MODEL OUTREACH COUNSELING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TUNA GRAHITA SEDANG

  1. Rasionalisasi Model

Kemandirian Anak Tuna Grahita (ATG) dalam kegiatan sehari-hari di sekolah masih mengharapkan bantuan ataupun mendapat intervensi dari lingkungan terdekat. Lingkungan terdekat seperti; orang tua, saudara, kakek/nenek, atau orang lain di lingkungan rumah. Akibatnya ATG menunggu belas kasihan orang lain dengan menunggu diam ditempatnya tanpa mampu berbuat lebih banyak untuk kemandiriannya.

Di  kota Padang terdapat 36 Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan jumlah guru 320 orang, terdiri dari 140 orang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 180 orang guru honorer. Jumlah siswa sebanyak 1200 orang yang tersebar di SLB kota Padang, dengan jenis kelainan; tuna netra, tunarungu, tunagrahita, dan autis. Diantara populasi siswa tersebut, 80% adalah ATG. Kondisi kemandirian ATG tersebut secara umum dinyatakan guru masih rendah.

1

Hasil penelitian oleh Tork et al., (2007), menyatakan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan kemandirian pada anak usia sekolah adalah: 1) faktor demografi (usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi); 2) faktor sosial kultural (budaya dan dukungan sosial); 3) faktor psikososial (konsep diri, rasa percaya diri, dan tipe kepribadian); 4) faktor fisik (kondisi kesehatan, kemampuan beraktivitas, disabilitas yang dialami). Anak yang berusia lebih tua memiliki kemampuan perawatan diri lebih baik dari anak dengan usia yang lebih muda (Wong et al., 2002).

Zhimin (2003) mengungkap kemampuan perawatan diri pada anak usia sekolah dengan sindrom nefrotik mendapatkan bahwa pada anak berusia 6-8 tahun mampu melakukan perawatan mandiri sebesar 83%, pada anak usia 9-10 tahun sebesar 95%, dan semua anak usia 11-12 tahun yang menjadi respoden dapat melakukan perawatan mandiri.

Guru dituntut untuk mengembangkan layanan bimbingan, yang lebih mampu memberdayakan lingkungan ATG agar mereka dapat dijangkau dalam proses bimbingan yang lebih luas. Melalui counseling community diharapkan dapat dijangkau sesuai dengan kultur budaya masyarakat dimana bimbingan dilakukan. Dalam hal ini termasuk anak terbelakang mental ataupun anak yang mengalami difabel lainnya.

Kegiatan bimbingan yang mampu mengembangkan dan memperluas jangkauan di sebut dengan istilah Outreach counseling. Menurut Billie EJ Housego (1999) bahwa, “…guru harus selalu berinovasi, berusaha mencari alternatif program sekolah. Outreach counseling berlaku untuk penjangkauan masyarakat dan mengacu pada upaya peningkatkan layanan, dan telah digunakan sejak tahun 1974. Istilah “outreach” muncul pertengahan tahun 1990.”

Outreach counseling merupakan suatu model bimbingan konseling untuk memaksimalkan layanan sebagai alternatif bila proses konseling secara umumnya sulit dilakukan oleh konselor. Melalui Outreach lebih mengarahkan pada sikap konselor untuk mengambil sikap aktif dan tidak hanya membatasi program kerjanya bagi klien yang membutuhkan bantuan dalam mengatasi masalahnya.

Berkenaan dengan keterbatasan dalam kecerdasan yang berdampak pada rendahnya kemandirian ATG, oleh karena itu model outreach counseling dalam membantu meningkatkan kemandirian dirasakan sangat diperlukan. Caranya dengan melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat, agar dapat berperan serta dalam proses konseling untuk meningkatkan kemandirian ATG.

American School Counselor Association (ASCA) dalam Linda H. F, T. Steuart W, at all.  (2002) mendesak konselor untuk melakukan penelitian empiris berbasis kode etik, dapat memberikan kontribusi profesional, sehingga meningkatkan kemandirian klien. Sue and Sue (2002), sejalan dengan upaya yang dikemukakan, bimbingan perlu dilihat sebagai kultur budaya yang harus dikembangkan dalam memberikan bimbingan konseling yang profesional. Untuk meningkatkan kemandirian ATG yang berada di SLB Kota Padang maka faktor budaya juga akan sangat mempegaruhi dan mewarnai pelaksanaan bimbingan kemandirian ATG. Terutama budaya dalam sistem kekerabatan dalam masyarakat Minang Kabau. Seperti kutipan Mas’oed Abidin, bahwa hubungan kekerabatan dalam budaya (adat) Minangkabau sangat dipelihara dan saling memelihara. Pepatah Minang mengatakan, “adaik  siang ba liek-liek, adaik malam badanga-dangakan atau adaik dakek janguak-bajanguak, adaik jauah jalang-manjalang”, tersedia  www.scrbd.com/doc.6248652. Pepatah ini bersifat untuk membimbing semua anggota kaum, agar tetap berhubungan dalam suka dan duka, dan rasa tanggung jawab saling menjaga dari hal-hal yang bisa menimbulkan rasa malu yang berlalu untuk kerabat jauh dan dekat.

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999) menyatakan bahwa 84% dari Outreach dapat dilaksanakan. Selain itu pelaksanaan outreach juga diterapkan di jenjang persekolahan dan perguruan tinggi. Artinya outreach conseling diperlukan dan dapat dilaksanakan dengan tujuan untuk penjangkauan jika proses konseling pada umumnya sulit dilakukan melalui pertemuan secara langsung antara konselor dan klien.

Untuk lebih jelas dapat diperhatikan bagan di bawah ini.

  1. Visi dan Misi Model Outreach Counseling
  2. 1. Visi Model Outreach Counseling ATG

Visi Model Outreach counseling adalah; Meningkatkan kemandirian ATGS yang berbudaya Minangkabau dan berpedoman pada semboyan “Alam Takambang Jadikan Guru”.

Visi di atas perlu di jelaskan dengan alasan-alasan mengapa model Outreach counseling sesuai dengan karakteristik ATGS dan bisa dilaksanakan. Visi Bimbingan Konseling (BK) bagi ATG bertolak sebagai dasar formal, konseptual dan kontekstual bersifat; edukatif, preventif dan developmental. Model layanan bimbingan di SLB mengacu pada bimbingan yang memandirikan dengan mengurangi proteksi dan konseling perkembangan yang berintegrasi dalam pembelajaran. Dalam pendidikan ATGS kata-kata yang penuh memotivasi menjadikan suatu slogan agar mereka selalu diberikan kesempatan yang kita kenal dengan “Kami juga bisa”. Artinya budaya belajar ATGS selalu memotivasi agar mereka mau berbuat sesuai dengan kemampuan yang optimal. Dengan demikian budaya belajar anak selalu sejalan dengan tata nilai hukum dan nilai budaya Minangkabau tempat model digunakan.

Keragaman dan budaya masyarakat kota Padang yang lekat disebut budaya Orang Minang perlu diperhatikan dalam bimbingan, seperti kutipan berikut;

The Multicultural Counseling Competencies have proven successful in disseminating the idea that counseling competency without multicultural competency is impossible. The competency document is organized around three major areas:

(1) counselor awareness of own cultural values and biases, (2) counselor awareness of client’s worldview, and (3) culturally appropriate intervention trategies. Within each of these sections, the competencies are listed under the categories of (a) attitudes and beliefs, (b) knowledge, and (c) skills. It is important to note that the first section highlights the importance of the counselor’s awareness of his or her own cultural values and biases. The quest for competency is an ongoing process that begins with self-interrogation and never stops. Judith A. Lewis, et.all (2011).

Tatanan budaya kehidupan masyarakat Minangkabau lebih berperan pada rasa kebersamaan nilai-nilai sosial yang dianut seperti tingginya peran ninik mamak, kaum cerdik pandai, dan alim ulama sangat berperanan dalam tata nilai dan norma yang berlaku bagi masyarakat. Selain itu rasa kepedulian sosial masyarakat dilaksanakan sebagai kesepatan yang bersifat umum dan telah tertanam pada diri individu sebagai bagian anggota masyarakatnya. Untuk menjaga keselarasan di Minangkabau dilaksanakan berdasarkan urutan hirarki, dinyatakan oleh tamsilan Mas’oed Abidin tersedia www.scrbd.com/doc.6248652. Tanggal 20 September 2014.

“Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo ka pangulu, Pangulu barajo ka Mufakaik, nan bana badiri sandiri”.   “Kemenakan berpedoman kepada Mamak, Mamak berpedoman kepada Pangulu, Pangulu berpedoman kepada Mufakat, yang benar berdiri sendiri”.

Nilai yang dianut untuk menjaga silaturrahmi antara kerabat dapat ditamsilkan sebagai berikut. Bila dikaitkan dengan pendidikan ATGS di Minangkabau dapat menyesuaikan  bahwa tanggung jawab pendidikan terhadap anak bukanlah tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Namun peran Ninik Mamak dan Pangulu sangatlah penting demi kelanjutan pendidikan anak kemenakannya. Sementara mufakat memiliki posisi yang paling tinggi dalam penegambilan keputusan. Pola kehidupan demikian hingga kini masih terasa di Minangkabau.

Disisi lain untuk mengarahkan seseorang dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari di tamsilkan seperti kutipan di bawah ini.

“salah basapo, sasek batunjuak-an, lupo bakanakan, takalok bajagokan”. “bila salah diditegur, bila sesat ditunjuki, bila lupa diingatkan, bila ketiduran dibangunkan”.

Artinya kekerabatan di Minangkabau mengandung makna tentang kehidupan masyarakatnya yang tidak hanya mengurus diri sendiri/nafsi-nafsi. Maknanya jika dikaitkan dengan pengasuhan pendidikan bahwa baik orang tua ataupun ATGS tidaklah hidup seorang diri, akan tetapi dalam pola perilaku dan bertindak di kehidupan sehari-hari akan selalu diperhatikan oleh kaum kekerabatannya. Sesuai dengan kemampuan daya berfikir ATGS yang rendah, maka mereka selalu mendapat pengawasan bagi kaum dan masyarakatnya. Ini selalu kelihatan bahwa ATGS selalu mendapat bimbingan dan di perhatikan oleh masyarakat sekelilingnya.

Kaluak paku kacang balimbiang, Tampuruang lenggang-lenggangkan, Bao manurun ka saruaso, Anak dipangku kamanakan di bimbiang, Urang kampuang dipatenggangkan, Tenggang nagari sarato jo adaiknyo”, “Keluk pakis kacang belimbing, Tempurung lenggang-lenggangkan, Bawa menurun ke saruaso, Anak di pangku kemenakan di bimbing, Orang kampung tetap di bela, Bela negeri serta adatnya”.

Maknanya bahwa menjadi seorang laki-laki di Minangkabau tidak saja sebagai penerus dan membiayai keluarga di rumah istrinya. Namun peran yang lebih luas berlaku di kaum kerabat satu kaum dengannya, yakni melindungi anak kemenakan dan memelihara harta pusaka, memelihara, mendidik anak dan kemenakannya.

Tamsilam seperti di atas bersifat membimbing semua anggota kaum, agar mereka tetap berhubungan dalam suka dan duka, selain itu juga berfungsi menumbuhkan rasa tanggung jawab individu untuk saling menjaga sebagai kontrol supaya tidak membuat malu, bukan saja anggota kaum kerabat lainnya, tetapi juga suku, dan kampung halaman. Bila diperhatikan ada garis lurus antara ajaran dan anjuran memelihara silaturrahmi dalam agama Islam. ATGS dalam pola kekerabatan di Minangkabau tetap terpelihara kelangsungan hidupnya sesuai adat kekerabatanya. Ninik Mamak akan menjadi contoh yang akan mempertahankan harta pusaka dan kelangsungan hidupnya. Arah pendidikan anak kemenakan tetap menjadi perhatian sanak kerabatnya.

  1. 2. Misi Model Outreach Counseling ATG

Pada prinsipnya visi pendidikan ATGS di Minangkabau sejalan dengan budaya orang Minang itu sendiri yakni “alam takambang jadi guru” (alam terkembang jadi guru). Selain itu sebagai bagian dari masyarakat minang maka ATGS juga perlu memahami prinsip “tahu di nan ampek” (tahu kata mendaki, tahu kata mendatar, tahu kata melereng, dan tahu kata menurun). Pemakaian kata-kata tersebut selaras dengan visi bimbingan bagi ATGS di Ranah Minang termasuk juga masyarakat kota Padang.

  1. Misi layanan BK memiliki kepentingan dalam peningkatan mutu pendidikan.
  2. Mensukseskan Wajar Dikdas 9 tahun. Meningkatkan pelayanan bimbingan di S
  3. Mengurangi sikap otoriter dan overproteksi yang dapat dimanfaatkan oleh konselor untuk memperluas jangkauan konseling.
  4. Melibatkan orang-orang terdekat dengan ATG akan lebih dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.
  5. Melaksanakan bimbingan dalam suatu konteks keutuhan suatu simtem dalam memberikan bimbingan kemandirian pada ATG.
  6. C. Tujuan Model Outreach Counseling

Model outreach counseling bertujuan untuk memfasilitasi guru pembimbing khusus dan sistem dalam rangka memperpanjang jangkauan dalam upaya pemberian bantuan kepada ATGS agar dapat meningkatkan kemandiriannya. Untuk mewujudkan tujuan model outreach counseling, maka diperluan kerangka konseptual yang mampu melukiskan pijakan teori yang mendasar sehingga menggambarkan pengorganisasian sistemik dan dapat diaktualisasikan dengan baik. Sejalan dengan Visi dan misi  yang dijelaskan di atas maka tujuan model outreach Counseling berorientasi pada hasil yang dicapai dari temuan model. Model ini terkait dengan upaya pembimbing dalam peningkatan layanan BK.

Sunaryo; (2010) menegaskan, “…pelayanan BK bagi ATGS amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (activities daily living) yang tidak akan terisolasi dari konteks.” Oleh karena itu pelayanan BK merupakan pelayanan intervensi tidak langsung yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan fasilitasi perkembangan konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya.

Tujuan model Outreach counseling dapat di rinci seperti berikut;

  1. Outreach counseling bertujuan meningkatkan kemampuan ATGS dalam mengurus dan membina diri sendiri dengan mengurangi intervensi orang lain,
  2. Outreach counseling membantu ATGS agar dapat bergaul di masyarakat sesuai dengan kemampuan yang optimal,
  3. Outreach counseling bertujuan membantu mengembangkan kemampuan ATGS dan dapat bekerja untuk bekal hidupnya.
  4. Asumsi yang Mendasari Model Outreach Counseling

Asumsi model outreach counseling bagi ATG sebagai berikut.

  1. Bahwa penangangan terhadap upaya pemandirian ATG tidak terjadi dalam suatu kekakuan yang vakum,
  2. Bahwa sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dalam konseling yang memandirikan sesuai perannya di sekolah,
  3. Bahwa upaya pemfasilitasian ATG tidak mungkin dapat dilakukan oleh konselor sendiri, sesuai dengan keterbatasan ATG.
  4. Bahwa ATG secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat,
  5. Bahwa diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATG,
  6. Bahwa koordinasi antar lingkungan terdekat dengan ATG sangat perlu dioptimalkan dalam bimbingan kemandirian.

Asumsi model outreach counseling ini bermanifestasi budaya masyarakat Kota Padang atau budaya Minangkabau yang di cerminkan dalam tatanan budaya kehidupan sehari-hari. Budaya tidak bisa terlepas dari tatatan, nilai dan hukum dimana budaya itu di anut sehingga model outreach counseling bisa dilaksanakan. Budaya petitih Minangkabau jika dilihat peranan penggunaan kata “tahu di nan ampek” bimbingan bagi ATGS sangat kelihatan sekali dalam proses belajar di SLB. Makna kata nan ampek; 1) kata mendaki artinya dalam pengajaran siswa selalu dibimbing untuk menghormati guru atau orang yang lebih tua, 2) makna kata mendatar yakni saling menghargi antara teman di sekolah, 3) makna kata malereng yakni mengerti dengan kata-kata sindiran, 4) makna kata menurun yakni berbahasa lemah lembut kepada yang lebih kecil. Sebagai guru atau pembimbing di SLB harus mampu menerapkan sepanjang proses bimbingan di sekolah.

Orang Minangkabau menurut A.A. Navis  dalam Irdawati memiliki hubungan yang kuat antara sesamanya. Mereka tidak bisa keluar dari lingkungannya karena “suku tidak bisa dialihkan, malu tidak dapat dibagi” (suku tidak dapat dialihkan, malu tidak dapat di bagi). Adalah kewajiban setiap orang meningkatkan nilai kerabatnya yang setali darah menurut system matrilinial, meningkatkan nilai suku atau kaum, bukan orang lain. Tersedia di  http://download.portalgaruda.org/article.php?article=25

Asumsi budaya seperti dijelaskan di atas dapat digunakan sebagai hal yang mendasari bahwa model Outreach Counseling dapat dilaksanakan dalam meningkatkan kemandirian ATGS di kota Padang.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATGS apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATGS. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATGS dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

Sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dan mengembangkan layananan yang dirasakan sesuai dengan karakter dan kondisi ATGS, sehingga konseling yang memandirikan dapat memegang perannya di SLB.

Ketunagrahitaan bermanifestasi dalam, kesulitan dalam “Adaptive Behavior” atau penyesuaian perilaku. Hal ini berarti ATG tidak dapat mencapai kemandirian yang sesuai dengan ukuran (standard) kemandirian dan tanggung jawab sosial; mengalami masalah dalam keterampilan akademik dan berpartisipasi dengan kelompok usia sebaya.

Keterampilan dalam kemandirian harus melalui proses belajar. Sunaryo, (2010), pengembangan bakat khusus bagi konseli tidak terjadi dalam suatu ruang kefakuman, melainkan selalu menggunakan bidang studi sebagai konteks pembinaan bakat. Ini berarti bahwa, wilayah pelayanan keahlian seorang konselor juga perlu dipetakan dengan mencermati peran konselor, berkaitan dengan pelayanan BK yang memandirikan bagi konseli yang berbakat khusus. Memfasilitasi secara maksimal pengembangan potensi konseli berbakat khusus tidak dapat dilakukan sendirian oleh konselor atau oleh psikolog, akan tetapi harus dengan peran serta dari guru-guru serta lingkungan terdekat akan memberikan arti yang jauh lebih besar.

Bahwa upaya pemfasilitasian kemandirian ATGS tidak mungkin dilakukan oleh konselor atau guru pembimbing sendiri. ATGS dengan keterbatasan dalam inteligensi akan sulit baginya untuk menjalani proses konseling apabila dihadapkan pada pengarahan diri dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian konseling bagi ATGS tidaklah berlangsung dalam suasana otoriter dan dalam suasana yang vakum. Diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATGS sesuai dengan norma dan nilai-nilai budaya yang di anut sehingga outreach counseling dapat dilaksanakan. Sehingga ATGS secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat dimana mereka berada.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATG apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATG. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATG dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

  1. E. Sistem Kekerabatan dan Budaya di Kota Padang

Sistem dimaksud berupa orang-orang, peraturan, hukum, nilai dan budaya yang digunakan di lokasi dimana model Outreach counseling dilaksanakan. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa sistem dimaksudkan selalu memeliki nilai-nilai budaya setempat. Kota Padang yang umumnya terdiri dari masyarakat keturunan orang Minangkabau. Dengan demikian budaya yang digunakan berupa budaya Minangkabau.

Budaya masyarakat Kota Padang atau orang Minang tercermin dalam ungkapan pepatah dan petitih yang ditamsilkan seperti pendapat kutipan Idrus Hakimi Dt Rajo Pangulu.

Anak dipangku, kamanakan dibimbiang (Artinya : anak diberikan nafkah dan disekolahkan, serta kemenakan dibimbing untuk menjalani kehidupannya)

Duduak marauk ranjau, tagak meninjau jarak (Artinya : hendaklah mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, dan jangan menyia-nyiakan waktu)

Dima rantiang dipatah, disinan sumua digali (Artinya : dimana kita tinggal, hendaklah menjunjung adat daerah setempat)

Gadang jan malendo, cadiak jan manjua (Artinya : seorang pemimpin jangan menginjak anggotanya, sedangkan seorang yang cerdik jangan menipu orang yang bodoh)

Satinggi-tinggi tabang bangau, babaliaknyo ka kubangan juo (Artinya : sejauh-jauh pergi merantau, di hari tua akan kembali ke kampung asalnya),

Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Minangkabau. tgl 19 Nov 2014

Dukungan sistem merupakan kegiatan yang membangun, memelihara dan memperkuat model outreach counseling di sekolah. Upaya pengembangan program bimbingan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindakan lanjutan.

Kegiatan merencanakan model outreach counseling meliputi beberapa pertimbangan: (a) model bimbingan outreach counseling yang disusun harus relevan dengan kebutuhan dan masalah ATGS; (b) model outreach counseling perlu mempertimbangkan karakteristik kebutuhan dan keterlaksanaan program sekolah; (c) situasi dan kondisi fasilitas; personel, ruangan, dana, dan peralatan; (d) model outreach counseling dijabarkan dalam kerangka kerja terinci dan sistematis; (e) model outreach counseling perlu menentukan organisasi dan mekanisme kerja dan bentuk kerjasama, dan (f) dan untuk menilai keberhasilan model outreach counseling maka diperlukan adanya penilaian terhadap model yang telah dilaksanakan.

Pemanfaatan sumber daya masyarakat dalam model outreach counseling meliputi mengidentifikasi sumber daya masyarakat dan menjalin kerjasama yang dapat dilakukan dengan; orang tua, anggota keluarga, masyarakat, instansi terkait yang mendukung model outreach counseling secara lebih luas. Prioritas hubungan dengan orang tua haruslah diintensifkan dengan cara saling bertukar informasi melalui buku penghubung antar orang tua dan konselor.

Pengembangan dan penataan kebijakan model outreach counseling di sekolah, melalui penunjukan koordinator BK oleh kepala sekolah bekerjasama dengan guru kelas lainnya untuk merumuskan teknik, waktu, dan tempat pelaksanaan model outreach counseling.

Dukungan sistem dan kolaboratif, merupakan kegiatan yang terkait dengan manajemen, dan tata kerja. Kolaborasi atau konsultasi dengan berbagai pihak yang dapat membantu upaya pemandirian ATGS, pelatihan pembelajaran bernuansa BK bagi guru-guru, termasuk pengembangan kemampuan guru BK/konselor secara berkelanjutan sebagai profesional.

  1. Materi Model Outreach Counseling Kemandirian ATGS

Materi yang dijadikan bahasan dalam model outreach counseling ini dikembangkan berdasarkan studi awal yang dilaksanakan pada bulan Februari 2014 terhadap ATGS di Kota Padang. Penelitian awal tersebut dilakukan guna mengungkap data baseline kemandirian ATGS di lima SLB Kota Padang. Materi yang diuji dalam pengungkapan kemandirian ATGS tersebut berkenanan dengan kegiatan “kemandirian mengurus diri sendiri” yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan seperti di bawah ini.

Rincian materi dijabarkan dalam bentuk uraian kegiatan berikut.

  1. Kegiatan makan dan minum, menyiapkan makanan, dan membantu memasak di dapur meliputi; a) mengenal peralatan makan, b) makan dengan tangan, c) makan dengan sendok dan garpu, d) minum dengan gelas, sedotan, minuman dalam kemasan, e) mengenal jenis makanan dan minuman, f) makan dan minum yang sopan, g) makan tepat waktu, h) menyiapkan makan di meja, i) mengenal peralatan memasak, j) membantu memasak di dapur.
  2. Membersihkan dan merapikan diri meliputi berbagai kegiatan berikut; a) mencuci tangan, b) berkumur-kumur, c) menggosok gigi, d) mencuci muka, e) mencuci kaki, f) mencuci rambut, g) membersihkan mata, h) membersihkan kuku, i) membersihkan badan saat mandi, j) menyisir rambut, k) menyemir sepatu, l) memakai bedak, m) menggunakan minyak wangi.
  3. Membersihkan lingkungan dan kesehatan badan meliputi kegiatan berikut; a) membersihkan alat-alat rumah tangga, b) menata dan member-sihkan ruangan, c) buang air kecil dan besar, d) menggunakan obat sederhana, f) melakukan olahraga sederhana, g) membersihkan dapur, h) membersihkan WC, i) merapikan peralatan sekolah, j) menyimpan dan merapikan mainan.
  4. Kegiatan berbusana meliputi meteri berikut; a) mengenal macam-macam pakaian luar, b) mengenakan pakaian luar, c) mengenal macam-macam pakaian dalam, d) mengenakan pakaian dalam, e) memasang kancing dan retsleting, f) mengenakan sepatu tanpa tali, g) mengenakan sepatu bertali, h) mengenakan kaus kaki, i) mengenakan ikat pinggang.
  5. Kerjasama, meliputi kegiatan berikut; a) kerjasama dengan masyarakat, b) kerjasama dengan yang lebih tua, c) kerjasama dengan yang lebih muda, d) kerjasama dengan Ayah/Ibu, e) kerjasama dengan kakak, f) kerjasama dengan adik, g) kerjasama dengan kakek/nenek, h) kerjasama dengan guru, i) kerjasama dengan teman.
  6. Persyaratan Personil Pelaksana Model Outreach Counseling

Menentukan persayaratan sebagai konselor perlu diperhatikan beberapa kondisi pendukung agar layanan Outreach counseling dapat dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah tempat pelaksanaan model. Misalnya, di SLB selama ini belum ada tenaga profesional bimbingan konseling yang khusus menangani layanan bimbingan. Semua usaha layanan bimbingan hanya ditangani oleh guru kelas dengan standar pendidikan sarjana. Persaratan personil/konselor pembantu untuk dapat melaksanakan model outreach counseling akan dibagi sesuai kebutuhan dan fungsi serta peran keterlibatan dari masing-masing personil. Sejalan dengan persaratan personil pembantu dalam pelaksanaan model dimaksud sejalan dengan pendapat yang dikutip dari Corvelay.

1) Persaratan bagi Kepala Sekolah

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang konselor pendidikan khusus
  2. Disarankan memiliki gelar Magister Pendidikan
  3. Berpengalaman sebagai kepala sekolah minimal lima tahun terakhir
  4. Pernah mengikuti perkuliahan bimbingan dan konseling
  5. Memiliki pengalaman praktek bimbingan terhadap ATG
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di tempat model outreach counseling

2) Persaratan bagi guru

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang guru pendidikan khusus.
  2. Memiliki gelar Sarjana/S1Pendidikan
  3. Memiliki pengalaman mengajar minimal lima tahun terakhir
  4. Pernah mengikuti perkuliahan bimbingan dan konseling
  5. Memiliki pengalaman praktek bimbingan terhadap ATG
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di tempat model outreach counseling dilaksanakan

3) Persaratan bagi orang tua

  1. Adalah orang tua kandung dari ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku anaknya/ATGS dengan baik
  3. Memiliki kesabaran, penyanyang dan memiliki sifat keibuan
  4. Memiliki niat baik untuk meningkatkan kemandirian ATGS
  5. Menyukai tantangan dalam membimbing ATGS
  6. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam system pelaksanaan model outreach counseling
  7. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling

4) Persaratan Bagi Anggota Keluarga

  1. Adalah saudara kandung atau pengasuh dari ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku ATGS dengan baik
  3. Memiliki sifat sabar, penyanyang
  4. Memiliki sifat sosial tinggi dan suka membantu orang lain
  5. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam system pelaksanaan model outreach counseling
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling dilaksanakan

5) Sarat bagi Teman Senior

  1. Adalah teman senior dari sekolah yang sama dengan ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku ATGS dengan baik
  3. Memiliki sifat sabar, penyanyang, dan suka membantu
  4. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam sistem pelaksanaan model outreach counseling
  5. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling dilaksanakan
  6. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Outreach counseling

Langkah-langkah pelaksanaan model outreach counseling ini dirancang setelah melalui hasil diskusi, koordinasi yang panjang antara personil yang dilibatkan dalam penelitian. Selanjutnya langkah-langkah pelaksanaan  akan mengikuti penyederhanaan yang dikemukan Sukmadinata (2006; 189) (R&D Borg & Gall) menjadi tiga langkah utama. Langkah pelaksanaan model outreach counseling dibagi dalam kelompok; persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Langkah pelaksanaan model Outreach counseling selanjutnya digambarkan seperti di bawah ini.

  1. Persiapan
  2. Melakukan pengambilan data baseline untuk mendapatkan gambaran tentang kemandirian yang telah di kuasi oleh subjek peneltian.
  3. Berdasarkan data baseline ditetapkan pengkajian materi yang terdiri dari; a) makan dan minum, b) kebersihan diri, c) kebersihan lingkungan, d) berbusana, dan e) kerjasama.
  4. Merncanakan tehnik bimbingan sesuai dengan karakteristik ATGS, selanjutnya juga di tetapkan lokasi dimana bimbingan dilakukan. Bimbingan dilakukan sesuai dengan kegiatan sehari-hari yang bersifat rutinitas anak.
  5. Selanjutnya menyediakan program layanan bimbingan kemandirian yang disusun berdasarkan data baseline.
  6. Pelaksanaan
  7. Melaksanakan proses treatmen bimbingan yang dilakukan oleh tenaga Outreach counseling oleh; Kepsek, Guru, Orang tua, Anggota keluarga, Teman senior.
  8. Selama proses treatmen dilakukan komunikasi, kolaborasi dan koordinasi antar sesama pelaksana bimbingan Outreach Ini dilakukan untuk mendapatkan dan membicarakan kemajuan yang capai siswa serta membicarakan kendala-kendala atau hal-hal pendukung proses treatment.
  9. Menggunakan daftar cheklis untuk melakukan penilaian peningkatan kemandirian siswa.
  10. Wawancara dengan para pelaksana bimbingan kemandirian dilakukan dalam rangka mengecek kebenaran data.
  11. Membuat dokumen bimbingan kemandirian berupa foto-foto sebagai data cetak yang bermanfaat untuk mendukung data utama. Kegiatan tersebut dinamakan dengan tehnik pengambilan data.
  12. Pengambilan data dilakukan setiap minggu selama empat kali dalam satu bulan berturut-turut.
  13. Evaluasi
  1. Data yang telah terkumpul selama pelaksanaan penelitian akan di olah berdasarkan kelompok data yang terdiri dari; data baseline1, data treatment, dan data baseline2.
  1. Selanjutnya ketiga data di atas akan diolah dengan menggunakan analisa grafik sesuai dengan metode pengolahan data. Pengolahan data menggunakan disain A-B-A dari SSRD.
  2. Berdasarkan pengolahan data akan dilakukan pembahasan dengan menggunakan kajian teori pelaksanaan bimbingan konseling dan juga teori pendukung lainnya.
  3. Hasil pengolahan data selanjutnya akan digunakan sebagai pedoman untuk membuktikan uji efektivitas model Outreach counseling yang telah dilakukan.
  4. Melakukan penarikan kesimpulan dari pelaksanaan model Outreach counseling yang telah dilakukan di sekolah tempat penelitian.
  5. Penyusunan laporan hasil pelaksanaan model Outreach counseling sebagai temuan akhir dalam meningkatkan kemandirian ATGS.

Pelaksanaan model Outreach counseling yang telah diuraikan di atas dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Gambar IV.1 Pelaksanaan Model Outreach Counseling

  1. Evaluasi dan Indikator Keberhasilan Model Outreach Counseling

Evaluasi terhadap model bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan dan ketercapaian model outreach counseling. Untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektifan model outreach counseling akan disesuaikan dengan disain eksperiment A-B-A SSRDs. A-B-A Disign digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan eksperiment dalam penelitian, Linda H. F, T. Steuart W, at all. (2002). Evaluasi program dilakukan dengan cara berkolaborasi antara peneliti dan beberapa unsur yang terlibat dalam team work model outreach counseling antara lain.

  • kepala sekolah sebagai koordinator guru pembimbing
  • guru kelas yang lebih banyak terlibat dalam upaya peningkatanan kemandirian ATGS di sekolah
  • orang tua dimana dalam keseharian waktu anak lebih banyak bersama di rumah
  • anggota keluarga memegang peranan sebagai orang terdekat dalam lingkungan keluarga
  • teman senior sebagai pembantu guru dalam membimbing yunior dalam kegiatan kemandirian di sekolah.

Dari informasi di atas dapat diketahui sejauh mana keberhasilan layanan model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS. Informasi ini dapat ditetapkan sebagai tindak lanjut (follow up) untuk memperbaiki dan mengembangkan model selanjutnya. Pembuktian terhadap keberhasilan model di lapangan, dilakukan dengan cara mengevaluasi model outreach counseling yang telah diintervensikan melalui sesi dan durasi pertemuan, untuk mengembangkan kemandirian ATGS, mulai dari perencanaan, evaluasi proses dan hasil bimbingan kemandirian.

Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan grafik intervensi dan fase baseline dua  untuk mempetegas peningkatan kemandirian. Berdasarkan grafik akan terjadi peningkatan yang lebih baik dari pada fase baseline pertama. Peningkatan kemandirian pada fase baseline dua akan tergambar pada tampilan grafik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, proses bimbingan lebih berhasil meningkatkan kemandirian ATGS. Bimbingan yang dimaksud adalah melalui model outreach counseling yang lebih melibatkan orang-orang terdekat dengan lingkungan ATGS sehari-hari.

Keterlibatan orang yang berada di lingkungan ATGS dalam outreach counseling berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari konselor. Agar dapat melakukan tugasnya dengan baik sebagai konselor maka haruslah mempunyai prinsip dalam bekerja. Menurut Geldard, K dan Geldard D (2011: 10-24) ada beberapa kriteria agar efektif dan optimal  konselor haruslah memiliki kriteria sebagai berikut.

Hubungan anak-anak dan konselor harus menjadi mata rantai yang menghubungkan dunia anak-anak dan konselor.

  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus eksklusif, sehingga anak-anak merasakan hubungan yang unik dengan konselor yang tidak ada campur tangan pihak lain yang dirasakan sikap saling menerima.
  • Konselor harus menciptakan lingkungan yang permisif yang dapat mrmberikan kebebasan anak-anak untuk bersikap dan memberikan perasaan aman
  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus autentik sehingga tidak terjadi kepura-puraan
  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus bersifat rahasia
  • Konselor tidak boleh mencampuri urusan anak-anak (hubungan nonintrusif)
  • Hubungan antara anak dan konselor haruslah mempunyai tujuan

Berdasarkan kriteria di atas konselor harus mampu menunjukkan hubungan dengan anak-anak tercipta dan terjaga dengan baik.  Sebagai pembimbing ATGS di SLB dan juga orang-orang yang berada di lingkungan terdekat dengan anak harus memiliki prinsip dan kriteria tersebut. ATGS sesuai dengan keterbatasannya mereka juga memiliki sifat kenakan yang lebih panjang dari perkembangan anak normal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Borg. W.R & Gall, M.D (1989) Educational Research, New York; Longman

Clinton, E, at all. (99) Outreach Counseling, Tersedia http://www.highfields.org/index.asp?pgid=99

Corvelay. http://www.ehow.com/how_4897826_become-special-education-counselor.html#ixzz1Xt6dqDbm

Depdiknas, (2008) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia

_________, (2007), Rambu-rambu Penyelenggaran Bimbingan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia.

_________, (1997). Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum SLB-C, Pedoman bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta.

_________, (2003). Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2003, Undang-Undang Sistem Pendidikan Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Derrick A. Paladino H.D, Jr. (2006). Counseling and Outreach Strategies for Assisting Multiracial College Students, HAWORTH. E-mail:  docdelivery@haworthpress.com. Tersedia di  Website: http://www. HaworthPress.com

Drum, D.J. Howard F, E. (1977) Outreach In Conseling, Tersedia; http://www.sagepublications.com

Efendi, J. (1999). Upaya meningkatkan kemandirian Tunagrahita Ringan, di SPLB-C YPPLB Cipaganti Bandung, Thesis, SPS IKIP Bandung, Tidak diterbitkan.

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999). Outreach Concern http://www.bosco.org.2012

Havananda, S. (2007) Methodology Of Self Help Care For Mentally Retarded People. August 2007 www.globethics.net/Library

Juang Sunanto. (2005) Pengantar Penelitian dengan Subjek Tunggal. Centre for Research on International cooperation in Education Development (CRICED) University of Tsukuba.

Judith A. Lewis, et.all (2011). Community Counseling: A Multicultural-Social Justice Perspective, Fourth Edition. Brooks/Cole. 20 Davis Drive. Belmont, CA 94002-3098. USA. Tersedia di; www.cengage.com/permissions

Kartadinata, S (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Bandung: Tesis PPS IKIP Bandung. tidak diterbitkan.

_________, (1996). Peningkatan Mutu Pengembangan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. (laporan Penelitian). FIP IKIP Bandung. Tidak di terbitkan.

________, (2010) Re-Desain Pendidikan Profesional Guru, UPI Press. Bandung.

________, (2011). Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis. UPI Press. Bandung.

Neely, A. M, (1982). Counseling and Guidance Practices with Special Education Students. Kansas State University, The Dorsey Press, Homewood, Illinois.

Sukmadinata, N.S (2006) Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, Remaja Rosda Karya.

Sunardi, (2005). Pedoman Pelaksanaan BP di SLB, PLB FIP UPI, Bandung

Tork, H., Lohrmann, C., & Dassen, T. (2007). Care dependency among school-aged children: Literatur review. Nurshing and Health Sciences, 9, 142-149

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012) Panduan Penulisan Akademik, Program Studi Bimbingan dan Konseling. Sekolah Pasca Sarjana. Bandung. 2012

Wong, D. L et al. (2009) Keperawatan Pediatrik, Volume 1. Edisi 6. Jakarta. EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Zhimin, L. Et al. (2003). Self-care in Chinese school-aged children with nephritic symdrome, Am. J. Maternal Child Nursing, 28: 81-85


 

Sumber Jurnal:

Allen Rubin. (1991). The Effectiveness of Outreach Counseling and Support Groups for Battered Women: A Preliminary Evaluation. Research on Social Work Practice 1991 1: 332. University of Texas at Austin. http://rsw.sagepub.com/content/1/4/332

Bruce A. C, at all. (1985). A Methodology for the Quantitative Synthesis of Intra-Subject Design Research. J Spec Educ 1985 19: 387. http://sed.sagepub.com/content/19/4/387

David L. W and Louis M, (1978).Self-Help Skills Training: A Review of Operant Studies. J Spec Educ 1978 12: 253 Download 30 January 2013. http://sed.sagepub.com/content/12/3/253

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999). Implementation of Outreach Telephone Counseling to Promote Mammography Participation. Health Education & Behavior, Vol. 26 (5): 689-702 (October 1999) © 1999 by SOPHE http://heb.sagepub.com/content/26/5/689

Linda H. Foster, (2010). A Best Kept Secret: Single-Subject Research Design in Counseling sagepub.com/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/2150137810387130 http://core.sagepub.com

Linda H. F, T. Steuart W, at all.  (2002). Single-subject research design for school counselors: Becoming an applied researcher. Professional School Counseling, 6(2), 146-154. American School Counselor Association: http://www.schoolcounselor.org/

Mas’oed Abidin. Minangkabau dan Sistem Kekerabatan. Tersedia; www. scribd.com/doc/3611582

Orhan Cakiroglu. (2012). Single subject research: Applications To Special Education. British Journal of Special Education © 2012 NASEN. Published by Blackwell Publishing Ltd, 9600 Garsington Road, Oxford OX4 2DQ, UK and 350 Main Street, Malden, MA 02148, USA. DOI: 10.1111/j.1467-8578.2012.00530.xjs1..29

Thomas A. C, at all, (2008). The Family Outreach Model: Tools for Engaging and Working With Families in Distress. Journal of Family Social Work. Vol. 11(2) Tersedia di http://jfsw.haworthpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: