Pijat (Massage) Bagi Tunanetra (Penelitian Dosen Muda)

BAB I
A. LATAR BELAKANG
Beberapa kemampuan dan pilihan karier yang dilakoni oleh penyandang tunanetra mulai mendapat perhatian dalam kapasitas diperlukan oleh pengguna jasanya. Maka dari itu pemerintah berusaha mempersiapkan dengan membekali penyandang tunanetra keahlian di bidang jasa dengan tujuan agar mereka dapat hidup mandiri dan berusaha secara ekonomi. Usaha pemerintah tersebut dapat dilihat dengan berdirinya panti sosial yang dikelola oleh departemen sosial.
Departemen sosial sebagai pengelola yang mempersiapkan keterampilan bagi penyandang tunanetra telah berupaya memberikan layanan bimbingan yang mengarah pada beberapa keterampilan produktif bagi bekal hidup dimasyarakat. Keterampilan tersebut mengacu pada keterampilan jasa yang diberikan dalam bentuk program pelatihan oleh panti. Adapun bentuk latihan keterampilan tersebut meliputi; 1) keterampilan massage, 2) keterampilan akupuntur, 3) keterampilan shiatsu, 4) keterampilan merajut, dan 5) kursus Ilmu Arab Braille. Dengan harapan setelah selesai dari pelatihan keterampilan , maka para penyandang tunanetra dapat berusaha sendiri untuk kebutuhan hidup sehari-hari secara ekonomi. Wujud nyata dari keberhasilan Departemen Sosial (Depsos) yakni berkembangnya panti pijat yang dikelola oleh penyandang tunanetra di berbagai kota dewasa ini.
Berdasarkan studi awal yang dilakukan ke Panti Binanetra Kalumbuk Padang tanggal 25 September 2003 diperoleh informasi bahwa beberapa keterampilan yang diberikan oleh Panti Binanetra ternyata yang paling banyak menarik minat yakni Bidang keterampilan Massage. Lebih lanjut dilakukan diskusi dengan para instruktur yang memberikan latihan keterampilan. Disampaikan bahwa dari sekian banyak lulusan pelatihan keterampilan bagi penyandang tunanetra ternyata keterampilan massage yang paling banyak diminati. Selain itu profesi sebagai masseur bagi penyandang tunanetra dewasa ini sudah dapat diterima oleh masyarakat pengguna jasa. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya panti pijat sebagai penjual jasa yang diprakarsai oleh juru pijat (masseur) tunanetra.
Wujud dari diterimanya jual jasa tersebut terbukti dengan mulai banyaknya berdiri panti-panti pijat sebagai tempat praktek massage yang dikelola oleh para penyandang tunanetra tersebut seperti kota Padang, Bukitinggi, Payakumbuh. Lebih lanjut dikatakan bahwa kehadiran panti pijat tersebut ternyata dapat menghidupi para penyandang tunanetra secara ekonomi dan dapat menunjang penghasilan keluarga. Disampaikan bahwa untuk kunjungan sekali pijat untuk ukuran Kota Padang mereka mematok tarif minimal Rp. 15.000. Melalui perhitungan angka jika mereka menerima tiga orang pasien setiap hari artinya Rp.45.000. sudah mereka kantongi sebagai bekal hidupnya. Usaha pembuktian lebih lanjut dilakukan dengan survey ke Panti pijat (inisial R) diperoleh informasi bahwa disamping bekerja sebagai pegawai negeri mereka memperoleh penghasilan sebagai juru pijat lebih kurang Rp. 50.000. setiap harinya. Sementara panti pijat lain menyatakan untuk ukuran ekonomi dari penghasilan sebagai pemijat mereka menyatakan berpenghasilan mencukupi untuk kebutuhan keluarga.
Keberadaan panti pembinaan bagi para penyandang tunanetra di wilayah Sumatera Barat memiliki program latihan berupa keterampilan. Salah satu panti tersebut misalnya “Panti Binanetra Kalumbuk Padang” yang dikelola oleh Depsos. Maka satu-satunya Panti yang membina tunanetra inilah yang menyelenggarakan latihan keterampilan massage/pijat bagi anak binanya. Walaupun masih ada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang juga berwenang dalam meyelenggarakan keahlian di bidang keterampilan massage. Dalam hal ini seperti yang diprogramkan oleh SLB Tunaetra Payakumbuh. Dinyatakan bahwa kemampuannya masih terbatas pada menyelenggarakan pendidikan. SLB sulit melaksanakan program keterampilan pijat yang mampu membekali penyandang tunanetra untuk hidup secara ekonomi dengan menjual jasa pijat. Lebih lanjut dinyatakan salah seorang guru SLB Tunanetra payakumbuh mereka belum mampu memberikan keterampilan pijat secara kontinu pada siswanya. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar SLB-SLB yang belum memiliki tenaga guru atau instruktur yang mampu melatih dan mengajarkan materi pijat seperti yang diberikan di Panti Binanetra Kalumbuk Padang. Berdasarkan wawancara dengan beberapa instruktur massage di kalumbuk dinyatakan bahwa keterampilan massage tersebut diperoleh melalui pelatihan selama dua bulan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Depsos. Lebih lanjut diperoleh informasi dari beberapa orang kepala SLB di Kota Padang menyatakan bahwa untuk pelatihan keterampilan massage yang dilaksanakan oleh Depsos tersebut tidak pernah mengikutsertakan guru-guru SLB. Sedangkan di SLB juga melayani para penyandang tunanetra, maka guru-guru SLB merasa perlu untuk menguasai ketarampilan massage sehingga siap untuk membekali siswanya dengan keterampilan tersebut.
Berkenaan dengan permasalahan yang sudah dipaparkan di atas peneliti sebagai akademisi dibidang Pendidikan Luar Biasa (PLB) ingin mengungkap secara deskriptif tentang penyelenggaraan keterampilan terhadap penyandang tunanetra untuk menguasai keterampilan massage meliputi, metode, alat bantu, serta melakukan evaluasinya. Untuk itu diperlukan suatu usaha penelitian yang mendalam tentang pencarian data dilapangan sehingga wujud penyelenggaraan latihan tersebut dapat dijadikan sumber informasi bagi para pengguna dan peneyelenggara pendidikan luar biasa.
B. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini diajukan dalam bentuk pertanyaan. “Bagaimanakah gambaran pelaksanaan keterampilan massage bagi penyandang tunantera di Panti Binanetra Kalumbuk Padang ? Pertanyaan tersebut perlu dibuktikan dengan melakukan penelitian yang mendalam serta menyeluruh meliputi bidang kajian metode, alat bantu, dan penyelenggaraan evaluasinya.
C. FOKUS PENELITIAN
Sejalan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan maka fokus penelitian ini menetapkan pada sport massage. Pijat jenis ini ditujukan untuk orang yang aktif berolah raga dan atlit olah raga. Agar penelitian terarah maka perlu ditetapkan fokus penelitian sebagai berikut;
1. Pelaksanaan keterampilan massage/pijat pada penyandang tunanetra di Panti Binanetra Kalumbuk Padang meliputi metode, alat bantu,dan evaluasinya.
2. Kendala-kendala yang dihadapi para instruktur dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padangberkaitan dengan metode, alat bantu, dan evaluasinya.
3. Usaha-usaha yang dilakukan oleh para instruktur dalam mengatasi kendala dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
E. PERTANYAAN PENELITIAN
Pertanyaan penelitian yang diajukan dan akan dicari jawabanya dalam penelitian sebagai berikut;
1. Bagaimanakah gambaran pelaksanaan keterampilan massage/pijat pada penyandang tunanetra di Panti Binanetra Kalumbuk Padang ?
2. Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi para instruktur dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang ?
3. Usaha-usaha seperti apakah yang dilakukan oleh para instruktur dalam mengatasi kendala dalam melaksanakan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang
F. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pertanyaan penelitian yang diajukan seperti berikut.
1. Mengungkap gambaran penyelenggaraan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
2. Menemukan kendala-kendala yang dialami para instruktur berkaitan dengan penyelenggaraan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
3. Mengungkapkan pemecahan masalah dari kendala-kendala yang dialami para instruktur berkaitan dengan penyelenggaraan keterampilan massage/pijat di Panti Binanetra Kalumbuk Padang
G. KONTRIBUSI PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki sumbangan pemikiran pada semua pihak terkait seperti berikut.
1. Bagi guru-guru SLB dan instruktur massage, penelitian ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam penyelenggaraan keterapilan massage/pijat.
2. Sebagai bahan masukan bagi Depsos dalam upaya meningkatkan pelayanan bagi penyandang tunanetra untuk mempersiapkan mereka keterampilan produktif dan bernilai ekonomi.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi para praktisi yang ingin melaksanakan keterampilan massage bagi penyandang tunanetra.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. KONSEP MASSAGE
A. Pengertian Massage.
Pengertian massage dirujuk berdasarkan buku panduan instruktur yang diterbitkan oleh Depsos (1998:4). Perkataan massage berasal dari bahasa Arab “Maas” yang berarti menyentuh atau meraba. Sedangkan kata massage berasal dari bahasa Francis. Di Indonesia disebut pijat atau mengurut. Massage dapat diartikan pijat yang telah disempurnakan dengan ilmu-ilmu tentang tubuh manusia, dan dapat pula di artikan dengan gerakan-gerakan tangan yang mekanis terhadap tubuh manusia mempergunakan bermacam-macam bentuk pegangan atau manipulasi. Pengertian untuk pijat yang dipakai di Indonesia dapat dikutip dari kamus Bahasa Indonesia Balai Pustaka (1995;767) Pijat diartikan sebagai kegiatan mengurut bagian tubuh untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah lancar.
Berkenaan dengan pengertian tersebut terkandung suatu usaha untuk merileksasikan tubuh agar kembali segar setelah melakukan aktifitas berolah raga. Maka untuk mendapatkan kondisi tersebut orang melakukan pijat untuk mengembalikan kebugaran tubuh.

B. Macam-macam Massage
Sejalan dengan sejarah massage dan dimana kebedaraannya dipakai dan dibutuhkan orang dimuka bumi ini, maka ia memiliki karakter dan kunikan tersendiri. Pada kajian ini macam massage/pijat keterampilan tersebut dapat dikuasai oleh tunanetra sebagai keterampilan bernilai ekonomis.
Massage terdiri dari tiga macam sesuai dengan pendapat yang dikutip dari Depsos (1998;4) mengemukakan sebagai berikut:
1. Sport Massage; pijat yang dipakai dalam bidang sport atau olah raga. Ditujukan utuk membentuk dan memelihara kondisi badan para olah ragawan agar konstan baik.
2. Segment Massage; pijat yang dilakukan untuk mengobati beberapa macam penyakit tanpa memasukkan obat ke dalam tubuh. Ditujukan untuk meringankan atau menymbuhkan beberapa bacam penyakit yang boleh di pijat.
3. Cosmetic Massage; Pijat yang dipakai dalam bidang pemeliharaan kecantikan. Ditujukan untuk membersihkan dan menghaluskan kulit, juga untuk menjaga agar kulit tidak lekas mengerut (awet muda).
Memperhatikan macam-macam pijat yang terdiri dari tiga jenis tersebut maka dalam kesempatan penelitian ini peneliti akan berusaha mengungkap tentang pelaksanaan Sport Massage. Pembatasan kajian dilakukan agar masalah tetap pada alur atau objek teliti. Dengan demikian penelitian ini hanya sebatas ruang lingkup massage yang ditujukan untuk orang yang aktif berolah raga dengan tujuan tubuhnya menjadi segar kembali setelah lelah berolah raga atau beraktivitas yang banyak membutuhkan tenaga dan kekuatan otot.

C. Sport Massage
Agar pembaca dapat memahami apa menjadi kajian penelitian maka perlu dibicarakan sekilas tentang sport massage. Untuk itu dikutip pendapat dari buku pedoman instruktur keterampilan massage yang diterbitkan oleh Depsos (1998:11-35). “Pengertian tentang sport massage yakni pemijatan yang dilakukan oleh kalangan olah raga atau orang-orang yang beraktivitas tinggi, betujuan untuk membentuk dan memelihara kondisi badan agar tetap konstan/baik”.
Pelaksanaan massage diperlukan bentuk-bentuk manipulasi seperti: a) Eflurage = menggosok, b) Petrissage = memijat, c) Shaking = menggoncangkan, d) Friction = menggerus, e) Tapotement = memukul, dan f) Chiropraktik = melonggarkan persendian.
Lebih lenjut masih dalam sumber yang sama Depsos (1998) dijelaskan, daerah yang harus dimassage/pijat meliputi; a) posisi telungkup; daerah paha bagian belakang dan samping, tungkai bawah bagian belakang, tapak kaki dan tumit, daerah pantat, daerah pinggang dan punggung; b) posisi telentang; paha bagian depan dan samping, tungkai bawah bagian depan,punggung kaki dan telapak kaki, lengan atas dan lengan bawah, tangan dan jari-jari, daera dada dan perut; c) posisi duduk; daerah tengkuk dan bahu, daerah kepala.

D. Cara Mempraktekkan Massage
Cara mempraktekkan massage tidaklah mudah sebab dengan gerakan asal-asalan saja akan dapat berkibat orang yang dipijat merasa kesakitan atau mtidak enak. Berkaitan dengan itu pelaksanaan massage perlu memperhatikan beberapa hal penting untuk diingat sebelum melakukan praktek sport massage yang dikutip berdasarkan buku pedoman instruktur massage Depsos (1998) sebagai berikut:
a. Gosokan dan urutan selalu menuju ke arah jantung dan boleh menyamping.
b. Gerakan manipulasi harus dilakukan dengan supel dan kontinu.
c. Manipulsi dilakukan kurang lebih 5 kali pada tiap bagian tubuh.
d. Dosis kekuatan tekanan saat memijat untuk masing-masing individu disesuaikan dengan kondisi atau permintaan pasien.
e. Badan pasien harus dalam keadaan rilek, lemas dan bersih.
f. Pakaian pasien seminim mungkin untuk memudahkan gerakan-gerakan manipulasi.
g. Pakaian juru pijat tidaklah terlalu sempit dan tidak memakai asesories.
h. Setelah melakukan praktek tangan juru pijat hendaklah dicuci, perguanakan handuk kecil untuk mengelap
i. Gunakan bahan pelicin menurut selera pasien.
j. Massage selalu dimulai dan diakhiri dengan eflurage (gosokan) sebanyak 5 kali.
k. Juru pijat melaksanakan senam sekurangnya dua kali seminggu untuk menjaga kebugaran.
E. Penyakit yang Boleh Dimassage/Pijat
Beberapa penyakit yang bisal dimassage berdasarkan pedoman massage Depsos (1998) menyatakan bahwa perlu diperhatikan beberapa indikasi dari penyakit yang boleh dimassage seperti berikut: a) masuk angin, b) keseleo/terkilir, c) kram/kejang, d) asma bronchiale, e) sukar buang air besar, f) rematik, g) tekanan darah tinggi/rendah, h) lemah syahwat/impoten, I) datang bulan tidak teratur, j) sakit kepala, k) penyakit pinggang, l) nyeri persendian, m) mabuk kendaraan, n) kelayuan/kekuan otot, o) diabetes militus/kencing gula, p) insomnia atau susah tidur yang tidak teratur.
F. Tujuan Massage/Pijat
Tujuan massage pada umumnya dapat ditetapkan sesuai dengan definisi dan manfaat yang diperoleh setelah orang melakukan pijat. Berkenaan dengan itu maka tujuan massage yang dikutip dari Depsos (1998;4) ditetapkan sebagai berikut:
1. Melancarkan peredaran darah terutama peredaran darah di pembuluh vena (pembuluh balik) dan peredahan darah getah bening (air limphe)
2. Menghancurkan pengumpalan sisa pembakaran di dalam sel otot yang telah mengeras.
3. Menyempurnakan pertukaran gas dan zat dalam jaringan atau memperbaiki proses metebolisme.
4. Menyempurnakan pembagian zat makanan keseluruh tubuh.
5. Menyempurnakan proses pencernaan makanan.
6. Menyempurnakan proses pembuangan sisa pembakaran.
7. Merangsang kekuatan otot untuk bekerja yang lebih berat.
8. Mengaktifkan saraf sadar dan kerja saraf tak sadar.
9. Membantu penyerapan pada peradangan bekas luka.
10. Membentuk sel baru atau menyuburkan pertumbuhan tubuh.
11. Membersihkan dan menghaluskan kulit.
12. Memberikan perasaan nyaman, segar dan kehangat pada tubuh.
13. Meringankan gangguan penyakit yang boleh dipijat.

Sehubungan tujuan yang telah ditetapkan oleh Depsos di atas maka dapat dimaknai bahwa tujuan pijat akan bermakna lebih baik bagi orang dalam rangka penyegaran kembali tubuh setelah beraktifitas. Dengan melakukan pijat maka orang akan memperoleh peningkatan daya tahan otot dan kebugaran badan agar tampak lebih sehat dan bugar.
G. Manipulasi Pijat, Efek dan Penggunaannya
Manipulasi berarti cara memegang dengan tangan atau sikap tangan waktu memijat. Kemampuan memanipulasi dalam pijat sangat diperlukan terhadap kemampuan seorang pemijat. Kemampuan dalam manipulasi terbagi dalam beberpa jenis pijatan seperti yang dikutip dari Depsos (1998;5-10) dapat disarikan sebagai berikut:
a. Eflurage (gosokan); dilakukan dengan seluruh permukaan telapak tangan melekat pada bagian tubuh yang digosok. Gosokan harus selalu berakir pada kelenjer limphe (ketiak atau lipat paha). Sedangkan variasi dilakukan seperti berikut; 1) mempergunakan telapak tangan untuk gosokan dangkal, 2) mempergunakan pangkal telapak tangan untuk gosokan dalam, 3) dan mempergunakan punggung kepalan jika memijat pada otot yang besar dan dalam.
b. Pertissage (Pijatan); Mempergunakan empat jari merapat berhadapan dengan ibu jari lurus. Gerakannya memijat dengan memeras otot, sedikit ditarik ke atas dan dilakukan untuk semua kelompok otot. Variasi yang dapat dilakukan; 1) Kneding dengan mempergunakan satu atau dua tangan, 2) Wringing (gosokan lipat pindah) dengan mempergunakan kedua belah tangan yang ditujukan untuk otot pantat, pinggang, dan punggung, 3) Pieking-Up dengan mempergunakan kedua belah tangan yang dipegang pada otot secara bergantian dengan gerakan kemuka dan belakang.
c. Shaking (goncangan); dengan mempergunakan satu tangan atau keduanya yang dilakukan pada daerah: otot paha, tungkai bawah, kaki, tengkuk dan bahu, lengan atas-bawah, tangan dan perut.
d. Tapotement (pukulan); dengan satu tangan atau keduanya secara bergantian. Variasi dalam pukulan ; 1) Beating dengan mempergunakan jari-jari lemas yang berguna untuk merilekskan otot yang akan dipijat, 2) Clapping; pukulan dengan mempergunakan telapak tangan dan jari-jari yang berguna untuk mempengaruhi kulit mengeluarkan kelenjer keringat, 3) Hacking; pukulan dengan jari-jari tangan miring dengan telapak tangan saling berhadapan. Digunakan pada daerah pinggang dan punggung, 4) pounding; yakni pukulan dengan mengkombinasikan pukulan.
e. Friction (gerusan); berbentuk gerakan kecil yangdilakukan dengan mempergunakan ujung tiga jari (telunjuk, tengah,manis). Gerakan dapat dilakukan berputar berlawanan arah jarum jam.
f. Vibration (getaran); gerakan dengan menggunakan ujung jari-jari yang digetarkan pada tubuh dan tidak boleh keras.
g. Stroking (mengurut); dengan menpergunakan ujung tiga jari (telunjuk, tengah,manis) untuk menguatkan tekanan.
h. Skin-Rolling (melipat atau menggeser kulit); Dilakukan seperti mencubit, kemudian kulit digeserkan diikuti gerakan maju dari ibu jari sambil menekan.
i. Cheropratik (melonggarkan persendian); dilakukan setelah massage selesai dilakukan. Seluruh tubuh harus dalam keadaan rileks dan dilakukan saat pasien mengeluarkan nafas. Macam-macamnya; 1) Menekuk kepala ke samping, 2) Menengok kepala ke samping belakang, 3) Mengankat kepala ke atas, 4) Menekan punggung saat telungkup, 5) Pinggang pada posisi miring dan telungkup, 6) Columna verteberalis, 7) Punggung posisi duduk, 8) Tengkuk dan bahu, 9) Pergelangan dan jari-jari.
H. Peralatan Massage/Pijat
Peralatan massage bagi seorang juru pijat (Masseur) perlu dipersiapkan terlebih dahulu agar saat pelaksanaan tidak terganggu atau gerakan pijat menjadi terputus atazu terganggu. Bagi seorang masseur alat utamanya yakni kedua tangan yang bersih dan sehat, bebas dari penyakit menular. Pakaian harus bersih disarankan warna putih, dan sebuah tas sebagai tempat perlengakpan juru pijat. Selanjutnya untuk melaksanakan kegiatan pijat diperlukan alat dan perlengkapan yang dikutip berdasarkan buku pedoman instruktur massage oleh Depsos (1998) sebagai berikut:
a. Ruangan praktek atau panti pijat mempunyai; kamar tunggu, kamar praktek, kamar kecil, papan nama, dan tarif.
b. Dipan tempat tidur (Panjang 2 meter, lebar 6 cm). Tingginya disesuaikan dengan juru pijat.
c. Kasur dan sprei harus bersih dan berwarna putih sehingga kesannya terang, terbuat dari kapuk supaya tidak panas.
d. Bantal guling besar dan kecil serta sarungnya.
e. Bahan pelicin; talk atau bedak bayi, baby oil dan sejenisnya, dan balsem.
f. Peralatan lain; tempat cuci tangan dan air, sabun dan carbol, handuk dan raknya, kastok dan sisir, kain penutup.
I. Metode Latihan Massage/Pijat
Metode yang dilakukan saat mengajarkan latihan massage atau pijat pada umumnya mengacu pada beberapa macam metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Berkaitan dengan itu para instruktur juga perlu merencanakan pemilihan motode yang tepat. Dengan demikian metode pijat yang sesuai dengan karakter siswa atau kalayan yang dilatihnya akan dapat memahami materi pelatihan dan lebih cepat menyerap saat diberikan pelatihan.
Menurut Arief S. Sadiman (1984) ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab untuk menentukan strategi pembelajaran yaitu;
1. Dalam kondisi dan konteks lingkungan tertentu, bagaimana kegiatan pembelajaran di laksanakan ?
2. Dimana letak titik sentral kegiatan pembelajaran ? Pada guru/institusi, atau pada siswa ?
3. Pola pembelajaran tipe apa yang akan digunakan ?
pola kurikulum – guru kelas – siswa ?
pola kurikulum – guru kelas – AVA – siswa ?
pola kurikulum – guru kelas – AVA dan guru media – siswa ?
pola kurikulum – guru media – siswa ?
4. Metode apa saja yang akan digunakan agar siswa dapat mencapai tujuan belajar secara efektif dan efisien ?
5. Bagaimana siswa dikelompokkan ? Kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, atau pembelajaran individual ?
6. Bagaimana pemanfaatan atau pengelolaan sumber-sumber belajar ? Media pembelajaran apa saja yang diperlukan ?
7. Bagaimana program, proses, dan hasil belajar dievaluasi ?
Suasana belajar yang bagaimana yang harus diciptakan, kooperatif, kompetitif, atau individualistik ?
Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam pelatihan massage atau pijat dikutip dari A.J. Romiszowski (1983), Jenis-jenis strategi pembelajaran antara lain seperti berikut:
a. Metode ceramah; sering dianggap sebagai metode yang tidak memerlukan waktu persiapan. Memberikan ceramah dianggap sebagai tugas rutin dengan menggunakan metode suara saja. Sedangkan peralatan yang diperlukan dengan menggunakan overhead transparency.
b. Metode simulasi; memerlukan persiapan dan pasilitas yang dilaksanakan sesuai dengan situasi seperti yang sebenarnya. Tujuannya ialah memberikan pengalaman praktek kepada siswa.
c. Metode demonstrasi; dilakukan dengan cara memperagakan gerakan-gerakan yang dilakukan dalam latihan pijat oleh instruktur kepada siswa pelatihan. Selanjutnya siswa mencobakan sendiri peragaan yang telah dilakukan.
d. Metode drill; dengan memberikan latihan dan pengulangan sesering mungkin sehingga siswa dapat mengetahui kesalahan dan melakukan perbaikan atas kesalahan yang dilakukan dalam latihan pijat dibawah pengawasan instruktur.

II. KONSEP TUNANETRA
A. Pengertian Anak Tunanetra
Dipandang dari segi etimologi istilah tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra. Menurut Depdikbud (1995:1083) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tuna berarti: rusak, luka, kurang, tidak memiliki sedangkan netra berarti: mata. Tunanetra berarti rusak matanya atau luka matanya atau tidak memiliki mata yang berarti buta atau kurang dalam penglihatan. Berikut beberapa batasan yang dikemukakan para ahli tentang tunanetra:
Menurut beberapa ahli dalam pendidikan luar biasa yang dikutip dari Abdurrahman (1994:43) menyatakan bahwa:
Tunanetra dapat diartikan penglihatan yang tidak normal biasanya memiliki ketajaman penglihatan 20/20 (pueschel, 1988;p.63). Ketajaman penglihatan diukur dengan membaca huruf,huruf, angka,angka atau symbol pada chart sejauh 20 kaki (Heward & Orlansky, 1988:p.296)
Seseorang dikatakan buta (blind) bila ketajaman penglihatan sentral 20/200 yaitu yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki yang dapat dilakukan orang berpenglihatan normal pada jarak 200 kaki.
Orang yang tidak memiliki ketajaman penglihatan sama sekali atau visus matanya 0 (nol) disebut buta.

Pendapat lain yang dikemukakan oleh Nolan dalam Anastasia (1996:5) menyatakan bahwa:
Seseorang dikatakan buta (blind) bila ketajaman penglihatan sentral 20/200 atau kurang pada penglihatan terbaiknya setelah dikoreksi dengan kacamata atau ketajaman penglihatan sentralnya lebih dari 20/200 tetapi ada kerusakan pada lantang pandangnya membentuk sudut yang tidak lebih besar dari 20 derajat.
Seiring dengan kutipan di atas dimaknai bahwa jika seseorang tidak mampu mempergunakan matanya untuk kegiatan pendidikan maka orang tersebut dapat dikatakan tunanetra. Pandangan yang dilihat dari sisi pendidikan mengisaratkan bahwa anak tunanetra yaitu anak yang tidak menggunakan penglihatannya dan bergantung pada indera lain seperti pendengaran, perabaan.
B. Klasifikasi Anak Tunanetra
Klasifikasi tentang anak tunanetra yang dikutip menurut Anastasia (1996) yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
1) Pengelompokkan berdasarkan tingkat ketajaman penglihatan.
No Visus Klasifikasi Keterangan
1 6/6m6/16m atau 20/20 feet- 20-50 feet Normal Bahwa orang normal dapat melihat sesuatu benda tertentu pada jarak 6m dan mereka juga masih dapat melihat benda pada jarak 6 m
2. 6/20m-6/60m atau
20-70 feet/ 20/200feet Kurang lihat (low vision) Bahwa orang normal dapat melihat suatu benda tertentu pada jarak 20 m tetapi mereka yang terbatas penglihatannya hanya mampu melihatnya pada jarak 6 m
3. 6/60m lebih atau 20/200 lebih Tunanetra berat Bahwa orang normal dapat melihat suatu benda tertentu pada jarak 60 tetapi mereka yang terbatas pengliha-tannya hanya mampu melihatnya pada jarak 6m
4. 0 Tunanetra total/buta Tidak dapat melihat

2) Berdasarkan saat terjadinya kebutaan; 1) Tunanetra sebelum dan sejak lahir, 2) Tunanetra batita ;Ketunaan yang terjadi usia di bawah 3 tahun, 3) Tunanetra balita ; Terjadinya kebutaan saat usia di bawah 5 tahun, 4) Tunanetra pada usia sekolah, 5) Tunanetra remaja ; Memiliki kesan-kesan visual sangat mendalam, 6) Tunanetra dewasa ; mereka telah memiliki konsep penglihatan yang mapan.
B. Karakteristik Tunanetra Total
Karakteristik anak tunanetra total menurut Anastasia (1996:11) sebagai berikut: a) Memiliki rasa curiga pada orang lain, b) Perasaannya mudah tersinggung c) Ketergantungan yang berlebihan dengan orang lain, d) Bersikap Blindism berupa gerakan-gerakan tanpa disadari, e) Rasa rendah diri yang berlebihan, f) Tangan ke depan dan badan agak membungkuk, g) Suka melamun, h) Fantasi yang kuat untuk mengingat sesuatu objek, I) Kritis, j) Pemberani melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, k) Perhatian terpusat (terkonsentrasi).
III. KERANGKA KONSEPTUAL
Pelaksanaan keterampilan massage ini yakni berusaha menggambarkan secara deskriptif tentang latihan-latihan yang diberikan oleh instruktur massage kepada anak bina atau siswa. Data yang berkaitan dengan pelaksanaan latihan massage tersebut juga menghimpun data berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi oleh para instruktur dalam memberikan latihan, serta data yang berkenaan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh instruktur dalam mengatasi kendala saat proses latihan keterampilan massage yang ada di Panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang. Agar lebih jelasnya lihat bagan pada halaman berikut.

Berdasarkan kerangka konseptual di atas maka diharapkan akan dijadikan patokan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dengan tujuan agar penelitian mudah dikontrol dan memudahkan penelitimelakukan pengolahan data.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Berkenaan dengan jenis penelitian maka dikutip pendapat menurut Suharsimi (1998:245) “pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan”. Dengan demikian dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan kategori data meliputi: a) gambaran pelaksanaan ketarampilan massage, b) kendala yang dihadapi instruktur dalam memberikan keterampilan massage, serta c) Upaya yang dilakukan sinstruktur untuk mengatasi kendalam dalam latihan keterampilan massage.
B. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan data yang akan diperoleh peneliti maka peneliti akan turun ke lokasi penelitian untuk mengamati secara langsung tentang penyelenggaraan latihan keterampilan massage/pijat di Panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang. Upaya yang dilakukan dalam rangka untuk mendapatkan data dilakukan dengan menggunakan; a) teknik Observasi terhadap pelaksanaan keterampilan, b) teknik wawancara dengan dua orang instruktur, dan dokumentasi terhadap data yang berkaitan dengan pelaksanan keterampilan massage. Sedangkan alat yang digunakan disesuaikan dengan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data berupa berupa pedoman observasi, pedoman wawancara dan pedoman catatan dokumentasi.
C. Sumber Data
Menurut Lofland dalam Moleong (2000: 112) sumber data ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Seiring dengan itu Arikunto (1993: 102) menjelaskan jenis data dalam penelitian kualitatif ada dua yaitu:
a. Jenis Data Primer
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diambil langsung saat proses keterapilan massage. Data ini berupa data pengamatan yang diambil berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap 2 orang instruktur keterampilan massage saat memberikan latihan keterampilan. Selanjutnya observasi kepada siswa/anak bina sebanyak 4 orang di panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang.
b. Jenis Data Sekunder (Data Penunjang)
Jenis data sekunder (data penunjang) dalam penelitian ini di dapat dari Kepala Panti Sosial Bina Netra, Instruktur keterampilan lain yang memberikan keterampilan massage, serta dokumentasi yang ada di panti.
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah bersifat kualitatif yaitu digambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan yang disampaikan oleh Arikunto, (1993:205).
Langkah yang penulis tempuh dalam penelitian ini adalah:
1. Mencatat hasil pengamatan melalui observasi, wawancara dan studi
2. Dokumentasi sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.
3. Mengklasifikasikan data yang telah diperoleh sesuai masalah yang diteliti.
4. Menganalisa data yang telah terkumpul dan mengidentifikasikannya
5. Sesuai dengan permasalahan yang ditemui.
6. Memberi interpretasi terhadap data.
7. Peneliti memaknai/menafsirkan data dengan menggambarkan hasilnya dengan kata-kata atau kalimat secara kualitatif.
8. Memberikan penilaian dengan tujuan mencari kesesuaian dari data.
9. Memberikan saran terhadap hasil penelitian.
Berdasarkan langkah-langkah yang diajukan di atas maka peneliti akan berusaha mengikutinya sehingga penelitian dapat dianggap sudah sesuai dengan kegiatan yang semestinya.

BAB IV
DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN

I. LATAR DAN ENTRY
Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato Kel. Kalumbuk Kec. Kuranji Padang. Gedung PSBN berbetuk permanen dengan alur menyerupai huruf O, ada kantor, lokal belajar, ruang terapi/praktek, asrama, pustaka, poliklinik, aula dan musholla.
PSBN “Tuah Sakato” Padang di bangun pada tanggal 22 Juli 1993 melalui bantuan LOAN OECF Jepang Tahun Ajaran 1992/1993 dan 1997/1998. Mulai beroperasi pada tanggal 2 Desember 1994 menampung 20 orang kelayan, 1 April 1995 menampung 30 orang, dan 1 April 1996 bertambah menjadi 50 orang sampai sekarang. PSBN mempunyai wilayah kerja 3 (tiga) Provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, dan Bengkulu. Pada tanggal 1 April 1998 ditunjuk sebagai panti di lingkungan Departemen Sosial dengan tipe B melalui SK Mensos RI No.25/HUK/1998. Kemudian diadakan perubahan nama panti dari PSBN “Kalumbuk” menjadi PSBN “Tuah Sakato” Padang. Dengan berlakunya UU No.22 tahun 1999 tentang otonomi daerah (Otoda), maka PSBN “Tuah Sakato” Padang menjadi UPTD Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Prov. Sumbar menjadi eselon III A.
Proses penerimaan kelayan (tunanetra) pada awalnya menggunakan jalur PSK (Petugas Sosial Kecamatan) dan UPSK (Unit Pelayan Sosial Keliling), merekalah yang menginformasikan dan menyalurkan kelayan untuk dididik dan dilatih di PSBN. Sekarang PSBN kembali berada dibawah naungan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat. Kelayan (umur antara 12-35 tahun) dijaring, maka akan dilakukan asessmen dan ditempatkan dikelas persiapan selama 3 bulan.
Banyaknya kelayan di PSBN ini maksimal 50 orang, terdiri dari;
1. kelas persiapan 2 kelas (kelas persiapan A dan kelas persiapan B),
2. kelas dasar 2 kelas (kelas dasar A dan kelas dasar B),
3. kelas lanjutan 2 kelas (kelas lanjutan A dan kelas lanjutan B).
Dalam memberikan materi pelajaran dibedakan menurut katagori kelas A terdiri dari kalayan yang menurut hasil asesmen masuk pada golongan kecerdasan lebih baik. Untuk kelas B berdasarkan asesmen bagi yang kecerdasannya rendah. Jumlah pegawai yang mengelola PSBN 35 orang, 23 orang pegawai Negeri dan 12 orang tenaga honorer.
Berikut ini disajikan denah tata ruang lokasi penelitian di PSBN Tuah Sakato Kalumbuk Padang.

II. DESKRIPSI DATA
1. Pelaksanaan Keterampilan Massage
a. Persiapan
Data persiapan ini meliputi; 1) keadaan tempat latihan, 2) program latihan, 3) lokasi, 4) waktu, dan 5) peserta latihan massage. Sesuai dengan hasil observasi dan wawancara maka data tersebut dipaparkan sebagai berikut ;
Tempat; Ruangan praktek massage ini berbentuk persegi dengan ukuran 6×6 m. Ruangan ini cukup tertata rapi dan bersih. Di dalam ruangan terdapat 5 buah tempat tidur yang dibatasi oleh sekat-sekat berupa gorden berwarna hijau. Setiap tempat tidur dilengkapi dengan sebuah bantal, sebuah guling kecil dan sebuah guling besar. Di dinding dekat tempat tidur masing-masing diberi gantungan pakaian.
Ruangan ini dilengkapi sebuah model kerangka manusia dan sebuah model susunan organ tubuh manusia yang bisa di bongkar pasang. Pada dinding sebelah kanan, terdapat gambar atlas anatomi yang berisi tentang gambar otot-otot, gambar rangka manusia dan gambar organ tubuh manusia.
Selain itu ruangan dilengkapi dengan sebuah kipas angin. Dan pada sisi ruangan terdapat empat jendela sebagai penerangan kedalam ruangan. Jendela diberi gorden berwarna hijau yang serasi dengan pembatas antara tempat tidur.
Ruangan praktek dilengkapi dengan sebuah lemari yang berisi celana pendek, hand body, bedak, minyak pijat, ember, kain lap, handuk, serta buku-buku pedoman instruktur pijat. Di sebelah lemari terdapat meja dengan ukuran agak besar berbentuk memanjang dengan 7 buah kursi yang dimanfaatkan sebagai tempat duduk kelayan dalam menerima teori/materi pelajaran.
Program; Program latihan massage dilaksanakan dalam bentuk program harian yang disusun berdasarkan jadwal pelatihan. Pelatihan massage dilaksanakan pada hari senin, selasa, rabu, kamis. Hari jumat pelatihan segmen massage, dan hari sabtu digunakan untuk olah raga. Program latihan massage mengacu pada buku pedoman massage yang diterbitkan oleh Dinas Sosial Republik Indonesia. Dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kecepatan kemampuan kalayan dalam menerima pelajaran.
Lokasi; Lokasi bagunan ruangan latihan massage letaknya bersebelahan dengan bangunan kantor yang terdiri dari tiga ruangan. Ruang latihan pertama digunakan untuk segmen massage dan ruang kedua digunakan untuk massagedan ruang ketiga dipergunakan untuk ruang belajar teori. Letak ruangan massage berada di tengah lokasi panti dan mudah dicapai oleh kalayan dari asrama tempat tinggalnya.
Waktu; Lamanya waktu pelaksanaan latihan massage bagi kalayan selama satu tahun. Selanjutnya mereka diberikan latihan pemagangan di panti pijat “Kelompok Usaha Bersama (KUB)” yang dikelola oleh panti. Selain itu juga pada panti pijat yang dikelola oleh alumni dengan alasan lebih mudah memantaunya.
Peserta; Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala panti dan instruktur massage didapat informasi bahwa daya tampung PSBN yang diperbolehkasn oleh Dinas Sosial Sumatera Barat maksimal sebanyak 50 orang. Saat ini terdiri dari 25 orang laki-laki dan 25 orang perempuan. Siswa panti disebut kelayan, bagi mereka wajib mengikuti semua program yang telah disediakan panti. Kelayan panti ada yang datang dengan diantar oleh keluarga atau familinya dan ada juga yang berasal dari penjaringan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Propinsi Sumatera Barat. Bagi kelayan yang berasal dari luar daerah harus memiliki surat pengantar dari Lurah/Rt setempat.
b. Pelaksanaan Gerak Manipulasi Pijat
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa pelaksanaan gerakan massage/memijat selalu didahului dengan penjelasan ceramah oleh insruktur untuk memijat bagian yang akan dilatihkan. Kelayan diberikan materi tentang teori massage, tujuan massage, pembagian massage dan tentang manipulasi gerak dalam massage secara umum, serta diajarkan mengenai teknik pijatan pada bagian paha.
Sebelum belajar praktek, instruktur menyuruh para kelayan mengganti celana yang dipakainya dengan celana pendek yang sudah tersedia dalam lemari diruang massage. Disini terlihat jelas siapa yang teknik orientasi mobilitasnya baik dan siapa yang masih kaku. Nampaknya para tunanetra telah terbiasa dan telah mengetahui dimana letak lemari perlengkapan mereka. Setelah mereka semua siap, semua mengambil posisi pada sisi difan pijat secara berpasang-pasangan.
1) Massage Bagian Paha
Berdasarkan wawancara dengan instruktur menjelaskan;
“biasanya setiap kelas terdiri dari 6 orang, jadi semuanya berpasangan. Setiap pasangan mengambil minyak untuk memijat. Latihan pijat pada paha ini dilakukan secara bergantian, bagian kanan kemudian bagian kiri dan dibagi dalam beberapa gerakan”
Jenis gerakan yang dilakukan pada pemijatan pada bagian paha meliputi beberapa gerakan yaitu:
a. Efflurage (gosokan)
b. Pertissage (pijatan)
c. Shaking (gocangan)
d. Tapotemen (pukulan)
e. Efflurage (gosokan) penutup
Langkah-langkah dari pelaksanaan latihan pijatan pada paha ini diperoleh melalui pengamatan selama latihan terhadap praktek pijat kalayan sebagai berikut:
1. Sesuai dengan pasangan waktu praktek, salah seorang dari kelayan menjadi masseur (pemijat) dan yang lainnya menjadi pasien. Pasien disuruh tidur dengan posisi telungkup dalam keadaan rileks.
2. Bagian kaki kanan pasien diberi alas dengan guling kecil.
3. Pemijat berdiri disebelah kanan atau dekat dengan bagian yang akan dipijat. Selanjutnya ia akan mengoleskan minyak pijat secara merata kebagian paha sebelah kanan yang akan dipijat.
4. Gerakan Efflurage dilakukan dengan cara menggosokkan kedua telapak tangan (tangan kiri berada dibelakang tangan kanan) mulai dari bagian bawah paha sampai kebagian atas (otot pantat). Sampai di otot pantat letakkan tangan kiri di atas tangan kanan lalu lakukan gerakan menekan. Gerakan dilakukan sebanyak lima kali. Gerakan efflurage selanjutnya dilakukan pada bagian samping luar dan dalam paha kanan. Caranya sama tapi cukup dengan satu tangan. Dosis gerakan masing-masing juga lima kali.
5. Pertissage. Gerakan pertissage ini terdiri dari beberapa macam manipulasi gerakan yaitu;
1) Pertissage bersamaan, yaitu dengan cara merengkuh otot paha dengan jari-jari tangan, kemudian tekan. Bergerak keatas sedikit, rengkuh kemudian tekan lagi. Begitu seterusnya sampai keatas, teruskan kebawah. Lakukan hal ini sebanyak lima kali.
2) Pertissage bergelombang, yaitu dengan cara merengkuh otot dengan jari-jari tangan kanan, kemudian menekan dengan telapak tangan kiri. Gerakan bergeser keatas sedikit demi sedikit. Sampai dibatas pangkal paha kemudian bergerak lagi kebawah. Posisi tangan diganti. Merengkuh dengan tangan kiri dan menekan dengan telapak tangan kanan. Dosis tetap yaitu lima kali.
3) Picking-Up, yaitu dengan cara merengkuh otot dengan jari-jari tangan secara bergantian. Gerakannya sama dengan diatas bergerak sedikit demi sedikit keatas kemudian kebawah dengan dosis lima kali.
4) Pertissage dengan ibu jari, yaitu dengan cara merengkuh otot paha dengan jari tangan kiri, kemudian menekan bagian tengah paha dengan ibu jari tangan kanan. Bergerak sedikit demi sedikit keatas. Kemudian terus kebawah dengan mengganti posisi tangan menjadi tangan kanan yang merengkuh dan ibu jari tangan kiri yang menekan. Dosis sama yaitu lima kali. Ada yang perlu diperhatikan dalam melakukan pertissage yaitu dalam merengkuh otot tidak boleh mencubit karena hal itu akan menyakiti pasien. Jarak pindah dalam satu gerakan juga tidak boleh terlalu jauh.
6. Pemijatan dengan ibu jari, yaitu dengan cara menekankan ibu jari pada bagian tengah paha kearah fertikal dan horizontal. Posisi ibu jari adalah melintang, bukan tegak lurus terhadap paha. Gerakan ini dilakukan secara sistematis sambil mendengarkan penjelasan instruktur. Instruktur menyatakan sebaiknya gerakan jangan terlalu cepat, usahakan pasien merasakan setiap gerakan yang kita lakukan”. Gerakan dilakukan keatas kemudian kebawah. Setelah di tengah para kalayan praktek disuruh melakukan hal yang sama pada bagian samping luar dan dalam otot paha dengan dosis lima kali.
7. Tapotemen, a) lakukan dengan cara memukul-mukul otot paha dengan jari yang dikepal secara perlahan bergerak keatas dan kebawah, b) memukul-mukul dengan jari-jari tangan yang dilemaskan, dosis tetap lima kali.
8. Shaking, yaitu dengan cara tangan kanan memegang pergelangan kaki pasien kemudian diangkat. Sementara telapak tangan kiri melakukan gosokan kearah ibu jari (dosis lima kali)
9. Efflurage penutup; dengan cara yang sama seperti diawal, tapi dosis hanya tiga kali.
10. Setelah selesai pada satu bagian paha sebelah kanan, lanjutkan dengan bagian paha sebelah kiri.
Lebih lanjut diperoleh data melalui pengamatan dan wawancara dengan instruktur bahwa;
“masih ada yang belum tepat dalam melakukan gerakan seperti; hanya bisa melakukan gerakan tetapi tidak pas dalam penempatan, ragu-ragu dan selalu bertanya-tanya pada instruktur, dan ada juga yang belum bisa sama sekali. Dalam pelaksanaan instruktur hanya memperhatikan dan membenarkan jika ada gerakan dari kelayan yang salah. Dengan cara memegang tangan kalayan praktek, meletakan pada posisi yang benar, kemudian membimbing gerakan. Setelah semua selesai posisi kelayan diganti, yang tadinya sebagai pasien akan mengambil posisi menjadi pemijat (masseur)”.

Pada pengamatan dan dilanjutkan dengan wawancara dengan instruktur diperoleh data selasa, tanggal 06 Juli 2004 terlihat;
“instruktur memberikan tes mengenai materi sebelumnya yaitu tentang pengertian massage, tujuan massage, pembagian massage, dan tentang manipulasi gerak dalam massage. Tes tertulis dan lisan dilakukan untuk mengukur pengetahuan kalayan dalam memahami gerakan yang mesti dilakukan dalam pijatan paha. Selesai ujian, kelayan diberi pengarahan dan nasehat dan motivasi kalayan untuk lebih maju, lebih giat belajar dan mengembangkan diri”.
2) Massage Bagian Betis
Data berdasarkan hasil pengamatan tentang pelaksanaan massage pada bagian betis diperoleh bahwa;
”instruktur memberikan materi baru tentang teknik massage pada bagian betis melalui metode ceramah dan Tanya jawab. Sebelumnya kelayan disuruh mencatat kemudian membaca materi yang telah dicatatnya secara bersama. Bila kalayan sukar mengerti instruktur menjelaskan dan menanyakan bagian mana yang belum paham”.
Lebih lanjut untuk pelaksanaan pijatan diperoleh melalui hasil pengamatan bahwa;
“kegiatan ditetapkan pada kemampuan kelayan mempraktekkan teknik massage pada betis. Seperti biasa sebelum praktek para kelayan mengganti celana mereka dengan celana pendek yang tersedia di lemari ruang praktek. Para instruktur menugaskan kalayan untuk mempraktekkan lagi gerakan yang telah dipelajari sebelumnya kemudian langsung dilanjutkan dengan materi gerakan massage yang dipelajari hari ini.
Pada saat praktek pijat bagian betis diperoleh data mengenai teknik massage pada bagian betis seperti berikut;
1. Kalayan yang berfungsi sebagai massieur memberi minyak pada bagian yang akan dipijat. Posisi pemijat tetap dekat dengan bagian yang akan dipijat.
2. Gerakankan efflurage, dengan cara menggosok bagian tengah betis dengan kedua ibu jari, mulai dari bawah (dekat mata kaki) sampai kebagian paha bawah, kemudian di tekan (dosis lima kali). Gerakan efflurage selanjutnya dilakukan pada bagian samping sebelah luar dan dalam, tetapi menggosok bukan dengan ibu jari melainkan dengan telapak tangan, dari bawah keatas (bagian bawah paha), kemudian di tekan (dosis lima kali).
3. Pertissage; pelaksanaannya yaitu: a) pertissage bersamaan, b) pertissage bergelombang, c) Picking-Up dan Pertissage dengan ibu jari. Kesemuanya dalam pelaksanaan tidak jauh berbeda dengan pertissage pada bagian paha.
4. Tapotemen; Pada bagian betis tapotemen yang digunakan hanyalah tapotemen dengan menggunakan jari yang dikepal.
5. Shaking, yaitu dengan cara memegang pergelangan kaki yang dipijat, kemudian menggosok otot betis dengan telapak tangan yang satunya lagi.
6. Efflurage penutup, dosis tiga kali.
Hasil pengamatan tersebut ditegaskan dengan hasil wawancara dengan instruktur menyatakan bahwa;
“Jika gerakan untuk pijatan pada bagian paha, yang sebelumnya masih ada yang belum bisa sekarang sudah mulai bisa karena sudah diulang dua kali, dan metode ini dilakukan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kalayan”.
Selanjutnya data yang berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan kemampuannya dilakukan melalui wawancara saat istirahat yang menyatakan;
“bahwa mereka sering latihan praktek massage dengan teman diasrama sudah dan juga melakukan sering pendapat tentang kemampuan praktek diantara mereka.
Pada kesempatan wawancara dengan instruktur diperoleh data untuk memperjelas hasil pengamatan bahwa; “
pada kelas dasar B nampak ada sedikit perbedaan cara instruktur mengajar dengan kelas A yang diamati sebelumnya. Disini instruktur nampak lebih sibuk memperhatikan dan sering menegur para kelayan yang salah dalam melakukan gerakan massage. Kelas dasar B ini kemampuannya memang sedikit lemah dibanding anak kelas dasar A. Saat praktek masih banyak kelayan yang memijat asal-asalan dan ini tentu membutuhkan perhatian yang ekstra dari para instruktur untuk membetulkan gerakannya”.
3. Massage Bagian Telapak Kaki
Data yang berkenaan dengan pelaksanaan keterampilan massage ini masih dilakukan melalui pengamatan.
“Terhadap para kelayan kelas B didahului dengan mempelajari dan memahami materi yang ada di buku dan menayakan apa-apa yang belum mereka pahami. Kemudian langsung mempraktekkannya. Seperti biasa sebelum masuk kepada gerakan yang dipelajari hari ini, dalam mempraktekkan kelayan harus mengulang dulu gerakan yang sudah dipelajari sebelumnya yaitu massage pada bagian paha dan pada bagian betis.
Selanjutnya gerakan massage pada bagian telapak kaki ini berdasarkan hasil pengamatan adalah;
1. Memberi minyak pada seluruh bagian telapak kaki pasien yang akan dipijat.
2. Efflurage, yaitu dengan cara memegang pergelangan kaki pasien dengan tangan kanan dan pangkal telapak tangan kiri menggosok telapak kaki mulai dari bagian ujung jari, bergerak sedikit kearah dalam, sampai kebagian dekat tumit kemudian diremas. Setelah selesai bagian dalam lakukan pula pada bagian tengan telapak kaki, setelah itu pada bagian luar telapak kaki dengan dosis masing-masing lima kali.
3. Pertissage, yaitu dengan cara jari-jari tangan kiri merengkuh tepi telapak kaki secara bersamaan, kemudian ibu jari tangan kanan menekan bagian tengah telapak kaki (dosis lima kali). Setelah itu lakukan pertissage dengan ibu jari dengan cara ibu jari pemijat (masseur) menekan-nekan seluruh bagian telapak kaki, mulai dari jari-jari kemudian bergerak keatas sampai kebagian tumit, kemudian turun lagi sampai kebagian jari-jari lagi (dosis lima kali).
4. Tapotemen, yaitu dengan cara mengangkat telapak kaki passien dengan tangan kanan, jari tangan kiri dikepal kemudian dipukul-pukulkan kepada telapak kaki tersebut.
5. Efflurage penutup dosis tiga kali.
Setelah selesai satu bagian kemudian dilanjutkan dengan bagian yang lain, dan kegiatan ini selalu diulang dari awal saat akan memulai praktek. Untuk memperjelas data tersebut maka dilakukan pengamatan pada hari berikutnya diperoleh data sebagai berikut;
Ditegaskan bahwa untuk kelas B Instruktur menyuruh langsung kelayan untuk mempraktekkan seluruh teknik massage yang telah dipelajari. Instrutur lebih banyak menyuruh kelayan untuk praktek. Saya (instruktur) menjelaskan bahwa karena keterbatasan kemampuan akademik yang dimiliki oleh para kelayan dikelas dasar B maka, saya merasa perlu memberikan banyak praktek dari pada teori agar para kelayan lebih cepat memahami. Supaya tidak lupa kelayan hanya disuruh mencatat materi, penjelasan sedikit kemudian praktek.
4. Massage Pada Bagian Pantat
Data yang berkeitan dengan gerakan massage pada bagian pantat ini dilakukan melalui pengamatan. Adapun data tersebut seperti berikut;
1. Efflurage, dengan cara meletakkan kedua telapak tangan diatas pantat pasien sebelah kanan. Kemudian tangan kanan menggosok dari bawah otot pantat, sampai ditengah letakkan tangan kiri diatas tangan kanan lalu tekan. Setelah itu tangan kiri menggosok dari atas otot pantat (dekat pinggul), sampai ditengah letakkan tangan kanan diatas tangan kiri, kemudian tekan (dosis lima kali). Setelah selesai, lanjutkan kebagian sebelah kiri.
2. Friction. Friction yang dilakukan dipantat ada beberapa macam, yaitu; 1) Friction dengan 3 jari (jari manis, tengah dan telunjuk) yang sejajar. berada dalam posisi yang sejajar dan harus rata. Lakukan gerakan memutar dengan tiga jari tersebut pada seluruh bagian otot pantat, 2) Friction dengan pangkal telapak tangan, caranya dengan melakukan gerakan memutar pada seluruh otot pantat dengan pangkal telapak tangan, 3) Friction dengan siku, caranya yaitu dengan melakukan gerakan memutar dengan mengunakan siku bagian bawah, bukan dengan mata siku. Gerakan ini dilakukan apabila pasien gemuk/agak besar, dan 4) Friction dengan ibu jari, caranya yaitu dengan melakukan gerakan memutar pada seluruh otot pantat dengan menggunakan ibu jari.
3. Pertissage, yaitu dengan cara menekan-nekan seluruh bagian otot pantat dengan menggunakan ibu jari.
4. Wallken, yaitu gerakan gosokan berpindah, dengan cara telapak tangan kanan menyentuh pinggul sebelah kanan pasien dan telapak tangan kiri menyentuh pingul sebelah kiri pasien. Kemudian secara bersamaan tangan kanan merengkuh dan menarik kearah dalam sedangkan tangan kiri mendorong dan menggosok kearah luar. Sekarang posisi tangan sudah bergantian. Lakukan hal yang sama sebanyak lima kali.
5. Tapotemen, dengan cara memukul-mukul otot pantat secara perlahan dengan menggunakan jari-jari yang dilemaskan.
6. Efflurage penutup sebanyak tiga kali.
Lebih lanjut melalui wawancara dengan instruktur beliau menegaskan bahwa;
“karena ada gerakan baru saya mencoba mempraktekkannya kepada masing-masing kelayan yang menjadi masseur. Dalam pelaksanaan tetap gerakan yang sudah dipelajari sebelumnya harus dilakukan terlebih dahulu. Setelah semua selesai, yang tadi menjadi pasien sekarang menjadi masseur. Menurut hemat saya kelas dasar A ini mampu belajar mandiri. Mereka saling mengingatkan kalau ada yang salah, jadi cukup sekali diajarkan oleh instruktur, namun jika mereka betul-betul tidak tahu baru mereka bertanya”.
Untuk membuktikan penegasan instruktur tentang perbedaan kemampuan antara kalayan di kelas A dan kelas B diperoleh data seperti berikut;
“Hari ini kelayan belajar tentang teknik massage pada bagian pantat. Setelah diajarkan beberapa saat, instruktur pergi meninggalkan kelayan. Disini nampak jelas perbedaan antara anak kelas dasar A dengan anak dasar B. Apabila instruktur meninggalkan kelas dasar B, kelayan akan nampak kebingungan. Sampai pada pengamatan kali ini ada satu orang kelayan yang masih belum mantap teknik pijatnya. Ketika instruktur kembali masuk ruang praktek belaiau menjelaskan bahwa untuk kelayan yang masih benar-benar belum mampu, akan diberikan pelatihan secara individu disamping lebih giat belajar praktek dengan temannya di asrama”.
5. Massage Pada Bagian Punggung
Pelaksanaan massage pada bagian punggung ini pemerolehan datanya masih dilaksanakan melalui pengamatan. Berdasarkan pengamatan tersebut maka data yang diperoleh sebagai berikut;
“Instruktur memberikan materi dan catatan kepada kelayan. Setelah selesai kelayan segera mengambil posisi untuk mempraktekkan teknik massage pada bagian punggung ini. Seperti biasa, sebelum melaksanakan gerakan yang baru dipelajari kelayan mengulang kembali gerakan yang pernah diajarkan sebelumnya”.
Data hasil pengamatan pada massage pada bagian punggung ini kegiatan yang dilakukan kalayan secara rinci disampaikan memiliki beberapa gerakan sebagai berikut;
1. Pasien diminta membuka bajunya. Nampak disini kelayan tidak malu-malu untuk mempraktekkan pijat pada bagian punggung ini. Termasuk bagi kelayan perempuan. Tapi ketika praktek tetap tempat perempuan ditutup dengan gorden.
2. Kalayan yang berfungsi sebagai masieur segera memberi minyak keseluruh bagian punggung pasien.
3. Efflurage. Pada punggung terdapat dua macam gerakan gosokan (efflurage), yaitu: a) Dengan cara meletakkan telapak tangan diatas punggung diantara, kemudian menggosokkan telapak tangan tersebut kearah atas sampai kebagian pundak. Kemudian ulang lagi dari bawah, gosok keatas. Lakukan sebanyak lima kali, b) Dengan cara melipat jari-jari, kemudian letakkan diatas punggung. Setelah itu lakukan gosokan dari bawah keatas (bagian pundak) diremas-remas, bukan dicubit. Ulangi sebanyak lima kali.
4. Friction. Untuk teknik pada punggung, friction yang dilakukan ada tiga macam, yaitu; a) Friction dengan tiga jari. Caranya sama dengan friction tiga jari pada bagian pantat. Lakukan pada seluruh otot punggung secara sistematis, b) Friction dengan ibu jari, dilakukan dengan cara meletakkkan ibu jari diotot punggung kemudian lakukan gerakan memutar. Lakukan pada seluruh otot punggung, c) Friction dengan telapak tangan, dilakukan dengan cara menekankan telapak tangan pada bagian otot punggung, kemudian lakukan gerakan memutar. Lakukan pada seluruh otot punggung.
5. Pertissage. Pada bagian punggung, pertissage yang dilakukan ada 3 macam, yaitu; a) Pertissage dengan ibu jari. Caranya yaitu dengan menekan-nekan otot punggung dengan menggunakan ibu jari, b) Pertisasage dengan menggunakan telapak tangan. Caranya yaitu dengan menekan-nekan bagian tengah punggung dengan menggunakan telapak tangan, c) Pertissage tambahan yaitu dengan cara melipat tangan pasien kebelakang, kemudian menekan bagian
6. Wallken. Caranya sama dengan wallken pada pantat.
7. Tapotemen. Ada 3 macam teknik tapotemen yang dilakukan, yaitu:
8. Tapotemen dengan jari yang dikepal. Caranya yaitu dengan memukul-mukul bagian atas tulang punggung. Gerakan yang dilakukan seperti berikut; a) Tapotemen dengan jari-jari yang dilemaskan. Caranya yaitu dengan memukul-mukul bagian otot punggung dengan jari-jari yang dilemaskan, b) Tapotemen dengan telapak tangan. Caranya yaitu dengan memukul-mukul bagian tulang punggung dengan telapak tangan dari bawah keatas.
9. Efflurage penutup. Caranya sama dengan efflurage pada awal dengan dosis tiga kali.
2. Pada hari hari Kamis berikutnya berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa;
“kegiatan masih difokuskan pada mempraktekkan seluruh gerakan mulai dari paha, betis, telapak kaki, pantat dan terakhir punggung. Kelayan yang kemarinnya menjadi pasien sekarang menjadi masseur. Instruktur meminta kelayan melaksanakan latihan ini dengan sungguh-sungguh sebab instruktur akan mencoba menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan kelayan untuk menyelesaikan semua gerakan pijat pada posisi telungkup”.
Selanjutnya data yang berkaitan dengan praktek kemampuan massage pada kelas B juga dilakukan berdasarkan hasil pengamatan pada hari senin tanggal 09 Agustus 2004 (kelas dasar B) diperoleh data bahwa;
“untuk Hari ini kelas dasar B juga melaksanakan latihan pijat pada bagian paha, betis, telapak kaki, pantat dan punggung. Tapi nampaknya masih banyak yang belum bisa melakukan pijatan dengan baik dan sempurna. Ketidakmampuan atau seringnya kekeliruan ini tampak pada kegiatan instruktur sering menegur para kalayan yang salah dan kadang diikuti dengan pemberian hukuman untuk meningkatkan kemampuan agar lebih seriur dalam belajar. Namaun kebanyakan kalayan hanya tersenyum dan mengatakan saya lupa buk”.
6. Massage Pada Bagian Lengan Atas dan Lengan Bawah
Data pengamatan pada gerakan ini posisi pasien masih telentang sedangkan masseur berdiri disebelah kanan pasien. Gerakan yang dilakukan sebagai berikut;
1. Eflurage; a) gerakan pertama; melakukan gosokan pada lengan atas dan bawah dengan dosis lima kali. Tangan kiri masseur memegang tangan kanan pasien seperti berjabatan tangan. Kemudian tangan kiri masseur menggosok jari-jari pada bagian belakang ibubjari pada bagian depan lengan bawah. Gosokan dimulai pada pergelangan tangan pasien dan setelah lekuk siku, belok keluar tangan yang menggosok diputar kebawah sehingga jari-jari dan ibu jari masseur menghadap ke atas. Gosokan berhenti sampai diketiak, b) Gerakan kedua; dengan melakukan gosokan pada otot-otot lengan atas dan bawah dengan satu tangan. Tangan kiri masseur memegang punggung telapa tangan kana pasien, tangan kanan masseur menggosok ibu jari pada bagian depan dan jari-jari pada bagian belakang lengan bawah pasien. Gosokan dimulai dari pergelangan tangan pasien dan setelah sampai di lekuk siku tangan yang menggosok diputasr ke atas, sehingga jari-jari dan ibu jari masseur menghadap ke bawah, gosokan berakhir pada ketiak.
2. Petrissage; melakukan pijatan pada otot lengan atas dengan dua tangan dengan dosis lima kali; pijatan variasi dalam kolong di daerah otot-otot lengan atas bagian dalam, kemudan pada kolong lengan atas bagian luar dengan dosis lima kali.
3. Shaking; melakukan goncangan pada otot lengan atas dengan satu tangan; siku pasien ditekuk dan melakukan goncangan maju mundur, goncangan dimulai di bagian atas siku sampai sendi bahu dengan dosis 15 detik
4. Petrissage; melakukan pijatan pada otot lengan bawah dengan dua tangan; masseur berdiri membungkuk di sebelah kanan pasien, siku pasien ditekuk ujung sikunya. Pijatan dilakukan secara bergantian dengan ibu jari tangan kanan masseur menekan otot-otot lengan bawah bagian belakang ketulang pengumpil.
5. Shaking; melakukan goncangan yang dimulai dari atas pergelangan lengan pasien sampai sebelum batas sendi siku dan sebaliknya. Dosinya selama 15 detik.
6. Eflurage penutup; untuk masing-masing lengan atas dan lengan bawah dan sebaliknya untuk tangan kiri. Dengan dosis lima kali.
7. Massage Pada Bagian Tangan dan Jari-jari
Data yang berkaitan dengan pijat untuk tangan dan jari diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dimana posisi pasien dalam keadaan telentang. Sedangkan posisi masseur dalam keadaan membungkuk di sebelah kanan pasien dan akan berpindah posisi bila tangan yang akan dipijat bergantian. Adapun gerakan yang dilakukan seperti berikut;
1. Eflurage; yakni melakukan gosokan pada otot-otot tangan dan jari-jari; a) bagian pertama; pada otot-otot pungung dan telapak tangan gosokannya dengan mempergunakan ibu jari sejajar pada otot-otot antar tulang punggung telapak tangan mulai dari pangkal jari sampai pergelaangan tangan, b) bagian kedua; pada otot-otot punggung telapak tangan dengan mempergunakan permukaan telapak tangan pada otot punggung telapak tangan dimaulai dari pangkal jari-jari tangan sampai pergelangan tangan, c) bagian ketiga; pada otot telapak tangan dengan memperguankan kedua ibu jari sejajar pada otot-otot telapak tangan dimulai dari pangkal jari-jari tangan sampai pergelangana tangan, d) keempat; gosokan pada telapak tangan dengan mempergunakan pangkal telapak tangan mulai dari pangkal jari-jari sampai pergelangan tangan, e) kelima; melakukan gosokan pada jari-jari tangan pada samping kiri kanan jari-jari dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk.
2. Petrissage; a) pijatan pertama pada otot-otot punggung tapak tangan, b) kedua pada telapak tangan dengan kedua ibu jari secara bergantian, c) ketiga pada jari tangan dengan mempergunakan ujung ibu jari dan telunjuk. Dosisnya lima kali.
3. Shaking; melakukan gocangan pada otot-otot tangan.
4. Eflurage penutup; gerakannya sama dengan saat permulaan tetapi dosisnya tiga kali.

8. Massage Pada Bagian Tengkuk dan Bahu
Gerakan massage pada bagian tengkuk dan bahu ini masih dilakukan melalui pengamatan saat para kalayan praktek di bawah pengawasan instruktur di ruang praktek. Adapun kegiatan yang dapat diamati seperti berikut;
1. Posisi pasien duduk, sedangkan posisi msseur berdiri dibelakang pasien. Kalayan yang bertugas sebagai massieur mengoleskan minyak pijat pada bagian pundak atau bahu pasien yang akan dipijat.
2. Eflurage; dengan melakukan gosokan samping kanan tengkuk dan bahu, gosokan dengan tiga ujung jari. Tangan kiri masseur memegang kepala pasien bagian samping kiri selanjutnya gosokan berpindah pada bagian kiri.
3. Petrissage; Gerakan ini dilakukan dengan dua jenis gerakan; a) pada leher bagian belakang (tengkuk) dengan jari-jari dan ibu jari tangan kanan pada daerah leher belakang dimulai dari kanan tulang leher sampai pada tulang leher sedangkan tangan kiri menahan dahi pasien, b) pijatan pada bahu kanan dan kiri dengan menggunakan jari-jari dan ibu jari kedua tangan masseur pada bahu kanan dan kiri secara bersama-sama dan mulai dari pangkal leher sampai ujung bahu.
4. Tapotemen; Gerakan tapotemen dengan melakukan pukulan pada daerah bahu dengan menggunakan fariasi hacking.
5. Shaking; gerakan melakukan goncangan pada sepanjang tengkuk bahu kanan dengan tangan kanan masseur. Tangan kiri masseur memegang ujung bahu pasien dengan dosisnya selama 15 detik
6. Gosokan penutup; gerakannya sama dengan permulaan dosisnya tiga kali.
Dalam pelaksanaan pijat pada bagian bahu ini setiap gerakan dilakukan sebanyak lima kali berturut-turut. Dan posisi pasien dalam keadaan duduk. Disini kelihatan instruktur lebih banyak memberikan penjelasan dan membetulkan letak tangan pada posisi yang dipijat sambil memberikan penjelasan bagian yang akan di pijat.
9. Massage Pada Bagian Perut
Pelaksanaan gerakan pada bagian perut dengan posisi masseur tidur telentang. Data diperoleh berdasarkan hasil pengamatan didapat data sebagai berikut;
1. Eflurage; melakukan gosokan pada otot-otot perut dengan gerak manipulasi sebagai berikut; a) gosokan dengan tangan kanan masseur yang diletakkan diatas pinggir dada kanan dengan jari-jari rapat yang sedikit diangkat menghadap ke pingngang pasien, b) tangan kiri masseur bertumpu di atas tangan kanan untuk membantu memperkuat gosokan, c) Gosokan dengan pangkal telapak tangan kanan dimulai dari tepi dada kanan pasien sampai sepanjang dada kiri terus menurun lewat pinggang kiri, d) gosokan dilakukan dengan ujung-ujung jari kanan dimulai dari pinggang kiri bawah menyusur sepanjang tepi panggul depan melalui atas kandung kencing sampai usus buntu. Kemudian gosokan kembali bersikap semula mendorong dan menekan usus besar naik lewat hati, usus besar melintang, lambung, usus besar menurun lewat limpa sampai pinggang kiri dan seterusnya. Gosokan pada perut dilakukan dengan halus dan hati-hati secara supel dan kontinyu. Dosis yang diberikan sebanyak lima kali gosokan.
2. Walken; pada otot-otot perut dilakukan sama dengan daerah pantat pada posisi telungkup.
3. Shaking; dengan melakukan goncangan di atas pusat dengan telapak tangan satu, dosisnya selama 15 detik. Goncangan dilakukan secara halus naik turun di atas pusat dengan mempergunakan telapak tangan kanan yang ujung-ujung jarinya menghadap ke atas tanpa bantuan tangan kiri di atasnya.
4. Eflurage penutup; menggosokan tiga jri dengan tangan kanan digosokan di kanan kiri pusat dengan dosis tiga kali.
10. Massage Pada Bagian Dada
Data yang teramati saat pelaksanaan pijat pada bagian dada. Pasien tidur telentang dan posisi masseur berdiri di sebelah kanan pasien. Sedangkan gerakan manipulasi yang dilakukan sebagai berikut;
1. Eflurage; a) gerakan pertama; melakukan gosokan pada otot-otot dada bagian kiri; jari-jari tangan masseur telentang lurus, telapak tangan kirinya menghimpit di atas punggung telapak tangan kanan masseur, gosokan dengan meletakkan ujung jari tangan kanan di antara otot-otot sela iga, gosokan dimulai dari dekat tulang dada ke samping bawah sampai pada bawah ketiak. b) gerakan kedua; gosokan pada otot-otot dada bagiankanan dimana sikap tangan dan posisi masseur merupakan kebalikan dari gerakan pertama.
2. Petrissage; melakukan pijatan pada otot-otot dada dengan tiga ujung jari tangan kanan, dengan gerakan menekan dan memutar kearah ibu jari, mulai dari kanan dengan dosis masing-masing tiga kali.
3. Walken; gerakannya sama dengan gerakan yang dilakukan pada pantat saat posisi telungkup.
4. Shaking; melakukan goncangan pada daerah atas putting dengan mempergunakan seluruh permukaan telapak tangan dan jari-jari melekat dengankuat pada otot dada diantara daerah puting. Dialakukan selama 15 detik.
5. Eflurage penutup; dilakukan sama dengan gerakan pada waktu permulaan.
11. Massage Pada Bagian Kepala
Berdasarkan hasil pengamatan saat praktek mssage bagian kepala in diperoleh data berikut;
1. bagian dahi; posisi masseur tetap dibelakang pasien. Melakukan gosokan dengan ketiga ujung-ujung jari kedua tangan menyamping dimulai dari tengah dahi sampai pada kepala bagian belakang meliwati atas daun telinga.
2. Bagian kepala; pijatan bagian kepala dengan seluruh ujung jari kedua tangan. Posisi kedua ibu jari masseur berada dibagian belakang kepala pasien sedang jari-jari yang lain dengan posisi terbuka berada disamping kiri kanan kepala pasien. Untuk memulai pijatan secara bersama-sama seluruh jari-jari menekan berjalan dari tepi menuju ke bagian tengah atas kepala. Dosis yang diberikan sebanyak tiga kali.
3. Friction daerah pelipis; dengan menggunakan ujung tiga jari kedua tangan mulai dari pelipis kanan kiri sampai daun telinga. Posisi kedua ibu jari menempel pada tulang kepala belakang dengan dosis tiga kali.
4. Friction daerah tepi bawah tulang kapala belakang; dengan menggunakan ibu jari tangan mulai dari bawah sebelah kiri berjalan ketengah. Posisi tangan kiri masseur menahan dahi pasien dengan dosis tiga kali.

c. Metode yang digunakan dalam pelatihan pijat
Pemerolehan data berkenaan dengan metode yang dilakukan oleh para instruktur dalam pelaksanaan keterampialan pijat ini dilakukan melalui wawancara dan observasi diperoleh data sebagai berikut;
“Sebelum saya melaksanakan praktek keterampilan pijat terlebih dahulu para kalayan diberikan materi yang berkenaan dengan gerakan pijat yang akan dilakukan diruang kelas belajar oleh instruktur yang terdiri dari dua orang. Adapun metode penyampai yang sering dilakukan adalah dengan metode ceramah yang dipadukan dengan peragaan pada masing-masing kelayan secara individu. Para kalayan diberikan kesempatan untuk bertanya dan instruktur selalu siap.

Metode demonstrasi digunakan saat praktek latihan di ruang massage dengan cara memegang tangan kalayan dan meletakkan posisi tanggan masseur pada bagian tubuh yang akan di pijat. Karena kalayan mengalami hambatan dalam penglihatan maka kepadanya kami memberikan demenstrasi pada masing-masing individu. Dan pelaksanaannya tetap dibawah pengawasan instruktur.

Metode simulasi juga kami lakukan saat praktek di ruang massage dengan mengambil perang secara bergantian oleh para kalayan kami. Mereka selalu berpasangan dengan sesama jenis. Dalam pelaksaannnya instruktur bertindak mengawasi gerakan yang salah dan di diskusikan dengan kalayan yang menjadi pasien dengan mengajukan pertanyaan “Apakah gerakannya sudah betul atau belum?” dengan demikian kalayan mengetahui kesalahannya melalui teman pasanganya.

Penggunaan metode drill selalu kami tekankan pada kalayan agar sering latihan di asrama bersama teman yang seasrama atau pada kalayan yang lebih senior.
Pelaksanaan metode mengajar tersebut tidak mungkin kami lakukan satu-sat namun itulah yang paling sering kami lakukan. Dalam pelaksanaannya sebenarnya lebih cenderung pada penggunaan berbagai metode sebagai gabungan yang memungkinkan bagi pengjaran yang memerlukan praktek sehingga mudah mengukur keberhasilan belajarnya.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan para kalayan di luar jam praktek di asrma di peroleh informasi bahwa;
Melaksanakan latihan di luar jam pelajaran dirasakan sangat membantu bagi kami untuk memperdalam dan meningkatkan kemampuan. Dan kami lebih senang jika melakukan praktek latihan di asrma dengan kalayan yang lebih senior karena mereka sudah lebih lama berpraktek sedangkan sebagian sudah ada yang magang di klinik usaha bersama yang dikelola oleh panti yang mana masseurnya terdiri dari para senior putra dan putri . Praktek di klinik tersebut diatur berdasarkan jadwal piket.
Hal senada juga disampaikan oleh ketua PSBN yang menyatakan keberadaan klinik dan manfaatnya bagi para kalaya sebagai berikut;
Klinik Usaha Bersama (KUB) didirikan untuk kepentingan praktek bagi kalayan yang diatur menurut piket terjadwal. Klinik ini dikelola oleh panti baik untuk pengadaan alat-alat dan perlengkapannya dan hasilnya akan dibagikan pada kalayan berdasarkan persentase kerja dan pendapatan setiap akhir bulan. Semenjak adanya KUB ini para kalayan sangat bersemangat dan selalu siap piket sesuai jadwal piketnya. Sedangkan bagi kalayan yunior mereka dapat berdiskusi dengan para senior saat pasien tidak ada. Jadi KUB menurut kami sangat bermanfaat untuk sarana praktek diluar jam belajar.
d. Alat Bantu yang Digunakan
Berdasarkan pengamatan diruang prektek massage diperoleh data penggunaan alat bantu berupa;
Alat perlengakapan yang digunakan untuk pijat meliputi; bedak talk, baby oil, balsem, pelicin seperti hand body. Selain aitu alat pendukung seperti tempat cuci tangan disediakan sebuah ember kecil, air, sabun, karbol, kain lap badan jika berkeringat, kain penutup, dipan tempat tidur dengan satu bantal besar serta satu bantal kecil untuk alas kaki saat pijat.
Berkaitan dengan penyediaan alat bantu tersebut instruktur melalui wawancara menyatakan seperti berikut;
Semua alat Bantu untuk perlengkapan latihan pijat disediakan oleh panti dalam hal ini Dinas Sosial Propinsi yang selalu mensuplai segala kebutuhan baik untuk keterampilan atau kebutuhan di asrama. Sedangkan para kalayan tidak dipungut byaran.
Jika mereka telah menyelesaikan program pelatihan selama tiga tahun akan dibekali perlengkapan pijat sebagai bekal membuka usaha mandiri yang diberikan secara cuma-Cuma. Dengan demikian menurut hemat kami keluaran panti ini tidak ada yang menganggur.
Untuk keperluan praktek kami sering menggunakan minyak urut (serei) karena persediaan ini yang paling banyak disuplai oleh dinas ke panti.
e. Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi yang dilaksanakan saat latihan massage dilakukan melalui wawancara dengan instruktur seperti berikut;
Untuk evaluasi kami menggunakan evaluasi sesering mungkin. Dalam hal ini dapat dilakukan di awal belajar, saat praktek dan juga dilakukan evaluasi terjadwal seperti evaluasi setiap telah melaksanakan program pijat tertentu. Evaluasi yang kami laksanakan berbentuk lisan dan praktek langsung. Sedangkan bagi kalayan disediakan format kemajuan evaluasi kemajuan yang disimpat oleh instruktur.
Setiap evaluasi kami selalu memberikan penguatan yang disesuaikan dengan kebutuhan saat itu seperti kamu mesti lebih serius belajar dan banyak latihan serta diskusi dengan temanmu.
2. Kendala yang dihadapi dalam Latihan Pijat
Data mengenai kendala didapatkan melalui wawancara dengan para instruktur dan kepala panti. Hasil wawancara dengan instruktur menyatakan bahwa;
Untuk mempersiapkan segala kebutuhan praktek massage rasanya boleh dikatakan tidak ada kendala, sebab semua perlengakapan disediakan oleh panti. Kami tinggal laporkan persiapan yang kami inginkan.
Jika memungkinkan kendala yang kami hadapi hanya pada kemampuan kalayan yang berbeda-beda, seperti perkebedaan kemampuan antra kelas A dan kelas B. Di kelas A kebanyakan mereka mampu baca tulis Braille dan mendorong mereka belajar mandiri. Sedangkan di kelas B kebanyakan kurang mampu menggunakan Braille sehingga saat praktek mereka lebih mengandalkan dan menunggu penjelasan dari instruktur.

Sebagian kalayan dari kelas A menyatakan memang agak sulit belajar dengan kawan-kawan dari kelas B sebab mereka kurang pemahamannya.
Sementara kebanyak kalayan menyatakan cenderung pada tidak ada kendala. Kami malah senang disini segala kebutuhan kami disediakan dan hanya bermodalkan keseriusan untuk belajar mandiri. Kami diberikan semua perlengkapan mulai dari baju, sepatu, diberi makan dan bahkan bila tamat diberikan juga perlengkapan pijat secara cuma-cuma tanpa harus mengembalikan jika nati kelak kamik telah berhasil.
Pada kesempatan lain kepala panti menyatakan kendala yang dihadapinya sebagai berikut;
Kesediaan panti kami sangat terbatas sekali dalam daya tampung yang sudah ditentukan dari pemerintah pusat. Panti hanya mboleh menampung kalayan maksimal 50 orang. Sedangkan wilayah binaan panti meliputi; Sumbar, Riau, dan Jambi.

Kendala lain yang kami hadapi yakni keterbatasan dari pegawai untuk melakukan pendataan keseluruh wilayah binaan. Namun demikian panti kami tidak pernah tidak mencukupi batas maksimal tersebut.

Sebab kalayan yang datang kesini ada berasal dari utusan kabupaten, bahkan ada yang diantar oleh orang tuanya dan juga ada yang dating sendiri hanya berbekal informasi orang lain yang mengerti keberadaan panti ini.
3. Usaha Mengatasi Kendala
Data berkaitan dengan usaha para instruktur dalam mengatasi kendala ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara sebagai berikut;
Seperti yang telah kami sampaikan bahwa kendala yang ada masih dapat kami atasi bersama melalui diskusi dan bertukar pendapat dengan intruktur jika permasalahannya berkaitan dengan kemampuan dalam pelaksanaan latihan.
Berkaitan dengan kalayan yang suka rewel dan memilih teman untuk berpasangan dalam praktek biasanya kami berikan hukuman seperti manakutinya dengan cara akan diberhentikan. Biasanya dengan cara ini mereka cepat menyadari kesalahannya sebab mereka disini sudah dewasa semua.
Jika kalayan suka rewel dalam pemakaian media pijat biasanya kepada mereka disuruh untuk menyiapkan sendiri.
Lebih lanjut kepala panti menjelaskan tentang usaha yang dilakukan dalam mengatasi kendala seperti berikut;
KUB merupakan usaha utama yang kami lakukan dalam mengatasi kendala berkaitan dengan praktek latihan mandiri di luar jam pelajaran yang resmi. Bagi kalayan bermanfaat sebagai pendapatan uang jajan jika mereka mendapat pasien dari luar. Usaha lain yang kami lakukan melalui praktek magang di panti pijat lain yang masseurnya adalah alumni dari sini. Disana mereka disamping praktek dan juga akan mendapat uang saku.

III. PEMBAHASAN
1. Pelaksanaan Keterampilan Massage
Sesuai dengan data yang telah dipaparkan pada deskripsi maka dilakukan pembahasan yang difokuskan pada pokok permasalahan seperti berikut;
Persiapan yang dilakukan sebelum praktek dapat dikatakan sudah baik, hal ini karena semua peralatan yang dibutuhkan untuk praktek sudah tersedia di panti. Dengan demikian instruktur hanya tinggal melaksanakan kegiatan praktek dan penyampian materi. Semua kebutuhan untuk paraktek masseur dan kebutuhan kalayan telah tersedia dipanti. Hal ini merupakan daya tarik bagi kalayan dan mereka akan menjadi senang dengan layanan yang mereka dapatkan.
Praktek yang dilakukan di ruang pijat telah disusun sesuai jadwal yang ditentukan dimana dalam seminggu dilaksanakan tiga hari dengan proporsi setiap prakteknya selama dua jam. Untuk persiapan latihan keterampilan pijat guru hanya terbatas pada urutan yang ada pada buku petunjuk pijat yang dikeluarkan Depsos. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa instruktur belum merencanakan suatu program yang dapat dipedomani selalin materi yang ada pada buku petunjuk pijat tersebut.
Berkenaan dengan proses pelaksanaan keterampilan pijat yang mana sebagian besar materinya dilaksanakan dan ada juga materi yang belum disampaian seperti gerakan melipat dan menggeser kulit, gerakan melonggarkan persendian. Walau ada beberapa gerakan yang tidak diberikan pada kalayan dapat dicandrai bahwa antar pelaksanaan keterampilan pijat yang ada pada teori pedoman pijat untuk instruktur sebenarnya dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang maksimal jika dilihat berdasarkan kondisi fisik dan karakteristik kalayan.
Banyaknya dosis pengurutan dan pemberian getaran dan pijatan pada bagian tertentu selalu disesuaikan dengan buku petunjuk, sehingga tidak membuka peluang untukmenyalahi aturan buku pedoman pijat yang dikeluarkan depsos sebagai pengelola utama.
Berbagai metode yang dilakukan instruktur dalam memberikan latihan keterampilan pijat dapat dimaknai bahwa pembelajaran yang menuntut seorang guru atau instruktur dalam penyampaian materi tidak boleh terpaku pada salah satu metode saja. Sebab antara metode mengajar tersebut masing-masingnya memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Namun dalam pelaksanaan instruktur hdituntut untuk lebih menentukan mteode mengajar mana yang lebih dominan dilakukan. Berkaitan dengan keterampilan pijat ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam penggunaan metodenya lebih banyak menuntut pemahamannya dan selalu berusaha untuk menggabungkan beberapa metode pengajaran yang disesuaikan dengan kegiatan mengajar terori atau praktek. Dengan demikian instruktur juga harus lebih banyak mengenal perbedaan kemampuan bagi para kalayannya. Jika kalayannya memiliki kemampuan kurang baik seperti di kelas B dengan demikian instruktur dituntut untukl lebih sering melakukan metode drill dan mengulang serta demonstrasi yang lebih sering terhadap masing-masing individu.
Sejalan dengan alat bantu dan media pijat yang digunakan oleh instruktur saat latihan dimaknai bahwa untuk pemijatan yang akan dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan keinginan para pasien. Sedangkan untuk latihan boleh saja dilakukan dengan media yang monoton dengan memperhatikan keterbatasan media latihan dengan catatan gerak yang dilakukan tidak keluara dari kaidah pemijatan yang diajarkan oleh instruktur dan merujuk pada buku pedoman pijat.
Upaya peningkatan latihan pijat dilaksanakan di luar jam belajar resmi (di asrama, panti pijat mandiri, atau di KUB) dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang baik demi peningkatan dan keseriusan kalayan dalam berlatih. Ini terlihat dengan resfek para kalayan menyambut program yang dilakukan panti dan mereka lebih serius belajar dan jika ada waktu selalu memanfaatkan sarana praktek tersebut.
Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh instruktur dapat dikatakan sebagai usaha yang paling tepat untuk mengukur keberhasilan suatu pelajaran yang banyak menuntut praktek dibanding teori. Sejalan dengan teori pelaksanaan evaluasi dalam belajar maka evaluasi tidaklah hanya mengukur keberhasilan setelah penyampaian suatu materi. Sebaiknya evaluasi dilaksanakan sesering mungkin jika materi pelajaran yang diajarkan lebih banyak menuntut keterampilan praktek. Dengan demikian dimaknai bahwa kegiatan evluasi oleh instruktur tersebut sudah merupakan usaha yang palaing obyektif dan maksimal. Namun demikian masih diperlukan suatu usaha sebagai unpan balik dengan selalu mengevaluasi kepuasan para pelanggan yang telah dipijat oleh kalayan yang dimagangkan melalui KUB atau panti yang ditunjuk sebagai tempat magang.

2. Kendala-kendala yang Dihadapi Instruktur
Berkenaan dengan kendala-kendala yang dihadapi para insturktur lebih banyak terkendala pada kemampuan penglihatan insturktur. Sebab dengan instruktur yang juga tunanetera baginya akan sulit mengontrol kemampuan dan ketepatan pemijatan kalayan yang juga tunanetra. Penggunaan instruktur yang sama-sama tunanetra dapat mengakibatkan kesulitan tersendiri dan harus bekerja eksta , lebih banyak menyita waktu saat latihan dikarenakan beliau juga harus memberikan layanan pengajaran secara individu. Kondisi seperti ini dalam penyampaian materi melalui ceramah mungkin tidak menjadi suatu penghalang yang berarti akan tetapi untuk penyampaian praktek akan lebih banyak rugiannya seperti telah disebutkan. Tetapi salah satu keuntungan menggunakan instruktur tunanetra bahwa kalayan lebih cepat akrab dan merasa sama-sama senasib, mereka lebih termotivasi kenapa orang lain bias dan tentunya ia juga harus bias seperti semboyan pada Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Jika kita mampu mengintrospeksi diri dan menggalai kemampuan yang masih dimiliki dan harus dikembangkan merupakn suatu modal utama untuk lebih mengambangkan diri ke arah yang lebih baik.
Kebanyakan dari kendala yang muncul bahwa keterbatasan panti dalam menampung kalayan dengan jumlah yang lebih besar mengingat wilayah binaan dari PSBN meliputi tiga provinsi yang ada di Sumatera. Dengan demikian akibanya banyak para penyandang tunanetra yang datang ke panti dengan terpaksa tidak diterima atau masuk daftar tunggu untuk menjadi kalayan tetap.
Kendala yang berkaitan dengan kemampuan tunanetra yang pernah sekolah dan tidak pernah sekolah atau yang lebih baik kemampuannya. Usaha pengelompokan yang dilakukan oleh instruktur dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang semestinya dilakukan. Sebab jika mereka dianggap memiliki kemampuan sama dapat mengakibatkan timbulnya minder bagi yang lemah, dan bahkan mungkin akan mengarah pada kebosanan bagi para kelayan.
Dilirik dari posisi kalayan kendala dalam pelaksanaan latihan keterampilah pijat terletak pada kemampuan menghafal srutktur anatomi tubuh manusia dan menhafal istilah pijat. Hal ini sering terjadi pada kelayan kelas B.

3. Usaha-usaha yang Dilakukan dalam Mengatasi Kendala
Berkaitan dengan usaha para instruktur dalam mengatasi kendala dapat dimaknai bahwa kendala yang dihadapi oleh para instruktur tersebut kukanlah suatu kendala yang sangat berarti dan berat serta memerlukan pemecahan lebih serius. Pemecahan masalah yang dilakukan panti dapat dikatakan suatu hal terbaik yang mesti mereka tempuh dan hal ini telah mereka lakukan dengan membuka KUB sebagai wadah utama di dalam lingkungan PSBN.
Upaya pemecahan masalah terkecil antar instruktur mencerminkan kekompakan kerja sebagai pelatih. Sedangkan upaya yang lebih melibatkan pengelola panti yang lain termasuk melibatkan kepala panti , dan juga mengundang kepala Dinas Sosial Provinsi sebaiknya lebih mengutamakan keterkaitan dengan pengembangan pola,bentuk, dan Janis layanan yang akan diberikan pada penyandang tunanentra.
Upaya menempatkan kalayan pada panti pijat mandiri yang menjadi binaan dapat dipandang sebagai suatu kontrol yang bermanfaat bagi kedua balah pihak. Sebab pengelola panti pijat mandiri sebagai mitra merupakan panti yang didirikan oleh alumni dan selanjutnya mudah mengontrol kalayan yang dimagangkan. Dengan demikian terjadi kerjasama mutualisme bagi kedua belah pihak yang saling menguntungkan.
Jalan yang ditempuh dalam mengatasi kendala ini jelas meruapakan suatu usaha yagn sangat baik dan perlu dikembangkan pada peningkatan kerjasama yang lebih luas sehingga sangat bermanfaat bai kalayan atau alumni untuk merintis karir yang mendatang nilai ekonomi dikemudian hari.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

I. KESIMPULAN
1. Pelaksanaan
Untuk memulai pelaksanaan keterapilan massage diperlukan persiapan yang meliputi; tempat, ruang, lokasi, waktu, dan program yang telah disusun sedemikian rupa. Program mestinya harus dibuat untuk semua keterampailan yang diberikan. Berkenaan dengan program instruktur berpedoman pada buku panduan pijat dan melaksanakan sesuai urutan. Hal ini menghambat insturktur untuk mengembangkan kemampuan pijat.
Dalam pelaksanaan praktek latihan massage lebih ditekankan pada gerakan yang paling diutamakan untuk dipijat. Pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk pijat. Berkenaan dengan dosis pijatan selalu dilakukan sebanyak lima kali meliputi gerak; gosokan, pijatan, gerusan dan mengurut serta manilpulasi geraknya. Sedangkan untuk; goncangan, pukulan, dan getaran dosisnya selalu dalam hitungan 15 detik. Dengan demikian untuk memijat seorang pasien diperlukan waktu 2 s/d 3 jam. Kekuatan saat pijatan selalu disesuaikan dengan selera pasien. Hasil pijat yang baik akan mampu membuat pasien terlepas dari rasa capek dan kembali rileks dan kebanyak saat dipijat pasien tertidur, dan ini semestinya dijadikan tolak ukur para masseur dalam bekerja.

2. Kendala yang dihadapi Instruktur
Penggunaan instruktur yang sama-sama tunanetra menuntut mereka bekerja ekstra, lebih banyak menyita waktu saat latihan. Keuntungan menggunakan instruktur tunanetra: kalayan lebih cepat akrab dan merasa sama-sama senasib, mereka lebih termotivasi.
Kendala yang muncul bahwa keterbatasan panti dalam menampung kalayan dengan jumlah yang lebih besar mengingat wilayah binaan dari PSBN meliputi tiga provinsi yang ada di Sumatera. Adanya perbedaan mencolok anatar kelayan yang pernah sekolah dan tidak pernah sekolah atau yang lebih baik kemampuannya.
Dilirik dari posisi kalayan kendala dalam pelaksanaan latihan keterampilah pijat terletak pada kemampuan menghafal srutktur anatomi tubuh manusia dan menghafal istilah pijat. Hal ini sering terjadi pada kelayan kelas B.
3. Usaha-usaha yang Dilakukan dalam Mengatasi Kendala
Pemecahan masalah yang dilakukan panti dapat dikatakan suatu hal terbaik yang mesti mereka tempuh dan hal ini telah mereka lakukan dengan membuka KUB sebagai wadah utama di dalam lingkungan PSBN. Mengirim kalayan pada panti pijat binaan sebagai suatu kontrol yang bermanfaat bagi kedua balah pihak.
Upaya pemecahan masalah dimulai antar instruktur mencerminkan kekompakan kerja sebagai pelatih. Sedangkan upaya melibatkan kepala panti , mengundang kepala Dinas Sosial Provinsi lebih mengutamakan keterkaitan dengan pengembangan pola,bentuk, dan jenis layanan panti.
II. SARAN-SARAN
Pelaksanaan pengajaran keterampilan pijat memerlukan ketelatenan yang menuntut instruktur mempersiapkan mulai dari bahan, materi, manipulasi gerak, dan lokasi pijat. Dengan demikian instruktur sebaiknya mempersiapkan program yang mampu mengukur keberhasilan pada setiap gerakan dan lokasi pijatan.
Instruktur sebaiknya lebih meningkatkan diri melalui belajar mandiri tentang strutktur anatomi tubuh manusia serta mengenal otot-otot yang perlu mendapatkan pijatan.
Perlu dikembangkan peningkatan kerjasama yang lebih luas yang bermanfaat bagi instruktur, dan kalayan atau alumni untuk merintis karir yang mendatangkan nilai ekonomi dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA
Arief S. Sadiman, (1984), Pengembangan Sistem Instruksional, Jakarta IKIP Jakarta
Arikunto Suharsimi, (1993). Manajemen Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Abdurrachman Muljono, (1994), Pendidikan Luar Biasa Umum, Dikti, Depdikbud, Jakarta
Anastasia Wijayantin, (1996), Ortopedagogik Tunanetra I, Dikti, Depdikbud, Jakarta
Depdikbud, (1995), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Departeman Sosial RI, (1998), Buku Pedoman Instruktur Keterampilan Pijat / Massage, Dirjen Bina Rehabilitasi Sosial Republik Indonesia, Jakarta. Direktorat Rehabilitasi Penca.
Kirk. A, Samuel & Gallagher James S., (1986). Pendidikan Anak Luar Biasa, Jakarta: DNIKS
Moleong Lexy J (2000), Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Depdikbud
Nasution S, (1992). Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Suminar Setiati Achmadi, (2003), Teknik Menyusun Usul Penelitian, makalah disampaikan pada pelatihan penyusunan proposal tingkat nasional bagi staf UNP Padang, DP3M Ditjen Dikti Depdiknas.
Sadri Islami, (2003), Pelaksanaan Keterampilan Pijat Sihatsu di Panti SosialBina Netra, Skripsi, PLB FIP UNP Padang, tidak diterbitkan.

PENELITIAN DANA RUTIN

LAPORAN PENELITIAN

PELAKSANAAN KETERAMPILAN MASSAGE
PADA PENYANDANG TUNANETRA
DI PANTI BINA NETRA KALUMBUK PADANG

OLEH :

Drs. Jon Efendi, M.Pd
Drs. Asep Ahmad Sopandi

Penelitian ini dibiayai oleh:
Dana DIK / RUTIN Universitas Negeri Padang
Tahun Anggaran 2004
Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian (SP3)
Nomor: 260/J.41/KU/Rutin/2004
Tanggal 5 Mei 2004

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2004

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN

1. Judul : PELAKSANAAN KETERAMPILAN MASSAGE PADA PENYANDANG TUNANETRA DI PANTI BINA NETRA KALUMBUK PADANG
2. Ketua Peneliti
Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
Jenis Kelamin : Laki-laki
NIP : 132 092 865
Pangkat/golongan : Penata muda/IIIb
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
Fakultas/Jurusan : Ilmu Pendidikan/ Pendidikan Luar Biasa
Bidang Ilmu yang diteliti : Pendidikan Luar Biasa
3. Jumlah Tim Peneliti : 2 orang
4. Lokasi Penelitian : Panti Bina Netra Kalumbuk Padang
5. Kerjasama dengan instansi : Instruktur Massage (pijat) Kalumbuk Padang
6. Jangka Waktu Penelitian : 5 Bulan
7. Biaya yang diperlukan : 3.000.000,- (TigaJuta Rupiah)

Mengetahui: Padang, 15 Desember 2004
Dekan FIP UNP Padang Ketua Peneliti

Prof. DR. H. Suyarma Marsyidin,M.Pd Drs. Jon Efendi, M.Pd
NIP: 131 129 397 NIP: 132 092 865

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian UNP Padang

Prof. DR. H. Agus Irianto
NIP: 130 879 791

ABSTRAK

Penelitian ini berawal dari pilihan karier yang dilakoni oleh penyandang tunanetra yang mulai mendapat perhatian dalam kapasitas diperlukan oleh pengguna jasanya. PSBN memberikan keterampilan meliputi; 1) keterampilan massage, 2) keterampilan akupuntur, 3) keterampilan shiatsu, 4) keterampilan merajut, dan 5) kursus Ilmu Arab Braille. Bahwa beberapa keterampilan yang diberikan oleh Panti Binanetra ternyata yang paling banyak menarik minat yakni Bidang keterampilan Massage dan dapat menghidupi para penyandang tunanetra secara ekonomi dalam menunjang penghasilan keluarga.
Dalam pelaksanaan praktek latihan massage lebih ditekankan pada gerakan yang harus sesuai dengan petunjuk pijat. Dosis pijatan selalu dilakukan sebanyak lima kali meliputi gerak; gosokan, pijatan, gerusan dan mengurut serta manilpulasi geraknya. Sedangkan untuk; goncangan, pukulan, dan getaran dosisnya selalu dalam hitungan 15 detik. Hasil pijat yang baik akan mampu membuat pasien terlepas dari rasa capek dan kembali rileks dan kebanyakan saat dipijat mampu membuat pasien tertidur, dan ini semestinya dijadikan tolak ukur para masseur dalam bekerja.
Kendala yang muncul: 1) keterbatasan panti dalam daya tampungyang sangat terbatas, 2) kemampuan kealayan yang rendah dalam menghafal srutktur anatomi tubuh manusia dan istilah pijat.
Pemecahan masalah yang dilakukan: 1) Mengirim kalayan pada panti pijat binaan sebagai suatu kontrol dan kerjasama, 2) melibatkan kepala panti , 3) mengundang kepala Dinas Sosial Provinsi untuk lebih mengutamakan pengembangan pola,bentuk, dan jenis layanan panti.
Dengan demikian sebaiknya; instruktur sebaiknya mempersiapkan program yang mampu mengukur keberhasilan pada setiap gerakan dan lokasi pijatan, belajar mandiri tentang strutktur anatomi tubuh manusia dan mengenal otot-otot yang perlu mendapatkan pijatan, peningkatan kerjasama yang lebih luas bagi instruktur, kalayan atau alumni panti untuk merintis karir yang mendatang.

KATA PENGATAR

Penelitian ini berusaha memenuhi suatu kebutuhan akan pelaksanaan latihan massage bagi para penyandang tunanetra. Selama ini penelitian berkaitan dengan pengungkapan keterampilan yang mulai banyak diminati oleh penyandang tunanetra sebagai pilihan karier.
Sistematika penulisan dipaparkan dalam bentuk urutan pertanyaan penelitan seperti berikut; a) pelaksanaan latihan keterampilan massage, b) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan, dan c) usaha yang dilakukan instruktur dalam mengatasi kendala. Penyusunannya merujuk pada sisi pandang ilmu pendidikan di samping cara pandang ilmu lainnya yang terkait.
Penulis sangat menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang perlu disisip dan perlu dilakukan upaya pengembangan hingga memenuhi standar bacaan. Pada kesempatan ini penulis mohonkan tegur sapa, kritikan dan saran demi penyempurnaannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para penggunanya. Amiiiin.
Padang, 10 Oktober 2004

DAFTAR ISI

Halaman
Kata pengantar i
Daftar isi ii
A. PELAKSANAAN KETERAMPILAN MASSAGE TUNANETRA 1
B. BIDANG KEILMUAN 1
C. PENDAHULUAN 1
D. PERUMUSAN MASALAH 4
E. FOKUS PENELITIAN 4
F. PERTANYAAN PENELITIAN 5
G. TUJUAN PENELITIAN 5
H. KONTRIBUSI PENELITIAN 6
I. TINJAUAN PUSTAKA 6
a. Konsep Massage 6
1. Pengertian massage 6
2. Macam-macam massage 7
3. Sport Massage 8
4. Cara memperaktekkan massage 8
5. Penyakit yang boleh di massage 9
6. Tujuan massage 9
7. manipulasi pijat, efek dan penggunaannya 10
8. Peralatan Massage 13
9. Metode latihan massage 13
b. Konsep Tunanetra 14
1. Pengertian anak tunanetra 14
2. Klasifikasi anak tunanetra 15
3. Karakteristik tunanetra 16
I. KERANGKA KONSEPTUAL 17
J. METODE PENELITIAN 18
1. Jenis Penelitian 18
2. Teknik Pengumpulan data 18
3. Sumbedr data 19
4. Teknik Analisa data 20
K. LATAR ENTRY 21
L. DESKRIPSI DATA 23
1. Pelaksanaan Latihan Keterampilan Massage 23
2. Kendala yang Dihadapi 42
3. Usaha Mengatasi Kendala 44
M. PEMBAHASAN 45
N. KESIMPULAN 50
O. SARAN-SARAN 52
DAFTAR PUSTAKA 53

JADWAL PELAKSANAAN
Penelitian dilaksanakan dalam jangka waktu 5 bulan dengan rincian;
1. Pemantapan rancangan penelitian : 2 minggu
2. Penyusunan instrumen : 2 minggu
3. Pelaksanaan penelitian : 10 minggu
4. Pengolahan dan analisis penelitian : 2 minggu
5. Penulisan Draf laporan : 3 minggu
6. Revisi dan penulisan draf akhir : 2 minggu
7. Penggandaan laporan penelitian : 2 minggu
L. PERSONALIA PENELITIAN
1. Ketua peneliti :
a. Nama lengkap : Drs. Jon Efendi, M.Pd
b. Pangkat/Gol/NIP : Penata muda/IIIb/132092865
c. Jabatan : Asisten ahli
d. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Biasa
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
f. Bidang Keahlian : Pendidikan Luar Biasa
g. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
h. Pendidikan terakhir : S2 / Pasca Sarjana IKIP Bandung
2. Anggota Peneliti :
a. Nama lengkap : Drs. Asep Ahmad Sopandi
b. Pangkat/Gol/NIP : Penata Tk I/IIId/131689819
c. Jabatan : : Lektor muda
d. Fakultas/Prodi : FIP / Pendidikan Luar Biasa
e. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
f. Bidang Keahlian : Pendidikan Luar Biasa
g. Waktu untuk Penelitian : 5 Jam/minggu
h. Pendidikan terakhir : S1 IKIP Bandung

M. Jangka Waktu dan Biaya Penelitian
No. Rincian Biaya Kegiatan Penelitian @ dalam Rupiah (Rp)
1. Honorer Pelakasana Penelitian:
a. Ketua Pelaksana
b. Anggota Pelaksana I
800.000
500.000
2. Bahan dan alat Penelitian:
a. Kertas duplicator 3 rim
b. Kertas HVS 80 Gram 3 rim
c. Disket 3 buah
d. Tinta Refil komputer 4 buah
100.000
150.000
60.000
150.000
3. Pelaksanaan penelitian
a. Penjajakan ke lokasi penelitian
b. Pengurusan surat izin penelitian
c. Penyusunanan, Judge, revisi instrumen
d. Penggandaan intsrumen penelitian
e. Pengumpulan data ke lapangan
400.000
100.000
200.000
100.000
500.000
4. Pengolahan dan analisis data 500.000
5. Pembuatan dan penggandaan laporan
a. Penulisan draf awal
b. Revisi dan penulisan final
c. penggandaan laporan
d. Seminar hasil penelitian.
300.000
150.000
200.000
400.000
Jumlah: (Empat Juta Sepuluh Ribu Rupiah) Rp. 4.010.000

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI
1. Nama : Drs. Jon Efendi, M.Pd
2. NIP : 132 092 865
3. Status Dosen : Dosen tetap (biasa) Negeri
4. Tempat tanggal lahir : Padang tanggal 22 November 1965.
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Pangkat/golongan : Penata muda/ IIIb
7. Jabatan : Asisten ahli
8. Pendidikan tertinggi : S2 IKIP Bandung 1999
9. Daftar Karya Ilmiah : 1. Efektivitas metode bermain dan ceramah dalam mengajarkan nilai nominal uang bagi anak tunagrahita ringan di SPLB Cipaganti Bandung (skripsi) 1992.
: 2. Pengembangan program bimbingan konseling perkembangan melalui kegiatan belajar mengajar dalam peningkatan kemandirian anak tunagrahita ringan (Tesis) Bandung 1999.
: 3. Mainstreaming dalam system Pendidikan Anak Tunagrahita (Majalah Basandi)
: 4. Remaja Tunagrahita & Orang Tua Otoriter, (makalah)
: 5. Bimbingan Orang Tua dalam Intervensi Anak Tunarungu Suatu Optimalisasi Kemandirian.
: 6. Peranan Kecerdasan Emosional dalam Menunjang Keberhasilan belajar Anak Tunagrahita.

FORMULIR ISIAN
USUL PENELITIAN DOSEN MUDA

1. a. Nomor ID : ............
b. Tahun anggaran: ........
2. Judul Penelitian : Pelaksanaan Keterampilan Massage Pijat Pada Penyandang Tunanetra di Panti Binanetra Kalumbuk Padang.
3. Tim Peneliti :
No Nama Peneliti NIP Tgl Lahir Jabatan akademi Jenis kelamin Penddk terakhir
1. Jon Efendi 132092865 22-11-65 03 01 S2
2. Asep Ahmad S 131689819 24-11-61 03 01 S2

4. Perguruan tinggi :
a. Nama : Universitas Negeri Padang
b. Kode : ……………
5. Fakultas :
a. Nama : Fakultas Ilmu Pendidikan
b. Kode : ……………
6. Penelitian yang diusulkan: Penelitian Dosen Muda
7. Kategori Penelitian : Meningkatkan keterampilan staf pengajar serta mengembangkan institusi.
8. Lingkup penelitian : 02 Wilayah
9. Bidang Ilmu yang diteliti: 03 Pendidikan
10. Lokasi Penelitian : Panti Sosial Bina Netra Kalumbuk Padang
11. Macam penelitian : Obsevasi
12. Lama dan waktu penelitian :
a. Lama Penelitian : 6 bulan
b. Bulan penelitian : 04-10
13. Biaya Penelitian :
a. Diusulkan : Rp. 4.010.000,-
b. Disetujui : Rp. 4.000.000,-
c. Sumber biaya : Dana Rutin
14. Jumlah artikel yang akan dipublikasikan :
a. Diseminarkan : 01
b. Ditulis diJurnal : 02
Padang 5 April 4, 2004
Ketua Peneliti

Drs. JON EFENDI, M.Pd NIP: 132092865

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: