PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL RETARDASI MENTAL

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL
RETARDASI MENTAL

BAB I
PENDAHULUAN

Kepribadian dan penyesuian sosial merupakan proses yang saling berkaitan. Kepribadian seseorang mencerminkan cara orang tersebut dalam berinteraksi dengan lingkungan. Sebaliknya pengalaman–penga-laman penyesuaian diri sangat besar pengaruhnya terhadap kepribadian. Kita sadar bahwa di dalam kepribadian seseorang tercakup susunan fisik, karakteristik emosi serta karakteristik sosial seseorang. Berkenaan dengan unsur-unsur tersebut maka semua inipun tidak akan bisa lepas dari unsur merespon baik yang datang dari dalam diri seseorang maupun yang datang dari luarnya.
Dalam menjalani kehidupan yang dihadapi oleh seseorang atau orang lain sulit sekali kita memahami dan menyadari pribadi masing-masing, dengan kata lain pribadi setiap orang memiliki keunikan tersendiri, maka jelas bahwa satu dengan yang lain memiliki kepribadian dan sosial berbeda.
Berkaiatan dengan kepribadian dan sosial maka bagaimana halnya dengan kepribadian yang dimiliki Tunagrahita (retardasi mental), apakah ada perbedaan kepribadiannya dengan non-retarded, bagaimana sifat- sifat atau karakteristiknya dan bagaimana emosional dan ganguan behavioral yang dialaminya.
Bagi kita selaku manusia non retarded (normal) diharapkan dapat memahami dan menyadari tentang kepribadian dan sosial dari retardasi mental dan mampu membedakannya dengan orang normal lainnya sesuai dengan karakteristik atau sifat yang telah diketahui yang tampak dari lingkungan yang ada. Kemudian mampu untuk menginformasikan kepada pihak yang belum memahami terhadap perkembangan-perkembangan dari retardasi mental dalam berinteraksi terhadap lingkungan sekitarnya.
Sebagai tenaga pendidik ini merupakan suatu yang amat berharga dan dapat membantu kita demi lancar terlaksananya proses pendidikan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Disamping itu dengan memahami karakteritiknya atau sifat kepribadian dan sosial mereka yang retardet maka dapat membantu kita sebagai tenaga pendidik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan akan mempermudah kita beriteraksi dengan mereka.

BAB II
PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL
RETARDASI MENTAL

Salah satu perbedaan nyata yang umumnya dibuat antara proses psikologis kepribadian dan sosial adalah proses-proses kognitif atau intelektual (seperti berfikir dan memori, emosional, dan motivasi) dengan proses-proses kepribadian (seperti kecemasan dan kasih sayang atau cinta). Retardasi mental terutama ditandai oleh kelainan kognitif, dan sebagian besar eksprimen mental mengenai retardasi pada umumnya menyelidiki proses-proses kognitif.
Namun dalam banyak kasus, efek–efek sekunder pada kepribadian dan emosi individu retardasi jauh lebih serius karena menimbulkan lebih banyak hambatan untuk penyesuaian secara efektif, jika dibandingkan dengan masalah-masalah yang disebabkan oleh keterbelakangan dalam kemampuan-kemampuan kognitif. Demikian juga halnya dengan penelitian-penelitian tentang retardasi mental jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan penelitian tentang keterbelakangan kognitif (Gardner, 1968; Heber, 1964).
Pada dasarnya sudah ada beberapa teori atau teknik-teknik penelitian baru mengenai retardasi mental. Salah satu alasan mengapa sedikit penelitian tentang retardasi mental adalah faktanya yang sederhana, di mana biasanya retardasi dianggap sebagai suatu kelainan kognitif, bukan keterbelakangan kepribadian. Alasan lainnya adalah bahwa seluruh studi tentang kepribadian merupakan suatu lapangan studi yang terpisah antara satu dengan yang lainnya. Teknik-teknik untuk mengukur variabel-variabel seperti atau kekuatan ego relatif tidak dapat dibatasi, dan teknik-teknik penelitian yang paling sering digunakan seperti angket, daftar cek, dan teknik-teknik proyektif pada umumnya hanya sebagian kecil yang dapat digunakan untuk meneliti individu-individu yang mengalami keterbelakangan.
Sehubungan dengan hal tersebut, paling sedikit ada tiga aspek yang perlu dikaji dalam tulisan ini. Pertama, berbagai pemikiran mengapa terjadi perbedaan kepribadian antara individu yang mengalami keterbelakangan mental (retarded) dan individu yang normal (non-retarded). Sebagian dari perbedaan itu adalah yang didasarkan pada fakta bahwa retarded memilki sedikit perbedaan pengalaman sosial jika dibandingkan dengan non-retarded. Dalam kontek inilah penting dipahami psikologi sosial retardasi mental. Kedua, beberapa karakteristik kepribadian yang dimiliki banyak orang retardasi mental; dan sebagai aspek terakhir yang dikaji dalam tulisan ini adalah penelitian tentang prevalensi berbagai jenis emosional dan gangguan-gangguan behavioral yang dialami mereka yang mengalami retardasi mental.
A. Perbedaan Kepribadian
Beberapa alasan mengapa person retardasi mengalami derajat gangguan emosional yang lebih tinggi adalah, karena kepribadian dibentuk oleh banyak faktor genetik seperti predisposisi genetika atau disfungsi ’serebral’ dalam menjalani masa kanak-kanak. Dalam banyak hal, perjalanan hidup person retardasi pada dasarnya sama variasinya dengan pengalaman hidup yang dialami orang pada umumnya, tetapi mereka (retarded) memilki pengalaman-pengalaman tertentu di dalam masyarakat jika dibandingkan dengan mereka yang memilki kemampuan mental yang lebih tinggi.
Lebih jauh lagi, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menghasilkan tipe-tipe tertentu dalam sifat-sifat (traits) kepribadiansebagian besar individu retardasi. Dalam tulisan ini, paling sedikit diidentifikasi tujuh alasan mengapa terjadi perbedaan kepribadian antara person-person mental retarded dan non-retarded.
1. Isolasi dan Penolakan Sosial
Penolakan terhadap mereka yang tergolong retardasi mental oleh teman-teman sebayanya, sebenarnya disebabkan oleh label retardasi, tapi diatributkan pada prilaku menyimpang anak yang menglami retardasi mental. Salah satu penemuan yang konsisten mengapa person retardasi mental ditolak (terisolasi) dari lingkungan sosialnya, adalah hubungan yang positif antara IQ dan penerimaan kelompok sebaya (peer). Dengan kata lain, semakin tinggi IQ anak, semakin tinggi popularitas anak tersebut dalam kelompok sebayanya; dan demikian juga sebaliknya. Sedangkan penolakan sosial biasanya disebabkan ketidakmampuan anak retardasi untuk mempelajari berbagai skill sosial, sehingga mempengaruhi penerimaan dan popularitas sosialnya.
2. Labeling dan Stigma
Masalah isolasi dan penolakan sosial sama buruknya dengan masalah pengalaman di mana seseorang disebut (labeling) sebagai mental retarded. Budaya masyarakat pada umumnya memberi penekanan yang besar pada keadaan normal. Setiap prilaku individu yang agak menyimpang dari prilaku normal sangat menentukan sejauh mana individu itu diterima oleh orang-orang lain. Gejala penyimpangan perilaku semacam inilah yang disebut sebagai stigma (termasuk misalnya, karena warna kulit yang berbeda, sehingga membuatnya kurang diterima dalam kelompoknya jika dibandingkan dengan orang lain).
3. Tekanan Keluarga
Seorang anak yang disayangi dan diterima oleh orang tuanya dan mendapatkan disiplin dan kebebasan yang layak, akan mengalami perkembangan yang baik menuju kedewasaan jika dibandingkan dengan anak yang mengalami penolakan keluarga, terlalu dimanjakan atau terlalu dibatasi /dikekang.
4. Frustasi dan Kegagalan
Sesuai dengan sifat perilaku adaptif anak mental retardasi, ia tidak mampu menyelesaikan banyak tugas yang dituntut masyarakat pada umumnya pada anggota-anggotanya. Tuntutan ini tentu dapat menimbulkan frustasi dan kegagalan pada anak.
5. Disfungsi Cerebral
Peranan disfungsi serebral atau kelainan otak dalam masalah prilaku dan emosional, paling tidak dapat dikatakan tidak jelas, tetapi terdapat banyak sekali bukti bahwa disfungsi serebral ini merupakan salah satu faktor penting pada retardasi mental. Disfungsi serebral itu yang paling sering dapat diamati anak retardasi mental adalah perilaku hiperaktif dan ketidakstabilan emosional.
6. Kurangnya Wawasan (Insight)
Proses kepribadian dan kognitif sering dikonseptualisasikan sebagai kebebasan dari pengaruh orang lain. Meskipun pandangan tersebut tidak benar, namun proses-proses kognitif terlibat dalam akuisisi dan perubahan pola-pola kepribadian dan bahkan reaksi-reaksi emosional.
7. Deprivasi Kultural
Sebagai alasan terakhir mengapa terjadi prevalensi yang lebih besar dan kesulitan emosional pada anak-anak retardasi mental, adalah yang sering ditemukan pada kelompok miskin dan minoritas rasial. Dengan kata lain lingkungan yang bersangkutan konsusif pada terjadinya kesulitan untuk melakukan penyesuaian–penyesuaian. Sehubungan dengan hal tersebut anak-anak retardasi cenderung berasal dari lingkungan keluarga yang pecah, atau dari keluarga di mana ayah berperilaku alkohol dan relatif menyalah gunakan kehadiran anak.

B. Sifat-sifat Kepribadian dan Retardasi Mental
Ada sejumlah sifat kepribadian (personality traits) yang pada umumnya dapat diasumsikan memberi karakter pada person retardasi. Berikut dikemukakan beberapa traits tersebut dan didukung dengan hasil-hasil penelitian dan theorizing khusus mengenai hakekat kepribadian retardasi. Namun, dalam hal ini harus benar-benar disadari bahwa retardasi mental adalah bervariasi, karena itu banyak sekali pengecualian dalam upaya menarik generalisasi-generalisasinya.
1. Harapan Gagal
Dari sekian banyak teori kepribadian yang bersifat umum, salah satu diantaranya adalah disebut sebagai teori belajar sosial (Rotter, 1954). Sesuai dengan namanya, teori belajar sosial ini menekankan pada aspek-aspek kepribadian dan perilaku sosial yang dipelajari. Menurut pandangan Rotter, constructs yang sangat penting dalam hal ini adalah signifikansi berbagai tujuan pada individu dan harapan individu untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua hal ini ditentukan oleh harapan-harapan individual pada masa lampau.
Teori belajar sosial bersifat unik di antara teori-teori kepribadian karena dapat diaplikasikan secara sistemmatik baik pada kelompok retardasi mental maupun pada kelompok orang-orang normal. Selain Rotter, Ceomwell (1963) juga memberikan bukti-bukti yang hampir sama. Perbedaannya adalah, Cromwell menggunakan asumsi bahwa individu-individu retardsasi lebih mudah mencapai kegagalan dari pada mereka yang normal (non-retardasi). Selain Rotter dan Cromwell, penelitian dalam konteks ini juga dilakukan oleh Zeaman dan House, Ziggler, dll. Ziggler (1973) bahkan menegaskan bahwa selain implikasi harapan gagal dari person retardasi, tapi juga terjadi reliansi yang lebih tinggi pada orang lain dari pada terhadap proses berfikirnya sendiri.
2. Lokus Eksternal Kontrol dan Helplessness
Postulat lainnya tentang teori belajar sosial, juga yang berkaitan dengan berbagai harapan gagal retardasi mental, adalah bahwa orang-orang yang mengalami retardasi memilki lokus eksternal kontrol. Lokus kontrol ini menunjuk pada persepsi-persepsi individual terhadap apa yang menentukan apa yang terjadi pada dirinya; individu-individu dengan lokus internal kontrol memandang bahwa apa yang terjadi pada dirinya pada umumnya ditentukan oleh aksi-aksinya sendiri, sedangkan individu-individu dengan lokus eksternal merasakan bahwa dirinya memilki sedikit kontrol terhadap kehidupan nya sendiri dan peristiwa-peristiwa ditentukan oleh perubahan dan aksi-aksi orang lain. Penelitian mengenai lokus eksternal tersebut telah dikembangkan oleh Bialer (1965) dan Rosen (1975). Bialer mengembangkan angket untuk mengukur kontrol pada anak dan mereka yang mengalami retardasi, sedangkan Rosen mengembangkan teknik-teknik pengukuran ’helplessness’ pada individu-individu retardasi.
3. Kebutuhan Interaksi Sosial yang Semakin Tinggi
Karya Ziggler (1966, 1973) berdampak kepada pemikiran baru mengenai kepribadian retardasi mental dari pada individu lain. Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya tentang retardasi mental, sebelumnya Ziggler menyebut teorinya sebagai teori perkembanga retardasi. Semula ia mengakui bahwa banyak studi menemukan perbedaan-perbedaan performan antara anak-anak normal dan retardasi sesuai dengan MA, tapi ia mengecam mereka yang memberikan atribut seluruhnya untuk perbedaan-perbedaan dalam kognisi.
Sehubungan dengan hal tersebut, Ziggler menyarankan agar diberi perhatian yang baik pada rendahnya performan subjek-subjek retardasi dalam mempelajari tugas-tugas yang erat kaitannya dengan faktor-faktor motivasi. Untuk itu, ia menggunakan postulat bahwa banyak orang dewasa dan anak retardasi, khususnya yang berada dalam lembaga-lembaga, telah mengalami penolakan sosial, dan akaibtnya mereka (lembaga-lembaga tersebut) lebih tertarik untuk menyenangkan orang-orang dewasa dengan mempertahankan kontak sosial dengan orang-orang selain anak-anak normal yang lebih termotivasi untuk memecahkan permasalahan.
Ziggler lebih jauh membagi pelembagaan retardasi mental menjadi dua bagian: mereka yang mengalami sebelumnya deprivasi sosial yang berat dan mereka yang sebelumnya relatif sedikit deprivasi sosial. Selain itu postulat Ziggler juga dikaitkan dengan perbedaan-perbedaan reinforcement.
4. Defective Ego Functioning
Sementara teori psikoanalitik Sigmund Freud kini dipandang relatif tertinggal, tapi kenyataannya tetap sulit untuk menilai secara berlebihan pentingnya teori tersebut dalam historis perkembangan pandangan-pandangan modern mengenai kepribadian dan psikologi. Akibatnya, tidak ada referensi mengenai retardasi mental yang komprehensif tanpa konsiderasi tentang bagaimana para pemikir oreantasi pandangan Freudian mengenai retardasi.
Beberapa di antara peneliti memberikan konsiderasi yang layak pada retardasi mental dalam kerangka psikoanalitik ialah Pearson (1942), Robinson & Robinson (1965), dan Sternlicht & Deutsch (1972). Sebagaimana diketahui bahwa Freud membagi pikiran (mind) menjadi tiga bagian: id (tempat impuls, insight dan drive), ego (realitas dan pembawaan impuls dari id ke dalam harmoni sesuai dengan tuntutan realitas tersebut); dan super ego (isu-isu moral dan secara kasar sinonim dengan conscience). Retardasi mental menurut pandangan Freud terutama disebabkan terjadinya kelainan pada ego dalam mind individu yang bersangkutan.
5. ‘Passing’ dan ‘ Denial’
Dalam the Cloak of Competence (Edgerton, 1967) dijelaskan secara gamblang mengenai orang-orang retardasi yang telah dibebaskan dari institusi publik untuk menentukan penyesuaian mereka pada kehidupan yang bebas (independen living). Sebenarnya judul karya tersebut didasarkan pada hasil-hasil observasi pada isu sentral dari setiap orang yang berusaha untuk berpura-pura normal, kompoten, sama seperti setiap orang lain. Proses berpura-pura normal (tidak terbelakang) yang disebut sebagai passing, dan perilaku ini agaknya khas bagi banyak orang terbelakang (handicap). Misalnya orang yang kurang mendengar menjadi berpura-pura mengantuk atau pura–pura mengalihkan perhatian bila sedang mendengarkan pembicaraan orang lain. Sikap tersebut biasanya terkait dengan sikap penyangkalan terhadap kelainan fisik dan/atau mental, dan berusaha menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya benar-benar normal. Sikap semacam inilah yang disebut sebagai denial, di mana individu cenderung berpura-pura sempurna.

C. Psikopatologi dan Retardasi Mental

Istlah-istilah psikopatologi, gangguan psikiatris, sakit jiwa, gangguan emosional, dan sejenisnya pada umumnya digunakan sembarangan untuk menyatakan kelainan kepribadian, emosi dan perilaku yang secara signifikan mempengaruhi penyesuaian individu pada lingkungannya. Upaya-upaya klasifikasi yang telah dilakukan untuk menyatakan kelainan tersebut, di antranya adalah neurosis, skizoprenia, psikosis, dan lain-lain. Tetapi para ahli cacat mental umumnya sepakat agar tidak menggunakan secara reliabel istilah-istilah tersebut. Salah satu kategori perilaku yang cukup digunakan sebagai karakteristik retardasi yang lebih akut adalah ’stereotyped behavior’. Kategori ini biasanya digunakan bagi mereka yang mengalami pengulangan perilaku-perilaku yang tujuannya tidak jelas, misalnya selalu melakukan jungkir–balik, pegang jari tangan persis di depan mata, dan sebagainya.

BAB III
KESIMPULAN

Melihat dan memahami akan kondisi karakteristik mental, nampak jelas retardasi mental kurang memiliki kemampuan berfikir, keseimbangan pribadi kurang stabil atau konstan, kadang-kadang stabil kadang-kadang kacau. Kondisi yang demikian dapat dilihat pada penampilan tingkah lakunya sehari-hari. Jadi perbedaannya yang jelas dalam proses psikologis kepribadian dan sosialnya adalah proses kognitif atau intelektual dengan proses kepribadian hal ini akan berbeda dengan mereka yang non retardasi.
1. Pribadi retardasi mengalami gangguan emosional yang lebih tinggi karena di pengaruhi oleh faktor genetik.
2. Perbedaan kepribadian dapat juga disebabkan oleh pengalaman hidup –yang ada pada diri seseorang.
3. Isolasi dan penolakan sosial, labeling tekanan keluarga, frustasi, kegagalan, kelainan otak, insight dan deprivasi kultural dapat mempengaruhi kepribadian dan sosial retardasi.
4. Sifat-sifat kepribadian dari retardasi mental dibandingkan dengan mereka yang normal, retardasi lebih mudah mencapai kegagalan, dan memiliki reliansi tinggi kepada orang lain dari reliansi terhadap berpikirnya sendiri.
5. Penggunaan istilah-istlah yang tidak tepat/ sembarang terhadap kelaianan kepribadian, emosi dan prilaku akan mempengaruhi terhadap penyesuaian diri individu terhadap lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: