A. Pendekatan Penelitian Research & Development

Pendekatan penelitian ini menggunakan Research & Development  (R & D). Borg & Gall (2003). Pendekatan R & D  dipilih untuk menghindari coba-coba karena tidak terencana dengan matang. Penelitian kuantitatif dan kualitatif digunakan secara terpadu dan saling mendukung. Seperti yang disarankan oleh Linda dan Steuart. dkk.  (2002) bahwa untuk mempelajari individu dan efektivitas intervensi konselor dapat dicapai dengan Single Subject Research Design (SSRD) dan juga lebih meningkatkan kepekaan peneliti melalui penelitian.

Penelitian dengan pendekatan R & D menurut Borg & Gall (2003, hlm. 570-575) ada 10 langkah pelaksanaan penelitian yang di gambarkan pada bagan 3.1.

Bagan 3.1.Prosedur dan Rancangan Penelitian

  1. Melaksanakan pengumpulan informasi awal sebagai data baseline yang berkaitan ujicoba instrumen kemandirian dengan tujuan mendapatkan gambaran kemandirian yang telah dikuasai oleh ATGS yang dikemukan guru-guru berdasarkan sebaran angket.
70
  • Melakukan analisis terhadap gambaran kemandirian ATGS dan menyusun materi yang dibutuhkan bagi ATGS, dan masukan dari sistem terkait dalam kegiatan outreach counseling.
  1. Melakukan analisis dan konteks materi dalam beberapa sesi untuk meningkatkan kemandirian ATGS.
  2. Menyusun gambaran materi dan bentuk kegiatan outreach counseling dalam beberapa sesi untuk meningkatkan kemandirian ATGS.
  3. Merancang disain eksperimen subjek tunggal baseline dalam meningkatkan kemandirian ATGS.
  4. Membangun strategi dan petunjuk pengumpulan informasi yang berkaitan dengan gambaran data kemandirian yang telah dikuasai oleh
  5. Mengembangkan ujicoba sebagai treatment terhadap model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS.
  6. Melaksanakan evaluasi dan melakukan disain model berdasarkan beberapa sesi untuk meningkatkan kemandirian.
  7. Merevisi model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS.
  8. Melaksanakan diseminasi model outreach conseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS dengan melibat sistem yang lebih luas sebagai uji konsensional model program.

Sukmadinata (2006, hlm. 189) menyederhanakan (R&D) berkenaan dengan langkah penelitian yang dikemukakan oleh Borg & Gall, hingga menjadi tiga langkah utama seperti berikut.

  1. “Melaksanakan studi pendahuluan yang dilaksanakan dengan cara melakukan kajian pustaka yang berkaitan dengan teori outreach counseling dan kemandirian ATGS sebagai variabel penelitian. Melakukan kajian lapangan tentang pelaksanaan bimbingan kemandirian yang telah dilakukan oleh guru terhadap ATGS untuk menemukan permasalahan yang kongkrit dan benar ada terjadi di kancah penelitian
  2. Merancang pengembangan draf awal model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS. Kegitan yang dilakukan sebagai berikut; (membuat draf awal model outreach counseling berdasarkan kebutuhan ATGS dalam meningkatkan kemandirian, kemudian melakukan ujicoba terbatas terhadap model awal outreach counseling yang dapat meningkatkan kemandirian ATGS sebagai temuan penelitian)
  3. Melakukan desiminasi dan uji validasi model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS.

Langkah-langkah penelitian model outreach counseling seperti yang dikemukakan oleh Sukmadinata di atas digambarkan dalam bentuk setelah disederhanakan dapat dilihat dalam bentuk bagan seperti di bawah ini.

Bagan 3.2. Langkah pelaksanaan penelitian

B.Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian ini sesuai dengan pertanyaan penelitian pada bab I sebagai berikut.

  1. Mengumpulkan data tentang gambaran kemandirian ATGS di kota Padang. Dipaparkan dengan tehnik deskriptif kualitatif. Pengolahan data yang digunakan adalah analisis kualitatif.
  2. Menyusun model dan kondisi outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS di kota Padang. Disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif, menggunakan analisis kualitatif.
  3. Melakukan uji efektivitas model dengan menggunakan eksperimen Single Subject Research (SSRD) disain A-B-A. Analisis yang digunakan adalah visual inspection. Sunanto (2005).

Disain SSRD yang dipilih adalah,  A-B-A design yang digunakan untuk mengkaji dinamika kemandirian ATGS dan keefektifan model outreach counseling. Sementara pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui validitas rasional model outreach counseling untuk meningkatkan kemandirian ATGS. SSRD akan dilakukan melalui R & D. Dengan demikian, akan diperoleh suatu model, penanganan terpadu untuk meningkatkan kemandirian ATGS. Disain eksperimen yang digunakan adalah penelitian SSRD dengan menggunakan A-B-A Baseline Design. SSRD ini akan digunakan untuk mengetahui peningkatan kemandirian ATGS selama diberikan model outreach counseling.

Penelitian (SSRD) dimana Studi kasus awal tidak dikontrol ketat dan metode ini bergantung pada kelompok temuan yang bersifat individual. SSRD dipromosikan untuk penerapan praktik agar dengan mudah menggabungkan treatmen terhadap klien. SSRD juga dikenal sebagai disign time series atau desain waktu setara, quasi experimental disign. SSRD bermanfaat untuk meneliti perubahan perilaku klien atau kelompok (Variable dependent) setelah intervensi konselor (variable independent).

Disain penelitian ini SSRD, yakni, A-B-A Baseline Desain. Linda dan Steuart. dkk.  (2002) menyatakan.

The A-B-A design is superior to the A-B design because it controls for many threats to internal validity and allows one to make more confident statements regarding the functional relationship between the intervention and the behavior. A-B-A designs have been used to illustrate intervention effects on problems as diverse as school avoidance and separation anxiety (Hagopian & Slifer, 1993). Despite limitations existent in the use of A-B-A designs, the strength of demonstrating a functional relationship between the intervention and a positive outcome, along with providing evidence of effective interventions, is enhanced through the use of A-B-A designs.

Cakiroglu (2012). “…Three categories research design: a) one group only pre-post designs, b) experimental or quasi-experimental research with two or more groups, or c) single subject research designs.” Berkenaan dengan kutipan tersebut ditegaskan bahwa; SSRD adalah desain penelitian yang paling sering digunakan dalam bidang pendidikan khusus.

Selanjutnya masalah penggunaan disain ini dipertegas oleh Skinner (1998) dikutip dalam Linda, dan Steuart. dkk.  (2002), menyatakan.

When intervening with students for whom the function of their out-of-seat behavior is to avoid work that is too difficult, the treatment would typically involve three components: (a) modifying (i.e., decreasing) the complexity of the assignment such that it is commensurate with skill level, (b) providing direct skill instruction, and (c) providing brief breaks contingent upon completing the modified assignment.”

Mula-mula target behavior (kemandirian siswa) diukur secara kontinyu pada kondisi baseline (A1) dengan periode waktu tertentu, kemudian pada waktu intervensi (B) adalah memberikan bimbingan outreach counseling melalui empat sesi dan selanjutnya akan dilakukan pengukuran pada kondisi baseline ke dua (A2). Penambahan kondisi baseline ke dua (A2) dimaksudkan sebagai kontrol untuk fase intervensi sehingga memungkinkan unuk menarik kesimpulan adanya hubungan fungsional antara variable bebas dan variable terikat.

Menggambarkan posisi intervensi Linda dan Steuart Dkk. (2002) dapat diperhatikan gambar di bawah ini.

Grafik 3.1 Gambar A-B-A disain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: