kita sebagai orang yang mengerti tentang praktek psikologi harus melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu alternatif penangan dan belum bisa dipertanggung jawabkan.
Tidak penting bagaimana kita melakukan usaha dalam psikoterapi, tetap saja intinya adalah penanggulangan. Istilah lain yang sering digunakan, ialah reedukasi, proses pertolongan, dan bimbingan; tidak sekedar pemerian atas kejadian-kejadian dalam cara penanggulangan, melainkan senantiasa dengan tujuan yang jelas, yakni menanggulangi masalah yang dihadapi klien.
Tidak termasuk dalam psikoterpi ini adalah terapi-terapi somatik seperti obat, terapi konvulsif, pembedahan dll, meskipun memberikan efek terapeutik,tidak secara tegas menampilkan ciri psikoterapi.
c. Berikan contoh intervensi klinis yang tidak menggunakan diagnostik!
Sebagai contoh adalah berbagai macam angket dan kuis yang banyak tersebar di berbagi macam mas media, baik cetak, elektronikan dan media promosi lainnya. Angket yang terdapat dimasyarakat bebas itu dibuat tidak untuk mengungkapkan persoalan gangguan secara klinis dan tidak dilatarbelakangi keilmuan yang jelas, jika ditelusuri kemunculannya hanya semacam alternatif sederhana yang kurang didasi oleh keilmuan psikologi seseorang yang membuatnya.
d. Adakah perbedaan tujuan intervensi BK pendidik dengan yang psikologi?
Letak perbedaan yang paling nyata adalah pada objek yang menjadi sasaran, misalnya untuk bidang keilmuan Bimbingan Konseling lebih mengkonsentrasikan dalam hal penangan masalah-masalah psikologis yang berkaitan dengan gangguan pembelajaran atau mengarah pada objek educational saja, walaupun mereka masih menggunakan pendekatan psikologi yang hampir bersamaan.
Sementara tujuan Psikologi lebih mengacu pada persoalan-persoalan psikologi yang bersifat gangguan kejiwaan dan keabnormalan secara kejiwaan. Namun ada saatnya terkadang mereka dapat menjadi sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, tergantung pada kepentingan dan penanganan terhadap intervensi yang dibutuhkan.
Daftar Bacaan
Sutardjo, a Wiramihardja, (2009), Pengantar psikologi Klinis, Refika Aditama, Bandung.
Sutardjo, a Wiramihardja, (2005), Pengantar psikologi Abnormal, Refika Aditama, Bandung.
Jhon McLEOD, (2006) Pengantar Konseling, teori dan studi kasus, Kencana Predana Media Group, Jakarta.
Norman D Sundberg, at.all, (2007) Psikologi Klinis, teori, praktik, dan penelitian, Pustaka pelajar, Yogyakarta.
Winkel, (1995) Bimbingan dan Konseling di institusi pendidikan, Gramedia widiasarana, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: