Pentignya Bimbingan & Penyebab Rendahnya Kemandirian Anak Tunagrahita

  1. Pentignya Bimbingan Kemandirian bagi ATGS

ATGS adalah individu yang secara signifikan memiliki intelegensi di bawah intelegensi normal. Menurut Standford-Binet Score dan Wiscr-R Score, apabila ditinjau dari kurva normal, ATGS berada di sebelah kiri kurva yaitu pada posisi -2, dengan skor inteligensi yang merentang dari 30 sampai 78. Ketunagrahitaan bermanifestasi dalam: Kesulitan dalam “adaptive behavior” atau penyesuaian perilaku. Hal ini berarti ATGS tidak dapat mencapai kemandirian yang sesuai dengan ukuran (standard) kemandirian dan tanggung jawab sosial; Mengalami masalah dalam keterampilan akademik dan berpartisipasi dengan kelompok usia sebaya.

Difinisi tentang tunagrahita (terbelakang mental) pada abad ke-dua puluhan bervariasi jika dilihat dari berbagai disiplin profesi. Pandangan yang terbuka dibuat oleh American Association on  Mental Retardation (AAMR) yaitu suatu organisasi yang terdiri atas banyak latar belakang profesi, di antaranya medis, hukum, dan pendidikan, yang mengatakan seperti berikut.

“…mental retardation refers to significantly subaverage general intelectual functioning existing concurrently with deficits in adaptive behavior, and manifested during the developmental period.” Grossman, (1983) dalam Hardman, dan Michael (1990. hlm. 90).

Makna yang lebih esensial dibuat oleh asosiasi psikiatri Amerika yang mendukung definisi dari AAMR tersebut terdiri atas tiga komponen utama yaitu; Intelligence, adaptive behavior, and the developmental period. Kemampuan inteligensi, berdasarkan rata-rata tes IQ normal adalah 100, sedangkan untuk anak terbelakang mental menunjukan angka tes IQ di bawah  100. Dalam hal penyesuaian tingkah laku kelihatan sangat kurang dan sedikit sekali kemampuannya dalam hal menolong diri sendiri. Keterbelakangan mental terjadi pada periode perkembangan sejak lahir sampai usia 18 tahun. Definisi anak tunagrahita menurut American Association on Mental Deficiency (AAMD) sebagai berikut.

“…mental retardation refers to significantly subaverage general intellectual functioning resulting in or associated with concurrent impairments in adaptive behavior manifested during the develompemntal period. In this definition “significantly subaverage general intellectual functioning” refers to an IQ of 70 or below on a standardized tes of intelligence such as the Stanford-Binet Intelligence Scales for Children or one of the Wecshler intelligence scales. (Terman & Merrill, 1973) or one of the Wechsler intelligence scales. This score represents performance that is two standard deviations below the mean, or average score, on these tests. The AAMD Manual states that an IQ of 70 should be viewed only as a guideline; in some school placement decicions it minght be extended upward to 70.”

 “…mental retardation refers to a level of functioning which requires from society significantly above average training procedures and superior assets in adaptive behavior, manifested throughout life. The mentally retarded person is characterized by the level of power needed in the training process for (the person) to learn, and not by limitations on what (the person) can learn. The height of a retarded person’s level of functioning is determined by the availability of training technology, and the amount of resources society is willing to allocate and not by significant limitations in biological potential.” Linch, W. Eleanor; (1992. hlm. 102).

Senada dengan definisi yang dikemukakan di atas (Amin; 1995. hlm. 18) menyatakan seperti berikut. “Anak  terbelakang mental atau anak tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya jelas berada di bawah rata-rata. Mereka mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak, yang sulit dan berbelit-belit. Mereka memerlukan layanan pendidikan secara khusus agar mereka dapat berkembang optimal.”

Robert P. Ingals (1978. hlm. 5) dalam Amin (1995. hlm. 20)  memberi sebutan bagi anak tunagrahita sebagai berikut. “Mental retardation, mental defiency, mentally defective, mentally handicaped, feeblemindedness, mental subnormality, amentia and oligophrenia.” Istilah yang umum dipakai ialah yang digunakan oleh AAMD yaitu mental retardation. Sedangkan PBB menggunakan istilah mentally retarded atau intellectually disabled yang dicanangkan pada tahun penderita cacat 1981 dengan tema “The Year of Disable Person”. Sedangkan istilah yang sering dipakai di Indonesia adalah terbelakang mental, dan tunagrahita.

2. Faktor Penyebab Rendahnya Kemandirian ATGS

Havananda (2007) menyatakan hasil penelitian di yayasan kesejahteraan tungarahita di Thailand. Ia menyatakan bahwa, “hanya 20-30% orang tua ATGS yang memiliki kepedulian terhadap rendahnya kemandirian ATGS disebabkan oleh beberapa faktor. Meskipun layanan telah berkembang, orang-orang tunagrahita masih memiliki masalah dalam aksesibilitas.”

  1. Ekonomi: Kemiskinan merupakan faktor penghambat pemberian pelayanan. Orang tua tidak memiliki waktu dan uang untuk membawa anak-anak ke pusat-pusat layanan yang diperuntukkan bagi ATGS.
  2. Budaya dan tradisi: Mereka percaya pada karma. Kecacatan dipandang sebagai akibat dari satu itu perbuatan masa lalu. Tidak ada cara untuk meningkatkan, biarlah apa adanya. Orang tua mereka malu untuk mengekspos anak-anak mereka dan menjaga mereka di rumah, mencegah mereka dari memiliki kehidupan sosial. Beberapa telah dipandang rendah oleh individu / kelompok.
  3. Pendidikan: Pemahaman dalam mendidik penderita keterbelakangan mental yang masih sedikit dan sulit dijangkau dan sulit di
  4. Hubungan Publik: Komunikasi adalah salah satu masalah. Meskipun ada beberapa macam media massa tetapi program tentang ATGS sangat langka atau kurang mendapat perhatian. Tergantung keseriusan pemerintah dalam menangani kemandirian.
  5. Komunikasi: ATGS memiliki keterampilan komunikasi yang kurang. Mereka disimpan di rumah dengan komunikasi terbatas pada tetangga karena mereka tidak diterima dengan baik di antara teman-teman, terutama dengan lingkungan teman sebaya.
  6. Transportasi merupakan salah satu keterbatasan ATGS, Bagi mereka yang tinggal di desa sulit memiliki kesempatan dalam pelatihan di sekolah.
  7. Agama: 90% penduduk Thailand adalah Buddha. Buddha mengajarkan kita untuk menjadi murah hati dan pemaaf. Orang-orang religius akan berbuat baik kepada ATGS dengan cara menyantuni.
  8. Kepedulian Kesehatan: Beberapa keluarga tidak memiliki masalah kesehatan. Di sisi lain, beberapa keluarga memiliki masalah kesehatan lebih parah, menyebabkan ATGS kehilangan kesempatan melatih diri.
  9. Advokasi: Ada sejumlah LSM & GO advokasi untuk orang MR karena keterbatasan anggaran yang disediakan oleh pemerintah.
  10. Partisipasi Masyarakat: masalah utama masyarakat adalah kekhawatiran tidak ada anggaran, meskipun ada kebijakan untuk membantu ATGS.
  11. Kebijakan: Pemerintah memiliki pandangan politik pada bantuan terhadap ATGS.
  12. Sosialitas: sosialitas bersifat “materialisme” karena dari banyak faktor, terutama materialisme.

Pendapat di atas dapat dimaknai bahwa banyak faktor sebagai penghambat kematangan kemandirian bagi anak, termasuk faktor keseriusan orang tua, guru, lingkungan dan berbagai pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: