OUTREACH COUNSELING BAGI ANAK TUNGRAHITA RINGAN

2. Definisi Outreach Counseling dan Kemandirian ATGS

Definisi outreach counseling merupakan suatu program pendekatan koseling untuk memaksimalkan layanan konseling sebagai alternatif bila proses koseling secara umumnya sulit dilakukan oleh konselor. Outreach menyarankan agar konselor perlu mengambil sikap aktif dan tidak membatasi program kerjanya terhadap klien yang bermasalah dan membutuhkan bantuan. Konselor outreach dituntut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mampu membicarakan dengan orang-orang yang beresiko terhadap masalah-masalah sosial tertentu.

“Teachers in innovative, alternative schools and programs have attempted, for more than 30 years, to meet the needs of students who either cannot or will not pursue their education in traditional high schools. In Alberta, a few educators began as early as 20 years ago to attempt to meet the needs of these students. The term outreach, which applies to community outreach and outreach counselling and refers generally to efforts to increase the availability and utilization of services, especially through direct intervention and interaction with the target population.” Housego (1999).

“…community-based approach in the field of college counsel­ing since the late 1960s, the primary focus of college counseling remains on individual and group treatment. For example. Stone and Archer (1990) sur­veyed a number of college counseling centers and found that only 24% of their staff time was spent in outreach and consultation. called for a further evolution by suggesting a paradigm shift, one aspect of which would be further development of the counselor’s role as campus educator”. (Crego, 1990).

Definisi outreach dimaknai sebagai program konseling yang dirancang untuk memperluas dampak layanan di luar penanganan langsung terhadap masalah. Istilah ini digunakan untuk pendekatan spesifik dan unik yang menawarkan layanan konseling terhadap program meningkatkan kemandirian ATGS. Outreach dirancang untuk memperluas dampak layanan kesehatan mental di luar remediasi langsung terhadap masalah. Berarti penjangkauan baik secara fisik dan psikologis untuk mencari cara-cara tambahan yang impactive.

Outreach akan memberikan kontribusi penting sebagai program individual. Termasuk intervensi yang berfokus pada transaksi individu dengan kehidupan dan lingkungan belajar, seperti pemetaan ekosistem, psychoecology, dan teknik lingkungan; intervensi berfungsi pencegahan, dan intervensi melibatkan lingkungan baru yang dapat membantu, seperti konseling naturalistik.

Outreach biasanya tergantung pada tingkat keinginan konselor untuk memvariasikan waktu intervensi. Menambah jumlah pembimbing yang terlibat, untuk diversifikasi metode yang digunakan dalam intervensi, untuk mengubah fokus dari intervensi, dan untuk mengubah pengaturan dan derajat keterlibatan.

Konselor yang bekerja dengan populasi terpinggirkan seperti orang-orang miskin, tunawisma, dan pengangguran; individu dengan masalah kesehatan akut atau kronis; dan korban orang dewasa, rasisme, heterosexism, seksisme, dan bentuk-bentuk penindasan lainnya. Meskipun populasi ini berbeda satu sama lain, mereka secara rutin mengalami tingkat stres yang lebih tinggi daripada lingkungan yang harus ditanggung. (Israel, 2006, p. 151) dalam Lewis A.J. dkk. (2011. hal.115).

The realities of marginalization and oppression make it clear that the role of community counselors must be to work with their clients within the broadest possible context. “Because oppression likely contributes to marginalized individuals’ vulnerabilities to mental health problems, individualistic interventions must be accompanied by societal and systemic solutions”.

Para konselor professional akan selalu berusaha mengembangkan berbagai program dalam rangka menjangkau layanan konseling lebih luas dan lebih leluasa mengembangkan layanan professional mereka, seperti kutipan di bawah ini.

Professional Outreach is committed to providing individuals with the knowledge and understanding of how to control their mental health. Psychologists provide evaluations and assessments in the client’s home, in the office, in the community or in another location. Services include family and individual counseling, parenting education, and substance abuse and psychological testing and services. Coming soon will be dentistry and physical therapy. (US Fed News Service, 26 May 2007).

Sejalan dengan kebutuhan layanan outreach counseling, saat ini sudah banyak dikembangkan dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan jangkauan yang lebih luas. Perkembangan layanan outreach counseling yang lebih profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

  1. Beberapa Alasan Melakukan Outreach Counseling dalam Meningkatkan Kemandirian ATGS

Konselor komunitas masyarakat dapat membantu klien yang kurang beruntung/terpinggirkan dalam mengembangkan rasa empati menjadi kekuatan pribadi dalam empat cara mendasar yang dikemukakan Lewis A.J. dkk. (2011. hal.115).

  1. End the self-devaluing and internalized oppression that result from external limitations and labeling.
  2. Bring marginalized individuals currently excluded from various aspects of school or community life into the mainstream of social interaction.
  3. Facilitate efforts to increase the power of the marginalized group to strive for needed social changes.
  4. Increase community responsiveness to the needs and rights of marginalized individuals and groups.

Beberapa alasan munculnya inisiatif para konselor untuk memunculkan outreach counseling di lingkungan kampus menurut pendapat Archer & Cooper (1998. Hlm. 131 -132).

  1. “…Adopt a primary outreach, consultation role as an initiator and catalyst for system change. Encourage and foster campus wide efforts to change and modify norms as well as the culture of campus groups and environments to promote health and development and to prevent dysfunctional and destructive behavior among students.
  2. Be aware of the politics of the institution.
  3. Participate in the outcome assessment mechanism of the institution to ensure that it assesses the broad-based objectives articulated in the college catalog.
  4. Develop and use various communication methods to discuss devel­opmental and mental health issues within the campus community.
  5. Secure a role in faculty development activities, particularly those related to personal and career development.
  6. Foster the development, maintenance, and coordination of parapro- fessional peer education and peer counseling programs on campus.
  7. Develop and coordinate self-help prevention/developmental programs using the best available technology.
  8. Develop expertise in mass communication strategies to assist campus groups that are attempting to change harmful campus norms or to develop norms that support the mission of the institution.
  9. Delegate the coordination, »execution. and development of campus- wide outreach and environmental change projects to students, staff, faculty, and administrative constituencies to the fullest extent possible.
  10. Capitalize on opportunities such as crises or campus-wide concerns to initiate and foster needed programs and to modify campus norms and sub-environments.
  11. Provide organizational consultation consultation for academic and service departments on campus”.

Beberapa langkah yang perlu diikuti dalam melaksanakan program outreach community menurut Lewis A.J. dkk. (2011. hal.101-102).

Ideally, outreach programs for vulnerable clients should adhere to the following guidelines:

  1. Use all available sources of client support, including family members, extended family members, peers, co-workers, church affiliates, counselors, and others who can serve as role models for successful coping.
  2. Provide opportunities for clients to help themselves and one another.
  3. Inform clients about the nature of the new roles or situations they face.
  4. Help clients develop the coping skills they will need to manage their specific situations effectively.
  5. Use methods that enhance clients’ sense of control over their situations and their lives.
  6. Implement services that reflect an accurate understanding of and demonstrate a genuine respect for the cultural integrity and needs of clients.

Berkenaan dengan konseling anak-anak yang dikembangkan melalui layanan outreach community Lewis A.J. dkk. (2011. hal.119) menyatakan seperti di bawah ini.

The programming for children is almost completely dependent on community outreach, with clinic visits tending to be reserved for the more serious mental health problems. Play therapy is provided by units that are located within the schools.

The outreach methods are designed not just to provide direct assistance but also to build a network of helpers who are trained to recognize signs of trauma. In the schools, training is provided for students, teachers, counselors, and parents. A large kindergarten program enlists kindergarten teachers, teaching them how to detect problems and provide help. The trained teachers, with assistance from mental health professionals, then carry out workshops for parents. Additional outreach for children is provided through summer camp projects.

Beberapa hal yang penting dari konseling komunitas yakni penjangkauan dengan melibatkan orang-orang yang berada dalam tekanan lingkungan dan keterampilan mengatasi masalah. Apakah peristiwa tertentu mencerminkan bencana dalam komunitas yang luas atau transisi pribadi, orang-orang yang bergulat dengan stres yang luar biasa sehingga memerlukan bantuan praktis, positif, dan pemberdayaan mereka yang bermasalah. Dalam kasus atau peristiwa traumatis yang mempengaruhi masyarakat, membantu individu harus didasarkan pada asumsi bahwa orang akan mampu bertahan jika mereka menerima bantuan yang mudah diakses,bersifat praktis, dan memiliki kompetensi budaya yang sesuai.

Keberhasilan program membantu konselor dengan mempedomani kerangka konseling dalam membangun masyarakat terhadap apa yang diketahui tentang situasi dan resiko dalam mengatasi masalah. Tindakan tersebut membantu klien mendapatkan kepercayaan diri dan rasa aman sebagai kontrol karena mereka belajar untuk mengatasi tantangan hidup agar lebih efektif.

Outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS  akan lebih mengoptimalkan lingkungan sosial terdekat ATGS. Lingkungan terdekat tersebut meliputi; orang tua, keluarga, dan lingkungan sekolah, teman senior (peer sistem), serta aksesibilitas yang menunjang bagi pemandiriannya. Masalah ATGS dapat menjadi kekuatan dalam memotivasinya, bahwa hidupnya berada di luar kendalinya akibat ketidak berdayaan intelektual. Makna outreach counseling dimaksudkan sebagai setting konseling yang memerlukan keterlibatan orang-orang terkait dalam rangka membantu memecahkan permasalah klien. Banyak di antara klien dalam pemecahan masalahnya memerlukan keterlibatan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan pihak lain dilakukan atas dasar izin dari klien, dan juga berdasarkan kebutuhan konselor untuk memberikan layanan secara profesional pada klien. Berkenaan dengan bimbingan, outrech counseling bagi ATGS sangat penting untuk melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat. Keterlibatan orang-orang dalam proses konseling bagi ATGS sangat berhubungan dengan kemampuan inteligensi yang rendah dan sesuai dengan karakteristik mereka.

“…we understand that the counseling relationship requires an atmosphere of trust and confidence between the student and the counselor. Professional responsibilities of school counselors is to fully respect the privacy rights of those with whom they enter counseling relationships. Counselors can jeopardize confidentiality when health and safety of students and / or others in danger. Despite all counseling is confidential, it is the purpose of school counselors and to involve a parent or guardian whenever possible. Consent forms for services are made available to all parents / guardians. If problems arise that seem to need the help of more than academic counselor can provide, then the referral will be made to care outreach program.” Bosco (2012).

Oleh karena itu pendekatan outreach counseling dalam membantu meningkatkan kemandirian sangat diperlukan. Pendekatan yang melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat dapat berperan serta dalam proses konseling untuk meningkatkan kemandirian ATGS.

Evette dan Susan. dkk. (1999) hasil penelitiannya yang menerapkan intervensi outreach counseling melalui telepon terhadap perempuan untuk mengkonsultasikan masalah kesehatan. “…sebanyak 83% dari wanita memenuhi panggilan konseling.  Konselor  menilai 84% dari panggilan dapat diselesaikan dengan baik sebagai reseptif atau netral dalam kurun waktu tertentu.” Artinya outreach conseling diperlukan dan dapat dilaksanakan untuk tujuan memperpanjang jangkauan yang sulit dilakukan melalui pertemuan secara langsung antara konselor dan klien.

Outreach counseling di sekolah pada umumnya tentu akan berbeda dengan pelaksanaan di SLB. Outreach counseling tidak menjadi progam utama, namun, ia akan memberikan kontribusi penting sebagai program yang bersifat individual bagi ATGS. Intervensi terutama pada pencegahan secara alami, dan intervensi terhadap lingkungan baru yang dapat dilakukan dalam proses konseling.

Beberapa alasan kebutuhan melakukan outreach counseling bagi guru sebagai konselor di SLB sebagai berikut.

  1. Dalam rangka memfariasikan waktu intervensi, waktu untuk melaksanakan bimbingan kemandirian oleh guru bagi ATGS terbatas dalam waktu yang sangat singkat. Untuk itu diperlukan variasi waktu dalam melaksanakan proses bimbingan. ATGS selama berada di luar lingkungan sekolah masih perlu bimbingan dan pemantauan dari pihak sekolah dengan melibatkan orang-orang yang berada dilingkungan terdekat dengan ATGS.
  2. Untuk melibatkan orang lain sebagai pembantu saat konseling. Adakalanya proses konseling itu sulit menjangkau klien secara langsung maka outreach bisa dilaksanakan dalam rangka memperpanjang dan memperluas jangkuan konseling, sehingga program tidak monoton pada model pendekatan klasik.
  3. Memvariasikan metode yang digunakan dalam intervensi. Kadangkala kejenuhan menghampiri petugas konseling, untuk itu mereka dapat melakukan perluasan dengan lebih melibatkan orang-orang lain dan dianggap berkopenten dalam melaksanakan tugas professional konseling, sehingga konseling tetap dapat berjalan dengan harapan membantu klien agar mampu mengatasi permasalahannya.
  4. Untuk mengubah fokus selama intervensi, menghindari pendekatan yang monoton seorang konselor membutuhkan variasi dalam memberikan layanan bantuan konseling. Dengan adanya variasi dalam layanan akan membuat konselor dapat bekerja dalam banyak vokus untuk menghindari kejenuhan.
  5. Untuk mengubah dan mengatur tingkat keterlibatan seorang konselor dalam proses konseling. Kadang dalam pekerjaan sebagai pembimbing diperlukan berbagai pengaturan dan strategi untuk melibatkan orang-orang tertentu, sehingga pekerjaan lebih rilek dan variatif dalam mengatur tingkat keterlibat dalam membantu pekerjaan konselor.

Pandangan bimbingan yang bersikap over protektif dari pembimbing dan orang tua terkadang juga dibutuhkan, seperti pendapat Geldard dan Geldard  (2011. hlm. 437).

  1. “…Perilaku over protektif membutuhkan pemahaman batasan yang tepat dan kemampuan mencari bantuan untuk mendapatkan perlindungan dari bahaya.
  2. Oleh karena sikap yang beragam terkait batasan dalam keluarga, seringkali dibutuhkan keterlibatan orang tua dengan anak-anak mereka dalam pendidikan perilaku over protektif.
  3. Membantu anak-anak dan/orangtua menyadari perbedaan antara harapan social, budaya, dan keluarga merupakan hal yang dibutuhkan sehingga keputusan yang sesuai dapat dibuat.
  4. Merupakan hal yang biasa diinginkan agar orangtua terlibat di dalam pembangunan rencana keamanan anak-anak sehingga mereka didukung untuk menjalankan rencana tersebut.
  5. Anak-anak harus di berdayakan sehingga mereka mampu melaporkan contoh-contoh perilaku yang tidak sesuai dan membagi informasi rahasia disaat yang tepat.”

Jika dimaknai berbagai alasan di atas maka outreach counseling dapat dikembangkan dalam upaya mengembangkan kemandirian ATGS. Artinya guru perlu melakukan inovasi agar dapat menjangkau sasaran bimbingan konseling yang lebih luas.

Outreach counseling pada dasarnya bersifat pasif-reaktif. Fokusnya pada pemulihan gangguan yang lebih parah sehingga membuat seseorang tidak efektif. Masalah akan menjadi kekuatan memotivasi diri, agar klien menyadari bahwa hidupnya berada di luar kendalinya. Model pasif-reaktif secara terang-terangan mengabaikan pencegahan, namun tergantung pada penurunan ketergantungan untuk kelangsungan hidup klien.

“…Outreach counseling available for individuals and families affliated with the Department of Human Services that requires intervention for behavioral health problems. Services generally occur in the home consumer, and includes 1 to 3 fifty-minute sessions per week, depending on your needs.” Clinton, dkk. (2011).

Menyikapi kutipan di atas bahwa outreach counseling disediakan bagi orang yang membutuhkan intervensi untuk menangani masalah perilaku yang sehat. Outreach counseling dapat dilaksanakan di rumah klien, dan disesuaikan dengan kebutuhan. Melalui outreach counseling konselor mempromosikan berbagai bentuk keragaman layanan yang bisa mempengaruhi pengalaman siswa dan cara siswa belajar meliputi berbagai aspek, seperti pendapat di bawah ini.

“Different forms of diversity include “language background, race, culture, ethnicity, gender, socioeconomic status, religious affiliation, family configuration, physical or psychological exceptionalities, sexual orientation, and literacy experiences.” “Successful” outreach counselors can identify and demonstrate appropriate counseling strategies for diverse populations and are able to adjust counseling styles to effectively respond to their students’ needs”. Okoji (2008. Hlm. 43).

Konselor yang melaksanakan outreach counseling memiliki keinginan untuk meningkatkan layanan terhadap penanganan masalah kemandirian ATGS. Sebagai konselor outreach counseling di SLB harus memiliki beberapa keterampilan dan spesialisasi tertentu yang mampu menjawab kebutuhan siswa agar lebih mandiri baik di sekolah maupun di rumah. Kesuksesan konselor dalam layanan outreach counseling lebih memahami iklim sekolah dalam memberlakukan norma-norma budaya yang berbeda dari budaya di rumah. Konselor outreach counseling harus mampu mengidentifikasi hambatan, iklim sekolah yang membuat siswa dan keluarga, dan memilih metode yang positif. Sejalan dengan upaya meningkatkan kemandirian ATGS maka peranan outreach counseling dapat dilaksanakan oleh guru SLB. Artinya dengan keterbatasan waktu bagi guru sebagai pembimbing, outreach counseling dapat dipilih sebagai sarana perpanjangan jangkauan yang dilaksanakan berdasarkan kolaborasi, koordinasi antara  guru dan orang tua, di lingkungan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari dengan ATGS. Dengan memaksimalkan peranan outreach counseling diharapkan tercapai peningkatan kemandirian ATGS dalam mengurus diri sendiri.

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh peneliti sepanjang sejarah penelitian pendidikan khusus dengan metodologi berbeda. Usaha membantu peningkatan kemandirian dan pengembangan kecakapan telah dimulai sejak awal abad ke-19.

Mc. Gaspar Itard (1962) “…The Wild Boy of Aveyron, there was a tradition of discovery, development, experimentation, and verification. Initially, the research methods employed in the field that was to become special education research were derived from medicine”,  Odom. dkk. (2005).

Hingga kini upaya penelitian terus dikembangkan, baik melalui upaya pendidikan dan konseling. Bagi ATGS di sekolah, dimana guru memegang peranan yang tidak dapat dihindari. Seperti upaya kemandirian ATGS yang belum teratasi secara maksimal. Tulisan ini akan mengetengahkan upaya penelitian di bidang konseling dengan model outreach counseling.

Alasan yang dikemukakan disesuaikan dengan kebutuhan penulisan, yang kemudian dinyatakan sebagai berikut. Morrill dkk. (1972)  dikutip dalam Drum dan Figler (1977).

  1. “…Jumlah jangkauan konseling di SLB yang disediakan relatif kecil, sehingga variasi dan kedalaman pendekatan penjangkauan sangat terbatas.
  2. Menggambarkan situasi (waktu dan energi) yang dikhususkan untuk kegiatan outreach lebih memiliki rentang jangkauan pendekatan yang lebih luas. Bagi ATGS yang memiliki keterbatasan dalam berintegrasi akibat kecerdasan yang terbatas lebih memungkinkan dilakukan outreach counseling.
  3. Program konseling lebih mengutamakan perkembangan yang terstruktur pada setiap program layanan konseling.”

Hal senada juga dinyatakan dalam pendapat Odom (2005). “…Special education research, because of its complexity, may be the hardest of the hardest-to-do science. One feature of special education research that makes it more complex is the variability of the participants.

            Di negara maju juga telah muncul berbagai organisasi yang bekerja dalam program outreach centre counseling seperti berikut.

(Galvin, 2012), “…Outreach Centers are non-profit organizations that receive state money through DVS to assist veterans and their families with a range of services. These vary by location and can include:

  1. Assistance and referrals to obtain federal and state veterans’ benefits
  2. Food pantry and clothing closets
  3. Transportation services
  4. Community activities
  5. Peer counseling
  6. Professional counseling
  7. Substance abuse counseling
  8. Anger management
  9. Post-traumatic stress counseling.

Cara kerja konselor dalam layanan outreach selalu menggunakan kerangka teori dalam praktek konseling seperti ditegaskan dalam kutipan berikut.

“…the outreach counselor works from a theoretical framework. The “successful” outreach counselor uses a theoretical framework to guide counseling practice and activities. “Accomplished school counselors use their extensive knowledge of the theories and best practices that support their profession to develop a sound, consistent, professional philosophy of counseling that guides their work with a diverse student population”. (NBPTS, 2002, hlm. 2); Okoji, (2008, hlm. 45)

Pusat pengambangan penelitian oleh Meharry di Nashville, telah menggunakan model konseling komunitas sebagai panduan  pengembang program yang dibangun pada beberapa teoritis yang mendasar (D’Andrea, 1994, p. 186) dalam Lewis A.J. dkk. (2011. Hal.107).

  1. Adolescents’ interactions with their environment can have either negative or positive effects on their mental health and personal development.
  2. A multifaceted approach is more efficient than a single-service approach.
  3. Outreach, prevention, and educational services are more appropriate to use in promoting the personal development of teenage mothers than remedial services.
  4. When providing counseling services to vulnerable populations, counselors need to be sensitive and responsive to the unique cultural, ethnic, and racial characteristics of the persons in the targeted group.

Beragam layanan konseling  kesemuanya ditujukan dalam memperluas jangkauan memberikan bantuan agar konseli terbebas dari permasalahannya dan dapat hidup normal. Bagi penyandang kelainan dan mereka yang membutuhkan layanan khusus tentu sangat diperlukan upaya bimbingan yang sangat sesuai dengan kebutuhan layanan mereka. Dalam mengembangkan aspek-aspek kemandirian ATGS yang perlu penanganan secara lebih konsiten merupakan pemicu munculnya upaya penelitian di bidang konseling seperti dimaksud dalam penelitian ini. Dengan melakukan outreach counseling pada ATGS dilibatkan beberapa komponen sistem sebagai upaya pendukung.

Sunardi (2005) menyatakan, “…layanan bimbingan di SLB pada umumnya belum memiliki tenaga ahli khusus di bidang bimbingan dan konseling.” Maka dalam implementasinya menjadi tanggung jawab guru dan dilaksanakan bersamaan dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dalam konteks Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagian besar kegiatan pendidikan hendaknya berbasis bimbingan. Untuk itu penting bagi setiap guru di SLB memahami secara benar tentang konsep layanan dasar bimbingan. Lebih lanjut dijelaskan, “…Mengingat kompleksitas permasalahan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus, pelaksanaan bimbingan dan konseling bagi mereka hanya akan berhasil apabila dalam implementasinya juga melibatkan lingkungan, terutama orang tua serta tenaga ahli yang multidisipliner”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: