Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Peranan Koordinasi, Konsultasi, dan Kolaborasi dalam Outreach Counseling

April 26, 2015
  1. Koordinasi dalam Outreach Counseling

Jika dilihat makna kata “komunikasi, kerjasama, konsultasi , kolaborasi dan koordinasi. Kata-kata ini saling melengkapi satu sama lain untuk membentuk konseptual dasar yang menggambarkan makna kerja sama sebagai sebuah tim di sekolah. Dalam kegiatan konseling banyak kegiatan yang saling mendukung dalam makna kata yang hampir bersinggungan maknanya. Pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangan peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada peserta didik tertentu atau yang dipanggil saja”, melainkan untuk seluruh peserta didik (Guidance and counseling for all).

“…the roles of collaboration and negotiation to reach intersubjectivity between the students, families, and counselors can be promoted by using what students bring to the classrooms from their home or communities – their “everyday experiences” (Bayer, 1990) – their “funds of knowledge.(Velez & Greenberg, 1992/2005; dalam Okoji; 2008).

Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan oleh guru semua guru, guru bimbingan dan konseling/konselor, dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu, masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dalam hubungan fungsional kemitraan kolaboratif antara konselor dengan guru mata pelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal). Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru mata pelajaran perlu dirujuk kepada guru bimbingan dan konseling/konselor untuk penanganannya, demikian pula sebaliknya. Layanan bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua (guidance and counseling for all), dan oleh karena itu tidaklah tepat jika orientasinya hanya kepada pemecahan masalah, melainkan mencakup orientasi pengembangan (developmental) dan pemeliharaan (maintanance) serta pencegahan (preventive) secara menyeluruh. Layanan bimbingan dan konseling adalah upaya memfasilitasi perkembangan individu (dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir) ke arah kemandirian (dalam hal menetapkan pilihan, mengambil keputusan, dan tanggung jawab atas pilihan dan keputusan sendiri) untuk mewujudkan diri (self-realization) dan kapasitas pengembangan (capacity development). Kerjasama antara guru bimbingan konseling/konselor dengan guru mata pelajaran merupakan suatu keharusan. Sejalan dengan paparan di atas, perlu kita lihat makna kata tersebut dalam sisi pandang konseling.

O’Hanlon (2002, hlm. 8) dalam Sundari (2011, hlm. 58) mengemukakan “Not one to be confmed by purist thinking” sehingga konselor bukanlah satu- satunya sumber pemecahan masalah. Berbagai variasi sumber pemecahan itu ada dan terdapat di masyarakat yang terangkum dalam jaringan kerja sosial yang diciptakan konselor. Ini mengisyaratkan bahwa konseling perlu dipertimbangkan secara matang sebagai wujud usaha kolaboratif antara konselor, klien dan para ahli yang terkait, mampu berbagi bersama dengan keahlian dan kesahihannya. Oleh karena itu, seorang konselor perlu menciptakan penyelesaian dalam suatu permasalahan (co creating solvable problems) secara bersama-sama dengan pihak-pihak lain yang terkait.

Sebagai konselor  ia akan memainkan peranan penting dalam melukiskan dan pembentukan di dalam konteks konseling, seperti kutipan di bawah ini.

“…school counselors are the point of contact for parents and students to obtain assistance and research has shown that effective communication and collaboration are critical in linking schools with families (Clark et al., 2004; Giles, 2005; Lee, 2001; Martin & Hagan-Burke, 2002; Taylor & Adelman, 2000; Trumbull et al., 2001).

Effective communication includes the meaningful participation of students and their families in the decisions that affect their educational experiences (Salzman, 2001). Effective communication between the school and home is achieved when the schools understand the cultural values and orientation of their families. A student’s perspective of the world, how they carry out everyday tasks, how they communicate, how they respond to others, and how they learn are all determined by elements of their culture.” (Trumbull et al., 2001; dikutip dalam Okoji; 2008).

Dollarhide dan Saginak (2010, hlm. 197) menyatakan definisinya, “coordination is a counselor initiated leadership process in which the counselor helps organize and manage the comprehensive guidance program and related services.” Lebih lanjut dijelaskan dalam definisi ini tertanam beberapa konsep penting seperti berikut; 1) kegiatan koordinasi terhubung dengan kepemimpinan, 2) kegiatan koordinasi tidak sebagai fungsi pasif dari program konseling sekolah secara komprehensif, 3) koordinasi sangat penting bagi organisasi dan, pengelolaan program.

Konselor yang baik dalam kegiatan sehari-hari melakukan koordinasi sebagai bagian aktif dari pekerjaannya. Konselor berkoordinasi dalam gagasan, sumber daya, bahan, dan personil tentang desain dan penciptaan program, dan semua ide-ide, sumber daya, bahan, dan personil untuk membuat program. Koordinasi termasuk penjadwalan pertemuan dengan kelompok-kelompok konseling, konselor, guru dan orang tua ATGS. Bagitu juga halnya di SLB bahwa, konselor sekolah perlu mengkoordinasikan hubungan antara sekolah dan orang tua. Orang tua yang memiliki ATGS sebagai bagian dari organisasi sekolah, seperti struktur komite, kurikulum dan pelatihan orang tua, menyediakan layanan keluarga, layanan ketenagakerjaan, dan pelatihan keterampilan hidup.

  1. Peranan Konsultasi dalam Outreach Counseling

Dettmer dan Peggy dkk. (2005) menyatakan pendapatnya bahwa.

“…consultation is a triadic helping relationship where a consultant (professional) facilitates the development of knowledge and skills in a consultee (professional, paraprofessional, or non-professional), who in turn interacts directly with the client or client group.”

Seorang konsultan sekolah merupakan fasilitator komunikasi yang efektif, kerjasama, dan koordinasi yang menganugerahkan, konsultasi, dan bekerja sama dengan personil sekolah lainnya, personel pendukung, siswa, dan keluarga dalam sebuah tim yang membahas pembelajaran khusus dan kebutuhan perilaku siswa. Hubungan kerjasama antara konselor sekolah dengan pihak keluarga digambarkan dalam kutipan Okoji (2008) adalah.

“…relationships of reciprocity were formed, established by mutual trust between the teacher and families (Gonzalez, Moll, Floyd-Tenery, et al., 1995; Messing, 2005; Moll et al., 2005). This reciprocal relationship of mutual trust, or “confianza” (Gonzalez, Moll, & Amanti, 2005, p. 3; Velez & Greenberg, 2005, p. 61) between the families and teachers focused on what students or families could bring to the classroom and what the teachers could give to the students.” (Gonzalez et al., 2001; Messing, 2005; Moll, 1992).

Konselor sekolah dapat bertindak sebagai konsultan bagi kepala sekolah. Sebagai konsultan, konselor sekolah dapat menentukan rasio absensi, mengidentifikasi penyebab ketidakhadiran, mengusulkan solusi untuk mengatasi penyebab, dan beberapa solusi kehadiran untuk kepentingan kepala sekolah dan memberdayakan masyarakat sekolah.

  1. Peranan Kolaborasi dalam Outreach Counseling

Makna kolaboratif mengacu pada tujuan yang ingin dicapai oleh pihak-pihak yang melakukan kolaboratif, maka di antara mereka harus melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian secara bersama-sama, sebagaimana dikemukakan Idol & Baran Schmidt;  (2003. hlm. 60) bahwa ‘In collaborative, planning and implementing are joint  effort’. Dettmer, Peggy., dkk. (2005).

Bimbingan dan konseling kolaboratif adalah suatu proses intervensi konselor melalui kerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam rangka memberikan layanan kepada konseli dengan cara mengubah pandangan, tindakan, dan suasana dirinya, memahami, menyadari, memaksimalkan dan mengefektifkan potensinya seoptimal mungkin dalam hubungan kemitraan.

Guru dan konselor yang terlibat dalam kolaborasi hendaknya memahami secara jelas karakteristik kolaborasi, sehingga memungkinkan pihak-pihak yang berkolaborasi berpartisipasi secara optimal sesuai dengan tugas, peran dan tanggungjawab masing-masing. Cook dan Frend (1993) dalam Frans & Bursuck (1994. Hlm. 76) mengemukakan bahwa, ‘karakteristik kolaborasi didasari oleh sukarela, kesetaraan hubungan, tujuan bersama, tanggung jawab terhadap hasil, mampu menjadi sumber, kepercayaan dan kepentingan konseli.’ Selain itu pihak-pihak yang berkolaborasi harus memahami prasyarat  melakukan kolaborasi, yaitu adanya sikap saling percaya, memiliki keterampilan berinteraksi, dan memberikan kontribusi terhadap lingkungan.

Konselor harus berkerjasama dengan orang tua dalam rangka memberdayakan perpanjangan jangkauan. Dengan demikian akan lebih banyak program outreach counseling yang bisa di berdayakan demi kemandirian ATGS. Konselor dalam melaksanakan outreach dalam meningkatkan kemandirian ATGS diharapkan  memelihara  hubungan  dan mampu menjaga hubungan dalam berkolaborasi demi penanganan ATGS. Kolaborasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan outreach counseling. Dengan  kolaborasi melalui sistem seperti; kepala  sekolah  dan  guru,  menentukan tujuan dan pilihan yang harus dilakukan, dan mengutamakan hasil di mana bila posisi penangan ATGS sulit dijangkau secara langsung oleh guru sebagai konselor.

“Layanan bimbingan dan outreach counseling hanya dapat tercapai optimal jika terjadi kolaborasi profesional antar guru dan implementasi layanan harus ditopang oleh manajemen dan kepemimpinan sekolah yang kokoh.” Kompas (2009).

Pengalaman kolaborasi akan dimiliki apabila ada rasa percaya dan interes dari masing-masing pihak. Cook & Frend (1993) dalam Frans & Bursuck, (1994. hlm. 76) menyebutkan beberapa karakteristik kolaborasi.

  1. Landasan kolaborasi bersifat sukarela yang menunjukkan adanya keterbukaan dan kesiapan untuk berpartisipasi dalam kegiatan.
  2. Kolaborasi dilandasi oleh kesetaraan hubungan antara pihak-pihak yang terkait, adanya saling mengakui antara pihak yang satu dengan pihak yang lain.
  3. Kolaborasi hanya akan terjadi apabila ada tujuan bersama.
  4. Mau menerima perbedaan antara anggota kelompok yang dilandasi oleh tujuan bersama di antara mereka.
  5. Kolaborasi termasuk tanggungjawab terhadap hasil. Sebagai tanggungjawab bersama terhadap keputusan hasil yang dicapai.
  6. Melalui berkolaborasi mampu menjadi sumber dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan yang dilakukan.
  7. Dasar kolaborasi adalah memiliki kepercayaan dan interes. Kepercayaan merupakan salah satu dasar terjadinya kolaborasi.

Koordinasi dan kolaborasi konselor, memberikan contoh kepemimpinan dan advokasi dengan mitra di sekolah, dikutip dalam Iswari, M. (2006).

  1. Koordinasi dan kolaborasi berbagai tim bertujuan untuk mengatasi masalah sistemik siswa yang berisiko atau bila tidak berfungsi secara efektif di sekolah. Pendekatan diskusi harus fokus pada budaya, masyarakat, dan masalah sekolah yang mungkin mengganggu fungsi siswa, dan menimbulkan dukungan profesional dari (Jackson & White, 2000).
  2. Koordinasi dan kolaborasi pekerjaan pendidik khusus dan profesional lainnya di sekolah untuk; a) memberikan dukungan layanan pendidikan sebagai transisi khusus bagi siswa yang cacat, b) selalu mendukung pengembangan holistik siswa dengan ketidakmampuan belajar yang berisiko dan kekerasan pemuda (Barr & Parrett, 2001).
  3. Mengintegrasikan layanan berbasis sekolah dalam menyediakan layanan kesehatan mental di sekolah kesehatan berbasis klinik kesehatan mental, untuk menyediakan one-stop akses.
  4. Lebih mengintegrasikan layanan dari konselor sekolah dengan psikolog sekolah untuk mengurangi tumpang tindih.
  5. Mengkoordinasikan dan kolaborasi evaluasi iklim sekolah untuk kekerasan, rasisme, pelecehan seksual, dan aktivitas geng, untuk membantu dalam seleksi guru baru, agar lebih efektif dengan masalah-masalah disiplin yang mempengaruhi sekolah dengan menambahkan komponen konseling.
  6. Diharapkan mampu memimpin dan advokasi bagi karyawan sekolah.

Dengan demikian melalui proram kemitraan yang selalu terjaga akan membuat pola-pola hubungan kondusif untuk dapat menjangkau dan memperluas layanan konseling. Kolaborasi, koordinasi yang baik secara nyata akan mampu menjaga advokasi sekolah melalui konseling. Memaknai persolan dan kedudukan outreach counseling dari koordinasi, kolaborasi, konsulatasi dan fungsinya dapat dilihat bagan di bawah ini. Maksud dari paparan di atas mengetengahkan peran kolaborasi, koordinasi dan konsultasi bagi guru SLB sebagai konselor agar dapat melaksanakan program outreach counseling dengan mencermati pentingya peranan masing-masing agar dilakukan dalam rangka membantu meningkatkan kemandirian ATGS. Di samping itu sebagai guru dan fungsinya sebagai konselor dapat teratasi. Tentu tugas konselor akan lebih ringan dengan melibatkan orang-orang dalam suatu sistem untuk  berkolaborasi dan berdiskusi terhadap masalah kemandirian ATGS yang sulit diatasi oleh guru secara langsung.

Bagan 2.2 Peranan konsultasi, koordinasi, kolaborasi

Persaratan Konselor Outreach Counseling Anak Tunagrahita

April 26, 2015

Pendidikan khusus membutuhkan lebih banyak guru dan konselor. Untuk menjadi seorang konselor dibutuhkan tipe orang tertentu untuk dapat berhasil menjadi seorang konselor pendidikan khusus. Syarat untuk menjadi konselor outreach menurut Corvelay (2010) seperti di bawah ini.

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang konselor pendidikan khusus, Anda perlu memegang gelar sarjana sebagai persyaratan minimum untuk masuk ke program Master konseling pendidikan khusus.
  2. Memperoleh gelar Master konseling pendidikan khusus. Melakukan penelitian dan menemukan sebuah lembaga yang menerima Anda bekerja dan memberikan gelar dalam konseling pendidikan khusus. Kebanyakan program membutuhkan sekitar 36 hingga 48 jam kredit untuk menyelesaikan program.
  3. Memiliki pengalaman praktikum dalam konseling pendidikan khusus yang memiliki sejumlah jam praktek dalam suatu sekolah atau lembaga konseling lainnya.
  4. Mendapatkan sertifikasi pendidikan konseling khusus. Persyaratan ini berbeda antar negara ke negara. Beberapa negara hanya memerlukan sertifikasi dalam konseling sekolah, sementara yang lain memerlukan sertifikasi pendidikan konseling yang spesifik khusus.
  5. Jika Anda berencana untuk pindah, pastikan persyaratan sertifikasi untuk penelitian di negara tujuan. Kadang-kadang negara memiliki persyaratan yang tumpang tindih dan adakalanya sertifikasi dapat ditransfer.

Di samping beberapa persaratan yang dikemukakan di atas maka untuk bekerja dalam bimbingan konseling anak-anak menurut pendapat Geldard  dan Geldard (2011. hlm. 26-31).

  1. Bersifat Kongruen, hingga anak-anak harus menganggap hubungan dengan konselor sebagai hal yang bisa dipercaya dan suasana konseling dirasa aman. Agar hai ini terwujud konselor harus terintegrasi secara personal, rendah hati, bersikap wajar, konsisten, dan stabil sehingga kepercayaan bisa ditumbuhkan dan dijaga.
  2. Berhubungan dengan sisi kekanakannya, konselor harus mampu menemukan sisi anak-anak tidak berarti menjadi kekanak-kanakan atau menjadi anak-anak.
  3. Menerima, jika kita ingin mendorong anak-anak menggali sisi pribadi atau sisi gelap diri mereka, maka sebagai konselor kita harus bersikap agar bisa diterima sehingga anak-anak merasa diizinkan untuk menjadi diri mereka, tanpa batasan.
  4. Tidak Emosional, konselor tidak hanya harus menghindari tekanan emosional, tapi juga harus mencoba menghindari menunjukkan respons emosional yang kuat dalam menghadapi masalah anak.

‘f

Berdasarkan  empat kriteria bagi konselor anak-anak. Jelas bahwa, hubungan dalam terapi bersifat multisisi. Sebagai konselor harus mampu beradaptasi dan menunjukkan beragam kepribadian yang dibutuhkan dalam tingkatan yang berbeda dalam proses terapi dan pada titik yang berbeda dalam sesi konseling. Sebagai konselor sebaiknya perlu memperhatikan beberapa kondisi pendukung agar layanan outreach counseling dapat dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah.

SLB selama ini belum punya tenaga profesional bimbingan konseling yang khusus menangani layanan bimbingan. Semua usaha layanan bimbingan hanya ditangani oleh guru kelas dengan standar pendidikan sarjana. Persyaratan untuk konselor SLB diadopsi sesuai dengn pendapat di atas sebagai berikut.

  1. Memiliki ijazah sarjana PLB dari lembaga yang terakreditasi.
  2. Sarjana pendidikan lainnya dan sudah mendapatkan perkuliahan dan praktek Bimbingan dan Konseling.
  3. Memiliki pengalaman mengajar di SLB minimal lima tahun, dan memahami teknik konseling.
  4. Guru kelas yang memiliki tanggung jawab penuh di kelasnya, dan selalu melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dalam kelancaran PBM di SLB.

Guru yang memahami kondisi ligkungan dan budaya setempat dimana outreach counseling dilakukan.

OUTREACH COUNSELING BAGI ANAK TUNGRAHITA RINGAN

April 26, 2015

2. Definisi Outreach Counseling dan Kemandirian ATGS

Definisi outreach counseling merupakan suatu program pendekatan koseling untuk memaksimalkan layanan konseling sebagai alternatif bila proses koseling secara umumnya sulit dilakukan oleh konselor. Outreach menyarankan agar konselor perlu mengambil sikap aktif dan tidak membatasi program kerjanya terhadap klien yang bermasalah dan membutuhkan bantuan. Konselor outreach dituntut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mampu membicarakan dengan orang-orang yang beresiko terhadap masalah-masalah sosial tertentu.

“Teachers in innovative, alternative schools and programs have attempted, for more than 30 years, to meet the needs of students who either cannot or will not pursue their education in traditional high schools. In Alberta, a few educators began as early as 20 years ago to attempt to meet the needs of these students. The term outreach, which applies to community outreach and outreach counselling and refers generally to efforts to increase the availability and utilization of services, especially through direct intervention and interaction with the target population.” Housego (1999).

“…community-based approach in the field of college counsel­ing since the late 1960s, the primary focus of college counseling remains on individual and group treatment. For example. Stone and Archer (1990) sur­veyed a number of college counseling centers and found that only 24% of their staff time was spent in outreach and consultation. called for a further evolution by suggesting a paradigm shift, one aspect of which would be further development of the counselor’s role as campus educator”. (Crego, 1990).

Definisi outreach dimaknai sebagai program konseling yang dirancang untuk memperluas dampak layanan di luar penanganan langsung terhadap masalah. Istilah ini digunakan untuk pendekatan spesifik dan unik yang menawarkan layanan konseling terhadap program meningkatkan kemandirian ATGS. Outreach dirancang untuk memperluas dampak layanan kesehatan mental di luar remediasi langsung terhadap masalah. Berarti penjangkauan baik secara fisik dan psikologis untuk mencari cara-cara tambahan yang impactive.

Outreach akan memberikan kontribusi penting sebagai program individual. Termasuk intervensi yang berfokus pada transaksi individu dengan kehidupan dan lingkungan belajar, seperti pemetaan ekosistem, psychoecology, dan teknik lingkungan; intervensi berfungsi pencegahan, dan intervensi melibatkan lingkungan baru yang dapat membantu, seperti konseling naturalistik.

Outreach biasanya tergantung pada tingkat keinginan konselor untuk memvariasikan waktu intervensi. Menambah jumlah pembimbing yang terlibat, untuk diversifikasi metode yang digunakan dalam intervensi, untuk mengubah fokus dari intervensi, dan untuk mengubah pengaturan dan derajat keterlibatan.

Konselor yang bekerja dengan populasi terpinggirkan seperti orang-orang miskin, tunawisma, dan pengangguran; individu dengan masalah kesehatan akut atau kronis; dan korban orang dewasa, rasisme, heterosexism, seksisme, dan bentuk-bentuk penindasan lainnya. Meskipun populasi ini berbeda satu sama lain, mereka secara rutin mengalami tingkat stres yang lebih tinggi daripada lingkungan yang harus ditanggung. (Israel, 2006, p. 151) dalam Lewis A.J. dkk. (2011. hal.115).

The realities of marginalization and oppression make it clear that the role of community counselors must be to work with their clients within the broadest possible context. “Because oppression likely contributes to marginalized individuals’ vulnerabilities to mental health problems, individualistic interventions must be accompanied by societal and systemic solutions”.

Para konselor professional akan selalu berusaha mengembangkan berbagai program dalam rangka menjangkau layanan konseling lebih luas dan lebih leluasa mengembangkan layanan professional mereka, seperti kutipan di bawah ini.

Professional Outreach is committed to providing individuals with the knowledge and understanding of how to control their mental health. Psychologists provide evaluations and assessments in the client’s home, in the office, in the community or in another location. Services include family and individual counseling, parenting education, and substance abuse and psychological testing and services. Coming soon will be dentistry and physical therapy. (US Fed News Service, 26 May 2007).

Sejalan dengan kebutuhan layanan outreach counseling, saat ini sudah banyak dikembangkan dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan jangkauan yang lebih luas. Perkembangan layanan outreach counseling yang lebih profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

  1. Beberapa Alasan Melakukan Outreach Counseling dalam Meningkatkan Kemandirian ATGS

Konselor komunitas masyarakat dapat membantu klien yang kurang beruntung/terpinggirkan dalam mengembangkan rasa empati menjadi kekuatan pribadi dalam empat cara mendasar yang dikemukakan Lewis A.J. dkk. (2011. hal.115).

  1. End the self-devaluing and internalized oppression that result from external limitations and labeling.
  2. Bring marginalized individuals currently excluded from various aspects of school or community life into the mainstream of social interaction.
  3. Facilitate efforts to increase the power of the marginalized group to strive for needed social changes.
  4. Increase community responsiveness to the needs and rights of marginalized individuals and groups.

Beberapa alasan munculnya inisiatif para konselor untuk memunculkan outreach counseling di lingkungan kampus menurut pendapat Archer & Cooper (1998. Hlm. 131 -132).

  1. “…Adopt a primary outreach, consultation role as an initiator and catalyst for system change. Encourage and foster campus wide efforts to change and modify norms as well as the culture of campus groups and environments to promote health and development and to prevent dysfunctional and destructive behavior among students.
  2. Be aware of the politics of the institution.
  3. Participate in the outcome assessment mechanism of the institution to ensure that it assesses the broad-based objectives articulated in the college catalog.
  4. Develop and use various communication methods to discuss devel­opmental and mental health issues within the campus community.
  5. Secure a role in faculty development activities, particularly those related to personal and career development.
  6. Foster the development, maintenance, and coordination of parapro- fessional peer education and peer counseling programs on campus.
  7. Develop and coordinate self-help prevention/developmental programs using the best available technology.
  8. Develop expertise in mass communication strategies to assist campus groups that are attempting to change harmful campus norms or to develop norms that support the mission of the institution.
  9. Delegate the coordination, »execution. and development of campus- wide outreach and environmental change projects to students, staff, faculty, and administrative constituencies to the fullest extent possible.
  10. Capitalize on opportunities such as crises or campus-wide concerns to initiate and foster needed programs and to modify campus norms and sub-environments.
  11. Provide organizational consultation consultation for academic and service departments on campus”.

Beberapa langkah yang perlu diikuti dalam melaksanakan program outreach community menurut Lewis A.J. dkk. (2011. hal.101-102).

Ideally, outreach programs for vulnerable clients should adhere to the following guidelines:

  1. Use all available sources of client support, including family members, extended family members, peers, co-workers, church affiliates, counselors, and others who can serve as role models for successful coping.
  2. Provide opportunities for clients to help themselves and one another.
  3. Inform clients about the nature of the new roles or situations they face.
  4. Help clients develop the coping skills they will need to manage their specific situations effectively.
  5. Use methods that enhance clients’ sense of control over their situations and their lives.
  6. Implement services that reflect an accurate understanding of and demonstrate a genuine respect for the cultural integrity and needs of clients.

Berkenaan dengan konseling anak-anak yang dikembangkan melalui layanan outreach community Lewis A.J. dkk. (2011. hal.119) menyatakan seperti di bawah ini.

The programming for children is almost completely dependent on community outreach, with clinic visits tending to be reserved for the more serious mental health problems. Play therapy is provided by units that are located within the schools.

The outreach methods are designed not just to provide direct assistance but also to build a network of helpers who are trained to recognize signs of trauma. In the schools, training is provided for students, teachers, counselors, and parents. A large kindergarten program enlists kindergarten teachers, teaching them how to detect problems and provide help. The trained teachers, with assistance from mental health professionals, then carry out workshops for parents. Additional outreach for children is provided through summer camp projects.

Beberapa hal yang penting dari konseling komunitas yakni penjangkauan dengan melibatkan orang-orang yang berada dalam tekanan lingkungan dan keterampilan mengatasi masalah. Apakah peristiwa tertentu mencerminkan bencana dalam komunitas yang luas atau transisi pribadi, orang-orang yang bergulat dengan stres yang luar biasa sehingga memerlukan bantuan praktis, positif, dan pemberdayaan mereka yang bermasalah. Dalam kasus atau peristiwa traumatis yang mempengaruhi masyarakat, membantu individu harus didasarkan pada asumsi bahwa orang akan mampu bertahan jika mereka menerima bantuan yang mudah diakses,bersifat praktis, dan memiliki kompetensi budaya yang sesuai.

Keberhasilan program membantu konselor dengan mempedomani kerangka konseling dalam membangun masyarakat terhadap apa yang diketahui tentang situasi dan resiko dalam mengatasi masalah. Tindakan tersebut membantu klien mendapatkan kepercayaan diri dan rasa aman sebagai kontrol karena mereka belajar untuk mengatasi tantangan hidup agar lebih efektif.

Outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS  akan lebih mengoptimalkan lingkungan sosial terdekat ATGS. Lingkungan terdekat tersebut meliputi; orang tua, keluarga, dan lingkungan sekolah, teman senior (peer sistem), serta aksesibilitas yang menunjang bagi pemandiriannya. Masalah ATGS dapat menjadi kekuatan dalam memotivasinya, bahwa hidupnya berada di luar kendalinya akibat ketidak berdayaan intelektual. Makna outreach counseling dimaksudkan sebagai setting konseling yang memerlukan keterlibatan orang-orang terkait dalam rangka membantu memecahkan permasalah klien. Banyak di antara klien dalam pemecahan masalahnya memerlukan keterlibatan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan pihak lain dilakukan atas dasar izin dari klien, dan juga berdasarkan kebutuhan konselor untuk memberikan layanan secara profesional pada klien. Berkenaan dengan bimbingan, outrech counseling bagi ATGS sangat penting untuk melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat. Keterlibatan orang-orang dalam proses konseling bagi ATGS sangat berhubungan dengan kemampuan inteligensi yang rendah dan sesuai dengan karakteristik mereka.

“…we understand that the counseling relationship requires an atmosphere of trust and confidence between the student and the counselor. Professional responsibilities of school counselors is to fully respect the privacy rights of those with whom they enter counseling relationships. Counselors can jeopardize confidentiality when health and safety of students and / or others in danger. Despite all counseling is confidential, it is the purpose of school counselors and to involve a parent or guardian whenever possible. Consent forms for services are made available to all parents / guardians. If problems arise that seem to need the help of more than academic counselor can provide, then the referral will be made to care outreach program.” Bosco (2012).

Oleh karena itu pendekatan outreach counseling dalam membantu meningkatkan kemandirian sangat diperlukan. Pendekatan yang melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat dapat berperan serta dalam proses konseling untuk meningkatkan kemandirian ATGS.

Evette dan Susan. dkk. (1999) hasil penelitiannya yang menerapkan intervensi outreach counseling melalui telepon terhadap perempuan untuk mengkonsultasikan masalah kesehatan. “…sebanyak 83% dari wanita memenuhi panggilan konseling.  Konselor  menilai 84% dari panggilan dapat diselesaikan dengan baik sebagai reseptif atau netral dalam kurun waktu tertentu.” Artinya outreach conseling diperlukan dan dapat dilaksanakan untuk tujuan memperpanjang jangkauan yang sulit dilakukan melalui pertemuan secara langsung antara konselor dan klien.

Outreach counseling di sekolah pada umumnya tentu akan berbeda dengan pelaksanaan di SLB. Outreach counseling tidak menjadi progam utama, namun, ia akan memberikan kontribusi penting sebagai program yang bersifat individual bagi ATGS. Intervensi terutama pada pencegahan secara alami, dan intervensi terhadap lingkungan baru yang dapat dilakukan dalam proses konseling.

Beberapa alasan kebutuhan melakukan outreach counseling bagi guru sebagai konselor di SLB sebagai berikut.

  1. Dalam rangka memfariasikan waktu intervensi, waktu untuk melaksanakan bimbingan kemandirian oleh guru bagi ATGS terbatas dalam waktu yang sangat singkat. Untuk itu diperlukan variasi waktu dalam melaksanakan proses bimbingan. ATGS selama berada di luar lingkungan sekolah masih perlu bimbingan dan pemantauan dari pihak sekolah dengan melibatkan orang-orang yang berada dilingkungan terdekat dengan ATGS.
  2. Untuk melibatkan orang lain sebagai pembantu saat konseling. Adakalanya proses konseling itu sulit menjangkau klien secara langsung maka outreach bisa dilaksanakan dalam rangka memperpanjang dan memperluas jangkuan konseling, sehingga program tidak monoton pada model pendekatan klasik.
  3. Memvariasikan metode yang digunakan dalam intervensi. Kadangkala kejenuhan menghampiri petugas konseling, untuk itu mereka dapat melakukan perluasan dengan lebih melibatkan orang-orang lain dan dianggap berkopenten dalam melaksanakan tugas professional konseling, sehingga konseling tetap dapat berjalan dengan harapan membantu klien agar mampu mengatasi permasalahannya.
  4. Untuk mengubah fokus selama intervensi, menghindari pendekatan yang monoton seorang konselor membutuhkan variasi dalam memberikan layanan bantuan konseling. Dengan adanya variasi dalam layanan akan membuat konselor dapat bekerja dalam banyak vokus untuk menghindari kejenuhan.
  5. Untuk mengubah dan mengatur tingkat keterlibatan seorang konselor dalam proses konseling. Kadang dalam pekerjaan sebagai pembimbing diperlukan berbagai pengaturan dan strategi untuk melibatkan orang-orang tertentu, sehingga pekerjaan lebih rilek dan variatif dalam mengatur tingkat keterlibat dalam membantu pekerjaan konselor.

Pandangan bimbingan yang bersikap over protektif dari pembimbing dan orang tua terkadang juga dibutuhkan, seperti pendapat Geldard dan Geldard  (2011. hlm. 437).

  1. “…Perilaku over protektif membutuhkan pemahaman batasan yang tepat dan kemampuan mencari bantuan untuk mendapatkan perlindungan dari bahaya.
  2. Oleh karena sikap yang beragam terkait batasan dalam keluarga, seringkali dibutuhkan keterlibatan orang tua dengan anak-anak mereka dalam pendidikan perilaku over protektif.
  3. Membantu anak-anak dan/orangtua menyadari perbedaan antara harapan social, budaya, dan keluarga merupakan hal yang dibutuhkan sehingga keputusan yang sesuai dapat dibuat.
  4. Merupakan hal yang biasa diinginkan agar orangtua terlibat di dalam pembangunan rencana keamanan anak-anak sehingga mereka didukung untuk menjalankan rencana tersebut.
  5. Anak-anak harus di berdayakan sehingga mereka mampu melaporkan contoh-contoh perilaku yang tidak sesuai dan membagi informasi rahasia disaat yang tepat.”

Jika dimaknai berbagai alasan di atas maka outreach counseling dapat dikembangkan dalam upaya mengembangkan kemandirian ATGS. Artinya guru perlu melakukan inovasi agar dapat menjangkau sasaran bimbingan konseling yang lebih luas.

Outreach counseling pada dasarnya bersifat pasif-reaktif. Fokusnya pada pemulihan gangguan yang lebih parah sehingga membuat seseorang tidak efektif. Masalah akan menjadi kekuatan memotivasi diri, agar klien menyadari bahwa hidupnya berada di luar kendalinya. Model pasif-reaktif secara terang-terangan mengabaikan pencegahan, namun tergantung pada penurunan ketergantungan untuk kelangsungan hidup klien.

“…Outreach counseling available for individuals and families affliated with the Department of Human Services that requires intervention for behavioral health problems. Services generally occur in the home consumer, and includes 1 to 3 fifty-minute sessions per week, depending on your needs.” Clinton, dkk. (2011).

Menyikapi kutipan di atas bahwa outreach counseling disediakan bagi orang yang membutuhkan intervensi untuk menangani masalah perilaku yang sehat. Outreach counseling dapat dilaksanakan di rumah klien, dan disesuaikan dengan kebutuhan. Melalui outreach counseling konselor mempromosikan berbagai bentuk keragaman layanan yang bisa mempengaruhi pengalaman siswa dan cara siswa belajar meliputi berbagai aspek, seperti pendapat di bawah ini.

“Different forms of diversity include “language background, race, culture, ethnicity, gender, socioeconomic status, religious affiliation, family configuration, physical or psychological exceptionalities, sexual orientation, and literacy experiences.” “Successful” outreach counselors can identify and demonstrate appropriate counseling strategies for diverse populations and are able to adjust counseling styles to effectively respond to their students’ needs”. Okoji (2008. Hlm. 43).

Konselor yang melaksanakan outreach counseling memiliki keinginan untuk meningkatkan layanan terhadap penanganan masalah kemandirian ATGS. Sebagai konselor outreach counseling di SLB harus memiliki beberapa keterampilan dan spesialisasi tertentu yang mampu menjawab kebutuhan siswa agar lebih mandiri baik di sekolah maupun di rumah. Kesuksesan konselor dalam layanan outreach counseling lebih memahami iklim sekolah dalam memberlakukan norma-norma budaya yang berbeda dari budaya di rumah. Konselor outreach counseling harus mampu mengidentifikasi hambatan, iklim sekolah yang membuat siswa dan keluarga, dan memilih metode yang positif. Sejalan dengan upaya meningkatkan kemandirian ATGS maka peranan outreach counseling dapat dilaksanakan oleh guru SLB. Artinya dengan keterbatasan waktu bagi guru sebagai pembimbing, outreach counseling dapat dipilih sebagai sarana perpanjangan jangkauan yang dilaksanakan berdasarkan kolaborasi, koordinasi antara  guru dan orang tua, di lingkungan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari dengan ATGS. Dengan memaksimalkan peranan outreach counseling diharapkan tercapai peningkatan kemandirian ATGS dalam mengurus diri sendiri.

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh peneliti sepanjang sejarah penelitian pendidikan khusus dengan metodologi berbeda. Usaha membantu peningkatan kemandirian dan pengembangan kecakapan telah dimulai sejak awal abad ke-19.

Mc. Gaspar Itard (1962) “…The Wild Boy of Aveyron, there was a tradition of discovery, development, experimentation, and verification. Initially, the research methods employed in the field that was to become special education research were derived from medicine”,  Odom. dkk. (2005).

Hingga kini upaya penelitian terus dikembangkan, baik melalui upaya pendidikan dan konseling. Bagi ATGS di sekolah, dimana guru memegang peranan yang tidak dapat dihindari. Seperti upaya kemandirian ATGS yang belum teratasi secara maksimal. Tulisan ini akan mengetengahkan upaya penelitian di bidang konseling dengan model outreach counseling.

Alasan yang dikemukakan disesuaikan dengan kebutuhan penulisan, yang kemudian dinyatakan sebagai berikut. Morrill dkk. (1972)  dikutip dalam Drum dan Figler (1977).

  1. “…Jumlah jangkauan konseling di SLB yang disediakan relatif kecil, sehingga variasi dan kedalaman pendekatan penjangkauan sangat terbatas.
  2. Menggambarkan situasi (waktu dan energi) yang dikhususkan untuk kegiatan outreach lebih memiliki rentang jangkauan pendekatan yang lebih luas. Bagi ATGS yang memiliki keterbatasan dalam berintegrasi akibat kecerdasan yang terbatas lebih memungkinkan dilakukan outreach counseling.
  3. Program konseling lebih mengutamakan perkembangan yang terstruktur pada setiap program layanan konseling.”

Hal senada juga dinyatakan dalam pendapat Odom (2005). “…Special education research, because of its complexity, may be the hardest of the hardest-to-do science. One feature of special education research that makes it more complex is the variability of the participants.

            Di negara maju juga telah muncul berbagai organisasi yang bekerja dalam program outreach centre counseling seperti berikut.

(Galvin, 2012), “…Outreach Centers are non-profit organizations that receive state money through DVS to assist veterans and their families with a range of services. These vary by location and can include:

  1. Assistance and referrals to obtain federal and state veterans’ benefits
  2. Food pantry and clothing closets
  3. Transportation services
  4. Community activities
  5. Peer counseling
  6. Professional counseling
  7. Substance abuse counseling
  8. Anger management
  9. Post-traumatic stress counseling.

Cara kerja konselor dalam layanan outreach selalu menggunakan kerangka teori dalam praktek konseling seperti ditegaskan dalam kutipan berikut.

“…the outreach counselor works from a theoretical framework. The “successful” outreach counselor uses a theoretical framework to guide counseling practice and activities. “Accomplished school counselors use their extensive knowledge of the theories and best practices that support their profession to develop a sound, consistent, professional philosophy of counseling that guides their work with a diverse student population”. (NBPTS, 2002, hlm. 2); Okoji, (2008, hlm. 45)

Pusat pengambangan penelitian oleh Meharry di Nashville, telah menggunakan model konseling komunitas sebagai panduan  pengembang program yang dibangun pada beberapa teoritis yang mendasar (D’Andrea, 1994, p. 186) dalam Lewis A.J. dkk. (2011. Hal.107).

  1. Adolescents’ interactions with their environment can have either negative or positive effects on their mental health and personal development.
  2. A multifaceted approach is more efficient than a single-service approach.
  3. Outreach, prevention, and educational services are more appropriate to use in promoting the personal development of teenage mothers than remedial services.
  4. When providing counseling services to vulnerable populations, counselors need to be sensitive and responsive to the unique cultural, ethnic, and racial characteristics of the persons in the targeted group.

Beragam layanan konseling  kesemuanya ditujukan dalam memperluas jangkauan memberikan bantuan agar konseli terbebas dari permasalahannya dan dapat hidup normal. Bagi penyandang kelainan dan mereka yang membutuhkan layanan khusus tentu sangat diperlukan upaya bimbingan yang sangat sesuai dengan kebutuhan layanan mereka. Dalam mengembangkan aspek-aspek kemandirian ATGS yang perlu penanganan secara lebih konsiten merupakan pemicu munculnya upaya penelitian di bidang konseling seperti dimaksud dalam penelitian ini. Dengan melakukan outreach counseling pada ATGS dilibatkan beberapa komponen sistem sebagai upaya pendukung.

Sunardi (2005) menyatakan, “…layanan bimbingan di SLB pada umumnya belum memiliki tenaga ahli khusus di bidang bimbingan dan konseling.” Maka dalam implementasinya menjadi tanggung jawab guru dan dilaksanakan bersamaan dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dalam konteks Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagian besar kegiatan pendidikan hendaknya berbasis bimbingan. Untuk itu penting bagi setiap guru di SLB memahami secara benar tentang konsep layanan dasar bimbingan. Lebih lanjut dijelaskan, “…Mengingat kompleksitas permasalahan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus, pelaksanaan bimbingan dan konseling bagi mereka hanya akan berhasil apabila dalam implementasinya juga melibatkan lingkungan, terutama orang tua serta tenaga ahli yang multidisipliner”.

KONSEP BIMBINGAN KONSELING BAGI ANAK TUNAGRAHITA

April 26, 2015

A. Konsep Bimbingan dan Konseling

 Bimbingan merupakan upaya memberi bantuan untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal. Bimbingan dan konseling yang digunakan dalam penelitin ini merupakan upaya memfasilitasi ATGS agar berkembang secara optimal, mampu melakukan pengambilan keputusan secara mandiri agar terlepas dari permasalahan yang membebaninya. Bimbingan merupakan upaya/proses fundamental pada setiap ikhtiar pendidikan, baik pendidikan formal, non-formal maupun informal. Proses bimbingan (guidance) selalu melekat dalam ketiga bentuk pendidikan tersebut. Kegiatan bimbingan konseling dilaksanakan oleh guru yang berkualifikasi untuk melaksanakan dengan program yang telah terencana. Bimbingan dan konseling secara menyeluruh dengan sasaran membantu peserta didik agar mereka terlepas dari masalah.

            Pelaksanaan bimbingan konseling di SLB belum ditangani sepenuhnya oleh guru yang berkualifiasi bimbingan dan konseling. Khususnya dalam pelaksanaan bimbingan konseling bagi anak-anak tunagrahita. ATGS mengalami hambatan dalam kecerdasan yang menyulikan baginya dalam pelaksanaan bimbingan seperti yang dilaksanakan pada umumnya. Maka pelaksanaan bimbingannya tentu memiliki kekhususan tersendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuan dalam mengarahkan bimbingan agar mereka dapat mandiri dalam kehidupannya. Dari pandangan konseling ATGS merupakan suatu keunikan tersendiri yang menuntut pelayanan dan bimbingan konseling secara khusus.

Komunitas ATGS dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dibanding dengan anak normal. Maka dari itu bentuk pelayanan bimbingan konseling baginya memerlukan kekhususan yang membedakannya dari layanan konseling umumnya. Dengan demikian diperlukan sebagai dasar pelaksanaan konseling dalam komunitas mereka dalam mengatasi permasalahan kehidupan.

Bimbingan konseling komunitas memiliki asumsi mendasar sesuai dengan kebutuhan. Lewis A.J. dkk. (2011. hal.4) mengemukakan seperti di bawah ini.

The fundamental assumtions  underlying 21st-century community counseling include the following:

11
  • Human development and behavior take place in environmental contexs that have the potential to be nurturing or limiting.
  1. Even in the face of devastating stress, people who re treated respectfully can demonstrate surprising levels of strength and acces resources that a pessimistic helper might not see.
  2. Attention the multicultural nature of human development is a central component of community counseling.
  3. Individual development and community development are inextricably linked.

Asumsi yang mendasari pemikiran pada kutipan di atas yakni pada kebutuhan konseling komunitas. Komunitas yang berkenaan dengan kelangsungan kehidupan dalam potensi kehidupan. Melalui bimbingan diharapkan mampu memecahkan permasalahan, sesuai dengan keragaman manusia dalam layanan konseling yang membedakannya. Dengan demikian ATGS juga merupakan bagian dari komunitas yang membedakannya sehingga memerlukan bentuk layanan bimbingan yang berbeda. Seperti devenisi konseling komunitas yang dikemukakan oleh Lewis A.J. dkk. (2011. hal.9).

Community counseling is comprehensive helping frame work that is grounded in multicultural competence and oriented to word social justice. Becau human behavior is powerfully affected by context, community counselors use strategies that facilitate the healthy development both of their clients and of the communities that nourish them.

Berkenaan dengan komunitas konseling maka dalam penelitian akan digunakan penggunaan definisi dasar penjangkauan komunitas yang dikemukakan dalam kutipan Ford L. C. dkk. (2007. hal.172).

Outreach generally is defined as “the process of locating, contacting, and recruiting groups that are invisible, hidden, or otherwise difficult to engage in a program.” The operational definition of outreach for a given project, however, varies by project goals and community characteristics (Elwood, Montoya, Richard, & Dayton, 1995).

Berkenaan dengan komunitas ATGS berbeda dengan anak normal pada umumnya maka layanan konseling perlu dirancang sesuai dengan kebutuhan, keterbatasan kemampuan, serta karakteristik komunitasnya. Penjangkauan bimbingan perlu menyentuh berbagai upaya dalam membantu ATGS agar berkembang optimal, dan mampu mengatasi masalah kemandirian. Melalui outreach counseling sebagai bentuk penjangkauan dalam bimbingan konseling terhadap ATGS dalam membantu perkembangan kemandiriannya.

  1. Pengertian Bimbingan Konseling Bagi ATGS

SLB sebagai institusi yang menyelenggarakan pendidikan bagi ATGS, pelaksanaan bimbingan dan konseling belum ditangani secara proporsional. SLB belum memiliki tenaga khusus menangani permasalahan bimbingan dan konseling. Dengan kondisi demikian tugas guru pembimbing dilaksanakan oleh guru-guru dalam menangani masalah siswa. Layanan guru sebagai pembimbing ATGS akan mengalami berbagai kendala sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa. Pembimbing mengalami kesulitan bila berhadapan langsung dalam pelaksanaan konseling yang sesungguhnya. Disisi lain ATGS mengalami kesulitan jika dihadapkan pada keharusan pengambilan keputusan. Oleh karena ATGS mengalami hambatan dalam hal kecerdasan yang berdampak pada masalah kehidupan. Kemampuan ATGS mengambil keputusan sebatas sangat sederhana dan masih banyak membutuhkan bantuan dari orang lain.

Bantuan dari orang lain dalam hal kemandirian terhadap ATGS kebanyakan berasal dari lingkungan keluarga atau dari lingkungan terdekat. Lingkungan akan banyak memberikan bantuan baik disengaja maupun tidak sengaja berkenaan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Masalah intervention bagi ATGS jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama, akan berdampak pada kemandirian mereka. Kebanyakan ATGS kurang mampu melaksanakan kegiatan secara mandiri tanpa peranan bantuan dari lingkungan. Ketergantungan yang lama akan berakibat pada ketidakmandirian.

Bimbingan dan konseling di SLB kebanyakan dilakukan oleh guru kelas di samping melaksanakan proses belajar mengajar. Sementara keberadaan petugas khusus yang menangani masalah bimbingan dan konseling umumnya masih belum tersedia. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh guru kelas secara sederhana dan sejalan dengan tugasnya sebagai tenaga pengajar di sekolah.

Sunardi (2005) menyatakan tentang tujuan bimbingan di SLB meliputi beberapa persoalan berikut.

  1. Membantu peserta didik agar dapat melewati setiap masa transisi perkembangan dengan baik.
  2. Membantu peserta didik dalam mengatasi hambatan belajar dan hambatan perkembangan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapinya melalui pemenuhan kebutuhan khususnya.
  3. Membantu menyiapkan perkembangan mental anak-anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  4. Membantu peserta didik dalam mencapai taraf kemandirian dan kebahagiaan hidup.
  5. Membantu lingkungan, khususnya orang tua dalam memahami anak sebagai individu dengan segala keunikannya.
  6. Membantu orang tua anak dalam memenuhi kebutuhan khusus anaknya yang timbul sebagai dampak keluarbiasaan.

Banyak perasalahan yang butuh penangan bimbingan dan konseling sehingga tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama yang berkenaan dengan masalah peningkatan kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru dituntut untuk membimbing ATGS agar mampu mengerjakan aktifitas sehari-hari secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Kemandirian ATGS dalam kegitan sehari-hari di sekolah seperti; kegiatan makan dan minum, berpakaian, interaksi berbicara, aktivitas bermain, mengikuti pelajaran akademik, berbelanja, menyampaikan keinginan dan lain sebagainya. Di sekolah maupun di rumah ATGS masih banyak mendapat bantuan atau intervensi dari orang-orang di lingkungan terdekat. Lingkungan terdekat itu adalah; orang tua, saudara, kakek/nenek, atau orang lain di lingkungan rumah. Sementara di sekolah mereka lebih banyak di bantu oleh guru, kakak kelas atau teman. Akibatnya ATGS tidak mampu berbuat lebih banyak untuk kemandiriannya.

Guru dituntut untuk menyikapi kemandirian ATGS yang rendah dengan mengembangkan layanan bimbingan di sekolah. Dengan memberdayakan lingkungan agar jangkauan bimbingan lebih luas. Salah satu program yang dapat dilakukan yakni dengan memberdayakan lingkungan terdekat ATGS. Dengan demikian program bimbingan terbuka lebih luas dengan memperpanjang jangkuan bimbingan yang tidak dapat dilakukan secara langsung. Kegiatan bimbingan dengan memperluas jangkauan di sebut dengan istilah outreach counseling. Sejalan dengan upaya tersebut dikemukakan alasan seperti kutipan di bawah ini.

The Social Cognitive Model  posits four important components for altering student behavior: (a) acquisition of information, (b) development of social and self-regulatory skills, (c) enhancement of skills and self-efficacy, and (d) establishment of social support. McKusick. & Hoff. (1990) dalam Botvin & Busenbury (1992).

Berdasarkan ulasan di atas maka untuk lebih jelas dapat diperhatikan bagan di bawah ini.

Bagan 2.1 Konseptual model outreach counseling

MODEL OUTREACH COUNSELING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TUNA GRAHITA SEDANG

April 26, 2015

  1. Rasionalisasi Model

Kemandirian Anak Tuna Grahita (ATG) dalam kegiatan sehari-hari di sekolah masih mengharapkan bantuan ataupun mendapat intervensi dari lingkungan terdekat. Lingkungan terdekat seperti; orang tua, saudara, kakek/nenek, atau orang lain di lingkungan rumah. Akibatnya ATG menunggu belas kasihan orang lain dengan menunggu diam ditempatnya tanpa mampu berbuat lebih banyak untuk kemandiriannya.

Di  kota Padang terdapat 36 Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan jumlah guru 320 orang, terdiri dari 140 orang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 180 orang guru honorer. Jumlah siswa sebanyak 1200 orang yang tersebar di SLB kota Padang, dengan jenis kelainan; tuna netra, tunarungu, tunagrahita, dan autis. Diantara populasi siswa tersebut, 80% adalah ATG. Kondisi kemandirian ATG tersebut secara umum dinyatakan guru masih rendah.

1

Hasil penelitian oleh Tork et al., (2007), menyatakan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan kemandirian pada anak usia sekolah adalah: 1) faktor demografi (usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi); 2) faktor sosial kultural (budaya dan dukungan sosial); 3) faktor psikososial (konsep diri, rasa percaya diri, dan tipe kepribadian); 4) faktor fisik (kondisi kesehatan, kemampuan beraktivitas, disabilitas yang dialami). Anak yang berusia lebih tua memiliki kemampuan perawatan diri lebih baik dari anak dengan usia yang lebih muda (Wong et al., 2002).

Zhimin (2003) mengungkap kemampuan perawatan diri pada anak usia sekolah dengan sindrom nefrotik mendapatkan bahwa pada anak berusia 6-8 tahun mampu melakukan perawatan mandiri sebesar 83%, pada anak usia 9-10 tahun sebesar 95%, dan semua anak usia 11-12 tahun yang menjadi respoden dapat melakukan perawatan mandiri.

Guru dituntut untuk mengembangkan layanan bimbingan, yang lebih mampu memberdayakan lingkungan ATG agar mereka dapat dijangkau dalam proses bimbingan yang lebih luas. Melalui counseling community diharapkan dapat dijangkau sesuai dengan kultur budaya masyarakat dimana bimbingan dilakukan. Dalam hal ini termasuk anak terbelakang mental ataupun anak yang mengalami difabel lainnya.

Kegiatan bimbingan yang mampu mengembangkan dan memperluas jangkauan di sebut dengan istilah Outreach counseling. Menurut Billie EJ Housego (1999) bahwa, “…guru harus selalu berinovasi, berusaha mencari alternatif program sekolah. Outreach counseling berlaku untuk penjangkauan masyarakat dan mengacu pada upaya peningkatkan layanan, dan telah digunakan sejak tahun 1974. Istilah “outreach” muncul pertengahan tahun 1990.”

Outreach counseling merupakan suatu model bimbingan konseling untuk memaksimalkan layanan sebagai alternatif bila proses konseling secara umumnya sulit dilakukan oleh konselor. Melalui Outreach lebih mengarahkan pada sikap konselor untuk mengambil sikap aktif dan tidak hanya membatasi program kerjanya bagi klien yang membutuhkan bantuan dalam mengatasi masalahnya.

Berkenaan dengan keterbatasan dalam kecerdasan yang berdampak pada rendahnya kemandirian ATG, oleh karena itu model outreach counseling dalam membantu meningkatkan kemandirian dirasakan sangat diperlukan. Caranya dengan melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat, agar dapat berperan serta dalam proses konseling untuk meningkatkan kemandirian ATG.

American School Counselor Association (ASCA) dalam Linda H. F, T. Steuart W, at all.  (2002) mendesak konselor untuk melakukan penelitian empiris berbasis kode etik, dapat memberikan kontribusi profesional, sehingga meningkatkan kemandirian klien. Sue and Sue (2002), sejalan dengan upaya yang dikemukakan, bimbingan perlu dilihat sebagai kultur budaya yang harus dikembangkan dalam memberikan bimbingan konseling yang profesional. Untuk meningkatkan kemandirian ATG yang berada di SLB Kota Padang maka faktor budaya juga akan sangat mempegaruhi dan mewarnai pelaksanaan bimbingan kemandirian ATG. Terutama budaya dalam sistem kekerabatan dalam masyarakat Minang Kabau. Seperti kutipan Mas’oed Abidin, bahwa hubungan kekerabatan dalam budaya (adat) Minangkabau sangat dipelihara dan saling memelihara. Pepatah Minang mengatakan, “adaik  siang ba liek-liek, adaik malam badanga-dangakan atau adaik dakek janguak-bajanguak, adaik jauah jalang-manjalang”, tersedia  www.scrbd.com/doc.6248652. Pepatah ini bersifat untuk membimbing semua anggota kaum, agar tetap berhubungan dalam suka dan duka, dan rasa tanggung jawab saling menjaga dari hal-hal yang bisa menimbulkan rasa malu yang berlalu untuk kerabat jauh dan dekat.

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999) menyatakan bahwa 84% dari Outreach dapat dilaksanakan. Selain itu pelaksanaan outreach juga diterapkan di jenjang persekolahan dan perguruan tinggi. Artinya outreach conseling diperlukan dan dapat dilaksanakan dengan tujuan untuk penjangkauan jika proses konseling pada umumnya sulit dilakukan melalui pertemuan secara langsung antara konselor dan klien.

Untuk lebih jelas dapat diperhatikan bagan di bawah ini.

  1. Visi dan Misi Model Outreach Counseling
  2. 1. Visi Model Outreach Counseling ATG

Visi Model Outreach counseling adalah; Meningkatkan kemandirian ATGS yang berbudaya Minangkabau dan berpedoman pada semboyan “Alam Takambang Jadikan Guru”.

Visi di atas perlu di jelaskan dengan alasan-alasan mengapa model Outreach counseling sesuai dengan karakteristik ATGS dan bisa dilaksanakan. Visi Bimbingan Konseling (BK) bagi ATG bertolak sebagai dasar formal, konseptual dan kontekstual bersifat; edukatif, preventif dan developmental. Model layanan bimbingan di SLB mengacu pada bimbingan yang memandirikan dengan mengurangi proteksi dan konseling perkembangan yang berintegrasi dalam pembelajaran. Dalam pendidikan ATGS kata-kata yang penuh memotivasi menjadikan suatu slogan agar mereka selalu diberikan kesempatan yang kita kenal dengan “Kami juga bisa”. Artinya budaya belajar ATGS selalu memotivasi agar mereka mau berbuat sesuai dengan kemampuan yang optimal. Dengan demikian budaya belajar anak selalu sejalan dengan tata nilai hukum dan nilai budaya Minangkabau tempat model digunakan.

Keragaman dan budaya masyarakat kota Padang yang lekat disebut budaya Orang Minang perlu diperhatikan dalam bimbingan, seperti kutipan berikut;

The Multicultural Counseling Competencies have proven successful in disseminating the idea that counseling competency without multicultural competency is impossible. The competency document is organized around three major areas:

(1) counselor awareness of own cultural values and biases, (2) counselor awareness of client’s worldview, and (3) culturally appropriate intervention trategies. Within each of these sections, the competencies are listed under the categories of (a) attitudes and beliefs, (b) knowledge, and (c) skills. It is important to note that the first section highlights the importance of the counselor’s awareness of his or her own cultural values and biases. The quest for competency is an ongoing process that begins with self-interrogation and never stops. Judith A. Lewis, et.all (2011).

Tatanan budaya kehidupan masyarakat Minangkabau lebih berperan pada rasa kebersamaan nilai-nilai sosial yang dianut seperti tingginya peran ninik mamak, kaum cerdik pandai, dan alim ulama sangat berperanan dalam tata nilai dan norma yang berlaku bagi masyarakat. Selain itu rasa kepedulian sosial masyarakat dilaksanakan sebagai kesepatan yang bersifat umum dan telah tertanam pada diri individu sebagai bagian anggota masyarakatnya. Untuk menjaga keselarasan di Minangkabau dilaksanakan berdasarkan urutan hirarki, dinyatakan oleh tamsilan Mas’oed Abidin tersedia www.scrbd.com/doc.6248652. Tanggal 20 September 2014.

“Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo ka pangulu, Pangulu barajo ka Mufakaik, nan bana badiri sandiri”.   “Kemenakan berpedoman kepada Mamak, Mamak berpedoman kepada Pangulu, Pangulu berpedoman kepada Mufakat, yang benar berdiri sendiri”.

Nilai yang dianut untuk menjaga silaturrahmi antara kerabat dapat ditamsilkan sebagai berikut. Bila dikaitkan dengan pendidikan ATGS di Minangkabau dapat menyesuaikan  bahwa tanggung jawab pendidikan terhadap anak bukanlah tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Namun peran Ninik Mamak dan Pangulu sangatlah penting demi kelanjutan pendidikan anak kemenakannya. Sementara mufakat memiliki posisi yang paling tinggi dalam penegambilan keputusan. Pola kehidupan demikian hingga kini masih terasa di Minangkabau.

Disisi lain untuk mengarahkan seseorang dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari di tamsilkan seperti kutipan di bawah ini.

“salah basapo, sasek batunjuak-an, lupo bakanakan, takalok bajagokan”. “bila salah diditegur, bila sesat ditunjuki, bila lupa diingatkan, bila ketiduran dibangunkan”.

Artinya kekerabatan di Minangkabau mengandung makna tentang kehidupan masyarakatnya yang tidak hanya mengurus diri sendiri/nafsi-nafsi. Maknanya jika dikaitkan dengan pengasuhan pendidikan bahwa baik orang tua ataupun ATGS tidaklah hidup seorang diri, akan tetapi dalam pola perilaku dan bertindak di kehidupan sehari-hari akan selalu diperhatikan oleh kaum kekerabatannya. Sesuai dengan kemampuan daya berfikir ATGS yang rendah, maka mereka selalu mendapat pengawasan bagi kaum dan masyarakatnya. Ini selalu kelihatan bahwa ATGS selalu mendapat bimbingan dan di perhatikan oleh masyarakat sekelilingnya.

Kaluak paku kacang balimbiang, Tampuruang lenggang-lenggangkan, Bao manurun ka saruaso, Anak dipangku kamanakan di bimbiang, Urang kampuang dipatenggangkan, Tenggang nagari sarato jo adaiknyo”, “Keluk pakis kacang belimbing, Tempurung lenggang-lenggangkan, Bawa menurun ke saruaso, Anak di pangku kemenakan di bimbing, Orang kampung tetap di bela, Bela negeri serta adatnya”.

Maknanya bahwa menjadi seorang laki-laki di Minangkabau tidak saja sebagai penerus dan membiayai keluarga di rumah istrinya. Namun peran yang lebih luas berlaku di kaum kerabat satu kaum dengannya, yakni melindungi anak kemenakan dan memelihara harta pusaka, memelihara, mendidik anak dan kemenakannya.

Tamsilam seperti di atas bersifat membimbing semua anggota kaum, agar mereka tetap berhubungan dalam suka dan duka, selain itu juga berfungsi menumbuhkan rasa tanggung jawab individu untuk saling menjaga sebagai kontrol supaya tidak membuat malu, bukan saja anggota kaum kerabat lainnya, tetapi juga suku, dan kampung halaman. Bila diperhatikan ada garis lurus antara ajaran dan anjuran memelihara silaturrahmi dalam agama Islam. ATGS dalam pola kekerabatan di Minangkabau tetap terpelihara kelangsungan hidupnya sesuai adat kekerabatanya. Ninik Mamak akan menjadi contoh yang akan mempertahankan harta pusaka dan kelangsungan hidupnya. Arah pendidikan anak kemenakan tetap menjadi perhatian sanak kerabatnya.

  1. 2. Misi Model Outreach Counseling ATG

Pada prinsipnya visi pendidikan ATGS di Minangkabau sejalan dengan budaya orang Minang itu sendiri yakni “alam takambang jadi guru” (alam terkembang jadi guru). Selain itu sebagai bagian dari masyarakat minang maka ATGS juga perlu memahami prinsip “tahu di nan ampek” (tahu kata mendaki, tahu kata mendatar, tahu kata melereng, dan tahu kata menurun). Pemakaian kata-kata tersebut selaras dengan visi bimbingan bagi ATGS di Ranah Minang termasuk juga masyarakat kota Padang.

  1. Misi layanan BK memiliki kepentingan dalam peningkatan mutu pendidikan.
  2. Mensukseskan Wajar Dikdas 9 tahun. Meningkatkan pelayanan bimbingan di S
  3. Mengurangi sikap otoriter dan overproteksi yang dapat dimanfaatkan oleh konselor untuk memperluas jangkauan konseling.
  4. Melibatkan orang-orang terdekat dengan ATG akan lebih dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.
  5. Melaksanakan bimbingan dalam suatu konteks keutuhan suatu simtem dalam memberikan bimbingan kemandirian pada ATG.
  6. C. Tujuan Model Outreach Counseling

Model outreach counseling bertujuan untuk memfasilitasi guru pembimbing khusus dan sistem dalam rangka memperpanjang jangkauan dalam upaya pemberian bantuan kepada ATGS agar dapat meningkatkan kemandiriannya. Untuk mewujudkan tujuan model outreach counseling, maka diperluan kerangka konseptual yang mampu melukiskan pijakan teori yang mendasar sehingga menggambarkan pengorganisasian sistemik dan dapat diaktualisasikan dengan baik. Sejalan dengan Visi dan misi  yang dijelaskan di atas maka tujuan model outreach Counseling berorientasi pada hasil yang dicapai dari temuan model. Model ini terkait dengan upaya pembimbing dalam peningkatan layanan BK.

Sunaryo; (2010) menegaskan, “…pelayanan BK bagi ATGS amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (activities daily living) yang tidak akan terisolasi dari konteks.” Oleh karena itu pelayanan BK merupakan pelayanan intervensi tidak langsung yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan fasilitasi perkembangan konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya.

Tujuan model Outreach counseling dapat di rinci seperti berikut;

  1. Outreach counseling bertujuan meningkatkan kemampuan ATGS dalam mengurus dan membina diri sendiri dengan mengurangi intervensi orang lain,
  2. Outreach counseling membantu ATGS agar dapat bergaul di masyarakat sesuai dengan kemampuan yang optimal,
  3. Outreach counseling bertujuan membantu mengembangkan kemampuan ATGS dan dapat bekerja untuk bekal hidupnya.
  4. Asumsi yang Mendasari Model Outreach Counseling

Asumsi model outreach counseling bagi ATG sebagai berikut.

  1. Bahwa penangangan terhadap upaya pemandirian ATG tidak terjadi dalam suatu kekakuan yang vakum,
  2. Bahwa sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dalam konseling yang memandirikan sesuai perannya di sekolah,
  3. Bahwa upaya pemfasilitasian ATG tidak mungkin dapat dilakukan oleh konselor sendiri, sesuai dengan keterbatasan ATG.
  4. Bahwa ATG secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat,
  5. Bahwa diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATG,
  6. Bahwa koordinasi antar lingkungan terdekat dengan ATG sangat perlu dioptimalkan dalam bimbingan kemandirian.

Asumsi model outreach counseling ini bermanifestasi budaya masyarakat Kota Padang atau budaya Minangkabau yang di cerminkan dalam tatanan budaya kehidupan sehari-hari. Budaya tidak bisa terlepas dari tatatan, nilai dan hukum dimana budaya itu di anut sehingga model outreach counseling bisa dilaksanakan. Budaya petitih Minangkabau jika dilihat peranan penggunaan kata “tahu di nan ampek” bimbingan bagi ATGS sangat kelihatan sekali dalam proses belajar di SLB. Makna kata nan ampek; 1) kata mendaki artinya dalam pengajaran siswa selalu dibimbing untuk menghormati guru atau orang yang lebih tua, 2) makna kata mendatar yakni saling menghargi antara teman di sekolah, 3) makna kata malereng yakni mengerti dengan kata-kata sindiran, 4) makna kata menurun yakni berbahasa lemah lembut kepada yang lebih kecil. Sebagai guru atau pembimbing di SLB harus mampu menerapkan sepanjang proses bimbingan di sekolah.

Orang Minangkabau menurut A.A. Navis  dalam Irdawati memiliki hubungan yang kuat antara sesamanya. Mereka tidak bisa keluar dari lingkungannya karena “suku tidak bisa dialihkan, malu tidak dapat dibagi” (suku tidak dapat dialihkan, malu tidak dapat di bagi). Adalah kewajiban setiap orang meningkatkan nilai kerabatnya yang setali darah menurut system matrilinial, meningkatkan nilai suku atau kaum, bukan orang lain. Tersedia di  http://download.portalgaruda.org/article.php?article=25

Asumsi budaya seperti dijelaskan di atas dapat digunakan sebagai hal yang mendasari bahwa model Outreach Counseling dapat dilaksanakan dalam meningkatkan kemandirian ATGS di kota Padang.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATGS apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATGS. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATGS dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

Sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dan mengembangkan layananan yang dirasakan sesuai dengan karakter dan kondisi ATGS, sehingga konseling yang memandirikan dapat memegang perannya di SLB.

Ketunagrahitaan bermanifestasi dalam, kesulitan dalam “Adaptive Behavior” atau penyesuaian perilaku. Hal ini berarti ATG tidak dapat mencapai kemandirian yang sesuai dengan ukuran (standard) kemandirian dan tanggung jawab sosial; mengalami masalah dalam keterampilan akademik dan berpartisipasi dengan kelompok usia sebaya.

Keterampilan dalam kemandirian harus melalui proses belajar. Sunaryo, (2010), pengembangan bakat khusus bagi konseli tidak terjadi dalam suatu ruang kefakuman, melainkan selalu menggunakan bidang studi sebagai konteks pembinaan bakat. Ini berarti bahwa, wilayah pelayanan keahlian seorang konselor juga perlu dipetakan dengan mencermati peran konselor, berkaitan dengan pelayanan BK yang memandirikan bagi konseli yang berbakat khusus. Memfasilitasi secara maksimal pengembangan potensi konseli berbakat khusus tidak dapat dilakukan sendirian oleh konselor atau oleh psikolog, akan tetapi harus dengan peran serta dari guru-guru serta lingkungan terdekat akan memberikan arti yang jauh lebih besar.

Bahwa upaya pemfasilitasian kemandirian ATGS tidak mungkin dilakukan oleh konselor atau guru pembimbing sendiri. ATGS dengan keterbatasan dalam inteligensi akan sulit baginya untuk menjalani proses konseling apabila dihadapkan pada pengarahan diri dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian konseling bagi ATGS tidaklah berlangsung dalam suasana otoriter dan dalam suasana yang vakum. Diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATGS sesuai dengan norma dan nilai-nilai budaya yang di anut sehingga outreach counseling dapat dilaksanakan. Sehingga ATGS secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat dimana mereka berada.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATG apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATG. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATG dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

  1. E. Sistem Kekerabatan dan Budaya di Kota Padang

Sistem dimaksud berupa orang-orang, peraturan, hukum, nilai dan budaya yang digunakan di lokasi dimana model Outreach counseling dilaksanakan. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa sistem dimaksudkan selalu memeliki nilai-nilai budaya setempat. Kota Padang yang umumnya terdiri dari masyarakat keturunan orang Minangkabau. Dengan demikian budaya yang digunakan berupa budaya Minangkabau.

Budaya masyarakat Kota Padang atau orang Minang tercermin dalam ungkapan pepatah dan petitih yang ditamsilkan seperti pendapat kutipan Idrus Hakimi Dt Rajo Pangulu.

Anak dipangku, kamanakan dibimbiang (Artinya : anak diberikan nafkah dan disekolahkan, serta kemenakan dibimbing untuk menjalani kehidupannya)

Duduak marauk ranjau, tagak meninjau jarak (Artinya : hendaklah mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, dan jangan menyia-nyiakan waktu)

Dima rantiang dipatah, disinan sumua digali (Artinya : dimana kita tinggal, hendaklah menjunjung adat daerah setempat)

Gadang jan malendo, cadiak jan manjua (Artinya : seorang pemimpin jangan menginjak anggotanya, sedangkan seorang yang cerdik jangan menipu orang yang bodoh)

Satinggi-tinggi tabang bangau, babaliaknyo ka kubangan juo (Artinya : sejauh-jauh pergi merantau, di hari tua akan kembali ke kampung asalnya),

Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Minangkabau. tgl 19 Nov 2014

Dukungan sistem merupakan kegiatan yang membangun, memelihara dan memperkuat model outreach counseling di sekolah. Upaya pengembangan program bimbingan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindakan lanjutan.

Kegiatan merencanakan model outreach counseling meliputi beberapa pertimbangan: (a) model bimbingan outreach counseling yang disusun harus relevan dengan kebutuhan dan masalah ATGS; (b) model outreach counseling perlu mempertimbangkan karakteristik kebutuhan dan keterlaksanaan program sekolah; (c) situasi dan kondisi fasilitas; personel, ruangan, dana, dan peralatan; (d) model outreach counseling dijabarkan dalam kerangka kerja terinci dan sistematis; (e) model outreach counseling perlu menentukan organisasi dan mekanisme kerja dan bentuk kerjasama, dan (f) dan untuk menilai keberhasilan model outreach counseling maka diperlukan adanya penilaian terhadap model yang telah dilaksanakan.

Pemanfaatan sumber daya masyarakat dalam model outreach counseling meliputi mengidentifikasi sumber daya masyarakat dan menjalin kerjasama yang dapat dilakukan dengan; orang tua, anggota keluarga, masyarakat, instansi terkait yang mendukung model outreach counseling secara lebih luas. Prioritas hubungan dengan orang tua haruslah diintensifkan dengan cara saling bertukar informasi melalui buku penghubung antar orang tua dan konselor.

Pengembangan dan penataan kebijakan model outreach counseling di sekolah, melalui penunjukan koordinator BK oleh kepala sekolah bekerjasama dengan guru kelas lainnya untuk merumuskan teknik, waktu, dan tempat pelaksanaan model outreach counseling.

Dukungan sistem dan kolaboratif, merupakan kegiatan yang terkait dengan manajemen, dan tata kerja. Kolaborasi atau konsultasi dengan berbagai pihak yang dapat membantu upaya pemandirian ATGS, pelatihan pembelajaran bernuansa BK bagi guru-guru, termasuk pengembangan kemampuan guru BK/konselor secara berkelanjutan sebagai profesional.

  1. Materi Model Outreach Counseling Kemandirian ATGS

Materi yang dijadikan bahasan dalam model outreach counseling ini dikembangkan berdasarkan studi awal yang dilaksanakan pada bulan Februari 2014 terhadap ATGS di Kota Padang. Penelitian awal tersebut dilakukan guna mengungkap data baseline kemandirian ATGS di lima SLB Kota Padang. Materi yang diuji dalam pengungkapan kemandirian ATGS tersebut berkenanan dengan kegiatan “kemandirian mengurus diri sendiri” yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan seperti di bawah ini.

Rincian materi dijabarkan dalam bentuk uraian kegiatan berikut.

  1. Kegiatan makan dan minum, menyiapkan makanan, dan membantu memasak di dapur meliputi; a) mengenal peralatan makan, b) makan dengan tangan, c) makan dengan sendok dan garpu, d) minum dengan gelas, sedotan, minuman dalam kemasan, e) mengenal jenis makanan dan minuman, f) makan dan minum yang sopan, g) makan tepat waktu, h) menyiapkan makan di meja, i) mengenal peralatan memasak, j) membantu memasak di dapur.
  2. Membersihkan dan merapikan diri meliputi berbagai kegiatan berikut; a) mencuci tangan, b) berkumur-kumur, c) menggosok gigi, d) mencuci muka, e) mencuci kaki, f) mencuci rambut, g) membersihkan mata, h) membersihkan kuku, i) membersihkan badan saat mandi, j) menyisir rambut, k) menyemir sepatu, l) memakai bedak, m) menggunakan minyak wangi.
  3. Membersihkan lingkungan dan kesehatan badan meliputi kegiatan berikut; a) membersihkan alat-alat rumah tangga, b) menata dan member-sihkan ruangan, c) buang air kecil dan besar, d) menggunakan obat sederhana, f) melakukan olahraga sederhana, g) membersihkan dapur, h) membersihkan WC, i) merapikan peralatan sekolah, j) menyimpan dan merapikan mainan.
  4. Kegiatan berbusana meliputi meteri berikut; a) mengenal macam-macam pakaian luar, b) mengenakan pakaian luar, c) mengenal macam-macam pakaian dalam, d) mengenakan pakaian dalam, e) memasang kancing dan retsleting, f) mengenakan sepatu tanpa tali, g) mengenakan sepatu bertali, h) mengenakan kaus kaki, i) mengenakan ikat pinggang.
  5. Kerjasama, meliputi kegiatan berikut; a) kerjasama dengan masyarakat, b) kerjasama dengan yang lebih tua, c) kerjasama dengan yang lebih muda, d) kerjasama dengan Ayah/Ibu, e) kerjasama dengan kakak, f) kerjasama dengan adik, g) kerjasama dengan kakek/nenek, h) kerjasama dengan guru, i) kerjasama dengan teman.
  6. Persyaratan Personil Pelaksana Model Outreach Counseling

Menentukan persayaratan sebagai konselor perlu diperhatikan beberapa kondisi pendukung agar layanan Outreach counseling dapat dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah tempat pelaksanaan model. Misalnya, di SLB selama ini belum ada tenaga profesional bimbingan konseling yang khusus menangani layanan bimbingan. Semua usaha layanan bimbingan hanya ditangani oleh guru kelas dengan standar pendidikan sarjana. Persaratan personil/konselor pembantu untuk dapat melaksanakan model outreach counseling akan dibagi sesuai kebutuhan dan fungsi serta peran keterlibatan dari masing-masing personil. Sejalan dengan persaratan personil pembantu dalam pelaksanaan model dimaksud sejalan dengan pendapat yang dikutip dari Corvelay.

1) Persaratan bagi Kepala Sekolah

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang konselor pendidikan khusus
  2. Disarankan memiliki gelar Magister Pendidikan
  3. Berpengalaman sebagai kepala sekolah minimal lima tahun terakhir
  4. Pernah mengikuti perkuliahan bimbingan dan konseling
  5. Memiliki pengalaman praktek bimbingan terhadap ATG
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di tempat model outreach counseling

2) Persaratan bagi guru

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang guru pendidikan khusus.
  2. Memiliki gelar Sarjana/S1Pendidikan
  3. Memiliki pengalaman mengajar minimal lima tahun terakhir
  4. Pernah mengikuti perkuliahan bimbingan dan konseling
  5. Memiliki pengalaman praktek bimbingan terhadap ATG
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di tempat model outreach counseling dilaksanakan

3) Persaratan bagi orang tua

  1. Adalah orang tua kandung dari ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku anaknya/ATGS dengan baik
  3. Memiliki kesabaran, penyanyang dan memiliki sifat keibuan
  4. Memiliki niat baik untuk meningkatkan kemandirian ATGS
  5. Menyukai tantangan dalam membimbing ATGS
  6. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam system pelaksanaan model outreach counseling
  7. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling

4) Persaratan Bagi Anggota Keluarga

  1. Adalah saudara kandung atau pengasuh dari ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku ATGS dengan baik
  3. Memiliki sifat sabar, penyanyang
  4. Memiliki sifat sosial tinggi dan suka membantu orang lain
  5. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam system pelaksanaan model outreach counseling
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling dilaksanakan

5) Sarat bagi Teman Senior

  1. Adalah teman senior dari sekolah yang sama dengan ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku ATGS dengan baik
  3. Memiliki sifat sabar, penyanyang, dan suka membantu
  4. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam sistem pelaksanaan model outreach counseling
  5. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling dilaksanakan
  6. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Outreach counseling

Langkah-langkah pelaksanaan model outreach counseling ini dirancang setelah melalui hasil diskusi, koordinasi yang panjang antara personil yang dilibatkan dalam penelitian. Selanjutnya langkah-langkah pelaksanaan  akan mengikuti penyederhanaan yang dikemukan Sukmadinata (2006; 189) (R&D Borg & Gall) menjadi tiga langkah utama. Langkah pelaksanaan model outreach counseling dibagi dalam kelompok; persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Langkah pelaksanaan model Outreach counseling selanjutnya digambarkan seperti di bawah ini.

  1. Persiapan
  2. Melakukan pengambilan data baseline untuk mendapatkan gambaran tentang kemandirian yang telah di kuasi oleh subjek peneltian.
  3. Berdasarkan data baseline ditetapkan pengkajian materi yang terdiri dari; a) makan dan minum, b) kebersihan diri, c) kebersihan lingkungan, d) berbusana, dan e) kerjasama.
  4. Merncanakan tehnik bimbingan sesuai dengan karakteristik ATGS, selanjutnya juga di tetapkan lokasi dimana bimbingan dilakukan. Bimbingan dilakukan sesuai dengan kegiatan sehari-hari yang bersifat rutinitas anak.
  5. Selanjutnya menyediakan program layanan bimbingan kemandirian yang disusun berdasarkan data baseline.
  6. Pelaksanaan
  7. Melaksanakan proses treatmen bimbingan yang dilakukan oleh tenaga Outreach counseling oleh; Kepsek, Guru, Orang tua, Anggota keluarga, Teman senior.
  8. Selama proses treatmen dilakukan komunikasi, kolaborasi dan koordinasi antar sesama pelaksana bimbingan Outreach Ini dilakukan untuk mendapatkan dan membicarakan kemajuan yang capai siswa serta membicarakan kendala-kendala atau hal-hal pendukung proses treatment.
  9. Menggunakan daftar cheklis untuk melakukan penilaian peningkatan kemandirian siswa.
  10. Wawancara dengan para pelaksana bimbingan kemandirian dilakukan dalam rangka mengecek kebenaran data.
  11. Membuat dokumen bimbingan kemandirian berupa foto-foto sebagai data cetak yang bermanfaat untuk mendukung data utama. Kegiatan tersebut dinamakan dengan tehnik pengambilan data.
  12. Pengambilan data dilakukan setiap minggu selama empat kali dalam satu bulan berturut-turut.
  13. Evaluasi
  1. Data yang telah terkumpul selama pelaksanaan penelitian akan di olah berdasarkan kelompok data yang terdiri dari; data baseline1, data treatment, dan data baseline2.
  1. Selanjutnya ketiga data di atas akan diolah dengan menggunakan analisa grafik sesuai dengan metode pengolahan data. Pengolahan data menggunakan disain A-B-A dari SSRD.
  2. Berdasarkan pengolahan data akan dilakukan pembahasan dengan menggunakan kajian teori pelaksanaan bimbingan konseling dan juga teori pendukung lainnya.
  3. Hasil pengolahan data selanjutnya akan digunakan sebagai pedoman untuk membuktikan uji efektivitas model Outreach counseling yang telah dilakukan.
  4. Melakukan penarikan kesimpulan dari pelaksanaan model Outreach counseling yang telah dilakukan di sekolah tempat penelitian.
  5. Penyusunan laporan hasil pelaksanaan model Outreach counseling sebagai temuan akhir dalam meningkatkan kemandirian ATGS.

Pelaksanaan model Outreach counseling yang telah diuraikan di atas dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Gambar IV.1 Pelaksanaan Model Outreach Counseling

  1. Evaluasi dan Indikator Keberhasilan Model Outreach Counseling

Evaluasi terhadap model bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan dan ketercapaian model outreach counseling. Untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektifan model outreach counseling akan disesuaikan dengan disain eksperiment A-B-A SSRDs. A-B-A Disign digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan eksperiment dalam penelitian, Linda H. F, T. Steuart W, at all. (2002). Evaluasi program dilakukan dengan cara berkolaborasi antara peneliti dan beberapa unsur yang terlibat dalam team work model outreach counseling antara lain.

  • kepala sekolah sebagai koordinator guru pembimbing
  • guru kelas yang lebih banyak terlibat dalam upaya peningkatanan kemandirian ATGS di sekolah
  • orang tua dimana dalam keseharian waktu anak lebih banyak bersama di rumah
  • anggota keluarga memegang peranan sebagai orang terdekat dalam lingkungan keluarga
  • teman senior sebagai pembantu guru dalam membimbing yunior dalam kegiatan kemandirian di sekolah.

Dari informasi di atas dapat diketahui sejauh mana keberhasilan layanan model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS. Informasi ini dapat ditetapkan sebagai tindak lanjut (follow up) untuk memperbaiki dan mengembangkan model selanjutnya. Pembuktian terhadap keberhasilan model di lapangan, dilakukan dengan cara mengevaluasi model outreach counseling yang telah diintervensikan melalui sesi dan durasi pertemuan, untuk mengembangkan kemandirian ATGS, mulai dari perencanaan, evaluasi proses dan hasil bimbingan kemandirian.

Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan grafik intervensi dan fase baseline dua  untuk mempetegas peningkatan kemandirian. Berdasarkan grafik akan terjadi peningkatan yang lebih baik dari pada fase baseline pertama. Peningkatan kemandirian pada fase baseline dua akan tergambar pada tampilan grafik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, proses bimbingan lebih berhasil meningkatkan kemandirian ATGS. Bimbingan yang dimaksud adalah melalui model outreach counseling yang lebih melibatkan orang-orang terdekat dengan lingkungan ATGS sehari-hari.

Keterlibatan orang yang berada di lingkungan ATGS dalam outreach counseling berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari konselor. Agar dapat melakukan tugasnya dengan baik sebagai konselor maka haruslah mempunyai prinsip dalam bekerja. Menurut Geldard, K dan Geldard D (2011: 10-24) ada beberapa kriteria agar efektif dan optimal  konselor haruslah memiliki kriteria sebagai berikut.

Hubungan anak-anak dan konselor harus menjadi mata rantai yang menghubungkan dunia anak-anak dan konselor.

  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus eksklusif, sehingga anak-anak merasakan hubungan yang unik dengan konselor yang tidak ada campur tangan pihak lain yang dirasakan sikap saling menerima.
  • Konselor harus menciptakan lingkungan yang permisif yang dapat mrmberikan kebebasan anak-anak untuk bersikap dan memberikan perasaan aman
  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus autentik sehingga tidak terjadi kepura-puraan
  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus bersifat rahasia
  • Konselor tidak boleh mencampuri urusan anak-anak (hubungan nonintrusif)
  • Hubungan antara anak dan konselor haruslah mempunyai tujuan

Berdasarkan kriteria di atas konselor harus mampu menunjukkan hubungan dengan anak-anak tercipta dan terjaga dengan baik.  Sebagai pembimbing ATGS di SLB dan juga orang-orang yang berada di lingkungan terdekat dengan anak harus memiliki prinsip dan kriteria tersebut. ATGS sesuai dengan keterbatasannya mereka juga memiliki sifat kenakan yang lebih panjang dari perkembangan anak normal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Borg. W.R & Gall, M.D (1989) Educational Research, New York; Longman

Clinton, E, at all. (99) Outreach Counseling, Tersedia http://www.highfields.org/index.asp?pgid=99

Corvelay. http://www.ehow.com/how_4897826_become-special-education-counselor.html#ixzz1Xt6dqDbm

Depdiknas, (2008) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia

_________, (2007), Rambu-rambu Penyelenggaran Bimbingan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia.

_________, (1997). Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum SLB-C, Pedoman bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta.

_________, (2003). Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2003, Undang-Undang Sistem Pendidikan Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Derrick A. Paladino H.D, Jr. (2006). Counseling and Outreach Strategies for Assisting Multiracial College Students, HAWORTH. E-mail:  docdelivery@haworthpress.com. Tersedia di  Website: http://www. HaworthPress.com

Drum, D.J. Howard F, E. (1977) Outreach In Conseling, Tersedia; http://www.sagepublications.com

Efendi, J. (1999). Upaya meningkatkan kemandirian Tunagrahita Ringan, di SPLB-C YPPLB Cipaganti Bandung, Thesis, SPS IKIP Bandung, Tidak diterbitkan.

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999). Outreach Concern http://www.bosco.org.2012

Havananda, S. (2007) Methodology Of Self Help Care For Mentally Retarded People. August 2007 www.globethics.net/Library

Juang Sunanto. (2005) Pengantar Penelitian dengan Subjek Tunggal. Centre for Research on International cooperation in Education Development (CRICED) University of Tsukuba.

Judith A. Lewis, et.all (2011). Community Counseling: A Multicultural-Social Justice Perspective, Fourth Edition. Brooks/Cole. 20 Davis Drive. Belmont, CA 94002-3098. USA. Tersedia di; www.cengage.com/permissions

Kartadinata, S (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Bandung: Tesis PPS IKIP Bandung. tidak diterbitkan.

_________, (1996). Peningkatan Mutu Pengembangan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. (laporan Penelitian). FIP IKIP Bandung. Tidak di terbitkan.

________, (2010) Re-Desain Pendidikan Profesional Guru, UPI Press. Bandung.

________, (2011). Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis. UPI Press. Bandung.

Neely, A. M, (1982). Counseling and Guidance Practices with Special Education Students. Kansas State University, The Dorsey Press, Homewood, Illinois.

Sukmadinata, N.S (2006) Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, Remaja Rosda Karya.

Sunardi, (2005). Pedoman Pelaksanaan BP di SLB, PLB FIP UPI, Bandung

Tork, H., Lohrmann, C., & Dassen, T. (2007). Care dependency among school-aged children: Literatur review. Nurshing and Health Sciences, 9, 142-149

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012) Panduan Penulisan Akademik, Program Studi Bimbingan dan Konseling. Sekolah Pasca Sarjana. Bandung. 2012

Wong, D. L et al. (2009) Keperawatan Pediatrik, Volume 1. Edisi 6. Jakarta. EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Zhimin, L. Et al. (2003). Self-care in Chinese school-aged children with nephritic symdrome, Am. J. Maternal Child Nursing, 28: 81-85


 

Sumber Jurnal:

Allen Rubin. (1991). The Effectiveness of Outreach Counseling and Support Groups for Battered Women: A Preliminary Evaluation. Research on Social Work Practice 1991 1: 332. University of Texas at Austin. http://rsw.sagepub.com/content/1/4/332

Bruce A. C, at all. (1985). A Methodology for the Quantitative Synthesis of Intra-Subject Design Research. J Spec Educ 1985 19: 387. http://sed.sagepub.com/content/19/4/387

David L. W and Louis M, (1978).Self-Help Skills Training: A Review of Operant Studies. J Spec Educ 1978 12: 253 Download 30 January 2013. http://sed.sagepub.com/content/12/3/253

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999). Implementation of Outreach Telephone Counseling to Promote Mammography Participation. Health Education & Behavior, Vol. 26 (5): 689-702 (October 1999) © 1999 by SOPHE http://heb.sagepub.com/content/26/5/689

Linda H. Foster, (2010). A Best Kept Secret: Single-Subject Research Design in Counseling sagepub.com/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/2150137810387130 http://core.sagepub.com

Linda H. F, T. Steuart W, at all.  (2002). Single-subject research design for school counselors: Becoming an applied researcher. Professional School Counseling, 6(2), 146-154. American School Counselor Association: http://www.schoolcounselor.org/

Mas’oed Abidin. Minangkabau dan Sistem Kekerabatan. Tersedia; www. scribd.com/doc/3611582

Orhan Cakiroglu. (2012). Single subject research: Applications To Special Education. British Journal of Special Education © 2012 NASEN. Published by Blackwell Publishing Ltd, 9600 Garsington Road, Oxford OX4 2DQ, UK and 350 Main Street, Malden, MA 02148, USA. DOI: 10.1111/j.1467-8578.2012.00530.xjs1..29

Thomas A. C, at all, (2008). The Family Outreach Model: Tools for Engaging and Working With Families in Distress. Journal of Family Social Work. Vol. 11(2) Tersedia di http://jfsw.haworthpress.com

MODEL OUTREACH COUNSELING DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK TUNA GRAHITA SEDANG

April 26, 2015

MODEL OUTREACH COUNSELING

DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN

ANAK TUNA GRAHITA SEDANG

  1. Rasionalisasi Model

Kemandirian Anak Tuna Grahita (ATG) dalam kegiatan sehari-hari di sekolah masih mengharapkan bantuan ataupun mendapat intervensi dari lingkungan terdekat. Lingkungan terdekat seperti; orang tua, saudara, kakek/nenek, atau orang lain di lingkungan rumah. Akibatnya ATG menunggu belas kasihan orang lain dengan menunggu diam ditempatnya tanpa mampu berbuat lebih banyak untuk kemandiriannya.

Di  kota Padang terdapat 36 Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan jumlah guru 320 orang, terdiri dari 140 orang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 180 orang guru honorer. Jumlah siswa sebanyak 1200 orang yang tersebar di SLB kota Padang, dengan jenis kelainan; tuna netra, tunarungu, tunagrahita, dan autis. Diantara populasi siswa tersebut, 80% adalah ATG. Kondisi kemandirian ATG tersebut secara umum dinyatakan guru masih rendah.

Zhimin (2003) mengungkap kemampuan perawatan diri pada anak usia sekolah dengan sindrom nefrotik mendapatkan bahwa pada anak berusia 6-8 tahun mampu melakukan perawatan mandiri sebesar 83%, pada anak usia 9-10 tahun sebesar 95%, dan semua anak usia 11-12 tahun yang menjadi respoden dapat melakukan perawatan mandiri.Hasil penelitian oleh Tork et al., (2007), menyatakan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan kemandirian pada anak usia sekolah adalah: 1) faktor demografi (usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi); 2) faktor sosial kultural (budaya dan dukungan sosial); 3) faktor psikososial (konsep diri, rasa percaya diri, dan tipe kepribadian); 4) faktor fisik (kondisi kesehatan, kemampuan beraktivitas, disabilitas yang dialami). Anak yang berusia lebih tua memiliki kemampuan perawatan diri lebih baik dari anak dengan usia yang lebih muda (Wong et al., 2002).

Guru dituntut untuk mengembangkan layanan bimbingan, yang lebih mampu memberdayakan lingkungan ATG agar mereka dapat dijangkau dalam proses bimbingan yang lebih luas. Melalui counseling community diharapkan dapat dijangkau sesuai dengan kultur budaya masyarakat dimana bimbingan dilakukan. Dalam hal ini termasuk anak terbelakang mental ataupun anak yang mengalami difabel lainnya.

Kegiatan bimbingan yang mampu mengembangkan dan memperluas jangkauan di sebut dengan istilah Outreach counseling. Menurut Billie EJ Housego (1999) bahwa, “…guru harus selalu berinovasi, berusaha mencari alternatif program sekolah. Outreach counseling berlaku untuk penjangkauan masyarakat dan mengacu pada upaya peningkatkan layanan, dan telah digunakan sejak tahun 1974. Istilah “outreach” muncul pertengahan tahun 1990.”

Outreach counseling merupakan suatu model bimbingan konseling untuk memaksimalkan layanan sebagai alternatif bila proses konseling secara umumnya sulit dilakukan oleh konselor. Melalui Outreach lebih mengarahkan pada sikap konselor untuk mengambil sikap aktif dan tidak hanya membatasi program kerjanya bagi klien yang membutuhkan bantuan dalam mengatasi masalahnya.

Berkenaan dengan keterbatasan dalam kecerdasan yang berdampak pada rendahnya kemandirian ATG, oleh karena itu model outreach counseling dalam membantu meningkatkan kemandirian dirasakan sangat diperlukan. Caranya dengan melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat, agar dapat berperan serta dalam proses konseling untuk meningkatkan kemandirian ATG.

American School Counselor Association (ASCA) dalam Linda H. F, T. Steuart W, at all.  (2002) mendesak konselor untuk melakukan penelitian empiris berbasis kode etik, dapat memberikan kontribusi profesional, sehingga meningkatkan kemandirian klien. Sue and Sue (2002), sejalan dengan upaya yang dikemukakan, bimbingan perlu dilihat sebagai kultur budaya yang harus dikembangkan dalam memberikan bimbingan konseling yang profesional. Untuk meningkatkan kemandirian ATG yang berada di SLB Kota Padang maka faktor budaya juga akan sangat mempegaruhi dan mewarnai pelaksanaan bimbingan kemandirian ATG. Terutama budaya dalam sistem kekerabatan dalam masyarakat Minang Kabau. Seperti kutipan Mas’oed Abidin, bahwa hubungan kekerabatan dalam budaya (adat) Minangkabau sangat dipelihara dan saling memelihara. Pepatah Minang mengatakan, “adaik  siang ba liek-liek, adaik malam badanga-dangakan atau adaik dakek janguak-bajanguak, adaik jauah jalang-manjalang”, tersedia  www.scrbd.com/doc.6248652. Pepatah ini bersifat untuk membimbing semua anggota kaum, agar tetap berhubungan dalam suka dan duka, dan rasa tanggung jawab saling menjaga dari hal-hal yang bisa menimbulkan rasa malu yang berlalu untuk kerabat jauh dan dekat.

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999) menyatakan bahwa 84% dari Outreach dapat dilaksanakan. Selain itu pelaksanaan outreach juga diterapkan di jenjang persekolahan dan perguruan tinggi. Artinya outreach conseling diperlukan dan dapat dilaksanakan dengan tujuan untuk penjangkauan jika proses konseling pada umumnya sulit dilakukan melalui pertemuan secara langsung antara konselor dan klien.

Untuk lebih jelas dapat diperhatikan bagan di bawah ini.

  1. Visi dan Misi Model Outreach Counseling
  2. 1. Visi Model Outreach Counseling ATG

Visi Model Outreach counseling adalah; Meningkatkan kemandirian ATGS yang berbudaya Minangkabau dan berpedoman pada semboyan “Alam Takambang Jadikan Guru”.

Visi di atas perlu di jelaskan dengan alasan-alasan mengapa model Outreach counseling sesuai dengan karakteristik ATGS dan bisa dilaksanakan. Visi Bimbingan Konseling (BK) bagi ATG bertolak sebagai dasar formal, konseptual dan kontekstual bersifat; edukatif, preventif dan developmental. Model layanan bimbingan di SLB mengacu pada bimbingan yang memandirikan dengan mengurangi proteksi dan konseling perkembangan yang berintegrasi dalam pembelajaran. Dalam pendidikan ATGS kata-kata yang penuh memotivasi menjadikan suatu slogan agar mereka selalu diberikan kesempatan yang kita kenal dengan “Kami juga bisa”. Artinya budaya belajar ATGS selalu memotivasi agar mereka mau berbuat sesuai dengan kemampuan yang optimal. Dengan demikian budaya belajar anak selalu sejalan dengan tata nilai hukum dan nilai budaya Minangkabau tempat model digunakan.

Keragaman dan budaya masyarakat kota Padang yang lekat disebut budaya Orang Minang perlu diperhatikan dalam bimbingan, seperti kutipan berikut;

The Multicultural Counseling Competencies have proven successful in disseminating the idea that counseling competency without multicultural competency is impossible. The competency document is organized around three major areas:

(1) counselor awareness of own cultural values and biases, (2) counselor awareness of client’s worldview, and (3) culturally appropriate intervention trategies. Within each of these sections, the competencies are listed under the categories of (a) attitudes and beliefs, (b) knowledge, and (c) skills. It is important to note that the first section highlights the importance of the counselor’s awareness of his or her own cultural values and biases. The quest for competency is an ongoing process that begins with self-interrogation and never stops. Judith A. Lewis, et.all (2011).

Tatanan budaya kehidupan masyarakat Minangkabau lebih berperan pada rasa kebersamaan nilai-nilai sosial yang dianut seperti tingginya peran ninik mamak, kaum cerdik pandai, dan alim ulama sangat berperanan dalam tata nilai dan norma yang berlaku bagi masyarakat. Selain itu rasa kepedulian sosial masyarakat dilaksanakan sebagai kesepatan yang bersifat umum dan telah tertanam pada diri individu sebagai bagian anggota masyarakatnya. Untuk menjaga keselarasan di Minangkabau dilaksanakan berdasarkan urutan hirarki, dinyatakan oleh tamsilan Mas’oed Abidin tersedia www.scrbd.com/doc.6248652. Tanggal 20 September 2014.

“Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo ka pangulu, Pangulu barajo ka Mufakaik, nan bana badiri sandiri”.   “Kemenakan berpedoman kepada Mamak, Mamak berpedoman kepada Pangulu, Pangulu berpedoman kepada Mufakat, yang benar berdiri sendiri”.

Nilai yang dianut untuk menjaga silaturrahmi antara kerabat dapat ditamsilkan sebagai berikut. Bila dikaitkan dengan pendidikan ATGS di Minangkabau dapat menyesuaikan  bahwa tanggung jawab pendidikan terhadap anak bukanlah tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Namun peran Ninik Mamak dan Pangulu sangatlah penting demi kelanjutan pendidikan anak kemenakannya. Sementara mufakat memiliki posisi yang paling tinggi dalam penegambilan keputusan. Pola kehidupan demikian hingga kini masih terasa di Minangkabau.

Disisi lain untuk mengarahkan seseorang dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari di tamsilkan seperti kutipan di bawah ini.

“salah basapo, sasek batunjuak-an, lupo bakanakan, takalok bajagokan”. “bila salah diditegur, bila sesat ditunjuki, bila lupa diingatkan, bila ketiduran dibangunkan”.

Artinya kekerabatan di Minangkabau mengandung makna tentang kehidupan masyarakatnya yang tidak hanya mengurus diri sendiri/nafsi-nafsi. Maknanya jika dikaitkan dengan pengasuhan pendidikan bahwa baik orang tua ataupun ATGS tidaklah hidup seorang diri, akan tetapi dalam pola perilaku dan bertindak di kehidupan sehari-hari akan selalu diperhatikan oleh kaum kekerabatannya. Sesuai dengan kemampuan daya berfikir ATGS yang rendah, maka mereka selalu mendapat pengawasan bagi kaum dan masyarakatnya. Ini selalu kelihatan bahwa ATGS selalu mendapat bimbingan dan di perhatikan oleh masyarakat sekelilingnya.

Kaluak paku kacang balimbiang, Tampuruang lenggang-lenggangkan, Bao manurun ka saruaso, Anak dipangku kamanakan di bimbiang, Urang kampuang dipatenggangkan, Tenggang nagari sarato jo adaiknyo”, “Keluk pakis kacang belimbing, Tempurung lenggang-lenggangkan, Bawa menurun ke saruaso, Anak di pangku kemenakan di bimbing, Orang kampung tetap di bela, Bela negeri serta adatnya”.

Maknanya bahwa menjadi seorang laki-laki di Minangkabau tidak saja sebagai penerus dan membiayai keluarga di rumah istrinya. Namun peran yang lebih luas berlaku di kaum kerabat satu kaum dengannya, yakni melindungi anak kemenakan dan memelihara harta pusaka, memelihara, mendidik anak dan kemenakannya.

Tamsilam seperti di atas bersifat membimbing semua anggota kaum, agar mereka tetap berhubungan dalam suka dan duka, selain itu juga berfungsi menumbuhkan rasa tanggung jawab individu untuk saling menjaga sebagai kontrol supaya tidak membuat malu, bukan saja anggota kaum kerabat lainnya, tetapi juga suku, dan kampung halaman. Bila diperhatikan ada garis lurus antara ajaran dan anjuran memelihara silaturrahmi dalam agama Islam. ATGS dalam pola kekerabatan di Minangkabau tetap terpelihara kelangsungan hidupnya sesuai adat kekerabatanya. Ninik Mamak akan menjadi contoh yang akan mempertahankan harta pusaka dan kelangsungan hidupnya. Arah pendidikan anak kemenakan tetap menjadi perhatian sanak kerabatnya.

  1. 2. Misi Model Outreach Counseling ATG

Pada prinsipnya visi pendidikan ATGS di Minangkabau sejalan dengan budaya orang Minang itu sendiri yakni “alam takambang jadi guru” (alam terkembang jadi guru). Selain itu sebagai bagian dari masyarakat minang maka ATGS juga perlu memahami prinsip “tahu di nan ampek” (tahu kata mendaki, tahu kata mendatar, tahu kata melereng, dan tahu kata menurun). Pemakaian kata-kata tersebut selaras dengan visi bimbingan bagi ATGS di Ranah Minang termasuk juga masyarakat kota Padang.

  1. Misi layanan BK memiliki kepentingan dalam peningkatan mutu pendidikan.
  2. Mensukseskan Wajar Dikdas 9 tahun. Meningkatkan pelayanan bimbingan di S
  3. Mengurangi sikap otoriter dan overproteksi yang dapat dimanfaatkan oleh konselor untuk memperluas jangkauan konseling.
  4. Melibatkan orang-orang terdekat dengan ATG akan lebih dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.
  5. Melaksanakan bimbingan dalam suatu konteks keutuhan suatu simtem dalam memberikan bimbingan kemandirian pada ATG.
  6. C. Tujuan Model Outreach Counseling

Model outreach counseling bertujuan untuk memfasilitasi guru pembimbing khusus dan sistem dalam rangka memperpanjang jangkauan dalam upaya pemberian bantuan kepada ATGS agar dapat meningkatkan kemandiriannya. Untuk mewujudkan tujuan model outreach counseling, maka diperluan kerangka konseptual yang mampu melukiskan pijakan teori yang mendasar sehingga menggambarkan pengorganisasian sistemik dan dapat diaktualisasikan dengan baik. Sejalan dengan Visi dan misi  yang dijelaskan di atas maka tujuan model outreach Counseling berorientasi pada hasil yang dicapai dari temuan model. Model ini terkait dengan upaya pembimbing dalam peningkatan layanan BK.

Sunaryo; (2010) menegaskan, “…pelayanan BK bagi ATGS amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (activities daily living) yang tidak akan terisolasi dari konteks.” Oleh karena itu pelayanan BK merupakan pelayanan intervensi tidak langsung yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan fasilitasi perkembangan konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya.

Tujuan model Outreach counseling dapat di rinci seperti berikut;

  1. Outreach counseling bertujuan meningkatkan kemampuan ATGS dalam mengurus dan membina diri sendiri dengan mengurangi intervensi orang lain,
  2. Outreach counseling membantu ATGS agar dapat bergaul di masyarakat sesuai dengan kemampuan yang optimal,
  3. Outreach counseling bertujuan membantu mengembangkan kemampuan ATGS dan dapat bekerja untuk bekal hidupnya.
  4. Asumsi yang Mendasari Model Outreach Counseling

Asumsi model outreach counseling bagi ATG sebagai berikut.

  1. Bahwa penangangan terhadap upaya pemandirian ATG tidak terjadi dalam suatu kekakuan yang vakum,
  2. Bahwa sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dalam konseling yang memandirikan sesuai perannya di sekolah,
  3. Bahwa upaya pemfasilitasian ATG tidak mungkin dapat dilakukan oleh konselor sendiri, sesuai dengan keterbatasan ATG.
  4. Bahwa ATG secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat,
  5. Bahwa diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATG,
  6. Bahwa koordinasi antar lingkungan terdekat dengan ATG sangat perlu dioptimalkan dalam bimbingan kemandirian.

Asumsi model outreach counseling ini bermanifestasi budaya masyarakat Kota Padang atau budaya Minangkabau yang di cerminkan dalam tatanan budaya kehidupan sehari-hari. Budaya tidak bisa terlepas dari tatatan, nilai dan hukum dimana budaya itu di anut sehingga model outreach counseling bisa dilaksanakan. Budaya petitih Minangkabau jika dilihat peranan penggunaan kata “tahu di nan ampek” bimbingan bagi ATGS sangat kelihatan sekali dalam proses belajar di SLB. Makna kata nan ampek; 1) kata mendaki artinya dalam pengajaran siswa selalu dibimbing untuk menghormati guru atau orang yang lebih tua, 2) makna kata mendatar yakni saling menghargi antara teman di sekolah, 3) makna kata malereng yakni mengerti dengan kata-kata sindiran, 4) makna kata menurun yakni berbahasa lemah lembut kepada yang lebih kecil. Sebagai guru atau pembimbing di SLB harus mampu menerapkan sepanjang proses bimbingan di sekolah.

Orang Minangkabau menurut A.A. Navis  dalam Irdawati memiliki hubungan yang kuat antara sesamanya. Mereka tidak bisa keluar dari lingkungannya karena “suku tidak bisa dialihkan, malu tidak dapat dibagi” (suku tidak dapat dialihkan, malu tidak dapat di bagi). Adalah kewajiban setiap orang meningkatkan nilai kerabatnya yang setali darah menurut system matrilinial, meningkatkan nilai suku atau kaum, bukan orang lain. Tersedia di  http://download.portalgaruda.org/article.php?article=25

Asumsi budaya seperti dijelaskan di atas dapat digunakan sebagai hal yang mendasari bahwa model Outreach Counseling dapat dilaksanakan dalam meningkatkan kemandirian ATGS di kota Padang.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATGS apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATGS. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATGS dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

Sebagai konselor/pembimbing perlu memperjelas wilayah pemetaan kerja dan mengembangkan layananan yang dirasakan sesuai dengan karakter dan kondisi ATGS, sehingga konseling yang memandirikan dapat memegang perannya di SLB.

Ketunagrahitaan bermanifestasi dalam, kesulitan dalam “Adaptive Behavior” atau penyesuaian perilaku. Hal ini berarti ATG tidak dapat mencapai kemandirian yang sesuai dengan ukuran (standard) kemandirian dan tanggung jawab sosial; mengalami masalah dalam keterampilan akademik dan berpartisipasi dengan kelompok usia sebaya.

Keterampilan dalam kemandirian harus melalui proses belajar. Sunaryo, (2010), pengembangan bakat khusus bagi konseli tidak terjadi dalam suatu ruang kefakuman, melainkan selalu menggunakan bidang studi sebagai konteks pembinaan bakat. Ini berarti bahwa, wilayah pelayanan keahlian seorang konselor juga perlu dipetakan dengan mencermati peran konselor, berkaitan dengan pelayanan BK yang memandirikan bagi konseli yang berbakat khusus. Memfasilitasi secara maksimal pengembangan potensi konseli berbakat khusus tidak dapat dilakukan sendirian oleh konselor atau oleh psikolog, akan tetapi harus dengan peran serta dari guru-guru serta lingkungan terdekat akan memberikan arti yang jauh lebih besar.

Bahwa upaya pemfasilitasian kemandirian ATGS tidak mungkin dilakukan oleh konselor atau guru pembimbing sendiri. ATGS dengan keterbatasan dalam inteligensi akan sulit baginya untuk menjalani proses konseling apabila dihadapkan pada pengarahan diri dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian konseling bagi ATGS tidaklah berlangsung dalam suasana otoriter dan dalam suasana yang vakum. Diperlukan suatu alternatif program yang lebih berorientasi kerjasama dalam rangka pemandirian ATGS sesuai dengan norma dan nilai-nilai budaya yang di anut sehingga outreach counseling dapat dilaksanakan. Sehingga ATGS secara alamiah harus mampu bergaul dan berbuat secara mandiri di tengah masyarakat dimana mereka berada.

Outreach counseling dapat dilaksanakan sebagai model bimbingan bagi ATG apabila seorang konselor mengalami kesulitan dalam melaksanakan bimbingan secara langsung terhadap klien. Untuk itu outreach counseling dapat menjadi sebuah model alternatif dalam rangka memandirikan ATG. Keterlibatkan orang-orang terdekat dengan ATG dapat berperan sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian.

  1. E. Sistem Kekerabatan dan Budaya di Kota Padang

Sistem dimaksud berupa orang-orang, peraturan, hukum, nilai dan budaya yang digunakan di lokasi dimana model Outreach counseling dilaksanakan. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa sistem dimaksudkan selalu memeliki nilai-nilai budaya setempat. Kota Padang yang umumnya terdiri dari masyarakat keturunan orang Minangkabau. Dengan demikian budaya yang digunakan berupa budaya Minangkabau.

Budaya masyarakat Kota Padang atau orang Minang tercermin dalam ungkapan pepatah dan petitih yang ditamsilkan seperti pendapat kutipan Idrus Hakimi Dt Rajo Pangulu.

Anak dipangku, kamanakan dibimbiang (Artinya : anak diberikan nafkah dan disekolahkan, serta kemenakan dibimbing untuk menjalani kehidupannya)

Duduak marauk ranjau, tagak meninjau jarak (Artinya : hendaklah mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, dan jangan menyia-nyiakan waktu)

Dima rantiang dipatah, disinan sumua digali (Artinya : dimana kita tinggal, hendaklah menjunjung adat daerah setempat)

Gadang jan malendo, cadiak jan manjua (Artinya : seorang pemimpin jangan menginjak anggotanya, sedangkan seorang yang cerdik jangan menipu orang yang bodoh)

Satinggi-tinggi tabang bangau, babaliaknyo ka kubangan juo (Artinya : sejauh-jauh pergi merantau, di hari tua akan kembali ke kampung asalnya),

Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Minangkabau. tgl 19 Nov 2014

Dukungan sistem merupakan kegiatan yang membangun, memelihara dan memperkuat model outreach counseling di sekolah. Upaya pengembangan program bimbingan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindakan lanjutan.

Kegiatan merencanakan model outreach counseling meliputi beberapa pertimbangan: (a) model bimbingan outreach counseling yang disusun harus relevan dengan kebutuhan dan masalah ATGS; (b) model outreach counseling perlu mempertimbangkan karakteristik kebutuhan dan keterlaksanaan program sekolah; (c) situasi dan kondisi fasilitas; personel, ruangan, dana, dan peralatan; (d) model outreach counseling dijabarkan dalam kerangka kerja terinci dan sistematis; (e) model outreach counseling perlu menentukan organisasi dan mekanisme kerja dan bentuk kerjasama, dan (f) dan untuk menilai keberhasilan model outreach counseling maka diperlukan adanya penilaian terhadap model yang telah dilaksanakan.

Pemanfaatan sumber daya masyarakat dalam model outreach counseling meliputi mengidentifikasi sumber daya masyarakat dan menjalin kerjasama yang dapat dilakukan dengan; orang tua, anggota keluarga, masyarakat, instansi terkait yang mendukung model outreach counseling secara lebih luas. Prioritas hubungan dengan orang tua haruslah diintensifkan dengan cara saling bertukar informasi melalui buku penghubung antar orang tua dan konselor.

Pengembangan dan penataan kebijakan model outreach counseling di sekolah, melalui penunjukan koordinator BK oleh kepala sekolah bekerjasama dengan guru kelas lainnya untuk merumuskan teknik, waktu, dan tempat pelaksanaan model outreach counseling.

Dukungan sistem dan kolaboratif, merupakan kegiatan yang terkait dengan manajemen, dan tata kerja. Kolaborasi atau konsultasi dengan berbagai pihak yang dapat membantu upaya pemandirian ATGS, pelatihan pembelajaran bernuansa BK bagi guru-guru, termasuk pengembangan kemampuan guru BK/konselor secara berkelanjutan sebagai profesional.

  1. Materi Model Outreach Counseling Kemandirian ATGS

Materi yang dijadikan bahasan dalam model outreach counseling ini dikembangkan berdasarkan studi awal yang dilaksanakan pada bulan Februari 2014 terhadap ATGS di Kota Padang. Penelitian awal tersebut dilakukan guna mengungkap data baseline kemandirian ATGS di lima SLB Kota Padang. Materi yang diuji dalam pengungkapan kemandirian ATGS tersebut berkenanan dengan kegiatan “kemandirian mengurus diri sendiri” yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan seperti di bawah ini.

Rincian materi dijabarkan dalam bentuk uraian kegiatan berikut.

  1. Kegiatan makan dan minum, menyiapkan makanan, dan membantu memasak di dapur meliputi; a) mengenal peralatan makan, b) makan dengan tangan, c) makan dengan sendok dan garpu, d) minum dengan gelas, sedotan, minuman dalam kemasan, e) mengenal jenis makanan dan minuman, f) makan dan minum yang sopan, g) makan tepat waktu, h) menyiapkan makan di meja, i) mengenal peralatan memasak, j) membantu memasak di dapur.
  2. Membersihkan dan merapikan diri meliputi berbagai kegiatan berikut; a) mencuci tangan, b) berkumur-kumur, c) menggosok gigi, d) mencuci muka, e) mencuci kaki, f) mencuci rambut, g) membersihkan mata, h) membersihkan kuku, i) membersihkan badan saat mandi, j) menyisir rambut, k) menyemir sepatu, l) memakai bedak, m) menggunakan minyak wangi.
  3. Membersihkan lingkungan dan kesehatan badan meliputi kegiatan berikut; a) membersihkan alat-alat rumah tangga, b) menata dan member-sihkan ruangan, c) buang air kecil dan besar, d) menggunakan obat sederhana, f) melakukan olahraga sederhana, g) membersihkan dapur, h) membersihkan WC, i) merapikan peralatan sekolah, j) menyimpan dan merapikan mainan.
  4. Kegiatan berbusana meliputi meteri berikut; a) mengenal macam-macam pakaian luar, b) mengenakan pakaian luar, c) mengenal macam-macam pakaian dalam, d) mengenakan pakaian dalam, e) memasang kancing dan retsleting, f) mengenakan sepatu tanpa tali, g) mengenakan sepatu bertali, h) mengenakan kaus kaki, i) mengenakan ikat pinggang.
  5. Kerjasama, meliputi kegiatan berikut; a) kerjasama dengan masyarakat, b) kerjasama dengan yang lebih tua, c) kerjasama dengan yang lebih muda, d) kerjasama dengan Ayah/Ibu, e) kerjasama dengan kakak, f) kerjasama dengan adik, g) kerjasama dengan kakek/nenek, h) kerjasama dengan guru, i) kerjasama dengan teman.
  6. Persyaratan Personil Pelaksana Model Outreach Counseling

Menentukan persayaratan sebagai konselor perlu diperhatikan beberapa kondisi pendukung agar layanan Outreach counseling dapat dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah tempat pelaksanaan model. Misalnya, di SLB selama ini belum ada tenaga profesional bimbingan konseling yang khusus menangani layanan bimbingan. Semua usaha layanan bimbingan hanya ditangani oleh guru kelas dengan standar pendidikan sarjana. Persaratan personil/konselor pembantu untuk dapat melaksanakan model outreach counseling akan dibagi sesuai kebutuhan dan fungsi serta peran keterlibatan dari masing-masing personil. Sejalan dengan persaratan personil pembantu dalam pelaksanaan model dimaksud sejalan dengan pendapat yang dikutip dari Corvelay.

1) Persaratan bagi Kepala Sekolah

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang konselor pendidikan khusus
  2. Disarankan memiliki gelar Magister Pendidikan
  3. Berpengalaman sebagai kepala sekolah minimal lima tahun terakhir
  4. Pernah mengikuti perkuliahan bimbingan dan konseling
  5. Memiliki pengalaman praktek bimbingan terhadap ATG
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di tempat model outreach counseling

2) Persaratan bagi guru

  1. Memperoleh gelar sarjana dari lembaga terakreditasi. Untuk menjadi seorang guru pendidikan khusus.
  2. Memiliki gelar Sarjana/S1Pendidikan
  3. Memiliki pengalaman mengajar minimal lima tahun terakhir
  4. Pernah mengikuti perkuliahan bimbingan dan konseling
  5. Memiliki pengalaman praktek bimbingan terhadap ATG
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di tempat model outreach counseling dilaksanakan

3) Persaratan bagi orang tua

  1. Adalah orang tua kandung dari ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku anaknya/ATGS dengan baik
  3. Memiliki kesabaran, penyanyang dan memiliki sifat keibuan
  4. Memiliki niat baik untuk meningkatkan kemandirian ATGS
  5. Menyukai tantangan dalam membimbing ATGS
  6. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam system pelaksanaan model outreach counseling
  7. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling

4) Persaratan Bagi Anggota Keluarga

  1. Adalah saudara kandung atau pengasuh dari ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku ATGS dengan baik
  3. Memiliki sifat sabar, penyanyang
  4. Memiliki sifat sosial tinggi dan suka membantu orang lain
  5. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam system pelaksanaan model outreach counseling
  6. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling dilaksanakan

5) Sarat bagi Teman Senior

  1. Adalah teman senior dari sekolah yang sama dengan ATGS
  2. Memahami karakter dan tingkah laku ATGS dengan baik
  3. Memiliki sifat sabar, penyanyang, dan suka membantu
  4. Mau bekerjasama dengan personil lain yang terlibat dalam sistem pelaksanaan model outreach counseling
  5. Memahami budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dimana model outreach counseling dilaksanakan
  6. Langkah-langkah Pelaksanaan Model Outreach counseling

Langkah-langkah pelaksanaan model outreach counseling ini dirancang setelah melalui hasil diskusi, koordinasi yang panjang antara personil yang dilibatkan dalam penelitian. Selanjutnya langkah-langkah pelaksanaan  akan mengikuti penyederhanaan yang dikemukan Sukmadinata (2006; 189) (R&D Borg & Gall) menjadi tiga langkah utama. Langkah pelaksanaan model outreach counseling dibagi dalam kelompok; persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Langkah pelaksanaan model Outreach counseling selanjutnya digambarkan seperti di bawah ini.

  1. Persiapan
  2. Melakukan pengambilan data baseline untuk mendapatkan gambaran tentang kemandirian yang telah di kuasi oleh subjek peneltian.
  3. Berdasarkan data baseline ditetapkan pengkajian materi yang terdiri dari; a) makan dan minum, b) kebersihan diri, c) kebersihan lingkungan, d) berbusana, dan e) kerjasama.
  4. Merncanakan tehnik bimbingan sesuai dengan karakteristik ATGS, selanjutnya juga di tetapkan lokasi dimana bimbingan dilakukan. Bimbingan dilakukan sesuai dengan kegiatan sehari-hari yang bersifat rutinitas anak.
  5. Selanjutnya menyediakan program layanan bimbingan kemandirian yang disusun berdasarkan data baseline.
  6. Pelaksanaan
  7. Melaksanakan proses treatmen bimbingan yang dilakukan oleh tenaga Outreach counseling oleh; Kepsek, Guru, Orang tua, Anggota keluarga, Teman senior.
  8. Selama proses treatmen dilakukan komunikasi, kolaborasi dan koordinasi antar sesama pelaksana bimbingan Outreach Ini dilakukan untuk mendapatkan dan membicarakan kemajuan yang capai siswa serta membicarakan kendala-kendala atau hal-hal pendukung proses treatment.
  9. Menggunakan daftar cheklis untuk melakukan penilaian peningkatan kemandirian siswa.
  10. Wawancara dengan para pelaksana bimbingan kemandirian dilakukan dalam rangka mengecek kebenaran data.
  11. Membuat dokumen bimbingan kemandirian berupa foto-foto sebagai data cetak yang bermanfaat untuk mendukung data utama. Kegiatan tersebut dinamakan dengan tehnik pengambilan data.
  12. Pengambilan data dilakukan setiap minggu selama empat kali dalam satu bulan berturut-turut.
  13. Evaluasi
  1. Data yang telah terkumpul selama pelaksanaan penelitian akan di olah berdasarkan kelompok data yang terdiri dari; data baseline1, data treatment, dan data baseline2.
  1. Selanjutnya ketiga data di atas akan diolah dengan menggunakan analisa grafik sesuai dengan metode pengolahan data. Pengolahan data menggunakan disain A-B-A dari SSRD.
  2. Berdasarkan pengolahan data akan dilakukan pembahasan dengan menggunakan kajian teori pelaksanaan bimbingan konseling dan juga teori pendukung lainnya.
  3. Hasil pengolahan data selanjutnya akan digunakan sebagai pedoman untuk membuktikan uji efektivitas model Outreach counseling yang telah dilakukan.
  4. Melakukan penarikan kesimpulan dari pelaksanaan model Outreach counseling yang telah dilakukan di sekolah tempat penelitian.
  5. Penyusunan laporan hasil pelaksanaan model Outreach counseling sebagai temuan akhir dalam meningkatkan kemandirian ATGS.

Pelaksanaan model Outreach counseling yang telah diuraikan di atas dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Gambar IV.1 Pelaksanaan Model Outreach Counseling

  1. Evaluasi dan Indikator Keberhasilan Model Outreach Counseling

Evaluasi terhadap model bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan dan ketercapaian model outreach counseling. Untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektifan model outreach counseling akan disesuaikan dengan disain eksperiment A-B-A SSRDs. A-B-A Disign digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan eksperiment dalam penelitian, Linda H. F, T. Steuart W, at all. (2002). Evaluasi program dilakukan dengan cara berkolaborasi antara peneliti dan beberapa unsur yang terlibat dalam team work model outreach counseling antara lain.

  • kepala sekolah sebagai koordinator guru pembimbing
  • guru kelas yang lebih banyak terlibat dalam upaya peningkatanan kemandirian ATGS di sekolah
  • orang tua dimana dalam keseharian waktu anak lebih banyak bersama di rumah
  • anggota keluarga memegang peranan sebagai orang terdekat dalam lingkungan keluarga
  • teman senior sebagai pembantu guru dalam membimbing yunior dalam kegiatan kemandirian di sekolah.

Dari informasi di atas dapat diketahui sejauh mana keberhasilan layanan model outreach counseling dalam meningkatkan kemandirian ATGS. Informasi ini dapat ditetapkan sebagai tindak lanjut (follow up) untuk memperbaiki dan mengembangkan model selanjutnya. Pembuktian terhadap keberhasilan model di lapangan, dilakukan dengan cara mengevaluasi model outreach counseling yang telah diintervensikan melalui sesi dan durasi pertemuan, untuk mengembangkan kemandirian ATGS, mulai dari perencanaan, evaluasi proses dan hasil bimbingan kemandirian.

Evaluasi dilaksanakan dengan membandingkan grafik intervensi dan fase baseline dua  untuk mempetegas peningkatan kemandirian. Berdasarkan grafik akan terjadi peningkatan yang lebih baik dari pada fase baseline pertama. Peningkatan kemandirian pada fase baseline dua akan tergambar pada tampilan grafik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, proses bimbingan lebih berhasil meningkatkan kemandirian ATGS. Bimbingan yang dimaksud adalah melalui model outreach counseling yang lebih melibatkan orang-orang terdekat dengan lingkungan ATGS sehari-hari.

Keterlibatan orang yang berada di lingkungan ATGS dalam outreach counseling berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari konselor. Agar dapat melakukan tugasnya dengan baik sebagai konselor maka haruslah mempunyai prinsip dalam bekerja. Menurut Geldard, K dan Geldard D (2011: 10-24) ada beberapa kriteria agar efektif dan optimal  konselor haruslah memiliki kriteria sebagai berikut.

Hubungan anak-anak dan konselor harus menjadi mata rantai yang menghubungkan dunia anak-anak dan konselor.

  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus eksklusif, sehingga anak-anak merasakan hubungan yang unik dengan konselor yang tidak ada campur tangan pihak lain yang dirasakan sikap saling menerima.
  • Konselor harus menciptakan lingkungan yang permisif yang dapat mrmberikan kebebasan anak-anak untuk bersikap dan memberikan perasaan aman
  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus autentik sehingga tidak terjadi kepura-puraan
  • Hubungan antara anak-anak dan konselor harus bersifat rahasia
  • Konselor tidak boleh mencampuri urusan anak-anak (hubungan nonintrusif)
  • Hubungan antara anak dan konselor haruslah mempunyai tujuan

Berdasarkan kriteria di atas konselor harus mampu menunjukkan hubungan dengan anak-anak tercipta dan terjaga dengan baik.  Sebagai pembimbing ATGS di SLB dan juga orang-orang yang berada di lingkungan terdekat dengan anak harus memiliki prinsip dan kriteria tersebut. ATGS sesuai dengan keterbatasannya mereka juga memiliki sifat kenakan yang lebih panjang dari perkembangan anak normal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Borg. W.R & Gall, M.D (1989) Educational Research, New York; Longman

Clinton, E, at all. (99) Outreach Counseling, Tersedia http://www.highfields.org/index.asp?pgid=99

Corvelay. http://www.ehow.com/how_4897826_become-special-education-counselor.html#ixzz1Xt6dqDbm

Depdiknas, (2008) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia

_________, (2007), Rambu-rambu Penyelenggaran Bimbingan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta-Indonesia.

_________, (1997). Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum SLB-C, Pedoman bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta.

_________, (2003). Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2003, Undang-Undang Sistem Pendidikan Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Derrick A. Paladino H.D, Jr. (2006). Counseling and Outreach Strategies for Assisting Multiracial College Students, HAWORTH. E-mail:  docdelivery@haworthpress.com. Tersedia di  Website: http://www. HaworthPress.com

Drum, D.J. Howard F, E. (1977) Outreach In Conseling, Tersedia; http://www.sagepublications.com

Efendi, J. (1999). Upaya meningkatkan kemandirian Tunagrahita Ringan, di SPLB-C YPPLB Cipaganti Bandung, Thesis, SPS IKIP Bandung, Tidak diterbitkan.

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999). Outreach Concern http://www.bosco.org.2012

Havananda, S. (2007) Methodology Of Self Help Care For Mentally Retarded People. August 2007 www.globethics.net/Library

Juang Sunanto. (2005) Pengantar Penelitian dengan Subjek Tunggal. Centre for Research on International cooperation in Education Development (CRICED) University of Tsukuba.

Judith A. Lewis, et.all (2011). Community Counseling: A Multicultural-Social Justice Perspective, Fourth Edition. Brooks/Cole. 20 Davis Drive. Belmont, CA 94002-3098. USA. Tersedia di; www.cengage.com/permissions

Kartadinata, S (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Bandung: Tesis PPS IKIP Bandung. tidak diterbitkan.

_________, (1996). Peningkatan Mutu Pengembangan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. (laporan Penelitian). FIP IKIP Bandung. Tidak di terbitkan.

________, (2010) Re-Desain Pendidikan Profesional Guru, UPI Press. Bandung.

________, (2011). Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis. UPI Press. Bandung.

Neely, A. M, (1982). Counseling and Guidance Practices with Special Education Students. Kansas State University, The Dorsey Press, Homewood, Illinois.

Sukmadinata, N.S (2006) Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, Remaja Rosda Karya.

Sunardi, (2005). Pedoman Pelaksanaan BP di SLB, PLB FIP UPI, Bandung

Tork, H., Lohrmann, C., & Dassen, T. (2007). Care dependency among school-aged children: Literatur review. Nurshing and Health Sciences, 9, 142-149

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012) Panduan Penulisan Akademik, Program Studi Bimbingan dan Konseling. Sekolah Pasca Sarjana. Bandung. 2012

Wong, D. L et al. (2009) Keperawatan Pediatrik, Volume 1. Edisi 6. Jakarta. EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Zhimin, L. Et al. (2003). Self-care in Chinese school-aged children with nephritic symdrome, Am. J. Maternal Child Nursing, 28: 81-85


 

Sumber Jurnal:

Allen Rubin. (1991). The Effectiveness of Outreach Counseling and Support Groups for Battered Women: A Preliminary Evaluation. Research on Social Work Practice 1991 1: 332. University of Texas at Austin. http://rsw.sagepub.com/content/1/4/332

Bruce A. C, at all. (1985). A Methodology for the Quantitative Synthesis of Intra-Subject Design Research. J Spec Educ 1985 19: 387. http://sed.sagepub.com/content/19/4/387

David L. W and Louis M, (1978).Self-Help Skills Training: A Review of Operant Studies. J Spec Educ 1978 12: 253 Download 30 January 2013. http://sed.sagepub.com/content/12/3/253

Evette J. L, Susan J. C, at all, (1999). Implementation of Outreach Telephone Counseling to Promote Mammography Participation. Health Education & Behavior, Vol. 26 (5): 689-702 (October 1999) © 1999 by SOPHE http://heb.sagepub.com/content/26/5/689

Linda H. Foster, (2010). A Best Kept Secret: Single-Subject Research Design in Counseling sagepub.com/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/2150137810387130 http://core.sagepub.com

Linda H. F, T. Steuart W, at all.  (2002). Single-subject research design for school counselors: Becoming an applied researcher. Professional School Counseling, 6(2), 146-154. American School Counselor Association: http://www.schoolcounselor.org/

Mas’oed Abidin. Minangkabau dan Sistem Kekerabatan. Tersedia; www. scribd.com/doc/3611582

Orhan Cakiroglu. (2012). Single subject research: Applications To Special Education. British Journal of Special Education © 2012 NASEN. Published by Blackwell Publishing Ltd, 9600 Garsington Road, Oxford OX4 2DQ, UK and 350 Main Street, Malden, MA 02148, USA. DOI: 10.1111/j.1467-8578.2012.00530.xjs1..29

Thomas A. C, at all, (2008). The Family Outreach Model: Tools for Engaging and Working With Families in Distress. Journal of Family Social Work. Vol. 11(2) Tersedia di http://jfsw.haworthpress.com

Terapi Realita bagi Tunanetra di Sekolah Inklusi

April 26, 2015

MAKALAH

TERAPI REALITAS (REALITY THERAPY)

BAGI TUNANETRA DI SEKOLAH INKLUSI

 

 

 

 

Diajukan Pada Temu Kolegial Jurusan PLB, APPKhi & Seminar Nasional Pendidikan Khusus 5-7 April 2013

Di Hotel The Hills Bukittinggi Sumatera Barat

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

JON EFENDI

NIP. 19651122 199403 1 002

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

FIP UNP – PADANG  2013


ABSTRAK

Reality Therapy dilakukan pada penyandang tunanetra dengan memperbaiki pemahaman hubungan antara kejadian, keyakinan, dan emosi. Pemahaman baru ini melibatkan keterpaduan konsep dasar realitas ke dalam praktek Reality Therapy, yang disesuaikan dengan kemampuan penyandang tunanetra secara optimal. Konsep konseling therapy reality berfokus pada pemantapan reality yang dihadapi oleh tunanetra dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka signifikansi selektif terapi realitas yang dapat digunakan dalam pelayan konseling antara lain: 1) merubah perilaku. 2) pemahaman pada nilai benar dan salah, 3) pengalaman masa lalu konseli tidak boleh dijadikan alasan dalam menghadapi realitas kehidupan, 4) memfokuskan upaya pertolongan agar tunanetra dapat memahami dan menerima keterbatasan dirinya, 5) tunanetra dibantu untuk merubah cara berpikir dari paradigma lama yang dianutnya, 6) Menggunakan teknik konfrontasi.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penggunaan terapi realitas (Reality Therapy) dalam Konseling. Jika konseling dipandang sebagai sebuah proses pertolongan kepada konseli agar mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya, maka kita dapat menggunakan sumber-sumber maupun instrumen konseling yang memadai untuk tujuan dimaksud. Di antara sejumlah metode terapi dan konseling yang telah dirumuskan oleh para ahli, salah satu yang dapat digunakan dalam konteks ini adalah terapi realitas (reality therapy). Terapi realitas dapat digunakan sebagai alternatif pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus yang bermasalah. Di antara anak berkebutuhan khusus tersebut terdapat mereka yang mengalami kelaian penglihatan (tunanetra), mereka perlu mendapatkan layanan bimbingan konseling.

Sehubungan dengan hal itu, Gerald Corey dalam bukunya, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, mengatakan bahwa terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan masyarakat.

Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsible).

Individu termasuk para penyandang tunanetra harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Dengan demikian penyandang tunanetra tidak merasa terpuruk oleh suatu masalah yang selalu dikaitkan dengan ketidak berdayaan akibat kekurangmampuan dalam segi penglihatan. Seorang terapis bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Sebagai seorang tunanetra harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya. Terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu tunanetra agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya.


 

B. Tujuan Penulisan

            Tulisan ini mengangkat suatu persoalan bagi konselor dalam kajian perhatian pendekatan terapi realitas terhadap penyandang tunanetra. Bertujuan untuk memberikan alternatif dengan menerapkan konsep terapi realita sesuai dengan permasalahan yang dihadapi klien yang menyandang tunanetra. Konsep realitas khususnya untuk menjelaskan pemahaman  yang menempatkan realita yang sedang dihadapi dalam posisi yang tepat untuk membantu klien  sesuai dengan keterbatasannya dalam segi penglihatan.

C. Format Penulisan

Format penulisan ini menggunakan acuan berupa kajian dari berbagai literatur dan sumber-sumber yang mendukung berupa hasil-hasil diskusi dan kritisi dari barbagai nara sumber terkait.

Selanjutnya teori-teori akan digunakan untuk membahas permasalahan yang dikemukakan sebagai pokok permasalahan. Kaitan teori yang digunakan berupa; konsep terapi Realita, dan konsep tunanetra yang dikaitkan dengan proses Bimbingan dan Konseling yang berada di sekolah inklusi.

II. TERAPI REALITA PADA TUNANETRA DI SEKOLAH INKLUSI

A. Hakekat Terapi Realitas

Terapi realitas menekankan pada masalah moral antara benar dan salah yang harus diperhadapkan kepada konseli sebagai kenyataan atau realitas. Terapi realitas menekankan pertimbangan menyangkut nilai-nilai. Ia menekankan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya. Dengan kata lain terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Terapi realitas adalah proses pengajaran (teaching process) dan bukan proses penyembuhan (healing process). Terapi realitas sering menggunakan pendekatan kognitif dengan maksud agar konseli dapat meneyesuaikan diri terhadap realitas yang dihadapinya.

Berkaitan dengan terapi realitas maka seorang tunanetra perlu dikembalikan pada realitas yang ada saat ini sesuai dengan kondisinya. Dengan demikian tunanetra mampu melihat dan menyadari tingkah laku yang harus dihadapi sekarang. Terapis bisa menjadi orang yang membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sekarang dengan membangun suatu hubungan yang personal dan tulus.

B. Pokok-Pokok Pemikiran Terapi Realitas

  1. Pendapat tradisional yang beranggapan bahwa seseorang berperilaku tidak bertanggungjawab disebabkan oleh gangguan mental ditolak oleh Glasser. Glasser berpendapat bahwa orang mengalami gangguan mental karena ia berperilaku tidak bertanggungjawab.
  2. Pengalaman masa lalu diabaikan karena terapi realitas mengarahkan pandangan penilaiannya pada bagaimana perilaku saat ini dapat memenuhi kebutuhan konseli.
  3. Faktor alam bawah sadar sebagaimana ditekankan pada psiko-analisis Freud tidak diperhatikan karena Glasser lebih mementingkan “apa” daripada “mengapa”-nya.
  4. Terapi realitas menolong individu untuk memahami, mendefinisikan, dan mengklarifikasi tujuan hidupnya.
  5. Terapi realitas menolak alasan tertentu atas perbuatan yang dilakukan. Misalnya, orang yang mencuri tidak boleh beralasan bahwa ia terpaksa atau kepepet, dsb.
  6. Terapi realitas transferensi yang dianut konsep tradisional sebab transferensi dipandang suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi.

C. Pelayanan Konseling Tunanetra di sekolah Inklusi

Bila kita berkompetensi sebagai konselor bagi tunanetra di sekolah inklusi maka kita harus memahami pengertian dan karakteristiknya sehingga dapat memahami kebutuhannya.  Dalam sisi konseling realitas ini merupakan suatu hal yang harus menjadi perhatian utama bagi konselor. Dengan demikian konselor akan lebih leluasa mengembangkan penerimaan dirinya sebagai penyandang tunanetra.

Pengertian tunanetra menurut Nolan dalam Anastasia Widdjajantin (1996:5) menyatakan: Seseorang dikatakan buta (blind) bila ketajaman penglihatan sentral 20/200 atau kurang pada penglihatan terbaiknya setelah dikoreksi dengan kacamata atau ketajaman penglihatan sentralnya lebih dari 20/200 tetapi ada kerusakan pada lantang pandangnya membentuk sudut yang tidak lebih besar dari 20 derajat.

Karakteristik anak tunanetra menurut Anastasia  Widdjajantin (1996) sebagai berikut:

1) Rasa curiga pada orang lain; Keterbatasan akan rangsangan penglihatan yang diterimanya akan menyebabkan para tunanetra kurang mampu untuk berorientasi dengan lingkungannya. Akibatnya kemampuan mobilitasnya terganggu.

2) Perasaan mudah tersinggung; Perasaan tersinggung timbul karena pengalaman sehari-hari yang selalu menyebabkan kecewa, curiga pada orang lain. Akibatnya anak tunanetra menjadi emosional, sehingga segala senda gurau, tekanan suara tertentu atau singgungan fisik yang tidak disengaja dari orang lain dapat menyinggung perasaannya.

3) Ketergantungan yang berlebihan; Sikap ketergantungan pada orang lain ini mengakibatkan mereka kesukaran dalam mobilitas hal ini disebabkan orang tua cenderung memberikan perlindungan secara berlebihan (overprotective)

4) Blindism; Blindism merupakan gerakan-gerakan yang dilakukan tuna-netra tanpa   mereka   sadari. Gerakan-gerakan   ini   sangat   tidak  sedap dipandang mata, misalnya selalu mengelengkan kepala tanpa sebab, menggoyang-goyangkan badan dan sebagainya.

5) Rasa rendah diri; Tunanetra selalu menganggap dirinya lebih rendah dari orang lain yang normal. Hal ini disebabkan mereka selalu merasa diabaikan oleh orang di sekitarnya.

6) Tangan ke depan dan badan agak membungkuk; Tunanetra cenderung untuk agak membungkukkan badan dan tangan ke depan, maksudnya untuk melindungi badannya dari sentuhan badan atau terantuk benda yang tajam.

7) Suka melamun; Hal ini disebabkan karena keterbatasan visualisasi dan tunanetra hanya dapat membayangkan secara verbal. Akibatnya banyak waktu yang terasa dan digunakan hanya untuk melamun.

8) Fantasi yang kuat untuk mengingat sesuatu objek; Bermanfaat bermanfaat untuk perkembangan pendidikan tunanetra. Pengalaman sehari-hari dikaitkan dengan fantasinya, maka tidak jarang tunanetra dapat menciptakan sebuah lagu yang indah atau bahkan puisi yang indah.

9) Kritis; Tunanetra tidak pernah berhenti bertanya bila ia belum mengerti. Walaupun mereka mengalami ketunanetraan namun fungsi intelektualnya sama dengan orang normal. Kemampuan mengingatnya cenderung lebih baik dari pada kemampuan berfikir konseptual.

10) Pemberani; Tunanetra akan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh tanpa ragu-ragu, bila mereka mempunyai konsep dasar yang benar tentang gerak dan lingkungannya, sehingga kadang-kadang menimbulkan rasa cemas bagi orang lain yang melihatnya.

11) Perhatian terpusat (terkonsentrasi); Tunanetra memiliki kepekaan  indera dan konsentrasi yang baik. Sehingga dengan memanfaatkan kepekaan indera yang lain tunanetra akan mendapatkan kembali informasi yang dibutuhkan melalui indera lainnya.

Berkenaan dengan pengertian dan karakteristik tunanetra maka terapi realita seperti dinyatakan oleh; Paul Meier, dkk., bahwa; terapi realitas tampaknya memiliki pengaruh yang besar terhadap konseling. Para psikoterapis umumnya hanya menyerukan dengan lantang kepada konseli untuk menghadapi kenyataan, melakukan yang terbaik dan bertanggungjawab, namun mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar yang mengalami kelainan tunanetra.

Konselor pada penyandang tunanetra, juga berusaha memenuhi kebutuhan dasar konseli (love and self-worth) kasih dan rasa berharga. Apabila kebutuhan-kebutuhan penyandang tunanetra yang dikonseling sebagaimana dikemukakan di atas merupakan tujuan yang hendak dicapai dalam terapi realitas maka hal itu sedikit banyak dapat tercapai bila dilakukan oleh para konselor di sekolah. Seorang konselor dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar pada manusia sekalipun mereka mengalami kelaian fisik seperti tunanetra yang banyak memandang segala kehidupannya melalui ingatan dan konsentrasi. Memperlakukan dengan perhatian kasih sayang tanpa syarat kepada konseli yang bukan bersifat temporer dan situasional. Bukan hanya karena keprihatinan kita kepada klien melainkan harus dilandasi dengan sifat rela menerima apa adanya tanpa tendensi balas budi atau pamrih.

Konselor di sekolah inklusi harus berlatih; memberikan pemahaman bagi para keluarga, kelompok studi, sahabat yang dapat dipercaya, rekan profesional, kelompok karyawan mapun sejumlah orang yang seringkali menyediakan bantuan yang diperlukan baik pada masa-masa krisis, maupun pada saat individu menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Orang-orang percaya dukungan (support) dari konselor kepada penyandang tunanetra, diharapkan dapat menyembuhkan mereka yang sedang menghadapi masalah, serta membimbing orang ke arah pengambilan keputusan untuk menuju kedewasaan.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka signifikansi selektif terapi realitas yang dapat digunakan dalam pelayan konseling antara lain:

  1. Perubahan perilaku. Glasser beranggapan bahwa perilaku yang tidak bertanggungjawab dari seorang konseli sebagai penyebab gangguan mental sebenarnya sejalan dengan asumsi konseling. Seorang konselor mengaskan agar orang percaya tidak menjadi sesuatu yang mesti dipaksakan atau di idolakan.
  2. Berpatokan pada nilai benar dan salah. Konseling terhadap tunanetra yang mengalami berbagai persoalan kehidupan dewasa ini harus tetap berpatokan dan menjunjung tinggi nilai benar dan salah. Pelayanan konseling pada penyandang tunanetra diakibatkan oleh masalah etika dan tatanilai, maka ia harus didorong untuk bertanggungjawab dengan memperhatikan nilai benar dan salah.
  3. Pengalaman masa lalu konseli tidak boleh dijadikan alasan dalam menghadapi realitas kehidupan. Hal ini merupakan sesuatu yang positif agar konseli berani melangkah menghadapi kenyataan sekarang. Berani meninggalkan trauma masa lalu seseorang tunanetra, konselor membantu konseli untuk melupakan trauma akibat di masa lampau.
  4. Terapi realitas bagi tunanetra harus mampu menolak alasan pembenaran terhadap perbuatan mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan yang harus ditolak. Sebagai tunanetra ia tidak boleh menjadikan kekurangan dirinya untuk dijadikan alasan sebagai ketidak berdayaan.
  5. Pemikiran terapi realitas bagi Tunanetra memfokuskan upaya pertolongan kepada konseli agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dirinya perlu dikembangkan dalam konseling pada klien penyandang tunanetra. Konseli menyadari pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri dan terbuka terhadap pertolongan yang dilakukan oleh seorang konselor profesional.
  6. Melalui terapi realitas tunanetra dibantu untuk merubah cara berpikir dari paradigma lama menjadi paradigma baru yang lebih bermakna. Cara berpikir, dan sikap kaku cenderung menjadi pemicu lahirnya berbagai konflik.
  7. Oleh karena terapi realitas pada tunanetra juga menggunakan teknik konfrontasi. Melalui konfrontasi tunanetra dapat mengoreksi kesalahan dan membantunya berperilaku berdasarkan saran-saran yang diberikan kepadanya.

Terapi realitas yang menekankan perilaku tunanetra yang bertanggungjawab terhadap realitas, perbuatan baik dan tanggungjawab. Dengan demikian seorang tunanetra harus mampu menyesuaikan diri dengan keberadaannya sekarang ketika sekolah di sekolah inklusi. Tunanetra harus menerima secara positif keberadaannya di sekolah tersebut. Diharapkan ia mampu memegang peranan baik secara pribadi maupun sebagai bagian bagian dari kelompok di sekolah inklui tersebut secara aktif. Melalui layanan konseling diharapkan tunanetra harus mampu mewujudkan pemenuhan lima kebutuhan dasar sebagai manusia. Abraham Maslow, sebagaimana dikutip oleh Larry Crabb, yaitu: 1) kebutuhan fisik adalah unsur-unsur penting (makan-minum, tempat tinggal, dsb), 2) kebutuhan biologis dan ragawi, 3) kebutuhan rasa aman 4) kebutuhan dicintai dan mencintai, 5) aktualisasi diri untuk mengembangkan diri, kreatif, ekspresi.

Seorang konselor bagi penyandang tunanetra berusaha menjadi mediator untuk menghubungkan dengan menumbuhkan minat, miningkatkan kepercayaan  diri. Atau paling tidak ia dapat menghubungkan dengan pihak-pihak lain yang kemungkinan bisa menolongnya keluar dari krisis kehidupan yang dialaminya.

III. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Konsep konseling tentang hakikat manusia berdasarkan therapy reality, juga dapat diterapkan bagi tunanetra yang menginginkan pribadi sehat, yang secara umum relevan dengan konsep konseling.

b. Kondisi tunanetra pada hakikatnya tidak hanya sebagai makhuk biologis, pribadi, dan sosial, tetapi juga sebagai makhluk religius. Begitu juga tunanetra tidak hanya mampu atau tidak mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

c. Sebagai tunanetra tetap memiliki sifat pembawaan dasar manusia. Bahwa potensi dasar manusia yang merupakan sumber penentu kepribadian adalah insting.

d. Kondisi tunanetra yang berada di sekolah inklusi pada hakikatnya adalah makhluk yang utuh dan sempurna, yaitu sebagai makhuk biologis, pribadi, sosial, dan makhluk religius yang harus dikembangkan agar lebih bisa menyesuaikan diri lebih optimal di lingkungan dimana ia berada.

KEPUSTAKAAN

Anastasia Widdjajantin. (1996), Ortopedagogik Tunanetra I. Jakarta: Depdikbud.

Bimo Walgito. (1991), Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Andi Offset.

Collins, Gary R. Christian Counseling. A Comprehensive Guide (Waco, Texas: Word Books, 1980).

_____________ (ed). Counseling in Times of Crisis (Dallas-London-Singapore: Word Books, 1987).

Corey, Gerald. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (terj.) (Bandung: Eresco,1988).

Crabb, Lawrence J. Effective Biblical Counseling (Grand Rapids-Michigan: Zondrvan Pub. House, 1977).

I Ketut Wesna, (1996-1997), Cahaya Netra. Edisi Kedua. Jakarta: Depdikbud

Meier, Paul et.al. Introduction to Psychology & Counseling (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House, 1988).

Munawir Yusuf (1996), Pendidikan Tunanetra Dewasa dan Pembinaan Karir. Jakarta : Depdikbud.

Rochman Natawijaya. (1992), Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Soerjono Soekanto. (1990), Sosialisasi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

St. Vembriarto. (1993), Sosiologi  Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.

Sutjihati Somantri. (1996), Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.

 

ANALISIS MASALAH KELUARGA

Januari 23, 2013

Oleh: JON EFENDI

A. Deskripsi Masalah
Tentang keluarga muda dalam proses perjodohan dalam perkawinan, Perbedaan usia mereka terpaut 13 tahun, suami berkerja di jakarta, sementara Istri bekerja sebagi guru PNS di Makasar. Masa-masa awal perkawinan mereka lalaui bersama hanya selama 2 bulan, selanjutnya suami kembali ke Jakarta untuk bekerja. Sang suami bekerkerja sebagai disain interior dan berjiwa seniman, sementara siistri sebagai guru PNS di makasar yang berpenampilan tomboy karena profesinya sebagai seorang guru olahraga. Suami berpenampilan cuek, rambut panjang layaknya seorang seniman yg kurang mengurusi penampilannya. Sebaliknya istri berpenampilan tomboy, keras dan lebih banyak bergaul dengn laki-laki.
Selama mereka hidup terpisah suami jarang berkirim uang sebagai rasa tanggung jawab terhdap istrinya, dan bahkan lebih sering minta dikirimi uang oleh istrinya untuk keperluan hidupnya selama di Jakarta. Mereka hanya bertemu lewat komunikasi dengan handphone. Setiap menelpon si suami selalu mengandalkan istri yg menelponnya, namun ketika ditanya kapan dia pulang ke Makasar dia selalu bilang sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Sayangnya istri tidak tahu suaminya bekerja di kantor apa, yang dia tahu hanya bekerja di bidang Disain Interior, menurut suaminya ia leih sering dapat order kerja di hotel-hotel dan kantor-kantor.
Sekali mendapatkan order suaminya sering bekerja lembur dan berpindah tempat, tergantung dimana tempat gedung yang akan didisain, maka ia akan kost disana. Namun bila ditelpon istri dia selalu bilang sedang sibuk berkerja di kantor. Istri mulai curiga kanapa orang berkerja dan selalu sibuk kok tidak mendapatkan uang gaji…? masa seorang yg berkerja dengan order yang memakan waktu berbulan-bulan untuk beli rokok dia saja susah!!!. Setiap bulan selalu dia minta dikirimi uang. Pernah suaminya mengirimi uang sebanyak dua kali, sekali pengiriman Rp. 500.000,-.
Selama 8 bulan suaminya tidak pulang ketempat istrinya, dan jarang dikirimi uang. Setiap ditelepon selalu jawabnya sibuk di kantor. Ketika diselidiki kepada saudaranya yg ada di Jakarta membenarkan bahwa si suami selalu sibuk kerja, dan bila sudah bekerja dia sangat menikmati pekerjaannya dan lupa akan yg lain.
Akhinya si istri memberanikan diri untuk menengok keadaan suaminya ke Jakarta. Ketika bertemu kelihatan sikap suami biasa saja dan tidak kelihatan seperti orang yang kangen sama istrinya. Terus terang dikatakan untuk berhubungan badan mereka hanya melakukan 2 kali seminggu. Namun istri tidak puas karena permainan suami kurang mampu memberikan kepuasan sama istri. Suami hanya mementingkan kepuasan sendiri, dan bila sudah puas dia akan larut dengan pekerjaan lain dan membiarkan istrinya.
Pasangan ini sudah menikah selama dua tahun, namun belum di karuniai anak. Padahal si Istri sudah sangat ingin memiliki anak, namun si suami keliahatan santai dan cuek saja.
Suatu ketika si istri menyampaikan keinginannya untuk kumpul bersama saja di Makasar. Suami setuju, tapi kelihatannya dia selalu mengulur untuk pulang berkumpul sama istrinya. Menurut istri ini sudah masuk bulan ke 10 setelah ia pergi ke Jakarta, namun hanya tetap janji saja untuk pulang ke Makasar.
B. Permasalahan
Jika dilihat dari permasalahan diatas maka disimpulkan permasalahan tersebut adalah;
1. Keinginan membina keluarga baru bersama suami dan tidak ingin hidup terpisah.
2. Keinginan untuk cepat memiliki keturunan.
3. Membina keluarga bersama suami dan membangun keluarga bersama layaknya keluarga baru suami bersama istrinya.

C. Pembahasan
Berkenaan dengan permasalahan tersebut di atas maka akan dicoba untuk mengtasinya dengan melakukan pengkajian berdasarkan teori psiko dinamika.
1. Teori Psikodinamika atau tradisi klinis berangkat dari dua asumsi dasar. Pertama, manusia adalah bagian dari dunia binatang. Kedua, manusia adalah bagian dari sistem enerji. Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua sumber terjadinya perilaku, baik itu berupa dorongan yang disadari maupun yang tidak disadari.
Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis. Banyak pakar yang kemudia ikut memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya, seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan. Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol, 2005 : 3-4).
Ada beberapa teori kepribadian yang termasuk teori psikodinamika, yaitu : psikoanalisis, psikologi individual, psikologi analitis, dan neo freudianisme. Berikut ini dikemukakan pokok-pokok dari teori psikoanalisis, psikologi individual, dan psikologi analitis.
2. Teori Psikoanalisis; Teori Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.
a. Struktur Kepribadian
Menurut Freud (Alwisol, 2005 : 17), kehidupan jiwa memiliki tga tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya (Awisol, 2005 : 17).
Freud berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 unsur, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich (dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan the Id, the Ego, dan the Super Ego), yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri.
a. Das Es
Das Es yang dalam bahasa Inggris disebut The Id adalah aspek kepribadian yang dimiliki individu sejak lahir. Jadi das Es merupakan factor pembawaan. Das Es merupakan aspek biologis dari kepribadian yang berupa dorongan-dorongan instintif yang fungsinya untuk mempertahankan konstansi atau keseimbangan. Misalnya rasa lapar dan haus muncul jika tubuh membutuhkan makanan dan minuman. Dengan munculnya rasa lapar dan haus individu berusaha mempertahankan keseimbangan hidupnya dengan berusaha memperoleh makanan dan minuman.
Menurut Freud, das Es berfungsi berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), munculnya dorongan-dorongan yang merupakan manifestasi das Es, adalah dalam rangka membawa individu ke dalam keadaan seimbang. Jika ini terpenuhi maka rasa puas atau senang akan diperoleh.
Perlengkapan yang dimiliki das Es menurut Freud berupa gerak-gerak refleks, yaitu gerakan yang terjadi secara spontan misalnya aktivitas bernafas untuk memperoleh oksigen dan kerdipan mata. Selain gerak refleks, das Es juga memiliki perlengkapan berupa proses primer, misalnya mengatasi lapar dengan membayangkan makanan.
b. Das Ich
Das Ich yang dalam bahasa Inggris disebut The Ego merupakan aspek kepribadian yang diperoleh sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Menurut Freud, das Ich merupakan aspek psikologis dari kepribadian yang fungsinya mengarahkan individu pada realitas atas dasar prinsip realitas (reality principle). Misal ketika individu lapar secara realistis hanya dapat diatasi dengan makan. Dalam hal ini das Ich mempertimbangkan bagaimana cara memperoleh makanan. Dan jika kemudian terdapat makanan, apakah makanan tersebut layak untuk dimakan atau tidak. Dengan demikian das Ich dalam berfungsinya melibatkan proses kejiwaan yang tidak simple dan untuk itu Freud menyebut perlengkapan untuk berfungsinya das Ich dengan proses sekunder.
c. Das Uber Ich
Das Ueber Ich atau the Super Ego adalah aspek sosiologis dari kepribadian, yang isinya berupa nilai-nilai atau aturan-aturan yang sifatnya normative. Menurut Freud das Ueber Ich terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai dari figur-figur yang berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu. Aspek kkepribadian ini memiliki fungsi :
1) sebagai pengendali das Es agar dorongan-dorongan das Es disalurkan dalam bentuk aktivitas yang dapoat diterima masyarakat;.
2) mengarahkan das Ich pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral;
3) mendorong individu kepada kesempurnaan.
Dalam menjalankan tugasnya das Ueber Ich dilengkapi dengan conscientia atau nurani dan ego ideal. Freud menyatakan bahwa conscentia berkembang melalui internalisasi dari peri-ngatan dan hukuman, sedangkan ego ideal berasal dari pujian dan contoh-contoh positif yang diberikan kepada anak-anak.
b. Dinamika Kepribadian
1) Distribusi enerji
Dinamika kepribadian, menurut Freud bagaimana energi psikis didistribusikan dan dipergunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Freud menyatakan bahwa enerji yang ada pada individu berasal dari sumber yang sama yaitu makanan yang dikonsumsi. Bahwa enerji manusia dibedakan hanya dari penggunaannya, enerji untuk aktivitas fisik disebut enerji fisik, dan enerji yang dunakan untuk aktivitas psikis disebut enerji psikis.
Menurut Freud jumlah energy itu terbatas sehingga terjadi semacam persaingan di antara ketiga aspek kepribadian untuk memperoleh dan menggunakannya. Jika salah satu aspek banyak menggunakan energi maka aspek kepribadian yang lain menjadi lemah.
Freud menyatakan bahwa pada mulanya yang memiliki enerji hanyalah das Es saja. Melalui mekanisme yang oleh Freud disebut identifikasi, energi tersebut diberikan oleh das Es kepada das Ich dan das Ueber Ich.
2) Mekanisme pertahanan ego
Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorngan das Es maupun untuk menghadapi tekanan das Uber Ich atas das Ich, dengan tujuan kecemasan yang dialami individu dapat dikurangi atau diredakan (Koeswara, 1991 : 46).
Freud menyatakan bahwa mekanisme pertahanan ego itu adalah mekanisme yang rumit dan banyak macamnya. Berikut ini 7 macam mekanisme pertahanan ego yang menurut Freud umum dijumpai (Koeswara, 1991 : 46-48).
a) Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan ego untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan dorongan-dorongan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam ketidak sadaran.
b) Sublimasi, adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif das Es yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam bentuk tingkah laku yang bisa diterima, dan bahkan dihargai oleh masyarakat.
c) Proyeksi, adalah pengalihan dorongan, sikap, atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.
d) Displacement, adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya dibanding individu semula.
e) Rasionalisasi, menunjuk kepada upaya individu memutarbalikkan kenyataan, dalam hal ini kenyataan yang mengamcam ego, melalui dalih tertentu yang seakan-akan masuk akal. Rasionalissasi sering dibedakan menjadi dua : sour grape technique dan sweet orange technique.
f) Pembentukan reaksi, adalah upaya mengatasi kecemasan karena insdividu memiliki dorongan yang bertentangan dengan norma, dengan cara berbuat sebaliknya.
g) Regresi, adalah upaya mengatasi kecemasan dengan bertinkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c. Perkembangan Kepribadian
1) Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengauhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia.
Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.
2) Tahap-tahap perkembangan kepribadian
Menurut Freud, kepribadian individu telah terbentuk pada akhir tahun ke lima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Selanjutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui 6 fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan. Ke enam fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 1982 : 172-173).
Fase oral (oral stage): 0 sampai kira-kira 18 bulan. Bagian tubuh yang sensitif terhadap rangsangan adalah mulut.
Fase anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini bagian tubuh yang sensitif adalah anus.
Fase falis (phallic stage) : kira-kira usia 3 sampai 6 tahun. Bagian tubuh yang sensitif pada fase falis adalah alat kelamin.
Fase laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas. Pada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
Fase genital (genital stage): terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.
3. Teori Psikologi Individual
a) Pendahuluan
Tokoh yang mengembangkan teori psikologi individual adalah Alfred Adler (1870-1937), yang pada mulanya bekerja sama dengan dalam mengembangkan psikoanalisis. Karena ada perbedaan pendapat yang tidak bisa diselesaikan akhirnya Adler keluar dari organisasi psikoanalisis dan bersama pengikutnya dia mengembangkan aliran psikologi yang dia sebut Psikologi Individual (Idividual Psychology).
b) Konsepsi-konsepsi Psikologi Individual
Menurut Adler manusia itu dilahirkan dalam keadaan tubuh yang lemah. Kondisi ketidak berdayaan ini menimbulkan perasaan inferior (merasa lemah atau tidak mampu) dan ketergantungab kepada orang lain. Manusia, menurut Adler, merupakan makhluk yangh saling tergantung secara sosial. Perasaan bersatu dengan orang lain ada sejak manusia dilahirkan dan menjadi syarat utama kesehatan jiwanya. Berdasarkan paradigma tersebut kemudian Adler mengembangkan teorinya yang secara ringkas disajikan pada uraian berikut.
1). Individualitas sebagai pokok persoalan
Adler menekankan pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas. Menurut Adler setiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas, dan setiap perilakunya menunjukkan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
2) Dua dorongan pokok
Dalam diri setiap individu terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatar belakangi segala perilakunya, yaitu :
Dorongan kemasyarakatan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan orang lain;
Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan diri sendiri.
3) Perjuangan menjadi sukses atau ke arah superior
Individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang menimbulkan perasaan inferior. Perasaan inilah yang kemudian menjadi pendorong agar dirinya sukses dan tidak menyerah pada inferioritasnya.
4) Gaya hidup (style of life)
Menurut Adler setiap orang memiliki tujuan, merasa inferior, berjuang menjadi superior. Namun setiap orang berusaha mewujudkan keinginan tersebut dengan gaya hidup yang berbeda-beda. Adaler menyatakan bahwa gaya hidup adalah cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan oleh yang bersangkutan dalam kehidupan tertentu di mana dia berada (Alwisol, 2005 : 97).
5) Minat sosial (social interest)
Adler berpendapat bahwa minat sosial adalah bagian dari hakikat manusia dalam dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkah laku setiap orang. Minat sosial membuat individu mampu berjuang mengejar superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke salah suai. Bahwa semua kegagalan, neurotik, psikotik, kriminal, pem,abuk, anak bermasalah, dst., menurut Adler, terjadi karena penderita kurang memiliki minat sosial.
6) Kekuatan krestif self (creative power of the self)
Self kreatif merupakan puncak prestasi Adler sebagai teoris kepribadian (Awisol, 2005 : 98). Menurut Adler, self kreatif atau kekuatan kreatif adalah kekuatan ketiga yang paling menentukan tingkah laku (kekutatan pertama dan kedua adalah hereditas dan lingkungan).
Self kreatif, menurut Adler, bersifat padu, konsisten, dan berdaulat dalam struktur kepribadian. Keturunan kekmberi kemampuan tertentu, lingkungan memberi imresi atau kesan tertentu. Self kreatif adalah sarana yang mengolah fakta-fakta dunia dan menstranformasikan fakta-fakta itu menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamis, menyatu, personal dan unik. Self kreatif memberi arti kepada kehidupan, menciptakan tujuan maupun sarana untuk mencapainya.
7) Konstelasi keluarga
Konstelasi berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Menurt Adler, kepribadian anak pertama, anak tengah, anak terakhir, dan anak tunggal berbeda, karena perlakuan yang diterima dari orang tua dan saudara-saudara berbeda.

8) Posisi tidur dan kepribadian
Hidup kejiwaan merupakan kesatuan antara aspek jiwa dan raga dan tercermin dalam keadaan terjada maupun tidur. Dari observasi yang telah dilakukan terhadap para pasiennya Adler menarik kesimpulan bahwa ada hubungan posisi tidur seseorang dengan kepribadiannya.
Tidur terlentang, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat pemberani dan bercita-cita tinggi.
Tidur bergulung (mlungker), menunjukkan sifat penakut dan lemah dalam mengambil keputusan.
Tidur mengeliat tidak karua, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat yang tidak teratur, sembrono, dst.
Tidur dengan kaki di atas bantal, menunjukkan orang ini menyukai petualangan.
Tidur dilakukan dengan mudah, berarti proses penyesuaian dirinya baik.
4. Teori Psikologi Analitis
Pendahuluan
Psikologi analitis merupakan aliran psikologi dinamis yang dikembangkan oleh Carl Gustav Jung (1975 – 1959). Sama halnya dengan Adler, Jung semula juga merupakan sahabat Freud dan termasuk tokoh terkemuka dalam organisasai psikoanalisis. Dan kerana perbedaan pendapat pula keduanya lalu berpisah. Jung kemudian mengembangkan aliran psikologi yang dia beri nama Psikologi Analistis.
Pokok-pokok Teori Carl Gustav Jung
a. Struktur kepribadian
Kepribadian atau psyche (istilah yang dipakai Jung untuk kepribadian) tersusun dari sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran : ogo beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat tak sadar pribadi, dan arsetip beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif.
Disamping sistem-sistem yang terkait dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap jiwa (introvert dan ekstravert) dan fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pengidraan, dan intuisi).
1) Sikap jiwa, adalah arah enerji psikis (libido) yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Sikap jiwa dibedakan menjadi :
a) Sikap ekstrovert
libido mengalir keluar
minatnya terhadap situasi sosial kuat
suka bergaul, ramah, dan cepat menyesuaikan diri
dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain berkipun ada masalah.
b) Sikap introvert
libido mengalir ke dalam, terpusat pada faktor-faktor subjektif
cenderung menarik diri dari lingkungan
lemah dalam penyesuaian sosial
lebih menyukai kegiatan dalam rumah
2) Fungsi jiwa, adalah suatu bentuk aktivitas kjiwaan yang secara teoritis tetap meskipun lingkungannya berbeda-beda. Fungsi jiwa dibedakan menjadi dua ;
a) Fungsi jiwa rasional, adalah fungsi jiwa yang bekerja dengan penilaian dan terdiri dari :
pikiran : menilai benar atau salah
perasaan : menilai menyenangkan atau tak menyenangkan
b) Fungsi jiwa yang irasional, bekerja tanpa penilaian dan terdiri dari :
pengideraan : sadar indrawi
intuisi: tak sadar naluriah
Menurut Jung pada dasarnya setiap individu memiliki keempat fungsi jiwa tersebut, tetapi biasanya hanya salah satu fungsi saja yang berkembang atau dominan. Fungsi jiwa yang berkembang paling meonjol tersebut merupakan fungsi superior dan menentukan tipe individu yang bersangkutan.
b. Dinamika kepribadian
Jung menyatakan bahwa kepribadian atau psyche bersifat dinamis dengan gerak yang terus-menerus. Dinamika psyche tersebut disebabkan oleh enerji psikis yang oleh Jung disebut libido. Dalam dinamika psyche terdapat prinsip-prinsip sebagai berikut (Alwisol, 2005 : 65)
1) Prinsip oposisi
Berbagai sistem, sikap, dan fungsi kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara, yaitu : saling bertentangan (oppose), saling mendukung (compensate), dan bergabung mejnadi kesatuan (synthese).
Menurut Jung, prinsip oposisi paling sering terjadi karena kepribadian berisi berbagai kecenderungan konflik. Oposisi juga terjadi antar tipe kepribadian, ekstraversi lawan introversi, pikiran lawan perasaa, dan penginderaan lawan intuisi.
2) Prinsip kompensasi
Prinsip ini berfungsi untuk menjada agar kepribadian tidak mengalami gangguan. Misalnya bila sikap sadar mengalami frus-trasi, sikap tak sadar akan mengambil alih. Ketika individu tidak dapat mencapai apa yang dipilihnya, dalam tidur sikap tak sadar mengambil alih dan muncullah ekpresi mimpi.
3) Prinsip penggabungan
Menurut Jung, kepribadian terus-menerus berusaha menyatukan pertentangan-pertentangan yang ada agar tercapai kepribadian yang seimbang dan integral.
c. Perkembangan kepribadian
Carl Gustav Jung menyatakan bahwa manusia selalu maju atau mengejar kemajuan, dari taraf perkembangan yang kurang sempurna ke taraf yang lebih sempurna. Manusia juga selalu berusaha mencapai taraf diferensiasi yang lebih tinggi.
1) Tujuan perkembangan : aktualisasi diri
Menurut Jung, tujuan perkembangan kepribadian adalah aktuali-sasi diri, yaitu diferensiasi sempurna dan saling hubungan yang selaras antara seluruh aspek kepribadian.
2) Jalan perkembangan : progresi dan regresi
Dalam prose perkembangan kepribadian dapat terjadi gerak maju (progresi) atau gerak mundur (regresi). Progresi adalah terjadinya penyesuaian diri secara memuaskan oleh aku sadar baik terhadap tuntutan dunia luar mapun kebutuhan-kebutuhan alam tak sadar.
Apabila progesi terganggu oleh sesuatu sehingga libido terhalangi untuk digunakan secara progresi maka libido membuat regresi, kembali ke fase yang telah dilewati atau masuk ke alam tak sadar.
3) Proses individuasi
Untuk mencapai kepribadian yang sehat dan terintegrasi secara kuat maka setiap aspek kepribadian harus mencapai taraf diferensiasi dan perkembangan yang optimal. Proses untuk sampai ke arah tersebut oleh Jung dinamakan proses individuasi atau proses penemuan diri.


Daftar Pustaka
Alwisol. (2005) Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa: Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta : Primasophie.
Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.
Semiun, Yustinus. (2006) Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.
Sumadi Suryabrata. (2005) Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali.

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI ADAPTIF BAGI PENYANDANG CACAT MELALUI JEJARING KEMITRAAN

Januari 23, 2013

Drs.Yuyus Suherman,M.Si

ABSTRAK

Riset ini didasarkan atas kebutuhan kompensatoris penyandang cacat untuk menjalani berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk aktivitas belajarnya. Teknologi adaptif dikembangkan dari yang sejak awal diciptakan untuk penyandang cacat atau yang tidak diciptakan untuk penyandang cacat. Produk ini dikaji ulang dan diuji cobakan efektivitasnya sehingga betul-betul sesuai dengan kebutuhan penyandang cacat. Berkenaan dengan hal tersebut maka riset ini bertujuan untuk mengembangkan model pengembangan teknologi adaptif bagi penyadang cacat melalui proses pengkajian berbasis perkuliahan dan kemitraan. Model dikaji dan dikembangkan berdasarkan riset. Permasalahan yang diajukan, adalah bagaimana model teknologi adaptif ini didesain, diproduk dan dupasarkan. Model ini dieksplorasi melalui kajian konseptual, kontekstual dan aplikasi sehingga dihasilkan model operasional dan produk teknologi adaptif seri komersial.Selanjutnya model proses kajian produk teknologi adaptif ini dikembangkan melalui penguatan nilai fungsional dan nilai komersial sehingga dihasilkan model kajian yang aplicable dan produk teknologi adaptif berstandard

Kata Kunci : Kompensatoris , Teknologi Adaptif, Penyandang Cacat

BAB.I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ditemukannya cara untuk membuat orang produktif, akan menguntungkan semua pihak. Tidak hanya pada individu penyandang cacat, tapi juga teman, kerabat, pekerja dan perekonomian secara keseluruhan. Ini adalah cara cerdas memanfaatkan sumber daya. Terkadang regulasi menolong penyandang cacat, memberikan hasil tidak terduga dan keuntungan luas. Bunyi bel dan lampu penanda kedatangan lift untuk membantu tunanetra, tunarungu dinikmati semua orang. Demikian juga dengan trotoar landai tidak hanya dinikmati penyandang cacat berkursi roda tapi pendorong kereta bayi, kereta belanja dan sebagainya turut menikmati .
Kajian teknologi adaptif difokuskan pada nilai-nilai filosofis rancang bangun, fungsi; teknologi tepat guna dan materi yang digunakan. Kajian teknologi adaptif dikemas dalam bentuk riset dan kemitraan dengan unsur industri berbasis perkuliahan praktikum dikembangkan lebih luas melalui mekanisme need asessment, pra-desain, presentasi disain produk, dilanjutkan dengan validasi produk dan tahap proses produksi serta pameran produksi teknologi adaptif yang diproyeksikan untuk diproduk komersial. Berkenaan dengan teknologi adaptif ini, menjadi menarik dikaji sebab banyaknya pilihan dipasaran, baik yang khusus sejak awal disediakan untuk penyandang cacat maupun yang umum. Disisi lain tersedianya pilihan tersebut menuntut kompetensi dalam memilih teknologi adaptif tersebut agar penggunaannya membantu aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk aktivitas belajarnya. Pemilihan teknologi adaptif dengan mempertimbangkan fungsi kompensatoris yang didasarkan need assesment dapat meningkatkan kepercayaan diri, semangat hidup dan belajar penyandang cacat. Sebaliknya, jika pemilihan teknologi adaptif ini tidak mempertimbangkan fungsi kompensatoris, selain tidak efektif juga akan menambah persoalan. Karena itu teknologi adaptif di masyarakat memerlukan kajian terus menerus. Hal ini berkaitan dengan keunikan masalah yang dihadapi penyandang cacat.
B. Tujuan Khusus
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses desain, dan kualitas produk sehingga memiliki nilai manfaat dan komersial serta memungkinkan untuk income generating. Jenis produk atau hasil dari riset berbasis kemitraan dalam pengembangan produk teknologi adaptif ini dapat dikelompokan kedalam dua jenis alat yaitu;
1) Mengkaji dan mengembangkan produk teknologi adaptif berdasarkan kompensatoris penyandang cacat berkaitan dengan kepentingan aktivitas kehidupan sehari hari (Activity of Daily Living) seperti berjalan, makan, mandi, kegiatan di kamar mandi, BAAB/BAAK, dan sebagainya. Alat ini bisa dikembangkan dari teknologi yang sudah ada atau belum ada sama sekali. Produk kajian ini kemudian diuji cobakan efektivitasnya sehingga betul-betul sesuai dengan kebutuhan penyandang cacat.
2) Mengkaji dan mengembangkan produk teknologi Adaptif yang Berkaitan dengan kepentingan aktivitas belajar/Akademik penyandang cacat di Sekolah seperti Box Pen, Reglet Low Vision, Kursi Belajar, Alas Buku, Meja Miring, Sabuk untuk Menulis, Alat Penyangga Pensil, Meja Kursi Tunadaksa, Papan Meja Pangku, Kursi Multi Guna, Mejakursi Bina Diri, Lampu Artikulasi, Kursi Disiplin dan sebagainya.

Dari perspektif hasil proses dan produk teknologi dari riset ini cukup memberi manfaat bagi berbagai pihak, sebab menghasilkan produk teknologi adaptif yang sesuai dengan kompensatoris penyandang cacat. Hal ini dimungkinkan karena desain produk didasarkan pada need asesment dan diproses melalui kajian terus-menerus didalam perkuliahan dan diproduksi secara professional. Secara kualitataif potensi keberhasilan riset ini sangat besar, dengan adanya riset ini kualitas produksi teknologi adaptif dapat ditingkatkan dan jaringan kemitraan produksi dan pemasarannya dapat dikembangkan secara professional. Hal ini penting karena untuk melakukan produksi dalam jumlah masal dan bersaing dipasaran diperlukan kerjasama dan kemitraan dengan unsur terkait/professional.
C. Urgensi Penelitian
Teknologi didefinisikan sebagai alat yang menggunakan prinsip atau proses penemuan saintifikasi yang baru ditemukan. Sedangkan adaptif, secara etimologi diartikan sebagai organisme mengatasi tekanan lingkungan untuk bertahan, berkaitan dengan aspek manusia dalam perencanaan produk (man-made objects) teknologi adaptif berkaitan dengan Ergonomi yaitu aktivitas penelitian mengenai kemampuan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental dan interaksinya dalam sistem manusia mesin alat yang integral. penyandang cacat dalam melakukan aktivitas motor, sosial, edukasi dan budaya tidak terlepas dari barrier dalam melakukan mobilitasnya.
Disadari produk teknologi adaptif yang ada di pasaran baik itu berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari hari, maupun yang berkaitan khusus dengan pembelajaran belum sesuai dengan kebutuhan penyandang cacat dan harganya mahal sehingga tidak terjangkau. Produk teknologi juga tidak sesuai dengan kebutuhan kompensatoris dan kebanyakan tidak diperuntukan bagi penyandang cacat. Dengan demikianpenelitian ini sangat penting, sebab menghasilkan produk teknologi adaptif yang sesuai dengan kompensatoris anak. Hal ini dimungkinkan karena desain produk ini didasarkan atas proses need asesment dan diproses melalui kajian terus-menerus didalam perkuliahan dan diproduksi secara professional. Dalam perspektif lebih luas kegiatan ini dapat mendorong semangat kewirausahaan khususnya dalam mengembangkan usaha dibidang teknologi adaptif.
Road map riset ini dapat ditelusuri dari hasil riset terdahulu dapat dijelaskan sebagai berikut; riset ini sejalan dengan bidang pengembangan program unggulan yang berkaitan dengan keilmuan pendidikan dan berkaitan dengan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship). Selain itu program ini juga mendukung program akademik dan administratif, dan mencerminkan keunggulan dalam produk, kualitas dan kinerja. Produk perkuliahan praktikum Teknologi Adaptif ini merupakan hasil karya kreatif dan inovatif. Sementara kemitraan yang dikembangkan akan memberikan dampak dalam meningkatkan citra UPI. memberikan manfaat kepada sivitas akademika dan stakeholder UPI. Indikatornya adalah lebih dikenalnya UPI di tingkat regional dan terciptanya peningkatan atmosfir akademik, terciptanya jalinan kerjasama dan kemitraan yang saling menguntungkan untuk kedua pihak dalam meningkatkan kinerja lembaga, penjaminan mutu layanan, prosedur kerja dan memungkinkan untuk income generating.
Dari perspektif teknologi, indikator produksi dan indikator kinerja dan capaian riset dalam pengembangan dan produksi teknologi adaptif ditunjukan dengan meningkatkan kualitas desain, dan kualitas produk teknologi adaptif sehingga memiliki nilai komersial. Melalui riset ini akan diperoleh jenis jenis teknologi adaptiof dan terbangunnya jejaring kemitraan baik dengan dengan lembaga internal di UPI maupun dengan lembaga eksternal yang terkait yang saling menguntungkan.
Berikutnya dalam perspektif potensi dan kemungkinan keberlanjutan program kemitraan pengembangan dan produksi teknologi adaptif ini cukup besar, mengingat di masa datang kesadaran akan peran teknologi untuk kehidupan yang lebih baik semakin tinggi. Sedangkan dari aspek orang tua dan lembaga pendidikan juga memberikan respon positif, mereka merupakan konsumen setia dan sangat responsif terhadap produk teknologi adaptif ini. Dari aspek penyiapan profesionalisasi tenaga kependidikan luar biasa program kemitraan baik dalam pengkajian dan produksi teknologi adaptif ini memberi kesempatan kepada mahasiswa dan dosen untuk memperkuat tujuan perkuliahan praktikum dan membangkitkan jiwa kewirausahaan. Secara kuantitatif dari efektivitas proram ini dapat diukur dari indikator wawasan terhadap konsep, prinsif teknologi adatif yang dibuktikan dengan meningkatnya teknologi adaftif yang memenuhi standar proses dan produk teknologi adaptif
Melalui riset ini teknologi adaptif yang memenuhi standar proses dan produk dapat diwujudkan. Melalui studi terdahulu tentang kebutuhan teknologi adaptif bagi penyandang cacat bekerjasama dengan 100 guru SLB yang sedang melakukan perkuliahan (kelas kerjasama dengan Dinas Pendidikan Jabar (2007) diperoleh kesimpulan bahwa selama ini produk-produk yang ada di pasaran baik itu teknologi adaptif yang berkaitan dengan aktivitas kehidupoan sehari hari, termasuk yang berkaitan khusus dengan pembelajaran belum sesuai dengan kebutuhan anak dan harganya mahal sehingga tidak terjangkau. Berkenana dengan hal tersebut maka riset lanjutan untuk mengembangkan produk teknologi adaptif berstandar proses dan produk dan sesuai dengan kebutuhan penyandang cacat menjadi penting dan mendesak adanya. demikian juga dengan pengembangan jejaring pemasaran sekaligus kemitraan produksi dengan unsur profesional diharapkan menjamin tersedianya produk komersial yang siap dipasarkan termasuk pemanfatan sumber-sumber internal yang dapat mensuport dan melindungi hak kekayaan intelektual/HAKI produk teknologi adaptif ini.

BAB. II
STUDI PUSTAKA

A. Hakikat Teknologi Adaptif
Teknologi didefinisikan sebagai alat yang menggunakan prinsip atau proses penemuan saintifikasi yang baru ditemukan. Sedangkan adaptif, secara etimologi diartikan sebagai organisme mengatasi tekanan lingkungan untuk bertahan, berkaitan dengan aspek manusia dalam perencanaan produk teknologi adaptif berkaitan dengan Ergonomi yaitu aktivitas penelitian mengenai kemampuan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental dan interaksinya dalam sistem manusia mesin alat yang integral. penyandang cacat dalam melakukan aktivitas motor, sosial, edukasi dan budaya tidak terlepas dari barrier dalam melakukan mobilitasnya. Teknologi dalam bentuk komputer, jaringan informasi, dan multimedia misalnya, akan memberikan akses kepada setiap orang di masyarakat untuk belajar. Dengan demikian teknologi adaptif pada hakikatnya adalah segala macam benda atau alat yang dengan cara dimodifikasi atau langsung digunakan untuk meningkatkan atau merawat kemampuan penyandang cacat ( disabled person).
Beberapa jenis teknologi adaptif memungkinkan penyandang cacat dapat mengakses komputer; sebagian lainnya memberikan berbagai peluang pendidikan yang sebelumnya tidak ditawarkan. Di antara teknologi adaptif yang terpenting adalah teknologi yang memberikan akses ke komputer dan teknologi komunikasi modern lain kepada siswa-siswa penyandang cacat. Keyboard-nya dapat dimodifikasi, misalnya, sehingga orang yang hanya memiliki satu tangan atau satu jari untuk mengetik dapat menggunakannya. Program-program pengenalan suara memungkinkan siswa dengan berbagai disabilitas fisik untuk memasukkan teks ke dalam komputer dengan berbicara. Joysticks telah dikem¬bangkan untuk memungkinkan individu-individu mengontrol komputer dengan menunjuk dengan dagu atau kepalanya.

Dewasa ini ada berbagai macam perangkat adaptif yang dapat menyediakan berbagai kesempatan pendidikan. Sebagai contoh, tulisan besar dan translasi Braile dengan bantuan komputer dapat mem¬bantu komunikasi untuk siswa-siswa yang mengalami hambatan penglihatan. Software translasi Braille dapat mengonversikan teks menjadi format Braille yang tepat. Software pembesaran-layar memperbesar ukuran teks dan grafik, mirip dengan captioning dan tampilan real-time graphics di televisi, yang me¬nyiarkan dialog dan tindakan di acara atau film televisi melalui teks tercetak.
Computer speech synthesizers dapat menghasilkan kata-kata lisan secara artifisial. Speech recognition software (software untuk mengenali suara) dapat membantu siswa-siswa yang hanya dapat mengucapkan beberapa bunyi untuk mengerjakan berbagai togas. Individu diajari beberapa bunyi “token” yang dapat direspons oleh komputer yang diprogram secara khusus. Komputer mengenali suara dan me¬ngerjakan berbagaii fungsi sehari-hari dan fungsi-fungsi berbasis-sekolah, seperti menyalakan TV, mem-ainkan rekaman video, atau mengakses kurikulum sekolah di CD-ROM. Peralatan-peralatan canggih lainnya bereaksi terhadap sinyal-sinyal otak yang kemudian mentranslasikannya menjadi perintah dan tindakan digital.
Teknologi-teknologi lain, misalnya peralatan adaptif dan tombol-tombol khusus, memungkinkan siswa dengan disabilitas fisik untuk meningkatkan mobilitas fungsionalnya dengan menghidupkan berbagai peralatan dan mengontrol alat-alat lain seperti lampu atau radio. Computerized “gait trainers” dapat membantu individu-individu dengan keseimbangan yang buruk atau mereka yang memiliki pengendalian tubuh yang kurang untuk belajar berjalan. Peralatan-peralatan yang dikendalikan radio dapat membuka pinto dan mengoperasikan mesin penjawab di telepon.
Teknologi yang sangat menarik dirancang untuk siswa-siswa yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. PC Pal, komputer khusus dengan layar LCD, dapat disediakan di ruang-ruang perawatan di rumah sakit. Peralatan ini menyediakan games. Komputer memberikan akses internet dan memungkinkan siswa yang dirawat di rumah sakit untuk terus mengikuti pekerjaan rumahnya dan untuk tetap berhu¬bungan dengan temannya. Situs-situs web khusus telah diciptakan untuk memudahkan siswa¬ dengan disabilitas. Yang paling menonjol adalah yang dikembangkandan oleh Center for Applied Special Technology (CAST), sebuah organisasi yang misinya adalah memperluas kesempatan bagi orang dengan disabilitas melalui penggunaan komputer dan berbagai teknologi asistif. CAST menawarkan sebuah situs Web (disebut “Bobby”) dan alat-alat berbasis-web yang menganalisis aksesibilitas berbagai halaman Web.
Karena semakin banyak siswa dengan disabilitas yang diinklusikan di kelas-kelas reguler, sehingga siswa-siswa yang membutuhkan penggunaan teknologi adaptif semakin nyata dan mendesak dilayani. Akan tetapi, untuk mengambil keputusan tentang teknologi tepat-guna yang akan digunakan sekolah diharuskan untuk membantu individu-individu dengan disabilitas untuk mengidentifikasi, memperoleh, dan mempelajari cara penggunaan peralatan adaptif yang tepat. Peralatan-peralatan ini diidentifikasi selama pengembangan IEP siswa. Diharapkan untuk bekerja sama dengan personel yang tepat di sekolah untuk mengembangkan IEP. Setelah siswa diberi peralatan adaptif, personel lain diharapkan untuk membantu siswa yang bersangkutan untuk menggunakannya dengan cara yang semestinya.

B. Pengembangan Teknologi Adaptif
Teknologi adaptif, disadari sangat spesifik dan bersifat kasuistik, karena didasarkan berdasarkan hasil needs assesment. Namun, walaupun begitu kasus-kasus spesifik juga dapat ditarik secara generalis pada kasus-kasus sejenis dan berdekatan, sehingga walaupun ada adaptasi imtil seri komersial, tapi perubahannya tidak terlalu banyak. Karena prioritas tetap pada nilai kemaslahatan. Dalam rangka menciptakan produk-produk inovatif dan kreatif serta memberdayakan diri melalui identifikasi, menggali dan memanfaatkan potensi dan sumber yang ada, maka peningkatan kualitas pembelajaran dan kreativitas mahasiswa yang mengikuti perkuliahan teknologi adaptif serta dalam rangka mengembangkan jaringan kerjasama produksi, meningkatkan kualitas produk teknologi adaptif sehingga bernilai komersial, sangat penting dilakukan. Apalagi Produk hasil kajian mahasiswa tiap tahun terus tercipta dan cukup inovatif sehinga telah mendukung keunggulan Laboratorium Jurusan PLB dan menunjang perkembangannya sebagai Pusat Pengembangan Potensi Anak, yang memberi pelayanan terapi akademis pada masyarakat. Produk perkuliahan praktikum
Teknologi Adaptif juga sangat menunjang, karena ternyata mendapat respon positif dari orang tua dan SLB. Beberapa produk telah memiliki nilai komersial tinggi, sehinga Sekolah berani memproduksi karena ada pesanan orang tua siswa. Selama ini produk yang ada di pasaran baik itu teknologi adaptif berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari hari, termasuk yang berkaitan khusus dengan pembelajaran belum sesuai dengan kebutuhan anak dan harganya mahal sehingga tidak terjangkau. Produk teknologi juga tidak sesuai dengan kebutuhan kompensatoris dan baru bersifat terapeutik yang kebanyakan tidak diperuntukan bagi penyandang cacat.
Jenis produk teknologi adaptif ini dapat dikelompokan kedalam dua jenis alat yaitu; teknologi adaptif yang berkaitan dengan ADL dan teknologi adaptif yang berkaitan dengan pembelajaran (akademik). Selanjutnya kedua jenis produk ini diuraikan sebagai berikut:
1. Teknologi adaptif yang berkaitan dengan kepentingan aktivitas kehidupan sehari hari
Teknologi adaptif ini dikembangkan berdasarkan kompensatoris siswa penyandanga cacat.. Didasarkan atas kebutuhan siswa dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari dari mulai berjalan, makan, mandi, kegiatan di kamar mandi, BAAB/BAAK, dan sebagainya. Alat ini bisa dikembangkan dari alat teknologi yang sudah ada atau belum ada sama sekali. Produk kajian ini kemudian diuji cobakan efektivitasnya sehingga betul-betul sesuai dengan kebutuhan kasus/anak. Beberapa contoh alat/teknologi adaptif ADL hasil mahasiswa PLB yang ngontrak MK.Teknologi adaptif (2007) adalah; Board Parcice Walk, Kusi untuk BAB, nampan berlubang, penahan lutut, Non Slip Tray Set, Egips, Tongkat beroda, papan keseimbangan, Vesti Buler Board, Kursi terapi, Jemari sensoris, sepatu keseimbangan, tongkat penyeberangan, Standing Up-Support, dan sebagainya.
2. Teknologi adaptif ini dikembangkan berdasarkan kepentingan aktivitas akademik
Teknologi adaptif ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan siswa penyandang cacat sesuai dengan kompensatoris yang dimilikinya dalam berbagai aktivitas akademik di sekolah. Beberapa contoh produksi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan teknologi Adaptif (2007) yang berkaitan dengan kegiatan akademik adalah Box Pen, Reglet Low Vision, Kursi Belajar, Alas Buku, Meja Miring, Sabuk untuk Menulis, Alat Penyangga Pensil, Meja Kursi Tunadaksa, Papan Meja Pangku, Kursi Multi Guna, Mejakursi Bina Diri, Lampu Artikulasi, Kursi Disiplin dan sebagainya.
Proses produksi melibatkan mitra profesional secara keseluruhan diharapkan menghasilkan produk teknologi berstandard komersial. Mengingat konsep teknologi adaptif relative baru , maka hakikat teknologi adaptif, konsep dan prinsip-prinsipnya perlu dikaji secara mendalam.. Kajian perncanaan produk tidak terlepas dari ergonomic yakni aktivitas penelitian mengenai kemampuan dan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental dan interaksinya dalam system manusia mesin alatsecara integral.Dimaklumi penyandang cacat dalam melakukan aktivitasnya tidak terlepas dari barrier dalam melakukan mobilitasnya maka potensi pasarnya cukup terbuka. Meskipun demikian kemaslahatan seyogyanya tepat menjadi prioritas dalam mengembangkan teknologi adaptif, sehingga nilai filosofis rancang bangun dan fungsi utamanya merupakan kunci utamanya. Dengan demikian produksi masal tidak sekedar untuk memenuhi pasar tapi lebih dari itu memiliki misi memenuhi kebutuhan kompensatoris, sehingga produksinya diproses melalui kajian terus menerus .

BAB III
METODE PENELITIAN

Mengacu pada objek telaah teknologi adaptif, penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (research and development). Ada 10 langkah pokok dalam metode ini yaitu, (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan model tahap satu, (4) ujicoba lapangan tahap satu, (5) revisi model tahap satu (6) ujicoba model yang utama, (7) revisi model operasional, (8) ujicoba lapangan model operasional, (9) revisi model final, dan (10) diseminasi dan implementasi (Borg and Gall, 1989:784-785).
Secara keseluruhan pendekatan penelitian dan pengembangan (research and development) dilaksanakan sebagai berikut:

Kegiatan riset berbasis kemitraan jurusan PLB dengan lembaga terkait ini dalam produksi dirancang melalui tiga tahap kegiatan yaitu; tahap persiapan (pra-produksi), tahap produksi dan tahap produksi seri komersial/distribusi.Secara keseluruhan tahapan kegiatan dapat dilihat dalam bagan berikut:

Gbr. 01. Kegiatan riset teknologi adaptif dengan berbasis kemitraan

Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan ini meliputi kegiatan pengkajian secara menyeluruh terhadap bahan dan produk teknologi adaptif baik yang ada LAB/PPPA, SLB, klinik Ortopedagogik dan pusat pusat produksi alat protese di Kota Bandung. Kegiatan terahir dari rangkaian tahap pra-produksi ini adalah diskusi terfokus dengan unsur akademisi dan praktisi tentang rencana produksi/teknologi adaptif baik berkaitan dangan alat Activity of Daily Living (ADL) maupun yang berkaitan dengan pembelajaran akademik.
Sementara itu cakupan kegiatan pada tahap pelaksanaan/ tahap produksi Teknologi adaptif ini meliputi kegiatan yang berhubungan dengan kerja produksi teknologi adaptif yang bersifat kompensatoris bagi ABK yang paling mungkin diproduksi berdasarkan pertimbangan parktisi dan akademisi termasuk ketersediaan anggaran dan nilai komersial produk. Tahap ini dilakukan melalui bentuk kemitraan dengan bengkel produksi yang memiliki bidang usaha yang relevan. Kegiatan berikutnya yang merupakan rangkaian tahap produksi ini adalah uji produk. Tahap ini merupakan pengujian lapangan (empiris) yang kemudian dipresentasikan dalam bentuk seminar hasil produksi Teknologi Adaptif untuk mendapat jadgement dari praktisi maupun pakar/akademisi.
Pihak-pihak yang telah terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan ini terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok mitra program dari lembaga internal dan kelompok mitra dari lembaga eksternal. Kelompok mitra program internal mencakup Pusat Pelayanan Mahasiswa Tunanetra UPI Bandung, LAB/Pusat pengembangan Potensi Anak PLB, Prodi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Pusat Pengkajian Pendidikan Inklusi dan Inovasi Pendidikan SPS UPI Bandung dan Dosen Perkuliahan media pembelajaran dan teknologi adaptif. Sementara itu kelompok mitra eksternal adalah SLB, klinik ortopedagogik dan worshop CV Cipta Kriya.

BAB IV
PEMBIAYAAN

No Komponen Jumlah (Rp)
1 Pelaksana Gaji/Upah 27.000.000
2 Komponen peralatan 8.500.000
3 Bahan habis pakai 21.500.000
4 Penginapan dan Perjalanan 23.200.000
5 Pertemua/loakakarya 10.000.000
6 Laporan /Publikasi 8.500.000
7 Pengeluaran lain-lain 1.500.000
Total 100.000.000

DAFTAR PUSTAKA
Alcott, M (2007) An Introduction to Children with Special Educational Need, London; Horder & Stoughton education

Ashman, A. & Elkins, J. (1994). Educating Children with Special Needs. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs.

Cullatta, R.A et.al (2003) Fundamentals of Special Education, What Every teacher Need to Know. New Jersey

Hallahan, at.al ( 2005) Special Education, What It is and Why We Needed It, New York: Pearson Education,Inc

Johnsen, B & Skjorten, M.D (2003) Pendidikan Kebutuhan Khusus, Sebuah Pengantar, Alih bahasa: Susi Septaviana R, Bandung: PPS

Kauffman, J.M. (1985), Characteristics of Children’s Behavior Disorders. Columbus, Ohio: Charles E. Merrll Publishing Company A Bell & Howell Company

McBrayer, Kim Fong Poon dan Gon Jon Liang, Ming (2002) Special Needs Education, Children with Exceptionalities. Hong kong,: The Chinese University Press

Mercer, Cacil D and Mercer, Anna R (l989) Teaching Student With Learning Problems, London; Merrill Publishing CompanySterenberg, L. dan Taylor, R. L. (1986 ). Exceptional Children: Integrating Research and Teaching. New York: Springer-Verlag.

Santosa, Insap. (1997). Interaksi Manusia dan Komputer, Teori dan Praktek. Yogyakarta: Penerbit ANDI

Smith, R. M., Neisworth, J. T., dan Hunt, F. M. (1983). The Exceptional Child. A Functional Approach. New York: McGraw-Hill Book Company.

NEEDS ASSESSMENT DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN PERKEMBANGAN BAGI ANAK TUNAGRAHITA DI SLB

Januari 23, 2013

Disusun Oleh:
JON EFENDI

NEEDS ASSESSMENT DALAM PENGEMBANGAN
PROGRAM BIMBINGAN PERKEMBANGAN BAGI ANAK TUNAGRAHITA DI SLB

I. PENDAHULUAN

Pendidikan dan pelatihan diselenggarakan untuk merespon tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Produk pendidikan dan pelatihan akan bermakna dan diterima di masyarakat jika produk pendidikan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakatnya. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam rangka menjembatani kesenjangan antara produk pendidikan yang dihasilkan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat adalah dengan melakukan penilaian terhadap kebutuhan masyarakat (Needs Assessment).
Needs Assessment sebagai bagaian dari pendekatan penelitian evaluatif oleh dipandang sebagai suatu teknik penting untuk diketahui dan dilakukan oleh orang yang terlibat dalam dunia pendidikan dan pelatihan.
Dalam makalah ini dibahas beberapa hal yang penting yang berhubungan dengan Needs Assessment antara lain : Pengertian Needs Assessment, Karakteristik Needs Assessment, Dimensi-Dimensi Needs Assessment, Langkah-Langkah Penilaian Kebutuhan, Teknik Needs Assessment, Konsep Bimbingan di Sekolah Luar Biasa, Konsep Anak Tunagrahita.

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Needs Assessment
Banyak Istilah yang digunakan terhadap pendekatan atau proses pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka pengembangan suatu program pendidikan. Hilda Taba (1962) menyebutnya dengan Istilah Diagnosis Kebutuhan (Diagnosis of Needs), Tyler (1975 : 19) menyebutnya dengan istilah Analisis Kebutuhan atau Masalah (Analysis of needs or problems). Braddy,L (1990 :20) dan Print (1993 : 109) menyebutnya dengan istilah Analisis Situasional (Situational Analysis), dan Kaufman R (1972 : 28) serta Oliva (1992 : 218) menyebutnya dengan istilah Penilaian Kebutuhan (Needs Assessment).
Definisi Needs Assessment; Kaufman (1972 : 49) mendefinisikan Needs Assessment sebagai suatu proses untuk memperoleh data diskrepansi (needs/gap) dan menempatkan prioritas-prioritas di antara diskrepansi atau kebutuhan-kebutuhan tersebut (“a process for obtaining such discrepancy data and for placing priorities among them”).
Menurut Fenwick et al (Oliva, 1992, : 246) Needs Assessment adalah; Suatu alat/cara untuk menemukan gap antara produk pendidikan yang ada (outcomes or results) dan produk pendidikan yang dikehendaki, kemudian menempatkan gap-gap ini dalam susunan prioritas dan memilih gap yang paling prioritas untuk dilakukan tindakan biasanya melalui implementasi kurikulum yang ada atau kurikulum baru atau melalui proses manajemen.
Print (1993 : 140) mendefinisikan Penilaian Terhadap Kebutuhan (Needs Assessment) sebagai suatu teknik untuk menentukan bentuk kebutuhan dan menentukan prioritas-prioritasnya (“a usefull technique for defining needs and determining their priorities”). Dijelaskan juga bahwa, pendekatan atau teknik ini bermanfaat khususnya ketika melakukan penilaian dan analisis terhadap kebutuhan yang hasilnya sebagai dasar dalam mengembangkan suatu program.
Oliva (1992 : 246) mendefinisikan penilaian kebutuhan (Needs Assessment) sebagai suatu proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang bersifat programik yang harus diperhatikan oleh para perencana program (“a process for identifying programmatic needs that must be addressed by curriculum planners).
Dari definisis-definisi di atas dimaknai bahwa, Needs Assessment merupakan langkah awal yang penting dan mendasar dalam mengembangkan maupun merevisi suatu program pendidikan. Melalui identifikasi kebutuhan-kebutuhan (identification of needs) yang teliti dan sistematis dapat memberikan arah bagi para pengembang program pendidikan dan latihan untuk menghasilkan suatu program yang representatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ralph Tyler (1975 : 18) menegaskan bahwa, penelitian dan analisis terhadap kondisi-kondisi signifikan yang mempengaruhi konstruksi dan operasi dari progam merupakan suatu langkah yang esensial dalam pengembangan program (“an essential early step in curriculum development is to examine and analyze significant conditions that influence the construction and operation of the curriculum”).
B. Karakteristik Needs Assessment
Dalam proses pengumpulan data (baik data tentang kondisi riil maupun data tentang kondisi yang dinginkan) untuk mengembangkan atau merevisi suatu program, maka data atau informasi itu adalah yang berhubungan langsung dengan kebutuhan, minat, bakat, tahap perkembangan anak dan tuntutan/kebutuhan masyarakat serta perkembangan pengetahuan. Hal ini dimaksudkan agar produk suatu program pendidikan dan pelatihan itu, setelah diimplementasikan, akan relevan dengan tuntutan dan kebutuhan anak, masyarakat serta perkembangan pengetahuan.
Data mengenai kondisi riil anak dan masyarakat yang telah dipertimbangkan dan dituangkan dalam suatu program pendidikan dan latihan harus terus ditinjau ulang kesuaiannya akibat perubahan dan dinamika anak dan masyarakat. Dengan kata lain, tidak ada kondisi riil anak dan masyarakat yang tetap, oleh karena itu penilaian terhadap kebutuhan (Needs Assessment) dalam mengembangkan suatu program pendidikan bukanlah suatu yang final dan sempurna.
Penilaian terhadap permasalahan pendidikan seharusnya lebih diarahkan untuk mencari dan menemukan diskrepansi atau persoalan produk pendidikan yang diinginkan (Desired conditions/outcomes) dan produk pendidikan yang telah dihasilkan (Current conditions/outcomes), bukan kepada proses atau alat. Sehubungan dengan hal ini Kaufman (1972 : 29) merumuskan 3 karakteristik penilaian terhadap kebutuhan (needs assessment) dalam mengembangkan suatu program sebagai berikut :
1. Data harus menggambarkan dunia nyata peserta didik dan masyarakat, baik kini maupun masa yang akan datang,
2. Tidak ada penetapan kebutuhan itu yang final dan sempurna; pernyataan mengenai kebutuhan itu bersifat tentatif dan validitas pernyataan itu seharusnya ditinjau secara terus menerus,
3. Kebutuhan (diskrepansi/gap) seharusnya diidentifikasi dalam hubungannya dengan produk atau tingkah laku nyata, bukan dalam hubungannya dengan proses.
C. Dimensi-Dimensi Needs Assessment
Ada beberapa dimensi yang perlu menjadi perhatian ketika melakukan Needs Assessment antara lain :
1. Sifat pendidik
Pendidik merupakan faktor yang menentukan dalam proses belajar mengajar. Hal ini karena peran dan tanggungjawabnya yang sangat besar dalam usaha mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam program. Syaodih N.S (1997 : 191) menjelaskan bahwa, “sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional”. Sejalan dengan itu, Armstrong & Savage (1983 : 410 – 420) menjelaskan mengenai peran dan tanggungjawab guru atau pendidik, disamping sebagai pengajar, maka guru juga berperan sebagai pengelola pendidikan dan pembelajaran, pengevaluasi program, sebagai seorang konselor dan berperan sebagai seorang anggota organisasi profesi kependidikan. Peran seperti disebutkan diatas menuntut guru atau pendidik untuk memiliki kelengkapan kependidikan yang dapat diukur dari latar belakang pendidikan, ketrampilan dan pengalaman, dedikasi, akhlak, tanggungjawab dan kecintaan terhadap profesinya. Dengan demikian merupakan suatu yang mutlak jika dalam suatu kegiatan pengembangan program, guru atau pendidik menjadi salah satu dimensi atau faktor yang harus dipertimbangkan.
2. Sifat pelajar
Dimensi kedua yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan program adalah peserta didik. Sebagai salah satu faktor penting dalam kegiatan pendidikan, peserta didik secara individual memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal kebutuhan, perkembangan fisik dan psikis, kemampuan, bakat, minat dan inteligensia. Maka semua aspek-aspek tersebut harus diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengembangan program.
3. Sifat masyarakat
Masyarakat dimana kegiatan pendidikan dan pembelajaran itu berlangsung adalah komunitas yang akan menerima produk pendidikan tersebut. Produk dari suatu program pendidikan secara tidak langsung diperuntukkan bagi masyarakat. Oleh karena itu menurut Syaodih (1997 : 60 – 63), dalam mengembangkan program, aspek-aspek perkembangan di masyarakat seperti perubahan pola pekerjaan, perubahan peranan wanita, perubahan kehidupan keluarga dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat lainnya harus menjadi bahan kajian dan bahan pertimbangan bagi para pengembang.
4. Sifat pengetahuan
Ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan, baik perkembangan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan itu sendiri, maupun dalam hubungannya dengan kebutuhan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan itu. Perubahan dan perkembangan sudah menjadi ciri pengetahuan (Nature of Knowledge). Oleh karena itu perubahan dan perkembangan pengetahuan serta tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan, juga merupakan dimensi pertimbangan, terutama dalam penseleksian dalam suatu program (Kaufman 1972 : 30).
Skilbeck (1976 : 96, dalam Print, 1993 : 115), menggunakan istilah “Faktor” penilaian untuk menunjuk kepada istilah “dimensi” yang digunakan Kaufman. Skilbeck mengelompokkan fokus analisis atau penilaian terhadap kebutuhan dalam mengembangkan program pendidikan menjadi dua faktor pokok, yaitu :
1. Faktor eksternal, mencakup hal-hal sebagai berikut :
Pertama, Perubahan-perubahan budaya masyarakat, tuntutan serta kebutuhannya (Baca: Harapan-harapan orang tua, kebutuhan tenaga kerja, asumsi dan nilai-nilai di masyarakat, pertumbuhan ekonomi, interaksi sosial dan ideologi),
Kedua, Kebutuhan dan tantangan dalam sistem pendidikan (Baca : Kebijakan, sistem ujian, proyek-proyek kurikulum dan penelitian pendidikan),
Ketiga, Sifat mata pelajaran yang diajarkan yang terus menuntut peninjauan dan perubahan disesuaikan dengan perkembangan dunia di luar sekolah,
Keempat, Sistem yang mendukung kemajuan guru (Baca : Lembaga pelatihan guru, Lembaga- lembaga riset, bahan audio-visual dan sumber lainnya),
Kelima, Sumber-sumber pendukung pendidikan (Baca : proyek sekolah, proyek nasional, Departemen yang mengelola pendidikan dan LSM yang peduli terhadap pendidikan).
2. Faktor Internal, meliputi :
Pertama, Para peserta didik (Baca : kemampuan, sikap, emosi, perkembangan fisik dan psikis, perkembangan sosial dan kebutuhan-kebutuhan terhadap pendidikan),
Kedua, Para guru (Baca : Ketrampilan, pengalaman dan gaya mengajarnya, kekuatan dan kelemahan dari guru),
Ketiga, Iklim atau lingkungan sekolah (Baca: kepemimpinan kepala sekolah, kontribusi kekuatan, keterpautan sosial, prosedur profesional dan keterpautan profesional),
Keempat, Sumber-sumber yang bersifat materi atau sarana fasilitas pendidikannya (Baca: Gedung, peralatan, perpustakaan, pendanaan dan fasilitas yang menunjang rencana pengembangan program),
Kelima, Kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh guru, orang tua, siswa dan masyarakat yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan.
Ditegaskan juga oleh Print (1993 : 111), bahwa untuk menciptakan suatu program yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan peserta didik, para orang tua dan guru perlu dilakukan analisis kebutuhan yang difokuskan kepada empat aspek pokok yaitu :
1. Pengidentifikasian kebutuhan siswa, orang tua, guru dan masyarakat lokal dimana program itu akan dikembangkan,
2. Pemahaman konteks atau situasi program lokal,
3. Fasilitasi perencanaan dan pengembangan program sebelumnya,
4. Penyediaan data dasar yang sistematik untuk merencanakan tujuan-tujuan program (Aims, goals and objectives).
Masih berhubungan dengan dimensi-dimensi penilaian terhadap kebutuhan, maka keputusan-keputusan kurikuler yang komprehensif harus didasari oleh berbagai sumber informasi. Untuk itu sebagai penguat dari pandangan diatas, Diamond, R.M (1989 : 47), merumuskan lima area yang menjadi sumber data dan fokus penilaian kebutuhan (needs assessment), yaitu :
1. Karakteristik siswa (Latar belakang, kemampuan dan prioritas)
2. Keinginan dan kebutuhan masyarakat
3. Prioritas lembaga (sekolah, departemen dll)
4. Aspek pengetahuan yang sesuai dengan cakupan proyek
5. Hasil penelitian yang berhubungan dengan proyek (survey, hasil tes dan hasil diskusi).
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli mengenai faktor-faktor yang harus menjadi fokus perhatian dan bahan pertimbangan dalam mengambangkan suatu program pendidikan, kesemuanya memiliki sudut pandang yang sama, yaitu bagaimana hasil penilaian terhadap kebutuhan (needs assessment) menghasilkan informasi atau data yang benar-benar menggambarkan jenis dan tingkat kebutuhan serta tuntutan masyarakat dimana program itu akan dikembangkan. Berlandaskan data dan informasi yang representatif, diharapkan dapat menghasilkan suatu program yang representasi dari masyarakat. Melalui implementasi maka program dapat menghasilkan produk pendidikan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Suatu usaha untuk menentukan dan merumuskan kebutuhan pendidikan dengan tidak melibatkan beberapa sumber tersebut merupakan titik awal yang keliru dalam mengembangkan program pendidikan.
D. Langkah-Langkah Needs Assessment
Dalam melakukan Needs Assessment ada beberapa langkah berikut ini yang dapat dilalui, meskipun dalam prakteknya langkah-langkah tersebut tidak berlaku secara kaku, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik dari faktor-faktor yang dinilai, namun tetap memperhatikan prinsip-prinsip yang terkandung dan dimaksudkan dalam langkah-langkah tersebut. English & Kaufman (1975 : 12-48, dalam Oliva : 249)) merumuskan langkah-langkah dalam melakukan penilaian terhadap kebutuhan (Needs Assessment) sebagai berikut :
1. Tahap persiapan perencanaan (Baca: Penentuan alokasi waktu, sumber-sumber yang tersedia, orang yang akan dilibatkan, dll)
2. Merumuskan tujuan sementara. Tujuan ini berhubungan dengan produk pendidikan yang ingin dihasilkan. Tujuan ini dirumuskan berdasarkan kajian teoritis dan pendapat para fakar,
3. Memvalidasi tujuan sementara tentang tingkat kesesuaiannya dengan melibatkan para pendidik dan lainnya,
4. Memprioritaskan tujuan untuk mengetahui ranking tujuan-tujuan tersebut sesuai dengan kepentingnnya dengan melibatkan siswa, guru dan sivitas akademika sekolah,
5. Penjabaran tujuan dari bentuk pernyataan ke dalam standar performan yang dapat diukur (tujuan khusus/objectives),
6. Memvalidasi standar performan (objectives) untuk melihat akurasi penjabaran dari tujuan umum ke tujuan khusus dan juga untuk mengetahuan tentang penspesifikasian tujuan-tujuan penting,
7. Memprioritaskan kembali tujuan dengan melibatkan sampling kedua dari siswa, staff dan masyarakat,
8. Memasukkan tujuan-tujuan yang berorientasi ke masa depan melalui teknik delphi,
9. Perankingan kembali tujuan berdasarkan penelitian dan studi prediktif (teknik delphi),
10. Menyeleksi alat tes yang berhubungan dengan performan siswa,
11. Membandingkan data yang terkumpul yang disajikan lewat Tabel, skema dan lainnya,
12. Penyusunan daftar kebutuhan sementara (the initial gap or needs statement),
13. Memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan ranking kepentingannya dan dilakukan seperti pada langkah ke empat,
14. Mempublikasikan hasil penilaian kebutuhan (needs assessment) yang dibuat dalam bentuk pernyataan-pernyataan mengenai kebutuhan.
E. Teknik Needs Assessment
Sebagai salah satu pendekatan dalam penelitian evaluasi, maka teknik yang digunakan dalam melkukan Needs Assessment sedikit banyaknya sama dengan teknik yang digunakan dalam penelitian evaluasi pada umumnya seprti kuesioner, observasi, wawancara, tes dan teknik-teknik penelitian lainnya.
F. Layanan Bimbingan Bagi Anak Tunagrahita Ringan
Pengertian bimbingan menurut Peraturan Pemerintah No 28 tahun 1990 Bab X, Pasal 25, bimbingan dirumuskan sebagai bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan yang akan dilaluinya.
Bila kita amati pelayanan dan pelaksanaan bimbingan di Sekolah Luar Biasa (SLB), maka kegiatan itu tidak bisa terlepas dari kegiatan rehabilitasi yang merupakan upaya bantuan medik, sosial, dan keterampilan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. Rehabilitasi medik meliputi usaha penyembuhan kesehatan penyandang kelainan serta pemberian alat pengganti dan/atau alat pembantu tubuh. Rehabilitasi sosial meliputi usaha pemberian bimbingan sosial kepada peserta didik yang mencakup pengarahan pada penyesuaian diri dan pengembangan pribadi secara wajar. Rehabilitasi diberikan oleh ahli terapi fisik, ahli terapi bicara, dokter umum, dokter spesialis, ahli psikologi, ahli pendidikan luar biasa, perawat, dan pekerja sosial.
Keberhasilan dalam mencapai perkembangan yang optimal apabila ia dapat menggunakan sisa kemampuannya secara optimal sesuai dengan derajat ketunaan. Tetapi tidak semua anak dapat berhasil mencapai perkembangan yang optimal, dan bukanlah semata-mata karena ketunaan yang disandang siswa, tetapi ada juga karena ketidak mampuan pelaksana pendidikan untuk mendekati secara individu sehingga dapat mengetahui berbagai hambatan yang mereka hadapi.
Agar anak tunagrahita dapat menjadi pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh, tidak hanya kegiatan-kegiatan administrasi, tetapi juga meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan, sehingga perkembangan yang optimal dapat terwujud.
Surya, (1988:4) menyatakan bahwa guru pembimbing dituntut untuk menguasai keterampilan antara lain: (1) keterampilan intelektual adalah penguasaan sejumlah kaidah-kaidah keilmuan yang menunjang pelaksanaan kehidupan sehari-hari, (2) keterampilan sosial yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar bagi tercapainya interaksi sosial secara efektif meliputi keterampilan memahami dan mengelola diri sendiri, interaktif, dan keterampilan memecahkan masalah, (3) keterampilan sensomotorik adalah penguasaan sejumlah keterampilan untuk mengembangkan syaraf dan otot sensomotorik.
Kebutuhan yang bersifat sosial-psikologis bertujuan untuk mengurangi rasa ketunaan yang disandang. Untuk itu pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan konseling merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan.
a. Bimbingan Konseling Perkembangan
1. Definisi Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Menurut Muro dan Kottman (1995:50-53) menyebutkan bimbingan dan konseling perkembangan merupakan program yang di dalamnya mengandung prinsip-prinsip seperti di bawah ini.
a. Guidance and counseling are needed by all children.
b. Developmental guidance and counseling has a focus on children’s learning.
c. Counselors and teachers are cofunctionaries in developmental guidance programs.
d. An organized and planed curriculum is a vital part of developmental guidance.
e. Developmental guidance is concerned with self-acceptance, self-understanding, and self-enhancement.
f. Developmental guidance and counseling focus on the encouragement process.
g. Developmental guidance acknowledges directional development rather than definitive ends.
h. Developmental guidance, while team oriented, requires the services of a trained professional counselor.
i. Developmental guidance is concerned with early identification of special needs.
j. Developmental guidance is concerned with the psychology of use.
k. Developmental guidance has foundations in child psychology, child development, and learning theory
l. Developmental guidance is both sequential and flexible.
Berdasarkan pendapat Muro dan Kottman diperoleh maknanya sebagai berikut di bawah ini.
Program perkembangan kegiatan bimbingan dan konseling diasumsikan diperlukan oleh seluruh siswa, termasuk siswa yang memiliki kesulitan dalam pemahaman diri, meningkatkan tanggung jawab terhadap kontrol diri, memahami lingkungan, dan kesulitan membuat keputusan.
Kebutuhan siswa sebagaimana tersirat di dalam kesulitan dan beban tanggungjawabnya pemenuhannya diupayakan konselor melalui perancangan dan pengembangan kurikulum yang menitik beratkan pada pembelajaran manusia dan pemanusiaan peserta didik. Tugas mereka adalah membantu anak untuk belajar, dan tujuan sekolah adalah pembelajaran. Sedangkan tujuan bimbingan dan konseling perkembangan adalah membantu siswa untuk belajar.
Konselor membantu guru dalam menelusuri pemahaman siswa, mendengarkan sungguh-sungguh perasaan yang dicurahkan guru, memperjelas, menentukan pendekatan yang akan digunakan, dan membantu mengevaluasi kegiatan pengajaran yang baru.
Seluruh program bimbingan perkembangan hendaknya berisi perencanaan dan pengorganisasian kurikulum yang matang. Kurikulum menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal. Kegiatan bimbingan perkembangan dirancang untuk membantu siswa mengetahui lebih banyak tentang diri, penerimaan diri, serta memahami kekuatan-kekuatan diri.
Pengupayaan agar siswa mencapai perkembangan, maka bimbingan dan konseling diarahkan untuk: (1) menempatkan nilai pada diri anak sebagai diri sendiri, (2) percaya pada diri, (3) percaya akan kemampuan diri anak, membangun penghargaan terhadap diri, (4) pengakuan untuk bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh, (5) memanfaatkan kelompok untuk mempermudah dan meningkatkan perkembangan anak, (6) memadukan kelompok sehingga anak merasa memiliki tempat dalam kelompok, (7) membantu pengembangan keterampilan secara berurutan dan secara psikologis memungkinkan untuk sukses, (8) mengakui dan memfokuskan pada kekuatan asset anak, dan (9) memanfaatkan minat anak sebagai energi dalam pengajaran.
Konselor perkembangan menyadari perkembangan anak sebagai suatu proses “menjadi”, sehingga pertumbuhan fisik dan psikologis memiliki berbagai kemungkinan sebelum mencapai masa dewasa. Bimbingan perkembangan sebagai team oriented, menuntut pelayanan dari konselor profesional.
Bimbingan perkembangan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan khusus anak. Konselor bekerja sama dengan guru untuk menemukan kebutuhan siswa yang jika tidak terpenuhi akan menjadi kendala dalam kehidupan siswa selanjutnya. Menjalin hubungan yang erat dengan orang tua merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam melaksanakan identifikasi kebutuhan siswa.
Bimbingan perkembangan mendasarkan penerapan psikologi anak, psikologi perkembangan, dan teori-teori pembelajaran. Konselor perkembangan tidak sekedar peduli pada asesmen kemampuan anak untuk belajar, melainkan pada bagaimana anak menggunakan kemampuannya. Bimbingan perkembangan mempunyai sifat mengikuti urutan dan lentur. Program hendaknya disesuaikan dengan perbedaan individual. Berurutan berarti bahwa program bimbingan dirancang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Bertolak dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa bimbingan konseling perkembangan adalah upaya bantuan yang memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan minat, dan isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan anak merupakan bagian penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan.
2. Unsur-unsur Bimbingan dan Konseling Perkembangan
a. Visi dan Misi Bimbingan dan Konseling di SLB
Bertolak dari dasar formal, konseptual dan kontekstual, maka visi dan misi bimbingan dan konseling adalah edukatif, preventif dan developmental. Oleh karena itu model layanan bimbingan di SLB adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Layanan bimbingan dan konseling di SLB memiliki misi penting dalam peningkatan mutu pendidikan, sekaligus mensukseskan Wajar Dikdas 9 tahun. Di sisi lain keberhasilan pelaksanaan bimbingan di SLB sangat bergantung pada dukungan guru sebagai pelaksana dan kebijakan pimpinan sekolah. Hasil penelitian Ahman (1998) bahwa visi bimbingan dan konseling memiliki peranan yang penting dalam peningkatan mutu pendidikan di SD. Guru yang menyatakan bahwa bimbingan di SD itu penting, namun dalam pelaksanaannya belum menjadi prioritas.
b. Tugas-tugas Pekembangan dan Kebutuhan Anak SLB Sebagai Dasar Pengembangan Program Bimbingan
Bimbingan dan konseling melalui pencapaian penguasaan tugas-tugas perkembangan siswa, menjembatani tugas-tugas yang muncul, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertetu, dan meningkatkan sumber daya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal bagi klien.
c. Asumsi
Perkembangan individu akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan lingkungannya. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan bimbingan di sekolah.
1) Perkembangan adalah tujuan bimbingan; oleh karena itu para petugas bimbingan di sekolah perlu memiliki suatu kerangka berpikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan.
2) Interaksi yang sehat merupakan suatu iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh petugas bimbingan. Petugas bimbingan perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus untuk mengembangkan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem peluncuran bimbingan di sekolah.
d. Tujuan Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTP.
1) Menanamkan dan mengembangkan kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku.
3) Mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
4) Mempelajari keterampilan fisik sederhana yang diperlukan untuk permainan dan kehidupan.
5) Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok sebaya.
6) Belajar menjadi pribadi yang mandiri.
7) Membangun sikap hidup yang sehat mengenai diri sendiri dan lingkungan.
8) Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari.
9) Belajar menjalankan peran sosial sesuai dengan jenis kelamin.
10) Mengembangkan sikap positif terhadap kelompok dan lembaga-lembaga sosial.
e. Program Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Komponen yang terkandung dalam program bimbingan konseling perkembangan yakni (1) layanan dasar bimbingan, (2) layanan responsif, (3) sistem perencanaan individual, dan (4) pendukung sistem.
3. Layanan Dasar Bimbingan
Tujuan layanan dasar bimbingan yakni membantu seluruh siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupan. Komponen ini merupakan landasan bagi program bimbingan perkembangan.
Muro dan Kottman, (1995:56) menyebutkan materi program bimbingan perkembangan di Sekolah Dasar seperti berikut.
a. self-esteem
b. motivation to achieve
c. decisitom-making, goal-setting, and planning skills
d. problem-solving skills
e. interpersonal effectiveness
f. communication skills
g. cross-cultural effectiveness
h. responsible-behavior.
Layanan dasar perkembangan memiliki cakupan dan urutan bagi pengembangan kompetensi siswa. Materi kurikulum diajarkan dengan unit fokus pada hasil (outcome-focused) dan pengajaran yang berorientasi tujuan (objective-based) bagi siswa dalam kelompok kecil atau kelas. Kurikulum dirancang untuk menggunakan material dan sumber-sumber lainnya, dan memerlukan strategi penilaian. Pengajaran dalam layanan dasar bimbingan diawali sejak pengalaman pertama siswa masuk sekolah, dengan materi yang diselaraskan dengan usia dan tahapan perkembangan siswa.
Isi bimbingan layanan dasar yakni pengembangan keterampilan hidup dan perilaku efektif tugas-tugas perkembangan (imtaq, nilai-nilai, calistung, keterampilan fisik, kelompok sebaya, pribadi mandiri, hidup sehat, konsep hidup, peran sosial, sikap terhadap lembaga dan keseluruhan).
Bentuk bimbingan terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar dan dinamika kelompok pada bidang bimbingan sosial pribadi, bimbingan belajar, dan bimbingan karir. Fungsi bimbingan perkembangan adalah bimbingan yang mengarah pada pencapaian perkembangan idividu atau kelompok.
4. Aspek Tugas Perkembangan Belajar Menjadi Pribadi yang Mandiri
Hakekat tugas perkembangan belajar menjadi pribadi yang mandiri yaitu: mampu membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan pada saat ini dan di masa mendatang secara mandiri tidak tergantung pada orang tua atau orang lain yang lebih tua. Temuan penelitian Ahman, (disertasi, 1998) memberikan gambaran bahwa kemampuan untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri merupakan tugas perkembangan yang paling rendah tingkat penguasaannya. Pada umumnya siswa sekolah dasar cenderung lemah dalam mengurus diri sendiri, belum mampu menyusun rencana kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain, dan belum memiliki kemampuan untuk melaksanakan rencana kegiatan secara kensekuen. Siswa kebanyakan tidak berani pulang-pergi sekolah sendiri, karena mereka kesulitan untuk menyeberang di jalan raya.
5. Implementasi Layanan Dasar Bimbingan
Implementasi layanan dasar bimbingan melalui bentuk bimbingan kelompok di kelas. Bentuk bimbingan kelompok ternyata memiliki keunggulan dibandingkan dengan bentuk individual. Temuan-temuan penelitian memberikan gambaran bahwa penggunaan terapi kelompok dapat meningkatkan self-esteem, pengelolaan rasa marah, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku murid dalam kelas.
Lenore, S. Brantley et.al (1996) serta Myrick dan Dixon (1985) dalam Ahman (1998:118) melakukan studi pengubahan sikap dan perilaku melalui konseling kelompok. Bahwa murid-murid yang menerima konseling kelompok menunjukkan peningkatan perilaku dalam kelas secara signifikan. Shectman (1993) mengukur pengaruh terapi kelompok kecil melalui penilaian guru berkenaan dengan sikap siswa terhadap teman sekelas dan guru. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat kemajuan perilaku dan hubungan antar pribadi siswa secara signifikan. Sementara Rhone (1992) mempelajari perilaku remaja selama 12 minggu pertemuan kelompok, dalam self-esteem, model peran, membangun karakter dan perilaku yang tepat. Analisis data menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan yang dramatis dalam perilaku negatif.
6. Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Tujuan layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah membantu anak didik dalam memahami potensi diri, peluang dan tuntutan lingkungan, serta merencanakan masa depan melalui pengambilan serangkaian keputusan yang paling mungkin bagi anak. Kemampuan ini bukanlah suatu proses yang terjadi seketika melainkan terbentuk melalui proses interaksi dan terkait dengan berbagai faktor kemampuan diri, keluarga, masyarakat, maupun sistem nilai yang dianut. Bertolak dari hasil kajian lapangan Ahman (1998), maka salah satu rumusan tugas-tugas perkembangan anak di SD adalah aspek “belajar menjadi pribadi yang mandiri”, yang meliputi: 1) memiliki kemampuan mengurus diri sendiri, 2) mampu menyusun rencana kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain, dan 3) mampu melaksanakan rencana kegiatan secara konsekuen.
III. PENUTUP
Pembahasan mengenai Needs Assessment di atas merupakan hasil review beberapa sumber yang membahas tentang Needs Asessment. Beberapa poin penting yang berhubungan dengan Needs Assessment dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pengertian Needs Assessment
2. Karakteristik Needs Assessment
3. Dimensi-Dimensi Needs Assessment
4. Langkah-Langkah Penilaian Kebutuhan
5. Teknik Needs Assessment
6. Pentingnya pengembangan program bimbingan bagi anak tungrahita

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Borg, Walter R, & Gall, Meredith, D. (1983). Educational Research : An Introduction. (4th ed.). New York : Longman Inc.
Brady, Laurie. (1990). Curriculum Development. Victoria : Prentice Hall of Australia Pty Ltd, Burwood
Kaufman, Roger A. (1972). Educational System Planning. New Jersey : Prentice Hall Inc., Engleewood Cliffs
Oliva, Feter, F. (1992). Developing The Curriculum. New York : HarperCollins Publishers Inc.,
Print, Murray. (1993). Curriculum Development And Design. Australia : Allen & Unwin Pty Ltd, St.Leonard
Syaodih, N. S. (1997). Pengembangan Kurikulum : Teori Dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Tyler, Ralph, W. (1949). Basic Principles of Curriculum and Instruction. London : The University of Chicago Press
Amin, Moh. (1995). Orthopedagogik Anak Tunagarahita. Depdikbud Dikti, Proyek pendidikan Tenaga Guru, Jakarta
Ahman, (1998). Bimbingan Perkembangan: Model bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. Disertasi. PPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.
Bailey, D. Roy., (1982). Therapeutic Nursing for the Mentally Handicapped. Oxford University Press, New Yoork Toronto.
Depdikbud, (1987). Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum SLB-C, Pedoman bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta.
_________, (1989). Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989, Undang-Undang Sistem Pendididkan Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
_________, (1990). Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan di SD. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
_________, (1990). Peraturan Pemerintah no 28. Jakarta.
_________, (1991). Peraturan Pemerintah No.72 . Jakarta.
_________, (1994). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Lampiran I. Landasan, Program dan Pengembangan. Jakarta.
_________, (1997). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Lampiran II. GBPP Mata Pelajaran Program Khusus Kemampuan Merawat Diri. Jakarta.
Havighurst, J. R (Eds), (1988). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (alih bahasa Istiwidayanti dan Sudjarwo). Jakarta: Erlangga.
Kartadinata, Sunaryo (1983). Kontribusi Iklim Kehidupan Keluarga dan Sekolah Terhadap Adekuasi Penyesuaian Diri. Bandung: Tesis PPS IKIP Bandung. tidak diterbitkan.
_________, (1996). Peningkatan Mutu Pengembangan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah dasar. (laporan Penelitian). FIP IKIP Bandung. Tidak di terbitkan.
Kirk, A. Samuel & James, J Gallagher, (1986). Exceptional Children. Alir bahasa. Moh. Amin & Ina Yusuf K, (1990), DNIKS. Jakarta.
Muro, J. James and Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in Elementary School and Midlde School. Iowa: Brown and Benchmark Publisher.
Neely, A. Margery, (1982). Counseling and Guidance Practices with Special Education Students. Kansas State University, The Dorsey Press, Homewood, Illinois.
Natawiyoga, Suhaeri H. (1995). Bimbingan dan Konseling Anak Luar Biasa. Dikti, Proyek Pendidikan Tenaga Guru, Jakarta: Depdikbud.
Patton, MQ. (1984), Qualitative Evaluations, Methods, Baverly Hills : Sage Publications.
Smith, Robert, M. & Neisworth, John, T. (1975). The Exceptional Child a Functional Approach. McGraw-Hill Book Company.
Wehman, paul & McLaughlin Philip J, (1981). Program Development In Special Education, McGraw-Hill Book Company.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.