WAWANCARA BUDAYA BATAK YANG TINGGAL DI KULTUR MINANG KABAU

LAPORAN WAWANCARA
TUGAS KULIAH: KONSELING LINTAS BUDAYA
Disajikan oleh: JON EFENDI
Hari/tanggal Wawancara: Kamis/6-5-2010
Waktu: 20.00 s/d 21.00
Responden: Bpk Tanda Hutasoit dan Ibu Boru Siahaan (62 Tahun)
Suku: Batak, Sumatera Utara
Agama: Kristen Protestan
Alamat: Jl. Punggai Kurao, Perumdam III No. 6 Siteba Kec. Nanggalo Padang
No. Aspek Pertanyaan Jawaban Responden Keterangan
1. Merantau 1. Sejak kapan bpk mulai merantau?
2. Kenapa bapak pilih Padang? Saya merantau sejak tahun 1973 karena sya masuk PNS
Karena saya ingin masuk PNS, kebetulan yang ada lowongan hanya utk wilayah Sumbar
Saya ditempatkan di Solok pada tahun 1973,
Kemudian dipindahkan ke Kab. Pasaman tahun 1976 s/d 1983.
Tahun 1983 sampai pensiun di tempatkan di Padang.
2. Perbedaan Bahasa 3. Apa yang bapak rasakan tentang perbedaan bahasa? Awalnya tidak mengerti karena bahasa Batak dan bahasa Minang sangat jauh perbedaannya, namun setelah saya dengar dan pelajari ternyata bahasa Minang itu lebih banyak persamaan dengan bahasa Indonesia. Akhirnya saya banyak belajar bahasa minang dengan teman sekantor.
3. Perbedaan Budaya 4. Bagaimana halnya dengan sebutan nama bagi orang Batak?
Untuk sebutan nama bagi orang batak; ketika ia masih kecil untuk laki-laki dipanggil Ucok dan untuk perempuan di panggil Butet, ketika itu mereka belum diri nama hanya sebagai sebutan saja.
Selanjutnya anak-anak bagi orang batak akan diBabtis di Gereja, nah digereja anak tersebut diberi nama dan diikuti dengan Marganya yang sama dengan marga bapaknya.
Misalnya nama babtis saya Tanda Hutasoit.
Ketika seorang remaja batak telah menikah maka yang jadi panggilannya hanya disebut marga saja, seperti saya dipanggil Hutasoit. Sedangkan bagi perempuan disebut dengan Boru, misalnya Boru Siahaan.
Ketika sudah punya anak maka sebutannya disebut Bapak/mamak yang diiringi dengan nama anaknya. Misal; Bapak/mamak si Batara
Selanjutnya jika mereka punya cucu dari anak laki-laki sebutanya berganti dengan Opu, dan jika cucunya dari anak perempuan disebut dengan Ounisi. Misal; Opu si Bonar untuk cucu dari anak laki-laki. Opunisi Tiur jika cucu dari anak perempuan.
4. Silsilah 5. sejak kapan pembelajaran Silsilah diajarkan pada anak? Bagi orang Batak, orang tua selalu menjelaskan pada anaknya tentang keturunan dan silsilah keluarga.
Bagi keturunan Batak menggunakan nomor pada silsilah.
5. Warisan 6. Bagaimana halnya tentang waris Bu? Warisan dibagikan pada semua anak, namun pada umumnya lebih banyak anak laki-laki yang mendapatkan waris dari pada anak perempuan. Terutama bagi anak laki-laki yang bungsu.
Tentang harta selalu dijelaskan pada anak-anaknya, terutama kepada anak laki-laki, secara adat anak laki-laki lebih banyak mendapatkan harata warisan.
6. 7. Garis-garis keturunan dan berbagai sebutan kepada saudara bagaimana Bu? Jika anak dari saudara laki-laki maka sebutan untuk saudara laki-laki dari bapak adalah Tulang.
Sedangkan untuk saudara perempuan dari bapak adalah Namboru.
Kakak laki-laki dari bapak disebut Bapak Tua
Adik laki-laki dari Bapak disebut Bapak Uda Untuk sebutan Bapak Tua dan Bapak Uda digunakan oleh anak yang ada hubungan tali darah secara langsung.
8. Apa yang dimaksud Nomor dalam keturunan Batak? Sebutan nomor bagi orang batak adalah menandakan gernerasi dalam keturunan.
Sebutan nomor ini selalu dijelaskan kepada anak oleh keluarga, terutama dari pihak bapak.
Misal; saya adalah nomor 16 dari keturunan Hutasoit.
Maka anak saya nomor 17
Cucu saya nomor 18 dan anak dari cucu saya nomor 19
Penggunaan nomor selalu dijelaskan kepada keturunan kami.
Sistim penomoran itu berlanjut terus sampai hri akhir, entah kapan berakhirnya.
Setiap marga bagi orang batak selalu memakai nomor bagi keturunannya.
Misal dalam marga serumpun; Toga Sihombing terdiri dari pecahan marga (Silaban, Lumbantoruan, Nababan, Hutasoit) Mereka semua meiliki nomor pada keturunannya. Bagi orang minang tidak mengenal sistem penomoran.
9. Bagaimana dengan harta pusaka Pak? Harta pusaka bagi orang batak tidak ada
Hanya untuk menjelaskan bagaimana silsilah keturunannya, orang Batak maka dibagunlah Tugu.
10. Apa makna dari Tugu itu Pak? Tugu adalah sebagai peringatan bagi keturunan dalam marga kami.
Tugu itu adalah suatu peringatan yang isinya kerangka (tulang belulang dari nenek moyang dalam satu marga) adalah untuk satu keturunan.
Ditugu itu terdapat nama-nama dari nenek moyang orang Batak dalam satu marga.
Namun tugu juga dapat dijadikan sebagai bukti bagi anak keturunan kami.
Setiap marga Batak mempunyai atau membangun tugu sendiri. Tugu sebagai peringatan dalam satu keturunan.
11. Bagaimana halnya pembinaan budaya bagi orang Batak yang merantau? Untuk ini dapat berlangsung saat adanya pesta-pesta, semua saudara se marga dipanggil.
Makanya orang batak diperantauan selalu ada perkumpulan dan berlangsung dalam bentuk arisan keluarga. Tetap diajarkan dalam keluarga
7. Perkawinan 12. Bagaimana halnya jika kawin satu marga, walaupun itu sudah berjauhan tempat tinggal? Bagi orang Batak itu tidak boleh, karena dianggap masih sedarah.
Jika itu terjadi maka sipelaku akan dibuang dari adat, dan juga dikeluarkan dari gereja.
Hal ini bagi orang Batak adalah malu yang sangat tidak terhapuskan.
Begitujuga jika berzina dan ketahuan, mereka dikeluarkan dari adat dan gereja.
Alasan kenapa tidak boleh perkawinan tersebut karena terkait dengan sebutan Hula-hula. Jika orang batak semarga itu disebut mereka sedarah atau bersaudara langsung.
Perkawinan semarga berguna untuk menjaga nama keturunan.
13. Apa Maksud dari Hula-hula Pak? Hula-hula adalah sebutan tertinggi semacam mertua bagi kami.
Jika terjadi perkawinan sedarah, nanti keturunannya menggunakan sebutan apa kepada kakek dan saudara semarga lainnya…? Posisi sebutan Hula-hula sangat dihormati dalam budaya batak
8. Ulos 14. Bagaimana halnya dengan Ulos, untuk apa ulos itu, apa juga ada makna? Ulos adalah selimut.
Namun ulos itu disesuaikan dengan tujuannya dan kepentingannya.
Ulos itu diberikan dalam rangka penghargaan.
Yang bisa memberikan ulos adalah Hula-hula.
Ulos juga dimaknai sebagai penghargaan yang terkait dengan makna dan nilai- historis bagi yang memberikan.
Pemberian ulos dilengkapi dengan kain sarung.
Untuk memakai ulos juga harus disesuaikan dengankepentingannya yang berguna untuk mengingat bagi sipemberi ulos tersebut.
Posisi Hula-hula dalam budaya batak sangat terhormat. Hula-hula adalah saudara laki/perempuan dari pihak mertua.
15. Panggilan Lae Panggilan Lae hanya digunakan untuk laki-laki satu marga. Bisa juga digunakan jika belum tahu marga lawan bicara.
9. Poligami 16. Bagaimana halnya dengan perkawinan Poligami, apakah ada dalam budaya batak? Orang Batak tidak boleh kawin berulang, karena bagi orang batak tidak ada istilah bercerai, dan ini sejalan dengan ajaran agama kristen, kecuali bercerai karena kematian.
Bagi janda mereka akan tetap hidup bersama keluarga almarhum suaminya.
Bila janda akan menikah hanya dibolehkan dengan dengan laki-laki semarga dengan bekas suaminya, makanya ada istilah kawin tikar.
Tapi untuk itu juga ada cara pengaturannya, sangat rumit jika kita jelaskan disini.
Bagi orang Batak yang melanggarnya maka dia akan dikucilkan dari adat dan keturunannya. Bagi orang batak akan mudah diketahui, dan dibicarakan di adat dan di gereja, sehingga pelakunya dikeluarkan dari adat dan gereja.
17. Bagaimana dengan menantu Perempuan, akan ikut keluarga suami? Istri bagi orang batak ikut bersama keluarga suami.
Jika istri yang meninggal maka suami boleh kawin lagi.
18. Berarti orang Batak tidak ada istilah anak tiri? Biasanya jarang, tapi ada juga yang dilakukan mereka menikah sama-sama dalam keadaan janda dan masing-masing sudah punya anak.
Bila seorang janda ingin kawin lagi dia harus minta izin pada pihak keluarga mantan suaminya, dan biasanya hanya diperbolehkan jika itu masih semarga dengan mantan suami yang sudah meninggal.


KESIMPULAN TERHADAP HASIL WAWANCARA
Awal pertama bapak Tanda Hutasoit merantau ke Padang ia memiliki madalah dengan bahasa daerah yaitu bahasa Padang, tapi melalui belajar dengan teman maka ia bisa lebih cepat menyesuaikan diri dan berani menggunakan bahasa padang. Menurutnya bahasa daerah yakni bahasa Minang itu lebih mudah untuk mempelajarinya, alasannya adalah bahasa minang itu lebih banyak yang mirip dengan bahasa Indonesia, jadi selanjutnya bapak Tanda Hutasoit lebih cepat belajar bahasa Minang.
Berkenaan dengan nama panggilan pada seseorang dalam bahasa minang ini terdapat banyak perbedaan, dimana bagi orang minang jika lawan bicara kita lebih tua akan disebut Uda untuk laki-laki danUni untuk panggilan perempuan. Namun bagi budaya Batak ini memiliki kekhususan sendiri. Ketika masih kecil orang Batak dipanggil dengan sebutan Ucok untuk laki-laki dan Butet untuk perempuan. Orang Batak diberi nama setelah ia diberkati di Gereja, hal ini sejalan dengan ajaran agama Kristen, Namun nama bagi orang Batak akan selalu diikuti dengan marga Bapaknya. Selanjutnya maka yang akan dipanggil adalah namanya si anak. Setelah ia berkeluarga maka sebutan itu akan berubah menjadi panggilan marga saja. Misal Hutasoid saja atau boru panjaitan bagi sebutan perempuan. Kemudian stelah memiliki cucu maka ia akan dipanggil Opu bagi cucu dari anak laki-lakinya, dan Opunisi oleh cucu dari anak perempuannya.
Panggialan untuk saudara laki-laki dari bapak sipanggil Tulang dan bagi saudara perempuan bapak dipanggil Namboru. Sebutan ini berlaku untuk setiap orang yang se marga dengan keturunan bapak. Jika saudara sedarah dengan bapak akan ada lagi sebutan yang menendakan bahwa mereka memiliki hubungan persaudaraan yang lebih dekat. Misalnya sebutan Bapak Tua untuk saudara laki-laki yang lebih tua dari bapak si anak, dan Bapak Uda untuk saudara laki-laki bapak yang lebih kecil. Namun ini semua secara umum berlaku panggilan Tulang. Sedangkan untuk saudara perempuan Bapak hanya satu sebutan yaitu Namboru.
Dalam budaya Batak masalah tentang garis keturunan akan selalu diajarkan dan dijelaskan dalam keluarga sejak anak-anaknya masih kecil. Dimana dalam keturunan Batak setiap anak akan dijelaskan nomor urut dalam keturunannya dalam satu suku atau marga. Misal Bapak tanda adalah nomor 16, maka anaknya adalah nomor 17, dan cucunya adalah no 18 dan seterusnya.
Suatu hal yang paling dihindar bagi orang Batak adalah menikah semarga. Hal ini dilakukan untuk menghargai sebutan atas nama keturunannya, yang jelas dalam urutan penomoran keturunannya. Sehingga tidak kacau. Jika ini dilanggar biasanya orang sipelaku akan dikucilkan dari adat dan gereja. Hal ini bagi mereka adalah hukuman alam yang paling berat. Jadi masalah nomor dan marga sangat dihapalkan dan penting bagi adat budaya Batak.
Harta pusaka bagi orang Batak tidak ada, hanya dijelaskan dalam bentuk Tugu untuk mengenang dan menghormati nenek moyangnya maka masing-masing marga dalam budaya Batak mereka membangunTugu sebagai peringatannya. Tugu itu adalah pengumpulan tulang belulang nenek moyang yang disatukan dalam bentuk Tugu. Pembangunan Tugu dirayakan oleh merekayang semarga. DiTugu terdapat nama-nama dan keturunan dalam satu marga. Dan Tugu juga berguna untuk belajar tentang silsilah keluarga bagi orang Batak.
Pembinaan budaya Batak bagi yang merantau selalu diajarkan dalam lingkungan keluarga dan juga dalam bentuk perkumpulan melalui kegiatan arisan kelarga dalam satu marga. Biasanyajika ada orang semarga yang baru masuk arisan maka yang paling penting ditanya adalah nomor marganya.
Orang Batak dalam budayanya tidak mengenal poligami, bagi mereka akan terancam dikeluarkan dari Gereja dan juga dikucilkan dari keturunannya. Perceraian yang mereka kenal adalah cerai karena kematian. Seorang janda ia akan ikut bersama keluarga suaminya dan biasanya mereka tidak kawin lagi, tapi bila mau kawin lagi maka disarankan dengan lelaki semarga dengan suami semula, inipun jarang terjadi. Tetapi bila seorang duda ingin kawin lagi ini tidak masalah.
Berarti bagi orang Batak jarang sekali muncul anak tiri dalam satu keluarga. Kecuali saat pernikahan mereka sudah punya anak masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: