KONSEP BIMBINGAN KONSELING BAGI ANAK TUNAGRAHITA

A. Konsep Bimbingan dan Konseling

 Bimbingan merupakan upaya memberi bantuan untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal. Bimbingan dan konseling yang digunakan dalam penelitin ini merupakan upaya memfasilitasi ATGS agar berkembang secara optimal, mampu melakukan pengambilan keputusan secara mandiri agar terlepas dari permasalahan yang membebaninya. Bimbingan merupakan upaya/proses fundamental pada setiap ikhtiar pendidikan, baik pendidikan formal, non-formal maupun informal. Proses bimbingan (guidance) selalu melekat dalam ketiga bentuk pendidikan tersebut. Kegiatan bimbingan konseling dilaksanakan oleh guru yang berkualifikasi untuk melaksanakan dengan program yang telah terencana. Bimbingan dan konseling secara menyeluruh dengan sasaran membantu peserta didik agar mereka terlepas dari masalah.

            Pelaksanaan bimbingan konseling di SLB belum ditangani sepenuhnya oleh guru yang berkualifiasi bimbingan dan konseling. Khususnya dalam pelaksanaan bimbingan konseling bagi anak-anak tunagrahita. ATGS mengalami hambatan dalam kecerdasan yang menyulikan baginya dalam pelaksanaan bimbingan seperti yang dilaksanakan pada umumnya. Maka pelaksanaan bimbingannya tentu memiliki kekhususan tersendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuan dalam mengarahkan bimbingan agar mereka dapat mandiri dalam kehidupannya. Dari pandangan konseling ATGS merupakan suatu keunikan tersendiri yang menuntut pelayanan dan bimbingan konseling secara khusus.

Komunitas ATGS dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dibanding dengan anak normal. Maka dari itu bentuk pelayanan bimbingan konseling baginya memerlukan kekhususan yang membedakannya dari layanan konseling umumnya. Dengan demikian diperlukan sebagai dasar pelaksanaan konseling dalam komunitas mereka dalam mengatasi permasalahan kehidupan.

Bimbingan konseling komunitas memiliki asumsi mendasar sesuai dengan kebutuhan. Lewis A.J. dkk. (2011. hal.4) mengemukakan seperti di bawah ini.

The fundamental assumtions  underlying 21st-century community counseling include the following:

11
  • Human development and behavior take place in environmental contexs that have the potential to be nurturing or limiting.
  1. Even in the face of devastating stress, people who re treated respectfully can demonstrate surprising levels of strength and acces resources that a pessimistic helper might not see.
  2. Attention the multicultural nature of human development is a central component of community counseling.
  3. Individual development and community development are inextricably linked.

Asumsi yang mendasari pemikiran pada kutipan di atas yakni pada kebutuhan konseling komunitas. Komunitas yang berkenaan dengan kelangsungan kehidupan dalam potensi kehidupan. Melalui bimbingan diharapkan mampu memecahkan permasalahan, sesuai dengan keragaman manusia dalam layanan konseling yang membedakannya. Dengan demikian ATGS juga merupakan bagian dari komunitas yang membedakannya sehingga memerlukan bentuk layanan bimbingan yang berbeda. Seperti devenisi konseling komunitas yang dikemukakan oleh Lewis A.J. dkk. (2011. hal.9).

Community counseling is comprehensive helping frame work that is grounded in multicultural competence and oriented to word social justice. Becau human behavior is powerfully affected by context, community counselors use strategies that facilitate the healthy development both of their clients and of the communities that nourish them.

Berkenaan dengan komunitas konseling maka dalam penelitian akan digunakan penggunaan definisi dasar penjangkauan komunitas yang dikemukakan dalam kutipan Ford L. C. dkk. (2007. hal.172).

Outreach generally is defined as “the process of locating, contacting, and recruiting groups that are invisible, hidden, or otherwise difficult to engage in a program.” The operational definition of outreach for a given project, however, varies by project goals and community characteristics (Elwood, Montoya, Richard, & Dayton, 1995).

Berkenaan dengan komunitas ATGS berbeda dengan anak normal pada umumnya maka layanan konseling perlu dirancang sesuai dengan kebutuhan, keterbatasan kemampuan, serta karakteristik komunitasnya. Penjangkauan bimbingan perlu menyentuh berbagai upaya dalam membantu ATGS agar berkembang optimal, dan mampu mengatasi masalah kemandirian. Melalui outreach counseling sebagai bentuk penjangkauan dalam bimbingan konseling terhadap ATGS dalam membantu perkembangan kemandiriannya.

  1. Pengertian Bimbingan Konseling Bagi ATGS

SLB sebagai institusi yang menyelenggarakan pendidikan bagi ATGS, pelaksanaan bimbingan dan konseling belum ditangani secara proporsional. SLB belum memiliki tenaga khusus menangani permasalahan bimbingan dan konseling. Dengan kondisi demikian tugas guru pembimbing dilaksanakan oleh guru-guru dalam menangani masalah siswa. Layanan guru sebagai pembimbing ATGS akan mengalami berbagai kendala sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa. Pembimbing mengalami kesulitan bila berhadapan langsung dalam pelaksanaan konseling yang sesungguhnya. Disisi lain ATGS mengalami kesulitan jika dihadapkan pada keharusan pengambilan keputusan. Oleh karena ATGS mengalami hambatan dalam hal kecerdasan yang berdampak pada masalah kehidupan. Kemampuan ATGS mengambil keputusan sebatas sangat sederhana dan masih banyak membutuhkan bantuan dari orang lain.

Bantuan dari orang lain dalam hal kemandirian terhadap ATGS kebanyakan berasal dari lingkungan keluarga atau dari lingkungan terdekat. Lingkungan akan banyak memberikan bantuan baik disengaja maupun tidak sengaja berkenaan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Masalah intervention bagi ATGS jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama, akan berdampak pada kemandirian mereka. Kebanyakan ATGS kurang mampu melaksanakan kegiatan secara mandiri tanpa peranan bantuan dari lingkungan. Ketergantungan yang lama akan berakibat pada ketidakmandirian.

Bimbingan dan konseling di SLB kebanyakan dilakukan oleh guru kelas di samping melaksanakan proses belajar mengajar. Sementara keberadaan petugas khusus yang menangani masalah bimbingan dan konseling umumnya masih belum tersedia. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh guru kelas secara sederhana dan sejalan dengan tugasnya sebagai tenaga pengajar di sekolah.

Sunardi (2005) menyatakan tentang tujuan bimbingan di SLB meliputi beberapa persoalan berikut.

  1. Membantu peserta didik agar dapat melewati setiap masa transisi perkembangan dengan baik.
  2. Membantu peserta didik dalam mengatasi hambatan belajar dan hambatan perkembangan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapinya melalui pemenuhan kebutuhan khususnya.
  3. Membantu menyiapkan perkembangan mental anak-anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  4. Membantu peserta didik dalam mencapai taraf kemandirian dan kebahagiaan hidup.
  5. Membantu lingkungan, khususnya orang tua dalam memahami anak sebagai individu dengan segala keunikannya.
  6. Membantu orang tua anak dalam memenuhi kebutuhan khusus anaknya yang timbul sebagai dampak keluarbiasaan.

Banyak perasalahan yang butuh penangan bimbingan dan konseling sehingga tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama yang berkenaan dengan masalah peningkatan kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru dituntut untuk membimbing ATGS agar mampu mengerjakan aktifitas sehari-hari secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Kemandirian ATGS dalam kegitan sehari-hari di sekolah seperti; kegiatan makan dan minum, berpakaian, interaksi berbicara, aktivitas bermain, mengikuti pelajaran akademik, berbelanja, menyampaikan keinginan dan lain sebagainya. Di sekolah maupun di rumah ATGS masih banyak mendapat bantuan atau intervensi dari orang-orang di lingkungan terdekat. Lingkungan terdekat itu adalah; orang tua, saudara, kakek/nenek, atau orang lain di lingkungan rumah. Sementara di sekolah mereka lebih banyak di bantu oleh guru, kakak kelas atau teman. Akibatnya ATGS tidak mampu berbuat lebih banyak untuk kemandiriannya.

Guru dituntut untuk menyikapi kemandirian ATGS yang rendah dengan mengembangkan layanan bimbingan di sekolah. Dengan memberdayakan lingkungan agar jangkauan bimbingan lebih luas. Salah satu program yang dapat dilakukan yakni dengan memberdayakan lingkungan terdekat ATGS. Dengan demikian program bimbingan terbuka lebih luas dengan memperpanjang jangkuan bimbingan yang tidak dapat dilakukan secara langsung. Kegiatan bimbingan dengan memperluas jangkauan di sebut dengan istilah outreach counseling. Sejalan dengan upaya tersebut dikemukakan alasan seperti kutipan di bawah ini.

The Social Cognitive Model  posits four important components for altering student behavior: (a) acquisition of information, (b) development of social and self-regulatory skills, (c) enhancement of skills and self-efficacy, and (d) establishment of social support. McKusick. & Hoff. (1990) dalam Botvin & Busenbury (1992).

Berdasarkan ulasan di atas maka untuk lebih jelas dapat diperhatikan bagan di bawah ini.

Bagan 2.1 Konseptual model outreach counseling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: