Peranan Koordinasi, Konsultasi, dan Kolaborasi dalam Outreach Counseling

  1. Koordinasi dalam Outreach Counseling

Jika dilihat makna kata “komunikasi, kerjasama, konsultasi , kolaborasi dan koordinasi. Kata-kata ini saling melengkapi satu sama lain untuk membentuk konseptual dasar yang menggambarkan makna kerja sama sebagai sebuah tim di sekolah. Dalam kegiatan konseling banyak kegiatan yang saling mendukung dalam makna kata yang hampir bersinggungan maknanya. Pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangan peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada peserta didik tertentu atau yang dipanggil saja”, melainkan untuk seluruh peserta didik (Guidance and counseling for all).

“…the roles of collaboration and negotiation to reach intersubjectivity between the students, families, and counselors can be promoted by using what students bring to the classrooms from their home or communities – their “everyday experiences” (Bayer, 1990) – their “funds of knowledge.(Velez & Greenberg, 1992/2005; dalam Okoji; 2008).

Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan oleh guru semua guru, guru bimbingan dan konseling/konselor, dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu, masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dalam hubungan fungsional kemitraan kolaboratif antara konselor dengan guru mata pelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal). Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru mata pelajaran perlu dirujuk kepada guru bimbingan dan konseling/konselor untuk penanganannya, demikian pula sebaliknya. Layanan bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua (guidance and counseling for all), dan oleh karena itu tidaklah tepat jika orientasinya hanya kepada pemecahan masalah, melainkan mencakup orientasi pengembangan (developmental) dan pemeliharaan (maintanance) serta pencegahan (preventive) secara menyeluruh. Layanan bimbingan dan konseling adalah upaya memfasilitasi perkembangan individu (dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir) ke arah kemandirian (dalam hal menetapkan pilihan, mengambil keputusan, dan tanggung jawab atas pilihan dan keputusan sendiri) untuk mewujudkan diri (self-realization) dan kapasitas pengembangan (capacity development). Kerjasama antara guru bimbingan konseling/konselor dengan guru mata pelajaran merupakan suatu keharusan. Sejalan dengan paparan di atas, perlu kita lihat makna kata tersebut dalam sisi pandang konseling.

O’Hanlon (2002, hlm. 8) dalam Sundari (2011, hlm. 58) mengemukakan “Not one to be confmed by purist thinking” sehingga konselor bukanlah satu- satunya sumber pemecahan masalah. Berbagai variasi sumber pemecahan itu ada dan terdapat di masyarakat yang terangkum dalam jaringan kerja sosial yang diciptakan konselor. Ini mengisyaratkan bahwa konseling perlu dipertimbangkan secara matang sebagai wujud usaha kolaboratif antara konselor, klien dan para ahli yang terkait, mampu berbagi bersama dengan keahlian dan kesahihannya. Oleh karena itu, seorang konselor perlu menciptakan penyelesaian dalam suatu permasalahan (co creating solvable problems) secara bersama-sama dengan pihak-pihak lain yang terkait.

Sebagai konselor  ia akan memainkan peranan penting dalam melukiskan dan pembentukan di dalam konteks konseling, seperti kutipan di bawah ini.

“…school counselors are the point of contact for parents and students to obtain assistance and research has shown that effective communication and collaboration are critical in linking schools with families (Clark et al., 2004; Giles, 2005; Lee, 2001; Martin & Hagan-Burke, 2002; Taylor & Adelman, 2000; Trumbull et al., 2001).

Effective communication includes the meaningful participation of students and their families in the decisions that affect their educational experiences (Salzman, 2001). Effective communication between the school and home is achieved when the schools understand the cultural values and orientation of their families. A student’s perspective of the world, how they carry out everyday tasks, how they communicate, how they respond to others, and how they learn are all determined by elements of their culture.” (Trumbull et al., 2001; dikutip dalam Okoji; 2008).

Dollarhide dan Saginak (2010, hlm. 197) menyatakan definisinya, “coordination is a counselor initiated leadership process in which the counselor helps organize and manage the comprehensive guidance program and related services.” Lebih lanjut dijelaskan dalam definisi ini tertanam beberapa konsep penting seperti berikut; 1) kegiatan koordinasi terhubung dengan kepemimpinan, 2) kegiatan koordinasi tidak sebagai fungsi pasif dari program konseling sekolah secara komprehensif, 3) koordinasi sangat penting bagi organisasi dan, pengelolaan program.

Konselor yang baik dalam kegiatan sehari-hari melakukan koordinasi sebagai bagian aktif dari pekerjaannya. Konselor berkoordinasi dalam gagasan, sumber daya, bahan, dan personil tentang desain dan penciptaan program, dan semua ide-ide, sumber daya, bahan, dan personil untuk membuat program. Koordinasi termasuk penjadwalan pertemuan dengan kelompok-kelompok konseling, konselor, guru dan orang tua ATGS. Bagitu juga halnya di SLB bahwa, konselor sekolah perlu mengkoordinasikan hubungan antara sekolah dan orang tua. Orang tua yang memiliki ATGS sebagai bagian dari organisasi sekolah, seperti struktur komite, kurikulum dan pelatihan orang tua, menyediakan layanan keluarga, layanan ketenagakerjaan, dan pelatihan keterampilan hidup.

  1. Peranan Konsultasi dalam Outreach Counseling

Dettmer dan Peggy dkk. (2005) menyatakan pendapatnya bahwa.

“…consultation is a triadic helping relationship where a consultant (professional) facilitates the development of knowledge and skills in a consultee (professional, paraprofessional, or non-professional), who in turn interacts directly with the client or client group.”

Seorang konsultan sekolah merupakan fasilitator komunikasi yang efektif, kerjasama, dan koordinasi yang menganugerahkan, konsultasi, dan bekerja sama dengan personil sekolah lainnya, personel pendukung, siswa, dan keluarga dalam sebuah tim yang membahas pembelajaran khusus dan kebutuhan perilaku siswa. Hubungan kerjasama antara konselor sekolah dengan pihak keluarga digambarkan dalam kutipan Okoji (2008) adalah.

“…relationships of reciprocity were formed, established by mutual trust between the teacher and families (Gonzalez, Moll, Floyd-Tenery, et al., 1995; Messing, 2005; Moll et al., 2005). This reciprocal relationship of mutual trust, or “confianza” (Gonzalez, Moll, & Amanti, 2005, p. 3; Velez & Greenberg, 2005, p. 61) between the families and teachers focused on what students or families could bring to the classroom and what the teachers could give to the students.” (Gonzalez et al., 2001; Messing, 2005; Moll, 1992).

Konselor sekolah dapat bertindak sebagai konsultan bagi kepala sekolah. Sebagai konsultan, konselor sekolah dapat menentukan rasio absensi, mengidentifikasi penyebab ketidakhadiran, mengusulkan solusi untuk mengatasi penyebab, dan beberapa solusi kehadiran untuk kepentingan kepala sekolah dan memberdayakan masyarakat sekolah.

  1. Peranan Kolaborasi dalam Outreach Counseling

Makna kolaboratif mengacu pada tujuan yang ingin dicapai oleh pihak-pihak yang melakukan kolaboratif, maka di antara mereka harus melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian secara bersama-sama, sebagaimana dikemukakan Idol & Baran Schmidt;  (2003. hlm. 60) bahwa ‘In collaborative, planning and implementing are joint  effort’. Dettmer, Peggy., dkk. (2005).

Bimbingan dan konseling kolaboratif adalah suatu proses intervensi konselor melalui kerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam rangka memberikan layanan kepada konseli dengan cara mengubah pandangan, tindakan, dan suasana dirinya, memahami, menyadari, memaksimalkan dan mengefektifkan potensinya seoptimal mungkin dalam hubungan kemitraan.

Guru dan konselor yang terlibat dalam kolaborasi hendaknya memahami secara jelas karakteristik kolaborasi, sehingga memungkinkan pihak-pihak yang berkolaborasi berpartisipasi secara optimal sesuai dengan tugas, peran dan tanggungjawab masing-masing. Cook dan Frend (1993) dalam Frans & Bursuck (1994. Hlm. 76) mengemukakan bahwa, ‘karakteristik kolaborasi didasari oleh sukarela, kesetaraan hubungan, tujuan bersama, tanggung jawab terhadap hasil, mampu menjadi sumber, kepercayaan dan kepentingan konseli.’ Selain itu pihak-pihak yang berkolaborasi harus memahami prasyarat  melakukan kolaborasi, yaitu adanya sikap saling percaya, memiliki keterampilan berinteraksi, dan memberikan kontribusi terhadap lingkungan.

Konselor harus berkerjasama dengan orang tua dalam rangka memberdayakan perpanjangan jangkauan. Dengan demikian akan lebih banyak program outreach counseling yang bisa di berdayakan demi kemandirian ATGS. Konselor dalam melaksanakan outreach dalam meningkatkan kemandirian ATGS diharapkan  memelihara  hubungan  dan mampu menjaga hubungan dalam berkolaborasi demi penanganan ATGS. Kolaborasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan outreach counseling. Dengan  kolaborasi melalui sistem seperti; kepala  sekolah  dan  guru,  menentukan tujuan dan pilihan yang harus dilakukan, dan mengutamakan hasil di mana bila posisi penangan ATGS sulit dijangkau secara langsung oleh guru sebagai konselor.

“Layanan bimbingan dan outreach counseling hanya dapat tercapai optimal jika terjadi kolaborasi profesional antar guru dan implementasi layanan harus ditopang oleh manajemen dan kepemimpinan sekolah yang kokoh.” Kompas (2009).

Pengalaman kolaborasi akan dimiliki apabila ada rasa percaya dan interes dari masing-masing pihak. Cook & Frend (1993) dalam Frans & Bursuck, (1994. hlm. 76) menyebutkan beberapa karakteristik kolaborasi.

  1. Landasan kolaborasi bersifat sukarela yang menunjukkan adanya keterbukaan dan kesiapan untuk berpartisipasi dalam kegiatan.
  2. Kolaborasi dilandasi oleh kesetaraan hubungan antara pihak-pihak yang terkait, adanya saling mengakui antara pihak yang satu dengan pihak yang lain.
  3. Kolaborasi hanya akan terjadi apabila ada tujuan bersama.
  4. Mau menerima perbedaan antara anggota kelompok yang dilandasi oleh tujuan bersama di antara mereka.
  5. Kolaborasi termasuk tanggungjawab terhadap hasil. Sebagai tanggungjawab bersama terhadap keputusan hasil yang dicapai.
  6. Melalui berkolaborasi mampu menjadi sumber dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan yang dilakukan.
  7. Dasar kolaborasi adalah memiliki kepercayaan dan interes. Kepercayaan merupakan salah satu dasar terjadinya kolaborasi.

Koordinasi dan kolaborasi konselor, memberikan contoh kepemimpinan dan advokasi dengan mitra di sekolah, dikutip dalam Iswari, M. (2006).

  1. Koordinasi dan kolaborasi berbagai tim bertujuan untuk mengatasi masalah sistemik siswa yang berisiko atau bila tidak berfungsi secara efektif di sekolah. Pendekatan diskusi harus fokus pada budaya, masyarakat, dan masalah sekolah yang mungkin mengganggu fungsi siswa, dan menimbulkan dukungan profesional dari (Jackson & White, 2000).
  2. Koordinasi dan kolaborasi pekerjaan pendidik khusus dan profesional lainnya di sekolah untuk; a) memberikan dukungan layanan pendidikan sebagai transisi khusus bagi siswa yang cacat, b) selalu mendukung pengembangan holistik siswa dengan ketidakmampuan belajar yang berisiko dan kekerasan pemuda (Barr & Parrett, 2001).
  3. Mengintegrasikan layanan berbasis sekolah dalam menyediakan layanan kesehatan mental di sekolah kesehatan berbasis klinik kesehatan mental, untuk menyediakan one-stop akses.
  4. Lebih mengintegrasikan layanan dari konselor sekolah dengan psikolog sekolah untuk mengurangi tumpang tindih.
  5. Mengkoordinasikan dan kolaborasi evaluasi iklim sekolah untuk kekerasan, rasisme, pelecehan seksual, dan aktivitas geng, untuk membantu dalam seleksi guru baru, agar lebih efektif dengan masalah-masalah disiplin yang mempengaruhi sekolah dengan menambahkan komponen konseling.
  6. Diharapkan mampu memimpin dan advokasi bagi karyawan sekolah.

Dengan demikian melalui proram kemitraan yang selalu terjaga akan membuat pola-pola hubungan kondusif untuk dapat menjangkau dan memperluas layanan konseling. Kolaborasi, koordinasi yang baik secara nyata akan mampu menjaga advokasi sekolah melalui konseling. Memaknai persolan dan kedudukan outreach counseling dari koordinasi, kolaborasi, konsulatasi dan fungsinya dapat dilihat bagan di bawah ini. Maksud dari paparan di atas mengetengahkan peran kolaborasi, koordinasi dan konsultasi bagi guru SLB sebagai konselor agar dapat melaksanakan program outreach counseling dengan mencermati pentingya peranan masing-masing agar dilakukan dalam rangka membantu meningkatkan kemandirian ATGS. Di samping itu sebagai guru dan fungsinya sebagai konselor dapat teratasi. Tentu tugas konselor akan lebih ringan dengan melibatkan orang-orang dalam suatu sistem untuk  berkolaborasi dan berdiskusi terhadap masalah kemandirian ATGS yang sulit diatasi oleh guru secara langsung.

Bagan 2.2 Peranan konsultasi, koordinasi, kolaborasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: