PRINSIP, TEKNIK, DAN PROSEDUR PEMBELAJARAN BKPBI (Penulis Agus Irawan Sensus, M.Pd.)

PRINSIP, TEKNIK, PROSEDUR BKPBI

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

Pembelajaran Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI) merupakan program kekhususan yang ditujukan untuk mengoptimalkan sisa pendengaran dan kemampuan komunikasi verbal pada anak tunarungu. Pembelajaran BKPBI ini memiliki karakteristik tersendiri sebagai konsekuensi dari sifat materi, metode pembelajaran yang digunakan, alat pendukung yang digunakan, dan karakteristik ketunarunguan sebagai subyek dalam pembelajaran ini. Atas dasar inilah, melaksanakan pembelajaran BKPBI harus didasarkan pada kompetensi guru secara profesional.

Dalam upaya menciptakan pembelajaran BKPBI secara profesional, maka pola pembelajaran yang dilaksanakan harus didasarkan pada kaidah keilmuan dan petunjuk praktis yang terstandar, serta best practis dari para praktisi yang memiliki pengalaman di bidang BKPBI. Tuntutan pembelajaran BKPBI yang harus dilaksanakan secara profesional tersebut, berimplikasi terhadap penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari guru-guru yang akan mengajarkan BKPBI dimaksud.

Dalam Permendiknas No. 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, khususnya dalam lampiran program kekhususan BKPBI, dinyatakan salah satu kompetensi guru SLB adalah menguasai prinsip, teknik, dan prosedur pembelajaran BKPBI. Tuntutan kompetensi yang tercantum dalam Permendiknas dimaksud, dijadikan sebagai rujukan dalam membuat kurikulum diklat berbasis kompetensi yang dilaksanakan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (PPPPTK TK dan PLB).

Salah satu program diklat yang dikembangkan di PPPPTK TK dan PLB adalah Diklat Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI). Untuk menunjang optimalisasi belajar peserta diklat, maka disusunlah sejumlah modul yang terkait dengan diklat BKPBI. Modul ini disusun untuk memberikan pendalaman materi tentang prinsip, teknik, dan prosedur pembelajaran BKPBI. Memperhatikan content (materi) yang dibahas dalam modul ini, peserta pelatihan diharapkan memperoleh gambaran yang fundamental dalam melaksanakan pembelajaran BKPBI secara konseptual, terstruktur, dan profesional.

  1. Deskripsi Singkat

Modul ini menyajikan materi utama tentang prinsip, teknik, dan prosedur pembelajaran BKPBI, dengan rincian pembahasan membahas tentang: (1) prinsip-prinsip pembelajaran BKPBI; (2) teknik pembelajaran BKPBI;dan (3) prosedur pembelajaran BKPBI.

  1. Tujuan Pembelajaran
  2. Kompetensi Dasar

Peserta menguasai prinsip, teknik, dan prosedur pembelajaran BKPBI

  1. Indikator Keberhasilan

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan memiliki kompetensi untuk:

  1. Menjelaskan prinsip-prinsip pembelajaran BKPBI
  2. Menerapkan teknik pembelajaran BKPBI
  3. Menerapkan prosedur pembelajaran BKPBI
  1. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
    1. Prinsip-prinsip Pembelajaran BKPBI
  • Prinsip Umum dalam Pembelajaran BKPBI
  • Prinsip Cibernetik dalam Pembelajaran BKPBI
  • Prinsip Kontras dalam Pembelajaran BKPBI
  • Prinsip Individualitas dalam Pembelajaran BKPBI
  • Prinsip Keterpaduan dalam Pembelajaran BKPBI
  1. Teknik Pembelajaran BKPBI
  • Teknik Latihan Prawicara
  • Teknik Pembentukan Fonem
  • Teknik Pembentukan Penggemblengan, Penyadaran Irama/Aksen
  • Teknik Pengembangan
  1. Prosedur Pembelajaran BKPBI
    • Deteksi Bunyi Musik/Bahasa
    • Diskriminasi Bunyi Musik/Bahasa
    • Identifikasi Bunyi Musik/Bahasa
    • Komprehensif Bunyi Musik/Bahasa

BAB II

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BKPBI

 

Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat menjelaskan  prinsip-prinsip pembelajaran BKPBI.

 

  1. Prinsip Umum dalam Pembelajaran BKPBI

Prinsip umum dalam pembelajaran BKPBI dimaksudkan sebagai kerangka pikir dan tindakan yang dapat dijadikan petunjuk umum bagi guru dalam mengajarkan BKPBI. Prinsip-prinsip umum BKPBI ini dapat dipahami juga sebagai kaidah umum yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengoptimalkan keberhasilan program pembelajaran BKPBI bagi anak tunarungu. Bambang Nugroho (2002: 16), mengemukakan ada 6 prinsip umum yang harus diperhatikan oleh guru dalam membelajarkan BKPBI, yakni: (1) anak tunarungu harus secara terus-menerus dimasukkan ke dalam dunia bunyi; (2) BKPBI hendaknya diberikan sedini mungkin (sisa pendengaran perlu diberi rangsangan bunyi secara terus-menerus dan teratur); (3) memperhatikan prinsip-prinsip umpan balik (prinsip cibernetik) dalam dunia bunyi: irama, bunyi, gerak; (4) hendaknya digunakan pendekatan multisensory; (5) BKPBI dilaksanakan secara sistematis, teratur, berkesinambungan, terprogram baik materinya maupun jumlah waktu yang dibutuhkan; dan (6) BKPBI merupakan bagian integral dari proses pemerolehan bahasa anak tunarungu.

Untuk memberikan gambaran secara detail tentang ke-enam prinsip umum dalam pembelajaran BKPBI sebagaimana dijelaskan di atas, berikut dipaparkan uraian detail tentang ke-enam prinsip umum dimaksud.

  1. Anak Tunarungu harus secara terus menerus dimasukkan ke dalam dunia bunyi.

 

Prinsip ini memberikan pesan kepada guru-guru yang mengajar anak tunarungu, termasuk dalam membelajaran BKPBI, bahwa seberat apapun taraf ketulian, tetap secara edukatif guru harus mengajarkan, memperkenalkan, dan mengajak  anak tunarungu tentang bunyi-bunyian. Prinsip ini memberikan penekanan bahwa kehilangan pendengaran pada anak tunarungu, bukan berarti mereka tertutup untuk belajar mengenali berbagai bunyi, bahkan semaksimal mungkin guru harus terus memotivasi anak tunarungu untuk menyadari bahwa di dunia ini ada yang namanya bunyi-bunyian.

Makna yang terkandung dari kata “membawa anak tunarungu ke dalam dunia bunyi” sangatlah fundamental dalam pembelajaran BKPBI. Hal tersebut mengandung makna bahwa dalam membelajarkan BKPBI, guru tidak terbatas pada upaya mengenalkan bunyi-bunyian, akan tetapi anak tunarungu harus dibiasakan memiliki kesadaran, konsep, kepekaan—semaksimal mungkin dengan sisa pendengaran—tentang bunyi-bunyian yang ada di sekitar anak tunarungu. Misalnya ketika guru memukul meja, memindahkan meja dan kursi, memukul lonceng, menium terompet, membunyikan gitar, katakan kepada anak tunarungu bahwa benda dan tindakan itu mengandung unsur bunyi-bunyian.

  1. BKPBI hendaknya diberikan sedini mungkin (sisa pendengaran perlu diberi rangsangan bunyi secara terusmenerus dan teratur).

 

Pembelajaran BKPBI akan memberikan hasil maksimal bagi optimalisasi sisa pendengaran dan komunikasi verbal pada anak tunarungu, bila diberikan sedini mungkin. Melatih sisa pendengaran dengan diberikan rangsakan bunyi secara terus menerus dan teratur, akan membantu anak tunarungu untuk menyadari bahwa di lingkungan sekitar ada yang namanya bunyi dan diharapkan mereka merasakan adanya bunyi tersebut.

Hasil yang akan diperoleh anak tunarungu jika mereka dilatih sejak usia dini akan mengantarkan mereka untuk terbiasa dengan bunyi-bunyian yang ditangkapnya, meskipun itu dalam batas yang minimal. Hal yang positif bagi perkembangan anak tunarungu apabila dalam diri mereka tertanam konsep bahwa di dunia ini ada bunyi, dan mereka sampai dapat merasakan bunyi mulai dari tahap deteksi, diskrimintasi, identifikasi, dan komprehensif.

  1. Memperhatikan prinsip-prinsip umpan balik (prinsip cibernetik) dalam dunia bunyi: irama, bunyi, gerak.

 

Mengajarkan bunyi-bunyian pada anak tunarungu akan efektif apabila guru membangun pola timbal balik antara bunyi yang dirasakan oleh anak tunarungu. Pola timbal balik ini dalam tahap yang lebih tinggi akan mengantarkan pada pemahaman dan kesadaran anak tunarungu untuk merasakan adanya irama, bunyi, dan gerak. Misalnya ketika anak tunarungu merasakan adanya getaran bunyi, maka guru tidak cukup mengatakan bagus, pintar, tetapi melalui pengalaman bunyi yang dirasakan oleh anak tunarungu, guru mengembangkannya ke dalam irama, dan gerak. Dengan pola umpan balik (cibernetik), penghayatan anak tunarungu tentang bunyi-bunyi yang dirasakan akan terpadu dengan konsep irama dan gerak. Anak tunarungu akan memahami bahwa bunyi itu ada gradasi dan ada pola yang dapat dipadukan ke dalam gerak dan irama.

  1. Hendaknya digunakan Pendekatan Multisensory.

 

Mengajarkan BKPBI pada anak tunarungu akan efektif jika guru memanfaatkan indera-indera lainnya secara terpadu dalam mengajarkan bunyi dan komunikasi. Misalnya ketika guru mengajarkan anak tunarungu untuk mendeteksi bunyi, maka sebaiknya guru tidak hanya memanfaatkan sisa indera pendengaran saja, akan tetapi guru dapat menggunakan indera penglihatan, penciuman, kinestetik. Dengan pola pendekatan multisensory ini, anak tunarungu akan terbantu dalam mengenali bunyi-bunyian secara komprehensif.

  1. BKPBI dilaksanakan secara sistematis, teratur, berkesinambungan, terprogram baik materinya maupun jumlah waktu yang dibutuhkan.

 

Melaksanakan pembelajaran BKPBI harus ditata secara sistematis, teratur, berkesinambungan, dan terprogram. Hal ini mengingat bahwa membelajarkan bunyi dan persepsi pada anak tunarungu tidak dapat dilaksanakan secara acak. Mengajarkan BKPBI pada anak tunarungu harus dimulai dari deteksi bunyi, diskriminasi bunyi, identifikasi bunyi, sampai pada komprehensif bunyi. Begitu juga dalam hal jumlah waktu yang digunakan dalam pembelajaran BKPBI harus disesuaikan dengan sifat dan kedalaman materi yang akan disampaikan. Semakin komplek materi yang disampaikan, maka semakin banyak waktu yang digunakan dalam pembelajaran.

  1. BKPBI merupakan bagian integral dari proses pemerolehan bahasa anak tunarungu.

 

Membelajarkan BKPBI pada akhirnya tidak hanya sebatas mengenalkan bunyi dan persepsi saja, akan tetapi pembelajaran BKPBI yang dilaksanakan secara terus menerus dan terpadu, merupakan proses pemerolehan bahasa pada anak tunarungu. Dalam konteks ini, harus dipahami oleh para guru bahwa pemerolehan bahasa pada anak tunarungu memiliki keunikan dibandingkan dengan siswa reguler lainnya. Pemerolehan bahasa pada anak tunarungu terhambat secara signifikan, karena saluran untuk memperoleh berbagai informasi, simbol melalui pendengaran terhambat. Oleh karena itu mengajarkan BKPBI harus terpadu dengan proses pengembangan bahasa pada anak tunarungu.

  1. Prinsip Cibernetik dalam Pembelajaran BKPBI

Prinsip cibernetik menekankan bahwa dalam pembelajaran BKPBI, guru harus mengembangkan komunikasi secara aktif dengan anak tunarungu dalam memadukan bunyi yang dipersepsinya menjadi sebuah konsep yang dapat dikembangkan. Pengembangan konsep bunyi pada anak tunarungu melalui umpan balik, guru dapat memadukan antara bunyi ke dalam gerak dan irama. Misalnya, setelah anak tunarungu mampu mendeteksi bunyi, guru terus memberikan pertanyaan kepada anak, bahwa bunyi-bunyi yang dideteksinya tersebut dapat didiskriminasikan, terus dapat diidentifikasi. Begitu juga setelah anak tunarungu mampu mengidentifikasikan bunyi, guru dapat mengembangkan kemampuan anak untuk memadukan dengan gerakan dan irama, sehingga pada akhirnya anak tunaurungu dapat menikmati gerakan dan irama melalui bunyi-bunyi yang dipersepsikannya.

Dalam mengembangkan umpan balik dengan anak tunarungu tentang bunyi yang dipersepsikannya, guru harus melaksanakan pola komunikasi dengan melibatkan pengalaman anak secara langsung. Misalnya ketika guru menginformasikan bahwa bunyi itu ada yang keras, sedang, dan lemah, maka guru harus melibatkan pengalaman anak secara langsung dalam mengidentifikasi ragam bunyi dimaksud. Apabila hanya guru saja yang mengalami tentang identifikasi bunyi dan guru hanya menyampaikan secara verbal saja, tanpa anak mengalami langsung dalam mengidentifikasi bunyi, maka hal tersebut menjadi kurang efektif.

Ketika guru berhasil mengembangkan dialog secara melebar dari bunyi kedalam gerak dan irama, maka secara alamiah pembelajaran BKPBI akan mendorong perkembangan bahasa pada anak tunarungu. Pengembangan bahasa pada anak tunarungu menjadi hal yang sangat urgen atau penting, sebab dengan bahasa yang dimiliki, anak tunarungu dapat mengembangkan konsep secara luas tentang lingkungan sekitarnya. Ludwig yang dikutip Bambang Nugroho (2010: 8) mengatakan bahwa “batas bahasaku adalah batas duniaku”. Pernyataan ini meskipun singkat, tetapi cukup memberikan kerangka pikir pada guru yang menegaskan bahwa pengembangan bahasa pada anak tunarungu menjadi hal sangat penting.

Melalui layanan BKPBI, diharapkan penyandang tunarungu dapat mendeteksi
bunyi, mengidentifikasi bunyi, mendiskriminasikan bunyi, dan pada akhirnya
memahami bunyi, baik bunyi alat-alat musik, bunyi latar belakang, dan sifat-sifat
bunyi maupun bunyi-bunyi bahasa. Oleh karena itu materi-materi BKPBI non
bahasa selayaknya dikaitkan dengan unsur-unsur pembentukan bahasa, khususnya
pada aspek fonem dan konsonan (segmental) dan irama, tempo, cepat-lambat,
jeda, dan intonasi (suprasegmental).

Materi Bina Komunikasi Persepsi dan Irama dikembangkan sesuai dengan daya
dengar anak tunarungu walaupun anak tidak menggunakan ABM. Latihan harus
tetap diberikan bagi anak yang tergolong tunarungu sangat berat. Materi BKPBI
tersebut mencakup: (1) bunyi latar belakang, dan  (2) berbagai macam sifat bunyi di sekitar kita baik bunyi hewan, alam, maupun bunyi yang diciptakan manusia.

Materi dalam BKPBI sebaiknya sesuai dengan metode yang sesuai. Dengan cara ini, guru dapat mengamati kemudian menilai reaksi anak. Pelaksanaan BKPBI tidak boleh terlepas dari pembelajaran wicara. Oleh karena itu pemilihan metodenya pun sebaiknya dikaitkan dengan metode yang digunakan di dalam pembelajaran wicara. Metode yang sangat sesuai adalah metode pemberian tugas dan demonstrasi. Dengan menerapkan metode ini diharapkan anak memperoleh pengalaman dan penghayatan lewat suatu proses penemuan sendiri.

  1. Prinsip Kontras dalam Pembelajaran BKPBI

Prinsip kontras dalam pembelajaran BKPBI mengandung makna bahwa dalam melatih bunyi-bunyian pada anak tunarungu, berdasarkan sifat dari bunyi yang dipersespsikan. Dalam hal ini, guru harus melatih anak tunarungu untuk memperkenalkan bunyi-bunyian secara kontras, seperti bunyi yang keras dengan bunyi yang lemah, bunyi dengan nada yang tinggi dengan bunyi nada yang rendah. Dalam konteks ini, ketika mengajarkan BKPBI, guru harus mampu memberikan berbagai jenis bunyi-bunyian secara variasi dan kontras, misalnya guru mengajak anak tunarungu untuk mendeteksi bunyi meja yang dipukul dengan suara pesawat terbang, suara piano dalam nada yang tinggi dengan nada yang rendah. Prinsip ini membimbing anak tunarungu untuk memiliki persepsi tentang bunyi-bunyian dengan berbagai tingkatannya.

  1. Prinsip Individualitas dalam Pembelajaran BKPBI

Prinsip individualitas dalam pembelajaran BKPBI mengandung makna bahwa ketika melaksanakan pembelajaran BKPBI, guru harus mempertimbangkan dan mengakomodir keunikan individu setiap anak tunarungu. Perbedaan derajat kemampuan pendengaran, jenis ketunarunguan, dan peristiwa terjadinya ketunarunguan harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan struktur materi, metode, pendekatan, dan penggunaan alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran.

  1. Prinsip Keterpaduan dalam Pembelajaran BKPBI

Layanan BKPBI adalah layanan khusus yang merupakan suatu kesatuan antara pembinaan komunikasi dan optimalisasi sisa pendengaran untuk mempersepsi bunyi dan irama. Layanan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan interaksi dan komunikasi anak yang mengalami hambatan sensori pendengaran dengan lingkungan orang mendengar. Layanan tersebut dapat diberikan secara terpisah maupun secara terpadu.

Dalam pandangan lainya, dikemukakan oleh Hermanto (2010: 16-17), yang membagi prinsip-prisip pembelajaran BKPBI dikelompokan ke dalam prinsip tradisional dan prinsip modern.

Prinsip-prinsip tradisional dalam pembelajaran BKPBI meliputi pandangan-pandangan sebagai berikut:

  1. Semua anak tunarungu (bila tdk ada kelainan tambahan), dapat menghayati bunyi melalui sisa pendengaran maupun bagian tubuh lainnya, maka BPBI justru diperuntukan bagi ATR yang tergolong tuli lebih 90 dB
  2. Agar menjadi sadar bunyi, maka perlu dilibatkan serta dibina kemampuan vibrasi atau getaran dlm tubuh mereka terutama pada tahap awal latihan, getaran ini akan menggugah kesadaran anak akan bunyi atau suara.
  3. Agar BPBI lebih berhasil maka perlu diupayakan agar ATR mempunyai hubungan dengan bunyi maka perlu pengunaan ABD yang berfungsi secara kontinu.
  4. Latihan BPBI harus mengupayakan terjadinya satu kesatuan yang utuh antara kemampuan anak tuli untuk menangkap gelombang bunyi/suara lewat vibrasi dan sisa pendengaran. Jadi ATR tidak dituntut “mendengar” melainkan mempersepsikan bunyi.
  5. Dasar pelaksanaan BPBI adalah umpan balik atau sibernetik
  6. Penyadaran terhadap bunyi harus dilakukan sedini mungkin.
  7. Latihan penyadaran bunyi perlu dilakukan secara bermakna.
  8. Setelah ATR sadar bunyi/mampu mendeteksi maka dapat dimulai latihan diskriminasi/membedakan antar sumber bunyi & sifat bunyi.
  9. Latihan hrs dilakukan secara sistematis, teratur dan berkesinambungan.
  10. Bagi yg berat maka diperlukan pendekatan multisensoris.

Sedangkan prinsip-prinsip modern dalam pembelajaran BKPBI meliputi pandangan-pandangan sebagai berikut:

  1. BKPBI atau latihan mendengar dapat dipandang sebagai satu seri latihan yang terstruktur yang ditata dari yang sederhana sampai yang kompleks meliputi deteksi, diskriminasi, pengenalan dan pemahaman wicara. Khusus anak tunarungu berat, latihan keterampilan deteksi bunyi terlebih dahulu sebelum latihan diskriminasi, pengenalan dan pemahaman.
  2. Latihan mendengar perlu dikaitkan secara erat dengan perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik anak.
  3. Latihan pendengaran perlu mempertimbangan kebutuhan perorangan setiap anak (kognitif, bahasa, atau tingkat ketunarunguan). Untuk itu silabinya juga harus mengarah pada individual.
  4. Latihan mendengar perlu dibedakan dari pengalaman mendengar. (sedang dan berat)
  5. Latihan mendengar bisa mencakup deteksi, diskriminasi, pengenalan, pemahaman dan menikmati bunyi non bahasa.
  6. Perlu didukung kondisi akustik yang optimal, yaitu penggunaan Alat Bantu Dengar (ABD) yang kuat dan sesuai.
  7. Anak Tunarungu berat terutama yang memiliki sisa pendengaran yang rentang frekuensinya terbatas tidak seslalu akan mampu menyimak bahasa lisan melalui pengalaman dan latihan mendengar.
  8. Sejalan dengan pendapat Van Uden dianjurkan latihan sejak dini.
  9. Agar keterampilan menyimak berkembang maka guru, orang tua menyediakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya pengalaman dan latihan mendengar.
  10. Senada Van Uden, Hyde menganjurkan latihan mendengar dilakukan bersamaam dengan latihan wicara dalam satu pelajaran.


  1. Rangkuman
  2. Prinsip-prinsip pembelajaran BKPBI dimaksudkan sebagai kerangka pikir dan tindakan bagi guru yang mengajar BKPBI. Apabila guru memahami dan menerapkan prinsip-prinsip dalam pembelajaran BKPBI dimaksud, maka dalam proses pembelajaran akan berjalan efektif dan memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal.
  3. Prinsip-prinsip pembelajaran dalam BKPBI, dapat dikelompokan ke dalam prinsip umum dan prinsip khusus.
  4. Prinsip umum dalam pembelajaran BKPBI meliputi pandangan-pandangan sebagai berikut:
  5. Anak Tunarungu harus secara terus menerus dimasukkan ke dalam dunia bunyi
  6. BKPBI hendaknya diberikan sedini mungkin (sisa pendengaran perlu diberi rangsangan bunyi secara terus-menerus dan teratur)
  7. Memperhatikan prinsip-prinsip umpan balik (prinsip cibernetik) dalam dunia bunyi: irama, bunyi, gerak.
  8. Hendaknya digunakan pendekatan multisensory
  9. BKPBI dilaksanakan secara sistematis, teratur, berkesinambungan, terprogram baik materinya maupun jumlah waktu yang dibutuhkan.
  10. BKPBI merupakan bagian integral dari proses pemerolehan bahasa pada anak tunarungu
  11. Prinsip khusus dalam pembelajaran BKPBI meliputi pandangan-pandangan sebagai berikut:
    1. Prinsip cibernitas dalam pembelajaran BKPBI
    2. Prinsip kontras dalam pembelajaran BKPBI
    3. Prinsip Individualitas dalam pembelajaran BKPBI
    4. Prinsip Keterpaduan dalam pembelajaran BKPBI
  12. Ada juga pendapat lainnya yang mengklasifikasi prinsip-prinsip pembelajaran BKPBI, ke dalam prinsip tradisional dan prinsip modern. Prinsip tradisional dalam pembelajaran BKPBI didasarkan pada pandangan-pandangan klasik tentang sosok ketunarunguan. Prinsip modern dalam pembelajaran BKPBI didasarkan pada asumsi dan hasil penelitian yang memberikan ruang kreatif dan perspektif dalam pembelajaran BKPBI.
  13. Latihan
  14. Jelaskan dengan bahasa sendiri tentang prinsip-prinsip umum dalam pembelajaran BKPBI!
  15. Jelaskan dengan bahasa sendiri tentang prinsip-prinsip khusus dalam pembelajaran BKPBI!
  16. Jelaskan dengan bahasa sendiri tentang prinsip-prinsip tradisional dalam pembelajaran BKPBI!
  17. Jelaskan dengan bahasa sendiri tentang prinsip-prinsip modern dalam pembelajaran BKPBI!
  18. Lakukan pengamatan dalam pembelajaran BKPBI di SLB masing-masing dan prinsip manakah yang paling anda rasakan dalam implementasi pembelajaran!

Tes Formatif 1

Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling tepat, pada setiap item berikut ini;

  1. Manakah pernyataan di bawah ini yang termasuk ke dalam prinsip umum dalam pembelajaran BKPBI?
  2. multisensori
  3. kontras
  4. individualitas
  5. keterpaduan
  6. Berikut adalah aspek-aspek yang mesti diperhatikan dalam memberikan layanan pembelajaran BKPBI, kecuali…
  7. gradasi pendengaran
  8. jenis ketunarunguan
  9. harapan orang tua siswa
  10. peristiwa terjadinya ketunarunguan
  11. Manfaat yang akan diperoleh ketika guru menerapkan prinsip cibernitas dalam pembelajaran BKPBI, adalah …
  12. pemahaman anak tentang bunyi terpadu dengan gerak dan irama
  13. anak menjadi kaya pengalaman tentang bunyi
  14. pembelajaran menjadi menyenangkan
  15. guru dapat menggunakan lingkungan belajar secara efektif
  16. Pembelajaran BKPBI pada akhirnya harus terkait dengan pengembangan bahasa anak tunarungu dalam setiap mata pelajaran dan kehidupan sehari-hari. Pernyataan ini terkait dengan prinsip…
  17. komprehensif
  18. terpadu
  19. kontras
  20. individualitas
  21. Pernyataan bahwa “bahasaku adalah batas duniaku” dikemukakan oleh …
  22. Van Uden
  23. Landswik
  24. Montessori
  25. Hurlock
  26. Hambatan perkembangan bahasa pada anak tunarungu, faktor utamanya dikarenakan oleh ….
  27. terbatasnya pengalaman berbicara
  28. stigma negatif masyarakat
  29. terbatasnya fungsi organ bicara
  30. terhambat akses mengenali symbol-simbol bahasa secara auditori
  31. Latihan mendengar sebaiknya dilakukan secara bersamaan dengan latihan wicara. Pernyataan ini dikemukakan oleh …
  32. Van Uden
  33. Landswik
  34. Hyde
  35. Montessori
  36. Dalam pembelajaran BKPBI dikenal ada latihan deteksi, diskriminasi, identifikasi, dan komprehensi. Hal ini mengandung makna bahwa prinsip pembelajaran BKPBI bersifat …
  37. terstruktur
  38. terarah
  39. terencana
  40. original.
  41. Anak tunarungu tidak dituntut untuk mendengar, melainkan hanya mempersepsikan bunyi. Pandangan ini termasuk ke dalam …
  42. prinsip umum
  43. prinsip khusus
  44. prinsip tradisional
  45. prinsip modern
  46. Supaya anak tunarungu memperoleh kesadaran akan bunyi, maka mereka harus dilatih vibrasi atau getaran bunyi. Pandangan ini termasuk ke dalam …
    1. prinsip tradisional
    2. prinsip modern
    3. prinsip khusus
    4. prinsip umum

KUNCI JAWABAN :

  1. A
  2. C
  3. A
  4. B
  5. B
  6. D
  7. C
  8. A
  9. C
  10. A

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Setelah mengerjakan Tes Formatif 1, bandingkanlah jawaban saudara dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir unit ini. Untuk mengetahui tingkat penguasaan saudara terhadap materi ini, hitunglah dengan menggunakan rumus:

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 – 100 = baik sekali

80 – 89 = baik

70 – 79 = cukup

< 70 = kurang

Jika tingkat penguasaan saudara minimal 80%, maka saudara dinyatakan berhasil dengan baik, dan saudara dapat melanjutkan untuk mempelajari BAB 3. Sebaliknya, bila tingkat penguasaan saudara kurang dari 80%, silakan pelajari kembali uraian yang terdapat dalam subunit sebelumnya, khususnya pada bagian yang belum saudara kuasai dengan baik, yaitu pada jawaban saudara yang salah.

BAB III

TEKNIK PEMBELAJARAN BKPBI

Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat menerapkan teknik-teknik pembelajaran BKPBI.

 

  1. Teknik Latihan Prawicara

Teknik latihan prawicara ditujukan untuk mengkondisikan kesiapan mental, fisik, dan psikologis anak tunarungu untuk memasuki dunia komunikasi verbal. Dalam tahapan ini, guru melakukan serangkaian aktivitas seperti keterarahanwajah, keterahansuara, dan pelemasan organ bicara. Latihan keterahanwajah ditujukan untuk melatih kebiasaan dan kepekaan anak tunarungu dalam melakukan komunikasi untuk selalu memandang lawan bicara dengan arah posisi pandang wajah yang benar. Ukuran keterahanwajah ini ditujukan supaya anak tunarungu dapat dengan memudah bahasa bibir atau gerakan bibir sebagai pusat keluarnya fonem.

Latihan keterahansuara dalam pembelajaran BKPBI dimaksudkan untuk melatih kepekaan anak tunarungu dalam mendeteksi dan merasakan arah suara yang keluar. Fokus dalam latihan ini guru meletih secara terus menerus kepada anak untuk menghasilkan, merasakan, dan mengidentifikasi arah suara yang dihasilkan. Biasanya dalam latihan ini, guru dapat menggunakan metode vibrator atau getaran arah suara dengan menempelkan tangan di leher, di mulut, sehingga anak tunarungu dapat merasakan arah suara yang keluar.

Latihan pelemasan organ bicara adalah upaya lainnya yang dilakukan oleh guru untuk menstimulasi keberfungsian organ bicara anak tunarungu secara maksimal. Dalam hal ini, guru yang mengajarkan BKPBI perlu juga memiliki kompetensi tambahan untuk melakukan teknik memijat (massage technique) yang bersifat rehabilitatif dan pengembangan. Hal ini terutama bagi guru-guru yang mengajar BKPBI pada anak tunarungu di usia dini atau anak tunarungu dengan usia yang sudah lanjut, tetapi karena sesuatu hal baru mengikuti latihan BKPBI.

Latihan prawicara pada umumnya diberikan kepada anak tunarungu usia dini, dengan tujuan untuk melatihan kesiapan organ bicara untuk menghasilkan bunyi suara, melatih teknik berbicara. Dalam prakteknya, implementasi teknik prawicara ini akan efektif jika didukung dengan peralatan, seperti ruang BKPBI yang dilengkapi dengan cermin dengan ukuran lebar, microphone, meja, dan alat rekam bicara. Sebagai ilustrasi berikut disajikan gambar dari teknik latihan prawicara, khususnya dalam melatih keterarahanwajah dan keterarahansuara, dalam gambar 3.1

Gambar 3.1. Latihan Keterarahanwajah dan Keterarahansuara

dalam Teknik Prawicara (sumber: slbb-yrtrw.blogspot.com/2010/12/tklb.html)

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa latihan pelemasan organ bicara ditujukan untuk menstimulus kesiapan organ bicara dalam menghasilkan bunyi-bunyi suara. Latihan organ bicara dapat mengoptimalkan fungsi rahang, mulut, gigi, dan lidah. Di samping itu juga latihan pelemasan organ bicara bisa dikembangkan ke dalam latihan vokal dan suku kata. Gunarhadi, dkk (2011: 47) mengemukakan beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam latihan pelemasan organ bicara, sebagai berikut:

  1. Gerakan bibir dengan cara latihan membuka dan menutup bibir/mulut, membundarkan bibir, meniup harmonika/bola pingpong, membentuk bunyi ”r” yang panjang, misalnya ”berrrr” dengan bibir, membentuk bunyi ”mmmmm”, membentuk bunyi-bunyi vokal, membentuk bunyi ”papapapa”, dan seterusnya.
  2. Latihan gerak rahang, seperti membuka dan menutup mulut, rahang digerakan ke kiri dan ke kanan, menguap dengan mulut terbuka dan tertutup, mengunyah dengan mulut tertutup. Tujuan dari kegiatan ini agar otot-otot rahang tidak menjadi kaku.
  3. Latihan gerak lidah, seperti mulut terbuka, lidah keluar masuk mulut, menjilat bibir atas dan bibir bawah, ujung lidah ditekan pada gigi atas dan gigi bawah, lidah dilingkar-lingkarkan.
  4. Latihan langit-langit lembut (velum) menguap dengan mulut terbuka, meniup dengan kuat, dan sebagainya.

Latihan lainnya yang dapat dilakukan guru dalam teknik prawicara dalam pembelajaran BKPBI adalah latihan pernapasan. Bambang Nugroho (2002: 18), mengemukakan beberapa aktivitas yang dapat dilakukan anak tunarungu untuk melatih pernapasan, seperti: (1) meniup dengan hembusan; (2) meniup dengan letupan; dan (3) menghirup dan menghembuskan melalui hidung.

Gunarhadi, dkk (2011: 48), mengemukakan beberapa aktivitas untuk melatih pernafasan pada anak tunarungu, sebagai berikut:

  1. Latihan menghemat nafas. Meniup lilin atau bola pingpong sampai benda-benda itu bergerak-gerak sehingga nafas dirasakan oleh anak, kemudian anak menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan nafas dengan cara meniup. Anak mengucapkan ”papapapa” atau ”mamamama” dan sebagainya dengan tidak memutuskan nafas.
  2. Latihan babling. Anak dilatih mulai dari kata yang diucapkan dan menekankan latihan ucapan suku kata, irama suara, dan latihan kontrol suara. Di samping itu latihan kata-kata secara berulang.

Misalnya guru dapat melatihkan keterampilan berikut:

  1. Latihan pengucapan suku kata tunggal dalam kelompok fonem: a – da, a – pi, i – kan.
  2. Latihan pengucapan dua buah suku kata dengan penekanan pada pengucapan suku kata kedua: a – ku, a – ki, i – bu, a – bu, dan sebagainya.
  3. Latihan pengucapan dua buah suku kata diawali huruf konsonan, seperti: pa – ku, pa – pi – pa.

Bambang Nugroho (2002: 15), menambahkan bahwa dalam teknik prawicara, guru juga dapat melatih teknik pembentukan suara. Dalam latihan pembentukan suara ini, guru melatih anak tunarungu dengan tujuan untuk:

  1. Menyadarkan anak untuk bersuara
  2. Merasakan getaran pada dada guru
  3. Menirukan ucapan guru sambil meraba dada
  4. Melafalkan vokal bersuara
  5. Meraban sambil merasakan getaran
  1. Teknik Pembentukan Fonem

Teknik pembentukan fonem pada intinya adalah melatihkan keterampilan anak tunarungu untuk mampu menghasilkan fonem. Oleh karena itu, guru yang mengajar BKPBI khususnya dalam teknik pembentukan fonem, harus mengajarkan cara-cara pembentukan fonem. Bunyi bahasa yang disebut fonem dibentuk dengan cara diartikulasikan. Berdasarkan sifatnya, artikulator terbagi dua, yakni: (1) artikulator aktif dan (2) artikulator pasif. Artikulator aktif biasanya berpindah-pindah posisi untuk menentukan titik artikulasi guna menghasilkan bunyi bahasa. Menurut Lapoliwa (1981:18), hubungan posisional antara artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur (strictrure). Oleh karena vokal tidak mempunyai artikulasi, strukturnya ditentukan oleh celah antara lidah dan langit-langit. Sesuai dengan strukturnya, di bawah ini dikemukakan cara–cara membentuk fonem, baik vocal maupun konsonan.

Ketika guru akan memulai latihan pembentukan fonem pada anak tunarungu, perlu guru memahami proses pembentukan fonem pada vokal dan konsonan. Vokal (Vokoid) yaitu bunyi ucapan yang terbentuk oleh udara yang keluar dari paru-paru dan ketika melalui tenggorokan mendapat hambatan. Kualitas vokal umumnya ditentukan oleh tiga hal, yakni: (1) bulat-hamparnya bentuk bibir, (2) atas-bawah lidah, dan (3) maju–mundurnya lidah.

Berdasarkan tinggi rendahnya lidah, vokal dapat dibedakan diatas:

  1. Vokal tinggi atau atas yang dibentuk apabila rahang bawah merapat ke rahang atas: [i] dan [u]
  2. Vokal madya atau tengah yang dibentuk apabila rahang bahwa menjauh sedikit dari rahang atas: [e] dan [o]
  3. Vokal rendah atau tengah yang di bentuk apabila rahang bawah diundurkan lagi sejauh-jauhnya: [a].

Berdasarkan bagian lidah yang bergerak atau maju mundurnya lidah, vokal dapat dibedakan atas:

  1. Vokal depan, yakni vokal yang dihasikan oleh gerakan turun naiknya lidah bagian depan, seperti: [i, e, ε, a].
  2. Vokal tengah, yakni vokal yang dihasilkan oleh gerakan lidah bagian tengah, misalnya: [ə].
  3. Vokal belakang, yakni vokal yang dihasilkan oleh gerakan turun naiknya lidah bagian belakang atau pangkal lidah, seperti: [u] dan [o].

Berdasarkan bentuk bibir sewaktu vokal diucapkan, vokal dibedakan atas:

  1. Vokal bulat, yakni vokal diucapkan dengan bentuk bibir bulat. Bentuk bibir bulat bisa terbuka atau tertutup. Jika terbuka, vokal itu diucapkan dengan posisi bibir terbuka bulat (open-rounded). Misalnya, vokal [u, o].
  2. Vokal tak bulat, yakni vokal yang diucapkan dengan bentuk bibir tidak bulat atau terbentang lebar. Misalnya, [a, i, e, ə]

Berdasarkan cara artikulasi atau jenis halangan udara yang terjadi pada waktu udara keluar dari rongga ujaran, konsonan dapat dibedakan atas konsonan hambat, frikatif, spiran, lateral, dan getar.

  1. Konsonan hambat (stop), yaitu konsonan yang dihasilkan dengan cara menghalangi sama sekali udara pada daerah artikulasi. Konsonan yang dihasilkan ialah [p], [t], [c], [k], [b], [d], [j], [g], dan [?]. Konsonan hambat yang disudahi dengan letupan disebut konsonan eksplosif, misalnya [p] pada kata lapar, pukul,dan Konsonan hambat yang tidak diakhiri oleh letupan disebut konsonan implosif, misalnya [p] pada kata kelap, gelap, dan tetap.
  2. Konsonan geser atau frikatif, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan cara menggesekkan udara yang keluar dari paru-paru. Konsonan yang dihasilkan ialah [f], [v], [x], [h], [s], [Š], z, dan x.
  3. Konsonan likuida atau lateral, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan menaikkan lidah ke langit-langit sehingga udara terpaksa diaduk dan dikeluarkan melalui kedua sisi lidah. Konsonan yang dihasilkan ialah [l].
  4. Konsonan getar atau trill, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mendekatkan dan menjauhkan lidah ke alveolum dengan cepat dan berulang-ulang sehingga udara bergetar. Bunyi yang terjadi disebut konsonan getar apikal [r]. Jika uvula yang menjauh dan mendekat ke belakang lidah terjadi dengan cepat dan berulang-ulang, akan terjadi konsonan getar uvular [R].
  5. Semi-vokal, yaitu bunyi konsonan yang pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Misalnya, semivokal [w] dan [y]. Bunyi bilabial [w] dibentuk dengan tempat artikulasi yang berupa bibir atas dan bibir bawah.

Berdasarkan strukturnya, yakni hubungan antara artikulator dan titik artikulasi, konsonan dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas konsonan bilabial, labiodental, apikodental, apiko-alveolar, [alatal, velar, glottal, dan konsonan laringal.

  1. Konsonan bilabial, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan ialah [p], [b], [m], dan [w].
  2. Konsonan labiodental, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator. Bunyi yang dihasilkan ialah [f] dan [v].
  3. Konsonan apiko-dentall, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan ujung lidah (apex) yang bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi (alveolum) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan ialah [s], [z], [r], [l].
  4. Konsonan palatal atau lamino-palatal, yakni konsonan yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah (lamina) sebagai artikulator dan langit-langit keras (palatum) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan [c], [j], [Š], [ñ], dan [y].
  5. Konsonan velar atau dorso-velar, yaitu konsonan yang dihasilkan oleh belakang lidah (dorsum) sebagai artikulator dan langit-langit lembut (velum) sebagai titik artikulasi. Bunyi yang dihasilkan ialah [k], [g], [x], dan [h].
  6. Konsonan glottal atau hamzah, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan posisi pita suara sama sekali merapat sehingga menutup glotis. Udara sama sekali dihalangi. Bunyi yang dihasilkan ialah (?).
  7. Konsonan laringal, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan pita suara terbuka lebar sehingga udara yang keluar digesekkan melalui glotis. Bunyi yang dihasilkan ialah h.

Berdasarkan posisi pita suara atau bergetar tidaknya pita suara, konsonan dapat dibedakan atas konsonan bersuara dan konsonan tak bersuara.

  1. Konsonan bersuara, yaitu konsonan yang terjadi jika udara yang keluar dari rongga ujaran turut menggetarkan pita suara. Konsonan yang dihasilkan ialah [m], [b], [v], [n], [d], [r], [ñ], [j], [h], [g], dan [R].
  2. Konsonan tak bersuara, yaitu konsonan yang terjadi jika udara yang keluar dari rongga ujaran tidak menggetarkan pita suara. Konsonan yang dihasilkan ialah [p], [t], [c], [k], [?], [b], [d], [j], [g], [f], [s], [Š],[x], [h], [r], [1],[w], dan [y] .
  3. Konsonan nasal, yaitu konsonan yang terjadi jika udara keluar melalui rongga hidung. Konsonan yang dihasilkan ialah [m], [n], [ñ], dan [h].

Dari uraian tentang pembentukan fonem sebagaimana dipaparkan di atas, jelaslah bahwa teknik latihan fonem yang dilakukan guru dapat menggunakan berbagai jenis latihan sebagaimana dicontohkan di atas. Dalam hal ini, menjadi penting bagi guru yang akan mengajarkan BKPBI, untuk memahami ruang lingkup kajian fonem, baik fonem vokal maupun fonem konsonan.

Gambar 3.1 merupakan salah satu contoh latihan pembentukan fonem yang dapat dilakukan pada anak tunarungu.

Gambar 3.2

Latihan menghasilkan fonem pada Anak Tunarungu

(sumber: slbb-yrtrw.blogspot.com/2010/12/tklb.html)

  1. Teknik Penggemblengan dan Penyadaran Irama/Aksen

 

Latihan pembentukan penggemblengan dan pembentukan penyadaran irama/aksen pada anak tunarugu merupakan kegiatan lanjutan dari latihan prawicara dan pembentukan fonem. Latihan ini ditujukan untuk membentuk kesadaran bahwa pada akhirnya bunyi yang didengar atau dirasakan oleh anak tunarungu dapat dipadukan dengan irama. Dalam konsep lainnya dapat dikembangkan pula bahwa bunyi atau simbol-simbol bahasa yang didengar dan kemudian dikomunikasikan harus mengikuti aksen atau intonasi tertentu.

Apabila anak tunarungu sudah mencapai pada kompetensi untuk menyadari adanya aksen atau irama dalam berbicara, maka hal tersebut akan memberikan sumbangan berarti terhadap perkembangan bahasa anak tunarungu. Perkembangan bahasa pada anak tunarungu menjadi penting sebagai konsekuensi dari tidak berfungsinya indera pendengaran.

Manusia yang berpendengaran normal memiliki latar belakang bunyi-bunyian yang memberikan arti yang sangat penting bagi kejiwaan manusia. Dengan adanya latar belakang bunyi-bunyian ini manusia akan mempunyai kontak terus menerus dengan orang dan alam sekitar. Keadaan ini membuat manusia merasa aman dan memperkaya penghayatan terhadap segala sesuatu yang dialaminya.

Anak tunarungu tidak menghayati adanya bunyi latar belakang seperti anak normal tetapi bukan berarti mereka tidak bisa menghayati seluruh bunyi yang ada. Kebanyakan anak tunarungu masih memiliki sisa pendengaran pada daerah nada tinggi atau nada rendah. Anak tunarungu yang masih mempunyai banyak sisa pendengaran dapat menghayati bunyi lewat pendengarannya tetapi untuk anak tunarungu yang sisa pendengarnnya amat kecil mereka akan menghayati bunyi-bunyian lewat perasaan vibrasinya.

Anak tunarungu totalpun masih mampu mengamati dan menghayati bunyi atau dibuat sadar akan adanya bunyi dengan secara sistematis memberi kesempatan kepada anak tunarungu mengalami pengamatan bunyi, sehingga hal tersebut menjadi bagian dalam perkembangan jiwa mereka, suatu sikap hidup guna menjadi pribadi yang lebih utuh dan harmonis sehingga mereka akan tumbuh menjadi manusia yang lebih normal.

Berkat kemajuan teknologi derajat kehilangan pendengaran seseorang dapat diukur pada usia yang sangat dini bahkan kemajuan teknologi sekarang dapat mendeteksi ketunarunguan saat bayi masih dalam kandungan. Berdasarkan pengukuran ini anak tunarungu dapat digolongkan menurut sisa pendengaran yang masih ada.

Kemajuan teknologi juga ditandai dengan ditemukannya alat bantu mendengar (ABM) yang dari tahun ketahun semakin sempurna bentuknya dan makin sesui dengan kebutuhan anak. Penemuan ABM ini dapat memaksimalkan fungsi pendengaran anak terutama dengan latihan yang teratur dan berkesinambungan. Dalam kegiatan pembelajaran latihan mendengar dimasukkan dalam program khusus untuk anak tunarungu yaitu Bina komunikasi persepsi bunyi dan irama (BKPBI).

Teknik pembentukan kesadaran aksen atau irama dalam pembelajaran BKPBI mengandung makna bahwa secara sengaja dan terprogram. Hal ini sejalan dengan konsep dasar BKPBI itu sendiri yang pada intinya merupakan pembinaan dalam penghayatan bunyi yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja, sehingga sisa-sisa pendengaran dan perasaan vibrasi yang dimiliki anak-anak tunarungu dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk berintegrasi dengan dunia sekelilingnya yang penuh bunyi..

Pembinaan secara sengaja yang dimaksud adalah bahwa pembinaan itu dilakukan secara terprogram; tujuan, jenis pembinaan, metode yang digunakan dan alokasi waktunya sudah ditentukan sebelumnya. Sedangkan pembinaan secara tidak sengaja adalah pembinaan yang spontan karena anak bereaksi terhadap bunyi latar belakang yang hadir pada situasi pembelajaran di kelas, sepeti bunyi motor, bunyi helikopter atau halilintar, kemudian guru membahasakannya. Misalnya, “Oh kalian dengar suara motor ya ? Suaranya ‘brem… brem… brem…’ benar begitu ?”. Kemudian guru mengajak anak menirukan bunyi helikopter dan kembali meneruskan pembelajaran yang terhenti karena anak bereaksi terhadap bunyi latar belakang tadi.

Dalam level yang lebih tinggi, program dari pembentukan kesadaran aksen/irama tersebut, guru dapat melatih anak untuk melakukan berbagai gerakan yang mengikuti irama dari bunyi-bunyi yang didengarkan. Dalam teknik penggemblengan irama/aksen, guru dapat menggunakan media piano untuk melatih kepekaan pendengaran anak tunarungu untuk membedakan nada tinggi dan nada rendah. Berikut disajikan gambar dari contoh latihan pembentukan kesadaran irama pada anak tunarungu.

Gambar 3.3

Latihan pembentukan aksen/irama dengan media piano

(zumux.brogdrive.com/archive/o-34.hml)

Teknik pembentukan kesadaran aksen/irama yang dilakukan sekolah merupakan kegiatan berkelanjutan, dengan cara melatih anak mulai dari tahap yang paling awal, yaitu latihan mendeteksi bunyi untuk mengetahui ada tidak adanya bunyi; dilanjutkan dengan latihan mendeskriminasikon bunyi agar anak mampu membeda-bedakan sifat-sifat bunyi; selanjutnya latihan mengidentifikasi bunyi agar anak mengenal bunyi dari berbagai sumber bunyi; dan pada tahap akhir adalah latihan memahami bunyi agar mampu menanggapi apabila terdengar bunyi. Moores (2001:27) mengemukakan bahwa, “dalam memberikan pelajaran kepada anak tunarungu harus ada keseimbangan antara bidang-bidang khusus dengan bidang akademik, berapa banyak bidang-bidang khusus seperti latihan berbicara dan pendengaran yang dialokasikan dibandingkan dengan bidang akademik, karena keduanya harus diberikan secara seimbang.”

Struktur kurikulum SLB tunarungu mencantumkan muatan bidang akademik lebih banyak dibandingkan dengan bidang khusus. Beban jam pelajaran per-minggu untuk kelas dasar adalah, 30 jam per-minggu, dari waktu tersebut alokasi bidang khusus Bahasa Indanesia hanya lima jam ditambah program khusus BKPBI dua jam, sisanya 23 jam adalah bidang akademik. Atas dasar inilah maka sangat diperlukan kerjasama antara guru dan orangtua. Hal ini dimaksudkan agar ada keseimbangan antara bidang khusus dan bidang akademik. Melalui kegiatan belajar di rumah dengan bimbingan orang tua, anak tunarungu diharapkan mampu berkomunikasi dengan teman­-temannya, orangtua, guru dan masyarakat sekitarnya.

Komunikasi di dalam situasi kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, dapat menumbuh kembangkan berbagai kemampuan bagi anak tak terkecuali bagi anak gangguan pendengaran. Orangtua berperan penting dalam mengisi dan membina anak melalui pendidikan yang bernilai positif. Orang tualah yang dijadikan pemimpin di suatu keluarga, di mana kedua orangtua berperan aktif dalam pendidikan anaknya tidak terkecuali mendidik anak yang mengalami gangguan.

Orangtua memegang peranan penting dalam kehidupan seorang anak. Ia berfungsi sebagai pendidikan di lingkungan keluarga. Orang tua wajib memberikan perhatian dan bimbingan sesuai dengan perkembangan anaknya. Orangtua harus memiliki kemampuan dalam pengetahuan dan berbagai keterampilan, memilih jiwa besar atau optimis dalam meningkatkan berbagai potensi anaknya dengan optimal. Ia juga harus memperdulikan karekteristik dan kebutuhan utama anaknya terutama dalam kegiatan belajar yang dilakukan di rumah. Hal ini sangat dipahami, mengingat waktu 24 jam hanya ± enam jam anak berada di sekolah. Artinya sekitar 25% anak belajar di sekolah, sedangkan sisanya 18 jam atau 75% anak berada di lingkungan keluarga. Keadaan ini memotivasi guru untuk lebih optimal bekerjasama dengan orangtua dalam kegiatan belajar anak tunarungu, agar tumbuh keserasian antara pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan di rumah. Dengan demikian posisi keluarga sangat strategik peranannya dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak tunarungu.

Pembelajaran tunarungu yang paling utama dan terutama adalah pembelajaran bahasa. Sekolah yang di dalamnya terdapat anak tunarungu, hendaknya memiliki ruang BKPBI (Bina komunikasi persepsi bunyi dan irama) sebagai pendukung dalam membelajarkan anak tunarungu dalam mengolah bahasanya. Sehingga kemampuan berbahasa anak tunarungu dapat ditingkatkan dan semakin berkembang. Guru berlatar belakang pendidikan luar biasa kajian tunarungu, sangat diperlukan dalam mengembangkan bahasa anak tunarungu melalui BKPBI dan Bina Wicara. Untuk itu sekalipun berada di kelas  namun anak tunarungu tetap mendapatkan latihan (BKPBI dan Bina Wicara) BKPBI dan Bina Wicara ini sebaiknya diberikan secara rutin dan terus menerus hingga kosa kata anak bertambah banyak dan pada akhirnya mampu berkomunikasi dengan baik dan benar.

  1. Teknik Pengembangan

Pengembangan latihan fonem diarahkan ke pengembangan dalam kata, prase dan kalimat dalam berbagai situasi. Misalnya dari kata “A” guru bisa mengembangkan keterampilan anak tunarungu untuk mampu mengucapkan kara “a – pa”, “a – bu”, “ a – pi”, dan seterusnya. Selanjutnya dari penguasaan pengucapan kata, guru dapat mengembangkan ke kompetensi anak tunarungu untuk mengucapkan kalimat, misalnya dari “kata “apa” bisa dikembangkan ke dalam pengucapan kalimat “apa ini?”, dari kata “abu”, dapat dikembangkan ke dalam kalimat “ada abu di dapur”. Pilihan kata dan kalimat dalam teknik pengembangan, harus memperhatikan kebutuhan komunikasi anak tunarungu dalam konteks yang diperlukan. Tujuan akhir dari teknik pengembangan ini, ditujuan untuk mengembangkan keterampilan berbicara yang sesungguhnya pada anak tunarungu.

Teknik latihan pengembangan merupakan langkah untuk mengembangkan kesadaran dab kemampuan anak tunarungu untuk memiliki kebiasaan dalam mempersepsi bunyi-bunyian dan menggunakannya sebagai sarana berkomunikasi di lingkungan yang lebih luas. Bentuk pengembangan dari pembelajaran BKPBI pada anak tunarungu, pada akhirnya akan terpadu dalam berbagai aktivitas anak tunarungu di lingkungan sekitar.

Dalam teknik latihan pengembangan ini, guru sesungguhnya dapat berkreasi dalam menciptakan berbagai aktivitas bagi anak tunarungu. Latihan tari-tarian misalnya dapat dijadikan sarana untuk mengembangkan kesadaran bunyi dan memadukannya dalam gerak dan irama. Memang aktivitas menari pada anak tunarungu harus dibantu dengan petunjuk visual dari guru yang memandu keharmonisan gerakan yang dilakukan anak tunarungu dengan musik yang mengiringinya. Meskipun gerakan anak tunarungu dalam tarian dipandu melalui instruksi visual, namun melalui kegiatan ini anak tunarungu akan menyadari bahwa bunyi-bunyian tersebut dapat dirasakan secara terpadu dengan gerakan dan irama yang harmonis. Bahkan secara psikologis, dapat dikatakan bahwa ketika anak tunarungu melakukan aktivitas menari, hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri untuk menikmati atau menunjukan performance terkait dengan keharmonisan gerakan dan irama musik.

Myklebust(1963) dalam Bunawan & Yuwati (2000) mengembangkan pola pemerolehan bahasa pada anak dengan gangguan sensori pendengaran berdasarkan proses pemerolehan bahasa pada anak mendengar. Ia menerapkan pencapaian perilaku berbahasa yang telah dijelaskan di atas pada anak dengan hambatan sensori pendengaran.

Berhubung pada masa itu teknologi pendengaran belum berkembang, maka anak tersebut dipandang tidak/kurang memungkinkan memperoleh bahasa melalui pendengarannya. Oleh karena itu sistem lambang diterima anak melalui visual, taktil kinestetik, atau kombinasi keduanya, melalui isyarat, membaca, dan membaca ujaran.

Membaca ujaran dipandang pilihan yang tepat dibanding isyarat dan membaca. Dengan kemajuan teknologi pendengaran saat ini, maka sisa pendengarannya dapat dioptimalkan untuk menstimulasi anak dengan hambatan sensori pendengaran dalam perolehan bahasa. Apabila membaca ujaran menjadi dasar pengembangan bahasa batini anak dengan hambatan sensori pendengaran, kita dapat melatih anak tersebut untuk menghubungkan pengalaman yang diperolehnya dengan gerak bibir dan mimik pembicara. Bagi anak kurang dengar yang menggunakan alat bantu dengar, kita dapat menghubungkannya dengan lambang bunyi bahasa (lambang auditori). Setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa (visual & auditori) dan benda atau kejadian seharihari, sehingga terbentuklah bahasa reseptif visual/auditori. Sama halnya seperti anak mendengar, kemampuan bahasa ekspresif (bicara) baru dapat dikembangkan setelah memiliki kemampuan bahasa reseptif. Selanjutnya anak tersebut dapat mengembangkan kemampuan bahasa reseptif visual (membaca) dan bahasa ekspresif visual (menulis).

Demikian perilaku bahasa verbal yang dapat terjadi pada anak dengan hambatan sensori pendengaran. Pada umumnya, anak tunarungu memasuki sekolah tanpa/kurang memiliki kemampuan berbahasa verbal, berbeda dengan anak mendengar yang memasuki sekolah setelah memperoleh bahasa. Oleh karena itu dalam pendidikan anak dengan hambatan sensori pendengaran, proses pemerolehan bahasa diberikan di sekolah melalui layanan khusus. Layanan pemerolehan bahasa tersebut menekankan percakapan, seperti halnya percakapan yang terjadi antara anak mendengar dengan ibunya/orang terdekatnya dalam pemerolehan bahasa, dengan memperhatikan sensori yang dapat diberikan stimulasi.

Percakapan merupakan kunci perkembangan bahasa anak tunarungu (Hollingshead dalam Bunawan & Yuwati, 2000). Oleh karena itu, tugas guru SLB/B adalah mengantarkan anak dengan hambatan sensori pendengaran dari masa pra bahasa menuju purna bahasa melalui percakapan. Berkenaan dengan hal tersebut, Van Uden (1971) telah mengembangkan suatu metode pengembangan bahasa melalui percakapan, yang dikenal dengan Metode Maternal Reflektif (MMR). Metode tersebut menganut prinsip ” apa yang ingin kau katakan, katakanlah begini.”

Setelah anak memperoleh masukan bahasa yang cukup besar, anak dengan hambatan sensori pendengaran dapat dilatih untuk mengekspresikan diri melalui bicara. Dengan demikian, anak tersebut membutuhkan layanan pengembangan bahasa. Namun bagi anak yang sulit sekali berkomunikasi secara verbal, diberikan layanan komunikasi non verbal, yang meliputi abjad jari, bahasa isyarat alami (isyarat konseptual) serta bahasa isyarat formal (isyarat struktural/sistem isyarat). Selanjutnya berkembang suatu pendekatan yang menganjurkan penggunaan metode komunikasi oral dan isyarat secara simultan, yang dikenal dengan pendekatan komunikasi total, dengan harapan pesan komunikasi dapat diterima dengan lebih lengkap. Dalam berkomunikasi non verbal dapat dibantu dengan melalukan komunikasi augmentative melalui gesture, gambar,pantomim, ekspresi wajah, isyarat mata, dan sebagainya.


  1. Rangkuman
  1. Teknik prawicara ditujukan untuk mengkondisikan kesiapan mental, fisik, dan psikologis anak tunarungu untuk memasuki dunia komunikasi verbal. Dalam tahapan ini, guru melakukan serangkaian aktivitas seperti keterarahanwajah, keterahansuara, dan pelemasan organ bicara. Latihan keterahanwajah ditujukan untuk melatih kebiasaan dan kepekaan anak tunarungu dalam melakukan komunikasi untuk selalu memandang lawan bicara dengan arah posisi pandang wajah yang benar. Ukuran keterahanwajah ini ditujukan supaya anak tunarungu dapat dengan memudah bahasa bibir atau gerakan bibir sebagai pusat keluarnya fonem.
  2. Teknik latihan pembentukan fonem, meliputi teknik pembentukan fonem vokal dan konsonen. Vokal dapat dibentuk berdasarkan tinggi-rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, berbentuk bibir, dan strikturnya. Berikut ini jenis-jenis vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
  1. Berdasarkan tinggi rendahnya lidah: vokal tinggi, vokal (sedang), dan vokal rendah;
  2. Berdasarkan bagian lidah yang bergerak: vokal depan, vokal tengah, dan vokal belakang;
  3. Berdasarkan bentuk bibir: vokal bulat, vokal netral, dan vokal tak bulat;
  4. Berdasarkan strikturnya: vokal tertutup, vokal semi-tertutup, vokal semiterbuka, dan vokal terbuka.
  1. Monoftong atau vokal murni (pure vowels) ialah bunyi vokal tunggal yang terbentuk dengan kualitas alat bicara (Iidah) tidak berubah dan awal hingga akhir artikulasinya dalam sebuah suku kata. Secara praktis monoftong atau vokal tunggal biasa hanya disebut dengan istilah vokal saja. Artinya, yang dimaksud dengan istilah vokal adalah vokal tunggal, sedangkan diftong adalah vokal rangkap.
  2. Diftong ialah bunyi yang pada waktu diucapkannya posisi lidah yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya (jarak lidah dengan langitlangit).
  3. Latihan pembentukan penggemblengan dan pembentukan penyadaran irama/aksen pada anak tunarugu merupakan kegiatan lanjutan dari latihan prawicara dan pembentukan fonem. Latihan ini ditujukan untuk membentuk kesadaran bahwa pada akhirnya bunyi yang didengar atau dirasakan oleh anak tunarungu dapat dipadukan dengan irama. Dalam konsep lainnya dapat dikembangkan pula bahwa bunyi atau simbol-simbol bahasa yang didengar dan kemudian dikomunikasikan harus mengikuti aksen atau intonasi tertentu.
  4. Teknik latihan pengembangan merupakan langkah untuk mengembangkan kesadaran dab kemampuan anak tunarungu untuk memiliki kebiasaan dalam mempersepsi bunyi-bunyian dan menggunakannya sebagai sarana berkomunikasi di lingkungan yang lebih luas. Bentuk pengembangan dari pembelajaran BKPBI pada anak tunarungu, pada akhirnya akan terpadu dalam berbagai aktivitas anak tunarungu di lingkungan sekitar.
  1. Latihan
  2. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa inti dari teknik latihan prawicara dalam pembelajaran BKPBI!
  3. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa inti dari teknik latihan pembentukan fonem dalam pembelajaran BKPBI!
  4. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa inti dari teknik latihan pembentukan kesadaran aksen/irama dalam pembelajaran BKPBI!
  5. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa inti dari teknik latihan pengembangan dalam pembelajaran BKPBI!

Tes Formatif 2

Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling tepat, pada setiap item berikut ini;

  1. Berikut ini adalah tujuan dari teknik latihan prawicara dalam pembelajaran BKPBI, kecuali …
    1. Membentuk kesiapan mental sebgai insan berbicara
    2. Mengembangkan keterampilan berbahasa
    3. Menstimulasi kematangan organ bicara
    4. Membantuk kesiapan fisik sebagai insan berbicara
  2. Manakah di bawah ini yang bukan termasuk latihan dari teknik prawicara dalam pembelajaran BKPBI?
    1. keterarahan wajah
    2. keterarahan suara
    3. keterarahan kalimat
    4. pelemasan organ bicara
    5. Dilihat dari tinggi-rendahnya lidah, vokal [ε] dan [o] termasuk ………
    6. vokal tinggi
    7. vokal madya
    8. vokal tengah
    9. vokal rendah
    10. Yang termasuk vokal depan adalah …
    11. [i] dan [e]
    12. [¶] dan [a]
    13. [u] dan [o]
    14. [e] dan [o]
    15. Vokal yang dibentuk apabila rahang bawah diundurkan lagi sejauh-jauhnya

adalah

  1. [e]
  2. [a]
  3. [o]
  4. [u]
  5. Yang termasuk konsonan besuara adalah …
  6. [p], [t], [c], [k],
  7. [p], [b], [m], [w],
  8. [b], [d], [j], [g],
  9. [t], [d], [n], [r]
  10. Bunyi konsonan nasal-bilabial ialah …
  11. [m]
  12. [n]
  13. [ñ]
  14. [h]
  15. Berikut ini proses pembentukan konsonan berdasarkan hubungan artikulator

dan titik artikulasi, kecuali:

  1. konsonan nasal
  2. konsonan bilabial
  3. konsonan palatal
  4. konsonan velar
  5. Tujuan dari teknik penggemblengan kesadaran aksen/irama dalam

pembelajaran

BKPBI, adalah ….

  1. melatih kesadaran bahwa bunyi dapat diharmonisasikan
  2. melatih keterampilan berbicara
  3. mengembangkan kemampuan berbahasa
  4. mengembangkan rasa percaya diri
  5. Tujuan dari teknik penggemblengan kesadaran aksen/irama dalam

Pembelajaran BKPBI, adalah ….

  1. melatih kesadaran bahwa bunyi dapat diharmonisasikan
  2. melatih keterampilan berbicara
  3. mengembangkan kemampuan berbahasa
  4. mengembangkan rasa percaya diri

KUNCI JAWABAN :

  1. B
  2. C
  3. B
  4. A
  5. B
  6. C
  7. A
  8. A
  9. A
  10. D

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Setelah mengerjakan Tes Formatif 2, bandingkanlah jawaban dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir unit ini. Untuk mengetahui tingkat penguasaan terhadap materi ini, hitunglah dengan menggunakan rumus:

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 – 100 = baik sekali

80 – 89 = baik

70 – 79 = cukup

< 70 = kurang

Jika tingkat penguasaan saudara minimal 80%, maka saudara dinyatakan berhasil dengan baik, dan saudara dapat melanjutkan untuk mempelajari BAB 4. Sebaliknya, bila tingkat penguasaan saudara kurang dari 80%, silakan pelajari kembali uraian yang terdapat dalam subunit sebelumnya, khususnya pada bagian yang belum saudara kuasai dengan baik, yaitu pada jawaban saudara yang salah.

BAB IV

PROSEDUR PEMBELAJARAN BKPBI

 

Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat menerapkan prosedur pembelajaran BKPBI pada anak tunarungu.

 

Hambatan sensori pendengaran tidak hanya berdampak pada kurangnya/tidak berkembangnya kemampuan bicara, namun dampak yang paling besar adalah terbatasnya kemampuan berbahasa (Van Uden, 1977). Sejalan dengan hal tersebut , Leigh (1994) dalam Bunawan,L. (2004) mengemukakan bahwa masalah utama anak dengan hambatan sensori pendengaran bukan terletak pada tidak dikuasainya suatu sarana komunikasi lisan melainkan akibat hal tersebut terhadap perkembangan kemampuan berbahasa secara keseluruhan.

Masalah utama anak tunarungu adalah tidak atau kurang mampu memahami lambang dan aturan bahasa. Secara lebih spesifik, mereka tidak mengenal atau mengerti lambang/kode atau nama benda-benda, peristiwa kegiatan, dan perasaan serta tidak memahami aturan/sistem/tata bahasa. Keadaan ini terutama dialami anak yang mengalami ketulian sejak lahir atau usia dini (tuli pra bahasa).

Terhambatnya perkembangan bicara dan bahasa, menyebabkan anak dengan gangguan pendengaran mengalami hambatan dalam berkomunikasi secara verbal, baik secara ekspresif (bicara) maupun reseptif (memahami pembicaraan orang lain). Keadaan tersebut menyebabkan anak dengan gangguan pendengaran mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan lingkungan orang mendengar yang lazim menggunakan bahasa verbal sebagai alat komunikasi.

Terhambatnya kemampuan berkomunikasi yang dialami anak tunarungu, berimplikasi pada kebutuhan khusus mereka untuk mengembangkan komunikasinya yang merupakan dasar untuk mengembangkan potensi lainnya. Pada dasarnya setiap anak tunarungu dapat dikembangkan kemampuannya melalui berbagai layanan khusus dan fasilitas khusus yang sesuai dengan kebutuhannya. Layanan khusus tersebut antara lain adalah layanan bina komunikasi, persepsi bunyi, dan irama. Di samping itu, untuk mengoptimalkan sisa pendengaran yang masih ada, mereka membutuhkan fasilitas khusus, yaitu sistem amplifikasi pendengaran.

Dalam upaya mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa pada anak tunarungu, dilakukan melalui pembelajaran BKPBI. Implementasi pembelajaran BKPBI tersebut, harus dilaksanakan secara prosedural. Dalam hal ini, maka mengajarkan BKPBI, harus mengikuti prosedur pembelajaran yang dilaksanakan dalam 4 tahapan sebagai berikut: (1) deteksi bunyi musik/irama; (2) diskriminasi bunyi musik/irama; (3) identifikasi bunyi musik/irama; dan (4) komprehensi bunyi musik/irama.

  1. Deteksi Bunyi Musik/Irama

Tujuan dari deteksi bunyi, yaitu anak menyadari adanya bunyi-bunyian latar belakang, bunyi suara manusia, dan bunyi suara binatang secara terprogram. Program ini merupakan program pertama yang perlu dilatihkan pada anak dengan hambatan sensori pendengaran. Program ini merupakan latihan untuk memberi respon yang berbeda terhadap ada/tidak adanya bunyi, atau kesadaran akan bunyi yang menyangkut daya kepekaan (sensitivitas) atau kesadaran terhadap bunyi. Bunyi yang dilatihkan meliputi bunyi latar belakang, bunyi alat musik dan bunyi bahasa.

Berikut disajikan kegiatan pembelajaran untuk melatih deteksi bunyi/irama pada anak tunarungu.

  1. Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan, dimana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
  2. Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran) secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa mereaksi ada atau tidak ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera pendengaran saja.
  3. Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

Berikut disajikan gambar kegiatan dalam latihan mendeteksi bunyi-bunyian:

Gambar 4.1

Alat-alat yang digunakan dalam Latihan Deteksi Bunyi pada Anak Tunarungu

(Murni, 2010: p. 26)

Kegiatan pembelajaran deteksi bunyi dalam pembelajaran BKPBI dapat dipahami sebagai langkah awal dalam melatih kepekaan anak tunarungu terhadap bunyi-bunyian, sebagaimana dicontohkan dalam gambar 4.2.

Gambar 4.2 Latihan mendeteksi bunyi

dengan menggunakan media lonceng (Murni, 2010: p. 27)

Pembelajaran atau latihan deteksi bunyi pada anak tunarungu, terkadang anak dihadapkan pada kejenuhan. Kondisi ini dimungkinkan rasa frustasi dari anak tunarungu yang begitu sulit untuk mendeteksi bunyi-bunyian yang diperkenalkan oleh guru. Dalam menghadapi kondisi seperti ini, guru yang mengajarkan deteksi bunyi pada anak tunarungu harus menggunakan berbagai daya upaya, baik dalam hal penggunaan metode pembelajaran secara variasi, penggunaan alat peraga secara menarik, penggunaan media pembelajaran secara optimal, atau bahkan guru memadukan penggunaan alat peraga dan media pembelajaran dalam permainan yang menarik minat anak tunarungu dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, alam kegiatan lainnya, guru dapat mengkombinasikan kegiatan mendeteksi bunyi melalui permainan yang relevan dengan kegiatan deteksi bunyi. Berikut disajikan gambar latihan deteksi bunyi melalui permainan menjual es lilin.

Gambar 4.4

Penggunaan metode bermain dalam latihan mendeteksi bunyi

Pada anak tunarungu

(Murni, 2010: p. 30)

Dalam kegiatan lainnya, latihan mendeteksi bunyi pada anak tunarungu dapat dilakukan melalui permainan tanpa menggunakan alat peraga. Permainan tanpa menggunakan alat peraga dalam latihan deteksi bunyi, dapat dilakukan oleh guru dengan memodifikasi gerak dan irama. Penggunaan metode pembelajaran ini apabila diikuti dengan baik oleh anak tunarungu, sebenarnya memiliki fungsi ganda. Pertama, anak menjadi tertarik untuk mengikuti pembelajaran deteksi bunyi secara menyenangkan, tidak jenuh, dan aktif dalam pembelajaran. Kedua, memiliki fungsi untuk melatih keterampilan dasar dalam melakukan gerak dan irama sebagai dasar dalam membentuk harmonisasi antara bunyi dengan gerakan irama.

Supaya gerakan irama yang dilakukan dalam latihan deteksi bunyi dapat diikuti oleh anak dengan menyenangkan dan memiliki fungsi edukatif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, guru harus terampil dalam memilih dan menggunakan berbagai gerakan yang harus dilakukan oleh anak tunarungu. Berikut disajikan gambar latihan deteksi bunyi melalui metode bermain gerak dan irama tanpa menggunakan alat peraga, dalam gambar 4.5.

Gambar 4.5 Penggunaan metode gerak dan irama

dalam latihan deteksi bunyi Pada anak tunarungu (Murni, 2010: p. 29)

  1. Diskriminasi Bunyi Musik/Irama

Tujuan dari diskriminasi bunyi yaitu anak dapat membedakan dua macam sumber bunyi atau lebih yang berbeda timbrenya secara terprogram. Program ini mencakup latihan untuk membedakan bunyi, baik itu bunyi alat musik maupun bunyi bahasa. Oleh karena itu, dalam prosedur pembelajaran diskriminasi bunyi musik/irama, guru dapat menggunakan prinsip kontras, misalnya melatih anak tunarungu untuk mendengarkan bunyi dengan nada yang tinggi dengan nada yang rendah. Latihan membedakan bunyi mencakup:

  1. Membedakan dua macam sumber bunyi
  2. Membedakan dua sifat bunyi (panjang-pendek, tinggi- rendah, keras – lemah, serta cepat – lambatnya bunyi).
  3. Membedakan macam-macam birama (2/4,3/4, atau 4/4).
  4. Membedakan bunyi –bunyi yang dapat dihitung
  5. Membedakan macam-macam irama musik.
  6. Membedakan suara manusia, dan sebagainya.

Dalam latihan diskriminasi bunyi tersebut, perlu menerapkan prinsip kekontrasan, yang artinya melatih anak untuk membedakan bunyi yang memiliki perbedaan yang besar menuju perbedaan yang semakin kecil.

Berikut disajikan kegiatan pembelajaran BKPBI untuk melatih anak tunarungu dalam mendiskriminasi bunyi-bunyian.

  1. Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan, sebagai titik tolak respon untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
  2. Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran) secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa membedakan bunyi gong dan tambur yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: gerakan , membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera pendengaran saja.
  3. Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

Berikut disajikan gambar kegiatan pembelajaran BKPBI dalam latihan mendiskriminasikan bunyi.

Gambar 4.6 Latihan diskriminasi bunyi lonceng pada anak tunarungu

(Murni, 2010: p. 28)

 

  1. Identifikasi Bunyi Musik/Irama

Tujuan dari identifikasi bunyi yaitu anak dapat menyebutkan ciri–ciri dari bunyi-bunyi tertentu dan mampu mengenali bunyi-bunyi yang diperdengarkan baik melalui alat musik atau melalui suara manusia secara terprogram. Bunyi-bunyi yang diidentifikasi antara lain:

  1. Bunyi alam seperti: hujan, gemercik air, halilintar, dan sebagainya.
  2. Bunyi Binatang, seperti: burung berkicau, anjing menjalak, ayam berkokok, dan sebagainya.
  3. Bunyi yang dihasilkan oleh peralatan, seperti: bunyi bedug, lonceng, bel, bunyi kendaran, klakson, dan sebagainya.
  4. Bunyi alat musik, seperti: gong, tambur, suling, terompet, piano/harmonika, rebana, dan sebagainya.
  5. Bunyi yang dibuat oleh manusia, seperti : tertawa, terikan, batuk, serta bunyi bahasa (suku kata, kelompok kata atau kalimat).

Untuk membantu anak tunarungu mengenal bunyi, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Anak perlu diberi berbagai kesempatan untuk menemukan hubungan/asosiasi antara penghayatan bunyi melalui pendengaran dengan penghayatan melalui modalitas/ indera lain yang sebelumnya telah membentuk persepsinya terhadap berbagai rangsangan luar, yaitu modalitas motorik, perabaan, dan penglihatan.
  2. Dalam berinteraksi dengan anak, setiap kali terjadi suatu bunyi yang mendadak, mengarahkan perhatian anak terhadap bunyi tersebut. Tanyakan pada anak bunyi apa yang ia dengar. Apabila anak tersebut belum bisa menjawabnya, berikan jawabannya dan tunjukan dari mana bunyi tersebut berasal.

Berikut disajikan contoh kegiatan pembelajaran BKPBI dalam melatih mengidentifikasi bunyi-bunyian, pada anak tunarungu.

  1. Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan sebagai titik tolak respon untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
  2. Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan sisa pendengarannya secara klasikal maupun individual, yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: menyebutkan ciri-ciri, menyebut nama alat musik, membunyikan, menuliskan nama alat musik, atau bermain peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera pendengaran saja.
  3. Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

Berikut disajikan contoh gambar dalam kegiatan latihan mengidentifikasi bunyi kelompok alat musik gong dan drum pada anak tunarungu.

Gambar 4.7 Latihan identifikasi bunyi kelompok alat musik gong dan drum

Pada anak tunarungu (Murni, 2010: p. 29)

  1. Komprehensi (Pemahaman) Bunyi Musik/Irama

Tujuan dari komprehensi bunyi yaitu anak dapat memahami dan melakukan perintah sesuai bunyi yang diperdengarkan. Latihan memahami bunyi bahasa merupakan latihan untuk menangkap arti atau makna dari bunyi yang diamati berdasarkan pengalaman dan memberi respon yang menunjukkan pemahaman. Untuk menuju ke tahap pemahaman ini, dianjurkan hanya jika anak pada tahap identifikasi telah dapat mengidentifikasi lebih dari 50% materi/stimulus yang disajikan dalam tes identifikasi.

Materi latihan pemahaman diambil dari perbendaharaan bahasa yang telah dimiliki oleh anak dan disajikan dalam bentuk: pertanyaan yang harus dijawab anak; perintah yang harus dilaksanakan; serta tugas yang bersifat kognitif (menyebutkan lawan kata, menjawab ya/tidak atau betul/salah terhadap pertanyaan/pernyataan yang diberikan).

Berikut disajikan kegiatan dalam pembelajaran BKPBI pada tahap komprehensi bunyi-bunyian pada anak tunarungu.

  1. Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (Bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan sebagai titik tolak respon untuk materi yang akan dilatihkan pada saat itu.
  2. Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan sisa pendengarannya secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa memahami bunyi lonceng dan petir yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: menyebutkan nama bunyi, mengucapkan kalimat, dan bermain peran.
  3. Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

Dalam latihan komprehensi, guru dapat mengembangkan kegiatan secara variasi dengan tujuan untuk mengembangkan pemahaman perintah yang terkait dengan simbol bunyi. Berikut disajikan kegiatan lainnya dalam latihan komprehensi dalam pembelajaran BKPBI pada anak tunarungu.

  1. Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi dan melakukan pengecekan ABM kemudian dilanjutkan percakapan sederhana untuk mendapatkan materi yang akan dilatihkan.
  2. Guru menyajikan pertanyaan atau perintah dengan menggunakan satu indera pendengaran menggunakan kata ganti tanya apa, siapa, berapa, dimana, mengapa, bagaimana, dan beberapa perintah spontan yang dilakukan siswa sehari-hari, contoh: Apa warna bajumu?
  • Siswa menjawab pertanyaan secara spontan.
  • Siswa melakukan perintah guru secara spontan.
  • Guru mengamati respon siswa dan menuliskan di lembar pengamatan.
  1. Diakhir kegiatan guru membuat catatan hasil latihan.

Berikut disajikan contoh gambar latihan komprehensi dalam pembelajaran BKPBI pada anak tunarungu.

Gambar 4.8 Latihan komprehensi dalam pembelajaran BKPBI

(Murni, 2010: p. 30)

  1. Rangkuman
  1. Tujuan dari deteksi bunyi, yaitu anak menyadari adanya bunyi-bunyian latar belakang, bunyi suara manusia, dan bunyi suara binatang secara terprogram. Program ini merupakan program pertama yang perlu dilatihkan pada anak dengan hambatan sensori pendengaran. Program ini merupakan latihan untuk memberi respon yang berbeda terhadap ada/tidak adanya bunyi, atau kesadaran akan bunyi yang menyangkut daya kepekaan (sensitivitas) atau kesadaran terhadap bunyi. Bunyi yang dilatihkan meliputi bunyi latar belakang, bunyi alat musik dan bunyi bahasa.
  2. Tujuan dari diskriminasi bunyi yaitu anak dapat membedakan dua macam sumber bunyi atau lebih yang berbeda timbrenya secara terprogram. Program ini mencakup latihan untuk membedakan bunyi, baik itu bunyi alat musik maupun bunyi bahasa.
  3. Tujuan dari identifikasi bunyi yaitu anak dapat menyebutkan ciri–ciri dari bunyi-bunyi tertentu dan mampu mengenali bunyi-bunyi yang diperdengarkan baik melalui alat musik atau melalui suara manusia secara terprogram. Bunyi-bunyi yang diidentifikasi antara lain:
  4. Bunyi alam seperti: hujan, gemercik air, halilintar, dan sebagainya.
  5. Bunyi Binatang, seperti: burung berkicau, anjing menjalak, ayam berkokok, dan sebagainya.
  6. Bunyi yang dihasilkan oleh peralatan, seperti: bunyi bedug, lonceng, bel, bunyi kendaran, klakson, dan sebagainya.
  7. Bunyi alat musik, seperti: gong, tambur, suling, terompet, piano/harmonika, rebana, dan sebagainya.
  8. Bunyi yang dibuat oleh manusia, seperti : tertawa, terikan, batuk, serta bunyi bahasa (suku kata, kelompok kata atau kalimat).
  9. Tujuan dari komprehensi bunyi yaitu anak dapat memahami dan melakukan perintah sesuai bunyi yang diperdengarkan. Latihan memahami bunyi bahasa merupakan latihan untuk menangkap arti atau makna dari bunyi yang diamati berdasarkan pengalaman dan memberi respon yang menunjukkan pemahaman. Untuk menuju ke tahap pemahaman ini, dianjurkan hanya jika anak pada tahap identifikasi telah dapat mengidentifikasi lebih dari 50% materi/stimulus yang disajikan dalam tes identifikasi.
    1. Latihan
  10. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa tujuan dan lingkup materui dari latihan deteksi bunyi dalam pembelajaran BKPBI!
  11. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa tujuan dan lingkup materui dari latihan diskriminasi bunyi dalam pembelajaran BKPBI!
  12. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa tujuan dan lingkup materui dari latihan identifikasi bunyi dalam pembelajaran BKPBI!
  13. Jelaskan dengan bahasa sendiri apa tujuan dan lingkup materui dari latihan komprehensi bunyi dalam pembelajaran BKPBI!

Tes Formatif 3

Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling tepat, pada setiap item berikut ini;

  1. Masalah utama anak dengan hambatan sensori pendengaran bukan terletak pada tidak dikuasainya suatu sarana komunikasi lisan melainkan akibat hal tersebut terhadap perkembangan kemampuan berbahasa secara keseluruhan. Pernyataan ini dikemukakan oleh …
  1. Van Uden
  2. Landwick
  3. Leigh
  4. John Locke
    1. Tujuan utama dari latihan deteksi bunyi pada anak tunarungu dalam pembelajaran BKPBI, adalah …
  5. melatih kesadaran tentang adanya bunyi
  6. melatih kepekaan organ bicara
  7. memperkenalkan jenis-jenis bunyi
  8. melatih anak dalam proses pembentukan fonem
    1. Berikut ini adalah materi latihan yang diberikan dalam latihan deteksi bunyi pada anak tunarungu dalam pembelajaran BKPBI, kecuali …
  9. bunyi manusia
  10. bunyi latar belakang
  11. bunyi binatang
  12. bunyi benda
    1. Manakah tahapan berikut yang menggambarkan prosedur pembelajaran BKPBI pada anak tunarungu?
  13. Identifikasi bunyi, deteksi bunyi, diskriminasi bunyi, komprehensi bunyi
  14. Diskriminasi bunyi, deteksi bunyi, identifikasi bunyi, komprehensi bunyi
  15. Deteksi bunyi, identifikasi bunyi, diskriminasi bunyi, komprehensi bunyi
  16. Deteksi bunyi, diskriminasi bunyi, identifikasi bunyi, komprehensi bunyi
    1. Dalam pembelajaran diskriminasi bunyi pada anak tunarungu dalam pembelajaran BKPBI, sebaiknya guru memulai aktivitas sebagai berikut …
  17. membedakan dua macam bunyi berdasarkan timbrennya
  18. membedakan dua macam bunyi berdasarkan frekuensinya
  19. membedakan tiga macam bunyi berdasarkan frekuensinya
  20. membedakan tiga macam bunyi berdasarkan frekuensinya
    1. Berikut ini adalah kegiatan dalam latihan diskriminasi bunyi pada anak tunarungu dalam pembelajaran BKPBI, kecuali …
  21. membedakan cepat lambatnya bunyi
  22. membedakan macam-macam birama (2/4,3/4, atau 4/4)
  23. membedakan bunyi –bunyi yang dapat dihitung
  24. membedakan macam-macam irama musik
    1. Manakah di bawah ini yang termasuk ke dalam contoh bunyi yang dibuat?
  25. gemercik air
  26. tertawa
  27. suara burung
  28. suara bedug
    1. Orientasi utama dalam latihan identifikasi bunyi pada anak tunarungu dalam pembelajaran BKPBI, adalah …
  29. anak mengenali ciri-ciri bunyi-bunyian tertentu
  30. anak menyadari adanya bunyi-bunyian tertentu
  31. anak membedakan sifat bunyi-bunyian tertentu
  32. anak memadukan bunyi dalam gerak dan irama
    1. Tujuan utama dalam latihan komprehensi bunyi pada anak tunarungu dalam pembelajaran BKPBI, adalah …
  33. anak dapat melakukan gerak dan irama
  34. anak dapat memahami bunyi dan perintah sesuai dengan sifat bunyi
  35. anak dapat menciptakab bunyian-bunyian
  36. anak dapat melakukan komunikasi secara verbal
    1. Latihan komprehensi bunyi pada anak tunarungu dapat diajarkan apabila anak telah mencapai kompetensi pada program latihan sebelumnya, dengan capaian kompetensi sekurang-kurangnya sebesar …
  37. 65 %
  38. 60 %
  39. 55 %
  40. 50 %

KUNCI JAWABAN

  1. C
  2. A
  3. D
  4. D
  5. A
  6. A
  7. B
  8. A
  9. B
  10. D

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Setelah mengerjakan Tes Formatif 1, bandingkanlah jawaban saudara dengan kunci jawaban yang terdapat pada akhir unit ini. Untuk mengetahui tingkat penguasaan saudara terhadap materi ini, hitunglah dengan menggunakan rumus:

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 – 100 = baik sekali

80 – 89 = baik

70 – 79 = cukup

< 70 = kurang

Jika tingkat penguasaan saudara minimal 80%, maka saudara dinyatakan berhasil dengan baik, dan saudara dapat dikatakan menguasai seluruh modul ini. Sebaliknya, bila tingkat penguasaan saudara kurang dari 80%, silakan pelajari kembali uraian yang terdapat dalam subunit sebelumnya, khususnya pada bagian yang belum saudara kuasai dengan baik, yaitu pada jawaban saudara yang salah.

BAB V

PENUTUP

Secara keseluruhan modul ini telah menyajikan konsep dan langkah-langkah pembelajaran Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI), yang meliputi prinsip pembelajaran, teknik pembelajaran, dan prosedur pembelajaran. Dalam modul ini juga telah disajikan contoh gambar dari materi-materi yang dipaparkan, dengan tujuan untuk memberikan gambaran konkrit dari konsep yang disajikan, baik terkait dengan prinsip, teknik, maupun prosedur.

Pemahaman tentang isi modul ini akan mempermudah saudara untuk mempelajari modul lainnya terkait dengan diklat Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama. Oleh karena itu, sebaiknya sebelum melangkah pada modul berikutnya, ada baiknya saudara memahami dulu secara komprehensif isi dari modul ini. Hal ini mengingat bahwa modul ini merupakan satu dari lima modul yang harus sudara pelajari dalam program diklat BKPBI yang dikembangkan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (PPPPTK TK dan PLB).

Semoga kehadiran modul ini dapat memperkaya pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan membentuk sikap positif saudara dalam melaksanakan pembelajaran BKPBI bagi anak tunarungu di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Irawan Sensus. (2005). Konsep Dasar BKPBI. Bandung: PPPPTK TK dan PLB.

Bambang Nugroho. (2002). Bina Persepsi Bunyi dan Irama. Jakarta: UNJ.

Boothroyd, Arthur (1982), Hearing Impairments in Young children, Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New York

Bunawan, Lani dan C. Susila Yuwati (2000), Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu, Yayasan Santi Rama, Jakarta

Cox TC, A (1980), Audiologi, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Jakarta

Departemen Pendidikan Nasional (2000), Pengajaran Bina Persepsi Bunyi dan Irama untuk Anak Tunarung, Jakarta

Gatty (1994), Mengajarkan Wicara kepad anak-anak Tunarungu, Alihbahasa Hartotanojo, Yayasan Karya Bakti, Wonosobo

Griffey, Nicholas (1981), A Survey of Present Metods of Developing Language in Deaf Children

Gunarhadi, dkk. (2011). Bahan Pendalaman Materi PLPG. Solo: UNS.

Moores, Donald F. (2001), Educating The Deaf, Psychology, Principles and Practices, Houghton Mifflin Company, Boston , New York

Murni, W., dkk. (2010). Program Khusus SLB Bagian Tunarungu. Jakarta: Depdiknas.

SLB-B YRTRW. (2010). Profil SLB-B YRTRW. Diunduh pada 13 Maret 2012 dari slbb-yrtrw.blogspot.com/2010/12/tklb.html

Subarto (1993), Pelaksanaan Bina Persepsi Bunyi dan Irama di SLB-B di Indonesia, Makalah pada Penataran dan Lokakarya Federasi Nasional untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia, Jakarta

Uden, Van (1977), A World of Language for Deaf Children; basic Principles A Maternal Reflective Metod, Swetz&Zeitlinger, Amsterdam&Lisse, Holland

GLOSARIUM

 

No. Istilah Keterangan
1. Auditori Pendengaran
2. Deteksi Tahapan pertama dalam BKPBI
3. Desible Satuan derajat pendengaran
4. Diskriminasi Tahap kedua dalam BKPBI
5. Identifikasi Tahap ketiga dalam BKPBI
6. Imitasi Meniru
7. Komprehensi Tahap keempat dalam BKPBI
8. Sibernetik Hubungan antara bunyi, gerakan, dan membuat bunyi kembali
9. Stimulus Bunyi yang diberikan kepada anak
10. Taktil Rasa raba
11. VAKt Visual, Auditory, Kinestetik
12. Vibrasi Getaran
13. Visual Penglihatan

 


PRAKATA

 

Modul Prinsip, Teknik, dan Prosedur Pembelajaran BKPBI ini merupakan satu dari lima modul dalam program Diklat PKPBI yang dilaksanakan di PPPPTK TK dan PLB. Dalam program diklat BKPBI yang dilaksanakan di PPPPTK didukung oleh modul sebagai berikut:

  1. Konsep Dasar BKPBI
  2. Prinsip, Teknik, dan Prosedur Pembelajaran BKPBI
  3. Model Pembelajaran BKPBI
  4. Penerapan Metode Kata dan Akustik bagi ATR
  5. Pembelajaran Fonologi dalam BKPBI

Khusus tentang modul ini menyajikan konsep dan langkah-langkah terkait dengan pembelajaran BKPBI. Prinsip-prinsip pembelajaran BKPBI menyajikan konsep umum dan konsep khusus yang memberikan gambaran bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran BKPBI. Teknik pembelajaran BKPBI yang dibahas dalam modul ini menyajikan teknik pembelajaran BKPBI secara sistematis mulai dari latihan prawicara, pembentukan fonem, penggemblengan aksen/irama, dan pengembangan. Prosedur pembelajaran BKPBI menyajikan cara-cara mengajarkan deteksi bunyi, diskriminasi bunyi, identifikasi bunyi, dan komprehensi bunyi.

Setelah anda mempelajari secara komprehensif dan seksama tentang modul ini, diharapkan dalam mengimplementasikanya dalam proses pembelajaran BKPBI di SLB atau di sekolah inklusi. Semoga modul ini memberikan petunjuk konsep dan praktis dalam meningkatkan kompetensi melaksanakan pembelajaran BKPBI.

Bandung,  Maret 2012

Penulis,

Agus Irawan Sensus, M.Pd.

 

 

 

PRINSIP, TEKNIK, DAN PROSEDUR

PEMBELAJARAN BKPBI

 

 

 

 

 

MODUL JENJANG LANJUTAN DALAM DIKLAT

BINA KOMUNIKASI PERSEPSI BUNYI DAN IRAMA

 

 

 

 

 

Penulis:

 

Agus Irawan Sensus, M.Pd.

NIP. 197007012002121001

 

Penilai:

 

Dr. Br. Bambang Nugroho, M.Pd.

 

 

 

 

 

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK

DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK

DAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: