Konsep Model Outreach Counseling

1. Pengertian dan Komponen-komponen Model

Model outreach counseling dalam penelitian ini bertujuan untuk memfasilitasi konselor, guru reguler, guru pembimbing khusus dan orang tua ATGS dalam upaya memberi bantuan dalam meningkatkan kemandirian mereka. Maka diperlukan kerangka konseptual yang dapat melukiskan pijakan teori yang mendasarinya, sehingga diperlukan pengorganisasian dan sistem yang baik agar mampu memberikan layanan bimbingan dan konseling sebagaimana yang diharapkan dapat diaktualisasikan dengan baik. Pada bagian ini akan dikemukakan definisi model yang dinyatakan oleh para ahli pendidikan.

Shertzer & Stone (1982. hlm. 62) mengemukakan bahwa “model refers to the representation from which a final product is abstracted because of its inherent worth”. Model menunjuk pada gambaran dari sebuah hasil akhir yang diabstraksikan karena nilai-nilai yang melekat atau telah menjadi sifatnya. Mills dkk, (1989. hlm. 4), mengemukakan bahwa model adalah bentuk representasi akurat, sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan pijakan yang terpresentasi oleh model itu. Model atau pola pada hakikatnya merupakan visualisasi atau konstruksi konkret dari suatu konsep. Visualisasi atau konstruksi itu dirumuskan melalui upaya mental berupa cara berpikir (ways of thinking) tertentu untuk melakukan konkretisasi atau fenomena abstrak. Selanjutnya Shertzer & Stone (1982. hlm. 62) menjelaskan komponen-komponen yang terkandung dalam sebuah model, yaitu: “historical context, rational, and/or basic assumtion, advantages and disadvantages outcomes and/or implication. Sedangkan Corey (1998) menamakan komponen: introduction, key concept, the therapeutic, process, aplication: therapeuthic, techniques and pocedures.”

Pendapat yang hampir bersamaan oleh, Kartadinata (2008) mengemukakan bahwa: “model merupakan perangkat asumsi, proposisi atau prinsip yang terverifikasi secara empirik yang diorganisasikan ke dalam sebuah struktur (kerja) untuk menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan perilaku atau arah tindakan”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa model adalah suatu rencana atau pola kegiatan yang dapat digunakan untuk membentuk, merancang, dan memandu suatu kegiatan tertentu.

Dipandang dari segi konteks pembelajaran, Chauhan dan Reigluth (1983) dalam Rochyadi (2010. hlm. 44) menyatakan.

“model of teaching can be defined as an instructional design with describes the process of specifying and producing environment situasional with cause the student to interact in such away that specific change occurs in the behavior”.

“instructional model is merely a set of strategi components, it is a complate method with all of it parts (elementary components) describes in details”.

Model pembelajaran merupakan suatu kumpulan tentang komponen-komponen strategi, hal itu merupakan suatu metode yang lengkap yang menguraikan semua bagian- bagiannya (komponen-komponen dasar) secara rinci.

Joice & Weil (1980. hlm. 1) mengemukakan bahwa “a model of teaching is a plan or pattern that can be used to shape curriculum (long-term cource of studies) to design instructional materials and to guide instruction in the class room and other settings.” Selanjutnya  masih dalam sumber yang sama mengemukakan bahwa.

“enam komponen yang terkandung dalam model pembelajaran: a) orientasi; orientasi model mencakup tujuan, asumsi teoretik, prinsip dan konsep umum, yang terkandung dalam model; b) pentahapan (syntax) gambaran model yang diuraikan dalam serangkaian kegiatan yang konkret di kelas; c) sistem sosial yang dikembangkan; gambaran peran dan hubungan guru-siswa dan norma apa yang mengikat mereka di kelas; d) prinsip- prinsip mereaksi; bagaimana guru menghargai dan merespon siswa; e) sistem penunjang yang diharapkan; gambaran tentang pemanfaatan fasilitas pendukung yang mendorong siswa mudah belajar; dan f) dampak instruksional dan penyerta; dampak yang ditimbulkan baik langsung maupun tidak langsung”. (Joice & Weil; 1980. hlm. 191-194)

Pendapat para ahli di atas dimaknai bahwa model sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan komponen-komponen model yang dikemukakan di atas, maka komponen-komponen model outreach counseling dalam penelitian ini meliputi: a) rasional model outreach counseling, b) visi dan misi model outreach counseling; c) tujuan model outreach counseling; d) asumsi dasar dan prinsip kerja outreach counseling; e) pendukung sistem model ; f) teknik dan prosedur pelaksanaan (syntax) gambaran model outreach counseling yang diuraikan dalam serangkaian kegiatan secara konkret.

  1. Visi dan Misi Model Outreach Counseling ATGS

Visi bimbingan dan konseling bagi ATGS adalah; edukatif, preventif dan developmental. Oleh karena itu model layanan bimbingan di SLB adalah bimbingan dan konseling perkembangan.

Misi bimbingan dan konseling  di SLB berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, sekaligus mensukseskan Wajar Dikdas 9 tahun. Di sisi lain keberhasilan pelaksanaan bimbingan di SLB sangat bergantung pada dukungan guru sebagai pelaksana dan kebijakan pimpinan sekolah.

Berdasarkan Visi dan Misi Bimbingan Konseling bagi ATGS sangat perlu mendapat perhatian serius dalam proporsi pelaksanaan bimbingan. Hal ini dapat menjadi alasan bahwa ATGS sulit terlepas dari rasa ketegantungan/bantuan dari orang lain. Sementara sikap otoriter dan intervensi dapat memperparah keadaan mereka. Namun sikap otoriter dan overproteksi dapat dimanfaatkan oleh konselor untuk memperluas jangkauan konseling. Sehingga orang-orang terdekat dengan ATGS lebih dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan konselor.

  1. Tujuan Model Outreach Counseling

Model outreach counseling bertujuan untuk memfasilitasi guru pembimbing khusus dan sistem dalam rangka memperpanjang jangkauan dalam upaya pemberian bantuan kepada ATGS agar dapat meningkatkan kemandiriannya. Untuk mewujudkan tujuan model outreach counseling, maka diperluan kerangka konseptual yang mampu melukiskan pijakan teori yang mendasar sehingga menggambarkan pengorganisasian sistemik dan dapat diaktualisasikan dengan baik. Tujuan model outreach Counseling berorientasi pada hasil yang dicapai dari temuan model. Model ini terkait dengan upaya pembimbing dalam peningkatan layanan BK.

Kartadinata (2010) menegaskan, “…pelayanan BK bagi ATGS amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (activities daily living) yang tidak akan terisolasi dari konteks.” Oleh karena itu pelayanan BK merupakan pelayanan intervensi tidak langsung yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan fasilitasi perkembangan konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya.

  1. Asumsi Dasar dan Prinsip Kerja Model Outreach Counseling

Asumsi ini bermanifestasi budaya masyarakat di lokasi model itu dilaksanakan. Budaya tidak bisa terlepas dari tatatan, nilai dan hukum dimana budaya itu di anut sehingga model outreach counseling bisa dilaksanakan.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATGS apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATGS. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATGS dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

Sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dan mengembangkan layananan yang dirasakan sesuai dengan karakter dan kondisi ATGS, sehingga konseling yang memandirikan dapat memegang perannya di SLB. Bahwa upaya memfasilitasi kemandirian ATGS tidak mungkin dilakukan oleh konselor atau guru pembimbing saja. ATGS dengan keterbatasan inteligensi akan sulit baginya untuk menjalani proses konseling bila dihadapkan pada pengarahan diri dalam pengambilan keputusan. Konseling bagi ATGS tidaklah berlangsung dalam suasana otoriter dan dalam suasana yang vakum. Diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATGS sesuai dengan norma dan nilai-nilai budaya yang di anut sehingga outreach counseling dapat dilaksanakan. ATGS secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat.

  1. Pendukung Sistem Model Outreach Counseling

Penelitian ini dilaksanakan di kota Padang yang umumnya terdiri dari masyarakat keturunan Minangkabau. Pendukung sistem terdiri dari orang-orang, peraturan, hukum, nilai dan budaya yang digunakan di lokasi dimana model outreach counseling dilaksanakan. Sistem dimaksudkan selalu memiliki nilai-nilai budaya setempat di lokasi penelitian dilaksanakan. Dukungan sistem dan kolaboratif, merupakan kegiatan terkait dengan manajemen, dan tata kerja. Kolaborasi, konsultasi dapat membantu upaya pemandirian ATGS, pelatihan bernuansa BK bagi guru-guru secara berkelanjutan sebagai upaya profesional.

Budaya masyarakat kota Padang atau Minangkabau tercermin dalam ungkapan pepatah dan petitih yang mencerminkan kekerabatan, ditamsilkan seperti pendapat Hakimi (t.t).

“…Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, Duduak marauk ranjau, tagak meninjau jarak, Dima rantiang dipatah, disinan sumua digali, Gadang jan malendo, cadiak jan manjua, Satinggi-tinggi tabang bangau, babaliaknyo ka kubangan juo (Artinya : anak diberikan nafkah dan disekolahkan serta kemenakan dibimbing untuk menjalani kehidupannya, hendaklah mengerjakan hal-hal yang bermanfaat dan jangan menyia-nyiakan waktu, dimana kita tinggal hendaklah menjunjung adat daerah setempat, seorang pemimpin jangan menginjak anggotanya sedangkan seorang yang cerdik jangan menipu yang bodoh, sejauh-jauh pergi merantau di hari tua akan kembali ke kampung asalnya).

Konselor sekolah perlu memperhatikan budaya yang dianut dan berlaku di mana berada. Nilai-nilai budaya dalam upaya pengembangan program bimbingan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindakan lanjutan perlu diperhatikan dalam mengembangkan kemandirian ATGS.


 

  1. Teknik dan Prosedur Pelaksanaan

Tehnik dan prosedur pelaksanaan model outreach counseling ini dirancang melalui hasil koordinasi, konsultasi, dan kolaborasi antara personil yang dilibatkan dalam penelitian. Pelaksanaan model Outreach counseling selanjutnya dilakukan melalui kegiatan; persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Selama pelaksanaan model akan diperoleh informasi yang dapat berperan sebagai tindak lanjut (follow up) untuk memperbaiki dan mengembangkan model selanjutnya. Pembuktian terhadap keberhasilan model di lapangan, dilakukan dengan cara mengevaluasi model outreach counseling yang dilaksanakan melalui sesi pertemuan, untuk mengembangkan kemandirian ATGS, yang dimulai dari perencanaan, intervensi, dan evaluasi selama proses bimbingan kemandirian.

  1. E. Kerangka Berpikir Model Outreach Counseling

Agar penelitian dapat terarah dan berjalan sesuai dengan kaidah yang benar maka penelitian mengikuti pola-pola yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaannya. Untuk lebih memudahkan maka untuk melaksanakan penelitian ini di bagi kedalam dua tahap.

Kerangka pikir yang direncanakan dalam kegiatan penemuan model penelitian tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini.

Bagan 2.3 Kerangka berpikir model outreach counseling

Tahap I: Menentukan adaptasi model pendekatan outreach counseling dengan langkah sebagai berikut:

  1. Melakukan studi awal dengan mengidentifikaasi pelaksanaan kegiatan profesional guru sebagai pembimbing di SLB dalam meningkatkan kemandirian ATGS di SLB kota Padang.
  2. Melakukan identifikasi lingkungan outreach counseling yang mendukung kemandirian ATGS di SLB kota Padang meliputi; guru, orang tua dan anggota keluarga terdekat.
  3. Mengadaptasi dan mengembangkan model hipotetik outreach counseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ATGS di SLB kota Padang.
  4. Melakukan uji rasional dan revisi model melalui pendekatan outreach counseling yang bermanfaat meningkatkan kemandirian ATGS di SLB kota Padang.

Tahap II: Pelaksanaan uji lapangan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Uji efektivitas model hipotetik peningkatan kemandirian ATGS di SLB kota Padang melalui outreach counseling.
  2. Revisi dan desiminasi model outreach counseling yang dapat meningkatkan kemandirian ATGS di SLB kota Padang.

Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelusuran model outreach counseling dilakukan dalam dua tahapan seperti bagan di bawah ini.

Bagan 2.4 Tahapan penelusuran model outreach counseling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: