Bimbingan Kemandirian ATGS Sebagai Dasar Pengembangan Model Outreach Counseling

  1. Konsep Kemandirian ATGS

Keberhasilan proses belajar mengajar sebagai upaya mewujudkan kemandirian mengurus diri sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor.  Lingkungan sosial anak seperti; guru, teman sebaya, dan keluarga dipandang sebagai sesuatu yang sangat berpengaruh dalam proses perubahan peningkatan kemandirian ATGS.

Bailey (1982. hlm. 19) menyebutkan bahwa, “aspek kemandirian bagi ATGS berhubungan dengan kemampuan menolong diri sendiri (Self-help) berupa kemampuan minum dan makan, kemampuan mobilitas, menggunakan WC, mandi, berpakaian serta berhias.” Sedangkan Wehman (1981. hlm. 185) berpendapat bahwa, “…wilayah kemampuan merawat diri meliputi; “The self-care domain involves eating, dressing, toileting, grooming, safety, and healt skills.”

Kemandirian dalam penelitian ini selaras dengan tujuan program pengajaran  ATGS dalam kemampuan merawat diri sebagai berikut; “a) menanamkan pengetahuan tentang tata cara mengurus diri sendiri, b) meningkatkan keterampilan mengurus diri sendiri, c) mengembangkan kebiasaan mengurus diri sendiri, d) mengembangkan kemampuan dalam penyesuaian diri.”  Depdikbud (1997, hlm. 1).

Maksud dan tujuan kemandirian bagi ATGS bermakna kemampuan menolong diri sendiri (selfhelp). Mampu melakukan aktivitas secara mandiri tanpa intervensi dan ketergantungan dari orang lain. Westling  and Murden (1978. hlm. 2) menyatakan bahwa.

“…Self-help skills may be defined as those behaviors which allow an individual to fulfill personal bodily needs and thus be less dependent on others to care for these needs. To approach any degree of normalcy, an individual must be able to demonstrate some proficiency in such areas as self-feeding, toileting, dressing, grooming, and hygiene.”

Upaya meningkatkan kemandirian ATGS diperlukan latihan-latihan yang dimulai sejak dari kelas kecil, berulang-ulang, memberi petunjuk, dorongan serta pengawasan yang menuntut keikutsertaan dan kerjasama orang tua, guru dan para tenaga ahli profesi lain sebagai upaya referal.

Havananda      (2007) “There are six strategies for building up Self Help Care”;

  1. Problem solving
  2. Self learning
  3. Self doing
  4. Exchanging and transferring knowledge
  5. Forming group / organization
  6. Expansion

Berkenaan dengan pendapat di atas dapat dimaknai bahwa keluarga atau lingkungan diharapkan jangan terlalu banyak melakukan intervensi dan bersikap overprotektif terhadap ATGS. Terutama dalam kegiatan mengurus diri sendiri di rumah. Sebaliknya memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan sendiri dengan bimbingan akan sangat membantu ATGS meningkatkan kemampuan menolong diri sendiri. Misalnya dalam kegiatan makan dan minum, mandi dan cuci, berpakaian dan lainnya. Melalui bimbingan guru diharapkan ATGS  mandiri dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akibatnya ATGS akan lambat mencapai kemandirian dan kurang mampu mengurus diri sendiri. Pada kenyataannya akan menyulitkan bagi guru dalam membantu perkembangan ATGS yang semestinya sudah mampu dilakukannya.

Steinberg (1993, hlm. 286) menyebutkan pengertian dari kata “mandiri” dapat dilihat dari dua istilah yang pengertiannya disejajarkan atau sepadan, yaitu “autonomy dan independence”, perbedaan dan makna kata mandiri sangat sulit dipisahkan dari kedua istilah tersebut. Kata independence dimaknai “kebebasan dan kemerdekaan” individu untuk melakukan aktivitas kehidupan secara sendiri. Artinya, seseorang yang dikatakan mandiri apabila ia tidak menggantungkan diri kepada bantuan ataupun intervensi orang lain.

Sedangkan dalam kamus Inggris- Indonesia pengertian istilah, ‘otonomi disejajarkan sama dengan istilah autonomy yang berarti kemampuan untuk memerintah sendiri, mampu mengurus diri sendiri, atau mengatur kepentingan sendiri.’ Echols & Shadily (2000).

Watson & Lingren (1973) “…kemandirian berati kebebasan, untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, melakukan sesuatu dengan tepat, gigih dalam usaha, dan melakukan sendiri segala sesuatu tanpa mengandalkan bantuan orang lain.” Sementara Bernadib (1982), menyatakan ‘kemandirian mencakup perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah, mempunyai rasa percaya diri, dapat melakukan sendiri tanpa menggantungkan diri terhadap bantuan orang lain.’ Menurut Mu’tadin (2002), kemandirian mengandung makna, “…a) sesuatu keadaan di mana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya, b) mampu mengambil keputuaan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi, c) memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugas, dan bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan.” Dikutip dari Nurhayati (2010).

Kartadinata (1988. hlm. 88) mengemukan bahwa “kemandirian sebagai kekuatan motivasional dalam diri individu untuk mengambil keputusan dan menerima tanggungjawab atas konsekuensi.”

Beberapa pendapat tersebut di atas walaupun disajikan dalam redaksi yang berbeda, tetapi memiliki kandungan makna yang saling melengkapi terhadap makna kemandirian. Bahwa kemandirian mengindikasikan unsur-unsur tanggung jawab, memiliki kepercayaan diri, memiliki inisiatif, dorongan motivasi yang kuat untuk melakukan sendiri pekerjaan demi kebaikan sendiri dan mampu mengambil keputusan, mengarahkan diri, berani menanggung resiko. Mandiri itu mampu mengatasi masalah sendiri, dan tidak menggantungkan diri pada bantuan orang lain. Mampu melakukan sesuatu dengan tepat, gigih dan berusaha sendiri, mengatur kebutuhan sendiri dan bertindak dan menguasai diri sendiri secara tepat.

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara komulatif selama proses perkembangan, di mana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam mengahadapi berbagai sistuasi dilingkungan sehingga mampu untuk berpikir, bertindak dan melakukan pekerjaan sendiri. Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga dari lingkungan orang-orang terdekat dengan mereka berada.

Menurut Knowles (1980), “…tahapan belajar kemandirian merupakan siklus dari empat aktivitas, yaitu; merencanakan, melakukan apa yang telah direncanakan, menerapkan, dan merefleksi, kemudian mengulang lagi untuk merencanakan kegiatan baru.”

Demikianlah seterusnya hingga kemandirian dalam mengurus diri dapat meningkat. Kemandirian dimungkinkan terjadi pada semua tingkatan usia, sesuai dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan, dalam rangka mengurangi keterkaitan dan rasa ketergantungan dan bantuan dari orang lain. Menyikapi beberapa pendapat di atas dapat dimaknai bahwa kemandirian dalam mengurus diri sendiri bagi ATGS adalah suatu kemampuan, untuk mengambil keputusan sendiri dan mampu melakukan sendiri pekerjaan yang berkaitan dengan mengurus diri sendiri dalam kegiatan sehari-hari tanpa adanya intervensi dan bantuan dari orang lain. Mampu mengatasi masalah dalam mengurus diri sendiri, mengerjaan sendiri, dan mampu menilai pekerjaan sendiri tanpa adanya keikutsertaan orang lain dalam aktivitas sehari-hari. Bimbingan dan konseling melalui pencapaian penguasaan tugas-tugas perkembangan siswa, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu, meningkatkan sumber daya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal bagi ATGS. Upaya bimbingan bagi ATGS terkait dengan upaya meningkatkan atau mengembangkan kemandirian.

Knowles (1980) Prinsip-prinsip kemandirian yaitu, “…a) fokus pada kegiatan yang sedang dihadapi, b) berusaha dengan maksimal, c) mampu bekerjasama dengan sebaya, d) mampu menilai pekerjaan sendiri, e) sesuai dengan kemampuan.”

Betaversion (t.t.) kemandirian dimiliki melalui proses belajar.

  1. Autonomy means moving the focus from theaching to learning
  2. Autonomy effords maximum possible influence to learners
  3. Autonomy ancourages and needs peer support and cooperation
  4. Autonomy means making use of self/peer assessment
  5. Autonomy can only be practised with student logbooks which are a doccumentation of learning and tool of reflection
  6. The role of the teacher as supporting scaffolding and creating room for development of autonomy is very demaning and very important.”

Kartadinata (2010) menyatakan bahwa bimbingan dan konseling yang memandirikan itu memang untuk semua konseli, termasuk bagi konseli berkebutuhan khusus dan berbakat, namun untuk mencegah timbulnya kerancuan perlu dikeluarkan dari cakupan pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan itu. Pelayanan bimbingan yang memandirikan dalam arti menumbuhkan kecakapan hidup fungsional bagi konseli yang menyandang retardasi mental, harus dilayani oleh pendidik yang disiapkan melalui Pendidikan Guru untuk Pendidikan Luar Biasa (PGPLB). “…dengan spesifikasi wilayah pelayanan ahli konselor yang lebih cermat, kawasan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan itu juga perlu ditakar secara tepat, karena untuk sebahagian sangat besar pelayanan bimbingan yang memandirikan dibutuhkan oleh konseli penyandang kekurang-sempurnaan fungsi indrawi dilakukan oleh pendidik yang disiapkan melalui PGPLB dengan spesialisasi yang berbeda-beda.”

Steinberg (1993. hlm. 289) tiga tipe kemandirian sebagai berikut.

  1. “kemandirian Emosional; adalah aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional antar anak dengan ibunya dan juga dengan ayahnya. Kemandirian emosi menunjuk kepada pengertian yang dikembangkan individu dan melepaskan diri dari ketergantungan mereka dalam pemenuhan kebutuhan dasar dari orang tua mereka.
  2. Kemandirian Perilaku; berarti “bebas” untuk berbuat atau bertindak sendiri tanpa terlalu tergantung pada bimbingan orang lain. Kemandirian perilaku menunjuk kepada; kemampuan seseorang utk melakukan aktifitas, sebagai manifestasi dari berfungsinya kebebasan, menyangkut peraturan-peraturan yg wajar mengenai perilaku dan pengambilan keputusan dari seseorang.
  3. Kemandirian Nilai; Ahli psikologi (Douvan & Adelson, 1966, dalam Sprinthal & collins, 1995), menyebutkan; kemandirian nilai menunjuk kepada suatu pengertin mengenai kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan dan menetapkan pilihan yang lebih berpegang atas dasar prinsip individual yang dimilikinya.

Lebih lanjut Kartadinata (2010) menegaskan, “…pelayanan bimbingan dan konseling bagi ATGS amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (activities daily living) yang tidak akan terisolasi dari konteks. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pelayanan intervensi tidak langsung yang terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya”. Pengembangan bakat khusus bagi konseli tidak terjadi dalam suatu ruang yang vakum, melainkan selalu menggunakan bidang studi sebagai konteks pembinaan bakat. Ini berarti bahwa, wilayah pelayanan ahli konselor juga perlu dipetakan dengan mencermati peran konselor berkaitan dengan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan bagi konseli yang berbakat khusus. Pemfasilitasan secara maksimal pengembangan potensi konseli berbakat khusus tidak dapat dilakukan sendirian oleh konselor atau oleh psikolog, akan tetapi peran serta dari guru-guru lainnya yang jauh lebih besar, bahkan diperlukan peran serta dosen di jenjang perguruan tinggi.


 

  1. Keterampilan Makan (Eating Skills)

Perkembangan keterampilan makan merupakan aspek penting dari pelatihan keterampilan self-help. Bagi sebagian anak, pelatihan makan mungkin melibatkan bagaimana ia belajar untuk menelan dan mengisap. Sementara anak-anak lain harus belajar bagaimana untuk bisa makan dengan rapi, dan anak-anak lain mungkin harus mendapatkannya melalui keluarga dalam menentukan gaya keterampilan saat makan. Wehman & Laughlin (1981) tentang urutan perkembangan keterampilan makan anak normal seperti berikut.

Tabel 2.1 Keterampilan makan anak menurut usia

Age Content
0-4 months Rrefleks mengisap, menelan (sejak kelahiran)
Mengantisipasi makanan (16 minggu)
Menyeimbangkan kepala (16 minggu)
4-8 months Memegang (20 minggu)

Mencapai benda terdekat

Duduk tidak didukung

Mulai makan dengan jari

Memegang botol dengan kedua tangan

8-12 months Minuman dari cangkir dengan bantuan

Menunjukkan mengunyah dengan memutar

Grasps dengan ibu jari dan jari

12-18 months Memberikan botol

Menyerahkan piring kosong

18-22 months Mengisap, makan permen

Bagian diri, banyak menumpahkan

Minuman dari cangkir tanpa bantuan

Menggunakan sendok belum bagus

22-24 months Mulai menggunakan garpu
24-36 months Minum tanpa bantuan,

Menuangkan air tanpa bantuan

Menggunakan sedotan

3-6 years Menggunakan serbet

Minum menggunakanair mancur

6-9 years

9-‘2 years 12-15 years

Menggunakan pisau meja untuk memotong
Mempedulikan diri di meja

Mengajar keterampilan makan merupakan salah satu program yang perlu mendapat perhatian. Makan sendiri dengan sendok harus dibagi menjadi langkah-langkah kecil. Siswa dipandu melalui perilaku menyuapi dan pada awalnya hanya diperlukan untuk mengosongkan sendok ke dalam mulut mereka. Sebagian anak-anak akan menjadi lebih mahir, bila demikian maka, pembimbing secara bertahap mulai mengurangi dukungan sampai kemandirian makan sendiri bias dilakukan. Latihan makan ini sebaiknya dimulai dengan latihan makan kecil dan dilakukan secara berulang-ulang. Dengan cara ini anak menerima banyak kesempatan untuk melatih dan berlatih perilaku makan. Selain itu, masalah yang dihadapi dalam pelatihan diminimalkan dengan menggunakan porsi kecil.

  1. b. Keterampilan Kebersihan diri

Kebersihan diri ATGS merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh orang dewasa yang meliputi orang tua, pembimbing bahwa ia berkewajiban menolong siswa dalam meningkatkan perilaku sehat. ATGS umumnya mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan kebersihan. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) Nasional tahun 2007, bahwa, perilaku yang menyangkut kebersihan dapat mempengaruhi kesehatan. Banyak penyakit yang dapat disebabkan karena perilaku hidup bersih dan sehat yang masih kurang seperti diare, kecacingan, masalah periodontal, filariasis, demam berdarah dan muntaber. Masalah kebersihan diri yang cukup banyak dialami oleh murid sekolah dasar yaitu : 86% murid yang bermasalah pada gigi, 53% tidak biasa potong kuku, 42% murid yang tidak biasa menggosok gigi, dan 8% murid yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Selain itu data penyakit yang diderita oleh anak sekolah terkait perilaku seperti cacingan adalah sebesar 60% – 80%, dan caries gigi sebesar 74,4 %. Kompleksnya masalah kesehatan anak sekolah perlu ditanggulangi secara komprehensif dan multisektor Depkes RI (2008) dikutip dalam Nadia (2012).

  1. Kebersihan Lingkungan

Kebersihan lingkungan meliputi kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja, dan berbagai sarana umum. Kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan cara membersihkan jendela dan perabot rumah tangga, menyapu dan mengepel lantai, mencuci peralatan masak dan peralatan makan, membersihkan kamar mandi dan jamban, serta membuang sampah. Bimbingan kebersihan lingkungan ATGS dimulai dari lingkungan paling dekat dengan anak. Pelaksanaan bimbingan dilaksanakan setiap saat bila kita akan menggunakan untuk melakukan aktivitas. Tingkat kebersihan ATGS berbeda-beda menurut kemampuan kemandirian sesuai tempat dan kegiatan yang dilakukan dalam beraktifitas. Kebersihan di rumah dan di sekolah dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kemandirian ATGS.

  1. Keterampilan Berpakaian (Dresshing Skills)

Keterampilan berpakaian akan terkait dengan kemampuan membuka dan memasangkan serta mengikatkan dan mengancingkan pengait pakaian ke badan. Untuk itu sebelum melakukan latihan berpakaian perlu diperhatikan kemampuan motorik anak. Selain itu juga dibutuhkan kemampuan koordinasi mata dan tangan, sehingga anak mampu menyelaraskan pakaian yang ia kenakan. Wehman & Laughlin (1981) perkembangan anak dalam berpakaian seperti tabel di bawah ini.

Tabel 2.2 Perkembangan kemampuan berpakaian menurut usia

Age Content
0-4 months Tanda pada pakaian
4-8 months Bekerja sama dalam berpakaian
8-12 months Melepas sepatu atau kaus kaki

Bekerjasama dengan dresshing

Mengenakan topi

12-16 months

18-22 months

Membuka kaus kaki, sarung tangan, sepatu

Membuka ritsleting

22-24 months Membuka mantel atau gaun
24-36 months Memakai mantel atau gaun

Memakai sepatu

Membuka tombol aksesoris

3-6 years Tombol mantel atau gaun

Gaun dan undresses kecuali untuk mengikat

Melepas sepatu

Membedakan depan dan belakang pakaian

6-9 years Ties sepatu tali

Memilih, kebutuhan pakaian

9-12 years

12-15 years

Menjaga dan melakukan perawatan berpakaian

Keterampilan berpakaian diajarkan dalam situasi yang realistis, dan bersifat situasional yang disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan pemberian bimbingan dengan segera. Seperti ketika siswa bersiap-siap untuk meninggalkan sekolah, atau mengganti pakaian di pagi hari. Hal ini perlu untuk dijadwalkan dalam kegitan mingguan yang dilaksanakan di kelas. Untuk itu diperlukan perhatian khusus dari guru untuk menerapkan dalam kegiatan kelas sehari-hari.

Program kemandirian dalam penelitian ini meliputi; makan  dengan sendok, mengunyah, menelan, dan minum dengan menggunakan sedotan. Latihan ini termasuk perangkat seperti pegangan di sendok, piring dengan sisi, dan memegang cangkir dan menempelkan dengan bibir. Dalam cara yang sama, berpakaian dan membuka pakaiannya keterampilan disajikan. Diperlukan beberapa penjelasan tentang bagaimana teknik yang digunakan untuk mengajarkan dalam kegiatan memasang melepas kaus kaki. Untuk dapat melaksanakan bimbingan kemandirian guru/pembimbing dapat menggunakan prinsip-prinsip utama seperti petunjuk dengan cara seperti berikut; a) memberikan contoh melalui pemodelan, b) memberikan contoh dengan melakukan pemindahan pada teman sekelas, c) memberikan bantuan sacara langsung, d) memberikan umpan balik sebagai upaya korektif. Hal ini diperlukan bagi para guru agar mampu mengidentifikasi jenis pembelajaran yang harus digunakan untuk mengembangkan keterampilan self-help untuk meningkatkan kemandirian yang berintegrasi dalam kehidupan sehari-hari ATGS.

  1. Keterampilan Kerjasama

Adhiwiryono (t.t.) menyatakan, “kerjasama juga dalam arti bekerja kelompok, di mana anak didik dalam suatu kelompok di pandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan bergotong-royong. Cara ini juga dapat menggerakkan anak untuk melakukan kerja sama sepenuh hati dalam kelompok”.

Belajar dalam kelompok dapat mencerminkan wujud kerjasama bagi pembelajaran kemandirian ATGS. Suyanto (2005. hlm. 150) menyebutkan bahwa  “bentuk belajar seperti kelompok kecil, kelompok sedang dan kelompok besar. Kelompok kecil biasanya terdiri dari dua anak. Bagi pembimbing dimaksudkan agar tidak terlalu sulit mengaturnya”. Kelompok sedang terdiri dari empat anak, biasanya untuk tugas yang lebih kompleks. Sedangkan kelompok besar terdiri dari seluruh kelas, ini penting untuk menyatukan ATGS dalam kelas sebagai suatu tim.

Berdasarkan lima aspek kemandirian di atas diadopsi beberapa tips yang dapat diterapkan dalam membimbing ATGS dikemukakan oleh Paryati, Sri (2014) Friday, 21 November.

Tips agar anak bisa mencoba atau belajar sendiri sesuai dengan keiginannya adalah :

  • Penempatan perlatan dan perlengkapan kemandirian yang bisa terjangkau oleh anak.  Tempatkan perlengkapan yang dibutuhkan anak di lemari atau tempat tersendiri yang mudah dijangkau tangan anak.  Jangan meletakkan atau di tempat yang tinggi.  Ini akan mempersulit ketika anak ingin mengambilnya.
  • Belilah peralatan kebutuhan kemndirian dengan jenis yang beragam.  Hal ini akan melatih anak untuk bisa memadu padankan warna, model, serta anak bisa mengetahui jenis peralatan kemandirian mana yang nyaman dipakai dan digunakan oleh anak.
  • Beri kesempatan anak untuk memilih  Orangtua harus memisahkan antara peralatan kemandirian yang biasa dipakai dirumah dan dipakai untuk bepergian.  Jika anak sudah terbiasa membedakan sesuai dengan momennya maka, jika sewaktu waktu anak memilih salah satunya, orangtua harus menghargainya.
  • Berilah contoh cara penggunaan atau cara memakai.  Cobalah dilakukan dengan perlahan lahan agar anak bisa mengikuti gerakan gerakan tangan pada saat anak mengikuti dengan intruksi yang jelas.
  • Beri kesempatan anak untuk mencobanya sendiri.  Jika anak sedang mencoba, maka anda harus sabar dan tak perlu buru buru untuk membantunya.  Biarkan mereka mencoba dengan kemampuannya sendiri.  Pada awalnya pasti anak akan kesal jika merasa tidak bisa. Inilah saatnya anda untuk membantunya dan hal tersebut bisa dilakukan atau dicoba lain waktu.
  • Jangan pernah menertawakan anak jika mereka salah atau tidak bisa melakukannya dengan benar.  Dengan menertawakan maka anda telah menurunkan semangat dan rasa percaya dirinya.  Berilah semangat untuk mencobanya kembali.
  • Beri pujian atas kerja keras anak.  Ketika anak berhasil dengan benar alangkah baiknya memberikan pujian.

Kutipan berupa tips di atas dapat dipedomani jika seorang pembimbing ingin membantu meningkatkan kemandirian ATGS dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Sebagai pembimbing harus benar-benar mengerti kebutuhan dan mampu melakukan pendekatan terbaik dan sesuai dengan karakteristi ATGS yang akan dibimbing. Selanjutnya pemberikan kesempatan dan kesabaran merupakan penentu keberhasilan siswa di samping melakukan koordinasi antar berbagai pihak yang terlibat sebagai usaha bersama sebagai pelaksana bimbingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: