Psikologi Alfred Adler Dan Masalah Tunarungu

Psikologi Alfred Adler Dan Masalah Tunarungu
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak tunarungu (ATR) merupakan individu yang unik, pada umumnya memiliki potensi atau kekuatan yang dapat dikembangkan demi tercapainya keseimbangan, keserasian dan berintekrasi terhadap lingkungan, apakah itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Potensi tersebut akan dapat diarahkan dan dikembangkan seoptimal mung-kin. Hal ini tentu sangat erat keterkaitannya dengan bahasa yang digunakan .
Bahasa merupakan sarana komunikasi yang sangat penting di dalam berinteraksi dengan orang lain, dengan bahasa manusia dapat mengemukakan pendapatnya dan mengekspresikan perasaannya.
Dalam bidang psikologi sering dikatakan bahwa bahasa dan berfikir seperti dua sisi mata uang, artinya perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan berpikir. Bahasa digunakan untuk menyatakan isi pikiran kita bahkan dapat menunjukkan cara berpikir kita. Kalau kita berbicara, hal tersebut sebenarnya merupakan kegiatan berpikir yang diungkapkan melalui bahasa yang kita pelajari baik berupa bahasa verbal maupun bahasa non verbal.
Bahasa berkaitan erat dengan pendengaran seseorang, karena melalui proses pendengaran, pengulangan atau peniruan sampai akhirnya penafsiran, maka akhirnya bahasa tersebut akan menjadi miliknya. Oleh karena itu pendengaran sebagai pintu gerbang penerimaan bahasa merupakan suatu hal yang sangat vital bagi perkembangan berbicara dan berbahasa juga perkembangan kepribadian yang lainnya.
Apabila kita setujui hal di atas, bahwa bahasa merupakan wahana untuk mengekspresikan perasaan berkaitan dengan aspek emosi seseorang, begitu juga bahasa merupakan sarana komunikasi untuk berinteraksi dengan orang lain merupakan aspek sosial, dan bahasa berkaitan dengan kognisi atau intelegensi seseorang, maka dapatlah kita bayangkan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran secara otomatisasi aspek emosi sosial dan kognisinya akan terhambat dan akan mempengaruhi perilakunya.
Meadow (1987), mengatakan bahwa: “Inventarisasi kepribadian dengan konsisten menunjukkan bahwa anak tunarungu mempunyai lebih banyak masalah penyesuaian dari anak-anak yang berpendengaran normal. Jika anak-anak tunarungu yang tanpa masalah-masalah nyata atau serius diteliti, mereka ternyata menunjukkan kekhasanan akan kekakuan, egosentrik, tanpa kontrol dalam diri, inpulsif dan keras kepala.

Kekakuan , egosentris dalam beriteraksi dengan lingkungan dapat menyebabkan kepada diri anaktunarungu merasa terasing dari pergaulan atau aturan-aturan sosial yang berlaku dalam masyrakat. Keadaan ini akan menghambat perkembangan kepribadian anak untuk menuju kedewasaan.
Anak luar biasa (ALB) dalam hal ini anak tunarungu dengan kondisi seperti dijelaskan di atas, jelas mengalami hal-hal yang membuat dirinya merasa rendah diri yang dalam teori Psikilogi Individual Alfred Adler disebut inferioritas. Inferioritas menurut Adler adalah perasaan-perasaan yang muncul sebagai akibat kekurangan psikologis atau sosial yang di-rasakan secara subyektif merupakan perasaan-perasaan yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh nyata (Bischof, 1970). Artinya inferioritas ber-sumber dari rasa tidak lengkap maupun rasa tidak sempurna dalam setiap bidang kehidupan. Bagi anak tunarungu perasaan rendah juga dimilikinya.
Dalam psikologi individual prilaku seseorang adalah merupakan suatu kesatuam yang tidak bisa dibagi-bagi (in-divide) dan tidak terlepas dari lingkungan. Adler berasumsi bahwa manusia didorong oleh dorongan-dorongan sosial. Manusia adalah makhluk sosial dan ia menghubungkan dirinya dengan orang lain, mengikat diri dengan kegiatan bersama, menepatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan pribadi.
Ini berarti bahwa salah satu prinsip yang dikemukakan Adler dalam teorinya adalah minat sosial, dimana minat sosial itu terjelma dalam bentuk kerjasama, hubungan antar pribadi dan hubungan sosial, empati dan sebagainya, sedangkan kita tahu karakter anak tunarungu cenderung egois, mudah curiga, agresif dan menarik diri. Prinsip yang lainnya adalah tujuan hidup (superioritas), bagi anak tunarungu untuk mencapai tujuan hidup tersebut tidak mudah karena keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya sehingga membutuhkan bantuan orang lain, salah satunya adalah orang tua (keluarga)yang merupakan komunitas awal perkembangan anak. Keluarga merupakan awal dari perjalanan hidup dari anak dan masyarakat secara keseluruhan. Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan sistem terkecil sebagai inti dari sistem sosial secara keseluruhan.
Mengapa konsep Adler dimasukan dalam makalah atau permasalahan ini, karena penulis menyadari bahwa untuk memahami anak tunarungu, kita harus memahami dulu manusia secara utuh. Konsep yang dikembangkan Adler lebih sederhana dan lebih mendekati untuk diimplikasikan ke dalam permasalahan ini, sekaligus dapat dijadikan landasan bagi orang tua dalam membawa anaknya ke arah tujuan hidup yang diinginkan sesuai dengan potensi yang bisa untuk dikembangkan.
Kita harus mengakui bahwa prinsip-prinsip Psikologi Individual Adler telah banyak memberikan sumbangan yang berarti bagi terapi atau bimbingan serta upaya pengembangan kepribadian di berbagai setting keluarga, sekolah dan masyarakat yang kesemuanya itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Orang tua bertanggungjawab di dalam semua aspek perkembangan anak baik itu fisik, psikologis maupun sosialnya. Apa yang diberikan atau perlakuan orang tua terhadap anaknya akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak di kemudian hari, meskipun faktor eksternal di luar rumah seperti teman sebaya, perlakuan guru atau lingkungan sekitar juga akan mempengaruhi perilaku anak, tapi itu tidak sebesar pengaruh yang anak terima dari orang tua di rumah karena hampir keseluruhan waktu yang dilalui anak selebihnya ada di rumah, sehingga kita merasa bahwa hal yang paling efektif untuk dapat mengembangkan potensi dan kepribadian anak adalah diawali di rumah oleh orang tua.
B. Permasalahan
Atas dasar pemikiran di atas, maka permasalahan dalam penulisan ini adalah:
1. Bagaimana prinsip-prinsip psikologi individual Alfred Adler?
2. Bagaimana prinsip di atas dapat diimplikasikan oleh orang tua untuk mengembangkan sosialisasi anak tunarungu?
C. Tujuan Pembahasan.
Pembahasan masalah ini secara kontekstual bertujuan antara lain:
1. Mengeanal lebih jauh tentang prinsip-prinsip psikologi individual Alfred Adler
2. Mengenal dan memahami tentang prinsip-prinsip psikologi individual serta diimplikasikan oleh orang tua untuk dapat menumbuh kembangkan sosialisasi Anak Tunarungu.
3 Memperoleh konsep layanan yang dapat dilakukan sekolah dan keluarga yang dipandang sesui dengan kondisi dan kebutuhan dari siswa anak tunarungu.
D. Metode Pendekatan
Untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang konsep siswa tunarungu, serta konsep layanan yang dapat diklakukan dengan memahami pendekatan atau prinsip-prinsip dari teori Alfred Adler sebagai dasar dalam memberikan layanan bagi pihak sekolah dan keluarga (orang tua). Pembahasan ini berupaya menggali dengan menggunakan kajian pustaka. Temua pustaka tersebut selanjutnya dirumuskan dalam bentuk makalah setelah mendapat masukan dari sejawat serta sekelumit persepsi yang ada pada penulis.

BAB II
ANAK TUNARUNGU DAN KARAKTERISTIKNYA
A. Pengertian Anak Tunarungu
Istilah tunarungu diambil dari kata “tuna” dan “rungu”. Tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang atau anak dikatakan tuna-rungu apabila ia tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara.
Berbagai batasan telah dikemukakan oleh para ahli tentang pengertian tunarungu (Hearing Impairment), yang meliputi The Deaf (Tuli) dan Hard of Hearing (kurang dengar). Daniel F. Hallahan dan James H. Kauffman (1991) mengatakan bahwa: Hearing Impairment. A generic term indicating a Hearing Disability that may severing from mild to profound it includes the subsets of deaf and hard of hearing. A deaf person in one whose hearing precludes succesful processing of linguistic information throught audition, with or without a hearing aid. A hard of hearing is one who generally with use of hearing aid, has residual hearing sufficient to enable succesful processing of linguistic information throught audition.
Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa tunarungu adalah suatu istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar, yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai yang berat, digolongkan ke dalam tuli dan kurang mendengar.
Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai atau pun tidak memakai alat bantu dengar. Sedangkan yang kurang mendengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu mendengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran.
Individu yang mengalami gangguan pendengaran , sering juga disebut dengan anak tunarungu. Ada dua macam pengertian atau definisi mengenai ketunarunguan sesuai dengan bidang garapan yang memandangnya, yaitu pengertian berdasarkan medis dan pengertian berdasarkan pedagogis.
Secara medis ketunarunguan berarti kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan fungsi dari sebagian atau seluruh alat/organ-organ pendengaran.
Sedangkan secara pedagogis ketunarunguan adalah kekurangan atau kehilangan pendengaran yang mengakibatkan hambatan dalam perkembangan, sehingga memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus.
Andreas Dwidjosumarto dalam seminar ketunarunguan di Bandung (1988) mengemukakan “tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai perangsang terutama melalui indera pendengaran”.
Dari beberapa batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang pengertian anak tunarungu, maka dapat disimpulkan bahwa “tunarungu adalah mereka yang kurang atau hilang pendengarannya walaupun telah diberikan ransangan tetapi tetap tidak dapat memahami atau menagkap reaksi yang ada, sehingga menghambat terhadap perkembanganya dan membawa dampak kepada kehidupan yang kompleks dengan demikian perlu layanan bimbingan dan pendidikan khusus.
Dampak terhadap kehidupan secara kompleks mengandung arti bahwa akibat ketunarunguan, maka perkembangan kepribadian secara keseluruhan menjadi terhambat juga termasuk perkembangan inteligensi, emosi dan sosial, karena antara aspek-aspek tersebut saling berkaitan dan berpengaruh satu sama lain.
B. Karakteristik Anak Tunarungu
Bila kita memperhatikan anak tunarungu secara fisik dan kemudian dibandingkan dengan anak normal lainnya secara umum tidak terlihat perbedaanya, justru anak tunarungu tampil seperti orang biasa. Tetapi bila kita ajak dalam berbicara (komunikasi) sesama kita maka akan lansung terlihat ada kejanggalan-kejanggalan pada dirinya, semua ini bermula dari dampak ketunarunguan yang dialaminya. Dengan demikian bahwa anak tunarungu memiliki karakteristik tersendiri (khas).
1. Karakteristik dari segi inteligensi
Pada umumnya anak tunarungu memiliki inteligensi normal atau rata-rata akan tetapi, semua perkembangan inteligensi juga dipengaruhi oleh perkembangan bahasa , maka tampaknya inteligensinya rendah disebabkan karena kesulitan dalam memahami bahasa. Perkembangan inteligensi bagi anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan mereka mendengar (anak normal lainnya), karena dengan sistem pendengaran mereka akan dapat membuat berfikir.
Pikiran adalah suatu gambaran dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh seseorang. Menurut Bruner gambaran dapat dalam bentuk angan-angan atau imajinasi, perbuatan, atau dalam bentuk bahasa. Ia merasa menggunakan semua gambaran dari pengalaman-pengalamannya. Dari sisi lain dikatakan bahwa bentuk imajinasi, perbuatan , dan bahasa tersebut satu sama lain saling mendominasi.
Rendahnya inteligensi anak tunarungu bukan disebabkan IQ poten-sialnya yang tidak berkembang, tetapi fungsinya kurang memperoleh kesempatan untuk berkembang. Aspek inteligensi yang terhambat hanya yang bersifat verbal, misalnya dalam memberikan makna, menarik kesimpulan dan meramalkan suatu kejadian.
2. Karakteristik dalam segi bahasa dan bicara
Perkembangan bahasa bicara anak tunarungu sampai saat meraban, tidak mengalami hambatan, karena meraban merupakan kegiatan alami, dalam upaya melatih pernapasan dan pita suara
Bahasa bagi anak tunarungu adalah merupakan alat berfikir dan sarana utama seseorang untuk berkomunikasi. Maka melalui mendengar mereka dilatih dan didik secara khusus. Dengan melalui latihan maka bahasa bicaranya diharapkan dapat berkembang. Kita memahami dengan ketidak mampuannya berbahasa dan bicara dibandingkan dengan anak normal sebayanya akan tampak lebih tertinggal. Hal ini dapat disadari bahwa anak tunarungu walaupun sudah didik secara khusus banyak diantara mereka yang tetap ketinggalan 2 sampai 4 tahun dalam kemampuan membaca dan menulis jika hal ini kita banding dengan anak yang mendengar (anak normal lainnya). Untuk itu kita mengharapkan dalam pengembangan potensi berkomunikasi perlu adanya kerjasama antara orang tuan dengan pihak sekolah agar didalam berinteraksi dengan lingkungan dimana anak turungu berada dapat berjalan dengan baik.
3. Karakteristik Sosial Anak Tunarungu
Keterbatasan dalam berkomunikasi menimbulkan masalah dalam kehidupan sosialnya. Kehidupan sosial berarti kehidupan lingkungan dimana anak berinteraksi, baik antara anak tersebut dengan anak yang lainnya, antara anak dan keluarga, dengan kelompok, atau dengan lingkungan yang lebih luas lagi.
Lingkungan sosial yang diharapkan adalah yang mengerti dan memahami keadaan dan kemampuan anak tunarungu terutama dalam hal berkomunikasi. Kurangnya pengertian terhadap keberadaan anak menye-babkan timbulnya sikap-sikap negatif seperti mengisolasi, mentertawakan saat dia berbicara, dan lain-lain, hal-hal ini merupakan akibat eksternal dari ketunarunguan. Tetapi tanpa penyebab eksternalpun, sebenarnya anak sudah mengalami masalah dengan ketunarunguannya itu.
Ketunarunguan dapat mengakibatkan terasing dari pergaulan sehari-hari, yang berarti mereka terasing dari pergaulan atau aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat dimana ia hidup. Akibat dari keterasingan tersebut dapat menimbulkan efek-efek negatif seperti:
a. Egosentrisme yang melebihi anak normal
Daerah pengamatan anak tunarungu lebih kecil jika dibandingkan dengan anak yang mendengar. Salah satu unsur pengamatan yang terpenting ialah pendengaran, sedangkan anak tunarungu tidak memiliki hal itu, ia hanya memiliki unsur penglihatan (visual). Daerah pengamatan penglihatan jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan daerah pengamatan mendengar (audio). Bagi seseorang yang mendengar, dia dapat melihat apa yang ada di mukanya dan mendengar apa yang ada disekelilingnya, sedangkan bagi anak tunarungu dia hanya bisa melihat apa yang ada dimukanya saja (kontak dengan lingkungan tidak ada).
Untuk anak tunarungu yang kurang dengar mereka masih memiliki sebagian kecil dari daya pengamatan melalui pendengaran. Tetapi walaupun demikian mereka hanya mampu menangkap dan memasukkan sebagian kecil”dunia luar” ke dalam dirinya. Bagi anak tunarungu, dunia menjadi sepi dan amat “kecil”, sehingga dia hanya dapat memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Apapun yang ada dihadapannya, akan ia nilai dan persepsikan berdasarkan dirinya.
Anak tunarungu mempelajari dan memahami lingkungan sebagian besar melalui penglihatannya dan untuk memenuhi rasa keingintahuannya ia mengoptimalkan penglihatannya tanpa memperhatikan orang disekitarnya, sehingga apabila ada objek yang harus ia hadapi kadang objek tersebut direbutnya, kadang kala bila anak tersebut benar sudah suka maka perha-tiannya sulit untuk dialihkan terhadap suatu. Meskipun hal tersebut dapat terjadi pada anak normal, namun pada anak tunarungu sifat tersebut lebih menonjol.
b. Mempunyai perasaan takut terhadap lingkungan yang lebih luas
Pada orang mendengar dapat saja suatu saat dihinggapi perasaan takut akan kehidupan ini, tetapi anak tunarungu lebih sering mengalami hal tersebut. Hal ini disebabkan karena sering merasa kurang menguasai keadaan yang diakibatkan oleh pendengarannnya yang terganggu, sehingga ia sering merasa khawatir dan takut. Lebih lagi dengan kemiskinan bahasa, mereka tidak mampu menguasai dan menyatukan sutuasi yang baik sehingga situasi menjadi tidak jelas.
c. Ketergantungan terhadap orang lain
Sikap ketergantungan terhadap orang lain atau terhadap apa yang sudah dikenalnya dengan baik, merupakan gambaran bahwa mereka mudah putus asa dan selalu mencari bantuan serta bersandar pada orang lain.
d. Lebih mudah tersinggung dan cepat marah
Karena seringnya mengalami kekecewaan yang timbul dari kesukaran menyampaikan perasaan dan fikirannya kepada orang lain dan kesulitan dalam memahami apa yang orang lain sampaikan, maka wujud dari kejengkelannya ia hanya dapat mengekspresikan dengan kemarahan. Masalah ini erat kaitannya dengan kemampuan membaca ujaran. Anak yang mengalami kesukaran dalam membaca ujaran lebih banyak yang bersikap rewel. Semakin mudah mereka berbicara semakin mudah pula memahami maksud orang lain sehingga akan menjadi tenang dan mampu menguasai diri.

BAB III
PSIKOLOGI INDIVIDUAL ALFRED ADLER
A. Pandangan Adler terhadap Manusia
Psikologi Individual dikembangkan Alfred Adler sebagai suatu sistem yang menyeluruh dalam memahami individu kaitannya dengan lingkungan sosial. Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas (harga diri yang kurang). Perasaan lemah dan tidak berdaya, timbul dan ber-kembang karena pengalaman hidup anak bersama orang dewasa atau pandangan kekurangan dalam organ tubuh. Manusia pada dasarnya bersifat sosial dan berusaha mencari tempat dalam masyarakat, dan berusaha untuk membangun suatu kesatuan pribadi.
Konstruk utama yang lain adalah pandangan tentang kesatuan organisme yang berorientasi tujuan. Faktor biologis dan lingkungan mem-pengaruhi tujuan individu, akan tetapi perwujudannya terutama dikreasikan oleh individu itu sendiri. Secara sosial individu terdorong untuk bergerak dari keadaan yang dipandang sebagai inferioritas ke arah keadaan yang di-pandang sebagai superioritas. Meskipun dipengaruhi oleh sifat orang tua, kondisi struktur keluarga, akan tetapi pada dasarnya setiap individu memiliki dari yang kreatif, bertanggungjawab dan memilih pikiran, tindakan dan perasaan sendiri.

B. Deskripsi tentang tingkah laku manusia
Dalam mendeskripsikan perilaku manusia, Adler mengajukan bebe-rapa prinsip. Ada beberapa prinsip yang kiranya dapat diimplikasikan ke dalam permasalahan anak tunarungu seperti yang telah ditetapkan dalam permasalahan sebelumnya, yaitu:
1. Inferioritas
Kehidupan manusia didorong oleh suatu keinginan utama yaitu ke-inginan untuk mengatasi inferioritas dan keinginan untuk menjadi superior. Manusia lebih banyak menghabiskan hidupnya mencoba untuk sesempurna mungkin. Istilah yang digunakan oleh Adler tentang “Inferiority complex”, menggambarkan keadaan perasaan harga diri kurang yang senantiasa mendorong individu untuk berkompensasi mencapai keunggulan. Setelah tercapai suatu saat dia akan merasa imferioritas kembali. Maka perasaan ini muncul bersumber dari rasa tidak lengkap maupun rasa tidak sempurna dalam setiap bidang kehidupan. Di lapangan bagi anak didik disekolah baik anak normal maupun anak tunarungu perasaan seperti sering dirasakan.
Kompleks rasa rendah diri (inferiority complex) menurut Adler berasal dari tiga sumber, yaitu: (1) kekurangan dalam organ fisik, (2) anak yang dimanja, (3) anak yang mendapat penolakan. Kadang rasa rendah diri ini dapat menimbulkan kompensasi yang berlebihan, sehingga menimbulkan berbagai hambatan bagi individu itu sendiri. Inferioritas berarti adanya perasaan lemah dan ketidakmampuan dalam menghadapi tugas-tugas yang harus diselesaikan.
2. Superioritas
Superioritas adalah kemampuan seseorang dalam merealisasikan dirinya (self-realization, self actualization). Bagi Adler, superioritas ini bukan berarti seseorang merasa lebih baik dari orang lain, tetapi suatu usaha terus menerus oleh seseorang menjadikan sesuatu lebih baik, lebih mendekati tujuan-tujuan ideal. Perasaan inferioritas dibawa sejak lahir dan perasaan itu berusaha untuk menjadi superior, yang selanjutnya mendorong untuk lebih baik. Keadaan ini membawa kita dari keadaan minus kepada plus, dari bawah menjadi atas. Dorongan ini bersifat bawaan (innate) dan juga mendorong kekuatan-kekuatan lainnya.
3. Gaya Hidup
Gaya hidup merupakan keunikan cara kita untuk mencapai tujuan-tujuan khusus dalam kehidupan. Kita memilih tujuan-tujuan itu untuk diri kita sendiri. Yang penting dalam kehidupan adalah bergerak, diantara bentuk gerak kehidupan ini adalah seperti berpikir, merasa, dan bertindak. Setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda-beda, unik dan digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu berdasarkan situasi kehidupan dirinya sendiri.

4. Minat Sosial
Hal penting lainnya adalah konsep minat kemasyarakatan (community interests) sebagai bagian dari kualitas manusiawi. Minat sosial ini mendorong individu untuk mencapai superioritas dalam kehidupan sosial. Masalah-masalah hidup selalu berhubungan dengan permasalahan sosial. Hidup yang sehat bukan hanya mencintai dan bekerja saja tetapi meliputi perasaan komunalitas (kebersamaan) terhadap orang lain dan kepeduliannya terhadap kesejahteraan mereka.
Istilah asli dari minat sosial yang dikemukakan Adler adalah Gemeinschaftsgefuhl, yaitu sebagai perhatian (kepedulian) seseorang terhadap kesejahteraan orang lain secara terus menerus, untuk meng-arahkan perilaku orang sepanjang hidup. Meskipun minat sosial ini dibawa sejak lahir, namun kemampuan ini sangat lemah dan kecil. Dalam hal ini, ibu sebagai orang lain, pertama dalam pengalaman anak yang bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi bawaan ini. Apabila ibu tidak mem-bantu memperluas pengalaman sosial anak terhadap orang lain, maka si anak tidak akan memiliki kesiapan untuk mengatasi permasalahan hidupnya di masyarakat.
Menurut Adler, minat sosial akan memungkinkan seseorang memper-juangkan superioritasnya secara sehat dan bagi orang yang kurang minat sosialnya berarti orang tersebut mengalami salah suai (social maladjusment) atau akan gagal menyesuaikan diri seperti: neurotis, psikotis, kriminal, peminum, anak-anak bermasalah, bunuh diri, merusak, dan prostitusi. Akhirnya minat sosial merupakan perjuangan bagi kesempurnaan masya-rakat seperti halnya perjuangan mereka terhadap kesempurnaan dirinya sendiri.
Proses sosialisasi dimulai sejak usia kanak-kanak dalam masyarakat. Minat sosial meletakkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi yang tergambar dalam bentuk kerjasama, simpati, hubungan antar pribadi dan se-bagainya semua tidak ini muncul secara spontan melainkan harus ditum-buhkan lewat bimbingan dan latihan.
Geral Corey dalam Mosak (1977) menyampaikan :
“bahwa kita harus menghadapi dan menguasai lima tugas hidup; hubungan dengan orang lain (persahabatan), membuat dan menyumbang (karya), dan mendapatkan keakraban (cinta kasih dan hubungan kekeluargaan), bisa berdamai dengan diri sendiri ( menerima diri sendiri apa adanya) dan mengembangkan dimensi spiritual kita (termasuk nilai makna, tujuan hidup dan hubungan kita dengan alam semesta atau kosmos)”.

Dengan demikian kita menyadari bahwa awal dari perjalanan hidup ini tidak akan terlepas dari cinta kasih dan hubungan dalam keluarga. Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan sistem dimana sistem tersebut meru-pakan inti dari keseluruhan. Suasana keluarga yang baik akan menghasil-kan warga masyarakat yang baik karena di dalam keluargalah individu belajar berbagai asas kehidupan bermasyarakat. Tidak ada satu orangpun manusia yang hidup tanpa keluarga. Oleh karena itu tepatlah kalau dikatakan bahwa upaya bimbingan harus berpusat pada keluarga.
BAB IV
UPAYA ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN
SOSIALISASI ANAK TUNARUNGU

A. Sikap Orang tua dan Akibat yang Ditimbulkan
Manusia memiliki minat sosial yang dibawa sejak lahir, minat ini tampak ketika manusia berkomunikasi dengan orang lain. Manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial sangat menyadari bahwa komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia yang memiliki peranan yang sangat dominan.
Manusia berinteraksi dimulai dari lingkungan yang terdekat, sejak bayi manusia sudah berkomunikasi dengan ibunya melalui komunikasi non verbal. Segala keinginan dia ekspresikan lewat tangisan sampai akhirnya anak dapat mengemukakan sendiri keinginannya itu melalui bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain. Karenanya besar sekali peranan orang tua terutama ibu di dalam mengantarkan keberhasilan komunikasi seseorang.
Bagaimana halnya dengan keluarga anak tunarungu, tidak semua orang tua mampu memahami keberadaan anak tunarungu. Ada orang tua yang menolak (rejection), terlalu melindungi (over protection), acuh tak acuh dan menerima apa adanya.
Orang tua/keluarga yang bersikap menolak (rejection) atas kehadiran anak tunarungu di tengah keluarganya dikarenakan mereka merasa malu akan kelainan anaknya, sehingga ia berkecenderungan menyembunyikan anaknya yang tunarungu dan tidak memberi kesempatan untuk bergaul. Sikap demikian justru menambah masalah bagi perkembangan sosial anak tunarungu. Ia menjadi sulit bergaul dengan masyarakat luas, karenanya anak tersebut menjadi rendah diri.
Sikap acuh tak acuh juga merupakan refleksi dari penolakan orang tua terhadap anaknya yang tunarungu. Orang tua beranggapan bahwa kehadiran anak tersebut hanya akan membawa aib keluarga serta menambah beban hidup secara materiial dan moral. Mereka tidak berusaha untuk memenuhi kebuthan jasmani dan perkembangan jiwa anaknya untuk memperoleh perlakuan yang wajar, sehingga ia merasa bahwa dirinya buka anggota keluarga tersebut. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan dan kegoncangan dalam perkembangan kepribadiannya.
Sikap penolakan dari orang tua dapat menyebabkan perasaan pilih kasih. Orang tua lebih mengutamakan anaknya yang mendengar baik dalam pemberian kasih sayang, materi atau sikap-sikap yang lainnya. Perlakuan yang demikian akan menimbulkan rasa iri pada anak tunarungu. Orang tua yang demikian menganggap bahwa anak tunarungu tidak punya kemampuan dan tidak dapat berbuat apa-apa, tidak ada sesuatu yang bisa keluarga atau orang tua harapkan dari masa depan anak tersebut.
Sikap negatif lain adalah terlalu melindungi (over protection), sikap ini timbul karena orang tua beranggapan bahwa kelainan tersebut adalah akibat kesalahan mereka. Untuk menutupi rasa bersalahnya sebagai kompensasi maka orang tua bersikap sangat melindungi, memenuhi segala keinginan, memberikan bantuan secara berlebih. Perlakuan-perlakuan itu cenderung mengarah kepada sikap memanjakan anak yang dapat merugikan perkembangan anak tunarungu itu selanjutnya. Anak akan terbiasa dilayani, dan mempunyai sifat ketergantungan kepada orang lain sehingga ia tidak mendapat kesempatan untuk berusaha sendiri.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa inferiority complex berasal dari tiga sumber yaitu kekurangan dalam organ fisik, anak yang dimanja, dan anak yang ditolak, maka apabila kita gambarkan anak tunarungu dengan kondisi fisiknya yang sedemikian rupa, dapat kita simpulkan bahwa anak tunarungu memiliki perasaan inferioritas yang sangat dalam apalagi jika orang tuanya memperlakukan anak tersebut salah, dalam hal ini memanjakan atau menolaknya.
Meskipun Adler tidak memberikan solusi yang berkaitan langsung dengan masalah inferioritas, tetapi kita dapat mengambil manfaat paling tidak mendapat gambaran bahwa perlakuan atau sikap orang tua yang negatif akan semakin menambah masalah bagi anak tunarungu, bukan menyelesaikan masalah. Dengan demikian kita berupaya mencari cara yang terbaik agar perkembangan anak tunarungu dapat berkembang seoptimal mungkin.
Terlepas dari permasalahan di atas, ada hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunarungu mempunyai kematangan sosial yang kurang dari pada anak-anak yang pendengarannya normal. Tetapi anak tunarungu dari orang tua yang tunarungu ditemukan relatif lebih dewasa sosialnya daripada anak tunarungu yang orang tuanya mempunyai pendengaran yang normal. Kita tidak dapat memberikan pernyataan tentang kondisi di atas, karena kehidupan sekolah dan kondisi masyarakat dapat mempengaruhi kematangan sosial anak tunarungu.
B. Upaya Orang tua dalam Mengembangkan sosialisasi anak tunarungu
Seperti telah disinggung pada awal penulisan bahwa teori Adler banyak diterapkan dalam setting keluarga, sekolah dan masyarakat, dengan berdasar pada bimbingan dan latihan yang intensif terutama kaitannya dengan peningkatan minat sosial.
Apa yang dilakukan anak tunarungu untuk mencapai superioritas tersebut tetaplah membutuhkan bantuan orang lain. Upaya yang dilakukan orang tua (keluarga) maupun sekolah harus berangkat dari kemampuan dasar yang dimiliki anak menuju pengoptimalisasian dan penormalisasian, maksudnya adalah apa yang menjadi kemampuan dia baik itu sisa pendengarannya, penglihatannya, kinestetisnya, taktilnya, harus diman-faatkan.
Pendidikan yang anak dapatkan di rumah akan mewarnai tingkah laku individu di masyarakat, oleh karena itu hendaknya orang tua mampu memberikan pendidikan itu sarat dengan nilai (normatif) artinya harus disesuaikan dengan norma yang berlaku di masyarakat, sehingga ketika anak masuk ke dalam lingkungan masyarakat, ia tidak akan menemukan konflik atau masalah yang berarti.
Sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak tunarungu diharapkan adalah sikap yang positif yaitu sikap menerima anak sebagaimana adanya. Sikap menerima tersebut berarti adanya pengakuan terhadap eksistensi anak tunarungu sebagai mahluk Tuhan dan sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga yang sama sederajat dan berhak memperoleh kasih sayang serta pendidikan yang tepat.
Beberapa konsep dasar yang harus diperhatikan orang tua dalam mengembangkan sosialisasi anak tunarungu, yaitu:
 Orang tua hendaknya menetapkan keyakinan bahwa keadaan anak yang tunarungu bukan kesalahan orang tua dan tidak saling menyalahkan.
 Orang tua hendaknya memandang anaknya sebagai pribadi yang harus dikembangkan bukan sebagai pribadi anggota kelompok cacat yang tidak dapat dikembangkan.
 Penyelesaian masalah anak tunarungu harus melibatkan semua fihak yang terkait, misalnya psikolog, speech therapist, guru, tenaga medis, social worker, dr THT, dan masyarakat dimana anak tunarungu itu berada.
Upaya yang harus dilakukan orang tua adalah:
1. Mengenalkan dengan lingkungan atau membawa anak pada situasi lingkungan yang sebenarnya. Seperti lingkungan benda, alam ataupun lingkungan sosialnya sehingga anak memperoleh pengalaman lahiriah dan batiniah. Pengalaman anak tunarungu pada usia balita, hendaknya banyak diisi dengan kegiatan bermain, apakah bermain sendiri, bersama kakak / adik, pengasuhnya, atau dengan anak-anak lain yang sebaya. Disamping itu harus ada kegiatan rutin, seperti makan, mandi, tidur, atau kegiatan lain yang bersifat insidental seperti ikut bertamu, rekreasi, kegiatan keagamaan, dan sebagainya. Dengan melakukan berbagai ke-giatan ini, anak memperoleh pengalaman lahiriah sekaligus penga-laman batiniah. Pengalaman lahiriah adalah pengalaman dari aktivitas anak tersebut, sedangkan pengalaman batiniah terjadi karena anak selalu mengkomunikasikan setiap kegiatan yang dilakukannya dengan orang lain, sehingga diharapkan pengalaman-pengalaman itu akan berpengaruh terhadap perkembangan yang lainnya seperti aspek sosial emosionalnya, kognitifnya, kreatifitasnya dan fantasinya, serta bahasanya.
2. Melatih anak memahami perasaan orang lain. Orang tua harus mem-berikan pengertian bahwa disamping dirinya masih ada orang lain yang harus diperhatikan, dengan kata lain anak harus peduli pada orang lain. Anak tunarungu akan lebih memahami perasaan orang lain dengan melihat ekspresi wajah orang dihadapannya, contohnya apabila wajah orang itu berseri-seri berati hatinya sedang senang, apabila wajah orang itu merengut artinya sedang kecewa atau sedih dan lain-lain.
3. Melibatkan anak dalam lingkungan keluarga. Kegiatan ini dapat berjalan sesuai dengan keinginan kita apabila ada kesediaan dan penerimaan yang tulus dari anggota keluarga yang lain, misalnya kakak atau adiknya. Perasaan-perasaan seperti malu punya saudara tunarungu atau merasa terabaikan karena orang tua merasa lebih memperhatikan saudaranya yang tunarungu, harus dihilangkan.
4. Memperkaya pengalaman anak dengan melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Begitu banyak kegiatan di luar rumah yang dapat memperkaya pengalaman anak, contohnya melibatkan diri dalam kegiatan membangun mesjid, membersihkan gorong-gorong, dan sebagainya.
5. Berilah anak tunarungu kesempatan bermain seluas mungkin “ bermain adalah aktifitas lajar juga” banyak permainan yang secara tidak langsung membantu anak dalam mengembangkan aspek sosial, kognitif, emosi, pisik dan sebagainya yang tidak mebutuhkan biaya yang lebih besar, seperti bermain petak umpet, congklak dan sebagainya. Biarlah anak tunarungu bermain dengan anak normal agar mereka belajar mengatasi kesulitan bergaul.
Sebenarnya masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan sosialisasi anaktunarungu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formalpun berkewajiban mengembangkan aspek sosial anak tunarungu disamping aspek perkembangan lainnya. Karenanya apabila kita mau konsekuen dengan konsep Adler tentang prinsip diri yang kreatif yaitu individu diberi kebebasan mencari pengalaman baru dalam mencapai superioritas, maka pendidikan atau sekolah yang sesuai untuk anak tunarungu adalah sekolah integrasi bukan yang segregasi.

BAB V
KESIMPULAN
Berbagai pengertian tentang tunarungu yang telah disampaikan maka kami berpendapat bahwa “tunarungu adalah mereka yang kurang atau hilang pendengarannya walaupun telah diberikan ransangan tetapi tetap tidak dapat memahami atau menagkap reaksi yang ada, sehingga menghambat terhadap perkembanganya dan membawa dampak kepada kehidupan yang kompleks dengan demikian perlu layanan bimbingan dan pendidikan khusus.
Secara fisik ATR bila dibanding dengan anak normal tidak terlihat perbedaannya, namun setelah berbicara terlihat kejanggalannya. Dengan demikian karakteristik dapat ditinjau:(1) dari segi inteligensi- secara umum memiliki inteligensi normal atau rata-tara, (2) segi bahasa dan bicara dibandingkan dengan anak normal tertinggal 2 samapi 4 tahun.(3) emosi dan sosial; (a) egosentrisme yang melebihi anak normal (b) mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas (c) ketergantungan tehadap orang lain (d) perhatian yang sukar dialihkan.(e) memiliki sifat polos, sederhana tanpa banyak masalah (f) lebih mudah marah dan cepat tersinggung.
Untuk memahami seseorang dalam bertingkah laku, kita dapat meng-amati dari gaya hidup individu tersebut, meskipun secara umum individu memiliki tujuan hidup (superioritas), didasari inferioritas, tetapi secara khusus timbulnya inferioritas itu disebabkan oleh infirmitas organis (kelemahan organ tubuh, kemanjaan dan diabaikan).
Anak yang mengalami kelainan fisik merasa tidak mampu dalam melaksanakan tugas-tugas hidupnya. Anak-anak yang manja akan gagal menghubungkan minat sosialnya, dan ia berharap masyarakatlah yang akan memenuhi keinginan dirinya. Sedangkan anak yang diabaikan akan merasa bermusuhan dengan masyarakata dan dikuasai rasa dendam.
Anak yang mengalami kelainan dan apa yang ia tampakkan dalam tingkah lakunya (performance) sebagai akibat kecacatannya, semata-mata itu adalah merupakan perwujudan dari apa yang tidak ia miliki.
Minat sosial anak akan dapat diarahkan, maka orang tua dan tenaga pendidik perlu adanya kolaborasi antar satu dengan yang laiinya, terutama dalam proses interaksi sosial, memberdayakan pribadi, mengembangkan kreatifitas, kemandirian dan mengarahkan sosialisasi dalam bentuk komunikasi terhadap lingkungan baik keluarga maupun masyarakat.
Tugas orang tua, dan sekolah serta masyarakat adalah menggiring mereka untuk tidak mengkompensasikan ke hal-hal yang negatif dan mencari upaya lewat keunikannya sebagai mahluk sosial dan membantu mereka dalam mencapai tujuan hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
Bischof, J. Ledford (1970)., Interpreting Personality Theories, (second Edition), New York; Harper International Edition

Hallahan, P. Daniel & Kauffman, M James (1991)., Exceptional Children Introduction to Special Education, New Jersey, Prentice Hall Inc,

James P. Samson dkk (1997); Counseling on the Information Highway: Future Possibilities and Potential Problem. Jurnal of Counseling & Development, Edisi Januari/Pebruari Volume 75
.
Mulyono Abdurahman & Sudjadi, (1994), Pendidikan Luar Bisa Umum. Depdikbud: Jakarta.

Moores, F. Donald (1981), Educating The Deaf, Gallaudet College Boston,.
Robert M. Smith and John T. Neisworth (1975). The Exceptional Child A Functional Approach. Mc.Graw-Hell, Inc: USA

Susan Allan Galis (1995); Inclusion In Elementary Schools, Apeer-reviwed scholarly electronic Journal; Educational Policy Analysis- archives- volume 3 number 15 Desember.

Schultz Duane & Ellen Sidney (1978) Theories of Personality, New York,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: