REPRESENTASI SPATIAL PENYANDANG TUNANETRA: STUDI TENTANG PENGARUH BELAJAR DAN PERKEMBANGAN

REPRESENTASI SPATIAL PENYANDANG TUNANETRA:
STUDI TENTANG PENGARUH BELAJAR DAN PERKEMBANGAN

Abstrak

Anak-anak dan orang dewasa yang buta sejak lahir dan yang buta diperoleh kemudian (adventitiously) dapat dibagi dalam empat kelompok umur dan mereka diperkenalkan pada dua lingkungan (besar dan kecil) yang berbeda yang belum dikenal, yang dilakukan dalam empat kali uji coba. Representasi spatial diukur dengan konstruksi model dan perkiraan jarak yang dibuat subyek. Ternyata usia merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan representasi sapatial dibandingkan dengan faktor belajar.

Penelitian tentang pengetahuan spatial dan orientasi & mobilitas pada tunanetra merupakan salah satu bidang penelitian penting dalam psikologi tunanetra. Hal ini bukan hanya memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari anak tunanetra saja, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengetahuan psikologi kognitif kontemporer.

Tinjauan Pustaka

Ada beberapa peneliti yang meneliti tentang perolehan kemampuan spatial dan motorik pada tahun pertama kebutuhan anak. Perkembangan motorik pada bulan-bulan awal usia bayi antara bayi yang buta dengan bayi yang normal ternyata tidak jauh berbeda. Namun ada beberapa penelitian yang menunjukkan adanya masalah perkembangan kontrol posisi tubuh dan rotasi yang dialami oleh bayi yang buta. Dalam perkembangan motorik berikutnya, perbedaan menjadi semakin terlihat, dimana kemampuan bayi yang buta untuk merangkak dan berjalan juga menjadi terlambat.
Keterlambatan tersebut disebabkan karena anak tidak tahu benda-benda apa yang dapat digapainya, sehingga mereka tidak bergerak secara mandiri. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa bayi yang tunanetra menggapai-gapai benda setelah mereka usia 10 bulan sedangkan pada anak normal saat usia 5 bulan.
Penelitian tentang perkembangan kognitif spatial pada anak-anak pra-sekolah masih sangat sedikit jumlahnya. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa anak tunanetra usia prasekolah mungkin mengalami kesulitan untuk mendapatkan gambaran tubuh, memahami konsep spatial, dan belajar tentang lingkungan, karena pengalaman mereka dengan lingkungan sangat terbatas.
Tingkat pemahaman keruangan juga merupakan faktor penting dalam pengetahuan spatial dan representasi. Melalui proses belajar lingkungan spatial yang baru, baik anak tunanetra maupun anak normal tampaknya melalui tahapan perkembangan yang sama, yaitu egosentrik, fixed (tetap), dan terkoordinasi (Moore, 1973). Kecepatan dari anak untuk melalui tahapan-tahapan terdsebut tergantung pada usia dan kompetensi kognitif anak.
Dalam kaitan dengan proses belajar,Waren (1987) melakukan eksperimen dengan membuat tiga kondisi belajar dengan menggunakan alat bantu yang berbeda, yaitu: alat ultrasonik, tanda audiotory yang disimpan di suatu tempat tertentu, dan teknik mobilitas yang biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui proses belajar, anak-anak dalam dua kondisi yang terakhir mampu mengubah organisasi spatialnya sehingga dapat berkembang dari organisasi egosentrik yang primitif menjadi gerakan yang lebih terkoordinasi.

Tujuan
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang lebih luas yang tujuannya adalah untuk mempelajari pengaruh gabungan dari empat faktor, yaitu: tingkat perkembangan subyek, pengetahuan tentang lingkungan, pengalaman visual sebelum mereka tunanetra, dan ukuran ruangan yang harus mereka kenali. Hasil yang disajikan dalam tulisan ini lebih pada perkembangan dan belajar dan kurang memberikan perhatian pada pengalaman visual yang pernah dimilki dan ukuran ruangan.

Metode
Subyek
Subyek penelitian ini adalah 40 orang anak laki-laki dan anak perempuan yang dibagi dalam empat kelompok sesuai dengan umurnya sehingga masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Rata-rata usia dari kelompok level I adalah 9 tahun 3 bulan; level II usia rata-ratanya 10 atau 11 bulan; level III usia rata-ratanya 14 tahun 0 bulan; dan level IV usia rata-ratanya 17 tahun 3 bulan. Tidak seorangpun anak yang mempunyai sisa penglihatan yang masih dapat digunakan. Dalam tiap-tiap kelompok ada 5 orang yang buta sejak lahir dan 5 orang yang buta sebelum mereka masuk sekolah (sebelum usia 7 tahun).

Prosedur
Subyek diharuskan mempelajari suatu rute yang terbentuk dari tujuh unsur atau tanda dalam empat sesi yang dilakukan setiap hari. Setengah dari sampel melakukannya di ruangan yang kecil di lapangan sekolah, sedangkan setengahnya lagi melakukannya di tempat yang lebih besar di tempat umum. Kedua tempat tersebut secara struktur identik dan tidak ada perbedaan antara keduanya.

Dalam tes pertama, peneliti membimbing subyek melalui seluruh rute. Dalam segi berikutnya, peneliti menemani subyek melalui rute tersebut agar subyek percaya diri, tetapi subyeklah yang membimbing peneliti. Bantuan hanya diberikan apabila subyek memang benar-benar mengalami kesulitan untuk mencapai salah satu dari tujuh tujuan yang diharapkan. Tingkat bantuan ini diberi nilai sebagai berikut:
Bantuan 1. Apabila subyek tidak dapat mengantispasi tujuan berikutnya, dan peneliti memberitahu mereka.
Bantuan 2. Subyek tersesat, tidak bisa menemukan tanda, atau tidak mengikuti rute yang ada, maka peneliti dan subyek kembali ke tempat sebelumnya dan kemudian peneliti membantu subyek untuk menemukan arah ke tempat yang dituju.
Bantuan 3. Apabila dengan bantuan jenis ke-2 subyek tetap tidak dapat menemuikan tujuan, maka subyek dan peneliti kembali ke tempat sebelumnya dan baru kemudian menuju tujuan berikutnya.
Bantuan 4. Apabila setelah diberi bantuan 2 dan 3 subyek tetap tidak dapat menemukan tujuan, maka peneliti membimbing subyek ke titik pertama dari rute dan kemudian berjalan ke seluruh rute lagi.
Bantuan 5. Apabila bantuan 4 ternyata juga belum cukup, maka peneliti mengajarkan kepada subyek tentang rute tersebut selangkah demi selangkah dengan pengajaran yang intensif.
Di akhir tiap sesi, pengetahuan subyek dan representasi spatial mereka diukur dengan dua teknik eksternalisasi, yaitu teknik kartografi (kontruksi model dengan skala) dan prosedur verbal yang di dalamnya mencakup perkiraan tentang jarak. Kapasitas belajar subyek diukur berdasarkan peningkatan subyek dalam representasi spatial yang diamati sejak ekprimen pertama hingga ekperimen tetrakhir.

Teknik
Pertama, subyek harus menunjukkan representasinya tentang rute yang mereka tempuh dalam suatu model. Mereka harus mendapatkan reproduksinya tersebut pada suatu permukaan datar (papan) sesuai dengan rute yang mereka tempuh. Selanjutnya ada tiga penilai yang menilai model yang dibuat subyek tersenut dengan menggunakan metode dan tahapan yang disarankan oleh Hart dan Moore (1973) dan Hart (1979), yaitu: sebuah kategorisasi tentang tahapan-tahapan perkembangan sistem referensi dan analisis organisasi spatial terhadap model. Ternyata para peneliti tersebut mencapai korelasi 0,80.
Estimasi (perkiraan) tentang jarak dilakukan dengan menggunakan prosedur yang dikemukakan oleh Lockman, Rieser, dan Pick (1981). Para subyek mengestimasikan jarak antar tanda (tempat) dalam rute dengan menggunakan tiga tempat sekaligus, sehingga dapat ditentukan mana tempat yang lebih jauh, lebih dekat, atau sedang tanpa harus menyatakannya dengan ukuran. Selanjutnya dari data tersebut diolah dengan menggunakan metode Trisoscol untuk menentukan peng-skalaan multidimensional.

Hasil
Ternyata tidak ada perbedaan antara anak yang tunanetra sejak lahir dan anak yang tunanetra kemudian dalam keberhasilan mereka terhadap prosedur ekternalisasi (dengan menggunakan tes Kolmogorov Smirnov). Ukuran ruang ternyata merupakan faktor penting dalam representasi yang dilakukan subyek. Selain itu ternyata juga tidak ada perbedaan performan subyek baik dalam lingkungan kecil maupun dalam lingkungan besar.
Namun demikian ternyata aspek perkembangan berpengaruh terhadap kemampuan representasi subyek (lihat tabel 1 dan tabel 2). Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tabel 1 dan tabel 2, ternyata ada peningkatan dalam skor rata-rata untuk kelompok umur yang berbeda. Subyek yang lebih dewasa (level 3dan 4 ) ternyata membuat representsi yang lebih akurat dibandingkan dengan subyek yang lebih muda (level 1 dan 2). Subyek yang lebih dewasa ternyata mampu membuat model yang lebih akurat dan juga perkiraan jarak yang lebih tepat. Ternyata bahwa anak tunaetra akan mengalami peningkatan kemampuan representasinya pada usia 14 tahun.
Penelitian ini juga menemukan ada perbedaan antara subyek yang lebih muda pada level 3 dan 4. Karena itu tampaknya sebelum anak benar-benar memasuki masa remaja anak tunanetra belum mempunyai kemampuan logika formal atau belum sepenuhnya berkembang kemampuannya untuk menyatakan rute yang telah mereka pelajari.
Data yang diperoleh juga menunjukkan bahwa tingkat representasi subyek antara sesi pertama dan sesi keempat juga berubah. Menurut sistem referensi perkembangan, perubahan menunjukkan bahwa subyek rata-rata mendapatkan setengah tahapan. Selain beberapa temuan di atas, data yang diperoleh juga menunjukkan bahwa kondisi belajar tidak dapat menghilangkan faktor perbedaan usia

Diskusi dan Kesimpulan.
Pertama, sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa tidak ada perbedaan antara anak yang buta sejak lahir dan yang buta kemudian, yang ternyata serupa dengan temuan Bradfield (1988) dan Hudson (1984). Pengalaman visual yang pernah dimiliki subyek hanya dapat membantu representasi spatial subyek dalam lingkungan yang kompleks dan konfigurasional. Jika rutenya sederhana, maka pengalaman visual tidak akan banyak membantu.
Kedua, temuan penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas ruanganlah (bukan ukuran ruangan) yang menentukan tingkat representasi subyek.
Dalam tahapan perkembangan representasi spatial orang buta, pada usia 14 tahun tampaknya merupakan penentu dalam perkembangan pengetahuan spatial subyek. Sedangkan pada usia 17 tahun anak buta telah benar-benar berkembang kemampuan representasi spatialnya.
Ditemukan bahwa orang buta dapat mengorganisasikan ruangan sederhana yang diketahuinya secara abstrak dan setara dengan kemampuan orang yang normal. Temuan data ini tampaknya tidak sejalan dengan data yang ditemukan oleh Foulke (1982) dan Slator (1982) yang menyatakan bahwa pengalaman orang buta berpengaruh sangat besar dan sering kali menimbulkan kesulitan untuk membuat konfigurasi yang konprehensif tentang ruang. Tampaknya kompleksitaslah yang menyebabkan timbulnya perbedaan temuan tersebut.
Dalam perkembangan representasi spatialnya ternyata anak-anak buta relatif sama dengan anak-anak yang normal dalam meniti tahapan-tahapan perkembangannya. Hanya saja anak-anak buta perkembangannya untuk mencapai perkembangan selanjutnya mengalami keterlambatan bila dibandingkan dengan anak normal, terutama untuk anak-anak usia dini.
Dalam proses belajar representasi spatial, dapat disimpulkan bahwa anak buta yang lebih mengenal lingkungannya cenderung memiliki organisasi dan struktur memori yang lebih baik tentang lingkungan tersebut. Di samping itu usia (age) juga turut mengkondisikan potensi untuk belajar dan untuk mempresentasikan lingkungan. Dengan kata lain, kemampuan microgenetic dibatasi oleh tingkat perkembangan ontogenetik.(Lihat Moore, 1973).
Kita tidak dapat menolak pengaruh proses belajar terhadap pengetahuan spatial dan representasi pada orang tunanetra. Oleh karena itu orang buta dan orang normal dapat segera meningkatkan kemampuannya untuk menstruktur lingkungan dengan prosedur belajar yang sederhana saja. Namun demikian hasil penelitian ini masih perlu untuk ditindaklanjuti.
Dalam perkembangan representasi spatial ternyata sangat bersesuaian dengan hasil-hasil penelitian perkembangan kognitif, dimana perkembangan kognitif anak buta pada awal masa remaja (usia 11-14 tahun) memperlihatkan peningkatan yang cukup mencolok dalam kemampuan kognitifnya.
Ditemukan pula bahwwa perkembangan mental anak buta mempunyai pengaruh pada kemampuan kognitifnya. Pada remaja tunanetra, penalaran verbal yang berkaitan dengan fungsi kognitif dapat meremediasi beberapa permasalahan yang disebabkan oleh kurangnya penglihatan.

Analisis Hasil Penelitian Dari Kelompok Penyaji
Dalam hal latar belakang masalah, pihak peneliti, kurang mengungkapkan masalah secara mendasar tentang perlunya penelitian dilakukan. Peneliti hanya mengungkapkan bahwa penelitian yang dilakukan sangat bermanfaat tidak hanya bagi anak tunanetra melainkan juga bagi perkembangan psikologi kognitif kontemporer. Sedangkan manfaat bagi anak tunanetra kurang dijelaskan secara detail tentang perlunya penelitian dilakukan. Pada hal latar belakang masalah merupakan titik tolak kemana penelitian akan diarahkan.
Dalam tinjauan pustaka, peneliti hanya mengungkapkan tiga point dasar yang menjadi pusat kajiannya, yakni yang berkaitan dengan perkembangan motorik dan perkembangan kognitif tunanetra, serta peranan proses belajar dalam mereprentasikan kemampuan spatialnya.
Sedangkan dalam hal tujuan penelitian, tampaknya peneliti kurang dapat mengungkapkan tujuan dan manfaat penelitian secara jelas. Peneliti hanya memfokuskan bahwa tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pengaruh gabungan dari empat faktor yaitu: tingkat perkembangan subyek, pengetahuan tentang lingkungan, pengalaman visual, dan ukuran keruangan. Yang menjadi tanda tanya penulis adalah mengapa 2 faktor terakhir (pengalaman visual dan ukuran keruangan) sebagai faktor yang diabaikan oleh penelitinya? Padahal sebagai penelitian yang komprehensif kedua faktor tersebut patut untuk dikutsertakan dalam eksperimen penelitian. Sehingga hasil peneltian tersebut bisa benar-benar konprehensif dan bermanfaat bagi dunia pendidikan luar biasa.
Dalam hal metode, peneliti hanya mengungkapkan tentang subyek penelitian, sedangkan dalam teknik pengambilan data dan teknik analisis data tidak disebutkan secara eksplisit. Padahal sebagai hasil penelitian yang dituangkan dalam jurnal setidak-tidaknya kedua hal tersebut layak untuk disajikan. Kemudian yang patut dipertanyakan lagi adalah mengapa subyek yang dipilih dari kelompok usia 9 –17 tahun? Kenapa tidak dari usia 7-14 tahun, yang merupakan babak awal anak masuk sekolah. Andaikan saja yang diteliti dari usia 7 tahun mungkin saja hasil penelitian tersebut akan berbeda.
Dalam hal prosedur penelitian, peneliti tampaknya kurang memberikan penjelasan yang konprehensif. Ada empat sesi yang harus dilakukan oleh subyek dalam mempelajari suatu rute yang terbentuk dalam tujuh unsur. Hanya saja keempat sesi tersebut hanya dijelaskan sesi yang pertama saja. Padahal sebagai laporan jurnal paling tidak ketiga sesi yang lain perlu untuk dijelaskan agar pembaca mampu untuk mencernanya secara mendalam.

Tanggapan Hasil Penelitian secara Umum
Mengingat penelitian ini dilakukan di Barcelona dan Madrid (Spanyol) maka hasil-hasil penelitian ini tidak dapat begitu saja digenerelasikan secara umum. Apalagi penelitian yang dilakukan bersifat studi kasus, maka hasil-hasil penelitian hanya sesuai untuk kelompok yang menjadi subyek penelitian. Misalnya saja terhadap hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Anak buta sejak lahir dan Anak buta yang diperoleh kemudian dalam keberhasilan mereka terhadap prosedur eksternalisasi. Maka hasil penelitian ini tampaknya masih perlu dipertanyakan lebih lanjut. Apakah benar demikian? Padahal secara logika empiris anak buta yang diperoleh kemudian memiliki sejumlah pengalaman (visual) lebih bila dibandingkan dengan anak buta bawaan. Untuk memantapkan hasil penelitian ini barangkali perlu adanya penelitian lanjut pada sekelompok sampel yang berbeda dalam waktu dan tempat yang berbeda pula.
Dalam temuan lain juga dikemukakan bahwa usia merupakan faktor yang sangat penting dalam perekembangan representasi spatial, dan menganggap faktor belajar kurang berperan dalam perkembangan representasi spatial. Temuan ini nampaknya juga masih dipertanyakan lebih lanjut. Pada hal secara logika empiris menunjukkan bahwa faktor belajar sangat berperan selain faktor usia dalam hal kemampuan reperesentasi spatial. Misalnya saja, meski usianya telah matang tetapi dengan tanpa adanya pengalaman belajar apakah bisa berkembang? Untuk membuktikan temuan penelitian di atas perlu adanya penelitian lagi yang sifatnya ingin memantapkan dan membuktikan berbagai temuan yang telah dihasilkan oleh peneliti sebelumnya. Apalagi sebagai ilmuwan, kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dikerjakan orang lain. Kita tentu diharapkan untuk berpikiran kritis, tuntas dengan tanpa mengabaikan kaidah-kaidah ilmiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: