Terapi Realita bagi Tunanetra di Sekolah Inklusi

MAKALAH

TERAPI REALITAS (REALITY THERAPY)

BAGI TUNANETRA DI SEKOLAH INKLUSI

 

 

 

 

Diajukan Pada Temu Kolegial Jurusan PLB, APPKhi & Seminar Nasional Pendidikan Khusus 5-7 April 2013

Di Hotel The Hills Bukittinggi Sumatera Barat

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

JON EFENDI

NIP. 19651122 199403 1 002

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

FIP UNP – PADANG  2013


ABSTRAK

Reality Therapy dilakukan pada penyandang tunanetra dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar realitas ke dalam praktek Reality Therapy, yang disesuaikan dengan kemampuan penyandang tunanetra secara optimal. Konsep konseling therapy reality berfokus pada pemantapan reality yang dihadapi oleh tunanetra dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka signifikansi selektif terapi realitas yang dapat digunakan dalam pelayan konseling antara lain: 1) merubah perilaku. 2) pemahaman pada nilai benar dan salah, 3) pengalaman masa lalu konseli tidak boleh dijadikan alasan dalam menghadapi realitas kehidupan, 4) memfokuskan upaya pertolongan agar tunanetra dapat memahami dan menerima keterbatasan dirinya, 5) tunanetra dibantu untuk merubah cara berpikir dari paradigma lama yang dianutnya, 6) Menggunakan teknik konfrontasi.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penggunaan terapi realitas (Reality Therapy) dalam Konseling. Jika konseling dipandang sebagai sebuah proses pertolongan kepada konseli agar mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya, maka kita dapat menggunakan sumber-sumber maupun instrumen konseling yang memadai untuk tujuan dimaksud. Di antara sejumlah metode terapi dan konseling yang telah dirumuskan oleh para ahli, salah satu yang dapat digunakan dalam konteks ini adalah terapi realitas (reality therapy). Terapi realitas dapat digunakan sebagai alternatif pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus yang bermasalah. Di antara anak berkebutuhan khusus tersebut terdapat mereka yang mengalami kelaian penglihatan (tunanetra), mereka perlu mendapatkan layanan bimbingan konseling.

Sehubungan dengan hal itu, Gerald Corey dalam bukunya, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, mengatakan bahwa terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan masyarakat.

Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsible).

Individu termasuk para penyandang tunanetra harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Dengan demikian penyandang tunanetra tidak merasa terpuruk oleh suatu masalah yang selalu dikaitkan dengan ketidak berdayaan akibat kekurangmampuan dalam segi penglihatan. Seorang terapis bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Sebagai seorang tunanetra harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya. Terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu tunanetra agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya.


 

B. Tujuan Penulisan

            Tulisan ini mengangkat suatu persoalan bagi konselor dalam kajian perhatian pendekatan terapi realitas terhadap penyandang tunanetra. Bertujuan untuk memberikan alternatif dengan menerapkan konsep terapi realita sesuai dengan permasalahan yang dihadapi klien yang menyandang tunanetra. Konsep realitas khususnya untuk menjelaskan pemahaman  yang menempatkan realita yang sedang dihadapi dalam posisi yang tepat untuk membantu klien  sesuai dengan keterbatasannya dalam segi penglihatan.

C. Format Penulisan

Format penulisan ini menggunakan acuan berupa kajian dari berbagai literatur dan sumber-sumber yang mendukung berupa hasil-hasil diskusi dan kritisi dari barbagai nara sumber terkait.

Selanjutnya teori-teori akan digunakan untuk membahas permasalahan yang dikemukakan sebagai pokok permasalahan. Kaitan teori yang digunakan berupa; konsep terapi Realita, dan konsep tunanetra yang dikaitkan dengan proses Bimbingan dan Konseling yang berada di sekolah inklusi.

II. TERAPI REALITA PADA TUNANETRA DI SEKOLAH INKLUSI

A. Hakekat Terapi Realitas

Terapi realitas menekankan pada masalah moral antara benar dan salah yang harus diperhadapkan kepada konseli sebagai kenyataan atau realitas. Terapi realitas menekankan pertimbangan menyangkut nilai-nilai. Ia menekankan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya. Dengan kata lain terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Terapi realitas adalah proses pengajaran (teaching process) dan bukan proses penyembuhan (healing process). Terapi realitas sering menggunakan pendekatan kognitif dengan maksud agar konseli dapat meneyesuaikan diri terhadap realitas yang dihadapinya.

Berkaitan dengan terapi realitas maka seorang tunanetra perlu dikembalikan pada realitas yang ada saat ini sesuai dengan kondisinya. Dengan demikian tunanetra mampu melihat dan menyadari tingkah laku yang harus dihadapi sekarang. Terapis bisa menjadi orang yang membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sekarang dengan membangun suatu hubungan yang personal dan tulus.

B. Pokok-Pokok Pemikiran Terapi Realitas

  1. Pendapat tradisional yang beranggapan bahwa seseorang berperilaku tidak bertanggungjawab disebabkan oleh gangguan mental ditolak oleh Glasser. Glasser berpendapat bahwa orang mengalami gangguan mental karena ia berperilaku tidak bertanggungjawab.
  2. Pengalaman masa lalu diabaikan karena terapi realitas mengarahkan pandangan penilaiannya pada bagaimana perilaku saat ini dapat memenuhi kebutuhan konseli.
  3. Faktor alam bawah sadar sebagaimana ditekankan pada psiko-analisis Freud tidak diperhatikan karena Glasser lebih mementingkan “apa” daripada “mengapa”-nya.
  4. Terapi realitas menolong individu untuk memahami, mendefinisikan, dan mengklarifikasi tujuan hidupnya.
  5. Terapi realitas menolak alasan tertentu atas perbuatan yang dilakukan. Misalnya, orang yang mencuri tidak boleh beralasan bahwa ia terpaksa atau kepepet, dsb.
  6. Terapi realitas transferensi yang dianut konsep tradisional sebab transferensi dipandang suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi.

C. Pelayanan Konseling Tunanetra di sekolah Inklusi

Bila kita berkompetensi sebagai konselor bagi tunanetra di sekolah inklusi maka kita harus memahami pengertian dan karakteristiknya sehingga dapat memahami kebutuhannya.  Dalam sisi konseling realitas ini merupakan suatu hal yang harus menjadi perhatian utama bagi konselor. Dengan demikian konselor akan lebih leluasa mengembangkan penerimaan dirinya sebagai penyandang tunanetra.

Pengertian tunanetra menurut Nolan dalam Anastasia Widdjajantin (1996:5) menyatakan: Seseorang dikatakan buta (blind) bila ketajaman penglihatan sentral 20/200 atau kurang pada penglihatan terbaiknya setelah dikoreksi dengan kacamata atau ketajaman penglihatan sentralnya lebih dari 20/200 tetapi ada kerusakan pada lantang pandangnya membentuk sudut yang tidak lebih besar dari 20 derajat.

Karakteristik anak tunanetra menurut Anastasia  Widdjajantin (1996) sebagai berikut:

1) Rasa curiga pada orang lain; Keterbatasan akan rangsangan penglihatan yang diterimanya akan menyebabkan para tunanetra kurang mampu untuk berorientasi dengan lingkungannya. Akibatnya kemampuan mobilitasnya terganggu.

2) Perasaan mudah tersinggung; Perasaan tersinggung timbul karena pengalaman sehari-hari yang selalu menyebabkan kecewa, curiga pada orang lain. Akibatnya anak tunanetra menjadi emosional, sehingga segala senda gurau, tekanan suara tertentu atau singgungan fisik yang tidak disengaja dari orang lain dapat menyinggung perasaannya.

3) Ketergantungan yang berlebihan; Sikap ketergantungan pada orang lain ini mengakibatkan mereka kesukaran dalam mobilitas hal ini disebabkan orang tua cenderung memberikan perlindungan secara berlebihan (overprotective)

4) Blindism; Blindism merupakan gerakan-gerakan yang dilakukan tuna-netra tanpa   mereka   sadari. Gerakan-gerakan   ini   sangat   tidak  sedap dipandang mata, misalnya selalu mengelengkan kepala tanpa sebab, menggoyang-goyangkan badan dan sebagainya.

5) Rasa rendah diri; Tunanetra selalu menganggap dirinya lebih rendah dari orang lain yang normal. Hal ini disebabkan mereka selalu merasa diabaikan oleh orang di sekitarnya.

6) Tangan ke depan dan badan agak membungkuk; Tunanetra cenderung untuk agak membungkukkan badan dan tangan ke depan, maksudnya untuk melindungi badannya dari sentuhan badan atau terantuk benda yang tajam.

7) Suka melamun; Hal ini disebabkan karena keterbatasan visualisasi dan tunanetra hanya dapat membayangkan secara verbal. Akibatnya banyak waktu yang terasa dan digunakan hanya untuk melamun.

8) Fantasi yang kuat untuk mengingat sesuatu objek; Bermanfaat bermanfaat untuk perkembangan pendidikan tunanetra. Pengalaman sehari-hari dikaitkan dengan fantasinya, maka tidak jarang tunanetra dapat menciptakan sebuah lagu yang indah atau bahkan puisi yang indah.

9) Kritis; Tunanetra tidak pernah berhenti bertanya bila ia belum mengerti. Walaupun mereka mengalami ketunanetraan namun fungsi intelektualnya sama dengan orang normal. Kemampuan mengingatnya cenderung lebih baik dari pada kemampuan berfikir konseptual.

10) Pemberani; Tunanetra akan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh tanpa ragu-ragu, bila mereka mempunyai konsep dasar yang benar tentang gerak dan lingkungannya, sehingga kadang-kadang menimbulkan rasa cemas bagi orang lain yang melihatnya.

11) Perhatian terpusat (terkonsentrasi); Tunanetra memiliki kepekaan  indera dan konsentrasi yang baik. Sehingga dengan memanfaatkan kepekaan indera yang lain tunanetra akan mendapatkan kembali informasi yang dibutuhkan melalui indera lainnya.

Berkenaan dengan pengertian dan karakteristik tunanetra maka terapi realita seperti dinyatakan oleh; Paul Meier, dkk., bahwa; terapi realitas tampaknya memiliki pengaruh yang besar terhadap konseling. Para psikoterapis umumnya hanya menyerukan dengan lantang kepada konseli untuk menghadapi kenyataan, melakukan yang terbaik dan bertanggungjawab, namun mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar yang mengalami kelainan tunanetra.

Konselor pada penyandang tunanetra, juga berusaha memenuhi kebutuhan dasar konseli (love and self-worth) kasih dan rasa berharga. Apabila kebutuhan-kebutuhan penyandang tunanetra yang dikonseling sebagaimana dikemukakan di atas merupakan tujuan yang hendak dicapai dalam terapi realitas maka hal itu sedikit banyak dapat tercapai bila dilakukan oleh para konselor di sekolah. Seorang konselor dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar pada manusia sekalipun mereka mengalami kelaian fisik seperti tunanetra yang banyak memandang segala kehidupannya melalui ingatan dan konsentrasi. Memperlakukan dengan perhatian kasih sayang tanpa syarat kepada konseli yang bukan bersifat temporer dan situasional. Bukan hanya karena keprihatinan kita kepada klien melainkan harus dilandasi dengan sifat rela menerima apa adanya tanpa tendensi balas budi atau pamrih.

Konselor di sekolah inklusi harus berlatih; memberikan pemahaman bagi para keluarga, kelompok studi, sahabat yang dapat dipercaya, rekan profesional, kelompok karyawan mapun sejumlah orang yang seringkali menyediakan bantuan yang diperlukan baik pada masa-masa krisis, maupun pada saat individu menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Orang-orang percaya dukungan (support) dari konselor kepada penyandang tunanetra, diharapkan dapat menyembuhkan mereka yang sedang menghadapi masalah, serta membimbing orang ke arah pengambilan keputusan untuk menuju kedewasaan.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka signifikansi selektif terapi realitas yang dapat digunakan dalam pelayan konseling antara lain:

  1. Perubahan perilaku. Glasser beranggapan bahwa perilaku yang tidak bertanggungjawab dari seorang konseli sebagai penyebab gangguan mental sebenarnya sejalan dengan asumsi konseling. Seorang konselor mengaskan agar orang percaya tidak menjadi sesuatu yang mesti dipaksakan atau di idolakan.
  2. Berpatokan pada nilai benar dan salah. Konseling terhadap tunanetra yang mengalami berbagai persoalan kehidupan dewasa ini harus tetap berpatokan dan menjunjung tinggi nilai benar dan salah. Pelayanan konseling pada penyandang tunanetra diakibatkan oleh masalah etika dan tatanilai, maka ia harus didorong untuk bertanggungjawab dengan memperhatikan nilai benar dan salah.
  3. Pengalaman masa lalu konseli tidak boleh dijadikan alasan dalam menghadapi realitas kehidupan. Hal ini merupakan sesuatu yang positif agar konseli berani melangkah menghadapi kenyataan sekarang. Berani meninggalkan trauma masa lalu seseorang tunanetra, konselor membantu konseli untuk melupakan trauma akibat di masa lampau.
  4. Terapi realitas bagi tunanetra harus mampu menolak alasan pembenaran terhadap perbuatan mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan yang harus ditolak. Sebagai tunanetra ia tidak boleh menjadikan kekurangan dirinya untuk dijadikan alasan sebagai ketidak berdayaan.
  5. Pemikiran terapi realitas bagi Tunanetra memfokuskan upaya pertolongan kepada konseli agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dirinya perlu dikembangkan dalam konseling pada klien penyandang tunanetra. Konseli menyadari pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri dan terbuka terhadap pertolongan yang dilakukan oleh seorang konselor profesional.
  6. Melalui terapi realitas tunanetra dibantu untuk merubah cara berpikir dari paradigma lama menjadi paradigma baru yang lebih bermakna. Cara berpikir, dan sikap kaku cenderung menjadi pemicu lahirnya berbagai konflik.
  7. Oleh karena terapi realitas pada tunanetra juga menggunakan teknik konfrontasi. Melalui konfrontasi tunanetra dapat mengoreksi kesalahan dan membantunya berperilaku berdasarkan saran-saran yang diberikan kepadanya.

Terapi realitas yang menekankan perilaku tunanetra yang bertanggungjawab terhadap realitas, perbuatan baik dan tanggungjawab. Dengan demikian seorang tunanetra harus mampu menyesuaikan diri dengan keberadaannya sekarang ketika sekolah di sekolah inklusi. Tunanetra harus menerima secara positif keberadaannya di sekolah tersebut. Diharapkan ia mampu memegang peranan baik secara pribadi maupun sebagai bagian bagian dari kelompok di sekolah inklui tersebut secara aktif. Melalui layanan konseling diharapkan tunanetra harus mampu mewujudkan pemenuhan lima kebutuhan dasar sebagai manusia. Abraham Maslow, sebagaimana dikutip oleh Larry Crabb, yaitu: 1) kebutuhan fisik adalah unsur-unsur penting (makan-minum, tempat tinggal, dsb), 2) kebutuhan biologis dan ragawi, 3) kebutuhan rasa aman 4) kebutuhan dicintai dan mencintai, 5) aktualisasi diri untuk mengembangkan diri, kreatif, ekspresi.

Seorang konselor bagi penyandang tunanetra berusaha menjadi mediator untuk menghubungkan dengan menumbuhkan minat, miningkatkan kepercayaan  diri. Atau paling tidak ia dapat menghubungkan dengan pihak-pihak lain yang kemungkinan bisa menolongnya keluar dari krisis kehidupan yang dialaminya.

III. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Konsep konseling tentang hakikat manusia berdasarkan therapy reality, juga dapat diterapkan bagi tunanetra yang menginginkan pribadi sehat, yang secara umum relevan dengan konsep konseling.

b. Kondisi tunanetra pada hakikatnya tidak hanya sebagai makhuk biologis, pribadi, dan sosial, tetapi juga sebagai makhluk religius. Begitu juga tunanetra tidak hanya mampu atau tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

c. Sebagai tunanetra tetap memiliki sifat pembawaan dasar manusia. Bahwa potensi dasar manusia yang merupakan sumber penentu kepribadian adalah insting.

d. Kondisi tunanetra yang berada di sekolah inklusi pada hakikatnya adalah makhluk yang utuh dan sempurna, yaitu sebagai makhuk biologis, pribadi, sosial, dan makhluk religius yang harus dikembangkan agar lebih bisa menyesuaikan diri lebih optimal di lingkungan dimana ia berada.

KEPUSTAKAAN

Anastasia Widdjajantin. (1996), Ortopedagogik Tunanetra I. Jakarta: Depdikbud.

Bimo Walgito. (1991), Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Andi Offset.

Collins, Gary R. Christian Counseling. A Comprehensive Guide (Waco, Texas: Word Books, 1980).

_____________ (ed). Counseling in Times of Crisis (Dallas-London-Singapore: Word Books, 1987).

Corey, Gerald. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (terj.) (Bandung: Eresco,1988).

Crabb, Lawrence J. Effective Biblical Counseling (Grand Rapids-Michigan: Zondrvan Pub. House, 1977).

I Ketut Wesna, (1996-1997), Cahaya Netra. Edisi Kedua. Jakarta: Depdikbud

Meier, Paul et.al. Introduction to Psychology & Counseling (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House, 1988).

Munawir Yusuf (1996), Pendidikan Tunanetra Dewasa dan Pembinaan Karir. Jakarta : Depdikbud.

Rochman Natawijaya. (1992), Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Soerjono Soekanto. (1990), Sosialisasi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

St. Vembriarto. (1993), Sosiologi  Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.

Sutjihati Somantri. (1996), Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: